Judul: TIME: SEE YOU
AGAIN
Author: Mahardika putri
Cast: Jiyong ( GD BIGBANG)
Chaerin (CL 2NE1)
Genre: Angst
Rating: T
Seorang yeoja dengan tenang menikmati americano di cangkir mungilnya. Sesekali yeoja itu mencatat sesuatu dikertas mungil miliknya.
“jika sang yeojanya tipe yang kuat, kemungkinan dia menyatakan cinta duluan itu kecil jadi.. sebaiknya namjanya. Kenapa disaat seperti ini malah mendapat inspirasi?”katanya sambil menulis kembali. Yeoja itu seorang penulis freelance disebuah perusahaan penerbitan walau pun kini dia masih duduk di bangku universitas. Tanpa disadarinya seorang namja memperhatikannya.
“hai!”sapa namja itu yang kini sudah didepannya. Tapi, yeoja itu tak mempedulikannya.
“Chaerin!”kata namja itu memanggil.
“eh, oh. Na?”tanyanya menatap namja itu binggung.
“kau Chaerin kan?”tanya namja itu dengan senyuman manis.
“ne. Kau..??”
“aku Jiyong, kau lupa?”kata namja itu tersenyum semakin manis.
“ommo!”gumam yeoja itu kaget. Yeoja yang bernama Chaerin itu merasa malu karena mengingat masa lalunya.
“bukankah kau di Jepang?”tanya Chaerin gugup.
“ne tapi, aku kembali ke Korea karena ada magang.”jelas Jiyong masih tersenyum ramah.
“oh”kata Chaerin simpel.
“tapi, bolehkah aku duduk disini.”kata namja itu.
“oh, ne. Tentu saja”kata Chaerin gugup.
Jiyong duduk berhadapan dengan Chaerin. Mereka saling bertukar cerita. Ini pertama kalinya mereka bertemu setelah 6 tahun tidak berjumpa. Dulu, mereka sangat kaku saat bertemu. Berbeda dengan sekarang, mereka seperti kenalan lama yang sangat akrab.
^^^^^^^^^^^
Siapa yang menyangka pertemuan sederhana di Cafe membuat mereka semakin akrab dibandingkan dulu. Chaerin dan Jiyong saling bergandengan tangan keluar dari studio bioskop layaknya pasangan lainnya. Tapi, sampai detik ini tidak ada status mereka sebagai kekasih.
“sial!”gerutu Jiyong saat motornya tidak mau di hidupkan.
“ada apa?”tanya Chaerin cemas.
“sepertinya motornya mogok.”kata Jiyong bingung.
“ya sudah. Kita kebengkel saja dulu.”saran Chaerin.
Jiyong dan Chaerin pun berjalan kaki menuju bengkel sambil mendorong motor Jiyong.
“ak!”teriak Chaerin yang terkaget dan merasakan sakit dikakinya.
“ada apa tanya?”Jiyong khawatir.
“sepatuku..”jawab Chaerin gantung karena menahan rasa malu. Jiyong melirik kaki Chaerin, ternyata hak sepatu Chaerin patah.
“kau tunggu disana, ada halte di sana. Aku akan pergi ke bengkel dulu, lalu menjemputmu kembali. Bagaimana?”tanya Jiyong. Chaerin hanya bisa menganguk kecil menahan malunya.
@beberapa menit kemudian
Jiyong memapah Chaerin turun dari bis.
“sakit ya?”tanya Jiyong.
“annio. Hanya malu”jawab Chaerin tersenyum malu. Jiyong duduk berjongkok.
“kenapa?”tanya Chaerin binggung.
“aku akan mengendongmu.”jawab Jiyong enteng.
“itu memalukan!”kata Chaerin. Tapi, Jiyong malah menarik tangan Chaerin dan langsung mengendongnya dibelakang punggungnya dengan sekejab.
“kalau begini tidak ada yang tahu kan kalau hak sepatumu itu patah.”kata Jiyong.
“ne, tapi.. Jiyong. Apakah kau tahu dimana letak tanganmu itu?”kata Chaerin dengan muka memerah karena malu dan marah. Jiyong berfikir sejenak dan terdiam.
“apakah yang aku pegang itu bo..”kata Jiyong takut-takut.
“tentu saja! Lepaskan!”kata Chaerin.
Bruk!! Seketika itu juga Jiyong menjatuhkan Chaerin membuat Chaerin terduduk dan semakin merasakan sakit.
“kau..!!”kata Chaerin kesal.
“sungguh aku tak sengaja!”kata Jiyong merasa bersalah. Chaerin mengambil sepatu hak tingginya dari kakinya, siap melempar Jiyong. Jiyong pun bersiap-siap kabur dari kemarahan Chaerin. Baru saja Jiyong pergi beberapa langkah Chaerin terlihat kesakitan. Jiyong pun kembali pada Chaerin dan mengendong Chaerin dengan benar.
“sekarang, benarkan?”tanya Jiyong takut.
“ne”jawab Chaerin malu.
“kau ingat dulu aku juga pernah mengendongmu saat kita masih kecil. Dulu kau sangat berat tapi, sekarang kau bagaikan helaian benang bagiku.”
“kau bohong! Aku tak seringan itu!”elak Chaerin membuat Jiyong tersenyum.
“aku mendengar kau terkekeh”tergur Chaerin sambil mencondongkan wajahnya membuat dia dapat memperhatikan wajah Jiyong dengan jelas. Jiyong memalingkan wajahnya ke arah Chaerin.
Chu! Bibir Jiyong kini menempel pada pipi kiri Chaerin.
“aku mencintaimu.”kata Jiyong terlontar begitu saja dengan mudahnya. Chaerin yang kaget hanya diam dan suasana pun menjadi kaku.
^^^^^^^^^^^^^^^
Ini sudah seminggu Jiyong dan Chaerin tidak berkomunikasi. Chaerin terlalu gugup untuk memulai menghubungi Jiyong terlebih dahulu. Itu terlihat dari dia yang gelisah sambil melihat ponselnya berulang kali setiap menitnya.
“kau menunggu ‘seseorang’ menghubungimu?”tanya Min Hyo, Seorang gadis bertubuh mungil menghampiri Chaerin di mejanya dengan senyuman penuh semangat. Min Hyo adalah sahabat Chaerin.
“siapa?”jawab Chaerin malas sambil menyimpan ponsel yang dari tadi di gemgamnya ke tas.
“mana aku tahu.”kata Min Hyo sambil mengangkat kedua bahunya. Ikat dua rambutnya dan wajahnya yang imut membuat dia sangat terlihat manis. Karena itu tidak banyak yang percaya bahwa Min Hyo sudah duduk tahun terakhir di Universitas.
“hm..”Chaerin bergumam malas.
“siapa yang kau tunggu?”tanya Min Hyo semangat.
“hanya kenalan. Tidak penting. Kenapa kau menghampiriku? Bukankah hari ini kau tak ada kelas?”tanya Chaerin.
“keke.. aku hanya ingin memberitahumu. Aku akan bertunangan!”kata Min Hyo dengan semangat tapi, suaranya mengecil.
“ommo! Kau bercanda!”
“aku tidak bercanda. Aku bertemu dengan cinta pertamaku dan keluarganya, lalu wuss.. kami bertunangan.”kata Min Hyo gembira.
“selamat!”kata Chaerin tulus dan segera memeluk Min Hyo.
“Chaerin.. acaranya besok malam. Ini memang mendadak tapi, cinta kami sejak lama. Kau datang kan?”tanya Min Hyo dengan gembira.
“tentu saja!”jawab Chaerin tapi, dia masih risau karena ponselnya juga masih belum bergetar.
Dreet.. dreett...
Dengan sekejab Chaerin langsung melepaskan pelukannya dan mengambil ponselnya di dalam tas.
“yah..”gumamnya lemas setelah melihat ponselnya hanya mendapat pesan dari operator kartu ponselnya.
“siapa namja yang membuat sahabatku kebingungan begini?? Aku jadi penasaran. Pasti dia bukan namja biasa.”celetuk Min Hyo. Tapi, Chaerin hanya diam karena masih terjebak dalam kebimbangannya.
“haruskah aku yang memngirimkannya pesan terlebih dulu.”pikir Chaerin.
@pertunangan Min Hyo, Restoran.
Chaerin berlari saat keluar dari taxi, dia terlambat menghadiri pertunangan sahabatnya. Dengan gegabah Chaerin langsung menerobos pintu kayu yang besar.
“selamat buat pasangan baru kita. Semoga pernikahan mereka tiga bulan lagi berjalan lancar.”kata MC. Chaerin merasa waktu telah berhenti untuknya. Dia tidak percaya dengan apa yang dia lihat di depan matanya. Dia kagat melihat Min Hyo sedang bergendengan tangan dengan namja dan mereka saling tersenyum bahagia.
“ternyata ini alasanmu menghilang begitu saja, Jiyong?”gumam Chaerin. Dada Chaerin kini merasa sesak seakan ada yang tersumbat disana. Dia melangkah keluar ruangan restoran itu. Chaerin terseyum getir matanya sudah terlihat basah tapi, dia menahan air matanya agar tidak keluar.
@rumah Chaerin.
Mendengar pintu dibuka Chaerin bergegas keluar dari kamarnya. Chaerin hanya mengenakan baju olah raga dengan rambut acak-acakan karena dia baru saja bagun tidur.
“omma, kau tadi mengajakku pergi ke pertunangan itu pertunangan Jiyong?”tanya Chaerin lemas.
“ne, omma tak menyangka tunangannya adalah Min Hyo. Mereka sangat serasi. Lalu, tadi kau juga kesanakan? Kenapa aku tak melihatmu?”jawab omma Chaerin sambil meletakkan sepatunya.
“aku tidak jadi kesana. Aku ngantuk sekali.”jawab Chaerin berbohong.
“kejam sekali. Mereka kan temanmu.”tegur omma Chaerin.
“omma.. aku tidur lagi ya..”kata Chaerin sambil berbalik. Kini air matanya dengan mudahnya menetes walau Chaerin sudah berusaha untuk tidak menangis. Untung saja ommanya tidak melihat Chaerin menangis.
@3 tahun kemudian
Chaerin kembali ke Korea. Setelah wisudanya dia langsung pergi ke Amerika untuk berkerja di sana. Memang terkesan terburu-buru dan mendapat pertentangan. Tapi, dia tetap keras kepala ingin pergi agar tidak datang dan melihat pernikahan Min Hyo dan Jiyong.
Kini Chaerin berkumpul dengan teman-teman tempat kerjanya yang baru di sebuah karaoke. Memang suasana sangat heboh bahkan semua menari saat musik diputar dan bernyanyi bersama. Tiba-tiba pintu terbuka.
Chaerin Pov
DEG!!
Dadaku sesak, Seakan oksigen tak ada lagi oksigen di sekitarku. Nafasku berhenti sesaat. Namja yang pernahku cintai kini dihadapanku. Seakan melihat masa lalu kembali dan membuat sayatan lagi dihatiku yang goresan lukanya belum hilang.
Tatapan matanya masih sama seperti dulu, datar dan tenang. Aku segera memalingkan wajahku darinya.
“ini temanku Jiyong..”jelas teman namja kepada kami terputus karena aku segera berdiri.
“aku harus pulang.”kataku terburu-buru sambil mengambil tasku. Aku harus pergi dan mau tidak mau aku harus melewatinya.
Grep!! Sebuah tangan mengegam tanganku. Mengegam erat dan meremas jari-jariku untuk menahanku. Aku yakin ini tangannya, walau aku tak melihat pemilik tangan ini. Aku sangat yakin tangan ini milik namja itu.
Aku tahu dia menatapku sekarang tapi, aku gak mampu manatapmu. Aku takut manatap matamu menggoyahkanku. Jika tidak ada gadis itu mungkin kita tetap bersama.
“jangan pergi! Disinilah sebentar lagi. Kita sudah lama tidak bertemu.”pintanya lembut. Aku sadar semua mata di ruangan karaoke ini sedang menatap kami bahkan musik pun berhenti bermain.
“tidak bisa. Aku harus pulang.”jawabku dingin tanpa melihat wajahnya. Kutarik tanganku kuat, berusaha melepaskan genggaman tangannya. Akhirnya dia membiarkanku pergi dengan melepaskan genggamanya secara perlahan.
Hatiku berdetak dengan kencang, seperti dulu saat aku bersamanya. Saat aku merasa dia adalah jodohku. Tapi, kini aku berharap aku sudah tidak mencintainya. Dia hanya masa lalu.
@kantor
“sebenarnya kau dan Jiyong ada hubungan apa? Suasana menjadi aneh saat kau pergi. Kau itu orang yang bersahabat jadi, saat terjadi seperti itu maka terasa sangat aneh. Apakah dia mantanmu?”jelas Dara.
“tidak mungkin! Kita semua tahu Chaerin belum pernah pacaran.”balas Bom.
“tapi, aku yakin ada sesuatu di antara mereka. Kau merahasiakan sesuatu dari kami kan Chaerin?”kata Dara.
“dia bukan siapa-siapa”jawabku malas.
“aku benar! Itu tidak mungkin. Uri Chaerin tak mungkin menyembunyikan sesuatu dari kita.”balas Bom.
“lalu kenapa kau terlihat menghindarinya?”
“aku tak pernah pacaran. Dia hanya anak kerabat dekat ommaku dan kebetulan pernah tinggal di rumahku.”jelasku malas.
“hanya begitu saja?”protes mereka tidak puas.
“aku pernah mencintainya.”jawabku.
“lalu bagaimana?”jawab mereka berdua antusias.
“ceritanya begitu panjang”jawabku malas karena tak ingin mengingatnya. Aku tahu kini pun aku masih mencintainya. Tapi, mencintainya adalah sebuah larangan.
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
Ku sempatku diriku mengunjungi sebuah makam. Makam indah dengan nisan tertulis “Min Hyo”.
Min Hyo meninggal saat aku pergi ke amerika, tepat saat aku sedang turun pesawat. Dia meninggal karena kecelakaan mobil saat mencoba mengejarku. Ya, Min Hyo dan Jiyong tidak jadi menikah. Tapi, bagiku Jiyong tetap milik Min Hyo yang tidak bolehku miliki. Mungkin ini karena rasa bersalahku atas kematian Min Hyo atau karena persahabatanku dengan Min Hyo. Yang pasti rasa cintaku ini pun tidak pantas dimiliki Jiyong yang pernah mempermainkan perasaanku.
Jiyong Pov
Tak sengaja aku bertemu dengannya disini. Tak kusia-siakan kesempatan ini untuk mendekatinya kembali. Aku berjalan dan semakin dekat dengannya yang sedang berdiri termenung di depan makan Min Hyo. Kutarik tanganya membuat dia kini di pelukanku. Ku dekap dia makin erat, aku sungguh merindukannya. Aku merasa dia mulai mendorongku. Tapi, aku tetap mendekapnya.
“ak..!”teriakku saat dia menginjakku dengan highheelsnya. Dia berjalan bergi menjauh dariku. Segeraku kejar dia dengan rasa sakit yang masih terasa dikakiku.
Ku raih pergelangan tanggannya dan kini aku berhasil membuat dia berhenti. Dia menatapku dengan tatapan kesal. Aku tahu ini memang salahku.
“tolong, dengarkan aku!”pintaku lembut.
“aku tak ingin mendengarkan apa-apa.”jawabnya ketus sambil berusaha melepaskan tanggannya dariku tapi, aku malah memegangnya semakin erat. Dia tidak boleh lepas.
“aku sangat ingin kau mendengarkannya.”pintaku.
“baiklah. Apa yang ingin kau katakan?”katanya. aku melepaskan tanggannya. Pergelangan tangannya yang ku pegang erat tadi terlihat memerah. Karena merasa sakit makanya dia menyerah dan memutuskan mendengarkanku.
END
rencananya Dika mau buat one shoot tapi tidak keburu dan malah jadi dalam bentuk Vignette. tunggu kelanjutannya ya...
Author: Mahardika putri
Cast: Jiyong ( GD BIGBANG)
Chaerin (CL 2NE1)
Genre: Angst
Rating: T
Seorang yeoja dengan tenang menikmati americano di cangkir mungilnya. Sesekali yeoja itu mencatat sesuatu dikertas mungil miliknya.
“jika sang yeojanya tipe yang kuat, kemungkinan dia menyatakan cinta duluan itu kecil jadi.. sebaiknya namjanya. Kenapa disaat seperti ini malah mendapat inspirasi?”katanya sambil menulis kembali. Yeoja itu seorang penulis freelance disebuah perusahaan penerbitan walau pun kini dia masih duduk di bangku universitas. Tanpa disadarinya seorang namja memperhatikannya.
“hai!”sapa namja itu yang kini sudah didepannya. Tapi, yeoja itu tak mempedulikannya.
“Chaerin!”kata namja itu memanggil.
“eh, oh. Na?”tanyanya menatap namja itu binggung.
“kau Chaerin kan?”tanya namja itu dengan senyuman manis.
“ne. Kau..??”
“aku Jiyong, kau lupa?”kata namja itu tersenyum semakin manis.
“ommo!”gumam yeoja itu kaget. Yeoja yang bernama Chaerin itu merasa malu karena mengingat masa lalunya.
“bukankah kau di Jepang?”tanya Chaerin gugup.
“ne tapi, aku kembali ke Korea karena ada magang.”jelas Jiyong masih tersenyum ramah.
“oh”kata Chaerin simpel.
“tapi, bolehkah aku duduk disini.”kata namja itu.
“oh, ne. Tentu saja”kata Chaerin gugup.
Jiyong duduk berhadapan dengan Chaerin. Mereka saling bertukar cerita. Ini pertama kalinya mereka bertemu setelah 6 tahun tidak berjumpa. Dulu, mereka sangat kaku saat bertemu. Berbeda dengan sekarang, mereka seperti kenalan lama yang sangat akrab.
^^^^^^^^^^^
Siapa yang menyangka pertemuan sederhana di Cafe membuat mereka semakin akrab dibandingkan dulu. Chaerin dan Jiyong saling bergandengan tangan keluar dari studio bioskop layaknya pasangan lainnya. Tapi, sampai detik ini tidak ada status mereka sebagai kekasih.
“sial!”gerutu Jiyong saat motornya tidak mau di hidupkan.
“ada apa?”tanya Chaerin cemas.
“sepertinya motornya mogok.”kata Jiyong bingung.
“ya sudah. Kita kebengkel saja dulu.”saran Chaerin.
Jiyong dan Chaerin pun berjalan kaki menuju bengkel sambil mendorong motor Jiyong.
“ak!”teriak Chaerin yang terkaget dan merasakan sakit dikakinya.
“ada apa tanya?”Jiyong khawatir.
“sepatuku..”jawab Chaerin gantung karena menahan rasa malu. Jiyong melirik kaki Chaerin, ternyata hak sepatu Chaerin patah.
“kau tunggu disana, ada halte di sana. Aku akan pergi ke bengkel dulu, lalu menjemputmu kembali. Bagaimana?”tanya Jiyong. Chaerin hanya bisa menganguk kecil menahan malunya.
@beberapa menit kemudian
Jiyong memapah Chaerin turun dari bis.
“sakit ya?”tanya Jiyong.
“annio. Hanya malu”jawab Chaerin tersenyum malu. Jiyong duduk berjongkok.
“kenapa?”tanya Chaerin binggung.
“aku akan mengendongmu.”jawab Jiyong enteng.
“itu memalukan!”kata Chaerin. Tapi, Jiyong malah menarik tangan Chaerin dan langsung mengendongnya dibelakang punggungnya dengan sekejab.
“kalau begini tidak ada yang tahu kan kalau hak sepatumu itu patah.”kata Jiyong.
“ne, tapi.. Jiyong. Apakah kau tahu dimana letak tanganmu itu?”kata Chaerin dengan muka memerah karena malu dan marah. Jiyong berfikir sejenak dan terdiam.
“apakah yang aku pegang itu bo..”kata Jiyong takut-takut.
“tentu saja! Lepaskan!”kata Chaerin.
Bruk!! Seketika itu juga Jiyong menjatuhkan Chaerin membuat Chaerin terduduk dan semakin merasakan sakit.
“kau..!!”kata Chaerin kesal.
“sungguh aku tak sengaja!”kata Jiyong merasa bersalah. Chaerin mengambil sepatu hak tingginya dari kakinya, siap melempar Jiyong. Jiyong pun bersiap-siap kabur dari kemarahan Chaerin. Baru saja Jiyong pergi beberapa langkah Chaerin terlihat kesakitan. Jiyong pun kembali pada Chaerin dan mengendong Chaerin dengan benar.
“sekarang, benarkan?”tanya Jiyong takut.
“ne”jawab Chaerin malu.
“kau ingat dulu aku juga pernah mengendongmu saat kita masih kecil. Dulu kau sangat berat tapi, sekarang kau bagaikan helaian benang bagiku.”
“kau bohong! Aku tak seringan itu!”elak Chaerin membuat Jiyong tersenyum.
“aku mendengar kau terkekeh”tergur Chaerin sambil mencondongkan wajahnya membuat dia dapat memperhatikan wajah Jiyong dengan jelas. Jiyong memalingkan wajahnya ke arah Chaerin.
Chu! Bibir Jiyong kini menempel pada pipi kiri Chaerin.
“aku mencintaimu.”kata Jiyong terlontar begitu saja dengan mudahnya. Chaerin yang kaget hanya diam dan suasana pun menjadi kaku.
^^^^^^^^^^^^^^^
Ini sudah seminggu Jiyong dan Chaerin tidak berkomunikasi. Chaerin terlalu gugup untuk memulai menghubungi Jiyong terlebih dahulu. Itu terlihat dari dia yang gelisah sambil melihat ponselnya berulang kali setiap menitnya.
“kau menunggu ‘seseorang’ menghubungimu?”tanya Min Hyo, Seorang gadis bertubuh mungil menghampiri Chaerin di mejanya dengan senyuman penuh semangat. Min Hyo adalah sahabat Chaerin.
“siapa?”jawab Chaerin malas sambil menyimpan ponsel yang dari tadi di gemgamnya ke tas.
“mana aku tahu.”kata Min Hyo sambil mengangkat kedua bahunya. Ikat dua rambutnya dan wajahnya yang imut membuat dia sangat terlihat manis. Karena itu tidak banyak yang percaya bahwa Min Hyo sudah duduk tahun terakhir di Universitas.
“hm..”Chaerin bergumam malas.
“siapa yang kau tunggu?”tanya Min Hyo semangat.
“hanya kenalan. Tidak penting. Kenapa kau menghampiriku? Bukankah hari ini kau tak ada kelas?”tanya Chaerin.
“keke.. aku hanya ingin memberitahumu. Aku akan bertunangan!”kata Min Hyo dengan semangat tapi, suaranya mengecil.
“ommo! Kau bercanda!”
“aku tidak bercanda. Aku bertemu dengan cinta pertamaku dan keluarganya, lalu wuss.. kami bertunangan.”kata Min Hyo gembira.
“selamat!”kata Chaerin tulus dan segera memeluk Min Hyo.
“Chaerin.. acaranya besok malam. Ini memang mendadak tapi, cinta kami sejak lama. Kau datang kan?”tanya Min Hyo dengan gembira.
“tentu saja!”jawab Chaerin tapi, dia masih risau karena ponselnya juga masih belum bergetar.
Dreet.. dreett...
Dengan sekejab Chaerin langsung melepaskan pelukannya dan mengambil ponselnya di dalam tas.
“yah..”gumamnya lemas setelah melihat ponselnya hanya mendapat pesan dari operator kartu ponselnya.
“siapa namja yang membuat sahabatku kebingungan begini?? Aku jadi penasaran. Pasti dia bukan namja biasa.”celetuk Min Hyo. Tapi, Chaerin hanya diam karena masih terjebak dalam kebimbangannya.
“haruskah aku yang memngirimkannya pesan terlebih dulu.”pikir Chaerin.
@pertunangan Min Hyo, Restoran.
Chaerin berlari saat keluar dari taxi, dia terlambat menghadiri pertunangan sahabatnya. Dengan gegabah Chaerin langsung menerobos pintu kayu yang besar.
“selamat buat pasangan baru kita. Semoga pernikahan mereka tiga bulan lagi berjalan lancar.”kata MC. Chaerin merasa waktu telah berhenti untuknya. Dia tidak percaya dengan apa yang dia lihat di depan matanya. Dia kagat melihat Min Hyo sedang bergendengan tangan dengan namja dan mereka saling tersenyum bahagia.
“ternyata ini alasanmu menghilang begitu saja, Jiyong?”gumam Chaerin. Dada Chaerin kini merasa sesak seakan ada yang tersumbat disana. Dia melangkah keluar ruangan restoran itu. Chaerin terseyum getir matanya sudah terlihat basah tapi, dia menahan air matanya agar tidak keluar.
@rumah Chaerin.
Mendengar pintu dibuka Chaerin bergegas keluar dari kamarnya. Chaerin hanya mengenakan baju olah raga dengan rambut acak-acakan karena dia baru saja bagun tidur.
“omma, kau tadi mengajakku pergi ke pertunangan itu pertunangan Jiyong?”tanya Chaerin lemas.
“ne, omma tak menyangka tunangannya adalah Min Hyo. Mereka sangat serasi. Lalu, tadi kau juga kesanakan? Kenapa aku tak melihatmu?”jawab omma Chaerin sambil meletakkan sepatunya.
“aku tidak jadi kesana. Aku ngantuk sekali.”jawab Chaerin berbohong.
“kejam sekali. Mereka kan temanmu.”tegur omma Chaerin.
“omma.. aku tidur lagi ya..”kata Chaerin sambil berbalik. Kini air matanya dengan mudahnya menetes walau Chaerin sudah berusaha untuk tidak menangis. Untung saja ommanya tidak melihat Chaerin menangis.
@3 tahun kemudian
Chaerin kembali ke Korea. Setelah wisudanya dia langsung pergi ke Amerika untuk berkerja di sana. Memang terkesan terburu-buru dan mendapat pertentangan. Tapi, dia tetap keras kepala ingin pergi agar tidak datang dan melihat pernikahan Min Hyo dan Jiyong.
Kini Chaerin berkumpul dengan teman-teman tempat kerjanya yang baru di sebuah karaoke. Memang suasana sangat heboh bahkan semua menari saat musik diputar dan bernyanyi bersama. Tiba-tiba pintu terbuka.
Chaerin Pov
DEG!!
Dadaku sesak, Seakan oksigen tak ada lagi oksigen di sekitarku. Nafasku berhenti sesaat. Namja yang pernahku cintai kini dihadapanku. Seakan melihat masa lalu kembali dan membuat sayatan lagi dihatiku yang goresan lukanya belum hilang.
Tatapan matanya masih sama seperti dulu, datar dan tenang. Aku segera memalingkan wajahku darinya.
“ini temanku Jiyong..”jelas teman namja kepada kami terputus karena aku segera berdiri.
“aku harus pulang.”kataku terburu-buru sambil mengambil tasku. Aku harus pergi dan mau tidak mau aku harus melewatinya.
Grep!! Sebuah tangan mengegam tanganku. Mengegam erat dan meremas jari-jariku untuk menahanku. Aku yakin ini tangannya, walau aku tak melihat pemilik tangan ini. Aku sangat yakin tangan ini milik namja itu.
Aku tahu dia menatapku sekarang tapi, aku gak mampu manatapmu. Aku takut manatap matamu menggoyahkanku. Jika tidak ada gadis itu mungkin kita tetap bersama.
“jangan pergi! Disinilah sebentar lagi. Kita sudah lama tidak bertemu.”pintanya lembut. Aku sadar semua mata di ruangan karaoke ini sedang menatap kami bahkan musik pun berhenti bermain.
“tidak bisa. Aku harus pulang.”jawabku dingin tanpa melihat wajahnya. Kutarik tanganku kuat, berusaha melepaskan genggaman tangannya. Akhirnya dia membiarkanku pergi dengan melepaskan genggamanya secara perlahan.
Hatiku berdetak dengan kencang, seperti dulu saat aku bersamanya. Saat aku merasa dia adalah jodohku. Tapi, kini aku berharap aku sudah tidak mencintainya. Dia hanya masa lalu.
@kantor
“sebenarnya kau dan Jiyong ada hubungan apa? Suasana menjadi aneh saat kau pergi. Kau itu orang yang bersahabat jadi, saat terjadi seperti itu maka terasa sangat aneh. Apakah dia mantanmu?”jelas Dara.
“tidak mungkin! Kita semua tahu Chaerin belum pernah pacaran.”balas Bom.
“tapi, aku yakin ada sesuatu di antara mereka. Kau merahasiakan sesuatu dari kami kan Chaerin?”kata Dara.
“dia bukan siapa-siapa”jawabku malas.
“aku benar! Itu tidak mungkin. Uri Chaerin tak mungkin menyembunyikan sesuatu dari kita.”balas Bom.
“lalu kenapa kau terlihat menghindarinya?”
“aku tak pernah pacaran. Dia hanya anak kerabat dekat ommaku dan kebetulan pernah tinggal di rumahku.”jelasku malas.
“hanya begitu saja?”protes mereka tidak puas.
“aku pernah mencintainya.”jawabku.
“lalu bagaimana?”jawab mereka berdua antusias.
“ceritanya begitu panjang”jawabku malas karena tak ingin mengingatnya. Aku tahu kini pun aku masih mencintainya. Tapi, mencintainya adalah sebuah larangan.
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
Ku sempatku diriku mengunjungi sebuah makam. Makam indah dengan nisan tertulis “Min Hyo”.
Min Hyo meninggal saat aku pergi ke amerika, tepat saat aku sedang turun pesawat. Dia meninggal karena kecelakaan mobil saat mencoba mengejarku. Ya, Min Hyo dan Jiyong tidak jadi menikah. Tapi, bagiku Jiyong tetap milik Min Hyo yang tidak bolehku miliki. Mungkin ini karena rasa bersalahku atas kematian Min Hyo atau karena persahabatanku dengan Min Hyo. Yang pasti rasa cintaku ini pun tidak pantas dimiliki Jiyong yang pernah mempermainkan perasaanku.
Jiyong Pov
Tak sengaja aku bertemu dengannya disini. Tak kusia-siakan kesempatan ini untuk mendekatinya kembali. Aku berjalan dan semakin dekat dengannya yang sedang berdiri termenung di depan makan Min Hyo. Kutarik tanganya membuat dia kini di pelukanku. Ku dekap dia makin erat, aku sungguh merindukannya. Aku merasa dia mulai mendorongku. Tapi, aku tetap mendekapnya.
“ak..!”teriakku saat dia menginjakku dengan highheelsnya. Dia berjalan bergi menjauh dariku. Segeraku kejar dia dengan rasa sakit yang masih terasa dikakiku.
Ku raih pergelangan tanggannya dan kini aku berhasil membuat dia berhenti. Dia menatapku dengan tatapan kesal. Aku tahu ini memang salahku.
“tolong, dengarkan aku!”pintaku lembut.
“aku tak ingin mendengarkan apa-apa.”jawabnya ketus sambil berusaha melepaskan tanggannya dariku tapi, aku malah memegangnya semakin erat. Dia tidak boleh lepas.
“aku sangat ingin kau mendengarkannya.”pintaku.
“baiklah. Apa yang ingin kau katakan?”katanya. aku melepaskan tanggannya. Pergelangan tangannya yang ku pegang erat tadi terlihat memerah. Karena merasa sakit makanya dia menyerah dan memutuskan mendengarkanku.
END
rencananya Dika mau buat one shoot tapi tidak keburu dan malah jadi dalam bentuk Vignette. tunggu kelanjutannya ya...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar