PSYCHO GIRLFRIEND
Author: Kim Daisy
Cast: SkyDragon
Rate : PG-17
Lenght : oneshot
warning!! FF ini hanya fiksi. Berbeda dengan FFku yang lain, FF ini hanya sebagai hiburan tanpa nilai moril.
------------------
Aku selalu disampingnya, aku mengawasinya, aku mengontrolnya,dan aku buat dia tidak akan bisa lepas dariku. Aku sebut itu cinta.
Hari ini dengan semangat aku sudah berada di dapur rumah keluarga Kwon, keluargaku kelak. Ibu nya Jiyong yang biasa aku panggil ‘omma’ juga semangat menemaniku dengan senyum bahagianya.
“sayang, kau bangunkan saja Jiyong. Biar omma yang akan melanjutkannya.”kata omma menyenggol pundakku dan memberikan senyum penuh arti. Aku pun membalas senyum omma.
“baik, omma.”kataku langsung bergegas menuju kamar kekasihku, Jiyong oppa.
Aku memasuki kamar bernuansa putih dan hitam, terkesan pria banget. Jika nanti aku sudah menjadi istrinya maka aku akan mengubah semuanya. Tidak akan ku izinkan warna membosankan itu menjadi dominan di kamar kami.
“oppa.. bangun.”kataku sambil mengoyangkan bahunya. Jiyong oppa dengan malas membuka matanya.
“pagi-pagi kenapa kau ada disini?”tanyanya dengan suara serak khas bangun tidur.
“kau minum tadi malam?”
“bukan urusanmu, anak kecil.”katanya sambil bangun dari kasurnya dan masuk begitu saja ke kamar mandi.
Di mejanya masih di pajang fotonya dan wanita jelek itu, wanita yang katanya adalah pacarnya. Dari pada foto mesra mereka malah terlihat seperti pangeran dan teman gaynya. Oppa, apakah matamu sudah rusak? Apakah otakmu tertinggal di suatu tempat hingga tidak bisa mengetahui wanita yang pantas untukmu atau tidak?
Seperti biasa aku pergi kerja di antar dengan Jiyong oppa tapi, wanita yang tidak inginku sebut namanya juga ikut bersama kami. Katanya mobilnya perlu kebengkel. Tapi, aku yakin itu hanya sebuah dongeng jelek karangannya.
“selamat berkerja.”kata Jiyong oppa sambil mengecup kening wanita itu saat wanita itu sampai di kantornya. Ck, wanita? Jika dia tidak mengenakan rok pendek itu dia akan sulit di bedakan dengan pria. Terlalu datar seperti papan.
“menjijikan.”kataku begitu saja dan menatap tajam wanita itu.
“jika kau punya kekasih, kau juga akan seperti kami Chae.”kata Jiyong oppa tersenyum hangat tapi, tidak berhasil mengusir kekesalanku.
“ya, sayangnya kekasihku itu sedang tidak mempedulikanku.”kataku keasal. Jiyong oppa kembali menghidupkan mobilnya.
“Chae, kau wanita yang mengagumkan. Tidak ada pria yang menolak cintamu.”
“tapi, kau menolakku.”kataku dengan nada dingin.
“kita tidak saling mencintai Chae.”
“kau juga mencintaiku, oppa.”kataku santai dan mobil mendadak berhenti.
“tolong, Chae. Aku tidak ingin kau terlalu banyak berharap. Kau gadis yang baik, ceria, mengemaskan dan cerdas walau sikap dingin dan menjengkelkan itu selalu muncul di saat..”
“jangan sebut nama wanita pengoda itu! kau membuatku alergi oppa!”jelasku sebelum dia menyebutkan nama yang membuatku merinding. Wanita itu benar-benar hebat bukan? Namanya saja bisa membuatku alergi.
“aku mohon, Chae jangan bersikap konyol! Aku lebih suka sikap manismu seperti biasa jika tidak ada kekasihku.”kata Jiyong oppa sambil menjambak rambutnya sendiri, dia terlihat frustasi dan itu terlihat lucu bagiku.
“kau hidupku, oppa. Sekarang antarkan aku ke kantor. Aku bisa telat.”kataku seakan tidak peduli. Aku memang harus menutup telingaku saat oppa seperti ini.
----------
Wanita yang membuatku alergi itu tiba-tiba mendatangi apartemenku. Aku dengan santai mengizinkannya masuk tapi, aku harus mengusirnya dari hidup Jiyong oppa.
Plak.
Wanita si**an itu menamparku saat aku baru saja membiarkannya masuk ke rumahku. Aku tersenyum sinis.
“kau membuat Jiyong tertekan. Berhentilah menggodanya. Kau sudah dibuangnya. Kau hanya sampah. Kenapa kau masih mengejarnya? Apakah kau tidak tahu malu?”katanya penuh amarah.
“wah.. buah tangan yang bagus. Menurutmu, apa kata keluarga Jiyong oppa jika mereka tau kau menamparku? Kau tidak lupakan bahwa keluarga Jiyong oppa sangat-sangat-sangat menyukaiku?”godaku.
“aku hanya ingin menyadarkanmu. Lagian aku memiliki cinta Jiyong.”
“itu hanya ilusimu. Cinta Jiyong oppa padamu akan menghilang segera karena itu hanya sebuah ilusi yang kau ciptakan.”kataku sambil tersenyum sinis dan menatapnya dengan tatapan intimidasi.
“dasar gila!”kata wanita itu pergi begitu saja. Aku akan mengirimkan hadiah untukmu sebagai balasannya.
-----------------
Jiyong Pov
Aku baru saja keluar dari kantorku, berencana untuk langsung pulang. Tapi, ponselku berdering dan ada panggilan dari omma.
“kenapa omma?”kataku setelah mengangkat telepon omma. Ada terdengar suara gadis yang menangis pilu disana.
“Jiyong, tadi wanita pengoda itu datang ke aparteman Chaerin menampar dan menghancurkan apartemen Chaerin.”kata omma dengan suara terdengar sedih serta cemas.
“bagaimana keadaan Chaerin?”
“omma menemaninya sejak tadi tapi dia masih shock, pipinya memar dan dia belum tenang sejak tadi. Kau segera putuskan dia. Omma tidak mau dia menyakiti menantu omma. Jika kau masih bersamanya sama saja kau menginginkan omma mati.”kata omma dengan tegas dan menutup telepon.
“akh!”teriakku frustasi. Chaerin adalah anak dari sahabat keluargaku. Aku mengenal Chaerin sejak dulu dan keluargaku sangat menyukainya. Omma akhir-akhir ini selalu mencoba menjodohkanku dengan Chaerin walaupun omma tau bahwa aku memiliki kekasih yang sangat aku cintai.
Aku rasa aku harus langsung menemui kekasihku, aku harus mendapatkan penjelasan darinya. Aku tidak ingin terjadi kejadian yang lebih buruk dari pada ini.
-------------------------- ------------
Rumahnya terlihat sepi, kubuka pintu rumahnya yang tidak terkunci. Terdengar suara decapan membuatku segera berfikir yang tidak-tidak.
“ah... lebih cepat.. yah... Sebentar lagi.”kata seseorang yang terdengar seperti suara kekasihku. Dan dia mendesah.
“ah.. ya..”desahannya lagi dan ada suara pria. Dengan perlahan aku mendekati kamarnya yang tidak di tutup. Sial. Aku melihat adegan menjijikan.
“kau menampar Chaerin dengan alasan cemburu lalu kau berselingkuh dengan mantan kekasihmu. Kau sungguh luar biasa. Jangan tunjukkan wajahmu lagi!”kataku dan pergi begitu saja membuat mereka berhenti melakukan aktifitas mereka. Aku tidak peduli.
Fikiranku kacau. Aku bersalah pada Chaerin. Aku bersalah pada orang tuaku. Aku bertengkar dengan keluargaku hanya karena wanita murahan itu? akh! bertapa bodohnya aku. Sekarang aku harus ketempat Chaerin untuk minta maaf dan melihat kondisinya.
--------------
Author Pov
Omma memeluk Chaerin dengan hangat sambil mengelus kepalanya.
“kau tidak marah dengan sikap bodoh Jiyong kan sayang?”kata omma Jiyong lembut. Chaerin menganggukan kepalanya pelan. Wajah Chaerin masih sembab karena tangisannya dan pipinya sedikit bengkak dan memerah.
“aku sudah meminta Jiyong untuk meninggalkan wanita anarkisnya itu. akh... memikirkan mereka bersama bisa membuatku gila dan segera mati. Sayang bagaimana jika kita kerumah sakit dulu. Pipimu ini harus di periksa dokter.”kata omma Jiyong lembut.
“tidak apa-apa omma, besok juga sudah baikan.”jawab Chaerin dengan senyuman.
“oh, bidadariku sayang maafkan omma.”kata omma Jiyong sambil mencium kedua pipi Chaerin dan Chaerin tersenyum lembut.
“omma tidak salah. Tapi, penyihir jahat itu. Aku takut omma.”kata Chaerin sambil memeluk omma Jiyong.
Terdengar suara pintu dibuka. Tidak lama muncul sosok Jiyong yang terlihat berantakan dengan baju kerjanya.
“omma, bereskan ruang tamu dulu banyak terjadi kerusakan karena wanita iblis itu.”jawab omma Jiyong dengan menyindir Jiyong.
Tempat duduk yang diduduki omma telah kosong tadi kini di duduki Jiyong.
“maafkan aku. Aku menyakiti adikku sendiri. Sekarang aku sadar dia tidak pantas untukku. Karena dia aku meninggalkan keluargaku. Maafkan aku yang bertengkar denganmu karena dia. Sekarang aku akan pastikan dia tidak akan mengganggumu lagi.”kata Jiyong penuh penyesalan.
“oppa...”kata Chaerin memeluk Jiyong sambil menangis.
Keesokan paginya Chaerin bangun tidur dengan mata bengkak. Disampingnya ada Jiyong yang menemaninya. Tangan Chaerin masih memegang ujung baju Jiyong seakan tidak ingin dilepas sebagai petanda ketakutannya semalam dan kini dilepaskannya pegangan itu. Chaerin bangkit dari kasurnya perlahan, mengulung rambut panjangnya hingga membentuk cepolan. Kaki indahnya setelah mendengar suara bel. Chaerin membuka pintu rumahnya dengan perlahan. Tapi, tidak ada siapa-siapa di depan rumahnya dan hanya meninggalkan sebuah kotak berukuran sedang di depan. Di raihnya kotak tersebut dan membawanya masuk dan tak lupa untuk menutup pintunya.
“siapa?”tanya Jiyong yang baru saja keluar dari kamarnya.
“aku juga tidak tahu, oppa. Oppa tidak ke kantor?”tanya Chaerin sambil menatap Jiyong yang berjalan menuju kulkas.
“nanti saja. Aku akan datang siangan. Kenapa tidak kau buka? Kau takut ketawan padaku bahwa kau punya pengagum rahasia?”canda Jiyong.
“aku tidak pu.. Aaaaaaaaaaaa...”kata Chaerin dengan kekehan pelan terputus dengan teriakannya cukup keras.
Burk! Kotak sedang itu jatuh ke lantai. Jiyong berlari dengan cepat menuju Chaerin. Jiyong yang panik langsung memeluk Chaerin yang histeris ketakutan.
“ada apa?”tanya Jiyong cemas. Tangannya mengelus dan memeluk Chaerin untuk menenangkan Chaerin.
“kotaknya. Kotaknya, oppa.”kata Chaerin dengan nada suara menunjukan ketakutan. Chaerin mendekatkan wajahnya ke dada Jiyong, bersembunyi disana. Jiyong meraih kotak tersebut. Kotak dengan foto Chaerin yang di gores kasar hingga hapir koyak dan ada cairan merah kental yang menegeluarkan bau khas darah. Jiyong membaca sebuah pesan di kertas kecil tersebut. Sebuah pesan yang bertuliskan memerintah Chaerin menjauhi Jiyong. Jiyong merasa tidak asing dengan tulisan ini hanya saja dia berfikir untuk menenangkan Chaerin yang kini menangis di pelukannya.
Semenjak hari itu hari-hari Chaerin terus terusik dengan terror.Chaerin banyak mendapatkan teror bahkan dapat paket kelinci yang mati dengan darah, kaca rumahnya di lempar batu cukup besar dan hampir tetabrak motor. Untuk saja Jiyong selalu bersamanya.
“kita tidak bisa seperti ini terus, Ji.”kata omma Jiyong cemas dengan keadaan Chaerin yang ketakutan.
“kita sudah melapor polisi hanya saja mereka selalu bisa membuat Chaerin ketakutan. Haruskah kita pindah keluar negeri?”kata Jiyong menyarankan karena dia tidak punya pilihan lagi. Mantan kekasihnya yang di duganya sebagai pelaku tidak di temukan dimanapun. Kemungkinan besar dia keluar negeri asalnya berada dan hanya menyuruh orang. Yang membuat Jiyong yakin adalah tulis tangan dari sang pelaku hanya sayangnya tidak ada sidik jari sehingga bukti menunjukan mantan kekasihnya adalah pelaku kurang kuat.
“ya! Lakukanlah Jiyong. Aku tidak ingin terjadi lebih buruk pada Chaerin.”kata omma Jiyong tidak kalah cemas.
Pagi ini Chaerin dan Jiyong sudah duduk di kursi pesawatnya. Alih-alih pergi ke Amerika atau Perancis dimana Chaerin pernah tinggal, Jiyong memilih Thailand sebagai Negara yang akan mereka tempati. Jiyong berfikir tidak akan ada yang mengira mereka berada disana. Chaerin yang duduk di samping Jiyong bersandar di dada Jiyong tampak sangat lemah dan ketakutan.
Chaerin Pov
Akhirnya hari ini tiba. Hari dimana Jiyong oppa hanya melihatku dan akan segera menjadi milikku. Wanita itu datang ke apartemenku bukan tanpa alasan. Aku sengaja menacing emosinya. Aku sengaja mengirimkan foto-fotoku saat di kamar Jiyong oppa dangan Jiyong oppa tertidur di sampingku dan mengatakan bahwa kami akan segera menikah. Dan ternyata umpanku termakan olehnya. Dia menampar pipiku dan meninggalku setelah puas berteriak-teriak padaku. Kehancuran rumahku? Aku hanya menambah kesan dramatis dengan mengancurkan barang-barangku sendiri dan membuat pipiku lebih membengkak setelah wanita itu pergi.
Dan berapa beruntungnya aku saat orang suruhanku berhasil merayunya dan Jiyong oppa menangkap basah mereka. Wanita itu tidak tahu bahwa mantan kekasihnya itu adalah orangku yang sengajaku suruh menggodanya jauh sebelum ini terjadi. Kau harus mengenal baik musuhmu bukan? Hahahaha... setelah itu aku meminta pria itu membawa wanita itu. Aku memerintahkannya agar wanita itu tidak bisa di temukan lagi, entah disekapnya dirumahnya, dibawanya di pulau terisolasi atau dibunuh itu bukanlah menjadi urusanku. Setauku pria itu juga menginginkan wanita itu, walau aku tidak mengerti dimana letak keistimewaan wanita itu hingga membuat pria itu suka rela membantukku. Aku hanya ingin wanita itu menjauh dari hidupku.
Terror-terror kecil itu juga adalah sebagian rencanaku. Jangan tanyakan berapa banyak uang yang aku habiskan untuk semua rencana ini, semua ini tidak ada apa-apanya karena aku akan mendapatkan Jiyong oppa.
Kini aku ada di pesawat menuju Thailand dan aku sudah mengatakan rencanaku pada pria yang kini menjaga wanita itu agar kami tidak akan bertemu lagi. Dan aku sangat senang mengetahui bahwa pria itu menjamin bahwa wanita itu terisolasi di pulau kecil miliknya di benua eropa. Waw!! Aku rasa wanita itu akan sangat bahagia sepertiku.
“oppa, apa kita akan baik-baik saja?”tanyaku pada Jiyong oppa yang di sampingku.
“tidak apa-apa, Chae. Kau jangan takut. Aku akan selalu menjagamu. Aku janji.”kata Jiyong oppa memelukku hangat dan menicium keningku lembut. Aku mendapakanmu Jiyong oppa.
END
maaf, jika karaternya ku buat seperti ini karena ini hanya sebuah fiksi yang karaternya dibentuk dalam imajinasi karena sudah bosan dengan bermain aman. soal FFku "lost and Give" yang baru belum di posting-posting itu karena kendala komentarnya menurun jadi aku tunda dulu untuk postingan lanjutannya. thks dukungannya. smile emotikon
14/06/2015
Author: Kim Daisy
Cast: SkyDragon
Rate : PG-17
Lenght : oneshot
warning!! FF ini hanya fiksi. Berbeda dengan FFku yang lain, FF ini hanya sebagai hiburan tanpa nilai moril.
------------------
Aku selalu disampingnya, aku mengawasinya, aku mengontrolnya,dan aku buat dia tidak akan bisa lepas dariku. Aku sebut itu cinta.
Hari ini dengan semangat aku sudah berada di dapur rumah keluarga Kwon, keluargaku kelak. Ibu nya Jiyong yang biasa aku panggil ‘omma’ juga semangat menemaniku dengan senyum bahagianya.
“sayang, kau bangunkan saja Jiyong. Biar omma yang akan melanjutkannya.”kata omma menyenggol pundakku dan memberikan senyum penuh arti. Aku pun membalas senyum omma.
“baik, omma.”kataku langsung bergegas menuju kamar kekasihku, Jiyong oppa.
Aku memasuki kamar bernuansa putih dan hitam, terkesan pria banget. Jika nanti aku sudah menjadi istrinya maka aku akan mengubah semuanya. Tidak akan ku izinkan warna membosankan itu menjadi dominan di kamar kami.
“oppa.. bangun.”kataku sambil mengoyangkan bahunya. Jiyong oppa dengan malas membuka matanya.
“pagi-pagi kenapa kau ada disini?”tanyanya dengan suara serak khas bangun tidur.
“kau minum tadi malam?”
“bukan urusanmu, anak kecil.”katanya sambil bangun dari kasurnya dan masuk begitu saja ke kamar mandi.
Di mejanya masih di pajang fotonya dan wanita jelek itu, wanita yang katanya adalah pacarnya. Dari pada foto mesra mereka malah terlihat seperti pangeran dan teman gaynya. Oppa, apakah matamu sudah rusak? Apakah otakmu tertinggal di suatu tempat hingga tidak bisa mengetahui wanita yang pantas untukmu atau tidak?
Seperti biasa aku pergi kerja di antar dengan Jiyong oppa tapi, wanita yang tidak inginku sebut namanya juga ikut bersama kami. Katanya mobilnya perlu kebengkel. Tapi, aku yakin itu hanya sebuah dongeng jelek karangannya.
“selamat berkerja.”kata Jiyong oppa sambil mengecup kening wanita itu saat wanita itu sampai di kantornya. Ck, wanita? Jika dia tidak mengenakan rok pendek itu dia akan sulit di bedakan dengan pria. Terlalu datar seperti papan.
“menjijikan.”kataku begitu saja dan menatap tajam wanita itu.
“jika kau punya kekasih, kau juga akan seperti kami Chae.”kata Jiyong oppa tersenyum hangat tapi, tidak berhasil mengusir kekesalanku.
“ya, sayangnya kekasihku itu sedang tidak mempedulikanku.”kataku keasal. Jiyong oppa kembali menghidupkan mobilnya.
“Chae, kau wanita yang mengagumkan. Tidak ada pria yang menolak cintamu.”
“tapi, kau menolakku.”kataku dengan nada dingin.
“kita tidak saling mencintai Chae.”
“kau juga mencintaiku, oppa.”kataku santai dan mobil mendadak berhenti.
“tolong, Chae. Aku tidak ingin kau terlalu banyak berharap. Kau gadis yang baik, ceria, mengemaskan dan cerdas walau sikap dingin dan menjengkelkan itu selalu muncul di saat..”
“jangan sebut nama wanita pengoda itu! kau membuatku alergi oppa!”jelasku sebelum dia menyebutkan nama yang membuatku merinding. Wanita itu benar-benar hebat bukan? Namanya saja bisa membuatku alergi.
“aku mohon, Chae jangan bersikap konyol! Aku lebih suka sikap manismu seperti biasa jika tidak ada kekasihku.”kata Jiyong oppa sambil menjambak rambutnya sendiri, dia terlihat frustasi dan itu terlihat lucu bagiku.
“kau hidupku, oppa. Sekarang antarkan aku ke kantor. Aku bisa telat.”kataku seakan tidak peduli. Aku memang harus menutup telingaku saat oppa seperti ini.
----------
Wanita yang membuatku alergi itu tiba-tiba mendatangi apartemenku. Aku dengan santai mengizinkannya masuk tapi, aku harus mengusirnya dari hidup Jiyong oppa.
Plak.
Wanita si**an itu menamparku saat aku baru saja membiarkannya masuk ke rumahku. Aku tersenyum sinis.
“kau membuat Jiyong tertekan. Berhentilah menggodanya. Kau sudah dibuangnya. Kau hanya sampah. Kenapa kau masih mengejarnya? Apakah kau tidak tahu malu?”katanya penuh amarah.
“wah.. buah tangan yang bagus. Menurutmu, apa kata keluarga Jiyong oppa jika mereka tau kau menamparku? Kau tidak lupakan bahwa keluarga Jiyong oppa sangat-sangat-sangat menyukaiku?”godaku.
“aku hanya ingin menyadarkanmu. Lagian aku memiliki cinta Jiyong.”
“itu hanya ilusimu. Cinta Jiyong oppa padamu akan menghilang segera karena itu hanya sebuah ilusi yang kau ciptakan.”kataku sambil tersenyum sinis dan menatapnya dengan tatapan intimidasi.
“dasar gila!”kata wanita itu pergi begitu saja. Aku akan mengirimkan hadiah untukmu sebagai balasannya.
-----------------
Jiyong Pov
Aku baru saja keluar dari kantorku, berencana untuk langsung pulang. Tapi, ponselku berdering dan ada panggilan dari omma.
“kenapa omma?”kataku setelah mengangkat telepon omma. Ada terdengar suara gadis yang menangis pilu disana.
“Jiyong, tadi wanita pengoda itu datang ke aparteman Chaerin menampar dan menghancurkan apartemen Chaerin.”kata omma dengan suara terdengar sedih serta cemas.
“bagaimana keadaan Chaerin?”
“omma menemaninya sejak tadi tapi dia masih shock, pipinya memar dan dia belum tenang sejak tadi. Kau segera putuskan dia. Omma tidak mau dia menyakiti menantu omma. Jika kau masih bersamanya sama saja kau menginginkan omma mati.”kata omma dengan tegas dan menutup telepon.
“akh!”teriakku frustasi. Chaerin adalah anak dari sahabat keluargaku. Aku mengenal Chaerin sejak dulu dan keluargaku sangat menyukainya. Omma akhir-akhir ini selalu mencoba menjodohkanku dengan Chaerin walaupun omma tau bahwa aku memiliki kekasih yang sangat aku cintai.
Aku rasa aku harus langsung menemui kekasihku, aku harus mendapatkan penjelasan darinya. Aku tidak ingin terjadi kejadian yang lebih buruk dari pada ini.
--------------------------
Rumahnya terlihat sepi, kubuka pintu rumahnya yang tidak terkunci. Terdengar suara decapan membuatku segera berfikir yang tidak-tidak.
“ah... lebih cepat.. yah... Sebentar lagi.”kata seseorang yang terdengar seperti suara kekasihku. Dan dia mendesah.
“ah.. ya..”desahannya lagi dan ada suara pria. Dengan perlahan aku mendekati kamarnya yang tidak di tutup. Sial. Aku melihat adegan menjijikan.
“kau menampar Chaerin dengan alasan cemburu lalu kau berselingkuh dengan mantan kekasihmu. Kau sungguh luar biasa. Jangan tunjukkan wajahmu lagi!”kataku dan pergi begitu saja membuat mereka berhenti melakukan aktifitas mereka. Aku tidak peduli.
Fikiranku kacau. Aku bersalah pada Chaerin. Aku bersalah pada orang tuaku. Aku bertengkar dengan keluargaku hanya karena wanita murahan itu? akh! bertapa bodohnya aku. Sekarang aku harus ketempat Chaerin untuk minta maaf dan melihat kondisinya.
--------------
Author Pov
Omma memeluk Chaerin dengan hangat sambil mengelus kepalanya.
“kau tidak marah dengan sikap bodoh Jiyong kan sayang?”kata omma Jiyong lembut. Chaerin menganggukan kepalanya pelan. Wajah Chaerin masih sembab karena tangisannya dan pipinya sedikit bengkak dan memerah.
“aku sudah meminta Jiyong untuk meninggalkan wanita anarkisnya itu. akh... memikirkan mereka bersama bisa membuatku gila dan segera mati. Sayang bagaimana jika kita kerumah sakit dulu. Pipimu ini harus di periksa dokter.”kata omma Jiyong lembut.
“tidak apa-apa omma, besok juga sudah baikan.”jawab Chaerin dengan senyuman.
“oh, bidadariku sayang maafkan omma.”kata omma Jiyong sambil mencium kedua pipi Chaerin dan Chaerin tersenyum lembut.
“omma tidak salah. Tapi, penyihir jahat itu. Aku takut omma.”kata Chaerin sambil memeluk omma Jiyong.
Terdengar suara pintu dibuka. Tidak lama muncul sosok Jiyong yang terlihat berantakan dengan baju kerjanya.
“omma, bereskan ruang tamu dulu banyak terjadi kerusakan karena wanita iblis itu.”jawab omma Jiyong dengan menyindir Jiyong.
Tempat duduk yang diduduki omma telah kosong tadi kini di duduki Jiyong.
“maafkan aku. Aku menyakiti adikku sendiri. Sekarang aku sadar dia tidak pantas untukku. Karena dia aku meninggalkan keluargaku. Maafkan aku yang bertengkar denganmu karena dia. Sekarang aku akan pastikan dia tidak akan mengganggumu lagi.”kata Jiyong penuh penyesalan.
“oppa...”kata Chaerin memeluk Jiyong sambil menangis.
Keesokan paginya Chaerin bangun tidur dengan mata bengkak. Disampingnya ada Jiyong yang menemaninya. Tangan Chaerin masih memegang ujung baju Jiyong seakan tidak ingin dilepas sebagai petanda ketakutannya semalam dan kini dilepaskannya pegangan itu. Chaerin bangkit dari kasurnya perlahan, mengulung rambut panjangnya hingga membentuk cepolan. Kaki indahnya setelah mendengar suara bel. Chaerin membuka pintu rumahnya dengan perlahan. Tapi, tidak ada siapa-siapa di depan rumahnya dan hanya meninggalkan sebuah kotak berukuran sedang di depan. Di raihnya kotak tersebut dan membawanya masuk dan tak lupa untuk menutup pintunya.
“siapa?”tanya Jiyong yang baru saja keluar dari kamarnya.
“aku juga tidak tahu, oppa. Oppa tidak ke kantor?”tanya Chaerin sambil menatap Jiyong yang berjalan menuju kulkas.
“nanti saja. Aku akan datang siangan. Kenapa tidak kau buka? Kau takut ketawan padaku bahwa kau punya pengagum rahasia?”canda Jiyong.
“aku tidak pu.. Aaaaaaaaaaaa...”kata Chaerin dengan kekehan pelan terputus dengan teriakannya cukup keras.
Burk! Kotak sedang itu jatuh ke lantai. Jiyong berlari dengan cepat menuju Chaerin. Jiyong yang panik langsung memeluk Chaerin yang histeris ketakutan.
“ada apa?”tanya Jiyong cemas. Tangannya mengelus dan memeluk Chaerin untuk menenangkan Chaerin.
“kotaknya. Kotaknya, oppa.”kata Chaerin dengan nada suara menunjukan ketakutan. Chaerin mendekatkan wajahnya ke dada Jiyong, bersembunyi disana. Jiyong meraih kotak tersebut. Kotak dengan foto Chaerin yang di gores kasar hingga hapir koyak dan ada cairan merah kental yang menegeluarkan bau khas darah. Jiyong membaca sebuah pesan di kertas kecil tersebut. Sebuah pesan yang bertuliskan memerintah Chaerin menjauhi Jiyong. Jiyong merasa tidak asing dengan tulisan ini hanya saja dia berfikir untuk menenangkan Chaerin yang kini menangis di pelukannya.
Semenjak hari itu hari-hari Chaerin terus terusik dengan terror.Chaerin banyak mendapatkan teror bahkan dapat paket kelinci yang mati dengan darah, kaca rumahnya di lempar batu cukup besar dan hampir tetabrak motor. Untuk saja Jiyong selalu bersamanya.
“kita tidak bisa seperti ini terus, Ji.”kata omma Jiyong cemas dengan keadaan Chaerin yang ketakutan.
“kita sudah melapor polisi hanya saja mereka selalu bisa membuat Chaerin ketakutan. Haruskah kita pindah keluar negeri?”kata Jiyong menyarankan karena dia tidak punya pilihan lagi. Mantan kekasihnya yang di duganya sebagai pelaku tidak di temukan dimanapun. Kemungkinan besar dia keluar negeri asalnya berada dan hanya menyuruh orang. Yang membuat Jiyong yakin adalah tulis tangan dari sang pelaku hanya sayangnya tidak ada sidik jari sehingga bukti menunjukan mantan kekasihnya adalah pelaku kurang kuat.
“ya! Lakukanlah Jiyong. Aku tidak ingin terjadi lebih buruk pada Chaerin.”kata omma Jiyong tidak kalah cemas.
Pagi ini Chaerin dan Jiyong sudah duduk di kursi pesawatnya. Alih-alih pergi ke Amerika atau Perancis dimana Chaerin pernah tinggal, Jiyong memilih Thailand sebagai Negara yang akan mereka tempati. Jiyong berfikir tidak akan ada yang mengira mereka berada disana. Chaerin yang duduk di samping Jiyong bersandar di dada Jiyong tampak sangat lemah dan ketakutan.
Chaerin Pov
Akhirnya hari ini tiba. Hari dimana Jiyong oppa hanya melihatku dan akan segera menjadi milikku. Wanita itu datang ke apartemenku bukan tanpa alasan. Aku sengaja menacing emosinya. Aku sengaja mengirimkan foto-fotoku saat di kamar Jiyong oppa dangan Jiyong oppa tertidur di sampingku dan mengatakan bahwa kami akan segera menikah. Dan ternyata umpanku termakan olehnya. Dia menampar pipiku dan meninggalku setelah puas berteriak-teriak padaku. Kehancuran rumahku? Aku hanya menambah kesan dramatis dengan mengancurkan barang-barangku sendiri dan membuat pipiku lebih membengkak setelah wanita itu pergi.
Dan berapa beruntungnya aku saat orang suruhanku berhasil merayunya dan Jiyong oppa menangkap basah mereka. Wanita itu tidak tahu bahwa mantan kekasihnya itu adalah orangku yang sengajaku suruh menggodanya jauh sebelum ini terjadi. Kau harus mengenal baik musuhmu bukan? Hahahaha... setelah itu aku meminta pria itu membawa wanita itu. Aku memerintahkannya agar wanita itu tidak bisa di temukan lagi, entah disekapnya dirumahnya, dibawanya di pulau terisolasi atau dibunuh itu bukanlah menjadi urusanku. Setauku pria itu juga menginginkan wanita itu, walau aku tidak mengerti dimana letak keistimewaan wanita itu hingga membuat pria itu suka rela membantukku. Aku hanya ingin wanita itu menjauh dari hidupku.
Terror-terror kecil itu juga adalah sebagian rencanaku. Jangan tanyakan berapa banyak uang yang aku habiskan untuk semua rencana ini, semua ini tidak ada apa-apanya karena aku akan mendapatkan Jiyong oppa.
Kini aku ada di pesawat menuju Thailand dan aku sudah mengatakan rencanaku pada pria yang kini menjaga wanita itu agar kami tidak akan bertemu lagi. Dan aku sangat senang mengetahui bahwa pria itu menjamin bahwa wanita itu terisolasi di pulau kecil miliknya di benua eropa. Waw!! Aku rasa wanita itu akan sangat bahagia sepertiku.
“oppa, apa kita akan baik-baik saja?”tanyaku pada Jiyong oppa yang di sampingku.
“tidak apa-apa, Chae. Kau jangan takut. Aku akan selalu menjagamu. Aku janji.”kata Jiyong oppa memelukku hangat dan menicium keningku lembut. Aku mendapakanmu Jiyong oppa.
END
maaf, jika karaternya ku buat seperti ini karena ini hanya sebuah fiksi yang karaternya dibentuk dalam imajinasi karena sudah bosan dengan bermain aman. soal FFku "lost and Give" yang baru belum di posting-posting itu karena kendala komentarnya menurun jadi aku tunda dulu untuk postingan lanjutannya. thks dukungannya. smile emotikon
14/06/2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar