LOST AND GIVE [Part 8]
.
.
.
.
.
Author: Kim Daisy
Cast: SkyDragon, Taeyang dan Soo Song
Rate : PG 17
Pict: ahelnyann (thks bgt cover kecenya)
Repost : Glen
***
Saat aku terbangun wajah ahjusshi yang yang aku lihat pertama kali. Aku lihat matanya memiliki kantung mata dan wajahnya di tumbuhi bulu-bulu halus karena sepertinya ahjusshi telah lama tidak mencukur. Ah... aku tidak menyadari hal ini hingga semalam. Ini kedua kalinya setelah hari pernikahanku aku melihat tubuhnya yang di hiasi tatto di lengan tangannya yang masing-masing tertulis ‘vita dolce’, ‘moderato’, hati lucu yang memiliki tangan dan pistol, bahunya terdapat bola berwarna orange yang terdapat 8 bintang, dan di bagian pundak belakangnya tertulis ‘too fast to live too young to die’ yang biasanya di tutupi kemeja formal miliknya.
Banyak yang harus ku ketahui darinya. Jariku begitu gatal untuk menyentuh tato di bahunya. Tidak seperti biasanya tato terlihat menakutkan atau indah dimataku, tapi tato yang dimilikinya terlihat lucu dengan penuh makna dan sexy.
“aku akan mencukurnya jika kau merasa risih, sweetheart.”gumamnya dengan mata tertutup dan ini terlihat lucu bagiku. Tangan ahjusshi yang melingkar di pinggangku mendorongku agar tubuhku lebih mendekat lagi padanya hingga kepalaku kini berada di dadanya.
Aku dapat menghirup aroma tubuhnya, aroma yang menenangkanku. Aroma tubuhnya benar-benar aroma tubuhnya, bukan aroma yang berasal dari parfum berkelas. Walau begitu aroma tubuhnya beraroma manis, maskulin dan wangi menurutku. Mataku bisa melihat bola 8 bintang icon kartun semasaku kecil itu. Apakah tato ini sudah lama dia memilikinya?
“Ini begitu nyaman. Aku sangat-sangat-sangat merindukanmu, sweetheart.”gumamnya lagi dan mencium keningku sambil mengelus punggungku yang polos.
“kau tidak berkerja, ahjusshi?”
“kau masih memanggilku dengan ahjusshi setelah tadi malam, sweetheart?” tanyanya dengan sedikit protes.
“ada yang salah dengan panggilan itu?”tanyaku penasaran dengan pendapatnya.
“itu membuat orang yang mendengarkan berfikir aku seorang pedofil.”
“tapi, itu terdengar sangat manis bagiku.”jawabku jujur. Entah hal apa yang membuatku merasa sangat aegyo dengan memanggilnya ‘ahjusshi’.
“tapi, aku tidak ingin anak kita memanggilku kakek nantinya.”jawabnya sambil menatap mataku dengan lekat membuat rasa malu menyelimutiku. Oh, kami telah melakukannya semalam.
“kau malu? Kau mengingat yang terjadi tadi malam? Oh, Lee Chaerin kau begitu manis. Aku tidak menyangka kau bisa semanis ini, sweetheart.”katanya dan lebih mendekapku kepelukannya dengan gemas.
“terimakasih untuk yang tadi malam, sweetheart. Apakah sakit?”tanyanya mendadak bernada khawatir dan melepasakan pelukannya agar bisa menatap wajahku. Wajahnya begitu serius dan terlihat kecemasan disana.
“ini tidak seperti novel-novel yangku baca, rasa sakitnya hingga akhir. Aku..”
“no. No. No. Jangan katakan kau tidak ingin melakukannya lagi, sweetheart! Itu sama saja memenjarakanku seumur hidup.”mohonnya.
“tidak, aku tidak ingin bilang itu ahjusshi. Aku hanya ingin bilang bahwa aku juga merasakan bahagia.”ucapku sedikit berbisik di akhir kalimatku. Aku sungguh malu untuk mengatakannya.
“oh, Lee Chaerin kau benar-benar bisa membunuhku dalam jurang kebahagiaan.”ucapnya dengan memberikan kecupan ringan diseluruh wajahku membuatku tersenyum menahan geli.
“aku beruntung menemukanmu dan menikah denganmu. Terimakasih, sweetheart.”ucapnya tulus dengan menatapku lekat, menahanku untuk terus menatapnya. Dia kembali memelukku seakan tidak ingin bangun dan seharian dalam posisi ini.
“kau tidak berkerja, suamiku?”kataku dan menggigit bibir bawahku menahan malu.
“ahh... aku benar-benar mati dan berada di surga. Hari ini aku benar-benar ingin mengurungmu dikamar dalam waktu yang tidak ditentukan.”katanya dengan semangat dan wajahnya terpancar kebahagaian.
“masih banyak yang menunggu kita tuan Kwon Jiyong. Kau tidak boleh egois.”kataku mengingatkan.
“kita benar-benar butuh bulan madu, sweetheart.”
“tapi,..”
“biarkan seharian kita begini.”pintanya sambil mengecup keningku dengan lembut. Kami terdiam cukup lama hingga akhirnya dia bersuara dan menyadarkanku.
“apakah kau menyukai tatoku, sweetheart?”tanyanya mengagetkanku. Aku melihat tanganku yang ternyata sudah menjelajahi tatonya yang mungkin sejak tadi ku lakukan.
“apa ini tato benaran yang tidak bisa di hapus?”tanyaku penasaran. Dia terlihat seperti pria yang kaku yang hanya tau tentang bisnis dan saham aku tidak menyangka dia memiliki tato sebanyak ini. Aku penasaran jumlah tato yang ada ditubuhnya sekarang.
“kenapa kau bertanya seperti itu? kau juga memilikinya, sweetheart.”katanya sambil menyentuh telingaku yang terdapat tato dan bagian tubuhku yang lain. Dia menyentuhku dengan lembut dan entah kenapa sentuhannya menimbulkan rasa hangat yang berbeda membuatku tanpa sadar menutup mataku menikmati sentuhannya.
“sejak kapan kau membuatnya?” tanyaku penasaran.
“saat aku remaja. Kau tahu kan bahwa hidupku tidak mudah. Kenapa? Kau tidak menyukai tattoku?”balasnya dan menatapku lekat menanti kepastian dariku.
“tidak. Bukan itu, aku hanya ingin tahu saja. Berapa tato yang kau punya?”tanyaku lagi.
“kau mau tahu?”
“ya”jawabku yang terdengar begitu bersemangat seperti anak kecil yang di ajak makan es cream bahkan ahjusshi mesum dihadapanku ini tersenyum padaku.
“tidak akan menarik jika aku memberitahumu, sebaiknya kau mencari tahunya sendiri.”jawabnya sambil tersenyum, yang terlihat senyuman mesum bagiku dan membuat wajahku panas karena malu. Di pikiranku terlintas begitu saja penyatuan kami.
“kau memerah, sweetheart. Dan itu terlihat luar biasa manis.”katanya sambil mengakat tubuhku dengan mudahnya dan membuatku menduduki tubuhnya. Aku menutup wajahku karena malu dengan kedua tanganku, tapi ahjusshi mesum ini malah tertawa.
“oh, baiklah. Aku mengerti.”katanya dengan suara yang terdengar dia ucapkan sambil tersenyum. Dan seketika aku kini tiduran di kasur dan dia di atasku. Kedua tangannya membuka dan menahan tanganku memaksaku menatapnya. Mataku hanya fokus menatap wajahnya. Wajah yang tidak ku lihat beberapa hari hingga membuatku sadar berartinya dia bagiku.
“kau tau sweetheart, kau yang pertama memasuki pintu hatiku, kau gadis pertama yang membuatku begitu mendambaku, kau ratu lebahku.”ucapnya lembut seakan berbisik di depan wajahku dan akhirnya mengecup seluruh wajahku membuatku tertawa karena merasa geli dengan bulu-bulu halus yang tumbuh di wajahnya. Suamiku sangat mencintaiku, ya suamiku.
Terimakasih telah mempertemukan kami dan menyatukan kami, appa. Karena aku pun mencintainya. Aku memang merasakan kehilangan belum bertemu denganya dan aku diberikan dirinya yang jauh lebih baik untuk kebahagiaanku. Dan aku tidak hanya diberikan dirinya saja, tapi juga hatinya yang sepenuhnya mencintaiku. Dan aku juga akan memberikan hatiku sepenuhnya sebagai balasan. Bukan karena paksaan, tapi cintaku adalah sebuah reaksi dari cinta yang diberikan olehnya.
Seperti permintaannya seharian kami dikamar berdua. Ahjussi membicarakan apa saja yang terjadi saat dia pergi dan begitu juga sebaliknya, kami menonton televisi bedua dengan posisi aku yang selalu dipelukannya bersandar di dada bidangnya dan kegiatan panas itu terjadi lagi. Aku baru mengetahui bahwa seharian dikamar bersamanya sama sekali tidak membosankan.
.
.
.
.
Jiyong Pov
Kepulanganku sungguh aku tidak menduga mendapatkan hadiah yang sangat berharga, gadis yang sangat aku cintai memberikan dirinya untukku. Gadis manisku kini telah menjadi wanita seutuhnya, aku sungguh berharap beberapa bulan lagi akan tumbuh duplikatku di perutnya. Seharian kami berkurung di kamar, kami menikmati waktu kami bersama karena telah lama terpisah dan ini menjadi semakin indah karena kini kami tahu bahwa kami saling mencintai. Awalnya aku ragu Chaerin bisa mencintaiku karena yang ku tahu pria itu telah dia cintai sejak lama, tapi Chaerinku meyakinkanku bahwa aku namja pertamanya dan telah membuktikannya. Benar-benar hadiah yang manis dari usaha yangku lakukan.
Aku juga telah memindahkan kembali pria itu agar semakin sulit bertemu dengan Chaerinku. Aku kira memindahkannya ke Indonesia bisa membuatnya berhenti mengganggu Chaerinku ternyata dia malah berniat berpisah dengan istrinya dan kembali dengan Chaerinku tentu saja aku tidak akan diam saja. Apa dia harusku pindahkan ke Afrika atau Palestine sekalian?
“suamiku, jangan berfikir untuk memindahkan lagi Taeyang oppa. Aku baru dapat pesan dari Soo Song unnie bahwa mereka sudah berdamai dan berniat melakukan program kehamilan.”kata Chaerinku memberikanku pringatan.
“aku hanya ingin berjaga-jaga, sweetheart.”balasku walau aku bingung tahu dari mana Chaerinku dengan niatku yang akan memindahkan pria itu lagi.
“kau tidak percaya denganku AHJUSSHI?”katanya dengan memberikan penekanan. Menyebalkan. Aku kalah. Dia kelemahanku dan satu-satunya yang bisa membunuhku. Bukan karena dia memanggilku ahjusshi hingga aku tidak berkutik. Ini karena aku tidak ingin dia marah, sedih, kecewa bahkan menangis karenaku.
“aku menyerah.”kataku sambil mengangkat kedua tanganku dan Chaerin memberikanku senyuman menyilaukan seperti matahari dan memberikanku kecupan di pipiku.
“terimakasih telah percaya denganku, suamiku.”
“oh.. kau memanggilku ‘suamiku’ membuatku semakin termotifasi untuk memiliki anak.”
“cih, dasar ahjusshi mesum.”balas Chaerin meninggalkanku untuk ke kamar mandi dengan wajah sebalnya membuatku ingin tertawa karena wajahnya yang lucu.
.
.
.
.
.
Siang ini aku menunggu ayah mertuaku karena sengaja makan siang bersama. Namja berumur itu menghampiriku dengan penuh wibawa dan gagah walau tengah melawan penyakit. Jangan fikir pernikahanku dan Chaerin hanya akal-akalan untuk memaksa Chaerin.
Aku sudah membicarakan tentang perasaanku dan niatku untuk menikahi Chaerin saat aku bertemu dengan ayah mertuaku. Tapi, hal buruk itu terjadi dan membuat pernikahan ini harus dilakukan lebih cepat dari rencana kami.
“bagaimana kabar, ayah?”tanyaku.
“aku membaik dan akan semakin membaik jika aku mendapatkan cucu.”jawabnya dengan senyum lebar. Ya, benar ayah terlihat lebih segar dibandingkan sebelum aku berangkat.
“tapi, sepertinya aku hanya perlu menunggu beberapa bulan lagi. Aku tidak mengira kepergianmu membuat anakku bagaikan hewan karnivora.”kata ayah dengan senyum tenangnya. Walau aku sedikit bingung, tapi aku enggan bertanya.
“kedatanganmu sungguh membuatku senang. Apa kau sengaja memperlihatkannya padaku?”kata ayah mertuaku dengan tertawa kecil dan membuatku bingung dengan maksud ayah mertuaku.
“maksud ayah?”
“dilehermu, ada bekas kemerahan.”jawab ayah mertuaku sambil berdehem. Dengan reflek aku langsung menekan icon kamera pada ponsel pintarku dan di layar ponselku aku bisa melihat betapa kacaunya diriku. Ada tiga buah kemerahan di leherku. Kenapa tadi pagi aku tidak menyadarinya?
“ternyata kalian sedang berusaha untukku. Kalian harus memikirkan bulan madu kalian. Kalian butuh waktu hanya berdua saja untuk saling mengenal.”
“ya, ayah. Aku sedang merencanakannya.”jawabku.
“tidak-tidak! Anakku itu sangat keras. Aku rasa memintanya berliburan dengan cara baik-baik tidak akan mempan. Kita harus menculiknya. Kau siapkan saja tempatnya dan waktu yang tepat, menantuku.”kata ayah mertuaku dengan tertawa membuatku ikut tertawa pelan karena tertular tawanya.
“itu bukan ide yang buruk, ayah. Aku akan mempersiapkannya.”jawabku penuh keyakian.
.
.
.
.
Chaerin Pov
2 minggu ini suamiku, ahjusshi mesum itu tetap sibuk dengan pekerjaannya walau dia selalu menyempatkan waktu untuk makan bersamaku dan menghabiskan waktu liburnya untuk berdua denganku. Dia terlihat lebih proktektif dan memanjakanku. Walau aku terbiasa sendiri, tapi aku tidak menolak diperlakukan seperti itu olehnya. Ahjusshi itu membuatku merasakan dipuja olehnya.
“waktunya pulang, sweetheart.”seseorang sedikit berteriak sambil membuka pintu ruanganku. Dia Kwon Ji young, suamiku, ahjusshi mesum dan dia milikku.
“kamarku berada di lantai yang sama, suamiku. Jadi, jangan terburu-buru!”ucapku. Dia mengatakan suka di panggil dengan oppa karena dia besar di Amerika sehingga adik perempuannya pun tidak memanggilnya dengan oppa. Tapi, kami telah menikah rasanya aneh jika memanggil suami dengan sebutan oppa walau aku juga kesulitan saat memanggilnya dengan ‘suamiku’ rasanya janggal.
“tidak untuk kali ini.”katanya dengan sigap menggotongku ala bridal dari ‘singgasana’ku.
“yak!”teriakku kaget, tapi hanya tersenyum polos seakan tidak peduli. Ini memalukan. Aku melihat beberapa karyawanku tersenyum canggung dan bahkan ada yang menundukkan wajahnya membuatku semakin malu.
“ini memalukan.”kataku sambil mengarahkan wajahku kedadanya agar aku tidak melihat reaksi orang-orang saat berpapasan dengan kami.
“tidak. Ini menyenangkan. Ini meningkatkan rasa percaya diriku karena membuat seorang Lee Chaerin tidak dapat berkutik di gendonganku.”jawabnya dengan menjengkelkan. Aku hanya dapat mengalungkan kedua lenganku agar aku tidak terjatuh dari gendongannya. Tapi sebenarnya ini terasa sangat nyaman. Aku tidak menyangka dia mampu mengendongku begitu mudahnya. Aku tahu bahwa di tubuhnya yang tidak terlalu berisi itu memiliki otot, tapi aku tidak menyangka ototnya cukup kuat menggendongku yang berisi.
Akhir-akhir ini aku suka makan dan hanya ingin bermalas-malasan dengan suamiku dan itu sangat sukses meningkatkan berat badanku.
Aku mendengar seseorang membukakan pintu untuk kami karena kedua tangan suamiku masih setia mengendong tubuhku.
“kita sampai, sweetheart.”kata suamiku dengan lembut dan mendudukanku di sebuah kursi. Di depanku sudah tersaji hidangan makan malam. Terdapat hidangan masakan Prancis untuk makan malam, sebotol wine tua dan hiasan lilin serta bunga yang romantic.
“kau yang menyiapkannya?”tanyaku hampir tidak percaya.
“ya, dan aku juga yang memasaknya. Cicipilah.”katanya sambil duduk di kursi yang berhadapan denganku. Makan malam kali ini sungguh romantis, masakan suamiku ternyata sangat enak dan aku sungguh tidak menyangka bahwa dia pernah belajar masak karena pernah partime berkerja di sebuah restoran. Sebenarnya apa kekurangan yang dimilikinya? Bukankah tidak ada manusia yang sempurna, lalu dimana kekurangan yang dimilikinya.
“kekuranganku adalah begitu memujamu, sweetheart.”ucapnya menatap mataku lekat dan seakan-akan dia bisa membaca pikiranku.
.
.
.
.
.
Mataku terpejam walau begitu aku tahu bahwa aku dalam gendongan suamiku. Mungkin aku sedang bermimpi saat ini karena aku mendengar suara ombak yang halus dan angin yang dengan lembutnya menyentuh kulitku. Selain itu aku mendengar dentingan piano yang halus. Mungkin aku bermimpi. Tapi ternyata suara debur ombak itu mengusikku untuk mencari tahu. Dengan malas aku mencoba membuka mataku dan membuatku begitu jelas mendengar dentingan piano yang merdu.
Aku ternyata ada di bibir pantai. Kasur yang aku tiduri ternyata ada di bibir pantai. Kasur ini terbuat dari kayu dengan hiasan tiang yang terdapat kain tipis seperti kelambu untuk menutupi sisi-sisinya.
.
.
‘kau muncul dihidupku dan mengubah segalanya untukku.
Kau membuatku berani untuk melanggar prinsipku,
Berani untuk menerobos rasa takutku,
Dan mengejar kebahagiaanku.
Kau memberikanku kebahagiaan yang dulu bahkan tidak berani ku impikan.
Kau membuatku ingin selalu dapat melindungimu,
Menjagamu dan ku berani berjanji bahwa kesedihanmu adalah hal terakhir yang ku inginkan.
Mungkin aku bagaikan orang tolol.
Aku yang mencintaimu yang tidak mencintaiku dan berusaha membuatmu mencintaiku.’
.
.
Aku melihat ke sumber suara yang bernyanyi dengan iringan piano merdu. Orang itu bernyanyi di pinggir pantai yang tidak jauh dariku. Suara itu, aku yakin suamiku yang sedang bernyanyi dibawah tenda cantik yang hanya di hiasi oleh tumbuhan yang menjalar dan lampu-lampu kecil yang meliliti tiang besi tersebut terlihat cantik. Dengan perlahan aku turun dari kasurku, merasakan ombak kecil yang menyapu kakiku aku bisa merasakan halusnya pasir pantai ini dan dengan perlahan aku berjalan menuju suamiku yang tetap bernyanyi dengan indahnya.
.
.
‘kau merubah hidupku menjadi lebih indah.
Dulu tujuan hidupku adalah membahagiakan diriku.
kini tujuan itu berubah menjadi membahagiakan dirimu
Selamanya.’
.
.
Ya, suamiku Kwon Jiyong yang bernyanyi sambil bermain piano putihnya. Jarinya kini tidak berada di piano itu lagi melainkan menuntunku untuk semakin mendekat padanya yang akhirnya mengusap pipiku dengan lembut yang entah kenapa menjadi basah.
“jangan menangis, sweetheart.”ucapnya lembut lalu mendekapku dalam pelukan hangatnya.
“ini terlalu manis.”kataku jujur karena aku tidak mampu berkata apa-apa.
“ini semuaku lakukan untukmu. Sekarang apakah kau sudah tenang?”tanyanya lembut dan aku mengangguk, aku tidak sanggup berbicara. Aku kehilangan kata-kata.
“bagus. Aku ingin bicara padamu, sweetheart. Aku tahu awal pertemuan kita kau sudah tidak menerima kehadiranku dan pernikahan kita terpaksa kau lakukan untuk uri appa. Aku bahkan langsung menikahimu tanpa melamarmu terlebih dahulu. Tapi, kini kau sudah mencintaiku seperti aku yang mencintaimu.”kata suamiku dengan serius. Dengan perlahan dia melepaskanku dari pelukannya. Lalu dengan posisi berlutut dia mengambil sesuatu dari jas putih yang dikenakannya.
“maukah kau hidup denganku hingga ku mati dan menjadi ibu untuk anak-anak kita?” kata suamiku dengan wajah seriusnya, wajah yang dulu sering dia tunjukkan sebelum kami sepakat untuk menikah. Wajah yang membuatku terpesona saat pertama kali melihatnya.
“aku bukan wanita yang sempurna seperti yang mungkin kau harapkan. Tapi kau memilihku dan kini aku sudah mencintaimu, sangat. Aku akan berusaha menjadi yang terbaik untuk berada di sisimu dan aku juga akan untuk menjadi eomma yang baik untuk anak-anak kita. Karena aku yakin, ada kau yang menyempurnakanku.”jawabku dengan tangisan kebahagiaan. Aku sungguh bahagia. Jiyong mengecup bibirku dengan lembut.
“lihat pantai, sweetheart.”bisiknya membuatku melihat ke arah pantai sehingga aku bisa melihat matahari yang terbit. Ini sungguh momen yang indah. Setidaknya ini bisa menggantikan momen pernikahanku yang kacau karena aku pingsan.
“kau menyukainya?”bisiknya yang terdengar sexy bagiku.
“ya, sangat. Terimakasih, suamiku.”jawabku sambil menginjak kakinya agar bibirku bisa menyentuh bibirnya.
Ini sudah seminggu aku disini dan kami lalui dengan bermalas-malasan di rumah milik suamiku di pulau ini karena tidak ada yang bisa kami kerjakan. Disini lampu memang bisa menyala tapi dengan daya yang lemah dan signal atau jaringan yang parah. Kata Jiyong suamiku, ini adalah tempat persembunyiannya di saat jenuh.
“aku bahkan tidak memberikan pulau ini nama.”jawab suamiku saat aku menanyakan nama pulau ini.
“sepertinya ini pulau tropis.”kataku.
“kau benar, sweetheart.”
“pulau ini di Negara mana?”
“pulau ini pulauku, tanpa nama dan tanpa ikatan Negara.”jawabnya dan membuatku bingung.
“bisa seperti itu?”
“ya, tentu saja. Aku sudah membeli pulau ini dan membebaskan pulau ini dari Negara yang menjual pulau ini. Pulau ini memang tidak terlalu besar, tapi sangat luas jika kau ingin pulau ini di isi dengan keluarga kita.”jawabnya santai. Oh baiklah, dia pengusaha sukses di dunia. Selain pesona dan kemampuanya dia ahli mengelola hartanya yang berlimpah.
“disini tidak ada listrik yang cukup dan aku tidak bisa menggunakan ponselku.”kataku sedikit menggerutu.
“karena itu aku memilih tempat ini. Aku ingin kau fokus dengan tujuan kita kesini. Memberikan uri appa hadiahnya.”katanya dengan sedikit penekanan.
“ahjusshi mesum.”kataku setelah sadar dengan penekanan pada kalimatnya dan memilih berdiri dari pangkuannya dan masuk ke kamar.
“hei, aku tidak mesum. Aku normal, sweetheart.”teriaknya dan itu membuatku tersenyum.
.
.
.
---
Aku menyiapkan makan malam untuk kami. Tiba-tiba terlintas dibenakku saat aku pertama kali datang dipulau ini. Pagi itu sungguh romantis. Kata suamiku dia meminta orangnya membantunya mengangkat kasur dan piano itu ke pantai dan orang-orang suruhannya itu sudah dipulangkan setelah acara lamaran itu berakhir. Mengingat aku hanya berdua dengan suamiku bukan membuatku takut, tapi membuatku tersenyum karena pikiran nakalku.
“sudah selesai, sweetheart?”tanyanya yang tiba-tiba ada dibelakangku sambil memelukku.
“sudah, aku akan menyiapkannya.”jawabku.
“kita akan pulang besok. Apa kau setuju?”
“bukankah seharusnya 2 hari lagi?”tanyaku bingung.
“sekretarisku mengabarkanku bahwa ada kendala dengan proyek. Tapi, aku tidak perlu pergi keluar kota untuk menyelesaikan proyek itu.”
“bagaimana bisa? Ja..”
“aku punya jaringan seluler pribadi sehingga aku tidak putus kontak dengan sekretarisku jika aku berada disini, sweetheart.”
“dan kau baru mengatakan hal itu sekarang, ahjusshi?”tanyaku dengan protes dan itu membuatnya tertawa pelan.
“kau yang tidak mengerti sepenuhnya bisnis yang dimiliki suamimu, sweetheart.”
“jadi, kau menyalahkanku?”
“tidak. Hanya lain kali kau perhatianlah padaku.”ucapnya sambil mematikan kompor gas yang sebelumnya ku gunakan untuk memasak dan membalikkan tubuhku agar dia bisa menatapku hingga bibir kami kembali menyatu. Luntur sudah amarahku. Aku terjatuh dalam pesona Kwon Jiyong dan aku tidak bisa menang melawan pesonanya. Aku sudah jatuh cinta padanya, jatuh yang terlalu dalam.
.
.
.
.
.
------------SKIP---------- ------------
.
.
.
.
.
Ini sudah 9 bulan pernikahan kami dan kini aku sudah mengandung 23 bulan. Tidak, sebenarnya ini minggu ke 23 janin ini ada di perutku, tapi aku rasa bayi ini sangat lama di perutku. Aku tidak sabar untuk bisa memeluknya digendonganku.
“tidak, sweetheart. Aku tidak mungkin menggunakannya.”tolak Jiyong, suamiku dengan halus. Tapi, aku punya cara halus yang jitu membuatnya mengalah.
“tapi, ini keinginan eagy kita.”kataku sambil memperlihatkan wajah memelasku dan mata puppyku. Suamiku menghela nafas lemah dan akhirnya mengambil sebuah jaket yang di tanganku.
“sudah siap?”tanyaku saat aku mendengar pintu kamarku dibuka. Suamiku keluar dari kamar kami dengan wajah lesu. Tapi, di tubuh sexy nya itu telah melekat jaket Korilakkuma pasangan Rilakkuma berwarna beige dan aku mengenakan jaket Rilakkuma, ya jaket pasangan.
“so cute.”pujiku dan aku memasangkan penutup kepala suamiku yang terdapat telinga Korilakkuma dan aku juga memasangkan penutup kepala milikku. Aku mendengar suamiku itu menarik nafasnya.
“kau tidak mual seperti wanita hamil lainnya, tapi aku tidak menyangka akan permintaan anehmu ini, sweetheart.”ucapnya seperti gumaman, tapi aku berpura-pura tidak mendengar dan masih tersenyum lebar.
“ayo, kita olah raga di taman suamiku!”ajakku sambil menarik tangan suamiku yang mengikutiku dengan malas, tapi aku tahu dia berusaha untuk membuatku senang walau ini sangat melanggar egonya.
.
.
.
Sesampai di taman orang yang berolahraga menatap kami dengan heran karena berolah raga dengan jaket pasangan yang lucu. Memang banyak yang berolahraga dengan jaket, tapi menggunakan jaket pasangan yang lucu itu menjadi sorotan. Karena aku hamil besar jadi aku hanya berjalan mengitari taman dan diiringi suamiku yang berlari kecil disampingku. Dia mengenakan masker hitam untuk menutupi wajahnya, jadi kini dia menemaniku dengan santai walaupun banyak mata yang memandang kami dengan heran. Suamiku selalu berusaha agar aku bahagia. Aku mencintainya.
Sst.. aku sempat memotretnya saat dia mengenakan jaket lucu ini tanpa masker. Dia begitu menggemaskan. Aku akan menyimpan foto ini baik-baik.
.
.
.
.
.
END.
Ihiy.. akhirnya kelar. Ini mungkin memang bukan FF Kim yang terpanjang tapi ini FF Kim yang terlama kelarnya kayanya (ups, ada 2 FF Kim lagi yang gantung). Hanya sedikit tato bang GD yang aku diskripsikan. Padahal ada belasan Tatto bang GD, termasuk dengan tato barunya yang berbentuk malaikat laki-laki bersayap di tengkuk atau leher dibagian belakang. Tatonya terlihat timbul atau memiliki dimensi, keren deh tapi aku kurang suka si abang terlalu banyak tato.
Kenapa di FF ini Chaerin tidak memanggil GD dengan oppa? Karena seperti yang telahku tulis dipart2 awal bahwa perbedaan umurnya jauh berbeda, tapi gak setua appanya Chaerin bang GD masih 30an (balik ke part awal). Awal buat nulisnya ‘yeobo’ tapi ada permintaan diganti ‘suamiku’ aja. Thks buat yg rajin komen sejak awal FF ini di tengah2 kesibukannya. Walau Kim juga sibuk, Kim juga baca satu persatu komentarnya kok walau ada komentar dari pembaca yang telat baca FFnya, walau kadang Cuma bisa Kim like komentarnya.
Jangan malas memberikan komentar, karena komentar termasuk dukungan pembaca untuk memberikan semangat para author. Oh ya.. ini bakal ada part bonusnya.
.
.
.
.
.
Author: Kim Daisy
Cast: SkyDragon, Taeyang dan Soo Song
Rate : PG 17
Pict: ahelnyann (thks bgt cover kecenya)
Repost : Glen
***
Saat aku terbangun wajah ahjusshi yang yang aku lihat pertama kali. Aku lihat matanya memiliki kantung mata dan wajahnya di tumbuhi bulu-bulu halus karena sepertinya ahjusshi telah lama tidak mencukur. Ah... aku tidak menyadari hal ini hingga semalam. Ini kedua kalinya setelah hari pernikahanku aku melihat tubuhnya yang di hiasi tatto di lengan tangannya yang masing-masing tertulis ‘vita dolce’, ‘moderato’, hati lucu yang memiliki tangan dan pistol, bahunya terdapat bola berwarna orange yang terdapat 8 bintang, dan di bagian pundak belakangnya tertulis ‘too fast to live too young to die’ yang biasanya di tutupi kemeja formal miliknya.
Banyak yang harus ku ketahui darinya. Jariku begitu gatal untuk menyentuh tato di bahunya. Tidak seperti biasanya tato terlihat menakutkan atau indah dimataku, tapi tato yang dimilikinya terlihat lucu dengan penuh makna dan sexy.
“aku akan mencukurnya jika kau merasa risih, sweetheart.”gumamnya dengan mata tertutup dan ini terlihat lucu bagiku. Tangan ahjusshi yang melingkar di pinggangku mendorongku agar tubuhku lebih mendekat lagi padanya hingga kepalaku kini berada di dadanya.
Aku dapat menghirup aroma tubuhnya, aroma yang menenangkanku. Aroma tubuhnya benar-benar aroma tubuhnya, bukan aroma yang berasal dari parfum berkelas. Walau begitu aroma tubuhnya beraroma manis, maskulin dan wangi menurutku. Mataku bisa melihat bola 8 bintang icon kartun semasaku kecil itu. Apakah tato ini sudah lama dia memilikinya?
“Ini begitu nyaman. Aku sangat-sangat-sangat merindukanmu, sweetheart.”gumamnya lagi dan mencium keningku sambil mengelus punggungku yang polos.
“kau tidak berkerja, ahjusshi?”
“kau masih memanggilku dengan ahjusshi setelah tadi malam, sweetheart?” tanyanya dengan sedikit protes.
“ada yang salah dengan panggilan itu?”tanyaku penasaran dengan pendapatnya.
“itu membuat orang yang mendengarkan berfikir aku seorang pedofil.”
“tapi, itu terdengar sangat manis bagiku.”jawabku jujur. Entah hal apa yang membuatku merasa sangat aegyo dengan memanggilnya ‘ahjusshi’.
“tapi, aku tidak ingin anak kita memanggilku kakek nantinya.”jawabnya sambil menatap mataku dengan lekat membuat rasa malu menyelimutiku. Oh, kami telah melakukannya semalam.
“kau malu? Kau mengingat yang terjadi tadi malam? Oh, Lee Chaerin kau begitu manis. Aku tidak menyangka kau bisa semanis ini, sweetheart.”katanya dan lebih mendekapku kepelukannya dengan gemas.
“terimakasih untuk yang tadi malam, sweetheart. Apakah sakit?”tanyanya mendadak bernada khawatir dan melepasakan pelukannya agar bisa menatap wajahku. Wajahnya begitu serius dan terlihat kecemasan disana.
“ini tidak seperti novel-novel yangku baca, rasa sakitnya hingga akhir. Aku..”
“no. No. No. Jangan katakan kau tidak ingin melakukannya lagi, sweetheart! Itu sama saja memenjarakanku seumur hidup.”mohonnya.
“tidak, aku tidak ingin bilang itu ahjusshi. Aku hanya ingin bilang bahwa aku juga merasakan bahagia.”ucapku sedikit berbisik di akhir kalimatku. Aku sungguh malu untuk mengatakannya.
“oh, Lee Chaerin kau benar-benar bisa membunuhku dalam jurang kebahagiaan.”ucapnya dengan memberikan kecupan ringan diseluruh wajahku membuatku tersenyum menahan geli.
“aku beruntung menemukanmu dan menikah denganmu. Terimakasih, sweetheart.”ucapnya tulus dengan menatapku lekat, menahanku untuk terus menatapnya. Dia kembali memelukku seakan tidak ingin bangun dan seharian dalam posisi ini.
“kau tidak berkerja, suamiku?”kataku dan menggigit bibir bawahku menahan malu.
“ahh... aku benar-benar mati dan berada di surga. Hari ini aku benar-benar ingin mengurungmu dikamar dalam waktu yang tidak ditentukan.”katanya dengan semangat dan wajahnya terpancar kebahagaian.
“masih banyak yang menunggu kita tuan Kwon Jiyong. Kau tidak boleh egois.”kataku mengingatkan.
“kita benar-benar butuh bulan madu, sweetheart.”
“tapi,..”
“biarkan seharian kita begini.”pintanya sambil mengecup keningku dengan lembut. Kami terdiam cukup lama hingga akhirnya dia bersuara dan menyadarkanku.
“apakah kau menyukai tatoku, sweetheart?”tanyanya mengagetkanku. Aku melihat tanganku yang ternyata sudah menjelajahi tatonya yang mungkin sejak tadi ku lakukan.
“apa ini tato benaran yang tidak bisa di hapus?”tanyaku penasaran. Dia terlihat seperti pria yang kaku yang hanya tau tentang bisnis dan saham aku tidak menyangka dia memiliki tato sebanyak ini. Aku penasaran jumlah tato yang ada ditubuhnya sekarang.
“kenapa kau bertanya seperti itu? kau juga memilikinya, sweetheart.”katanya sambil menyentuh telingaku yang terdapat tato dan bagian tubuhku yang lain. Dia menyentuhku dengan lembut dan entah kenapa sentuhannya menimbulkan rasa hangat yang berbeda membuatku tanpa sadar menutup mataku menikmati sentuhannya.
“sejak kapan kau membuatnya?” tanyaku penasaran.
“saat aku remaja. Kau tahu kan bahwa hidupku tidak mudah. Kenapa? Kau tidak menyukai tattoku?”balasnya dan menatapku lekat menanti kepastian dariku.
“tidak. Bukan itu, aku hanya ingin tahu saja. Berapa tato yang kau punya?”tanyaku lagi.
“kau mau tahu?”
“ya”jawabku yang terdengar begitu bersemangat seperti anak kecil yang di ajak makan es cream bahkan ahjusshi mesum dihadapanku ini tersenyum padaku.
“tidak akan menarik jika aku memberitahumu, sebaiknya kau mencari tahunya sendiri.”jawabnya sambil tersenyum, yang terlihat senyuman mesum bagiku dan membuat wajahku panas karena malu. Di pikiranku terlintas begitu saja penyatuan kami.
“kau memerah, sweetheart. Dan itu terlihat luar biasa manis.”katanya sambil mengakat tubuhku dengan mudahnya dan membuatku menduduki tubuhnya. Aku menutup wajahku karena malu dengan kedua tanganku, tapi ahjusshi mesum ini malah tertawa.
“oh, baiklah. Aku mengerti.”katanya dengan suara yang terdengar dia ucapkan sambil tersenyum. Dan seketika aku kini tiduran di kasur dan dia di atasku. Kedua tangannya membuka dan menahan tanganku memaksaku menatapnya. Mataku hanya fokus menatap wajahnya. Wajah yang tidak ku lihat beberapa hari hingga membuatku sadar berartinya dia bagiku.
“kau tau sweetheart, kau yang pertama memasuki pintu hatiku, kau gadis pertama yang membuatku begitu mendambaku, kau ratu lebahku.”ucapnya lembut seakan berbisik di depan wajahku dan akhirnya mengecup seluruh wajahku membuatku tertawa karena merasa geli dengan bulu-bulu halus yang tumbuh di wajahnya. Suamiku sangat mencintaiku, ya suamiku.
Terimakasih telah mempertemukan kami dan menyatukan kami, appa. Karena aku pun mencintainya. Aku memang merasakan kehilangan belum bertemu denganya dan aku diberikan dirinya yang jauh lebih baik untuk kebahagiaanku. Dan aku tidak hanya diberikan dirinya saja, tapi juga hatinya yang sepenuhnya mencintaiku. Dan aku juga akan memberikan hatiku sepenuhnya sebagai balasan. Bukan karena paksaan, tapi cintaku adalah sebuah reaksi dari cinta yang diberikan olehnya.
Seperti permintaannya seharian kami dikamar berdua. Ahjussi membicarakan apa saja yang terjadi saat dia pergi dan begitu juga sebaliknya, kami menonton televisi bedua dengan posisi aku yang selalu dipelukannya bersandar di dada bidangnya dan kegiatan panas itu terjadi lagi. Aku baru mengetahui bahwa seharian dikamar bersamanya sama sekali tidak membosankan.
.
.
.
.
Jiyong Pov
Kepulanganku sungguh aku tidak menduga mendapatkan hadiah yang sangat berharga, gadis yang sangat aku cintai memberikan dirinya untukku. Gadis manisku kini telah menjadi wanita seutuhnya, aku sungguh berharap beberapa bulan lagi akan tumbuh duplikatku di perutnya. Seharian kami berkurung di kamar, kami menikmati waktu kami bersama karena telah lama terpisah dan ini menjadi semakin indah karena kini kami tahu bahwa kami saling mencintai. Awalnya aku ragu Chaerin bisa mencintaiku karena yang ku tahu pria itu telah dia cintai sejak lama, tapi Chaerinku meyakinkanku bahwa aku namja pertamanya dan telah membuktikannya. Benar-benar hadiah yang manis dari usaha yangku lakukan.
Aku juga telah memindahkan kembali pria itu agar semakin sulit bertemu dengan Chaerinku. Aku kira memindahkannya ke Indonesia bisa membuatnya berhenti mengganggu Chaerinku ternyata dia malah berniat berpisah dengan istrinya dan kembali dengan Chaerinku tentu saja aku tidak akan diam saja. Apa dia harusku pindahkan ke Afrika atau Palestine sekalian?
“suamiku, jangan berfikir untuk memindahkan lagi Taeyang oppa. Aku baru dapat pesan dari Soo Song unnie bahwa mereka sudah berdamai dan berniat melakukan program kehamilan.”kata Chaerinku memberikanku pringatan.
“aku hanya ingin berjaga-jaga, sweetheart.”balasku walau aku bingung tahu dari mana Chaerinku dengan niatku yang akan memindahkan pria itu lagi.
“kau tidak percaya denganku AHJUSSHI?”katanya dengan memberikan penekanan. Menyebalkan. Aku kalah. Dia kelemahanku dan satu-satunya yang bisa membunuhku. Bukan karena dia memanggilku ahjusshi hingga aku tidak berkutik. Ini karena aku tidak ingin dia marah, sedih, kecewa bahkan menangis karenaku.
“aku menyerah.”kataku sambil mengangkat kedua tanganku dan Chaerin memberikanku senyuman menyilaukan seperti matahari dan memberikanku kecupan di pipiku.
“terimakasih telah percaya denganku, suamiku.”
“oh.. kau memanggilku ‘suamiku’ membuatku semakin termotifasi untuk memiliki anak.”
“cih, dasar ahjusshi mesum.”balas Chaerin meninggalkanku untuk ke kamar mandi dengan wajah sebalnya membuatku ingin tertawa karena wajahnya yang lucu.
.
.
.
.
.
Siang ini aku menunggu ayah mertuaku karena sengaja makan siang bersama. Namja berumur itu menghampiriku dengan penuh wibawa dan gagah walau tengah melawan penyakit. Jangan fikir pernikahanku dan Chaerin hanya akal-akalan untuk memaksa Chaerin.
Aku sudah membicarakan tentang perasaanku dan niatku untuk menikahi Chaerin saat aku bertemu dengan ayah mertuaku. Tapi, hal buruk itu terjadi dan membuat pernikahan ini harus dilakukan lebih cepat dari rencana kami.
“bagaimana kabar, ayah?”tanyaku.
“aku membaik dan akan semakin membaik jika aku mendapatkan cucu.”jawabnya dengan senyum lebar. Ya, benar ayah terlihat lebih segar dibandingkan sebelum aku berangkat.
“tapi, sepertinya aku hanya perlu menunggu beberapa bulan lagi. Aku tidak mengira kepergianmu membuat anakku bagaikan hewan karnivora.”kata ayah dengan senyum tenangnya. Walau aku sedikit bingung, tapi aku enggan bertanya.
“kedatanganmu sungguh membuatku senang. Apa kau sengaja memperlihatkannya padaku?”kata ayah mertuaku dengan tertawa kecil dan membuatku bingung dengan maksud ayah mertuaku.
“maksud ayah?”
“dilehermu, ada bekas kemerahan.”jawab ayah mertuaku sambil berdehem. Dengan reflek aku langsung menekan icon kamera pada ponsel pintarku dan di layar ponselku aku bisa melihat betapa kacaunya diriku. Ada tiga buah kemerahan di leherku. Kenapa tadi pagi aku tidak menyadarinya?
“ternyata kalian sedang berusaha untukku. Kalian harus memikirkan bulan madu kalian. Kalian butuh waktu hanya berdua saja untuk saling mengenal.”
“ya, ayah. Aku sedang merencanakannya.”jawabku.
“tidak-tidak! Anakku itu sangat keras. Aku rasa memintanya berliburan dengan cara baik-baik tidak akan mempan. Kita harus menculiknya. Kau siapkan saja tempatnya dan waktu yang tepat, menantuku.”kata ayah mertuaku dengan tertawa membuatku ikut tertawa pelan karena tertular tawanya.
“itu bukan ide yang buruk, ayah. Aku akan mempersiapkannya.”jawabku penuh keyakian.
.
.
.
.
Chaerin Pov
2 minggu ini suamiku, ahjusshi mesum itu tetap sibuk dengan pekerjaannya walau dia selalu menyempatkan waktu untuk makan bersamaku dan menghabiskan waktu liburnya untuk berdua denganku. Dia terlihat lebih proktektif dan memanjakanku. Walau aku terbiasa sendiri, tapi aku tidak menolak diperlakukan seperti itu olehnya. Ahjusshi itu membuatku merasakan dipuja olehnya.
“waktunya pulang, sweetheart.”seseorang sedikit berteriak sambil membuka pintu ruanganku. Dia Kwon Ji young, suamiku, ahjusshi mesum dan dia milikku.
“kamarku berada di lantai yang sama, suamiku. Jadi, jangan terburu-buru!”ucapku. Dia mengatakan suka di panggil dengan oppa karena dia besar di Amerika sehingga adik perempuannya pun tidak memanggilnya dengan oppa. Tapi, kami telah menikah rasanya aneh jika memanggil suami dengan sebutan oppa walau aku juga kesulitan saat memanggilnya dengan ‘suamiku’ rasanya janggal.
“tidak untuk kali ini.”katanya dengan sigap menggotongku ala bridal dari ‘singgasana’ku.
“yak!”teriakku kaget, tapi hanya tersenyum polos seakan tidak peduli. Ini memalukan. Aku melihat beberapa karyawanku tersenyum canggung dan bahkan ada yang menundukkan wajahnya membuatku semakin malu.
“ini memalukan.”kataku sambil mengarahkan wajahku kedadanya agar aku tidak melihat reaksi orang-orang saat berpapasan dengan kami.
“tidak. Ini menyenangkan. Ini meningkatkan rasa percaya diriku karena membuat seorang Lee Chaerin tidak dapat berkutik di gendonganku.”jawabnya dengan menjengkelkan. Aku hanya dapat mengalungkan kedua lenganku agar aku tidak terjatuh dari gendongannya. Tapi sebenarnya ini terasa sangat nyaman. Aku tidak menyangka dia mampu mengendongku begitu mudahnya. Aku tahu bahwa di tubuhnya yang tidak terlalu berisi itu memiliki otot, tapi aku tidak menyangka ototnya cukup kuat menggendongku yang berisi.
Akhir-akhir ini aku suka makan dan hanya ingin bermalas-malasan dengan suamiku dan itu sangat sukses meningkatkan berat badanku.
Aku mendengar seseorang membukakan pintu untuk kami karena kedua tangan suamiku masih setia mengendong tubuhku.
“kita sampai, sweetheart.”kata suamiku dengan lembut dan mendudukanku di sebuah kursi. Di depanku sudah tersaji hidangan makan malam. Terdapat hidangan masakan Prancis untuk makan malam, sebotol wine tua dan hiasan lilin serta bunga yang romantic.
“kau yang menyiapkannya?”tanyaku hampir tidak percaya.
“ya, dan aku juga yang memasaknya. Cicipilah.”katanya sambil duduk di kursi yang berhadapan denganku. Makan malam kali ini sungguh romantis, masakan suamiku ternyata sangat enak dan aku sungguh tidak menyangka bahwa dia pernah belajar masak karena pernah partime berkerja di sebuah restoran. Sebenarnya apa kekurangan yang dimilikinya? Bukankah tidak ada manusia yang sempurna, lalu dimana kekurangan yang dimilikinya.
“kekuranganku adalah begitu memujamu, sweetheart.”ucapnya menatap mataku lekat dan seakan-akan dia bisa membaca pikiranku.
.
.
.
.
.
Mataku terpejam walau begitu aku tahu bahwa aku dalam gendongan suamiku. Mungkin aku sedang bermimpi saat ini karena aku mendengar suara ombak yang halus dan angin yang dengan lembutnya menyentuh kulitku. Selain itu aku mendengar dentingan piano yang halus. Mungkin aku bermimpi. Tapi ternyata suara debur ombak itu mengusikku untuk mencari tahu. Dengan malas aku mencoba membuka mataku dan membuatku begitu jelas mendengar dentingan piano yang merdu.
Aku ternyata ada di bibir pantai. Kasur yang aku tiduri ternyata ada di bibir pantai. Kasur ini terbuat dari kayu dengan hiasan tiang yang terdapat kain tipis seperti kelambu untuk menutupi sisi-sisinya.
.
.
‘kau muncul dihidupku dan mengubah segalanya untukku.
Kau membuatku berani untuk melanggar prinsipku,
Berani untuk menerobos rasa takutku,
Dan mengejar kebahagiaanku.
Kau memberikanku kebahagiaan yang dulu bahkan tidak berani ku impikan.
Kau membuatku ingin selalu dapat melindungimu,
Menjagamu dan ku berani berjanji bahwa kesedihanmu adalah hal terakhir yang ku inginkan.
Mungkin aku bagaikan orang tolol.
Aku yang mencintaimu yang tidak mencintaiku dan berusaha membuatmu mencintaiku.’
.
.
Aku melihat ke sumber suara yang bernyanyi dengan iringan piano merdu. Orang itu bernyanyi di pinggir pantai yang tidak jauh dariku. Suara itu, aku yakin suamiku yang sedang bernyanyi dibawah tenda cantik yang hanya di hiasi oleh tumbuhan yang menjalar dan lampu-lampu kecil yang meliliti tiang besi tersebut terlihat cantik. Dengan perlahan aku turun dari kasurku, merasakan ombak kecil yang menyapu kakiku aku bisa merasakan halusnya pasir pantai ini dan dengan perlahan aku berjalan menuju suamiku yang tetap bernyanyi dengan indahnya.
.
.
‘kau merubah hidupku menjadi lebih indah.
Dulu tujuan hidupku adalah membahagiakan diriku.
kini tujuan itu berubah menjadi membahagiakan dirimu
Selamanya.’
.
.
Ya, suamiku Kwon Jiyong yang bernyanyi sambil bermain piano putihnya. Jarinya kini tidak berada di piano itu lagi melainkan menuntunku untuk semakin mendekat padanya yang akhirnya mengusap pipiku dengan lembut yang entah kenapa menjadi basah.
“jangan menangis, sweetheart.”ucapnya lembut lalu mendekapku dalam pelukan hangatnya.
“ini terlalu manis.”kataku jujur karena aku tidak mampu berkata apa-apa.
“ini semuaku lakukan untukmu. Sekarang apakah kau sudah tenang?”tanyanya lembut dan aku mengangguk, aku tidak sanggup berbicara. Aku kehilangan kata-kata.
“bagus. Aku ingin bicara padamu, sweetheart. Aku tahu awal pertemuan kita kau sudah tidak menerima kehadiranku dan pernikahan kita terpaksa kau lakukan untuk uri appa. Aku bahkan langsung menikahimu tanpa melamarmu terlebih dahulu. Tapi, kini kau sudah mencintaiku seperti aku yang mencintaimu.”kata suamiku dengan serius. Dengan perlahan dia melepaskanku dari pelukannya. Lalu dengan posisi berlutut dia mengambil sesuatu dari jas putih yang dikenakannya.
“maukah kau hidup denganku hingga ku mati dan menjadi ibu untuk anak-anak kita?” kata suamiku dengan wajah seriusnya, wajah yang dulu sering dia tunjukkan sebelum kami sepakat untuk menikah. Wajah yang membuatku terpesona saat pertama kali melihatnya.
“aku bukan wanita yang sempurna seperti yang mungkin kau harapkan. Tapi kau memilihku dan kini aku sudah mencintaimu, sangat. Aku akan berusaha menjadi yang terbaik untuk berada di sisimu dan aku juga akan untuk menjadi eomma yang baik untuk anak-anak kita. Karena aku yakin, ada kau yang menyempurnakanku.”jawabku dengan tangisan kebahagiaan. Aku sungguh bahagia. Jiyong mengecup bibirku dengan lembut.
“lihat pantai, sweetheart.”bisiknya membuatku melihat ke arah pantai sehingga aku bisa melihat matahari yang terbit. Ini sungguh momen yang indah. Setidaknya ini bisa menggantikan momen pernikahanku yang kacau karena aku pingsan.
“kau menyukainya?”bisiknya yang terdengar sexy bagiku.
“ya, sangat. Terimakasih, suamiku.”jawabku sambil menginjak kakinya agar bibirku bisa menyentuh bibirnya.
Ini sudah seminggu aku disini dan kami lalui dengan bermalas-malasan di rumah milik suamiku di pulau ini karena tidak ada yang bisa kami kerjakan. Disini lampu memang bisa menyala tapi dengan daya yang lemah dan signal atau jaringan yang parah. Kata Jiyong suamiku, ini adalah tempat persembunyiannya di saat jenuh.
“aku bahkan tidak memberikan pulau ini nama.”jawab suamiku saat aku menanyakan nama pulau ini.
“sepertinya ini pulau tropis.”kataku.
“kau benar, sweetheart.”
“pulau ini di Negara mana?”
“pulau ini pulauku, tanpa nama dan tanpa ikatan Negara.”jawabnya dan membuatku bingung.
“bisa seperti itu?”
“ya, tentu saja. Aku sudah membeli pulau ini dan membebaskan pulau ini dari Negara yang menjual pulau ini. Pulau ini memang tidak terlalu besar, tapi sangat luas jika kau ingin pulau ini di isi dengan keluarga kita.”jawabnya santai. Oh baiklah, dia pengusaha sukses di dunia. Selain pesona dan kemampuanya dia ahli mengelola hartanya yang berlimpah.
“disini tidak ada listrik yang cukup dan aku tidak bisa menggunakan ponselku.”kataku sedikit menggerutu.
“karena itu aku memilih tempat ini. Aku ingin kau fokus dengan tujuan kita kesini. Memberikan uri appa hadiahnya.”katanya dengan sedikit penekanan.
“ahjusshi mesum.”kataku setelah sadar dengan penekanan pada kalimatnya dan memilih berdiri dari pangkuannya dan masuk ke kamar.
“hei, aku tidak mesum. Aku normal, sweetheart.”teriaknya dan itu membuatku tersenyum.
.
.
.
---
Aku menyiapkan makan malam untuk kami. Tiba-tiba terlintas dibenakku saat aku pertama kali datang dipulau ini. Pagi itu sungguh romantis. Kata suamiku dia meminta orangnya membantunya mengangkat kasur dan piano itu ke pantai dan orang-orang suruhannya itu sudah dipulangkan setelah acara lamaran itu berakhir. Mengingat aku hanya berdua dengan suamiku bukan membuatku takut, tapi membuatku tersenyum karena pikiran nakalku.
“sudah selesai, sweetheart?”tanyanya yang tiba-tiba ada dibelakangku sambil memelukku.
“sudah, aku akan menyiapkannya.”jawabku.
“kita akan pulang besok. Apa kau setuju?”
“bukankah seharusnya 2 hari lagi?”tanyaku bingung.
“sekretarisku mengabarkanku bahwa ada kendala dengan proyek. Tapi, aku tidak perlu pergi keluar kota untuk menyelesaikan proyek itu.”
“bagaimana bisa? Ja..”
“aku punya jaringan seluler pribadi sehingga aku tidak putus kontak dengan sekretarisku jika aku berada disini, sweetheart.”
“dan kau baru mengatakan hal itu sekarang, ahjusshi?”tanyaku dengan protes dan itu membuatnya tertawa pelan.
“kau yang tidak mengerti sepenuhnya bisnis yang dimiliki suamimu, sweetheart.”
“jadi, kau menyalahkanku?”
“tidak. Hanya lain kali kau perhatianlah padaku.”ucapnya sambil mematikan kompor gas yang sebelumnya ku gunakan untuk memasak dan membalikkan tubuhku agar dia bisa menatapku hingga bibir kami kembali menyatu. Luntur sudah amarahku. Aku terjatuh dalam pesona Kwon Jiyong dan aku tidak bisa menang melawan pesonanya. Aku sudah jatuh cinta padanya, jatuh yang terlalu dalam.
.
.
.
.
.
------------SKIP----------
.
.
.
.
.
Ini sudah 9 bulan pernikahan kami dan kini aku sudah mengandung 23 bulan. Tidak, sebenarnya ini minggu ke 23 janin ini ada di perutku, tapi aku rasa bayi ini sangat lama di perutku. Aku tidak sabar untuk bisa memeluknya digendonganku.
“tidak, sweetheart. Aku tidak mungkin menggunakannya.”tolak Jiyong, suamiku dengan halus. Tapi, aku punya cara halus yang jitu membuatnya mengalah.
“tapi, ini keinginan eagy kita.”kataku sambil memperlihatkan wajah memelasku dan mata puppyku. Suamiku menghela nafas lemah dan akhirnya mengambil sebuah jaket yang di tanganku.
“sudah siap?”tanyaku saat aku mendengar pintu kamarku dibuka. Suamiku keluar dari kamar kami dengan wajah lesu. Tapi, di tubuh sexy nya itu telah melekat jaket Korilakkuma pasangan Rilakkuma berwarna beige dan aku mengenakan jaket Rilakkuma, ya jaket pasangan.
“so cute.”pujiku dan aku memasangkan penutup kepala suamiku yang terdapat telinga Korilakkuma dan aku juga memasangkan penutup kepala milikku. Aku mendengar suamiku itu menarik nafasnya.
“kau tidak mual seperti wanita hamil lainnya, tapi aku tidak menyangka akan permintaan anehmu ini, sweetheart.”ucapnya seperti gumaman, tapi aku berpura-pura tidak mendengar dan masih tersenyum lebar.
“ayo, kita olah raga di taman suamiku!”ajakku sambil menarik tangan suamiku yang mengikutiku dengan malas, tapi aku tahu dia berusaha untuk membuatku senang walau ini sangat melanggar egonya.
.
.
.
Sesampai di taman orang yang berolahraga menatap kami dengan heran karena berolah raga dengan jaket pasangan yang lucu. Memang banyak yang berolahraga dengan jaket, tapi menggunakan jaket pasangan yang lucu itu menjadi sorotan. Karena aku hamil besar jadi aku hanya berjalan mengitari taman dan diiringi suamiku yang berlari kecil disampingku. Dia mengenakan masker hitam untuk menutupi wajahnya, jadi kini dia menemaniku dengan santai walaupun banyak mata yang memandang kami dengan heran. Suamiku selalu berusaha agar aku bahagia. Aku mencintainya.
Sst.. aku sempat memotretnya saat dia mengenakan jaket lucu ini tanpa masker. Dia begitu menggemaskan. Aku akan menyimpan foto ini baik-baik.
.
.
.
.
.
END.
Ihiy.. akhirnya kelar. Ini mungkin memang bukan FF Kim yang terpanjang tapi ini FF Kim yang terlama kelarnya kayanya (ups, ada 2 FF Kim lagi yang gantung). Hanya sedikit tato bang GD yang aku diskripsikan. Padahal ada belasan Tatto bang GD, termasuk dengan tato barunya yang berbentuk malaikat laki-laki bersayap di tengkuk atau leher dibagian belakang. Tatonya terlihat timbul atau memiliki dimensi, keren deh tapi aku kurang suka si abang terlalu banyak tato.
Kenapa di FF ini Chaerin tidak memanggil GD dengan oppa? Karena seperti yang telahku tulis dipart2 awal bahwa perbedaan umurnya jauh berbeda, tapi gak setua appanya Chaerin bang GD masih 30an (balik ke part awal). Awal buat nulisnya ‘yeobo’ tapi ada permintaan diganti ‘suamiku’ aja. Thks buat yg rajin komen sejak awal FF ini di tengah2 kesibukannya. Walau Kim juga sibuk, Kim juga baca satu persatu komentarnya kok walau ada komentar dari pembaca yang telat baca FFnya, walau kadang Cuma bisa Kim like komentarnya.
Jangan malas memberikan komentar, karena komentar termasuk dukungan pembaca untuk memberikan semangat para author. Oh ya.. ini bakal ada part bonusnya.

Uuuuh om Ji manisss banngetttt kyaaaaaaa
BalasHapuspengen gw pny suami semanis om ji 😙😙😙😙