IF YOU part 2
Author: Kim Daisy
Cast: SkyDragon, Geun Young (Li Kwon)
Genre: hurt, Family
Jiyong kembali ke rumah keluarga Kwon, wajahnya memerah karena amarah.
“bisa-bisanya kalian menyembunyikan keberadaan anakku!”teriak Jiyong saat masuk ke rumahnya. Jiyong membuka pintu dengan kasar sehingga pintu seakan terlempar. Omma Jiyong buru-buru berlari ke arah Jiyong karena mendengar pintu terbuka dengan kerasnya.
“ada apa?”tanya ommanya kaget.
“omma tahu aku punya anak. Kenapa merahasiakannya dariku?!!”teriaknya. ommanya terlihat gugup seketika.
“anak siapa Ji? Anakmu yang mana?”kata ommanya masih berusaha menutupinya.
“aku sudah tahun bahwa anakku tinggal bersama Chaerin. aku punya anak bersama Chaerin tapi, belasan tahun ini kalian semua menutupinya dariku.”kata Jiyong dengan berteriak tapi, terdengar lirih karena Jiyong menangis. Dia di tipu habis-habisan. Dia merasa bodoh. Orang bodoh yang tidak tahu tentang anaknya sendiri. Orang bodoh yang tersiksa karena diri sendiri. Orang bodoh yang bisa sombong karena telah ditipu belasan tahun oleh keluarganya, keluarganya sendiri.
“itu.. itu.. itu demi kebaikanmu Ji. Chaerin tidak pantas untukmu. Dia muncul kembali karena hartamu. Ya, wanita itu memang licik.”kata omma Jiyong gugup tapi, masih bisa berbohong. Hanya kebohongan yang bisa menutupi kebohongan saat ini.
“aku orang bodoh, omma. Aku tidak tahu aku memiliki anak selama ini.”tangis Jiyong di tengah rasa bersalahnya.
“kau tidak bodoh Ji. Kau cerdas karena sudah meninggalkannya.”
“Omma, menipuku! Omma,bagaimana bisa seorang ibu memisahkan anak dari ayahnya?! Omma memisahkan kami. Aku kecewa dengan omma. Aku malu menjadi salah satu keluarga ini.”kata Jiyong yang masih menangis.
----FLASH BACK----
Aku melihat gadis cantik sedang menarik. Gadis itu hanya penari yang mengiri seorang penyanyi sedang bernyanyi agar ulang tahun perusahaanku semakin meriah. Entah magnet apa yang membuatku terfokus dengan gadis itu di bandingkan penyanyinya.
Setelah penampilan selesai dengan tergesah-gesah aku mengejar para penari ke ruangan yang sudah di siapkan.
“tunggu!”teriakku saat melihatnya hampir masuk ke ruangan untuk mengubah penampilannya. Tentu saja teriakkanku membuat semua menoleh padaku. Karena orang pada melihatku dan diam saja maka dengan cepat aku berjalan dan berdiri di hadapannya.
“Jiyong.”ucapku lantang.
“bukan. Kau salah orang.”ucapnya polos membuat aku tertawa kecil di tengah ke gugupanku. Ini pertama kalinya aku mengejar dan tertarik pada wanita.
“tidak. Kenalkan, namaku Jiyong.”ucapku sambil mengulurkan tanganku kali ini. Dia tersenyum manis. Membuatku terdiam seakan semua waktu berhenti. Begitu mempesona.
“Chaerin, Lee Chaerin.”jawabnya dengan senyuman manis. Gila, ya aku bisa gila.
--Author pov----
Semenjak pertemuan perkenalan itu. Jiyong dan Chaerin yang merupakan seorang pelajar di sering berangkat dan pulang bersama walau sekolah mereka berbeda. Chaerin hanya mengetahui Jiyong anak dari keluarga kaya, karena hal itu juga Chaerin tidak ingin berharap. Setiap kebaikan dan perhatian Jiyong hanya di anggapnya karena Jiyong memang baik pada semua orang. Chaerin yang merupakan anak yatim-piatu tidak ingin terlalu banyak berharap, walau saja sulit menolak pesona seorang Kwon Jiyong.
“kau akan kuliah dimana Chae?”tanya Jiyong penasaran lalu dia meminum minumannya yang di pesannya tadi. Seperti biasa Chaerin tidak akan bercerita jika tidak di tanya. Chaerin begitu tertutup walau sudah lama mereka saling mengenal. Seperti biasa mereka mampir sebentar di sebuah Cafe dekat sekolah Chaerin untuk mengisi perut, alasan Jiyong yang sebenarnya ingin lebih lama dengan Chaerin.
“aku tidak akan kuliah tahun ini, Ji. Aku akan berkerja dulu. Aku harus mengumpulkan uang. Kau harus kuliah yang rajin ya...”kata Chaerin santai.
“Chae..”kata Jiyong menatap Chaerin lekat membuat Chaerin salah tingkah.
“hmm”jawab Chaerin.
“kita. Sekolah kita berbeda. Aku ingin masuk sekolah yang sama denganmu, setidaknya nanti kita kuliah di tempat yang sama.”ucap Jiyong.
“jika kau akan menunda kuliahmu, keluargamu pasti tidak setuju. Jangan karena aku kau menundanya, Ji.”kata Chaerin membujuk Jiyong.
“karena itu aku akan mengajukan diri untuk wajib militer dulu, baru aku akan kuliah bersamamu.”
“kau yakin?”tanya Chaerin dengan ragu. Karena Jiyong yang di kenalnya bukan pria mandiri. Jiyong dari keluarga kaya walau tidak tahu sekaya apa keluarga Jiyong tapi, Chaerin mengenal Jiyong sebagai pria yang manja yang belum dewasa.
“aku yakin. Karena itu aku ingin menikah denganmu terlebih dulu. Aku takut kau pergi saat aku wamil.”kata Jiyong dengan yakin dan menggegam tangan Chaerin yang di atas meja, Jiyong mencoba meyakinkan Chaerin dengan keseriusan dan ketulusannya. Chaerin terdiam. Semua begitu mendadak.
“kita bahkan tidak ada hubungan lebih dari teman, Ji?!”tolak Chaerin dengan halus.
“kita pulang dan pergi bersama, kita juga sering menghabiskan waktu bersama. Kita sepasang kekasih, Chaerin. Aku mencintaimu, kau tahu itu.”
“kau tidak pernah mengatakan hal itu sebelumnya.”
“baiklah! Aku mencintaimu, Chaerin. Menikahlah denganku!”kata Jiyong lantang dan membuat Chaerin terdiam, semua pengunjung memperhatikan mereka.
Sebuah lamaran yang lebih terdengar seperti perintah memang sulit di tolak oleh Chaerin yang bukanlah tipe orang yang keras, hatinya terlalu lembut atau dia yang terlalu bodoh tidak bisa menolak permintaan Jiyong?
Tidak lama dari lamaran tersebut Chaerin di bawa ke keluarga Jiyong untuk di kenalkan, semua berjalan lancar. Hingga saat Jiyong permisih untuk pergi sebentar Chaerin langsung merasa tertekan dengan tatapan keluarga Jiyong.
“tinggalkan Jiyong! Aku akan memberikanmu uang.”kalimat itu begitu saja keluar dari wajah keibuan milik ibu Jiyong.
“Jiyong adalah penerus usaha KING hotel. Tidak mungkin dia menikah dengan kau yang tidak jelas asal-usulnya.”kata ibu Jiyong lagi dan membuat Chaerin terdiam dan menunduk. Dia tidak tahu bahwa KING hotel yang menjamur di asia adalah milik keluarga Jiyong, mereka tidak pernah membahas ini sebelumnya.
“omma.. mana suratnya? Aku jadikan pergi wamil?”teriak Jiyong semakin mendekat membuat ibu Jiyong kembali memasang wajah ramahnya.
“ada di atas meja depan TV.”balas ommanya.
“yes!”teriak Jiyong.
“aku bisa wamil tahun ini. Chae,kita bisa menikah lebih cepat.”teriak Jiyong dengan nada bahagia sedangkan ibunya langsung terkejut.
Seperti kata Jiyong, penikahan itu segera dilakukan bahkan sebelum kelulusan mereka. Hanya saja tidak di lakukan besar-besaran. Jiyong bukan dari keluarga yang biasa saja, pernikahannya bisa saja menurunkan masukkan untuk Hotelnya bahkan mungkin bisa bangkrut karena gossip murahan karena itu pernikahan di lakukan sembunyi-sembunyi. Keluarga Jiyong jelas sekali tidak menyukai Chaerin dan Chaerin pun tahu hal itu hanya saja di keluarganya pun permintaan Jiyong tidak bisa di tolak bahkan di tunda sedikit pun. Jiyong di besarkan layaknya pangeran, rumah bagaikan istana, perhatian berlimpah dan dimanjakan harta. Jiyong masihlah sangat muda, masih belum bisa berfikir secara dewasa tetapi, dia begitu yakin untuk menikah dengan Chaerin.
Walau begitu Jiyong memperlakukan Chaerin bagaikan Ratu dan itu yang membuat keluarganya semakin tidak menyukai Chaerin. Chaerin yang awalnya tidak yakin dengan pernikahan ini perlahan karena sikap Jiyong, Chaerin merasa bersyukur dan perlahan mencintai Jiyong, membiarkan dirinya bergantung pada Jiyong. Dan Jiyong memberikan warna baru dalam hidupnya.
Hingga akhirnya Jiyong harus ikut wamil, istana itu seketika berubah menjadi lubang tikus menurut Chaerin. Rumah itu membuat Chaerin tertekan. Kakak Jiyong bahkan mengambil semua alat yang bisa di gunakan untuk berkomunikasi dengan Jiyong hingga Chaerin kesulitan untuk menghubungi Jiyong. Tidak, Chaerin tidak di perintah untuk mengurusi rumah seperti putri salju atau cinderela tapi, di pisahkan dari Jiyong dan di perlakukan seolah-olah tidak ada membuat Chaerin tertekan. Sering kali Chaerin menangis karena merindukan Jiyong, senyuman Jiyong yang mampu menghangatkannya karena dunia yang memperlakukannya dengan dingin selama ini.
Tanpa di ketahui Chaerin, kakak Jiyong mendatangi Jiyong ke tempat pelatihan wajib militer.
“dia hanya menyukai uangmu saja. Selama kau disini bahkan dia tidak pernah menemuimu. Dia bahkan tidak mengabairimu.”kata kakak Jiyong dengan emosinya.
“dia sering pergi dengan pria lain dan pulang larut malam. Kau memang di sini tapikan dia seorang istri, tidak seharusnya dia bersikap seperti itu.”kata kakaknya lagi.
“mungkin saja, dia memang ada jadwal, nuna. Dan karena malam sehingga dia di antar pria itu.”kata Jiyong sedikit membela Chaerin.
“lihat saja ini.”kata nunanya sambil menunjukan lembar foto saat Chaerin pulang malam karena latihan dan memang ada pertunjukan hingga dia harus pulang malam tapi, tidak larut malam seperti keterangan nunanya.
“dia berselingkuh! Sudah, ceraikan saja dia. Dia Cuma memanfaatkanmu.”kata nunanya dan Jiyong hanya mengipasi dirinya dengan topinya tentaranya. Pria itu terlihat kelelahan karena wajib militer yang dilakukannya selama lebih dari sebulan ini. Tapi, ini nunanya berhasil membuatnya terbakar.
Setelah hari itu, Chaerin di ajak bertemu dengan Jiyong bersama keluarganya. Chaerin tentu saja senang tapi, perasaannya kacau seakan ada sesuatu yang buruk akan terjadi. Mereka makan siang bersama hingga akhirnya Jiyong mengajak Chaerin untuk bicara berdua.
“Chae” “oppa”kata mereka berbarengan. Chaerin memang memanggil Jiyong dengan ‘oppa’ semenjak menikah.
“kau saja dulu!”kata Jiyong dengan lemah. Dia ingin sekali memeluk wanita di hadapannya tapi, rasa cemburu itu membakar hatinya sehingga egonya meninggi.
“oppa saja!”kata Chaerin tersenyum lembut. Dalam kesempatan kali ini dia ingin mengatakan bahwa dia sedang hamil dua bulan, dia ingin Jiyong yang mengetahui pertama kali dengan kehamilannya sehingga saat melihat Jiyong perasaan tidak enaknya hilang seketika. Dia begitu bahagia saat melihat Jiyong walau Jiyong terlihat lebih kurus dari pada biasanya.
“kita bercerai saja.”kata Jiyong yang membuat hati Chaerin seakan di bom.
“mwo? Wae oppa?”tanya wanita muda dengan lembut walau sebenarnya dia ingin menangis. Dia ingat bahwa dia tidak boleh sedih bahkan memiliki beban pikiran agar kesehatannya tidak terganggu.
“ karena kau tidak mencintaiku.”jawab pria itu santai tapi, dia tidak melihat wanita cantik yang sedang di ajaknya bicara.
“aku mencintaimu oppa.”jawab wanita itu dengan lantang. Dia tidak ingin pria itu meninggalkannya dengan alasan yang tidak jelas kebenarannya.
“kau salah. Kau hanya menyukai uangku!”protes pria itu dengan suara tinggi.
“tidak, oppa! Kenapa kau menilaiku seperti itu?”kata wanita itu mencoba menjelaskan kesalah pahaman ini.
“karena itu kenyataannya.”kata pria itu seakan tidak peduli dengan air mata sang wanita yang mulai menetes tanpa di sadari sang wanita.
“tidak!”kata wanita itu lirih.
“maaf, aku harus kembali. Tolong tanda tangani surat cerai ini. Aku pergi.”kata pria itu dingin dan pergi meninggalkan wanita itu sendirian yang sedang menangis.
Hancur sudah Lee Chaerin. Jiyong satu-satunya tempat dia bergantung kini melepaskannya hingga dia terhempas di jurang kesedihan. Chaerin menangis sejadi-jadinya dalam diam, dia tidak ingin menjadi pusat perhatian. Saat dia sudah tenang, dia mencari keluarga Kwon tapi, tidak ada satu pun yang terlihat sehingga Chaerin memutuskan pulang sendiri dengan berjalan kaki karena halte bis cukup jauh dari sini dan ponselnya masih di tahan. Dan saat keluar dari gerbang besar pelatihan tersebut air matanyanya kembali turun.
Sesampai di rumah, Chaerin di paksa untuk menadatangani surat perceraian itu. mertua dan nuna Jiyong tidak peduli dengan tangisnya. Harga diri dan pandangan tentanng keluarganya begitu mereka agung kan.
“aku akan memberikanmu uang, tanda tangan saja!”pinta ayah mertuanya.
“aku tidak mau! Kalian tidak bisa memaksaku untuk setuju dengan perceraian ini!”kata Chaerin dengan lantang.
“kenapa? Kau mencintai adekku? Berkacalah. Kau tidak sepadan dengan keluarga kami. Kau tidak di harapkan di keluarga ini.”kali ini nuna Jiyong yang bacara dengan kejamnya.
“karena aku sedang hamil. Aku hamil cucu kalian, keponakanmu onnie.”jawab Chaerin menangis tapi, suaranya terdengar menatang.
“gugurkan!”teriak ayah mertuanya.
“tidak. Tidak akan.”kata Chaerin mengelengkan kepalanya beberapa kali.
“kau ingin tanda tangan surat ini atau kami akan membunuh anak itu.”kata ayah mertuanya dengan dingin.
“ini cucumu, kau tidak akan berani.”kata Chaerin menangtang walau dia menangis. Seketika itu juga Chaerin di tampar dan di dorong dengan keras.
“panggilkan dokter, kita harus menggugurkan anak itu.”teriak ayah mertuanya sambil memegang ke dua tangan Chaerin dengan kuat. Chaerin yang lemas tentu saja tidak bisa bergerak.
Chaerin di kurung di kamarnya. Seorang dokter yang tidak di kenal masuk membuat Chaerin panik.
“baiklah. Aku akan menandatanginya.”kata Chaerin pasrah.
Setelah itu Chaerin di asingkan tapi, tetap di bawah pengawasan keluarga Kwon untuk memastikan Chaerin baik-baik saja dan jauh dari Jiyong. Menikah dengan Jiyong bukanlah penyesalan untuk Chaerin, dia sama sekali tidak membenci Jiyong. Dia hanya berfikir semua adalah salah paham. Dia juga tidak membenci keluarga Kwon karena walaupun memisahkan dia dan anaknya dari Jiyong keluarga itu kerap mengunjungi dan memberikan uang untuk membiayaian semua keperluan Chaerin dan anaknya.
Setelah Chaerin melahirkan, ibu mertuanya mendatangi Chaerin. Memberikan akta anak yang di lahirkan dan asuransi untuk anaknya. Anaknya menggunakan marga Kwon atas kemauan Chaerin sendiri dan tertulis bahwa bayi bernama Kwon Geun Young itu anak dari Kwon Jiyong. Walau nanti Geun tidak melihat ayahnya setidaknya Geun tahu nama ayahnya, pikir Chaerin. Ibu mertuanya terus menatap bayi Geun dengan mendamba hanya saja egonya terlalu tinggi untuk menyentuh bayi mengemaskan itu sehingga dia tetap saja menolak untukk mengendong bayi Geun walau sudah di tawarkan Chaerin.
Ada rasa bersalah menghantuinya karena memisahkan anaknya dari wanita sebaik Chaerin tapi, disisi lain dia tidak ingin Jiyong bersama Chaerin.
“ini ada asuransi dan beasiswa untuk Geun Young hingga kuliah nanti. Aku tidak ingin dia tidak bersekolah, bagaimanapun ada darah anakku di tubuhnya. Uang bulanan akan terus kami berikan tapi, ini terkahirnya aku kesini.”itu adalah kalimat terlahir ibu mertuanya saat menemui Chaerin. ya, Chaerin tidak ingin munafik, dia hanya bisa bergantung dengan uang yang diberikan keluarga Kwon karena saat ini pun dia belum bisa berkerja. Chaerin sudah lama keluar dari dunia tari semenjak menandatangani surat itu. Harga diri? Chaerin sudah membuang harga dirinya agar anaknya hidup layak.
“saat menikah aku di bilang hanya jadi parasit. Tapi, setelah bercerai mereka malah memberikan darah padaku dengan suka rela.”gumam Chaerin tersenyum dengan sedih. Semua ini dia lakukan untuk anaknya, satu-satunya yang dia miliki. Cukup dia yang merasakan sulitnya hidup tanpa pegangan tapi, dia juga tidak ingin anaknya dimanja dengan uang.
--------FLASH BACK END---------
Jiyong menyandarkan kepalanya di meja kerjanya. Fikirannya hanya fokus pada Chaerin dan anaknya. Lalu, dia menaikan lagi kepalanya, membuka ponselnya dan mencari video anaknya di media lalu setelah video itu habis dia kembali lemas dan menyandarkan kepalanya kembali di atas meja hingga berulang kali. Dia merasa bersalah dan frustasi. Kepalanya tidak bisa berfikir yang lain selain ingin melihat anaknya, walau begitu dia tetap saja tidak menemukan jalan agar mereka bisa bertemu.
Tapi, suara ketukan pintu membuatnya malas untuk mengangkat wajahnya dan akhirnya memberikan izin untuk masuk.
“Tuan Kwon, seseorang bernama Geun Young meminta anda untuk menemuinya..”
“apa? Geun Young?”kata Jiyong bersemangat sehingga memutuskan perkataan sekertarisnya seorang wanita yang memiliki wajah datar.
“ya, tuan.”
“batalkan semua janjiku dan atur agar aku bisa bertemu dengannya secepatnya.”perintah Jiyong penuh semangat.
“baik tuan.”kata wanita itu lalu permisih untuk pergi.
Kwon Jiyong dengan senyuman bahagia datang ke sebuah kantor menejemen artis untuk menemui Geun Young, agensi yang sama tempat Chaerin dulu berkerja sebagai penari. Tidak sulit untuk mencari keberadaan Geun Young karena semua telah diatur. Tapi, walau sedikit aneh karena mereka bertemu di ruang milik CEO agensi, Jiyong tidak ingin berfikir terlalu banyak karena bisa menemui Geun Young.
Kini Jiyong sudah berhadapan dengan seorang remaja, mereka hanya berdua saja di ruangan ini.
“ommamu tahu tentang pertemuan ini?”tanya Jiyong pada akhirnya setelah lama mereka hanya diam saling menatap. Jiyong ingin sekali memeluk remaja yang bernama Geun Young ini tapi, dia takut membuat Geun tidak nyaman.
“tentu saja. Tidak seperti denganmu ‘appa’ kami saling berbagi apapun.”jawab Geun santai tapi, ada kilatan emosi di matanya. Kata appa begitu sulit dia ucapkan dan asing di dengarnya. Tapi, Jiyong senang sekali mendengar Geun memanggilnya dengan ‘appa’ walau dia sangat sadar bahwa Geun mengeluarkan kalimat untuk menjatuhkannya.
“maafkan, aku! Kami menikah dengan usia sangat muda. Aku belum cukup dewasa saat itu.”kata Jiyong dengan menyesal.
“aku tahu. Omma juga bercerita seperti itu. Dia sama sekali tidak menyalahkan siapapun dan tidak membenci siapapun. Dia terlalu baik untuk berada di sisi orang yang sepertimu, appa.”kata Geun tenang dan lagi-lagi kalimat Geun mencambuk Jiyong. Seorang remaja berhasil mencambuk Jiyong yang sangat di puja dan di perlakukan bagaikan Raja. Tidak ada yang bernah berhasil menyakitinya tapi, hanya satu kalimat Geun yang seorang remaja berhasil mencambuknya dengan keras, sangat keras. Dan Geun adalah anaknya sehingga itu membuat Jiyong merasa lebih sakit.
“jika seperti itu apakah kau membenciku?”kata Jiyong takut. Dia takut di benci anaknya walau dia sadar dia pantas di benci oleh anaknya.
“seperti ibuku yang tidak menyalahkan keadaan, aku pun tidak bisa bilang menyesal menjadi anakmu.”ucap Geun tenang bahkan dia tersenyum dan lagi-lagi Jiyong merasa dicambuk dengan kalimat ambigu Geun.
“maafkan aku. Aku senang bisa bertemu denganmu.”kata Jiyong tulus. Jiyong benar-benar menyesal.
“omma tidak pernah tidak pernah menyalahkanmu dan melarangku menyalahanmu, appa.”
“tapi, kenapa dia terlihat membenciku dan tidak mengizinkan aku bertemu denganmu?”
“kau meyebabkannya terluka. Omma masih belum bisa ‘baik-baik’ saja saat bertemu denganmu. omma hanya belum siap melihat pisau yang pernah menggoresnya, appa.”
Kalimat Geun lagi-lagi menyakiti Jiyong. Jiyong merasakan di cambuk sangat keras berkali-kali setiap mendengar kata-kata Geun, anaknya yang masih remaja tapi berhasil membuatnya terpukul, sangat menyesal dan merasa pantas di benci. Geun seakan sedang menghakiminya dengan wajah polosnya. Rasanya sakit dan sesak. Bahkan kalimat Geun berhasil membuat Jiyong menagis ya.. Jiyong menangis sedih, pensesalan dan membuatnya membenci dirinya sendiri.
“apa yang harus aku lakukan agar aku bisa merasakan menjadi seorang appa? Aku benar-benar sangat menyesal.”kata Jiyong dengan air mata yang jatuh sedangkan Geun juga menangis. Dia tidak bisa berusaha menjadi lebih kuat. Dia juga manusia biasa.
TBC
Hua... tolong jangan terlalu benci bang Jiyong. Ini hanya FF hiks.. hiks..
well, lebih suka menggunakan ‘omma’, ‘nuna’, ‘apa’ atau ‘ibu’, ‘kakak’ dan ‘ayah’ ? thks komentar dan sudah ngikutin IF YOU. see u next time!
Author: Kim Daisy
Cast: SkyDragon, Geun Young (Li Kwon)
Genre: hurt, Family
Jiyong kembali ke rumah keluarga Kwon, wajahnya memerah karena amarah.
“bisa-bisanya kalian menyembunyikan keberadaan anakku!”teriak Jiyong saat masuk ke rumahnya. Jiyong membuka pintu dengan kasar sehingga pintu seakan terlempar. Omma Jiyong buru-buru berlari ke arah Jiyong karena mendengar pintu terbuka dengan kerasnya.
“ada apa?”tanya ommanya kaget.
“omma tahu aku punya anak. Kenapa merahasiakannya dariku?!!”teriaknya. ommanya terlihat gugup seketika.
“anak siapa Ji? Anakmu yang mana?”kata ommanya masih berusaha menutupinya.
“aku sudah tahun bahwa anakku tinggal bersama Chaerin. aku punya anak bersama Chaerin tapi, belasan tahun ini kalian semua menutupinya dariku.”kata Jiyong dengan berteriak tapi, terdengar lirih karena Jiyong menangis. Dia di tipu habis-habisan. Dia merasa bodoh. Orang bodoh yang tidak tahu tentang anaknya sendiri. Orang bodoh yang tersiksa karena diri sendiri. Orang bodoh yang bisa sombong karena telah ditipu belasan tahun oleh keluarganya, keluarganya sendiri.
“itu.. itu.. itu demi kebaikanmu Ji. Chaerin tidak pantas untukmu. Dia muncul kembali karena hartamu. Ya, wanita itu memang licik.”kata omma Jiyong gugup tapi, masih bisa berbohong. Hanya kebohongan yang bisa menutupi kebohongan saat ini.
“aku orang bodoh, omma. Aku tidak tahu aku memiliki anak selama ini.”tangis Jiyong di tengah rasa bersalahnya.
“kau tidak bodoh Ji. Kau cerdas karena sudah meninggalkannya.”
“Omma, menipuku! Omma,bagaimana bisa seorang ibu memisahkan anak dari ayahnya?! Omma memisahkan kami. Aku kecewa dengan omma. Aku malu menjadi salah satu keluarga ini.”kata Jiyong yang masih menangis.
----FLASH BACK----
Aku melihat gadis cantik sedang menarik. Gadis itu hanya penari yang mengiri seorang penyanyi sedang bernyanyi agar ulang tahun perusahaanku semakin meriah. Entah magnet apa yang membuatku terfokus dengan gadis itu di bandingkan penyanyinya.
Setelah penampilan selesai dengan tergesah-gesah aku mengejar para penari ke ruangan yang sudah di siapkan.
“tunggu!”teriakku saat melihatnya hampir masuk ke ruangan untuk mengubah penampilannya. Tentu saja teriakkanku membuat semua menoleh padaku. Karena orang pada melihatku dan diam saja maka dengan cepat aku berjalan dan berdiri di hadapannya.
“Jiyong.”ucapku lantang.
“bukan. Kau salah orang.”ucapnya polos membuat aku tertawa kecil di tengah ke gugupanku. Ini pertama kalinya aku mengejar dan tertarik pada wanita.
“tidak. Kenalkan, namaku Jiyong.”ucapku sambil mengulurkan tanganku kali ini. Dia tersenyum manis. Membuatku terdiam seakan semua waktu berhenti. Begitu mempesona.
“Chaerin, Lee Chaerin.”jawabnya dengan senyuman manis. Gila, ya aku bisa gila.
--Author pov----
Semenjak pertemuan perkenalan itu. Jiyong dan Chaerin yang merupakan seorang pelajar di sering berangkat dan pulang bersama walau sekolah mereka berbeda. Chaerin hanya mengetahui Jiyong anak dari keluarga kaya, karena hal itu juga Chaerin tidak ingin berharap. Setiap kebaikan dan perhatian Jiyong hanya di anggapnya karena Jiyong memang baik pada semua orang. Chaerin yang merupakan anak yatim-piatu tidak ingin terlalu banyak berharap, walau saja sulit menolak pesona seorang Kwon Jiyong.
“kau akan kuliah dimana Chae?”tanya Jiyong penasaran lalu dia meminum minumannya yang di pesannya tadi. Seperti biasa Chaerin tidak akan bercerita jika tidak di tanya. Chaerin begitu tertutup walau sudah lama mereka saling mengenal. Seperti biasa mereka mampir sebentar di sebuah Cafe dekat sekolah Chaerin untuk mengisi perut, alasan Jiyong yang sebenarnya ingin lebih lama dengan Chaerin.
“aku tidak akan kuliah tahun ini, Ji. Aku akan berkerja dulu. Aku harus mengumpulkan uang. Kau harus kuliah yang rajin ya...”kata Chaerin santai.
“Chae..”kata Jiyong menatap Chaerin lekat membuat Chaerin salah tingkah.
“hmm”jawab Chaerin.
“kita. Sekolah kita berbeda. Aku ingin masuk sekolah yang sama denganmu, setidaknya nanti kita kuliah di tempat yang sama.”ucap Jiyong.
“jika kau akan menunda kuliahmu, keluargamu pasti tidak setuju. Jangan karena aku kau menundanya, Ji.”kata Chaerin membujuk Jiyong.
“karena itu aku akan mengajukan diri untuk wajib militer dulu, baru aku akan kuliah bersamamu.”
“kau yakin?”tanya Chaerin dengan ragu. Karena Jiyong yang di kenalnya bukan pria mandiri. Jiyong dari keluarga kaya walau tidak tahu sekaya apa keluarga Jiyong tapi, Chaerin mengenal Jiyong sebagai pria yang manja yang belum dewasa.
“aku yakin. Karena itu aku ingin menikah denganmu terlebih dulu. Aku takut kau pergi saat aku wamil.”kata Jiyong dengan yakin dan menggegam tangan Chaerin yang di atas meja, Jiyong mencoba meyakinkan Chaerin dengan keseriusan dan ketulusannya. Chaerin terdiam. Semua begitu mendadak.
“kita bahkan tidak ada hubungan lebih dari teman, Ji?!”tolak Chaerin dengan halus.
“kita pulang dan pergi bersama, kita juga sering menghabiskan waktu bersama. Kita sepasang kekasih, Chaerin. Aku mencintaimu, kau tahu itu.”
“kau tidak pernah mengatakan hal itu sebelumnya.”
“baiklah! Aku mencintaimu, Chaerin. Menikahlah denganku!”kata Jiyong lantang dan membuat Chaerin terdiam, semua pengunjung memperhatikan mereka.
Sebuah lamaran yang lebih terdengar seperti perintah memang sulit di tolak oleh Chaerin yang bukanlah tipe orang yang keras, hatinya terlalu lembut atau dia yang terlalu bodoh tidak bisa menolak permintaan Jiyong?
Tidak lama dari lamaran tersebut Chaerin di bawa ke keluarga Jiyong untuk di kenalkan, semua berjalan lancar. Hingga saat Jiyong permisih untuk pergi sebentar Chaerin langsung merasa tertekan dengan tatapan keluarga Jiyong.
“tinggalkan Jiyong! Aku akan memberikanmu uang.”kalimat itu begitu saja keluar dari wajah keibuan milik ibu Jiyong.
“Jiyong adalah penerus usaha KING hotel. Tidak mungkin dia menikah dengan kau yang tidak jelas asal-usulnya.”kata ibu Jiyong lagi dan membuat Chaerin terdiam dan menunduk. Dia tidak tahu bahwa KING hotel yang menjamur di asia adalah milik keluarga Jiyong, mereka tidak pernah membahas ini sebelumnya.
“omma.. mana suratnya? Aku jadikan pergi wamil?”teriak Jiyong semakin mendekat membuat ibu Jiyong kembali memasang wajah ramahnya.
“ada di atas meja depan TV.”balas ommanya.
“yes!”teriak Jiyong.
“aku bisa wamil tahun ini. Chae,kita bisa menikah lebih cepat.”teriak Jiyong dengan nada bahagia sedangkan ibunya langsung terkejut.
Seperti kata Jiyong, penikahan itu segera dilakukan bahkan sebelum kelulusan mereka. Hanya saja tidak di lakukan besar-besaran. Jiyong bukan dari keluarga yang biasa saja, pernikahannya bisa saja menurunkan masukkan untuk Hotelnya bahkan mungkin bisa bangkrut karena gossip murahan karena itu pernikahan di lakukan sembunyi-sembunyi. Keluarga Jiyong jelas sekali tidak menyukai Chaerin dan Chaerin pun tahu hal itu hanya saja di keluarganya pun permintaan Jiyong tidak bisa di tolak bahkan di tunda sedikit pun. Jiyong di besarkan layaknya pangeran, rumah bagaikan istana, perhatian berlimpah dan dimanjakan harta. Jiyong masihlah sangat muda, masih belum bisa berfikir secara dewasa tetapi, dia begitu yakin untuk menikah dengan Chaerin.
Walau begitu Jiyong memperlakukan Chaerin bagaikan Ratu dan itu yang membuat keluarganya semakin tidak menyukai Chaerin. Chaerin yang awalnya tidak yakin dengan pernikahan ini perlahan karena sikap Jiyong, Chaerin merasa bersyukur dan perlahan mencintai Jiyong, membiarkan dirinya bergantung pada Jiyong. Dan Jiyong memberikan warna baru dalam hidupnya.
Hingga akhirnya Jiyong harus ikut wamil, istana itu seketika berubah menjadi lubang tikus menurut Chaerin. Rumah itu membuat Chaerin tertekan. Kakak Jiyong bahkan mengambil semua alat yang bisa di gunakan untuk berkomunikasi dengan Jiyong hingga Chaerin kesulitan untuk menghubungi Jiyong. Tidak, Chaerin tidak di perintah untuk mengurusi rumah seperti putri salju atau cinderela tapi, di pisahkan dari Jiyong dan di perlakukan seolah-olah tidak ada membuat Chaerin tertekan. Sering kali Chaerin menangis karena merindukan Jiyong, senyuman Jiyong yang mampu menghangatkannya karena dunia yang memperlakukannya dengan dingin selama ini.
Tanpa di ketahui Chaerin, kakak Jiyong mendatangi Jiyong ke tempat pelatihan wajib militer.
“dia hanya menyukai uangmu saja. Selama kau disini bahkan dia tidak pernah menemuimu. Dia bahkan tidak mengabairimu.”kata kakak Jiyong dengan emosinya.
“dia sering pergi dengan pria lain dan pulang larut malam. Kau memang di sini tapikan dia seorang istri, tidak seharusnya dia bersikap seperti itu.”kata kakaknya lagi.
“mungkin saja, dia memang ada jadwal, nuna. Dan karena malam sehingga dia di antar pria itu.”kata Jiyong sedikit membela Chaerin.
“lihat saja ini.”kata nunanya sambil menunjukan lembar foto saat Chaerin pulang malam karena latihan dan memang ada pertunjukan hingga dia harus pulang malam tapi, tidak larut malam seperti keterangan nunanya.
“dia berselingkuh! Sudah, ceraikan saja dia. Dia Cuma memanfaatkanmu.”kata nunanya dan Jiyong hanya mengipasi dirinya dengan topinya tentaranya. Pria itu terlihat kelelahan karena wajib militer yang dilakukannya selama lebih dari sebulan ini. Tapi, ini nunanya berhasil membuatnya terbakar.
Setelah hari itu, Chaerin di ajak bertemu dengan Jiyong bersama keluarganya. Chaerin tentu saja senang tapi, perasaannya kacau seakan ada sesuatu yang buruk akan terjadi. Mereka makan siang bersama hingga akhirnya Jiyong mengajak Chaerin untuk bicara berdua.
“Chae” “oppa”kata mereka berbarengan. Chaerin memang memanggil Jiyong dengan ‘oppa’ semenjak menikah.
“kau saja dulu!”kata Jiyong dengan lemah. Dia ingin sekali memeluk wanita di hadapannya tapi, rasa cemburu itu membakar hatinya sehingga egonya meninggi.
“oppa saja!”kata Chaerin tersenyum lembut. Dalam kesempatan kali ini dia ingin mengatakan bahwa dia sedang hamil dua bulan, dia ingin Jiyong yang mengetahui pertama kali dengan kehamilannya sehingga saat melihat Jiyong perasaan tidak enaknya hilang seketika. Dia begitu bahagia saat melihat Jiyong walau Jiyong terlihat lebih kurus dari pada biasanya.
“kita bercerai saja.”kata Jiyong yang membuat hati Chaerin seakan di bom.
“mwo? Wae oppa?”tanya wanita muda dengan lembut walau sebenarnya dia ingin menangis. Dia ingat bahwa dia tidak boleh sedih bahkan memiliki beban pikiran agar kesehatannya tidak terganggu.
“ karena kau tidak mencintaiku.”jawab pria itu santai tapi, dia tidak melihat wanita cantik yang sedang di ajaknya bicara.
“aku mencintaimu oppa.”jawab wanita itu dengan lantang. Dia tidak ingin pria itu meninggalkannya dengan alasan yang tidak jelas kebenarannya.
“kau salah. Kau hanya menyukai uangku!”protes pria itu dengan suara tinggi.
“tidak, oppa! Kenapa kau menilaiku seperti itu?”kata wanita itu mencoba menjelaskan kesalah pahaman ini.
“karena itu kenyataannya.”kata pria itu seakan tidak peduli dengan air mata sang wanita yang mulai menetes tanpa di sadari sang wanita.
“tidak!”kata wanita itu lirih.
“maaf, aku harus kembali. Tolong tanda tangani surat cerai ini. Aku pergi.”kata pria itu dingin dan pergi meninggalkan wanita itu sendirian yang sedang menangis.
Hancur sudah Lee Chaerin. Jiyong satu-satunya tempat dia bergantung kini melepaskannya hingga dia terhempas di jurang kesedihan. Chaerin menangis sejadi-jadinya dalam diam, dia tidak ingin menjadi pusat perhatian. Saat dia sudah tenang, dia mencari keluarga Kwon tapi, tidak ada satu pun yang terlihat sehingga Chaerin memutuskan pulang sendiri dengan berjalan kaki karena halte bis cukup jauh dari sini dan ponselnya masih di tahan. Dan saat keluar dari gerbang besar pelatihan tersebut air matanyanya kembali turun.
Sesampai di rumah, Chaerin di paksa untuk menadatangani surat perceraian itu. mertua dan nuna Jiyong tidak peduli dengan tangisnya. Harga diri dan pandangan tentanng keluarganya begitu mereka agung kan.
“aku akan memberikanmu uang, tanda tangan saja!”pinta ayah mertuanya.
“aku tidak mau! Kalian tidak bisa memaksaku untuk setuju dengan perceraian ini!”kata Chaerin dengan lantang.
“kenapa? Kau mencintai adekku? Berkacalah. Kau tidak sepadan dengan keluarga kami. Kau tidak di harapkan di keluarga ini.”kali ini nuna Jiyong yang bacara dengan kejamnya.
“karena aku sedang hamil. Aku hamil cucu kalian, keponakanmu onnie.”jawab Chaerin menangis tapi, suaranya terdengar menatang.
“gugurkan!”teriak ayah mertuanya.
“tidak. Tidak akan.”kata Chaerin mengelengkan kepalanya beberapa kali.
“kau ingin tanda tangan surat ini atau kami akan membunuh anak itu.”kata ayah mertuanya dengan dingin.
“ini cucumu, kau tidak akan berani.”kata Chaerin menangtang walau dia menangis. Seketika itu juga Chaerin di tampar dan di dorong dengan keras.
“panggilkan dokter, kita harus menggugurkan anak itu.”teriak ayah mertuanya sambil memegang ke dua tangan Chaerin dengan kuat. Chaerin yang lemas tentu saja tidak bisa bergerak.
Chaerin di kurung di kamarnya. Seorang dokter yang tidak di kenal masuk membuat Chaerin panik.
“baiklah. Aku akan menandatanginya.”kata Chaerin pasrah.
Setelah itu Chaerin di asingkan tapi, tetap di bawah pengawasan keluarga Kwon untuk memastikan Chaerin baik-baik saja dan jauh dari Jiyong. Menikah dengan Jiyong bukanlah penyesalan untuk Chaerin, dia sama sekali tidak membenci Jiyong. Dia hanya berfikir semua adalah salah paham. Dia juga tidak membenci keluarga Kwon karena walaupun memisahkan dia dan anaknya dari Jiyong keluarga itu kerap mengunjungi dan memberikan uang untuk membiayaian semua keperluan Chaerin dan anaknya.
Setelah Chaerin melahirkan, ibu mertuanya mendatangi Chaerin. Memberikan akta anak yang di lahirkan dan asuransi untuk anaknya. Anaknya menggunakan marga Kwon atas kemauan Chaerin sendiri dan tertulis bahwa bayi bernama Kwon Geun Young itu anak dari Kwon Jiyong. Walau nanti Geun tidak melihat ayahnya setidaknya Geun tahu nama ayahnya, pikir Chaerin. Ibu mertuanya terus menatap bayi Geun dengan mendamba hanya saja egonya terlalu tinggi untuk menyentuh bayi mengemaskan itu sehingga dia tetap saja menolak untukk mengendong bayi Geun walau sudah di tawarkan Chaerin.
Ada rasa bersalah menghantuinya karena memisahkan anaknya dari wanita sebaik Chaerin tapi, disisi lain dia tidak ingin Jiyong bersama Chaerin.
“ini ada asuransi dan beasiswa untuk Geun Young hingga kuliah nanti. Aku tidak ingin dia tidak bersekolah, bagaimanapun ada darah anakku di tubuhnya. Uang bulanan akan terus kami berikan tapi, ini terkahirnya aku kesini.”itu adalah kalimat terlahir ibu mertuanya saat menemui Chaerin. ya, Chaerin tidak ingin munafik, dia hanya bisa bergantung dengan uang yang diberikan keluarga Kwon karena saat ini pun dia belum bisa berkerja. Chaerin sudah lama keluar dari dunia tari semenjak menandatangani surat itu. Harga diri? Chaerin sudah membuang harga dirinya agar anaknya hidup layak.
“saat menikah aku di bilang hanya jadi parasit. Tapi, setelah bercerai mereka malah memberikan darah padaku dengan suka rela.”gumam Chaerin tersenyum dengan sedih. Semua ini dia lakukan untuk anaknya, satu-satunya yang dia miliki. Cukup dia yang merasakan sulitnya hidup tanpa pegangan tapi, dia juga tidak ingin anaknya dimanja dengan uang.
--------FLASH BACK END---------
Jiyong menyandarkan kepalanya di meja kerjanya. Fikirannya hanya fokus pada Chaerin dan anaknya. Lalu, dia menaikan lagi kepalanya, membuka ponselnya dan mencari video anaknya di media lalu setelah video itu habis dia kembali lemas dan menyandarkan kepalanya kembali di atas meja hingga berulang kali. Dia merasa bersalah dan frustasi. Kepalanya tidak bisa berfikir yang lain selain ingin melihat anaknya, walau begitu dia tetap saja tidak menemukan jalan agar mereka bisa bertemu.
Tapi, suara ketukan pintu membuatnya malas untuk mengangkat wajahnya dan akhirnya memberikan izin untuk masuk.
“Tuan Kwon, seseorang bernama Geun Young meminta anda untuk menemuinya..”
“apa? Geun Young?”kata Jiyong bersemangat sehingga memutuskan perkataan sekertarisnya seorang wanita yang memiliki wajah datar.
“ya, tuan.”
“batalkan semua janjiku dan atur agar aku bisa bertemu dengannya secepatnya.”perintah Jiyong penuh semangat.
“baik tuan.”kata wanita itu lalu permisih untuk pergi.
Kwon Jiyong dengan senyuman bahagia datang ke sebuah kantor menejemen artis untuk menemui Geun Young, agensi yang sama tempat Chaerin dulu berkerja sebagai penari. Tidak sulit untuk mencari keberadaan Geun Young karena semua telah diatur. Tapi, walau sedikit aneh karena mereka bertemu di ruang milik CEO agensi, Jiyong tidak ingin berfikir terlalu banyak karena bisa menemui Geun Young.
Kini Jiyong sudah berhadapan dengan seorang remaja, mereka hanya berdua saja di ruangan ini.
“ommamu tahu tentang pertemuan ini?”tanya Jiyong pada akhirnya setelah lama mereka hanya diam saling menatap. Jiyong ingin sekali memeluk remaja yang bernama Geun Young ini tapi, dia takut membuat Geun tidak nyaman.
“tentu saja. Tidak seperti denganmu ‘appa’ kami saling berbagi apapun.”jawab Geun santai tapi, ada kilatan emosi di matanya. Kata appa begitu sulit dia ucapkan dan asing di dengarnya. Tapi, Jiyong senang sekali mendengar Geun memanggilnya dengan ‘appa’ walau dia sangat sadar bahwa Geun mengeluarkan kalimat untuk menjatuhkannya.
“maafkan, aku! Kami menikah dengan usia sangat muda. Aku belum cukup dewasa saat itu.”kata Jiyong dengan menyesal.
“aku tahu. Omma juga bercerita seperti itu. Dia sama sekali tidak menyalahkan siapapun dan tidak membenci siapapun. Dia terlalu baik untuk berada di sisi orang yang sepertimu, appa.”kata Geun tenang dan lagi-lagi kalimat Geun mencambuk Jiyong. Seorang remaja berhasil mencambuk Jiyong yang sangat di puja dan di perlakukan bagaikan Raja. Tidak ada yang bernah berhasil menyakitinya tapi, hanya satu kalimat Geun yang seorang remaja berhasil mencambuknya dengan keras, sangat keras. Dan Geun adalah anaknya sehingga itu membuat Jiyong merasa lebih sakit.
“jika seperti itu apakah kau membenciku?”kata Jiyong takut. Dia takut di benci anaknya walau dia sadar dia pantas di benci oleh anaknya.
“seperti ibuku yang tidak menyalahkan keadaan, aku pun tidak bisa bilang menyesal menjadi anakmu.”ucap Geun tenang bahkan dia tersenyum dan lagi-lagi Jiyong merasa dicambuk dengan kalimat ambigu Geun.
“maafkan aku. Aku senang bisa bertemu denganmu.”kata Jiyong tulus. Jiyong benar-benar menyesal.
“omma tidak pernah tidak pernah menyalahkanmu dan melarangku menyalahanmu, appa.”
“tapi, kenapa dia terlihat membenciku dan tidak mengizinkan aku bertemu denganmu?”
“kau meyebabkannya terluka. Omma masih belum bisa ‘baik-baik’ saja saat bertemu denganmu. omma hanya belum siap melihat pisau yang pernah menggoresnya, appa.”
Kalimat Geun lagi-lagi menyakiti Jiyong. Jiyong merasakan di cambuk sangat keras berkali-kali setiap mendengar kata-kata Geun, anaknya yang masih remaja tapi berhasil membuatnya terpukul, sangat menyesal dan merasa pantas di benci. Geun seakan sedang menghakiminya dengan wajah polosnya. Rasanya sakit dan sesak. Bahkan kalimat Geun berhasil membuat Jiyong menagis ya.. Jiyong menangis sedih, pensesalan dan membuatnya membenci dirinya sendiri.
“apa yang harus aku lakukan agar aku bisa merasakan menjadi seorang appa? Aku benar-benar sangat menyesal.”kata Jiyong dengan air mata yang jatuh sedangkan Geun juga menangis. Dia tidak bisa berusaha menjadi lebih kuat. Dia juga manusia biasa.
TBC
Hua... tolong jangan terlalu benci bang Jiyong. Ini hanya FF hiks.. hiks..
well, lebih suka menggunakan ‘omma’, ‘nuna’, ‘apa’ atau ‘ibu’, ‘kakak’ dan ‘ayah’ ? thks komentar dan sudah ngikutin IF YOU. see u next time!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar