Judul
: RUN
Author:
Mahardika Putri
Betha
author: Kim Daisy
Genre:
horror. T
Rating:
PG 15
Cast:
Kwon
Jiyong (G-Dragon BIG BANG)
Lee
Chaerin (CL 2NE1)
support
cast : Dis Tie (OC)
Dara
2ne1
Taeyang
Big bang
***
@keesokan
harinya.
“Dimana
Chaerin?”Tanya Jiyong saat menyantap makanannya seorang diri. Dia hanya
ditemani oleh beberapa pelayan di rumah Chaerin.
“nona,
ada pemotretan diluar kota jadi sejak pagi sudah pergi.”jawab kepala pelayan
keluarga. Seorang namja sekitar umur 40tahunan dengan penampilan seperti kepala
pelayan lainnya.
“dia
bilang akan mengajakku pergi.”ucap Jiyong sambil memakan makanan di
sendoknya.
“oh,
nona sudah menyiapkannya. Anda tenang saja, tuan.”jawab kepala pelayan.
“apa
kau tahu Chaerin bisa melihat..”
“arwah
maksud tuan?”Tanya pelayan. Jiyong mengagguk pelan tapi, dia sangat penasaran.
“ya,
itu sejak dia kecelakaan.”
“bisakah
kau menceritakannya?”Tanya Jiyong penasaran.
“sebaiknya
anda selesaikan makan anda terlebih dahulu, tuan. Nona pasti akan menceritakannya
sendiri.”jawab kepala pelayan itu. Jiyong hanya diam, dia tak bisa berkata-kata
lagi.
“bolehkah
aku pergi sebentar?”Tanya Jiyong saat makanannya telah habis disantapnya.
“maafkan
aku tuan! Nona, meminta saya untuk mengawasi anda dan melarang anda keluar dari
rumah ini.”jawab kepala pelayan.
“….”lagi-lagi
Jiyong tak bisa berkata. Dia memilih kembali ke kamarnya.
Kepala
pelayan mengetuk pintu kamar Jiyong beberapa kali.
“masuklah.”ucap
Jiyong yang sedang bersantai di sofa sambil menonton televise yang sedang
menayangkan drama yang sebenarnya tidak begitu menarik untuk Jiyong.
“tuan,
ini nona Dis Tie. Dia mengatakan ingin bicara dengan anda.”ucap kepala pelayan.
Dengan sigap Jiyong menarik telepon dari tangan kepala pelayan.
“halo,
ini ak”
“semangat
sekali? Aku baru saja membuang Chaerin di sekolahnya dulu, digedung lama. Kau
tau kan sekarang hujan deras dia pasti terjebak tak bisa keluar.”ucap di
seberang telepon.
“kau
bercandakan? Tak mungkin kau membuangnya.”ucap Jiyong bingung dengan yang terjadi.
Sudah lama Jiyong tak bicara dengan Dis Tie tapi, kenapa Dis Tie malah bersikap
aneh seperti ini?
“kau
sudah cukup lama kerja denganku. Apakah aku pernah bercanda dengan ucapanku?
Sekarang aku sudah sampai di rumahku. Aku tak minta kau menjemput Chaerin,
anggap saja aku seorang penculik yang mengatakan bahwa aku memiliki sandera.
Asal kau tahu, tak ada orang digedung itu selain Chaerin. Bahkan aku tak
meminta orang untuk mengawasinya.”ucap Dis Tie lalu mematikan teleponnya.
“apa
kata nona tuan?”ucap kepala pelayan.
“Chaerin
di gedung sekolah seorang diri, Dis Tie yang meninggalkannya.”ucap Jiyong
santai. Jiyong mengambil remot televisinya dan menekan tombol pada remot.
“astaga!
Aku harus menjemputnya.”ucap kepala pelayan panik dan khawatir.
“kenapa
seperti itu? Ekpresimu sangat berlebihan.”ucap Jiyong binggung.
“ini
berkaitan dengan kecelakan yang ingin kau cari tahu. Aku pergi.”ucap kepala
pelayan sigap.
“aku
ikut!”
Mobil
sedan hitam itu baru saja berjalan beberapa menit di temani hujan lebat dan
petir yang seakan saut-menyaut tapi, tiba-tiba mobil itu berhenti.
“ada
apa?”ucap Jiyong kaget.
“mobilnya
mati.”ucap kepala pelayan.
“jika
aku mendorongnya?”
“tidak
bisa. Tidak akan punya banyak waktu. Tuan, berlarilah! Tolong, jaga nona! Dia
pasti ketakutan.”ucap kepala pelayan. Tidak perlu berfikir Jiyong langsung
keluar dari mobil dan berlari sekuat tenaga. Petir lagi-lagi menyambar-nyambar
bukan membuat Jiyong takut tapi, malah seakan petir-petir itu memberikannya
semangat.
Dengan
nafas tak beraturan Jiyong mendekati sebuah gedung di teras gedung itu terlihat
Chaerin yang kebasahan duduk dengan menutup wajahnya di lututnya.
“kau
kenapa tak masuk saja? Kau kena hujan disini bagaimana jika petir
menyambarmu?”ucap Jiyong susah payah karena nafasnya masih tak stabil. Ini
pertama kalinya bagi Jiyong berlari kekuat dan sekencang itu sejak dia merokok
bahkan dia jarang sekali untuk berlari. Apalagi berlari untuk jarak sejauh ini.
“kau
datang? Aku tak bisa masuk.”ucap Chaerin sambil mengangkat wajahnya sehingga
Jiyong bisa melihat Chaerin baru saja menangis karena matanya memerah dan
lembab.
“kau
menangis?”
“tidak
ini karena hujan.”ucap Chaerin seakan dia baik-baik saja.
“kenapa
tidak masuk?”
“aku
tak mau.”
“ayo
masuk! Kita harus berteduh dan mencari tempat hangat.”
“aku
tak mau.”
“kau
takut?”
“kau
kira aku pengecut sepertimu?”ucap Chaerin langsung berdiri dan berbalik.
Langkah kaki Chaerin dengan ragu memasuki gedung sekolah tua itu. Bangunannya
sudah tak digunakan cukup lama sehingga tumbuhan yang bisa merambat di
tembok-tembok gedung itu. Bahkan sudah memiliki lumut dan beberapa jenis
tumbuhan sudah tumbuh memenuhi ruang.
Bruuk!!
Chaerin
jatuh pingsan sebelum memasuki puntu gedung sekolah tua itu. Dengan cepat
Jiyong mengangkat Chaerin dan memindahkannya ke kelas tak terpakai yang ada
digedung tua itu walau dia sedikit terlambat karena Chaerin telah jatuh ke
lantai sebelum dia mengangkat Chaerin. Jiyong menghidupkan api unggun dari
rerumputan dan tumbuhan di kelas dengan korek api metiknya.
“ternyata
sekarang aku baru merasa menjadi sangat bermanfaat setelah selama ini menjadi
perokok. Bisa menghidupkan api di saat mendesak begini dengan korek.”celetuk
Jiyong sambil mengosok-gosokkan tangannya di bahu dan tangan Chaerin yang
kedinginan karena kehujanan.
“Kau
tak berani masuk karena mereka? Pantas saja kau ketakutan, mereka sangat
menyeramkan.”ucap Jiyong sambil menatap sosok hitam dan besar di depan pintu.
Sosok itu terlihat mengawasi mereka. Sosok itu tidak terlihat menyeramkan jika
dia tak memegang kepalanya di tangan kirinya.
“eghm..
kau rebut sekali.”ucap Chaerin sambil memegang keningnya yang terkena benturan
karena dia terjatuh tadi.
“kau
sudah baikan?”Tanya Jiyong khawatir.
“bohong,
jika aku mengatakan baik-baik saja. Dari pada berteduh mending aku sakit karena
kehujanan. Aku harus pergi.”ucap Chaerin sambil berdiri.
“kita
hangatin badan dulu. Ini sudah hampir larut”saran Jiyong.
“buat
apa menghangatkan badan jika nanti kita basahan lagi. Ayo pergi!”ucap Chaerin
melangkah pergi penuh semangat. Jiyong mematikan api unggun dengan
menginjak-injak api kecil itu dengan sepatunya lalu segera mengejar Chaerin.
Chaerin terlihat terdiam membeku, dia ketakutan. Jiyong menyadari apa yang
dilihat Chaerin langsung memeluk Chaerin.
“jika
kau takut, katakan takut. Izinkan aku melindungmu.”ucap Jiyong sambil memeluk
Chaerin.
“jangan
bercanda! Kau bahkan lebih pengecut dari pada aku.”kata Chaerin memberontak,
berusaha melepakan diri dari pelukan Jiyong.
“tidak!
Jika kau butuh bantuanku, aku tak akan jadi pengecut agar kau bisa
mengandalkanku.”ucapan Jiyong kali ini membuat Chaerin terdiam. Hati Chaerin
menjadi tenang. Chaerin menutup matanya dan membalas pelukan Jiyong, dia tak
merasa ketakutan lagi. Seakan rasa takutnya hilang karena ucapan Jiyong tadi.
Pagi
telah tiba dan hujan pun telah reda. Jiyong menatap wajah Chaerin yang sedang
tertidur di bahunya.
“jangan
seperti itu! Aku tak nyaman.”ucap Chaerin sambil duduk dengan posisi tegak
walau matanya masih terpejam.
“aku
sudah menghubungi kepala pelayan. Sebentar lagi dia sampai.”ucap Jiyong sambil
memperhatikan Chaerin yang menyisir rambut panjangnya dengan jari-jari tangan.
“arra!”ucap
Chaerin sambil berdiri. Jiyong menahan tangan Chaerin hingga Chaerin terduduk
kembali.
“aa..”teriak
Chaerin kerena merasa sakit.
“kau
mau kemana? Tak perlu pergi aku disini.”ucap Jiyong menatap Chaerin lekat
berusaha meyakinkan Chaerin. Chaerin tersenyum lembut. Jantung Jiyong jadi
berdetak tak terkontrol.
“ken.napa?”ucap
Jiyong.
“kau
benar-benar sudah jadi berani. Aku berhasil.”
“kenapa
kau yang berhasil?”
“aku
berhasil membuatmu berani.”
“bisa
dibilang begitu.”
“bukan.
Karena memang begitu.”ucap Chaerin. Jiyong menatap binggung.
“jika
aku boleh tahu, kenapa kau troma dengan gedung ini?”
“aku
dibenci teman-temanku lalu dikurung di kelas salah satu disini. Sejak itu aku
bisa melihat mahluk gaib.”jelas Chaerin.
“kenapa
mereka begitu?”
“aku
cewek yang aneh saat sekolah dulu.”
“aku
rasa karena aku suka seenaknya saja.”ucap Jiyong santai. Chaerin siap memukul
Jiyong tapi, dengan cepat Jiyong menangkap pergelangan tangan Chaerin. Mereka
saling menatap, saling memandang sambil mengagumi satu sama lain.
“mian.”ucap
Jiyong tersadar dan melepaskan tangan Chaerin.
“emm.”ucap
Chaerin kaku.
@rumah
Chaerin
Chaerin
mengundang Dis Tie dan Taeyang makan siang di rumahnya untuk memberitahu
tentang kejadian kemarin. Baru saja Jiyong duduk di hadapan Dis Tie tapi, Dis
Tie langsung protes.
“tidak!
Aku tidak mau makan jika oppa disampingku.”ucap Dis Tie.
“kau
kelahi dengan Taeyang? Wah itu langka sekali.”ucap Jiyong. Taeyang terlihat
tersenyum manis sambil duduk di hadapan Dis Tie sedangkan Chaerin kini telah
duduk di samping Dis Tie.
“selain
pengecut kau juga tidak pintar ya? Aku ingin oppa diduduk di depanku agar aku
bisa memperhatikan wajahnya.”ucap menatapku sengit lalu menatap Taeyang dengan
senyuman manis.
“cih,
penyakit brother complex ternyata. Dis Tie, pergilah berobat.”ucap Jiyong
sambil duduk di samping Taeyang. Taeyang menatap Jiyong kesal.
“kau
kira Dis Tie sakit?”
“kalau
bukan penyakit apa lagi namanya?”ucap Jiyong polos. Dis Tie dengan gesit
memukul tangan Jiyong di atas meja makan dengan sendok.
“auu..
sakit!”ucap Jiyong sambil mengelus-elus tangan kirinya yang kena pukul Dis Tie.
“diam.
Kau menganggu makanku. Sekarang tanganmu aku pukul tapi, lain kali kepalamu ku
pukul.”ucap Dis Tie mengancam.
“mian.”ucap
Jiyong.
“tapi,
sekarang aku senang kau telah berani menghadapi mereka.”ucap Dis Tie sambil
memotong daging dengan pisau di piringnya. Chaerin tersenyum melihat tingkah
imonya dan Jiyong.
“kau
keteraluan meninggalkan Chaerin disana sendirian. Apakah kau tidak tahu Chaerin
troma dengan gedung itu.”ucpa Jiyong sambil memasukkan sesuap makanan ke
mulutnya.
“karena
aku tahu, makanya aku melakukannya.”ucap Dis Tie. Jiyong kaget dan meletakkan
sendoknya dan berhenti mengunyah.
“maksudnya?”Tanya
Jiyong binggung.
“jika
Juliet baik-baik saja tak mungkin Romeo rela mati untuk menyelamatkan Juliet.
Chaerin dan Jiyong terdiam seketika mendengar ucapan Dis Tie.
“Saeng..
kau membuat sang Juliet dan Romeo bisu sekarang.”ucap Taeyang tertawa pelan
melihat Jiyong dan Chaerin.
“imo,
aku akan membalasmu.”ucap Chaerin lalu meminum air putihnya.
“wae?
Aku salah? Aku dengar kalian sudah mengaku pada orang tua dan orang tua kalian
setuju. Lalu, apa lagi? Jiyong sekarang bukan waktunya jadi pengecut. Sudah
saatnya kau melamar Chaerin”ucap Dis Tie sambil menunjuk Jiyong dengan
sedoknya. Taeyang lagi-lagi hanya tertawa pelan.
“imo!”protes
Chaerin.
“kalian
ini bicara apa?”kata Jiyong pura-pura tak mengerti.
“terserah
jika kau memang pura-pura tidak tahu. Kau menyesal nanti.”ucap Dis Tie santai
sambil kembali menikmati makanannya.
Malam
telah tiba, Jiyong menuju dapur karena perutnya sudah mulai lapar. Langkah kaki
Jiyong tertahan melihat Chaerin sedang bersama seseorang. Orang itu mengenakan
celana Jins dan kemeja biru dengan motif kotak-kotak walau terlihat sedikit
kebesaran tapi, terlihat sangat keren. Orang itu seakan memegang tangan
Chaerin.
“apa
yang kalian lakukan?”Tanya Jiyong.
“belajar
masak. Dia sedang mengajariku masak.”ucap Chaerin santai.
“dia
siapa?”Tanya Jiyong. Orang itu langsung melepaskan tangan Charin dan mendekati
Jiyong.
“ah,
aku Sung Hyo.”ucap namja itu sambil mengulurkan tangannya. Jiyong menatap Sung
Hyo itu tidak senang sedangkan namja itu tersenyum dengan manis.
“Jiyong,
tunangan Chaerin.”ucap Jiyong percaya diri sambil berjabat tangan.
“belumkan.
Jadi, aku bisa merebutnya?”Tanya Sung Hyo sambil menatap Chaerin yang sedang
memotong sayuran.
@makan
malam.
“ini
untukmu. Kau sangat menyukai sayuran ini kan?!”ucap Sung Hyo sambil memberikan
sebuah sayuran ke piring Chaerin.
“gomawo”ucap
Chaerin tersenyum sedangkan Jiyong hanya memperhatikan mereka.
“aku
sudah mengatakan apa orang tua kita. Pernikahan kita akan segera
dilakukan.”ucap Jiyong sambil berusaha menenangan diri.
“mwo?
Kau yakin?”Tanya Chaerin kaget.
“ne”
“terserah
kau saja.”ucap Chaerin santai.
“makan
perlahan. Itu tak baik untuk lambungmu.”ucap Sung Hyo sambil memberikan segelas
air putih pada Chaerin. Jiyong semakin kesal melihat Sung Hyo.
@
pernikahan Chaerin dan Jiyong.
Pernikahan
mereka baru saja berlangsung. Pernikahan sederhana yang hanya dihadiri
keluarga. Jiyong terdiam kaku saat melihat sesosok di depannya.
“Sung
Hyo?”ucap Jiyong binggung.
“kau
cantik sekali.”ucap Chaerin menyambut Sung Hyo yang berjalan menghampirinya.
Sung Hyo mengenakan mini dress berwarna kuning serta rambut pendeknya kini
ditata dengan manis, dia terlihat cantik.
“aku
cemburu dengan gadis?!”ucap Jiyong tak percaya.
“mwo?
Kau melakukan ini jangan bilang karena cemburu dengan Sung Hyo?”Tanya Chaerin
manatap Jiyong tajam.
“sayangnya
itu benar.”ucap Jiyong.
“mati
saja kau Kwon Jiyong! Apakah kau tak bisa membedakan namja dan yeoja?
Paboya!”maki Chaerin sambil memukul Jiyong.
“appo!
Berhentilah. Bukankah kau juga suka jika pernikahan ini dipercepat?”balas
Jiyong.
“tapi,
tak secepat ini.”ucap Chaerin. Dengan santainya Jiyong duduk di sebuah kursi
lalu memejamkan matanya karena kelelahan.
“kau
lelah?”tanya Chaerin sedikit cemas. Jiyong membuka matanya, tatapan matanya kini
menjadi lembut. Jiyong menarik Chaerin hingga Chaerin duduk dipangkuan Jiyong.
“hay
cinta pertama Jiyong, kau bisa tenang sekarang. Jadi pergilah! Jiyong
akan bahagia bersamaku.” Ucap Chaerin pelan saat melihat arwah yeoja yang biasa
mengawasi Jiyong.
“hey,
apa yang kau lakukan pada Jiyong?" teriak Dis Tie berlari dari kejauhan.
"aku
tak melakukan apa-apa."ucap Chaerin binggung.
"namja
payah! dia terlalu lemah, baru saja dia kesurupan lagi."jelas Dis Tie yang
baru saja mengusir arwah yang masuk ke Jiyong. Kini Jiyong tertidur lemah.
“ckckckck..
baru kali ini aku melihat ada pengatin namja kesurupan.”kata Taeyang tersenyum,
dia baru saja menyusul Dis Tie.
“cih,
sepertinya aku salah setuju menikah dengannya.”kata Chaerin sambil melihat
kasihan pada Jiyong yang tertidur lemas di kursi.
“apa
perlu kita membawanya?”tawar Taeyang.
“acara
baru saja dimulai. Tidak mungkin pengantin prianya tidurkan? Bangunkan saja
dia.”ucap Dis Tie kesal.
“biarkan
saja dia disini. Itu hukan dia kali ini.”kata Chaerin berbalik, dia akan pergi
meninggalkan Jiyong.
“ide
bagus.”susul Dis Tie dan Sung Hyo.
"kalian
yakin???"kata Taeyang cemas tapi, Chaerin cuek saja.
"katanya
akan jadi pria yang dapat menjagaku, mana janjinya itu?"gerutu Chaerin.
End
Aku
suka FF ini maaf jika aku malah menghancurkan ceritanya. Sulit bagiku
melanjutkan ff ini karena ide cerita disini sulit untuk di prediksi tapi, aku
sudah berusaha semaksimal mungkin. Aku tidak akan menggantikan siapa-siapa
karena dari awal kami berbeda. Maafkan aku! terimakasi komentar dan sarannya.
Hahahah ceritanya seruuu kekekeke XOXO buat author
BalasHapus