jangan lupa

JANGAN LUPA KOMENTAR YA..

Minggu, 28 Februari 2016

LOST AND GIVE PART 1


LOST AND GIVE [PART1]

Author: Kim Daisy
Cast: SkyDragon, Taeyang dan Soo Song
Genre: ??
pict: ahelnyann (thks bgt cover kecenya)

Aku menyukai seorang pria yang mempesona. Pria yang tersenyum dengan manisnya. Pria yang mampu menghilangkan masalah yang aku jalani. Pria yang memahami diriku. Pria yang selama ini utamakanku setelah ommanya. Pria itu adalah teman dekatku. Hanya saja ...

“aku ingin melamarnya. Kau bisa membantukukan Chae?”kata Teyang dengan senyum manis yang biasa dan seperti biasa membuatku terpesona dengan senyumannya. Sesuatu yang kecil menimbulkan efek dasyat. Entah sejak kapan senyumannya begitu indah dan mempesona dimataku.

“tentu saja.”jawabku jawabku kaku.

“gomawo, Chae. Aku berhutang denganmu.”kata Taeyang gembira. Ya, Taeyang memiliki kekasih dan kekasihnya –Soo Song sudah menjadi teman baikku juga. Dia gadis yang baik. Dia pantas di samping Taeyang. Hanya saja aku tidak bisa ikut gembira seperti Taeyang rasakan karena ini berarti aku harus siap melihatnya menikah dengan wanita lain. Yah, cepat atau lambat aku yakin ini akan terjadi.

---------------------------
Aku membantu menyiapkan lamaran Taeyang dan Soo Song seperti janjiku pada Taeyang. Kami melihat petugas mendecor ruangan untuk malam lamaran Taeyang. Ruangan dihias dengan nuansa putih dan di hiasi yellow rose. Biasanya red rose yang selalu dominan di acara penting seperti ini. Hanya saja yellow rose adalah bunga favorit Soo Song sehingga Taeyang memilih bunga ini. Melihat Taeyang begitu gembira dan meledak-ledak karena bahagia, aku jadi ikut senang.

“kau menyiapkan ini semua untuk Taeyang?”kata appaku yang tiba-tiba dibelakangku saat aku mengintruksi pegawai menghias ruangan.

“ya. Wae appa?”tanyaku.

“hentikan. Jangan lakukan itu!”kata appa sambil menarik tanganku.

“kenapa appa?”

“Taeyang, serahkan saja dengan karyawanku. Chaerin punya urusan denganku. Aku harap kau mengerti.”kata appaku.

“ne ahjussi”jawab Taeyang kaku karena dia binggung melihat appa yang tiba-tiba bersikap seperti ini.

“ada apa sebenarnya, appa?”tanyaku penasaran dan mengikuti appa. Appa membawaku ke kamarku. Walau ini Hotel, Hotel ini milik keluargaku dan aku memiliki kamar khusus disini karena biasanya aku tinggal disini. Appa menutup pintunya. Dia mengusap wajahnya dengan kasar dan sesekali memijit kepalanya.

“apa kau menyukai Taeyang?”kata appa menatapku.

“appa bicara apa? Taeyang temanku.”kilahku dan menyembunyikan nada keraguan disana.

“walau begitu jangan membantu pertunangan dan pernikahannya. Kau terlihat seperti istri tua yang menyiapkan pernikahan suami untuk istri mudanya.”aku bersyukur appa tidak curiga hanya saja kalimat terakhirnya membuatku sedikit... bingung.

“hahaha.. apa maksud appa? Ini bukan waktunya untuk bercanda.”balasku.

“2 tahun lalu, sebelum kau kecelakaan. Kau memiliki tunangan. Kalian berdua mengalami kecelakaan saat kalian makan malam bersama. Kau lupa ingatan begitu juga dia karena kecelakaan itu.”

“appa bercanda.”kataku dingin. Mungkinkah ini imajinasiku?

“aku tidak bercanda! Karena kalian berdua saling tidak ingat maka kami tidak ingin memberitahu hubungan kalian. Kami berfikir kalian saling mencintai maka cepat-atau lambat kalian akan jatuh cinta kembali. Jika salah satu dari kalian tidak lupa ingatan kami tidak mungkin mengambil jalan ini.” Aku tahu kemana arah pembicaraan ini. Tapi, aku tidak ingin menyimpulkan terlalu cepat. Bisa saja tebakanku meleset.

“aku tidak percaya.”sagahku. Appa memegang kedua bahuku dengan kuat. Memberikan penekanan.

“tapi, pria itu. Tunanganmu itu akan melamar wanita lain malam ini. Itu artinya kalian belum berjodoh. Tapi, jangan berhubungan dengan mereka lagi. Aku sedih melihatmu seperti ini. Jangan dekat dengan mereka lagi!”kata appa. Aku cukup pintar untuk mengerti perkataan appa yang mencemaskanku dengan sedih.

“jika appa seperti ini aku bisa appa? Haruskah aku merusak lamaran mereka? Haruskah aku merebut Taeyangku kembali? Aku menyukainya appa tapi, dia milik orang lain sekarang sehingga aku harus menahan dan menipu perasaanku. Aku harus apa? Kenapa tidak memberitahu kami sebelumnya? Kenapa harus sekarang disaat mereka akan bahagia tanpaku? Mereka akan menikah sebentar lagi!”kataku sambil menangis. Aku terjatuh dengan pasrah. Aku terlalu lemas sekarang. Mungkin ini mimpi burukku. Hingga aku tidak ingin lagi adanya hari esok.

--------------
Semenjak hari itu aku mulai menjauh dari Taeyang dan Soo Song. Walau begitu aku tahu bahwa lamarannya berlangsung dengan sukses. Aku tidak mungkin merebut Taeyang, Taeyang sangat mencintai Soo Song sekarang. Dan hari ini hari pertunangan mereka. Mereka merayakan di ‘rumah’ku-hotel yang menjadi rumahku. Tidak mungkin aku tidak turun untuk melihat mereka jadi aku berniat datang ke acara mereka walau hanya sebentar. Terlalu sakit jika aku melihat kebahagiaan mereka untuk waktu yang lama. Rasanya semakin sakit saat tau Taeyang adalah tunanganku sebelumnya.
Aku berdiri di balkon seorang diri sambil menikmati wine yang di sajikan. Aku mencoba berfikir tenang. Mungkin saja ini nantinya akan cepat berakhir. Mungkin.

“Chaerin, anakku.”sebuah suara mengusikku. Aku melihat ke sumber suara, omma Taeyang ada disampingku sekarang.

“appamu sudah mengatakan semuanya?”lanjut omma Taeyang dengan nada lembut.

“ya. ahjuma”jawabku. Omma Taeyang berjalan semakin dekat ke arahku hingga akhirnya kini berada disampingku.

“maafkan kami. Kami pikir ini lebih baik. Aku harap kau menemukan pasangan lebih baik dari anakku.”katanya sambil memelukku hangat. Pelukan yang biasa diberikannya padaku.

“ya, semoga itu akan terjadi.”jawabku tenang. Aku tidak ingin menangis. Aku putuskan semua berakhir. Dan aku harus segera memulai hidup dan kebiasaan baru.

“maafkan aku. Tapi, bisakah kau seperti biasa mengunjungi kami dan berhubungan dengan Taeyang seperti sahabat?”tanya omma Taeyang sambil melepaskan pelukan kami.

“aku tidak bisa lagi setelah mengetahui kebenaran ini ahjuma. Aku sadar kalau aku mencintai Taeyang seperti sebelum kecelakaan itu terjadi. Aku juga sudah mengingat kejadian itu satu-persatu setelah mengetahui rahasia ini. Jadi, aku tidak bisa melakukan itu. Ini menyakitkan untukku. Lagian ada Soo Sojin yang..”

“apa maksud ini semua omma? Aku merasa kalian menyembunyikan sesuatu.”kata Taeyang yang tiba-tiba ada dibelakang kami. Aku dan ahjuma cukup terkejut. Tapi, Taeyang sendiri juga terlihat terkejut dan binggung.

“apa yang kalian sembunyikan? Apa aku punya hubungan seperti apa dengan Chaerin sebelum kecelakaan itu? Kau bisa menjawabnya kan Chaerin?”

“tidak. Kita hanya berteman. Hanya aku yang menyukaimu.”kilahku. Aku belum siap kekacauan ini akan datang. Taeyang baru saja berbahagia tapi, kami menghancurkan itu dengan masa lalu. Masa lalu yang bahkan tidak kami ingat.

“walau aku tidak tahu tapi, aku bisa mengerti bahwa yang kau katakan tidak sepenuhnya benar. Karena omma sangat menyesal. Ada rahasia yang kalian sembunyikan.”kata Taeyang dengan ekpresi yang tidak pernah aku lihat sebelumnya.

“Chaerin sayang, kau pergilah. Ini saatnya aku menjawab pertanyaan anakku.”kata omma Taeyang dengan lembut. Aku pun mengangguk dan pergi meninggalkan mereka. Aku terlalu lelah untuk menghadapi ini.

Aku tiduran dikasurku. Tapi, sudah lebih dari dua jam aku belum bisa benar-benar tertidur. Langkah apa yang akan diambil Taeyang nanti? Melanjutkan percintaanya dengan Soo Song? Bisa jadi, walau Taeyang bukan pria seperti itu. Selama ini aku mengenalnya. Taeyang adalah pria yang suka mengalah demi orang lain. Apa mungkin dia akan meninggalkan Soo Song? Pria itu benar-benar sudah gila bila melakukan itu. Ini tidak adil untuk dirinya dan Soo Song, ah keluarga Soo Song juga akan sakit hati. Aku harap dia tidak terburu-buru bertindak. Aku ingin semua tetap berjalan seperti ini. Biarkan saja aku yang terluka. Biarkan aku menjadi tumbal untuk kebahagian mereka ini. Seakan kejadian malam ini tidak pernah terjadi. Aku sendiri yang terluka itu lebih baik. Kulirik jam dinding digitalku yang menyala dalam gelap. Sial, sudah jam tiga pagi dan aku belum merencanakan apapun untuk nanti.

------ Author Pov -----------
Omma Taeyang menceritakan semua yang terjadi pada Taeyang dengan penyesalan. Seperti dugaan Chaerin, Taeyang menyesal tidak menyadari perasaan Chaerin padanya. Taeyang pikir jika Chaerin menunjukan perasaannya mungkin dia akan tetap bertunangan dengan Chaerin karena pada dasarnya dia tertarik dengan Chaerin. Hanya saja dia mencintai Soo Song saat ini. Dia terlanjur mencintai Soo Song.
“aku sudah di curi. Kau terlalu perhatian dengannya, kau bilang dia sahabatmu. Aku memakluminya. Lalu, kau meminta aku mandiri seperti dirinya. Aku membencinya. Aku bukan dia!!”teriak Soo Song dengan melempar hiasan yang ada di kepalanya kelantai.
“dan dimalam pertunangan kita kau langsung mengatakan Chaerin juga tunanganmu? Kau ingin membuat aku harus berbagi dirimu dengannya?”amuk Soo Song karena tidak terima. Ini hari kebahagian yang di tunggu-tunggunya tapi, dalam sekejap kebahagian itu di rengut paksa. Taeyang hanya tidak ingin membohongi Soo Song seolah tidak ada apa-apa sehingga dia mengatakannya secepat mungkin yang dia bisa. Dia mencinta Soo Song karena itu dia berfikir Soo Song harus tahu yang sebenarnya dan mereka menyelesaikan bersama dari pada Soo Song mengetahui kebenaran dari orang lain hingga membuat mereka salah paham nantinya.
“Bagaimana pun ini tidak adil untuk Chaerin.”ucap Taeyang lemah.
“lalu, kau fikir ini adil untukku? Kenapa tidak kau bunuh saja aku dulu?!”jawab Soo Song dengan nada rendah tapi, ada ketegaskan dari ucapannya yang membuat Taeyang semakin terluka.
“Jadi, kau ingin bagaimana? Aku ingin kita fikirkan masalah ini berdua denganmu kita mencari jalan keluarnya bersama. Karena ini hidup kita.”kata Taeyang mulai frustasi.
“tidak bisakah kau melupakan Chaerin saja?! Kita jalani kebahagian kita sendiri. Chaerin pasti mengerti.”kata Soo Song dengan sedih. Soo Song mulai menangis.
“Aku membuatnya menangis padahal aku berjanji membahagiakannya.”pikir Taeyang. Dia semakin tertekan dan sulit berfikir. Dia binggung dengan ini semua. Tapi, dia harus menyelesaikan dengan cepat agar kedua gadis yang penting baginya tidak terluka. Melukai gadis-gadis itu bukan keinginannya.
“kau juga menjanjikan hal yang sama padaku, Dong Yong Bae! Apa kau lupa?”

Pagi-pagi sekali Chaerin sudah berada di rumah Taeyang, dia bisa saja masuk dengan mudah karena mengetahui kunci untuk membuka rumah Taeyang. Tapi, dia tidak melakukannya. Chaerin dengan tenang memencet salah tombol untuk memanggil orang di dalam untuk membukakan pintu untuknya. Tidak perlu Chaerin lama menunggu karena pintu segera dibuka. Orang yang membukakan pintu diam termenung melihat Chaerin tapi, ekpresi Chaerin hanya datar.
“bolehkah aku masuk, onnie? Aku akan menjelaskan semuanya.”kata Chaerin dengan tenang seakan yang dia ingn katakanya hanya pertemuan bisnis biasa tanpa mengandung unsur perasaan. Dengan perlahan Soo Song mengeser tubuh mungilnya agar Chaerin bisa masuk.
“siapa..”kata Taeyang terputus saat melihat Chaerin sudah di dalam rumahnya.
“maaf, menganggu kalian!”kata Chaerin sambil membungkukkan tubuhnya.

Kini mereka duduk di ruangan yang sama. Soo Song duduk bersebelahan seakan tidak ingin dipisahkan sedangkan Chaerin duduk berhadapan dengan mereka.
“jadi..”kata Taeyang memancing Chaerin untuk berbicara terlebih dahulu.

“aku mencintaimu, oppa. Tanpa atau dengan ingatanku yang hilang.”kata Chaerin tenang dan menatap manik mata Taeyang. Tubuh Taeyang menjadi kaku karena terkejut sedangkan Soo Song mengepalkan kedua tangannya menahan emosi. Soo Song ingin menjambak dan memaki Chaerin saat ini tetapi, Chaerin segera melanjutkan ucapannya.

“aku segera datang kesini bukan untuk merebutmu dari Soo Song onnie. Aku datang kesini untuk menyelesaikan ini semua. karena aku tahu, kau terlalu baik oppa. Aku tahu kau akan memilih meninggalkan onnie dan kembali padaku karena kasihan padaku. Tapi, aku hanya butuh cinta bukan rasa kasihan.”kata Chaerin tenang. Chaerin melukai hatinya sendiri. Dia bertingkah seakan baik-baik saja padahal dia merasakan teramat perih di dadanya. Sedangkan Taeyang tertegun karena perkataan Chaerin tentang pilihannya adalah benar dan Soo Song mulai sedikit merasa lega walaupun dia sadar bukan sekarang waktunya untuk bersorak kemenangan. Masih terlalu awal untuk sebuah perayaan.

“ya, lupakan masa lalu yang bahkan kita lupakan itu. biarkan semuanya tetap menjadi masa lalu. Jika kita mengingatnya nanti, biarkan saja masa lalu itu.”jelas Chaerin. kata-kata yang di ucapkannya bukanlah untuk Taeyang saja. Tapi, juga untuk dirinya agar dia berhenti mencintai Taeyang dan berhenti bergantung pada Taeyang.

“terimakasih, Chaerin.”ucap Soo Song senang dan mengegam tangan Taeyang.

“baiklah. Aku harus pulang.”kata Chaerin sambil mengambil tasnya dan berdiri. Soo Song dengan bahagia ikut berdiri ingin mengatarkan Chaerin.

“ah, aku lupa.”kata Chaerin.

“apa itu?”tanya Soo Song binggung. Chaerin melihat Taeyang yang masih terdiam di sofanya.

“oppa.”tegur Chaerin sehingga mengembalikan Taeyang keluar dari lamunannya.

“hmm.. ada apa?”tanya Taeyang dengan gelagapan menatap Chaerin. Chaerin tersenyum sinis padanya.

“sekarang aku memutuskan pertunangan kita.”kata Chaerin dengan angkuh, menutupi hatinya yang kini tersayat-sayat dengan tragisnya.

“karena itu berbahagialah dengan onnie. Jalankan pernikahan kalian seperti yang direncanakan. Jangan jauhi diriku! Jangan bersikap kaku padaku! Tapi, ketahuilah. Hubungan kita tidak bisa sebaik dulu. Aku pergi.”kata Chaerin terdengar santai. Ya, Chaerin sangat ahli menutupi perasaannya. Walau Taeyang sangat memahami Chaerin tetapi, Taeyang tidak mampu membaca hati dan sesuatu yang dipikiran Chaerin. Mungkin semua orang tahu bahwa Chaerin terluka dan hatinya sakit tapi, hanya Chaerin saja yang mengetahui seberapa besar sakit yang dirasakannya dan seberapa parah lukannya. Dan Chaerin tidak mengizinkan orang lain tahu. Tidak akan.

--------------------------------

Lima tahun pun berlalu. Hubungan Taeyang dan Soo Song memang baik dengan Chaerin tapi, seperti keinginan Chaerin bahwa hubungan baik itu tidak seperti dulu. Chaerin memfokuskan fikirannya untuk bisnis keluarganya. Dan waktu yang dia curahkan pun tidak terbuang sia-sia, bisnisnya semakin maju dan merambat ke beberapa bidang lainnya.

“bukankah langkah itu masih cukup awal?! Katakan padanya lebih baik menganti saja grubnya. Cari yang lebih berkompeten.”kata Chaerin yang serius memberikan arahan pada karyawannya sambil berjalan untuk melihat langsung hotel miliknya.

“baik, nona.”kata sekretaris Mong yang serius mendengar arahan Chaerin. Sekretaris Mong adalah wanita yang usianya lebih tua 5 tahun dari Chaerin. Penampilan formalnya jauh dari kata anggun dan mendekati kaku namun elegant.

“sudahkah ada tanggapan dari pihak K-World?”tanya Chaerin pada MG hotel. MG yang menjadi bawahan Chaerin itu bukanlah pria muda, melainkan pria yang usianya tidak jauh berbeda dengan usia omma Chaerin. Bahkan anak MG Hotelnya itu seumuran dengan Chaerin.

“Ah.. tuan besar berencana mengundang mereka di acara makan malam tetapi belum ada balasan dari K-World sehingga kita belum mengetahui kapan mereka akan datang ke Korea.”jelas MG.

“cih. Sibuk sekali sepertinya K-World hingga tidak bisa membalas. Lain kali mereka harus tahu juga betapa sibuknya SKY Hotel.”kata Chaerin dingin tapi, menyimpan makna meremehkan.

“hm.. baiklah nona.”jawab mereka sambil menganggukkan kepala tanda menerima perintah.

Membuka matanya, membersihkan tubuhnya, makan, kekantor, membuka laporan, meeting, makan, membuka laporan, pulang, membersihkan tubuhnya, makan, membuka laporan, dan pergi tidur. Seperti itulah kegiatan Lee Chaerin. Tidak ada waktunya yang dia gunakan untuk bersantai, tidak ada waktu untuk menemui teman-temannya itu semua karena Chaerin menghindar dari teman-temannya. Di dekat teman-temannya akan membuatnya mengingat Taeyang. Bukan berarti dia berbohong untuk meninggalkan Taeyang tapi, ini demi menjauhkan dirinya dirinya dari situasi rumit dan canggung. Chaerin terlalu dekat dengan Taeyang, sehingga teman Chaerin juga teman Taeyang membuat Chaerin akan merasa asing jika tiba-tiba Taeyang dan Soo Song datang. Suasana akan menjadi canggung dan mereka pernah mengalami hal tersebut.

Bosan? Kata itu bahkan tidak bisa di mengerti Chaerin. Tidak ada kata bosan dengan jadwal kerjanya yang seperti itu. Chaerin menjalankan semua kegiatan membosankannya itu tanpa keluhan. Bukan sekedar dia ingin menutup dirinya dari dunia tapi, Chaerin juga mencintai pekerjaannya.

--------@ Jiyong Pov-------------
Aku. Aku namja yang tidak percaya cinta. Tidak ada rasa tertarik saat aku melihat yeoja. Aku normal, aku tidak tertarik dengan pria. Aku jamin itu.
Tapi, lima tahun lalu aku yakin aku benar-benar normal karena melihat yeoja itu menangis. Yeoja yang ingin aku peluk dan bersandar padaku. Padahal biasanya aku selalu meleparkan pandangan jijik ke setiap yeoja yang menangis. Aku ingin mengenalnya hanya saja dia terlihat sedang berdebat dengan pihak calon mempelai pria. Dari jauh aku memperhatikannya. Mata indahnya enggan mengeluarkan air mata. Dia terlihat tegar namun rapuh.

Chaerin. Itulah yang aku tahu dari gadis itu. Aku memiliki keinginan kuat untuk mengenalnya lebih jauh. Hanya saja aku harus kembali ke Amerika, meninggalkan gadis itu di sini. Meninggalkannya begitu saja? Tentu aku tidak sebodoh itu. Dari informasi yang aku tahu bahwa gadis itu pemilik hotel tempat acara itu dilangsungkan, calon pengantin itu adalah sahabatnya dan seperti dugaanku ada yang tidak biasa dengan hubungan mereka. Awalnya aku hanya memperhatikannya terlebih dulu, ingin lebih mengetahuinya secara diam-diam dan setelah aku tahu bahwa gadisku menjaga jarak dengan namja aku jadi senang dan bingung. Senang karena dia berhasil menolak namja-namja yang tertarik dengannya dan bingung memikirkan cara agar dia tertarik denganku.

Tapi, selama lima tahun ini aku hanya jadi pengecut yang tidak juga menemukan cara agar dia tertarik denganku. Akhirnya aku putuskan untuk menjalani saja. Aku akan kembali ke Korea dan membuatnya menjadi pengantinku. Menjadi ratu di hatiku yang dulunya kosong. Kau harus bersiap-siap untuk jatuh cinta lagi, Lee Chaerin.

--------------- @Chaerin Pov-----------------
Appa memintaku turun ke ruangannya yang dia siapkan untuk makan malam. Karena hanya makan malam dengan appa aku hanya mengenakan celana demin yang menutupi hingga lututku dan kaos berukuran lebih besar dari pada ukuranku berwarna hot pink dan bertuliskan ‘I’M VVIP’ dengan tulisna bold berwarna hitam. Rambut panjangku ku gulung keatas hingga membentuk cepolan sederhana dan kuhias dengan jepitan kecil. Aku tidak terlalu mementingkan penampilanku semenjak.. ah, yang penting aku nyaman.
Kubuka pintu ruangan yang di pesan appa. Aku melihat appa tidak hanya seorang diri. Dia berbicara dengan namja yang kini membelakangiku.

“oh, Chae. Tidakkahku ingatkan untuk tampil cantik malam ini?”kata appa dan terdengar nada kecewa disana. Aku memutar bola mataku dengan malas. Apa appa akan menjodohkanku lagi? Aku sudah muak dan jengah dengan ini semua. Aku berniat akan hidup seorang diri hingga kematian menjemputku. Tapi, biasanya appa tidak akan mengundang namja yang akan di jodohkan denganku di acara makan bersama seperti ini. Appa selalu memberikan privasi untuk saling mengenal.

“bukankah tampil dengan busana apapun anakmu ini akan tampil cantik, appa.”kataku dengan percaya diri dan melangkah untuk duduk di sisi appa yang artinya akan berhadapan dengan namja yang menjadi tamu appa.

“memang seperti itu hanya saja saat ini aku ingin kau terlihat lebih cantik untuk tamu kita.”jelas appa dan aku jenuh.

“ah, kenalkan dia Kwon Jiyong. Pemilik K-World.”kata appa dan membuatku terdiam. Gugup. Tentu saja aku gugup. Aku malu tampil seperti ini di depan rekan bisnis. Aku terlihat menjadi yeoja yang tidak berkompeten. Oh.. NO. Aku salah kostum, pakaian ini sungguh tidak sopan. Tapi, appa tidak memberitahuku sebelumnya.

“kau pasti Chaerin sang princess. Aku Jiyong.”katanya dengan suara yang terdengar begitu. Ah.. aku gila. Ku angkat wajahku untuk melihatnya dan aku benar gila. Wajahnya yang tampan, tatapan mata yang hangat, hidungnya yang bagaikan pahatan patung dewa yunani, bibir tipis pink yang menggoda kini sedang tersenyum manis. Wajah tampannya miris mendekati cantik dan aku rasa dia lebih cantik dari pada aku yang seorang yeoja. Apakah mereka menutup semua jendela dan AC hingga menahan oksigen? Kenapa sekarang aku sulit bernafas?

“ya, aku Chaerin.”kataku sambil mengulurkan tanganku. Ah, akhirnya otakku kembali berjalan setelah kehilangan nafas. Dan sepertinya aku benar-benar salah kostum.

“kau terlihat sangat muda untuk menjadi pemilik K-World yang benar-benar mendunia itu tuan Kwon.”kataku setelah kembali kewarasanku. Tapi, dia hanya tertawa pelan, terlihat tersipu malu. Oh my.. so cute. Appa izinkan anakmu ini membukus namja tampan ini dan menyimpannya di lemari kacaku?!

“dia terlihat mudakan, Chae? Umurnya 37 tahun ini. Bukankah begitu, Jiyong?”kata appa dan namja tampan itu menganguk membenarkan namun terlihat berwibawa menghilangkan sikap cute yang baru saja di perlihatkannya tadi. Tapi, sungguh dia terlihat berumur 28.

“maafkan aku, Tuan Kwon.”kataku sungguh menyesal tapi, bukan salahku juga jika dia terlalu baby face.

“tidak masalah, Chae. Bolehkah aku memanggilmu begitu?”tanyanya lembut.

“tentu saja.”jawabku tersenyum.

“dan sebaiknya kau juga tidak memanggilku tuan lagi Chae. Panggil saja aku Jiyong, aku juga tidak keberatan kau memangilku ‘oppa’”katanya dengan senyuman manis. Bunuh aku sekarang.

Tunggu, jika benar sekarang umurnya segitu berarti kemungkinan besar dia telah menikah. Lee Chaerin, untuk apa kau memikirkan hal itu?! kembali kepada kewarasanmu!

Makan malam ini berjalan dengan lancar dan tentu saja topik menariknya adalah bisnis. Namja di hadapanku ini memang menggunakan otak geniusnya untuk bisnis wajar saja dia menjadi pemilik perusahaan besar itu. Istrinya pasti bahagia hidup dengan namja manis, tampan, cerdas dan kaya raya tentu saja. Kenapa aku malah memikirkan itu?

“ini sudah malam. Sebaiknya aku kembali ke kamarku.”kata Jiyong tiba-tiba.

“aku mengerti, kau pasti akan menelpon istrimu. Maafkan, aku menahanmu terlalu lama Jiyong.”kata appa dengan hangat tapi, sedikit terdengar kecewa dan rasa bersalah disana.

“ah.. tidak. Aku belum menikah."jawabnya dengan tersenyum malu. So cute. Tapi, appa memberikan tatapan aneh padanya. Tatapan yang sulit ku artikan.

"Aku juga tidak memiliki kekasih. Semenjak remaja aku hanya fokus pada perusahaan tidak ada waktu untuk masalah cinta dan wanita. Karena itu aku sangat berharap bisa mengenal putrimu yang sempurna ini untuk melengkapiku. Jika anda tidak keberatan, tuan Lee.”katanya dengan tersenyum dan menatapku lekat. Apa aku berhalusinasi? Aku tidak mabukkan?

“aku senang sekali mendengarnya. Aku tentu saja tidak keberatan. Aku lihat putriku juga tertarik denganmu, Jiyong.”kata appa dengan mengelus kepalaku. What the.... appa mempermalukan anaknya sendiri. Seseorang tolong katakana bahwa ini hanya sebuah candaan, sekedar basa-basi atau sejenisnya karena ini sangat sulit dipercaya. Namja ini, maksudku Jiyong memang tampan, di usianya yang ‘matang’ ini tentu saja menjadi sangat menarik di mata gadis yang usianya 27 tahun sepertiku tapi, aku tidak bisa menerima ini semua. Ini gila.

TBC

Tidak ada komentar:

Posting Komentar