LOST AND GIVE [part 7]
.
.
.
.
.
.
Author: Kim Daisy
Cast: SkyDragon, Taeyang dan Soo Song
Rate : PG 17
pict: ahelnyann (thks bgt cover kecenya)
Repost : glen
***
Ku buka mataku. Saatku lihat jam yang ada di dinding ternyata sudah
hampir jam pulang. Istirahat memang yangku butuhkan ternyata. Hacu!
Tiba-tiba hidungku gatal dan ingin... Hachu! Bersin. Rasa ingin bersin
ini tidak hilang-hilang hingga kuputuskan keluar dari ruanganku.
Sekretarisku menatapku dengan tatapan cemas karena bersinku tidak hilang
dari tadi. Karena sarannya aku pergi di lantai paling atas untuk
mencari udara segar. Baru saja lima menit aku berada disana rasa gatal
dihidungku untuk bersin pun menghilang.
Sepertinya ini karena
terlalu banyak bunga di ruanganku. Aku memutuskan turun kebawah untuk
mengambil dokumen di ruang kerjaku tapi, baru saja membuka pintu aku
sudah kembali bersin-bersin lagi.
“bibi, tolong pindahkan
bunga-bunga itu dari ruanganku. Hachu!! Sepertinya itulah penyebab aku
bersin-bersin dari tadi.”perintahku pada sekretarisku yang menghampiriku
dengan wajah binggungnya.
“baik, nyonya. Saya sarankan anda
pulang saja, saya akan mengirimkan dokumen-dokumen penting yang anda
butuhkan dengan segera.”saran sekretarisku.
“hachu!! ya, aku
tunggu. Hachu!! Ah, silahkan bagikan bunga-bunga yang masih segar ke
setiap karyawan, tapi bunga lavendernya biarkan tetap diruanganku dan
lily letakkan di ruang tamu kamarku. Hachu!”
“baik, nyonya. Lalu, untuk pot...”
“biarkan itu tetap di sana. Suruh pinata kebun kita juga merawatnya. Hachu!”perintahku dan kembali bersin.
“aku pulang dulu. Hachu!”kataku bersin dengan kerasnya. Untung dilantai
ini hanya untuk kantorku dan ‘rumah’ku. Jika terdapat ruangan orang
lain disini maka aku bingung menaruh mukaku. Seorang penerus bersin
seperti bocah ingusan. Sepertinya aku harus memberikan perhitungan
dengan ahjusshi mesum itu yang telah membuatku tidak berhenti bersin.
Tapi, jika aku mendiamkannya apalagi yang dia perbuat nantinya? Dia
pernah memenuhi ruanganku dengan permen dan coklat. Hari ini ahjusshi
mesum itu memenuhi ruanganku dengan bunga dan besok mungkin dia
memenuhiku oleh penyanyi atau pemain music untuk merayuku. Aku harus
memikirkan cara lain untuk membalasnya.
Tapi, baru saja aku
membuka kamarku aku mendapatkan mimpi buruk. Kamarku kini dipenuhi
dengan kelopak bunga mawar. Berapa ton kelopak bunga yang dia beli
sebenarnya untuk memenuhi kamarku? Bahkan kamar mandi, lantai, kasur dan
sofaku pun juga di tutupi kelopak bunga mawar. Hachuuuu.....
.
.
.
Jiyong Pov
Aku berlari terburu-buru karena mendapat kabar bahwa Chaerin pergi dari
kamar kami. Dia pergi ke kamar ayah mertuaku. Sebenarnya bukan kamar
karena kamar kami ataupun kamar ayah mertuaku seperti apartemen yang
luas yang didalamnya terdapat 3-4 kamar, dapur yang luas, ruang
keluarga, ruang makan, dan lain-lain.
Bahkan terdapat dua
lantai. Tidak ada bedannya dengan sebuah apartemen mewah hanya saja
terdapat di dalam sebuah hotel karena memang sejak kecil Chaerin sudah
tinggal di hotel ini.
“dimana istriku?”tanyaku panik pada ahjuma yang menjadi kepala pengurus rumah ini.
“sedang istirahat di kamarnya dulu, tuan. Nyonya sejak tadi tidak
berhenti bersin tuan. Saya takut nyonya sakit.”jawab ahjumma dan
membuatku berlari menuju kamar Chaerin. Baru saja sampai di depan pintu
aku mendengar Chaerin bersin-bersin cukup keras. Sepertinya dia memang
sakit. Tapi, sekarang musim
gugur kenapa terkena flu?
“Kau
sakit sweetheart?”tanyaku saat masuk dan dia membalikkan tubuhnya agar
bisa melihatku. Wajahnya terlihat pucat dan hidungnya memerah.
“ini gara-gara kau, ahjusshi mesum. Hachu. Ruanganku penuh dengan bunga,
seharian aku bersin-bersin. Karena itu aku berniat beristiahat, tapi
yang terjadi di kamar itu bagaikan lautan mawar. Lebih parah dari pada
ruang kantorku. Aku ber Hachu... aku bersin hachu... tanpa henti dari
tadi. Apakah kau berencana hachuu.. membunuhku hachu!?”katanya dengan
emosi yang meledak, tapi dia terlihat lemas. Aku segera memeluknya.
Sungguh aku merasa bersalah.
“tidak. Tidak akan mungkin,
sweetheart. Aku tidak bermaksud seperti itu, aku sungguh sungguh minta
maaf. Ayo, kita ke dokter!”ajakku berbicara dengan lembut. Tapi, Chaerin
hanya diam dipelukkanku.
“sweetheart..”panggilku.
“sweetheart, kenapa? Apakah kau tidak mau berobat? Apa perlu kita panggil dokter saja ke sini?”tanyaku.
“ahjusshi..”kata Chaerin sambil memberikan jarak wajahnya dari dadaku yang sebelumnya menempel agar bisa melihat wajahku.
“ada apa, sweetheart?”tanyaku sambil mengelus pipinya.
“bersinku berhenti, ahjusshi.”jawabnya dengan tersenyum.
“tapi, kita harus tetap memeriksakan dirimu sweetheart.”
“sepertinya aku hanya perlu istirahat, ahjusshi.”
“baiklah jika itu maumu, sweetheart. Untuk sementara kita akan tinggal
disini hingga kamar kita bersih. Jika belum sembuh besok kau harus
berobat, sweetheart. Aku tidak ingin kau sakit, sweetheart.”kataku dan
Chaerin kembali di dalam pelukanku. Saat dia dipelukanku aku sungguh
bahagia. Seakan seperti ini saja sudah cukup untukku. Tidak, aku tidak
boleh mudah puas. Aku ingin dia mencintaiku juga seperti aku
mencintainya walaupun nanti cintaku lebih besar untuknya.
.
.
.
Aku baru saja keluar dari kamar mandi dan bersiap untuk tidur, tapi aku
penasaran karena aku melihat Chaerin menutup wajahnya dengan baju yang
tadiku kenakan sebelumku mandi.
“kenapa bajuku ada padamu, sweetheart?”tanyaku sambil duduk di kasur untuk mendekatinya.
“ah? Ah... ini aku.. “jawabnya gugup dengan wajah merah setelah dia reflek langsung melempar bajuku sembarangan.
“kenapa?”tanyaku penasaran.
“mungkin kau tidak akan percaya, tapi aku akan kembali bersin jika
tidak mencium aromamu.”jawabnya dengan mata tertutup, wajah menunduk
malu dan wajah yang memerah. Aku tidak bisa menahan untuk tersenyum.
Hanya karena hal-hal kecil bisa merasakan sebahagia ini, itulah cinta.
“kalau begitu aku akan sangat bersedia menjadi obat flumu, sweetheart.”kataku dan dia langsung pergi
menjauh dariku.
“hachu!!”Chaerin kembali bersin setelah berhasil jauh dariku, tapi aku
dengan sigap mengendongnya dengan bridal lalu menidurkannya ke kasur,
tapi tetap dalam pelukanku.
“mengalahlah. Bukankah ini win-win
solution? Kau berhenti untuk bersin dan aku sangat senang bisa
memelukmu. Ayo, kita tidur! Selamat malam, istriku!”kataku sambil
mematikan lampu kamar dengan remot yang sebelumnyaku ambil lalu mengecup
kening Chaerin. Dan ternyata benar bahwa bersinnya berhenti.
Aku senang jika aku bisa dibutuhkkannya dan nantinya aku ingin sekali Chaerin bisa sepenuhnya bergantung padaku.
.
.
.
Jam dua pagi aku mendapat kabar bahwa perusahaanku di Amerika terjadi
masalah, salah satu petinggi tertangkap melakukan kecurangan dengan uang
insvestor sehingga aku harus pergi secepatnya. Melihat Chaerin yang
tidur dengan nyenyak di pelukanku membuatku tidak ingin membangunkannya.
Dengan hati-hati aku melepaskan diriku dari pelukannya dan
bersiap-siap. Aku juga tidak lupa menuliskan pesan singkatku di atas
meja untuk Chaerin dan mengecup bibirnya. Maafkan aku tidak
memberitahumu secara langsung, sweetheart! Aku sungguh berat
meninggakanmu yang sedang sakit. Maafkan aku.
Saat aku sampai
di gedung K-World menjelang sore, semua pemegang saham sudah menungguku
untuk membuka rapat. Sepertinya membutuhkan beberapa hari disini.
.
.
.
Chaerin pov
Saat aku terbangun pagi ini tanpaku sadari aku tersenyum mengingat
kejadian memalukan tadi malam. Tapi, saatku lihat ahjusshi tidak ada
disebelahku dan aku malah menemukan selembar kertas yang memberitahukan
bahwa ahjusshi mesum itu pergi karena ada masalah diperusahaannya. Tentu
saja hal itu membuatku sedikit kesal karena dia meninggalkanku begitu
saja. Saat ini tentu saja dia sudah berada disana melihat sekarang sudah
tengah hari, tapi kenapa dia tidak mengabariku?
Malam ini aku
tidur di rumah sakit bersama appa dan hingga saat ini ahjusshi belum
menghubungiku. Apa dia tidak menyadari bahwa aku cemas? Apakah dia tidak
mengingatku? Sebenarnya masalahnya sebesar apa hingga hingga saat ini
belum juga menguhubungiku?
“memikirkan Jiyong?”tegur appa sambil menyentuh
bahuku.
“hanya sedikit penasaran kenapa dia pergi mendadak, appa.”jawabku.
“hubungi saja dia.” Saran appa.
“mungkin saja dia sibuk, appa. Besok akan aku hubungi dia. Sekarang
kita tidur.”kataku sambil sedikit memaksa appa untuk tidur karena dari
ekpresi appa terlihat bahwa appa ingin aku menelpon ahjusshi mesum itu
sekarang juga.
.
.
.
.
.
@keesokan harinya.
Hari ini ahjusshi itu juga belum pulang dan tidak menghubungiku. Lihat
saja nanti, aku akan membalasnya. Bisa-bisanya dia meninggalkanku begitu
saja tanpa keterangan yang jelas bahkan seharian tidak mengirimi kabar
lewat apapun padaku. Menyebalkan.
“aku akan pergi sebentar,
bibi.”kataku pada sekretarisku saat aku keluar ruanganku. Aku butuh
menjernihkan fikiranku. Tapi, yang aku lihat di depan ruanganku tidak
hanya ada sekretarisku.
“oppa!”kataku saat mata kami bertemu.
.
.
.
Taeyang oppa mengajakku ke sebuah restoran kecil yang menjual iga bakar. Restoran ini adalah restoran favorit kami sejak dulu.
“kenapa oppa membawaku ke sini?”tanyaku.
“hanya rindu suasananya.”jawabnya tersenyum manis, senyum cerah yang sama seperti dulu.
“apakah kau tidak rindu dengan masakan ahjumma? Aku sangat rindu dengan
masakan ahjumma.”tanyanya. Dengan ragu aku turun dari mobil
mengikutinya.
Ternyata di tempat masa lalu bisa menimbulkan
suasana seperti masa lalu. Kini kami tidak canggung lagi seperti
sebelumnya, kami tertawa sambil mengingat masa lalu. Bahkan ahjumma
pemilik restoran ini masih mengingat kami. Setelah itu kami pergi ke
tempat latihan menembak. Tempat biasa kami latihan menembak.
Mungkin sedikit aneh, hanya saja aku seorang penerus harus ahli bela
diri ataupun memegang senjata. Latihan menembak pun tidak luput dari
bertaruh dan tawa seperti dulu. Dan seperti biasa aku lebih ahli
menembak dari pada Taeyang oppa walau kemampuannya meningkat
dibandingkan saat dulu.
Langit semakin gelap. Aku memutuskan untuk pulang dan Taeyang mengantarku kembali ke hotel.
“terimakasih untuk hari ini, oppa!”kataku sambil turun dari mobilnya.
“tunggu, Chae!”kata Taeyang oppa langsung turun dari mobil dan berjalan mendekatiku. Tiba-tiba Taeyang oppa memelukku.
“hari ini menyenangkan. Aku tahu kau juga menikmatinya. Aku berharap aku belum terlambat untuk memilikimu”
“lepaskan aku! apa maksud oppa?”tanyaku bingung sambil berusaha melepaskan pelukannya.
“aku mengajukan cerai pada Soo Song.”kata Taeyang oppa yang akhirnya melepaskan pelukannya.
“itu tidak ada hubungannya dengan aku, oppa. Aku istri orang saat ini
dan dia adalah bossmu, oppa. Aku bahagia bersamanya. Tolong kau hargai
aku! Hatiku ini bukan permainan!”kataku marah. Taeyang oppa menyentuh
tanganku untuk menahanku agar tidak pergi.
Aku sadar bahwa
kami menarik perhatian orang sehingga aku menghentakkan tanganku hingga
terlepas dari genggeman Taeyang oppa. Aku meninggalkan Taeyang oppa
begitu saja. Fikiranku kacau. Sebelumnya aku ingin berdamai dengan masa
lalu, tapi yang terjadi malah seperti ini. Aku dengan cepat berjalan
menuju kamarku dan aku mencoba menghungi ahjusshi mesum itu. Aku perlu
sarannya. Aku perlu bicara denganya sekarang juga, tapi ponselnya mati.
Apa yang harusku lakukan.
.
.
.
.
Pagi ini aku
merasa kacau. Taeyang oppa membuatku semalaman memikirkan perkataannya
dan ahjusshi mesum itu semakin membuatku kesal karena belum juga bisaku
hubungi. Apakah dia sedang bermain disana? Untuk pria sukses seperti
dirinya bisa saja tidak pernah pacaran atau menjalin hubungan
percintaan, tapi pria dan hasratnya tidak bisa dipisahkan.
“bicara apa aku ini?”gumamku sambil menyendokkan nasi goreng kimchi ke mulutku.
“maaf, nona. Ada tamu di depan.”kata ahjumma yang memasuki ruangan makan.
“minta dia menunggu sebentar, ahjumma.”pintaku dan ahjumma itu pun
pergi. Buat apa mencariku pagi-pagi seperti ini? Siapa sebenarnya yang
datang?
Aku menyelesaikan sarapanku. Sungguh aku tidak semangat
hari ini dan aku semakin kesal setelah melihat siapa yang datang ke
tempatku di saat aku sedang sarapan.
“ada apa, Soo Song
unnie?”tanyaku langsung. Semua terjadi mendadak begitu saja setelah aku
menikah dengan ahjussi. Aku tidak mengganggu mereka kenapa mereka
kembali?
“maaf, mengganggu waktumu, Chae. Aku yakin Taeyang sudah menemuimu...”
“tenang saja unnie, aku tidak adakan kembali pada Taeyang oppa.”potongku.
“bukan. Bukan itu. Aku kesini malah ingin memintamu untuk kembali pada
Taeyang setelah kami bercerai”katanya Soo Song unnie tanpa beban. Reflek
aku langsung mengumpat. Hal gila apa lagi sekarang? Untuk menjadi
menikah dan menjadi ahjusshi secara mendadak adalah hal paling gila di
hidupku, tapi ternyata ada hal lebih gila dari pada itu.
“Mwo??”
“aku mohon padamu, Chae. Dia masih mencintaimu.”
“itu hanya karena rasa bersalah kalian padaku.”
“kami tidak memiliki anak, Chae. Kami tidak memiliki anak!”
“Lalu kenapa jika kalian belum memiliki anak? Apakah karena tidak ada anak sehingga dia menceraikanmu?”
“ya, karena hal itu. Menikah dengannya Chaerin. Aku mohon. Dengan begitu aku yakin oppa bersama dengan yeoja yang tepat.”
“permintaanmu konyol, unnie. Sungguh konyol. Aku meminta yeoja lain
menjadi istri mantan suamimu yang menunut cerai darimu dan gilanya kau
memintanya dengan yeoja yang telah menikah.”balasku dan Soo Song unnie
terlihat kaget dengan jawabanku.
“kau sudah..”
“ya, aku sudah menikah tiga bulan lalu, unnie.
Sepertinya kami sudah mengundang kalian.”jawabku dan Soo Song unnie terlihat lebih putus asa.
“aku tahu bahwa tidak baik membawamu ke rumah tangga kami. Hanya saja
aku bingung harus bercerita dengan siapa. Oppa begitu mendambakan
seorang anak, tapi hingga saat ini aku belum bisa mewujudkannya. Oppa
bilang jika dia menikah denganmu mungkin kalian sudah memiliki 2 anak
yang lucu. Dia mengatakannya di depanku sambil melihat foto kalian saat
berdua.”cerita Soo Song unnie sambil menangis.
“ini mungkin
salahku yang menjadi penghalang di hubungan kalian. Seharusnya aku
mengalah. Seharusnya aku sadar diri saat kalian menceritakan masa lalu
kalian. Seharusnya aku tidak egois. Ini hukuman untukku. Dia tidak bisa
melupakanmu, Chae. Dia mencintaimu. Bahkan setelah menikah dia sering
membandingkanku denganmu. Aku bukan yeoja yang tepat untuknya.”
“tau apa unnie tentang orang yang tepat atau tidak? Pernikahan itu
bukan seperti membeli parfum yang memiliki tester. Bukan ingin berakting
dewasa. Hanya saja aku harus bisa berfikir waras. Jika aku diposisi
unnie dari pada memohon yeoja lain menikah dengan namja yang aku cintai
lebih baik memperbaiki hubungan itu.”jawabku dengan tenang walau
sebenarnya aku hampir stress dengan kondisi seperti ini. Kenapa jadi
sesulit ini? Aku sudah sangat pusing mengurus perusahaan, mengurus appa
yang minta cucu dan suamiku yang hingga kini tidak ada kabar dan kini
aku harus masuk dipermasalahan rumah tangga orang lain.
“aku
sudah menikah unnie. Aku bahagia dengannya, suamiku sangat mencintaiku.
Dan aku tidak mungkin kembali dengan Taeyang oppa. Taeyang oppa milikmu
dan akan selalu seperti itu jadi pertahankan dia, unnie. Jika kau bukan
yeoja yang tepat pasti dia tidak akan menikahimu.”kataku sambil melihat
Soo Song yang menghapus tangisnya dengan tissue.
“tapi, kini
oppa ingin mendapatkanmu Chaerin dan aku tidak bisa apa-apa untuk
menahannya tetap disisiku. Aku tidak bisa memberikannya anak.”katanya
sambil menangis. Air matanya seakan tidak bisa berhenti. Aku juga yeoja
walau sedikit aku bisa merasakan sakitnya berada diposisi Soo Song.
“jika dulu aku yang menyerah kini giliran Taeyang oppa yang harus
menyerah padaku, unnie. Aku tidak mungkin berpisah dengan suamiku.”
“dia tidak mencintaiku lagi, Chaerin.”
“itu tidak mungkin, unnie.”kataku pindah duduk di sebelah Soo Song
unnie dan memeluknya untuk menenangkannya. Membiarkan Soo Song unnie
menangis dipelukanku. Ini tidak bisa dibiarkan. Aku harus membantu
mereka sebelum dampaknya semakin parah. Jika dulu ahjusshi itu bisa
menyingkirkan Taeyang oppa hingga ke Negara lain, mungkin nanti dia akan
memindahkan Taeyang oppa keluar angkasa karena mendekatiku lagi.
Seorang Kwon Jiyong pasti bisa melakukan apapun yang dia mau, termasuk
hal paling aneh sekalipun. Ah.. aku jadi kembali kesal karena belum
dapat pesan darinya.
.
.
.
.
@seminggu kemudian
Seperti yang aku duga Taeyang oppa tidak melepaskanku begitu saja.
Appaku sudah keluar dari rumah sakit 3 hari lalu dan ahjusshi mesum
menyebalkan itu belum juga bisa aku hubungi.
Sebenarnya aku
sempat cemas terjadi hal yang tidak dinginkan saat diperjalanan. Tapi
jika memang ada sesuatu pasti dunia bisnis tidak akan sesepi ini
mengingat ahjusshi mesum itu termasuk kelompok orang yang mempengaruhi
pereonomian dunia.
Setidaknya kini ada berita seberapa besar masalah yang
sekarang di selesaikan ahjusshi mesum itu. Ternyata ada petinggi
karyawan yang mengunakan dana perusahaan dan menipu pemegang saham
bahkan terbuka fakta baru bahwa adanya pembunuhan untuk menghilangkan
saksi. Mungkin ahjusshi itu tidak akan kembali.
Jika hal itu terjadi mungkinkah aku baik-baik saja?
“aku sudah datang lebih awal. Tapi, ternyata kau sudah ada disini,
Chae.”kata Taeyang oppa yang menghampiriku. Kami kini ada di sebuah
restoran mewah. Taeyang terlihat tampan dengan setelan jasnya.
“tidak masalah, kebetulan tadi aku ada janji dengan rekanku jadi aku
langsung ke sini.”jawabku dan Taeyang oppa tersenyum. Tidak lama kami
mengobrol pesanan makanan kami pun datang. Taeyang oppa memotong
dagingku layaknya seorang gentleman.
“oppa.”
“hmm..”jawab Taeyang oppa tersenyum padaku.
“aku bertemu dengan Soo Song unnie.”kataku dan wajah Taeyang Oppa menjadi kaku.
“dia sudah cerita padaku semuanya.”sambungku.
“tolong, dengarkan penjelasanku.”mohonnya.
“tidak, oppa. Jika itu berkaitan denganku, aku tidak bisa. Aku memang
pernah mencintaimu, oppa. Bahkan aku masih mencintaimu saat kau akan
menikah. Aku menangis, aku sempat terpuruk dan kini aku tahu kau tidak
seberharga itu. Aku sadar bahwa aku tidak mencintaimu sedalam itu.
Hatiku tidak ada lagi kau, oppa.”
“kau berbohongkan Chaerin?”
“tidak, oppa. Sejak aku melepaskanmu dengan Soo Song unnie aku tahu
bahwa aku bukanlah orang yang berhak hidup denganmu dan bahagia
bersamamu, oppa. Bukankah kau yang memilih untuk bersama Soo Song unnie?
Kau tahu, oppa? Mendengarmu menuntut cerai dan memintaku bersamamu itu
membuatku kecewa. Kau bukan seperti Taeyang oppa yangku kenal.
Kembalilah dengan unnie, dia begitu mencintaimu. Aku harap kau segera
sadar, oppa.”kataku lalu pergi dari restoran ini membiarkan Soo Song
unnie yang mengambil kendali selanjutnya. Aku harap sepasang suami-istri
itu tidak menggangguku lagi. Sekarang, dimana ahjusshi mesum
menyebalkan itu? Akh, dia benar-benar tidak peduli denganku sepertinya.
Aku berjalan menuju kamarku, kamarku yang sepi. Aku terduduk di kasur
dan menyadari ternyata beberapa hari tidak bisa melihat ahjusshi mesum
itu membuatku merasakan kehilangan. Aku mengakui hal itu. Sebenarnya apa
yang membuatnya tidak bisa menghubungiku? Bukankah semua baik-baik saja
saat malam itu? Bahkan dia memelukku dan memanggilku ‘sweetheart’
seperti biasa.
Suara pintu membuatku membuyarkan pikiranku. Seseorang masuk ke kamarku.
“hey, sweetheart!”kata orang itu dengan senyuman manisnya. Mungkin aku
bermimpi, tapi aku tidak bisa menahan untuk tersenyum dan menangis.
Mungkin aku benar-benar merindukannya.
“kenapa kau menangis? Membuatmu menangis adalah
hal yang tak pernah terfikirkan dalam hidupku. Jadi, berhentilah
menangis. Tidak bisakah kau memberikanku ciuman saja? Aku sangat
merindukanmu.”katanya berjalan ke arahku dan memelukku. Tubuhku terasa
hangat. Apakah ini nyata?
“kau sudah kembali?”tanyaku dalam
tangis. Aku tidak pernah selemah dan semenyedihkan ini sebelumnya. Tapi,
kehadirannya sungguh berefek luar biasa tanpaku sadari.
“ya,
aku sudah pulang sweetheart. Maafkan, aku tidak menghubungimu. Aku hanya
ingin menyelesaikan masalah disana dengan cepat agar bisa cepat kembali
denganmu. Dan aku takut jika aku mendengar suaramu maka tanpa sadar aku
akan meninggalkan pekerjaanku. Kau tahukan kau adalah paling terpenting
di hidupku, kau magnetku.”jawabnya sambil mengelus punggungku dan
mengecup kepalaku. Tangisku pecah. Sepertinya aku benar-benar sangat
merindukannya melebihi yang aku kira.
“aku diberi tahu bahwa
dia sering menemuimu selama aku tidak ada, kita akan bahas itu nanti.
Karena aku yakin istriku sangat merindukanku saat ini.”katanya dengan
nada menggodaku, tapi kali ini aku tidak akan membalasnya karena aku
tidak bisa menepis hal itu. Aku tidak bisa berbohong untuk mengatakan
bahwa itu tidak benar karena tanganku saja memeluk erat ahjusshi mesum
menyebalkan ini. Aku merindukan aroma tubuhnya, aku merindukan saat dia
menjahiliku, aku merindukan saat dia menggodaku dan aku merindukan
kehadirannya.
“oh sweetheart, kau sungguh manis. Apakah aku harus pergi terus agar kau memelukku seperti ini, hmm?”
“jangan pergi lagi! Jangan pergi dengan cara seperti itu! Kau membuatku
takut, ahjusshi.”Jawabku. Ahjusshi memegang kedua pipiku dengan lembut
mengangkat wajahku agar kami bisa saling menatap.
“terimakasih.
Aku mencintaimu.”katanya dan dia mengecup bibirku. Dengan lembut
ahjusshi menghapus air mataku yang mengalir dan mengecup dua mataku.
“jangan menangis, sweetheart! Aku tidak akan melepaskanmu.”katanya sambil menatapku lekat.
Bibirnya tiba-tiba menempel dibibirku, membuatku terkejut. Kemudian
ciumannya berubah menjadi lembut dan tanpa sadar aku membalas ciumannya.
Aku larut dalam ciumannya yang membuatku seakan berada di langit,
membekukan otakku untuk berkerja. Aku tidak memberontak sekarang. Aku
hanya bisa menikmati sentuhan tangannya sehingga meloloskan gaun yang
aku kenakan. Selanjutnya hanya kami yang mengetahui apa yang terjadi.
Yang pasti kami menghabiskan malam dengan saling memberikan kebahagiaan.
Aku telah jatuh cinta padanya. I love you, ahjusshi!
.
.
.
.
.
.
END or next?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar