jangan lupa

JANGAN LUPA KOMENTAR YA..

Rabu, 24 Februari 2016

GET A READY [PART 7]



GET A READY [PART 7]

Author: Kim Daisy
Cast: SkyDragon (GD CL)
Genre: roman, hurt
Rate : Adult
Lenght : MultyChapter
Rate Adult karena FF ini perlu pemahaman lebih complex. Maaf, kalau terlalu banyak tokoh OC dan OOC disini karena yah.. saya suka. *plak!
Ok, ini ff sangat panjang jadi sabar ya...

---------------------------------
WHERE THIS LOVE?
---------

Setelah kejadian itu Jiyong kembali bersikap kaku dan aku juga tidak bisa membuat situasi kembali normal selama kami dalam perjalanan pulang.

“masuklah.”kata Jiyong dengan gugup saat kami telah sampai di depan apartemen.

“bye”balasku dengan canggung. Aku binggung harus berkata dan bersikap seperti apa sehingga aku hanya langsung masuk ke apartemenku. Ku tutup pintu apartemenku setelah aku berhasil masuk dan sialnya tidak sengaja kedua mataku tertutup lalu kejadian itu muncul kembali dalam ingatanku.

FLASHBACK
Jiyong meletakkan tanganku dibahu dan pinggangnya. Kami pun memulai berdansa. Begitu banyak yang berdansa disini hanya saja kenapa aku focus menatap mata Jiyong yang begitu lembut menatapku. Tatapan matanya membuatku menjadi gugup tapi, tidak ada kesalahan saat kami berdansa. Jiyong tersenyum manis dan aku memutuskan untuk memutuskan kontak mata kami dengan menolehkan wajahku ke kanan tapi, itu membuat wajahku menempel pada dada bidang Jiyong. Walau suara musik begitu kencang tapi, aku hanya mendengar detak jantung Jiyong yang cepat. Tanpa sadar aku menyandarkan kepalaku didadanya, aku tidak tahu bahwa rasanya akan senyaman ini.

“Tutup matamu. Kau tidak perlu berfikir. Tapi, rasakanlah.”kata Jiyong yang terdengar seperti perintah sambil menarik daguku dengan lembut agar menatapnya. Bagaikan terhipnotis aku menutup mataku. Aku bisa merasakan sesuatu yang lembut menyentuh bibirku. Aku merasa waktu pun berhenti. Aku tahu bibir Jiyong menempel dibibirku yang belum pernah tersentuh pria sebelumnya tapi, tidak ada niat didalam benakku untuk menolak dan menghentikan ini semua. Aku malah menggemam baju Jiyong dengan erat dan kuat seakan tidak ingin ciuman lembut ini terlepas. Aku pasti sudah gila.

“ini akan menjadi malam terindahku.”kata Jiyong dengan lembut setelah mengakhiri ciuman kami.

“sepertinya kita harus segera pulang.”kata Jiyong sambil melihat sekeliling dengan menggigit bibir merahnya yang kini menjadi menarik bagiku. Jiyong pun menarikku keluar dari lantai dansa yang ternyata telah ramai untuk memotret kami.

FLASHBACK AND

Ponselku yang bergetar menyadarkanku dalam lamunanku. Sebuah pesan dari Soo Rin. Mungkin dia marah karena aku menghilang walau dia sebenarnya bukan orang seperti itu tapi, itu mungkin saja terjadi.

‘aku sudah menghapus foto kalian dari semua tamu yang datang. Aku pastikan besok kalian tidak akan menjadi incaran wartawan karena dibandingkan ciuman kalian, acara ulang tahunku jauh lebih menarik. Aku mengirimkan pesan ini pada kalian berdua jadi tidak perlu saling mencemaskan.
PS: kalian menikah saja.’

“yak!! CHA SOO RIN KAU BUNUH SAJA AKU!”teriakku frustasi. Kenapa dia harus menggingatkanku pada ciuman itu? Aa.. aku terlihat seperti gadis murahan yang mudah tergoda pria yang lebih muda. Ini memalukan.

Lagi-lagi ponselku bergetar. Kali ini bukanlah sebuah pesan, melainkan sebuah panggilan dari appa. Segeraku angkat karena appa jarang meneleponku.

“Lee Chaerin!”sapa appa dengan nada yang penuh penekanan setelah aku mengangkat teleponnya.

“ne, appa.”kataku mencoba menghilangkan emosiku pada Soo Rin.

“kau tidak menyukai Jiyong tapi, malam ini kalian berciuman.”kata appa membuatku kesulitan merasakan oksigen.

“bagaimana appa tahu?”tanyaku kaget. Appa tidak mungkin di undang disana.

“Haerin mengirimkan foto kalian. Sekarang, jelaskan padaku. Kalian punya hubungan serius?”

“aku tidak bisa menjelaskan disini appa. Semua terjadi begitu saja. Aku terbawa suasana. Aku akan kerumah besok setelah kerja jadi aku mohon, bersabarlah.”jelasku. Hanya ini yang bisaku katakan sekarang. Aku sendiri saja binggung dengan semua yang terjadi.

Author Pov
Berbeda dengan Chaerin yang hampir gila, Jiyong bersikap tenang menghadapi godaan Harin dan Soo Rin yang dari tadi chating dengannya lewat media sosial.
Sesekali dia akan menyentuh bibirnya lalu tersenyum manis dengan rona merah dipipinya. Dia juga tidak menyangka ini akan terjadi.

“ini bukan sebuah ciuman. Ini hanya sebuah kecupan tapi, kenapa efeknya begitu besar?”kata Jiyong pada dirinya sendiri lalu berjalan ke kasurnya sambil bernyanyi. Jelas sekali dia begitu senang dengan semua yang terjadi.

Hari ini Chaerin begitu gelisah dan paranoid. Kejadian di lantai dansa pun ternyata berefek besar baginya.

“apakah ini artinya kami berpacaran?”

“tidak. Tidak. Itu tidak mungkin.”

“tapi, ciuman itu..”

“sebuah ciuman tidak bisa dikatakan untuk memulai suatu hubungan.”

“tapi, diumur segini akan memalukan bila dilakukan ritual pernyataan cinta?”

Chaerin terpenjara dan berperang di dalam pikirannya sendiri sehingga dia tidak sadar bahwa Jiyon sudah berada di ruangannya dan tersenyum manis .

“salah satu ciri-ciri orang kasmaran, melamun.”kata Jiyon yang menunjuk Chaerin sambil melenggang anggun untuk duduk di kursi yang ada di ruangannya.

“Jadi, setelah malam itu apa kalian langsung membuat seorang penerus?”kata Jiyon mengodaku.

“singkirkan otak mesummu itu.”jawab Chaerin kesal tapi, itu membuat Jiyon senang.

“ kau terlihat kurang tidur. Wajar aku mempertanyakan hal itu padamu, kalian bukan anak kecil lagi.”kata Jiyon dengan tertawa dan membuat Chaerin menjadi semakin kesal.

“hal apa?”kata dokter Park yang masuk sambil membawa laporan pasiennya.

“Satu lagi si tukang gossip”pikir Chaerin yang tahu bahwa harinya tidak akan berjalan lancar.

“ah.. dr.Park, coba kau lihat ini.”kata Jiyon langsung mengejar dokter Park dan menunjukan ponselnya pada dokter Park.

“ommo, kalian berciuman di depan umum?”kata dokter Park histeris melihat Chaerin dengan tatapan tidak percaya.

“kalian mabuk?”Tanya dokter Park dan Jiyon menggeleng dengan senang.

“kau menunjukkan apa?”Tanya Chaerin mengejar Jiyon dan berusaha mengambil ponsel ditangan Jiyon. Tapi, sebelum ponsel itu didapatkannya Chaerin terduduk lemas karena melihat fotonya yang sedang berciuman dengan Jiyong ada di layar ponsel itu.

“Soo Rin bilang semua foto sudah dihapus.”kata Chaerin lemas.

“hanya untuk para tamu dan Soo Rin bukan tamu. Kau sudah lihat foto yang Harin ambil? Harin mendapatkan gambar kalian begitu sempurna dan telah dia kirimkan ke orang tua kalian juga Dami unnie.”jelas Jiyon puas dan membuat Chaerin merengek seperti anak kecil.

“kenapa hal itu terjadi?”Tanya dokter Park yang belum hilang rasa penasarannya.

“tanyakan saja pada pelakunya.”kata Jiyon menggangu Chaerin. Baru kali ini dia melihat Chaerin kehilangan control seperti ini dan ini sangat menarik bagi Jiyon. Entah kenapa sikap Soo Rin yang menyebalkan menjadi menular padanya.

“bolehkah kau kirim foto itu kepadaku?”Tanya dokter Park.

“ops, sorry ini koleksi pribadi.”jawab Jiyon dan membuat teriak Chaerin semakin kencang seakan ingin menangis.

“kalian bunuh saja aku!”
Kalimat yang dilontarkan Chaerin dengan sukses membuat Jiyon semakin senang.

Chaerin masuk ke rumah keluarganya, seperti yang telah dia janjikan sebelumnya pada orang tuanya.

“jadi?”kata omma Chaerin yang seakan langsung menusuk Chaerin dengan pisau karena Chaerin saja belum mengucapkan ‘aku pulang’ dengan sempurna.

“bisakah aku duduk dulu, omma? Aku baru pulang. Bahkan aku belum selesai mengucapkan ‘aku pulang’.”protes Chaerin dengan lesu. Chaerin duduk dengan lemas di sofa berwarna merah yang menggoda Chaerin untuk tidur.

“kau terlalu lama menjelaskannya.”balas omma Chaerin yang tidak sabar dengan anaknya yang menggangap ini sepele.

“kami tidak punya hubungan khusus ataupun hubungan cinta seperti yang kalian duga. Kami hanya terbawa suasana. Itu hanya sebuah ciuman anak remaja, apa yang kalian fikirkan sebenarnya?!”kata Chaerin malas membahas ini terus-menerus sedangkan Jiyong tidak terihat ingin meluruskan ini semua. Bahkan Jiyong tidak mengirimkannya pesan. Chaerin mengharapkan itu semua? Tidak. Chaerin hanya binggung dengan sikap Jiyong seakan tidak ada apa-apa. Walaupun tidak ada apa-apa, sebuah pesan singkat dari Jiyong itu bagaikan suatu kebiasaan dan rutinitas yang Chaerin. Tidak mendapatkan pesan dari Jiyonglah yang menjadi penyebab wajah Chaerin semakin lecek.

“kau hanya ingin mengatakan itu? Jika hanya itu untuk apa kau pulang?”kata omma Chaerin yang semakin geram melihat Chaerin seakan tidak peduli.

“Aku yakin bertemu dengan kalian dan membicarakan ini secara langsung lebih baik.”jawab Chaerin sambil menutup matanya.

“lalu bagaimana dengan Jiyong oppa?”Tanya Harin yang ternyata sudah bergabung.

“dia bahkan tidak menghubungiku hari ini.”jawab Chaerin jujur.

“oh, jadi itu yang membuatmu lemas hari ini.”kata Harin dengan nada mengejek.

“mwo? Aku biasa saja.”protes Chaerin dan langsung bangun dari sofa, membuat Harin senang.

“aku pulang.”suara appa memutuskan debat kami. Omma langsung kembali ke dalam untuk menyiapkan makan malam.

“kita perlu bicara.”kata appa dan Chaerin mengikuti appanya.
Saat Chaerin telah duduk di kursi di ruang kerja appanya tuan Lee langsung membuka percakapan.

“berhentilah bersikap kekanak-kanakan. Menjalin hubungan cinta itu tidak mudah apalagi ada perbedaan usia yang cukup jauh tapi, aku yakin Jiyong serius denganmu. Aku sudah menyerah untuk memaksamu serius dengan asmaramu. Tapi, kau harus tau bahwa kau membuat Jiyong sangat terluka dengan sikapmu yang tidak menerima kisah cinta. Pikiranmu itu sungguh tidak bisa aku terima begitu juga dengan orang lain yang bahkan ingin dicintai. Sepertinya Jiyong benar-benar buta karenamu. Jika Jiyong pun tidak berhasil menyadarkanmu, aku selalu berharap kau bisa bahagia karena cinta. Keluarlah. Bantu ibumu menyiapkan makan malam.”kata tuan Lee tanpa mengizinkan Chaerin berbicara.

@Wushh Cafe
Lagi-lagi Soo Rin duduk di salah satu meja cafenya yang menghadap jalan. Kali ini dia focus pada ponselnya. ‘Acara rahasia kami berdua’ yang dikatakan Soo Rin pada teman-temannya adalah kebohongan. Bahkan sampai saat ini dia masih ragu dan tidak tahu harus apa jika bertemu Daesung.

“kau menunggu seserorang?”kata Daesung yang kini berada di samping Soo Rin dan membuat Soo Rin terkejut.

“kau disini?”kata Soo Rin yang jiwanya berhasil kembali kedalam tubuhnya.

“ya, aku disini.”jawab Daesung sedikit binggung dengan makna pertanyaan Soo Rin yang menurutnya sedikit ambigu.

“ah, maksudku aku tidak menunggu seseorang. Aku hanya menunggu hingga Cafe ini tutup.”jawab Soo Rin yang berhasil mengsingkronkan jiwa, pikiran dan tubuhnya.

“boleh aku duduk disini?”Tanya Daesung sambil tersenyum manis. Hati Soo Rin seakan meloncat-loncat gembira sedangkan kakinya kini seakan sudah tidak memiliki tulang.

“tentu saja.”kata Soo Rin memebalas senyuman Daesung. Bisa dibilang Soo Rin memang gugup saat ini tapi, dia seorang aktris teater yang terkenal dan pengelaman. Jadi, walaupun sekarang hatinya dan jantungnya seakan sedang meloncat-loncat dan akan berasap tapi, tidak membuat Soo Rin hilang kendali dalam ekpresi wajahnya.

“terimakasih.”kata Daesung saat duduk berhadapan dengan Soo Rin.

“apakah kau menunggu anakmu, Daesungssi? Biasanya dia sudah pulang jam segini.”kata Soo Rin berbasa-basi. Ini masih jam 10 malam tapi, rasanya dia ingin sekali langsung menutup pintu Cafenya agar tidak berlama-lama bersama Daesung.

“tidak, RinRin sudah pulang. Tadi, dia menunggumu disini tapi, kau tidak ada. Kata karyawanmu kau akan datang sebelum Cafe tutup. Makanya aku disini.”jawab Daesung menatap mata Soo Rin yang sejak tadi menghindari tatapan matanya.

“untuk apa?”Tanya Soo Rin binggung. Dia tidak ingin salah paham lagi jadi, pertanyaan yang ada dikepalanya langsung dia lontarkan begitu saja.

“aku rasa kita sudah sama-sama dewasa. Aku tahu kau sudah tertarik denganku, aku juga tertarik denganmu dan pertemuan singkat kita beberapa hari lalu membuat kami memutuskan sesuatu.”

“kami??”

“aku dan anakku, RinRin.”Jawab Daesung tersenyum melihat ekpresi Soo Rin yang diluar kendalinya.

“aku tidak ingin banyak berfikir. Tolong jelaskan saja! Aku tidak punya banyak waktu.”kata Soo Rin memaksa Daesung bicara agar dia tidak merasa tertekan dengan rasa penasaran dan dia juga takut apa yang difikirkannya salah.

“ayo, kita menjalin hubungan serius.”kata Daesung dengan tenang. Tapi, berhasil membuat Soo Rin tertekan.

“mwo??”pekiknya tidak percaya. Soo Rin benar-benar diluar kendalinya. Sikap kalem dan tenang Daesung ternyata mengalahkan sikap Soo Rin yang selalu terkontrol jika bersama orang asing. Daesung bukanlah orang yang lama di kenalnya, mereka hanya sering bertemu tanpa banyak bicara dan setelah beberapa kali bicara singkat kini pria itu menawarkah sesuatu yang menyenangkan pada Soo Rin dan itu membuat Soo Rin sulit percaya.

“maaf, aku tidak berpengalaman dalam hal ini. Aku rasa kau terlalu terburu-buru.”kata Soo Rin kembali tenang. Padahal hati kecilnya menjerit dan membrontak keputusan Soo Rin. Wajah Daesung tetap tenang.

“ya, aku mengerti. Karena itu, aku ingin meminta izinmu untuk mendekatimu.”jawab Daesung santai sambil tersenyum dan membuat Soo Rin kembali kehilangan akal sehatnya.

------------
Chaerin memainkan ponselnya dan selalu mengecek semua media social yang dimilikinya. Dia sadar bahwa ada yang ganjil jika Jiyong tidak menghubunginya. Walau setiap malam diam-diam Jiyong sudah menyiapkan makan malam di meja makan untuk Chaerin dan dihiasi sebuah pesan manis dan setangkai bunga favorit Chaerin yang disiapkan Jiyong sebelum Chaerin datang. Seminggu lebih mereka belum bertemu dan kehilangan kontak. Dan Chaerin terlalu ego untuk menghubungi Jiyong terlebih dulu. Hal ini membuat Chaerin semakin kesal. Apalagi sikap Soo Rin yang tiba-tiba tidak peduli dengannya.
“kau terlalu lamban. Terlalu egois. Apa Jiyong harus mati dulu baru kau mengakuinya?”itu kalimat Soo Rin saat Chaerin bercerita tentang kegelisaannya.

“aku pulang.”ucap Jiyong yang kini masuk ke apartemen Chaerin.

“’aku pulang?’ kau pikir ini rumahmu?”kata Chaerin dingin saat melihat Jiyong masuk. Lagi-lagi Chaerin begitu egois sehingga menunjukkan sisi dinginnya untuk menyembunyikan kerinduannya. Jiyong melihat Chaerin lekat lalu mengalihakan tatapannya ke sepatunya dan melepaskan sepatunya.

“maaf. Apa kau sudah masak? Aku tidak sempat memasak hari ini.”kata Jiyong mendekat pada Chaerin. wajah Jiyong terlihat pucat dan kelelahan di tandai oleh lingkaran hitam dimatanya.

“biasanya kau menyiapkan makan malamku jadi aku tidak memasak.”kata Chaerin lagi-lagi datar untuk menyembunyikan kecemasannya. Chaerin berjalan ke dapur, menghindari tatapan Jiyong.

“hampir dua minggu ini aku jaga malam, bahkan harus datang di saat sore dan entah kenapa pasienku semakin meningkat membuatku sulit bertemu denganmu. Kau tau, aku benar-benar merindukanmu?!”kata Jiyong bersender pada dinding di tembok. Mendengar itu ada rasa lega di dada Chaerin. Dan lagi-lagi Chaerin begitu egois mengakuinya bahkan untuk mengatakan ‘aku mencemaskanmu’ atau ‘aku kehilangan saat kau tidak ada’.

“aku tahu. Istirahatlah dan aku akan memasak untuk makan malam kita.”kata Chaerin yang memulai memasak. Chaerin benar-benar terlihat tidak peduli. Keegoisan itu semakin kuat sulit dikalahkan.
Sepasang tangan kini melingkar di perutnya. Jiyong memeluknya dari belakang dengan kepala yang bersender di bahu Chaerin.

“jangan marah padaku! Aku tidak menghubungimu benar-benar karena kesibukanku dan aku rasa kau juga perlu berfikir kearah mana hubungan ini akan melangkah. Lalu, apakah kau sudah memutuskannya?”kata Jiyong lembut seakan berbisik. Jiyong tidak ingin memaksakan Chaerin.

“apa maksudmu?”kata Chaerin seakan benar-benar tidak peduli dengan sikap Jiyong.

“kau mengerti maksudku.”kata Jiyong dengan lembut. Jiyong menyandarkan keningnya di bahu Chaerin seakan mengatakan ‘aku lelah’ dan keputus-asaannya.

“...”Chaerin hanya diam dan masih memotong-motong sayur dengan tenang.

“aku ingin kau menjadi kekasihku.”kata Jiyong pada akhirnya.

“ini terlalu cepat untukku.”jawab Chaerin tenang seakan selama ini dia tidak memikirkan semua ini, seakan dia tidak peduli dengan Jiyong yang ‘menghilang’, seakan dia tidak bahagia saat melihat pesan manis dan setangkai bunga yang diberikan Jiyong, seakan dia tidak senang saat tau Jiyong merindukannya dan seakan dia tidak pernah khawatir dengan Jiyong. Chaerin benar-benar tidak bisa mengalahkan keegoisannya. Chaerin dingin? Tidak. Chaerin bahkan juga terluka mendengarkan kalimat-kalimat dingin yang dia berikan pada Jiyong. Setetes air matanya sudah jatuh tapi, Chaerin tidak menyadarinya. Jiyong membalikan tubuh Chaerin. Chaerin menjatuhkan pisau dapurnya karena kaget.

Kini Jiyong kembali mencium bibirnya. Jiyong memegang wajah Chaerin dengan kedua telapak tangannya, Jiyong membuka bibirnya dan mencium Chaerin dalam-dalam. Chaerin benar-benar sadar bahwa hatinya dan pikirannya berhasil direbut Jiyong.

Jantung mereka memacu begitu cepatnya dan aliran darah meningkat seakan-akan pembuluh darah akan pecah. Sadar akan Chaerin yang kehilangan udara Jiyong pun melepasakan ciuman itu dan menghelakan nafasnya.

“kau begitu egois, Chae. Tapi, aku tetap tidak bisa melepaskanmu begitu saja.”kata Jiyong terengah-engah dan perlahan melepaskan tangannya dari wajah Chaerin.
Chaerin sibuk mengatur nafasnya, dia merasa detak jantungnya begitu keras sehingga dia dapat mendengarkan detak jantungnya. Chaerin membatu ditempatnya dan saat dia sadar Jiyong tidak ada lagi di apartemennya.

Chaerin terduduk lemas. Walau kini dia telah ‘sadar’ detak jantungnya tetap tidak bisa tenang. Dia bahagia tapi, begitu sakit saat melihat Jiyong tidak ada disampingnya.

“ini hukumanmu karena bersikap egois, Lee Chaerin.”katanya lirih. Dia menyesal tapi, keegoisannya tidak bisa dikalahkannya.

TBC

Kim binggung dengan page yang mulai sepi dan baru sadar kalau minggu ini Kim lupa posting karena masalah kampus. Kim berusaha menyenangkan Infi tapi, ternyata Infi banyak banyak maunya. Hahahaha... Habis FF ini Kim akan lanjutkan FF yang gak kalah SWAG. Part ini lebih pendek? Memang jadi jangan pada komen ‘part ini pendek banget, kim’ karena Kim sadar part ini lebih pendek dari 3 part sebelumnya. Kim sangat senang baca komentar Infi apalagi banyak komentar dari Infi yang biasanya cuma diem. smile emotikon

PS: jangan segan untuk komentar dan inbox ke FB pribadi Kim jika Kim lupa posting. Kim sayang kalian. Muuach

Tidak ada komentar:

Posting Komentar