jangan lupa

JANGAN LUPA KOMENTAR YA..

Rabu, 24 Februari 2016

Don’t Say Love Me



Don’t say love me
Author: Kim Daisy
Cast: SkyDragon
Genre: roman
Rate : T
Lenght :
oneshot

Sebentar lagi matahari akan muncul. Burung-burung yang bertenger rapi di atas pohon sudah berkicau dengan merdu. Para dayang sedang sibuk melakukan aktifitasnya dan saling menyapa dan para pengawal terlihat bersiaga walau semalaman melawan kantuknya. Keadaan istana hampir seperti ini setiap harinya. Hanya saja..
“putri!!”
“putri!”
“putri!”
Beberapa dayang berteriak menanggil ‘putri’. Sedangkan seseorang yang berseragam dayang berwarna hijau tua sedikit berlari menuju kediaman raja.
“izinkan saya bertemu dengan baginda raja.”kata dayang tersebut dengan nafas tersenggal-senggal. Usianya memang tidak muda lagi walau begitu tetap saja dia di perintahkan untuk merawat sang putri yang kini baru akan menginjak usia remaja.
“raja masih masih istirahat.”jawab dayang terlihat lebih tua yang bertanggung jawab dengan raja.
“tapi.. tapi ini tentang putri.”kata dayang itu dengan ketakutan. Dia belum siap menerima hukuman lagi karena ulah putri yang sulit di control.
“ada apa dengan putri?”kata dayang raja ikut panik.
“putri menghilang.”jawab dayang itu dengan takut dan menunduk karena dia yakin dia akan mendapatkan hukuman.



Di tempat lain, seorang gadis kecil bersembunyi di suatu bangunan yang biasa disebut perpustakan kerajaan. Tempat ini cukup ramai biasanya, hanya saja entah mengapa hari ini perpustakaan sangat sepi. Gadis itu menyudut di salah satu rak buku. Gadis itu masuk ke rak paling bawah dimana tidak terisi buku dan menyenderkan tubuhnya hingga tubuh mungilnya terlentang. Rak buku itu kini lebih terlihat seperti kasur dadakkan untuknya. Tubuhnya kini benar-benar tidak terlihat karena tertutup oleh puluhan rak buku yang terdapat ribuan buku milik kerajaan. Gadis kecil itu mengambil salah satu buku di depannya yang jaraknya tidak jauh sehingga bisa di raih tangan kecilnya. Berbeda dengan gadis lainnya gadis ini sangat suka membaca termasuk tentang ilmu kedokteran dan politik walaupun dia tidak terlalu mengerti. Umurnya baru 10 tahun Kini gadis itu telah tiduran dengan nyaman dengan membaca buku tentang sastra yang ternyata adalah jenis buku favoritnya.
“ah..”teriak gadis itu karena roknya ternyata diseret seseorang hingga dia kini ikut terseret. Suara gadis kecil itu tidak terlalu besar tapi, cukup terdengar oleh ‘sang pelaku’. Sang pelaku menundukkan tubuhnya dan kini dia berjongkok untuk melihat siapa yang berteriak dengan bersembunyi. Dan dia sadar bahwa dia telah menginjak kain dari rok orang tersebut.
“anda siapa?”tanya sang pelaku dengan sopan dan lembut. Sang gadis memperhatikan sang pelaku dengan menyelidiki. Sang pelaku hampir seusia dengan saudaranya yang merupakan putra mahkota.  Tapi, sang gadis tidak mengenali pria itu dan begitu juga sebaliknya karena ini pertemuan mereka untuk yang pertama kali.
“kau tidak lihat bajuku dan tataan rambut di atas kepalaku? Aku seorang putri yang artinya kau harus menundukan kepalamu.”kata si gadis kecil dengan angkuhnya.
“dari penampilan anda memang seperti putri. Tapi, tidak mungkin sang putri sembunyi seperti ini seharusnya putri sedang belajar menyulam di kamarnya.”kata laki-laki itu dengan curiga tapi, tetap berprilaku sopan.
“kau mendikteku? Kau akan mendapatkan hukuman cambuk karena mendikte putri kerajaan.”kata gadis itu dengan angkuh dan akhirnya anak laki-laki itu meninggalkan sang gadis tanpa peduli. Dan itu tentu saja membuat sang gadis kesal hingga keluar dari persembunyiannya dan menarik baju anak laki-laki itu. keributan karena pertengkaran mereka pun tidak terelakkan.



---------
“dia mengajakku pergi untuk bermain lalu. Lalu.. mengajakku ke perpustakaan dan ingin mengurungku....”kata gadis kecil itu dengan menangis sendu. Anak laki-laki yang tadi bertengkar dengannya hanya diam melihat prilaku sang putri yang menyebalkan. Acting sang putri memang luar biasa hanya tipuan itu sudah sering dilakukan sang putri sehingga mereka sangat jera untuk mempercayai ucapan sang putri begitu saja.
“dia hanya peduli dengan buku. Dia tidak mungkin melirikmu, apalagi mengajakmu.”protes anak laki-laki yang menggunakan baju merah dengan benang merah yang indah, sang putra mahkota. Sang putra mahkota ikut membela laki-laki itu karena mereka berteman baik dan dia sangat mengetahui kenakalan adiknya.
“tapi, dia menyakitiku. Pangeran, tidak bisakah kau lihat wajah adikmu ini?”kata gadis kecil itu sambil mendongakkan wajahnya agar pangeran dapat melihat wajah putri yang sedang menangis. Para dayang cemas tapi, juga kebingungan dengan sikap sang putri. Acting sang putri sangat bagus, para dayang merasa kasihan tapi, jelas mereka tahu sang putri berbohong karena sang putri adalah gadis kecil yang nakal hanya saja mereka tidak punya wewenang melakukan apapun hingga Raja ataupun pangeran mahkota memerintahkan sesuatu. Jadi, para dayang hanya bisa menundukkan wajah mereka.
“apakah itu benar Jiyong?”tanya Raja dengan lembut.
hamba tidak sengaja bertemu dengan putri yang sembunyi di dalam rak buku perpustakaan, paduka. Karena perkataan saya yang meragukan putri sehingga putri marah. Maafkan hamba, paduka.”jelas anak laki-laki yang bernama Jiyong itu.
“putri. Seharusnya kau mengakui kesalahanmu dan mengatakan kebenarannya. Para dayang mencemaskanmu dan mencarimu kemana-mana dan mereka menemukanmu sedang duduk di tubuh Jiyong. Sangat memalukan. Kau akan dihukum, putri. Dan hukumanmu adalah jam belajarmu akan di tambah dan dilarang untuk keluar dari kamar.”perintah raja dengan tegas.
“aku bukanlah burung, baginda Raja. Kenapa baginda mempercayainya?”protes Chaerin.
“karena memang Jiyong mengatakan yang sebenarnya. Jiyong ada bersamaku sebelum aku mendapat kabar putri menghilang. Jadi kau yang berbohong putri.”jelas Raja. Putri terdiam, dia tidak bisa menyangkal lagi.
“aku Lee Chaerin, putri kerajaan membencimu Kwon Jiyong.”kata gadis kecil itu dengan amarah dan keluar dari ruangan membuat para dayangnya segera mengejar putri sebelum putri melarikan diri kembali.


4 tahun kemudian
Daun berguguran seakan tidak berhenti hingga pohon itu benar-benar tidak lagi memiliki daun untuk menutupi ranting dan batangnya. Para dayang dengan semangat menyapu halaman yang hampir tertutupi daun-daun yang menguning walau matahari saja belum menampakkan dirinya. Udara cukup dingin karena musim dingin akan datang sebentar lagi. Tapi, berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini kerajaan melakukan suatu acara saklar yang tidak dilakukan setiap tahunnya.
Seorang gadis terlihat cantik nan anggun dengan mengenakan noeui dan daesu. Sang gadis terlihat cantik. Tapi, sebenarnya tidak bisa disebut dengan ‘gadis’ karena dia adalah seorang putri dari sang Raja Negara ini. Sedangkan seorang pemuda terlihat menggunakan daeryebok dan myunrugwan berdiri dengan gugup sedangkan sang putri yang bersanding dengannya terlihat kesal. Sang putri tidak menyukai pernikahannya dengan pemuda yang menurutnya payah ini. Dia lebih menyukai Young Bae, sahabat lain kakaknya sang putra mahkota. Tapi, Young Bae sangat dibutuhkan dalam kerajaan untuk membantu Raja kelak karena keahliannya beladiri sehingga Young Bae ditolak dalam pemilihan calon suami sang putri. Young Bae akan menjadi menteri pertahanan kerajaan kemudian hari. Jika sang putri menikah dengan Young Bae maka Young Bae dilarang menjabat dipemerintahan untuk menghindari terjadinya kudeta.
Sang putri sudah beberapa kali bertemu dengan suaminya ini tapi, mereka belum sama sekali berbicara berdua. Pernikahan ini mungkin memang terlalu dini untuk mereka tapi, ini memang merupakan hal biasa bagi keluarga kerajaan.
Yang tidak disadari sang putri adalah suaminya tersenyum bahagia karena menikahi wanita yang sangat dicintainya, cinta pertamanya. Gadis yang memandangnya dengan tatapan angkuh dan mengatakan kata-kata yang mengiris hatinya. Walau begitu pria ini tetap berusaha untuk menjadi pantas mendapatkan gadisnya.

Kini sang putri duduk berdua didalam ruangan yang sama dengan Kwon Jiyong, yang kini menjadi suaminya. Makanan, cemilan dan arak sudah tertata rapi untuk mereka. Hanya saja mereka hanya saling diam, tanpa ada keinginan untuk bersuara.

Jiyoung adalah pemuda yang gemar membaca. Bahkan dia adalah pemuda yang paling cerdas, mengalahkan Young Bae dan pangeran. Hanya saja semenjak bertemu dengan sang putri Jiyong tidak lagi menampakkan kecerdasannya. Dan beberapa kali gagal ujian sarjana dan setelah lulus hanya mendapat nilai yang tidak terlalu tinggi. Hal ini sudah di rencanakan oleh Kwon Jiyong demi menjadi suami sang putri. Karena kecerdasannya akan mempersulit untuk mendaftar menjadi suami sang putri.
--------------------

Beberapa tahun berlalu. Sang pangeran mahkota kini sudah menjadi Raja dan sudah memiliki anak laki-laki yang kini berusia 3 tahun sudah menjadi putra mahkota. Sedangkan Chaerin dan Jiyong yang menikah setelah sang Raja menikah tidak ada yang berubah berarti dengan suami-istri ini. Jiyong tetap mencintai Chaerin sedangkan Chaerin selalu bersikap tidak peduli dengan perhatian Jiyong. Ternyata perhatian Jiyong tidak mempengaruhi Chaerin untuk bersikap baik pada suaminya.

Sedangkan Jiyong begitu natural menatap Chaerin sang istri dengan tatapan memuja. Kalimat perhatian dan penuh kasih sayang yang keluar dari bibir Jiyong selalu dibalas dengan kalimat puitis yang menyakitkan dari sang istri. Walau begitu Jiyong tidak gentar, dia terlalu mencintai istrinya. Kini mereka sedang membicarakan sebuah ritual malam pertama mereka sehingga sang putri benar-benar marah besar.

“ini harus dilakukan. Ini adalah acara yang harus kita lakukan, putri. Aku berjanji tidak akan menyakitimu ataupun menyentuhmu jika kau tidak menginginkannya. Aku tidak ingin kau semakin membenciku, putri.”kata sang suami lembut. Dia selalu mencoba membuat wanitanya luluh walaupun dia tidak tahu kapan itu terjadi.

“aku senang kau mengerti.”jawab si putri dengan ketus lalu pergi begitu saja meninggalkan suaminya, suami yang sangat mencintainya.


Seperti biasa Jiyong memperhatikan Chaerin yang sedang berbelanja di pasar dengan para dayang. Tidak, Jiyong tidak memperhatikan Chaerin dengan jarak dekat. Jiyong memperhatikan Chaerin dengan jarak cukup jauh sehingga Chaerin tidak menyadari keberadaan Jiyong. Chaerin tampak ceria saat melihat perhiasan rambut. Chaerin memilih beberapa cincin dan perhiasan rambut untuk dirinya sendiri dan dayang yang menemaninya. Namun saat Chaerin akan membayar, dompet kecilnya berwarna merah muda itu diambil seorang pria. Chaerin menjerit kaget dan tanpa sadar mengejar pria itu. Jiyong yang melihat dari jauh tentu tidak tinggal diam. Jiyong mengejar pria pencuri itu. pencuri itu lari ke sebuah jalan tapi, Jiyong tetap berusaha mengejar.
Buk. Seseorang memukul Jiyong secara tiba-tiba. Tapi, Jiyong tidak langsung tumbang. Jiyong tidak hanya pria cerdas yang gemar membaca buku. Jiyong berteman baik dengan Young Bae yang sangat ahli bela diri dan mereka berdua sering berlatih bersama dengan begitu kemampuan Jiyong bela diri juga tentu saja tidak bisa di anggap remeh.
Jiyong terus berusaha menangkat pencuri itu tanpa melakukan kekerasan. Tapi, mencuri itu terus melawan dengan menendang dan memukul Jiyong. Walaupun Jiyong bisa menangkis semua perlawanan pencuri itu tapi, Jiyong cukup jengah dan akhirnya memberikan satu pukulan di kepala pencuri dan pencuri itu segera terjatuh pingsan.
“hah!”Chaerin kaget dengan yang dilihatnya. Chaerin tidak mengira Jiyong bisa menguasai bela diri sehebat itu. Jiyong terlihat santai melawan pencuri tersebut seakan pencuri itu seakan melawan anak kecil. Jiyong yang menyadari Chaerin di belakangnya pun menjadi terkejut.
“pulanglah, putri. Lalu, istirahatlah. Ini pasti membuatmu kaget.”kata Jiyong sambil mengikat pencuri dengan sebuah akar pohon panjang seperti tali yang di temuinya.
“tolong bawa putri pulang dayang Han.”perintah Jiyong sambil menggeret pencuri yang pingsan dengan posisi duduk.
“baik tuan.”jawab dayang Han.


Sesampai Jiyong sampai di kediamannya, dia segera mencari putri. Tapi, yang di temukannya bukanlah putri yang menatapnya dengan keangkuhan, melainkan tatapan kosong. Putri yang merupakan sang istri menatap jauh ke taman yang di tumbuhi bunga-bunga indah.
“putri, apakah kau baik-baik saja?”kata Jiyong lembut. Chaerin langsung menoleh padanya tapi, tidak menjawab. Dengan perlahan Jiyong mendekati Chaerin.


“maafkan aku, boleh aku memelukmu”kata Jiyong pelan. Chaerin tidak menjawab, Chaerin hanya menatap dua bola mata Jiyong. Dan Chaerin merasakan hangat, kehangatan yang nyaman untuknya.
“maafkan aku tidak menjagamu dengan baik, istriku. Kau pasti sangat terkejut. Maafkan aku.”kata Jiyong penuh peneyesalan.



Karena permintaan istrinya, Jiyong selalu membuat alasan agar acara penyatuan kamar itu tidak dilakukan. Bahkan disaat peyatuan kamar dilakukan, Jiyong tetap mengendalikan dirinya agar tidak menyentuh istrinya. Merasa janggal sang ibu suri pun memerintahkan Jiyong untuk menikah lagi demi memberikan keturunan. Tentu saja itu banyak mendapat protes tapi, sang ibu yang memang mengurus rumah tangga sang putri memiliki kendali besar sehingga sulit untuk menolak. Kwon Jiyong tentu tidak senang dengan perintah ibu mertuanya tapi, dia tidak bisa membantah perintah kerajaan. Membantah atau tidak melakukan perintah kerajaan sama saja menjadi pengkhianat Negara dan akan dihukum mati. Dia belum sanggup melepaskan istri yang sangat dia cintai walaupun istrinya tidak begitu.

Sang putri yang mendengar perintah itu pun menjadi gusar. Dia sudah mendatangi ibunya untuk mengajukan protes tapi, ibunya malah mengancam untuk mati jika pernikahan itu tidak dilakukan. Sang putri hanya menghela nafas berat setelah keluar dari kediaman ibunya.

Putri mulai menyukai suami setelah menolongnya dari pencuri itu. Bayangan Jiyong yang melawan pencuri selalu ada di pikirannya dan pelukan Jiyong untuk menenangkannya saat itu selalu dirindukannya dan semakin membuatnya tidak rela menikahkan Jiyong dengan wanita lain. Dia baru saja sadar bahwa dia sudah mencintai Jiyong dan berniat menjadi istri yang baik untuk suaminya itu tapi, kini dia harus membagi suaminya, cintanya. Dia tidak rela jika hal itu benar terjadi.

------
Seorang pria berlari menuju kamar istrinya. Dengan cepat dia membuka pintu kamar istrinya di ikuti beberapa dayang yang selalu menjaga istrinya yang seorang putri adik dari raja di negerinya saat ini. Istrinya terlihat angun dan cantik itu sedang menyulam di atas meja kecil miliknya.

“kau juga belum makan makananmu, putri?”kata sang suami yang terlihat cemas.

“aku tidak ingin makan sebelum kau berjanji tidak akan menikah lagi.”kata sang putri tanpa melihat suaminya. Sang suami dengan memberikan isyarat agar para dayang istrinya meninggalkan mereka dan dengan gerakan pasti para dayang pun keluar dengan berjalan mundur meninggalkan suami-istri itu berdua. Sang suami duduk di depan meja istrinya. Dengan lembut dia menyentuh tangan istrinya dan menyingkirkan meja serta sulaman istrinya.

“apa yang harus aku lakukan jika raja meminta hadiah seorang pangeran untuk menemani putra mahkota belajar sedangkan istriku tidak inginku sentuh, putri? Tapi, mereka tidak mengerti. Mereka kira kau lah yang tidak bisa mendapatkan anak, putri. Aku tidak ingin menikah lagi, aku mencintaimu putri. Tapi, ini permintaan kerajaan. Kau yang lebih mengerti peraturan kerajaan, putri. Jika kau memberikan izin maka aku akan menikah kembali. Tapi jika tidak, izinkan aku menyentuhmu putri.”kata sang suami lembut dan penuh cinta. Sang suami tidak perlu cinta dari istrinya dia hanya ingin istrinya menerima cintanya walau setelah bertahun-tahun pernikahan tidak juga membuat istrinya luluh.

“kau mencintaiku?”Tanya sang istri.

“bukankah sudah puluhan kali aku mengucapkannya, putri dan kau tidak pernah menoleh padaku. Aku tetap mencintaimu walau kau terus melukaiku, putri.”kata sang suami dengan perlahan memeluk istrinya. Istrinya kini menangis. Hatinya ternyata sudah luluh tanpa dia sadari.
Dengan hati-hati sang suami mencium bibir sang istri dan sang istri tidak menolaknya. Ciuman itu hanya sebuah ciuman lembut biasa tapi, menimbulkan sesuatu yang beda pada pasangan ini. Sang suami semakin mempererat pelukannya dan sang istri mulai menyentuh dada sang suami dengan lembut, mereka terlihat sangat menikmati sentuhan kecil itu. Bagaikan anak remaja yang baru merasakan ciuman.


Keesokan harinya Jiyong mengajukan syarat dengan ibu mertuanya agar perintah untuk menikahkan dirinya di pertimbangkan kembali. Jiyong meminta pemilihan istrinya akan dilakukan setelah 3 bulan kedepan tetapi, jika tiga bulan ini sang putri hamil maka tidak ada pernikahan lagi untuknya selain dengan sang putri. Tentu saja syarat itu tidak diindahkan begitu saja tetapi, mendengar sang putri berhenti makan karena perintah pernikahan akhirnya diberikan kesempatan. Hanya tiga bulan.
-----------------

Dimusim dingin ini sang putri melihat salju di halaman rumahnya. Sang putri mengenakan baju tebal yang cantik dan kepalanya di tutupi pungcha agar tidak terlalu dingin. Sesekali sang putri mengangkat tangannya untuk meraih salju yang turun. Sang putri menutup matanya untuk merasakan dinginnya. Bibir merahnya kini yang terlihat lebih pucat tersenyum manis. Sikap dingin dari sang putri kini mulai melembut.
Tiba-tiba sang putri merasa hangat di sekujur tubuhnya, seakan ada seseorang yang memeluk dirinya. Tanpa perlu melihat kebelakang sang putri sangat yakin yang memeluknya adalah sang suami yang sangat mencintainya. Suami yang bersabar dengan keegoisannya.

“masuklah, putri. Disini sangat dingin.”kata sang suami dengan lembut sambil mengelus tangannya ke telapak tangan sang putri untuk di hangatkan. Tangan sang putri pun kini berwarna kemerahan karena suhu udara yang dingin.

“bukankah disini ada suamiku yang sedang menghangatkan hatiku.”kata sang putri dengan lembut. Ya, sang putri kini memang lembut dengan suaminya bahkan kini mereka saling mencintai dan menghakhiri pertengkaran mereka.

“suamimu ini tidak seperti beruang yang bisa menghangatkanmu seharian, putri.”kata sang suami dengan nada khawatir dan membuat sang putri tersenyum. Dengan perlahan Jiyong mengarahkan tangannya ke perut datar Chaerin dan mengelusnya lembut.
“sebaiknya kita masuk, istriku. Aku sangat takut terjadi sesuatu dengan istriku dan anakku.”kata Jiyong semakin cemas.

Langit datang kepadaku
Samar-samar
datang dari jauh
Langit, Langit yang datang dari jauh
biru bagai danau
Langit sebiru danau
Aku dipeluk. Seluruh tubuhku dipeluk
Ke dalam hati, ke dalam hati
langit menyelinap
nafas langit yang harum
Sinar mentari yang panas
menyentuh leher
pada awal musim gugur
Aku meneguk langit
Meneguk lagi karena haus
Langit aku teguk
aku pun kian matang
bagaikan apel, hatiku kian matang

Jiyong kaget dengan puisi yang di ucapkan Chaerin. Hatinya menghangat mendengar puisi.
“terimakasih bertahan untuk mencintaiku, suamiku.”kata Chaerin memiringkan kepalanya agar bisa melihat wajah Jiyong. Jiyong menatap Charin dengan lekat. Mengecup bibir sang istri dengan lembut.
“terimakasih membuatku untuk mencintaimu, istriku.”kata Jiyong lembut dan mencium lagi istri yang ada dipelukannya.


END


Maaf, ini FF sangat-sangat amatir. Referensiku untuk membuat kisah kerajaan jaman joseon sangat-sangat kurang. Tapi, aku berusaha belajar karena banyak yg minta dan ternyata memang amatiran untuk genre ini. Mianhe...
Kalau merasa FF ini gak asing memang sebagian cerita FF ini pernah di publis di FF “SORRY, I’M LOVING YOU” sebagai cerita film skydragon yang juga merupakan karyaku. Untuk ff LOST N GIVE ternyata benar-benar harus di tunda postingannya lagi karena peminatnya dikit banget.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar