Judul : SHADOW OR MIRROR PART 1
Author: Mahardika Putri
Genre: romance, misteri and family.
Rating: T
Cast: Lee Chaerin (CL 2NE1)
Lee Chaerim (CL 2NE1)
Kwon Jiyong (G-Dragon BIG BANG)
cuap-cuap author: ini FF udah lama banget tapi, sekarang baru 90% jadi. Ingin banget nulis FF yang temanya ada tokoh kembar. Dan lagi-lagi Dika balik ke Genre misteri. Hehehehe.. doyan abis. FF ini dika jadiin 2 karena ada 10% yang belum jadi. Semoga suka.
‘’’’’’’’’’’’’’’’’’’’
jika kau ingin memiliki sahabat apakah kau akan memilih SHADOW OR MIRROR??
Seorang MIRROR yang tampil menarik sepertimu atau SHADOW yang sembunyi di kegelapan?
‘’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’
Sepasang anak berumur 14 tahun bermain ayunan disebuah taman bermain.
“jika aku boleh memilih, aku akan memilihmu dengan yakin.”kata anak namja.
“memilihku? Bukankah kita berteman bertiga?”Tanya anak yeoja.
“annio! Kau bukan temanku tapi, kau kekasihku Chaerin.”kata namja itu dengan senyuman lebar lalu mereka berdua tertawa bersama sambil bergandengan tangan.
“OPPA!!”teriakku dan aku terbangun dari tempat tidurku.
Disekeliingku dipenuhi dengan orang-orang yang tak ku kenal. Tunggu! Aku rasa ini hanya mimpi.
“syukurlah kau sudah bangun Chaerin.”kata seorang yeoja tengah baya yang memelukku.
“apakah ini mimpi?”gumamku.
“Omma merindukannmu.”gumam yeoja itu. Aroma ini, aroma uri omma yang sangat aku rindukan.
“ne, omma. Aku juga rindu saat kau memanggilku.”kataku dengan menangis.
“ah, changkaman! Aku harus menelpon suamimu. Dia sangat mengkhawatirkanmu.”kata uri omma.
“suami?”tanyaku ragu.
“ne! dia sangat khawatir denganmu. Dia baru menelponku beberapa menit yang lalu menanyakan keadaanmu.”jelas omma.
“aku sudah menikah?”kataku binggung.
“ kalian sudah hampir empat tahun menikah, kau lupa?”Tanya ommaku binggung.
“sepertinya kita harus mengecek kondisnya nyonya.”kata seorang namja di samping ranjangku dengan jas putih ala dokter. Di sampingnya terdapat tiga orang suster cantik bagaikan dayang-dayangnya.
‘‘‘‘‘‘‘‘‘‘‘‘‘‘‘‘‘‘‘‘‘‘‘‘‘‘‘‘‘‘‘‘‘‘‘‘‘‘‘‘‘‘‘‘‘‘‘‘‘
Namaku Lee Chaerin. Aku baru saja bangun dari koma. Apa yang ada diingatanku kini tak sesuai dengan di dunia nyata. Dokter bilang itu mimpi karena aku koma. Seingatku aku sungguh tak memiliki suami dan masih berumur 25 tahun. Tapi, kenyataannya umurku 28 tahun dan memiliki suami. Kata omma aku menikah saat umurku 25 tahun dan telah berpacaran dengan suamiku sejak SMA tapi, seingatku aku tak pernah belajar di SMA. Yang paling penting adalah sudah 3 tahun aku terbaring di kasur ini dan aku sudah memiliki anak yang sudah aku tinggalkan tiga tahun ini.
“Hunchae!”teriak seorang namja yang berdiri di depan pintu. Matanya basah dan mulai menetes di pipinya. Dia berlari ke arahku dan memelukku.
“aku yakin. Kau pasti bangun.”katanya sambil menangis. Aku sangat yakin dia menangis karena bahuku terasa basah.
“Kwon Jiyong?”gumamku. Dia segera melepaskan pelukannya. Jiyong melihat omma dengan penuh tanya.
“uri Chaerin.. kata dokter dia lupa ingatan dan selama dia koma dia bermimpi hingga dia tidak bisa membedakan dunia nyata dan mimpinya. Jadi, dia tak mengingatmu sebagai suami.”jelas omma dengan berat.
“kau suamiku, Jiyong oppa? Aku seperti berada di dunia masa depan yang datang dari masa lalu”ucapku tak percaya. Seingatku dia adalah cinta pertamaku. Tapi, suasana menjadi kaku.
“mianhae, aku tak ingat kau adalah suamiku bahkan aku tak ingat saat kau memintaku menjadi istrimu.”ucapku salah tingkah karena melihat wajahnya murung.
“jangan seperti itu! Tidak masalah. Aku tidak apa-apa. Aku mengerti kondisimu.”ucap Jiyong oppa dengan tersenyum dan membetulkan letak poniku. Aku sangat merindukan senyumannya itu. Rasanya sudah belasan tahun aku tak melihatnya.
----- dua minggu kemudian-----------
Hari ini aku sudah bisa keluar dari rumah sakit. Jiyong oppa mengantarku untuk pulang.
“omma dimana?”tanyaku sambil menatap Jiyong yang masih mengemudi. Dari tadi, senyumannya tak pernah hilang dari wajahnya.
“omma? Omma sudah menunggu di rumah. Bersama princess kita.”jelas Jiyong oppa tersenyum.
“siapa nama anak kita?”tanyaku penasaran. Sejujurnya, aku masih tak percaya.
“Chae Rim. Kwon Chae Rim. Kau yang memberikan nama itu untuknya.”kata Jiyong oppa gembira.
“Chae Rim unnie.”gumamku kaget.
“kajja, turun kita sudah sampai.”
---------------------AUTHOR POV----------------------------
Chaerin tiba di rumahnya dengan digandeng Jiyong suaminya. Saat baru saja Chaerin membuka pintu seorang anak kecil berlari dan mendekapnya.
“Chae Rim?”Tanya Chae Rin binggung. Seingat dia hanya ada satu Chae Rim, saudara kandungnya.
“aku tahu kau pasti sangat kaget tapi, Chae Rim tidak sabar untuk menyambutmu jadi dia mengejarmu.”jelas ommanya. Chaerin duduk dengan berjongkok lalu mengendong Chaerim.
“kau masih sangat lemah. Jangan memaksakan!”kata Jiyong Khawatir.
“sudah dua tahun aku terbaring lemas dan tak pernah melihat perkembangan anakku. Setidaknya saat pertama kami bertemu aku harus mengendongnya.”jelas Chaerin.
“matanya. Hidungnya. Bibirnya Dan mirip sekali dengan Chaerim unnie. Anni! Dia sangat mirip dengan ku.”pikir Chaerin.
Chaerin kembali membangun keluarga bahagianya. Tentu dia sangat bahagia karena saat terbangun dari komanya dia telah menjadi istri dari namja yang seorang cinta pertamanya dan memiliki anak yeoja yang cantik dari pernikahannya.
“omma!”teriak Chaerim saat terjatuh di rerumputan. Lalu dia menangis dengan keras. Chaerin langsung mengangkat Chaerim yang jatuh dari tanah dan memeluknya dengan kuat.
“gwinchana, omma ada disini.”ucap Chaerin sambil memeluk dan mengelus-ngelus anaknya yang jatuh karena berlari.
“berhenti memeluk ommamu. Ommamu ini milik appa.”kata Jiyong yang tiba-tiba datang memeluk Chaerin dari belakang.
“oppa, jangan kekanak-kanakan!”tegur Chaerin sambil meliriknya.
“Chaerim, maukah kau berbagi ommamu untuk appa?”Tanya Jiyong.
“anni! Omma milikku!”kata Chaerim sambil mengelengkan kepalanya dengann lucu.
“ayolah, kau harus membagi ommamu untukku.”kata Jiyong terus menggangu Chaerim.
“aku tidak mau!”kata Chaerim lucu. Chaerin pelan-pelan melepaskan Chaerim dan berbalik memeluk Jiyong.
“omma ingin sama appamu.”ucap Chaerin sambil tertawa.
“omma, milikkku. Appa tak boleh mengambil omma..”rengek Chaerim sambil berusaha melepaskan pelukan Chaerin dari Jiyong. Mereka pun tertawa saat melihat Chaerim dengan kesal berusaha melepaskan pelukan mareka. Lalu, Chaerin dan Jiyong berbarengan memeluk Chaerim.
“Terimakasih karena aku memiliki keluarga yang indah ini, tuhan.”gumam Chaerin dalam hati.
‘’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’
Chaerin dan Jiyong tiduran dikasur sambil menonton televisi. Sedangkan Chaerim tidur di tengah-tengah mereka. Sudah seminggu ini Chaerim ingin mareka tidur bersama.
“Chagia..”kata Jiyong dengan nada manja.
“hmm..”ucap Chaerin singkat.
“kenapa kau membiarkan Chaerim tidur disini?”
“karena dia pasti merasa kesepian tidur sendiri.”jawab Chaerin sambil menonton televisi.
“kau buat saja temannya biar tidak kesepian.”
“maksudmu adiknya?”Tanya Chaerin kaget dan Jiyong mengaguk sambil tersenyum manis.
“ahh.. oppa. Aku tak bisa. Aku harus tidur sekarang.”kata Chaerin mengalihkan.
“Hunchae.. empat atau lima anak lagi biar rumah ini ramai. Bukankah kau juga merasa kesepian jika di rumah?”kata Jiyong mencoba merayu Chaerin.
“kalau begitu kau saja yang melahirkan semuanya.”ucap Chaerin kesal.
“kau kejam sekali. Mana mungkin aku yang melahirkan.”
“kalau begitu jangan memaksaku, oppa.”kata Chaerin.
“kasihan Chaerim, dia butuh teman.”kata Jiyong sambil mengelus rambut Chaerim, anaknya yang sedang tidur.
“aku mau tidur.”kata Chaerin sambil menutup semua wajahnya dengan selimut. Chaerin bisa mendengar Jiyong terkekeh sekarang.
“lagi-lagi dia hanya mengerjaiku.” Pikir Chaerin.
@keesokan harinya
“hoam.. dimana Chaerim? Apakah dia belum pulang?”kata Jiyong sambil turun dari tangga. Hari ini Jiyong tidak berkerja jadi Chaerin sengaja tidak membangunkannya.
“ne, dia belum pulang. Mungkin sebentar lagi.”jawab Chaerin sambil melihat jam dan membalikkan masakannya, ayam panggang.
“ah..aromanya enak.”kata Jiyong sambil memeluk Chaerim dari belakang dan mencium lehernya.
“APPAA!! Omma milikku!”protes Chaerim yang tiba-tiba ada di depan mereka dengan sepatu dan tas sekolahnya yang belum terlepas. Chaerin dan Jiyong menjadi kaget dan bingung.
-------------------------
@lima tahun kemudian
Chaerin dan Jiyong berjalan dengan tergesah-gesah di koridor rumah sakit. Mereka mendapat telepon dari sekolah Chaerim bahwa Chaerin di bawa ke rumah sakit karena asma. Saat menemukan kamar yang di cari Chaerin langsung berlari dan memeluk anaknya yang sedang terbaring di kasur.
“omma, aku baik-baik saja.”ucap Chaerim tersenyum. Dia tak ingin membuat Chaerin cemas. Tapi, saat itu juga Chaerin melepaskan pelukannya dan keluar dari kamar Chaerim.
---------------------- Jiyong Pov--------------------------------------------
Aku melihat Chaerin bertingkah aneh akhir-akhir ini. Dia tak peduli lagi dengan Chaerim padahal kondisi Chaerim sangat lemah akhir-akhir ini. Bahkan Chaerin tak lagi berkerja. Dia hanya di dalam kamar berdiam diri. Saat aku pulang dia hanya sesekali berbicara denganku. Dan dia sama sekali tak mengizinkanku menyentuhnhya.
“Chaerin, besok kita ke rumah sakit ya? Aku sudah meminta izin agar aku bisa menemanimu.”ucapku sambil melepaskan dasiku. Sedangkan Chaerin duduk di tepi kasur dengan membelakangiku.
“jam 10 setelah mengantar Chaerim ke sekolah kita langsung ke rumah sakit.”
“tidak perlu.”ucap Chaerin dingin. Chaerin membaringkan tubuhnya di kasur dengan menyamping. Aku menaiki kasur dan menyentuh bahu Chaerin. Tapi, Chaerin segara menepis tangganku.
“kau ke kantor saja. Aku bisa kerumah sakit sendiri.”ucapnya dingin. Lalu bangkit dari kasur dan keluar dari kamar. Aku tak mengerti apa salahku hingga Chaerin tak lagi peduli dengan keluarganya?
@keesokan pagi. Café
“sejak kapan Chaerin berprilaku seperti itu?”Tanya Dara nuna padaku. Dia rekan kerja Chaerin dulu.
“sejak dia tahu uri Chaerim menderita asma.”jawabku.
“mungkin dia merasa menyesal karena Chaerim memiliki penyakit asma.”
“dia tak memiliki penyakit asma itu unnie.”jelasku.
“asma itu faktor keturunan. Jadi mungkin saja.” Ucap Dara nuna.
“kau benar. Chaerim nuna juga memiliki penyakit asma.”kataku.
“tapi, dia tak perlu juga bersikap dingin padaku.”kataku lagi.
“apakah kau sudah mengeceknya kerumah sakit?”
“belum. Aku juga cemas mungkin dia sakit.”
“pabo! Mungkin dia sedang hamil. Sebagian wanita hamil juga mengalami masa dia membenci suaminya. Mereka juga sensitive. Jadi aku rasa kau akan memiliki anak lagi.”jelas Dara nuna dengan semangat.
“ne. kau benar! Aku harap begitu! Gomawo nuna! Aku harus pergi sekarang”ucapku penuh semangat sambil meninggalkan Dara nuna.
@rumah
Huft.. dengan semangat aku berlari dari kantor ke rumah dan langsung membawa Chaerin ke rumah sakit dengan paksa. Dan ternyata Chaerin tidak sedang hamil. Tapi, kenapa hingga kini Chaerin berlaku dingin padaku dan Chaerim? Apa yang membuat dia seperti ini?
“aku pulang!”kata Chaerim saat memasuki rumah. Dia berlari kecil ke arahku dan memelukku.
“appa, aku dapat juara lagi.”kata Chaerim dengan gembira. Ya, princess kecilku ini sekarang sudah besar.
“wah, kau memang kebanggaan appa. Gomawo, kau sudah belajar dan berusaha dengan giat!”ucapku padanya dengan terseyum. Sejenak aku bisa melupakan sikap Chaerin. Aku mengendong Chaerim tapi, dia meronta.
“wae?”tanyaku binggung.
“aku bukan anak kecil lagi appa. Aku sudah menjadi gadis sekarang.”katanya dengan percaya diri. Sungguh lucu. Dia mirip sekali dengan Chaerin saat kami masih kecil. Aku menurunkan Chaerim kembali dan memeluknya.
“ne, kau sudah besar tapi, appa masih boleh memelukmu kan?”godaku.
“ne, appa. Tentu saja.”ucap Chaerim tersenyum.
“appa, omma.. omma, apakah dia baik-baik saja?”Tanya Chaerim sedikit takut.
“wae?”tanyaku binggung.
“omma, mengusirku saat aku masuk ke kamar kalian. Appa, omma sakit apa? Apakah dia tak ingin di dekatku karena aku sakit?”Tanya Chaerim.
“annio, omma hanya tak enak badan. Sebentar lagi omma bisa bersama dengan kita lagi. Kau bersabarlah sebentar ne?”kataku.
“ne.”jawab Chaerim sambil mencoba tersenyum.
“untuk sementara ini kau jangan mendekati ommamu dulu. Dia stress karena perkerjaannya.”kataku sambil mengusap rambut Chaerim agar dia tenang.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Entah kenapa hatiku tergerak untuk mengunjungi makam Chaerim. Jika dia masih hidup mungkin dia tahu alasan Chaerin bersikap seperti ini karena mereka kembar.
Makam Chaerim masih seperti dulu. Rerumputannya sangat indah dan rapi menjadi hiasan gundukan tanah makamnya.
“Chaerim, akhirnya aku kesini lagi. Mianhae, tujuh tahun ini aku tak pernah ke makammu tepat di hari pemakamanmu.”ucapku.
“aku binggung dengan sikap uri hunchae. Andai kau masih ada mungkin dia akan mendengarkanmu seperti dulu. Sayangnya setelah dewasa kalian tak pernah bertemu.”ucapku lagi.
“kau siapa?”Tanya seorang namja dibelakangku. Aku segera membalikkan tubuhku. Ada seorang namja paruh baya yang membawa sekantung apel fuji di tangannya.
“ayah mertua”ucapku kaget.
@Chaerin Pov
Aku melihat ke kaca sesekali aku juga melihat ke bayanganku.
“Shadow or Mirror? Shadow, kau menyedihkan. Bahkan kau tak pernah tersenyum dan tertawa. Mirror, tidakkah kau bosan menjadi orang yang berhasil tampil terus.”gumamku.
----------FLASH BACK-----------------
Lima anak gadis berjalan kaki menuju rumah mereka setelah pulang sekolah. Mereka saling mengobrol tetapi, terlihat serius.
“kalian begitu identik. Kalian seperti cermin.”kata seorang yeoja saat melihatku dan Chaerim nuna.
“kami begitu sulit membedakan kalian. Bagaimana orang tua kalian? Apakah mereka bisa membedakan kalian?”Tanya temanku.
“tidak bisa. Mereka jarang bertemu dengan kami karena sibuk berkerja makanya mereka tidak bisa membedakan kami.”jawabku sambil melihat Chaerim unnie yang memainkan ponselnya.
“bisakah kau member tahu kami bagaimana cara membedakan kalian? Apakah kalian punya tanda lahir?”Tanya teman kami yang lain.
“tidak ada. Kecuali kebiasaan, prilaku dan selera kami yang berbeda.”jawabku.
“aku tipe cewek idol dan Chaerin tipe cewek payah yang hanya bisa bilang “ya” dan bisanya hanya belajar. Tipe orang yang sangat membosankan”jawab Chaerim unnie sambil tersenyum sinis padaku.
“menurut kalian, kalian itu seperti cermin atau bayangan?”kata temenku yang lain.
“kami itu bayangan. Karena saat unnie sakit aku juga merasakan sakit. Jika unnie bahagia aku juga akan bahagia. Seperti bayangan yang berjalan pincang saat tubuh yang asli terluka pada kakinya.”jawabku penuh percaya diri. Kalimat itu terucap begitu saja dari hatiku. Aku sangat mencintai kakakku.
“wah kalian solid!”kata teman-teman kami.
“tidak. Aku tak ingin jadi bayangan Chaerin. Aku adalah cerminnya. Semua yang aku lakukan itu adalah dia. Jika aku memaki itu juga karena dia. Aku juga tak ingin merasakan sakitnya.”ucap Chaerim dingin.
“tidak masalah. Karena aku tak akan mungkin memaki orang. Apalagi kau unnie. Aku juga tak ingin membuatmu sakit. Aku sungguh menyayangimu.”ucapku.
“coba saja kau buktikan.”ucap Chaerim unnie menatapku tajam.
@rumah
Aku terbangun dari tidurku karena perkelahian omma dan appa. Aku melihat keseberang kasurku, Chaerim unnie juga terbangun.
“aku akan membawa Chaerin bersamaku.”kata uri omma.
“aku tak berkerja aku tak mungkin membawa Chaerim. Kau tahukan biaya pengobatan Chaerim tidak murah.”kata uri appa.
“aku tak peduli. Itu yang harus kalian berdua terima. Kau dan Chaerim selalu membuat hariku berantakan.”jawab uri omma.
BLAM!! Pintu tertutup dengan keras. Hatiku terasa sakit dan Chaerim unnie aku yakin dia merasakan lebih sakit dari pada aku.
“Chaerim sekarang saatnya kau membuktikan padaku rasa sayangmu itu.”kata Chaerim unnie dan aku menangis pelan. Tidak! Aku menangis bukan karena dia memintaku berbohong. tapi, karena omma membenci salah satu dari kami.
@keesokan harinya
“Chaerin, ayo pergi!”kata omma sambil menarikku. Bukan aku tapi, Chaerim unnie.
“ne, omma.”kata Chaerim unnie. Mereka keluar dari rumah maninggalkanku yang berdiri mematung dan appa yang duduk di sofa dengan lemas.
“maafkan appa! Jika appa tidak bangkrut dan segera mendapatkan perkerjaan setidaknya kau bisa hidup dengan layak. Kita harus menjual rumah ini secepatnya sebelum asmamu itu kambuh karena appa tak punya uang lagi.”kata uri appa sambil menekan kepalanya sendiri.
“appa, itu tak perlu. Aku janji asmaku tak akan kambuh.”jawabku sambil mendekat pada appa.
“kau Chaerin. Bukan Chaerim! Kenapa kau di sini?”teriak apppa sambil mengoncang-goncangkan tubuhku dengan kuat. Aku tak kaget jika appa tahu bahwa ini aku karena semenjak appa bangkrut appa yang menjaga dan merawat kami di rumah. Sehingga appa bisa membedakan kami. Omma terlalu sibuk berkerja jarang bertemu kami sehingga dia tak bisa membedakan aku dan Chaerim unnie.
“jika unnie yang bersamamu maka kau semakin kesulitan karena biaya kesehatan unnie.”ucapku.
Plak!! Appa menampar pipiku.
“apa yang harusku lakukan? Ommamu akan pergi keluar negeri demi menyekolahkanmu dan kau memberikan hidupmu demi unnie yang selalu melukaimu itu? Aku tak bisa membiayai sekolahmu. Sebelum kau mengambil keputusan sebaiknya kau memikirkanya terlebih dahulu”kata appa marah padaku. Appa pergi dan masuk ke kamar. Appa meninggalkanku sendirian.
@keesokan harinya
“Chaerin, bereskan barang-barangmu. Semuanya. Kita harus pindah.”kata appa berteriak dari dapur.
“wae appa?”tanyaku binggung.
“karena tidak mungkin ada dua Chaerin.”kata appa.
------------- FLASH BACK END--------------------------
“Chaerin!!! Itu kau?” teriak Jiyong oppa dari pintu kamar. Aku menatapnya sekilas dan kembali menatap cermin.
“anni. Aku Chaerim. Chaerin ada di bawah.”kataku sambil menunjuk bayanganku sendiri.
“yeoja yang aku nikahi itu Chaerim dan kau Chaerin kan?”tanyanya.
“dari mana oppa tahu?”tanyaku sambil menatapnya dari kaca dengan santai. Tak ada rasa takut di diriku.
“appamu yang mengatakannya.”
“baiklah. Kalau gitu sekarang saatnya aku pergi.”kataku sambil mengambil dompetku.
“aku hanya membawa dompet jadi aku pergi dengan membawa dompetku. Mian, aku telah mengenakan baju milik Chaerim unnie.”kataku. Jiyong oppa menahanku, dia memegang pergelangan tanganku.
“kita bisa memulainya dari awal. Hanya kita yang tahu jadi kita bisa merahasiakannya.”kata Jiyong oppa.
“mwo? Memulainya? OK, namaku Lee Chaerim aku harus pergi dari ini karena aku tak mungkin mengantikan adikku Chaerin yang meninggal.”ucapku sambil menatapnya tajam.
“bukan. Bukan itu maksudku. Tidak bisakah kau tetap menjadi Lee Chaerin, menjadi istriku, menjadi ibu dari anak kita.”ucap Jiyong oppa.
“hah! Kita memang saling mencintaimu dulu. Bahkan tak ada satu namja pun yang ada dihatiku selain kau, oppa. Tapi yang kau kencani, yang kau nikahi dan yang menjadi ibu dari anakmu tetaplah Chaerim unnie. Kau bertahan hingga memiliki anak dengannya tandanya kau sangat mencintainya. Bukan aku oppa! Sadarlah! Aku ini bukan Chaerim unnie dan aku tak ingin mengantikan posisinya.”kataku dengan emosi yang meledak tapi, masih berbicara dengan nada datar. Air mataku menetes tapi, aku mencoba untuk kuat. Aku sangat sadar bahwa aku lah yang salah. tapi, aku tak bisa menerima karena Jiyong oppa mencintai Chaerim unnie.
“mianhae, Chaerin-ah!”ucap Jiyong oppa dengan lemas. Dia melepaskan tanganku.
“jika Chaerim menanyakan ibunya kau bisa ajak dia kepemakaman Chaerim unnie.”ucapku dan keluar dari kamarnya. Saat aku menuju pintu untuk keluar aku bertemu dengan Chaerim.
“omma, kau mau kemana? Kau ingin berbelanja? Apa aku boleh ikut denganmu?”Tanya Chaerim sambil tersenyum.
“tidak. Karena aku bukan ibumu.”ucapku dingin. Aku luar dari rumah itu. Sebenarnya aku tak tega meninggalkan Chaerim. Aku terlanjur mencintainya. Tapi, aku tak boleh egois untuk menjadi orang lain. Aku Lee Chaerin. Lee Chaerin yang tak sekolah tinggi dan hanya pegawai di restoran sebagai tukan cuci piring.
``````````````````````````
Bodohnya aku yang percaya begitu saja. Percaya bahwa hidup itu milikku. Aku terlalu senang karena suamiku adalah Jiyong oppa. Aku senang karena ada omma yang menjagaku. Aku terlalu senang karena aku memiliki putri yang cantik dan lucu. Tapi, kenyataannya tak ada satu pun dari mereka milikku.
“Chaerin, kau ingin melanjutkan harimu seperti apa? Jiyong mencarimu terus. Kau tak mungkin sembunyi di flat ini terus. Kau berhak bahagia.”ucap uri appa yang sekarang sedang melipat baju-bajunya yang baru turun dari mesin cuci.
“jika seperti itu maka aku akan pergi sejauh mungkin agar aku terlepas dari mereka.”ucapku begitu saja.
“kau tak ingin membangun keluarga baru dengan Jiyong? Chaerim membutuhkanmu. Dia terlalu kecil untuk menerima kenyataan yang rumit ini.”kata appa menasehatiku.
“membangun keluarga baru dengan Jiyong oppa? Itu tak mungkin appa. Chaerim unnie memintaku mengantikannya dan mengambil hidupku. Aku tak ingin mengambil hidupnya seperti dia mengambil hidupku. Aku akan tetap menjadi bayangannya appa.”
“sebenarnya kau tak ada salah. Kau tak perlu menghukum dirimu sendiri seperti ini. Pada awalnya semua itu memang milikmu. Kasih sayang ommamu, putri pintar yang cantik dan cinta Jiyong awalnya memang milikmu dan sekarang kau harus mengambil sesuatu yang kau titipkan dengan Chaerim.”jelas appa menasehati.
“tidak appa. Itu memang bukan milikku. Aku hanya memilikimu di dunia ini appa. Aku mohon jangan minta aku kembali pada mereka karena aku sudah berjanji pada Chaerim unnie, dia adalah aku. Dan aku adalah aku yang tak bisa menjalani hidupnya yang telah dia lakukan sebagai aku.”
“kau yakin? Aku tak ingin kau menyesal.”
“aku hanya bayangan. Aku hanya mengikuti. Tubuhku sudah mati bukanlah seharusnya aku mati juga?”
“kau mati itu tak akan mengembalikan Chaerim. Andai appa segera mengatakan sebenarnya pada ommamu bahwa kalian bertukar tempat mungkin tak jadi seperti ini. Ini semua salah appa. Karena ini kesalahan appa izinkan appa melihatmu bahagia karena kau membuat keluarga baru. Appa mohon. Berjanjilah pada appa kau tak menyerah pada hidupmu!”kata appa menangis dan memelukku dari belakang.
“appa, hidup ini kenapa menyakitkan? Kenapa kami harus terluka? Kenapa tuhan tak merengut aku saja. Saharusnya unnie hidup dengan keluarga bahagianya.”ucapku sambil menangis.
“kau yang masih hidup seharusnya menjalankan hidupmu senormal mungkin dan railah kebahagiaanmu sendiri.”nasehat appa.
--------FLASH BACK----------------
Chaerim yang mengunakan identitas Chaerin tidak sengaja bertemu dengan Chaerin sedang membuang sampah sebuah restoran.
“kau”kata Chaerim kaget.
“unnie..”kata Chaerin tak kalah kaget.
“kenapa kau disini?”Tanya Chaerim.
“aku berkerja disini unnie, sebagai pencuci piring.”jawab Chaerin dengan tersenyum.
“Chaerin, cepatlah! Kita harus beres-beres.”kata seseorang dari dalam restoran.
“ne!!”jawab Chaerin sambil menoleh.
“unnie, mianhae. Aku harus berkerja. Selamat tinggal.”ucap Chaerin sambil terburu-buru untuk masuk.
“Chaerin?? Bisa-bisanya dia mengunakan nama itu. Nama itu bukankah sudah jadi milikku.”gumam Chaerim sambil tersenyum sinis.
TBC
Tidak ada komentar:
Posting Komentar