jangan lupa

JANGAN LUPA KOMENTAR YA..

Minggu, 28 Februari 2016

LOST AND GIVE PART 4

LOST AND GIVE [Part 4]
.
.
.
.
Author : Kim Daisy
Cast : SkyDragon, Taeyang dan Soo Song
Rate : PG 17
Pict : Ahelnyann (thks bgt cover kecenya)
***
.
.
Aku kembali terjatuh di kasur, sedangkan ahjussi kini berada di atasku dengan jarak yang tidak jauh. Ahjussi itu membuka kemejanya dengan gerakan sensual . Badannya tidak memiliki otot-otot besar seperti para atlet atau pria yang sangat menggilai olah raga. Tapi, otot-otot di tubuhnya di posisi dan bentuk yang pas menurutku. Dia memiliki sixpack, otot di bagian lengannya dan kulit yang kecoklatan menunjukkan dia lebih macho karena hasil olahraga outdoor, menurutku. Tubuhnya tidak terlalu besar tapi, aku yakin akan nyaman berada di pelukannya, menyentuh otot-otot dan tattoo yang melekat di tubuh sexynya.

Tangannya di kiri-kanan tubuhku menahan tubuhnya agar tidak menindihku. Dia mengecup keningku, kedua pipiku, lalu membelai pipiku dengan lembut. Ada reaksi aneh pada tubuhku, aku menyukai sentuhannya hingga aku memejamkan mataku. Sesuatu yang lembut terasa dibibirku menggoda untukku rasakan lebih lagi.

Tunggu. WHAT!? Dia mau memperkosaku?
Memperkosaku? Sial! Kenapa aku menjadi senang? Seharusnya aku takut dan melawan saat ahjusii tampan ini menindihku seperti ini. Ayo, kau harus melawan Chaerin! kau harus! Tapi, kenapa aku tidak bisa bergerak? Padahal dia tidak menahanku sama sekali. Aku terlalu lemah sekarang karena merasakan godaannya.

“kenapa? Terlalu terpesona hingga tidak bisa melawan atau kau juga menginginkannya?” katanya dengan nada mengejek.

“harapanmu!” kataku kesal dan mendorongnya karena mendapat kekuatan lebih setelah mendengar ucapannya yang menjengkelkan. Aku pun terlepas dari gangguannya. Tapi, ahjussi itu tertawa.

“cepat atau lambat hal itu akan terjadi karena itu hakku. Jadi, bersiaplah istriku.” katanya dengan senyuman menggoda, mengecup bibirku dengan cepat dan keluar dari kamar.

“menyebalkan! Gila! Tidak waras! Tua! Mesum!” teriakku kesal sambil melepar bantal yang ada di dekatku. Menyebalkan. Aku akan membalasnya!
.
.
.
.
Aku segera mandi, berniat untuk menjenguk appaku yang masih harus di rawat di rumah sakit. Sedangkan ahjussi mesum itu hingga aku turun untuk makan pun dia belum muncul. Entah dimana keberadaannya sekarang. Ini rumit bagiku. Katanya dia menyukaiku, aku satu-satunya yeoja yang di inginkan untuk menjadi istrinya. Tapi, apakah itu hanya sebuah ambisi? Tapi, ambisi apa? Aku tidaklah secantik atau seimut aktris atau tokoh idol di televisi. Aku juga tidak sexy seperti mereka karena aku selalu berpakaian formal. Kekayaan? Bahkan dia jauh-jauh lebih kaya dariku. Lalu, apa yang membuat dia sangat tertarik denganku?

“karena kita sudah di tetapkan tuhan untuk saling memiliki. Buat saja semua menjadi simple karena aku juga begitu mudahnya untuk mencintaimu.” seseorang mengecup kelapaku dan aku sadar bahwa dialah ahjussi mesum. Namja yang membuat kepalaku hampir pecah menahan emosi. Entah dia bisa membaca pikiranku atau kalimatnya hanya kebetulan sedikit menjawab pertanyaan-pertanyaan di pikiranku.

“aku tidak bisa membaca pikiranmu tapi, karena aku begitu mengenalmu kau sudah seperti buku terbuka bagiku, istriku.” katanya dengan memberikan senyuman menggoda sayangnya aku tidak tergoda. Lalu, dia duduk berhadapan denganku untuk makan bersama.

“hari ini kau ingin menjenguk appa, sweetheart?” tanyanya mesra. Anehnya aku tidak pernah jijik saat dia memanggilku sayang, sweetheart atau istriku. Semua terdengar natural berbeda saat Tae.. ah kenapa aku malah memikirkan hal itu.

“ya, appa tidak bisa datang di hari itu dan aku tidak menghubunginya jadi dia pasti khawatir.” jawabku sambil menyendokkan makanan ke mulutku. Ahjussi itu menatapku lekat.

“kenapa kau tidak makan?” tanyaku dan dia langsung mengambil sendoknya.

“kau tau, tidak perlu menggunakan baju tipis dan terbuka. Kau makan saja bisa terlihat sexy dimataku dan membuatku ‘lapar’. Sangat. ” jawabnya dengan santai. Reflek aku meleparkan sendok yang ku pegang dan sayangnya meleset, sendok itu langsung terjatuh dilantai.

“kata-katamu apa tidak bisa tidak berbau vulgar, ahjussi mesum?” bentakku. Entah kenapa jiwa dominanku tidak bisa mempengaruhinya. Aku selalu kalah berdebat dengannya.

“kau memanggilku ahjussi mesum? Itu artinya yang berbau vulgar adalah identitasku. Lagian aku tidak berbicara vulgar. Aku hanya berbicara jujur. Sungguh. Dan berhenti memanggilku ahjussi, aku bukan fedofil.” katanya dengan santai sambil makan dengan tenang seakan topic yang kami bicarakan tidaklah serius.

“umur kita berbeda hampir 10 tahun, jika saja umurmu tidak menimbulkan efek lupa.” jawabku kesal. Selera makanku hilang.

“hampir jauh berbeda dengan kata sama, sweetheart. Aku akan menemanimu menemui appa. Dia akan khawatir jika kau pergi sendiri.” ucapnya sambil makan dengan tenang tapi, membuatku justru ingin segera meninggalkan tempat ini. Jauh dari dirinya.
.
.
.
.
.
Aku masuk ke kamar appa sedangkan ahjussi mesum itu ada dibelakangku. Wajah appa tidak sepucat 3 hari lalu saat aku menemuinya sehari sebelum aku menikah.

“wah, pengantin baru menjengukku.”.kata appa terdengar gembira. Aku langsung memeluk appa. Dia membesarku seorang diri tanpa campur tangan yeoja lain karena eomma telah lama meninggal sejak aku kecil. Kami tinggal di hotel pertama yang appa bangun agar aku tidak kesepian dan appa bisa mengontrolku dengan dekat. Tapi, satu-satunya orang yang aku miliki kini terlihat lemah karena usia.

“bagaimana keadaan appa? Maaf, aku belum bisa mengunjungi dan menghubungimu, appa.” kataku sambil memeluknya yang terbaring dikasur.

“tidak masalah. Aku mengerti. Jadi, bagaimana dengan malam pertama kalian?” tanya appa dengan nada menggodaku.

“dia terlalu lelah appa. Aku belum bisa menikmati hidangan utama.” jawab ahjussi mesum itu dengan santai dengan wajah pokerfacenya membuat appa tertawa lepas tapi membuatku kesal dan ingin sekali rasanya membanting tubuhnya. Menghancurkan tulang-tulangnya. Sayangnya aku tidak punya kekuatan super seperti itu.

“appa punya hadiah untuk kalian. Ini.” kata appa sambil mengambil sesuatu dibawah bantalnya dan memberikan sebuah amplop padaku.

“tiket bulan madu. Kalian pergilah bersama dan pulang bertiga.” kata appa dengan memberikan kedipan mata padaku. Tapi, aku tidak mengerti.

“bertiga? Dengan siapa? Siapa yang ikut bersama kami saat pulang?” tanyaku penasaran.

“tentu saja dengan cucuku.” jawab appa tertawa keras. Jawaban appa membuat kepalaku sakit karena menahan malu. Appa tidak main-main. Aku yakin appa pasti sudah menaruh orang-orangnya saat kami bulan madu nanti untuk mengawasi.

“appa, sebenarnya kami tidak berencana bulan madu dalam waktu dekat. Appa tahukan bahwa kami punya proyek yang harus kami selesaikan segera.” tolakku dengan halus. Ku genggam tangan appa yang tidak terdapat selang infuse.

“tapi, bukankah proyek itu bisa ditunda sebentar? Hanya seminggu.” tawar appa dengan wajah sedihnya. Ini pertama kalinya appa memohon dengan memelas. Sebenarnya aku tidak kuat untuk menolaknya.

“alangkah baiknya kami melakukan bulan madu saat appa benar-benar sehat. Aku yakin Chaerin akan khawatir jika kami telalu lama meninggalkan appa pergi.” kata ahjussi itu dengan lembut. Kali ini dia menyelamatkanku.

“maafkan aku membuat kalian khawatir. Kalian boleh menunda bulan madunya, tapi jangan tunda lagi memberikanku cucu.” kata appa dengan nada sedikit mengancam membuatku bingung harus bilang apa.

“tenang saja, appa.” jawab ahjussi itu meyakinkan appa.

“kau sudah memanggilku dengan ‘appa’ tapi, kau tetap saja berbicara denganku terlalu formal. Aku orang tuamu sekarang bukan rekan kerjamu.” tegur appa.

“baiklah, appa.” jawab ahjussi itu dengan tersenyum lembut. Dia terlihat juga menyayangi appaku. Tapi, sikapnya padaku terlalu aneh. Dia memaksaku, menggodaku dan kini membelaku. Kalau dipikir-pikir memang tidak ada alasan kuat untuk memanfaatkanku. Dia sudah sangat kaya, dia bisa mendapatkan yeoja mana pun yang dia mau lalu, kenapa dia ingin berkomitmen denganku? Apakah benar dia tulus mencintaiku?
.
.
.
.
.
Ini sudah seminggu pernikahan kami. Kami memang tidur berdua, makan bersama dan waktuku memang banyak dihabiskan bersamanya dalam pekerjaan. Kami masih tinggal di hotelku karena sejak awal bangian paling atas hotel dijadikan ‘rumah’ . Proyek yang sedang perusahaan kami lakukan berjalan lancar sedangkan untuk hubungan kami dalam rumah tangga berjalan biasa saja. Ahjussi itu tidak memaksaku atau menciumku seperti dulu. Dia hanya akan mengecup keningku sebelum tidur dan sebelum dia pergi kerja dan memelukku. Tidak ada yang berlebihan. Ahjussi selalu perhatian padaku dan appa. Mungkin karena dia tidak punya keluarga sejak lama. Mungkin dia terlalu sibuk hingga tidak punya waktu menggodaku. Tapi, tidak juga karena kami selalu sarapan, makan siang dan makan malam bersama seperti saat ini.

“ada apa?” tanyanya sambil memotong daging steak yang ku masak untuk makan malam ini.

“tidak. Hanya saja sepertinya kau kelelahan. Ada apa? Apa ada masalah?” tanyaku. Sebenarnya aku hanya terlalu tenggelam dalam pikiranku, tapi lebih baik aku mengalihkan pembicaraan dan sedikit berbohong.

“waw, sepertinya my sweetheart mengkhawatirkanku. Aku senang.” jawabnya dengan tersenyum.

“sepertinya aku harus bilang padamu.”

“ada apa?” tanyaku. Sebenarnya aku tidak tertarik, tapi jika aku diam saja juga tidak mungkin.

“beberapa hari lagi Taeyang akan kembali ke Korea dalam beberapa hari. Aku rasa dia akan datang mengunjungimu.” jawabnya dan membuatku terdiam karena terkejut.

“sejak kapan kau tahu?”

“kemarin. Dia kesini karena menemui orang tuanya. Jika beberapa tahun lalu dia tidak bisa menemuimu karena kesibukanmu mungkin dia adakan menemuimu dengan alasan untuk menemuiku. Jangan cemas! Aku akan menemanimu, selalu.” katanya dengan menatapku lekat membuatku benar-benar percaya dengan janjinya.
.
.
.
.
.
Suasana kantorku sedikit senggang karena sebelumnya aku sudah jauh hari menyelesaikan pekerjaanku. Semenjak aku menikah semua berjalan lebih mudah dan terkontrol tentu saja berkat ahjussi itu menjadi suamiku. Dia selalu membantu pekerjaanku, mempermudahku berhubungan dengan pebisnis lain. Bahkan harga saham hotel milikku terus meningkat dan jumlah tamunya juga meningkat. Mungkin karena dia pebisnis luar yang sukses sehingga pebisnis lokal mudah mempercayainya dan itu juga menguntungkan untukku.

Seperti biasa aku mengelilingi hotelku dan akhirnya aku beristirahat sebentar di hutan kecil yang masih di kawasan hotelku mencoba mencari ketenangan.

“sudah lama tidak bertemu denganmu. Aku tidak menyangka kita bertemu disini.”suara itu. Suara lembut yang sudah lama tidak terdengar olehku.

“Oppa.” kataku saat berbalik dan melihat dirinya. Dirinya yang entah kapan berhasil ku lupakan dan kini aku takut perasaan itu muncul kembali.

“jika kau menganggapku sebagai oppamu seharusnya kau memberitahuku tentang pernikahanmu.” katanya dengan tersenyum manis seperti dulu. Tidak pernah berubah.

“aku menyerahkannya pada pengurus pernikahanku jadi aku tidak yakin undangan datang padamu.” kilahku.

“seharusnya kau mengatakan hubunganmu dengannya sebelumnya. Aku dan Soo Song terkejut karena mengetahuinya dari media.”

“kau sudah memiliki istri oppa, tidak mungkin aku bercerita denganmu lagi seperti dulu.” jawabku dingin. Kenapa dia harus membawa nama istrinya?

“ya, kau benar.”

“....”

“dia atasanku, pemilik perusahaan tempatku berkerja. Kau beruntung menikah dengannya karena dia tidak pernah berhubungan dengan yeoja manapun. Kalian sama-sama tidak berpengalaman dengan cinta.” kata Taeyang oppa. Aku benar-benar merasa canggung saat ini.

“tidak. Justru aku yang beruntung menikah dengannya.” kata ahjussi itu yang tiba-tiba muncul dengan memelukku dari belakang dan menaruh kepalanya di bahu kananku. Aku menggerakkan kepalaku ke kanan membuat bibir kami menyatu. Ini saatnya pertunjukan.

“kau sudah pulang, suamiku?” tanyaku dengan senyuman pada ahjusi genit ini. Dia malah semakin mengeratkan pelukannya padaku.

“belum, sweetheart. Bahkan ini belum jam makan siang. Tapi, aku terlalu merindukanmu makanya aku ada disini.” jawabnya sambil menggerakkan tubuhnya kekanan dan kiri dengan gerakan lembut sehingga tubuhku pun mengikutinya.

“aku juga baru saja memikirkanmu.” jawabku dan membuat lidahku gatal mengucapkannya.

“aku tahu.” jawabnya tertawa.

“oh maaf, aku melupakanmu. Kau siapa?” tanya Ahjussi itu dengan wajah penasaran. Jelas dia juga berakting bersamaku. Dia mengenal Taeyang oppa, bahkan dia mengenalku lewat undangan pertunangannya dulu. Tapi, kenapa dia seolah-olah tidak mengenalnya?

“maaf, mungkin anda melupakan saya. Saya Taeyang yang mengurus...”

“ah ya, aku ingat.” kata ahjussi itu langsung tanpa membiarkan Taeyang oppa selesai berbicara.

“ada perlu apa dengan istriku? Kalian saling mengenal?” tanya ahjusi itu dengan tatapan seakan ingin menelan Taeyang oppa hidup-hidup.

“kami hanya teman lama dan kebetulan keluarga kami cukup dekat sehingga aku berniat bertemu dengannya.”

“oh, maafkan aku. Aku sangat protektif. Aku tidak suka istriku menemui namja lain hanya berdua saja. Kau tahu, aku begitu tergila-gila dengannya.” kata ahjussi itu dan mengecup bibirku dengan santainya.

“seharusnya aku yang minta maaf, aku mengerti. Aku harap ada waktu lain kali agar kita bisa berbicara dengan nyaman. Aku harap anda tidak keberatan tuan Kwon?”

“istriku ini sedikit kelelahan akhir-akhir ini, maklum saja kami pengantin baru. Jika kami ada waktu kami akan menghubungimu.” jawab ahjussi itu dengan santai. Seakan yang menjadi pembicaraan adalah sebuah dongeng anak-anak.

“baiklah. Aku permisi dulu. Sampai jumpa.” kata Taeyang oppa pergi dengan senyuman manisnya.

“tidakkah kau terlalu berlebihan?” tanyaku saat Taeyang oppa benar-benar jauh dari kami.

“tidak, sayang. Memang benar seperti itu.” jawabnya dan dia mengecup leherku membuatku geli.

“geli, ahjussi mesum.” protesku dan melepaskan pelukannya.

“sweetheart, aku lebih senang kau memanggilku ‘suamiku’ seperti tadi.” katanya.

“jadi, kenapa kau kesini?” kataku tidak peduli dengan ucapannya.

“aku kan sudah bilang bahwa aku merindukanmu. Ah, ini sudah masuk jam makan siang. Ayo, kita makan!” ajaknya dengan semangat dan menggenggam tanganku. Dia menyelamatkanku. Aku rasa dia tahu Taeyang oppa akan mencariku. Dia sama saja dengan appa, selalu mengawasiku.

Siang ini aku mengunjungi appa di rumah sakit, kali ini tidak dengan ahjussi karena dia ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan. Dan saat ini appa semakin membaik. Apa sudah bisa keluar dari kamar dibantu dengan kursi roda karena masih lemah.

“dimana Jiyong?” tanya appa saat dia melihatku masuk kemarnya.

“seharusnya appa menanyakan keadaanku dulu. Aku kan anakmu, appa.” candaku. ya, appa begitu menyayangi ahjussi itu. Mungkin karena mereka memiliki banyak kesamaan dan ahjussi tulus memperhatikan appaku.

“maaf, aku lupa hal itu.” kata appa membalas candaanku sambil tertawa.

“jadi bagaimana, apakah cucuku sudah ada disini?” tanya appa sambil menyentuh perutku.

“segera.” jawabku sambil tersenyum dan appa tersenyum lebar membuat dadaku sesak karena telah membohonginya.

“kapan aku bisa keluar dari kamar menyebalkan ini?” tanya appa dengan wajah kesalnya. Kamarnya tidaklah monoton seperti rumah sakit kebanyakkan. Karena ini rumah sakit milik kami jadi ada kamar khusus untuk keluarga. Kamar appa sama luasnya dengan kamarnya di hotel dengan kasur lebih besar dari King size sehingga terkadang aku bisa tidur di samping appa karena menunggunya saat malam, terdapat TV dengan layar lebar dan di desain senyaman mungkin. Jika appa merasa bosan itu karena appa terbiasa berkerja sedangkan selama ini tidak ada pekerjaaan apapun untuknya selain makan dan tidur, jika itu bisa dihitung sebagai pekerjaan.

“mungkin beberapa hari lagi.”jawabku sambil mengingat perkataan dokter beberapa saat lalu saat aku menanyakan kondisi appa.

“syukurlah. Jadi, bulan madu kalian juga secepatnya.”

“appa.”

“kalian sudah lelah mengurusku dan pekerjaanya. Jadi, tidak ada salahnya kalian beristirahat dan bersenang-senang berdua.” kata appa dengan tersenyum penuh arti.
.
.
.
.
To Be Continued.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar