jangan lupa

JANGAN LUPA KOMENTAR YA..

Sabtu, 27 Februari 2016

Sorry, i’m loving you [part 2]



Sorry, i’m loving you [part 2]

Author: Kim Daisy
Cast: SkyDragon
Genre: roman
Rate : T
Lenght : ?

Seperti biasa Chaerin berada di tempat syuting. Hanya saja hari ini sedikit berbeda. Chaerin lebih terlihat cemas dan gugup. Tangannya yang sudah dingin karena sudah memasuki musim dingin menjadi berkeringat karena gugup. Bukan karena syuting atau adegan syuting yang membuatnya seperti ini. Chaerin yang angkuh itu tidak mungkin selemah itu.

Chaerin gugup dan cemas seperti ini karena salah satu temannya, Yora yang memelas untuk datang ke lokasi syuting untuk berkenalan dengan Jiyong. Yora jauh-jauh datang ke lokasi syutingnya yang berada di luar pulau. Hubungan Chaerin dan Yora bukanlah teman dekat apalagi sahabat. Chaerin tidak membutuhkan hal itu kecuali rekan kerja dan rekan bisnis, dia tidak mengenal ketulusan karena Chaerin hanya memahami kewajiban, hak dan tanggung jawab.

Dengan hati-hati Chaerin memperhatikan Yora dan Jiyong sejak tadi. Terlihat sekali Yora begitu tergila-gila dengan Jiyong. Bahkan nenek penderita rabun parah pun bisa melihat bunga-bunga yang kini menjadi background Yora. Yora selalu mengikuti Jiyong dan tersenyum manis untuk Jiyong tapi, hal itu tidak ditanggapi Jiyong bahkan Jiyong terlihat dingin menanggapi Yora. Poor Yora.

“setidaknya kau tidak di tatap membunuh, Yora.”gumam Chaerin dan masuk ke RV mewahnya untuk istirahat. Beberapa hari ini kru, staff dan artis yang melakukan syuting untuk drama ini memang terpaksa menginap di lokasi syuting. Beberapa orang harus menginap di penginapan sederhana milik penduduk. Tapi, karena Chaerin mendapatkan keistimewaan berupa mobil RV sehingga Chaerin dapat tetap nyaman dengan istrahat di mobil RVnya dengan dikawal beberapa pengawal walaupun manejer Mong yang ahli bela diri ikut serta tidur di mobil tersebut.

Hari pun berganti. Chaerin terlihat keluar dari pemukiman berjalan dengan anggun menggunakan Hanbok dan rambutnya telah tertata dengan indah. Tidak hanya cantik tapi, aura seorang putri terlalu terasa disekelilingnya. Walau sudah sering melihat Chaerin mengenakan hanbok tapi, staff tetap saja melihat Chaerin dengan kagum seakan memang berada di jaman kerajaan masih berkuasa.

“Chaerin, nyonya meminta anda untuk tidak melupakan makan anda.”kata manejer Mong. Kata 'anda', 'nona' dan 'Chaerin' adalah pangilan manejer Mong untuk Chaerin yang tidak konsisten menurut Chaerin. Berkali-kali Chaerin meminta manejer Mong memanggilnya nama saja tapi, manejer Mong selalu menolak karena Chaerin bukan orang biasa. Sehingga manejer Mong hanya memanggil Chaerin disaat tertentu saja.

“waw, omma melakukan kewajibanya.”jawab Chaerin simple tapi, dia mengasiani dirinya sendiri. Dia ingin omma nya memperhatikannya lebih dari ini bukan karena kewajiban atau tanggung jawab tapi karena cinta ibu.

“Aku mencintaimu Jiyong. Aku ingin menjadi kekasihmu.”sebuah suara yang Chaerin yakini milik Yora. Dari suaranya Chaerin tahu bahwa jarak mereka tidaklah jauh. Dengan penasaran Chaerin mendekati mereka. Dan tidak lupa Chaerin mengintruksi manejer Mong untuk mengawasinya dari jauh.

“heh. Kau fikir kau siapa? Kau hanya mengikutiku beberapa hari ini dan kau bilang cinta? Aku bahkan tidak ingin melirikmu.”kata Jiyong tajam membuat Chaerin tersentak kaget. Dia cukup tahu Jiyong orang yang dingin dan kasar tapi, selama ‘perdebatan’nya dengan Jiyong tidak pernah Jiyong berkata setajam itu padanya walau Chaerin sadar dia sering melemparkan kalimat pedas untuk Jiyong.

“aku tahu. Kau juga mencintaiku Jiyong. Kita bahagia dalam beberapa hari ini karena kita bersama. Kau merasakannya juga kan?”kata Yora berusaha untuk kuat dan meyakinkan tapi, dia gagal. Yora menangis, dia seakan mengemis cinta Jiyong.

“kau salah paham. Aku tidak merasakan apapun padamu walaupun sebenarnya kau bagaikan lalat yang terus mengikuti daging segar ssepertiku. Wajahmu yang cantik, tubuhmu yang indah dan kekayaan ataupun kekuasaan keluargamu tidak akan mampu untuk membeli cintaku, gadis kecil. Pulanglah. Aku tidak membutuhkan gadis cengeng.”kata Jiyong dengan dinginnya.

Plak
Sebuah tamparan mengenai pipi kirinya. Bukan. Bukan dari Yora. Tapi, tamparan itu dari Chaerin yang tidak disadari oleh mereka dengan kehadirannya.

“kau tidak berhak berkata seperti itu pada orang yang mencintaimu. Tidak bisakah kau menolaknya dengan baik-baik? Apa sulitnya mengatakan bahwa kau gay?”kata Chaerin berapi-api. Chaerin menarik Yora yang menangis untuk pergi. Jiyong menatap Chaerin dengan tajam dan tersenyum sinis. Dan bukan Chaerin jika tidak bisa membalas tatapan tajam Jiyong.

“gay katanya?”gumam Jiyong terkekeh sambil mengelus pipinya yang ditampar Chaerin. Dan akhirnya Jiyong tertawa lepas karena mengingat Chaerin mengatakan dia gay.

“sakit juga.”katanya pada akhir tawanya.

“tidak masalah. Setidaknya aku bisa merasakan sentuhan panasnya dipipiku.”dan Jiyong kembali tertawa senang seakan tidak peduli bahwa tamparan itu nanti akan meninggalkan bekas.

Berbeda dengan Jiyong, Chaerin masih marah dengan sikap Jiyong dia tidak terima Yora di perlakukan seperti itu. Walau sebenarnya dia tidak cukup akrab dengan Yora tapi, dia seorang perempuan juga yang mengerti sedikit perasaan Yora.

“minumlah dulu.”kata Chaerin sambil melihat Yora yang terus menangis. Untung saja mereka di RV milik Chaerin sehingga tidak menjadi sorotan. Ingin rasanya Chaerin menangkan Yora tapi, dia tidak mengerti caranya. Sudah lama Chaerin tidak menangis, mungkin terakhir kali saat dia lulus sekolah dasar. Jadi, saat melihat Yora yang berusia sama dengannya menangis Chaerin menjadi heran.
‘apakah rasanya sesakit itu?’itulah yang muncul dibenak Chaerin.

“aku akan kembali ke Seoul, Chaerin. Aku menyesal mencintainya.”kata Yora dalam tangisnya tanpa menghapus air matanya yang terus mengalir.

“oh, ya sudah.”kata Chaerin. Yora terlihat kaget.

“hanya itu?”Tanya Yora yang ternyata kalimat pendek Chaerin berhasil menghentikan tangisnya.

“memang apa ada lagi yang harus aku katakan?”kata Chaerin tidak kalah bingung dan membuat Yora kembali menangis bahkan lebih keras dan keluar dari RV milik Chaerin.

“apa salahku?”kata Chaerin binggung.

--------------------------
Seorang pria berlari menuju kamar istrinya. Dengan cepat dia membuka pintu kamar istrinya di ikuti beberapa dayang yang selalu menjaga istrinya yang seorang putri adik dari raja di negerinya saat ini. Istrinya terlihat angun dan cantik itu sedang menyulam di atas meja kecil miliknya.

“kau juga belum makan makananmu, putri?”kata saang suami yang terlihat cemas.

“aku tidak ingin makan sebelum kau berjanji tidak akan menikah lagi.”kata sang putri tanpa melihat suaminya. Sang suami dengan memberikan isyarat agar para dayang istrinya meninggalkan mereka dan dengan gerakan pasti para dayang pun keluar dengan berjalan mundur meninggalkan suami-istri itu berdua. Sang suami duduk di depan meja istrinya. Dengan lembut dia menyentuh tangan istrinya dan menyingkirkan meja serta sulaman istrinya.

“apa yang harus aku lakukan jika raja meminta hadiah seorang pangeran untuk menemani putra mahkota belajar sedangkan istriku tidak inginku sentuh, putri? Tapi, mereka tidak mengerti. Mereka kira kau lah yang tidak bisa mendapatkan anak. Aku tidak ingin menikah lagi, aku mencintaimu putri. Tapi, ini permintaan kerajaan. Kau yang lebih mengerti peraturan kerajaan, putri. Jika kau memberikan izin maka aku akan menikah kembali. Tapi jika tidak, izinkan aku menyentuhmu putri.”kata sang suami lembut dan penuh cinta. Sang suami tidak perlu cinta dari istrinya dia hanya ingin istrinya menerima cintanya walau setelah bertahun-tahun pernikahan tidak juga membuat istrinya luluh.

“kau mencintaiku?”Tanya sang istri.

“bukankah sudah puluhan kali aku mengucapkannya, putri dan kau tidak pernah menoleh padaku. Aku tetap mencintaimu walau kau terus melukaiku, putri.”kata sang suami dengan perlahan memeluk istrinya. Istrinya kini menangis. Hatinya ternyata sudah luluh tanpa dia sadari.
Dengan hati-hati sang suami mencium bibir sang istri dan sang istri tidak menolaknya. Ciuman itu hanya sebuah ciuman lembut biasa tapi, menimbulkan sesuatu yang beda pada pasangan ini. Sang suami semakin mempererat pelukannya dan sang istri mulai menyentuh dada sang suami dengan lembut, mereka terlihat sangat menikmati sentuhan kecil itu. Bagaikan anak remaja yang baru merasakan ciuman.

“CUT!”Teriak sutradara. Mengehentikan aksi mereka yang hampir terjun kejurang hasrat. Chaerin yang memerankan tokoh seorang istri itu langsung berdiri dari duduknya.

“ciuman pertamamu, huh? Sorry.”kata Chaerin berlalu dengan angkuhnya. Meninggalkan Jiyong yang masih terpaku karena bahagia.

Chaerin dengan buru-buru ke mobil RVnya. Dia langsung terjun ke kasur yang terdapat di sana. Chaerin merasa wajahnya memanas, tersipu malu, jantungnya seakan sedang jungkir balik di dalam tubuhnya. Ini bukan ciuman pertamanya, Chaerin sadar hal itu. Tapi, bahkan ini lebih menegangkan dari pada ciuman pertamanya yang juga dilakukan karena syuting, untuk pengambilan gambar. Dan Chaerin menyentuh bibirnya. Dari jari-jarinya Chaerin sadar bahwa bibirnya tersenyum, dia bahagia. Tapi, apa maksud semua ini??

Di tempat lain Jiyong membersikan wajahnya. Dia membersihkan wajahnya dengan santai tapi, terlihat seperti model iklan sabun pembersih wajah yang ada ditelevisi.
“mwo?? Ciuman pertama? Maaf?”kata Jiyong bicara sendiri. Dia tidak terima karena seolah-olah hanya dia yang kacau karena pengambilan gambar tersebut. Dan Jiyong tidak terima karena Chaerin seolah-olah meremehkannya padahal Jiyong tahu dan merasakan bahwa Chaerin juga menikmati sentuhan kecil itu.

“kata ‘ciuman pertamamu, huh?’ jelas itu sebuah penghinaan. Itu tandanya dia sedah sering berciuman dan lebih hebat dari pada yang kalian lakukan tadi. Menurutku itu bukan ciuman, itu hanya kecupan. Kau tidak perlu memikirkannya.”kata Taeyang yang menepuk-nepuk pelan bahu sahabatnya. Taeyang mencoba menenangkan tapi, malah memberikan minyak pada api yang menyala.

“ini juga bukan ciuman pertamaku.”bentak Jiyong yang melimpahkan emosinya pada Taeyang. Taeyang dengan cepat mengangkat kedua tangannya sebagai tanda menyerah.

“kenapa kau disini?”Tanya Jiyong ketus.

“ini-

“maaf, aku mengganggu kemesraan kalian. Aku sedang mencari manejer Mong. Silahkan lanjutkan”kata Chaerin yang tiba-tiba muncul dan pergi begitu saja dengan menutup pintu. Taeyang terdiam sejenak lalu tertawa lepas.

“apa maksudnya dia berkata seperti itu?”Tanya Taeyang yang tertawa.

“aku menolak gadis seperti biasa dan ternyata gadis itu temannya. Sepertinya Chaerin termakan gossip murahan yang mengatakan aku gay jadi, yah seperti itu.”jelas Jiyong sambil mengelap wajahnya dengan handuk kecil yang sudah di siapkannya. Jiyong tanpak tenang seakan itu tidak akan menjadi masalahnya di kemudian hari. Dia hanya tidak ingin Taeayang membacanya terlalu mudah.

“dan dengan mudahnya dia mengira aku kekasih gaymu?”kata Taeyang yang belum puas tertawa.

“malam-malam kau datang kesini dengan membawa kotak bekal yang girly untukku, menurutmu kau normal?”kata Jiyong sambil menunjuk kotak bekal yang dari tadi di pegang Taeyang.

“ah.. ini dari ommamu. Aku kesini karena kebetulan mengecek resort. Kau jangan terlalu percaya diri.”kata Taeyang member kotak bekal itu pada Jiyong.

“dan satu lagi Jiyong. Aku hanya menganggapmu sahabatku. Aku tahu kau putus asa dengan Chaerin tapi, aku harap kau jangan mengincarku karena aku punya tunangan dan aku normal.”kata Taeyang dengan tawanya sambil menunjukan cincin pertunangannya dan meninggalkan Jiyong sendirian membuat Jiyong semakin geram.

“tunggu. Tadi dia sudah bertunangan? Dengan siapa?”kata Jiyong tersadar karena mulai tenang.

@RV caherin
“Tidak chaerin. ini tidak benar. Kau tidak boleh seperti ini dengan pria gay itu. Dia gay, Chaerin. Gay!”gumanm Chaerin untuk meyakinkan dirinya sendiri.

“kau kenapa, Chaerin?”kata Manejer Mong yang baru memasuki mobil RV.

“tidak ada apa-apa. kenapa kau lama sekali?”kata Chaerin mencoba mengalihkan pembicaraan.

“ah, tadi sutradara senang dengan aktingmu. Jarang aktris dan actor yang bisa melakukan adegan ciuman itu hanya dengan satu kali pengambilan gambar. Dia berkomentar chemistry kalian benar-benar keluar. Dan banyak pujian lainnya. Tapi, itu bukan acting kan, Chae?”kata manejer Mong fokus dengan makanan yang akan dia siapkan untuk Chaerin.

“tentu saja itu acting”protes Chaerin langsung.

“ya, itu acting dan kau terbawa suasana.”

“sesukamu saja, onnie. Sekarang mana makan malamku?”kata Chaerin seakan-akan tidak peduli.

Sebelumnya Chaerin yakin bahwa acting dalam film dan drama hanya akan menjadi acting dan tidak akan terbawa dalam kesehariannya. Chaerin yang mandiri dan tangguh terbiasa memerankan gadis manis yang lugu, sangat jauh berbeda dengan tokoh yang dia mainkan dalam dramanya saat ini. Tokoh yang dia perankan saat ini adalah seorang putri yang arogan yang membenci suaminya. Dari sifat sang putri tidak jauh berbeda dengan sosok dan kepribadian Chaerin di dunia nyata dan Chaerin membenci pria yang menjadi lawan mainnya dalam drama ini, pria yang memerankan suaminya. Hanya saja Chaerin belum menikah.

Perjalanan syuting drama ini memang berjalan lancar tapi, itu tidak membuat hubungannya dengan Jiyong membaik. Mereka tetap sering berdebat dalam berbagai hal. Saat syuting maupun saat dibalik kamera. Hanya saja saat didepan kamera Jiyong memerankan seorang suami yang memuja sang istri yang diperankan Chaerin sehingga jika mereka bertengkar didepan kamera tetap terlihat romantic dengan cara tersendiri. Seorang pria memuja dan mengharapkan cinta dari sang istri yang bahkan tidak ingin mencoba mengenalnya bertahun-tahun, bukankah itu romantic? Kisah romantic yang menyakitkan walau diakhir cerita sang putri akan luluh dengan sikap sang suami.

Namun kisah Chaerin dan Jiyong tidak sederhana dengan kisah percintaan yang sedang mereka mainkan. Hubungan mereka lebih rumit. Hubungan mereka tidak seperti mencari jarum ditumpukan jerami tapi, bagaikan mencari jerami di gunungan jarum. Sulit dan menyakitkan, bahkan hampir mustahil.

--------- Jiyong Pov-------------------
Syuting berjalan dengan baik bahkan sangat baik. Walau begitu tidak ada perubahan dengan hubunganku dan Chaerin, kami hanya lebih jarang bertengkar dan Chaerin terlihat menghindariku. Apa karena dia benar-benar mengira aku gay?

Pagi yang cerah membuatku membuka mata sambil meregangkan otot-ototku. Baru saja aku beranjak dari kasur darurat karena tidak memungkinkan membawa kasur tebal yang empuk, kini aku di kejutkan dengan seseorang yang membuka pintu kamarku hingga membuat matanya semakin melebar.

“kau sudah lama disinikan? Kau tahu Manejerku ada diruangan mana?”Tanya Chaerin santai. Aku menatapnya heran.

“wanita biasanya akan menjerit membalikan badan atau melihat tubuhku dengan mata seakan-akan ingin memakanku?”kataku yang terkejut dengan reaksi Chaerin yang biasa saja saat melihatku tidak mengenakan bajuku untuk menutupi tubuhku bagian atas. Dia normalkan?

“aa!”kata Chaerin berteriak tapi, dia terlihat tidak berniat untuk menjerit.

“aku sudah menjerit, jika itu yang kau inginkan. Maafkan aku mengecewakanmu karena aku tidak masuk kesemua katagori yang kau ucapkan itu. Tubuhmu itu.”kata Chaerin dengan malas dan menunjuk perutku yang lumayan berotot.

“tidak lebih hebat dari milik Kang Daesung. Sepertinya aku terlalu terbiasa melihat yang lebih hebat dari pada itu.”kata Chaerin berucap santai sambil menggeleng-gelengkan kepala pelan. Sial. Seharusnya dia yang malu tapi, kenapa aku yang saat ini menahan malu dan amarah.
Tanpa sadar aku menariknya masuk kemarku. Chaerin tidak menjerit tapi, matanya jelas menunjukkan dia terkejut. Aku mendorongnya ke dinding dan menahannya dengan tubuhku dan kedua tanganku di kedua sisinya agar dia tidak bisa kabur begitu saja.

“Kenapa kau disini? Bukankah kau berada di mobil RV mewahmu sekarang ?”tanyaku mencoba mengintimidasinya. Chaerin membalasku dengan senyuman sinis.

“aku hanya berjalan-jalan mencari manejerku. Apa masalahmu?”katanya dengan nada tidak lebih dingin dariku.

“kau menggangguku.”

------ Author Pov -----------

“hah. Kenapa kau berkata seperti itu?”kata Chaerin.
“kau mengatakan aku gay. Padahal kau tau bahwa aku berhasrat saat menciummu dan lelak gay tidak mungkin berhasrat saat berciuman dengan wanita. Aku benarkan?”kata Jiyong dengan mata menatap Chaerin tajam. Pipi Chaerin memerah, dan jantungnya seakan sedang berpesta di dalam sana saat pikirannya mengingat adegan itu.

“sial!”umpat Chaerin dalam hati. Kini dia sadar kesalahannya. Jiyong tidak gay seperti yang dia fikirkan selama ini tapi, dia binggung harus berbuat apa.
“Jika Jiyong benar-benar normal maka kondisi seperti ini normalnya akan berbahaya untuk wanita. Berada di sebuah rumah yang sangat luas dan terkurung dengan lelaki yang sedang berhasrat adalahlah kondisi berbahaya. Tunggu, bukankah tadi aku katakan berhasrat?”pikir Chaerin sendiri. Jiyong tersenyum dibalik wajah didinginnya karena melihat ekpresi panik Chaerin.

“dalam kondisi normal, menurutmu saat pria yang sedang tidak mengenakan bajunya dan ada gadis manis yang terkurung bersamanya disuatu tempaat terpencil seperti ini apa yang akan terjadi?”goda Jiyong sambil tersenyum. Chaerin menahan dirinya untuk tidak mengingat dada Jiyong yang tidak sengaja dilihatnya. Sedari tadi Chaerin hanya mengalihkan pengelihatannya dan fokus pada wajah Jiyong agar tidak tergoda untuk menyentuh dada Jiyong yang dihiasi tattoo yang mengundang dirinya. Chaerin belum mau mati karena menahan malu saat ini.

“kondisi normalnya bagaimana pun kita akan tetap bertengkar. Kita bukan orang yang normal Kwon Jiyong.”kata Chaerin dengan tatapan beraninya seakan detak jantungnya yang terus berpacu tidak mempengaruhinya. Jiyong menatap Chaerin lekat. Jiyong ingin sekali berhenti berpura-pura membenci gadis didepannya ini. Tapi, dia masih belum berani menjalani kenyataannya nanti yang akan terjadi.
Bibir lembut Chaerin dengan cepat menempel dibibir Jiyong dan secepat itu jugalah sentuhan itu terlepas. Jiyong terdiam. Dia membeku.

“kau lemah, Kwon Jiyong.”kata Chaerin yang kini sudah di dekat pintu.

“kau licik!”kata Jiyong dengan geram saat dia berbalik melihat Chaerin. Dan Chaerin hanya menjulurkan lidahnya. Setelah itu Chaerin tidak terlihat lagi.

Chaerin diam-diam pergi meninggalkan lokasi syuting tanpa memberitahukan yang lain. Termasuk manejer Mong dan bahkan Chaerin tidak membawa ponselnya.
Kini Chaerin berada di pasar tradisional yang menjual beraneka makanan. Tanpa perlu takut orang mengenalnya Chaerin mengantri dengan berani. Tentu saja Chaerin tidak mengkhawatikan penapilannya takut dikenali. Chaerin sempat diam-diam mengambil sepasang baju olahraga berwarna coklat muda milik staff dibagian perlengkapan, sandal santai yang beberapa hari lalu dia beli secara diam-diam di mini market, dan keahlian make-upnya membuat wajahnya bagaikan gadis desa biasa yang jauh berbeda dengan sosok Chaerin. Bahkan dengan keahlian make-upnya ini Chaerin berhasil berkali-kali lolos dari pengejaran pengawal dan manejer Mong.
Ini semua telah dia rencanakan jauh hari karena terlalu lelah dengan rutinitasnya. Tidak mudah memang untuk menjadi Lee Chaerin yang berbakat.

Setelah menunggu cukup lama, kini giliran Chaerin pun tiba. Chaerin mengangkat mangkuk buburnya yang panas menuju mejanya tapi, seseorang menyenggolnya hingga makuk itu terjatuh setelah bubur panas itu tumpah ke pria yang tidak dikenalnya. Bukannya minta maaf kepada pria itu atau mengkhawatrkan kondisi pria yang terkena nasip sial karenanya Chaerin malah mencemaskan buburnya. Pria itu semakin kesal karena Chaerin tidak peduli dengannya.

“hai, nona. Kau harus mengganti biaya bajuku.”kata pria itu. Chaerin menatap pria itu kesal.

“hey, ini tidak sepenuhnya salahku. Kau tiba-tiba menabrakku.”kata Chaerin.

“kau saja yang terlalu fokus dengan bubur bodohmu itu. Mana uang untuk mengganti bajuku.”kata pria itu.

“aku hanya perlu membayar ongkos cucinya. Baju bodohmu itu tidak akan berubah karena buburku tidak meninggalkan bekas.”

“aku buru-buru jadi tidak ada waktu untuk menunggu baju ini selesai di cuci.”

“kau kira aku punya cukup waktu bertengkar denganmu yang tidak tau malu?”protes Chaerin membuat pria itu semakin geram. Chaerin melupakan tata krama kerajaan yang sebenarnya sudah melekat pada setiap butiran darahnya.

Plak.

Pria tidak dikenal itu mendaratkan sebuah tamparan di pipi seseorang membuat orang kaget dan melihat ke mereka. Dari suara cukup keras dan melihat tubuh orang yang menampar itu kekar jelas tamparan itu sangat kuat.
Tapi, tamparan itu tidak mengenai Chaerin. Tamparan itu malah mendarat di pipi Jiyong yang kini berada di depan Chaerin untuk melindunginya. Dan Chaerin tidak percaya dengan apa yang terjadi saat ini.

TBC

Next part!
“jangan berharap aku mengatakan terimakasih atau maaf. Karena kedua kata itu tidak ada dikamusku.”kata Chaerin santai.

“tapi, plaster ini menunjukan bahwa kau berkata terimakasih dan maaf secara tidak langsung, Chae.”kata Jiyong sambil mengemgam tangan Chaerin yang berada di pipinya.

---------
“keluarga ini apa akan terus perang dingin seperti ini terus appa?”Tanya Chaerin pada ayahnya.

-------------
HELOOO!!! Kim disini! Thks banget dengan responnya yang postif untuk ffku. Maaf, kalau komentarnya tidak bisa ku balas satu persatu seperti biasanya karena Kim binggung kalau kalian meminta diposting FF ini secepatnya. Kalau ingin FF ini di percepat diposting silahkan komentar tentang isinya karena komentarlah yang mempermudah mendapatkan’ ilham’. Jika ingin ingatkan aku untuk diposting silahkan inbox ke page atau FB Kim langsung karena jujur saja sedikit sedih saat baca komentar yang isinya “bagus thor. Aku suka ceritanya. Cepat postingnya..” secera nulis itu tidaklah mudah dan si ilham tidak bisa aku beli di toko terdekat dan aku tidak punya uang banyak untuk membeli si ilham. Jadi mohon pengertiannya ya...
Thks buat semua yang telah komentar di part sebelumnya dan Evelyn yang selalu ingatin aku untuk terus nulis. Tanpamu aku akan asik berpacaran dengan bantalku. XOXO

Tidak ada komentar:

Posting Komentar