jangan lupa

JANGAN LUPA KOMENTAR YA..

Sabtu, 27 Februari 2016

SORRY, I’M LOVING YOU [PART 4]



SORRY, I’M LOVING YOU [PART 4]

Author: Kim Daisy
Cast: SkyDragon
Genre: roman
Rate : T
Lenght : ?

------------------------
Hai.. hai.. Kim disini. Pada kangenkah pada Kim? Part ini akan membahas tentang kisah remaja mereka jadi flashbacknya bakal panjang. Kim harap komentarnya biar kim rajin nulis dan walaupun FF ini nantinya sudah END pembaca baru tolong tinggalkan komentarnya.
----------------------

FLASH BACK
“mom, aku tidak ingin sekolah di Korea. Mereka tidak mengerti bahasa yang aku gunakan. Mereka membuatku repot.” Teriak gadis kecil menggunakan bahasa Perancisnya sambil melempar seragam sekolahnya yang baru saja dia gunakan dalam beberapa hari ini. Jepit imut yang menghiasi rambutnya dalam beberapa jam ini pun terlempar kemana-mana.

“tidak bisakah kau jangan mengeluh, Chaerin? Kau harus fikirkan tingkah lakumu! Bukankah kau sudah mempelajari perilaku? Apakah perlu di tambah lagi dengan jamnya?”kata omma Chaerin tegas. Membuat anak remaja itu berfikir ulang.

“so?”kata Chaerin dengan emosi. Dia kesal berada di Korea karena tidak ada yang mengerti dengan bahasa yang dia gunakan dan dia tidak bisa menggunakan bahasa Korea walaupun dia cukup mengerti saat orang berbicara bahasa Korea padanya.

“aku benar-benar harus mengurungmu di sini untuk belajar semua tata karma, sopan santun dan pelajaran tentang prilaku.”ancaman ibunya membuat Chaerin semakin kesal.

“aku sudah mempelajari hal itu semua, mom!”protesnya dengan menjatuhkan tubuhnya dengan kasar di sofa empuk berwarna coklat tua.

“tapi, kau hanya tau tanpa mau melakukannya. Sebenarnya apa saja yang nenekmu ajarkan hingga kau tidak bisa menggunakan bahasa Korea?! Omma akan panggilkan guru ke rumah untuk mengajarimu, termasuk bahasa Korea. Karena dimasa depan aku akan menjadikanmu Ratu negeri ini. Kau akan menetap di Korea.”kata omma Chaerin dan meninggalkan anaknya begitu saja di kamarnya. Sedangkan remaja itu terpaku mendengar perintah ommanya, ibu yang bahkan jarang sekali di lihatnya setiap tahunnya tapi, mengendalikan penuh jalan hidupnya.

@lima tahun kemudian
Di tempat lain sebuah Cafe sederhana jauh dari tengah kota seorang pria dewasa duduk di sebuah meja bersama anak laki-laki yang akan meranjak dewasa.
“kenapa kau ingin menemuiku? Kau cukup berani mencegatku tadi di sekolah dan memintaku menemuimu disini. Aku mensetujui permintaanmu karena aku dengar prestasimu sangat memuaskan dan sekarang kau masuk ke dunia seni.”tanya lelaki dewasa itu.

“maaf, tuan. Apakah ini benar milik keluarga anda? Ada lambang kerajaan di sapu tangan ini.”kata remaja itu mencoba bicara sesopan mungkin.

“kenapa sapu tangan itu ada padamu?”

“seorang gadis kecil mengobati luka kaki..”belum selesai pemuda itu bicara pria dewasa itu sudah tertawa keras.

“gadis itu sudah tidak disini sejak 5 tahun lalu dan kau masih mencarinya untuk memberikan sapu tangan ini?”

“aku. Aku hanya berfikir ingin mengembalikannya. Mungkin saja sapu tangan ini berarti untuknya.”kata pemuda itu gugup

“sapu tangan ini tidak memiliki arti khusus untuk putriku saat ini. Dia bahkan punya banyak dan tidak akan ingat jika salah satunya hilang tapi, aku rasa itu berbeda denganmu, Jiyong. Kau berat kan untuk mengembalikannya?”kata pria dewasa itu dengan wajah bahagia tersenyum lembut tapi, terlihat menyelidiki sesuatu. Sedangkan Jiyong gugup dan mulai berkeringat. Dia takut jawabannya akan membuat pria dewasa ini tidak menyukainya. Apalagi dia meminta dengan cara yang menurutnya tidak terlalu baik karena lelaki dewasa di hadapan ini adalah orang penting di negeri ini, orang yang memiliki keturunan kerajaan dan menjadi kandidat kuat menjadi kepala Negara kedepan harinya.

“sebelum kau mengembalikan sapu tangan ini dan mengatakan rahasia di sapu tangan ini sebaiknya kau cari dulu latar belakang keluarga kami, mungkin saja kau bisa mendapatkan pintu yang bisa mempersatukan kita. Aku tunggu petemuan kita selanjutnya di beberapa tahun kedepan, Jiyong.”kata pria dewasa itu tersenyum ramah dan mengelus kepala pemuda itu.
Sedangkan Jiyong mematung, dia tidak mengerti dengan yang di katakan pria dewasa itu. Apakah karena usia yang terlalu jauh atau karena kasta yang berbeda, Jiyong tidak mengetahui alasan pasti kenapa pria dewasa itu mengatakan kalimat yang tidak bisa dia mengerti.

Disisi lain, Chaerin sang putri berada di pesawat menuju Seoul. Jauh berbeda dari 5 tahun lalu, kini Chaerin lebih terlihat anggun dengan aura bangsawannya yang melekat. Semua gerak-geriknya kini sangat kaku dan formal bagaikan robot yang telah di program. Beberapa pengawal pun bersiaga untuk menjaganya. Chaerin sendiri benci situasi seperti ini. Dia benci tindakakan yang berlebihan tapi, selama 5 tahun ini dia di awasi ketat oleh ibunya karena itu dia merasa terbiasa dengan tindakkan yang tidak biasa seperti ini. Beberapa tahun ini Chaerin berada di sebuah pulau Anmyeondo sebuah pulau kecil di Korea untuk belajar seperti yang di perintahkan ibunya. Tidak, Chaerin tidak tinggal bersama ibunya. Chaerin hanya tinggal dengan pelayan, pengawal dan guru-guru yang diperintahkan ibunya sedangkan ibu beberapa bulan sekali mengnjunginya hanya untuk melihat perkembangan Chaerin.

Televisi? Ponsel? Internet? Jangan harap Chaerin mengetahui hal itu dan leluasa menggunakannya. Chaerin menjadi gadis yang tidak leluasa menggunakan teknologi karena ponsel, internet dan televisi telah di atur olah ibunya. Dia hanya bisa menggunakan ponsel untuk menelepon dan membaca pesan itu pun bukan lewat jejaring social, dia sangat buta jejaring social dan internet. Televisi untuknya telah di atur sehingga hanya menampilkan berita saja, jika ada film yang bisa di tontonnya itu harus melewati pemeriksaan terlebih dulu. Hidupnya telah di atur sepenuhnya dan walau membosankan Chaerin mulai terbiasa dengan hidupnya. Chaerin bertahan demi impiannya, menjadi artis dimana Chaerin bisa melakukan semua yang tidak boleh dilakukan dan dia bisa memerankan apapun yang dia inginkan, terlepas dari kenyataan bahwa dia memiliki ikatan dengan keluarga kerajaan. Impian menjadi artis tidaklah mudah. Ibunya tidak setuju begitu saja. Ibunya memiliki syarat yaitu Chaerin tidak boleh lost control dan tetap di jaga pengawal sedangkan ayahnya hanya meminta jika saat perusahaan memanggilnya maka Chaerin harus melepaskan keartisaannya untuk membantu ayahnya menjalani bisnis. It’s really not easy. Kadang Chaerin berfikir bahwa dia hanya boneka orang tuanya. Tidak ada ketulusan dan kasih sayang, semua kebaikan di terima adalah sebuah hak dan kewajiban adalah melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Chaerin menjadi gadis yang tidak percaya pada orang lain, kepribadiannya menjadi wanita kuat penuh percaya diri.

“ nyonya sudah mendaftarkan anda di sebuah pelatihan artis, anda bisa belajar acting mulai besok pagi. Guru anda akan datang untuk mengajari anda....”jelas pengawal Mong yang baru saja diganti menjadi menejernya. Tentu saja ini atas perintah ibunya. Mungkin terlalu dini memiliki menejer tapi, acting saja masih perlu belajar tapi, memang Chaerin berbeda. Kehidupannya semua telah di atur bahkan sebelum dia melangkah.

Sudah beberapa bulan ini Chaerin di Seoul, di sebuah mansion bernuansa tradisional Korea dan classic di lengkapi dengan teknologi canggih yang bahkan tidak bisa Chaerin gunakan tanpa bantuan pelayannya. Chaerin yang cerdas dan memiliki semangat yang besar kini sudah berhasil memainkan sebuah film. Sebenarnya didikan untuk menjaga perilaku itu juga membantu Chaerin sehingga Chaerin mudah untuk menganti ‘topeng’nya. Film Chaerin itu langsung melejit dan malam ini dia di undang untuk memperebutkan piala penghargaan. Dia di undang sebagai artis pendatang baru, bukan di undang karena darah atau pun nama ayahnya.

Kini Chaerin sudah berdandan cantik dengan make-up natural, rambutnya di tata dengan sanggulan modern, beberapa anak rambut dibiarkan terlepas dari gulungan agar semakin terkesan natural. Chaerin mengenakan hanbok modern, Chima yang digunakan hanya sepanjang lutut berwarna pink dengan sulaman kupu-kupu menggunakan benang emas yang indah, jeogori berlengan pendek berwarna kuning menjadi atasannya, Chaerin mengenakan sepatu indah yang sudah di desain khusus olehnya sendiri dan sebuah tas kecil unik berwarna kuning berkesan tradisional melengkapi penampilan Chaerin. Penampilan Chaerin sungguh menunjukan bahwa dia adalah seorang putri kerajaan dimasa modern. Walaupun saat itu tidak ada yang mengetahui latar keluarga Chaerin, selain pihak agensi artisnya.

Jepretan kamera segera terarah pada Chaerin saat Chaerin baru saja turun dari Limonya dengan kawalan beberapa pengawal dan menejer Mong yang terlihat formal dengan gaun biru tuanya terlihat siaga melindungi Chaerin.
Chaerin duduk di kursi yang telah di siapkan untuknya dan menejer Mong duduk di sebelahnya. Baru saja Chaerin menikmati acara, mata Chaerin kini melirik ke pria yang kini duduk bersebrangan dengannya. Pria itu menggunakan jas pink. Pink? Warna yang banyak di jauhi para pria tapi, pria itu terlihat tampan, gagah dan cute dalam waktu bersamaan. Pria yang baru kali ini membuat matanya tertarik untuk diperhatikan dalam waktu lama untuk Chaerin yang biasanya tidak akan peduli dan menoleh untuk kedua kali, apalagi memerhatikan pria itu cukup lama. Tapi, pria itu hanya fokus ke panggung yang sedang menampikan tarian untuk pembukaan acara.

“onnie, siapa pria itu? Apakah dia actor?”tanya Chaerin pada menejer Mong.

“yang mana, nona?”

“pria yang ada di meja hadapan kita, pria berjas pink.”kata Chaerin biasa, tidak sama sekali terdengar bahwa dia tertarik dengan objek yang diperhatikannya. Chaerin selalu berhasil mengontrol tubuhnya, bahkan juga kedipan matanya.

“dia actor film laga, Kwon Jiyong. Dia..”

“kau bercanda? Dia terlihat acktor untuk drama romantic, onnie.”potong Chaerin tidak percaya. Menejer Mong menghembuskan nafasnya pelan, kesabarannya selalu di uji.

“saya tidak bercanda, nona. Mungkin anda perlu mencari melalu internet agar semakin yakin.”jawab menejer Mong dengan lembut. Chaerin mendengus kesal.

“kau mengejekku? Kau kan tahu aku tidak mengerti menggunakan internet.”cibir Chaerin pelan membuat menejer Mong salah tingkah.

“maafkan saya nona, saya akan mencarikan datanya untuk anda.”jawab menejer Mong dengan gugup dan segera mencari data Jiyong untuk di perlihatkan pada Chaerin. Walaupun menejer Mong cukup binggung dengan sikap Chaerin yang biasanya tidak peduli kini penasaran pada Jiyong tapi, menejer Mong tidak ingin menanyakannya.

Setelah malam itu Chaerin dan Jiyong beberapa kali berpapasan di sebuah acara, di saat Chaerin tersenyum untuk Jiyong, Jiyong hanya menatap Chaerin dan tidak jarang menatap Chaerin menyelidik dan tajam membuat Chaerin mulai tidak menyukai Jiyong dan mencoret kata ‘cute’ saat dia menggambarkan penampilan Jiyong saat pertama kali mereka bertemu.
Karena Jiyong selalu menatap Chaerin dengan tatapan tajam, membuat Chaerin semakin penasaran apa alasan Jiyong menatapnya seperti itu. Chaerin ingin menghampiri pria bernama Jiyong itu secara langsung tapi, gerak Chaerin sungguh tidak leluasa, sangat banyak mata yang mengawasinya semenjak menjadi aktris jadi Chaerin hanya mencari informasi dan disaat itulah Chaerin tahu bahwa leluhur Jiyong adalah keluarga kerajaan asli dan keluarganya melakukan kudeta saat itu hingga leluhur Jiyong ada yang mati dan di asingkan sehingga Chaerin berfikir itulah penyebab Jiyong menatapnya tajam, Jiyong membencinya.

FLASHBACK AND

Di acara makan bersama untuk merayakan akhir syuting jelas sekali bahwa ibu Jiyong tidak menerima keberadaan Chaerin. Walaupun Chaerin dan Jiyong tetap berhubungan baik hal itu tetap mengganggu pikiran Chaerin. Bagaimana pun hubungan mereka akan gagal jika keluarga menentang meskipun Chaerin tidak terlalu serius menjalani hubungan dengan Jiyong karena hubungan cinta seperti ini adalah pengalaman pertamanya. Chaerin tidak terlalu yakin bahwa perasaan ini bukan karena pendalaman acting dramanya.

“nona, tuan Jiyong menghubungi anda.”kata menejer Mong sambil menyerahkan sebuah ponsel di tangan Chaerin.

“halo!”kata Chaerin terdengar dingin.

“ya, bagaimana dengan harimu?”kata Jiyong terdengar tenang.

“jika kau hanya menanyakan jadwalku tanyakan saja pada Mong onnie.”balas Chaerin dan Jiyong tertawa lepas disana. Chaerin terdiam. Jantung dan hatinya kacau karena suara tertawa Jiyong. Chaerin tidak menyangka suara tawa Jiyong memiliki efek hebat untuk dirinya.

“baiklah. Aku merindukanmu.”kata Jiyong lembut dan berhasil membuat Chaerin lemas. Chaerin langsung menarik nafas perlahan dan menjauhkan ponsel darinya agar Jiyong tidak mendengar helaan nafasnya.

“benarkah? Jika benar, kenapa kau tidak datang menemuiku?”kata Chaerin berusaha agar suaranya tidak terdengar aneh.

“karena ini belum waktunya jadi kau bersabarlah.”

“kenapa aku yang bersabar? Kau yang merindukanku.”

“karena jika aku merindukanmu maka kau pun begitu.”jawab Jiyong santai tapi, membuat Chaerin seakan kehabisan oksigen. Wajahnya bersemu merah dan Chaerin bersyukur Jiyong tidak mengetahui hal ini.

Tidak ada Jiyong bersikap dingin untuk Chaerin, tidak ada Chaerin yang angkuh di depan Jiyong. Mereka jarang untuk bertemu tapi, di saat bertemu mereka menjadi diri sendiri di hadapan pasangan. Jiyong yang suka menggoda Chaerin dan Chaerin yang terkadang tampil cuek di depan Jiyong tidak jarang bersikap manja pada Jiyong. Mereka menjadi diri sendiri saat mereka berdua, sikap yang tidak boleh di tunjukkan pada orang lain. Pertengkaran? Hal itu sering terjadi dan tidak lama mereka akan berbaikan seakan tidak ada pertengkaran sebelumnya.

Hari ini adalah promosi drama mereka, walaupun drama mereka sudah beberapa episode telah di tayangkan. PD mengatakan bahwa Jiyong datang terlambat jadi Chaerin duluan yang akan berada di acara talkshow yang di tampilkan di acara televisi.
Chaerin terlihat cantik dengan salah satu koleksi Hanbok modern miliknya. Chaerin mengenakan Chima sepanjang lutut berwarna hot pink dengan sulaman namanya dengan ukuran kecil di sepanjang ujung Chima bagian bawah berwarna biru muda, jeogori berwarna biru muda tanpa lengan,dan rambut Chaerin di tata dengan sederhana tapi tetap terlihat indah.
“aku dengar awalnya hubunganmu dengan Jiyong sangat buruk?”tanya Mc dengan ekpresi penasaran. Chaerin awalnya tersenyum lembut.

“kini pun sepertinya Jiyong oppa datang terlambat agar tidak terlalu lama bersamaku.”jawab Chaerin dengan tertawa lembut dan membuat MC kaget setengah mati.

“ada apa dengan ekpresimu? Aku hanya bercanda. Kami tidak akrab karena belum saling mengenal sebelumnya. Jika kami saling membenci tidak mungkin drama ini bisa selesai lebih cepat dari yang diperkirakan. Tidak ada alasan yang kuat untuk membencinya.”jawab Chaerin diplomatis membuat MC bertepuk tangan menunjukkan dia setuju.

“oh. Begitu. Jadi berita itu hanya berita murahan. Jika kalian cukup dekat apakah kau tahu siapa gadis bersamanya ini, coba lihat dulu.”kata MC sambil menunjuk ke layar besar di belakang. Layar tersebut menampilkan sebuah foto saat di pasar, di saat Jiyong melindungi Chaerin di toko bubur.

“aku dengar, Jiyong pergi dengan wanita di lokasi syuting. Apakah kau mengenal gadis ini?”tanya MC. Chaerin tersenyum.

“aku sangat mengenal gadis itu. Jiyong menolongnya.”jawab Chaerin tersenyum lembut. Chaerin selalu berhasil mengontrol ekspresinya.

“benarkah?”tanya MC penasaran dan Chaerin mengganguk yakin.

“maukah kau berbagi siapa wanita itu?”

“aku akan dibayar berapa untuk informasi ini.”jawab Chaerin dan langsung membuat MC dan semua orang di studio tertawa, termasuk para penonton di studio.

“ah.. katanya Jiyong sudah datang. Jadi, kita panggil Jiyong!”kata MC menyambut Jiyong yang kini memasuki studio sambil melambai pada penonton.

“silahkan duduk!”kata MC dan Jiyong duduk di di sebelah Chaerin lalu menyandarkan kepalanya di bahu Chaerin membuat penonton histeris dan membuat Chaerin terkejut lalu Jiyong kembali duduk dengan baik tanpa bersender pada Chaerin.

“wah, kalian terlihat akrab jadi berita itu benar-benar hanya kicauan burung. Ah, karena kau sudah ada disini, bisakah kau menceritakan tentang foto ini Jiyong. Ada yang bilang gadis itu kekasihmu. Apakah benar?”kata MC pada Jiyong.

“siapa gadis itu Chae?”kata Jiyong menggoda Chaerin dan Chaerin mengangkat bahunya sambil tersenyum.

“bagimana aku mengatakannya jika gadis yang didalam foto itu saja tidak tahu.”jawab Jiyong dan membuat Chaerin reflek mencubit lengan Jiyong. Sedangkan seisi studio terlihat sanngat terkejut dan berfikir perkataan Jiyong. Studio pun menjadi hening membuat Jiyong terkekeh pelan, dia tidak menyangka bahwa reaksinya akan seperti ini. Bagaikan terhipnotis.

“tunggu! Maksudmu gadis itu chae..”tanya MC tidak yakin.

“Chaerin menyamar untuk berkeliling dan aku tidak sengaja bertemu dengannya. Gadis di dalam itu terlihat berbedakan? Chaerin memang seorang seniman hebat. Dia menggunakan make-up sendiri saat itu. Awalnya aku juga tidak menyadarinya.”jelas Jiyong.

“benarkah Chaerin?”tanya MC dengan wajah terkejutnya.

“ia. Dan sepertinya aku akan menggunakan gaya make-up lain agar penyamaranku tidak ketawan di lain waktu.”jawab Chaerin dengan wajah sedih membuat dia terlihat cute dan Jiyong dengan reflek mengelus kepalanya lembut.

----------
“kau terlihat menikmatinya?”kata Chaerin kesal. Kini mereka berdua di dalam mobil. Jiyong mengajak Chaerin makan malam dengannya.

“aku selalu menikmati pekerjaanku. Dan aku tetap mencintai gadis di sampingku.”jawab Jiyong tersenyum.

“kemana image coolmu di depan kamera itu?”

“kau kesal karena itu?”

“tidak hanya saja, aku tidak ingin ada gossip tentang hubungan kita. Bahkan aku saja tidak tahu apakah aku kekasihmu?”

“wow.. kau menyatakan cintamu padaku?”goda Jiyong dan membuat Chaerin semakin kesal.

“berhenti menggodaku. Aku lapar.”

“baik, putri mahkota.”kata Jiyong menggoda Chaerin lain dan Chaerin memajukan bibirnya tanpa sadar karena kesal, tentu saja membuat Jiyong senang.

@restoran
Jiyong dan Chaerin kembali baik, bahkan Chaerin terus bercerita pada Jiyong sambil menunggu pesanan mereka datang seakan tidak Jiyong tidak mengodanya dan membuatnya kesal. Jiyong memang memesan restoran ini hanya untuk mereka berdua malam ini. Kedekatan mereka dan status mereka sebagai idol tidak akan baik jika tercium media, Chaerin tidak akan suka walau Jiyong tidak merasa keberatan dengan hal itu.
“sudah kenyang?”tanya Jiyong lembut.

“sangat. Apakah kita akan langsung pulang?”kata Chaerin.

“tidak. Tunggu sebentar disini.”kata Jiyong dan pergi menuju panggung kecil yang telah tersedia mic.

“Chae, aku akan bercerita sedikit tentang kisah cinta pertamaku.”kata Jiyong yang sedikit terlihat gugup dan Chaerin melihat Jiyong dengan tatapan serius.

“saat aku dulu di sekolah, tahun ke 9 pertama kalinya aku merasakan cinta. Saat aku bermain bola ada gadis cute dengan tidak sopan menyirami kakiku dengan air minumnya. Aku akan marah saat itu tapi, gadis itu berbicara berbahasa Jepang yang tidak aku ketahui artinya. Lalu, dia menggunakan bahasa asing dari Negara lain lagi. Saat aku sadar ternyata dia megobati lukaku dengan memberikan plester luka. Kami belum sempat berkenalan, hanya meninggalkan plester luka yang aku simpan dan dia tidak ingat telah meninggalkan sapu tangan ini yang menjadi jimat untukku.”

“maaf, karena warnanya bahkan telah berubah.”kata Jiyong tertawa pelan.

“aku mencari cinta pertamaku itu. Dan sapu tangan ini menjadi petunjukku.”kata Jiyong mendekat pada Chaerin sambil memegang micnya.

“aku mencarinya kemana-mana dan setelah lima tahun aku baru menemukan titik terang. Gadis itu ternyata tidak lagi di Seoul jadi aku hanya bisa bertemu dengan ayahnya. Ayahnya sangat baik padaku.”

“lalu, kenapa kau tidak menjadikannya kekasihmu?”kata Chaerin ketus.

“kau tidak ingat sapu tangan ini, Chae?”kata Jiyong sambil menerahkan saputangan itu pada Chaerin. Chaerin sangat tahu itu miliknya, sebuah sapu tangan dengan namanya dengan tulisan Mandarin dan lambang keluarganya. Chaerin mulai mengingat kejadiannya saat dulu dia menolong laki-laki yang hanya terdiam saat di tolongnya karena tidak mengerti bahasa yang dia gunakan. Chaerin menatap Jiyong penuh arti.

“ya, gadis itu kamu, Lee Chaerin. Kini aku menemukanmu. Bertahun-tahun hati ini hanya bertahan untukmu. Lee Chaerin, menikahlah denganku?”kata Jiyong menggam tangan Chaerin dan tangan kanannya memegang sekotak cincin indah.

“kau. Bercanda kan?”kata Chaerin binggung. Dia terlihat sangat keget.

“aku tidak bercanda, Chae. Aku benar-benar ingin menghabiskan hidupku bersamamu. Aku tidak ingin menunggu lebih lama lagi, aku ingin semua orang tahu bahwa kau milikku dan aku milikmu. Kau juga menginginkan hal itu kan?”kata Jiyong lembut.

“ini tidak bisa!”kata Chaerin sambil menghentakkan tangan Jiyong hingga genggaman tangan mereka terlepas dan membuat Jiyong kaget dengan penolakkan Chaerin.

“kita tidak bisa”kata Chaerin mengelengkan kepalanya membuat hati Jiyong sakit. Dia kecewa dengan jawaban Chaerin. Jiyong langsung memeluk Chaerin erat, dia tidak ingin melepaskan Chaerin begitu saja.

“katakan, kenapa? Aku sangat mencintaimu dan kau mencintaiku lalu kenapa kau menolak lamaranku?”kata Jiyong dengan hatinya yang terluka.

“keluarga kita. Kau tidak fikirkan tentang keluarga kita? Aku tidak bisa lepas begitu saja dari keluargaku, kau tahu hidupku selalu di atur mereka. Bahkan pernikahanku di tangan mereka.”kata Cherin terdengan lirih.

“aku yakin keluargamu bisa menerimaku tapi, jika keluargaku.. aku tidak masalah lepas dari keluargaku.”

“dan membuat hubungan keluarga kita semakin memburuk? Kau belum bertemu dengan ibuku.”

“aku tidak bisa berpisah denganmu, Chae. Aku baru saja bisa meraih tanganmu, aku ingin selalu bisa memelukmu sepanjang umurku. Kau tahu itu.”

“jika seperti itu, bukankah kita harus meyakinkan dulu keluarga kita. Jika belum bisa, jangan bermimpi aku menerima lamaranmu. Bagaimana pun tubuhku ini tidak hanya milikku, hidupku dikendalikan sepenuhnya oleh mereka.”ucap Chaerin dengan air mata yang menetes hingga ke bahu Jiyong. Malam ini Chaerin yakin benar dengan perasaannya, perasaannya yang menyambut cinta Jiyong. Ya, dia juga mencintai Jiyong hanya saja dia tidak begitu yakin hubungan mereka akan berhasil.
Sedangkan Jiyong mencoba berdamai dengan dirinya sendiri, Jiyong berusaha kuat menahan sakit dan kekecewaannya agar dia bisa bersama Chaerin. Dia harus bertahan agar bisa menggegam tangan Chaerin.

TBC

Tidak ada komentar:

Posting Komentar