jangan lupa

JANGAN LUPA KOMENTAR YA..

Sabtu, 27 Februari 2016

SORRY, I’M LOVING YOU [PART 3]



SORRY, I’M LOVING YOU [PART 3]

Author: Kim Daisy
Cast: SkyDragon
Genre: roman
Rate : T
Lenght : ?

Hari itu Chaerin berpura-pura mencari manejer Mong saat dia bertemu seseorang. Hanya sebagai alibi untuk menutupinya mencari pakaian yang bisa dia ambil secara diam-diam. Sudah beberapa hari ini dia mencarinya dan siapa yang menyangka pagi itu di saat kejadian yang menurutnya sebuah kesialan dia menemukan pakaian olahraga coklat muda itu. Kejadian kesialan itu adalah saat dia tiba-tiba melihat Jiyong yang ... hm.. sexy? Dan harus mencium Jiyong agar terlepas dari jebakannya.

Setelah terdiam karena kecupan mengejutkan dari Chaerin dengan hati-hati Jiyong mengikuti Chaerin yang masuk ke RVnya dengan membawa sesuatu yang tidak diketahui Jiyong. Bertapa terkejutnya Jiyong karena yang keluar dari RV mewah itu adalah gadis yang memiliki mata yang sama dengan Chaerin. Mata yang bisa terlihat jelas bahkan saat Jiyong menutup matanya sekali pun.
Jika di lihat dari penampilan dan wajahnya itu jauh berbeda dari Chaerin yang dia kenal. Tapi mata itu. Mata yang membuatnya terus ingin ditatapnya adalah mata Chaerin dan Jiyong yakin bahwa dia tidak salah mengenalinya. Jiyong penasaran apa yang akan dilakukan Chaerin dengan penampilan orang lain itu dan dia memutuskan mengikuti Chaerin dengan perlahan-lahan. Untung saja jaket yang di kenakan Jiyong memiliki masker sehingga menutupi setengah wajahnya agar sulit dikenali.
Jiyong hanya memperhatikan dari jauh saat Chaerin makan dari tempat satu ke tempat lain. Bahkan Jiyong tidak menyangka dengan tubuh sekecil itu Chaerin sudah makan di dua tempat dan tempat bubur itu adalah tempat ke tiga.
Dari jauh Jiyong melihat Chaerin menjatuhkan buburnya dan Jiyong dengan cepat menyadari bau pertengkaran. Jiyong segera berlari menuju ke tempat Chaerin untuk melindunginya.

Plak.

Pria tidak dikenal itu mendaratkan sebuah tamparan di pipi seseorang membuat orang kaget dan melihat ke mereka. Dari suara cukup keras dan melihat tubuh orang yang menampar itu kekar jelas tamparan itu sangat kuat.
Tapi, tamparan itu tidak mengenai Chaerin. Tamparan itu malah mendarat di pipi Jiyong yang kini berada di depan Chaerin untuk melindunginya. Chaerin terlihat sangat terkejut dan penasaran dengan orang yang kini memungguinya.

“kau memukul gadis lemah dengan kekuatan penuhmu. Bayangkan jika hal ini akan terjadi dengan anak perempuanmu? Apa kau tidak masalah?”kata Jiyong dengan berani. Jiyong menyentuh sudut bibirnya yang kini tidak tertutup lagi dengan ibu jari kanannya yang ternyata mengeluarkan darah.

“gadis ini telah mejatuhkan bubur yang sudah dibelinya. Dan kau sudah menjatuhkan harga dirimu sebagai laki-laki. Jika kau laporkan kasus ini ke polisi, kau yang akan rugi. Karena aku Kwon Jiyong tidak akan membiarkanmu begitu saja.”kata Jiyong dengan tegas. Beberapa orang telah merekam dan memotret kejadian itu. Membuat Jiyong berfikir cepat untuk menyelamatkan mereka dari kehebohan warga.

“ayo, Chae!”
Dengan santai Jiyong mengengam tangan Chaerin dan mereka berlari sebelum orang-orang mengejarnya. Dan lari mereka semakin kencang karena orang-orang kini mengikuti mereka sambil memangil Jiyong. Chaerin yang kaget hanya mengikuti Jiyong yang kini di depannya. Selain kaget karena Jiyong yang menolongnya, Chaerin juga kaget Jiyong mengenalinya dengan keadaan yang seperti ini.

Setelah perdebatan, Jiyong kini berada di RV Chaerin untuk di obati. Pipi Jiyong yang memerah kini di tempelkan telur rebus oleh Chaerin dan sudut bibir Jiyong telah di berikan pasta yang bisa mengobati luka yang berada di sudut bibir Jiyong. Dan tidak lupa Chaerin memberikan plaster luka kecil di sudut bibir Jiyong saat pastanya mulai mengering.

“bagaimana kau tahu ini aku?”Tanya Chaerin pada akhirnya.

“matamu.”jawab Jiyong jujur.

“mata ini banyak yang mirip seperti mata ini.”balas Chaerin tidak percaya.

“tidak! Tidak ada yang mirip dengan matamu.”kata Jiyong dengan menatap mata Chaerin lekat. Dan itu membuat Chaerin gugup.

“tidak mungkin kau mengenaliku hanya dengan melihat mataku!”kata Chaerin untuk menutupi perasaannya yang kini sulit di control. Ada senang dan membuatnya sedikit gugup padahal sudah sangat sering mereka bertemu dan berbicara.

“ hanya kau yang punya sifat aneh seperti itu. Kau lebih mencemaskan bubur yang bisa kau beli restorannya dari pada orang yang kau tabrak. Mengelikan. Tidak mungkin seorang Lee Chaerin tidak mampu untuk membeli bubur lagi.”kata Jiyong berbohong agar suasana tidak terlalu kaku.

“kenapa kau menolongku?”kata Chaerin mengambil telur rebus dan menempelkan telur itu ke pipi Jiyong dengan lembut.

“aku tidak bisa melihat prempuan di perlakukann seperti itu. Bukan karena perempuan mana yang di perlakukan seperti itu.”

“cih. Kau saja tidak memperlakukan temanku dengan baik.”gerutu Chaerin.

“itu karena temanmu terlalu menempel padaku. Jika aku berprilaku baik dengannya maka dia akan mengikutiku lagi.”

“...”

“jangan berharap aku mengatakan terimakasih atau maaf. Karena kedua kata itu tidak ada dikamusku.”kata Chaerin santai. Tapi, dia masing menggulung-gulungkan telur rebus itu di pipi Jiyong dengan hati-hati.

“tapi, plaster ini menunjukan bahwa kau berkata terimakasih dan maaf secara tidak langsung, Chae.”kata Jiyong sambil mengemgam tangan Chaerin yang berada di pipinya. Di kecupnya tangan pergelangan Chaerin dengan lembut sambil menatap Chaerin lekat.

Chaerin terdiam. Ada yang berbeda dengan Jiyong saat ini dan Chaerin menyadari hal itu. Sikap Jiyong begitu alami tanpa ada kebohongan dan sikap Jiyong ini membuat Chaerin sulit berfikir dan bergerak seakan Jiyong mengendalikan semua yang ada pada Chaerin. Jiyong mendekatkan wajahnya pada Chaerin. Jiyong memberikan beberapa kali kecupan ringan di bibir Chaerin dan Chaerin hanya diam. Jiyong melumat bibir Chaerin yang selama ini menggodanya. Dan Chaerin membalas tindakkannya sambil memejamkan mata. Dengan perlahan tapi, pasti Jiyong berhasil mengangkat Chaerin ke pangkuannya.

“aku ingin jujur padamu.”kata Jiyong setelah melepaskan tautan bibir mereka. Chaerin mencoba menormalkan detak jantungnya dengan nafas yang tidak beraturan. Mata Chaerin terlihat sayu dan sesekali dia menutup matanya sambil menunggu ucapan Jiyong.

“aku mencintaimu. Sejak dulu.”kata Jiyong tegas sambil memegang kedua bahu Chaerin, berharap Chaerin tidak pergi darinnya.

“aku tahu. Walau aku tidak terlalu yakin dengan hal itu.”kata Chaerin masih dengan nafas yang tidak beraturan.

“lalu, apa kau berani menentang keluarga kita?”Tanya Jiyong dengan menatap Chaerin lembut, jauh berbeda dengan sebelumnya. Tatapan ini jauh lebih lembut dibandingkan saat dia harus menjadi suami Chaerin di drama mereka. Chaerin bisa melihat bahwa tatapan ini bukan hanya acting semata.

“kita lihat nanti sebesar apa masalah ini”kata Chaerin sambil menutup matanya menikmati Jiyong yang mengecup kedua pipi dan keningnya. Dan akhirnya mencium bibir Chaeerin kembali.
Chaerin mendorong tubuh Jiyong dan berhasil terlepas.

“kau tidak tanya dengan perasaanku?”kata Chaerin dengan menatap Jiyong tajam.

“tidak perlu. Karena tidak ada yang bisa lepas dari pesonaku.”jawab Jiyong dan membuat Chaerin tertawa.

“apa kau memiliki pikiran yang sama denganku?”tanya Jiyong.

“tidak. Kau selalu menatapku tajam. Tapi, manejerku selalu bilang ‘cinta dan benci itu hanya berlapis selaput tipis tidak terlihat.’ Dan dia bilang tatapan matamu saat syuting selalu penuh cinta. Dan jelas aku memiliki pesona yang tidak kalah darimu.”jelas Chaerin sambil tertawa pelan. Tapi, tawa itu berhenti karena Jiyong mengecup bibir Chaerin kembali.

“kau sudah menggegam hatiku saat kita bertemu. Sekarang gilaranku mencuri hatimu.”kata Jiyong dengan yakin tapi, Chaerin hanya mendengar tanpa mau mengerti maksud perkataan Jiyong sepenuhnya.

-----------
Flash back
Pada musim panas tahun itu, anak tingkat 9 di sekolah yang didirikan kerajaan sedang melakukan olahraga. Bermacam-macam jenis olahraga yang mereka lakukan. Ada yang berenang, bermain basket, lari, tenis, golf, bowling, sepak bola dan lainnya. Tapi, seorang gadis kecil hanya duduk manis di bawah pohon menonton permainan sepak bola dari seniornya. Gadis kecil ini sangat malas untuk berbaur dengan teman-temannya sehingga dia hanya memilih menjadi penonton sambil menikmati sandwich tuna buatan koki di rumahnya seorang diri. Gadis itu tentu saja bisa melakukan hal itu tanpa rasa takut di hukum guru karena keluarganya memiliki 75% saham di sekolah elit ini. Walaupun dia terlihat sebagai gadis kecil biasa, aura seorang putri yang memiliki kekuasaan begitu kental pada dirinya sehingga banyak yang tidak bisa mengatur atau memerintah gadis kecil ini, bahkan untuk melihat wajahnya.

Saat gadis itu selesai memakan sandwichnya dengan tenang, dia melihat seorang anak laki-laki terjatuh saat akan mengoper bolanya. Gadis itu bisa melihat bawah anak laki-laki itu sengaja di jatuhkan temannya tapi, anak laki-laki itu tidak berbuat apapun seakan luka di kakinya tidak menjadi masalah untuknya. Anak laki-laki itu tetap semangat bermain bola. Hingga akhirnya anak laki-laki yang terluka itu harus diganti dengan temannya yang lain.

Anak laki-laki itu berjalan ke pinggir lapangan dengan agak aneh. Dengan perlahan tapi, pasti gadis itu membereskan bekalnya dan berjalan menuju anak laki-laki itu. Anak laki-laki itu duduk di pinggir lapangan sambil melihat permainan teman-temannya. Dia masih bisa tersenyum tanpa mencemaskan lukanya. Tapi, kini kakinya terguyur air membuat anak laki-laki itu meringis menahan sakit.

Anak laki-laki itu mengangkat wajahnya untuk melihat siapa yang menyiramnya. Anak laki-laki itu ingin marah. Tapi, amarahnya tertahan saat melihat yang menyiram kakinya adalah seorang gadis kecil dengan dua ikatan lucu di kiri-kanan kepalanya. Seperti tokoh komik Jepang yang menjadi pahlawan dengan kekuatan bulan.
“sumimasen (kata maaf dalam bahasa Jepang). “kata gadis itu dengan hati-hati mengelap luka itu dengan sapu tangan kecil miliknya.

“hah?”anak laki-laki itu hanya binggung dengan perkataan gadis kecil yang tidak di mengertinya.

“vu parle fongse? (anda bisa bahasa Prancis?)”kata gadis itu.

“hah?”lagi-lagi anak laki-laki itu binggung karena bahasa yang di gunakan gadis itu jelas berbeda. Dia tahu awalnya gadis itu berbicara bahasa Jepang tapi, dia tidak mengerti artinya. Dan yang kedua terdengar bahasa dari benua Eropa yang sama sekali tidak di ketahui Jiyong.

“this!”kata gadis itu dengan bahasa Inggris yang belum di kuasainya. Gadis itu memberikan sebuah plester luka tapi, anak laki-laki itu tidak berkutik atau pun menjawabnya. Gadis itu tersenyum manis. Memegang tangan anak laki-laki itu dan meletakkan pleter luka itu di telapak tangan anak laki-laki itu.

“bye! Mingtian jian! (sampai jumpa besok)”kata gadis manis itu meninggalkannya. Anak laki-laki itu melihat sang gadis hingga sang gadis tidak lagi ada di pandangannya. Dan saat di melihat kakinya, dia kaget karena kakinya yang terluka telah di obati. Dia tidak sadar saat gadis manis itu menggobati lukanya.

“ayo, jam telah berakhir!”teriak guru mengingatkan siswanya yang bermain. Anak laki-laki itu pun bangkit dari duduknya.

“Jiyong, siapa gadis bersamamu?”tanya temannya. Anak laki-laki itu pun menoleh ke arah temannya.

“aku tidak tahu.”jawab anak laki-laki itu yang masih binggung.

“dia mengobati lukamu. Kau pasti mengenalnya.”desak temannya.

“aku benar tidak tahu. Dia tidak menggunakan bahasa korea membuatku sulit bertanya”jelas Jiyong.

“sepertinya dia meninggalkan ini.”kata teman Jiyong sambil memberikan sapu tangan yang ada di tempat di duduki Jiyong tadi.

“ya. Ini miliknya. Biar aku yang memberikannya.”kata Jiyong semangat. Jiyong berharap bisa bertemu dengan gadis itu lagi.

Hingga hari kelulusan Jiyong, Jiyong belum menemukan gadis yang mengobati lukanya. Dia telah jatuh cinta pada gadis yang menolongnya. Hanya sapu tangan dan plaster luka itu yang menjadi petunjuknya. plater itu dia simpan dengan baik dan sapu tangan itu terus dibawanya bagaikan jimat untuknya. Sebuah sapu tangan kecil berwarna beige dengan bordiran tertulis “Lee Chaerin” bahasa China dan lambang kerajaan.

--------- Flash Back End ----------

Chaerin dengan santai membaca komik favoritnya di depan kamarnya. Sebuah kacamata kini menghiasi wajahnya, rambutnya di ikat dengan acak dan Chaerin di temani dengan cemilan favoritnya. Jauh berbeda dari sosok Chaerin yang angkuh dan penuh percaya diri. Di dalam kamarnya Chaerin akan menjadi dirinya sendiri tanpa takut dinilai orang lain dan di ikat dengan aturan sopan santun yang selalu dia pelajari seumur hidupnya.

Tanpa Chaerin ketahui seseorang masuk ke kamarnya dan mengelus kepalanya. Chaerin dengan cepat mengenali orang yang mengelus kepalanya dengan lembut.

“duduk saja, appa!”kata Chaerin meminta ayahnya duduk. Chaerin membenarkan duduknya agar terlihat anggun. Ayahnya pun kini duduk di samping Chaerin.

“kau baca buku itu lagi? Ommamu akan sangat marah jika kau membaca buku itu.”kata appanya dengan lembut.

“omma sedang tidak ada di Korea saat ini, appa. Lagi pula aku tidak membacanya di luar kamarku, appa.”jawab Chaerin dengan bahasa yang kaku. Setiap ucapannya dan gerak-geriknya kini telah di atur sesuai yang dipelajarinya selama ini. Kini Chaerin menutup komik yang di genggemnya dan di letakkannya di atas meja dengan berat hati.

“ommamu akan segera datang beberapa hari lagi. Jangan sering keluar rumah!”kata ayahnya mengingatkan dengan lembut. Sebenarnya Chaerin tidak leluasa jika orang tuanya kembali ke Korea. Bukan karena Chaerin suka keluar rumah tapi, karena dia harus mengikuti sopan-santun perkataan dan tindakan yang sudah sangat di kuasainya.

“...” Chaerin memilih diam. Chaerin tidak begitu dekat dengan kedua orang tuanya yang suka sibuk.

“aku dengar kau bermain drama baru, apakah aku benar?”tanya ayah Chaerin. Pertanyaannya saja seakan bukan pertannyaan yang di ucapkan ayah untuk anaknya, terlalu kaku. Tapi, Chaerin sudah terbiasa walau dia tidak suka dengan hal ini. Dia ingin mengobrol nyaman dengan orang tuanya seperti keluarga lainnya.

“ia, benar appa.”

“Kwon Jiyong menjadi lawan mainmu di drama kerajaan itu?”

“benar, appa.”

“sejauh ini tidak ada yang menyakitimu kan?” pertanyaan itu membuat Chaerin kaget walau dia tau ayahnya akan bertanya seperti ini karena keluarga mereka tidak pernah akur sebelumnya. Chaerin menjawabnya dengan menggelengkan kepalanya pelan.

“apa keluarga ini akan terus perang dingin seperti ini terus appa?”Tanya Chaerin pada ayahnya.

“kau tidak berhak membenci anak itu, Chaerin. Aku harap kau bisa mendamaikan keluarga ini.”

“apakah ada caranya appa? Sebenarnya aku tidak terlalu mengerti untuk menghentikan perang dingin antara keluarga kita karena ini terjadi jauh sebelum aku lahir.”

“kenapa? Apakah putriku tertarik dengan anak laki-laki keluarga mereka?”kata ayah Chaerin dengan nada menggoda dan tertawa pelan. Jelas sekali bahawa dalam situasi apapun ayah Chaerin benar-benar bisa mengendalikan dirinya. Kalimat sederhana yang di ucapkan ayah Chaerin jelas membuat Chaerin kaget dan membuat pupil matanya membesar tapi, ayahnya tidak bisa melihat hal itu. Chaerin juga ahli dalam mengendalikan gerak-geriknya. Tentu saja itu karena pelajaran sopan-santun yang di pelajari sepanjang hidupnya.

“kami bermain bersama, appa. Akan tidak baik jika keluarga kami tidak baik-baik saja saat melihat kami harus berperan suami-istri.”jelas Chaerin dengan tenang.

“seharusnya putriku ini menghawatirkan hal itu sebelum menerima tawaran ini.”kata ayah Chaerin dengan tertawa pelan penuh wibawa membuat Chaerin hanya bisa diam.

“aku memang bukan ayah yang selalu ada untuk mu tapi, aku mengawasi dirimu dan setiap mungkin aku bagi waktu ku untuk mengobrol santai denganmu walau tidak bisa sesantai keluarga lainnya. Aku selalu mengecek dan melihat perkmbanganmu, bahkan aku punya beberapa vidiomu saat melakukan syuting. Aku cukup tahu bahwa putriku ini bersikap kasar dengan anak laki-laki keluarga mereka bukan karena tanpa alasan. Dan aku tahu anak laki-laki mereka juga lebih mencintaimu. Aku bisa lihat itu dari barang milikmu yang selalu dia simpan. Lakukan yang terbaik, putriku. Aku yakin kau bisa.”kata ayah Chaerin sambil melihat jam tangannya.

“barang milikku? Barang apa?”tanya Chaerin seperti gumaman. Walau begitu dia harap ayahnya akan menjawab tapi, ternyata ayahnya sudah meninggalkan Chaerin sendiri begitu saja.

-----------------

Dimusim dingin ini sang putri melihat salju di halaman rumahnya. Sang putri mengenakan baju tebal yang cantik dan kelapanya di tutupi pungcha agar tidak terlalu dingin. Sesekali sang putri mengangkat tangannya untuk meraih salju yang turun. Sang putri menutup matanya untuk merasakan dinginnya. Bibir merahnya kini yang terlihat lebih pucat tersenyum manis. Sikap dingin dari sang putri kini mulai melembut.

Tiba-tiba sang putri merasa hangat di sekujur tubuhnya, seakan ada seseorang yang memeluk dirinya. Tanpa perlu melihat kebelakang sang putri sangat yakin yang memeluknya adalah sang suami yang sangat mencintainya.

“masuklah, putri. Disini sangat dingin.”kata sang suami dengan lembut sambil mengelus tangannya ke telapak tangan sang putri untuk di hangatkan. Tangan sang putri pun kini berwarna kemerahan karena suhu udara yang dingin.

“bukankah disini ada suamiku yang sedang memelukku untuk menghangatkan hatiku.”kata sang putri dengan lembut. Ya, sang putri kini memang lembut dengan suaminya bahkan kini mereka saling mencintai dan menghakhiri pertengkaran mereka.

“suamimu ini tidak seperti beruang yang bisa menghangatkanmu seharian, putri.”kata sang suami dengan nada khawatir dan membuat sang putri tersenyum.

“CUT!!”Teriak sang sutradara. Menejer Mong segera berlari ke arah Chaerin untuk memberikan jaket pada Chaerin sambil mengucapkan terima kasih atas kerja samanya dan membawa ke RVnya karena ini adalah pengambilan gambar terkakhir Chaerin.

“hari ini dingin sekali. Kau harus minum ini, Chaerin.”kata manejer Mong sambil memberikan teh hangat dengan campuran gingseng untuk Chaerin dan Chaerin langsung menghabiskannya.

“enak?”tanya Menejer Mong sambil menyiapkan keperluan Chaerin.

“tentu saja. Gelasku bahkan sudah kosong. Apa ada lagi?”tanya Chaerin.

@di tempat lain.
Jiyong kaget melihat sebuah mobil box besar kini ada di lokasi syuting mereka. Mobil box memang ada beberapa untuk perlengkapan syuting, hanya saja kali ini mobil boxnya berbeda.
“ommamu sekarang sudah ada disini.”kata manejernya Jiyong, seorang laki-laki dengan kacamata di wajahnya.

“seperti perkiraanmu, nyonya datang kesini dengan membawa mobil box itu. Karena ini syuting terakhir jadi nyonya memberikan makanan untuk nanti acara perpisahan.”

“kenapa kau baru bilang sekarang?”

“nyonya baru memberitahuku tadi pagi saat anda masih melakukan pengambilan gambar.”kata manejernya dan Jiyong menghela nafas pasrah.

“sekarang dimana ommaku?”

“nyonya sedang di hotel dan akan datang sebelum acara makan malam.”

“aku pikir syuting ini akan berakhir dengan tenang.”

Malam itu semua orang telah berkumpul di sebuah ruangan sangat luas yang biasa digunakan untuk syuting drama mereka. Beberapa orang menyiapkan makanan, beberapa orang menyiapkan menghangat dan beberapa orang hanya bercerita dengan yang lainnya. Jiyong hanya bersender didinding memperhatikan Chaerin yang sedang mengobrol dengan aktris dan kru dari jauh seakan matanya telah di kunci hanya bisa melihat Chaerin.

“malam semuanya!”teriak seseorang membuat semua orang di dalam ruangan itu mengalihkan matanya dan menatap sumber suara. Jiyong memijit keningnya sebentar, dia harus siap-siap dengan sakit kepala yang akan menyerangnya.

“saya omma Jiyong, terikasih telah menjaga anak saya.”kata omma Jiyong sedikit berlebihan membuat Jiyong menahan malu. Chaerin menatap Jiyong dengan meremehkan. Lalu, ponsel Jiyong pun bergetar.

From : Chaerin
‘aku bersyukur orang tuaku tidak ada yang seperti itu.’

Setelah membaca pensan dari Chaerin, Jiyong pun membalas.

From : Jiyong
‘jangan senang dulu! Karena nantinya ommaku akan menjadi ommamu.’

Balasan pesan singkat itu berhasil membuat Chaerin malu dan wajahnya memerah membuat Jiyong tersenyum kemenangan.

Makan malam pun selesai. Kini hanya acara bebas saja. Omma Jiyong terus menempel pada anaknya hingga kini sang sutradara dan penulis pun ikut berkumpul dengan mereka.

“saya tidak menyangka Jiyong tidak hanya bisa bermain di film action tapi, juga film dengan genre yang seperti ini. Bahkan sering sekali hanya sekali pengambilan gambar saja, sudah beres.”kata sutradara memuji. Omma Jiyong tertawa bahagia mendengar anaknya mendapat pujian seperti itu dari sutradara.

“Jiyong kami harus masih belajar dan bimbinganmu, sutradara.”kata omma Jiyong dengan sopan santun.

“tidak. Aku benar. Jiyong begitu berbakat. Aku rasa filmnya akan dapat ratting tinggi. Ah.. anda juga harus mengucapkan terimakasih dengan lawan mainan Jiyong, Chaerin. Chaerin!” teriak sang sutradara memanggil Chaerin. Chaerin yang mendengar namanya di panggil tanpa melihat situasi langsung mendekat pada sutradara dan bertapa kagetnya Chaerin ternyata sutrada dengan ommanya Jiyong.
“Chae, kenalkan ini ommanya Jiyong!”kata sutradara mengenalkan omma Jiyong dan Chaerin. awalnya obrolan berjalan baik walau sedikit kaku tapi, sutrada tidak menyadari hal itu. Tiba-tiba sutradara dan menulis naskah harus pergi karena ada yang harus di lakukan dengan cepat Chaerin juga ingin ‘menyelamatkan diri’.

“kau tidak akan kabur kan tuan putri?”kata omma Jiyong menahan Chaerin.

“untuk apa? tidak ada yang perlu saya hindari, nyonya.”kata Chaerin berbohong.

“jangan rusak acara ini, omma.”tegur Jiyong.

“kau mengarahkanku? Kau tidak menyukainyakan Jiyong?”

“tentu saja tidak. Karena aku mencintainya omma.”kata Jiyong lugas.

“kau tidak bisa seperti itu Ji!”kata omma Jiyong tidak percaya.

“aku bisa. Bahkan aku telah mencintainya sejak dulu dan sekarang aku tidak akan membiarkan omma menggangu gadisku.”

TBC

Aku mohon maaf karena kemungkinan besar minggu depan aku gak bisa posting lanjutannya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar