jangan lupa

JANGAN LUPA KOMENTAR YA..

Rabu, 24 Februari 2016

GET A READY [PART 5]



GET A READY [PART 5]

Author: Kim Daisy
Cast: SkyDragon, dkk
Genre: roman, hurt
Rate : Adult
Lenght : MultyChapter
Rate Adult karena FF ini perlu pemahaman lebih complex. Maaf, kalau terlalu banyak tokoh OC dan OOC disini karena yah.. saya suka. *plak!
Ok, ini ff sangat panjang jadi sabar ya...

‘setiap luka akan menimbulkan efek yang berbeda setiap orangnya karena jiwa, pikiran dan tubuh setiap orang punya ketahanan yang berbeda. Mungkin luka yang di timbulkan dari goresan pisau tidak akan kau pedulikan. Tetapi, beberapa orang akan segera mengobati luka itu agar tidak terjadi infeksi. Tapi, dari beberapa orang yang melakukan pengobatan pun akan terjadi infeksi padahal banyak yang merasa bahwa itu karena hal sepele. Rasa sakit sekecil apapun tidak ada yang menginginkannya tapi,rasa sakit itu tidak terhindar. Jadi, yang bisa kita lakukan hanya berusaha tidak merasakan sakit yang semakin dalam. Kau pasti pernah di bohongi tapi, bagaimana jika yang membohongimu adalah orang terdekatmu? Rasanya akan menjadi 3 kali lipat lebih sakit bahkan lebih. Ingatlah semakin kau dekat dengan seseorang maka semakin mudah kau terluka olehnya.’

Chaerin Pov
Malas. Kata itu yang hari ini mungkin sudah 100 kali ku ucapkan. Setelah berdebat dengan appa malam itu, Harin selalu mencoba menenangkanku dan memintaku untuk mengalah. Dia juga memintaku menghilangkan egoku. Maaf, ini masalah idiologi dan prinsipku sehingga aku sulit untuk mengalah.

“kau terlihat lesu. Kau sakit?”Tanya Jiyon yang menghampiriku dengan piring makan siangnya. Jiyon kini sudah duduk di sampingku. Wajahnya tetap cerah walau aku tahu banyak persalinan yang dia lakukan akhir-akhir ini.

“tidak tapi, aku punya beban masalah yang berat akhir-akhir ini.”jawabku sambil memotong sosis yang ada di piringku.

“aku kira. Saat ku melihatmu di pertunangan Dami unnie tidak ada masalah. Memang ada masalh apa?”kata Jiyon semangat. Jiwa reporter dan wartawannya kini bangkit.

“sepulang dari sana, orang tuaku memintaku segera menikah.”kataku dan itu membuat tawa Jiyon pecah. Aku menatapnya tajam karena dia tidak seharusnya tertawa.

“maaf, lanjutkan. Khm..”

“kami bertengkar dan aku mengatakan aku tidak ingin menikah dan ingin mengadopsi anak.”

“kau benar-benar gila. Umurmu sudah hampir 30 tahun, kau tidak memiliki pasangan. Saat ada pria yang mengincarmu dan keluarga sudah setuju kau malah tidak memberikan pria itu kesempatan. Sekarang orang tuamu mulai gerah, kenapa kau tidak katakan kau sedang menjalankan hubungan dengan seorang pria, aku yakin nanti orang tuamu akan tenang?”

“tidak ada pria yang cocok untuk hal itu.”jawabku. Lagian berpura-pura memiliki kekasih itu ide lebih gila lagi menurutku.

“aku rasa kau cukup dekat dengan dokter Park di departemenmu.”kata Jiyon dengan tatapan penuh selidik. Sungguh di cocok membawa acara gossip.

“dokter Park? Hahaha. Kau bercanda.”

“ah.. kau dengar sebuah gossip kalau dokter Shin di departemen otak dan syaraf mencoba dekat denganmu? Kata orang di saat dokter Shin mabuk maka dia menyatakan cinta untukmu.”

“aku tidak pernah tahu hal itu. Seingatku, sepertinya tidak ada dokter yang menyatakan cinta padaku.”jawabku sambil mencoba mengingat-ingat kembali.

“tentu saja. Dia menyatakan ke semua wanita dan wanita-wanita itu dia kira adalah kau. Padahal melihatmu lewat saja dia langsung gemeteran.”

“cukup gila. Aku tidak ingin dekat dengannya, kau harus menjauhkanku darinya. Tapi, bagaimana kau tahu hal itu?”

“ah... Aku ini punya 1000 informer yang dapat dipercaya didalam rumah sakit ini. Aku kira jika kalian bertemu itu akan seru.”

“mimpi saja kau! Ah.. aku ingin menonton pertunjukan Soo Rin hari ini. Kau ada waktu?”

“kau tidak mengajakku untuk berkencan kan?”

“aku masih normal!”protesku dan itu membuat Jiyon tertawa.

“aku tidak bisa hari ini. Kau bisa pergi sendirikan? Atau kau mungkin akan mengajak Jiyong.”

“kalau gitu aku pergi sendiri.”

“Chae..”

“hm...”

“apakah kau benar-benar akan mengadopsi anak?”

“aku belum tahu. Tapi, sepertinya aku perlu berlatih dahulu atau memikir ulang dengan menjaga anak orang lain. Sebenarnya aku lebih berbakat membuat anak menangis dari pada membuat mereka tersenyum.”

“aku rasa tidak begitu.”

“kenapa?”

“saat kau kecil kau menjaga Jiyong. Karena kau menjaganya dengan baik makanya dia mencintaimu. Kau bisa menjadi omma yang baik, Chae. Jadi, segeralah menikah. Buat orang tuamu bahagia.”

“akan lebih baik jika melahirkan tidak menggunakan rahim atau perlu membuka sesuatu dalam tubuh maka tidak ada rasa sakit saat melahirkan. Jika itu benar-benar terjadi aku mungkin bisa memiliki anak.”

“kau gila? Kau pikir manusia bisa mengeluarkan anaknya lewat mulut seperti baby paus? Jika itu terjadi maka aku akan kehilangan pekerjaanku.”jawab Jiyon sambil mengunyah makanannya dengan kasar.

Aku duduk di sebuah kursi penonton untuk menonton opera Soo Rin, aku sengaja tidak memberitahunya terlebih dahulu. Hari ini Soo Rin memainkan seorang penyihir yang mencintai pria kaya yang hanya manusia biasa dan kisah cinta mereka harus berakhir karena perbedaan itu. Keluarga pria itu sangat tidak menyukai penyihir itu karena penyihir itu bukan dari keluarga kaya, bahkan mereka belum mengetahui bahwa wanita itu penyihir. Akhirnya penyihir itu mencium sang pria sambil membaca mantra dan perlahan pria itu melupakan tetang penyihir yang dia cintai bahkan foto mereka berdua kini hanya menampilkan gambar sang pria saja seorang diri. Tanpa sadar aku menangis. Cinta yang begitu tulus kenapa harus diakhiri karena status? Bukankah penyihir itu juga seorang manusia? Kenapa dunia begitu egois?
Seorang pria bertepuk tangan sambil berdiri di kursi VIP. Dari tubuh atletisnya, aku sadar itu adalah Kang Daesung. Sepertinya Kang Daesung sungguh-sungguh dengannya.

Seperti biasa ruangan Soo Rin begitu ramai oleh karangan bunga dan saat aku masuk aku melihat Daesung di sana sambil memberikan buket bunga indah secara langsung pada Soo Rin.

“wau.. Kang Daesung!”sapaku, seolah-olah aku kaget melihat kehadirannya di sini.

“ah.. Lee Chaerin.”balasnya tersenyum ramah seperti biasa.

“aku tidak menyangka kau suka menonton opera. Aku kira kau tidak punya banyak waktu menghibur diri,”kataku sambil berjabat tangan dengannya.

“aku juga baru menyadari opera begitu mengagumkan. Aku juga tidak mengira bertemu denganmu disini.”kata Daesung ramah. Dia terlihat malu saat berbicara dengan wanita padahal dia seorang pebisnis sukses.

“ah.. Soo Rin adalah sahabatku. Jika kau ingin berkenalan lebih dekat dengannya, kau bisa menghubungiku. Aku bisa membantumu.”balasku dan itu membuat Daesung tertawa untuk menutupi rasa malunya.

“oh.. baiklah. Aku akan menghubungi nanti. Sekarang aku harus pergi. Senang bertemu denganmu, Chaerin. Aku pergi dulu.”kata Daesung berpamitan denganku dan SooRin.

“ya.. hati-hati”kataku dan Soo Rin berbarengan. Aku menatap Soo Rin yang kini tersenyum.

“kau menyukainya”kataku langsung.

“hey, dia kaya, pria baik yang tidak mengenal wanita, dia juga berusia yang pas untukku. Tidak ada alasan untuk tidak menyukainya hingga saat ini.”kata Soo Rin santai lalu mencium buket bunga yang diberikan Daesung padanya.

“kau benar. Sayangnya dia tidak tertarik padaku terlebih dahulu.”kataku mencoba menggangu Soo Rin.

“haha.. kau sudah punya Jiyong, ingat itu Chaerin!”kata Soo Rin membuatku tertawa.

“kau tertawa dengan aneh. Ada apa kali ini?”Tanya Soo Rin dengan cemas.

“orang tuaku ingin aku segera menikah. Dan aku mengatakan aku tidak akan menikah dan akan mengadopsi anak. Bagaimana menurutmu?”kataku terang-terangan.

“aku saja ingin menikah, padahal aku benar-benar mengalami pengalaman buruk tapi, kau malah tidak ingin menikah karena tidak ingin terluka. Kau benar-benar menyebalkan. Pikirkanlah kebahagian orang tuamu juga. Apa kau yakin jika kau tinggal sendiri tanpa menikah kau akan bahagia tanpa terluka? Kau pasti juga ingin merasakan pelukan seorang pria, menyadarkan diri di bahu pria yang kau cinta saat kau lelah, dimanjakan olehnya dan ...”

“aku tahu, kalian semua menceremahiku dengan kalimat yang sama. Tapi, memang untuk saat ini aku tidak ada keinginan untuk kesana.”kataku sambil memotong ceramah panjang Soo Rin.

“kalau begitu jangan seenaknya memutuskan tali jodohmu.”

“kau ingin bicara apa? Aku tidak mengerti. Ah, aku datang kesini untuk menjernihkan pikiranku. Tapi, kau malah menceramahiku juga.”

“kau terlalu objektif, Chae. Orang dewasa jika sedang jatuh cinta maka tidak akan menggunakan akal sehatnya.”kata Soo Rin dengan tatapan seriusnya membuatku terdiam.

Setelah pulang dari tempat Soo Rin, Harin meneleponku untuk memberikan ceramah. Hari ini sudah cukup banyak ceramah yang aku dengar membuat kepalaku sakit. Aku mampir sebentar ke market untuk membeli beberapa alcohol dan soju. Sampai di rumah aku membuka botol-botol itu satu-persatu. Aku sadar tubuhku sebenarnya tidak bisa meminum minuman ini tapi, aku ingin menenangkan pikiranku sejenak. Mungkin besok aku tidak bisa bangun karena sakit tapi, aku tidak peduli. Rasa sakit ini harus aku hilangkan dengar rasa sakit lainnya. Aku meneguk alcohol dari gelasku yang ternyata satu-persatu mulai habis dengan cepat.

“akh..”alcohol ini serasa membakar tubuhku. Aku mungkin sudah terlalu banyak minum tapi, aku ingin minum lebih banyak.

Author Pov
Jiyong sibuk dengan beberapa operasi hari ini, juga ada banyak pasien yang harus dia control. Jam sudah menunjukkan jam 10 malam, menandakan jam kerjanya telah selesai dan besok adalah harinya untuk istirahat. Jiyong benar-benar harus beristrirahat karena akhir-akhir ini dia kurang tidur.

“Sepertinya besok aku akan tidur seharian.”gumamnya. Jiyong tersentak kaget karena tiba-tiba ponselnya bergetar.

“halo”jawab Jiyong saat mengangkat panggilan.

“kakak ipar, aku sudah menghubungimu dari tadi tapi, tidak berhasil. Kau sibuk ya?”suara Harin seakan menodongkan pistol begitu saja pada Jiyong.

“ya. Tapi, ada apa sebenarnya?”kata Jiyong penasaran. Tidak biasanya Harin begitu cerewet padanya.

“apa kau sudah pulang?”kata Harin setelah menarik nafasnya.

“aku baru saja akan pulang. Kenapa?”jawab Jiyong sambil merepikan peralatannya untuk bersiap-siap pulang.

“Apakah kau bisa mengecek sebentar ke rumah unnie? Kami sungguh khawatir. Sudah 3 hari ini dia tidak ada kabar semenjak omma-appa memarahinya bahkan dia tidak mengakat teleponku lagi.”jelas Harin. Jiyong terdiam karena kaget.

“kenapa mereka bertengkar?”
‘omma-appa meminta unnie segera menikah. Dia bilang dia tidak ingin menikah bahkan dia ingin mengadopsi anak Karena tidak ingin merasakan rasa sakit. Omma- appa terluka dengan jawabannya bahkan omma menangis. Tapi, setelah itu unnie terlihat kesal dan dia sulit dihubungi.’terang Harin. Setelah keluar dari mobilnya Jiyong berlari terus hingga akhirnya dia kini berada di depan apartemen Chaerin yang sebenarnya tidak cukup jauh dari rumah sakit.

“aku lupa tanya tentang kodenya.”gumam Jiyong merutuki kecerobohannya karena terlalu cemas. Jiyong mencoba untuk memencet belnya dan tidak lama Chaerin muncul dengan keadaan menyeramkan. Chaerin mengikat rambutnya dengan asal, kaos kebesaran yang sangat longgar berwarna hitam melekat di tubuhnya hingga lutut, wajahnya terlihat pucat dan matanya terlihat sayu. Tidak ada tatapan tajam seperti biasanya membuat Jiyong semakin cemas pada Chaerin.

“kau mengenakan kaos aboji?”kata Jiyong sambil masuk begitu saja kerumah Chaerin. Jiyong berusaha untuk tidak terlihat mencemaskan Chaerin. Jiyong tidak ingin membuat Chaerin tidak nyaman.

“kenapa kau kesini?”Tanya Chaerin sambil menutup pintu. Jiyong menutup hidungnya karena mencium aroma alcohol yang begitu menyengat.

“sudah berapa lama kau tidak membuka jendelamu?”kataku sambil membuka jendelanya, menampakan kota Seoul yang indah di terangi lampu beraneka warna dari balik kaca. Lalu, Jiyong menghidupkan AC ruangannya, dan menyemprotkan pengharum ruangan.

“pulanglah. Aku sedang muak untuk berbicara!”kata Chaerin ketus. Tapi, Jiyong tidak peduli. Jiyong sudah cukup terbiasa.

“kau seorang dokter tapi, tidak bisa menjaga kesehatanmu sendiri.”kata Jiyong sambil berdiri di belakang Chaerin lalu menutup mata Chaerin dengan tangannya. Kini tubuh Chaerin menyandar lemah di tubuh Jiyong.

“istirahatlah.”kata Jiyong lembut sambil memegang pahanya, menaruh tangan Chaerin di lehernya dan langsung mengakatnya ke kasur.

“pulanglah.”gumam Chaerin lemah.

“sudah berapa hari kau sakit?”

“aku tidak sakit.”

“kalau aku lihat kau sakit sudah dua hari ini kan?”

“ya. Kau cerewat sekali.”

“kau sudah mandi.”

“sudah. Tadi siang. Kepalaku terlalu sakit untuk berdiri.”

“sebenarnya kau minum sebanyak itu untuk bunuh diri?”

“...”tidak ada jawaban dan ternyata Chaerin sudah tertidur. Jiyong merapikan botol-botol akohol dan ayam yang Chaerin pesan sebelumnya. Chaerin menghabiskan untuk minum-minum dan selanjutnya dia sakit. Umurnya sudah segini ternyata juga tidak cukup dewasa untuk masalah-masalah tertentu.

Jiyong kembali ke rumahnya sebentar mengambil beberapa peralatanan dokternya. Setelah semuanya siap Jiyong kembali ke rumah Chaerin. Jiyong sudah mengambil kunci manual rumah Chaerin jadi sekarang dia bisa mudah keluar-masuk ke rumah Chaerin sesuka hatinya.
Jiyong dengan telaten masang infuse untuk Chaerin dan mengelap wajah Chaerin yang pucat. Saat Jiyong menyentuh ujung kaos kebesaran pada tubuh Chaerin, langsung dia urungkan mengganti baju Chaerin yang bahannya tidak nyaman untuk Chaerin kenakan karena dia terus berkeringatan.

“sekarang aku itu pasienmu. Kenapa kau ragu?”gumam Chaerin lemah tapi, Jiyong bisa mendengarkan gumamannya.

“sial! Kenapa aku seperti gadis tidak tau malu yang godanya?”umpat Chaerin dalam hati. Lalu dia memilih menutup matanya kembali dan menutup bibirnya rapat-rapat.

“aku rasa tidak perlu.”jawab Jiyong gugup.

“kau belum makankan? Aku sudah menyiapkan makanan untukmu.”kata Jiyong lagi dengan suara yang sudah tenang.

“tapi, aku ingin disuapin. Aku tidak manja. Kepalaku sakit. ”jawab Chaerin dengan sebuah alasan membuat Jiyong tersenyum kecil.

“aku akan mengambilkannya. Tunggu sebentar.” kata Jiyong.

Tidak lama Jiyong datang dengan membawa bubur tapi, Chaerin menutup matanya.

“kau tidur?”Tanya Jiyong lembut.

“tidak. Aku hanya tidak kuat membuka mataku terlalu lama.”jawab Chaerin lemah.

“ayo, makan.”

Jiyong menyuapi Chaerin dengan perlahan, seakan dia tidak kelelahan setelah pulang dari rumah sakit.

“kenapa kau bisa bicara seperti itu pada aboji?”kata Jiyong lembut dia tidak ingin menambah tekanan untuk Chaerin.

“kau tahu dari mana? Pasti Harin. Aku tidak tahu Harin mengatakan apa padamu tapi, aku mengatakan seperti itu karena memang itu yang ada dipikiranku.”jawab Chaerin setelah menelan buburnya.

“kau benar-benar akan mengadopsi anak?”

“aku belum ada niat untuk itu.”

“lalu kenapa kau berkata seperti itu?”

“hanya untuk membuat appa diam sementara.”

“kapan kau bisa membuka hatimu?”

“tidak tahu.”

“kau tidak ingin rasa sakit tapi, jika begini kau juga terluka kan? Kau akan sakit juga? Sakit fisik dan psikismu. Kau akan melanjutkan ini semua?”

“aku malas untuk berfikir. Sekarang, mana buburku!”protes Chaerin.

FLASHBACK
Langit sudah gelap, seperti biasa Jiyongg dijemput oleh ommanya. Dan seperti biasa pula Jiyong yang saat itu masih berumur 6 tahun di titipkan oleh Chaerin. Hanya saja hari ini Jiyong sedang terserang demam hingga dia menjadi agak rewel.

“sayang, ini sudah malam.”bujuk omma Jiyong karena dari tadi Jiyong masih tidak ingin pulang.

“kita akan beli es krim favoritmu saat pulang nanti.”bujuk ommanya lagi. Tapi, Jiyong pura-pura tidak mendengar tetap diam di pangkuan Chaerin yang benarnya sedang membaca buku pelajarannya menjadi sedikit terganggu.

“Jiyong, pulang dulu ya... besok kan kesini lagi. Jiyong harus tidur.”kata Chaerin mencoba ikut membujuk Jiyong. Seketika itu Jiyong menatap Chaerin. Mata Jiyong menjadi bersinar dengan senyuman manisnya.

“Chaerin ikut pulang. Chaerin tidur bersamaku. Kau mau kan, Chae?”Kata Jiyong tersenyum manis, Jiyong memiringkan kepalanya sehingga dia terlihat semakin menggemaskan.

“aku tidak bisa. Aku harus sekolah besok.”jawab Chaerin yang sebenarnya juga tidak kuat dengan aegyo Jiyong. Jiyong begitu manis dan menggemaskan dimatanya.

“Ayo Jiyong, jangan ganggu Chaerin lagi! Chaerin harus kesekolah besok pagi.”kata omma Jiyong membujuk Jiyong yang masing dipangkuan Chaerin dengan manja. Walau Chaerin lebih tua 7 tahun dari pada Jiyong tubuh mereka tidak jauh berbeda karena Chaerin memiliki tubuh yang imut.

“aku tidak mau pulang kalau Chaerin tidak ikut.”protes Jiyong memeluk Chaerin dengan kuat, takut terlepas dari Chaerin.

“Chaerin sayang, kau bisakan menginap di rumah kami? Aku akan mengantarmu kesekolah besok. Kau siapkan seragam dan keperluanmu untuk sekolah besok. Kau mau kan? Ahjumma mohon.”kata omma Jiyong memohon dan setelah dapat izin dari orang tuanya, Chaerin pergi dengan Jiyong. Malam itu Jiyong tidak ingin lepas dari Chaerin. Saat Chaerin menyiapkan pakaiannya, Jiyong selalu mengikuti sambil menggenggam rok Chaerin dengan kuat, saat di perjalanan Jiyong menggegam tangan Chaerin dan saat tidurpun Jiyong memeluk Chaerin yang tidur dikasurnya. Jiyong semakin manja pada Chaerin saat sakit.

FLASHBACK END

Jam sudah menunjukan jam 6 pagi dan Chaerin bangun dengan tubuh yang segar seakan dia tidak sakit beberapa hari ini. Bubur yang Jiyong masak untuk Chaerin adalah bubur yang dicampur dengan telur, nasi, jahe dan jamur, terdengar rasanya memuakkan tapi, Jiyong benar-benar pandai memasaknya. Chaerin membuka infuse yang terhubung dangan tubuhnya. Sedangkan Jiyong tertidur disisi kasur Chaerin. Chaerin mengusap dahi Jiyong untuk mengawaskan poni yang menutupi wajah Jiyong tapi, wajah Chaerin tersenyum puas.

“sekarang dia yang demam.”gumam Chaerin.

“ah, kau sudah bangun?”kata Jiyong sambil menangkap tangan Chaerin yang akan beranjak dari dahinya.

“ya. Kau demam. Hari ini kau liburkan? Tidurlah dulu. Aku akan bersiap-siap kerja.”

“ya.”kata Jiyong beranjak dan naik ke kasur Chaerin dan tiduran di samping Chaerin. Chaerin ingin bangun dari kasurnya tapi, Jiyong menahannya.

“jangan sakit lagi!”kata Jiyong sambil menutup matanya.

“ya.”

“jangan membuat orang lain mencemaskanmu karena tidak ada kabar!”

“ya.”jawab Chaerin tersenyum tipis dan Jiyong melepaskan Chaerin.

Karena ketidakhadiran Chaerin beberapa hari lalu jadwal Chaerin menjadi penuh dan sedikit berantakan. Untung saja bukan Chaerin yang mengatur jadwal pemeriksaan pasien, Jika ia maka kepalanya akan kembali sakit. Tapi, karena itu Chaerin harus pulang lebih lama untuk menganti ketidak hadirannya beberapa hari lalu. Dan Chaerin sangat bersyukur bahwa dia dokter gigi yang jam kerjanya tidak terlalu lama dan kerjanya tidak terlalu rumit. Dia tidak bisa bayangkan jika dia akan menjadi dokter kandungan seperti Jiyon yang sering dapat panggilan darurat dari pasiennya. Sehingga dokter-dokter akan berusaha secepat mungkin berada di rumah sakit.

Dengan santai Chaerin memasukki rumahnya. Dia melihat Jiyong yang dengan santai tiduran dikasurnya sambil menonton televise yang menyiarkan acara musik.

“kau masih disini?”kata Chaerin langsung.

“kau sudah pulang?”kata Jiyong balik bertanya.

“kau menyebalkan.”

“kau sudah makan? Aku sudah menyiapkan makan malam untukmu.”

“kau masak apa?”

“hanya memasak yang ada dikulkasmu. Ayo,kita makan!”ajak Jiyong sambil mematikan televisi dan bangkit dari kasur menuju meja makan.

Kini Jiyong dan Cherin berada di meja makan. Jiyong dan chaerin terlihat santai menkmati makanannya.

“boleh aku tahu kenapa kau tidak ingin menikah? Aku tidak ingin menghakimimu, sungguh aku hanya ingin tahu.”kata Jiyong membuka percakapan.

“aku hanya tidak ingin merasakan sakit ataupun terluka.”

“ada alasannya kan?!”

“tidak, juga. Love is pain, pain is love. Tidak ada alasan karena sakit itu datang tanpa alasan.”

“jika begitu kau juga seharusnya mencoba membuka hatimu, bukankah begini pun kau tetap terluka dan merasakan sakit?”

“kenapa? Kau ingin aku mencoba memiliki hubungan cinta denganmu?”

“tidak. Tidak sebelum kau sadar kau tidak memiliki alasan untuk tetap menjadi seorang diri seumur hidupmu. Aku seorang pria, aku bisa saja menikah dengan wanita lain walau aku sangat mencintaimu. Mungkin aku tetap tidak bisa mencintai istriku itu karena aku tetap mencintaimu. Tapi, satu hal yang membuatku bahagia.”

“apa itu?”

“mengetahui kau tetap seorang diri. Aku akan sangat terluka jika melihatmu dengan pria lain. Tapi, tenang saja, aku belum putus asa untuk mendapatkanmu. Jadi, kau masih punya kesempatan menjadi milikku.”

“kau teralu percaya diri.”

“dan kau terlalu keras kepala dengan pemikiran anehmu itu.”

“aku benci kau yang seperti ini.”

“walau kau seperti ini, tetap saja aku mencintaimu.”Jawab Jiyong santai dan mengakhiri perdebatan mereka.

@Wushh Cafe
Malam ini masih begitu cerah dengan bintang yang menghiasinya. Entah kenapa Soo Rin malah melamun di salah satu kursi yang berdekatan dengan jendela kaca besar di Cafenya melihat pasangan-pasangan yang melewati Cafenya. Tiba-tiba matanya focus pada gadis kecil yang masuk ke Cafenya. Gadis itu masuk seorang diri sambil melihat kesana-kemari seakan mencari sesuatu. Dengan lemas Soo Rin mendekati gadis kecil itu.
“gadis kecil, kau mencari apa?”Tanya Soo Rin ramah dengan senyum manisnya. Sebenarnya Soo Rin bukan orangyang ramah hanya saja, ini adalah salah satu pekerjaan favoritenya sehingga dia menyukai ini semua sungguh-sungguh walau tubuhnya seakan mau rontok.
“uri appa.”kata gadis itu polos. Soo Rin menjadi binggung meminta gadis kecil itu duduk terlebih dahulu.
“siapa ayahmu? Apa tadi ayahmu disini?”Tanya Soo Rin lembut. Tolng catat ‘dengan lembut’ karena sesungguhnya Soo Rin bukan orang yang lembut pada orang.
“appa biasanya menunggu di cafe ini jugaku pulang latihan balet di depan cafe ini. Tapi, sepertinya appa belum datang. Apa aku boleh menunggu disini saja? Tempat latihan sudah kosong.”jawab gadis manis itu. Kira-kira umurnya baru delapan tahun. Gadis itu berambut panjang dengan rambut di ikat satu dengan sangat tinggi. Gadis itu semakin terlihat manis dengan hiasan pita di rambutnya.
“oh, baiklah. Silahkan menunggu disini. Aku Soo Rin, pemilik Cafe ini. Apa kau lapar?”kata Soo Rin lembut.
“aku RinRin. Terimakasih tapi, Aku tidak lapar unnie.”kata RinRin sopan membuat Soo Rin gemas.
“baiklah. Tunggu disini saja ya.”kata Soo Rin tersenyum.
Tidak lama Soo Rin datang kembali dengan membawakan milk shake rasa coklat ke meja RinRin.
“ini. Minumlah. Kau pasti lelah setelah latihan.”kata Soo Rin tersenyum tapi, RinRin menatap Soo Rin takut-takut.
“tenang, ini rendah lemak. Aku juga benci lemak.”kata Soo Rin dan seketika itu juga RinRin tersenyum.
“gomawo, unnie.”kata RinRin sambil menarik pipet milk shake agar mendekat padanya.
“ommo, RinRin.”seorang pria kaget saat melihat RinRin dengan Soo Rin.
“appa.”kata RinRin tersenyum.
“ah.. Soo Rin ssi. Gumawo telah menemani anakku.”kata Daesung setelah berjalan mendekat pada meja Rin Rind an Soo Rin.
“oh, RinRin anakmu?”Tanya Soo Rin kaget.
‘dia sudah memiliki istri.’pikir Soo Rin sedikit kecewa.
“ne.”jawab Daesung tersenyum manis hingga membuat matanya tidak terlihat lagi.
“kau pulang cepat hari ini?”Tanya Daesung pada RinRin.
“anni. Appa terlambat menjemputku hari ini.”jawab RinRin lalu meminum kembali milk shakenya.
“mian.”kata Daesung menyesal.
“appa.”
“hm..”jawab Daesung.
“ah, karena kau sudah datang disini seperti aku harus kembali ke belakang.”kata Soo Rin kaku.
“ya.. baiklah.” “gomawo, unnie!”kata Daesung dan Rin Rin berbarengan.
“kenapa kau tidak meneleponku?”kata Daesung pada RinRin.
“ponselku mati. Appa...”
Soo Rin pun melangkah kakinya ke dalam Cafenya.

Daesung mengantri ke meja kasir untuk membayar pesanannya. Walau Cafe ini cukup ramai tapi, kali ini Daesung tidak perlu mengantri lama.
“selamat malam tuan, ada yang bisa saya bantu?”kata karyawan cafe yang menjaga menjaga kasir.
“aku ingin bayar milk shake coklat.”jawab Daesung.
“nona Soo Rin meminta anda tidak perlu membayarnya. Apakah lagi?”kata pegawai itu ramah.
“aku pesan ayamnya 3”jawab Daesung.

TBC

Ah.. hutangku lunas minggu ini. Sampai jumpa minggu depan. Aku tunggu komentarnya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar