Get a Ready part 2
Author: Kim Daisy
Cast: SkyDragon, dkk
Genre: roman, hurt
Rate : Adult
Lenght : MultyChapter
WARNING!! FF ini perlu pemahaman lebih complex. Maaf, kalau terlalu banyak tokoh OC dan OOC disini karena yah.. saya suka. *plak!
Ok, ini ff sangat panjang jadi sabar ya...
Namaku Kwon Jiyong, pria yang menyukai wanita berumur 30 tahun jauh lebih tua 7 tahun dariku. Aku menyukainya semenjak aku kecil dan wanita itu selalu mengaggap cintaku hanya sebuah cinta anak-anak padahal aku sudah bertahun-tahun memastikan bahwa cintaku padanya benar-benar cinta, bukan hanya percintaan anak-anak ataupun mengidolakannya. Dia orang pertama yang memperlakukanku dengan jujur. Dia mampu memarahiku sedangkan orang tuaku tidak pernah melakukannya. Dia memarahiku dengan lembut. Ya, dia wanita yang berani dan cerdas. Itu salah satu alasan aku mencintainya.
Saat mengetahui dia akan keluar negeri, aku menyatakan cintaku padanya dan dia lagi-lagi berkata, “aku juga mencintaimu karena kau adik lelakiku yang tampan”. Dia berkata seperti itu sambil tersenyum manis sedangkan aku mendengarnya sambil meringis pilu.
Aku memang seorang idol. Tapi, setelah puas menjadi idol bertahun-tahun aku melajutkan sekolahku untuk menjadi dokter sepertinya. Di tengah sibuknya kuliahku aku juga tetap menjalani profesiku sebagai idol. Untungnya aku lulus sesuai targetku. Aku tidak ingin terlalu lama kuliah karena aku terlalu rindu dengannya. Selama kuliah aku tidak pernah bertemu dengannya atau menghubunginya. Itu aku lakukan untuk memastikan perasaanku padanya. Tapi, setelah aku bertemu dengannya kembali setelah sepuluh tahun dia menjadi berbeda.
Lee Chaerin yang aku cintai ternyata tidak percaya cinta. Sepertinya tidak ada dorongan agar dia tidak percaya cinta. Keluarganya begitu harmonis. Dia memiliki teman yang sangat setia, ada Soo Rin nuna yang menjadi sahabatnya sejak sekolah dulu. Aku tidak tahu penyebabnya Chaerinku seperti ini. Apakah karena pengalaman cintanya? Ini gila! Korban kekerasan pun masih mau membangun keluarga, masih mencintai dan dicintai. Lalu apa penyebabnya? Tapi, sepertinya keluarganya tidak ada yang mengetahui hal ini.
Ini membuatku frustasi. Bagaimana caranya agar aku mendapatkan Chaerin? Aku memang berencana untuk menjalani profesiku sebagai dokter agar lebih mudah mengejarnya tapi, jika begini keadaannya apa aku bisa? Aku rasa ini lebih sulit dari pada membuat dia mencintaiku karena aku harus membuatnya percaya cinta terlebih dahulu.
Aku menonton sebuah pertunjukan teater. Sebuah kisah Arang . Arang adalah sebuah legenda rakyat yang berasal dari Miryang, tentang seorang gadis yang dibunuh dan arwahnya bangkit untuk membalas dendam atas kematiannya.
Pada tahun 1600-an, pada masa pemerintahan Raja Myeongjong (Dinasti Joseon), di Miryang, terdapat seorang hakim bernama Yun. Hakim Yun memiliki seorang anak perempuan cantik bernama Arang. Seorang pelayan di rumah hakim Yun yang bernama Jugi, tertarik pada Arang dan selalu menggodanya. Ia mencoba memperkosa Arang, namun gagal sehingga ia pun membunuhnya dan menguburkan mayatnya di tempat yang tak diketahui. Segera tersiar kabar ke seluruh kota bahwa Arang telah hilang. Hakim Yun menjadi sangat sedih dan kembali ke Hanyang tanpa putrinya. Setelah hakim Yun turun dari jabatannya, beberapa hakim yang lain bergantian mengisi jabatan di Miryang dikarenakan pada setiap malam setelah naik jabatan, satu per satu meninggal secara misterius. Seorang pemuda yang berani dan ingin tahu bernama Yi berusaha mencalonkan diri menjadi hakim selanjutnya. Pada malam pertamanya setelah diangkat menjadi hakim, pemuda tersebut didatangi oleh seorang wanita berambut panjang yang berlumuran darah dan yang tidak lain adalah Arang. Setelah menceritakan kisahnya pada pemuda itu, hantu Arang mengatakan bahwa besok ia akan menjadi seekor kupu-kupu putih untuk menunjukkan siapakah orang yang telah membunuhnya. Keesokan paginya, hakim baru itu memanggil semua pelayannya. Lalu seekor kupu-kupu berwarna putih terbang dan mendarat di topi salah satu pelayannya, yakni Jugi. Hakim itu lalu menginterogasi Jugi. Pada awalnya Jugi membantah, namun akhirnya mengaku bahwa ialah yang telah membunuh Arang dan menguburkan mayatnya di rumpun bambu dekat Paviliun Yeongnam. Setelah digali, ternyata jenazah Arang masih utuh, kemungkinan karena arwahnya masih penasaran. Setelah Jugi dihukum, hantu Arang tak pernah muncul lagi. Sampai sekarang, di Miryang masih diadakan peringatan setiap tanggal 16 bulan ke-4 kalender lunar untuk mengenang Arang dan sebuah kuil dibangun untuknya.
Andai saja Arang masih hidup, apakah dia akan takut untuk memiliki kekasih? Apakah dia akan menikah? Atau akan memilih jalan berbeda dari Chaerin dan Soo Rin nuna? Ini sebuah misteri yang tidak bisa aku pecahkan sendiri. Mungkin waktu bisa membantuku.
Setelah pertunjukan berakhir, aku berjalan menuju belakang panggung untuk menemui para pemainnya dan Soo Rin nuna adalah salah satunya, dia memerankan Arang.
“Hoy, Boy! What’s up, yo?”sapa nuna Soo Rin sambil membereskan buket bunga yang diterimanya dari pangkuannya saat melihatku memasuki ruangan make-upnya. Dia menyapaku seperti dulu, saat aku masih menjadi anak-anak, ini menyebalkan.
“kau cocok sekali memerankan Arang. Kau memang terlihat seperti hantu, nuna.”candaku.
“kau begitu padaku? Tidak akan aku berikan Chaerin padamu.”katanya dengan tatapan mata yang tajam. Wajahnya yang polos itu seperti anak kecil yang mengambek tapi, sorot matanya sungguh menakutkan.
“ok. Aku tidak berani. Apa kabarmu nuna?”kataku sambil memeluknya dan memberikan buket bunga untuknya.
“aku selalu lebih baik.”jawabnya tersenyum.
“nuna, di antara banyak karangan bunga ini mana yang dari kekasihmu?”tanyaku dan sebuah pukulan keras menimpa bahuku.
“kau pikir nunamu ini memiliki kekasih? Kau bercanda?”katanya sambil tertawa.
“aku serius.”jawabku sambil membaca satu persatu surat karangan bunganya. Banyak karangan bunga dari idol. Aku tidak mengira dia sepopuler ini.
“kau dapat karangan bunga dari Se7en hyung? Daebak! Dia namja yang baik nuna. Kau juga dapat dari namja-namja ini. Wah... nunaku primadona.”godaku.
“tutup mulutmu anak kecil! Mereka memang baik tapi, belum baik untukku. Nah, kau ingin cerita masalah Chaerin kan? Ayo cerita! Tapi, antarkan aku pulang dan traktir makan malam.”kata Soo Rin sambil tersenyum lebar.
“aku tinggal di rumah kelurga Lee, Nuna. Nanti malam aku akan makan di rumah mereka.”jawabku.
“ah. Kau ini! Lalu, bagaimana?”
“apa?”
“bagaimana perasaanmu setelah tahu Chaerin sekarang seperti apa?”
“ah.. nuna tau? Chaerinku sudah cerita? Daebak! Kalian memang sahabat sejati!”
“yak! Kwon Jiyong, kau bisa cerita tidak? Kau terlalu lama mengulur waktuku. Oh ya! Aku tau kau mencintai Chaerin sejak Jepang menjajah Korea tapi, sampai sekarang Chaerin belum menjadi milikmu. Jadi jangan mengatakan ‘Chaerinku’ lagi!”
“saat Jepang menjajah aku belum lahir, nuna.”protesku.
“nuna, kenapa Chaerinku seperti ini? Apa penyebabnya?”tanyaku dengan serius mencoba menghentikan candaan kami.
“aku tidak bisa menceritakan penyebabnya. Jadi kau ceritakan saja rencanamu, mana tahu aku bisa membantumu.”jawab Soo Rin nuna.
“kenapa kau ingin menolongku?”
“satu, aku ingin Chaerin bahagia.”
“kau yakin aku bisa membahagiakan Chaerinku?”kataku senang.
“kau bisa tidak tutup mulutmu dulu?”kata Soo Rin nuna dengan tatapan mematikan. Aku menggaguk pelan.
“2. Kau mencintainya sejak dulu, jadi aku yakin kau tidak akan mudah melepaskannya jika dia nanti juga mencintaimu. 3. Chaerin hanya tidak bisa mencintai bukan tidak ada cinta. Dia lebih mudah diobati dari pada aku.”jawan Soo Rin nuna serius.
“aku tahu penyebab kau tidak serius dengan pria tapi, aku benar-benar tidak menemukan alasan Chaerinku memilih jalan sepertimu, nuna. Kau tidak menghasutnya kan?”
“kau fikir aku tidak waras? Aku tidak mungkin melakukan hal itu padanya. Tapi, aku tidak bisa mengubah pemikirannya. Jangan katakana ‘Chaerinku’! kau membuatku geli.”
“nuna, sebenarnya ada apa? Chaerinku itu tidak bisa percaya cinta? Atau tidak bisa mempercayai pria?”
“ash.. jinja! Sepertinya ‘Chaerinku’ itu adalah namanya.”jawab Soo Rin nuna kesal.
“ Jika aku tidak bisa mempercayai pria, Chaerin adalah wanita yang tidak ingin menikah.”sambungnya dengan ekpresi wajah yang kembali serius.
“Mwo??”teriakku kaget.
“waeyo?”tanyaku.
“aku tidak bisa cerita, kid.”
“aku bukan anak kecil lagi.”protesku.
“ayo, antar aku pulang! Aku sudah selesai.”kata Soo Rin nuna menarikku.
“aku bukan supirmu.”protesku. Tapi, Soo Rin nuna masih saja menarikku.
Soo Rin nuna adalah sepupu jauhku. Neneknya adalah unnie nenekku. Walau begitu hubungan keluarga kami seperti hubungan bisnis dari pada hubungan darah. Soo Rin nuna adalah penerus perusahaan ikan nantinya tapi, sepertinya dia akan lebih memilih memberikan pada adiknya dari pada untuknya sendiri karena dia sudah terlalu sibuk dengan pekerjaan-pekerjaannya yang membinggungkan.
Soo Rin nuna keluar dari mobilku tapi, sebelum dia menutup pintu mobilku dia memintaku menatapnya.
“Jiyong, keputusanmu menjadi dokter tidak salah. Chaerin mungkin akan kaget dengan kehadiranmu sebagai dokter disana walau dia tahu keluargamu yang memiliki rumah sakit itu tapi, aku rasa menjadi dokter disana bisa membuatmu lebih mengenalnya karena dia tinggal di rumah yang diberikan pihak rumah sakit. Kau mengertikan?”katanya dengan wajah serius. Jarang aku bisa melihat dia benar-benar sosok nuna seperti sekarang.
“kau mengambil spesialis Jantung dan dia dokter mulut dan gigi, kalian memang akan sulit bertemu tapi, setidaknya dia akan melihatmu kali ini. Bye, boy!”kata Soo Rin nuna sambil nendorong pintu mobilku dengan keras.
“ya, ini mobil mahal!”teriakku dan nuna berjalan santai sambil melambaikan tangannya. Aish!
Aku ingat saat aku berusia 5 tahun. Saat itu aku dititipkan ke rumah keluarga Lee dan Chaerinku yang diminta menjagaku. Chaerin membacakan buku pelajarannya padaku, yang aku ingat tentang tata surya dan itu membuatku tertarik hingga saat kami bersama aku meminta Chaerin menjelaskan tentang segala sesuatu yang ada di buku sainsnya dari pada buku dongeng miliknya. Di umur segitu tentu saja aku tidak mengerti tapi, aku menyukainya. Aku menyukai saat dia menjelaskan tata surya padaku.
Jika aku tertidur, Chaerin akan ikut tertidur disampingku sambil memelukku. Aku sangat rindu momen itu.
Saat aku baru mengenakan seragam sekolah dasarku aku selalu berangkat bersama Chaerin. Aku ingat, aku selalu memberikannya coklat seminggu sekali karena aku tidak tahu kapan Valentineday tiba.
Saat aku berusia 12 tahun, untuk pertama kalinya Chaerin melarangku memeluknya dan memintaku memanggilnya “nuna” tapi, aku tidak bisa melakukannya. Memeluknya itu adalah kebiasaan bagiku dan memanggilnya nuna membuat lidahku gatal.
Saat Chaerin memutuskan untuk kuliah diluar, aku menahannya. Aku selalu menyatakan cintaku padanya. Tapi, dia hanya menganggapku adiknya. Awalnya aku terus melakukannya tapi, setelahku pikir-pikir aku harus berhenti menyatakan perasaaanku padanya dan aku harus memastikan perasaanku terlebih dahulu, dan ternyata aku memang mencintainya.
Chaerin tidak menginap dirumahnya malam ini, dia tidur dirumah milik rumah sakit. Apakah dia sibuk saat ini? Jika aku menelponnya apakah aku menggangunya?
“nanti setelah makan malam telepon saja unnie, dia tidak sesibuk dokter kandungan atau dokter lainnya. Dia memilik spesialis itu karena jam kerjanya lebih sedikit. Padahal dia bisa saja mengambil spesialis sepertimu, oppa. Spesialis jantung benar-benar keren!”kata Harin saat memberikan piring padaku.
“baiklah, adik ipar.”candaku dan dia tersenyum. Semangatku pun kembali.
“makan yang banyak, kakak ipar.”balas Harin padaku.
Seperti saran Harin aku menghubungi Chaerinku setelah makan malam dan dia segera menjawab teleponku. Aku merindukannya.
“ada apa, Jiyong?”jawabnya lembut.
“kau sibuk?”tanyaku.
“tidak. Nuna tidak lagi sibuk. Nuna hanya melihat data pasien.”jawabnya. Kata ‘nuna’ yang dia sisipkan di kalimatnya membuat telingaku gatal.
“kau bukan nuna bagiku. Kau sudah mau pulang?”
“ya, sebentar lagi. Ada apa sebenarnya?”
“tidak. Aku hanya merindukanmu seperti biasa, chagia.”
“kau kumat lagi. Carilah wanita muda. Jangan melihatku saja! Aku ini nunamu”jawab Chaerin. Ada nada khawatir di kalimatnya.
“aku mencintaimu bukan hanya dalam 1 atau 5 tahun, perasaan ini semakin dalam padamu, Chaerin. aku tidak berbohong.”
“jangan cintai aku! Nanti kau terluka.”
“kau mencemaskanku?”
“kau termasuk orang yang penting dalam hidupku. Aku tidak ingin kita memutuskan hubungan baik ini karena luka.”suaranya terdengar sangat lembut.
“kalau begitu terima cintaku, Chagia.”
“itu justru melukaimu. Aku tidak pernah serius dengan cinta, kau tahu juga hal itu.”
“kenapa kau seperti ini, Chaerin? kau tidak ingin merubahnya?”
“sulit untukku jelaskan padamu, apa lagi melalui telepon. Tentu saja aku tidak ingin merubahnya, ini termasuk pertahanan diriku.”
“pertahanan diri yang buruk. Kau sudah makan, Chae?”kataku sambil membuka pintu kamarnya dan sedikit mengubah pembicaran. Obrolan ini tidak baik kami bicarakan lewat telepon.
“sudah. Kau masih tinggal dirumah?”
“ya, omma masak enak untukku.”jawabku sambil melihat isi kamar Chaerin.
“dia ommaku. Kau kenapa tidak tinggal dirumahmu?”
“dirumahku tidak ada aromamu.”jawabku sambil tidur di kasur Chaerin. Chaerin tertawa pelan tapi, bukan tertawa yang dipaksa.
“kau tersipu?”godaku.
“tentu saja. Aku tidak menyangka kau benar-benar fansku.”
“aku bukan fansmu. Aku priamu. Selamat malam, Chaerin. Mimpi indah, Love.”kataku dan segera memutuskan telepon. Walau dia tidak memiliki cinta untukku tapi, aku tetap yakin bahwa Chaerin sedang histeris karena tersipu olehku. Dia pasti menggemaskan.
Siang yang cerah. Aku dengan semangat datang ke rumah sakit untuk menemui Chaerin. Aku berniat makan siang bersamanya. Saat mobilku baru saja berhenti di depan rumah sakit. Aku melihat Chaerin memeluk seorang namja. Aku segera keluar dari mobilku dengan terburu-buru memasitikan apa yang aku lihat.
“aku senang bertemu denganmu.”kata pria itu sambil tersenyum. Chaerin membelakangiku jadi dia tidak tahu aku ada disini.
“aku tahu.”kata Chaerin melepaskan pelukan mereka.
“kau sibuk?”
“Kenapa?”
“aku ingin mengobrol sebentar denganmu.”
“Chagia, dia siapa?”kataku saat menghampiri mereka. Pria itu menatap Chaerin sambil tersenyum dan Chaerin mengeleng-gelengkan kepalanya pelan tapi, terlihat santai.
“oppa, ini Jiyong. Kau ingat, dengan anak kecil yang sering di titipkan di rumahku? Sekarang dia sudah sebesar ini.”jelas Chaerin.
“Mwo? Oppa?”kataku histeris di dalam hati.
“oh, ne. Dia sudah besar. Kau tidak ingat denganku? Aku Teddy. Aku pernah mengajarkan kalian bermain piano dulu.”
“oh, kau Teddy sam. Kau sudah menikah?”
“ya, aku sudah memiliki dua orang anak sekarang.”jawabnya senang.
“hua.. aku rindu denganmu sam.”kataku sambil memeluk Teddy sam. Jika dia belum menikah jangan harap aku ramah dengannya, dia bisa menjadi ancaman bagiku.
“oh ya sam, kau ada perlu apa dengan Chaerinku?”
“kau tidak berubah Jiyong? Kau masih beranggapan Chaerin milikmu.”kata Sam terkekeh.
“aku bukan beranggapan. Tapi, ini akan menjadi kenyataan.”jawabku.
“sebaiknya kau minum obat sebelum bertemu denganku.”balas Chaerin.
“ada apa kau kesini, Jiyong?”Tanya Chaerinku dengan wajah penasarannya.
“melihat istriku.”jawabku santai dan itu membuat sam tertawa dan Chaerin mengeleng-gelengkan kepalanya.
“dia tidak tertolong lagi. Oppa, sepertinya aku tidak ada banyak waktu jadi bisa bicara disini saja?”
“sebenarnya aku ingin mengobrol denganmu tentang istriku, unniemu itu sedang hamil muda. Aku dibuat kerepotan karenanya. kau bisa kan bertanya dengan teman-teman doktermu tentang hamil muda?.”kata sam membuatku senang.
“wah benarkah? Selamat oppa! Tapi, aku kasihan dengan unnie.”
“wae?”kata sam binggung.
“tiga anak terlalu banyak, oppa.”jawab Chaerin dengan memperlihatkan wajah kesalnya tapi, itu terlihat lucu dimataku membuatku dan sam tertawa.
“oh, baiklah.”jawab Sam.
“bawa juga istrimu, oppa.”
“baiklah. Lain kali aku akan membawa istriku.”
“ok!”
“bye”
“bye sam. Sampai jumpa lagi! Lain kali bawa anakmu juga.”kataku dan sam mengganguk pelan.
“hey, boy! Kau ingin diluar terus? Masuklah. Appa senang melihatmu datang.”kata Chaerinku sambil tersenyum lembut.
“Chaerin.”
“hem..”katanya sambil menoleh padaku. Aku mengulurkan tanganku padanya. Dia tersenyum dan maraih tanganku. Lalu, kami berjalan dengan bergandengan.
“kau memang lebih cocok menjadi adik laki-lakiku.”
“kau memang lebih cocok menjadi istriku.”
“minumlah obatmu, Kwon Jiyong.”
“aku serius.”
“aku juga serius”kata Chaerin sambil menatap mataku.
“aku sudah melihat appa tadi pagi. Aku hanya ingin bicara denganmu, sebentar saja.”balasku.
“baiklah. Aku tidak punya banyak waktu. Tapi, kita harus masuk dulu.”
Chaerin membawaku ke dalam suatu ruangan, mungkin ini tempat rapat.
“ada apa?”kata Chaerin langsung setelah dia menutup pintu dan melepaskan tanganku.
“kau pasti mengerti maksudku jadi aku tidak ingin berbasa-basi lagi. Aku ingin kita menikah tapi, melihat sikapmu akan lebih baik kita berpacaran terlebih dahulu.”kataku langsung sambil menatap Chaerin. Tidak ada ekpresi panik atau kalut yang dia perlihatkan. Chaerin bahkan tersenyum lembut.
“Disaat kau belajar jalan aku sudah lomba marathon. Kau belajar bicara aku sudah pidato dengan bahasa Jepang. Tidak mungkin aku menjadi kekasihmu apalagi untuk menikah denganmu.”jawab Chaerin tersenyum dan ini menyakitkan untukku.
“ Kau bohong. Ahjusi tidak mungkin mengizinkanmu marathon. Jadi, kau menjadi kekasihku itu mungkin terjadi. Aku akan sudah mencintaimu bertahun-tahun. Kau tahu itu.
“Jiyong, sadarlah! Aku tidak mau menikah. Namja seumuranku selalu mencari wanita seumuran denganmu. Tidak mungkin kau yang masih muda malah memilihku. Kau jangan bicara cinta denganku karena tidak umurku lagi bermain cinta.”
“Karena itu kita menikah saja.”
“Aku. Tidak. Mau menikah. Aku akan hidup sendirian seumur hidup.”
“Kenapa kau seperti ini? Adakah sesuatu yang membuatmu seerti ini?”
“Aku tidak diingin jatuh cinta.”
“kenapa? Kau pasti ada alasankan. Siapa lelaki brengsek yang melukaimu hingga seperti ini?”
“Jangan kau salahkan siapa-siapa! Ini karena aku tidak ingin sakit hati.”jawab Chaerin dengan penekanan.
“aku sebisa mungkin tidak akan menyakitimu. Aku mencintaimu.”balasku selembut mungkin dan memeluk Chaerin sambil mengelus rambutnya. Chaerin tidak menolakku.
“sayangnya, cinta itu pasti memberikan luka. Aku tidak ingin mencoba luka itu, Jiyong. Aku mohon padamu jangan memaksaku karena aku bisa saja menjadi dingin padamu.”
Aku tidak ingin dia menjauh dariku. Aku akan mendekatinya perlahan-lahan.
“sepertinya pembicaraan ini sudah berakhir. Baiklah, aku tidak akan membahas ini lagi. Tapi, jangan hindari aku. Aku mohon.”kataku. Aku merasakan anggukan pelan Chaerin saat dipelukanku. Aku melepaskannya dari pelukanku.
“aku pergi, Chaerin.”kataku dengan rasa sakitku. Sudah berkali-kali dia menolakku tapi, ini benar-benar menyakitiku. Yah, cinta tidak bisa dijauhkan dari rasa sakit. Bukan berarti aku akan menyerah. Aku akan melangkah perlahan-lahan agar dia tidak ditinggalkanku. Ini sebuah pilihan yang bagus ataukah akan menjadi boomerang untukku aku juga tidak tahu. Yang aku tahu, aku hanya punya ini saja sebagai pilihanku dan sayangnya ‘saja’ itu juga tidak mudah aku jalani.
TBC
Author: Kim Daisy
Cast: SkyDragon, dkk
Genre: roman, hurt
Rate : Adult
Lenght : MultyChapter
WARNING!! FF ini perlu pemahaman lebih complex. Maaf, kalau terlalu banyak tokoh OC dan OOC disini karena yah.. saya suka. *plak!
Ok, ini ff sangat panjang jadi sabar ya...
Namaku Kwon Jiyong, pria yang menyukai wanita berumur 30 tahun jauh lebih tua 7 tahun dariku. Aku menyukainya semenjak aku kecil dan wanita itu selalu mengaggap cintaku hanya sebuah cinta anak-anak padahal aku sudah bertahun-tahun memastikan bahwa cintaku padanya benar-benar cinta, bukan hanya percintaan anak-anak ataupun mengidolakannya. Dia orang pertama yang memperlakukanku dengan jujur. Dia mampu memarahiku sedangkan orang tuaku tidak pernah melakukannya. Dia memarahiku dengan lembut. Ya, dia wanita yang berani dan cerdas. Itu salah satu alasan aku mencintainya.
Saat mengetahui dia akan keluar negeri, aku menyatakan cintaku padanya dan dia lagi-lagi berkata, “aku juga mencintaimu karena kau adik lelakiku yang tampan”. Dia berkata seperti itu sambil tersenyum manis sedangkan aku mendengarnya sambil meringis pilu.
Aku memang seorang idol. Tapi, setelah puas menjadi idol bertahun-tahun aku melajutkan sekolahku untuk menjadi dokter sepertinya. Di tengah sibuknya kuliahku aku juga tetap menjalani profesiku sebagai idol. Untungnya aku lulus sesuai targetku. Aku tidak ingin terlalu lama kuliah karena aku terlalu rindu dengannya. Selama kuliah aku tidak pernah bertemu dengannya atau menghubunginya. Itu aku lakukan untuk memastikan perasaanku padanya. Tapi, setelah aku bertemu dengannya kembali setelah sepuluh tahun dia menjadi berbeda.
Lee Chaerin yang aku cintai ternyata tidak percaya cinta. Sepertinya tidak ada dorongan agar dia tidak percaya cinta. Keluarganya begitu harmonis. Dia memiliki teman yang sangat setia, ada Soo Rin nuna yang menjadi sahabatnya sejak sekolah dulu. Aku tidak tahu penyebabnya Chaerinku seperti ini. Apakah karena pengalaman cintanya? Ini gila! Korban kekerasan pun masih mau membangun keluarga, masih mencintai dan dicintai. Lalu apa penyebabnya? Tapi, sepertinya keluarganya tidak ada yang mengetahui hal ini.
Ini membuatku frustasi. Bagaimana caranya agar aku mendapatkan Chaerin? Aku memang berencana untuk menjalani profesiku sebagai dokter agar lebih mudah mengejarnya tapi, jika begini keadaannya apa aku bisa? Aku rasa ini lebih sulit dari pada membuat dia mencintaiku karena aku harus membuatnya percaya cinta terlebih dahulu.
Aku menonton sebuah pertunjukan teater. Sebuah kisah Arang . Arang adalah sebuah legenda rakyat yang berasal dari Miryang, tentang seorang gadis yang dibunuh dan arwahnya bangkit untuk membalas dendam atas kematiannya.
Pada tahun 1600-an, pada masa pemerintahan Raja Myeongjong (Dinasti Joseon), di Miryang, terdapat seorang hakim bernama Yun. Hakim Yun memiliki seorang anak perempuan cantik bernama Arang. Seorang pelayan di rumah hakim Yun yang bernama Jugi, tertarik pada Arang dan selalu menggodanya. Ia mencoba memperkosa Arang, namun gagal sehingga ia pun membunuhnya dan menguburkan mayatnya di tempat yang tak diketahui. Segera tersiar kabar ke seluruh kota bahwa Arang telah hilang. Hakim Yun menjadi sangat sedih dan kembali ke Hanyang tanpa putrinya. Setelah hakim Yun turun dari jabatannya, beberapa hakim yang lain bergantian mengisi jabatan di Miryang dikarenakan pada setiap malam setelah naik jabatan, satu per satu meninggal secara misterius. Seorang pemuda yang berani dan ingin tahu bernama Yi berusaha mencalonkan diri menjadi hakim selanjutnya. Pada malam pertamanya setelah diangkat menjadi hakim, pemuda tersebut didatangi oleh seorang wanita berambut panjang yang berlumuran darah dan yang tidak lain adalah Arang. Setelah menceritakan kisahnya pada pemuda itu, hantu Arang mengatakan bahwa besok ia akan menjadi seekor kupu-kupu putih untuk menunjukkan siapakah orang yang telah membunuhnya. Keesokan paginya, hakim baru itu memanggil semua pelayannya. Lalu seekor kupu-kupu berwarna putih terbang dan mendarat di topi salah satu pelayannya, yakni Jugi. Hakim itu lalu menginterogasi Jugi. Pada awalnya Jugi membantah, namun akhirnya mengaku bahwa ialah yang telah membunuh Arang dan menguburkan mayatnya di rumpun bambu dekat Paviliun Yeongnam. Setelah digali, ternyata jenazah Arang masih utuh, kemungkinan karena arwahnya masih penasaran. Setelah Jugi dihukum, hantu Arang tak pernah muncul lagi. Sampai sekarang, di Miryang masih diadakan peringatan setiap tanggal 16 bulan ke-4 kalender lunar untuk mengenang Arang dan sebuah kuil dibangun untuknya.
Andai saja Arang masih hidup, apakah dia akan takut untuk memiliki kekasih? Apakah dia akan menikah? Atau akan memilih jalan berbeda dari Chaerin dan Soo Rin nuna? Ini sebuah misteri yang tidak bisa aku pecahkan sendiri. Mungkin waktu bisa membantuku.
Setelah pertunjukan berakhir, aku berjalan menuju belakang panggung untuk menemui para pemainnya dan Soo Rin nuna adalah salah satunya, dia memerankan Arang.
“Hoy, Boy! What’s up, yo?”sapa nuna Soo Rin sambil membereskan buket bunga yang diterimanya dari pangkuannya saat melihatku memasuki ruangan make-upnya. Dia menyapaku seperti dulu, saat aku masih menjadi anak-anak, ini menyebalkan.
“kau cocok sekali memerankan Arang. Kau memang terlihat seperti hantu, nuna.”candaku.
“kau begitu padaku? Tidak akan aku berikan Chaerin padamu.”katanya dengan tatapan mata yang tajam. Wajahnya yang polos itu seperti anak kecil yang mengambek tapi, sorot matanya sungguh menakutkan.
“ok. Aku tidak berani. Apa kabarmu nuna?”kataku sambil memeluknya dan memberikan buket bunga untuknya.
“aku selalu lebih baik.”jawabnya tersenyum.
“nuna, di antara banyak karangan bunga ini mana yang dari kekasihmu?”tanyaku dan sebuah pukulan keras menimpa bahuku.
“kau pikir nunamu ini memiliki kekasih? Kau bercanda?”katanya sambil tertawa.
“aku serius.”jawabku sambil membaca satu persatu surat karangan bunganya. Banyak karangan bunga dari idol. Aku tidak mengira dia sepopuler ini.
“kau dapat karangan bunga dari Se7en hyung? Daebak! Dia namja yang baik nuna. Kau juga dapat dari namja-namja ini. Wah... nunaku primadona.”godaku.
“tutup mulutmu anak kecil! Mereka memang baik tapi, belum baik untukku. Nah, kau ingin cerita masalah Chaerin kan? Ayo cerita! Tapi, antarkan aku pulang dan traktir makan malam.”kata Soo Rin sambil tersenyum lebar.
“aku tinggal di rumah kelurga Lee, Nuna. Nanti malam aku akan makan di rumah mereka.”jawabku.
“ah. Kau ini! Lalu, bagaimana?”
“apa?”
“bagaimana perasaanmu setelah tahu Chaerin sekarang seperti apa?”
“ah.. nuna tau? Chaerinku sudah cerita? Daebak! Kalian memang sahabat sejati!”
“yak! Kwon Jiyong, kau bisa cerita tidak? Kau terlalu lama mengulur waktuku. Oh ya! Aku tau kau mencintai Chaerin sejak Jepang menjajah Korea tapi, sampai sekarang Chaerin belum menjadi milikmu. Jadi jangan mengatakan ‘Chaerinku’ lagi!”
“saat Jepang menjajah aku belum lahir, nuna.”protesku.
“nuna, kenapa Chaerinku seperti ini? Apa penyebabnya?”tanyaku dengan serius mencoba menghentikan candaan kami.
“aku tidak bisa menceritakan penyebabnya. Jadi kau ceritakan saja rencanamu, mana tahu aku bisa membantumu.”jawab Soo Rin nuna.
“kenapa kau ingin menolongku?”
“satu, aku ingin Chaerin bahagia.”
“kau yakin aku bisa membahagiakan Chaerinku?”kataku senang.
“kau bisa tidak tutup mulutmu dulu?”kata Soo Rin nuna dengan tatapan mematikan. Aku menggaguk pelan.
“2. Kau mencintainya sejak dulu, jadi aku yakin kau tidak akan mudah melepaskannya jika dia nanti juga mencintaimu. 3. Chaerin hanya tidak bisa mencintai bukan tidak ada cinta. Dia lebih mudah diobati dari pada aku.”jawan Soo Rin nuna serius.
“aku tahu penyebab kau tidak serius dengan pria tapi, aku benar-benar tidak menemukan alasan Chaerinku memilih jalan sepertimu, nuna. Kau tidak menghasutnya kan?”
“kau fikir aku tidak waras? Aku tidak mungkin melakukan hal itu padanya. Tapi, aku tidak bisa mengubah pemikirannya. Jangan katakana ‘Chaerinku’! kau membuatku geli.”
“nuna, sebenarnya ada apa? Chaerinku itu tidak bisa percaya cinta? Atau tidak bisa mempercayai pria?”
“ash.. jinja! Sepertinya ‘Chaerinku’ itu adalah namanya.”jawab Soo Rin nuna kesal.
“ Jika aku tidak bisa mempercayai pria, Chaerin adalah wanita yang tidak ingin menikah.”sambungnya dengan ekpresi wajah yang kembali serius.
“Mwo??”teriakku kaget.
“waeyo?”tanyaku.
“aku tidak bisa cerita, kid.”
“aku bukan anak kecil lagi.”protesku.
“ayo, antar aku pulang! Aku sudah selesai.”kata Soo Rin nuna menarikku.
“aku bukan supirmu.”protesku. Tapi, Soo Rin nuna masih saja menarikku.
Soo Rin nuna adalah sepupu jauhku. Neneknya adalah unnie nenekku. Walau begitu hubungan keluarga kami seperti hubungan bisnis dari pada hubungan darah. Soo Rin nuna adalah penerus perusahaan ikan nantinya tapi, sepertinya dia akan lebih memilih memberikan pada adiknya dari pada untuknya sendiri karena dia sudah terlalu sibuk dengan pekerjaan-pekerjaannya yang membinggungkan.
Soo Rin nuna keluar dari mobilku tapi, sebelum dia menutup pintu mobilku dia memintaku menatapnya.
“Jiyong, keputusanmu menjadi dokter tidak salah. Chaerin mungkin akan kaget dengan kehadiranmu sebagai dokter disana walau dia tahu keluargamu yang memiliki rumah sakit itu tapi, aku rasa menjadi dokter disana bisa membuatmu lebih mengenalnya karena dia tinggal di rumah yang diberikan pihak rumah sakit. Kau mengertikan?”katanya dengan wajah serius. Jarang aku bisa melihat dia benar-benar sosok nuna seperti sekarang.
“kau mengambil spesialis Jantung dan dia dokter mulut dan gigi, kalian memang akan sulit bertemu tapi, setidaknya dia akan melihatmu kali ini. Bye, boy!”kata Soo Rin nuna sambil nendorong pintu mobilku dengan keras.
“ya, ini mobil mahal!”teriakku dan nuna berjalan santai sambil melambaikan tangannya. Aish!
Aku ingat saat aku berusia 5 tahun. Saat itu aku dititipkan ke rumah keluarga Lee dan Chaerinku yang diminta menjagaku. Chaerin membacakan buku pelajarannya padaku, yang aku ingat tentang tata surya dan itu membuatku tertarik hingga saat kami bersama aku meminta Chaerin menjelaskan tentang segala sesuatu yang ada di buku sainsnya dari pada buku dongeng miliknya. Di umur segitu tentu saja aku tidak mengerti tapi, aku menyukainya. Aku menyukai saat dia menjelaskan tata surya padaku.
Jika aku tertidur, Chaerin akan ikut tertidur disampingku sambil memelukku. Aku sangat rindu momen itu.
Saat aku baru mengenakan seragam sekolah dasarku aku selalu berangkat bersama Chaerin. Aku ingat, aku selalu memberikannya coklat seminggu sekali karena aku tidak tahu kapan Valentineday tiba.
Saat aku berusia 12 tahun, untuk pertama kalinya Chaerin melarangku memeluknya dan memintaku memanggilnya “nuna” tapi, aku tidak bisa melakukannya. Memeluknya itu adalah kebiasaan bagiku dan memanggilnya nuna membuat lidahku gatal.
Saat Chaerin memutuskan untuk kuliah diluar, aku menahannya. Aku selalu menyatakan cintaku padanya. Tapi, dia hanya menganggapku adiknya. Awalnya aku terus melakukannya tapi, setelahku pikir-pikir aku harus berhenti menyatakan perasaaanku padanya dan aku harus memastikan perasaanku terlebih dahulu, dan ternyata aku memang mencintainya.
Chaerin tidak menginap dirumahnya malam ini, dia tidur dirumah milik rumah sakit. Apakah dia sibuk saat ini? Jika aku menelponnya apakah aku menggangunya?
“nanti setelah makan malam telepon saja unnie, dia tidak sesibuk dokter kandungan atau dokter lainnya. Dia memilik spesialis itu karena jam kerjanya lebih sedikit. Padahal dia bisa saja mengambil spesialis sepertimu, oppa. Spesialis jantung benar-benar keren!”kata Harin saat memberikan piring padaku.
“baiklah, adik ipar.”candaku dan dia tersenyum. Semangatku pun kembali.
“makan yang banyak, kakak ipar.”balas Harin padaku.
Seperti saran Harin aku menghubungi Chaerinku setelah makan malam dan dia segera menjawab teleponku. Aku merindukannya.
“ada apa, Jiyong?”jawabnya lembut.
“kau sibuk?”tanyaku.
“tidak. Nuna tidak lagi sibuk. Nuna hanya melihat data pasien.”jawabnya. Kata ‘nuna’ yang dia sisipkan di kalimatnya membuat telingaku gatal.
“kau bukan nuna bagiku. Kau sudah mau pulang?”
“ya, sebentar lagi. Ada apa sebenarnya?”
“tidak. Aku hanya merindukanmu seperti biasa, chagia.”
“kau kumat lagi. Carilah wanita muda. Jangan melihatku saja! Aku ini nunamu”jawab Chaerin. Ada nada khawatir di kalimatnya.
“aku mencintaimu bukan hanya dalam 1 atau 5 tahun, perasaan ini semakin dalam padamu, Chaerin. aku tidak berbohong.”
“jangan cintai aku! Nanti kau terluka.”
“kau mencemaskanku?”
“kau termasuk orang yang penting dalam hidupku. Aku tidak ingin kita memutuskan hubungan baik ini karena luka.”suaranya terdengar sangat lembut.
“kalau begitu terima cintaku, Chagia.”
“itu justru melukaimu. Aku tidak pernah serius dengan cinta, kau tahu juga hal itu.”
“kenapa kau seperti ini, Chaerin? kau tidak ingin merubahnya?”
“sulit untukku jelaskan padamu, apa lagi melalui telepon. Tentu saja aku tidak ingin merubahnya, ini termasuk pertahanan diriku.”
“pertahanan diri yang buruk. Kau sudah makan, Chae?”kataku sambil membuka pintu kamarnya dan sedikit mengubah pembicaran. Obrolan ini tidak baik kami bicarakan lewat telepon.
“sudah. Kau masih tinggal dirumah?”
“ya, omma masak enak untukku.”jawabku sambil melihat isi kamar Chaerin.
“dia ommaku. Kau kenapa tidak tinggal dirumahmu?”
“dirumahku tidak ada aromamu.”jawabku sambil tidur di kasur Chaerin. Chaerin tertawa pelan tapi, bukan tertawa yang dipaksa.
“kau tersipu?”godaku.
“tentu saja. Aku tidak menyangka kau benar-benar fansku.”
“aku bukan fansmu. Aku priamu. Selamat malam, Chaerin. Mimpi indah, Love.”kataku dan segera memutuskan telepon. Walau dia tidak memiliki cinta untukku tapi, aku tetap yakin bahwa Chaerin sedang histeris karena tersipu olehku. Dia pasti menggemaskan.
Siang yang cerah. Aku dengan semangat datang ke rumah sakit untuk menemui Chaerin. Aku berniat makan siang bersamanya. Saat mobilku baru saja berhenti di depan rumah sakit. Aku melihat Chaerin memeluk seorang namja. Aku segera keluar dari mobilku dengan terburu-buru memasitikan apa yang aku lihat.
“aku senang bertemu denganmu.”kata pria itu sambil tersenyum. Chaerin membelakangiku jadi dia tidak tahu aku ada disini.
“aku tahu.”kata Chaerin melepaskan pelukan mereka.
“kau sibuk?”
“Kenapa?”
“aku ingin mengobrol sebentar denganmu.”
“Chagia, dia siapa?”kataku saat menghampiri mereka. Pria itu menatap Chaerin sambil tersenyum dan Chaerin mengeleng-gelengkan kepalanya pelan tapi, terlihat santai.
“oppa, ini Jiyong. Kau ingat, dengan anak kecil yang sering di titipkan di rumahku? Sekarang dia sudah sebesar ini.”jelas Chaerin.
“Mwo? Oppa?”kataku histeris di dalam hati.
“oh, ne. Dia sudah besar. Kau tidak ingat denganku? Aku Teddy. Aku pernah mengajarkan kalian bermain piano dulu.”
“oh, kau Teddy sam. Kau sudah menikah?”
“ya, aku sudah memiliki dua orang anak sekarang.”jawabnya senang.
“hua.. aku rindu denganmu sam.”kataku sambil memeluk Teddy sam. Jika dia belum menikah jangan harap aku ramah dengannya, dia bisa menjadi ancaman bagiku.
“oh ya sam, kau ada perlu apa dengan Chaerinku?”
“kau tidak berubah Jiyong? Kau masih beranggapan Chaerin milikmu.”kata Sam terkekeh.
“aku bukan beranggapan. Tapi, ini akan menjadi kenyataan.”jawabku.
“sebaiknya kau minum obat sebelum bertemu denganku.”balas Chaerin.
“ada apa kau kesini, Jiyong?”Tanya Chaerinku dengan wajah penasarannya.
“melihat istriku.”jawabku santai dan itu membuat sam tertawa dan Chaerin mengeleng-gelengkan kepalanya.
“dia tidak tertolong lagi. Oppa, sepertinya aku tidak ada banyak waktu jadi bisa bicara disini saja?”
“sebenarnya aku ingin mengobrol denganmu tentang istriku, unniemu itu sedang hamil muda. Aku dibuat kerepotan karenanya. kau bisa kan bertanya dengan teman-teman doktermu tentang hamil muda?.”kata sam membuatku senang.
“wah benarkah? Selamat oppa! Tapi, aku kasihan dengan unnie.”
“wae?”kata sam binggung.
“tiga anak terlalu banyak, oppa.”jawab Chaerin dengan memperlihatkan wajah kesalnya tapi, itu terlihat lucu dimataku membuatku dan sam tertawa.
“oh, baiklah.”jawab Sam.
“bawa juga istrimu, oppa.”
“baiklah. Lain kali aku akan membawa istriku.”
“ok!”
“bye”
“bye sam. Sampai jumpa lagi! Lain kali bawa anakmu juga.”kataku dan sam mengganguk pelan.
“hey, boy! Kau ingin diluar terus? Masuklah. Appa senang melihatmu datang.”kata Chaerinku sambil tersenyum lembut.
“Chaerin.”
“hem..”katanya sambil menoleh padaku. Aku mengulurkan tanganku padanya. Dia tersenyum dan maraih tanganku. Lalu, kami berjalan dengan bergandengan.
“kau memang lebih cocok menjadi adik laki-lakiku.”
“kau memang lebih cocok menjadi istriku.”
“minumlah obatmu, Kwon Jiyong.”
“aku serius.”
“aku juga serius”kata Chaerin sambil menatap mataku.
“aku sudah melihat appa tadi pagi. Aku hanya ingin bicara denganmu, sebentar saja.”balasku.
“baiklah. Aku tidak punya banyak waktu. Tapi, kita harus masuk dulu.”
Chaerin membawaku ke dalam suatu ruangan, mungkin ini tempat rapat.
“ada apa?”kata Chaerin langsung setelah dia menutup pintu dan melepaskan tanganku.
“kau pasti mengerti maksudku jadi aku tidak ingin berbasa-basi lagi. Aku ingin kita menikah tapi, melihat sikapmu akan lebih baik kita berpacaran terlebih dahulu.”kataku langsung sambil menatap Chaerin. Tidak ada ekpresi panik atau kalut yang dia perlihatkan. Chaerin bahkan tersenyum lembut.
“Disaat kau belajar jalan aku sudah lomba marathon. Kau belajar bicara aku sudah pidato dengan bahasa Jepang. Tidak mungkin aku menjadi kekasihmu apalagi untuk menikah denganmu.”jawab Chaerin tersenyum dan ini menyakitkan untukku.
“ Kau bohong. Ahjusi tidak mungkin mengizinkanmu marathon. Jadi, kau menjadi kekasihku itu mungkin terjadi. Aku akan sudah mencintaimu bertahun-tahun. Kau tahu itu.
“Jiyong, sadarlah! Aku tidak mau menikah. Namja seumuranku selalu mencari wanita seumuran denganmu. Tidak mungkin kau yang masih muda malah memilihku. Kau jangan bicara cinta denganku karena tidak umurku lagi bermain cinta.”
“Karena itu kita menikah saja.”
“Aku. Tidak. Mau menikah. Aku akan hidup sendirian seumur hidup.”
“Kenapa kau seperti ini? Adakah sesuatu yang membuatmu seerti ini?”
“Aku tidak diingin jatuh cinta.”
“kenapa? Kau pasti ada alasankan. Siapa lelaki brengsek yang melukaimu hingga seperti ini?”
“Jangan kau salahkan siapa-siapa! Ini karena aku tidak ingin sakit hati.”jawab Chaerin dengan penekanan.
“aku sebisa mungkin tidak akan menyakitimu. Aku mencintaimu.”balasku selembut mungkin dan memeluk Chaerin sambil mengelus rambutnya. Chaerin tidak menolakku.
“sayangnya, cinta itu pasti memberikan luka. Aku tidak ingin mencoba luka itu, Jiyong. Aku mohon padamu jangan memaksaku karena aku bisa saja menjadi dingin padamu.”
Aku tidak ingin dia menjauh dariku. Aku akan mendekatinya perlahan-lahan.
“sepertinya pembicaraan ini sudah berakhir. Baiklah, aku tidak akan membahas ini lagi. Tapi, jangan hindari aku. Aku mohon.”kataku. Aku merasakan anggukan pelan Chaerin saat dipelukanku. Aku melepaskannya dari pelukanku.
“aku pergi, Chaerin.”kataku dengan rasa sakitku. Sudah berkali-kali dia menolakku tapi, ini benar-benar menyakitiku. Yah, cinta tidak bisa dijauhkan dari rasa sakit. Bukan berarti aku akan menyerah. Aku akan melangkah perlahan-lahan agar dia tidak ditinggalkanku. Ini sebuah pilihan yang bagus ataukah akan menjadi boomerang untukku aku juga tidak tahu. Yang aku tahu, aku hanya punya ini saja sebagai pilihanku dan sayangnya ‘saja’ itu juga tidak mudah aku jalani.
TBC

Tidak ada komentar:
Posting Komentar