OPPA, WHERE URI OMMA?
Author: Kim Daisy
Cast : SKY DRAGON
Genre: family
Rate : T
pict : google
Akhir-akhir ini aku suka buat ff yang simple dan ringan. Semoga suka.
Aku menari sesuai irama musik tapi, tiba-tiba musik berhenti. Baru aku sadar orang sangat ramai melihat kami menari. Aku menari di jalanan bersama teman-temanku. Dan dia antara mereka ada sosok namja yang menatapku tajam.
"Oppa.."ucapku lirih saat melihat oppaku dihadapanku dengan ekpresi murkanya. Pasti dia yang meminta mematikan musiknya. Dengan cepat oppa menarikku, dia memegangku kuat di bagian pergelangan tanggan. Jika aku adalah boneka barbie, tangan ini pasti telah terputus dari tubuhku.
"Sudah berapa kaliku bilang untuk berhenti menari di depan umum, Jinyoung?"ucap oppa.
"Oppa, kalau audisi bolehkan?"pintaku.
"Tentu saja tidak!"
"Wae? Kan tidak didepan umum. Hanya ada aku dan juri."elakku sambil berusaha lepas darinya.
"Kau! Berani kau ulangi, uang jajanmu ku potong."ancam oppa.
“tidakku ulangi lagi."ucapku pasrah. Ini masalah uang jajan. Selain dari oppa, aku tidak mungkin dapat uang jajan dari orang lain. Hanya dia yang kupunya.
"Janji?"
"Janji."ucapku dengan berat hati. Oppa langsung memelukku. Aku mencintainya.
Langit gelap karena hujan turun. Oppa menemaniku dalam pelukannya di kasur kamarku.
“Oppa, kau tidak pergi dengan temanmu?”tanyaku sambil menatap wajahnya.
“bagaimana mungkin aku pergi jika aku tahu kau akan ketakutan saat hujan? Lagian sebagai penulis tidak perlu selalu sedia di studio.”jawabnya oppa sambil mengelus kepalaku.
“gomawo, oppa.”
Saat aku mau berangkat oppa telah siapkan sarapan untukku. Ini hal biasa yang dialakukan untukku. Menyuci, memasak, menemaniku, mendidikku, membiayaiku, dan membesarkanku, semua dia lakukan untukku. Lalu dimana ommaku? Omma pergi. Pergi kemana aku juga tidak tahu. Aku takut jika aku bertanya oppa akan sedih. Oppa tidak pernah mengenalkanku pada yeoja manapun. Dia hanya menghabiskan waktunya untukku dan pekerjaannya, sesekali dia berkumpul dengan temannya. Temannya sudah banyak yang menikah dan memiliki anak. Aku harap oppa segara menikah juga.
Aku menonton konser CL lewat komputer LED yang dibelikan oppa padaku. CL adalah idolaku. Dia memang orang korea tapi, sangat terkanal di Eropa, Amerika dan Jepang. Bahkan dia tidak menetap lagi di Korea sejak 13 tahun lalu. CL unnie adalah temanku saat aku sendirian di rumah karena oppa sering lembur malam. Tapi, anehnya aku tidak merasa kesepian.
"Ikuti cover lagu CL. Kamu bisa sedikit mengganti lirik atau nada agar lebih menarik."tertulis di layar ku.
"Hay aku CL! Aku akan adakan lomba cover laguku, pemenangnya akan bernyanyi denganku di salah satu lagu untuk album terbaruku. Ikuti lombanya ya.. aku menunggumu."ucap CL unnie sambil mengedipkan sebelah matanya membuat aku histeris seketika karena terpesona. Aku harus ikuti lomba ini! Oppa, aku pinjem studiomu. smile emotikon
@Sekolah
"Yak, apa yang kau lakukan? Kau buat puisi cinta? Untukku?"ucap Yuka santai. Yeoja berparas aneh ini temanku, mungkin. Bukan dia tidak cantik hanya saja wajahnya sangat sulit sekali mengeluarkan senyumnya jika tidak ada namja. Temanku ini sangat sulit tersenyum untuk yeoja.
"Aku gadis normal untuk apa aku menuliskan surat cinta untukmu? Yang benar saja."ucapku kesal.
"Oh"ucapnya santai.
"Apakah nanti kau akan mampir ke kantor uri oppa?"wajahnya berubah seketika hanya karena namja.
"Oppaku, bukan uri oppa. Kau tidak punya oppa."
"Kau pelit sekali. Kau tau, aku suka sekali dengan lagu ciptaan oppamu yang... "Yuka sangat menyukai Jiyong oppa. Yeoja blasteran Jepang ini bukan ingin jadi pacar atau istri oppaku tapi, karena dia sangat suka dengan karya oppaku yang seorang penulis lagu.
"..terakhir kali aku sempat berpapasan dengan Daesung oppa sebelum dia syuting. Senyumnya selalu berhasil membuatku meleleh. Taeyang oppa dia memintaku meramalnya, menurutmu apa aku harus berbohong dengan mengatakan jodohnya adalah aku?.. "Yuka, yeoja cerewet ini memang menyukai namja-namja yang di sebutnya tapi, yang dia cintai itu adalah TOP seorang model dan aktor, mungkin saja besok dia akan berubah dan menyukai Bobbi rapper di agensi Jiyong oppa berkerja.
"Yuka!"
"Hem."jawaban singkatnya.
"Kau cek kejiwaanmu sebelum bertemu mereka. Kau bisa mempermalukan uri oppa."
"Apa Jiyong oppa juga menyukaiku? Aku tidak akan pilih kasih. Aku mencintai oppa-oppaku dengan seimbang"
"Kau benar-benar konslet."
"Kejam."
"Yuka, aku butuh bantuanmu. Aku ingin ikut lomba dan aku butuh kau yang merekamnya."
"Kau terlalu muda untuk ikut lomba itu. Apa kau pernah membuat lagu sebelumnya?"
"Belum."
"Eyy.."
"Tapi, aku pasti menang."ucapku penuh percaya diri.
Aku sedikit merubah lirik saja karena aku sulit untuk mengubah musiknya. Aku hanya pemula. Oppa bisa saja membantuku tapi, itu tidak akan adil.
"Kau belum tidur?"itu suara oppa.
"Belum."jawabku sambil tersenyum. Aku begitu gembira.
"Kau sedang apa?"tanya oppa sambil duduk di kasurku.
"Menulis lagu."jawabku mantap.
"Kau tidak kerjakan PRmu? Kau sudah belajar?"introgasinya.
"Sudah, oppa... "
"Jangan tidur larut malam! Aku yakin kau bisa selesaikan dengan cepat karena itu jika aku kesini lagi kau belum tidur maka bersiap-siaplah untuk hukumanmu."ucap oppa dengan tegas.
"Ne, oppa!"
"Oppa, apa kau lelah?"tanyaku melihat wajah kusutnya. Oppa hanya tersenyum.
"Berkencanlah, oppa."
"Kau masih terlalu kecil untuk mengurusku."
"Karena itu setidaknya kau harus punya pacar."jelasku. Oppa tersenyum, tawanya hampir pecah.
"Aku akan berkencan malam ini."
"Mwo?”
"Ne. Dengan Dipie, DJ portable ku. Good night!"
"Kau tidak waras oppa!"
Jiyong pov
Aku masuk lagi ke kamarnya, dia sudah tertidur. Dia anak penurut sebenarnya hanya saja dia akan keras kepala dalam hal untuk mencapai mimpinya, menjadi produser musik, penulis lagu serta penyanyi. Dia menjadi gadis mandiri dan cerdas di hampir segala bidang karena gen ibunya terlalu kental di dalam dirinya hingga aku terkadang aku melihat ibunya di dirinya, jauh berbeda denganku yang hanya berbakat di musik. Untung saja bakatku bisa membiayai kami berdua, aku seakan menjadi single parent. Aku menghampiri dia yang tidur dikasurnya. Aku mengcup kening dan mengelus kepalanya. Lalu aku mendekat ke meja belajarnya. Selembar kertas tertulis sebuah lagu. Aku membaca sedikit liriknya, aku sudah yakin dia pasti bisa menulisnya dengan sempurna. Senyumku pun terukir begitu saja dan semakin tersenyum saat tertulis bahwa ini lagu CL. Dia sanggat mengidolakannya bahkan kamarnya penuh dengan pernak-perniknya. Bahkan dia rela bejalan kaki demi menghemat uang jajannya untuk membeli sebuah sepatu dari salah satu koleksi CL dan lucunya itu tidak sesuai dengan ukuran kakinya.
"Kau pasti bisa menjadi sepertinya suatu saat nanti."gumamku sebelum menutup pintunya.
Ponselku berdering, membuatku reflek mengangkatnya.
"Halo!"ucapku.
"Aku baru kembali. Bisakah kita bertemu?"
"Apa yang perlu kau bicarakan?"tanggapku.
"Aku akan datang diacara reuni, jika kau tidak ingin bertemu denganku maka aku tidak akan pergi."
"Kau tidak perlu repot. Aku bukan anak-anak seperti dulu. Aku akan datang dan aku tidak ada masalah dengan kedatanganmu. Lagian, tidak ada yang tahu dengan hubungan kita dimasa lalu."
"Gomawo. Selamat malam."
Percakapan pun terputus, aku merindukannya bahkan aku bisa mengetahui bahwa itu dia.
Aku masih mencintainya.
Aku datang ke acara reuniku, bersama Taeyang tentunya.
"Yak! Yang lain menggandeng istri dan suami masing-masing tapi, kenapa kalian datang berdua?"tegur Yojin, dia salah satu teman baik kami sejak dulu.
"Kau sendiri? Kau pikir kau punya suami?"kalimat santai tapi, menusuk keluar dari mulut seorang Taeyang membuatku tertawa lepas. Tidak biasanya dia banyak bicara bahkan dengan kata-kata pedas seperti ini. Aku hanya bisa menikmati situasi seperti ini jika Taeyang dan Yojin bertemu, mereka selalu seperti ini sejak dulu. Bahkan peceraian mereka tidak ada yang membuat hubungan mereka berubah, mereka masih terlerlihat seperti teman baik.
"Aku memang sudah bercerai tapi, aku membawa pacarku."katanya sambil melambai pada seorang namja dan namja itu tersenyum manis.
"Mwo?? Mitra hyung?"ucap kami kaget.
"Di umur kalian masih datang dengan setatus single, sungguh memalukan. Bahkan Jiyong sudah menerima undangan ulang tahun anak Soyun. Dia mengira adikmu itu anakmu, hehe.. " kicaunya Yojin memang amat cerewet tapi, dia yeoja baik. Yah, aku memang mendapatkan undangan itu.
"Kau masih cerewet seperti dulu."ucap Taeyang geleng-geleng dan Yojin kembali bercerita sedangkan aku terpaku melihat yeoja yang kurindukan berdansa mesra dengan seorang namja.
"Lihat, Chaerin menjadi sorotan. Selain karena dia menang penghargaan dunia tapi karena gandengannya. Kau kan artis seharusnya kau membawa salah satu aktis sebagai gandenganmu. Kau cemburu melihat Chaerin?"kata Yojin pada Taeyang.
"Kenapa aku?"taeyang tampak binggung.
"Kan kau yang di gosipkan berpacaran dengannya"
"Itu tidak benar. Kami tidak ada hubungan seperti itu."
"Oh, baguslah. Aku takut kau patah hati."
"Kenapa? Apa itu kekasihnya?"
"Aku tidak terlalu tau tapi, kabarnya mereka akan bertunangan."
"Semoga kau bahagia, Lee Chaerin."ucapku dalam hati.
JIN YOUNG POV
Aku menggunakan salah satu kostum-kostum yang dibelikan Taeyang oppa saat konser keliling dunia. Sekarang aku siap.
"Anyounghaseo! Kwon Jin Young imnida. Aku adalah seorang pelajar. Aku mengarasemen lagu ini sendiri karena aku sudah belajar membuat lagu sejak dulu dengan uri oppa. Aku sangat mengidolakan CL unnie. Oh ya.. untuk proses membuat vidio ini, Yuka sahabatku yang merekamnya."jelasku bersemangat.
Dan setelah itu waktuku habis untuk mengedit vidioku, ini saat menyenangkan.
------
Vidio telah ku kirim, aku tidak sabar menunggu hasilnya. Ini sudah 3 bulan sejak penutupan pengiriman vidio itu. Katanya hari ini pengumumannya dan aku dari tadi sibuk mengecek email dari ponselku.
"Kwon Ji Young diminta ke ruang kepala sekolah sekarang."sebuah suara yang keluar dari speker kelas.
"Kenapa kau dipanggil?"tanya Yuka penasaran.
"Molla."jawabku sambil mengangkat bahuku. Dengan malas aku berjalan ke ruang ke pala sekolah. Aku mengetuk pintu dan pintu segera terbuka. Melihat orang yang membukakan pintu untukku membuatku terjatuh karena lemas. CL disini. CL unnie tersenyum manis padaku. Ayolah, jangan seperti ini. Ini semakin membuatku sulit berdiri. CL unnie dengan senyuman manisnya menghampiriku dan membantuku berdiri.
"Apa aku menang?"tanyaku membuat mereka di ruangan ini menjawab "ya". Sontak aku loncat sambil bersorak senang. Aku melupakan kamera yang dari tadi merekamku. Aku tidak peduli jika aku nanti tidak dapat jodoh karena rekaman ini.
"Kami datang kesini karena kamu pemenang ke tiga dalam lomba ini. Selama kami disini menunggumu tadi kami diberi tahu tentang prestasimu. Kau sungguh anak yang mengagumkan."jelas seorang yeoja yang aku yakin adalah MC.
"Oppa aku akan pulang agak terlambat."kataku langsung menggunakan telepon setelah sadar dengan situasi.
"Wae?"
"Ada latihan drama."bohongku. Aku takut oppa marah dan menghentikanku karena itu aku memilih berbohong.
“ok. Sampai jumpa di rumah.”kata oppa dan aku langsung memutuskan samungan.
Kami makan bersama untuk saling mengenal. Pemenang pertama dan kedua adalah mahasiswa di bidang seni. Wajar mereka menang. Dan aku satu-satunya pemenang anak sekolah dasar.
"Sebenarnya lagumu tidak terlalu bagus dibanding kontestan lain tapi, untuk anak seusiamu itu sangat luar biasa. Kau kreatif dan berani."komentar PD acara ini padaku. Aku pun tersenyum padahal rasanya aku ingin berloncat girang. Ini karena aku terlalu lemas untuk loncat girang, aku sudah cukup hiperaktif tadi.
Beberapa hari kemudian kami melakukan rekaman. Kata PD vidio yang aku kirimkan sudah bagus jadi MV nya hanya diambil dari kiriman vidioku dan pastinya dilakukan pengeditan.
CL menetapi janjinya untuk bejalan bersamaku. Kami menonton bioskop dan makan bersama. Ini sangat menyenangkan. Tapi, hujan lebat turun. Aku meminta CL unnie istirahat di rumahku. Dan unnie setuju. Baru saja kami masuk dan menyiapkan hot chocolate, Jiyong oppa pulang. Oppa terdiam begitu juga dengan unni, mereka terlihat canggung.
"Kalian saling kenal?"tanyaku.
"Tidak" "ya" jawab mereka bebarengan tapi, berbeda.
"Ji, apakah Jin young anak kita? Aku sudah curiga sejak awal."
"Tidak."
"Lalu siapa ibunya?"
"..."
"Ommamu sudah meninggal 15 tahun lalu. Appamu, kau bahkan membencinya sejak kau kuliah. Kwon Jin Young, anak siapa? Kau jangan berbohong! Aku tidak bodoh, kwon Jiyong!"
"Aku selalu menangisi anakku. Mereka bilang anakku mati. Tapi, aku sangat yakin anakku masih hidup. Jika Jiyoung bukan anak kita untuk apa kau bersembunyi dariku? Usianya cocok dengan anak kita. Aku akan membawa Jiyoung hingga kau mengaku."ucap CL unnie lagi sambil menarikku. Sialnya aku diam kaya boneka dan oppa menatap unnie dengan menyesal. Oppa tidak menahan kami.
"Unnie, mengenal oppa?"tanyaku binggung.
"Dia bukan oppamu dan aku bukan unnie. Dia appamu dan aku ommamu. Aku tahu kau pasti kaget, kita semua keget. Sekarang masuklah."kata Cl unnie sambil membuka pintu mobilnya untukku.
Sesampai di rumah CL unnie, unnie memelukku. Unnie meminta maaf dan menceritakan semuanya hingga dia melahirkanku.
"Lalu, apa yang harusku lakukan? Aku harus memanggil kalian siapa? Aku harus memihak pada siapa?"tanyaku.
"Tidak ada. Kau hanya perlu tetap bersamaku saat ini hingga appamu itu datang baru kita lihat selanjutnya. Bukankah sudahku bilang untuk memanggilku omma."jelas unnie. Anni, omma.
"Omma masih mencintai uri oppa?"
"Appa!"perbaikinya dan aku mengagguk. Omma menutup matanya dan tersenyum sebagai jawaban. Tidak perlu kata-kata aku mengerti omma mencintai oppa yang kini harus kupangil appaku.
"Bagaimna tunanganmu, omma?"
"Dia? Haha.. kami tidak ada hubungan apa-apa . Kami seperti itu hanya untuk membuat penyihir itu diam, maksudku nenekmu. Dia selalu menentang hubungan kami, aku dan appamu. Aku yakin dia juga yang mengirimu pada appamu. Sekarang, mandilah. Aku sudah memesan piama untukmmu."kata omma.
Saat mandi aku masih berfikir, aku masih binggung. Bagaimana mungkin oppa yang selama ini aku memanggilnya kini harusku panggil appa. Ya, appa. Appa pasti menderita, CL unnie yang ternyata ommaku pasti juga begitu dan aku jadi binggung.
"Jin young sayang.. apakah kau sudah selesai? Appamu menelpon."kata omma, lidahku masih kaku untuk memanggil mereka omma dan appa. Apa aku harus baahagia atau marah? Aku binggung.
"Ne!"kataku dan akhirnya aku keluar dengan mengenakan piama yang telah disediakan. Omma memberikan ponselku.
"Jinyoung!"ada nada cemas disana.
"Ne."jawabku.
"Kau baik-baik saja?"
"Ne."jawabku.
"Kau pasti binggung."
"Ne. Oppa, apakah sekarang aku harus memanggilmu dengan panggilan appa?"
"Aku tak memaksa. Tapi, kau memang anak kami. Aku tidak bisa berbohong lagi. Apa ommamu ada disana?"kata appa, sungguh aku harus sangat membiasakannya. Omma menggeleng meminta aku merahasiakan.
"Anni."
"Apa ommamu memintamu meninggalkanku?"
"Anni. Omma bilang kau harus kesini. Appa."
"Haha.. kau tidak terbiasa memanggilku appa. Padahal dari dulu aku menantinya. Sekarang tidurlah. Secepatnya aku akan bicara dengan ommamu. Selamat malam."
Telepon pun terputus.
"Dia menyuruhmu tidur?"
"Ne."
"Kajja. Aku ingin tidur sambil memelukmu."kata omma sambil merapikan bantal. Aku langsung tiduran dan omma tidur disampingku sambil memelukku. Begini rasanya dipeluk omma. Seketika membuatku tenang dan nyaman.
"Tidurlah. Besok banyak ceritamu yang inginku dengar."kata omma.
"Omma. Appa sepertinya masih mencintaimu karena dia tidak pernah dekat dengan yeoja bahkan aku pernah khawatir dia homo. Aku tidak ingin menyakitinya, aku rasa ini info penting."kataku sambil menutup mataku. Aku sangat mengantuk.
"Haha.. kalau begitu akan lebih mudah untuk kita memulai semua dari awal."
"omma ingin kalian bersama lagi lalu menikah?"
"Ya, seperti itu tapi, dengan cara berbeda. Bersiaplah untuk besok, my prinssces."
"Omma, kau akan berkelahi dengan nenek?"
"Anni. Karena aku akan mengunakanmu sebagai prisai. Seorang ibu memang sangat menyayangi anaknya tapi, dia tidak akan sanggup melawan jika berhadapan dengan cucunya. Kau hanya perlu duduk dan tersenyum manis maka kau akan mendapatkan hati nenekmu. Setelah itu kita bisa bersama."
"Semudah itu?"
"Tidak. Tapi, itu juga tidak akan sulit karena aku bersamamu. Sekarang tidurlah."kata omma sambil mengelus kepalaku.
AUTHOR POV
Keesokkan harinya Jiyong segera menemui Chaerin di rumahnya lewat informasi dari Jinyoung. Jinyoung segara berlari memeluk Jiyong. Chaerin berdiri di belakang Jinyoung. Sadar dengan situasi Jinyoung menarik Jiyoung ke kursi lalu meninggalkan appa-ommanya berdua.
FLASH BACK
“kau begitu sempurna. Untuk apa kau membuang waktumu untukku? Kau tidak mengenalku. Aku tidak punya apa-apa selain cinta tulus. Karena itu akhiri saja hubungan ini.”kata Jiyong menahan perasaannya.
“apa kau tidak mencintaiku?”Tanya Chaerin menyembunyikan rasa takutnya, takut kehilangan.
“cinta itu lupakan saja karena kau akan menderita hidup denganku yang miskin.”
“bagaimana jika aku mengikatmu? Aku hamil.”
“ibumu tahu?”
“tidak”
“lalu bagaimana? Kau akan tinggal denganku. Bukan aku mengusirmu hanya saja aku tidak punya apa-apa. Apa kau mau bertahan dengan aku yang miskin?”
“ya, tentu karena aku memilihmu, kau takdirku”kata Chaerin yakin dan Jiyong memeluknya hangat.
Flasback end
“aku kira kau melemparku karena aku hamil. Ternyata kau menungguku hingga Jinyoung lahir?”kata Chaerin. Mereka sangat jarang bertemu apa lagi berbicara sehingga suasana kaku menyelimuti.
“aku sungguh tidak ingin berbohong lagi. Ya, aku menetap disana hingga kau pergi ke Prancis tepatnya saat Jinyong berumur 3 tahun.”jawab Jiyong seadanya. Dia hanya bisa mengatakan sebenarnya karena dia juga merasakan hal yang sama dengan Chaerin, canggung.
“jinyong pernah menanyakan ommanya?”
“Saat di Jepang, sesekali aku membawa Jinyoung dan mengenalkan bahwa kau ibunya walau dari jarak jauh. Dia bertanya kenapa kau tidak bersama kami, biasanya aku akan menjawab karena kau terlalu sibuk. Saat kau akan pergi ke Prancis, aku menjelaskan bahwa dia tidak bisa menemui lagi walau dari jarak jauh. Sejak saat itu dia tidak bertanya lagi tentang ibunya. Walau bagitu dia tidak mengenalimu sebagai ibunya. Dia anak yang cerdas, takut melukaiku sehingga dia tidak bertannya.”
“Dia memanggilmu dengan ‘oppa’ dia tidak bertanya tentang ayahnya?”
“di Jepang dia memanggilku ayah. Sejak kami pindah ke Korea dia memanggilku oppa karena tetangga kami memanggilku ‘oppa Jinyoung’. Lalu dia teribiasa memaggilku oppa. Walau begitu dia tahu aku ayahnya.”
“benarkah? Dia cukup terkejut saat aku bilang kau ayahnya.”
“itu karena dia tidak percaya dengan semua yang terjadi begitu cepat. Aku tidak pernah memanipulasi identitasnya. Aku menuliskan Kwon Jiyonng ayahnya dan Lee Chaerin ibunya tapi, tidak ada yang menyangka. Mereka masih memanggilku oppa Jinyong.”
“kenapa kau sembunyi dan tidak menghubungiku? Tidak memberitahu bahwa ada Jinyoung?!”
“karena aku tidak ingin kau menngalami kesulitan. Kau tahu, aku hanya orang biasa.”
“well, kau sekarang adalah GD produser music dan penulis lagu terkenal. Kau sudah cukup mampu untuk memenuhi kebutuhanku, istrimu. Kau tidak tahu sakitnya aku harus menerima kenyataan? Setelah aku melahirkan ibuku memberikan surat keterangan kematian anakku. Aku yakin anakku masih hidup tapi, aku selalu ditekan untuk mempercaya kematian anakku. Walau begitu aku selalu yakin anakku masih hidup, aku mencarinya selama ini. Dan tanpa sengaja aku bertemu dengannya. Kau tidak tahu perasaanku?”
“maafkan aku, aku menyesal. Karena itu aku mengizinkanmu bersama Jinyoung sementara waktu.”
“izinkan aku selalu bersamanya.”
“aku tidak bisa berlama-lama berpisah dengannya.”
“aku juga begitu. Aku tidak mungkin meninggalkannya lagi. Jika begitu, bagaimana jika kita mulai hubungan kita kembali?”
“kau gila? Karirmu? Tunanganmu?”Tanya Jiyong dengan suara meninggi. Dia masih mencintai Chaerin tapi, untuk kembali bersama dia tidak ingin bermimpi terlalu tinggi.
“kau menolakku? Berhenti berbohong! Jinyoung sudah bilang bahwa kau tidak bisa melupakanku. Tatapanmu juga tidak berubah. Tunangan? Itu hanya alat untuk meredam emosi ibuku. Namja itu juga melakukannya untuk uang.”
“kau bisa mengatasi ibumu?”
“aku akan menggunakan Jinyoung.”ucap Chaerin yakin.
“jangan lukai Jinyoug dia cukup kaget dengan kondisi ini! Jika dia anak lain mungkin dia akan membenci kita.”kata Jiyong tidak terima. Menurut Jiyong ini kejam.
“itu karena dia sepertiku, dia yeoja tangguh dan kau mendidiknya dengan baik. Aku tidak mungkin menyakitinya. Aku akan menarik perhatian paparazi dengan kedekatanku dengan JinYoung. Masyarakat akan penasaran. Aku akan mengancam omma. Omma pasti tidak ingin masyarakat tau yang sebenarnya. Lalu kita akan benar-benar menikah. Tidak seperti dulu yang hanya ada saksi dan pendeta.”Chaerin menjelaskan secara singkat tapi, Jiyong mengerti pemikiran Chaerin karena mereka memiliki ikatan.
“ kau berfikir semudah itu? Bagamana jika ommamu melukai Jinyoung atau aku?”
“aku akan pastikan omma tidak akan mampu menyakiti cucunya. Jika kau yang akan dia sakiti, itu urusanmu.”jawab Chaerin sambil sedikit bercanda. Berusaha menghapus suasana kaku ini.
“ya aku mengerti. Hahaha.. kau tidak berubah.”kata Jiyong sambil tersenyum. Mereka saling menatap. Memberikan tatapan yang lekat sambil menikmati debaran jantung yang tidak pernah berubah jika mereka bersama. Cinta itu masih ada dan saling mereka jaga.
“yah, aku tidak berubah dan aku masih mencintaimu. Karena itu ayo kita berjuang bersama! Jangan membohongi dirimu sendiri lagi.”terang Chaerin. Sedikit memaksa dan tidak tahu malu tapi, sikapnya ini tepat karena Jiyong bukan orang yang cepat tangap jika menatap wajah Chaerin.
“yah, kau juga masih menjatuhkan harga diri sebagai wanita di depanku. Lain kali biarkan aku yang mengatakan ‘aku mencintaimu’ terlebih dulu.”
“ya, nanti. Saat kau melamarku lagi.”
“baiklah aku setuju. Kali ini aku tidak ingin hidup sebagai pengecut lagi yang bersembunyi dari wanita yang aku cintai. Aku mencintaimu, sejak dulu hingga sekarang.”
@rumah omma Chaerin
‘setelah album CL di keluarkan telah di komfrimasi sebelumnya bahwa tiga musisi pendatang baru yang ikut andil dalam albumnya. Tiga musisi itu adalah pemenang dari lomba yang dilakukan sebelumnya dan salah satu mereka, Kwon Jinyoung hanya lah anak yang duduk di bangku Junior High School. Walau begitu dia sangat berbakat hingga menarik perhatian CL. Menurut teman-temannya, Jinyoung adalah penggemar berat CL. Ini adalah beberapa koleksi Jinyoung yang berada dikamarnya. Tapi, menarik adalah CL dan Jinyoung sering terlihat bersama dan jika diperhatikan mereka memiliki kemiripan secara fisik.’ TEET. Televisi yang sejak tadi berbunyi pun telah mati.
“ya, kau benar omma. Dia anakku. Aku akan menikah dengan Jiyong oppa, lagi.”kata Chaerin saat melihat ommanya mematikan televisi.
“ kau gila? Bagaimana masa depanmu? Karirmu? Kau tidak memikirkan perasaan tunanganmu?”histeris omma Chaerin.
“kami tidak benar-benar bertunangan. Pertunangan kami hanya bisnis. Aku dapat membuat omma tenang dan dia banyak dapat perkejaan karena menjadi tunanganku. Masalah karir perlahan akan kembali asal aku tidak mengatakan yang sebenarnya. Aku harus menikah lagi dengan Jiyong oppa, omma. Keluargaku yan terpenting. Anakku, membutuhkanku. Tapi, jika kau tidak mengizinkanku aku akan memberiakan kebenaran aku yang telah menikah dengan begitu karirku akan hancur total dan aku akan pergi jauh darimu, omma. Kau begitu kejam menjauhkan aku dari anakku selama bertahun-tahun bahkan mengatakan dia mati. Kau juga akan merasakan penderitaanku, omma. Restuilah kami! Jangan halangi kami. Anakku sangat membutuhkanku.”
EPILOG
Appaku, sejujurnya masih ganjal untukku ucapkan. Appaku melamar ommaku dengan cara yang membosankan. Dia hanya melamar di taman belakang villa nenekku. Appaku yang payah itu berhasil mendapatkan ommaku kembali hanya dengan makan malam ditemani lilin dan bunga. Sungguh aku binggung, kenapa appa yang kikuk terlalu serius itu bisa mendapatkan ommaku yang sangat menggumkan? Omma adalah wanita terkeren yang aku tahu. Appa sangat beruntung mendapatkan omma. Dan aku sangat beruntung terlahir dari rahimnya. Nenekku, masih tidak menyukai appa tapi nenek selalu baik pada appa jika aku memberikan senyumku padanya. Kata nenek, aku benar-benar mirip saat omma kecil.
Tidak seperti yang ditakutkan, masyarakat begitu menyukai pernikahan orang tuaku walau mereka tidak mengetahui yang sebenar-benarnya. Kami hanya memberikan informasi ‘GD si musisi muda menikah dengan CL ternyata punya ikatan keluarga dengan Kwon Jinyoung’ kami tidak ingin mereka inggung dengan hubungan keluarga kami. Mereka menganggap ommaku menikah dengan duda atau menikah dengan pemuda yang membesarkan adiknya, aku. Biarlah ini menjadi rahasia kami. Dan itu yang buat omma dan appa semakin terkenal. Bahkan mereka kini ada tawaran bernyanyi bersama.
Hari ini omma dan appa menikah. Mereka menikah secara sederhana disebuah hotel karena sebenarnya mereka telah menikah 13 tahun lalu. Karena itu mereka tidak perlu mendaftarkan lagi pernikahan mereka, mereka tidak pernah bercerai, tidak akan pernah. Omma terlihat cantik dengan baju tradisional korea, begitu juga appa. Mereka begitu serasi.
“kenapa kau menangis?”tanyaku pada Yuka.
“kau tahu? Oppamu begitu tampan dan dia menikah hari ini. Hari ini. Tentu saja aku sedih. Dia oppaku. Milikku.”cerita Yuka sambil menangis. Aku selalu di pusingkan dangan sikap Yuka.
“jika bukan sahabatku tidak akan aku izinkan kau masuk. Kau memalukan”kataku kesal sambil memberikan tissue padanya.
“gomawo, Jin Young!”kata Yuka menggambil tissuku.
“Jinyoung, apa kau mengenal oppa tampan itu? Bukankah dia penyanyi? Bisakah kau kenalkan aku dengannya?”kata Yuka semangat. Air matanya sudah kering. Kemana tangisnya tadi?
“yak, Yuka. Kau sunggu keterlaluan.”kataku.
“silahkan mempelai pria mencium mempelai wanita.”kata pendeta. Membuat aku dan Yuka tercekat. Kami langsung melihat serius, sungguh tidak ingin kehilangan momen ini.
Chu. Bibir appa hanya menimpel dibibir omma? Mwo? Apa-apaan ini? Mereka sudah punya anak sebesar ini kenapa malu di depan umum? Ini pernikahan mereka.
“tenang kau akan segera mendapatkan adik, aku yakin. Mereka seperti itu karena sudah lama mereka berpisah. Butuh sedikit waktu.”bisik nenek yang duduk disampingkuku, nenekku tersenyum. Aku juga tersenyum.
“kau ingin membantuku?”kata nenekku dengan senyum liciknya.
“tentu saja. Aku akan melakukannya.”kataku membalas senyuman licik nenekku. Aku tidak tahu appa yang direncanakan nenekku tapi, aku akan menurutinya agar aku segera punya adik. Aku rasa, punya adik itu tidak buruk.
END
Author: Kim Daisy
Cast : SKY DRAGON
Genre: family
Rate : T
pict : google
Akhir-akhir ini aku suka buat ff yang simple dan ringan. Semoga suka.
Aku menari sesuai irama musik tapi, tiba-tiba musik berhenti. Baru aku sadar orang sangat ramai melihat kami menari. Aku menari di jalanan bersama teman-temanku. Dan dia antara mereka ada sosok namja yang menatapku tajam.
"Oppa.."ucapku lirih saat melihat oppaku dihadapanku dengan ekpresi murkanya. Pasti dia yang meminta mematikan musiknya. Dengan cepat oppa menarikku, dia memegangku kuat di bagian pergelangan tanggan. Jika aku adalah boneka barbie, tangan ini pasti telah terputus dari tubuhku.
"Sudah berapa kaliku bilang untuk berhenti menari di depan umum, Jinyoung?"ucap oppa.
"Oppa, kalau audisi bolehkan?"pintaku.
"Tentu saja tidak!"
"Wae? Kan tidak didepan umum. Hanya ada aku dan juri."elakku sambil berusaha lepas darinya.
"Kau! Berani kau ulangi, uang jajanmu ku potong."ancam oppa.
“tidakku ulangi lagi."ucapku pasrah. Ini masalah uang jajan. Selain dari oppa, aku tidak mungkin dapat uang jajan dari orang lain. Hanya dia yang kupunya.
"Janji?"
"Janji."ucapku dengan berat hati. Oppa langsung memelukku. Aku mencintainya.
Langit gelap karena hujan turun. Oppa menemaniku dalam pelukannya di kasur kamarku.
“Oppa, kau tidak pergi dengan temanmu?”tanyaku sambil menatap wajahnya.
“bagaimana mungkin aku pergi jika aku tahu kau akan ketakutan saat hujan? Lagian sebagai penulis tidak perlu selalu sedia di studio.”jawabnya oppa sambil mengelus kepalaku.
“gomawo, oppa.”
Saat aku mau berangkat oppa telah siapkan sarapan untukku. Ini hal biasa yang dialakukan untukku. Menyuci, memasak, menemaniku, mendidikku, membiayaiku, dan membesarkanku, semua dia lakukan untukku. Lalu dimana ommaku? Omma pergi. Pergi kemana aku juga tidak tahu. Aku takut jika aku bertanya oppa akan sedih. Oppa tidak pernah mengenalkanku pada yeoja manapun. Dia hanya menghabiskan waktunya untukku dan pekerjaannya, sesekali dia berkumpul dengan temannya. Temannya sudah banyak yang menikah dan memiliki anak. Aku harap oppa segara menikah juga.
Aku menonton konser CL lewat komputer LED yang dibelikan oppa padaku. CL adalah idolaku. Dia memang orang korea tapi, sangat terkanal di Eropa, Amerika dan Jepang. Bahkan dia tidak menetap lagi di Korea sejak 13 tahun lalu. CL unnie adalah temanku saat aku sendirian di rumah karena oppa sering lembur malam. Tapi, anehnya aku tidak merasa kesepian.
"Ikuti cover lagu CL. Kamu bisa sedikit mengganti lirik atau nada agar lebih menarik."tertulis di layar ku.
"Hay aku CL! Aku akan adakan lomba cover laguku, pemenangnya akan bernyanyi denganku di salah satu lagu untuk album terbaruku. Ikuti lombanya ya.. aku menunggumu."ucap CL unnie sambil mengedipkan sebelah matanya membuat aku histeris seketika karena terpesona. Aku harus ikuti lomba ini! Oppa, aku pinjem studiomu. smile emotikon
@Sekolah
"Yak, apa yang kau lakukan? Kau buat puisi cinta? Untukku?"ucap Yuka santai. Yeoja berparas aneh ini temanku, mungkin. Bukan dia tidak cantik hanya saja wajahnya sangat sulit sekali mengeluarkan senyumnya jika tidak ada namja. Temanku ini sangat sulit tersenyum untuk yeoja.
"Aku gadis normal untuk apa aku menuliskan surat cinta untukmu? Yang benar saja."ucapku kesal.
"Oh"ucapnya santai.
"Apakah nanti kau akan mampir ke kantor uri oppa?"wajahnya berubah seketika hanya karena namja.
"Oppaku, bukan uri oppa. Kau tidak punya oppa."
"Kau pelit sekali. Kau tau, aku suka sekali dengan lagu ciptaan oppamu yang... "Yuka sangat menyukai Jiyong oppa. Yeoja blasteran Jepang ini bukan ingin jadi pacar atau istri oppaku tapi, karena dia sangat suka dengan karya oppaku yang seorang penulis lagu.
"..terakhir kali aku sempat berpapasan dengan Daesung oppa sebelum dia syuting. Senyumnya selalu berhasil membuatku meleleh. Taeyang oppa dia memintaku meramalnya, menurutmu apa aku harus berbohong dengan mengatakan jodohnya adalah aku?.. "Yuka, yeoja cerewet ini memang menyukai namja-namja yang di sebutnya tapi, yang dia cintai itu adalah TOP seorang model dan aktor, mungkin saja besok dia akan berubah dan menyukai Bobbi rapper di agensi Jiyong oppa berkerja.
"Yuka!"
"Hem."jawaban singkatnya.
"Kau cek kejiwaanmu sebelum bertemu mereka. Kau bisa mempermalukan uri oppa."
"Apa Jiyong oppa juga menyukaiku? Aku tidak akan pilih kasih. Aku mencintai oppa-oppaku dengan seimbang"
"Kau benar-benar konslet."
"Kejam."
"Yuka, aku butuh bantuanmu. Aku ingin ikut lomba dan aku butuh kau yang merekamnya."
"Kau terlalu muda untuk ikut lomba itu. Apa kau pernah membuat lagu sebelumnya?"
"Belum."
"Eyy.."
"Tapi, aku pasti menang."ucapku penuh percaya diri.
Aku sedikit merubah lirik saja karena aku sulit untuk mengubah musiknya. Aku hanya pemula. Oppa bisa saja membantuku tapi, itu tidak akan adil.
"Kau belum tidur?"itu suara oppa.
"Belum."jawabku sambil tersenyum. Aku begitu gembira.
"Kau sedang apa?"tanya oppa sambil duduk di kasurku.
"Menulis lagu."jawabku mantap.
"Kau tidak kerjakan PRmu? Kau sudah belajar?"introgasinya.
"Sudah, oppa... "
"Jangan tidur larut malam! Aku yakin kau bisa selesaikan dengan cepat karena itu jika aku kesini lagi kau belum tidur maka bersiap-siaplah untuk hukumanmu."ucap oppa dengan tegas.
"Ne, oppa!"
"Oppa, apa kau lelah?"tanyaku melihat wajah kusutnya. Oppa hanya tersenyum.
"Berkencanlah, oppa."
"Kau masih terlalu kecil untuk mengurusku."
"Karena itu setidaknya kau harus punya pacar."jelasku. Oppa tersenyum, tawanya hampir pecah.
"Aku akan berkencan malam ini."
"Mwo?”
"Ne. Dengan Dipie, DJ portable ku. Good night!"
"Kau tidak waras oppa!"
Jiyong pov
Aku masuk lagi ke kamarnya, dia sudah tertidur. Dia anak penurut sebenarnya hanya saja dia akan keras kepala dalam hal untuk mencapai mimpinya, menjadi produser musik, penulis lagu serta penyanyi. Dia menjadi gadis mandiri dan cerdas di hampir segala bidang karena gen ibunya terlalu kental di dalam dirinya hingga aku terkadang aku melihat ibunya di dirinya, jauh berbeda denganku yang hanya berbakat di musik. Untung saja bakatku bisa membiayai kami berdua, aku seakan menjadi single parent. Aku menghampiri dia yang tidur dikasurnya. Aku mengcup kening dan mengelus kepalanya. Lalu aku mendekat ke meja belajarnya. Selembar kertas tertulis sebuah lagu. Aku membaca sedikit liriknya, aku sudah yakin dia pasti bisa menulisnya dengan sempurna. Senyumku pun terukir begitu saja dan semakin tersenyum saat tertulis bahwa ini lagu CL. Dia sanggat mengidolakannya bahkan kamarnya penuh dengan pernak-perniknya. Bahkan dia rela bejalan kaki demi menghemat uang jajannya untuk membeli sebuah sepatu dari salah satu koleksi CL dan lucunya itu tidak sesuai dengan ukuran kakinya.
"Kau pasti bisa menjadi sepertinya suatu saat nanti."gumamku sebelum menutup pintunya.
Ponselku berdering, membuatku reflek mengangkatnya.
"Halo!"ucapku.
"Aku baru kembali. Bisakah kita bertemu?"
"Apa yang perlu kau bicarakan?"tanggapku.
"Aku akan datang diacara reuni, jika kau tidak ingin bertemu denganku maka aku tidak akan pergi."
"Kau tidak perlu repot. Aku bukan anak-anak seperti dulu. Aku akan datang dan aku tidak ada masalah dengan kedatanganmu. Lagian, tidak ada yang tahu dengan hubungan kita dimasa lalu."
"Gomawo. Selamat malam."
Percakapan pun terputus, aku merindukannya bahkan aku bisa mengetahui bahwa itu dia.
Aku masih mencintainya.
Aku datang ke acara reuniku, bersama Taeyang tentunya.
"Yak! Yang lain menggandeng istri dan suami masing-masing tapi, kenapa kalian datang berdua?"tegur Yojin, dia salah satu teman baik kami sejak dulu.
"Kau sendiri? Kau pikir kau punya suami?"kalimat santai tapi, menusuk keluar dari mulut seorang Taeyang membuatku tertawa lepas. Tidak biasanya dia banyak bicara bahkan dengan kata-kata pedas seperti ini. Aku hanya bisa menikmati situasi seperti ini jika Taeyang dan Yojin bertemu, mereka selalu seperti ini sejak dulu. Bahkan peceraian mereka tidak ada yang membuat hubungan mereka berubah, mereka masih terlerlihat seperti teman baik.
"Aku memang sudah bercerai tapi, aku membawa pacarku."katanya sambil melambai pada seorang namja dan namja itu tersenyum manis.
"Mwo?? Mitra hyung?"ucap kami kaget.
"Di umur kalian masih datang dengan setatus single, sungguh memalukan. Bahkan Jiyong sudah menerima undangan ulang tahun anak Soyun. Dia mengira adikmu itu anakmu, hehe.. " kicaunya Yojin memang amat cerewet tapi, dia yeoja baik. Yah, aku memang mendapatkan undangan itu.
"Kau masih cerewet seperti dulu."ucap Taeyang geleng-geleng dan Yojin kembali bercerita sedangkan aku terpaku melihat yeoja yang kurindukan berdansa mesra dengan seorang namja.
"Lihat, Chaerin menjadi sorotan. Selain karena dia menang penghargaan dunia tapi karena gandengannya. Kau kan artis seharusnya kau membawa salah satu aktis sebagai gandenganmu. Kau cemburu melihat Chaerin?"kata Yojin pada Taeyang.
"Kenapa aku?"taeyang tampak binggung.
"Kan kau yang di gosipkan berpacaran dengannya"
"Itu tidak benar. Kami tidak ada hubungan seperti itu."
"Oh, baguslah. Aku takut kau patah hati."
"Kenapa? Apa itu kekasihnya?"
"Aku tidak terlalu tau tapi, kabarnya mereka akan bertunangan."
"Semoga kau bahagia, Lee Chaerin."ucapku dalam hati.
JIN YOUNG POV
Aku menggunakan salah satu kostum-kostum yang dibelikan Taeyang oppa saat konser keliling dunia. Sekarang aku siap.
"Anyounghaseo! Kwon Jin Young imnida. Aku adalah seorang pelajar. Aku mengarasemen lagu ini sendiri karena aku sudah belajar membuat lagu sejak dulu dengan uri oppa. Aku sangat mengidolakan CL unnie. Oh ya.. untuk proses membuat vidio ini, Yuka sahabatku yang merekamnya."jelasku bersemangat.
Dan setelah itu waktuku habis untuk mengedit vidioku, ini saat menyenangkan.
------
Vidio telah ku kirim, aku tidak sabar menunggu hasilnya. Ini sudah 3 bulan sejak penutupan pengiriman vidio itu. Katanya hari ini pengumumannya dan aku dari tadi sibuk mengecek email dari ponselku.
"Kwon Ji Young diminta ke ruang kepala sekolah sekarang."sebuah suara yang keluar dari speker kelas.
"Kenapa kau dipanggil?"tanya Yuka penasaran.
"Molla."jawabku sambil mengangkat bahuku. Dengan malas aku berjalan ke ruang ke pala sekolah. Aku mengetuk pintu dan pintu segera terbuka. Melihat orang yang membukakan pintu untukku membuatku terjatuh karena lemas. CL disini. CL unnie tersenyum manis padaku. Ayolah, jangan seperti ini. Ini semakin membuatku sulit berdiri. CL unnie dengan senyuman manisnya menghampiriku dan membantuku berdiri.
"Apa aku menang?"tanyaku membuat mereka di ruangan ini menjawab "ya". Sontak aku loncat sambil bersorak senang. Aku melupakan kamera yang dari tadi merekamku. Aku tidak peduli jika aku nanti tidak dapat jodoh karena rekaman ini.
"Kami datang kesini karena kamu pemenang ke tiga dalam lomba ini. Selama kami disini menunggumu tadi kami diberi tahu tentang prestasimu. Kau sungguh anak yang mengagumkan."jelas seorang yeoja yang aku yakin adalah MC.
"Oppa aku akan pulang agak terlambat."kataku langsung menggunakan telepon setelah sadar dengan situasi.
"Wae?"
"Ada latihan drama."bohongku. Aku takut oppa marah dan menghentikanku karena itu aku memilih berbohong.
“ok. Sampai jumpa di rumah.”kata oppa dan aku langsung memutuskan samungan.
Kami makan bersama untuk saling mengenal. Pemenang pertama dan kedua adalah mahasiswa di bidang seni. Wajar mereka menang. Dan aku satu-satunya pemenang anak sekolah dasar.
"Sebenarnya lagumu tidak terlalu bagus dibanding kontestan lain tapi, untuk anak seusiamu itu sangat luar biasa. Kau kreatif dan berani."komentar PD acara ini padaku. Aku pun tersenyum padahal rasanya aku ingin berloncat girang. Ini karena aku terlalu lemas untuk loncat girang, aku sudah cukup hiperaktif tadi.
Beberapa hari kemudian kami melakukan rekaman. Kata PD vidio yang aku kirimkan sudah bagus jadi MV nya hanya diambil dari kiriman vidioku dan pastinya dilakukan pengeditan.
CL menetapi janjinya untuk bejalan bersamaku. Kami menonton bioskop dan makan bersama. Ini sangat menyenangkan. Tapi, hujan lebat turun. Aku meminta CL unnie istirahat di rumahku. Dan unnie setuju. Baru saja kami masuk dan menyiapkan hot chocolate, Jiyong oppa pulang. Oppa terdiam begitu juga dengan unni, mereka terlihat canggung.
"Kalian saling kenal?"tanyaku.
"Tidak" "ya" jawab mereka bebarengan tapi, berbeda.
"Ji, apakah Jin young anak kita? Aku sudah curiga sejak awal."
"Tidak."
"Lalu siapa ibunya?"
"..."
"Ommamu sudah meninggal 15 tahun lalu. Appamu, kau bahkan membencinya sejak kau kuliah. Kwon Jin Young, anak siapa? Kau jangan berbohong! Aku tidak bodoh, kwon Jiyong!"
"Aku selalu menangisi anakku. Mereka bilang anakku mati. Tapi, aku sangat yakin anakku masih hidup. Jika Jiyoung bukan anak kita untuk apa kau bersembunyi dariku? Usianya cocok dengan anak kita. Aku akan membawa Jiyoung hingga kau mengaku."ucap CL unnie lagi sambil menarikku. Sialnya aku diam kaya boneka dan oppa menatap unnie dengan menyesal. Oppa tidak menahan kami.
"Unnie, mengenal oppa?"tanyaku binggung.
"Dia bukan oppamu dan aku bukan unnie. Dia appamu dan aku ommamu. Aku tahu kau pasti kaget, kita semua keget. Sekarang masuklah."kata Cl unnie sambil membuka pintu mobilnya untukku.
Sesampai di rumah CL unnie, unnie memelukku. Unnie meminta maaf dan menceritakan semuanya hingga dia melahirkanku.
"Lalu, apa yang harusku lakukan? Aku harus memanggil kalian siapa? Aku harus memihak pada siapa?"tanyaku.
"Tidak ada. Kau hanya perlu tetap bersamaku saat ini hingga appamu itu datang baru kita lihat selanjutnya. Bukankah sudahku bilang untuk memanggilku omma."jelas unnie. Anni, omma.
"Omma masih mencintai uri oppa?"
"Appa!"perbaikinya dan aku mengagguk. Omma menutup matanya dan tersenyum sebagai jawaban. Tidak perlu kata-kata aku mengerti omma mencintai oppa yang kini harus kupangil appaku.
"Bagaimna tunanganmu, omma?"
"Dia? Haha.. kami tidak ada hubungan apa-apa . Kami seperti itu hanya untuk membuat penyihir itu diam, maksudku nenekmu. Dia selalu menentang hubungan kami, aku dan appamu. Aku yakin dia juga yang mengirimu pada appamu. Sekarang, mandilah. Aku sudah memesan piama untukmmu."kata omma.
Saat mandi aku masih berfikir, aku masih binggung. Bagaimana mungkin oppa yang selama ini aku memanggilnya kini harusku panggil appa. Ya, appa. Appa pasti menderita, CL unnie yang ternyata ommaku pasti juga begitu dan aku jadi binggung.
"Jin young sayang.. apakah kau sudah selesai? Appamu menelpon."kata omma, lidahku masih kaku untuk memanggil mereka omma dan appa. Apa aku harus baahagia atau marah? Aku binggung.
"Ne!"kataku dan akhirnya aku keluar dengan mengenakan piama yang telah disediakan. Omma memberikan ponselku.
"Jinyoung!"ada nada cemas disana.
"Ne."jawabku.
"Kau baik-baik saja?"
"Ne."jawabku.
"Kau pasti binggung."
"Ne. Oppa, apakah sekarang aku harus memanggilmu dengan panggilan appa?"
"Aku tak memaksa. Tapi, kau memang anak kami. Aku tidak bisa berbohong lagi. Apa ommamu ada disana?"kata appa, sungguh aku harus sangat membiasakannya. Omma menggeleng meminta aku merahasiakan.
"Anni."
"Apa ommamu memintamu meninggalkanku?"
"Anni. Omma bilang kau harus kesini. Appa."
"Haha.. kau tidak terbiasa memanggilku appa. Padahal dari dulu aku menantinya. Sekarang tidurlah. Secepatnya aku akan bicara dengan ommamu. Selamat malam."
Telepon pun terputus.
"Dia menyuruhmu tidur?"
"Ne."
"Kajja. Aku ingin tidur sambil memelukmu."kata omma sambil merapikan bantal. Aku langsung tiduran dan omma tidur disampingku sambil memelukku. Begini rasanya dipeluk omma. Seketika membuatku tenang dan nyaman.
"Tidurlah. Besok banyak ceritamu yang inginku dengar."kata omma.
"Omma. Appa sepertinya masih mencintaimu karena dia tidak pernah dekat dengan yeoja bahkan aku pernah khawatir dia homo. Aku tidak ingin menyakitinya, aku rasa ini info penting."kataku sambil menutup mataku. Aku sangat mengantuk.
"Haha.. kalau begitu akan lebih mudah untuk kita memulai semua dari awal."
"omma ingin kalian bersama lagi lalu menikah?"
"Ya, seperti itu tapi, dengan cara berbeda. Bersiaplah untuk besok, my prinssces."
"Omma, kau akan berkelahi dengan nenek?"
"Anni. Karena aku akan mengunakanmu sebagai prisai. Seorang ibu memang sangat menyayangi anaknya tapi, dia tidak akan sanggup melawan jika berhadapan dengan cucunya. Kau hanya perlu duduk dan tersenyum manis maka kau akan mendapatkan hati nenekmu. Setelah itu kita bisa bersama."
"Semudah itu?"
"Tidak. Tapi, itu juga tidak akan sulit karena aku bersamamu. Sekarang tidurlah."kata omma sambil mengelus kepalaku.
AUTHOR POV
Keesokkan harinya Jiyong segera menemui Chaerin di rumahnya lewat informasi dari Jinyoung. Jinyoung segara berlari memeluk Jiyong. Chaerin berdiri di belakang Jinyoung. Sadar dengan situasi Jinyoung menarik Jiyoung ke kursi lalu meninggalkan appa-ommanya berdua.
FLASH BACK
“kau begitu sempurna. Untuk apa kau membuang waktumu untukku? Kau tidak mengenalku. Aku tidak punya apa-apa selain cinta tulus. Karena itu akhiri saja hubungan ini.”kata Jiyong menahan perasaannya.
“apa kau tidak mencintaiku?”Tanya Chaerin menyembunyikan rasa takutnya, takut kehilangan.
“cinta itu lupakan saja karena kau akan menderita hidup denganku yang miskin.”
“bagaimana jika aku mengikatmu? Aku hamil.”
“ibumu tahu?”
“tidak”
“lalu bagaimana? Kau akan tinggal denganku. Bukan aku mengusirmu hanya saja aku tidak punya apa-apa. Apa kau mau bertahan dengan aku yang miskin?”
“ya, tentu karena aku memilihmu, kau takdirku”kata Chaerin yakin dan Jiyong memeluknya hangat.
Flasback end
“aku kira kau melemparku karena aku hamil. Ternyata kau menungguku hingga Jinyoung lahir?”kata Chaerin. Mereka sangat jarang bertemu apa lagi berbicara sehingga suasana kaku menyelimuti.
“aku sungguh tidak ingin berbohong lagi. Ya, aku menetap disana hingga kau pergi ke Prancis tepatnya saat Jinyong berumur 3 tahun.”jawab Jiyong seadanya. Dia hanya bisa mengatakan sebenarnya karena dia juga merasakan hal yang sama dengan Chaerin, canggung.
“jinyong pernah menanyakan ommanya?”
“Saat di Jepang, sesekali aku membawa Jinyoung dan mengenalkan bahwa kau ibunya walau dari jarak jauh. Dia bertanya kenapa kau tidak bersama kami, biasanya aku akan menjawab karena kau terlalu sibuk. Saat kau akan pergi ke Prancis, aku menjelaskan bahwa dia tidak bisa menemui lagi walau dari jarak jauh. Sejak saat itu dia tidak bertanya lagi tentang ibunya. Walau bagitu dia tidak mengenalimu sebagai ibunya. Dia anak yang cerdas, takut melukaiku sehingga dia tidak bertannya.”
“Dia memanggilmu dengan ‘oppa’ dia tidak bertanya tentang ayahnya?”
“di Jepang dia memanggilku ayah. Sejak kami pindah ke Korea dia memanggilku oppa karena tetangga kami memanggilku ‘oppa Jinyoung’. Lalu dia teribiasa memaggilku oppa. Walau begitu dia tahu aku ayahnya.”
“benarkah? Dia cukup terkejut saat aku bilang kau ayahnya.”
“itu karena dia tidak percaya dengan semua yang terjadi begitu cepat. Aku tidak pernah memanipulasi identitasnya. Aku menuliskan Kwon Jiyonng ayahnya dan Lee Chaerin ibunya tapi, tidak ada yang menyangka. Mereka masih memanggilku oppa Jinyong.”
“kenapa kau sembunyi dan tidak menghubungiku? Tidak memberitahu bahwa ada Jinyoung?!”
“karena aku tidak ingin kau menngalami kesulitan. Kau tahu, aku hanya orang biasa.”
“well, kau sekarang adalah GD produser music dan penulis lagu terkenal. Kau sudah cukup mampu untuk memenuhi kebutuhanku, istrimu. Kau tidak tahu sakitnya aku harus menerima kenyataan? Setelah aku melahirkan ibuku memberikan surat keterangan kematian anakku. Aku yakin anakku masih hidup tapi, aku selalu ditekan untuk mempercaya kematian anakku. Walau begitu aku selalu yakin anakku masih hidup, aku mencarinya selama ini. Dan tanpa sengaja aku bertemu dengannya. Kau tidak tahu perasaanku?”
“maafkan aku, aku menyesal. Karena itu aku mengizinkanmu bersama Jinyoung sementara waktu.”
“izinkan aku selalu bersamanya.”
“aku tidak bisa berlama-lama berpisah dengannya.”
“aku juga begitu. Aku tidak mungkin meninggalkannya lagi. Jika begitu, bagaimana jika kita mulai hubungan kita kembali?”
“kau gila? Karirmu? Tunanganmu?”Tanya Jiyong dengan suara meninggi. Dia masih mencintai Chaerin tapi, untuk kembali bersama dia tidak ingin bermimpi terlalu tinggi.
“kau menolakku? Berhenti berbohong! Jinyoung sudah bilang bahwa kau tidak bisa melupakanku. Tatapanmu juga tidak berubah. Tunangan? Itu hanya alat untuk meredam emosi ibuku. Namja itu juga melakukannya untuk uang.”
“kau bisa mengatasi ibumu?”
“aku akan menggunakan Jinyoung.”ucap Chaerin yakin.
“jangan lukai Jinyoug dia cukup kaget dengan kondisi ini! Jika dia anak lain mungkin dia akan membenci kita.”kata Jiyong tidak terima. Menurut Jiyong ini kejam.
“itu karena dia sepertiku, dia yeoja tangguh dan kau mendidiknya dengan baik. Aku tidak mungkin menyakitinya. Aku akan menarik perhatian paparazi dengan kedekatanku dengan JinYoung. Masyarakat akan penasaran. Aku akan mengancam omma. Omma pasti tidak ingin masyarakat tau yang sebenarnya. Lalu kita akan benar-benar menikah. Tidak seperti dulu yang hanya ada saksi dan pendeta.”Chaerin menjelaskan secara singkat tapi, Jiyong mengerti pemikiran Chaerin karena mereka memiliki ikatan.
“ kau berfikir semudah itu? Bagamana jika ommamu melukai Jinyoung atau aku?”
“aku akan pastikan omma tidak akan mampu menyakiti cucunya. Jika kau yang akan dia sakiti, itu urusanmu.”jawab Chaerin sambil sedikit bercanda. Berusaha menghapus suasana kaku ini.
“ya aku mengerti. Hahaha.. kau tidak berubah.”kata Jiyong sambil tersenyum. Mereka saling menatap. Memberikan tatapan yang lekat sambil menikmati debaran jantung yang tidak pernah berubah jika mereka bersama. Cinta itu masih ada dan saling mereka jaga.
“yah, aku tidak berubah dan aku masih mencintaimu. Karena itu ayo kita berjuang bersama! Jangan membohongi dirimu sendiri lagi.”terang Chaerin. Sedikit memaksa dan tidak tahu malu tapi, sikapnya ini tepat karena Jiyong bukan orang yang cepat tangap jika menatap wajah Chaerin.
“yah, kau juga masih menjatuhkan harga diri sebagai wanita di depanku. Lain kali biarkan aku yang mengatakan ‘aku mencintaimu’ terlebih dulu.”
“ya, nanti. Saat kau melamarku lagi.”
“baiklah aku setuju. Kali ini aku tidak ingin hidup sebagai pengecut lagi yang bersembunyi dari wanita yang aku cintai. Aku mencintaimu, sejak dulu hingga sekarang.”
@rumah omma Chaerin
‘setelah album CL di keluarkan telah di komfrimasi sebelumnya bahwa tiga musisi pendatang baru yang ikut andil dalam albumnya. Tiga musisi itu adalah pemenang dari lomba yang dilakukan sebelumnya dan salah satu mereka, Kwon Jinyoung hanya lah anak yang duduk di bangku Junior High School. Walau begitu dia sangat berbakat hingga menarik perhatian CL. Menurut teman-temannya, Jinyoung adalah penggemar berat CL. Ini adalah beberapa koleksi Jinyoung yang berada dikamarnya. Tapi, menarik adalah CL dan Jinyoung sering terlihat bersama dan jika diperhatikan mereka memiliki kemiripan secara fisik.’ TEET. Televisi yang sejak tadi berbunyi pun telah mati.
“ya, kau benar omma. Dia anakku. Aku akan menikah dengan Jiyong oppa, lagi.”kata Chaerin saat melihat ommanya mematikan televisi.
“ kau gila? Bagaimana masa depanmu? Karirmu? Kau tidak memikirkan perasaan tunanganmu?”histeris omma Chaerin.
“kami tidak benar-benar bertunangan. Pertunangan kami hanya bisnis. Aku dapat membuat omma tenang dan dia banyak dapat perkejaan karena menjadi tunanganku. Masalah karir perlahan akan kembali asal aku tidak mengatakan yang sebenarnya. Aku harus menikah lagi dengan Jiyong oppa, omma. Keluargaku yan terpenting. Anakku, membutuhkanku. Tapi, jika kau tidak mengizinkanku aku akan memberiakan kebenaran aku yang telah menikah dengan begitu karirku akan hancur total dan aku akan pergi jauh darimu, omma. Kau begitu kejam menjauhkan aku dari anakku selama bertahun-tahun bahkan mengatakan dia mati. Kau juga akan merasakan penderitaanku, omma. Restuilah kami! Jangan halangi kami. Anakku sangat membutuhkanku.”
EPILOG
Appaku, sejujurnya masih ganjal untukku ucapkan. Appaku melamar ommaku dengan cara yang membosankan. Dia hanya melamar di taman belakang villa nenekku. Appaku yang payah itu berhasil mendapatkan ommaku kembali hanya dengan makan malam ditemani lilin dan bunga. Sungguh aku binggung, kenapa appa yang kikuk terlalu serius itu bisa mendapatkan ommaku yang sangat menggumkan? Omma adalah wanita terkeren yang aku tahu. Appa sangat beruntung mendapatkan omma. Dan aku sangat beruntung terlahir dari rahimnya. Nenekku, masih tidak menyukai appa tapi nenek selalu baik pada appa jika aku memberikan senyumku padanya. Kata nenek, aku benar-benar mirip saat omma kecil.
Tidak seperti yang ditakutkan, masyarakat begitu menyukai pernikahan orang tuaku walau mereka tidak mengetahui yang sebenar-benarnya. Kami hanya memberikan informasi ‘GD si musisi muda menikah dengan CL ternyata punya ikatan keluarga dengan Kwon Jinyoung’ kami tidak ingin mereka inggung dengan hubungan keluarga kami. Mereka menganggap ommaku menikah dengan duda atau menikah dengan pemuda yang membesarkan adiknya, aku. Biarlah ini menjadi rahasia kami. Dan itu yang buat omma dan appa semakin terkenal. Bahkan mereka kini ada tawaran bernyanyi bersama.
Hari ini omma dan appa menikah. Mereka menikah secara sederhana disebuah hotel karena sebenarnya mereka telah menikah 13 tahun lalu. Karena itu mereka tidak perlu mendaftarkan lagi pernikahan mereka, mereka tidak pernah bercerai, tidak akan pernah. Omma terlihat cantik dengan baju tradisional korea, begitu juga appa. Mereka begitu serasi.
“kenapa kau menangis?”tanyaku pada Yuka.
“kau tahu? Oppamu begitu tampan dan dia menikah hari ini. Hari ini. Tentu saja aku sedih. Dia oppaku. Milikku.”cerita Yuka sambil menangis. Aku selalu di pusingkan dangan sikap Yuka.
“jika bukan sahabatku tidak akan aku izinkan kau masuk. Kau memalukan”kataku kesal sambil memberikan tissue padanya.
“gomawo, Jin Young!”kata Yuka menggambil tissuku.
“Jinyoung, apa kau mengenal oppa tampan itu? Bukankah dia penyanyi? Bisakah kau kenalkan aku dengannya?”kata Yuka semangat. Air matanya sudah kering. Kemana tangisnya tadi?
“yak, Yuka. Kau sunggu keterlaluan.”kataku.
“silahkan mempelai pria mencium mempelai wanita.”kata pendeta. Membuat aku dan Yuka tercekat. Kami langsung melihat serius, sungguh tidak ingin kehilangan momen ini.
Chu. Bibir appa hanya menimpel dibibir omma? Mwo? Apa-apaan ini? Mereka sudah punya anak sebesar ini kenapa malu di depan umum? Ini pernikahan mereka.
“tenang kau akan segera mendapatkan adik, aku yakin. Mereka seperti itu karena sudah lama mereka berpisah. Butuh sedikit waktu.”bisik nenek yang duduk disampingkuku, nenekku tersenyum. Aku juga tersenyum.
“kau ingin membantuku?”kata nenekku dengan senyum liciknya.
“tentu saja. Aku akan melakukannya.”kataku membalas senyuman licik nenekku. Aku tidak tahu appa yang direncanakan nenekku tapi, aku akan menurutinya agar aku segera punya adik. Aku rasa, punya adik itu tidak buruk.
END
Tidak ada komentar:
Posting Komentar