jangan lupa

JANGAN LUPA KOMENTAR YA..

Rabu, 24 Februari 2016

RUN PART 3




Judul : RUN

Author: Mahardika Putri
Betha author: Kim Daisy

Genre: horror. T

Rating: PG 15

Cast: 

Kwon Jiyong (G-Dragon BIG BANG)
Lee Chaerin (CL 2NE1)

support cast : Dis Tie (OC)
Dara 2ne1
Taeyang Big bang
 ***
@keesokan harinya. 
“Dimana Chaerin?”Tanya Jiyong saat menyantap makanannya seorang diri. Dia hanya ditemani oleh beberapa pelayan di rumah Chaerin. 
“nona, ada pemotretan diluar kota jadi sejak pagi sudah pergi.”jawab kepala pelayan keluarga. Seorang namja sekitar umur 40tahunan dengan penampilan seperti kepala pelayan lainnya. 
“dia bilang akan mengajakku pergi.”ucap Jiyong sambil memakan makanan di sendoknya. 
“oh, nona sudah menyiapkannya. Anda tenang saja, tuan.”jawab kepala pelayan.
“apa kau tahu Chaerin bisa melihat..”
“arwah maksud tuan?”Tanya pelayan. Jiyong mengagguk pelan tapi, dia sangat penasaran.
“ya, itu sejak dia kecelakaan.”
“bisakah kau menceritakannya?”Tanya Jiyong penasaran.
“sebaiknya anda selesaikan makan anda terlebih dahulu, tuan. Nona pasti akan menceritakannya sendiri.”jawab kepala pelayan itu. Jiyong hanya diam, dia tak bisa berkata-kata lagi.
“bolehkah aku pergi sebentar?”Tanya Jiyong saat makanannya telah habis disantapnya.
“maafkan aku tuan! Nona, meminta saya untuk mengawasi anda dan melarang anda keluar dari rumah ini.”jawab kepala pelayan.
“….”lagi-lagi Jiyong tak bisa berkata. Dia memilih kembali ke kamarnya.

Kepala pelayan mengetuk pintu kamar Jiyong beberapa kali.
“masuklah.”ucap Jiyong yang sedang bersantai di sofa sambil menonton televise yang sedang menayangkan drama yang sebenarnya tidak begitu menarik untuk Jiyong.
“tuan, ini nona Dis Tie. Dia mengatakan ingin bicara dengan anda.”ucap kepala pelayan. Dengan sigap Jiyong menarik telepon dari tangan kepala pelayan.
“halo, ini ak”
“semangat sekali? Aku baru saja membuang Chaerin di sekolahnya dulu, digedung lama. Kau tau kan sekarang hujan deras dia pasti terjebak tak bisa keluar.”ucap di seberang telepon.
“kau bercandakan? Tak mungkin kau membuangnya.”ucap Jiyong bingung dengan yang terjadi. Sudah lama Jiyong tak bicara dengan Dis Tie tapi, kenapa Dis Tie malah bersikap aneh seperti ini?
“kau sudah cukup lama kerja denganku. Apakah aku pernah bercanda dengan ucapanku? Sekarang aku sudah sampai di rumahku. Aku tak minta kau menjemput Chaerin, anggap saja aku seorang penculik yang mengatakan bahwa aku memiliki sandera. Asal kau tahu, tak ada orang digedung itu selain Chaerin. Bahkan aku tak meminta orang untuk mengawasinya.”ucap Dis Tie lalu mematikan teleponnya.
“apa kata nona tuan?”ucap kepala pelayan.
“Chaerin di gedung sekolah seorang diri, Dis Tie yang meninggalkannya.”ucap Jiyong santai. Jiyong mengambil remot televisinya dan menekan tombol pada remot.
“astaga! Aku harus menjemputnya.”ucap kepala pelayan panik dan khawatir.
“kenapa seperti itu? Ekpresimu sangat berlebihan.”ucap Jiyong binggung.
“ini berkaitan dengan kecelakan yang ingin kau cari tahu. Aku pergi.”ucap kepala pelayan sigap.
“aku ikut!”


Mobil sedan hitam itu baru saja berjalan beberapa menit di temani hujan lebat dan petir yang seakan saut-menyaut tapi, tiba-tiba mobil itu berhenti.
“ada apa?”ucap Jiyong kaget.
“mobilnya mati.”ucap kepala pelayan.
“jika aku mendorongnya?”
“tidak bisa. Tidak akan punya banyak waktu. Tuan, berlarilah! Tolong, jaga nona! Dia pasti ketakutan.”ucap kepala pelayan. Tidak perlu berfikir Jiyong langsung keluar dari mobil dan berlari sekuat tenaga. Petir lagi-lagi menyambar-nyambar bukan membuat Jiyong takut tapi, malah seakan petir-petir itu memberikannya semangat.
Dengan nafas tak beraturan Jiyong mendekati sebuah gedung di teras gedung itu terlihat Chaerin yang kebasahan duduk dengan menutup wajahnya di lututnya.
“kau kenapa tak masuk saja? Kau kena hujan disini bagaimana jika petir menyambarmu?”ucap Jiyong susah payah karena nafasnya masih tak stabil. Ini pertama kalinya bagi Jiyong berlari kekuat dan sekencang itu sejak dia merokok bahkan dia jarang sekali untuk berlari. Apalagi berlari untuk jarak sejauh ini.
“kau datang? Aku tak bisa masuk.”ucap Chaerin sambil mengangkat wajahnya sehingga Jiyong bisa melihat Chaerin baru saja menangis karena matanya memerah dan lembab.
“kau menangis?”
“tidak ini karena hujan.”ucap Chaerin seakan dia baik-baik saja.
“kenapa tidak masuk?”
“aku tak mau.”
“ayo masuk! Kita harus berteduh dan mencari tempat hangat.”
“aku tak mau.”
“kau takut?”
“kau kira aku pengecut sepertimu?”ucap Chaerin langsung berdiri dan berbalik. Langkah kaki Chaerin dengan ragu memasuki gedung sekolah tua itu. Bangunannya sudah tak digunakan cukup lama sehingga tumbuhan yang bisa merambat di tembok-tembok gedung itu. Bahkan sudah memiliki lumut dan beberapa jenis tumbuhan sudah tumbuh memenuhi ruang.
Bruuk!!
Chaerin jatuh pingsan sebelum memasuki puntu gedung sekolah tua itu. Dengan cepat Jiyong mengangkat Chaerin dan memindahkannya ke kelas tak terpakai yang ada digedung tua itu walau dia sedikit terlambat karena Chaerin telah jatuh ke lantai sebelum dia mengangkat Chaerin. Jiyong menghidupkan api unggun dari rerumputan dan tumbuhan di kelas dengan korek api metiknya.
“ternyata sekarang aku baru merasa menjadi sangat bermanfaat setelah selama ini menjadi perokok. Bisa menghidupkan api di saat mendesak begini dengan korek.”celetuk Jiyong sambil mengosok-gosokkan tangannya di bahu dan tangan Chaerin yang kedinginan karena kehujanan.
“Kau tak berani masuk karena mereka? Pantas saja kau ketakutan, mereka sangat menyeramkan.”ucap Jiyong sambil menatap sosok hitam dan besar di depan pintu. Sosok itu terlihat mengawasi mereka. Sosok itu tidak terlihat menyeramkan jika dia tak memegang kepalanya di tangan kirinya.
“eghm.. kau rebut sekali.”ucap Chaerin sambil memegang keningnya yang terkena benturan karena dia terjatuh tadi.
“kau sudah baikan?”Tanya Jiyong khawatir.
“bohong, jika aku mengatakan baik-baik saja. Dari pada berteduh mending aku sakit karena kehujanan. Aku harus pergi.”ucap Chaerin sambil berdiri.
“kita hangatin badan dulu. Ini sudah hampir larut”saran Jiyong.
“buat apa menghangatkan badan jika nanti kita basahan lagi. Ayo pergi!”ucap Chaerin melangkah pergi penuh semangat. Jiyong mematikan api unggun dengan menginjak-injak api kecil itu dengan sepatunya lalu segera mengejar Chaerin. Chaerin terlihat terdiam membeku, dia ketakutan. Jiyong menyadari apa yang dilihat Chaerin langsung memeluk Chaerin.
“jika kau takut, katakan takut. Izinkan aku melindungmu.”ucap Jiyong sambil memeluk Chaerin.
“jangan bercanda! Kau bahkan lebih pengecut dari pada aku.”kata Chaerin memberontak, berusaha melepakan diri dari pelukan Jiyong.
“tidak! Jika kau butuh bantuanku, aku tak akan jadi pengecut agar kau bisa mengandalkanku.”ucapan Jiyong kali ini membuat Chaerin terdiam. Hati Chaerin menjadi tenang. Chaerin menutup matanya dan membalas pelukan Jiyong, dia tak merasa ketakutan lagi. Seakan rasa takutnya hilang karena ucapan Jiyong tadi.

Pagi telah tiba dan hujan pun telah reda. Jiyong menatap wajah Chaerin yang sedang tertidur di bahunya.
“jangan seperti itu! Aku tak nyaman.”ucap Chaerin sambil duduk dengan posisi tegak walau matanya masih terpejam.
“aku sudah menghubungi kepala pelayan. Sebentar lagi dia sampai.”ucap Jiyong sambil memperhatikan Chaerin yang menyisir rambut panjangnya dengan jari-jari tangan.
“arra!”ucap Chaerin sambil berdiri. Jiyong menahan tangan Chaerin hingga Chaerin terduduk kembali.
“aa..”teriak Chaerin kerena merasa sakit.
“kau mau kemana? Tak perlu pergi aku disini.”ucap Jiyong menatap Chaerin lekat berusaha meyakinkan Chaerin. Chaerin tersenyum lembut. Jantung Jiyong jadi berdetak tak terkontrol.
“ken.napa?”ucap Jiyong.
“kau benar-benar sudah jadi berani. Aku berhasil.”
“kenapa kau yang berhasil?”
“aku berhasil membuatmu berani.”
“bisa dibilang begitu.”
“bukan. Karena memang begitu.”ucap Chaerin. Jiyong menatap binggung.
“jika aku boleh tahu, kenapa kau troma dengan gedung ini?”
“aku dibenci teman-temanku lalu dikurung di kelas salah satu disini. Sejak itu aku bisa melihat mahluk gaib.”jelas Chaerin.
“kenapa mereka begitu?”
“aku cewek yang aneh saat sekolah dulu.”
“aku rasa karena aku suka seenaknya saja.”ucap Jiyong santai. Chaerin siap memukul Jiyong tapi, dengan cepat Jiyong menangkap pergelangan tangan Chaerin. Mereka saling menatap, saling memandang sambil mengagumi satu sama lain.
“mian.”ucap Jiyong tersadar dan melepaskan tangan Chaerin.
“emm.”ucap Chaerin kaku.


@rumah Chaerin
Chaerin mengundang Dis Tie dan Taeyang makan siang di rumahnya untuk memberitahu tentang kejadian kemarin. Baru saja Jiyong duduk di hadapan Dis Tie tapi, Dis Tie langsung protes.
“tidak! Aku tidak mau makan jika oppa disampingku.”ucap Dis Tie.
“kau kelahi dengan Taeyang? Wah itu langka sekali.”ucap Jiyong. Taeyang terlihat tersenyum manis sambil duduk di hadapan Dis Tie sedangkan Chaerin kini telah duduk di samping Dis Tie.
“selain pengecut kau juga tidak pintar ya? Aku ingin oppa diduduk di depanku agar aku bisa memperhatikan wajahnya.”ucap menatapku sengit lalu menatap Taeyang dengan senyuman manis.
“cih, penyakit brother complex ternyata. Dis Tie, pergilah berobat.”ucap Jiyong sambil duduk di samping Taeyang. Taeyang menatap Jiyong kesal.
“kau kira Dis Tie sakit?”
“kalau bukan penyakit apa lagi namanya?”ucap Jiyong polos. Dis Tie dengan gesit memukul tangan Jiyong di atas meja makan dengan sendok.
“auu.. sakit!”ucap Jiyong sambil mengelus-elus tangan kirinya yang kena pukul Dis Tie.
“diam. Kau menganggu makanku. Sekarang tanganmu aku pukul tapi, lain kali kepalamu ku pukul.”ucap Dis Tie mengancam.
“mian.”ucap Jiyong.
“tapi, sekarang aku senang kau telah berani menghadapi mereka.”ucap Dis Tie sambil memotong daging dengan pisau di piringnya. Chaerin tersenyum melihat tingkah imonya dan Jiyong.
“kau keteraluan meninggalkan Chaerin disana sendirian. Apakah kau tidak tahu Chaerin troma dengan gedung itu.”ucpa Jiyong sambil memasukkan sesuap makanan ke mulutnya.
“karena aku tahu, makanya aku melakukannya.”ucap Dis Tie. Jiyong kaget dan meletakkan sendoknya dan berhenti mengunyah.
“maksudnya?”Tanya Jiyong binggung.
“jika Juliet baik-baik saja tak mungkin Romeo rela mati untuk menyelamatkan Juliet. Chaerin dan Jiyong terdiam seketika mendengar ucapan Dis Tie.
“Saeng.. kau membuat sang Juliet dan Romeo bisu sekarang.”ucap Taeyang tertawa pelan melihat Jiyong dan Chaerin.
“imo, aku akan membalasmu.”ucap Chaerin lalu meminum air putihnya.
“wae? Aku salah? Aku dengar kalian sudah mengaku pada orang tua dan orang tua kalian setuju. Lalu, apa lagi? Jiyong sekarang bukan waktunya jadi pengecut. Sudah saatnya kau melamar Chaerin”ucap Dis Tie sambil menunjuk Jiyong dengan sedoknya. Taeyang lagi-lagi hanya tertawa pelan.
“imo!”protes Chaerin.
“kalian ini bicara apa?”kata Jiyong pura-pura tak mengerti.
“terserah jika kau memang pura-pura tidak tahu. Kau menyesal nanti.”ucap Dis Tie santai sambil kembali menikmati makanannya.


Malam telah tiba, Jiyong menuju dapur karena perutnya sudah mulai lapar. Langkah kaki Jiyong tertahan melihat Chaerin sedang bersama seseorang. Orang itu mengenakan celana Jins dan kemeja biru dengan motif kotak-kotak walau terlihat sedikit kebesaran tapi, terlihat sangat keren. Orang itu seakan memegang tangan Chaerin.
“apa yang kalian lakukan?”Tanya Jiyong.
“belajar masak. Dia sedang mengajariku masak.”ucap Chaerin santai.
“dia siapa?”Tanya Jiyong. Orang itu langsung melepaskan tangan Charin dan mendekati Jiyong.
“ah, aku Sung Hyo.”ucap namja itu sambil mengulurkan tangannya. Jiyong menatap Sung Hyo itu tidak senang sedangkan namja itu tersenyum dengan manis.
“Jiyong, tunangan Chaerin.”ucap Jiyong percaya diri sambil berjabat tangan.
“belumkan. Jadi, aku bisa merebutnya?”Tanya Sung Hyo sambil menatap Chaerin yang sedang memotong sayuran.

@makan malam.
“ini untukmu. Kau sangat menyukai sayuran ini kan?!”ucap Sung Hyo sambil memberikan sebuah sayuran ke piring Chaerin.
“gomawo”ucap Chaerin tersenyum sedangkan Jiyong hanya memperhatikan mereka.
“aku sudah mengatakan apa orang tua kita. Pernikahan kita akan segera dilakukan.”ucap Jiyong sambil berusaha menenangan diri.
“mwo? Kau yakin?”Tanya Chaerin kaget.
“ne”
“terserah kau saja.”ucap Chaerin santai.
“makan perlahan. Itu tak baik untuk lambungmu.”ucap Sung Hyo sambil memberikan segelas air putih pada Chaerin. Jiyong semakin kesal melihat Sung Hyo.

@ pernikahan Chaerin dan Jiyong.
Pernikahan mereka baru saja berlangsung. Pernikahan sederhana yang hanya dihadiri keluarga. Jiyong terdiam kaku saat melihat sesosok di depannya.
“Sung Hyo?”ucap Jiyong binggung.
“kau cantik sekali.”ucap Chaerin menyambut Sung Hyo yang berjalan menghampirinya. Sung Hyo mengenakan mini dress berwarna kuning serta rambut pendeknya kini ditata dengan manis, dia terlihat cantik.
“aku cemburu dengan gadis?!”ucap Jiyong tak percaya.
“mwo? Kau melakukan ini jangan bilang karena cemburu dengan Sung Hyo?”Tanya Chaerin manatap Jiyong tajam.
“sayangnya itu benar.”ucap Jiyong.
“mati saja kau Kwon Jiyong! Apakah kau tak bisa membedakan namja dan yeoja? Paboya!”maki Chaerin sambil memukul Jiyong.
“appo! Berhentilah. Bukankah kau juga suka jika pernikahan ini dipercepat?”balas Jiyong.
“tapi, tak secepat ini.”ucap Chaerin. Dengan santainya Jiyong duduk di sebuah kursi lalu memejamkan matanya karena kelelahan.
“kau lelah?”tanya Chaerin sedikit cemas. Jiyong membuka matanya, tatapan matanya kini menjadi lembut. Jiyong menarik Chaerin hingga Chaerin duduk dipangkuan Jiyong.
 “hay  cinta pertama Jiyong, kau bisa tenang sekarang. Jadi pergilah! Jiyong akan bahagia bersamaku.” Ucap Chaerin pelan saat melihat arwah yeoja yang biasa mengawasi Jiyong.
 “hey, apa yang kau lakukan pada Jiyong?" teriak Dis Tie berlari dari kejauhan.
"aku tak  melakukan apa-apa."ucap Chaerin binggung.
"namja payah! dia terlalu lemah, baru saja dia kesurupan lagi."jelas Dis Tie yang baru saja mengusir arwah yang masuk ke Jiyong. Kini Jiyong tertidur lemah.
“ckckckck.. baru kali ini aku melihat ada pengatin namja kesurupan.”kata Taeyang tersenyum, dia baru saja menyusul Dis Tie.
“cih, sepertinya aku salah setuju menikah dengannya.”kata Chaerin sambil melihat kasihan pada Jiyong yang tertidur lemas di kursi.
“apa perlu kita membawanya?”tawar Taeyang.
“acara baru saja dimulai. Tidak mungkin pengantin prianya tidurkan? Bangunkan saja dia.”ucap Dis Tie kesal.
“biarkan saja dia disini. Itu hukan dia kali ini.”kata Chaerin berbalik, dia akan pergi meninggalkan Jiyong.
“ide bagus.”susul Dis Tie dan Sung Hyo.
"kalian yakin???"kata Taeyang cemas tapi, Chaerin cuek saja.
"katanya akan jadi pria yang dapat menjagaku, mana janjinya itu?"gerutu Chaerin.


End

Aku suka FF ini maaf jika aku malah menghancurkan ceritanya. Sulit bagiku melanjutkan ff ini karena ide cerita disini sulit untuk di prediksi tapi, aku sudah berusaha semaksimal mungkin. Aku tidak akan menggantikan siapa-siapa karena dari awal kami berbeda. Maafkan aku! terimakasi komentar dan sarannya.


1 komentar: