jangan lupa

JANGAN LUPA KOMENTAR YA..

Minggu, 28 Februari 2016

LOST AND GIVE [BONUS PART]


LOST AND GIVE [BONUS PART]
.
.
.
.
.
Author: Kim Daisy

Cast: SkyDragon, Taeyang dan Soo Song

Rate : PG 17

Pict: ahelnyann (thks bgt cover kecenya)

Repost : Glen
***
“aku tahu kau lelah padaku. Kau jenuh padaku.”kataku saat suamiku, Jiyong baru keluar dari kamar mandi.

“aku sadar aku tidak memperhatikanmu karena Geum lebih membutuhkanku dan di saat kau lelah mengurus dua perusahaan kita aku malah tidak melayanimu dengan baik. Aku bukan istri yang baik.”kataku sambil menahan tangis.

“apa maksud Eomma Geum?”kata suamiku. Ya, dia tidak memanggilku lagi dengan Sweetheart seperti dulu. Setelah aku melahirkan Geum, putra kami yang usianya baru delapan bulan suamiku memanggilku dengan omma Geum atau Chaerin. Hubungan suami istri kami pun menurun karena kelelahan karena aku sibuk mengurus Geum dan suamiku mengurusi dua perusahaan milik kami. Aku tahu sibuknya suamiku tidak membuatnya tidak memperhatikan Geum. Dia perhatian pada Geum,sesekali suamikku menghabiskan waktu makan siangnya dengan bermain dengan Geum, dia selalu mengunjungi Geum di saat dia pulang kerja dan tidak jarang mengurusi Geum disaat aku tidak terbangun malam karena kelelahan. Hanya saja kami jarang memiliki waktu berdua, bahkan kami sulit untuk mengobrol.

“kau bosan padaku, Kwon Jiyong. Dan kau sudah menemukan penggantiku. Aku tahu aku bukan istri yang baik karena aku lalai memperhatikanmu setelah Geum lahir, tapi ketahuilah aku tetap mencintaimu.”

“tidak. Tidak ada yang mengantikanmu, tidak akan ada.”jawabnya mendekat. Aku mundur menolak disentuhnya, tapi suamiku terlalu gesit dan akhirnya berhasil mengurungku dalam peluknya.

“kau menerima teleponmmu dibelakangku dan kau tidak mau memberitahuku siapa yang meneleponmu malam-malam begitu, tengah malam ahjusshi!”kataku sedikit membentaknya. Emosiku buncah.

“Kau merahasiakannya dariku itu sama saja kau berbohong padaku. Kau sudah lama tidak memanggilku dengan panggilan ‘sweetheart’ dan aku menerima pesan darimu dengan panggilan Sweetheart dan pesan mesra siang ini. Sebaiknya kau berhati-hati mengirimkan pesan untuk selingkuhanmu, ahjusshi.”kataku geram dan amarah mengingat pesan yang siang tadi dikirimkannya.

Air mataku menetes, tapi ini bukan berarti aku lemah dan tidak bisa melawannya. Aku sudah bergantung sepenuhnya padanya selama ini, tapi bukan berarti aku kehilangan sifat tangguh dan mandiri yang aku miliki sebelum aku mengenalnya.

“oh, aku mohon jangan menangis. Ini melukaiku.”balasnya dengan menempelkan kedua telapak tanganya di pipiku membuatku menatapnya dan kedua ibu jarinya menghapus air mataku dengan lembut. Saat aku membuka mataku aku dibuatnya terkaget. Kwon Jiyong menangis.

“aku tidak berselingkuh. Sungguh. Telepon itu. Malam itu sekretaris Choi menelponku bahwa ada kecelakaan kecil di pembangunan proyek baru kita. Dia di Amerika sayang, dan saat itu disana masih siang kau tahu itu. Aku tidak mungkin mengatakan padamu, aku takut itu mengganggu tidurmu. Aku memikirkanmu. Tapi, aku sungguh menyesal karena itu membuatmu terluka.”jelasnya sambil menatapku dan dari tatapannya aku mengetahui dia tidak berbohong. Pernikahan ini membuat kami memiliki ikatan yang membuat kami lebih mengetahui satu sama lain seakan kami berada dalam satu tubuh yang sama.

“dan masalah pesan itu?”tanyaku dengan sedikit terisak karena tangisku mulai reda.

“itu memang untukmu, sweetheart. Aku merasa kita sedikit merenggang akhir-akhir ini, Sweetheart. Bukannya aku tidak ingin lagi memanggilmu dengan ‘sweetheart’, tapi sekarang kau bukan kekasihku lagi, kau menaiki dua tingkat lebih tinggi lagi karena menjadi eomma Geum anak kita, istriku. Aku sengaja mengirimkan pesan nakal itu karena aku mengingat dulu disaat kita baru menikah, dan aku merindukan masa itu.”jelasnya tersenyum salah tingkah.

“dan apa maksud kau mengirimkan pesan mesum itu padaku, ahjsushi?”

“aku merindukanku, Lee Chaerin istriku. Aku rindu disaat kita hanya berdua saja. Apakah kau memaafkan suami yang bodoh ini?”jawabnya sambil mengecup kedua mataku. Air mataku sudah menghilang, suamiku menatapku dengan tatapan lembut.

“ya, aku memaafkanmu. Aku mohon jangan seperti ini, kita sudah berjanji untuk saling terbuka. Tanpa ada rahasia lagi. Suka dukamu kau harus mengatakannya padaku, suamiku dan begitu juga sebaliknya. Aku tidak ingin kita saling salah paham.”kataku mengingatkannya.

“ayo, kita saling terbuka dari sekarang.”kata suamiku menggodaku sambil membuka kancing bajuku.

“oh, ahjusshi bukan terbuka yang ini yangku maksudkan.”kataku, tapi aku tidak menghentikan tangan-tangannya yang mulai nakal.

“kau menolakku, sweetheart?”katanya dengan nada sedih dan mencium leherku.

“tentu saja tidak.”

“jadi, kita berdamai?”

“ya.”

“ini akan jadi tanda perdamaian kita.”katanya sambil merayuku dengan ciuman-ciuam ringannya di wajahku.

“yah..”kataku pasrah. Aku sudah masuk di lubang godaannya yang sejak dulu sulit ku tolak.

“besok, aku sudah menyiapkan liburan kita lagi aku sudah menyiapkanya seminggu lalu. Hanya bertiga aku, uri Geum dan kau sweetheart di pulau pribadiku dulu. Kau setuju?”ucapnya terputus-putus karena sambil mengecup wajahku tiada henti. Tapi, tidak mencium bibirku.

“ya..”jawabku.

“Kalau begitu kita mulai dari sekarang.”katanya dan aku langsung berada di gendongan suamiku. Dia menjatuhkanku di kasur dengan lembut, mencium bibirku dan malam ini seperti malam-malam panas kami sebelum aku melahirkan Geum. Bukan Geum penyebab kami renggang. Bukan, tapi ini karena kami belum bisa menyusaikan perubahan yang terjadi dan besok adalah permulaan kami belajar untuk hidup bertiga dan memperbaiki hubungan kami yang sempat merenggang.

Aku mencintai keluarga kecilku dan aku tidak ingin kehilangan mereka. Ini tidak terlambat untuk belajar menjadi istri dan ibu yang baik. Dan aku akan berusaha lebih keras untuk melakukan yang terbaik.
.
.
.
.
.
FIX EENNDDD !!!!

LOST AND GIVE [Part 8 END]


LOST AND GIVE [Part 8]
.
.
.
.
.
Author: Kim Daisy

Cast: SkyDragon, Taeyang dan Soo Song

Rate : PG 17

Pict: ahelnyann (thks bgt cover kecenya)

Repost : Glen
***

Saat aku terbangun wajah ahjusshi yang yang aku lihat pertama kali. Aku lihat matanya memiliki kantung mata dan wajahnya di tumbuhi bulu-bulu halus karena sepertinya ahjusshi telah lama tidak mencukur. Ah... aku tidak menyadari hal ini hingga semalam. Ini kedua kalinya setelah hari pernikahanku aku melihat tubuhnya yang di hiasi tatto di lengan tangannya yang masing-masing tertulis ‘vita dolce’, ‘moderato’, hati lucu yang memiliki tangan dan pistol, bahunya terdapat bola berwarna orange yang terdapat 8 bintang, dan di bagian pundak belakangnya tertulis ‘too fast to live too young to die’ yang biasanya di tutupi kemeja formal miliknya.
Banyak yang harus ku ketahui darinya. Jariku begitu gatal untuk menyentuh tato di bahunya. Tidak seperti biasanya tato terlihat menakutkan atau indah dimataku, tapi tato yang dimilikinya terlihat lucu dengan penuh makna dan sexy.

“aku akan mencukurnya jika kau merasa risih, sweetheart.”gumamnya dengan mata tertutup dan ini terlihat lucu bagiku. Tangan ahjusshi yang melingkar di pinggangku mendorongku agar tubuhku lebih mendekat lagi padanya hingga kepalaku kini berada di dadanya.
Aku dapat menghirup aroma tubuhnya, aroma yang menenangkanku. Aroma tubuhnya benar-benar aroma tubuhnya, bukan aroma yang berasal dari parfum berkelas. Walau begitu aroma tubuhnya beraroma manis, maskulin dan wangi menurutku. Mataku bisa melihat bola 8 bintang icon kartun semasaku kecil itu. Apakah tato ini sudah lama dia memilikinya?

“Ini begitu nyaman. Aku sangat-sangat-sangat merindukanmu, sweetheart.”gumamnya lagi dan mencium keningku sambil mengelus punggungku yang polos.

“kau tidak berkerja, ahjusshi?”

“kau masih memanggilku dengan ahjusshi setelah tadi malam, sweetheart?” tanyanya dengan sedikit protes.

“ada yang salah dengan panggilan itu?”tanyaku penasaran dengan pendapatnya.

“itu membuat orang yang mendengarkan berfikir aku seorang pedofil.”

“tapi, itu terdengar sangat manis bagiku.”jawabku jujur. Entah hal apa yang membuatku merasa sangat aegyo dengan memanggilnya ‘ahjusshi’.

“tapi, aku tidak ingin anak kita memanggilku kakek nantinya.”jawabnya sambil menatap mataku dengan lekat membuat rasa malu menyelimutiku. Oh, kami telah melakukannya semalam.

“kau malu? Kau mengingat yang terjadi tadi malam? Oh, Lee Chaerin kau begitu manis. Aku tidak menyangka kau bisa semanis ini, sweetheart.”katanya dan lebih mendekapku kepelukannya dengan gemas.

“terimakasih untuk yang tadi malam, sweetheart. Apakah sakit?”tanyanya mendadak bernada khawatir dan melepasakan pelukannya agar bisa menatap wajahku. Wajahnya begitu serius dan terlihat kecemasan disana.

“ini tidak seperti novel-novel yangku baca, rasa sakitnya hingga akhir. Aku..”

“no. No. No. Jangan katakan kau tidak ingin melakukannya lagi, sweetheart! Itu sama saja memenjarakanku seumur hidup.”mohonnya.

“tidak, aku tidak ingin bilang itu ahjusshi. Aku hanya ingin bilang bahwa aku juga merasakan bahagia.”ucapku sedikit berbisik di akhir kalimatku. Aku sungguh malu untuk mengatakannya.

“oh, Lee Chaerin kau benar-benar bisa membunuhku dalam jurang kebahagiaan.”ucapnya dengan memberikan kecupan ringan diseluruh wajahku membuatku tersenyum menahan geli.

“aku beruntung menemukanmu dan menikah denganmu. Terimakasih, sweetheart.”ucapnya tulus dengan menatapku lekat, menahanku untuk terus menatapnya. Dia kembali memelukku seakan tidak ingin bangun dan seharian dalam posisi ini.

“kau tidak berkerja, suamiku?”kataku dan menggigit bibir bawahku menahan malu.

“ahh... aku benar-benar mati dan berada di surga. Hari ini aku benar-benar ingin mengurungmu dikamar dalam waktu yang tidak ditentukan.”katanya dengan semangat dan wajahnya terpancar kebahagaian.

“masih banyak yang menunggu kita tuan Kwon Jiyong. Kau tidak boleh egois.”kataku mengingatkan.

“kita benar-benar butuh bulan madu, sweetheart.”

“tapi,..”

“biarkan seharian kita begini.”pintanya sambil mengecup keningku dengan lembut. Kami terdiam cukup lama hingga akhirnya dia bersuara dan menyadarkanku.

“apakah kau menyukai tatoku, sweetheart?”tanyanya mengagetkanku. Aku melihat tanganku yang ternyata sudah menjelajahi tatonya yang mungkin sejak tadi ku lakukan.

“apa ini tato benaran yang tidak bisa di hapus?”tanyaku penasaran. Dia terlihat seperti pria yang kaku yang hanya tau tentang bisnis dan saham aku tidak menyangka dia memiliki tato sebanyak ini. Aku penasaran jumlah tato yang ada ditubuhnya sekarang.

“kenapa kau bertanya seperti itu? kau juga memilikinya, sweetheart.”katanya sambil menyentuh telingaku yang terdapat tato dan bagian tubuhku yang lain. Dia menyentuhku dengan lembut dan entah kenapa sentuhannya menimbulkan rasa hangat yang berbeda membuatku tanpa sadar menutup mataku menikmati sentuhannya.

“sejak kapan kau membuatnya?” tanyaku penasaran.

“saat aku remaja. Kau tahu kan bahwa hidupku tidak mudah. Kenapa? Kau tidak menyukai tattoku?”balasnya dan menatapku lekat menanti kepastian dariku.

“tidak. Bukan itu, aku hanya ingin tahu saja. Berapa tato yang kau punya?”tanyaku lagi.

“kau mau tahu?”

“ya”jawabku yang terdengar begitu bersemangat seperti anak kecil yang di ajak makan es cream bahkan ahjusshi mesum dihadapanku ini tersenyum padaku.

“tidak akan menarik jika aku memberitahumu, sebaiknya kau mencari tahunya sendiri.”jawabnya sambil tersenyum, yang terlihat senyuman mesum bagiku dan membuat wajahku panas karena malu. Di pikiranku terlintas begitu saja penyatuan kami.

“kau memerah, sweetheart. Dan itu terlihat luar biasa manis.”katanya sambil mengakat tubuhku dengan mudahnya dan membuatku menduduki tubuhnya. Aku menutup wajahku karena malu dengan kedua tanganku, tapi ahjusshi mesum ini malah tertawa.

“oh, baiklah. Aku mengerti.”katanya dengan suara yang terdengar dia ucapkan sambil tersenyum. Dan seketika aku kini tiduran di kasur dan dia di atasku. Kedua tangannya membuka dan menahan tanganku memaksaku menatapnya. Mataku hanya fokus menatap wajahnya. Wajah yang tidak ku lihat beberapa hari hingga membuatku sadar berartinya dia bagiku.

“kau tau sweetheart, kau yang pertama memasuki pintu hatiku, kau gadis pertama yang membuatku begitu mendambaku, kau ratu lebahku.”ucapnya lembut seakan berbisik di depan wajahku dan akhirnya mengecup seluruh wajahku membuatku tertawa karena merasa geli dengan bulu-bulu halus yang tumbuh di wajahnya. Suamiku sangat mencintaiku, ya suamiku.

Terimakasih telah mempertemukan kami dan menyatukan kami, appa. Karena aku pun mencintainya. Aku memang merasakan kehilangan belum bertemu denganya dan aku diberikan dirinya yang jauh lebih baik untuk kebahagiaanku. Dan aku tidak hanya diberikan dirinya saja, tapi juga hatinya yang sepenuhnya mencintaiku. Dan aku juga akan memberikan hatiku sepenuhnya sebagai balasan. Bukan karena paksaan, tapi cintaku adalah sebuah reaksi dari cinta yang diberikan olehnya.

Seperti permintaannya seharian kami dikamar berdua. Ahjussi membicarakan apa saja yang terjadi saat dia pergi dan begitu juga sebaliknya, kami menonton televisi bedua dengan posisi aku yang selalu dipelukannya bersandar di dada bidangnya dan kegiatan panas itu terjadi lagi. Aku baru mengetahui bahwa seharian dikamar bersamanya sama sekali tidak membosankan.
.
.
.
.
Jiyong Pov

Kepulanganku sungguh aku tidak menduga mendapatkan hadiah yang sangat berharga, gadis yang sangat aku cintai memberikan dirinya untukku. Gadis manisku kini telah menjadi wanita seutuhnya, aku sungguh berharap beberapa bulan lagi akan tumbuh duplikatku di perutnya. Seharian kami berkurung di kamar, kami menikmati waktu kami bersama karena telah lama terpisah dan ini menjadi semakin indah karena kini kami tahu bahwa kami saling mencintai. Awalnya aku ragu Chaerin bisa mencintaiku karena yang ku tahu pria itu telah dia cintai sejak lama, tapi Chaerinku meyakinkanku bahwa aku namja pertamanya dan telah membuktikannya. Benar-benar hadiah yang manis dari usaha yangku lakukan.

Aku juga telah memindahkan kembali pria itu agar semakin sulit bertemu dengan Chaerinku. Aku kira memindahkannya ke Indonesia bisa membuatnya berhenti mengganggu Chaerinku ternyata dia malah berniat berpisah dengan istrinya dan kembali dengan Chaerinku tentu saja aku tidak akan diam saja. Apa dia harusku pindahkan ke Afrika atau Palestine sekalian?

“suamiku, jangan berfikir untuk memindahkan lagi Taeyang oppa. Aku baru dapat pesan dari Soo Song unnie bahwa mereka sudah berdamai dan berniat melakukan program kehamilan.”kata Chaerinku memberikanku pringatan.

“aku hanya ingin berjaga-jaga, sweetheart.”balasku walau aku bingung tahu dari mana Chaerinku dengan niatku yang akan memindahkan pria itu lagi.

“kau tidak percaya denganku AHJUSSHI?”katanya dengan memberikan penekanan. Menyebalkan. Aku kalah. Dia kelemahanku dan satu-satunya yang bisa membunuhku. Bukan karena dia memanggilku ahjusshi hingga aku tidak berkutik. Ini karena aku tidak ingin dia marah, sedih, kecewa bahkan menangis karenaku.

“aku menyerah.”kataku sambil mengangkat kedua tanganku dan Chaerin memberikanku senyuman menyilaukan seperti matahari dan memberikanku kecupan di pipiku.

“terimakasih telah percaya denganku, suamiku.”

“oh.. kau memanggilku ‘suamiku’ membuatku semakin termotifasi untuk memiliki anak.”

“cih, dasar ahjusshi mesum.”balas Chaerin meninggalkanku untuk ke kamar mandi dengan wajah sebalnya membuatku ingin tertawa karena wajahnya yang lucu.
.
.
.
.
.
Siang ini aku menunggu ayah mertuaku karena sengaja makan siang bersama. Namja berumur itu menghampiriku dengan penuh wibawa dan gagah walau tengah melawan penyakit. Jangan fikir pernikahanku dan Chaerin hanya akal-akalan untuk memaksa Chaerin.

Aku sudah membicarakan tentang perasaanku dan niatku untuk menikahi Chaerin saat aku bertemu dengan ayah mertuaku. Tapi, hal buruk itu terjadi dan membuat pernikahan ini harus dilakukan lebih cepat dari rencana kami.

“bagaimana kabar, ayah?”tanyaku.

“aku membaik dan akan semakin membaik jika aku mendapatkan cucu.”jawabnya dengan senyum lebar. Ya, benar ayah terlihat lebih segar dibandingkan sebelum aku berangkat.

“tapi, sepertinya aku hanya perlu menunggu beberapa bulan lagi. Aku tidak mengira kepergianmu membuat anakku bagaikan hewan karnivora.”kata ayah dengan senyum tenangnya. Walau aku sedikit bingung, tapi aku enggan bertanya.

“kedatanganmu sungguh membuatku senang. Apa kau sengaja memperlihatkannya padaku?”kata ayah mertuaku dengan tertawa kecil dan membuatku bingung dengan maksud ayah mertuaku.

“maksud ayah?”

“dilehermu, ada bekas kemerahan.”jawab ayah mertuaku sambil berdehem. Dengan reflek aku langsung menekan icon kamera pada ponsel pintarku dan di layar ponselku aku bisa melihat betapa kacaunya diriku. Ada tiga buah kemerahan di leherku. Kenapa tadi pagi aku tidak menyadarinya?

“ternyata kalian sedang berusaha untukku. Kalian harus memikirkan bulan madu kalian. Kalian butuh waktu hanya berdua saja untuk saling mengenal.”

“ya, ayah. Aku sedang merencanakannya.”jawabku.

“tidak-tidak! Anakku itu sangat keras. Aku rasa memintanya berliburan dengan cara baik-baik tidak akan mempan. Kita harus menculiknya. Kau siapkan saja tempatnya dan waktu yang tepat, menantuku.”kata ayah mertuaku dengan tertawa membuatku ikut tertawa pelan karena tertular tawanya.

“itu bukan ide yang buruk, ayah. Aku akan mempersiapkannya.”jawabku penuh keyakian.
.
.
.
.
Chaerin Pov

2 minggu ini suamiku, ahjusshi mesum itu tetap sibuk dengan pekerjaannya walau dia selalu menyempatkan waktu untuk makan bersamaku dan menghabiskan waktu liburnya untuk berdua denganku. Dia terlihat lebih proktektif dan memanjakanku. Walau aku terbiasa sendiri, tapi aku tidak menolak diperlakukan seperti itu olehnya. Ahjusshi itu membuatku merasakan dipuja olehnya.

“waktunya pulang, sweetheart.”seseorang sedikit berteriak sambil membuka pintu ruanganku. Dia Kwon Ji young, suamiku, ahjusshi mesum dan dia milikku.

“kamarku berada di lantai yang sama, suamiku. Jadi, jangan terburu-buru!”ucapku. Dia mengatakan suka di panggil dengan oppa karena dia besar di Amerika sehingga adik perempuannya pun tidak memanggilnya dengan oppa. Tapi, kami telah menikah rasanya aneh jika memanggil suami dengan sebutan oppa walau aku juga kesulitan saat memanggilnya dengan ‘suamiku’ rasanya janggal.

“tidak untuk kali ini.”katanya dengan sigap menggotongku ala bridal dari ‘singgasana’ku.

“yak!”teriakku kaget, tapi hanya tersenyum polos seakan tidak peduli. Ini memalukan. Aku melihat beberapa karyawanku tersenyum canggung dan bahkan ada yang menundukkan wajahnya membuatku semakin malu.

“ini memalukan.”kataku sambil mengarahkan wajahku kedadanya agar aku tidak melihat reaksi orang-orang saat berpapasan dengan kami.

“tidak. Ini menyenangkan. Ini meningkatkan rasa percaya diriku karena membuat seorang Lee Chaerin tidak dapat berkutik di gendonganku.”jawabnya dengan menjengkelkan. Aku hanya dapat mengalungkan kedua lenganku agar aku tidak terjatuh dari gendongannya. Tapi sebenarnya ini terasa sangat nyaman. Aku tidak menyangka dia mampu mengendongku begitu mudahnya. Aku tahu bahwa di tubuhnya yang tidak terlalu berisi itu memiliki otot, tapi aku tidak menyangka ototnya cukup kuat menggendongku yang berisi.

Akhir-akhir ini aku suka makan dan hanya ingin bermalas-malasan dengan suamiku dan itu sangat sukses meningkatkan berat badanku.
Aku mendengar seseorang membukakan pintu untuk kami karena kedua tangan suamiku masih setia mengendong tubuhku.

“kita sampai, sweetheart.”kata suamiku dengan lembut dan mendudukanku di sebuah kursi. Di depanku sudah tersaji hidangan makan malam. Terdapat hidangan masakan Prancis untuk makan malam, sebotol wine tua dan hiasan lilin serta bunga yang romantic.

“kau yang menyiapkannya?”tanyaku hampir tidak percaya.

“ya, dan aku juga yang memasaknya. Cicipilah.”katanya sambil duduk di kursi yang berhadapan denganku. Makan malam kali ini sungguh romantis, masakan suamiku ternyata sangat enak dan aku sungguh tidak menyangka bahwa dia pernah belajar masak karena pernah partime berkerja di sebuah restoran. Sebenarnya apa kekurangan yang dimilikinya? Bukankah tidak ada manusia yang sempurna, lalu dimana kekurangan yang dimilikinya.

“kekuranganku adalah begitu memujamu, sweetheart.”ucapnya menatap mataku lekat dan seakan-akan dia bisa membaca pikiranku.
.
.
.
.
.
Mataku terpejam walau begitu aku tahu bahwa aku dalam gendongan suamiku. Mungkin aku sedang bermimpi saat ini karena aku mendengar suara ombak yang halus dan angin yang dengan lembutnya menyentuh kulitku. Selain itu aku mendengar dentingan piano yang halus. Mungkin aku bermimpi. Tapi ternyata suara debur ombak itu mengusikku untuk mencari tahu. Dengan malas aku mencoba membuka mataku dan membuatku begitu jelas mendengar dentingan piano yang merdu.

Aku ternyata ada di bibir pantai. Kasur yang aku tiduri ternyata ada di bibir pantai. Kasur ini terbuat dari kayu dengan hiasan tiang yang terdapat kain tipis seperti kelambu untuk menutupi sisi-sisinya.
.
.
‘kau muncul dihidupku dan mengubah segalanya untukku.
Kau membuatku berani untuk melanggar prinsipku,
Berani untuk menerobos rasa takutku,
Dan mengejar kebahagiaanku.
Kau memberikanku kebahagiaan yang dulu bahkan tidak berani ku impikan.

Kau membuatku ingin selalu dapat melindungimu,
Menjagamu dan ku berani berjanji bahwa kesedihanmu adalah hal terakhir yang ku inginkan.
Mungkin aku bagaikan orang tolol.
Aku yang mencintaimu yang tidak mencintaiku dan berusaha membuatmu mencintaiku.’
.
.
Aku melihat ke sumber suara yang bernyanyi dengan iringan piano merdu. Orang itu bernyanyi di pinggir pantai yang tidak jauh dariku. Suara itu, aku yakin suamiku yang sedang bernyanyi dibawah tenda cantik yang hanya di hiasi oleh tumbuhan yang menjalar dan lampu-lampu kecil yang meliliti tiang besi tersebut terlihat cantik. Dengan perlahan aku turun dari kasurku, merasakan ombak kecil yang menyapu kakiku aku bisa merasakan halusnya pasir pantai ini dan dengan perlahan aku berjalan menuju suamiku yang tetap bernyanyi dengan indahnya.
.
.
‘kau merubah hidupku menjadi lebih indah.
Dulu tujuan hidupku adalah membahagiakan diriku.
kini tujuan itu berubah menjadi membahagiakan dirimu
Selamanya.’
.
.
Ya, suamiku Kwon Jiyong yang bernyanyi sambil bermain piano putihnya. Jarinya kini tidak berada di piano itu lagi melainkan menuntunku untuk semakin mendekat padanya yang akhirnya mengusap pipiku dengan lembut yang entah kenapa menjadi basah.

“jangan menangis, sweetheart.”ucapnya lembut lalu mendekapku dalam pelukan hangatnya.

“ini terlalu manis.”kataku jujur karena aku tidak mampu berkata apa-apa.

“ini semuaku lakukan untukmu. Sekarang apakah kau sudah tenang?”tanyanya lembut dan aku mengangguk, aku tidak sanggup berbicara. Aku kehilangan kata-kata.

“bagus. Aku ingin bicara padamu, sweetheart. Aku tahu awal pertemuan kita kau sudah tidak menerima kehadiranku dan pernikahan kita terpaksa kau lakukan untuk uri appa. Aku bahkan langsung menikahimu tanpa melamarmu terlebih dahulu. Tapi, kini kau sudah mencintaiku seperti aku yang mencintaimu.”kata suamiku dengan serius. Dengan perlahan dia melepaskanku dari pelukannya. Lalu dengan posisi berlutut dia mengambil sesuatu dari jas putih yang dikenakannya.

“maukah kau hidup denganku hingga ku mati dan menjadi ibu untuk anak-anak kita?” kata suamiku dengan wajah seriusnya, wajah yang dulu sering dia tunjukkan sebelum kami sepakat untuk menikah. Wajah yang membuatku terpesona saat pertama kali melihatnya.

“aku bukan wanita yang sempurna seperti yang mungkin kau harapkan. Tapi kau memilihku dan kini aku sudah mencintaimu, sangat. Aku akan berusaha menjadi yang terbaik untuk berada di sisimu dan aku juga akan untuk menjadi eomma yang baik untuk anak-anak kita. Karena aku yakin, ada kau yang menyempurnakanku.”jawabku dengan tangisan kebahagiaan. Aku sungguh bahagia. Jiyong mengecup bibirku dengan lembut.

“lihat pantai, sweetheart.”bisiknya membuatku melihat ke arah pantai sehingga aku bisa melihat matahari yang terbit. Ini sungguh momen yang indah. Setidaknya ini bisa menggantikan momen pernikahanku yang kacau karena aku pingsan.

“kau menyukainya?”bisiknya yang terdengar sexy bagiku.

“ya, sangat. Terimakasih, suamiku.”jawabku sambil menginjak kakinya agar bibirku bisa menyentuh bibirnya.

Ini sudah seminggu aku disini dan kami lalui dengan bermalas-malasan di rumah milik suamiku di pulau ini karena tidak ada yang bisa kami kerjakan. Disini lampu memang bisa menyala tapi dengan daya yang lemah dan signal atau jaringan yang parah. Kata Jiyong suamiku, ini adalah tempat persembunyiannya di saat jenuh.

“aku bahkan tidak memberikan pulau ini nama.”jawab suamiku saat aku menanyakan nama pulau ini.

“sepertinya ini pulau tropis.”kataku.

“kau benar, sweetheart.”

“pulau ini di Negara mana?”

“pulau ini pulauku, tanpa nama dan tanpa ikatan Negara.”jawabnya dan membuatku bingung.

“bisa seperti itu?”

“ya, tentu saja. Aku sudah membeli pulau ini dan membebaskan pulau ini dari Negara yang menjual pulau ini. Pulau ini memang tidak terlalu besar, tapi sangat luas jika kau ingin pulau ini di isi dengan keluarga kita.”jawabnya santai. Oh baiklah, dia pengusaha sukses di dunia. Selain pesona dan kemampuanya dia ahli mengelola hartanya yang berlimpah.

“disini tidak ada listrik yang cukup dan aku tidak bisa menggunakan ponselku.”kataku sedikit menggerutu.

“karena itu aku memilih tempat ini. Aku ingin kau fokus dengan tujuan kita kesini. Memberikan uri appa hadiahnya.”katanya dengan sedikit penekanan.

“ahjusshi mesum.”kataku setelah sadar dengan penekanan pada kalimatnya dan memilih berdiri dari pangkuannya dan masuk ke kamar.

“hei, aku tidak mesum. Aku normal, sweetheart.”teriaknya dan itu membuatku tersenyum.
.
.
.
---
Aku menyiapkan makan malam untuk kami. Tiba-tiba terlintas dibenakku saat aku pertama kali datang dipulau ini. Pagi itu sungguh romantis. Kata suamiku dia meminta orangnya membantunya mengangkat kasur dan piano itu ke pantai dan orang-orang suruhannya itu sudah dipulangkan setelah acara lamaran itu berakhir. Mengingat aku hanya berdua dengan suamiku bukan membuatku takut, tapi membuatku tersenyum karena pikiran nakalku.

“sudah selesai, sweetheart?”tanyanya yang tiba-tiba ada dibelakangku sambil memelukku.

“sudah, aku akan menyiapkannya.”jawabku.

“kita akan pulang besok. Apa kau setuju?”

“bukankah seharusnya 2 hari lagi?”tanyaku bingung.

“sekretarisku mengabarkanku bahwa ada kendala dengan proyek. Tapi, aku tidak perlu pergi keluar kota untuk menyelesaikan proyek itu.”

“bagaimana bisa? Ja..”

“aku punya jaringan seluler pribadi sehingga aku tidak putus kontak dengan sekretarisku jika aku berada disini, sweetheart.”

“dan kau baru mengatakan hal itu sekarang, ahjusshi?”tanyaku dengan protes dan itu membuatnya tertawa pelan.

“kau yang tidak mengerti sepenuhnya bisnis yang dimiliki suamimu, sweetheart.”

“jadi, kau menyalahkanku?”

“tidak. Hanya lain kali kau perhatianlah padaku.”ucapnya sambil mematikan kompor gas yang sebelumnya ku gunakan untuk memasak dan membalikkan tubuhku agar dia bisa menatapku hingga bibir kami kembali menyatu. Luntur sudah amarahku. Aku terjatuh dalam pesona Kwon Jiyong dan aku tidak bisa menang melawan pesonanya. Aku sudah jatuh cinta padanya, jatuh yang terlalu dalam.
.
.
.
.
.
------------SKIP----------------------
.
.
.
.
.
Ini sudah 9 bulan pernikahan kami dan kini aku sudah mengandung 23 bulan. Tidak, sebenarnya ini minggu ke 23 janin ini ada di perutku, tapi aku rasa bayi ini sangat lama di perutku. Aku tidak sabar untuk bisa memeluknya digendonganku.

“tidak, sweetheart. Aku tidak mungkin menggunakannya.”tolak Jiyong, suamiku dengan halus. Tapi, aku punya cara halus yang jitu membuatnya mengalah.

“tapi, ini keinginan eagy kita.”kataku sambil memperlihatkan wajah memelasku dan mata puppyku. Suamiku menghela nafas lemah dan akhirnya mengambil sebuah jaket yang di tanganku.

“sudah siap?”tanyaku saat aku mendengar pintu kamarku dibuka. Suamiku keluar dari kamar kami dengan wajah lesu. Tapi, di tubuh sexy nya itu telah melekat jaket Korilakkuma pasangan Rilakkuma berwarna beige dan aku mengenakan jaket Rilakkuma, ya jaket pasangan.

“so cute.”pujiku dan aku memasangkan penutup kepala suamiku yang terdapat telinga Korilakkuma dan aku juga memasangkan penutup kepala milikku. Aku mendengar suamiku itu menarik nafasnya.

“kau tidak mual seperti wanita hamil lainnya, tapi aku tidak menyangka akan permintaan anehmu ini, sweetheart.”ucapnya seperti gumaman, tapi aku berpura-pura tidak mendengar dan masih tersenyum lebar.

“ayo, kita olah raga di taman suamiku!”ajakku sambil menarik tangan suamiku yang mengikutiku dengan malas, tapi aku tahu dia berusaha untuk membuatku senang walau ini sangat melanggar egonya.
.
.
.
Sesampai di taman orang yang berolahraga menatap kami dengan heran karena berolah raga dengan jaket pasangan yang lucu. Memang banyak yang berolahraga dengan jaket, tapi menggunakan jaket pasangan yang lucu itu menjadi sorotan. Karena aku hamil besar jadi aku hanya berjalan mengitari taman dan diiringi suamiku yang berlari kecil disampingku. Dia mengenakan masker hitam untuk menutupi wajahnya, jadi kini dia menemaniku dengan santai walaupun banyak mata yang memandang kami dengan heran. Suamiku selalu berusaha agar aku bahagia. Aku mencintainya.
Sst.. aku sempat memotretnya saat dia mengenakan jaket lucu ini tanpa masker. Dia begitu menggemaskan. Aku akan menyimpan foto ini baik-baik.
.
.
.
.
.
END.

Ihiy.. akhirnya kelar. Ini mungkin memang bukan FF Kim yang terpanjang tapi ini FF Kim yang terlama kelarnya kayanya (ups, ada 2 FF Kim lagi yang gantung). Hanya sedikit tato bang GD yang aku diskripsikan. Padahal ada belasan Tatto bang GD, termasuk dengan tato barunya yang berbentuk malaikat laki-laki bersayap di tengkuk atau leher dibagian belakang. Tatonya terlihat timbul atau memiliki dimensi, keren deh tapi aku kurang suka si abang terlalu banyak tato.

Kenapa di FF ini Chaerin tidak memanggil GD dengan oppa? Karena seperti yang telahku tulis dipart2 awal bahwa perbedaan umurnya jauh berbeda, tapi gak setua appanya Chaerin bang GD masih 30an (balik ke part awal). Awal buat nulisnya ‘yeobo’ tapi ada permintaan diganti ‘suamiku’ aja. Thks buat yg rajin komen sejak awal FF ini di tengah2 kesibukannya. Walau Kim juga sibuk, Kim juga baca satu persatu komentarnya kok walau ada komentar dari pembaca yang telat baca FFnya, walau kadang Cuma bisa Kim like komentarnya.
Jangan malas memberikan komentar, karena komentar termasuk dukungan pembaca untuk memberikan semangat para author. Oh ya.. ini bakal ada part bonusnya.

LOST AND GIVE [part 7]

LOST AND GIVE [part 7]
.
.
.
.
.
.
Author: Kim Daisy

Cast: SkyDragon, Taeyang dan Soo Song

Rate : PG 17

pict: ahelnyann (thks bgt cover kecenya)

Repost : glen
***

Ku buka mataku. Saatku lihat jam yang ada di dinding ternyata sudah hampir jam pulang. Istirahat memang yangku butuhkan ternyata. Hacu! Tiba-tiba hidungku gatal dan ingin... Hachu! Bersin. Rasa ingin bersin ini tidak hilang-hilang hingga kuputuskan keluar dari ruanganku. Sekretarisku menatapku dengan tatapan cemas karena bersinku tidak hilang dari tadi. Karena sarannya aku pergi di lantai paling atas untuk mencari udara segar. Baru saja lima menit aku berada disana rasa gatal dihidungku untuk bersin pun menghilang.

Sepertinya ini karena terlalu banyak bunga di ruanganku. Aku memutuskan turun kebawah untuk mengambil dokumen di ruang kerjaku tapi, baru saja membuka pintu aku sudah kembali bersin-bersin lagi.

“bibi, tolong pindahkan bunga-bunga itu dari ruanganku. Hachu!! Sepertinya itulah penyebab aku bersin-bersin dari tadi.”perintahku pada sekretarisku yang menghampiriku dengan wajah binggungnya.

“baik, nyonya. Saya sarankan anda pulang saja, saya akan mengirimkan dokumen-dokumen penting yang anda butuhkan dengan segera.”saran sekretarisku.

“hachu!! ya, aku tunggu. Hachu!! Ah, silahkan bagikan bunga-bunga yang masih segar ke setiap karyawan, tapi bunga lavendernya biarkan tetap diruanganku dan lily letakkan di ruang tamu kamarku. Hachu!”

“baik, nyonya. Lalu, untuk pot...”

“biarkan itu tetap di sana. Suruh pinata kebun kita juga merawatnya. Hachu!”perintahku dan kembali bersin.

“aku pulang dulu. Hachu!”kataku bersin dengan kerasnya. Untung dilantai ini hanya untuk kantorku dan ‘rumah’ku. Jika terdapat ruangan orang lain disini maka aku bingung menaruh mukaku. Seorang penerus bersin seperti bocah ingusan. Sepertinya aku harus memberikan perhitungan dengan ahjusshi mesum itu yang telah membuatku tidak berhenti bersin.

Tapi, jika aku mendiamkannya apalagi yang dia perbuat nantinya? Dia pernah memenuhi ruanganku dengan permen dan coklat. Hari ini ahjusshi mesum itu memenuhi ruanganku dengan bunga dan besok mungkin dia memenuhiku oleh penyanyi atau pemain music untuk merayuku. Aku harus memikirkan cara lain untuk membalasnya.

Tapi, baru saja aku membuka kamarku aku mendapatkan mimpi buruk. Kamarku kini dipenuhi dengan kelopak bunga mawar. Berapa ton kelopak bunga yang dia beli sebenarnya untuk memenuhi kamarku? Bahkan kamar mandi, lantai, kasur dan sofaku pun juga di tutupi kelopak bunga mawar. Hachuuuu.....
.
.
.

Jiyong Pov
Aku berlari terburu-buru karena mendapat kabar bahwa Chaerin pergi dari kamar kami. Dia pergi ke kamar ayah mertuaku. Sebenarnya bukan kamar karena kamar kami ataupun kamar ayah mertuaku seperti apartemen yang luas yang didalamnya terdapat 3-4 kamar, dapur yang luas, ruang keluarga, ruang makan, dan lain-lain.

Bahkan terdapat dua lantai. Tidak ada bedannya dengan sebuah apartemen mewah hanya saja terdapat di dalam sebuah hotel karena memang sejak kecil Chaerin sudah tinggal di hotel ini.

“dimana istriku?”tanyaku panik pada ahjuma yang menjadi kepala pengurus rumah ini.

“sedang istirahat di kamarnya dulu, tuan. Nyonya sejak tadi tidak berhenti bersin tuan. Saya takut nyonya sakit.”jawab ahjumma dan membuatku berlari menuju kamar Chaerin. Baru saja sampai di depan pintu aku mendengar Chaerin bersin-bersin cukup keras. Sepertinya dia memang sakit. Tapi, sekarang musim
gugur kenapa terkena flu?

“Kau sakit sweetheart?”tanyaku saat masuk dan dia membalikkan tubuhnya agar bisa melihatku. Wajahnya terlihat pucat dan hidungnya memerah.

“ini gara-gara kau, ahjusshi mesum. Hachu. Ruanganku penuh dengan bunga, seharian aku bersin-bersin. Karena itu aku berniat beristiahat, tapi yang terjadi di kamar itu bagaikan lautan mawar. Lebih parah dari pada ruang kantorku. Aku ber Hachu... aku bersin hachu... tanpa henti dari tadi. Apakah kau berencana hachuu.. membunuhku hachu!?”katanya dengan emosi yang meledak, tapi dia terlihat lemas. Aku segera memeluknya. Sungguh aku merasa bersalah.

“tidak. Tidak akan mungkin, sweetheart. Aku tidak bermaksud seperti itu, aku sungguh sungguh minta maaf. Ayo, kita ke dokter!”ajakku berbicara dengan lembut. Tapi, Chaerin hanya diam dipelukkanku.

“sweetheart..”panggilku.

“sweetheart, kenapa? Apakah kau tidak mau berobat? Apa perlu kita panggil dokter saja ke sini?”tanyaku.

“ahjusshi..”kata Chaerin sambil memberikan jarak wajahnya dari dadaku yang sebelumnya menempel agar bisa melihat wajahku.

“ada apa, sweetheart?”tanyaku sambil mengelus pipinya.

“bersinku berhenti, ahjusshi.”jawabnya dengan tersenyum.

“tapi, kita harus tetap memeriksakan dirimu sweetheart.”

“sepertinya aku hanya perlu istirahat, ahjusshi.”

“baiklah jika itu maumu, sweetheart. Untuk sementara kita akan tinggal disini hingga kamar kita bersih. Jika belum sembuh besok kau harus berobat, sweetheart. Aku tidak ingin kau sakit, sweetheart.”kataku dan Chaerin kembali di dalam pelukanku. Saat dia dipelukanku aku sungguh bahagia. Seakan seperti ini saja sudah cukup untukku. Tidak, aku tidak boleh mudah puas. Aku ingin dia mencintaiku juga seperti aku mencintainya walaupun nanti cintaku lebih besar untuknya.
.
.
.
Aku baru saja keluar dari kamar mandi dan bersiap untuk tidur, tapi aku penasaran karena aku melihat Chaerin menutup wajahnya dengan baju yang tadiku kenakan sebelumku mandi.

“kenapa bajuku ada padamu, sweetheart?”tanyaku sambil duduk di kasur untuk mendekatinya.

“ah? Ah... ini aku.. “jawabnya gugup dengan wajah merah setelah dia reflek langsung melempar bajuku sembarangan.

“kenapa?”tanyaku penasaran.

“mungkin kau tidak akan percaya, tapi aku akan kembali bersin jika tidak mencium aromamu.”jawabnya dengan mata tertutup, wajah menunduk malu dan wajah yang memerah. Aku tidak bisa menahan untuk tersenyum. Hanya karena hal-hal kecil bisa merasakan sebahagia ini, itulah cinta.

“kalau begitu aku akan sangat bersedia menjadi obat flumu, sweetheart.”kataku dan dia langsung pergi
menjauh dariku.

“hachu!!”Chaerin kembali bersin setelah berhasil jauh dariku, tapi aku dengan sigap mengendongnya dengan bridal lalu menidurkannya ke kasur, tapi tetap dalam pelukanku.

“mengalahlah. Bukankah ini win-win solution? Kau berhenti untuk bersin dan aku sangat senang bisa memelukmu. Ayo, kita tidur! Selamat malam, istriku!”kataku sambil mematikan lampu kamar dengan remot yang sebelumnyaku ambil lalu mengecup kening Chaerin. Dan ternyata benar bahwa bersinnya berhenti.
Aku senang jika aku bisa dibutuhkkannya dan nantinya aku ingin sekali Chaerin bisa sepenuhnya bergantung padaku.
.
.
.
Jam dua pagi aku mendapat kabar bahwa perusahaanku di Amerika terjadi masalah, salah satu petinggi tertangkap melakukan kecurangan dengan uang insvestor sehingga aku harus pergi secepatnya. Melihat Chaerin yang tidur dengan nyenyak di pelukanku membuatku tidak ingin membangunkannya. Dengan hati-hati aku melepaskan diriku dari pelukannya dan bersiap-siap. Aku juga tidak lupa menuliskan pesan singkatku di atas meja untuk Chaerin dan mengecup bibirnya. Maafkan aku tidak memberitahumu secara langsung, sweetheart! Aku sungguh berat meninggakanmu yang sedang sakit. Maafkan aku.

Saat aku sampai di gedung K-World menjelang sore, semua pemegang saham sudah menungguku untuk membuka rapat. Sepertinya membutuhkan beberapa hari disini.
.
.
.
Chaerin pov
Saat aku terbangun pagi ini tanpaku sadari aku tersenyum mengingat kejadian memalukan tadi malam. Tapi, saatku lihat ahjusshi tidak ada disebelahku dan aku malah menemukan selembar kertas yang memberitahukan bahwa ahjusshi mesum itu pergi karena ada masalah diperusahaannya. Tentu saja hal itu membuatku sedikit kesal karena dia meninggalkanku begitu saja. Saat ini tentu saja dia sudah berada disana melihat sekarang sudah tengah hari, tapi kenapa dia tidak mengabariku?

Malam ini aku tidur di rumah sakit bersama appa dan hingga saat ini ahjusshi belum menghubungiku. Apa dia tidak menyadari bahwa aku cemas? Apakah dia tidak mengingatku? Sebenarnya masalahnya sebesar apa hingga hingga saat ini belum juga menguhubungiku?

“memikirkan Jiyong?”tegur appa sambil menyentuh
bahuku.

“hanya sedikit penasaran kenapa dia pergi mendadak, appa.”jawabku.

“hubungi saja dia.” Saran appa.

“mungkin saja dia sibuk, appa. Besok akan aku hubungi dia. Sekarang kita tidur.”kataku sambil sedikit memaksa appa untuk tidur karena dari ekpresi appa terlihat bahwa appa ingin aku menelpon ahjusshi mesum itu sekarang juga.
.
.
.
.
.
@keesokan harinya.
Hari ini ahjusshi itu juga belum pulang dan tidak menghubungiku. Lihat saja nanti, aku akan membalasnya. Bisa-bisanya dia meninggalkanku begitu saja tanpa keterangan yang jelas bahkan seharian tidak mengirimi kabar lewat apapun padaku. Menyebalkan.

“aku akan pergi sebentar, bibi.”kataku pada sekretarisku saat aku keluar ruanganku. Aku butuh menjernihkan fikiranku. Tapi, yang aku lihat di depan ruanganku tidak hanya ada sekretarisku.

“oppa!”kataku saat mata kami bertemu.
.
.
.
Taeyang oppa mengajakku ke sebuah restoran kecil yang menjual iga bakar. Restoran ini adalah restoran favorit kami sejak dulu.

“kenapa oppa membawaku ke sini?”tanyaku.

“hanya rindu suasananya.”jawabnya tersenyum manis, senyum cerah yang sama seperti dulu.

“apakah kau tidak rindu dengan masakan ahjumma? Aku sangat rindu dengan masakan ahjumma.”tanyanya. Dengan ragu aku turun dari mobil mengikutinya.

Ternyata di tempat masa lalu bisa menimbulkan suasana seperti masa lalu. Kini kami tidak canggung lagi seperti sebelumnya, kami tertawa sambil mengingat masa lalu. Bahkan ahjumma pemilik restoran ini masih mengingat kami. Setelah itu kami pergi ke tempat latihan menembak. Tempat biasa kami latihan menembak.

Mungkin sedikit aneh, hanya saja aku seorang penerus harus ahli bela diri ataupun memegang senjata. Latihan menembak pun tidak luput dari bertaruh dan tawa seperti dulu. Dan seperti biasa aku lebih ahli menembak dari pada Taeyang oppa walau kemampuannya meningkat dibandingkan saat dulu.

Langit semakin gelap. Aku memutuskan untuk pulang dan Taeyang mengantarku kembali ke hotel.

“terimakasih untuk hari ini, oppa!”kataku sambil turun dari mobilnya.

“tunggu, Chae!”kata Taeyang oppa langsung turun dari mobil dan berjalan mendekatiku. Tiba-tiba Taeyang oppa memelukku.

“hari ini menyenangkan. Aku tahu kau juga menikmatinya. Aku berharap aku belum terlambat untuk memilikimu”

“lepaskan aku! apa maksud oppa?”tanyaku bingung sambil berusaha melepaskan pelukannya.

“aku mengajukan cerai pada Soo Song.”kata Taeyang oppa yang akhirnya melepaskan pelukannya.

“itu tidak ada hubungannya dengan aku, oppa. Aku istri orang saat ini dan dia adalah bossmu, oppa. Aku bahagia bersamanya. Tolong kau hargai aku! Hatiku ini bukan permainan!”kataku marah. Taeyang oppa menyentuh tanganku untuk menahanku agar tidak pergi.

Aku sadar bahwa kami menarik perhatian orang sehingga aku menghentakkan tanganku hingga terlepas dari genggeman Taeyang oppa. Aku meninggalkan Taeyang oppa begitu saja. Fikiranku kacau. Sebelumnya aku ingin berdamai dengan masa lalu, tapi yang terjadi malah seperti ini. Aku dengan cepat berjalan menuju kamarku dan aku mencoba menghungi ahjusshi mesum itu. Aku perlu sarannya. Aku perlu bicara denganya sekarang juga, tapi ponselnya mati. Apa yang harusku lakukan.
.
.
.
.
Pagi ini aku merasa kacau. Taeyang oppa membuatku semalaman memikirkan perkataannya dan ahjusshi mesum itu semakin membuatku kesal karena belum juga bisaku hubungi. Apakah dia sedang bermain disana? Untuk pria sukses seperti dirinya bisa saja tidak pernah pacaran atau menjalin hubungan percintaan, tapi pria dan hasratnya tidak bisa dipisahkan.

“bicara apa aku ini?”gumamku sambil menyendokkan nasi goreng kimchi ke mulutku.

“maaf, nona. Ada tamu di depan.”kata ahjumma yang memasuki ruangan makan.

“minta dia menunggu sebentar, ahjumma.”pintaku dan ahjumma itu pun pergi. Buat apa mencariku pagi-pagi seperti ini? Siapa sebenarnya yang datang?

Aku menyelesaikan sarapanku. Sungguh aku tidak semangat hari ini dan aku semakin kesal setelah melihat siapa yang datang ke tempatku di saat aku sedang sarapan.

“ada apa, Soo Song unnie?”tanyaku langsung. Semua terjadi mendadak begitu saja setelah aku menikah dengan ahjussi. Aku tidak mengganggu mereka kenapa mereka kembali?

“maaf, mengganggu waktumu, Chae. Aku yakin Taeyang sudah menemuimu...”

“tenang saja unnie, aku tidak adakan kembali pada Taeyang oppa.”potongku.

“bukan. Bukan itu. Aku kesini malah ingin memintamu untuk kembali pada Taeyang setelah kami bercerai”katanya Soo Song unnie tanpa beban. Reflek aku langsung mengumpat. Hal gila apa lagi sekarang? Untuk menjadi menikah dan menjadi ahjusshi secara mendadak adalah hal paling gila di hidupku, tapi ternyata ada hal lebih gila dari pada itu.

“Mwo??”

“aku mohon padamu, Chae. Dia masih mencintaimu.”

“itu hanya karena rasa bersalah kalian padaku.”

“kami tidak memiliki anak, Chae. Kami tidak memiliki anak!”

“Lalu kenapa jika kalian belum memiliki anak? Apakah karena tidak ada anak sehingga dia menceraikanmu?”

“ya, karena hal itu. Menikah dengannya Chaerin. Aku mohon. Dengan begitu aku yakin oppa bersama dengan yeoja yang tepat.”

“permintaanmu konyol, unnie. Sungguh konyol. Aku meminta yeoja lain menjadi istri mantan suamimu yang menunut cerai darimu dan gilanya kau memintanya dengan yeoja yang telah menikah.”balasku dan Soo Song unnie terlihat kaget dengan jawabanku.

“kau sudah..”

“ya, aku sudah menikah tiga bulan lalu, unnie.
Sepertinya kami sudah mengundang kalian.”jawabku dan Soo Song unnie terlihat lebih putus asa.

“aku tahu bahwa tidak baik membawamu ke rumah tangga kami. Hanya saja aku bingung harus bercerita dengan siapa. Oppa begitu mendambakan seorang anak, tapi hingga saat ini aku belum bisa mewujudkannya. Oppa bilang jika dia menikah denganmu mungkin kalian sudah memiliki 2 anak yang lucu. Dia mengatakannya di depanku sambil melihat foto kalian saat berdua.”cerita Soo Song unnie sambil menangis.

“ini mungkin salahku yang menjadi penghalang di hubungan kalian. Seharusnya aku mengalah. Seharusnya aku sadar diri saat kalian menceritakan masa lalu kalian. Seharusnya aku tidak egois. Ini hukuman untukku. Dia tidak bisa melupakanmu, Chae. Dia mencintaimu. Bahkan setelah menikah dia sering membandingkanku denganmu. Aku bukan yeoja yang tepat untuknya.”

“tau apa unnie tentang orang yang tepat atau tidak? Pernikahan itu bukan seperti membeli parfum yang memiliki tester. Bukan ingin berakting dewasa. Hanya saja aku harus bisa berfikir waras. Jika aku diposisi unnie dari pada memohon yeoja lain menikah dengan namja yang aku cintai lebih baik memperbaiki hubungan itu.”jawabku dengan tenang walau sebenarnya aku hampir stress dengan kondisi seperti ini. Kenapa jadi sesulit ini? Aku sudah sangat pusing mengurus perusahaan, mengurus appa yang minta cucu dan suamiku yang hingga kini tidak ada kabar dan kini aku harus masuk dipermasalahan rumah tangga orang lain.

“aku sudah menikah unnie. Aku bahagia dengannya, suamiku sangat mencintaiku. Dan aku tidak mungkin kembali dengan Taeyang oppa. Taeyang oppa milikmu dan akan selalu seperti itu jadi pertahankan dia, unnie. Jika kau bukan yeoja yang tepat pasti dia tidak akan menikahimu.”kataku sambil melihat Soo Song yang menghapus tangisnya dengan tissue.

“tapi, kini oppa ingin mendapatkanmu Chaerin dan aku tidak bisa apa-apa untuk menahannya tetap disisiku. Aku tidak bisa memberikannya anak.”katanya sambil menangis. Air matanya seakan tidak bisa berhenti. Aku juga yeoja walau sedikit aku bisa merasakan sakitnya berada diposisi Soo Song.

“jika dulu aku yang menyerah kini giliran Taeyang oppa yang harus menyerah padaku, unnie. Aku tidak mungkin berpisah dengan suamiku.”

“dia tidak mencintaiku lagi, Chaerin.”

“itu tidak mungkin, unnie.”kataku pindah duduk di sebelah Soo Song unnie dan memeluknya untuk menenangkannya. Membiarkan Soo Song unnie menangis dipelukanku. Ini tidak bisa dibiarkan. Aku harus membantu mereka sebelum dampaknya semakin parah. Jika dulu ahjusshi itu bisa menyingkirkan Taeyang oppa hingga ke Negara lain, mungkin nanti dia akan memindahkan Taeyang oppa keluar angkasa karena mendekatiku lagi. Seorang Kwon Jiyong pasti bisa melakukan apapun yang dia mau, termasuk hal paling aneh sekalipun. Ah.. aku jadi kembali kesal karena belum dapat pesan darinya.
.
.
.
.
@seminggu kemudian
Seperti yang aku duga Taeyang oppa tidak melepaskanku begitu saja. Appaku sudah keluar dari rumah sakit 3 hari lalu dan ahjusshi mesum menyebalkan itu belum juga bisa aku hubungi.

Sebenarnya aku sempat cemas terjadi hal yang tidak dinginkan saat diperjalanan. Tapi jika memang ada sesuatu pasti dunia bisnis tidak akan sesepi ini mengingat ahjusshi mesum itu termasuk kelompok orang yang mempengaruhi pereonomian dunia.

Setidaknya kini ada berita seberapa besar masalah yang
sekarang di selesaikan ahjusshi mesum itu. Ternyata ada petinggi karyawan yang mengunakan dana perusahaan dan menipu pemegang saham bahkan terbuka fakta baru bahwa adanya pembunuhan untuk menghilangkan saksi. Mungkin ahjusshi itu tidak akan kembali.
Jika hal itu terjadi mungkinkah aku baik-baik saja?

“aku sudah datang lebih awal. Tapi, ternyata kau sudah ada disini, Chae.”kata Taeyang oppa yang menghampiriku. Kami kini ada di sebuah restoran mewah. Taeyang terlihat tampan dengan setelan jasnya.

“tidak masalah, kebetulan tadi aku ada janji dengan rekanku jadi aku langsung ke sini.”jawabku dan Taeyang oppa tersenyum. Tidak lama kami mengobrol pesanan makanan kami pun datang. Taeyang oppa memotong dagingku layaknya seorang gentleman.

“oppa.”

“hmm..”jawab Taeyang oppa tersenyum padaku.

“aku bertemu dengan Soo Song unnie.”kataku dan wajah Taeyang Oppa menjadi kaku.

“dia sudah cerita padaku semuanya.”sambungku.

“tolong, dengarkan penjelasanku.”mohonnya.

“tidak, oppa. Jika itu berkaitan denganku, aku tidak bisa. Aku memang pernah mencintaimu, oppa. Bahkan aku masih mencintaimu saat kau akan menikah. Aku menangis, aku sempat terpuruk dan kini aku tahu kau tidak seberharga itu. Aku sadar bahwa aku tidak mencintaimu sedalam itu. Hatiku tidak ada lagi kau, oppa.”

“kau berbohongkan Chaerin?”

“tidak, oppa. Sejak aku melepaskanmu dengan Soo Song unnie aku tahu bahwa aku bukanlah orang yang berhak hidup denganmu dan bahagia bersamamu, oppa. Bukankah kau yang memilih untuk bersama Soo Song unnie? Kau tahu, oppa? Mendengarmu menuntut cerai dan memintaku bersamamu itu membuatku kecewa. Kau bukan seperti Taeyang oppa yangku kenal. Kembalilah dengan unnie, dia begitu mencintaimu. Aku harap kau segera sadar, oppa.”kataku lalu pergi dari restoran ini membiarkan Soo Song unnie yang mengambil kendali selanjutnya. Aku harap sepasang suami-istri itu tidak menggangguku lagi. Sekarang, dimana ahjusshi mesum menyebalkan itu? Akh, dia benar-benar tidak peduli denganku sepertinya.

Aku berjalan menuju kamarku, kamarku yang sepi. Aku terduduk di kasur dan menyadari ternyata beberapa hari tidak bisa melihat ahjusshi mesum itu membuatku merasakan kehilangan. Aku mengakui hal itu. Sebenarnya apa yang membuatnya tidak bisa menghubungiku? Bukankah semua baik-baik saja saat malam itu? Bahkan dia memelukku dan memanggilku ‘sweetheart’ seperti biasa.

Suara pintu membuatku membuyarkan pikiranku. Seseorang masuk ke kamarku.

“hey, sweetheart!”kata orang itu dengan senyuman manisnya. Mungkin aku bermimpi, tapi aku tidak bisa menahan untuk tersenyum dan menangis. Mungkin aku benar-benar merindukannya.

“kenapa kau menangis? Membuatmu menangis adalah
hal yang tak pernah terfikirkan dalam hidupku. Jadi, berhentilah menangis. Tidak bisakah kau memberikanku ciuman saja? Aku sangat merindukanmu.”katanya berjalan ke arahku dan memelukku. Tubuhku terasa hangat. Apakah ini nyata?

“kau sudah kembali?”tanyaku dalam tangis. Aku tidak pernah selemah dan semenyedihkan ini sebelumnya. Tapi, kehadirannya sungguh berefek luar biasa tanpaku sadari.

“ya, aku sudah pulang sweetheart. Maafkan, aku tidak menghubungimu. Aku hanya ingin menyelesaikan masalah disana dengan cepat agar bisa cepat kembali denganmu. Dan aku takut jika aku mendengar suaramu maka tanpa sadar aku akan meninggalkan pekerjaanku. Kau tahukan kau adalah paling terpenting di hidupku, kau magnetku.”jawabnya sambil mengelus punggungku dan mengecup kepalaku. Tangisku pecah. Sepertinya aku benar-benar sangat merindukannya melebihi yang aku kira.

“aku diberi tahu bahwa dia sering menemuimu selama aku tidak ada, kita akan bahas itu nanti. Karena aku yakin istriku sangat merindukanku saat ini.”katanya dengan nada menggodaku, tapi kali ini aku tidak akan membalasnya karena aku tidak bisa menepis hal itu. Aku tidak bisa berbohong untuk mengatakan bahwa itu tidak benar karena tanganku saja memeluk erat ahjusshi mesum menyebalkan ini. Aku merindukan aroma tubuhnya, aku merindukan saat dia menjahiliku, aku merindukan saat dia menggodaku dan aku merindukan kehadirannya.

“oh sweetheart, kau sungguh manis. Apakah aku harus pergi terus agar kau memelukku seperti ini, hmm?”

“jangan pergi lagi! Jangan pergi dengan cara seperti itu! Kau membuatku takut, ahjusshi.”Jawabku. Ahjusshi memegang kedua pipiku dengan lembut mengangkat wajahku agar kami bisa saling menatap.

“terimakasih. Aku mencintaimu.”katanya dan dia mengecup bibirku. Dengan lembut ahjusshi menghapus air mataku yang mengalir dan mengecup dua mataku.

“jangan menangis, sweetheart! Aku tidak akan melepaskanmu.”katanya sambil menatapku lekat.

Bibirnya tiba-tiba menempel dibibirku, membuatku terkejut. Kemudian ciumannya berubah menjadi lembut dan tanpa sadar aku membalas ciumannya. Aku larut dalam ciumannya yang membuatku seakan berada di langit, membekukan otakku untuk berkerja. Aku tidak memberontak sekarang. Aku hanya bisa menikmati sentuhan tangannya sehingga meloloskan gaun yang aku kenakan. Selanjutnya hanya kami yang mengetahui apa yang terjadi. Yang pasti kami menghabiskan malam dengan saling memberikan kebahagiaan. Aku telah jatuh cinta padanya. I love you, ahjusshi!
.
.
.
.
.
.
END or next?

LOST AND GIVE PART 6

LOST AND GIVE [Part 6]
.
.
.
.
.
Author: Kim Daisy

Cast: SkyDragon, Taeyang dan Soo Song

Rate : PG 17

Pict: ahelnyann (thks bgt cover kecenya)

Repost: glen
***
.
.
.
“kenapa kau diam saja, sweetheart?”tanyanya santai dan masih fokus dengan elektronik lebar dan tipis miliknya. Jika dia mengkhawatirkanku seharusnya dia fokus padaku bukan pada tab sialan itu. Dan aku akan tetap menjalankan aksi diamku. Aku tidak ingin dia menggodaku seperti tadi saat di rumah sakit. Untung saja appa sedang keluar kamar saat itu.

“kau marah padaku, hmm?”tanyanya lembut. Kini dia menutup tab sialan itu dan metakkannya di sebuah tas kerjanya yang terlihat sangat mahal. Tiba-tiba dia mengangkat tubuhku hingga yang awalnya kami duduk dengan jarak yang cukup jauh kini aku duduk di dalam dekapannya.

“ceritakan padaku, kenapa kau menjadi pendiam seperti ini sweetheart? Apakah ada yang menjadi beban pikiranmu?”tanyanya dengan merayu dan sialnya aku luluh karena pelukannya aku jadi menghangat dan aroma tubuhnya membuatku tenang dan nyaman.

“kau menciumku, ahjussi mesum!”jawabku kesal dan dia tertawa membuat tubuhku yang didalam pelukannya ikut bergoyang.

“itu tidak ciuman. Itu hanya sebuah kecupan. Apa kau tidak bisa membedakan kecupan tersebut dengan ciuman pertama kita?”katanya sambil memalingkan wajahnya agar bisa menatapku.

“tidak ada yang berbeda.”jawabku.

“kau benar, sweetheart. Tidak ada yang berbeda dengan
keduanya. Tapi, aku akan membuatmu merasakan ciuman itu.”katanya dengan wajah serius. Bola matanya mengunci mataku.

“kau menpmmt.”ucapanku sekarang terputus. Di mataku, wajah ahjusshi ini sangat dekat. Bibirnya melumat bibirku dengan lembut dan mendecap dengan matanya yang tertutup. Membuatku melebarkan bola mataku dan beberapa kali berkedip karena tidak percaya.

“akhirnya kau diam.”katanya tersenyum lalu melumat kembali bibirku. Entah kenapa aku mencoba menikmati ciuman yang diajarkannya padaku. Ya, seharusnya aku menikmatinya. Ini ciuman pertamaku diumurku yang sudah bukan remaja lagi. Walaupun aku tidak membalas, tapi aku menikmatinya dengan mendekatkan tubuhku dengan ahjusshi dan tanganku memeluknya.

“itu baru ciuman.”katanya sambil tersenyum. Bibir tipisnya sedikit terlihat bengkak dan aku merasa bibirku terasa hangat. Lalu, tiba-tiba dia kembali mengecupku.

“dan itu kecupan. Kau sudah bisa membedakannya?”tanyanya sambil mengelus rambutku dan aku mengangguk lemah. Aku tidak bisa berfikir. Aku begitu lemah seakan nyawaku tidak berada dalam tubuhku dan ahjussi kini memelukku lebih erat.

“kau menciumku?”tanyaku setelah beberapa lama.

“ya.”jawabnya sambil mengecup puncak kepalaku.

“ommo! Kau ahjussi mesum yang gila! Kita di mobil saat ini dan kita tidak hanya berdua ada tuan Cho yang sedang menyetir di depan.”protesku marah karena malu.

“tidak apa-apa sweetheart. Tuan Cho memang sudah sangat tua sweetheart, tapi tuan Cho pernah muda dan dia bisa mengerti.”jawabnya santai dan mendekap wajahku didadanya. Aku sembunyi menahan malu di dadanya membuatku menikmati aroma tubuhnya yang memabukkan dan membuatku tenang.

“bagaimana aku bisa menunjukkan wajahku?”tanyaku. Dan aku sadar ahjussi tua mesum ini sedang menahan tawanya.

“dimana istriku yang tegas, mandiri dan galak itu? kenapa dia jadi begitu pemalu?”godanya.

“diam kau ahjusshi mesum! Aku akan membalasmu.”balasku.

“aku dengan senang hati mendapatkan balasan ciuman darimu. Aku sangat menantinya.”

“aku akan membunuhmu.”kataku sambil memukul dadanya dengan keras lalu mencubit bagian paha dan perutnya.

“aku ingatkan sweetheart, tidak akan enak menjadi seorang janda.”kata ahjusshi menyebalkan membuatku semakin keras mencubitnya bahkan bahunya pun ku gigit dengan keras karena dia sangat-sangat membuatku jengkel.

“waw, kau ternyata liar dan itu membuatmu semakin sexy, sweetheart.”ucapnya sambil meringis menahan sakit.

“berhenti mengamuk, sweetheart. Karena itu membuatku semakin ingin melahapmu. Jangan marah padaku karena sejak tadi aku sudah mengamankan kondisi. Tertutup dan kedap suara”jelasnya sambil tersenyum licik. Dan mataku langsung menorah ke depan. Ternyata mobil ini diberikan batasan bagian sopir dan penumpang di belakang. Batasan itu cukup tebal dan berwarna hitam gelap bagaikan dinding yang berwarna hitam. Berarti dia sudah merencanakannya? Sungguh-sungguh otak mesumnya tidak tertolong.

“bukankah aku sangat mengerti dirimu, sweetheart?”katanya dengan nada menggodaku. Aku kembali pindah dari dudukku memberikan jarak. Dia sungguh menyebalkan. Dia harus mendapat pelajaran. Dia lupa bahwa aku adalah Lee Chaerin.
.
.
.
.
.
@Keesokan harinya.

“jangan marah lagi, sweetheart”bujuk ahjusshi mesum ini yang sejak semalam mencoba minta maaf padaku.

“maafkan aku keterlaluan, kemarin.”katanya dengan wajah memelas. Pemilik K-World memelas dengan wajah lucu seharusnya aku memfoto ekpersinya ini dan mengirimkannya ke media. Tapi, aku harus mengendalikan diriku. Aku harus menyelesaikan misiku untuk mendiamkannya sementara. Aku mengambil susu putih milikku dan beranjak pergi meninggalkan meja makan.

“Chaerin aku sungguh-sunguh minta maaf”. katanya dan mengejarku. Dan dengan tepat waktu aku segera masuk ke dalam lift dan pintu lift segera tertutup tepat saat kami berhadapan. Aku bisa melihat wajah kecewanya sebelum pintu lift tertutup. Rasakan akibatnya.
.
.
.
.
.
.
Hari ini pekerjaanku tidak banyak jadi aku memikirkan langkah selanjutnya untuk memajukan perusahaan ini. Mungkin aku akan masuk ke dunia kuliner atau tempat pembelanjaan? Saat aku akan merancang itu semua, aku mendengar ketukan pintu dan aku melihat sekretarisku masuk sambil memberikanku sebuah buket bunga yang indah.

“ini suami anda yang mengirimkan, nyonya.”kata sekretarisku seorang ahjumma berumur 40an.

“bu..”

“maaf, apakah ini ruangan nyonya Lee Chaerin?”kata seorang pemuda membawa buket buanga lavender yang besar.

“ya.”jawabku bingung.

“maaf, jika saya masuk karena di luar kosong dan
pintunya terbuka.”jawab pemuda itu.

“tidak masalah. Anda siapa?”tanyaku penasaran.

“Saya hanya ditugaskan memberikan bunga ini untuk nyonya.”jawab pemuda itu.

“dari si...” ucapanku terputus karena telepon kantor berbunyi.

“ya”kataku setelah mengangkatnya.

“nyonya.. di bawah ada paket pot bunga yang besar dengan sepohon bunga mawar yang...”kata seseorang.

“aku ke sana.”jawabku langsung menutup telepon. Tidak lama aku menutup telepon beberapa karyawanku masuk dengan membawa buket yang terdapat berbagai jenis bunga.

“susun di ruanganku.”kataku segera melangkah ke lobby. Dan saat pintu lift terbuka dan langsung mengarah ke lobby, aku di kejutkan dengan pot berukuran raksasa yang terdapat pohon bunga mawar.

Kenapa pohon karena ukuranya sebahuku dan sudah ada dua pot dengan mawar berwarna merah dan putih lalu seseorang masuk dengan membawa pot yang sama dengan warna mawar yang berbeda. Ahjusshi mesum itu lagi-lagi membuat ulah.

“kau merindukanku, sweetheart?”kata ahjussi mesum itu saat aku meneleponnya.

“ok. Aku bicara denganmu, tapi segera hentikan kiriman bunga ini. Kau membuat hotelku seperti kebun bunga.”kataku kesal. Aku akan senang jika bunga yang diberikannya dalam keadaan normal. Cukup sebuket bunga tidak puluhan buket bunga dan pot berisi tanaman bunga mawar sebesar ini dan aku yakin dalam waktu satu jam maka ruanganku akan penuh dengan bunga seperti saat dia mengirimkan permen dan coklat padaku saat itu.

“tidak akan sebelum kau berjanji tidak marah lagi, sweetrheart.”balasnya.

“ya, aku janji. Jadi berhentilah berbuat konyol.”jawabku.

“so romantic sweethearth.”balasnya dengan suara seakan dekat denganku.

“tidak ada namja romantic yang memberikan pot bunga sebesar itu pada yeojanya. Jika ingin romantic sebaiknya kau memberikanku ladang bunganya saja.”protesku.

“ide bagus sweertheart. Aku akan memberikannya untukmu.”kata seseorang dengan memelukku dari belakang dan aku yakin dia adalah ahjussi mesum yang telah menjadi suamiku. Sepertinya aku akan mati muda.

“aku lebih suka melihatmu marah dari pada kau mendiamkanku. Aku sangat tersiksa, swerthearth. Aku janji aku tidak akan mengulanginya lagi.”katanya sambil mencium kepalaku. Semua tamu dan karyawan memandangku. Bahkan aku sadar banyak karyawan wanita yang memandangku dengan tatapan iri.

“ini hotel dan hotel ini kantorku,ahjusshi.”kataku sambil mencubit tangannya yang melingkar di perutku.

“mereka pasti mengerti karena pengantin baru.”Jawabnya dengan menjengkelkan. Jika hukum tidak ada didunia ini aku pasti membunuhnya pertama kali.

“lepaskan atau aku..”

“tetap seperti ini. Sebentar lagi pertunjukannya dimulai. Lihat dipintu masuk.”kata ahjusshi dengan serius tidak terdengar dia menggodaku seperti sebelumnya. Dan aku melihat ke pintu masuk seperti arahan ahjusshi. Ada Taeyang oppa berdiri dengan mematung disana.

“dia sejak tadi disitu?”bisikku.

“tidak. Ayo, ikut aku.”kata ahjusshi lembut sambil mengecup pipiku dan menarikku dengan lembut. Dia pandai mengambil kesempatan. Dan bodohnya aku selalu kalah olehnya.

Ahjusshi membawaku ke sebuah meja dan memesan sebuah 2 gelas Americano dan sandwich. Pesanannya pun segera datang seakan dia telah memesan jauh sebelum kami datang.

“jika aku memberikan waktu untuk kalian bisa bicara bagaimana?”katanya membuka pembicaraan. Wajahnya terlihat serius, seserius saat kami berbicara mengenai bisnis selama ini.

“tidak ada yang perlu kami bicarakan.”jawabku dengan tegas.

“tapi, tidak dengannya. Chae, kau tidak bisa menghindar terus. Aku sarankan kau bicara dengannya dan aku akan tetap menjagamu. Aku janji.”katanya sambil menatapku lekat.

“bagaimana jika dia menginginkanku?”tanyaku.

“kau dan dia sudah memiliki keluarga masing-masing”

“lalu kau akan diam begitu saja?!”protesku.

“tidak! Itu tidak akan terjadi. Jika dia merayumu dan kau tergoda ingin bersamanya kupastikan bahwa aku tidak akan semudah itu melepaskanmu. Kau wanitaku satu-satunya. Tidak perlu wanita lain dan tidak perlu ada wanita yang menggantikanmu. Karena kau tidak tergantikan dihatiku, tidak akan pernah Chaerin. Tidak akan.”katanya dengan penekanan seakan yang diucapkannya adalah janji sakral tanpa kebohongan dan penuh dengan kepastian.

“baiklah. Tepati janjimu, Kwon Jiyong.”balasku dan dia tersenyum manis padaku. Lalu mengambil sandwichku memotongnya kecil dan mengembalikan piring sandwichku.

Setelah kami selesai dia pamit pergi kembali berkerja setelah mengecup keningku. Apakah ini tandanya kami berdamai??

Apakah tidak masalah aku membiarkannya terus menjadi pelindungku?

Apakah aku tidak masalah jika aku membiarkanya terus berkorban untukku?
.
.
.
.
“maafkan aku, apakah kau ada waktu?”Kini Taeyang oppa sudah berdiri di dekatku. Aku mengangguk pelan dan mempersilahkannya duduk.

“aku lihat tuan Kwon begitu mencintaimu.”kata Taeyang oppa dengan lembut.

“ya, dia sangat mencintaiku. Sebelum kami menikah dia
membuat kantorku penuh dengan hadiahnya dan kini dia mengulanginya dengan mengirimkanku bunga. Kau lihat pot mawar besar di lobby kan oppa? Itu semua dari suamiku. Aku sangat beruntung menikah dengannya.” jawabku dengan membanggakan ahjusshi. Ahjusshi akan menggodaku jika dia mendengar ini. Untung saja dia tidak akan tahu.

“ya. Kalian sangat beruntung dan dia lebih beruntung karena bisa memiliki wanita yang dicintainya.”

“bukankah kau juga begitu, oppa?”

“tidak sepenuhnya benar, Chae. Soo Song kini berubah...”

“maafkan aku, aku terlalu sibuk untuk mendengar masalah keluarga kalian. Aku harus pergi.”kataku dengan tersenyum. Mau-tidak mau Taeyang oppa pun membiarkan aku pergi. Dia kira aku psikolog konsultan pernikahan sehingga dia berkeluh-kesah padaku tentang pernikahannya? Seharusnya dia sadar dengan apa yang dia lakukan. Dia menyakitiku lagi.

Bib. Ponselku berbunyi sebagai tanda ada pesan masuk.

From: my lovely
‘kau sudah berusaha cukup baik. Aku juga sangat beruntung menikah denganmu, Chaerin istriku.’

Sejak kapan ponselku terdapat nama menjijikan itu? My lovely? Yang benar saja. Sejak kapan dia merubahnya?
Aku menghentikan langkahku mendadak saat aku hampir sampai di ruanganku.

“kau sudah berusaha cukup baik. Aku juga sangat beruntung menikah denganmu, Chaerin istriku.”gumamku. Dia tahu. Apakah dia mendengarkannya? Ahjusshi mesum itu.

“bibi, tolong cek meja yang tadi aku duduki dengan tuan Kwon. Cek dengan teliti!”perintahku yang kebetulan sekretarisku menghampiriku.
.
.
.
.
@Beberapa saat kemudian.

“jadi, alat ini ada di bawah meja itu?”tanyaku pada sekretarisku.

“benar.”jawab sekretarisku.

“terimakasih, bi.”jawabku sambil memijit keningku. Aku baru saja akan berdamai dengannya dan ternyata dia membuatku kesal dengan menempelkan alat yang membuat dia mengetahui percakapanku dangan Taeyang oppa. Apa maksudnya dia melakukan ini?

Bib.
From: my lovely
‘aku tidak memiliki maksud yang lain, sweetheart. Aku hanya ingin menjagamu dan mengetahui sejauh apa pergerakannya. Sekarang tenangkan fikiranmu, sweetheart.’

Aku menjatuhkan tubuhku ke kursi. Akan sulit mengerti ahjusshi itu. Sebelum aku bisa mengerti dirinya aku rasa aku sudah gila. Tiba-tiba aku menjadi lebih santai. Mataku yang sebelumnya tertutup kubuka dengen perlahan. Saat mataku sudah terbuka sepenuhnya ternyata ruanganku sudah penuh dengan berbagai macam bunga.

“tidak sia-sia bunga-bunga ini disini.”kataku dan aku menutup mataku lagi. Aku ingin beristirahat sejak terlebih dahulu sebelum nanti berjalan dijalan yang penuh dengan bahaya.
.
.
.
.
.
.
TBC

LOST AND GIVE [Part 5]

LOST AND GIVE [Part 5]
.
.
.
.
Author: Kim Daisy

Cast: SkyDragon, Taeyang dan Soo Song

Rate : PG 17

Pict: ahelnyann (thks bgt cover kecenya)

Repost : glen
***
.
.
.
Aku segera mandi, berniat untuk menjenguk appaku yang masih harus di rawat di rumah sakit. Sedangkan ahjussi mesum itu hingga aku turun untuk makan pun dia belum muncul. Entah dimana keberadaannya sekarang. Ini rumit bagiku. Katanya dia menyukaiku, aku satu-satunya yeoja yang di inginkan untuk menjadi istrinya. Tapi, apakah itu hanya sebuah ambisi? Tapi, ambisi apa? Aku tidaklah secantik atau seimut aktris atau tokoh idol di televisi. Aku juga tidak sexy seperti mereka karena aku selalu berpakaian formal.
Kekayaan? Bahkan dia jauh-jauh lebih kaya dariku. Lalu, apa yang membuat dia sangat tertarik denganku?

“karena kita sudah di tetapkan tuhan untuk saling memiliki. Buat saja semua menjadi simple karena aku juga begitu mudahnya untuk mencintaimu.”seseorang mengecup kelapaku dan aku sadar bahwa dialah ahjussi mesum. Namja yang membuat kepalaku hampir pecah menahan emosi. Entah dia bisa membaca pikiranku atau kalimatnya hanya kebetulan sedikit menjawab pertanyaan-pertanyaan di pikiranku.

“aku tidak bisa membaca pikiranmu tapi, karena aku begitu mengenalmu kau sudah seperti buku terbuka bagiku, istriku.”katanya dengan memberikan senyuman menggoda sayangnya aku tidak tergoda. Lalu, dia duduk berhadapan denganku untuk makan bersama.

“hari ini kau ingin menjenguk appa, sweetheart?”tanyanya mesra. Anehnya aku tidak pernah jijik saat dia memangilku sayang, sweetheart atau istriku. Semua terdengar natural berbeda saat Tae.. ah kenapa aku malah memikirkan hal itu.

“ya, appa tidak bisa datang di hari itu dan aku tidak menghubunginya jadi dia pasti khawatir.”jawabku sambil menyendokkan makanan ke mulutku. Ahjussi itu menatapku lekat.

“kenapa kau tidak makan?”tanyaku dan dia langsung mengambil sendoknya.

“kau tau, tidak perlu mengunakan baju tipis dan terbuka. Kau makan saja bisa terlihat sexy dimataku dan membuatku ‘lapar’. Sangat. ”jawabnya dengan santai. Reflek aku meleparkan sendok yangku pegang dan sayangnya meleset, sendok itu langsung terjatuh dilantai.

“kata-katamu apa tidak bisa tidak berbau vulgar, ahjussi mesum?”bentakku. Entah kenapa jiwa dominanku tidak bisa mempengaruhinya. Aku selalu kalah berdebat dengannya.

“kau memanggilku ahjussi mesum? Itu artinya yang berbau vulgar adalah identitasku. Lagian aku tidak berbicara vulgar. Aku hanya berbicara jujur. Sungguh. Dan berhenti memangilku ahjussi, aku bukan fedofil.”katanya dengan santai sambil makan dengan tenang seakan topic yang kami bicarakan tidaklah serius.

“umur kita berbeda hampir 10 tahun, jika saja umurmu tidak menimbulkan efek lupa.”jawabku kesal. Selera makanku hilang.

“hampir jauh berbeda dengan kata sama, sweetheart. Aku akan menemanimu menemui appa. Dia akan khawatir jika kau pergi sendiri.”ucapnya sambil makan dengan tenang tapi, membuatku justru ingin segera meninggalkan tempat ini. Jauh dari dirinya.
.
.
.
.
.
Aku masuk ke kamar appa sedangkan ahjussi mesum itu ada dibelakangku. Wajah appa tidak sepucat 3 hari lalu saat aku menemuinya sehari sebelum aku menikah.

“wah, pengantin baru menjengukku.”kata appa terdengar gembira. Aku langsung memeluk appa. Dia membesarku seorang diri tanpa campur tangan yeoja lain karena eomma telah lama meninggal sejak aku kecil. Kami tinggal di hotel pertama yang appa bangun agar aku tidak kesepian dan appa bisa mengontrolku dengan dekat. Tapi, satu-satunya orang yang aku miliki kini terlihat lemah karena usia.

“bagaimana keadaan appa? Maaf, aku belum bisa mengunjungi dan menghubungimu, appa.”kataku sambil memeluknya yang terbaring dikasur.

“tidak masalah. Aku mengerti. Jadi, bagaimana dengan malam pertama kalian?”tanya appa dengan nada mengodaku.

“dia terlalu lelah appa. Aku belum bisa menikmati hidangan utama.”jawab ahjussi mesum itu dengan santai dengan wajah pokerfacenya membuat appa tertawa lepas tapi membuatku kesal dan ingin sekali rasanya membanting tubuhnya. Menghancurkan tulang-tulangnya. Sayangnya aku tidak punya kekuatan super seperti itu.

“appa punya hadiah untuk kalian. Ini.”kata appa sambil mengambil sesuatu dibawah bantalnya dan memberikan sebuah amplop padaku.

“tiket bulan madu. Kalian pergilah bersama dan pulang bertiga.”kata appa dengan memberikan kedipan mata padaku. Tapi, aku tidak mengerti.

“bertiga? Dengan siapa? Siapa yang ikut bersama kami saat pulang?”tanyaku penasaran.

“tentu saja dengan cucuku.”jawab appa tertawa keras. Jawaban appa membuat kepalaku sakit karena menahan malu. Appa tidak main-main. Aku yakin appa pasti sudah menaruh orang-orangnya saat kami bulan madu nanti untuk mengawasi.

“appa, sebenarnya kami tidak berencana bulan madu dalam waktu dekat. Appa tahukan bahwa kami punya proyek yang harus kami selesaikan segera.”tolakku dengan halus. Ku genggam tangan appa yang tidak terdapat selang infuse.

“tapi, bukankah proyek itu bisa ditunda sebentar? Hanya seminggu.”tawar appa dengan wajah sedihnya. Ini pertama kalinya appa memohon dengan memelas. Sebenarnya aku tidak kuat untuk menolaknya.

“alangkah baiknya kami melakukan bulan madu saat appa benar-benar sehat. Aku yakin Chaerin akan khawatir jika kami telalu lama meninggalkan appa pergi.”kata ahjussi itu dengan lembut. Kali ini dia menyelamatkanku.

“maafkan aku membuat kalian khawatir. Kalian boleh menunda bulan madunya, tapi jangan tunda lagi memberikanku cucu.”kata appa dengan nada sedikit mengancam membuatku binggung harus bilang apa.

“tenang saja, appa.”jawab ahjussi itu meyakinkan appa.

“kau sudah memanggilku dengan ‘appa’ tapi, kau tetap saja berbicara denganku terlalu formal. Aku orang tuamu sekarang bukan rekan kerjamu.”tegur appa.

“baiklah, appa.”jawab ahjussi itu dengan tersenyum lembut. Dia terlihat juga menyayangi appaku. Tapi, sikapnya padaku terlalu aneh. Dia memaksaku, menggodaku dan kini membelaku. Kalau dipikir-pikir memang tidak ada alasan kuat untuk memanfaatkanku.

Dia sudah sangat kaya, dia bisa mendapatkan yeoja
mana pun yang dia mau lalu, kenapa dia ingin berkomitmen denganku? Apakah benar dia tulus mencintaiku?

Ini sudah seminggu pernikahan kami. Kami memang tidur berdua, makan bersama dan waktuku memang banyak dihabiskan bersamanya dalam pekerjaan. Kami masih tinggal di hotelku karena sejak awal bangian paling atas hotel dijadikan ‘rumah’ . Proyek yang sedang perusahaan kami lakukan berjalan lancar sedangkan untuk hubungan kami dalam rumah tangga berjalan biasa saja. Ahjussi itu tidak memaksaku atau menciumku seperti dulu. Dia hanya akan mengecup keningku sebelum tidur dan sebelum dia pergi kerja dan memelukku. Tidak ada yang berlebihan. Ahjussi selalu perhatian padaku dan appa. Mungkin karena dia tidak punya keluarga sejak lama. Mungkin dia terlalu sibuk hingga tidak punya waktu mengodaku. Tapi, tidak juga karena kami selalu sarapan, makan siang dan makan malam bersama seperti saat ini.

“ada apa?”tanyanya sambil memotong daging steak yang ku masak untuk makan malam ini.

“tidak. Hanya saja sepertinya kau kelelahan. Ada apa? Apa ada masalah?”tanyaku. Sebenarnya aku hanya terlalu tenggelam dalam pikiranku, tapi lebih baik aku mengalihkan pembicaraan dan sedikit berbohong.

“waw, sepertinya my sweetheart mengkhawatirkanku. Aku senang.”jawabnya dengan tersenyum.

“sepertinya aku harus bilang padamu.”

“ada apa?”tanyaku. Sebenarnya aku tidak tertarik, tapi jika aku diam saja juga tidak mungkin.

“beberapa hari lagi Taeyang akan kembali ke Korea dalam beberapa hari. Aku rasa dia akan datang mengunjungimu.”jawabnya dan membuatku terdiam karena terkejut.

“sejak kapan kau tahu?”

“kemarin. Dia kesini karena menemui orang tuanya. Jika beberapa tahun lalu dia tidak bisa menemuimu karena kesibukanmu mungkin dia adakan menemuimu dengan alasan untuk menemuiku. Jangan cemas! Aku akan menemanimu, selalu.”katanya dengan menatapku lekat membuatku benar-benar percaya dengan janjinya.

Suasana kantorku sedikit senggang karena sebelumnya aku sudah jauh hari menyelesaikan pekerjaanku. Semenjak aku menikah semua berjalan lebih mudah dan terkontrol tentu saja berkat ahjussi itu menjadi suamiku. Dia selalu membantu pekerjaanku, mempermudahku berhubungan dengan pebisnis lain. Bahkan harga saham hotel milikku terus meningkat dan jumlah tamunya juga meningkat. Mungkin karena dia pebisnis luar yang sukses sehingga pebisnis lokal mudah mempercayainya dan itu juga menguntungkan untukku.

Seperti biasa aku mengeliling hotelku dan akhirnya aku beristirahat sebentar di hutan kecil yang masih di kawasan hotelku mencoba mencari ketenangan.

“sudah lama tidak bertemu denganmu. Aku tidak menyangka kita bertemu disini.”suara itu. Suara lembut yang sudah lama tidak terdengar olehku.

“Oppa.”kataku saat berbalik dan melihat dirinya. Dirinya yang entah kapan berhasilku lupakan dan kini aku takut perasaan itu muncul kembali.

“jika kau menganggapku sebagai oppamu seharusnya kau memberitahuku tentang pernikahanmu.”katanya dengan tersenyum manis seperti dulu. Tidak pernah berubah.

“aku menyerahkannya pada pengurus pernikahanku jadi aku tidak yakin undangan datang padamu.”kilahku.

“seharusnya kau mengatakan hubunganmu dengannya sebelumnya. Aku dan Soo Song terkejut karena mengetahuinya dari media.”

“kau sudah memiliki istri oppa, tidak mungkin aku bercerita denganmu lagi seperti dulu.”jawabku dingin. Kenapa dia harus membawa nama istrinya?

“ya, kau benar.”

“....”

“dia atasanku, pemilik perusahaan tempatku berkerja. Kau beruntung menikah dengannya karena dia tidak pernah berhubungan dengan yeoja manapun. Kalian sama-sama tidak berpengalaman dengan cinta.”kata Taeyang oppa. Aku benar-benar merasa canggung saat ini.

“tidak. Justru aku yang beruntung menikah dengannya.”kata ahjussi itu yang tiba-tiba muncul dengan memelukku dari belakang dan menaruh kepalanya di bahu kananku. Aku menggerakkan kepalaku ke kanan membuat bibir kami menyatu. Ini saatnya pertunjukan.

“kau sudah pulang, suamiku?”tanyaku dengan senyuman pada ahjusi genit ini. Dia malah semakin mengeratkan pelukannya padaku.

“belum, sweetheart. Bahkan ini belum jam makan siang. Tapi, aku terlalu merindukanmu makanya aku ada disini.”jawabnya sambil mengerakkan tubuhnya kekanan dan kiri dengan gerakan lembut sehingga tubuhku pun mengikutinya.

“aku juga baru saja memikirkanmu.”jawabku dan membuat lidahku gatal mengucapkannya.

“aku tahu.”jawabnya tertawa.

“oh maaf, aku melupakanmu. Kau siapa?”tanya Ahjussi itu dengan wajah penasaran. Jelas dia juga berakting bersamaku. Dia mengenal Taeyang oppa, bahkan dia mengenalku lewat undangan pertunangannya dulu. Tapi, kenapa dia seolah-olah tidak mengenalnya?

“maaf, mungkin anda melupakan saya. Saya Taeyang yang mengurus...”

“ah ya, aku ingat.”kata ahjussi itu langsung tanpa membiarkan Taeyang oppa selesai berbicara.

“ada perlu apa dengan istriku? Kalian saling mengenal?”tanya ahjusi itu dengan tatapan seakan ingin menelan Taeyang oppa hidup-hidup.

“kami hanya teman lama dan kebetulan keluarga kami cukup dekat sehingga aku berniat bertemu dengannya.”

“oh, maafkan aku. Aku sangat protektif. Aku tidak suka istriku menemui namja lain hanya berdua saja. Kau tahu, aku begitu tergila-gila dengannya.”kata ahjussi itu dan mengecup bibirku dengan santainya.

“seharusnya aku yang minta maaf, aku mengerti. Aku harap ada waktu lain kali agar kita bisa berbicara dengan nyaman. Aku harap anda tidak keberatan tuan Kwon?”

“istriku ini sedikit kelelahan akhir-akhir ini, maklum saja kami pengantin baru. Jika kami ada waktu kami akan menghubungimu.”jawab ahjussi itu dengan santai. Seakan yang menjadi pembicaraan adalah sebuah dongeng anak-anak.

“baiklah. Aku permisi dulu. Sampai jumpa.”kata Taeyang oppa pergi dengan senyuman manisnya.

“tidakkah kau terlalu berlebihan?”tanyaku saat Taeyang oppa benar-benar jauh dari kami.

“tidak, sayang. Memang benar seperti itu.”jawabnya dan dia mengecup leherku membuatku geli.

“geli, ahjussi mesum.”protesku dan melepaskan pelukannya.

“sweetheart, aku lebih senang kau memanggilku ‘suamiku’ seperti tadi.”katanya.

“jadi, kenapa kau kesini?” kataku tidak peduli dengan ucapannya.

“aku kan sudah bilang bahwa aku merindukanmu. Ah, ini sudah masuk jam makan siang. Ayo, kita makan!”ajaknya dengan semangat dan mengegam tanganku. Dia menyelamatkanku. Aku rasa dia tahu Taeyang oppa akan mencariku. Dia sama saja dengan appa, selalu mengawasiku.

Siang ini aku mengunjungi appa di rumah sakit, kali ini tidak dengan ahjussi karena dia ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan. Dan saat ini appa semakin membaik. Appa sudah bisa keluar dari kamar dibantu dengan kursi roda karena masih lemah.

“dimana Jiyong?”tanya appa saat dia melihatku masuk kemarnya.

“seharusnya appa menanyakan keadaanku dulu. Aku kan anakmu, appa.”candaku. ya, appa begitu menyayangi ahjussi itu. Mungkin karena mereka memiliki banyak kesamaan dan ahjussi tulus memperhatikan appaku.

“maaf, aku lupa hal itu.”kata appa membalas candaanku sambil tertawa.

“jadi bagaimana, apakah cucuku sudah ada disini?”tanya appa sambil menyentuh perutku.

“segera.”jawabku sambil tersenyum dan appa tersenyum lebar membuat dadaku sesak karena telah membohonginya.

“kapan aku bisa keluar dari kamar menyebalkan ini?”tanya appa dengan wajah kesalnya. Kamarnya tidaklah monoton seperti rumah sakit kebanyakkan.

Karena ini rumah sakit milik kami jadi ada kamar khusus untuk keluarga. Kamar appa sama luasnya dengan kamarnya di hotel dengan kasur lebih besar dari King size sehingga terkadang aku bisa tidur di samping appa karena menunggunya saat malam, terdapat TV dengan layar lebar dan di desain senyaman mungkin. Jika appa merasa bosan itu karena appa terbiasa berkerja sedangkan selama ini tidak ada pekerjaaan apapun untuknya selain makan dan tidur, jika itu bisa dihitung sebagai pekerjaan.

“mungkin beberapa hari lagi.”jawabku sambil mengingat perkataan dokter beberapa saat lalu saat aku menanyakan kondisi appa.

“syukurlah. Jadi, bulan madu kalian juga secepatnya.”

“appa.”

“kalian sudah lelah mengurusku dan pekerjaanya. Jadi,
tidak ada salahnya kalian beristirahat dan bersenang-senang berdua.”kata appa dengan tersenyum penuh arti.
.
.
.
.
Chaerin tertidur di kasur besar itu dengan appanya. Jiyong yang sejak tadi datang hanya duduk memperhatikan istrinya tertidur.

“kau tidak membawanya pulang?”tanya tuan Lee. Sebenarnya melihat Chaerin dalam keadaan tidur itu kebiasaan Jiyong beberapa hari ini setelah pernikahan mereka berlangsung. Yeoja pertama yang berhasil menyentuh hatinya yang dingin tidak pernah tersentuh cinta sejak lama dan mungkin cinta untuk selamanya.

“tidak, appa. Dia terlihat lelah. Dan tidak ada salahnya dia tidur bersamamu disini. Tapi, aku akan tetap tidur disampingnya. Aku sudah memesan kasur ektra untukku agar aku bisa tidur dibawah.”jawab Jiyong dan mertuanya tertawa.

“maafkan anakku yang telah merepotkanmu. Aku tahu
kau banyak membantunya dan banyak bersabar.”

“mungkin inilah cinta. Aku bahkan tidak keberatan menjadi pelindungnya, menjadi tempatnya bergantung dan target kekesalannya.”

“kau pasti tau pengecut itu kembali.”kata tuan Lee dengan nada kesal terselip dari perkataannya.

“ya, dia menemui Chaerin tadi. Tapi, untung saja aku segera datang.”

“dia lebih giat mencari keberadaan Chaerin saat ini. Aku dengar istrinya itu juga belum memiliki anak. Aku khawtir mendekati Chaerin lagi adalah alasannya kembali.”

“tidak akanku biarkan. Aku yakin Chaerin pun sebenarnya tidak mencintai namja itu sedalam yang dia kira.”

“mengenai bulan madu..”

“sebaiknya appa sehat dulu baru kita rencanakan lagi.
Aku serius. Jangan khawatirkan rumah tangga kami, appa. Karena aku akan mengikat Chaerin dan membuat Chaerin tidak akan mau ku lepaskan. Chaerin adalah yeoja pertamaku, cinta pertamaku oleh karena itu aku tidak berpengalaman masalah cinta tapi, bukan berarti aku tidak bisa membuatnya mencintaiku juga.”ucap Jiyong yakin.
.
.
.
.
Pagi telah datang, sinar matahari lewat gorden tipis membuat chaerin terbangun. Mendengar suara air mengalir dari kamar mandi dan melihat appanya tidak ada Chaerin yakin bahwa appanya dikamar mandi. Baru saja mau turun dari kasur kakinya menyenggol sesuatu. Saat Chaerin melihat kebawah, betapa kagetnya Chaerin melihat suaminya tidur dengan kasur tipis dibawah tanpa menganti pakaian yang dikenakannya sejak kemarin. Kenapa dia tidak membangunkanku dan mengajakku pulang?

“semalam suamimu itu melihat kau terlelap dan tidak tega membangunkanmu. Padahal aku sudah menyuruhnya untuk membawamu pulang?”kata appa yang tidur di sampingku.

“appa tidak suka aku menginap disini?”

“tentu saja aku tidak suka karena itu bisa menunda
keberadaan cucuku.”kata appa dengan nada mengambek membuatku jadi merasa bersalah.

“maafkan aku, appa. Sebaiknya aku mandi dulu.”kataku sambil beranjak dari kasur dan melangkah ke kamar mandi dengan hati-hati. Kejadian kemarin, saat Taeyang oppa mendatangiku aku merasa tertolong dengan kehadiran ahjusshi. Dia menjagaku seperti janjinya. Dia mengerti dan memperlakukanku dengan baik. Haruskah aku belajar mencintainya? Dan membuat harapan appa menjadi kenyataan? Sudah siapkah aku?

Aku ke luar dari kamar mandi dengan baju yang sama karena aku kehabisan baju gantiku. Aku tidak melihat appa di kasur dan hanya ahjusshi mesum itu yang masih tertidur di lantai dengan pulasnya. Kasihan sekali. Selama kami tidur bersama, dia selalu bangun lebih dulu dibandingkan denganku. Aku belum pernah melihat wajah tidurnya selama ini. Bulu matanya ternyata cukup panjang, bibirnya tipis dan.. sial, kenapa aku malah menilai wajahnya?

“ahjussi bangun.”teriakku agar membangunkannya.

“hmm...”katanya bergumam pelan.

“ayolah bangun, kita harus sarapan, ahjussi!”kataku sambil menepuk pelan pipinya agar dia terbangun.
Grep. Tangannya yang kokoh memegang pergelangan tanganku dengan kuat. Matanya masih tertutup. Dengan perlahan dia mennggerakkan tanganku dipipinya membuat tanganku mengelus pipinya yang mulai di tumbuhi rambut-rambut.

“bangunkan suamimu seperti ini. Maka itu bisa membuatku semakin semangat menjalani hariku.”katanya seakan bergumam karena matanya masih tertutup. Secara cepat kini wajah ahjussi itu sudah di depan wajahku dan matanya terbuka. Dia sudah bangun.

“alangkah baiknya jika di tutup dengan kecupan.”katanya tersenyum dan mengecup bibirku dengan cepat.

“seperti ini.”katanya lalu mengelus pipiku dan menghilang di balik pintu kamar mandi. Jantungku berdetak dengan menggila. Apa aku terkena serangan jantung ringan??
.
.
.
TBC

LOST AND GIVE PART 4

LOST AND GIVE [Part 4]
.
.
.
.
Author : Kim Daisy
Cast : SkyDragon, Taeyang dan Soo Song
Rate : PG 17
Pict : Ahelnyann (thks bgt cover kecenya)
***
.
.
Aku kembali terjatuh di kasur, sedangkan ahjussi kini berada di atasku dengan jarak yang tidak jauh. Ahjussi itu membuka kemejanya dengan gerakan sensual . Badannya tidak memiliki otot-otot besar seperti para atlet atau pria yang sangat menggilai olah raga. Tapi, otot-otot di tubuhnya di posisi dan bentuk yang pas menurutku. Dia memiliki sixpack, otot di bagian lengannya dan kulit yang kecoklatan menunjukkan dia lebih macho karena hasil olahraga outdoor, menurutku. Tubuhnya tidak terlalu besar tapi, aku yakin akan nyaman berada di pelukannya, menyentuh otot-otot dan tattoo yang melekat di tubuh sexynya.

Tangannya di kiri-kanan tubuhku menahan tubuhnya agar tidak menindihku. Dia mengecup keningku, kedua pipiku, lalu membelai pipiku dengan lembut. Ada reaksi aneh pada tubuhku, aku menyukai sentuhannya hingga aku memejamkan mataku. Sesuatu yang lembut terasa dibibirku menggoda untukku rasakan lebih lagi.

Tunggu. WHAT!? Dia mau memperkosaku?
Memperkosaku? Sial! Kenapa aku menjadi senang? Seharusnya aku takut dan melawan saat ahjusii tampan ini menindihku seperti ini. Ayo, kau harus melawan Chaerin! kau harus! Tapi, kenapa aku tidak bisa bergerak? Padahal dia tidak menahanku sama sekali. Aku terlalu lemah sekarang karena merasakan godaannya.

“kenapa? Terlalu terpesona hingga tidak bisa melawan atau kau juga menginginkannya?” katanya dengan nada mengejek.

“harapanmu!” kataku kesal dan mendorongnya karena mendapat kekuatan lebih setelah mendengar ucapannya yang menjengkelkan. Aku pun terlepas dari gangguannya. Tapi, ahjussi itu tertawa.

“cepat atau lambat hal itu akan terjadi karena itu hakku. Jadi, bersiaplah istriku.” katanya dengan senyuman menggoda, mengecup bibirku dengan cepat dan keluar dari kamar.

“menyebalkan! Gila! Tidak waras! Tua! Mesum!” teriakku kesal sambil melepar bantal yang ada di dekatku. Menyebalkan. Aku akan membalasnya!
.
.
.
.
Aku segera mandi, berniat untuk menjenguk appaku yang masih harus di rawat di rumah sakit. Sedangkan ahjussi mesum itu hingga aku turun untuk makan pun dia belum muncul. Entah dimana keberadaannya sekarang. Ini rumit bagiku. Katanya dia menyukaiku, aku satu-satunya yeoja yang di inginkan untuk menjadi istrinya. Tapi, apakah itu hanya sebuah ambisi? Tapi, ambisi apa? Aku tidaklah secantik atau seimut aktris atau tokoh idol di televisi. Aku juga tidak sexy seperti mereka karena aku selalu berpakaian formal. Kekayaan? Bahkan dia jauh-jauh lebih kaya dariku. Lalu, apa yang membuat dia sangat tertarik denganku?

“karena kita sudah di tetapkan tuhan untuk saling memiliki. Buat saja semua menjadi simple karena aku juga begitu mudahnya untuk mencintaimu.” seseorang mengecup kelapaku dan aku sadar bahwa dialah ahjussi mesum. Namja yang membuat kepalaku hampir pecah menahan emosi. Entah dia bisa membaca pikiranku atau kalimatnya hanya kebetulan sedikit menjawab pertanyaan-pertanyaan di pikiranku.

“aku tidak bisa membaca pikiranmu tapi, karena aku begitu mengenalmu kau sudah seperti buku terbuka bagiku, istriku.” katanya dengan memberikan senyuman menggoda sayangnya aku tidak tergoda. Lalu, dia duduk berhadapan denganku untuk makan bersama.

“hari ini kau ingin menjenguk appa, sweetheart?” tanyanya mesra. Anehnya aku tidak pernah jijik saat dia memanggilku sayang, sweetheart atau istriku. Semua terdengar natural berbeda saat Tae.. ah kenapa aku malah memikirkan hal itu.

“ya, appa tidak bisa datang di hari itu dan aku tidak menghubunginya jadi dia pasti khawatir.” jawabku sambil menyendokkan makanan ke mulutku. Ahjussi itu menatapku lekat.

“kenapa kau tidak makan?” tanyaku dan dia langsung mengambil sendoknya.

“kau tau, tidak perlu menggunakan baju tipis dan terbuka. Kau makan saja bisa terlihat sexy dimataku dan membuatku ‘lapar’. Sangat. ” jawabnya dengan santai. Reflek aku meleparkan sendok yang ku pegang dan sayangnya meleset, sendok itu langsung terjatuh dilantai.

“kata-katamu apa tidak bisa tidak berbau vulgar, ahjussi mesum?” bentakku. Entah kenapa jiwa dominanku tidak bisa mempengaruhinya. Aku selalu kalah berdebat dengannya.

“kau memanggilku ahjussi mesum? Itu artinya yang berbau vulgar adalah identitasku. Lagian aku tidak berbicara vulgar. Aku hanya berbicara jujur. Sungguh. Dan berhenti memanggilku ahjussi, aku bukan fedofil.” katanya dengan santai sambil makan dengan tenang seakan topic yang kami bicarakan tidaklah serius.

“umur kita berbeda hampir 10 tahun, jika saja umurmu tidak menimbulkan efek lupa.” jawabku kesal. Selera makanku hilang.

“hampir jauh berbeda dengan kata sama, sweetheart. Aku akan menemanimu menemui appa. Dia akan khawatir jika kau pergi sendiri.” ucapnya sambil makan dengan tenang tapi, membuatku justru ingin segera meninggalkan tempat ini. Jauh dari dirinya.
.
.
.
.
.
Aku masuk ke kamar appa sedangkan ahjussi mesum itu ada dibelakangku. Wajah appa tidak sepucat 3 hari lalu saat aku menemuinya sehari sebelum aku menikah.

“wah, pengantin baru menjengukku.”.kata appa terdengar gembira. Aku langsung memeluk appa. Dia membesarku seorang diri tanpa campur tangan yeoja lain karena eomma telah lama meninggal sejak aku kecil. Kami tinggal di hotel pertama yang appa bangun agar aku tidak kesepian dan appa bisa mengontrolku dengan dekat. Tapi, satu-satunya orang yang aku miliki kini terlihat lemah karena usia.

“bagaimana keadaan appa? Maaf, aku belum bisa mengunjungi dan menghubungimu, appa.” kataku sambil memeluknya yang terbaring dikasur.

“tidak masalah. Aku mengerti. Jadi, bagaimana dengan malam pertama kalian?” tanya appa dengan nada menggodaku.

“dia terlalu lelah appa. Aku belum bisa menikmati hidangan utama.” jawab ahjussi mesum itu dengan santai dengan wajah pokerfacenya membuat appa tertawa lepas tapi membuatku kesal dan ingin sekali rasanya membanting tubuhnya. Menghancurkan tulang-tulangnya. Sayangnya aku tidak punya kekuatan super seperti itu.

“appa punya hadiah untuk kalian. Ini.” kata appa sambil mengambil sesuatu dibawah bantalnya dan memberikan sebuah amplop padaku.

“tiket bulan madu. Kalian pergilah bersama dan pulang bertiga.” kata appa dengan memberikan kedipan mata padaku. Tapi, aku tidak mengerti.

“bertiga? Dengan siapa? Siapa yang ikut bersama kami saat pulang?” tanyaku penasaran.

“tentu saja dengan cucuku.” jawab appa tertawa keras. Jawaban appa membuat kepalaku sakit karena menahan malu. Appa tidak main-main. Aku yakin appa pasti sudah menaruh orang-orangnya saat kami bulan madu nanti untuk mengawasi.

“appa, sebenarnya kami tidak berencana bulan madu dalam waktu dekat. Appa tahukan bahwa kami punya proyek yang harus kami selesaikan segera.” tolakku dengan halus. Ku genggam tangan appa yang tidak terdapat selang infuse.

“tapi, bukankah proyek itu bisa ditunda sebentar? Hanya seminggu.” tawar appa dengan wajah sedihnya. Ini pertama kalinya appa memohon dengan memelas. Sebenarnya aku tidak kuat untuk menolaknya.

“alangkah baiknya kami melakukan bulan madu saat appa benar-benar sehat. Aku yakin Chaerin akan khawatir jika kami telalu lama meninggalkan appa pergi.” kata ahjussi itu dengan lembut. Kali ini dia menyelamatkanku.

“maafkan aku membuat kalian khawatir. Kalian boleh menunda bulan madunya, tapi jangan tunda lagi memberikanku cucu.” kata appa dengan nada sedikit mengancam membuatku bingung harus bilang apa.

“tenang saja, appa.” jawab ahjussi itu meyakinkan appa.

“kau sudah memanggilku dengan ‘appa’ tapi, kau tetap saja berbicara denganku terlalu formal. Aku orang tuamu sekarang bukan rekan kerjamu.” tegur appa.

“baiklah, appa.” jawab ahjussi itu dengan tersenyum lembut. Dia terlihat juga menyayangi appaku. Tapi, sikapnya padaku terlalu aneh. Dia memaksaku, menggodaku dan kini membelaku. Kalau dipikir-pikir memang tidak ada alasan kuat untuk memanfaatkanku. Dia sudah sangat kaya, dia bisa mendapatkan yeoja mana pun yang dia mau lalu, kenapa dia ingin berkomitmen denganku? Apakah benar dia tulus mencintaiku?
.
.
.
.
.
Ini sudah seminggu pernikahan kami. Kami memang tidur berdua, makan bersama dan waktuku memang banyak dihabiskan bersamanya dalam pekerjaan. Kami masih tinggal di hotelku karena sejak awal bangian paling atas hotel dijadikan ‘rumah’ . Proyek yang sedang perusahaan kami lakukan berjalan lancar sedangkan untuk hubungan kami dalam rumah tangga berjalan biasa saja. Ahjussi itu tidak memaksaku atau menciumku seperti dulu. Dia hanya akan mengecup keningku sebelum tidur dan sebelum dia pergi kerja dan memelukku. Tidak ada yang berlebihan. Ahjussi selalu perhatian padaku dan appa. Mungkin karena dia tidak punya keluarga sejak lama. Mungkin dia terlalu sibuk hingga tidak punya waktu menggodaku. Tapi, tidak juga karena kami selalu sarapan, makan siang dan makan malam bersama seperti saat ini.

“ada apa?” tanyanya sambil memotong daging steak yang ku masak untuk makan malam ini.

“tidak. Hanya saja sepertinya kau kelelahan. Ada apa? Apa ada masalah?” tanyaku. Sebenarnya aku hanya terlalu tenggelam dalam pikiranku, tapi lebih baik aku mengalihkan pembicaraan dan sedikit berbohong.

“waw, sepertinya my sweetheart mengkhawatirkanku. Aku senang.” jawabnya dengan tersenyum.

“sepertinya aku harus bilang padamu.”

“ada apa?” tanyaku. Sebenarnya aku tidak tertarik, tapi jika aku diam saja juga tidak mungkin.

“beberapa hari lagi Taeyang akan kembali ke Korea dalam beberapa hari. Aku rasa dia akan datang mengunjungimu.” jawabnya dan membuatku terdiam karena terkejut.

“sejak kapan kau tahu?”

“kemarin. Dia kesini karena menemui orang tuanya. Jika beberapa tahun lalu dia tidak bisa menemuimu karena kesibukanmu mungkin dia adakan menemuimu dengan alasan untuk menemuiku. Jangan cemas! Aku akan menemanimu, selalu.” katanya dengan menatapku lekat membuatku benar-benar percaya dengan janjinya.
.
.
.
.
.
Suasana kantorku sedikit senggang karena sebelumnya aku sudah jauh hari menyelesaikan pekerjaanku. Semenjak aku menikah semua berjalan lebih mudah dan terkontrol tentu saja berkat ahjussi itu menjadi suamiku. Dia selalu membantu pekerjaanku, mempermudahku berhubungan dengan pebisnis lain. Bahkan harga saham hotel milikku terus meningkat dan jumlah tamunya juga meningkat. Mungkin karena dia pebisnis luar yang sukses sehingga pebisnis lokal mudah mempercayainya dan itu juga menguntungkan untukku.

Seperti biasa aku mengelilingi hotelku dan akhirnya aku beristirahat sebentar di hutan kecil yang masih di kawasan hotelku mencoba mencari ketenangan.

“sudah lama tidak bertemu denganmu. Aku tidak menyangka kita bertemu disini.”suara itu. Suara lembut yang sudah lama tidak terdengar olehku.

“Oppa.” kataku saat berbalik dan melihat dirinya. Dirinya yang entah kapan berhasil ku lupakan dan kini aku takut perasaan itu muncul kembali.

“jika kau menganggapku sebagai oppamu seharusnya kau memberitahuku tentang pernikahanmu.” katanya dengan tersenyum manis seperti dulu. Tidak pernah berubah.

“aku menyerahkannya pada pengurus pernikahanku jadi aku tidak yakin undangan datang padamu.” kilahku.

“seharusnya kau mengatakan hubunganmu dengannya sebelumnya. Aku dan Soo Song terkejut karena mengetahuinya dari media.”

“kau sudah memiliki istri oppa, tidak mungkin aku bercerita denganmu lagi seperti dulu.” jawabku dingin. Kenapa dia harus membawa nama istrinya?

“ya, kau benar.”

“....”

“dia atasanku, pemilik perusahaan tempatku berkerja. Kau beruntung menikah dengannya karena dia tidak pernah berhubungan dengan yeoja manapun. Kalian sama-sama tidak berpengalaman dengan cinta.” kata Taeyang oppa. Aku benar-benar merasa canggung saat ini.

“tidak. Justru aku yang beruntung menikah dengannya.” kata ahjussi itu yang tiba-tiba muncul dengan memelukku dari belakang dan menaruh kepalanya di bahu kananku. Aku menggerakkan kepalaku ke kanan membuat bibir kami menyatu. Ini saatnya pertunjukan.

“kau sudah pulang, suamiku?” tanyaku dengan senyuman pada ahjusi genit ini. Dia malah semakin mengeratkan pelukannya padaku.

“belum, sweetheart. Bahkan ini belum jam makan siang. Tapi, aku terlalu merindukanmu makanya aku ada disini.” jawabnya sambil menggerakkan tubuhnya kekanan dan kiri dengan gerakan lembut sehingga tubuhku pun mengikutinya.

“aku juga baru saja memikirkanmu.” jawabku dan membuat lidahku gatal mengucapkannya.

“aku tahu.” jawabnya tertawa.

“oh maaf, aku melupakanmu. Kau siapa?” tanya Ahjussi itu dengan wajah penasaran. Jelas dia juga berakting bersamaku. Dia mengenal Taeyang oppa, bahkan dia mengenalku lewat undangan pertunangannya dulu. Tapi, kenapa dia seolah-olah tidak mengenalnya?

“maaf, mungkin anda melupakan saya. Saya Taeyang yang mengurus...”

“ah ya, aku ingat.” kata ahjussi itu langsung tanpa membiarkan Taeyang oppa selesai berbicara.

“ada perlu apa dengan istriku? Kalian saling mengenal?” tanya ahjusi itu dengan tatapan seakan ingin menelan Taeyang oppa hidup-hidup.

“kami hanya teman lama dan kebetulan keluarga kami cukup dekat sehingga aku berniat bertemu dengannya.”

“oh, maafkan aku. Aku sangat protektif. Aku tidak suka istriku menemui namja lain hanya berdua saja. Kau tahu, aku begitu tergila-gila dengannya.” kata ahjussi itu dan mengecup bibirku dengan santainya.

“seharusnya aku yang minta maaf, aku mengerti. Aku harap ada waktu lain kali agar kita bisa berbicara dengan nyaman. Aku harap anda tidak keberatan tuan Kwon?”

“istriku ini sedikit kelelahan akhir-akhir ini, maklum saja kami pengantin baru. Jika kami ada waktu kami akan menghubungimu.” jawab ahjussi itu dengan santai. Seakan yang menjadi pembicaraan adalah sebuah dongeng anak-anak.

“baiklah. Aku permisi dulu. Sampai jumpa.” kata Taeyang oppa pergi dengan senyuman manisnya.

“tidakkah kau terlalu berlebihan?” tanyaku saat Taeyang oppa benar-benar jauh dari kami.

“tidak, sayang. Memang benar seperti itu.” jawabnya dan dia mengecup leherku membuatku geli.

“geli, ahjussi mesum.” protesku dan melepaskan pelukannya.

“sweetheart, aku lebih senang kau memanggilku ‘suamiku’ seperti tadi.” katanya.

“jadi, kenapa kau kesini?” kataku tidak peduli dengan ucapannya.

“aku kan sudah bilang bahwa aku merindukanmu. Ah, ini sudah masuk jam makan siang. Ayo, kita makan!” ajaknya dengan semangat dan menggenggam tanganku. Dia menyelamatkanku. Aku rasa dia tahu Taeyang oppa akan mencariku. Dia sama saja dengan appa, selalu mengawasiku.

Siang ini aku mengunjungi appa di rumah sakit, kali ini tidak dengan ahjussi karena dia ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan. Dan saat ini appa semakin membaik. Apa sudah bisa keluar dari kamar dibantu dengan kursi roda karena masih lemah.

“dimana Jiyong?” tanya appa saat dia melihatku masuk kemarnya.

“seharusnya appa menanyakan keadaanku dulu. Aku kan anakmu, appa.” candaku. ya, appa begitu menyayangi ahjussi itu. Mungkin karena mereka memiliki banyak kesamaan dan ahjussi tulus memperhatikan appaku.

“maaf, aku lupa hal itu.” kata appa membalas candaanku sambil tertawa.

“jadi bagaimana, apakah cucuku sudah ada disini?” tanya appa sambil menyentuh perutku.

“segera.” jawabku sambil tersenyum dan appa tersenyum lebar membuat dadaku sesak karena telah membohonginya.

“kapan aku bisa keluar dari kamar menyebalkan ini?” tanya appa dengan wajah kesalnya. Kamarnya tidaklah monoton seperti rumah sakit kebanyakkan. Karena ini rumah sakit milik kami jadi ada kamar khusus untuk keluarga. Kamar appa sama luasnya dengan kamarnya di hotel dengan kasur lebih besar dari King size sehingga terkadang aku bisa tidur di samping appa karena menunggunya saat malam, terdapat TV dengan layar lebar dan di desain senyaman mungkin. Jika appa merasa bosan itu karena appa terbiasa berkerja sedangkan selama ini tidak ada pekerjaaan apapun untuknya selain makan dan tidur, jika itu bisa dihitung sebagai pekerjaan.

“mungkin beberapa hari lagi.”jawabku sambil mengingat perkataan dokter beberapa saat lalu saat aku menanyakan kondisi appa.

“syukurlah. Jadi, bulan madu kalian juga secepatnya.”

“appa.”

“kalian sudah lelah mengurusku dan pekerjaanya. Jadi, tidak ada salahnya kalian beristirahat dan bersenang-senang berdua.” kata appa dengan tersenyum penuh arti.
.
.
.
.
To Be Continued.