Don’t say love me
Author: Kim Daisy
Cast: SkyDragon
Genre: roman
Rate : T
Lenght : oneshot
Cast: SkyDragon
Genre: roman
Rate : T
Lenght : oneshot
Sebentar lagi matahari akan muncul.
Burung-burung yang bertenger rapi di atas pohon sudah berkicau dengan merdu. Para dayang sedang sibuk
melakukan aktifitasnya dan saling menyapa dan para pengawal terlihat bersiaga
walau semalaman melawan kantuknya. Keadaan istana hampir seperti ini setiap
harinya. Hanya saja..
“putri!!”
“putri!”
“putri!”
Beberapa dayang berteriak menanggil ‘putri’.
Sedangkan seseorang yang berseragam dayang berwarna hijau tua sedikit berlari
menuju kediaman raja.
“izinkan saya bertemu dengan baginda raja.”kata dayang
tersebut dengan nafas tersenggal-senggal. Usianya memang tidak muda lagi walau
begitu tetap saja dia di perintahkan untuk merawat sang putri yang kini baru akan menginjak usia
remaja.
“raja masih masih istirahat.”jawab dayang terlihat lebih tua yang
bertanggung
jawab dengan raja.
“tapi.. tapi ini tentang putri.”kata dayang itu dengan ketakutan. Dia belum
siap menerima hukuman lagi karena ulah putri yang sulit di control.
“ada apa dengan putri?”kata dayang raja ikut
panik.
“putri menghilang.”jawab dayang itu dengan takut dan menunduk
karena dia yakin dia akan mendapatkan hukuman.
Di tempat lain, seorang gadis kecil
bersembunyi di suatu bangunan yang biasa disebut perpustakan kerajaan. Tempat
ini cukup ramai biasanya, hanya saja entah mengapa hari ini perpustakaan sangat
sepi. Gadis itu menyudut di salah satu rak buku. Gadis itu masuk ke rak paling
bawah dimana tidak terisi buku dan menyenderkan tubuhnya hingga tubuh mungilnya
terlentang. Rak buku itu kini lebih terlihat seperti kasur dadakkan untuknya.
Tubuhnya kini benar-benar tidak terlihat karena tertutup oleh puluhan rak buku
yang terdapat ribuan buku milik kerajaan. Gadis kecil itu mengambil salah satu
buku di depannya yang jaraknya tidak jauh sehingga bisa di raih tangan
kecilnya. Berbeda dengan gadis lainnya gadis ini sangat suka membaca termasuk
tentang ilmu kedokteran dan politik walaupun dia tidak terlalu mengerti.
Umurnya baru 10 tahun Kini gadis itu telah tiduran dengan nyaman dengan membaca
buku tentang sastra yang ternyata adalah jenis buku favoritnya.
“ah..”teriak gadis itu karena roknya ternyata
diseret seseorang hingga dia kini ikut terseret. Suara gadis kecil itu tidak terlalu
besar tapi, cukup terdengar oleh ‘sang pelaku’. Sang pelaku menundukkan
tubuhnya dan kini dia berjongkok untuk melihat siapa yang berteriak dengan
bersembunyi. Dan dia sadar bahwa dia telah menginjak kain dari rok orang
tersebut.
“anda siapa?”tanya sang pelaku dengan sopan
dan lembut. Sang gadis memperhatikan sang pelaku dengan menyelidiki. Sang
pelaku hampir seusia dengan saudaranya yang merupakan putra mahkota. Tapi, sang gadis tidak mengenali pria itu dan
begitu juga sebaliknya karena ini pertemuan mereka untuk yang pertama kali.
“kau tidak lihat bajuku dan tataan rambut di
atas kepalaku? Aku seorang putri yang artinya kau harus menundukan kepalamu.”kata
si gadis kecil dengan angkuhnya.
“dari penampilan anda memang seperti putri.
Tapi, tidak mungkin sang putri sembunyi seperti ini seharusnya putri sedang
belajar menyulam di kamarnya.”kata laki-laki itu dengan curiga tapi, tetap
berprilaku sopan.
“kau mendikteku? Kau akan mendapatkan hukuman
cambuk karena mendikte putri kerajaan.”kata gadis itu dengan angkuh dan akhirnya anak laki-laki itu
meninggalkan sang gadis tanpa peduli. Dan itu tentu saja membuat sang gadis
kesal hingga keluar dari persembunyiannya dan menarik baju anak laki-laki itu.
keributan karena pertengkaran mereka pun tidak terelakkan.
---------
“dia mengajakku pergi untuk bermain lalu.
Lalu.. mengajakku ke perpustakaan dan ingin mengurungku....”kata gadis kecil
itu dengan menangis sendu. Anak laki-laki yang tadi bertengkar dengannya hanya
diam melihat prilaku sang putri yang menyebalkan. Acting sang putri memang luar biasa hanya tipuan itu sudah sering
dilakukan sang putri sehingga mereka sangat jera untuk mempercayai ucapan sang
putri begitu saja.
“dia hanya peduli dengan buku. Dia tidak
mungkin melirikmu, apalagi mengajakmu.”protes anak laki-laki yang menggunakan
baju merah dengan benang merah yang indah, sang putra mahkota. Sang putra mahkota ikut membela laki-laki itu
karena mereka berteman baik dan dia sangat mengetahui kenakalan adiknya.
“tapi, dia menyakitiku. Pangeran, tidak bisakah
kau lihat wajah adikmu ini?”kata gadis kecil itu sambil mendongakkan wajahnya agar pangeran dapat
melihat wajah putri yang sedang menangis. Para dayang cemas tapi, juga
kebingungan dengan sikap sang putri. Acting sang putri sangat bagus, para
dayang merasa kasihan tapi, jelas mereka tahu sang putri berbohong karena sang
putri adalah gadis kecil yang nakal hanya saja mereka tidak punya wewenang
melakukan apapun hingga Raja ataupun pangeran mahkota memerintahkan sesuatu.
Jadi, para dayang hanya bisa menundukkan wajah mereka.
“apakah itu benar Jiyong?”tanya Raja dengan
lembut.
“hamba tidak sengaja bertemu dengan putri yang sembunyi di dalam rak buku
perpustakaan, paduka. Karena perkataan saya yang meragukan putri sehingga putri marah. Maafkan hamba, paduka.”jelas
anak laki-laki yang bernama Jiyong itu.
“putri. Seharusnya kau mengakui kesalahanmu
dan mengatakan kebenarannya. Para dayang mencemaskanmu dan mencarimu
kemana-mana dan mereka menemukanmu sedang duduk di tubuh Jiyong. Sangat
memalukan. Kau akan dihukum, putri. Dan hukumanmu adalah jam belajarmu akan di
tambah dan dilarang untuk keluar dari kamar.”perintah raja dengan tegas.
“aku bukanlah burung, baginda Raja. Kenapa
baginda mempercayainya?”protes Chaerin.
“karena memang Jiyong mengatakan yang sebenarnya.
Jiyong ada bersamaku sebelum aku mendapat kabar putri menghilang. Jadi kau yang berbohong putri.”jelas Raja. Putri
terdiam, dia tidak bisa menyangkal lagi.
“aku Lee Chaerin,
putri kerajaan membencimu Kwon Jiyong.”kata gadis kecil itu dengan amarah dan
keluar dari ruangan membuat para dayangnya segera mengejar putri sebelum putri
melarikan diri kembali.
4 tahun kemudian
Daun berguguran seakan tidak berhenti hingga
pohon itu benar-benar tidak lagi memiliki daun untuk menutupi ranting dan
batangnya. Para dayang dengan semangat menyapu halaman yang hampir tertutupi
daun-daun yang menguning walau matahari saja belum menampakkan dirinya. Udara
cukup dingin karena musim dingin akan datang sebentar lagi. Tapi, berbeda
dengan tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini kerajaan melakukan suatu acara saklar
yang tidak dilakukan setiap tahunnya.
Seorang gadis terlihat cantik nan anggun
dengan mengenakan noeui dan daesu. Sang gadis terlihat cantik. Tapi, sebenarnya
tidak bisa disebut dengan ‘gadis’ karena dia adalah seorang putri dari sang
Raja Negara ini. Sedangkan seorang pemuda terlihat menggunakan daeryebok dan
myunrugwan berdiri dengan gugup sedangkan sang putri yang bersanding dengannya
terlihat kesal. Sang putri tidak menyukai pernikahannya dengan pemuda yang menurutnya
payah ini. Dia lebih menyukai Young Bae, sahabat lain kakaknya sang putra mahkota. Tapi, Young Bae
sangat dibutuhkan dalam kerajaan untuk membantu Raja kelak karena keahliannya beladiri sehingga Young Bae ditolak dalam
pemilihan calon suami sang putri. Young
Bae akan menjadi menteri pertahanan kerajaan kemudian hari. Jika sang putri
menikah dengan Young Bae maka Young Bae dilarang menjabat dipemerintahan untuk
menghindari terjadinya kudeta.
Sang putri sudah beberapa kali bertemu dengan
suaminya ini tapi, mereka belum sama sekali berbicara berdua. Pernikahan ini
mungkin memang terlalu dini untuk mereka tapi, ini memang merupakan hal biasa
bagi keluarga kerajaan.
Yang tidak disadari sang putri adalah suaminya
tersenyum bahagia karena menikahi wanita yang sangat dicintainya, cinta
pertamanya. Gadis yang
memandangnya dengan tatapan angkuh dan mengatakan kata-kata yang mengiris
hatinya. Walau begitu pria ini tetap berusaha untuk menjadi pantas mendapatkan
gadisnya.
Kini sang putri duduk
berdua didalam ruangan yang sama dengan Kwon Jiyong, yang kini menjadi
suaminya. Makanan, cemilan dan arak sudah tertata rapi untuk mereka. Hanya saja
mereka hanya saling diam, tanpa ada keinginan untuk bersuara.
Jiyoung adalah pemuda
yang gemar membaca. Bahkan dia adalah pemuda yang paling cerdas, mengalahkan
Young Bae dan pangeran. Hanya saja semenjak bertemu dengan sang putri Jiyong
tidak lagi menampakkan kecerdasannya. Dan beberapa kali gagal ujian sarjana dan
setelah lulus hanya mendapat nilai yang tidak terlalu tinggi. Hal ini sudah di
rencanakan oleh Kwon Jiyong demi menjadi suami sang putri. Karena kecerdasannya
akan mempersulit untuk mendaftar menjadi suami sang putri.
--------------------
Beberapa tahun
berlalu. Sang pangeran mahkota kini sudah menjadi Raja dan sudah memiliki anak
laki-laki yang kini berusia 3 tahun sudah menjadi putra mahkota. Sedangkan
Chaerin dan Jiyong yang menikah setelah sang Raja menikah tidak ada yang
berubah berarti dengan suami-istri ini. Jiyong tetap mencintai Chaerin
sedangkan Chaerin selalu bersikap tidak peduli dengan perhatian Jiyong.
Ternyata perhatian Jiyong tidak mempengaruhi Chaerin untuk bersikap baik pada
suaminya.
Sedangkan Jiyong begitu natural menatap
Chaerin sang istri dengan tatapan memuja. Kalimat perhatian dan penuh kasih
sayang yang keluar dari bibir Jiyong selalu dibalas dengan kalimat puitis yang
menyakitkan dari sang istri. Walau begitu Jiyong tidak gentar, dia terlalu
mencintai istrinya. Kini mereka sedang membicarakan sebuah ritual malam pertama mereka sehingga
sang putri
benar-benar marah besar.
“ini harus dilakukan. Ini adalah acara yang
harus kita lakukan, putri. Aku berjanji tidak akan menyakitimu ataupun
menyentuhmu jika kau tidak menginginkannya. Aku tidak ingin kau semakin membenciku,
putri.”kata sang suami lembut. Dia
selalu mencoba membuat wanitanya luluh walaupun dia tidak tahu kapan itu
terjadi.
“aku senang kau mengerti.”jawab si putri
dengan ketus lalu pergi begitu saja meninggalkan suaminya, suami yang sangat
mencintainya.
Seperti biasa Jiyong
memperhatikan Chaerin yang sedang berbelanja di pasar dengan para dayang.
Tidak, Jiyong tidak memperhatikan Chaerin dengan jarak dekat. Jiyong
memperhatikan Chaerin dengan jarak cukup jauh sehingga Chaerin tidak menyadari
keberadaan Jiyong. Chaerin tampak ceria saat melihat perhiasan rambut. Chaerin
memilih beberapa cincin dan perhiasan rambut untuk dirinya sendiri dan dayang
yang menemaninya. Namun saat Chaerin akan membayar, dompet kecilnya berwarna
merah muda itu diambil seorang pria. Chaerin menjerit kaget dan tanpa sadar
mengejar pria itu. Jiyong yang melihat dari jauh tentu tidak tinggal diam.
Jiyong mengejar pria pencuri itu. pencuri itu lari ke sebuah jalan tapi, Jiyong
tetap berusaha mengejar.
Buk. Seseorang memukul
Jiyong secara tiba-tiba. Tapi, Jiyong tidak langsung tumbang. Jiyong tidak
hanya pria cerdas yang gemar membaca buku. Jiyong berteman baik dengan Young
Bae yang sangat ahli bela diri dan mereka berdua sering berlatih bersama dengan
begitu kemampuan Jiyong bela diri juga tentu saja tidak bisa di anggap remeh.
Jiyong terus berusaha
menangkat pencuri itu tanpa melakukan kekerasan. Tapi, mencuri itu terus
melawan dengan menendang dan memukul Jiyong. Walaupun Jiyong bisa menangkis
semua perlawanan pencuri itu tapi, Jiyong cukup jengah dan akhirnya memberikan
satu pukulan di kepala pencuri dan pencuri itu segera terjatuh pingsan.
“hah!”Chaerin kaget
dengan yang dilihatnya. Chaerin tidak mengira Jiyong bisa menguasai bela diri
sehebat itu. Jiyong terlihat santai melawan pencuri tersebut seakan pencuri itu
seakan melawan anak kecil. Jiyong yang menyadari Chaerin di belakangnya pun
menjadi terkejut.
“pulanglah, putri.
Lalu, istirahatlah. Ini pasti membuatmu kaget.”kata Jiyong sambil mengikat pencuri
dengan sebuah akar pohon panjang seperti tali yang di temuinya.
“tolong bawa putri
pulang dayang Han.”perintah Jiyong sambil menggeret pencuri yang pingsan dengan
posisi duduk.
“baik tuan.”jawab dayang Han.
Sesampai Jiyong sampai di kediamannya, dia segera mencari putri. Tapi,
yang di temukannya bukanlah putri yang menatapnya dengan keangkuhan, melainkan
tatapan kosong. Putri yang merupakan sang istri menatap jauh ke taman yang di
tumbuhi bunga-bunga indah.
“putri, apakah kau baik-baik saja?”kata Jiyong lembut. Chaerin langsung
menoleh padanya tapi, tidak menjawab. Dengan perlahan Jiyong mendekati Chaerin.
“maafkan aku, boleh aku memelukmu”kata Jiyong pelan. Chaerin tidak
menjawab, Chaerin hanya menatap dua bola mata Jiyong. Dan Chaerin merasakan
hangat, kehangatan yang nyaman untuknya.
“maafkan aku tidak menjagamu dengan baik, istriku. Kau pasti sangat
terkejut. Maafkan aku.”kata Jiyong penuh peneyesalan.
Karena permintaan
istrinya, Jiyong selalu membuat alasan agar acara penyatuan kamar itu tidak
dilakukan. Bahkan disaat peyatuan kamar dilakukan, Jiyong tetap mengendalikan
dirinya agar tidak menyentuh istrinya. Merasa janggal sang ibu suri pun
memerintahkan Jiyong untuk menikah lagi demi memberikan keturunan. Tentu saja
itu banyak mendapat protes tapi, sang ibu yang memang mengurus rumah tangga
sang putri memiliki kendali besar sehingga sulit untuk menolak. Kwon Jiyong
tentu tidak senang dengan perintah ibu mertuanya tapi, dia tidak bisa membantah
perintah kerajaan. Membantah atau tidak melakukan perintah kerajaan sama saja
menjadi pengkhianat Negara dan akan dihukum mati. Dia belum sanggup melepaskan
istri yang sangat dia cintai walaupun istrinya tidak begitu.
Sang putri yang
mendengar perintah itu pun menjadi gusar. Dia sudah mendatangi ibunya untuk
mengajukan protes tapi, ibunya malah mengancam untuk mati jika pernikahan itu
tidak dilakukan. Sang putri hanya menghela nafas berat setelah keluar dari
kediaman ibunya.
Putri mulai menyukai
suami setelah menolongnya dari pencuri itu. Bayangan Jiyong yang melawan
pencuri selalu ada di pikirannya dan pelukan Jiyong untuk menenangkannya saat
itu selalu dirindukannya dan semakin membuatnya tidak rela menikahkan Jiyong
dengan wanita lain. Dia baru saja sadar bahwa dia sudah mencintai Jiyong dan
berniat menjadi istri yang baik untuk suaminya itu tapi, kini dia harus membagi
suaminya, cintanya. Dia tidak rela jika hal itu benar terjadi.
------
Seorang pria berlari
menuju kamar istrinya. Dengan cepat dia membuka pintu kamar istrinya di ikuti
beberapa dayang yang selalu menjaga istrinya yang seorang putri adik dari raja
di negerinya saat ini. Istrinya terlihat angun dan cantik itu sedang menyulam
di atas meja kecil miliknya.
“kau juga belum makan
makananmu, putri?”kata sang suami yang terlihat cemas.
“aku tidak ingin
makan sebelum kau berjanji tidak akan menikah lagi.”kata sang putri tanpa
melihat suaminya. Sang suami dengan memberikan isyarat agar para dayang
istrinya meninggalkan mereka dan dengan gerakan pasti para dayang pun keluar
dengan berjalan mundur meninggalkan suami-istri itu berdua. Sang suami duduk di
depan meja istrinya. Dengan lembut dia menyentuh tangan istrinya dan
menyingkirkan meja serta sulaman istrinya.
“apa yang harus aku
lakukan jika raja meminta hadiah seorang pangeran untuk menemani putra mahkota
belajar sedangkan istriku tidak inginku sentuh, putri? Tapi, mereka tidak
mengerti. Mereka kira kau lah yang tidak bisa mendapatkan anak, putri. Aku tidak ingin
menikah lagi, aku mencintaimu putri. Tapi, ini permintaan kerajaan. Kau yang
lebih mengerti peraturan kerajaan, putri. Jika kau memberikan izin maka aku
akan menikah kembali. Tapi jika tidak, izinkan aku menyentuhmu putri.”kata sang
suami lembut dan penuh cinta. Sang suami tidak perlu cinta dari istrinya dia
hanya ingin istrinya menerima cintanya walau setelah bertahun-tahun pernikahan
tidak juga membuat istrinya luluh.
“kau
mencintaiku?”Tanya sang istri.
“bukankah sudah
puluhan kali aku mengucapkannya, putri dan kau tidak pernah menoleh padaku. Aku
tetap mencintaimu walau kau terus melukaiku, putri.”kata sang suami dengan
perlahan memeluk istrinya. Istrinya kini menangis. Hatinya ternyata sudah luluh
tanpa dia sadari.
Dengan hati-hati sang
suami mencium bibir sang istri dan sang istri tidak menolaknya. Ciuman itu
hanya sebuah ciuman lembut biasa tapi, menimbulkan sesuatu yang beda pada
pasangan ini. Sang suami semakin mempererat pelukannya dan sang istri mulai
menyentuh dada sang suami dengan lembut, mereka terlihat sangat menikmati
sentuhan kecil itu. Bagaikan anak remaja yang baru merasakan ciuman.
Keesokan harinya
Jiyong mengajukan syarat dengan ibu mertuanya agar perintah untuk menikahkan
dirinya di pertimbangkan kembali. Jiyong meminta pemilihan istrinya akan
dilakukan setelah 3 bulan kedepan tetapi, jika tiga bulan ini sang putri hamil
maka tidak ada pernikahan lagi untuknya selain dengan sang putri. Tentu saja
syarat itu tidak diindahkan begitu saja tetapi, mendengar sang putri berhenti
makan karena perintah pernikahan akhirnya diberikan kesempatan. Hanya tiga
bulan.
-----------------
Dimusim dingin ini
sang putri melihat salju di halaman rumahnya. Sang putri mengenakan baju tebal
yang cantik dan kepalanya di tutupi pungcha agar tidak terlalu dingin. Sesekali sang putri
mengangkat tangannya untuk meraih salju yang turun. Sang putri menutup matanya
untuk merasakan dinginnya. Bibir merahnya kini yang terlihat lebih pucat
tersenyum manis. Sikap dingin dari sang putri kini mulai melembut.
Tiba-tiba sang putri
merasa hangat di sekujur tubuhnya, seakan ada seseorang yang memeluk dirinya.
Tanpa perlu melihat kebelakang sang putri sangat yakin yang memeluknya adalah
sang suami yang sangat mencintainya.
Suami yang bersabar dengan keegoisannya.
“masuklah, putri.
Disini sangat dingin.”kata sang suami dengan lembut sambil mengelus tangannya
ke telapak tangan sang putri untuk di hangatkan. Tangan sang putri pun kini
berwarna kemerahan karena suhu udara yang dingin.
“bukankah disini ada
suamiku yang sedang menghangatkan hatiku.”kata sang putri dengan lembut. Ya,
sang putri kini memang lembut dengan suaminya bahkan kini mereka saling
mencintai dan menghakhiri pertengkaran mereka.
“suamimu ini tidak
seperti beruang yang bisa menghangatkanmu seharian, putri.”kata sang suami
dengan nada khawatir dan membuat sang putri tersenyum. Dengan perlahan Jiyong mengarahkan tangannya
ke perut datar Chaerin dan mengelusnya lembut.
“sebaiknya kita masuk, istriku. Aku sangat takut terjadi sesuatu dengan
istriku dan anakku.”kata Jiyong semakin cemas.
Samar-samar
datang dari jauh
Langit, Langit yang datang dari jauh
biru bagai danau
Langit sebiru danau
Aku dipeluk. Seluruh tubuhku dipeluk
Ke dalam hati, ke dalam hati
langit menyelinap
nafas langit yang harum
Sinar mentari yang panas
menyentuh leher
pada awal musim gugur
Aku meneguk langit
Meneguk lagi karena haus
Langit aku teguk
aku pun kian matang
bagaikan apel, hatiku kian matang
Jiyong kaget dengan puisi yang di ucapkan Chaerin. Hatinya menghangat
mendengar puisi.
“terimakasih bertahan
untuk mencintaiku, suamiku.”kata Chaerin memiringkan kepalanya agar bisa
melihat wajah Jiyong. Jiyong menatap Charin dengan lekat. Mengecup bibir sang
istri dengan lembut.
“terimakasih membuatku
untuk mencintaimu, istriku.”kata Jiyong lembut dan mencium lagi istri yang ada
dipelukannya.
END
Maaf, ini FF
sangat-sangat amatir. Referensiku untuk membuat kisah kerajaan jaman joseon
sangat-sangat kurang. Tapi, aku berusaha belajar karena banyak yg minta dan
ternyata memang amatiran untuk genre ini. Mianhe...
Kalau merasa FF ini
gak asing memang sebagian cerita FF ini pernah di publis di FF “SORRY, I’M
LOVING YOU” sebagai cerita film skydragon yang juga merupakan karyaku. Untuk ff
LOST N GIVE ternyata benar-benar harus di tunda postingannya lagi karena
peminatnya dikit banget.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar