jangan lupa

JANGAN LUPA KOMENTAR YA..

Rabu, 24 Februari 2016

MEGIC






MAGIC – witch’s love
Author: Kim Daisy
cast: Lee Chaerin
Kwon Jiyong

Dia menatapku lekat sambil tersenyum dan itu membuatku tersipu malu. Kami seperti orang kasmaran yang sedang berkencan di Café dengan dua buah kopi dan beberapa potong sandwich menghiasi meja.
“kenapa kau melihatku terus, Chagi~ah?”katanya dengan aegyo.
“kerena kau menatapku terus oppa.”jawabku sambil tersenyum.
“kapan kita akan mulai makan?”tanyanya dengan senyuman manis yang membuat aku seakan meleleh di tempatku.
“aku tidak ingin makan.”jawabku malu sambil sedikit menundukkan kepalaku.
“kenapa?”tanyanya dan kini wajahnya terkejut dan sedikit terlihat khawatir.
“karena oppa menggandeng tanganku.”jawabku malu-malu. Sungguh ini seperti anak remaja yang baru saja berkencan. Tapi, ini karena dia adalah satu-satunya namja yang aku cintai dan hari ini pertama kalinya kami berkencan setelah sekian lama aku mengenalnya.
“aku. Aku. Aku akan suapi jika kau ingin makan.”
“waeyo oppa?”kataku sambil menatap matanya.
“karena aku tidak ingin melepaskan tanganku.”jawabnya sambil malu-malu. Wajahnya memerah dan itu membuat aku seakan benar-benar meleleh disini.

FLASH BACK
Tic. Toc. Tic. Toc.
Jam dinding kuno yang terbuat dari kayu mengeluarkan suara cukup keras. Bukan karena suara yang dikeluarkan jam dinding itu yang keras tetapi karena di ruangan ini yang terlalu sunyi. Minzy, yang telah aku anggap sebagai adikku sendiri sibuk melukis sebuah lukisan. Bukan lukisan biasa tetapi, sebuah lukisan yang dapat melihat masa depan. Dara unnie yang bergabung dengan kami sibuk meracik bubuk tehnya. Dan Bom unnie baru saja melangkahkan kakinya ke anak tangga. Dengan perlahan dia turun dari tangga dan berjalan menuju lemari kayu yang terdapat beberapa barang. Ada majalah, buku-buku koleksi kami, komik-komik Minzy dan kotak music yang menjadi favorit kami berempat. Bom unnie meraih kota music itu dan memutar kunci ganda agar music bermain. Memang bukan music yang indah dan cocok untuk berdansa tapi, kami menyukai alunan nadanya sejenis nada untuk music genre gothic dan membuat aura mistis semakin kental terasa.
“kau. Akan ada sebuah pesta, suatu perayaan yang membahagiakan. Lalu kenapa kau sedih, Chaerin?”kata Bom unnie dengan mata terpejam dan aku hanya tersenyum. Bom unnie masuk ke bawah alam sadarnya berarti yang dia ucapkan bukan perkataan biasa melainkan suatu ramalan.
“ah, aku lelah!”ucap Bom unnie tiba-tiba dan tiduran di sofa panjang berwarna coklat yang dikombinasikan warna gold terbuat dari kain kulit binatang berbulu. Bom unnie memang merasa lelah setelah kehilangan kesadarannya. Untung saja hanya meramal tidak sampai membuat sesuatu yang aneh-aneh untuk merepotkan kami.
“apa ada hubungan dengan namja itu?”Tanya Dara unnie sambil mengaduk bubuk teh.
“ya. Aku juga melihat suatu pesta, unn.”kata Minzy sambil melihatkan lukisannya padaku.
“kalau begitu aku harus bersiap-siap.”kataku sambil tersenyum.
Aku menuju meja racikku. Ada beberapa larutan berwarna-warni di dalam cawan kaca dan tabung di atas meja. Aku mengenakan sarung tangan dan kaca mata labku.
“hahaha.. kau akan buat apa kali ini?”Tanya Dara unnie.
“kau lihat saja nanti.”jawabku. Aku menuangkan larutan satu ke larutan lain hingga bunyi air yang di tuang bisa terdengar. Mencampur larutan warna hingga menjadi warna lain yang indah. Aku bukanlah ilmuan ataupun peracik obat. Aku seorang penyihir, penihir yang bisa meracik ramuan dan membaca mantara untuk mengunakan sihir. Selama ini aku belum pernah gagal. Minzy, Dara unnie dan Bom unnie tidak jauh berbeda denganku. Kami punya kemampuan yang tidak semua orang miliki.
“kau.. apa yang sedang kau buat?”suara Seung Hyun oppa tidak mengusikku dengan kehadirannya yang tiba-tiba.
“hey, vampire! Seharusnya kau memberi salam dulu.”tergur Dara unnie. Namja ini tidak peduli, dia langsung masuk dan memelukku dari belakang. Bibirnya menempel di leherku dan menghirup aroma tubuhku dari leher dan tengkukku.
Aku membiarkan saja apapun yang dia lakukan asal tidak mengganggu pekerjaanku. Dia tidak akan macam-macam padaku, aku tahu itu. Seung Hyun oppa bukanlah vampire seperti yang Dara unnie katakan. Dia hanya penderita porphiriya sebuah penyakit langka yang gejalanya seperti vampire dan dia juga seorang penyihir sepertiku.
Blub.. blub.. blub.. larutan yang kuracik tanpa api ataupun kompor mendidih sendiri seakan-akan direbus. Larutan yang awalnya berwarna hot pink kini berubah menjadi softpink dan akhirnya menjadi putih bening bagaikan air putih.
Ramuanku sudah jadi dan itu membuatku tersenyum bahagia. Mimpiku menjadi nyata.

@pagi di sebuah taman
Dengan pakaian olahragaku dan sebotol tabung kecil berukuran 5 ml ditangan berisi ramuan. Aku mencari sosok namja yang ku tunggu sejak tadi. Kulihat ke sekelilingku sepertinya dia belum datang. Apa dia tidak datang hari ini? Tidak. Ini kesempatan terakhirku. Akino, anjing peliharaanku mengarah kesebelah kiriku sambil mengibas-ngibaskan ekornya dengan lucu. Akino hanya sebuah boneka anjing lucu yang aku sihir menjadi anjing sesungguhnya.
Ya.. namja yang aku tunggu kini datang. Dia berlari kecil mengumbar pesonanya. Aku berlari kecil menghampirinya. Saat aku berpapasan dengan namja itu dengan senyuman aku menyiramkan ramuan yang aku buat sebelumnya di wajahnya. Namja itu terjatuh seakan tersandung. Senyumku semakin melebar. Aku berbalik dan kembali menghampirinya.
“gwinchana, oppa?”kataku sambil berpura-pura panik.
“na. gwinchana Chagi~ah”jawabnya dengan senyuman manisnya. Ramuanku berhasil. Sekarang aku telah menjadi kekasihnya.
Jiyong, namja yang kini menjadi kekasihku itu bernama Kwon Jiyong. Namja yang selama ini ada dihatiku dan hanya bisa kulihat kini mengajakku mengobrol dengan menatapku mesra. Aku tidak menyangka akan menjadi sejauh ini.
“Chagi~ah… sebaiknya kita sarapan dulu.”tanyanya lembut padaku. Dan aku menganguk sambil tersenyum. Jiyong oppa mengajakku masuk kesebuah Café yang sangat cocok untuk sarapan.
Dia menatapku lekat sambil tersenyum dan itu membuatku tersipu malu. Kami seperti orang kasmaran yang sedang berkencan di Café dengan dua buah kopi dan beberapa potong sandwich menghiasi meja.
“kenapa kau melihatku terus, Chagi~ah?”katanya dengan aegyo.
“kerena kau menatapku terus oppa.”jawabku sambil tersenyum.
“kapan kita akan mulai makan?”tanyanya dengan senyuman manis yang membuat aku seakan meleleh di tempatku.
“aku tidak ingin makan.”jawabku malu sambil sedikit menundukkan kepalaku.
“kenapa?”tanyanya dan kini wajahnya terkerjut dan sedikit terlihat khawatir.
“karena oppa menggandeng tanganku.”jawabku malu-malu. Sungguh ini seperti anak remaja yang baru saja berkencan. Tapi, ini karena dia adalah satu-satunya namja yang aku cintai dan hari ini pertama kalinya kami berkencan setelah sekian lama aku mengenalnya.
“aku. Aku. Aku akan suapi jika kau ingin makan.”
“waeyo oppa?”kataku sambil menatap matanya.
“karena aku tidak ingin melepaskan tanganku.”jawabnya sambil malu-malu. Wajahnya memerah dan itu membuat aku seakan benar-benar meleleh disini.
Dengan satu tanganku dan satu tangan Jiyong oppa kami memotong sandwich menjadi beberapa bagian dengan kecil. Seakan aku adalah tangan kirinya dan dia tangan kananku. Pengunjung café yang lain melihat kami dengan tatapan iri. Aku malu tapi, aku menyukainya.
Kami selesai makan. Jiyong oppa menggandengku untuk keluar dari Café dan aku memegang rantai Akino,anjingku yang sebelumnya aku ikat di tiang penyangga dekat pintu cafe. Jinyong oppa menatapku sambil tersenyum. Aku rasa ini sudah cukup.
Kami keluar dari Café. Jiyong oppa sudah melepaskan tanganku. Mantra ramuan itu sudah berakhir. Dan kini kami berjalan sendiri-sendiri seperti semula.

@siang di sebuah gedung hotel.
Aku melangkahkan kakiku dengan anggun. Dress hitam dengan hiasan bunga berwarna merah berukuran besar di beberapa bangian setiap sisinya. Hiasan bunga menghiasi acara ini. Tamu yang datang sungguh ramai memenuhi acara. Aku mencari sang pasangan pengantin dan aku segera menemukannya. Aku menghampiri mereka. Tapi, tidak untuk dekat. Hanya untuk melihat dengan jelas. Jiyong oppa dan pengantin wanitanya tersenyum. Dia tidak mengingatku. Tidak mungkin mengingatku.
Kutarik nafasku perlahan.
Dengan hati-hati kubaca mantraku.
Mantra yang bisa membuat dia mencintaiku.
Mantra yang bisa membuat dia tidak ingin melepaskanku.
Walau mungkin bukan untuk selamanya,
Paling tidak dia pernah mencintaiku.

Seung Hyun oppa menyentil keningku dengan cukup keras.
“berhenti membaca mantra. Kau sudah merasakan mencintainya sepanjang hidupmu. Sekarang biarkan aku mencintaimu hingga akhir hidupku. sudah waktunya kita pergi. Kau sudah berjanji.”suara Seung Hyun oppa disisiku. Walau dia tiba-tiba saja datang tapi, dia tidak membuatku terkejut karena kebiasaannya itu.
“ya. Ayo, kita pergi!”kataku sambil menggandeng tangannya mencari pegangan untuk bertahan. Baru saja dua langkah kaki kami ayunkan kami sudah sampai di rumahku. Ini karena mantra Seung Hyun oppa.

Penyihir dan manusia biasa. Bukan tidak mungkin untuk bersatu. Hanya saja aku dan Jiyong oppa hanya cinta searah, hanya aku yang mencintainya dan aku terlambat karena dia sudah memiliki gadis lain sebelum aku mengenalnya. Walau begitu mencintainya tapi, aku tidak mungkin memaksakan cinta dengan sebuah ramuan tau mantra sihir karena cinta itu akan berubah juga nantinya.

END

Awalnya aku mau buat ini berseris tapi, tentang masing-masing anggota 2ne1 saja. Dan sebagai permulaan aku masukkan kisah SKYDRAGON. Aku belum yakin untuk melanjutkan serisnya tapi, jika aku membuatnya tidak mungkin aku masukkin ke page ini karena ini khusus SKYDRAGON. Ini sebagai FF terakhirku. Ff HOLIC akanku coba buat ulang lagi karena data dan leptopnya sudah gak ada, tu karena musibah minggu lalu. Ff megic udah lama bangetku buat. Untung di simpan di FB jadi aku bisa posting ff new yang tinggal satu2ny ini.Semoga aku bisa ketemu INFI dengan FF yang lebik menarik. Yuk dada bye! Bye!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar