jangan lupa

JANGAN LUPA KOMENTAR YA..

Minggu, 28 Februari 2016

LOST AND GIVE PART 2


 
 
LOST AND GIVE [part 2]
Author: Kim Daisy
Cast: SkyDragon, Taeyang dan Soo Song
Genre: ??
pict: ahelnyann (thks bgt cover kecenya)

***

Aku menolak ide gila yang dilontarkan oleh Jiyong. Tentu saja. Aku menolak keras. Biasanya aku menjadi anak manis yang menurut dengan appa tapi, kini aku bertengkar hebat dengan appa. Ini semua karena ahjussi tampan itu.

Menghela nafasku, berharap beban ikut keluar dengan nafasku.

“nona, ada paket untuk anda.”kata sekretaris Choi dengan membawa sesuatu yang...

“dari siapa permen-permen itu?”tanyaku.

“disini ada kartunya nona.”kata sekretaris Choi sambil memetakkan sekeranjang permen lollipop berukuran sedang di atas meja kerjaku. Ku raih keranjang permen itu agar semakin dekat denganku.

‘makan aku agar harimu semakin manis.
-tunanganmu, J’

Setelah hari itu setiap pagi, sekeranjang permen itu selalu ada di atas mejaku selama tiga hari ini. Karena aku tidak mungkin memakannya lagi sering kali ku bagikan pada karyawanku.

Tapi, hari ini sekeranjang besar berisi permen beraneka rasa dikirim untukku. Setelah permen-permen itu datang setiap lima belas menit sekali kembali muncul paket permen lagi hingga ruanganku penuh dengan berbagai jenis permen dan coklat. Membuat ruanganku seperti toko permen.

“apa ahjussi ini berniat membuatku sakit gigi?! Sekretaris Choi, hubungin Kwon Jiyong dari K-world. Bilang kalau dia telah berhasil membuat ruanganku menjadi sarang semut. Dan minta dia datang ke sini, dia harus melihat seberapa besar masalah yang dibuatnya.”perintahku karena emosi.

@satu jam kemudian.

“kenapa? Kau merindukanku?”kata seseorang yang sudah ada di ruanganku. Aku hampir saja lupa bahwa aku telah ‘mengundangnya’ karena aku dipusingkan oleh pekerjaanku yang lain.

“lihatlah apa yang kau buat di ruanganku, tuan Kwon.”kataku. Dia melihat keseliling ruanganku yang sudah ada lebih dari 25 buket permen dan coklat dengan berbagai ukuran, warna, bentuk dan jenis.

“ruangan ini bagus.”komentarnya sambil mengangguk-angguk dan membuatku semakin jengkel. Dia menyebalkan.

“kau berniat untuk membuat gigiku sakit?”

“tidak mungkin. Karena aku memberikan yang terbaik, sehingga kemungkinan gigimu sakit sangat kecil. Lagi pula tidak mungkin kau ceroboh tidak menggosok gigimu setelah memakannya bukan?”katanya santai dan itu semakin-semakin membuatku berniat membungkusnya dan mengirimkannya ke kutup utara. Namja tua ini benar-benar menyebalkan.

“bawa permen-permen dan coklat-coklat ini kembali, tuan Kwon.”ucapku.

“tidak bisa. Aku memberikannya untukmu, Chaerin.”protesnya.

“tapi, aku tidak mungkin memakannya semuanya. Aku tidak mungkin memakannya setiap hari. Berhenti bersikap seperti ini.”

“itu karena kau tidak menghubungiku. Aku fikir kau tidak menerimanya.”

“tidak akan mungkin ada yang berani menganggu paket untukku, tuan Kwon Jiyong yang terhormat.”

“baiklah. Aku akan berhenti mengirimkanmu permen dan coklat itu. bisakah kita makan siang bersama?”

“aku sibuk.”

“bagaimana dengan makan malam?”

“aku akan selalu menemani appa makan malam. Jadi, aku tidak akan makan malam dengan orang lain.”kata Chaerin tanpa melihat Jiyong dan memfokuskan dirinya pada dokumen yang dibacanya.

“baiklah, aku terima undanganya. Sampai jumpa nanti malam.”kata Jiyong setelah menghela nafasnya dan pergi meninggalkan ruangan Chaerin.

“dia. gila.”gumam Chaerin kesal.

Chaerin mengakui bahwa Jiyong adalah namja tampan dan kwalitasnya di atas rata-rata karena kekayaannya. Hanya saja Chaerin tidak tertarik menjalin kisah cinta. Apalagi dengan seorang Kwon Jiyong yang baru saja dia kenal. Tidak. BIG NO!
--------------------

Seperti yang dikatakan Jiyong, malam ini Jiyong sudah duduk di meja makan bersama appanya Chaerin.

Chaerin tidak kaget dengan kedatangan Jiyong, bukan karena sudah dibilang Jiyong sebelumnya tapi, Chaerin menilai Jiyong adalah tipe namja yang tidak mudah menyerah. Tentu saja, jika dia mudah menyerah tidak mungkin Jiyong mendapatkan posisi tertinggi di dunia bisnis seperti sekarang ini.

“jadi, kapan rencana kalian membangun apartemen dan hotel di India. Proyek itu akan segera dilakukan
kan?”tanya appa Chaerin dengan antusias.

“hingga saat ini tidak ada masalah. K-world juga sudah mensetujui proposal kita. Menurut hasil rapat lalu. 2 minggu lagi aku akan mengecek lokasi.”jelas Chaerin.

“lalu, kapan kalian akan melakukan pertunangan resminya?”

“apa?”Chaerin terkaget.

“ya, pertunangan kalian kapan?”

“tidak ada pertunangan. Aku tidak akan menikah dengan tuan Kwon Jiyong yang terhormat. Juga tidak dengan namja lainnya di luar sana. Aku. Akan. Hidup. Sendiri.”kata Chaerin penuh ketegasan dan dia angsung keluar dari ruang makan. Tanpa mempedulikan teriakkan Jiyong yang memanggilnya.

Pagi ini saat terbangun Chaerin merasakan firasat yang membuatnya tidak nyaman seakan ada sesuatu yang terjadi. Walau begitu Chaerin tetap bersiap-siap untuk berkerja.

“anda akan kerumah sakit sepagi ini, nona? Apa saya perlu menyiapkan baju tuan besar?”tanya seorang pelayan yang sedang melayani Chaerin di meja makan.

“apa maksudmu bibi Han? Dimana appa?”tanya Chaerin binggung.

Chaerin melangkah dengan tergesah-gesah di lorong rumah sakit menuju kamar tempat appanya di rawat, walaupun begitu dia tetap terlihat anggun. Dokter menjelaskan kondisi tuan Lee memburuk. Serangan jantung kali ini lebih parah dari sebelumnya hingga membuat tuan Lee pingsan setelah anfal dan hingga sekarang belum juga sadar. Chaerin yang mendengar penejelasan dokter tentu saja menangis. Chaerin tidak mengetahui bahwa appanya menderita penyakit jantung yang ternyata sudah 6 tahun ini disembunyikan appanya.

Chaerin memegang tangan appanya kuat sambil menangis menyesal. Seharusnya dia lebih perhatian dengan appanya yang sudah tidak muda lagi.

Seharusnya dia sadar bahwa appa juga perlu waktu bersama dengannya, tidak hanya makan malam bersama saja. Kalimat-kalimat itulah yang kini memenuhi benak Chaerin.

“tuan Lee, pasti akan sadar sebentar lagi. Kondisinya jauh lebih baik setelah kau datang dari pada semalam, Chae.”kata Jiyong yang baru saja masuk ke kamar tuan Lee. Semalaman Jiyong menunggu tuan Lee seorang diri. Tapi, tadi pagi dia ke luar sebentar untuk mengambil baju gantinya yang di antar asistennya.

“kau jahat. Kau membiarkanku menjadi anak yang tidak berbakti.”kata Chaerin dengan menangis dan di kecupnya tangan appanya yang lemah.

“aku sudah memanggilmu berkali-kali tapi, kau bahkan tidak melihat kebelakang. Semua terjadi begitu cepat dan tuan Lee harus dibawa kerumah sakit jadi aku hanya berfikir untuk membawa tuan Lee ke rumah sakit secepatnya.”jelas Jiyong tenang.

“tapi, kau bisakan mengghubungiku?!”

“aku terlalu panik tadi malam jadi aku mengirimkanmu pesan pada jam 3 pagi berharap kau membacanya setelah kau bangun tidur. Aku tidak ingin kau datang terlalu pagi. Kau tidak membuka ponselmu?”kata Jiyong lembut dan menghadapi Chaerin dengan tenang.

Chaerin membuka ponselnya yang ada di tas kecil miiknya.

“aku tidak membuka ponsel sejak semalam.”katanya lirih.

“aku sudah meminta asistenku membawakan sarapan untuk kita, sebaiknya kau sarapan dulu.”kata Jiyong sambil metakkan sekantung berisi makanan untuk mereka di sebuah meja di dekat Chaerin.

“aku sudah makan.”

“jangan berbohong! Bibi Han sudah melapor padaku.”

“kau mengawasiku?”

“tidak. Aku hanya tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi
padamu. Kau bisa makan dulu, jika kau malu karena aku akan pergi untuk mandi.”kata Jiyong dan masuk ke kamar mandi.

Beberapa jam kemudian tuan Lee sudah sadar dan Chaerin begitu senang. Sedangkan Jiyong sudah pamit pergi 30 menit yang lalu.

“kenapa appa tidak menceritakan hal ini padaku? Kenapa appa menyembunyikan penyakit ini?”tanya Chaerin dengan lembut. Tuan Lee pun tersenyum.

“appa tidak ingin membuatmu cemas.”

“aku memang tidak cemas tapi, sepertinya aku terkena serangan jantung lebih parah dari pada appa karena mengetahui ini secara mendadak.”kata Chaerin dan tuan Lee terkekeh sambil mengelus kepala Chaerin lembut.

“sebelum appa pergi. Appa ingin melihatmu menikah dengan Jiyong. Dia namja yang baik. Dia pantas untukmu, begitu juga sebaliknya. Kalian serasi.”

“appa!”

“jangan biarkan appamu pergi dengan rasa cemas karena tidak ada yang menjagamu dan melindungimu
Chae.”

---------

Chaerin buru-buru mengubungi Jiyong, menanyakan keberadaannya. Setelah mengetahui Jiyong ternyata di kamar hotelnya Chaerin buru-buru mendatangi kamar tempat Jiyong menginap yang ternyata di salah satu kamar di hotel miliknya.

“ada apa? tidak terjadi sesuatu apa tuan Lee kan?”kata Jiyong yang kaget melihat Chaerin di depan kamarnya.

“tidak ada. Appa baik-baik saja. Apa aku di izinkan masuk?”kata Chaerin dan Jiyong memirikan tubuhnya agar Chaerin bisa masuk ke kamarnya dengan leluasa.

“apakah kau punya dendam dengan yeoja? Kau punya fans fanatic yang membuatmu sulit berhubungan dengan yeoja? Apakah yeoja yang kau cinta ternyata menikah dengan namja lain sehingga kau memaksaku menikah denganmu? Diantara itu mana yang benar?!”kata Chaerin dengan memerintah. Dengan anggkuh Chaerin duduk di sofa tanpa di persilahkan lebih dahulu.

“ada apa sebenarnya? Apakah ini sebuah wawancara dadakan?”tanya Jiyong binggung.

“jawab saja!”kata Chaerin dengan sikap mendominasinya.

“aku tidak memiliki dendam dengan yeoja. Dengan wajah dan posisiku aku jamin aku memiliki fans tapi, mereka tidak akan melukaimu. Itu janjiku. Aku tidak pernah jatuh cinta. Hanya saja sebelumnya aku tidak percaya cinta.”jelas Jiyong dengan tenang.

“kau GAY!!”teriak Chaerin tanpa sengaja karena kaget. Untung saja mereka mengobrol di dalam kamar hotel yang mewah dengan kamar yang kedap suara sehingga tidak ada yang mendengar teriakan Chaerin.

“aku normal. Sungguh. Aku juga tidak tertarik dengan namja. Aku akan tes kesehatan, jika perlu.”jelas Jiyong setelah menarik nafas dengan dalam.

“lalu, apa alasanmu dengan semua ini? Kau datang dan meminta pertunangan
ini. Kau mendekati uri appa untuk melakukan pertunangan. Mengirimkan pemen dan coklat untukku setiap harinya hingga lima belas truk. Apa kau ingin menikah denganku memanfaatkanku? Ada sesuatu yang ingin kau kuasaikan? Atau kau ingin menghancurkan keluargaku?”

“adik perempuanku, Jiyon menikah dengan Seung Hyun sahabatku. Mereka pasangan serasi. Hanya Jiyon keluargaku yang aku punya. Saat aku berusia 12 tahun dan Jiyon 9 tahun uri omma meninggal karena penyakit sedangkan sejak dulu kami tidak mengetahui keberadaan uri appa. Karena tidak ada yang menjaga dan kehidupan kami jauh dari kata layak kami dibawa ke panti asuhan dan Seung Hyun adalah sahabatku sejak kami di panti asuhan. Saatku berumur 15 tahun seorang pria berumur 48 tahun mengangkat kami berdua sebagai anaknya karena prestasi akademik yang kami miliki. Appa angkatku itu tidak memiliki istri, dia punya kenangan buruk dengan yeoja. Karena itu dia perlu penerus sehingga appa angkatku membesarkan kami dengan baik. Aku disekolahkan di sekolah terbaik begitu juga dengan Jiyon. Walau begitu appa tidak memanjakan kami. Di saat usiaku 17 tahun appa meberikanku posisi trainer di perusahaannya. Di saat usia Jiyon 22 tahun, Seung Hyun sahabatku dan cinta pertama Jiyon melamarnya. Dan mereka segera menikah.”kata Jiyong berhenti bercerita sejenak. Menutup matanya dan bernafas dalam berulang kali.

Saat dia membuka matanya terlihat matanya mulai berkaca-kaca, ada luka mendalam sehingga kini dia seperti itu. walaupun Chaerin binggung ada hubungan apa di antara cerita Jiyong dengan pertanyaan yang dia berikan.

“setelah mereka menikah mereka pergi untuk berbulan madu. Mereka berjanji akan datang untuk perayaan baik jabatanku yang saat itu tinggal dua minggu lagi tapi, mereka tak kunjung pulang karena. Pesawat mereka mengalami kecelakaan sehingga tidak ada yang selamat. Appa yang mendengar kabar itu pun meninggal karena penyakit jantung yang di deritanya. Saat itulah masa kelamku. Menutup hidupku dari dunia. Membuatku sulit mempercayai karena tidak ingin kembali di tinggalkan orang yang kupercayai dan ku sayangi.
Termasuk dengan cinta.”jelas Jiyong dengan perlahan karena menahan tangisnya. Chaerin yang disampingnya binggung harus berbuat apa. Chaerin bisa merasakan sakit itu. Chaerin juga merasakan sesak dan kesedihan mendalam di dadanya. Tanpa sadar Chaerin mendekatkan dirinya dan akhirnya memeluk Jiyong.

Mengelus punggung Jiyong dengan perlahan agar Jiyong menjadi tenang.

“jangan teruskan lagi! Kau terluka.”kata Chaerin lembut karena khawatir.

“aku sempat berfikir untuk menjalani hal yang sama dengan appa. Mengangkat anak berprestasi untuk menjadi penerus. Sebelum keputusanku bulat aku malah bertemu denganmu.”kata Jiyong tersenyum lembut dengan air mata yang membasahi wajahnya.

“aku melihatmu menahan tangis di pernikahan salah satu karyawanku. Sejak saat itu aku terus memikirkanmu. Dan beberapa minggu kemudian aku sadar aku tertarik denganmu. Sayangnya saat aku sadar aku tidak di Korea dan aku tidak bisa ke Korea beberapa tahun demi memajukan perusahaanku. Tapi, selama itu juga aku tidak berhenti memikirkanmu setiap harinya. Apa kau percaya?”

“masalah keluargamu aku percaya tapi, tentang perasaanmu dan memikirkanku tentu saja tidak. Well, karyawanmu itu..”

“ya.. Taeyang bodoh yang tidak melihat berlian indah di sampingnya.”ucap Jiyong dengan kilatan amarah dimatanya.

“kau mengatainya”

“dia memang bodoh. Jika aku lupa ingatan pun aku pasti akan kembali mencintaimu.”

“kau tahu?”tanya Chaerin kaget.

“tapi, tidak masalah. itu lebih baik karena itu adalah peluang agar aku mendapatkanmu.”kata Jiyong dengan tersenyum licik. Chaerin mulai kesal karena Jiyong cepat sekali merubah suasana haru dan kembali menjengkelkan.

“dia temanku.”

“dia menjadi temanmu semejak aku usir dia dengan halus.”

“maksudmu?”tanya Chaerin binggung.

“ya, aku mengatakan bahwa dia di promosikan dan naik jabatan menduduki kursi tertinggi di cabang Indonesia. Dan dia menerima umpannya. Aku tidak bisa diam saja saat aku tidak ada di dekatmu dan dia bisa saja mendekatimu.”

“dia memiliki istri! Tidak mungkin dia mendekatiku.”

“aku bukan tuhan yang mengetahui hati dan pikiran seseorang jadi aku harus melindungi milikku.”

“oh, tuan Kwon Jiyong yang terhormat kau mulai lagi. Aku. Bukan. Milikmu.”kata Chaerin.

“belum tapi, akan.”

“ah.. kau kembali menjengkelkan. Aku akan pulang.”kata Chaerin bangkit dari sofa.

“kau tidak makan dulu disini? Aku akan meneraktirmu.”

“tidak perlu. Appa menungguku.”kata Chaerin dan keluar dari kamar Jiyong begitu saja. Chaerin binggung. Dia menemui Jiyong hanya ingin mengetahui di balik Jiyong mengejarnya dan semangat memintanya untuk bertunangan. Mendengar cerita Jiyong, Chaerin mulai mengambil keputusan. Dia akan menurut, dia akan menerima lamaran Jiyong agar appanya bahagia. Tapi untuk mencintai Jiyong, Chaerin tidak akan semudah itu memberikan hatinya pada Jiyong.

Chaerin baru saja sampai ke kamar tempat appanya dirawat. Tuan Lee masih tertidur karena tadi di suruh istirahat oleh dokter. Melihat appanya tertidur Chaerin duduk di samping kasur appanya. Chaerin berfikir dia harus membahagiakan appanya. Dia tidak ingin tidak melakukan apa-apa seperti yang terjadi saat ommanya meninggal karena sebuah kecelakaan sekitar belasan tahun lalu. Saat itu Chaerin masih sangat kecil untuk mengerti yang terjadi kecuali rasa sedihnya.

Lalu sebuah pesan singkat masuk ke ponselnya. Setelah membaca isi pesan tersebut Chaerin menjadi geram dan segera mengubungi seseorang.

“aku dengar kau akan kembali.”kata Chaerin sepertinya pernyataan bukan sebuah pertanyaan setelah teleponnya diangkat oleh seseorang yang di hubunginya.

“ya”

“jam berapa penerbangannya?”kata Chaerin masuk ke kamar mandi agar
appanya tidak mendengar percakapan mereka.

“aku sudah dibandara, sebentar lagi akan...

“dengarkan aku, tuan Kwon Jiyong! Jika kau memang serius ingin menikah denganku maka, segera kembali dan jangan pergi. Batalkan penerbangan itu. Aku setuju untuk pertungan kita. Bahkan untuk sebuah pernikahan.”perintah Chaerin lugas dan telepon pun terputus. Chaerin tidak ingin Jiyong pergi, itu akan memakan waktu. Dia takut waktunya tidak cukup banyak memberikan kebahagian untuk appanya. Masalah yang akan terjadi nanti, ya nanti saja pikirkan.

TBC

Tidak ada komentar:

Posting Komentar