NOT ME! (VIGNETTE)
Author: Kim Daisy
Cast: Chaerin a.k.a CL 2ne1 dan Kwon Ji Yong a.k.a GD BIG BANG.
Genre: Angst
pict: Google
Pernahkah kau memiliki kekasih yang berada di 5 besar orang kaya di
negaramu? Sedangkan kau hanya rakyat jelata biasa. Buruknya lagi kau
tanpa ayah dan hanya tinggal di rumah biasa dengan ibu tiri serta dua
sodara tiri perempuan. Ini bukan kisah Cinderella yang menjadi premasuri
seorang pangeran tampan. Tapi, ini kisah gadis biasa yang terpuruk
karena cinta.
“sudahku bilang. Ikat rambutmu jika tidak bersamaku.
Kau semakin cantik jika mengeraikan rambutmu, aku tak ingin namja-namja
itu semakin menyukaimu.”ucap Jiyong oppa sambil mengikatkan rambutku
dengan gelang karetnya. Gelang karetnya yang keren itu kini ada di
kepalaku. Hay! ini bukan gelang karet biasa, hanya ada 8 buah yang sama
seperti ini karena ini edisi terbatas dari merek yang telah mendunia.
Jujur saja aku tak tahu nama merek-merek itu karena aku kurang tertarik
dengan fashion. Dengan keadaan keluarga seperti ini tak mungkin aku
sempat memperhatikan fashion.
“masuklah, kita akan bertemu tiga hari
lagi.”ucap Jiyong oppa sambil tersenyum seperti biasa. Dia berjalan
menjauh tapi, tetap melambaikan tangan padaku.
@tiga hari kemudian
Pagi ini aku menghabiskan waktu jam sarapanku untuk menangis. Jiyong
oppa, kekasihku kecelakaan. Pikiranku kacau. Sekarang aku sudah di rumah
sakit tempat Jiyong oppa dirawat. Wartawan telah memenuhi rumah sakit
ini membuat aku terhalang untuk masuk. Tapi, aku terlalu panik sehingga
entah kekuatan dari mana aku berhasil menuju depan kamar Jiyong oppa.
Dengan perlahan aku membuka pintu kamarnya. Neneknya telah berada
disampingnya. Ya, dia sama sepertiku tidak ada orang tua lagi menurutku
dia lebih kasihan karena tidak punya saudara.
“bagaimana keadaanya,
nek?”tanyaku. Air mataku jatuh tak tertahankan saat melihat tali-tali
infus menyatu dengan tubuhnya. Bahkan Jiyong oppa kini mengunakan tabung
oksigen.
“dia belum sadarkan diri.”ucap nenek Jiyong oppa.
@keesokan harinya di kantor.
“jadi Jiyongmu itu kecelakaan saat pulang dan sekarang belum sadarkan diri?”Tanya Dara unnie, rekan kerjaku.
“yah”ucapku lemas sambil menutup dokumen kerjaku. Seharusnya aku
memeriksanya kemarin. Handphoneku berdering. Melihat layar ponsel adalah
nenek Jiyong oppa aku segera mengangkatnya.
@rumah sakit
Dengan tergesah-gesah aku berlari ke kamar Jiyong oppa karena mendapat
kabar Jiyong oppa telah sadar. Dengan nafas terengah-engah aku membuka
pintu kamarnya. Jiyong oppa duduk di kasurnya. Matanya sudah terbuka,
dia sudah sadar. Reflek aku memeluknya karena aku rindu dengannya,
karena aku senang dia telah kembali untukku. Aku menangis tanpa suara,
aku sungguh senang.
“nek, kenapa orang lain bisa masuk ke sini?
Siapa dia?”ucap Jiyong oppa sambil melepaskan pelukanku. Aku menatapnya
binggung. Dia melihatku seakan aku orang asing yang baru dikenalnya.
Jiyong oppa telah diperiksa, sekarang dia ada dikamarnya. Sedangkan aku
di ajak nenek ke sebuah Café, aku punya firasat buruk tentang ini.
Salju turun perlahan, natal akan datang tapi, akankah natal tahun ini
akan bahagia? Aku duduk tepat berhadapan dengan nenek. Americano pesanku
telah tersedia dimeja.
“minumlah!”ucap nenek Jiyong oppa. Dengan beberapa kali aku meniup Americano yang masih panas lalu aku meminumnya perlahan.
“dokter bilang Jiyong lupa kejadian beberapa tahun lalu sehingga dia
melupakanmu. Itu akibat benturan di kepala saat dia mengendarai
mobilnya. Ini kesempatan untuk kita.”ucap nenek Jiyong oppa.
“maksudnya?”tanyaku binggung. Aku segera meletakan kembali cangkir americanoku.
“aku ingin kau memutuskan hubungan dengan Jiyong. Sebagai balasan aku
akan memberikanmu sejumlah uang agar kau bisa hidup nyaman.”
Hari
yang dingin ini seketika menjadi panas untukku. Bukan karena Americano
yang aku minum tapi, karena permintaan nenek Jiyong oppa membakar
hatiku.
“aku mohon. Berikan aku waktu. Aku yakin Jiyong oppa akan
mengingatku.”ucapku takut. Aku takut dia tak memberikan kesempatan itu.
“wanita sepertimu hanya membutuhkan uang. Meninggalkan cucuku, tidak akan ada ruginya bagimu karena aku akan membiayaimu.”
“cintaku tak seperti itu. Jiyong oppa sangat mencintaiku, dia tak akan
lama melupakanku. Sebentar lagi pasti dia ingat denganku.”ucapku.
“ingat yang pembicaraan kita ini. Aku tak ingin membuang waktuku. Aku
anggap kau tak setuju jadi, aku gunakan cara lain.” ujap nenek Jiyong
oppa dengan santai lalu pergi meninggalkanku setelah memeletakan
sejumlah uang di meja untuk pesanan kami.
Malam cerah tapi, tak secerah hatiku saat ini. Aku menatap bintang sambil bersender malas di tembok.
“hey, onnie! Bagaimana dengan Jiyong oppa?”ucap adik perempuanku, saudara tirku.
“dia sudah sadar.”ucapku lemah.
“lalu kenapa kau selesu ini?”tanyanya. Tapi, aku memilih diam. Ini akan
berakhir baik-baik saja, aku tak ingin bercerita terlalu banyak.
Bintang, izinkan dia mengingatku dan aku bisa kembali padanya.
“apakah kau rindu dengan appamu?”Tanya adikku.
“tentu saja.”ucapku datar. Adikku memelukku.
“ Kau menangislah, itu bisa membantu membuatmu menjadi lebih kuat.”dia
memberikanku semangat. Tapi, aku tak menangis aku hanya membalas
pelukaknnya.
------FLASHBACK------
“gunakan baju yang ini!”
“tidak! Sepatu itu tidak cocok untukmu!”
“ehm.. aku rasa jika kau melepaskan ikatan rambutmu akan menjadi lebih
cantik lagi. Tapi, kau hanya boleh melepaskan ikat rambutmu di depanku.
Hanya di depanku.”
“oppa, kau cerewet sekali.”ucapku.
“itu tandanya aku memperhatikanmu, Hunchae”balas Jiyong oppa.
“kau terlalu mengaturku, oppa”
“kau kekasihku, kau milikku kan?”Tanya Jiyong oppa dengan wajah serius. Aku mengaguk pelan. Langsung Jiyong oppa tersenyum.
“jadi, kau harus menurut padaku.”kata Jiyong oppa sambil mengelus kepalaku.
------ flashback and------
“oppa!! Oppa!! Bangun! Cepatlah kau bangun sebelum aku menciummu, Lee
Chaerin Oppa!”suara Jiyong oppa terdengar dari alaramku. Segera aku buka
selimut yang menyelimutiku. Ku matikan alaramku dan segara aku bangkit
dari kasurku bersiap-siap pergi ke kantor untuk berkerja.
@tiga puluh menit kemudian.
Aku melangkahkan kakiku keluar rumah, siap untuk pergi. Tapi, langkah
kakiku berhenti saat aku melihat Jiyong oppa sudah didepan pagar. Dia
mengenakan jas rapi berwarna abu-abu.
“Jiyong oppa, kau sudah diperbolehkan keluar.”tanyaku kaget melihatnya.
“ya. Nenek sudah menceritakan semuanya. Makanya aku kesini.”ucapnya datar. Apa yang dikatakan neneknya sebenarnya?
“kau sudah tahu tentang hubungan kita?”tanyaku sedikt ragu dan perlahan aku berjalan mendekati Jiyong oppa.
“ne.”ucapnya simpul. Tidak, hatiku sakit. Aku rasa ada yang tak benar.
Jiyong oppa tak pernah tidak menyambutku dengan senyuman.
“sebaiknya
kau berhenti mengejarku. Kau cantik, aku yakin banyak namja yang
menyukaimu. Jadi, menjauhlah dariku.”ucap Jiyong oppa.
“apa kau tak menyukaiku?”ucapku. Dadaku terasa sesak dan panas seakan ada api yang membakar hatiku.
“tidak. Untuk apa aku menyukai yeoja yang hanya mengejar hartaku.”ucap
Jiyong oppa datar. Matanya terlihat kosong, aku rasa dia tak mengerti
dengan ucapannya.
“kau salah sangka! Kita adalah sepasang kekasih
yang saling mencintai. Aku tak mengejar hartamu, oppa.”ucapku. Air mata
ini tak tertahan lagi, aku menangis.
“nenekku tak mungkin berbohong
padaku.”ucap Jiyong oppa. Dia membalikan tubuhnya, mulai berjalan
mendekati mobilnya. Dengan cepat aku menarik tanggannya.
“oppa, aku
tak pernah haus dengan harta. Aku sungguh mencintaimu dengan tulus.
Percayalah!”ucapku sambil menangis. Aku mengemis cinta, aku sendiri tak
percaya tapi aku melakukannya karena aku sungguh mencintainya.
“maafkan, aku. Tapi, aku harus menjauh darimu.”ucap Jiyong oppa sambil
melepaskan tanganku. Dia masuk kemobilnya dan pergi meninggalkanku yang
masih terduduk lemas sambil menangis.
“kau kenapa, Chae?”suara unnieku terdengar dari belakangku. Aku tak mampu menatapnya dengan wajah yang penuh dengan air mata.
“kau menangis? Bangunlah, masuklah terlebih dahulu. Tidak enak jika dilihat orang.”ucap unnieku sambil memapahku untuk berdiri.
Cintaku berakhir seperti ini. Aku tak menyangka akan semudah ini kami berpisah. Apa jadinya jika aku tanpanya.
@dua bulan kemudian
Aku berhenti dari kantorku seminggu setelah dia meninggalkanku. Tidak!
Lebih tepatnya aku diberhentikan Jiyong oppa. Dengan kuasanya dia mudah
untuk memecatku dari kantorku. Unnieku berhasil memasukkanku kesebuah
perusahaan penerbitan dan aku menjadi penulis di sini, freelance karena
aku belum bisa berkerja dengan baik. Aku belum mampu berdiri tegap penuh
percaya diri seperti dulu sejak Jiyong oppa meninggalkanku. Bahkan aku
rasa hidupku tak semenarik dulu.
END
Tidak ada komentar:
Posting Komentar