jangan lupa

JANGAN LUPA KOMENTAR YA..

Rabu, 24 Februari 2016

Get a Ready [part 4]





Get a Ready [part 4]
Author: Kim Daisy
Cast: SkyDragon, dkk
Genre: roman, hurt
Rate : Adult
Lenght : MultyChapter
warning! FF ini perlu pemahaman lebih complex. Maaf, kalau terlalu banyak tokoh OC dan OOC disini karena yah.. saya suka. *plak!
Ok, ini ff sangat panjang jadi sabar ya...

“apa yang salah? Selama seminggu ini kita menikah tapi, kau histeris karena melihatku akan buang air?”kata Jiyong memberikan menekanan pada kata ‘akan’.
“Mwo? MENIKAH??”Teriakku sambil membuka selimut yang sebelumnya menutupi seluruh tubuhku dan jiyong duduk di pinggir kasur tersenyum manis.
“kau gila?!”kataku sambil meleparkan bantal padanya. Jiyong tidak menghindar sehingga bantal mengenai tubuhnya. Dia tertawa lalu berdehem itu menahan tawanya.
“pintu kamar mandi itu tidak bisa dikunci. Jadi aku tidak menguncinya. Kau pingsan karena wartawan-wartawan gila itu jadi aku membawamu kesini. Karena kau sudah tidak- apa-apa.. ayo, kita pulang! Dami nuna akan menjadi monster karena menunggu kita”ajaknya.
“ah... perhiasan itu ada denganku.”kata Jiyong yang menunggu aku berdiri dari kasur.
“ok, baiklah. Tapi, sebelumnya kita harus komplen dengan hotel ini karena kamar mewahnya ternyata pintu kamar mandinya tidak berfungsi.”kataku mengomel sambil beranjak dari kasur. Sebenarnya aku sungguh malu dan memarahi seseorang yang memang bersalah seharusnya tidak menjadi masalah.
“ya.. tapi, kau tidak ingin ke kamar mandi dulu?”Tanya Jiyong hati-hati.
“tidak lagi. Ayo!”kataku.

“ingin bertemu dengan nuna dulu atau langsung pulang?”Tanya Jiyong lembut saat kami di dalam mobil.
“aku ikut saja. Tadi, kau mendadak pergi sehingga aku membayar cincin mahal ini. Aku menuntutnya ganti rugi.”balasku.
“hahaha... maafkan aku! Mendadak seseorang menarikku untuk foto bersama.”jawabnya sambil tertawa.
“tapi, rahasiakan soal pingsan itu.”perintahku.
“ne, nona muda!”jawabnya lalu sebuah senyuman tipis terlihat di wajahnya yang masih mengemudi dan aku ikut tersenyum karena jawabnya.

Sesampai di kediaman keluarga Kwon seperti biasa omma Jiyong menyambutku dengan ramah. Dami unnie sibuk dengan perawatan wajah yang sekarang sedang di jalaninya. Mereka tidak perlu ke salon atau ke tempat perawatan tubuh mana pun karena mereka memiliki salah satu perusahan perawatan dan kecantikan terbaik. Mereka juga memiliki tempat khusus di dalam rumah untuk perawatan sehingga ahli kecantikan itu di datangan ke rumah mereka. Benar-benar dimanjakan.
“aku baru saja selesai menyiapkan makan siang. Kalian datang tepat waktu sekali, ayo kita makan bersama.”ajak omma Jiyong sambil menarikku pelan.
“ne, ahjuma. Kebetulan aku sudah lapar sekali. Jiyong tidak mengajakku makan siang. Bahkan dia tidak membelikan aku minuman.”kaduku.
“wah, kalau begitu jangan mau pergi dengan Jiyong lagi, sayang.”kata omma Jiyong lembut.
“ne, ahjuma.”jawabku sambil duduk di meja makan. Jiyong terlihat tidak peduli walau aku yakin dia mendengar percakapan kami. Di sebuah meja makan yanag berbentuk lingkaran besar, berisikan masakan beraneka makanan khas Korea. Jiyong berada di hadapanku dengan beberapa kursi kosong memisahkan kami dan omma Jiyong tepat di sebelah kananku. Omma Jiyong memberikan daging panggang di piringku begitu juga untuk Jiyong. Keluarga Jiyong dan keluargaku sangat dekat hanya saja, Jiyong sangat dekat dengan keluargaku hingga memanggil orang tuaku dengan “omma dan aboji”. Jiyong sangat dekat dengan appa karena appa tidak memiliki anak laki-laki, itu sudah pasti.
“ah.. bagaimana dengan cincinnya?”kata Dami unnie yang datang dengan wajah yang sudah bersih tanpa cream kecantikan.
“sulit untuk menemukan cincin sesuai seleramu, unnie. Ah, Jiyong meninggalkanku sehingga aku yang membayarnya terlebih dahulu. Kau harus mengantinya 2 kali lipat.”kataku sambil bercanda.
“karena Jiyong yang meninggalkanmu Jiyong yang harus membayarnya.”jawab Dami unnie santai dengan mengambil sayuran menggunakan jarinya lalu memasukkannya kedalam mulut.
“ckckck.. pengantin wanita yang jorok.”kata omma Jiyong sambil memukul tangan Dami unnie.
“mwo?? Kenapa aku?!”Jiyong protes.
“kau punya hutang padaku.”jawab Dami unnie tidak mau kalah.
“sial.”gumam Jiyong pelan mengingat kesalahannya. Aku tertawa kecil melihat ekpresi wajah Jiyong yang lucu.

Jiyong mematikan mesin mobilnya setelah kami sampai di apartemen. Aku keluar terebih dahulu dan Jiyong mengikutiku dibelakang karena dia memang tinggal di apertemen sebelahku.
“walau lelah, hari ini aku senang.”kataku sambil membalikkan tubuhku melihat Jiyong yang dibelakangku. Jiyong menghentikan langkah kakinya, wajahnya terlihat terkejut. Aku berbalik dan melanjutkan langkahku kembali.
Hari ini aku senang karena Jiyong setidaknya bersikap wajar padaku.
Grep.
“sebentar. Aku mohon.”
Kupikir dia sudah baik-baik saja. Dia memang perlu waktu karena sudah menyukaiku cukup lama.

Author Pov
Jiyong memeluk Chaerin secara tiba-tiba. Membuat Chaerin kaget tapi, Chaerin hanya diam membiarkan Jiyong memeluknya karena tahu bahwa Jiyong memerlukan waktu.
‘aku rindu saat aku memelukmu, Lee Chaerin. Dulu aku bisa bermanja-manja denganmu tapi, itu dulu. Saat melihatmu tersenyum, aku ikut tersenyum untukmu. Hanya padamu. Tiba-tiba aku tersadar kau tidak disisiku lagi. Kau tidak disisiku lagi dan semua hanya mimpi dari masa lalu. Sekarang kau disampingku tetapi, tidak bisa ku gapai. Mungkin aku merindukanmu. Tidak! Aku benar-benar sangat merindukanmu, Lee Chaerin.’batin Jiyong.

FLASH BACK
“Chaerin.. aku ingin minum susu.”kata Jiyong dengan bibirnya yang dimajukan. Chaerin tersenyum melihat ekpresi Jiyong yang menggemaskan.
“kau sudah habiskan segelas susu 15 menit lalu, Jiyong.”kata Chaerin lembut.
“tapi, aku ingin minum susu. Susu, Chae. Susu.”kata Jiyong yang masih berumur 4 tahun. Jiyong tidak menangis, dia hanya sedang mengambek.
“oh, baiklah. Tapi, peluk aku dulu.” Dan Jiyong langsung berlari memeluk Chaerin.
“cium pipiku!”kata Chaerin memerintah dan Jiyong lagi-lagi menuruti.
“lagi!”kata Chaerin sambil tersenyum. Jiyong yang tidak sabar pun langsung mencium kedua pipi Chaerin dan.
Chu. Jiyong mencium bibir Chaerin dengan polosnya. Chaerin pun tertawa karena Jiyong hanya anak-anak dan Jiyong tersenyum dengan manisnya.
“baiklah. Duduklah dulu sambil menonton Pororo, aku akan membuatkan susu. Ok?”
“ok!”
“high five!”kata Chaerin dan Jiyong memberikan high five padanya. Mereka terlihat sangat senang.

Memeluk Chaerin, mencium Chaerin itu sudah menjadi suatu kebiasaan untuk Jiyong kecil. Tapi, semenjak dia beranjak remaja Chaerin meminta Jiyong untuk tidak memeluknya lagi. Walau tidak menyukai permintaan Chaerin itu, Jiyong tetap menurutinya karena mengerti perbedaan situasinya.

Flashback and

Foto dan berita Jiyong yang mengendong Chaerin di sebuah pusat pembelanjaan dari televisi mau pun media lainnya membuat gempar rumah sakit. Berita itu menyebar begitu cepat, padahal Jiyong sudah lama keluar dari dunia idol. Ternyata Fansnya tetap setia padanya. Tapi, kini Chaerin menerima efek dari berita tersebut. Perawat, pasien bahkan dokter-dokter wanita menatap Chaerin dengan tatapan tidak suka. Jiyong terlihat binggung dengan sikap seperti apa agar Chaerin tidak diperlakukan seperti itu lagi tapi, Chaerin sendiri seolah tidak peduli. Chaerin berfikir bahwa dalam beberap hari lagi gossip itu juga akan hilang.
“kau bilang kalian tidak punya hubungan seperti itu lalu kenapa dia menggendongmu? Kau sudah lihat fotonya kan? Kalian seperti syuting film dongeng untuk anak-anak.”ledek dokter Park saat Chaerin baru saja menempelkan dirinya di kursi kerjanya.
“ah.. aku benar-benar tidak menyangka aku akan di vonis mati tanpa melakukan persidangan.”jawab Chaerin ambigu tetapi, Dokter Park mengerti apa yang dikatakan Chaerin sehingga Dokter Park tertawa.
“lain kali kalian kalau sedang jalan-jalan bawalah aku. Gossip percintaan remaja akan terhindar.”jawab Dokter Park.
“kau ingin ikut terkenal dan masuk berita gossip kan?”canda Chaerin tapi, dengan tatapan tajam seakan sedang menyelidik.
“bukan! Ikut terkenal dengan kalian itu adalah bonus. Yang aku incar adalah makan bersama Jiyong dan berfoto dengannya.”jelas dokter Park sambil menatap ke atas seakan dia melihat khayalannya di atas.
“kau bukan Gay kan?”celetuk Chaerin membuat dokter Park kaget sehingga khayalannya tiba-tiba musnah.
“hey... aku akan menjadi terkenal oleh teman-temanku jika aku menjadi teman dekat Jiyong.”
“mimpi saja kau!”balas Chaerin dan Dokter Park lagi-lagi tertawa.
“ku pikir kau membencinya karena menurunkan kadar ketampananmu.”goda Chaerin.
“kau gila? Ketampananku ini abadi dan tidak akan berkurang.”jawab Dokter Park membuat Chaerin tertawa lepas.
“yak, Chaerin! kalian benar berkencan?!”teriak Jiyon masuk tiba-tiba dengan jas dokternya.
“ah.. apa perlu aku melakukan konfrensi pers?”kata Chaerin yang binggung dengan salah satu teman dekatnya yang datang dari departemen kandungan ke departemennya hanya karena masalah ini.
“sepertinya memang perlu.”jawab dokter Park sambil tertawa kecil.

Acara pertunangan Dami tidak begitu ramai hanya ada keluarga besar dan kerabat terdekat. Jika semua kerabat diundang mungkin setengah penduduk Korea akan berkumpul di gedung milik keluarga Kwon ini, mengingat keluarga Kwon begitu berpengaruh di Korea. Dan yang katanya hanya kerabat terdekat saja ruangan ini sudah seperti kereta api di jam pulang kerja, begitu penuh. Chaerin berjalan menuju ke calon pengantin, Dami dan Seung Hyun dengan susah payah karena tamu tak kunjung berhenti menghampiri sang calon pengantin.

Saat Chaerin semakin mendekat Seung Hyun tersenyum pada Chaerin.
“mana janjimu, oppa? Kau bilang akan memberikanku hadiah! Aku sudah lama menunggu hadiahku.”kata Chaerin saat mendekat pada mereka.
“seharusnya kau memberikan selamat pada kami terlebih dahulu.”tegur Seung Hyun sambil tertawa. Seung Hyun menjadi lebih tampan karena dia benar-benar terlihat sangat bahagia.
“baiklah, selamat atas pertunangan kalian. Sekarang mana hadiahku!”kata Chaerin membuat tawa pasangan itu semakin lepas.
“hey.. aku sudah membuatmu menuju kepernikahan yang bahagia dengan Dami unnie, sekarang waktunya memberikanku hadiahnya.”kata Chaerin memaksa bagaikan ahjuma pemilik rumah sewa.
“kau ini! Bagaimana cara menjinakkanmu?”kata Dami.
“aku akan memberikannya segera.”jawab Seung Hyun.
“benarkah? Apa hadiahnya?”Tanya Chaerin bersemangat.
“karena kau telah memberikanku pasangan hidup yang sangat sempurna untukku, aku akan memberikan pasangan hidupmu.”Jawab Seung Hyun.
“ah.. aku tidak butuh.”
“mwo?!”kata Seung Hyun binggung.
“tentu saja dia tidak butuh. Dia sudah memiliki Jiyong.”kata Dami dengan penekanan.
“kau suka pria muda. Ckckck...”kata Seung Hyun berdecak tapi, sebenarnya dia sudah mengetahui rumit hubungan calon adik iparnya dan Chaerin yang dia anggap sebagai sahabatnya.
“itu hanya gossip. Ah.. bilang saja hadiahku tidak ada.”protes Chaerin.
“ah.. gadis ini benar-benar.”kata Seung Hyun mengeleng-gelengkan kepalanya, karena kewalahan melawan Chaerin.
“oppa, apakah kau mengundang Minyu ke pernikahanmu?”Tanya Chaerin. wajah Seung Hyun berubah seketika dan setelah itu perubahan itu tidak terlihat lagi.
“dia? Kenapa aku harus mengundang gadis iblis itu?”balas Seung Hyun.
“ah.. bagus. Tapi, aku ingin melihatnya menangis karena melihatmu menikah.”jawab Chaerin dengan senyum bahagia tapi, Seung Hyun melihat dua tanduk kini berada di kepala Chaerin dengan background api membara yang dikelilingi bunga bermekaran. Aura yang aneh.
“ternyata kau masih dendam padanya?”
“tidak. Hanya ingin mengobati lukaku. Hahaha...”jawab Chaerin santai dan Seung Hyun ikut tertawa.
“hay.. aku ada disini. Tapi, siapa Minyu?”
“sahabat sehidup -semati Chaerin.” “si kenangan terindah oppa”jawab Seung Hyundan Chaerin berbarengan.
“terdengar seperti, musuh kekal Chaerin dan sebuah luka dalam bagi oppa. Selain senior dan junior di bangku sekolah sebenarnya kalian punya hubungan apa?”
“katak-beradik, oppa kataknya dan aku adalah sang adik.”. “Pangeran dan penyihir.”kata Chaerin dan Seung Hyun bersautan.
“kalian kekanak-kanakan.”balas Dami binggung melihat keakraban Chaerin dan Seung Hyun.
Ya, Seung Hyun adalah senior yang di idolakan Chaerin saat sekolah dulu. Setelah Seung Hyun dan Minyu berpacaran Chaerin menjadi dekat dengan Seung Hyun dan Chaerin sadar bahwa Seung Hyun bukan pria yang dia cintai, Seung Hyun hanya tokoh idola dimatanya. Setelah Minyu dan Seung Hyun putus, berbeda dengan Minyu- Chaerin yang semakin menjauh, Seung Hyun semakin dekat dengan Chaerin. Dan putusnya hubungan Minyu dan Seung Hyun bukan karena Chaerin tetapi, Minyu ketawan juga berhubungan dengan pria lain dan Seung Hyun mengetahui Minyu berbohong tentang puisi milik Chaerin itu adalah miliknya. Seung Hyun mengenal Dami karena pekerjaan dan tanpa di sengaja mereka bertiga bertemu, Dami - Seung Hyun dan Chaerin. Dan Chaerin menangkap tatapan cinta dari keduanya sehingga Chaerin membantu percintaan pasangan ini. Dan Chaerin berhasil karena itu Chaerin menuntut hadiah.

Chaerin berdiri di tengah pesta sambil memegang segelas sodanya. Dia menatap Seung Hyun yang tersenyum bahagia.
“aku tidak pernah melihat oppa setampan ini dengan senyumnya setelah putus dari penipu itu.”gumam Chaerin tanpa sadar. Tapi, Jiyong yang dari tadi berdiri di sampingnya dapat mendengarkan perkataan Chaerin.
“kenapa kau malah tertarik dengan saudara iparmu? Masa depanmu ada di sampingmu, sekarang.”celetuk Jiyong dan Chaerin hanya tertawa dengan kesalah pahaman Jiyong.
“kenapa tertawa?”kata Jiyong kesal.
“karena sekarang kau seperti wartawan gossip yang suka menyimpulkan sesuatu tanpa analisa terlebih dahulu.”jawab Chaerin meledek Jiyong.
“memang dimana yang salah? Jelaskan!”
“sekarang kau seperti reporter gossip.”balas Chaerin sambil tertawa. Jiyong yang semakin kesal pergi meninggalkannya dan itu membuat Chaerin semakin keras tertawa.
“benar-benar lucu.”
Chaerin melihat ke arah Harin, Harin berkumpul dengan teman-temannya. Lalu matanya berpindah menatap Jiyong. Beberapa wanita kini mengelilinginya dan Jiyong hanya melihat mereka dengan malas, dia hanya bersikap sopan pada wanita-wanita itu tanpa ada rasa tertarik.
“begitu banyak gadis yang mengincarmu, nam dongsaeng tapi, kenapa kau tetap melihatku?”gumam Chaerin dan saat itu juga Jiyong yang cukup jauh padanya juga sedang menatapnya.
“kau bicara dengan siapa?”Tanya Soo Rin yang tiba-tiba muncul di depan Chaerin. walau Soo Rin berpenampilan anggun dengan dress hitamnya tapi, rambut panjang yang kini dia cat berwarna ungu itu malah membuatnya terlihat seperti tokoh animasi Jepang.
“sejak kapan kau disini?”Tanya Chaerin binggung.
“sejak kau tatap-tatapan penuh cinta dengan Jiyong.”jawab Jiyon yang kini ada di samping Chaerin.
“sejak kapan ucapanmu jadi mirip Soo Rin?”Tanya Chaerin.
“sejak kau merahasiakan hubunganmu dengan Jiyong, uri Yonie menghantuiku.”jawab Soo Rin santai.
“kau memanggilku uri Yonie? Jangan buat aku memuntahkan ayam panggang baru saja ku makan.”protes Jiyon.
“kenapa kalian ribut sendiri?”tegur Chaerin pada kedua temannya yang lupa tempat.
“jadi, apa perkembangan hubungan kalian?”Tanya Soo Rin mendekat pada Chaerin dan menatap Chaerin lekat, menuntut Chaerin bicara jujur.
“aku hanya pingsan karena wartawan mengerubungi kami dan Jiyong mengangkatku. Tidak ada yang lain. Hubungan kami tetap sama, kerabat dekat.”jelas Chaerin santai. Dia bicara jujur, tidak ada yang dibohongi dia hanya tidak menceritakan sesuatu yang penting menurutnya dan dia tanpa menyadari ada sesuatu yang berubah.
“membosankan.”respon Soo Rin dan Jiyon berbarengan berhasil membuat Chaerin kesal.
“kalian menyebalkan.”balas Chaerin.
“ngomong-ngomong di antara kita bertiga, siapa yang akan mengucapkan janji suci pernikahan terlebih dahulu?”kata Soo Rin tiba-tiba. Mereka pun terdiam sementara, larut dalam pikiran masing-masing.
“mungkin Jiyon. Walau dia yang paling muda dari pada kita, dia sudah memiliki pasangan yang jelas.”jawab Chaerin sambil melihat Jiyon sambil tersenyum lembut.
“entah setan mana yang berbisik, aku rasa itu adalah kau, Chaerin.”jawab Soo Rin dan Jiyon mengangguk setuju.
“kita lihat saja nanti.”balas Chaerin.
“bagaimana dengan pria yang berjanji pulang ke Korea untuk menemuimu, apakah ada kabarnya?”Tanya Soo Rin pada Chaerin.
“ah.. oppa itu. Aku rasa dia sama seperti pria lainnya, hanya karena pikiran sesaat mereka.”jawab Chaerin dan yang lain menggaguk.
“ada serorang pria yang mengikuti kegiatanku akhir-akhir ini, dia sering menonton pementasanku dan mengunjungi cafeku.”kata Soo Rin tiba-tiba dan membuat yang lain kaget.
“lalu?”Tanya Chaerin penasan.
“jika dia seorang pengusaha sukses akan aku pertimbangkan untuk dekat dengannya karena adikku juga tidak sanggup mengelola perusahaan seorang diri.”jawab Soo Rin santai tanpa beban.
“tidak berubah.”jawab yang lainnya.
“seperti apa pria itu?”Tanya Jiyon penasaran, jiwa wanita penasarannya keluar.
“dia.”jawab Soo Rin melihat ke seseorang.
“yang mana? Berikan ciri-cirinya.”kata Chaerin mendadak ikut tertarik.
“kau lihat pria dengan setelan jas warna coklat disebelah ayah Chaerin?”
“ya.”
“itu dia.”
“dia seperti itu?”
“tidak! Tapi, itu dia. Dia ada disini.”jawab Soo Rin tidak percaya.
“simple. Dia seorang pengusaha. Karena dia adalah Kang Daesung yang baru-baru ini aset perusahaannya melambung tinggi.”jawab Chaerin.
“bagaimana kau tau?”Tanya Jiyon dengan jiwa penasaran alla wartawannya.
“dia, atasan Seung Hyun oppa. Aku mengenalnya karena Seung Hyun oppa pernah mengenalkannya padaku. Dia pria yang pemalu.”jelas Chaerin.
“kalau begitu dia tipeku.”ketegasan begitu saja terlontar pada bibir Soo Rin. Jiyon dan Chaerin hanya menatap Soo Rin tidak percaya.

@rumah keluarga Lee
“ah... lelah. Tapi, acara tadi sungguh membahagiakan.”teriak Chaerin setelah memasuki rumah.
“akan lebih bahagia jika kau yang merasakan sendiri menjadi calon pengantinnya.”jawab omma Chaerin. Chaerin terdiam, dia benci dengan situasi ini. Dia benci topic pembicaraan ini.
“aku kira kau tidak berpacaran karena menunggu Jiyong. Tapi, setelah Jiyong datang kau malah menolaknya.”kata appa Chaerin sambil membuka jasnya.
“...”Chaerin hanya terdiam. Dia ingin masuk ke kamarnya agar terhindar dari kuliah tentang pernikahan dari orang tuanya. Tapi, dia urungkan niat itu karena tidak sopan.
“seriuslah Chaerin. Aku tahu kau ingin focus di pekerjaanmu agar sukses tapi, tidak mungkin kau hidup sendiri seumur hidupmu. Kami juga ingin melihatmu memiliki keluarga sendiri dan memiliki cucu. Umurmu hampir 30 tahun. Ingat itu. Jadi, jatuh cintalah dan bangun keluarga!”nasehat appa Chaerin dengan lembut tapi, ada peringatan di sana.
“aku tidak ingin jatuh cinta!”jawab Chaerin dengan nada datar tapi, mengejutkan orang tuanya dan Harin yang lewat untuk mengambil minum.
“kalau begitu menikah saja dengan siapapun yang kau mau tanpa cinta. Anggap saja rumah tangga itu adalah kewajiban seperti kewajibanmu pada pekerjaanmu itu.”jawab appa Chaerin tegas.
“aku menghindari luka. Sebuah cinta saja menimbulkan luka, apalagi dalam keluarga. Keluarga dengan cinta atau tanpa cinta sama-sama akan membuat luka. Aku tidak mau. Jika kalian ingin mendapatkan cucu, aku akan mengasuh anak. Karena aku juga tidak ingin melahirkan, melahirkan sangat menyakitkan.”Jawab Chaerin santai dan Harin menahan tawanya mendengar jawaban kakaknya yang terdengar lucu baginya. Harin tau kakaknya itu tipe perempuan yang objektif tapi, alasan Chaerin untuk tidak melahirkan terdengar lucu baginya.
“yak, Lee Chaerin! Apakah otak cerdasmu itu terputar? Aku cukup bersabar karena kau memilih spesialis gigi padahal kau ahli patologi tapi, untuk hidup sendiri seumur hidup aku tidak bisa terima.”
“aku tidak hidup sendiri. Aku akan mengangkat anak.”jawab Chaerin tidak peduli tapi, bukan berarti Chaerin kehilangan sopan-santunnya.
“kau kehilangan akal sehatmu, apakah saraf kasih-sayangmu menciut karena anatesi?”
“itu mungkin saja.”kata Chaerin santai. Orang tua Chaerin sudah kewalahan, hanya diam. Mereka hanya bisa berharap akan terjadi sesuatu pada Chaerin agar Chaerin dapat merubah keputusannya.

‘setiap luka akan menimbulkan efek yang berbeda setiap orangnya karena jiwa, pikiran dan tubuh setiap orang punya ketahanan yang berbeda. Mungkin luka yang di timbulkan dari goresan pisau tidak akan kau pedulikan. Tetapi, beberapa orang akan segera mengobati luka itu agar tidak terjadi infeksi. Tapi, dari beberapa orang yang melakukan pengobatan pun akan terjadi infeksi padahal banyak yang merasa bahwa itu karena hal sepele. Rasa sakit sekecil apapun tidak ada yang menginginkannya tapi,rasa sakit itu tidak terhindar. Jadi, yang bisa kita lakukan hanya berusaha tidak merasakan sakit yang semakin dalam. Kau pasti pernah di bohongi tapi, bagaimana jika yang membohongimu adalah orang terdekatmu? Rasanya akan menjadi 3 kali lipat lebih sakit bahkan lebih. Ingatlah semakin kau dekat dengan seseorang maka semakin mudah kau terluka olehnya.’

TBC

Ludic Love? Aku sendiri pernah melakukannya dalam waktu cukup lama. Dalam kasusku aku terlalu mengandalkan diri dan tidak mudah percaya orang lain walau aku bukan kepribadian yang tertutup. Tapi, menjadi Ludic Love bukanlah jalan yang benar. Silahkan jalani hidupmu sesuai keinginanmu, tetap buka matamu dan pikiranmu. Belajarlah dari pengalaman karena pengalaman guru yang berharga

Tidak ada komentar:

Posting Komentar