GET A READY [PART 8]
Author: Kim Daisy
Cast: SkyDragon (GD CL)
Genre: roman, hurt
Rate : Adult
Lenght : MultyChapter
Rate Adult karena FF ini perlu pemahaman lebih complex. Maaf, kalau terlalu banyak tokoh OC dan OOC disini karena yah.. saya suka. *plak!
Ok, ini ff sangat panjang jadi sabar ya...
---------------------------------
---------------------------------
Just loser yang tidak berani mencintai.
Untuk memikirkan siapa yang ku cintai saja membuat nyaliku ciut.
Terlalu takut sakit hati.
Terlalu takut mencintai.
Terlalu takut diperbudak cinta.
Dan terlalu takut untuk mengetahui bahwa dia yang aku cintai.
I’m loser.
-----------
Tidak lama setelah Jiyong pergi, Soo Rin tiba-tiba datang ke apartemenku karena mendengar ceritaku. Awalnya Soo Rin menelepon Chaerin karena mengira aku dan Jiyong sudah menjadi kekasih tapi, mendengarku menangis malam itu dia segera datang malam itu juga.
“kalian benar-benar seperti anak kecil. Yang satu egois dan berpura-pura tidak mau dan yang satu lagi berpura-pura berhati malaikat. Aku maklumi ini sama-sama pengalaman pertama kalian. Tapi, seharusnya Jiyong bisa memaksamu. Aku heran kenapa dia bisa bertahan denganmu yang seperti ini. Kau Lee Chaerin, apa sulitnya sih bilang ‘aku mau’, atau ‘aku juga’ saat Jiyong minta kau jadi pacarnya? Kalian benar-benar buat aku gila. Aku saja menerima Daesung yang baru saja aku kenal karena aku tahu dia serius padaku. Sedangkan kau, Jiyong sudah bertahun-tahun menunjukkan keseriusannya. Dia mau berubah dan mengalah padamu yang lebih tua darimu. Apa Jiyong harus mati dulu baru kau menyesal dan mengatakan perasaanmu yang sebenarnya?”kata Soo Rin yang sangat-amat marah padaku. Kami sudah lama berteman dan Soo Rin hanya akan marah jika kesalahanku benar-benar fatal.
“jangan katakan Jiyong akan mati! Kau kejam.”jawabku sambil menangis. Dadaku benar-benar serasa kebakar saat mendengarnya.
“kau lebih kejam dariku karena kau mempermainkannya. Rasa sakit apa lagi yang harus Jiyong rasakan agar kau menerimanya? Chae, alasanmu benar-benar tidak masuk akal.”kata Soo Rin yang nafasnya mulai tidak teratur karena emosinya yang meledak.
“kau harus tahu ini tidak mudah untukku. Aku tidak bisa. Aku sudah berusaha.”kataku dalam tangis. Soo Rin menghela nafasnya berkali-kali untuk menetralkan emosinya. Sesekali Soo Rin berjalan-jalan mengelilingi ruang, dia terlihat frustasi. Karenaku.
“lalu apa kau pikir Jiyong tidak berusaha untukmu? Kau pikir hanya kau yang berusaha disini? Kau pikir hanya kau yang pantas di cintai Jiyong?”kata-kata Soo Rin semakin melukai hatiku. Kaliamat-kalimat sederhananya bagaikan ribuan duri yang menusuk hati dan jantungku membuat dadaku sesak dan perih. Tidak biasanya dia berkata seperti itu padaku. Aku salah, aku tahu. Tapi, tidak bisakah dia tidak mengatakan hal itu padaku, dia sahabatku. Jika orang lain yang mengatakannya maka mungkin aku akan baik-baik saja tapi, jangan Soo Rin.
“aku bisa mengerti kau memiliki perinsip yang kuat. Aku tau kau keras kepala. Aku tahu semua pasti memiliki keegoisannya masing-masing. Aku tahu setiap orang punya rasa sakit yang berbeda tapi, aku tidak tahu bahwa kau bisa mengecewakan seperti ini.”kata Soo Rin sambil menarik dan mengeluarkan nafasnya dengar keras lewat bibirnya. Aku pun semakin kehilangan nafas teraturku. Air mataku mengalir dengan teratur tanpa diminta. Tubuhku melemas.
Aku tahu ini kesalahanku dan kalimat Soo Rin benar-benar berpengaruh untukku bahkan kalimatnya yang sederhana seakan bagaikan serangan bom nukir untukku.
“kau sakit karena ucapanku?”kata Soo Rin yang sudah tenang. Aku menangis sambil menganguk sebagai jawaban pertanyaannya.
“Jiyong lebih merasakan sakit dari pada rasa sakitmu sekarang. Bahkan kau membuatnya merasakan sakit ini berulang kali.”kata Soo Rin lagi dengan tenang tapi, tetap menyakitkan.
“maafkan aku. Aku salah. Ini salahku. Aku tahu.”tangisku.
“kau fikir luka yang dia dapat bisa kau obati? Kau menyakiti perasaannya, kau juga menyakiti harga dirinya. Jika aku jadi dia, lebih baik aku mati karena orang yang sangatku cintai saja tidak menerimaku. Teruslah menangis hingga air matamu tidak keluar lagi. Hingga suatu saat nanti kau selalu ingat bahwa begini rasa sakit sesungguhnya.”kata Soo Rin langsung menghilang dari apartemenku. Dia meninggalkan aku menangis sendiri. Aku telah mengecewakan semua orang.
Keesokan harinya, Aku bertemu dengan Jiyong saat makan siang. Dia tersenyum kaku padaku. Aku merasa sangat bersalah hingga sulit untuk berbicara dengannya. Ku raih ponsel di jas dokterku. Ku ketik pesan singkat sebagai permintaan maafku pada Jiyong. Aku melihatnya terus hingga akhirnya Jiyong meraih ponselnya, membaca pesan itu, lalu dia melihatku dan tersenyum lembut padaku.
Mendapatkan senyuman lembutnya saja sudah seperti hukuman untukku. Apakah aku masih pantas untuk mendapatkan senyuman manisnya?
@keesokan harinya.
Aku kira Jiyong sudah menyerah padaku. Tapi, yang sekarangku lihat adalah Jiyong duduk di meja makanku dan menyantap masakanku dengan lahap.
“kenapa? Apa yang ingin kau bicarakan padaku?”tanyanya sambil mengunyah. Apakah aku bermimpi bahwa dia disini? Ini tidak nyatakan?
“ada apa Chae? Kau terlihat berbeda.”katanya sambil menggegam tanganku yang berada di atas meja makan.
“kau sakit?”kata Jiyong lagi-lagi karena aku juga tidak meresponnya. Dia bisa mencemaskanku padahal aku sudah sangat menyakitinya.
“maafkan aku.”kataku pada akhirnya.
“tadi kau sudah minta maaf.”kata Jiyong tersenyum lembut.
“tapi, kau terluka.”
“aku tidak apa-apa.”
“tidak apa-apa apanya? Kau memang tersenyum tapi, senyuman itu tidak seperti dulu. Kau memaksakan senyumanmu.”kataku keras karena tidak terima dia terluka. Aku tidak terima dengan sikapku yang terus melukainya.
“tidak masalah. Aku baik-baik saja. Aku hanya perlu waktu.”jawab Jiyong sambil mengelus tanganku lembut.
“kenapa kau tidak meninggalkanku saja?”
“karena aku mencintaimu. Dan aku sadar kau perlu waktu untuk ini semua. Mungkin akan jauh lebih mudah jika aku mencintai wanita lain dan menyerah tapi, aku tidak bisa untuk berhenti mencintaimu. Aku sudah mencoba tidak mencintaimu selama bertahun-tahun tidak bertemu denganmu tapi, aku gagal. Bahkan saat itu aku tidak menghubungimu dan dapat kabar tentangmu. Aku bisa mengerti dengan keputusanmu yang menurutku egois tapi, aku harap kau bisa mengerti dengan keputusanku yang egois ini juga.”kata Jiyong serius tanpa berhenti menatap mataku. Dia mencoba meyakinkanku dan aku tahu dia jujur, dia serius padaku tapi, masih sangat sulit bagiku untuk bilang ‘Jiyong, menyerah saja. Karena aku telah sadar bahwa aku mencintaimu.’ Tapi, bibir ini tetap tertutup rapat seperti diberi perekat dan lidah ini menjadi kelu. Aku hanya bisa larut oleh pesona pada mata Jiyong. Cinta berhasil membuatku gila.
Dari kejauhan aku bisa melihat Jiyong sangat sibuk. Tidak ada perubahan yang begitu besar. Jiyong hanya menjadi sangat jarang untuk mengirimiku pesan ataupun bersikap manis padaku. Mungkin dia masih terluka. Dan yang aku tahu aku juga terluka karena sikapku sendiri.
Beberapa hari ini banyak gossip yang mengatakan Jiyong dekat dengan seorang wanita dan sering pulang-pergi dari rumah sakit dengan wanita itu. Setelah aku selidiki ternyata wanita itu adalah Soo Rin. Bukan Soo Rin yang lain, Soo Rin sahabatku yang telah membuka mataku dengan kalimat-kalimat menyakitkannya. Tapi, saat kami bertemu di tempat parkir Soo Rin hanya menatapku tanpa bicara ataupun tersenyum. Wajah Soo Rin tanpa ekpresi seakan tidak mengenalku. Bagus. Selain kehilangan kesempatan mendapatkan cinta aku juga kehilangan sahabat terbaikku karena satu bola. Aku hebat menyakiti perasaan dan bersikap bodoh ternyata.
“kau terlihat berbeda, dr Lee.”kata dr. Park yang sedang membereskan peralatannya.
“aku hanya kelelahan.”jawabku dengan berbohong. Tidak juga sepertinya, karena aku lelah memaki diriku sendiri yang begitu egois.
“Kau sungguh tidak bisa berbohong selain menipu perasaanmu. Kita tidak punya banyak pasien akhir-akhir ini tapi, kau punya mata panda yang lucu. Itu baik untuk menarik pasien anak-anak.”Canda dr. Park yang menyebalkan.
“kau tahu?”
“kau sibuk pada duniamu sendiri. Dan aku yakin kau tidak tahu bahwa Soo Rin sudah resmi berpacaran dengan Daesung, si pengusaha sukses. Aku juga pasti tidak tahu bahwa Jiyon sudah berpisah dengan kekasihnya dan baru-baru ini sudah punya kekasih baru.”
“mwo?? Kenapa mereka merahasiakannya dariku dan malah memberitahukannya padamu? Mereka mengaggapku musuh sekarang.”
“bukan begitu. Mereka bukan merahasiakan. Tapi, itu karena kau terlalu asik duniamu sendiri dan aku bisa tahu semua ini karena akulah yang menjadi kekasih Jiyon yag baru itu.”
“kau menjadi selingkuhan Jiyon?!”selidikku tidak percaya.
“buang pikiran burukmu! Jiyon berpisah dari mantan kekasihnya itu sejak 4 bulan lalu, tidak lama sejak Jiyong menjadi salah satu dokter disini. Mereka berpisah karena mantannya itu kesepian dengan Jiyon yang selalu sibuk.”
“lalu, kalian tiba-tiba berpacaran? Aku tidak menyangka.”
“tidak ada yang tiba-tiba, dr. Lee. Aku dan Jiyon bukankah dari dulu cukup dekat karena kau.”
“ah.. sudahku duga kau penggangu percintaan.”
“aku bilang aku tidak seperti itu! Aku serius. Syukur saja Jiyon tipe wanita yang tidak keras kepala untuk menyembunyikan perasaanya seperimu. Aku tidak sanggup jika mengalami hal serupa dengan dr. Kwon. Dia benar-benar pria tangguh.”
“temanmu sebenarnya siapa?”protesku.
“aku selalu disisi yang menurut penilaianku benar, dr. Lee. Berhentilah menipu perasaanmu sendiri. Asal kau tahu kau akan sangat menyesal jika dr. Kwon menemukan cinta yang baru atau menyerah padamu. Aku pergi. ” kata dr. Park sambil keluar dari ruangan. Ya, yang di ucapkannya tidak salah. Tapi, bagaimana caraku untuk memulainya? Apakah aku langsung mengatakannya? Aku tidak ingin dibilang wanita tidak tahu malu. Bagaimana ini? Ahh.. aku hanya berharap Jiyong mengatakan perasaannya sekali lagi padaku dengan begitu aku bisa memberitahukannya perasaanku. Ya, begitu caranya. Tapi, apakah dia akan melakukannya lagi? Dia sudah terlalu seringku tolak. Aku sudah terlalu sering menyakitinya.
Aku tidak sengaja bertemu dengan Jiyong di sebuah supermarket dan dia sedang dikelilingi wanita, seperti biasa. Tidak sedikit wanita yang menyentuh bahkan memeluknya. Entah sudah berapa lama aku berdiri disini tapi, Jiyong masih di kelilingi wanita-wanita itu, bahkan jumlahnya semakin banyak membuat Jiyong semakin terlihat tidak nyaman.
Tanpa sadar aku melangkahkan kakiku mendekati Jiyong.
“Maaf, Jiyong bukankah kau bilang ingin menghabiskan malam ini denganku.”sial. kenapa kalimat menjijikkan itu yang keluar dari mulitku? Ini bagaikan dejavu.
Jiyong tersenyum lembut padaku.
“tentu saja, aku akan bersama wanita yangku cintai. Ayo, kita pergi.”kata Jiyong yang akhirnya bisa lolos dari kerumunan wanita-wanita itu dan meraih tanganku dengan senyumannya dan juga tatapan yang membuat jantungku seakan akan berasap sebentar lagi. Itu adalah tatapan dan senyuman yang sudah lama tidak dia perlihatkan padaku. Aku yang membuat senyuman manis itu hilang akhir-akhir ini. Ini salahku.
“jangan marah! Maafkan aku membuatmu lama menunggu!”kata Jiyong lembut lalu memelukku dan mengecup kepalaku dengan sayang. Tidak ada yang perlu aku maafkan karena selama ini aku yang membuatmu menungguku.
“kau ingat dulu ini juga terjadi disaat ulang tahun Soo Rin nuna?”kata Jiyong tersenyum sambil mengendarai mobilnya dan sesekali dia melirikku yang duduk di kursi sebelahnya. Aku tidak membawa mobil karena letak supermarketnya tidak jauh dari apartemen. Tapi, Jiyong menggunakan mobilnya karena sepertinya jam kerjanya baru berakhir di waktu hampir tengah malam. Aku hanya menjawab Jiyong dengan gumaman dan anggukan kecil.
“kau baru pulang?”tanyaku kaku. Ada sesuatu yang salah pada diriku. Aku gugup.
“ya, tapi, malam ini aku akan menghabiskan denganmu.”kata Jiyong sambil tersenyum seakan dia punya niat buruk padaku. Aku terdiam. Otakku sejenak berfikir yang mungkin akan terjadi. Aku memang mencintainya, aku sadar hal itu. Tapi, aku belum siap untuk melakukan hal itu. Aku tidak siap.
“kau berfikir hal-hal dewasa? Aku cukup lelah sehingga mungkin lain kali hal itu akan terwujud. Jadi, kau tenang saja.”kata Jiyong tertawa puas.
“aku tidak wanita yang seperti itu. Aku belum siap.”kataku sambil memukulnya dengan lobak berukuran sedang yang kubeli hingga patah tapi, aku tetap memukulnya. Sial, kenapa sikapku aneh begini? Kenapa aku bersikap memalukan?
Kini tanganku seakan ada yang menahannya. Aku membuka mataku yang awalnya tertutup.
Sial. Tatapan itu.
Jiyong menatapku lekat. Aku melemas sehingga lobak yang patah terlepas dari genggamanku. Mungkin Jiyong atau aku atau kami sama-sama tergerak hingga kini bibir kami saling menempel. Jiyong memelukku dengan hangat.
“aku mencintaimu.”kata Jiyong tersenyum lembut ketika kecupan dibibirku berakhir.
“kita telah sampai.”Kata Jiyong menyadarkanku dari pesonanya.
“Jiyong..”
“ya”
“tidak ada.”kataku akhirnya setelah berdiam beberap lama. Kenapa aku tidak bisa membalas ucapannya? ‘aku juga mencintaimu’ kenapa begitu sulit diucapkan? Mengapa sangat sulit untuk memulainya? Setelah menyadari perasaanku kelemahanku adalah saat melihat senyumannya. Senyumannya semakin ‘mematikan’ dari pada sebelumnya. Saat dia terseneyum seperti tadi selalu berhasil meluluhkan hati para wanita dan berhasil membuatku kehilangan oksigenku. Cinta itu rumit. Malam ini mungkin aku tetap tidak bisa tidur karena memikirkan semua ini.
“masuklah dulu.”kata Jiyong bagaikan pemermintaan.
“kau..”kataku menggantung.
“aku ada urusan diluar.”jawab Jiyong sambil tersenyum lembut dan akhirnya aku keluar dari mobilnya. Dan mobil Jiyong langsung pergi tanpa menungguku masuk ke apartemen. Aku harus mencari waktu yang tepat untuk mengucapkan perasaanku.
Pagi ini bibirku ini tidak bisa berhenti tersenyum. Gilanya, aku tidak mengerti apa yang membuatku sebahagia ini.
“kau terlihat bahagia hari ini? Apakah terjadi sesuatu yang tidak kami ketahui?”kata dr. Park yang kini sudah duduk di depanku. Sial aku akan dipermainkan dr.Park nanti.
“tidak. Aku hanya ingat tadi. Ada nenek-nenek yang mengatakan dia terlihat lebih muda saat aku berhasil memasang gigi palsunya.”jawabku berbohong.
“sepertinya tidak ada yang lucu.”jawab dr. Park dengan wajah seriusnya. Sial, aku gagal.
“cepat angkat bokongmu itu dari kursi. Jiyon ingin bertemu denganmu di cafe.”intruksi dr. Park.
“aku tidak bisa pergi lama-lama.”jawabku. Aku belum berani bertemu dengan Jiyon atau Soo Rin karena mereka masih marah padaku. Mereka belum membalas pesanku dan menghubungiku. Sangat jelas sekali mereka menghindariku.
“hanya sebentar.”kata dr. Park menarikku dan akhirnya aku berhasil dibawanya ke cafe yang berada di depan rumah sakit. Jiyon duduk di salah satu meja yang menghadap kejalan raya. Dia focus melihat keluar bahkan hingga tidak menyadari keberadaanku atau memang sengaja berpura-pura tidak peduli.
“hmm..”gumam dr. Park berhasil membuat Jiyon melihat kami. Dia terlihat gugup.
“duduklah. Aku akan memulai pembicaraan ini ketika Soo Rin datang. Dia bilang dia lagi di perjalanan bersama Jiyong.”jelas Jiyon tanpa melihat ataupun melirikku seakan aku transparan. Ini adalah hukumanku, aku harus kuat walau rasanya aku ingin menangis.
“ah itu mobil mereka.”kata Jiyon sambil menunjuk ke luar. Sebuah mobil Jiyon berjalan dengan kecepatan stabil dan sebuah mobil tiba-tiba menabrak mobil mereka. Di jalan yang sepi ini. Ini tidak mungkin.
“Tidak.”teriakku melihat sebuah mobil terbentur dengan mobil mereka. Mobil mereka mengeluarkan asap putih. Aku berlari keluar tanpa sadar. Tujuanku hanya mobil putih yang di kendarai Jiyong.
“tolong selamatkan mereka!”teriakku di tengah jalan. Orang-orang hanya melihat dan beberapa orang lainnya memotret kejadian ini.
“tidakkah ada yang punya hati nurani disini?”teriakku dengan sebuah tangisan keras yang tidak bisa ku control lagi. Aku semakin mendekat pada mobil Jiyong. Mobilnya mengeluarkan asap putih yang cukup tebal. Dengan cepat aku membuka pintu kemudi. Aku melihat Jiyong berlumuran darah. Di tangan, kaki, wajah dan kepalanya pun tidak luput dari darah. Mata Jiyong tertutup tapi, aku bisa merasakan denyut jantung Jiyong. Aku berusaha mengeluarkannya dari mobil tapi, aku tidak berhasil walau aku sudah mencoba membuat Jiyong tersadar. Ku alihkan mataku ke luar. Jiyon, dr. Park dan orang-orang brengsek lainnya hanya diam saja melihat kami. Seakan mereka tidak punya hati nurani untuk menolong.
“Sial! Tidak bisakah kalian menunda menghukumku dulu? Aku ingin Jiyong selamat.”teriakku pada mereka. Tapi, mereka malah berjalan dengan santai. Air mataku semakin deras. Aku berhasil menggeret Jiyong perlahan-lahan untuk keluar dari mobilnya.
“aku bisa merasakan denyut jantungmu, aku mohon sadarlah Kwon Jiyong. Maafkan sikapku! Aku mohon jangan menyerah pada hidupmu. Jangan tinggalkan aku! Aku belum bisa mengucapkan perasaanku. Aku mohon Jiyong. Beri aku kesempatan.”kataku dalam menangis sambil memeluk Jiyong erat dalam pelukku.
“aku mencintaimu.”sebuah suara parau dari bibir Jiyong. Aku langsung menatap Jiyong dia terlihat kesakitan. Sesekali dia meringis menahan sakit.
“aku juga mencintaimu, Jiyong. Aku mencintaimu. Jadi jangan tinggalkan aku secara dramatis seperti ini. Aku mohon jangan jadikan aku wanita yang tidak ingin cinta seperti dulu. Aku masih membutuhkanmu untuk mengajarkan cinta, aku masih membutuhkanmu untuk merasakan kebahagiaan dari cinta jadi aku mohon kau harus baik- baik saja Kwon Jiyong.”kataku sambil memeluknya erat. Aku tidak ingin merasakan penyesalan lebih dari ini. Aku harus melakukan sesuatu.
“tunggu aku. Aku akan menolongmu. Dimana yang sakit?”kataku sambil menyentuh tubuh Jiyong. Tapi, Jiyong tidak menjawab.
Kulihat Jiyong. Dia tersenyum padaku. Tatapan matanya lembut. Aku terdiam.
“sial, bahkan Chaerin tidak mencemaskan aku yang disamping Jiyong. Dia benar-benar mencintaimu, Jiyong. Berhentilah berakting.”sebuah suara membuatku mengalihkan mataku dari Jiyong. Soo Rin keluar dari mobil dengan rambut berantakan dan darah di pelipis matanya.
“kau tidak terluka cukup parah. Soo Rin bisakah kau tolong bantu aku membawanya kerumah sakit. Aku mohon.”kataku sambil memohon kea rah Soo Rin. Soo Rin tersenyum. Apa-apaan ini.
“aku serius. Tolonglah Jiyong.”kataku berjalan mendekati Soo Rin. Air mataku terus menetes.
“lihatlah kebelakangmu.”kata Soo rin. Dengan perlahan aku membalikkan tubuhku.
Jiyong berdiri dengan kokoh. Dia tersenyum. Aku bermimpi. Aku melihat ke Soo Rin dan Soo Rin membalasku dengan gerakan yang seolah berkata ‘dekati dia’.
“Sudah terlalu lama aku mencintaimu. Menyatukan cinta kita terlalu menghabiskan banyak waktu. Aku sudah terlalu lelah, menjelaskan padamu perasaanku yang tulus ini. Sekarang diamlah! Dan jadilah milikku. Ayo, kita langsung menikah saja!”kata Jiyong yang kini telah memelukku.
“ya. Ya. Kita akan menikah tapi, kita harus kerumah sakit dulu.”kataku masih kalut. Jiyong menarik lembut wajahku agar menatapnya dan melepaskan pelukkannya.
“tidak. Kita tidak perlu ke rumah sakit. Maafkan aku. Ini hanya acting untuk melamarmu.”kata Jiyong tersenyum. Dia terlihat bahagia.
“ini acting?”tanyaku dan air mataku masih mengalir.
“ia. Sayang.”
“ini rekayasa sehingga tidak ada yang menolongmu?”tanyaku.
“ia. Maafkan aku, Chaerinku.”jawab Jiyong lembut. Tangisku semakin pecah.
“aku mencemaskanmu brengsek! Aku takut sesuatu terjadi padamu.”kataku sambil menangis. Aku tidak peduli penampilanku saat ini tapi, aku pasti terlihat mengenaskan.
“jangan menangis, Chaerinku sayang! Maafkan aku.”kata Jiyong yang kini memelukku hangat. Aku mendengar banyak tepuk tangan dari sekeliling kami. Tapi, aku tidak peduli. Aku terlalu lemas dan terlalu berat untuk melepaskan pelukan Jiyong.
END
SOO RIN STORY
“Aku pulang”teriakku saat masuk rumah. Saat itu aku hanya anak berusia 9 tahun.
Prang...
“aku lelah. Ceraikan saja aku.”kata omma sambil menangis. Pecahan kaca sudah tersebar dilantai. Wajah omma terlihat bengkak dan memar akibat appa. Hal ini selalu terjadi dan ini menghancurkan hidupku.
Saatku menginjak usia 17 tahun, saat itu orang tuaku sudah bercerai dan appa menikah dengan imo, adik dari omma yang selama ini ternyata menjadi simpanan appa. Ini hal gila yang harus aku terima setelah hampir setiap hari dimasa kecilku melihat appa memukul omma.
“nuna.. kau mengertikan perasaanku? Ini bukan hanya cinta anak-anak. Aku benar-benar mencintai Chaerin.”seorang anak kecil bercerita padaku.
“Jiyong, kau ini masih terlalu kecil. Cinta? Pacaran? Kau bercanda? Kau saja belum bisa menyelesaikan soal Kimia oragnik dengan benar.”balasku sambil mencoretkan tinta pada botol yang akan menjadi property dalam karya seniku.
“apa hubungan kimia organic dengan cinta?! Cinta itu tidak kenal usia”protes Jiyong dengan menggemaskan. Sesekali terkadang terbesit diotakku untuk memasukkannya ke lemari kaca dan memamerkan pada teman-temanku.
“kau tahu dalam bahasa Inggris Kimia itu apa?”
“Chemistry.”
“dan cinta itu membutuhkan Chemistry, kau harus tau hal itu.”jelasku yang masih focus pada botol kacaku.
“nuna, kau hanya menggabungkan sesuatu yang tidak berhubungan. Kau bicara seperti ini memang kau sudah punya kekasih?”
“tentu saja tidak. Aku ingin focus pada sekolahku. Lagian aku masih terlalu kecil untuk berpacaran.”
“lalu, saat kuliah kau akan berpacaran? Aku dengar kau ingin sekolah di luar negeri bersama Chaerinku. Kau mencari pria asing untuk kau jadikan kekasih ya nuna?”kata Jiyong dengan menyebalkan. Tapi, hal itu lah yang membuat kami menjadi akrab. Aku jadi punya lawan bicara yang menyenangkan.
“saat kuliah aku harus focus kuliah biar aku bisa dapat pekerjaan yang bagus.”
“lalu, setelah kau kerja?”
“aku akan focus berkerja biar mendapat uang yang banyak.”
“kau ini wanita atau bukan sebenarnya? Teman-temanku saja yang wanita sudah ada yang berpacaran”
“aku ini bukan wanita kebanyakan jadi jangan samakan aku dengan mereka.”balasku dan berhasil membuat bibir cerewet Jiyong diam.
“Jiyong...”
“ya.”
“Chaerinmu itu sedang dekat dengan pria lain. Pria itu memiliki sorot mata yang tajam, dia sangat tampan dan dewasa. Sangat jauh berbeda denganmu.”kataku mengganggu Jiyong si anak kecil yang selalu mengatakan mencintai Chaerin, sahabatku sebagai miliknya.
“Chaerinku itu hanya dekat dengan pria itukan? Itu tidak akan jadi masalah bagiku karena nanti aku yang akan jadi suaminya, ayah dari anak-anaknya.”jawab Jiyong penuh percaya diri. Membuatku tertawa lepas.
“kau begitu menggelikan, Kwon Jiyong.”kataku sambil tertawa.
Saat ini aku berdiri disebuah banguan yang sedang melangsungkan penikahan Jiyong, adik kecilku yang mengemaskan dengan Chaerin sahabatku. Ya, Jiyong bukan anak kecil lagi tapi, sulit menganggapnya dewasa dengan senyuman polos nan manis itu walau sikapnya pada Chaerin begitu terlihat pria dewasa.
Jiyong yang terlihat sangat-sangat bahagia karena berhasil mendapatkan impian utamanya kini terlihat akan mati karena rasa bahagia yeng berlebihan dan Chaerin pun disampingnya terlihat tidak kalah bahagia. Jiyong memang lebih muda dari pada Chaerin tapi, saat ini seakan Jiyong seorang berusia lanjut yang sangat bahagia menikah dengan gadis dibawah umur. Jiyon benar-benar mencintai Chaerin. Hidup bahagia bersama Chaerin adalah tujuannya sejak dulu.
Tidaklah mudah hingga akhirnya Chaerin melepaskan keegoisnya. Jiyong jauh-jauh hari merencanakan momen lamaran mengesankan dan aku membantunya. Aku membuat scenario seakan-akan Jiyong kecelakaan di depan Chaerin agar Chaerin mengatakan ‘aku mencintaimu’ yang selama ini bagaikan sebuah mantra kuno yang tidak boleh di pikirkan apalagi di ucapkan oleh serorang dokter gigi bernama Lee Chaerin. Selama persiapan itu aku dan Jiyon tidak boleh bersikap biasa dengan Chaerin, kami berpura-pura menghukumnya dengan kediaman kami.
Jiyong harus mengunakan make-up dan cairan berwarna merah yang dicampur dengan daging ikan agar ada aroma amis darah pada cairan tersebut. Chaerin seorang dokter pasti dia bisa membedakan darah dan cairan biasa jadi kami harus memiliki trik.
Rencananya sudah lama dan kami sering berlatih terlebih dulu sehingga aku sering mengantar dan menjemput Jiyong di rumah sakit. Tapi, malam sebelum rencana ini di rencanakan Jiyong menemuiku sebelum tengah malam. Jiyong berkata bahwa dia yakin Chaerin sudah mencintainya hanya Chaerin tidak berani mengungkapkannya. Dengan koneksi, area rumah sakit pun di setting agar semua lancar. Dan itu berhasil. Ah.. kami juga meminta bantuan aktrisku, Jiyon dan kekasih barunya saat itu bahkan pihak-pihak yang berkerja di rumah sakit pun tahu.
“Kau datang dan pergi sesukamu. Tapi, aku tetap disini untukmu. Karena sekarang dan selamanya aku mencintaimu.”kata Jiyong sambil mencium pipi Chaerin di depan banyak tamu dan mereka terlihat seperti anak remaja yang kasmaran.
“kenapa? Kau ingin merasakan kebahagian seperti mereka?”kata Daesung, kekasihku yang kini sudah memelukku di tubuhnya yang kekar.
“kita pasti bisa bahagia seperti mereka.”kata Daesung mengecup dahiku. Selamat tinggal kesendirian.
EPILOG
“Kau baik-baik saja, sayang?”tanyaku khawatir pada Jiyong yang sejak tadi muntah-muntah.
“aku baik-baik saja.”jawab Jiyong lemah tapi, tetap berusaha meyakinkanku. Aku baru hamil tiga bulan. Seperti ibu hamil kebanyakan aku sesekali menginginkan sesuatu yang aneh tapi, berbeda dengan Jiyong karena dia yang merasakan mual di pagi hari semenjak aku hamil dua bulan.
“jangan kerumah sakit hari ini!”kataku sambil menyiapkan sarapan di atas meja makan.
“tidak bisa. Hari ini ada operasi.”jawab Jiyong sambil duduk lemas.
“tidak bisakah ambil cuti saja? Aku benar-benar mencemaskanmu.”
“Chaerinku sayang.. aku tidak apa-apa. nanti siang aku juga akan lebih baik dari sebelumnya.”kata Jiyong dan aku membalasnya dengan senyuman.
@lima jam kemudian
Aku berjalan ke sebuah kamar VIP dengan tergesa-gesa mengingat aku tidak boleh berlari karena hamil.
“Jiyong”kataku saat saat membuka kamar. Jiyong terbaring lemas di sebuah kasur berukuran besar.
“hai sayang..”kata Jiyong tersenyum manis untuk menghilangkan kecemasanku. Tapi, maaf saja Kwon Jiyong kini senyumanmu itu gagal.
“sudah terjadi seperti ini jangan lagi membantahku lagi jika aku memintamu istirahat. Bagaimana keadaanmu?”kataku sambil mengecek kesehatannya lewat mesin yang kini mendeteksi denyut jantungnya.
“hanya pusing dan mual. Ternyata begini rasanya hamil.”ceritanya.
“kau sudah menanggung mual dan pusing untuk ibu hamil di priode pertama. Lalu, apakah kau ingin menggantikanku melahirkan juga? Sepertinya itu menyenangkan.”
“maafkan aku Chaerin sayang, aku lelaki dan lelaki tidak bisa melahirkan. Jadi aku berjanji aku akan menemanimu melahirkan dan selalu menemanimu dari saat kau mengandungnya hingga mendidiknya. Aku janji.”
“ah.. ya paling tidak aku tidak mual-mual. Aku akan sedih jika makanan enak yang masuk ke perutku keluar begitu saja dari mulutku.”
“aku tidak menyangka kau mencemaskan makananmu dari pada suamimu yang rela menderita bersamamu.”kata Jiyong dengan wajah memelas.
“terimakasih sayang. Tapi, jagalah dirimu untukku.”kataku sambil mengecup bibirnya dan Jiyong tersenyum lemar dengan teramat manis.
@lima tahun kemudian
Kini aku berada di pangkuan Jiyong sambil menonton televisi yang menyiarkan acara drama keluarga.
“sayang, berikan aku ciuman seperti yang laki-laki itu lakukan pada gadisnya.”kataku manja dan Jiyong langsung menuruti permintaanku. Dia suamiku dan aku istrinya, tidak ada salahnya.
Krek...
Pintu terbuka dan Soo Rin datang dengan perutnya yang membesar.
“yak, kalian asik berpacaran disini hingga melupakan devil kecil berwajah malaikat ini. Anak kalian ini sukses membuat perawat dan pasien lainnya hanya focus padanya. Bahkan dia mendapatkan banyak ciuman di pipinya dari perawat.”protes Soo Rin yang ternyata menggandeng anak kecil yang sangat mirip dengan Jiyong yang sembunyi di belakangnya. Aku langsung berdiri dan menggendong anakku.
“bilang terimakasih pada imo.”kataku padan anakku.
“terimakasih Soo Rin imo.”kata malaikat kecilku dengan manis.
“kau tau Jiyong, anakmu ini terlalu manja dengan RinRin. Aku khawatir dia seperti ayahnya. Ah.. seperti yang kalian tahu RinRin gadis yang baik dan dia tidak egois seperti seseorang jadi aku rasa tidak akan kesulitan bila nanti kita menjadi besan.”canda Soo Rin dengan menyebalkan.
“tidak perlu mengingatkan kesalahanku dimasa lalu.”protesku dan Jiyong tertawa.
“terimakasih nuna. Sebaiknya kau istirahat.”kata Jiyong lembut. Soo Rin sudah hamil 9 bulan dan sudah 2 minggu dia menginap dirumah sakit ini karena protektifnya Daesung padanya. Ah... pengusaha sukses itu mungkin mengira ini hotel tapi, untung saja Jiyong sebagai pewaris dan pemilik saham terbesar bisa membantu kegilaan Daesung menjaga Soo Rin yang terlalu aktif itu di rumah sakit ini.
“kau mengusirku? Keteraluan. Ah. Aku pergi saja. Suamiku yang manis pasti sudah datang.”kata Soo Rin dan pergi begitu saja. Aneh.
“dia pergi.”kata Jiyong tersenyum lalu memelukku dan mengecup bahuku.
“lalu?”Tanyaku.
“bukankah si playboy kecil ini sudah berusia 5 tahun. Jadi, sebaiknya kita memberikannya adik.”kata Jiyong dengan ekpresi seakan dia sedang berfikir keras. Playboy kecil? Sungguh aku tidak ingin anakku menjadi playboy. Tapi, wajah tampannya dan senyuman manis itu selalu menarik lawan jenis dari berbagai usia. Kebanyakan anak laki-laki berusia yang sama dengannya membenci kecupan dan pelukan dari orang asing tapi, anakku terlihat menyukai hal tersebut dan sepertinya itu di turunkan dariku yang seorang playgirl.
“kau yang akan mual-mual di awal kehamilanku?”
“ok. Jika aku bisa mengaturnya. Tapi, jika tidak maafkan aku.”kata Jiyong.
“Ok. Mengingat kau begitu baik saat aku hamil.”balasku dan Jiyong tersenyum lebar.
“ayo, kita pulang! Aku yakin dr.Park bisa menggantikanmu.”kata Jiyong menarikku keluar dari ruangannya. Dan aku hanya tertawa.
“mom, apakah aku akan memiliki adik seperti RinRin nuna?”Tanya malaikat kecilku.
“tentu sayang. Dan 9 bulan lagi adik perempuanmu itu akan lahir.”jawab Jiyong tersenyum.
“berhentilah berbicara yang tidak-tidak dr.Kwon.”protesku.
“aku tidak bicara yang tidak-tidak hanya saja aku berusah keras agar hal itu menjadi nyata.”kata Jiyong tertawa dan aku pun ikut tertawa. Mungkin tidak ada yang lucu tapi, tingkah Jiyong yang semangat seperti ini terlihat lucu bagiku. Anak lagi? Perempuan? Semoga saja perkataan Jiyong benar.
FF INI TELAH SELESAI. Kim harap kalian suka dan bersedia meninggalkan jejak berupa komentar dengan begitu Kim akan semangat menulis FF berikutnya. Oh ya, yang baru baca tidak ada salahnya komentar FF sebelumnya loh. Itu bisa membuat motifasi untuk aauthor. Sampai jumpa.
Author: Kim Daisy
Cast: SkyDragon (GD CL)
Genre: roman, hurt
Rate : Adult
Lenght : MultyChapter
Rate Adult karena FF ini perlu pemahaman lebih complex. Maaf, kalau terlalu banyak tokoh OC dan OOC disini karena yah.. saya suka. *plak!
Ok, ini ff sangat panjang jadi sabar ya...
---------------------------------
---------------------------------
Just loser yang tidak berani mencintai.
Untuk memikirkan siapa yang ku cintai saja membuat nyaliku ciut.
Terlalu takut sakit hati.
Terlalu takut mencintai.
Terlalu takut diperbudak cinta.
Dan terlalu takut untuk mengetahui bahwa dia yang aku cintai.
I’m loser.
-----------
Tidak lama setelah Jiyong pergi, Soo Rin tiba-tiba datang ke apartemenku karena mendengar ceritaku. Awalnya Soo Rin menelepon Chaerin karena mengira aku dan Jiyong sudah menjadi kekasih tapi, mendengarku menangis malam itu dia segera datang malam itu juga.
“kalian benar-benar seperti anak kecil. Yang satu egois dan berpura-pura tidak mau dan yang satu lagi berpura-pura berhati malaikat. Aku maklumi ini sama-sama pengalaman pertama kalian. Tapi, seharusnya Jiyong bisa memaksamu. Aku heran kenapa dia bisa bertahan denganmu yang seperti ini. Kau Lee Chaerin, apa sulitnya sih bilang ‘aku mau’, atau ‘aku juga’ saat Jiyong minta kau jadi pacarnya? Kalian benar-benar buat aku gila. Aku saja menerima Daesung yang baru saja aku kenal karena aku tahu dia serius padaku. Sedangkan kau, Jiyong sudah bertahun-tahun menunjukkan keseriusannya. Dia mau berubah dan mengalah padamu yang lebih tua darimu. Apa Jiyong harus mati dulu baru kau menyesal dan mengatakan perasaanmu yang sebenarnya?”kata Soo Rin yang sangat-amat marah padaku. Kami sudah lama berteman dan Soo Rin hanya akan marah jika kesalahanku benar-benar fatal.
“jangan katakan Jiyong akan mati! Kau kejam.”jawabku sambil menangis. Dadaku benar-benar serasa kebakar saat mendengarnya.
“kau lebih kejam dariku karena kau mempermainkannya. Rasa sakit apa lagi yang harus Jiyong rasakan agar kau menerimanya? Chae, alasanmu benar-benar tidak masuk akal.”kata Soo Rin yang nafasnya mulai tidak teratur karena emosinya yang meledak.
“kau harus tahu ini tidak mudah untukku. Aku tidak bisa. Aku sudah berusaha.”kataku dalam tangis. Soo Rin menghela nafasnya berkali-kali untuk menetralkan emosinya. Sesekali Soo Rin berjalan-jalan mengelilingi ruang, dia terlihat frustasi. Karenaku.
“lalu apa kau pikir Jiyong tidak berusaha untukmu? Kau pikir hanya kau yang berusaha disini? Kau pikir hanya kau yang pantas di cintai Jiyong?”kata-kata Soo Rin semakin melukai hatiku. Kaliamat-kalimat sederhananya bagaikan ribuan duri yang menusuk hati dan jantungku membuat dadaku sesak dan perih. Tidak biasanya dia berkata seperti itu padaku. Aku salah, aku tahu. Tapi, tidak bisakah dia tidak mengatakan hal itu padaku, dia sahabatku. Jika orang lain yang mengatakannya maka mungkin aku akan baik-baik saja tapi, jangan Soo Rin.
“aku bisa mengerti kau memiliki perinsip yang kuat. Aku tau kau keras kepala. Aku tahu semua pasti memiliki keegoisannya masing-masing. Aku tahu setiap orang punya rasa sakit yang berbeda tapi, aku tidak tahu bahwa kau bisa mengecewakan seperti ini.”kata Soo Rin sambil menarik dan mengeluarkan nafasnya dengar keras lewat bibirnya. Aku pun semakin kehilangan nafas teraturku. Air mataku mengalir dengan teratur tanpa diminta. Tubuhku melemas.
Aku tahu ini kesalahanku dan kalimat Soo Rin benar-benar berpengaruh untukku bahkan kalimatnya yang sederhana seakan bagaikan serangan bom nukir untukku.
“kau sakit karena ucapanku?”kata Soo Rin yang sudah tenang. Aku menangis sambil menganguk sebagai jawaban pertanyaannya.
“Jiyong lebih merasakan sakit dari pada rasa sakitmu sekarang. Bahkan kau membuatnya merasakan sakit ini berulang kali.”kata Soo Rin lagi dengan tenang tapi, tetap menyakitkan.
“maafkan aku. Aku salah. Ini salahku. Aku tahu.”tangisku.
“kau fikir luka yang dia dapat bisa kau obati? Kau menyakiti perasaannya, kau juga menyakiti harga dirinya. Jika aku jadi dia, lebih baik aku mati karena orang yang sangatku cintai saja tidak menerimaku. Teruslah menangis hingga air matamu tidak keluar lagi. Hingga suatu saat nanti kau selalu ingat bahwa begini rasa sakit sesungguhnya.”kata Soo Rin langsung menghilang dari apartemenku. Dia meninggalkan aku menangis sendiri. Aku telah mengecewakan semua orang.
Keesokan harinya, Aku bertemu dengan Jiyong saat makan siang. Dia tersenyum kaku padaku. Aku merasa sangat bersalah hingga sulit untuk berbicara dengannya. Ku raih ponsel di jas dokterku. Ku ketik pesan singkat sebagai permintaan maafku pada Jiyong. Aku melihatnya terus hingga akhirnya Jiyong meraih ponselnya, membaca pesan itu, lalu dia melihatku dan tersenyum lembut padaku.
Mendapatkan senyuman lembutnya saja sudah seperti hukuman untukku. Apakah aku masih pantas untuk mendapatkan senyuman manisnya?
@keesokan harinya.
Aku kira Jiyong sudah menyerah padaku. Tapi, yang sekarangku lihat adalah Jiyong duduk di meja makanku dan menyantap masakanku dengan lahap.
“kenapa? Apa yang ingin kau bicarakan padaku?”tanyanya sambil mengunyah. Apakah aku bermimpi bahwa dia disini? Ini tidak nyatakan?
“ada apa Chae? Kau terlihat berbeda.”katanya sambil menggegam tanganku yang berada di atas meja makan.
“kau sakit?”kata Jiyong lagi-lagi karena aku juga tidak meresponnya. Dia bisa mencemaskanku padahal aku sudah sangat menyakitinya.
“maafkan aku.”kataku pada akhirnya.
“tadi kau sudah minta maaf.”kata Jiyong tersenyum lembut.
“tapi, kau terluka.”
“aku tidak apa-apa.”
“tidak apa-apa apanya? Kau memang tersenyum tapi, senyuman itu tidak seperti dulu. Kau memaksakan senyumanmu.”kataku keras karena tidak terima dia terluka. Aku tidak terima dengan sikapku yang terus melukainya.
“tidak masalah. Aku baik-baik saja. Aku hanya perlu waktu.”jawab Jiyong sambil mengelus tanganku lembut.
“kenapa kau tidak meninggalkanku saja?”
“karena aku mencintaimu. Dan aku sadar kau perlu waktu untuk ini semua. Mungkin akan jauh lebih mudah jika aku mencintai wanita lain dan menyerah tapi, aku tidak bisa untuk berhenti mencintaimu. Aku sudah mencoba tidak mencintaimu selama bertahun-tahun tidak bertemu denganmu tapi, aku gagal. Bahkan saat itu aku tidak menghubungimu dan dapat kabar tentangmu. Aku bisa mengerti dengan keputusanmu yang menurutku egois tapi, aku harap kau bisa mengerti dengan keputusanku yang egois ini juga.”kata Jiyong serius tanpa berhenti menatap mataku. Dia mencoba meyakinkanku dan aku tahu dia jujur, dia serius padaku tapi, masih sangat sulit bagiku untuk bilang ‘Jiyong, menyerah saja. Karena aku telah sadar bahwa aku mencintaimu.’ Tapi, bibir ini tetap tertutup rapat seperti diberi perekat dan lidah ini menjadi kelu. Aku hanya bisa larut oleh pesona pada mata Jiyong. Cinta berhasil membuatku gila.
Dari kejauhan aku bisa melihat Jiyong sangat sibuk. Tidak ada perubahan yang begitu besar. Jiyong hanya menjadi sangat jarang untuk mengirimiku pesan ataupun bersikap manis padaku. Mungkin dia masih terluka. Dan yang aku tahu aku juga terluka karena sikapku sendiri.
Beberapa hari ini banyak gossip yang mengatakan Jiyong dekat dengan seorang wanita dan sering pulang-pergi dari rumah sakit dengan wanita itu. Setelah aku selidiki ternyata wanita itu adalah Soo Rin. Bukan Soo Rin yang lain, Soo Rin sahabatku yang telah membuka mataku dengan kalimat-kalimat menyakitkannya. Tapi, saat kami bertemu di tempat parkir Soo Rin hanya menatapku tanpa bicara ataupun tersenyum. Wajah Soo Rin tanpa ekpresi seakan tidak mengenalku. Bagus. Selain kehilangan kesempatan mendapatkan cinta aku juga kehilangan sahabat terbaikku karena satu bola. Aku hebat menyakiti perasaan dan bersikap bodoh ternyata.
“kau terlihat berbeda, dr Lee.”kata dr. Park yang sedang membereskan peralatannya.
“aku hanya kelelahan.”jawabku dengan berbohong. Tidak juga sepertinya, karena aku lelah memaki diriku sendiri yang begitu egois.
“Kau sungguh tidak bisa berbohong selain menipu perasaanmu. Kita tidak punya banyak pasien akhir-akhir ini tapi, kau punya mata panda yang lucu. Itu baik untuk menarik pasien anak-anak.”Canda dr. Park yang menyebalkan.
“kau tahu?”
“kau sibuk pada duniamu sendiri. Dan aku yakin kau tidak tahu bahwa Soo Rin sudah resmi berpacaran dengan Daesung, si pengusaha sukses. Aku juga pasti tidak tahu bahwa Jiyon sudah berpisah dengan kekasihnya dan baru-baru ini sudah punya kekasih baru.”
“mwo?? Kenapa mereka merahasiakannya dariku dan malah memberitahukannya padamu? Mereka mengaggapku musuh sekarang.”
“bukan begitu. Mereka bukan merahasiakan. Tapi, itu karena kau terlalu asik duniamu sendiri dan aku bisa tahu semua ini karena akulah yang menjadi kekasih Jiyon yag baru itu.”
“kau menjadi selingkuhan Jiyon?!”selidikku tidak percaya.
“buang pikiran burukmu! Jiyon berpisah dari mantan kekasihnya itu sejak 4 bulan lalu, tidak lama sejak Jiyong menjadi salah satu dokter disini. Mereka berpisah karena mantannya itu kesepian dengan Jiyon yang selalu sibuk.”
“lalu, kalian tiba-tiba berpacaran? Aku tidak menyangka.”
“tidak ada yang tiba-tiba, dr. Lee. Aku dan Jiyon bukankah dari dulu cukup dekat karena kau.”
“ah.. sudahku duga kau penggangu percintaan.”
“aku bilang aku tidak seperti itu! Aku serius. Syukur saja Jiyon tipe wanita yang tidak keras kepala untuk menyembunyikan perasaanya seperimu. Aku tidak sanggup jika mengalami hal serupa dengan dr. Kwon. Dia benar-benar pria tangguh.”
“temanmu sebenarnya siapa?”protesku.
“aku selalu disisi yang menurut penilaianku benar, dr. Lee. Berhentilah menipu perasaanmu sendiri. Asal kau tahu kau akan sangat menyesal jika dr. Kwon menemukan cinta yang baru atau menyerah padamu. Aku pergi. ” kata dr. Park sambil keluar dari ruangan. Ya, yang di ucapkannya tidak salah. Tapi, bagaimana caraku untuk memulainya? Apakah aku langsung mengatakannya? Aku tidak ingin dibilang wanita tidak tahu malu. Bagaimana ini? Ahh.. aku hanya berharap Jiyong mengatakan perasaannya sekali lagi padaku dengan begitu aku bisa memberitahukannya perasaanku. Ya, begitu caranya. Tapi, apakah dia akan melakukannya lagi? Dia sudah terlalu seringku tolak. Aku sudah terlalu sering menyakitinya.
Aku tidak sengaja bertemu dengan Jiyong di sebuah supermarket dan dia sedang dikelilingi wanita, seperti biasa. Tidak sedikit wanita yang menyentuh bahkan memeluknya. Entah sudah berapa lama aku berdiri disini tapi, Jiyong masih di kelilingi wanita-wanita itu, bahkan jumlahnya semakin banyak membuat Jiyong semakin terlihat tidak nyaman.
Tanpa sadar aku melangkahkan kakiku mendekati Jiyong.
“Maaf, Jiyong bukankah kau bilang ingin menghabiskan malam ini denganku.”sial. kenapa kalimat menjijikkan itu yang keluar dari mulitku? Ini bagaikan dejavu.
Jiyong tersenyum lembut padaku.
“tentu saja, aku akan bersama wanita yangku cintai. Ayo, kita pergi.”kata Jiyong yang akhirnya bisa lolos dari kerumunan wanita-wanita itu dan meraih tanganku dengan senyumannya dan juga tatapan yang membuat jantungku seakan akan berasap sebentar lagi. Itu adalah tatapan dan senyuman yang sudah lama tidak dia perlihatkan padaku. Aku yang membuat senyuman manis itu hilang akhir-akhir ini. Ini salahku.
“jangan marah! Maafkan aku membuatmu lama menunggu!”kata Jiyong lembut lalu memelukku dan mengecup kepalaku dengan sayang. Tidak ada yang perlu aku maafkan karena selama ini aku yang membuatmu menungguku.
“kau ingat dulu ini juga terjadi disaat ulang tahun Soo Rin nuna?”kata Jiyong tersenyum sambil mengendarai mobilnya dan sesekali dia melirikku yang duduk di kursi sebelahnya. Aku tidak membawa mobil karena letak supermarketnya tidak jauh dari apartemen. Tapi, Jiyong menggunakan mobilnya karena sepertinya jam kerjanya baru berakhir di waktu hampir tengah malam. Aku hanya menjawab Jiyong dengan gumaman dan anggukan kecil.
“kau baru pulang?”tanyaku kaku. Ada sesuatu yang salah pada diriku. Aku gugup.
“ya, tapi, malam ini aku akan menghabiskan denganmu.”kata Jiyong sambil tersenyum seakan dia punya niat buruk padaku. Aku terdiam. Otakku sejenak berfikir yang mungkin akan terjadi. Aku memang mencintainya, aku sadar hal itu. Tapi, aku belum siap untuk melakukan hal itu. Aku tidak siap.
“kau berfikir hal-hal dewasa? Aku cukup lelah sehingga mungkin lain kali hal itu akan terwujud. Jadi, kau tenang saja.”kata Jiyong tertawa puas.
“aku tidak wanita yang seperti itu. Aku belum siap.”kataku sambil memukulnya dengan lobak berukuran sedang yang kubeli hingga patah tapi, aku tetap memukulnya. Sial, kenapa sikapku aneh begini? Kenapa aku bersikap memalukan?
Kini tanganku seakan ada yang menahannya. Aku membuka mataku yang awalnya tertutup.
Sial. Tatapan itu.
Jiyong menatapku lekat. Aku melemas sehingga lobak yang patah terlepas dari genggamanku. Mungkin Jiyong atau aku atau kami sama-sama tergerak hingga kini bibir kami saling menempel. Jiyong memelukku dengan hangat.
“aku mencintaimu.”kata Jiyong tersenyum lembut ketika kecupan dibibirku berakhir.
“kita telah sampai.”Kata Jiyong menyadarkanku dari pesonanya.
“Jiyong..”
“ya”
“tidak ada.”kataku akhirnya setelah berdiam beberap lama. Kenapa aku tidak bisa membalas ucapannya? ‘aku juga mencintaimu’ kenapa begitu sulit diucapkan? Mengapa sangat sulit untuk memulainya? Setelah menyadari perasaanku kelemahanku adalah saat melihat senyumannya. Senyumannya semakin ‘mematikan’ dari pada sebelumnya. Saat dia terseneyum seperti tadi selalu berhasil meluluhkan hati para wanita dan berhasil membuatku kehilangan oksigenku. Cinta itu rumit. Malam ini mungkin aku tetap tidak bisa tidur karena memikirkan semua ini.
“masuklah dulu.”kata Jiyong bagaikan pemermintaan.
“kau..”kataku menggantung.
“aku ada urusan diluar.”jawab Jiyong sambil tersenyum lembut dan akhirnya aku keluar dari mobilnya. Dan mobil Jiyong langsung pergi tanpa menungguku masuk ke apartemen. Aku harus mencari waktu yang tepat untuk mengucapkan perasaanku.
Pagi ini bibirku ini tidak bisa berhenti tersenyum. Gilanya, aku tidak mengerti apa yang membuatku sebahagia ini.
“kau terlihat bahagia hari ini? Apakah terjadi sesuatu yang tidak kami ketahui?”kata dr. Park yang kini sudah duduk di depanku. Sial aku akan dipermainkan dr.Park nanti.
“tidak. Aku hanya ingat tadi. Ada nenek-nenek yang mengatakan dia terlihat lebih muda saat aku berhasil memasang gigi palsunya.”jawabku berbohong.
“sepertinya tidak ada yang lucu.”jawab dr. Park dengan wajah seriusnya. Sial, aku gagal.
“cepat angkat bokongmu itu dari kursi. Jiyon ingin bertemu denganmu di cafe.”intruksi dr. Park.
“aku tidak bisa pergi lama-lama.”jawabku. Aku belum berani bertemu dengan Jiyon atau Soo Rin karena mereka masih marah padaku. Mereka belum membalas pesanku dan menghubungiku. Sangat jelas sekali mereka menghindariku.
“hanya sebentar.”kata dr. Park menarikku dan akhirnya aku berhasil dibawanya ke cafe yang berada di depan rumah sakit. Jiyon duduk di salah satu meja yang menghadap kejalan raya. Dia focus melihat keluar bahkan hingga tidak menyadari keberadaanku atau memang sengaja berpura-pura tidak peduli.
“hmm..”gumam dr. Park berhasil membuat Jiyon melihat kami. Dia terlihat gugup.
“duduklah. Aku akan memulai pembicaraan ini ketika Soo Rin datang. Dia bilang dia lagi di perjalanan bersama Jiyong.”jelas Jiyon tanpa melihat ataupun melirikku seakan aku transparan. Ini adalah hukumanku, aku harus kuat walau rasanya aku ingin menangis.
“ah itu mobil mereka.”kata Jiyon sambil menunjuk ke luar. Sebuah mobil Jiyon berjalan dengan kecepatan stabil dan sebuah mobil tiba-tiba menabrak mobil mereka. Di jalan yang sepi ini. Ini tidak mungkin.
“Tidak.”teriakku melihat sebuah mobil terbentur dengan mobil mereka. Mobil mereka mengeluarkan asap putih. Aku berlari keluar tanpa sadar. Tujuanku hanya mobil putih yang di kendarai Jiyong.
“tolong selamatkan mereka!”teriakku di tengah jalan. Orang-orang hanya melihat dan beberapa orang lainnya memotret kejadian ini.
“tidakkah ada yang punya hati nurani disini?”teriakku dengan sebuah tangisan keras yang tidak bisa ku control lagi. Aku semakin mendekat pada mobil Jiyong. Mobilnya mengeluarkan asap putih yang cukup tebal. Dengan cepat aku membuka pintu kemudi. Aku melihat Jiyong berlumuran darah. Di tangan, kaki, wajah dan kepalanya pun tidak luput dari darah. Mata Jiyong tertutup tapi, aku bisa merasakan denyut jantung Jiyong. Aku berusaha mengeluarkannya dari mobil tapi, aku tidak berhasil walau aku sudah mencoba membuat Jiyong tersadar. Ku alihkan mataku ke luar. Jiyon, dr. Park dan orang-orang brengsek lainnya hanya diam saja melihat kami. Seakan mereka tidak punya hati nurani untuk menolong.
“Sial! Tidak bisakah kalian menunda menghukumku dulu? Aku ingin Jiyong selamat.”teriakku pada mereka. Tapi, mereka malah berjalan dengan santai. Air mataku semakin deras. Aku berhasil menggeret Jiyong perlahan-lahan untuk keluar dari mobilnya.
“aku bisa merasakan denyut jantungmu, aku mohon sadarlah Kwon Jiyong. Maafkan sikapku! Aku mohon jangan menyerah pada hidupmu. Jangan tinggalkan aku! Aku belum bisa mengucapkan perasaanku. Aku mohon Jiyong. Beri aku kesempatan.”kataku dalam menangis sambil memeluk Jiyong erat dalam pelukku.
“aku mencintaimu.”sebuah suara parau dari bibir Jiyong. Aku langsung menatap Jiyong dia terlihat kesakitan. Sesekali dia meringis menahan sakit.
“aku juga mencintaimu, Jiyong. Aku mencintaimu. Jadi jangan tinggalkan aku secara dramatis seperti ini. Aku mohon jangan jadikan aku wanita yang tidak ingin cinta seperti dulu. Aku masih membutuhkanmu untuk mengajarkan cinta, aku masih membutuhkanmu untuk merasakan kebahagiaan dari cinta jadi aku mohon kau harus baik- baik saja Kwon Jiyong.”kataku sambil memeluknya erat. Aku tidak ingin merasakan penyesalan lebih dari ini. Aku harus melakukan sesuatu.
“tunggu aku. Aku akan menolongmu. Dimana yang sakit?”kataku sambil menyentuh tubuh Jiyong. Tapi, Jiyong tidak menjawab.
Kulihat Jiyong. Dia tersenyum padaku. Tatapan matanya lembut. Aku terdiam.
“sial, bahkan Chaerin tidak mencemaskan aku yang disamping Jiyong. Dia benar-benar mencintaimu, Jiyong. Berhentilah berakting.”sebuah suara membuatku mengalihkan mataku dari Jiyong. Soo Rin keluar dari mobil dengan rambut berantakan dan darah di pelipis matanya.
“kau tidak terluka cukup parah. Soo Rin bisakah kau tolong bantu aku membawanya kerumah sakit. Aku mohon.”kataku sambil memohon kea rah Soo Rin. Soo Rin tersenyum. Apa-apaan ini.
“aku serius. Tolonglah Jiyong.”kataku berjalan mendekati Soo Rin. Air mataku terus menetes.
“lihatlah kebelakangmu.”kata Soo rin. Dengan perlahan aku membalikkan tubuhku.
Jiyong berdiri dengan kokoh. Dia tersenyum. Aku bermimpi. Aku melihat ke Soo Rin dan Soo Rin membalasku dengan gerakan yang seolah berkata ‘dekati dia’.
“Sudah terlalu lama aku mencintaimu. Menyatukan cinta kita terlalu menghabiskan banyak waktu. Aku sudah terlalu lelah, menjelaskan padamu perasaanku yang tulus ini. Sekarang diamlah! Dan jadilah milikku. Ayo, kita langsung menikah saja!”kata Jiyong yang kini telah memelukku.
“ya. Ya. Kita akan menikah tapi, kita harus kerumah sakit dulu.”kataku masih kalut. Jiyong menarik lembut wajahku agar menatapnya dan melepaskan pelukkannya.
“tidak. Kita tidak perlu ke rumah sakit. Maafkan aku. Ini hanya acting untuk melamarmu.”kata Jiyong tersenyum. Dia terlihat bahagia.
“ini acting?”tanyaku dan air mataku masih mengalir.
“ia. Sayang.”
“ini rekayasa sehingga tidak ada yang menolongmu?”tanyaku.
“ia. Maafkan aku, Chaerinku.”jawab Jiyong lembut. Tangisku semakin pecah.
“aku mencemaskanmu brengsek! Aku takut sesuatu terjadi padamu.”kataku sambil menangis. Aku tidak peduli penampilanku saat ini tapi, aku pasti terlihat mengenaskan.
“jangan menangis, Chaerinku sayang! Maafkan aku.”kata Jiyong yang kini memelukku hangat. Aku mendengar banyak tepuk tangan dari sekeliling kami. Tapi, aku tidak peduli. Aku terlalu lemas dan terlalu berat untuk melepaskan pelukan Jiyong.
END
SOO RIN STORY
“Aku pulang”teriakku saat masuk rumah. Saat itu aku hanya anak berusia 9 tahun.
Prang...
“aku lelah. Ceraikan saja aku.”kata omma sambil menangis. Pecahan kaca sudah tersebar dilantai. Wajah omma terlihat bengkak dan memar akibat appa. Hal ini selalu terjadi dan ini menghancurkan hidupku.
Saatku menginjak usia 17 tahun, saat itu orang tuaku sudah bercerai dan appa menikah dengan imo, adik dari omma yang selama ini ternyata menjadi simpanan appa. Ini hal gila yang harus aku terima setelah hampir setiap hari dimasa kecilku melihat appa memukul omma.
“nuna.. kau mengertikan perasaanku? Ini bukan hanya cinta anak-anak. Aku benar-benar mencintai Chaerin.”seorang anak kecil bercerita padaku.
“Jiyong, kau ini masih terlalu kecil. Cinta? Pacaran? Kau bercanda? Kau saja belum bisa menyelesaikan soal Kimia oragnik dengan benar.”balasku sambil mencoretkan tinta pada botol yang akan menjadi property dalam karya seniku.
“apa hubungan kimia organic dengan cinta?! Cinta itu tidak kenal usia”protes Jiyong dengan menggemaskan. Sesekali terkadang terbesit diotakku untuk memasukkannya ke lemari kaca dan memamerkan pada teman-temanku.
“kau tahu dalam bahasa Inggris Kimia itu apa?”
“Chemistry.”
“dan cinta itu membutuhkan Chemistry, kau harus tau hal itu.”jelasku yang masih focus pada botol kacaku.
“nuna, kau hanya menggabungkan sesuatu yang tidak berhubungan. Kau bicara seperti ini memang kau sudah punya kekasih?”
“tentu saja tidak. Aku ingin focus pada sekolahku. Lagian aku masih terlalu kecil untuk berpacaran.”
“lalu, saat kuliah kau akan berpacaran? Aku dengar kau ingin sekolah di luar negeri bersama Chaerinku. Kau mencari pria asing untuk kau jadikan kekasih ya nuna?”kata Jiyong dengan menyebalkan. Tapi, hal itu lah yang membuat kami menjadi akrab. Aku jadi punya lawan bicara yang menyenangkan.
“saat kuliah aku harus focus kuliah biar aku bisa dapat pekerjaan yang bagus.”
“lalu, setelah kau kerja?”
“aku akan focus berkerja biar mendapat uang yang banyak.”
“kau ini wanita atau bukan sebenarnya? Teman-temanku saja yang wanita sudah ada yang berpacaran”
“aku ini bukan wanita kebanyakan jadi jangan samakan aku dengan mereka.”balasku dan berhasil membuat bibir cerewet Jiyong diam.
“Jiyong...”
“ya.”
“Chaerinmu itu sedang dekat dengan pria lain. Pria itu memiliki sorot mata yang tajam, dia sangat tampan dan dewasa. Sangat jauh berbeda denganmu.”kataku mengganggu Jiyong si anak kecil yang selalu mengatakan mencintai Chaerin, sahabatku sebagai miliknya.
“Chaerinku itu hanya dekat dengan pria itukan? Itu tidak akan jadi masalah bagiku karena nanti aku yang akan jadi suaminya, ayah dari anak-anaknya.”jawab Jiyong penuh percaya diri. Membuatku tertawa lepas.
“kau begitu menggelikan, Kwon Jiyong.”kataku sambil tertawa.
Saat ini aku berdiri disebuah banguan yang sedang melangsungkan penikahan Jiyong, adik kecilku yang mengemaskan dengan Chaerin sahabatku. Ya, Jiyong bukan anak kecil lagi tapi, sulit menganggapnya dewasa dengan senyuman polos nan manis itu walau sikapnya pada Chaerin begitu terlihat pria dewasa.
Jiyong yang terlihat sangat-sangat bahagia karena berhasil mendapatkan impian utamanya kini terlihat akan mati karena rasa bahagia yeng berlebihan dan Chaerin pun disampingnya terlihat tidak kalah bahagia. Jiyong memang lebih muda dari pada Chaerin tapi, saat ini seakan Jiyong seorang berusia lanjut yang sangat bahagia menikah dengan gadis dibawah umur. Jiyon benar-benar mencintai Chaerin. Hidup bahagia bersama Chaerin adalah tujuannya sejak dulu.
Tidaklah mudah hingga akhirnya Chaerin melepaskan keegoisnya. Jiyong jauh-jauh hari merencanakan momen lamaran mengesankan dan aku membantunya. Aku membuat scenario seakan-akan Jiyong kecelakaan di depan Chaerin agar Chaerin mengatakan ‘aku mencintaimu’ yang selama ini bagaikan sebuah mantra kuno yang tidak boleh di pikirkan apalagi di ucapkan oleh serorang dokter gigi bernama Lee Chaerin. Selama persiapan itu aku dan Jiyon tidak boleh bersikap biasa dengan Chaerin, kami berpura-pura menghukumnya dengan kediaman kami.
Jiyong harus mengunakan make-up dan cairan berwarna merah yang dicampur dengan daging ikan agar ada aroma amis darah pada cairan tersebut. Chaerin seorang dokter pasti dia bisa membedakan darah dan cairan biasa jadi kami harus memiliki trik.
Rencananya sudah lama dan kami sering berlatih terlebih dulu sehingga aku sering mengantar dan menjemput Jiyong di rumah sakit. Tapi, malam sebelum rencana ini di rencanakan Jiyong menemuiku sebelum tengah malam. Jiyong berkata bahwa dia yakin Chaerin sudah mencintainya hanya Chaerin tidak berani mengungkapkannya. Dengan koneksi, area rumah sakit pun di setting agar semua lancar. Dan itu berhasil. Ah.. kami juga meminta bantuan aktrisku, Jiyon dan kekasih barunya saat itu bahkan pihak-pihak yang berkerja di rumah sakit pun tahu.
“Kau datang dan pergi sesukamu. Tapi, aku tetap disini untukmu. Karena sekarang dan selamanya aku mencintaimu.”kata Jiyong sambil mencium pipi Chaerin di depan banyak tamu dan mereka terlihat seperti anak remaja yang kasmaran.
“kenapa? Kau ingin merasakan kebahagian seperti mereka?”kata Daesung, kekasihku yang kini sudah memelukku di tubuhnya yang kekar.
“kita pasti bisa bahagia seperti mereka.”kata Daesung mengecup dahiku. Selamat tinggal kesendirian.
EPILOG
“Kau baik-baik saja, sayang?”tanyaku khawatir pada Jiyong yang sejak tadi muntah-muntah.
“aku baik-baik saja.”jawab Jiyong lemah tapi, tetap berusaha meyakinkanku. Aku baru hamil tiga bulan. Seperti ibu hamil kebanyakan aku sesekali menginginkan sesuatu yang aneh tapi, berbeda dengan Jiyong karena dia yang merasakan mual di pagi hari semenjak aku hamil dua bulan.
“jangan kerumah sakit hari ini!”kataku sambil menyiapkan sarapan di atas meja makan.
“tidak bisa. Hari ini ada operasi.”jawab Jiyong sambil duduk lemas.
“tidak bisakah ambil cuti saja? Aku benar-benar mencemaskanmu.”
“Chaerinku sayang.. aku tidak apa-apa. nanti siang aku juga akan lebih baik dari sebelumnya.”kata Jiyong dan aku membalasnya dengan senyuman.
@lima jam kemudian
Aku berjalan ke sebuah kamar VIP dengan tergesa-gesa mengingat aku tidak boleh berlari karena hamil.
“Jiyong”kataku saat saat membuka kamar. Jiyong terbaring lemas di sebuah kasur berukuran besar.
“hai sayang..”kata Jiyong tersenyum manis untuk menghilangkan kecemasanku. Tapi, maaf saja Kwon Jiyong kini senyumanmu itu gagal.
“sudah terjadi seperti ini jangan lagi membantahku lagi jika aku memintamu istirahat. Bagaimana keadaanmu?”kataku sambil mengecek kesehatannya lewat mesin yang kini mendeteksi denyut jantungnya.
“hanya pusing dan mual. Ternyata begini rasanya hamil.”ceritanya.
“kau sudah menanggung mual dan pusing untuk ibu hamil di priode pertama. Lalu, apakah kau ingin menggantikanku melahirkan juga? Sepertinya itu menyenangkan.”
“maafkan aku Chaerin sayang, aku lelaki dan lelaki tidak bisa melahirkan. Jadi aku berjanji aku akan menemanimu melahirkan dan selalu menemanimu dari saat kau mengandungnya hingga mendidiknya. Aku janji.”
“ah.. ya paling tidak aku tidak mual-mual. Aku akan sedih jika makanan enak yang masuk ke perutku keluar begitu saja dari mulutku.”
“aku tidak menyangka kau mencemaskan makananmu dari pada suamimu yang rela menderita bersamamu.”kata Jiyong dengan wajah memelas.
“terimakasih sayang. Tapi, jagalah dirimu untukku.”kataku sambil mengecup bibirnya dan Jiyong tersenyum lemar dengan teramat manis.
@lima tahun kemudian
Kini aku berada di pangkuan Jiyong sambil menonton televisi yang menyiarkan acara drama keluarga.
“sayang, berikan aku ciuman seperti yang laki-laki itu lakukan pada gadisnya.”kataku manja dan Jiyong langsung menuruti permintaanku. Dia suamiku dan aku istrinya, tidak ada salahnya.
Krek...
Pintu terbuka dan Soo Rin datang dengan perutnya yang membesar.
“yak, kalian asik berpacaran disini hingga melupakan devil kecil berwajah malaikat ini. Anak kalian ini sukses membuat perawat dan pasien lainnya hanya focus padanya. Bahkan dia mendapatkan banyak ciuman di pipinya dari perawat.”protes Soo Rin yang ternyata menggandeng anak kecil yang sangat mirip dengan Jiyong yang sembunyi di belakangnya. Aku langsung berdiri dan menggendong anakku.
“bilang terimakasih pada imo.”kataku padan anakku.
“terimakasih Soo Rin imo.”kata malaikat kecilku dengan manis.
“kau tau Jiyong, anakmu ini terlalu manja dengan RinRin. Aku khawatir dia seperti ayahnya. Ah.. seperti yang kalian tahu RinRin gadis yang baik dan dia tidak egois seperti seseorang jadi aku rasa tidak akan kesulitan bila nanti kita menjadi besan.”canda Soo Rin dengan menyebalkan.
“tidak perlu mengingatkan kesalahanku dimasa lalu.”protesku dan Jiyong tertawa.
“terimakasih nuna. Sebaiknya kau istirahat.”kata Jiyong lembut. Soo Rin sudah hamil 9 bulan dan sudah 2 minggu dia menginap dirumah sakit ini karena protektifnya Daesung padanya. Ah... pengusaha sukses itu mungkin mengira ini hotel tapi, untung saja Jiyong sebagai pewaris dan pemilik saham terbesar bisa membantu kegilaan Daesung menjaga Soo Rin yang terlalu aktif itu di rumah sakit ini.
“kau mengusirku? Keteraluan. Ah. Aku pergi saja. Suamiku yang manis pasti sudah datang.”kata Soo Rin dan pergi begitu saja. Aneh.
“dia pergi.”kata Jiyong tersenyum lalu memelukku dan mengecup bahuku.
“lalu?”Tanyaku.
“bukankah si playboy kecil ini sudah berusia 5 tahun. Jadi, sebaiknya kita memberikannya adik.”kata Jiyong dengan ekpresi seakan dia sedang berfikir keras. Playboy kecil? Sungguh aku tidak ingin anakku menjadi playboy. Tapi, wajah tampannya dan senyuman manis itu selalu menarik lawan jenis dari berbagai usia. Kebanyakan anak laki-laki berusia yang sama dengannya membenci kecupan dan pelukan dari orang asing tapi, anakku terlihat menyukai hal tersebut dan sepertinya itu di turunkan dariku yang seorang playgirl.
“kau yang akan mual-mual di awal kehamilanku?”
“ok. Jika aku bisa mengaturnya. Tapi, jika tidak maafkan aku.”kata Jiyong.
“Ok. Mengingat kau begitu baik saat aku hamil.”balasku dan Jiyong tersenyum lebar.
“ayo, kita pulang! Aku yakin dr.Park bisa menggantikanmu.”kata Jiyong menarikku keluar dari ruangannya. Dan aku hanya tertawa.
“mom, apakah aku akan memiliki adik seperti RinRin nuna?”Tanya malaikat kecilku.
“tentu sayang. Dan 9 bulan lagi adik perempuanmu itu akan lahir.”jawab Jiyong tersenyum.
“berhentilah berbicara yang tidak-tidak dr.Kwon.”protesku.
“aku tidak bicara yang tidak-tidak hanya saja aku berusah keras agar hal itu menjadi nyata.”kata Jiyong tertawa dan aku pun ikut tertawa. Mungkin tidak ada yang lucu tapi, tingkah Jiyong yang semangat seperti ini terlihat lucu bagiku. Anak lagi? Perempuan? Semoga saja perkataan Jiyong benar.
FF INI TELAH SELESAI. Kim harap kalian suka dan bersedia meninggalkan jejak berupa komentar dengan begitu Kim akan semangat menulis FF berikutnya. Oh ya, yang baru baca tidak ada salahnya komentar FF sebelumnya loh. Itu bisa membuat motifasi untuk aauthor. Sampai jumpa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar