jangan lupa

JANGAN LUPA KOMENTAR YA..

Rabu, 24 Februari 2016

Get a Ready [part 3]



Get a Ready [part 3]
Author: Kim Daisy
Cast: SkyDragon, dkk
Genre: roman, hurt
Rate : Adult
Lenght : MultyChapter
WARNING!! FF ini perlu pemahaman lebih complex. Maaf, kalau terlalu banyak tokoh OC dan OOC disini karena yah.. saya suka. *plak!

CHAERIN POV
Bukan tidak percaya cinta tapi, takut menderita karena cinta. Cinta mempuat nalar dan akal tidak bisa dijalankan seperti semestinya. Itu adalah alasanku memilih jalan ini, menjalani Ludic Love. Aku terlalu objektif dalam percintaan. Sedangkan orang yang jatuh cinta tidak bisa menggunakan akal sehatnya karena itu aku tidak ingin jatuh cinta. Semakin kau mengenal seseorang maka, semakin mudah kau tersakiti olehnya.
Langit siang ini berwarna biru tapi, sayang sekali karena cerahnya langit tidak secera hatiku saat itu. Sahabatku, Minyu yang sekarang tidak bisa lagiku sebut sebagai sahabat. Dia mengkhianatiku karena seorang pria. Seorang pria yang sama-sama kami sukai. Awalnya aku sering bercerita tentang menariknya pria itu yang merupakan senior kami saat sekolah dulu.

FLASH BACK
“kau lihat? Dia memberikan wink padaku, dia tersenyum.”kataku berbisik dengan Minyu sambil berjalan melewati koridor menuju kantin yang kebetulan berpapasan dengan senior yang menjadi idolaku. Seniorku itu sangat populer. Dia di sukai karena prestasi dan sikapnya yang ramah.
“kau yakin? Aku tidak melihatnya.”jawab Minyu.
“sepertinya aku akan gila. Kau tahu, saat aku menutup mataku aku seakan-akan tetap bisa melihatnya. Kenapa aku hanya melihat padanya?”
“besok juga tidak akan seperti itu lagi, Chae.”balas Minyu mempringatiku.
“Aku ingin sekali mengobrol dengannya tapi, jika secara langsung aku tidak berani. Aku sudah mengirimkan pesan padanya, sebuah puisi tapi, dia tidak membalasnya. Minyu, bagaimana ini? Aku ingin segera tahu responnya pada puisiku, puisi yang aku lihatkan padamu kemarin. Aku mengirimkan puisi itu.”jelasku dengan malu-malu tapi, aku senang sekali.
“puisi itu indah, Chae. Harus berapa kali aku mengatakannya? Tapi, lebih baik kau fokus pada ujian kita yang sebentar lagi bukan mencemaskan cinta. Lagi pula, kita sudah SMA. Kau seperti anak kecil yang baru mengalami tertarik pada pria.”Minyu menasehatiku.
“ini pertama kalinya aku melihat pria yang mengalahkan pesona BIGBANG. Well, mungkin ini hanya tertarik biasa tapi, aku akan tetap mencoba bicara dengannya. Jadi, kau harus bersabar sahabatku.”kataku yakin dan sambil tersenyum. Tapi, Minyu mengeleng-gelengkan kepalanya dengan pelan seakan tidak tahan dengan sikapku.

Karena tidak memiliki nomor ponsel seniorku, aku mengirimkan puisi lewat akun SNSnya. Tentu saja lewat inbox, aku tidak cukup berani bertindak terang-terangan. Tapi, pesanku itu tidak juga mendapatkan balasan. Bahkan hingga berbulan-bulan.

Suasana sekolah mendadak riuh tapi, seperti biasa aku tidak peduli. Hanya saja Soo Rin menarikku hingga ke lapangan basket yang menjadi pusat keramaian sekarang. Soo Rin menarikku hingga aku bisa melihat siapa yang menjadi pusat perhatian saat ini. Aku melihat seniorku memegang setangkai bunga mawar dan dia menggegam tangan Minyu, senior yang aku sukai selama ini. Apakah senior selama ini menyukai Minyu?
Aku bisa mendengar seniorku membacakan sebuah puisi, puisi yang pernah aku kirimkan untuknya. Tentu saja aku kaget karena hanya aku, Minyu dan Soo Rin yang mengetahui puisi ini karena aku meminta saran mereka.
“kau ingat dengan puisi ini? Puisi yang menjadi awal kita mengobrol. Sejak itu aku tertarik padamu dan kita semakin dekat. Puisi ini yang menyatukan kita. Aku rasa ini sudah cukup untuk saling mengenal, kini saatnya aku memintamu untuk menjadi kekasihku.”kata seniorku tersenyum pada Minyu dan Minyu juga tersenyum padanya. Soo Rin menarikku menjauh dari keramaian. Soo Rin memelukku dan mencoba menenangkanku. Semuanya terjadi begitu cepat hingga aku tersadar aku sudah dibawa Soo Rink ke kelas yang kosong.
“dia menggunkan akun SNSmu itu dan segera menghapus jejak mereka agar tidak ketahuan olehmu. Lain kali kau gunakan SNSmu itu dengan namamu sendiri. Pria memalukan itu sudah menjadi milik Minyu jadi, hapus mereka dari hati dan ingatanmu. Mereka hanya akan menjadi benalu.”kata Soo Rin mencoba menenangkanku. Aku tidak menangis tapi, dada ini terasa sesak dan panas. Aku hanya menyukai senior itu, aku yakin ini bukan cinta. Aku hanya tertarik dengannya. Tapi, yang membuatku terluka adalah sahabatku yang mengkhianatiku. Ini semua karena cinta. Kenapa aku harus merasakan di tikam oleh sahabat sendiri? Kenapa sahabatku tega melakukan ini hanya karena dia mencintai senior itu? Aku kira Soo Rin benar-benar mencemaskanku karena ujian dan ingin aku serius dengan pelajaran tapi, dia hanya tidak ingin aku dekat dengan senior itu. Ambil saja senior itu dan bawa dia hingga kau mati, Minyu.

Tidak ada lagi cinta. Aku tidak ingin rasa sakit karena kecewa ataupun karena penghianatan. Minyu meninggalkan pertemanan kami hanya karena pria itu dan tidak lama pria itu meninggalkannya untuk wanita lain. Walau begitu hubungan kami tidak sebaik dulu. Aku menguatkan tekatku utuk tidak jatuh cinta. Bukan karena masalah kecil ini aku troma untuk mencintai tapi, dari masalah kecil ini aku belajar bahwa cinta itu menyakitkan. Cinta itu... kenapa harus menimbulkan luka?

FLASHBACK AND

Sudah dua hari aku tidak bekerja karena memang tidak ada jadwal kerjaku. Tapi, seakan aku sudah libur selama 2 bulan. Suasana rumah sakit kini menjadi berbeda. Para perawat terlihat semakin bahagia, rumah sakit semakin ramai. Aku tahu rumah sakit memang selalu ramai dan perawat memang wajib bersikap ramah tapi, kali ini berbeda seakan ada yang luar biasa yang hanya aku yang tidak mengetahuinya.

Saat aku masuk keruangan kerjaku ada dokter Park, seorang rekan kerjaku yang sudah diberada di sana. Dokter Park sedang santai dengan ponselnya karena mungkin saat ini memang lagi senggang.
“apa ini perasaanku saja atau bagaimana? Rumah sakit terlihat berbeda sekarang.”kataku sambil duduk di kursiku.
“tidak. Kau benar. Rumah sakit lebih bercahaya sekarang”kata dokter Park yang masih focus dengan ponselnya.
“kenapa?”
“dulu, ada aku yang paling tampan di rumah sakit ini. Kini ada dokter baru di spesialis Jantung yang katanya lebih muda dan tampan dariku. Kau tahukan kalau dokter itu dikenal harus karena kerjanya bukan karena wajahnya.”
“oh, tentu saja itu benar. Tapi, siapa dokter itu?”
“Kau tahu penyanyi Crayon?”
“ya. Tentu saja, dia kan anak pemilik yayasan untuk rumah sakit ini. Apa dia disini? Dia kan sudah beberapa kali datang kesini, hanya untuk mampir.”jawabku binggung sendiri karena tiba-tiba membahas Jiyong.
“tidak. Dia sekarang adalah dokter spesialis jantung yang sedang kita bahas.”
“mwo?”kataku kaget.
“kau serius?” kataku lagi.
“tentu saja. Kau tidak tahu?”
“tentu saja aku tidak tahu, aku libur selama dua hari ini.”
“ia, aku tahu. Tapi, yang aku dengar kau kekasihnya.”balasnya dengan binggung.
“tidak, dia itu seperti adikku. Itu tidak mungkin.”
“ya, tentu saja. Pria normal mana yang mau denganmu? Lagian dia lebih muda dan cerdas darimu jadi itu tidak mungkin. Tapi, dia terlihat mencintaimu.”kata Dokter Park mengintrogasiku.
“aku tidak tahu kau suka bergosip sekarang.”balasku dengan tatapan ‘kubunuh kau’.
“hahaha... tidak begitu. Seorang wanita yang di anggap tidak normal didekati oleh seorang idol yang ternyata pemilik rumah sakit tempat sang wanita berkerja, ini menarik wajar jadi aku tertarik.”jelasnya dengan tertawa pelan.
Lelaki ini mengkhawatirkan.
“aku ada jadwal pagi ini. Jadi aku akhiri obrolan kacau kita.”balasku.

Sudah berhari-hari Jiyong menjadi dokter dan ternyata kini Jiyong di tinggal di sebelah apartemenku. Tapi, aku tidak pernah bertemu untuk berbicara panjang denganya. Saat aku bertemu dengannya, dia hanya tersenyum ramah dan saat aku bertemu di apartemen sebelum aku masuk dan dia terlihat akan pergi, dia hanya mengatakan bahwa dia tinggal di apartemen sebelahku. Dia terlihat menghindariku. Apa aku menyakitinya? Aku juga tidak ingin ini terjadi. Aku tahu aku egois, aku tidak ingin menerimanya tapi, aku juga tidak ingin jauh darinya. Aku memang tidak terlalu dekat dengan Jiyong selama sepuluh tahun ini tapi, kali ini berbeda. Dulu dia tidak pernah secuek ini padaku tapi, sekarang saat kami berpapasan dia hanya menatapku beberapa detik. Ini keteraluan!

Apa aku harus menerimanya? Tapi, ini tidak masuk akal! Pertama, Aku lebih tua darinya. Kedua, aku terlalu tua untuknya, kami berbeda 7 tahun. Ketiga, mungkin saja dia mencintaiku karena aku cinta pertamanya saat dia baru remaja, ini hanya cinta anak-anak tidak akan bertahan. Keempat, aku tidak ingin jatuh cinta. Kelima, jika aku menyakitinya dia, kami tidak bisa berhubungan baik seperti ini. Keenam, Aku tidak ingin menyakitinya dengan memiliki hubungan cinta dengannya. Tapi, jika seperti ini apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus pura-pura tidak tahu perubahannya atau aku harus menanyakannya padanya? Ya, aku harus bertanya dan mengatakan padanya bahwa aku tidak suka perubahan sikapnya. Apakah aku harus menelponnya atau bertemu dengannya? Jika aku mengajaknya ngobrol di rumah sakit mungkin akan sulit karena dia dokter jantung, banyak pasien yang di tanganinya. Apalagi dia seorang idol, aku dengar dari perawat banyak fansnya yang datang untuk meminta di priksa Jiyong dan keluar dengan dua tas, satu berisi hasil pemeriksaan dan satu lagi berisi hal-hal yang berkaitan dengan Jiyong a.k.a G Dragon sang penyanyi. Asshi!! Kenapa aku memikirkan Jiyong seharian ini?

Tepat jam 10 malam, akhirnya aku memutuskan untuk meneleponnya terlebih dahulu untuk menanyakan ‘apakah dia memiliki waktu atau tidak’ setelah berjam-jam aku berguling-guling di kasur untuk memikirkannya.
“ada apa, nuna?”jawab Jiyong begitu aku menghubunginya.
Deg. Sial, aku tidak tahu rasanya sesakit ini. Dia memang menjawab teleponku dengan datar tapi, aku tidak tahu kata ‘nuna’ yang dia ucapkan begitu menyakitkan.
“jangan paksa memanggilku nuna jika kau tidak bisa mengatakannya!”kataku berbohong, aku yang tidak bisa mendengarkannya mengatakan nuna padaku.
“oh, ada apa, Chae?”
“aku ingin bicara denganmu. Kau bisa menemuiku?”
“tentang apa?”
“soal, kau bersikap dingin beberapa akhir ini”
“oh, aku akan berubah seperti biasa. Aku hanya perlu waktu. Maaf, jika kau tidak nyaman. Ada lagi?”tanyanya dengan nada dingin.
“aku rasa itu saja.”kataku bingung dengan sikap Jiyong, dia berubah drastis. Kenapa aku merasa di khianati?
“kalau begitu aku matikan dulu, Chae. Ada operasi sebentar lagi.”
“ya, aku mengerti”jawabku pasrah. Aku tidak bisa menahannya.
Bip. Telepon pun terputus. Air mataku mengalir tapi, aku tidak tahu kenapa. Dadaku terasa sesak dan perih. Air mataku mengalir begitu saja, untuk pertama kali setelah 2 tahun ini aku tidak pernah menangis. 2 tahun lalu aku menangis karena appa dirawat dirumah sakit, aku harus punya alasan yang kuat untuk menagis karena aku sulit menangis. Tapi, kini aku menangis tanpa alasan pasti dan aku tidak menyukai tangisan ini.

Harin datang menemuiku saat aku bertugas di rumah sakit, dia menungguku di ruangan yang bisa melihat aku melakukan praktik. Aku segera menemuinya saat aku selesai memasang gigi palsu seorang wanita berumur.
“Aku membawa cake untukmu, omma memintaku mengirimkan pada kalian berdua.”kata Harin begitu saja setelah aku keluar dari ruangan. Dia memberikan sekotak Cake padaku.
“kalian? Jiyong maksudmu?”
“Tentu saja. Kakak ipar terlihat kelelahan, kau harus menjaganya.”Kata Harin santai sambil melipat kedua tangannya di dada.
“kenapa aku?”
“kenapa kau tanya padaku? Aku rasa kau cukup pintar untuk mengetahuinya.”
“kenapa kau marah padaku?”
“jika appa tahu kau menolak kakak ipar dan rumah jadi kacau Karena sikapmu itu.”jawab Harin malas, dia terlihat marah padaku.
“lalu, apa alasan kalian marah dengan keputusaku? Bagaimana kau tahu hal ini?”selidikku.
“ternyata tebakanku benar. Dia mungkin memang lebih muda darimu tapi, kami bisa melihat ketulusan dan hanya dia yang pantas untukmu.”
“kalian tidak tahu, apa yang terjadi sebenarnya.”elakku.
“kau tidak sadar yang sebenarnya terjadi. Aku pergi.”
“besok aku akan pulang.”kataku dan Harin hanya melambai tanpa menoleh. Apa-apaan anak itu?

Hari ini aku memutuskan pulang ke rumah orang tuaku karena aku rindu masakan omma. Tidak, aku malas masak dan malas membeli makanan. Lagi pula, aku bisa ke rumah sakit dengan appa. Jadi aku bisa berhemat.
Malam ini begitu panas padahal belum memasukki musim panas. Jadi, aku memutuskan berendam di air hangat untuk menghilangkan penatku. Setelah aku menyiapkan semua peralatan mandiku, aku berendam di bathup berukuran cukup besar, aku tidak mandi di kamar mandiku karena di kamar mandiku air hangatnya sedang rusak jadi aku mandi di kamar mandi bawah. Berendam di air hangat ini benar-benar menyegarkan. Rasanya aku tidak ingin keluar dari kamar mandi ini.
“kau sedang bershampoo sambil menghitung rambutmu?”teriak Harin dari luar kamar mandi, ini sebagai peringatan agar aku segera keluar karena aku sudah sangat lama berendam. Dengan malasku selesaikan upacara mandiku karena aku tahu tidak ada yang akan menggunakan kamar mandi ini dan aku masih ingin berendam. Tapi, karena mengingat sudah sangat lama aku berendam jadi, aku pun menyelesaikan ritual mandiku. Saat aku akan mengenakan bajuku tiba-tiba pintu terbuka. Aku terdiam. Jiyong yang tiba-tiba kini sudah berdiri di depanku terdiam. Kami saling menatap mata masing-masing untuk beberaapa saat dan akhirnya Jiyong sadar terlebih dahulu lalu menutup pintu kamar mandi. Sial! Nafasku menjadi kacau, wajahku memanas. Sungguh aku malu. Aku sampai lupa cara bernafas. Aku memang sudah menggunakan pakaian dalamku tapi, ini memalukan.
“Ah... sudah! Anggap saja ini baju renang, bukankah tidak ada bedanya dengan baju renang?”gumamku untuk menenangkan diriku sendiri.
“TAPI INI BUKAN BAJU RENANG! DAN DIA MELIHAT TUBUHKU YANG HANYA MENGGUNAKAN PAKAIAN DALAM. SIAL!!”batinku histeris.
Bagaimana aku bisa bertemu dengannya lagi? Aku sangat malu. Aku butuh operasi plastik untuk wajah sekarang juga!!

Setelah fikiraku agak tenang aku mencoba keluar dari kamar mandi berlahan-lahan. Aku berharap Jiyong sudah pulang. Aku belum sanggup melihatnya.
“dia pulang begitu saja setelah memberikan undangan ini?”Tanya omma pada Harin yang asik dengan televisi yang menanyangkan Drama percintaan yang membosankan.
“ya. Omma, sepertinya Jiyong oppa sedang demam, wajahnya merah dan panas. Aku khawatir dia kenapa-kenapa di perjalanan pulang.”jawab Harin. Langkahku pun berhenti, aku rasa aku tidak perlu sembunyi lagi. Jiyong tidak mungkin menceritakannya pada orang lain. Dia akan dikatakan pria mesum jika dia bercerita.
“dia seorang dokter Jantung yang memiliki banyak pasien dia awal hari kerjanya tentu saja tubuhnya belum terbiasa dengan kesibukannya. Lain kali, aku akan minta Chaerin mengunjunginya”kata omma sambil mengambil cemilan di kulkas.
“lagi pula dia bisa mengantarkan undangan itu di rumah sakit lewat onnie. Kenapa dia datang untuk memberikan undangan lalu buru-buru pergi? Aneh.”kata Harin yang mengambil cemilan di tangan omma yang sekarang duduk di dekatnya.
“undangan apa?”tanyaku ikut duduk di sofa sebelah Harin.
“oppa. Bertunangan karena putus asa kau tinggalkan.”jawab Harin santai tapi, aku tidak percaya. Kulempar bantal sofa ke arah Harin yang asal bicara. Tapi, Harin berhasil menangkap bantal itu dengan sempurna.
“mana?”tanyaku penasaran karena itu tidak mungkin. Harin pun memberikan selembar undangan.
“Dami unnie yang akan bertunangan.”kataku sambil memukul Harin pelan dengan undangan itu.
“kenapa kau memukulku? Kau kesal karena aku telah membuatmu kaget dengan mengatakan oppa akan bertunangan?”kata Harin menggangguku.
“mainkan saja imajinasimu.”kataku sambil berjalan ke kamarku. Pertunangan. Jika Jiyong benar-benar akan bertunangan apa yang akan terjadi padaku? Apakah aku akan lebih sedih dari pada saat dia memanggilku nuna?

Biib. Sebuah pesan masuk ke ponselku dan segeraku buka.
From: Jiyong
‘maaf. Aku tidak tahu kau didalam’

Wajahku kembali memanas. Ini memalukkan. Aku hampir saja melupakan kejadian tadi. Kenapa dia tidak berpura-pura terjadi apa-apa? Ini memang salahku yang tidak mengunci pintu kamar mandi tapi, aku tidak mungkin mengatakannya. Aku akan terlihat ceroboh.

To : Jiyong
‘anggap saja kau sedang beruntung’

“YAK!! Kenapa aku mengirimkan kalimat bejat itu?”teriakku tanpa sadar.
“kenapa Chae?”teriak omma dari luar.
“tidak ada.”bohongku.
“Kenapa aku tidak bisa gunakan otakku saat seperti ini? Kenapa kalimat memalukan itu yang diotakku dan langsungku kirim tanpa berfikir dingin? Apa aku gila? Apa yang didalam pikirannya tentang? Dia pasti menertawiku? Aku memang tidak terlihat ceroboh tapi, akan terlihat sebagai gadis murahan. Hebat! Ini memalukan.”perang batinku dan berakhir tertidur di kasurku.

Aku mengantri untuk mengmbil makan siangku. Siang ini tidak banyak dokter yang makan siang tepat waktu, itu adalah salah satu keuntungan memiliki jadwal kerja yang tidak padat. Entah kenapa, daging steak begitu hambar dimataku dan akhirnya aku hanya mengambil sedikit nasi dan kuah kare.

Setelah itu aku duduk di sudut dekat dinding yang terdapat jendela kaca agar aku bisa melihat aktifitas diluar tapi, dinding itu hanya menjadi tempatku bersandar dan aku hanya menatap piring nasiku dengan malas.
Ponselku bedering dengan pelanku keluarkan ponselku dari saku jas dokterku. Sebuah panggilan dari Dami onnie.
“Halo, Chae!”sapa Dami onnie terdengar terburu-buru.
“ ne. Maaf, aku sedang makan.” Jawabku sambil sedikt menyunyah makanan dimulutku.
“tidak apa-apa. Tapi Chae, bisakah kau mencarikanku sebuah perhiasan? Ini untuk acaraku. Tolong aku! Aku tidak bisa membelinya karena masih banyak yang harus aku persiapkan untuk pernikahan.”
“tapi, aku tidak mengunakan mobil hari ini. Berikan aku ongkos taksi, onnie.”
“hanya itu? Aku akan memberikanmu mobil beserta sopirnya untuk hari ini.”
“benarkah?”
“ya, kau bisa sekarang?”
“tentu saja. Jamku sudah habis.”
“berapa lama kau selesai makan?”
“Lima belas menit lagi jadi, unnie segera siapkan mobilnya.”
“tenang saja. Sopir dan mobilnya 10 menit lagi akan menemuimu.”
“oke, baiklah.”

@9 menit kemudian.
“sudah selesai makannya? Bisa kita pergi sekarang?”sebuah suara menghentikan aktifitasku yang tadi focus pada ponsel kesayanganku.
“kau, yang menemaniku?”tanyaku pada Jiyong yang kini telah duduk di kursi yang berhadapan denganku.
“ya, nuna memaksaku. Sudah bisa pergi sekarang? Aku tidak bisa mengobrol lama-lama disini. Karena..”
“Dokter Kwon, bisakah kau tanda tangani ini? Ini untuk sepupuku yang mengidolakanmu.”kata seorang perawat dengan sebuah buku agenda.
“aku sudah berhenti dari dunia idol. Sekarang aku seorang dokter.”jawab Jiyong dengan ramah dan selembut mungkin.
“aku, mohon. Ini untuk hadiah ulang tahunnya.”jelas perawat itu. Jiyong pun segera menada tangani agenda itu dan dia melirikku memberikan isyarat.
“Ok, waktunya pergi dokter Kwon.”kataku sambil berdiri dari bangkuku dan Jiyong tersenyum mengikutiku.

Di dalam mobil aku duduk di sebelah Jiyong yang duduk di kursi pengemudi, suasana kembali seperti dulu. Aku baru tahu Jiyong sudah berhenti dari dunia idol semenjak dia di kuliah dan aku kaget dia sudah lulus dengan spesialis Jantung.

Kami masuk ke departemen store untuk mencari perhiasan permintaan Dami unnie. Setelah hampir semua toko perhiasan mewah kami masuki ternyata pilihan Dami unnie jatuh pada cincin dengan batu permata yang langka. Aku tidak begitu tertarik dengan batu permata tapi, cincin ini memang cantik dengan batu indah berwarna merah.
“Jiyong, kau yang akan membayarnya kan?”kataku pada Jiyong yang disampingku tapi, dia tidak membalas. Dan saat aku lihat keseliling ternyata dia tidak ada.
“kau lihat pria yang bersamaku?”tanyaku pada pegawai toko.
“kekasih anda baru saja keluar.”
“aku bayar menggunakan ini.”kataku sambil memberikan kartu yang ada di dompetku. Dami unnie harus mengganti uangku 2 kali lipat untuk ini.

Sudah beberapa lama ternyata Jiyong tidak juga muncul sehingga aku memutuskan pergi dari toko tersebut. Baru saja keluar aku sudah menemukan Jiyong karena terdapat keributan dan Jiyong melihatku dengan tatapan cemas. Seharusnya dia merasa bersalah karena membuatku menunggu. Baru saja aku melangkah sesuatu mengenai kepalaku.
Bruk!

Aku membuka mataku tapi, tempat yang aku tiduri ini bukanlah kamarku. Ini seperti di hotel. Kulihat keluar jendela, ternyata ini memang hotel yang letaknya tidak jauh dari departemen store itu. Lalu, kulangkahkan kakiku kemuju kamar mandi karena mendadak aku ingin mengeluarkan sesuatu yang ada diperutku. Kubuka pintu kamar mandi. Ada seseorang yang berdiri didepan toilet dengan posisi membelakangiku. Walau orang itu membelakangiku aku tau pasti bahwa orang itu Jiyong.
“KAU SEDANG APA?”kataku terkejut.
“Seorang pria dengan posisi seperti ini di depan toilet menurutmu sedang apa?”kata Jiyong santai.
“AAAAAAAAAA!!!!!!!!”teriakku histeris lalu berlari pergi. Aku naik ke kasur menutup seluruh tubuhku dengan selimut.
Gila. Ini bagaikan dejavu. Aku tidak percaya sekarang aku menjadi pengintip.
“ya, Chagia kau kenapa?”kata Jiyong yang kini mendekatiku setelah menyelesaikan ‘bisnis’nya. Tapi, aku tetap histeris tidak jelas. Aku malu pada diriku sendiri.
“apa yang salah? Selama seminggu ini kita menikah tapi, kau histeris karena melihatku akan buang air?”kata Jiyong memberikan menekanan pada kata ‘akan’.
“Mwo? MENIKAH??”Teriakku sambil membuka selimut yang sebelumnya menutupi seluruh tubuhku dan jiyong duduk di pinggir kasur tersenyum manis.
Aku pingsan hanya karena kepalaku disiku sesorang pria dan akhirnya aku terjatuh jadi, aku tidak mungkin lupa ingatan. Aku hanya pingsan.

TBC

Tidak ada komentar:

Posting Komentar