LOST AND GIVE [Part 4]
.
.
.
.
Author : Kim Daisy
Cast : SkyDragon, Taeyang dan Soo Song
Rate : PG 17
Pict : Ahelnyann (thks bgt cover kecenya)
***
.
.
Aku kembali terjatuh di kasur, sedangkan ahjussi kini berada di atasku
dengan jarak yang tidak jauh. Ahjussi itu membuka kemejanya dengan
gerakan sensual . Badannya tidak memiliki otot-otot besar seperti para
atlet atau pria yang sangat menggilai olah raga. Tapi, otot-otot di
tubuhnya di posisi dan bentuk yang pas menurutku. Dia memiliki sixpack,
otot di bagian lengannya dan kulit yang kecoklatan menunjukkan dia lebih
macho karena hasil olahraga outdoor, menurutku. Tubuhnya tidak terlalu
besar tapi, aku yakin akan nyaman berada di pelukannya, menyentuh
otot-otot dan tattoo yang melekat di tubuh sexynya.
Tangannya
di kiri-kanan tubuhku menahan tubuhnya agar tidak menindihku. Dia
mengecup keningku, kedua pipiku, lalu membelai pipiku dengan lembut. Ada
reaksi aneh pada tubuhku, aku menyukai sentuhannya hingga aku
memejamkan mataku. Sesuatu yang lembut terasa dibibirku menggoda untukku
rasakan lebih lagi.
Tunggu. WHAT!? Dia mau memperkosaku?
Memperkosaku? Sial! Kenapa aku menjadi senang? Seharusnya aku takut dan
melawan saat ahjusii tampan ini menindihku seperti ini. Ayo, kau harus
melawan Chaerin! kau harus! Tapi, kenapa aku tidak bisa bergerak?
Padahal dia tidak menahanku sama sekali. Aku terlalu lemah sekarang
karena merasakan godaannya.
“kenapa? Terlalu terpesona hingga tidak bisa melawan atau kau juga menginginkannya?” katanya dengan nada mengejek.
“harapanmu!” kataku kesal dan mendorongnya karena mendapat kekuatan
lebih setelah mendengar ucapannya yang menjengkelkan. Aku pun terlepas
dari gangguannya. Tapi, ahjussi itu tertawa.
“cepat atau lambat
hal itu akan terjadi karena itu hakku. Jadi, bersiaplah istriku.”
katanya dengan senyuman menggoda, mengecup bibirku dengan cepat dan
keluar dari kamar.
“menyebalkan! Gila! Tidak waras! Tua!
Mesum!” teriakku kesal sambil melepar bantal yang ada di dekatku.
Menyebalkan. Aku akan membalasnya!
.
.
.
.
Aku
segera mandi, berniat untuk menjenguk appaku yang masih harus di rawat
di rumah sakit. Sedangkan ahjussi mesum itu hingga aku turun untuk makan
pun dia belum muncul. Entah dimana keberadaannya sekarang. Ini rumit
bagiku. Katanya dia menyukaiku, aku satu-satunya yeoja yang di inginkan
untuk menjadi istrinya. Tapi, apakah itu hanya sebuah ambisi? Tapi,
ambisi apa? Aku tidaklah secantik atau seimut aktris atau tokoh idol di
televisi. Aku juga tidak sexy seperti mereka karena aku selalu
berpakaian formal. Kekayaan? Bahkan dia jauh-jauh lebih kaya dariku.
Lalu, apa yang membuat dia sangat tertarik denganku?
“karena
kita sudah di tetapkan tuhan untuk saling memiliki. Buat saja semua
menjadi simple karena aku juga begitu mudahnya untuk mencintaimu.”
seseorang mengecup kelapaku dan aku sadar bahwa dialah ahjussi mesum.
Namja yang membuat kepalaku hampir pecah menahan emosi. Entah dia bisa
membaca pikiranku atau kalimatnya hanya kebetulan sedikit menjawab
pertanyaan-pertanyaan di pikiranku.
“aku tidak bisa membaca
pikiranmu tapi, karena aku begitu mengenalmu kau sudah seperti buku
terbuka bagiku, istriku.” katanya dengan memberikan senyuman menggoda
sayangnya aku tidak tergoda. Lalu, dia duduk berhadapan denganku untuk
makan bersama.
“hari ini kau ingin menjenguk appa, sweetheart?”
tanyanya mesra. Anehnya aku tidak pernah jijik saat dia memanggilku
sayang, sweetheart atau istriku. Semua terdengar natural berbeda saat
Tae.. ah kenapa aku malah memikirkan hal itu.
“ya, appa tidak
bisa datang di hari itu dan aku tidak menghubunginya jadi dia pasti
khawatir.” jawabku sambil menyendokkan makanan ke mulutku. Ahjussi itu
menatapku lekat.
“kenapa kau tidak makan?” tanyaku dan dia langsung mengambil sendoknya.
“kau tau, tidak perlu menggunakan baju tipis dan terbuka. Kau makan
saja bisa terlihat sexy dimataku dan membuatku ‘lapar’. Sangat. ”
jawabnya dengan santai. Reflek aku meleparkan sendok yang ku pegang dan
sayangnya meleset, sendok itu langsung terjatuh dilantai.
“kata-katamu apa tidak bisa tidak berbau vulgar, ahjussi mesum?”
bentakku. Entah kenapa jiwa dominanku tidak bisa mempengaruhinya. Aku
selalu kalah berdebat dengannya.
“kau memanggilku ahjussi
mesum? Itu artinya yang berbau vulgar adalah identitasku. Lagian aku
tidak berbicara vulgar. Aku hanya berbicara jujur. Sungguh. Dan berhenti
memanggilku ahjussi, aku bukan fedofil.” katanya dengan santai sambil
makan dengan tenang seakan topic yang kami bicarakan tidaklah serius.
“umur kita berbeda hampir 10 tahun, jika saja umurmu tidak menimbulkan efek lupa.” jawabku kesal. Selera makanku hilang.
“hampir jauh berbeda dengan kata sama, sweetheart. Aku akan menemanimu
menemui appa. Dia akan khawatir jika kau pergi sendiri.” ucapnya sambil
makan dengan tenang tapi, membuatku justru ingin segera meninggalkan
tempat ini. Jauh dari dirinya.
.
.
.
.
.
Aku
masuk ke kamar appa sedangkan ahjussi mesum itu ada dibelakangku. Wajah
appa tidak sepucat 3 hari lalu saat aku menemuinya sehari sebelum aku
menikah.
“wah, pengantin baru menjengukku.”.kata appa terdengar
gembira. Aku langsung memeluk appa. Dia membesarku seorang diri tanpa
campur tangan yeoja lain karena eomma telah lama meninggal sejak aku
kecil. Kami tinggal di hotel pertama yang appa bangun agar aku tidak
kesepian dan appa bisa mengontrolku dengan dekat. Tapi, satu-satunya
orang yang aku miliki kini terlihat lemah karena usia.
“bagaimana keadaan appa? Maaf, aku belum bisa mengunjungi dan
menghubungimu, appa.” kataku sambil memeluknya yang terbaring dikasur.
“tidak masalah. Aku mengerti. Jadi, bagaimana dengan malam pertama kalian?” tanya appa dengan nada menggodaku.
“dia terlalu lelah appa. Aku belum bisa menikmati hidangan utama.”
jawab ahjussi mesum itu dengan santai dengan wajah pokerfacenya membuat
appa tertawa lepas tapi membuatku kesal dan ingin sekali rasanya
membanting tubuhnya. Menghancurkan tulang-tulangnya. Sayangnya aku tidak
punya kekuatan super seperti itu.
“appa punya hadiah untuk
kalian. Ini.” kata appa sambil mengambil sesuatu dibawah bantalnya dan
memberikan sebuah amplop padaku.
“tiket bulan madu. Kalian
pergilah bersama dan pulang bertiga.” kata appa dengan memberikan
kedipan mata padaku. Tapi, aku tidak mengerti.
“bertiga? Dengan siapa? Siapa yang ikut bersama kami saat pulang?” tanyaku penasaran.
“tentu saja dengan cucuku.” jawab appa tertawa keras. Jawaban appa
membuat kepalaku sakit karena menahan malu. Appa tidak main-main. Aku
yakin appa pasti sudah menaruh orang-orangnya saat kami bulan madu nanti
untuk mengawasi.
“appa, sebenarnya kami tidak berencana bulan
madu dalam waktu dekat. Appa tahukan bahwa kami punya proyek yang harus
kami selesaikan segera.” tolakku dengan halus. Ku genggam tangan appa
yang tidak terdapat selang infuse.
“tapi, bukankah proyek itu
bisa ditunda sebentar? Hanya seminggu.” tawar appa dengan wajah
sedihnya. Ini pertama kalinya appa memohon dengan memelas. Sebenarnya
aku tidak kuat untuk menolaknya.
“alangkah baiknya kami
melakukan bulan madu saat appa benar-benar sehat. Aku yakin Chaerin akan
khawatir jika kami telalu lama meninggalkan appa pergi.” kata ahjussi
itu dengan lembut. Kali ini dia menyelamatkanku.
“maafkan aku
membuat kalian khawatir. Kalian boleh menunda bulan madunya, tapi jangan
tunda lagi memberikanku cucu.” kata appa dengan nada sedikit mengancam
membuatku bingung harus bilang apa.
“tenang saja, appa.” jawab ahjussi itu meyakinkan appa.
“kau sudah memanggilku dengan ‘appa’ tapi, kau tetap saja berbicara
denganku terlalu formal. Aku orang tuamu sekarang bukan rekan kerjamu.”
tegur appa.
“baiklah, appa.” jawab ahjussi itu dengan tersenyum
lembut. Dia terlihat juga menyayangi appaku. Tapi, sikapnya padaku
terlalu aneh. Dia memaksaku, menggodaku dan kini membelaku. Kalau
dipikir-pikir memang tidak ada alasan kuat untuk memanfaatkanku. Dia
sudah sangat kaya, dia bisa mendapatkan yeoja mana pun yang dia mau
lalu, kenapa dia ingin berkomitmen denganku? Apakah benar dia tulus
mencintaiku?
.
.
.
.
.
Ini sudah seminggu
pernikahan kami. Kami memang tidur berdua, makan bersama dan waktuku
memang banyak dihabiskan bersamanya dalam pekerjaan. Kami masih tinggal
di hotelku karena sejak awal bangian paling atas hotel dijadikan ‘rumah’
. Proyek yang sedang perusahaan kami lakukan berjalan lancar sedangkan
untuk hubungan kami dalam rumah tangga berjalan biasa saja. Ahjussi itu
tidak memaksaku atau menciumku seperti dulu. Dia hanya akan mengecup
keningku sebelum tidur dan sebelum dia pergi kerja dan memelukku. Tidak
ada yang berlebihan. Ahjussi selalu perhatian padaku dan appa. Mungkin
karena dia tidak punya keluarga sejak lama. Mungkin dia terlalu sibuk
hingga tidak punya waktu menggodaku. Tapi, tidak juga karena kami selalu
sarapan, makan siang dan makan malam bersama seperti saat ini.
“ada apa?” tanyanya sambil memotong daging steak yang ku masak untuk makan malam ini.
“tidak. Hanya saja sepertinya kau kelelahan. Ada apa? Apa ada masalah?”
tanyaku. Sebenarnya aku hanya terlalu tenggelam dalam pikiranku, tapi
lebih baik aku mengalihkan pembicaraan dan sedikit berbohong.
“waw, sepertinya my sweetheart mengkhawatirkanku. Aku senang.” jawabnya dengan tersenyum.
“sepertinya aku harus bilang padamu.”
“ada apa?” tanyaku. Sebenarnya aku tidak tertarik, tapi jika aku diam saja juga tidak mungkin.
“beberapa hari lagi Taeyang akan kembali ke Korea dalam beberapa hari.
Aku rasa dia akan datang mengunjungimu.” jawabnya dan membuatku terdiam
karena terkejut.
“sejak kapan kau tahu?”
“kemarin. Dia
kesini karena menemui orang tuanya. Jika beberapa tahun lalu dia tidak
bisa menemuimu karena kesibukanmu mungkin dia adakan menemuimu dengan
alasan untuk menemuiku. Jangan cemas! Aku akan menemanimu, selalu.”
katanya dengan menatapku lekat membuatku benar-benar percaya dengan
janjinya.
.
.
.
.
.
Suasana kantorku sedikit
senggang karena sebelumnya aku sudah jauh hari menyelesaikan
pekerjaanku. Semenjak aku menikah semua berjalan lebih mudah dan
terkontrol tentu saja berkat ahjussi itu menjadi suamiku. Dia selalu
membantu pekerjaanku, mempermudahku berhubungan dengan pebisnis lain.
Bahkan harga saham hotel milikku terus meningkat dan jumlah tamunya juga
meningkat. Mungkin karena dia pebisnis luar yang sukses sehingga
pebisnis lokal mudah mempercayainya dan itu juga menguntungkan untukku.
Seperti biasa aku mengelilingi hotelku dan akhirnya aku beristirahat
sebentar di hutan kecil yang masih di kawasan hotelku mencoba mencari
ketenangan.
“sudah lama tidak bertemu denganmu. Aku tidak
menyangka kita bertemu disini.”suara itu. Suara lembut yang sudah lama
tidak terdengar olehku.
“Oppa.” kataku saat berbalik dan
melihat dirinya. Dirinya yang entah kapan berhasil ku lupakan dan kini
aku takut perasaan itu muncul kembali.
“jika kau menganggapku
sebagai oppamu seharusnya kau memberitahuku tentang pernikahanmu.”
katanya dengan tersenyum manis seperti dulu. Tidak pernah berubah.
“aku menyerahkannya pada pengurus pernikahanku jadi aku tidak yakin undangan datang padamu.” kilahku.
“seharusnya kau mengatakan hubunganmu dengannya sebelumnya. Aku dan Soo Song terkejut karena mengetahuinya dari media.”
“kau sudah memiliki istri oppa, tidak mungkin aku bercerita denganmu
lagi seperti dulu.” jawabku dingin. Kenapa dia harus membawa nama
istrinya?
“ya, kau benar.”
“....”
“dia
atasanku, pemilik perusahaan tempatku berkerja. Kau beruntung menikah
dengannya karena dia tidak pernah berhubungan dengan yeoja manapun.
Kalian sama-sama tidak berpengalaman dengan cinta.” kata Taeyang oppa.
Aku benar-benar merasa canggung saat ini.
“tidak. Justru aku
yang beruntung menikah dengannya.” kata ahjussi itu yang tiba-tiba
muncul dengan memelukku dari belakang dan menaruh kepalanya di bahu
kananku. Aku menggerakkan kepalaku ke kanan membuat bibir kami menyatu.
Ini saatnya pertunjukan.
“kau sudah pulang, suamiku?” tanyaku dengan senyuman pada ahjusi genit ini. Dia malah semakin mengeratkan pelukannya padaku.
“belum, sweetheart. Bahkan ini belum jam makan siang. Tapi, aku terlalu
merindukanmu makanya aku ada disini.” jawabnya sambil menggerakkan
tubuhnya kekanan dan kiri dengan gerakan lembut sehingga tubuhku pun
mengikutinya.
“aku juga baru saja memikirkanmu.” jawabku dan membuat lidahku gatal mengucapkannya.
“aku tahu.” jawabnya tertawa.
“oh maaf, aku melupakanmu. Kau siapa?” tanya Ahjussi itu dengan wajah
penasaran. Jelas dia juga berakting bersamaku. Dia mengenal Taeyang
oppa, bahkan dia mengenalku lewat undangan pertunangannya dulu. Tapi,
kenapa dia seolah-olah tidak mengenalnya?
“maaf, mungkin anda melupakan saya. Saya Taeyang yang mengurus...”
“ah ya, aku ingat.” kata ahjussi itu langsung tanpa membiarkan Taeyang oppa selesai berbicara.
“ada perlu apa dengan istriku? Kalian saling mengenal?” tanya ahjusi
itu dengan tatapan seakan ingin menelan Taeyang oppa hidup-hidup.
“kami hanya teman lama dan kebetulan keluarga kami cukup dekat sehingga aku berniat bertemu dengannya.”
“oh, maafkan aku. Aku sangat protektif. Aku tidak suka istriku menemui
namja lain hanya berdua saja. Kau tahu, aku begitu tergila-gila
dengannya.” kata ahjussi itu dan mengecup bibirku dengan santainya.
“seharusnya aku yang minta maaf, aku mengerti. Aku harap ada waktu lain
kali agar kita bisa berbicara dengan nyaman. Aku harap anda tidak
keberatan tuan Kwon?”
“istriku ini sedikit kelelahan
akhir-akhir ini, maklum saja kami pengantin baru. Jika kami ada waktu
kami akan menghubungimu.” jawab ahjussi itu dengan santai. Seakan yang
menjadi pembicaraan adalah sebuah dongeng anak-anak.
“baiklah. Aku permisi dulu. Sampai jumpa.” kata Taeyang oppa pergi dengan senyuman manisnya.
“tidakkah kau terlalu berlebihan?” tanyaku saat Taeyang oppa benar-benar jauh dari kami.
“tidak, sayang. Memang benar seperti itu.” jawabnya dan dia mengecup leherku membuatku geli.
“geli, ahjussi mesum.” protesku dan melepaskan pelukannya.
“sweetheart, aku lebih senang kau memanggilku ‘suamiku’ seperti tadi.” katanya.
“jadi, kenapa kau kesini?” kataku tidak peduli dengan ucapannya.
“aku kan sudah bilang bahwa aku merindukanmu. Ah, ini sudah masuk jam
makan siang. Ayo, kita makan!” ajaknya dengan semangat dan menggenggam
tanganku. Dia menyelamatkanku. Aku rasa dia tahu Taeyang oppa akan
mencariku. Dia sama saja dengan appa, selalu mengawasiku.
Siang
ini aku mengunjungi appa di rumah sakit, kali ini tidak dengan ahjussi
karena dia ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan. Dan saat ini
appa semakin membaik. Apa sudah bisa keluar dari kamar dibantu dengan
kursi roda karena masih lemah.
“dimana Jiyong?” tanya appa saat dia melihatku masuk kemarnya.
“seharusnya appa menanyakan keadaanku dulu. Aku kan anakmu, appa.”
candaku. ya, appa begitu menyayangi ahjussi itu. Mungkin karena mereka
memiliki banyak kesamaan dan ahjussi tulus memperhatikan appaku.
“maaf, aku lupa hal itu.” kata appa membalas candaanku sambil tertawa.
“jadi bagaimana, apakah cucuku sudah ada disini?” tanya appa sambil menyentuh perutku.
“segera.” jawabku sambil tersenyum dan appa tersenyum lebar membuat dadaku sesak karena telah membohonginya.
“kapan aku bisa keluar dari kamar menyebalkan ini?” tanya appa dengan
wajah kesalnya. Kamarnya tidaklah monoton seperti rumah sakit
kebanyakkan. Karena ini rumah sakit milik kami jadi ada kamar khusus
untuk keluarga. Kamar appa sama luasnya dengan kamarnya di hotel dengan
kasur lebih besar dari King size sehingga terkadang aku bisa tidur di
samping appa karena menunggunya saat malam, terdapat TV dengan layar
lebar dan di desain senyaman mungkin. Jika appa merasa bosan itu karena
appa terbiasa berkerja sedangkan selama ini tidak ada pekerjaaan apapun
untuknya selain makan dan tidur, jika itu bisa dihitung sebagai
pekerjaan.
“mungkin beberapa hari lagi.”jawabku sambil mengingat perkataan dokter beberapa saat lalu saat aku menanyakan kondisi appa.
“syukurlah. Jadi, bulan madu kalian juga secepatnya.”
“appa.”
“kalian sudah lelah mengurusku dan pekerjaanya. Jadi, tidak ada
salahnya kalian beristirahat dan bersenang-senang berdua.” kata appa
dengan tersenyum penuh arti.
.
.
.
.
To Be Continued.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar