RAIN
Author: Kim Daisy
Cast: Chaerin a.k.a CL 2ne1 dan Kwon Ji Yong a.k.a GD BIG BANG.
pict: Google
----- Jiyong Pov------
Dia menatap ke luar jendela sambil duduk dengan melipat lututnya. Aku
sunguh tidak pernah mengurungnya. Aku masih membiarkannya menjadi
penyanyi dan model.
"Kau kenapa?" Tanyaku sambil mencium kepalanya.
Tidak apa jawabnya simpel. Akhir-akhir ini dia selalu begini. Dia
meresponku dengan dingin. Mungkin dia bosan atau ada masalah.
____Chaerin Pov__
aku sudah tidak mencintainya lagi. Perasaanku denganya sudah hambar.
Tidak seperti dulu. Jangankan untuk melihatnya, mendengarkan suaranya
saja aku sudah malas.
"Kau kenapa?" Tanyanya seakan dia penasaran
dan mencemaskanku. Tidak apa. Dia memelukku, hangat tapi, degup
jantungku sudah tidak berdetak untuknya.
"Kau bosan?"
"Hmm"jawabku.
"Kau ingin buat album baru? Aku akan buat lagu untukmu."tawarnya bodoh.
"Aku bosan denganmu bukan dengan keadaan ini."jawabku. Aku tau kalimat
itu menyakitkan tapi, aku sungguh bosan dengannya. Dia diam tidak
percaya.
"kita bercerai saja?"ucapku begitu saja
"kenapa?"tanyanya dengan menatapku kosong. Dia pasti shock.
Aku ingin brpisah. Aku kasihan dengannya yang selalu berusaha untukku.
Kenapa dia tidak marah padaku, tidak memperlakukanku dengan buruk? Meski
aku begini dia tetap saja baik padaku. Aku harus bagaimana?
“aku sudah tidak mencintaimu lagi”
“apa ada orang lain?”tanyanya dengan nada biasa.
“aku tahu ini menyakitkan untukmu. Ini tidak mudah untukku tapi, aku juga ingin bahagia. Aku hanya terlalu bosan denganmu.”
“aku tidak setuju dengan alasan sepele itu. Kita tidak akan bercerai,
selamanya. Aku akan memberikanmu waktu untuk berfikir dengan jernih.
Tapi, jangan pergi dari sini karena aku yang akan memberikanmu ruang.
Aku tidak ingin kau menghilang dari pandanganku. Turuti kataku karena
aku masih suamimu.”ucapnya dan langsung pergi. Aku juga tidak ingin
membantahnya kali ini.
Jiyong pov
Baru saja aku keluar dari
rumahku dan seketika itu juga hujan lebat. Entah air mataku yang
mengalir entah hujan yang turun membasahi wajahku. Langkahku semakin
menjauh dari rumah tapi, aku semakin mengingat kenangan indah kami
bersama. Mengingat saat pertama kali aku melihatnya di Paris, saat dia
pertama kali memasuki agensiku, saat aku melatih dan memberikannya
semangat sebelum debutnya, saat dia memelukku di penghargaan pertama
yang grubnya dapatkan, saat kami berdiskusi wajahnya yang serius begitu
cantik dimataku, dan saat kami melakukan pernikahaan. Semua terasa indah
saat bersamanya.
Dengan basah kuyup aku masuk ke apartmenku dan
menyetel Tv. Siaran music langsung tersetel begitu saja. Acara itu
membahas tentang hubungan sesame penyanyi yang berlanjut ke pernikahan
dan pernikahan kami pun dibahas. Tapi, semua berita tentang berita baik.
Memang kami jarang berdebat apalagi hingga ketawan public. Tapi, kenapa
dia bosan padaku? Dadaku kini terasa sesak. Aku menangis. Aku sangat
mencintainya.
Pagi yang cerah tapi, di hatiku masih mendung. Segera
aku menelpon Seungri dan memintanya menjemputku untuk pergi bersama.
Setelah di ruang latihan aku melihat Chaerin di sana, duduk bersama Dara
nuna sambil mengobrol. Walau tidak dapat berbicara atau pun memeluknya
tapi, melihatnya tersenyum dan semangat seperti itu aku sudah bahagia.
--- Chaerin pov----
@rumah Dara
Aku ingin berpisah. Aku kasihan dengannya yang selalu berusaha untukku.
Kenapa dia tidak marah padaku dan tidak memperlakukanku dengan buruk?
Meski aku begini diam tetap saja baik padaku. Aku harus bagaimana?
Ku minum lagi segelas alkoholku.
"Chaerin! Kau kenapa? Jangan minum terlalu banyak?!"kata Dara binggung
sambil merebut gelas d pegang Chaerin tapi, chaerin mengambil gelas dara
dan meminumnya.
"Kwon Jiyong! Kenapa dia terlalu baik denganku?"gumamku.
"itu tandanya suamimu sayang denganmu. Aku akan menelpon jiyong oppa".
Tidak lama aku diboyong untuk memasuki mobil. Jiyong oppa sudah duduk dikursi pengemudi. Dia menatapku tajam.
"Kalau kau sakit kenapa ingin berpisah denganku?"Tanya Jiyong oppa saat aku mengenakan sabuk pengamanku.
"Ini karena hariku kosong bersamamu. Kau terlalu baik untukku, oppa"
"Kau terlalu lelah"
"Kau selalu sibuk. Kita selalu bertemu menjadi orang lain hingga aku bahkan kehilangan dirimu yang aku cintai."
"Karena itu sebaiknya kita harus sering bertemu sebagai chearin dan jiyong. Bukan berpisah."
"Terlambat. Sudah tidak ada cinta lagi."ucapku sambil menangis.
"Kita harus mencoba lagi."
“itu tidak mungkin. Sekarang aku semakin ingin menjauh darimu oppa!”kataku sambil memijit kepalaku yang pusing.
Mobil terasa berhenti. Aku membuka mataku perlahan.
“kenapa kita berhenti di rumah sakit? Aku memang pusing tapi, ini efek
minum. Kau tidak perlu cemas.”kataku. Tapi, Jiyong oppa tidak peduli dan
membukakan pintu untukku.
“kau tidak minum alcohol bagaimana mungkin kau mabuk.”
“sungguh? Itu tidak mungkin.”
“kau sudah melihat hasil kesehatanmu bulan ini?”
“belum.”jawabku sambil menggeleng.
“Dara nuna sudah melihatnya hasilnya untukmu jadi, dia tidak memberikan alcohol untukmu.”
“lalu? Kenapa?”kataku.
“sekarang, keluar. Ayo, kita menemui dokter.”
@Ruang dokter
“seperti hasil tes yang telah keluar minggu lalu nyonya Kwon sedang
mengandung 11minggu. Nyonya mungkin memang tidak merasakan gejala mual
seperti ibu hamil muda kebanyakkan tapi, kehamilannya memang bisa
membuatnya membenci tuan Kwon. Itu hal wajar tuan jadi, jangan bersedih.
Ini sering dialami suami di dunia. Tapi, tenang saja karena kurang
lebih dua bulan kemudian semua akan kembali normal.”jelas dokter setelah
memeriksaku.
“sial.”umpatku dalam hati.
“apa kalian ingin mendengar detak jantungnya?” Tanya dokter.
“tentu saja”ucap Jiyong oppa penuh semangat.
@2 bulan kemudian
“oppa, peluk..”rengekku. Jiyong oppa pun berjalan ke arahku dan memelukku. Tak lama dia berjalan kembali ke ruang kerjanya.
“oppa…”rengekku lagi.
“aku ingin menyelesaikan laguku, hunchae..”kataya dengan lembut tapi, ada perintah di sana.
“kau tidak peduli lagi padaku, oppa?”
“bukan begitu. Tapi, nanti saja. 10 menit lagi ini akan selesai.”
“sekarang atau ku hancurkan musikmu itu?”ancamku.
“oh, baiklah. Aku akan meinggalkan perkerjaanku sekarang.”katanya Jiyong oppa sambil membereskan pekerjaannya.
“oppa… duduk di sofa sana.”kataku sambil menunjuk sofa di ruang TV.
“wae?”
“aku ingin menonton TV bersamamu.”kataku sambil tersenyum senang karena
oppa menuruti kataku. Oppa berjalan dengan lemas tapi, aku gembira
melihatnya sudah duduk disofa. Aku menyusul dan bersandar di dadanya.
“Hunchae..”
“hm..”
“satu anak saja itu cukup ya.”
“Waeyo?”
“awal kehamilanmu kau membenciku tapi, sekarang kau sangat manja hingga tidak ingin aku berkerja. Jadi, satu saja cukup.”
“kau tidak suka kehamilanku?”kataku sambil menatapnya tajam.
“bukan begitu maksudku. Satu anak saja sudah cukup. Tapi, kita harus
mendidiknya dengan baik dan penuh cinta. Itu yang penting.”
“ne,
oppa. Tapi, aku tersinggung. Seakan kau tidak ingin aku hamil. Kau tahu?
Hati ini sakit.”kataku jujur. Sungguh aku seakan kekanak-kanakan tapi,
ini benar sakit.
“aku minta maaf.”kata Jiyong oppa.
“oppa, elus kepalaku..”regekku lagi.
Langit mendung, angin kencang, hujan atau pun badai itu hal biasa.
Asalkan kau yakin, ada sebuah pelangi indah yang menanti kau lihat.
Jadi, teruslah coba hadapi masalah yang akan kau hadapi agar kau dapat
melihat indahnya pelangi.
END
Huahahaha..ini karya
abtrakku setelah berbulan-bulan hibernasi. Sebenarnya ini ff sejak 12
September 2014 tapi, gak selesai di tengah jalan karena kasus
kecolongan itu. Harap maklum.*bow.
Sepertinya aku masih harus
perbaiki disana-sini tapi, aku rasa aku cukup puas karena memag tidak
ingin bikin ff “berat” makanya begini jadi. Mungkin awal bulan depan aku
muncul kembali dengan FF baruku yang lebih seru.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar