LOST AND GIVE [Part 5]
.
.
.
.
Author: Kim Daisy
Cast: SkyDragon, Taeyang dan Soo Song
Rate : PG 17
Pict: ahelnyann (thks bgt cover kecenya)
Repost : glen
***
.
.
.
Aku segera mandi, berniat untuk menjenguk appaku yang masih harus di
rawat di rumah sakit. Sedangkan ahjussi mesum itu hingga aku turun untuk
makan pun dia belum muncul. Entah dimana keberadaannya sekarang. Ini
rumit bagiku. Katanya dia menyukaiku, aku satu-satunya yeoja yang di
inginkan untuk menjadi istrinya. Tapi, apakah itu hanya sebuah ambisi?
Tapi, ambisi apa? Aku tidaklah secantik atau seimut aktris atau tokoh
idol di televisi. Aku juga tidak sexy seperti mereka karena aku selalu
berpakaian formal.
Kekayaan? Bahkan dia jauh-jauh lebih kaya dariku. Lalu, apa yang membuat dia sangat tertarik denganku?
“karena kita sudah di tetapkan tuhan untuk saling memiliki. Buat saja
semua menjadi simple karena aku juga begitu mudahnya untuk
mencintaimu.”seseorang mengecup kelapaku dan aku sadar bahwa dialah
ahjussi mesum. Namja yang membuat kepalaku hampir pecah menahan emosi.
Entah dia bisa membaca pikiranku atau kalimatnya hanya kebetulan sedikit
menjawab pertanyaan-pertanyaan di pikiranku.
“aku tidak bisa
membaca pikiranmu tapi, karena aku begitu mengenalmu kau sudah seperti
buku terbuka bagiku, istriku.”katanya dengan memberikan senyuman
menggoda sayangnya aku tidak tergoda. Lalu, dia duduk berhadapan
denganku untuk makan bersama.
“hari ini kau ingin menjenguk
appa, sweetheart?”tanyanya mesra. Anehnya aku tidak pernah jijik saat
dia memangilku sayang, sweetheart atau istriku. Semua terdengar natural
berbeda saat Tae.. ah kenapa aku malah memikirkan hal itu.
“ya,
appa tidak bisa datang di hari itu dan aku tidak menghubunginya jadi
dia pasti khawatir.”jawabku sambil menyendokkan makanan ke mulutku.
Ahjussi itu menatapku lekat.
“kenapa kau tidak makan?”tanyaku dan dia langsung mengambil sendoknya.
“kau tau, tidak perlu mengunakan baju tipis dan terbuka. Kau makan saja
bisa terlihat sexy dimataku dan membuatku ‘lapar’. Sangat. ”jawabnya
dengan santai. Reflek aku meleparkan sendok yangku pegang dan sayangnya
meleset, sendok itu langsung terjatuh dilantai.
“kata-katamu
apa tidak bisa tidak berbau vulgar, ahjussi mesum?”bentakku. Entah
kenapa jiwa dominanku tidak bisa mempengaruhinya. Aku selalu kalah
berdebat dengannya.
“kau memanggilku ahjussi mesum? Itu artinya
yang berbau vulgar adalah identitasku. Lagian aku tidak berbicara
vulgar. Aku hanya berbicara jujur. Sungguh. Dan berhenti memangilku
ahjussi, aku bukan fedofil.”katanya dengan santai sambil makan dengan
tenang seakan topic yang kami bicarakan tidaklah serius.
“umur kita berbeda hampir 10 tahun, jika saja umurmu tidak menimbulkan efek lupa.”jawabku kesal. Selera makanku hilang.
“hampir jauh berbeda dengan kata sama, sweetheart. Aku akan menemanimu
menemui appa. Dia akan khawatir jika kau pergi sendiri.”ucapnya sambil
makan dengan tenang tapi, membuatku justru ingin segera meninggalkan
tempat ini. Jauh dari dirinya.
.
.
.
.
.
Aku
masuk ke kamar appa sedangkan ahjussi mesum itu ada dibelakangku. Wajah
appa tidak sepucat 3 hari lalu saat aku menemuinya sehari sebelum aku
menikah.
“wah, pengantin baru menjengukku.”kata appa terdengar
gembira. Aku langsung memeluk appa. Dia membesarku seorang diri tanpa
campur tangan yeoja lain karena eomma telah lama meninggal sejak aku
kecil. Kami tinggal di hotel pertama yang appa bangun agar aku tidak
kesepian dan appa bisa mengontrolku dengan dekat. Tapi, satu-satunya
orang yang aku miliki kini terlihat lemah karena usia.
“bagaimana keadaan appa? Maaf, aku belum bisa mengunjungi dan
menghubungimu, appa.”kataku sambil memeluknya yang terbaring dikasur.
“tidak masalah. Aku mengerti. Jadi, bagaimana dengan malam pertama kalian?”tanya appa dengan nada mengodaku.
“dia terlalu lelah appa. Aku belum bisa menikmati hidangan utama.”jawab
ahjussi mesum itu dengan santai dengan wajah pokerfacenya membuat appa
tertawa lepas tapi membuatku kesal dan ingin sekali rasanya membanting
tubuhnya. Menghancurkan tulang-tulangnya. Sayangnya aku tidak punya
kekuatan super seperti itu.
“appa punya hadiah untuk kalian. Ini.”kata appa sambil mengambil sesuatu dibawah bantalnya dan memberikan sebuah amplop padaku.
“tiket bulan madu. Kalian pergilah bersama dan pulang bertiga.”kata
appa dengan memberikan kedipan mata padaku. Tapi, aku tidak mengerti.
“bertiga? Dengan siapa? Siapa yang ikut bersama kami saat pulang?”tanyaku penasaran.
“tentu saja dengan cucuku.”jawab appa tertawa keras. Jawaban appa
membuat kepalaku sakit karena menahan malu. Appa tidak main-main. Aku
yakin appa pasti sudah menaruh orang-orangnya saat kami bulan madu nanti
untuk mengawasi.
“appa, sebenarnya kami tidak berencana bulan
madu dalam waktu dekat. Appa tahukan bahwa kami punya proyek yang harus
kami selesaikan segera.”tolakku dengan halus. Ku genggam tangan appa
yang tidak terdapat selang infuse.
“tapi, bukankah proyek itu
bisa ditunda sebentar? Hanya seminggu.”tawar appa dengan wajah sedihnya.
Ini pertama kalinya appa memohon dengan memelas. Sebenarnya aku tidak
kuat untuk menolaknya.
“alangkah baiknya kami melakukan bulan
madu saat appa benar-benar sehat. Aku yakin Chaerin akan khawatir jika
kami telalu lama meninggalkan appa pergi.”kata ahjussi itu dengan
lembut. Kali ini dia menyelamatkanku.
“maafkan aku membuat
kalian khawatir. Kalian boleh menunda bulan madunya, tapi jangan tunda
lagi memberikanku cucu.”kata appa dengan nada sedikit mengancam
membuatku binggung harus bilang apa.
“tenang saja, appa.”jawab ahjussi itu meyakinkan appa.
“kau sudah memanggilku dengan ‘appa’ tapi, kau tetap saja berbicara
denganku terlalu formal. Aku orang tuamu sekarang bukan rekan
kerjamu.”tegur appa.
“baiklah, appa.”jawab ahjussi itu dengan
tersenyum lembut. Dia terlihat juga menyayangi appaku. Tapi, sikapnya
padaku terlalu aneh. Dia memaksaku, menggodaku dan kini membelaku. Kalau
dipikir-pikir memang tidak ada alasan kuat untuk memanfaatkanku.
Dia sudah sangat kaya, dia bisa mendapatkan yeoja
mana pun yang dia mau lalu, kenapa dia ingin berkomitmen denganku? Apakah benar dia tulus mencintaiku?
Ini sudah seminggu pernikahan kami. Kami memang tidur berdua, makan
bersama dan waktuku memang banyak dihabiskan bersamanya dalam pekerjaan.
Kami masih tinggal di hotelku karena sejak awal bangian paling atas
hotel dijadikan ‘rumah’ . Proyek yang sedang perusahaan kami lakukan
berjalan lancar sedangkan untuk hubungan kami dalam rumah tangga
berjalan biasa saja. Ahjussi itu tidak memaksaku atau menciumku seperti
dulu. Dia hanya akan mengecup keningku sebelum tidur dan sebelum dia
pergi kerja dan memelukku. Tidak ada yang berlebihan. Ahjussi selalu
perhatian padaku dan appa. Mungkin karena dia tidak punya keluarga sejak
lama. Mungkin dia terlalu sibuk hingga tidak punya waktu mengodaku.
Tapi, tidak juga karena kami selalu sarapan, makan siang dan makan malam
bersama seperti saat ini.
“ada apa?”tanyanya sambil memotong daging steak yang ku masak untuk makan malam ini.
“tidak. Hanya saja sepertinya kau kelelahan. Ada apa? Apa ada
masalah?”tanyaku. Sebenarnya aku hanya terlalu tenggelam dalam
pikiranku, tapi lebih baik aku mengalihkan pembicaraan dan sedikit
berbohong.
“waw, sepertinya my sweetheart mengkhawatirkanku. Aku senang.”jawabnya dengan tersenyum.
“sepertinya aku harus bilang padamu.”
“ada apa?”tanyaku. Sebenarnya aku tidak tertarik, tapi jika aku diam saja juga tidak mungkin.
“beberapa hari lagi Taeyang akan kembali ke Korea dalam beberapa hari.
Aku rasa dia akan datang mengunjungimu.”jawabnya dan membuatku terdiam
karena terkejut.
“sejak kapan kau tahu?”
“kemarin. Dia
kesini karena menemui orang tuanya. Jika beberapa tahun lalu dia tidak
bisa menemuimu karena kesibukanmu mungkin dia adakan menemuimu dengan
alasan untuk menemuiku. Jangan cemas! Aku akan menemanimu,
selalu.”katanya dengan menatapku lekat membuatku benar-benar percaya
dengan janjinya.
Suasana kantorku sedikit senggang karena
sebelumnya aku sudah jauh hari menyelesaikan pekerjaanku. Semenjak aku
menikah semua berjalan lebih mudah dan terkontrol tentu saja berkat
ahjussi itu menjadi suamiku. Dia selalu membantu pekerjaanku,
mempermudahku berhubungan dengan pebisnis lain. Bahkan harga saham hotel
milikku terus meningkat dan jumlah tamunya juga meningkat. Mungkin
karena dia pebisnis luar yang sukses sehingga pebisnis lokal mudah
mempercayainya dan itu juga menguntungkan untukku.
Seperti
biasa aku mengeliling hotelku dan akhirnya aku beristirahat sebentar di
hutan kecil yang masih di kawasan hotelku mencoba mencari ketenangan.
“sudah lama tidak bertemu denganmu. Aku tidak menyangka kita bertemu
disini.”suara itu. Suara lembut yang sudah lama tidak terdengar olehku.
“Oppa.”kataku saat berbalik dan melihat dirinya. Dirinya yang entah
kapan berhasilku lupakan dan kini aku takut perasaan itu muncul kembali.
“jika kau menganggapku sebagai oppamu seharusnya kau memberitahuku
tentang pernikahanmu.”katanya dengan tersenyum manis seperti dulu. Tidak
pernah berubah.
“aku menyerahkannya pada pengurus pernikahanku jadi aku tidak yakin undangan datang padamu.”kilahku.
“seharusnya kau mengatakan hubunganmu dengannya sebelumnya. Aku dan Soo Song terkejut karena mengetahuinya dari media.”
“kau sudah memiliki istri oppa, tidak mungkin aku bercerita denganmu
lagi seperti dulu.”jawabku dingin. Kenapa dia harus membawa nama
istrinya?
“ya, kau benar.”
“....”
“dia
atasanku, pemilik perusahaan tempatku berkerja. Kau beruntung menikah
dengannya karena dia tidak pernah berhubungan dengan yeoja manapun.
Kalian sama-sama tidak berpengalaman dengan cinta.”kata Taeyang oppa.
Aku benar-benar merasa canggung saat ini.
“tidak. Justru aku
yang beruntung menikah dengannya.”kata ahjussi itu yang tiba-tiba muncul
dengan memelukku dari belakang dan menaruh kepalanya di bahu kananku.
Aku menggerakkan kepalaku ke kanan membuat bibir kami menyatu. Ini
saatnya pertunjukan.
“kau sudah pulang, suamiku?”tanyaku dengan senyuman pada ahjusi genit ini. Dia malah semakin mengeratkan pelukannya padaku.
“belum, sweetheart. Bahkan ini belum jam makan siang. Tapi, aku terlalu
merindukanmu makanya aku ada disini.”jawabnya sambil mengerakkan
tubuhnya kekanan dan kiri dengan gerakan lembut sehingga tubuhku pun
mengikutinya.
“aku juga baru saja memikirkanmu.”jawabku dan membuat lidahku gatal mengucapkannya.
“aku tahu.”jawabnya tertawa.
“oh maaf, aku melupakanmu. Kau siapa?”tanya Ahjussi itu dengan wajah
penasaran. Jelas dia juga berakting bersamaku. Dia mengenal Taeyang
oppa, bahkan dia mengenalku lewat undangan pertunangannya dulu. Tapi,
kenapa dia seolah-olah tidak mengenalnya?
“maaf, mungkin anda melupakan saya. Saya Taeyang yang mengurus...”
“ah ya, aku ingat.”kata ahjussi itu langsung tanpa membiarkan Taeyang oppa selesai berbicara.
“ada perlu apa dengan istriku? Kalian saling mengenal?”tanya ahjusi itu
dengan tatapan seakan ingin menelan Taeyang oppa hidup-hidup.
“kami hanya teman lama dan kebetulan keluarga kami cukup dekat sehingga aku berniat bertemu dengannya.”
“oh, maafkan aku. Aku sangat protektif. Aku tidak suka istriku menemui
namja lain hanya berdua saja. Kau tahu, aku begitu tergila-gila
dengannya.”kata ahjussi itu dan mengecup bibirku dengan santainya.
“seharusnya aku yang minta maaf, aku mengerti. Aku harap ada waktu lain
kali agar kita bisa berbicara dengan nyaman. Aku harap anda tidak
keberatan tuan Kwon?”
“istriku ini sedikit kelelahan
akhir-akhir ini, maklum saja kami pengantin baru. Jika kami ada waktu
kami akan menghubungimu.”jawab ahjussi itu dengan santai. Seakan yang
menjadi pembicaraan adalah sebuah dongeng anak-anak.
“baiklah. Aku permisi dulu. Sampai jumpa.”kata Taeyang oppa pergi dengan senyuman manisnya.
“tidakkah kau terlalu berlebihan?”tanyaku saat Taeyang oppa benar-benar jauh dari kami.
“tidak, sayang. Memang benar seperti itu.”jawabnya dan dia mengecup leherku membuatku geli.
“geli, ahjussi mesum.”protesku dan melepaskan pelukannya.
“sweetheart, aku lebih senang kau memanggilku ‘suamiku’ seperti tadi.”katanya.
“jadi, kenapa kau kesini?” kataku tidak peduli dengan ucapannya.
“aku kan sudah bilang bahwa aku merindukanmu. Ah, ini sudah masuk jam
makan siang. Ayo, kita makan!”ajaknya dengan semangat dan mengegam
tanganku. Dia menyelamatkanku. Aku rasa dia tahu Taeyang oppa akan
mencariku. Dia sama saja dengan appa, selalu mengawasiku.
Siang
ini aku mengunjungi appa di rumah sakit, kali ini tidak dengan ahjussi
karena dia ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan. Dan saat ini
appa semakin membaik. Appa sudah bisa keluar dari kamar dibantu dengan
kursi roda karena masih lemah.
“dimana Jiyong?”tanya appa saat dia melihatku masuk kemarnya.
“seharusnya appa menanyakan keadaanku dulu. Aku kan anakmu,
appa.”candaku. ya, appa begitu menyayangi ahjussi itu. Mungkin karena
mereka memiliki banyak kesamaan dan ahjussi tulus memperhatikan appaku.
“maaf, aku lupa hal itu.”kata appa membalas candaanku sambil tertawa.
“jadi bagaimana, apakah cucuku sudah ada disini?”tanya appa sambil menyentuh perutku.
“segera.”jawabku sambil tersenyum dan appa tersenyum lebar membuat dadaku sesak karena telah membohonginya.
“kapan aku bisa keluar dari kamar menyebalkan ini?”tanya appa dengan
wajah kesalnya. Kamarnya tidaklah monoton seperti rumah sakit
kebanyakkan.
Karena ini rumah sakit milik kami jadi ada kamar
khusus untuk keluarga. Kamar appa sama luasnya dengan kamarnya di hotel
dengan kasur lebih besar dari King size sehingga terkadang aku bisa
tidur di samping appa karena menunggunya saat malam, terdapat TV dengan
layar lebar dan di desain senyaman mungkin. Jika appa merasa bosan itu
karena appa terbiasa berkerja sedangkan selama ini tidak ada pekerjaaan
apapun untuknya selain makan dan tidur, jika itu bisa dihitung sebagai
pekerjaan.
“mungkin beberapa hari lagi.”jawabku sambil mengingat perkataan dokter beberapa saat lalu saat aku menanyakan kondisi appa.
“syukurlah. Jadi, bulan madu kalian juga secepatnya.”
“appa.”
“kalian sudah lelah mengurusku dan pekerjaanya. Jadi,
tidak ada salahnya kalian beristirahat dan bersenang-senang berdua.”kata appa dengan tersenyum penuh arti.
.
.
.
.
Chaerin tertidur di kasur besar itu dengan appanya. Jiyong yang sejak tadi datang hanya duduk memperhatikan istrinya tertidur.
“kau tidak membawanya pulang?”tanya tuan Lee. Sebenarnya melihat
Chaerin dalam keadaan tidur itu kebiasaan Jiyong beberapa hari ini
setelah pernikahan mereka berlangsung. Yeoja pertama yang berhasil
menyentuh hatinya yang dingin tidak pernah tersentuh cinta sejak lama
dan mungkin cinta untuk selamanya.
“tidak, appa. Dia terlihat
lelah. Dan tidak ada salahnya dia tidur bersamamu disini. Tapi, aku akan
tetap tidur disampingnya. Aku sudah memesan kasur ektra untukku agar
aku bisa tidur dibawah.”jawab Jiyong dan mertuanya tertawa.
“maafkan anakku yang telah merepotkanmu. Aku tahu
kau banyak membantunya dan banyak bersabar.”
“mungkin inilah cinta. Aku bahkan tidak keberatan menjadi pelindungnya, menjadi tempatnya bergantung dan target kekesalannya.”
“kau pasti tau pengecut itu kembali.”kata tuan Lee dengan nada kesal terselip dari perkataannya.
“ya, dia menemui Chaerin tadi. Tapi, untung saja aku segera datang.”
“dia lebih giat mencari keberadaan Chaerin saat ini. Aku dengar
istrinya itu juga belum memiliki anak. Aku khawtir mendekati Chaerin
lagi adalah alasannya kembali.”
“tidak akanku biarkan. Aku yakin Chaerin pun sebenarnya tidak mencintai namja itu sedalam yang dia kira.”
“mengenai bulan madu..”
“sebaiknya appa sehat dulu baru kita rencanakan lagi.
Aku serius. Jangan khawatirkan rumah tangga kami, appa. Karena aku akan
mengikat Chaerin dan membuat Chaerin tidak akan mau ku lepaskan.
Chaerin adalah yeoja pertamaku, cinta pertamaku oleh karena itu aku
tidak berpengalaman masalah cinta tapi, bukan berarti aku tidak bisa
membuatnya mencintaiku juga.”ucap Jiyong yakin.
.
.
.
.
Pagi telah datang, sinar matahari lewat gorden tipis membuat chaerin
terbangun. Mendengar suara air mengalir dari kamar mandi dan melihat
appanya tidak ada Chaerin yakin bahwa appanya dikamar mandi. Baru saja
mau turun dari kasur kakinya menyenggol sesuatu. Saat Chaerin melihat
kebawah, betapa kagetnya Chaerin melihat suaminya tidur dengan kasur
tipis dibawah tanpa menganti pakaian yang dikenakannya sejak kemarin.
Kenapa dia tidak membangunkanku dan mengajakku pulang?
“semalam
suamimu itu melihat kau terlelap dan tidak tega membangunkanmu. Padahal
aku sudah menyuruhnya untuk membawamu pulang?”kata appa yang tidur di
sampingku.
“appa tidak suka aku menginap disini?”
“tentu saja aku tidak suka karena itu bisa menunda
keberadaan cucuku.”kata appa dengan nada mengambek membuatku jadi merasa bersalah.
“maafkan aku, appa. Sebaiknya aku mandi dulu.”kataku sambil beranjak
dari kasur dan melangkah ke kamar mandi dengan hati-hati. Kejadian
kemarin, saat Taeyang oppa mendatangiku aku merasa tertolong dengan
kehadiran ahjusshi. Dia menjagaku seperti janjinya. Dia mengerti dan
memperlakukanku dengan baik. Haruskah aku belajar mencintainya? Dan
membuat harapan appa menjadi kenyataan? Sudah siapkah aku?
Aku
ke luar dari kamar mandi dengan baju yang sama karena aku kehabisan baju
gantiku. Aku tidak melihat appa di kasur dan hanya ahjusshi mesum itu
yang masih tertidur di lantai dengan pulasnya. Kasihan sekali. Selama
kami tidur bersama, dia selalu bangun lebih dulu dibandingkan denganku.
Aku belum pernah melihat wajah tidurnya selama ini. Bulu matanya
ternyata cukup panjang, bibirnya tipis dan.. sial, kenapa aku malah
menilai wajahnya?
“ahjussi bangun.”teriakku agar membangunkannya.
“hmm...”katanya bergumam pelan.
“ayolah bangun, kita harus sarapan, ahjussi!”kataku sambil menepuk pelan pipinya agar dia terbangun.
Grep. Tangannya yang kokoh memegang pergelangan tanganku dengan kuat.
Matanya masih tertutup. Dengan perlahan dia mennggerakkan tanganku
dipipinya membuat tanganku mengelus pipinya yang mulai di tumbuhi
rambut-rambut.
“bangunkan suamimu seperti ini. Maka itu bisa
membuatku semakin semangat menjalani hariku.”katanya seakan bergumam
karena matanya masih tertutup. Secara cepat kini wajah ahjussi itu sudah
di depan wajahku dan matanya terbuka. Dia sudah bangun.
“alangkah baiknya jika di tutup dengan kecupan.”katanya tersenyum dan mengecup bibirku dengan cepat.
“seperti ini.”katanya lalu mengelus pipiku dan menghilang di balik
pintu kamar mandi. Jantungku berdetak dengan menggila. Apa aku terkena
serangan jantung ringan??
.
.
.
TBC

Tidak ada komentar:
Posting Komentar