I HATE MY SELF!
AUTHOR: Kim Daisy
CAST: LEE CAHERIN (CL 2NE1) dan Kwon Jiyong (GD BIG BANG)
GENRE: HURT
-----
MATI! MATI! MATI! Aku mohon, tabrak aku! Kupejamkan mataku, membiarkan semua terjadi. Terasa sakit saat ban motor menyentuh kakiku. Aku terdorong hingga terjatuh ke aspal.
Sinar mata hari menyilaukanku, hingga tanpa sadar aku membuka mataku.
“kau sudah bangun?”kata seorang yeoja. Dia suster rumah sakit. Tuhan kau jahat sekali. Kenapa kau membiarkanku hidup? Kutarik infus yang menembus kulitku.
“apa yang kau lakukan?”tanya suster panik melihat aksiku.
“kenapa kalian menyelamatku?”teriakku. Aku sadar beberapa pasang mata menatapku. Tapi, aku tak peduli.
“dimana bajuku?!”kataku. susternya terlihat bingung. Aku langsung saja turun dari kasur.
“akh!!! Kakiku!”kataku terjatuh dari kasur. Suster berniat menolongku tapi, aku segera menepis tangannya.
“aku harus keluar karena aku tak akan sanggup membayarnya.”kataku.
“tidak boleh begitu agassi. Kau harus tetap disini.”kata suster.
“Ok. Aku akan membayarnya tapi, jika aku keluar dan aku akan masuk ker rumah sakit ini berjanjilah tak akan menolongku lagi.”kataku. suster itu diam aku bangkit sendiri dengan susah payah karena rasa sakit di kakiku.
“AAKH!!”teriakku saat sesuatu menyentuh lukaku dan aku terjatuh kembali.
“bius saja dia. Kalau perlu hingga dia benar-benar sehat.”kata seorang namja. Aku melihat tajam ke namja itu. Siapa memangnya dia?
“tidak bisa begitu tuan.”jawab suster itu.
“kalau begitu cepat urus kamarnya. Biar dia tak lari.”kata namja itu.
“ne.”kata suster itu sedikit berlari pergi. Aku berusaha bangun kembali. Tapi, rasa sakit di kakiku membuatku gagal untuk bangun.
“kakimu terkilir. Untung hanya terkilir.”kata namja itu.
“bagus. Alasan aku untuk mati semakin lengkap.”kataku. Air mataku terjatuh karena rasa sesak di dadaku.
“kau kira hidup sesimple itu?”kata namja itu dan langsung mengangkatku ke kasur. Aku terkaget sehingga air matakuku berhenti.
“jika hidup itu mudah dan datar, artinya itu bukan hidup.”kata namja itu lagi.
“kau bisa memerintah suster tadi. Artinya kau bukan orang biasa. Hidup orang sepertimu berbeda dengan hidupku. Jangan kau samakan! Karena hidup kita berbeda. You don’t know anyting about me, boy!”kataku.
“kalau begitu izinkan aku mengenalmu!”
“kau siapa? Pentingkah aku berkenalan denganmu?”
“namaku Jiyong!”
“namaku dewi kematian”kataku asal.
“jaga bicaramu!”ancamnya.
“ada yang salah? Kalau gitu biarkan aku pergi.”kataku.
“baiklah. Pergilah!”katanya sambil menjauh dari tempat tidurku. Aku gerakkan kakiku perlahan. Aku bisa berdiri dengan satu kakiku. Sambil sedikit berpegangan dengan kasur agar aku seimbang. Aku berjalan mejauhi kasurku. Pasien yang lain menatapku bingung, aku tak peduli. Sekelompok suster berdiri di dekatku saat aku akan meraih pintu.
“kamarnya sudah ada?”tanya namja itu. Suster mengagguk.
“kalau begitu paksa dia masuk ke kamarnya.” Kata namja itu.
“kau bilang aku boleh pergi!”teriakku saat suster menahanku pergi.
“jika suster tidak langsung datang. Tapi, suster keburu datang.”jawab namja itu.
“mian agassi, kau belum boleh terlalu banyak menggerakkan kakimu. Kami akan membiusmu.”kata suster dari salah satu suster. Terasa suntukkan menembus kulitku.
Saat aku bangun aku sudah ada di sebuah kamar yang indah. Jelas ini bukan kamarku.
“kau sudah bangun?”kata seorang namja.
“kau lagi!” kataku kesal.
“aku yang menabrakmu. Izinkan aku betanggung jawab.”katanya.
“bertangung jawab? Memang apa yang kau lakukan? Kau tak perlu bertanggung jawab karena menabrakku kau harus bertanggung jawab karena telah menyelamatkanku. Jika kau tidak menyelamatkanku, sekarang aku sudah bahagia. Tenang saja, aku tidak punya siapa-siapa jadi tidak akan ada yang menuntutmu”jelasku.
“baik. Aku akan bertanggung jawab. Tapi, berhentilah mencoba kabur dan bunuh diri.”katanya dengan tatapan serius.
“memang kau siapaku?”tanyaku.
“aku orang yang akan bertanggung jawab padamu.”katanya menatapku dalam, berusaha membuatku yakin padanya.
Sekarang namja bernama Jiyong ini membantuku yang berjalan dengan tongkat. Aku duduk di sofa. Dan dia duduk di dekatku.
“kau tinggal sendiri?”tanyanya.
“ne. Sekarang rumah ini terasa sangat besar. Aku akan menjualnya dan pindah kerumah lebih kecil”
“kemana orang tuamu?”
“mereka tak pernah ada.”
“kenapa kau ingin sekali mati?”
“bukan urusanmu!”
“itu jadi urusanku karena kau tanggung jawabku.”katanya.
“aku tak sanggup menjalani hidupku lagi.”
“kau kira hanya kau yang menderita? Lebih dari seminggu di rumah sakit, kau juga tak sadar jika hidup itu penting?”
“you don’t know anything about me!”bentakku
“maka dari itu, izinkan aku tahu tentangmu!”katanya tak kalah tegas.
“kenapa kau tak membiarkanku mati saja? Itu akan lebih mudah”kataku.
“baik. Setelah aku pergi kau boleh bunuh diri!”katanya kesal dan pergi dari rumahku. Suara mobilnya terdengar menjauh dari rumahku.
“kau tak jadi bunuh diri? Kenapa?” suara itu lagi. Aku melihat kesumber suara, ya memang namja itu. Entah kenapa kali ini aku ingin berlari dan memeluknya. Tapi, aku ingat dia bukan siapa-siapa dan dengan kakiku ini akutak akan bisa melakukanya.
“aku sudah memberikanmu waktu seminggu untuk bunuh diri tapi, kau sampai sekarang tidak mati juga”kata namja itu. Aku hanya diam menatapnya. Dia menarik tangganku. Sebenarnya bukan aku tak mencoba bunuh diri tapi, aku selalu gagal saat melakukannya.
“kakiku sakit! Kenapa kau memaksaku?”tanyaku. Dengan mudah dia mengendongku di depan, seperti seorang putri.
“apa yang kau lakukan!”kataku sambil meronta.
“mengendongimu”jawabnya santai. Dia menjatuhkanku ke jok mobil sedikit kasar.
“rumah ini akanku jual. Jadi aku akan membawamu kerumah baru.”katanya.
“seenaknya saja kau!”kataku sambil memukulnya.
“untuk saat ini hanya itu yang bisa aku lakukan. Pukullah aku hingga kau puas.”katanya tanpa menghalangi atau menahan tanganku yang mendarat ke dadanya dengan keras.
“bukankah kau penari balet? Dengan kaki cedera begitu kau bisa menari? Dengan tinggal dirumahku aku jadi lebih mudah untuk mengawasimu”katanya dengan menatapku dalam.
“kucing jalanan akan menjadi kucing peliharaan.”gumamku.
“biarkan kau bergantung padaku karena itu aku ada disini.”katanya dengan tatapan serius. Wajahnya benar-benar dekat denganku hingga aku merasa sedikit gugup.
“sebenarnya kau tidak perlu usaha sebesar ini menjagaku. Aku ini bukankah hanya kucing liar.”kataku. Dia menutup pintu mobil kuat dan berjalan menuju kursi pengemudi.
Sudah lebih dari seminggu aku dirumahnya. Walau dia jarang dirumah dan meninggalkanku sendirian di rumahnya, aku sangat merasakan curahan perhatiannya padaku.
“tidurlah!”katanya setelah dia mengendongku dan menidurkanku di kasur dengan lembut. Dia menyelimuti tubuhku dengan selimut dan mematikan lampu kamarku. Sebenarnya untuk apa aku disini? Hanya menjadi bebannya? Atau peliharaannya? Aku sungguh tak berguna. Lalu kenapa dia memungutku?
AUTHOR: Kim Daisy
CAST: LEE CAHERIN (CL 2NE1) dan Kwon Jiyong (GD BIG BANG)
GENRE: HURT
-----
MATI! MATI! MATI! Aku mohon, tabrak aku! Kupejamkan mataku, membiarkan semua terjadi. Terasa sakit saat ban motor menyentuh kakiku. Aku terdorong hingga terjatuh ke aspal.
Sinar mata hari menyilaukanku, hingga tanpa sadar aku membuka mataku.
“kau sudah bangun?”kata seorang yeoja. Dia suster rumah sakit. Tuhan kau jahat sekali. Kenapa kau membiarkanku hidup? Kutarik infus yang menembus kulitku.
“apa yang kau lakukan?”tanya suster panik melihat aksiku.
“kenapa kalian menyelamatku?”teriakku. Aku sadar beberapa pasang mata menatapku. Tapi, aku tak peduli.
“dimana bajuku?!”kataku. susternya terlihat bingung. Aku langsung saja turun dari kasur.
“akh!!! Kakiku!”kataku terjatuh dari kasur. Suster berniat menolongku tapi, aku segera menepis tangannya.
“aku harus keluar karena aku tak akan sanggup membayarnya.”kataku.
“tidak boleh begitu agassi. Kau harus tetap disini.”kata suster.
“Ok. Aku akan membayarnya tapi, jika aku keluar dan aku akan masuk ker rumah sakit ini berjanjilah tak akan menolongku lagi.”kataku. suster itu diam aku bangkit sendiri dengan susah payah karena rasa sakit di kakiku.
“AAKH!!”teriakku saat sesuatu menyentuh lukaku dan aku terjatuh kembali.
“bius saja dia. Kalau perlu hingga dia benar-benar sehat.”kata seorang namja. Aku melihat tajam ke namja itu. Siapa memangnya dia?
“tidak bisa begitu tuan.”jawab suster itu.
“kalau begitu cepat urus kamarnya. Biar dia tak lari.”kata namja itu.
“ne.”kata suster itu sedikit berlari pergi. Aku berusaha bangun kembali. Tapi, rasa sakit di kakiku membuatku gagal untuk bangun.
“kakimu terkilir. Untung hanya terkilir.”kata namja itu.
“bagus. Alasan aku untuk mati semakin lengkap.”kataku. Air mataku terjatuh karena rasa sesak di dadaku.
“kau kira hidup sesimple itu?”kata namja itu dan langsung mengangkatku ke kasur. Aku terkaget sehingga air matakuku berhenti.
“jika hidup itu mudah dan datar, artinya itu bukan hidup.”kata namja itu lagi.
“kau bisa memerintah suster tadi. Artinya kau bukan orang biasa. Hidup orang sepertimu berbeda dengan hidupku. Jangan kau samakan! Karena hidup kita berbeda. You don’t know anyting about me, boy!”kataku.
“kalau begitu izinkan aku mengenalmu!”
“kau siapa? Pentingkah aku berkenalan denganmu?”
“namaku Jiyong!”
“namaku dewi kematian”kataku asal.
“jaga bicaramu!”ancamnya.
“ada yang salah? Kalau gitu biarkan aku pergi.”kataku.
“baiklah. Pergilah!”katanya sambil menjauh dari tempat tidurku. Aku gerakkan kakiku perlahan. Aku bisa berdiri dengan satu kakiku. Sambil sedikit berpegangan dengan kasur agar aku seimbang. Aku berjalan mejauhi kasurku. Pasien yang lain menatapku bingung, aku tak peduli. Sekelompok suster berdiri di dekatku saat aku akan meraih pintu.
“kamarnya sudah ada?”tanya namja itu. Suster mengagguk.
“kalau begitu paksa dia masuk ke kamarnya.” Kata namja itu.
“kau bilang aku boleh pergi!”teriakku saat suster menahanku pergi.
“jika suster tidak langsung datang. Tapi, suster keburu datang.”jawab namja itu.
“mian agassi, kau belum boleh terlalu banyak menggerakkan kakimu. Kami akan membiusmu.”kata suster dari salah satu suster. Terasa suntukkan menembus kulitku.
Saat aku bangun aku sudah ada di sebuah kamar yang indah. Jelas ini bukan kamarku.
“kau sudah bangun?”kata seorang namja.
“kau lagi!” kataku kesal.
“aku yang menabrakmu. Izinkan aku betanggung jawab.”katanya.
“bertangung jawab? Memang apa yang kau lakukan? Kau tak perlu bertanggung jawab karena menabrakku kau harus bertanggung jawab karena telah menyelamatkanku. Jika kau tidak menyelamatkanku, sekarang aku sudah bahagia. Tenang saja, aku tidak punya siapa-siapa jadi tidak akan ada yang menuntutmu”jelasku.
“baik. Aku akan bertanggung jawab. Tapi, berhentilah mencoba kabur dan bunuh diri.”katanya dengan tatapan serius.
“memang kau siapaku?”tanyaku.
“aku orang yang akan bertanggung jawab padamu.”katanya menatapku dalam, berusaha membuatku yakin padanya.
Sekarang namja bernama Jiyong ini membantuku yang berjalan dengan tongkat. Aku duduk di sofa. Dan dia duduk di dekatku.
“kau tinggal sendiri?”tanyanya.
“ne. Sekarang rumah ini terasa sangat besar. Aku akan menjualnya dan pindah kerumah lebih kecil”
“kemana orang tuamu?”
“mereka tak pernah ada.”
“kenapa kau ingin sekali mati?”
“bukan urusanmu!”
“itu jadi urusanku karena kau tanggung jawabku.”katanya.
“aku tak sanggup menjalani hidupku lagi.”
“kau kira hanya kau yang menderita? Lebih dari seminggu di rumah sakit, kau juga tak sadar jika hidup itu penting?”
“you don’t know anything about me!”bentakku
“maka dari itu, izinkan aku tahu tentangmu!”katanya tak kalah tegas.
“kenapa kau tak membiarkanku mati saja? Itu akan lebih mudah”kataku.
“baik. Setelah aku pergi kau boleh bunuh diri!”katanya kesal dan pergi dari rumahku. Suara mobilnya terdengar menjauh dari rumahku.
“kau tak jadi bunuh diri? Kenapa?” suara itu lagi. Aku melihat kesumber suara, ya memang namja itu. Entah kenapa kali ini aku ingin berlari dan memeluknya. Tapi, aku ingat dia bukan siapa-siapa dan dengan kakiku ini akutak akan bisa melakukanya.
“aku sudah memberikanmu waktu seminggu untuk bunuh diri tapi, kau sampai sekarang tidak mati juga”kata namja itu. Aku hanya diam menatapnya. Dia menarik tangganku. Sebenarnya bukan aku tak mencoba bunuh diri tapi, aku selalu gagal saat melakukannya.
“kakiku sakit! Kenapa kau memaksaku?”tanyaku. Dengan mudah dia mengendongku di depan, seperti seorang putri.
“apa yang kau lakukan!”kataku sambil meronta.
“mengendongimu”jawabnya santai. Dia menjatuhkanku ke jok mobil sedikit kasar.
“rumah ini akanku jual. Jadi aku akan membawamu kerumah baru.”katanya.
“seenaknya saja kau!”kataku sambil memukulnya.
“untuk saat ini hanya itu yang bisa aku lakukan. Pukullah aku hingga kau puas.”katanya tanpa menghalangi atau menahan tanganku yang mendarat ke dadanya dengan keras.
“bukankah kau penari balet? Dengan kaki cedera begitu kau bisa menari? Dengan tinggal dirumahku aku jadi lebih mudah untuk mengawasimu”katanya dengan menatapku dalam.
“kucing jalanan akan menjadi kucing peliharaan.”gumamku.
“biarkan kau bergantung padaku karena itu aku ada disini.”katanya dengan tatapan serius. Wajahnya benar-benar dekat denganku hingga aku merasa sedikit gugup.
“sebenarnya kau tidak perlu usaha sebesar ini menjagaku. Aku ini bukankah hanya kucing liar.”kataku. Dia menutup pintu mobil kuat dan berjalan menuju kursi pengemudi.
Sudah lebih dari seminggu aku dirumahnya. Walau dia jarang dirumah dan meninggalkanku sendirian di rumahnya, aku sangat merasakan curahan perhatiannya padaku.
“tidurlah!”katanya setelah dia mengendongku dan menidurkanku di kasur dengan lembut. Dia menyelimuti tubuhku dengan selimut dan mematikan lampu kamarku. Sebenarnya untuk apa aku disini? Hanya menjadi bebannya? Atau peliharaannya? Aku sungguh tak berguna. Lalu kenapa dia memungutku?
Sebenarnya kakiku masih sakit tapi, aku berjalan
ke arahnya. Ke arah namja yang menolongku itu, Kwon Jiyong yang baru saja
pulang kerja. Aku membantunya membuka dasinya. Aku menciumi pipinya. Dia hanya
dia dan terlihat keget. Aku mengambil tas yang di pegangnnya dan menaruh tas
itu ke lantai. Aku megang tangan Jiyong sambil menatapnya seduktif dan
manariknya hingga ke sofa. Aku menjatuhkan tubuhnya ke sofa dan langsung
mencium bibirnya. Dia masih terdiam dan tak membalas ciumanku. Apa dia masih
kaget? Aku melihat wajahnya. Wajahnya kini tidak menatapku lebut seperti biasa,
wajahnya kali ini tanpa expresi. Apa dia tak bergairah? Kulumat bibirnya
segera. Tiba-tiba aku terjatuh ke sofa dan tamparan mendarat di pipi kanankku.
Aku memegang pipiku yang panas karena tamparan tapi, aku segera bangun dan
melumat bibirnya kembali. Tapi, lagi-lagi Jiyong menapar pipiku yang sama.
“kenapa kau menamparku? Apa kau memang suka bermain kasar. Tak masalah, aku tetap akan melaiyanimu.”kataku dan langsung ingin menciumnya kembali tapi, dia menahanku. Wajahnya menjauh dariku.
“wae? Bukankah ini yang kau mau? Menjadikan aku mainanmu?”kataku lagi.
“kau salah! Kau bukan mainanku, bukan peliharaan, wanita simpanan atau pemuas napsuku. Kau tanggung jawabku!”jawab Jiyong tegas.
“atas dasar apa aku jadi tanggung jawabmu? Apa karena kecelakaan? Sudahlah, aku tak butuh tanggung jawabmu itu.”teriakku. kali ini Jiyong yang tiba-tiba melumat bibirku dengan kasar. Lalu, dia mendorongku kasar.
“itu yang kau mau Lee Chaerin?”katanya dengan tatapan tajam. Aku hanya diam ketakutaan.
“itu kan yang kau mau Chaerin-ssi?”katanya, dia memegang tanganku dan melumat bibirku dengan paksa. Air mataku menetes dan Jiyong segera berhenti saat merasakan air mata di pipinya. Tiba-tiba dia memelukku lembut tapi, air mataku tetap mengalir.
“menyakitkan bukan? Aku tak pernah berfikir akan melakukan hal seperti ini denganmu. Aku tak ingin menyakitimu. Tapi, kali ini aku berfikir untuk melakukannya karena aku ingin menyadarkanmu. Aku tak pernah berniat buruk padamu Chaerin, aku memang ingin memilikimu tapi, tidak begini caranya. Aku ingin semua berjalan senatural mungkin sampai kau benar-benar mencintaiku dan mengginginkanku seperti aku yang aku rasakan padamu. Yang harus kau tahu aku mencintaimu seperti seorang kekasih bukan seperti tuan dan peliharaannya. Menurutmu mungkin ini tidak masuk akal tapi, namja yang menyukai seorang yeoja tidak perlu mengunakan akal sehatnya. Namja mencintai seorang yeoja hanya karena mengikuti nalurinya dan naluriku berkata aku mencintaimu”kata Jiyong dengan lembut tapi, aku tetap menangis.
“bagaimana mungkin yeoja sepertiku ini dicintai namja baik-baik sepertimu? Aku pasti berbohongkan?”kataku sambil menahan isak tangisku. Jiyong melepaskan pelukannya dan menatapku dalam.
“jangan berfikir kau tak pantas untukku! Karena tidak ada yeoja yang pantas untukku selain kamu, Lee Chaerin. kenapa aku begitu yakin?”katanya. aku menggelengkan kepalaku pelan dan Jiyong kembali memelukku hangat.
“hanya kau yang bisa membuat jantungku berdetak tak beraturan. Rasa ini tidak terjadi baru-baru ini tapi, tiga tahu yang lalu saat kau menari dipanggung. Tiga tahun lalu aku kira ini hanya perasaan fans pada idolanya. Selama dua tahun ini aku memastikan perasaanku dan aku yakin aku memang mencintaimu. Aku pernah datang menonton pertunjukan balet orang lain tapi, aku hanya biasa saja berbeda saat aku melihatmu. Aku mencari cara agar aku dapat menghubungimu tapi, kau tak pernah mau berhubungan dengan para penonton bahkan kau selalu memberikan karangan bunga dari penontonmu ke orang lain. Aku tak bisa marah padamu.”jelas Jiyong.
“kau kira aku bisa percaya? Tidak ada orang yang mencintaiku bahkan menyayangiku”kataku.
“kau memang tak pernah percaya sama orang lain. Tapi, kali ini kau bisa percaya padaku.”kata Jiyong.
“sampai kapan kau memelukku seperti ini?”tanyaku.
“sampai kau yakin padaku”katanya sambil tertawa.
Yah, bersama namja ini aku menjadi menikmati manisnya hidup. Aku sadar kepahitan hidupku yang lalu seharusnya tidak membuatku untuk bunuh diri. Karena manis kehidupan harus di kejar. Terimakasih Jiyong, karena kau sudah menjadi alasanku untuk hidup.
“Chaerin, kenapa melamun? Bukankah kita harus segera menonton pertunjukan balet anak kita?”kata Jiyong oppa sambil membukakan pintu mobil untukku.
“ah, ne oppa!”kataku sambil berjalan menuju mobil dan masuk ke mobil. Jiyong oppa menutup pintu mobil untukku. Ne, kami sudah mempunyai malaikat kecil seorang yeoja yang juga menjadi alasan kuatku untuk tetap menjalani hidupku.
“kau siap?”tanya Jiyong oppa.
“ne!”kataku antasias.
“kita berangkat!”kata Jiyong oppa yang tersenyum dan mulai mengemudikan mobil putihnya.
END
“kenapa kau menamparku? Apa kau memang suka bermain kasar. Tak masalah, aku tetap akan melaiyanimu.”kataku dan langsung ingin menciumnya kembali tapi, dia menahanku. Wajahnya menjauh dariku.
“wae? Bukankah ini yang kau mau? Menjadikan aku mainanmu?”kataku lagi.
“kau salah! Kau bukan mainanku, bukan peliharaan, wanita simpanan atau pemuas napsuku. Kau tanggung jawabku!”jawab Jiyong tegas.
“atas dasar apa aku jadi tanggung jawabmu? Apa karena kecelakaan? Sudahlah, aku tak butuh tanggung jawabmu itu.”teriakku. kali ini Jiyong yang tiba-tiba melumat bibirku dengan kasar. Lalu, dia mendorongku kasar.
“itu yang kau mau Lee Chaerin?”katanya dengan tatapan tajam. Aku hanya diam ketakutaan.
“itu kan yang kau mau Chaerin-ssi?”katanya, dia memegang tanganku dan melumat bibirku dengan paksa. Air mataku menetes dan Jiyong segera berhenti saat merasakan air mata di pipinya. Tiba-tiba dia memelukku lembut tapi, air mataku tetap mengalir.
“menyakitkan bukan? Aku tak pernah berfikir akan melakukan hal seperti ini denganmu. Aku tak ingin menyakitimu. Tapi, kali ini aku berfikir untuk melakukannya karena aku ingin menyadarkanmu. Aku tak pernah berniat buruk padamu Chaerin, aku memang ingin memilikimu tapi, tidak begini caranya. Aku ingin semua berjalan senatural mungkin sampai kau benar-benar mencintaiku dan mengginginkanku seperti aku yang aku rasakan padamu. Yang harus kau tahu aku mencintaimu seperti seorang kekasih bukan seperti tuan dan peliharaannya. Menurutmu mungkin ini tidak masuk akal tapi, namja yang menyukai seorang yeoja tidak perlu mengunakan akal sehatnya. Namja mencintai seorang yeoja hanya karena mengikuti nalurinya dan naluriku berkata aku mencintaimu”kata Jiyong dengan lembut tapi, aku tetap menangis.
“bagaimana mungkin yeoja sepertiku ini dicintai namja baik-baik sepertimu? Aku pasti berbohongkan?”kataku sambil menahan isak tangisku. Jiyong melepaskan pelukannya dan menatapku dalam.
“jangan berfikir kau tak pantas untukku! Karena tidak ada yeoja yang pantas untukku selain kamu, Lee Chaerin. kenapa aku begitu yakin?”katanya. aku menggelengkan kepalaku pelan dan Jiyong kembali memelukku hangat.
“hanya kau yang bisa membuat jantungku berdetak tak beraturan. Rasa ini tidak terjadi baru-baru ini tapi, tiga tahu yang lalu saat kau menari dipanggung. Tiga tahun lalu aku kira ini hanya perasaan fans pada idolanya. Selama dua tahun ini aku memastikan perasaanku dan aku yakin aku memang mencintaimu. Aku pernah datang menonton pertunjukan balet orang lain tapi, aku hanya biasa saja berbeda saat aku melihatmu. Aku mencari cara agar aku dapat menghubungimu tapi, kau tak pernah mau berhubungan dengan para penonton bahkan kau selalu memberikan karangan bunga dari penontonmu ke orang lain. Aku tak bisa marah padamu.”jelas Jiyong.
“kau kira aku bisa percaya? Tidak ada orang yang mencintaiku bahkan menyayangiku”kataku.
“kau memang tak pernah percaya sama orang lain. Tapi, kali ini kau bisa percaya padaku.”kata Jiyong.
“sampai kapan kau memelukku seperti ini?”tanyaku.
“sampai kau yakin padaku”katanya sambil tertawa.
Yah, bersama namja ini aku menjadi menikmati manisnya hidup. Aku sadar kepahitan hidupku yang lalu seharusnya tidak membuatku untuk bunuh diri. Karena manis kehidupan harus di kejar. Terimakasih Jiyong, karena kau sudah menjadi alasanku untuk hidup.
“Chaerin, kenapa melamun? Bukankah kita harus segera menonton pertunjukan balet anak kita?”kata Jiyong oppa sambil membukakan pintu mobil untukku.
“ah, ne oppa!”kataku sambil berjalan menuju mobil dan masuk ke mobil. Jiyong oppa menutup pintu mobil untukku. Ne, kami sudah mempunyai malaikat kecil seorang yeoja yang juga menjadi alasan kuatku untuk tetap menjalani hidupku.
“kau siap?”tanya Jiyong oppa.
“ne!”kataku antasias.
“kita berangkat!”kata Jiyong oppa yang tersenyum dan mulai mengemudikan mobil putihnya.
END

Tidak ada komentar:
Posting Komentar