GET A READY [PART 6]
Author: Kim Daisy
Cast: SkyDragon, dkk
Genre: roman, hurt
Rate : Adult
Lenght : MultyChapter
Rate Adult karena FF ini perlu pemahaman lebih complex. Maaf, kalau terlalu banyak tokoh OC dan OOC disini karena yah.. saya suka. *plak!
Ok, ini ff sangat panjang jadi sabar ya...
----------------------------------
‘Cinta itu apakah sebuah virus? Jika bukan, kenapa aku bisa tiba-tiba mencintainya dan semakin mencintainya setiap harinya?’
------------
“aku saja ingin menikah, padahal aku benar-benar mengalami pengalaman buruk tapi, kau malah tidak ingin menikah karena tidak ingin terluka. Kau benar-benar menyebalkan. Pikirkanlah kebahagian orang tuamu juga. Apa kau yakin jika kau tinggal sendiri tanpa menikah kau akan bahagia tanpa terluka? Kau pasti juga ingin merasakan pelukan seorang pria, menyadarkan diri di bahu pria yang kau cinta saat kau lelah, dimanjakan olehnya dan ...”
“kau tidak ingin rasa sakit tapi, jika begini kau juga terluka kan? Kau akan sakit juga, sakit fisik dan psikismu. Kau akan melanjutkan ini semua?”
“jika begitu kau juga seharusnya mencoba membuka hatimu, bukankah begini pun kau tetap terluka dan merasakan sakit?”
Kalimat-kalimat Soo Jin dan Jiyong kini berterbangan dipikiran Chaerin. Chaerin pun sadar bahwa, dia sendiri pun dia merasakan sakit. Seperti sekarang, dia sakit karena di tuntut untuk mengakhiri masa singlenya.
“Aku juga terluka tapi, mencintai bukankah lebih menyakitkan dari pada ini? Tapi.. apa cinta bisa membuatku lebih bahagia dari pada ini?”pikirnya.
“cinta itu bisa membuatmu bahagia lebih dari yang kamu tahu. Seperti yang didalam lukisan ini. Kau mungkin akan berfikir ‘bodoh karena rela mati demi wanita itu’. Tapi, kau harus tahu bahwa sangat bahagia jika melihat orang yang kita cintai bahagia.”kata Soo Rin yang kini sudah berdiri di samping Chaerin. Chaerin sengaja datang ke gallery lukisan Soo Rin yang Chaerin tahu tidak begitu ramai karena tidak banyak pecinta seni lukis, berbeda dengan gedung miliknya yang digunakan sebagai tempat opera dan teater milik Soo Rin. Karena banyak Idol yang berkerja sama dengannya untuk bermain peran dalam teater.
Chaerin fokus mengamati sebuah lukisan yang menggambarkan seorang pria yang menggapai tangan wanita diatasnya. Hanya saja latar pria adalah negeri tandus yang kering sedangkan sang wanita berada di negeri yang bagaikan surga, begitu indah.
“jadi, kau ingin membeli lukisan ini?”kata Soo Rin lagi-lagi mengganggu konsentrasi Chaerin.
“aku tidak suka menggumpulkan lukisan. Lagian lukisan karyaku dirumah juga banyak.”balas Chaerin dengan jujur. Soo Rin temannya yang sangat dekat dan sudah teman sangat lama jadi hubungan mereka tidak ada lagi yang harus malu-malu dan di tutupi.
“lukisanku sangat berbeda dengan lukisanmu. Ngomong-ngomong, kenapa kamu kesini?” Tanya Soo Rin penasaran. Soo Rin mengerti Chaerin pasti mencari ketenangan hanya saja dia tidak mengerti hal apa yang membuat Chaerin bimbang.
“karyawanmu bilang lukisanku yang minggu laluku titipkan telah terjual.”jawab Chaerin tanpa perlu berbohong karena memang dia mendapatkan telepon itu setelah dia sakit. Berbeda dengan Soo Rin yang menyukai segala jenis seni dan menjadikan semua hobbynya itu sebagai pekerjaan, Chaerin hanya melukis di saat waktu luang dan mendapatkan ‘sesuatu’ yang menjadi ide dalam melukis.
“wah, itu luar biasa. Jangan-jangan yang membelinya kau sendiri”kata Soo Rin sambil menyipitkan matanya seakan dia mencurigai Chaerin.
“aku tidak picik.”balas Chaerin dan itu membuat Soo Rin tertawa dengan keras. Soo Rin memang bisa menggila dimana saja. Kaki Chaerin melangkah ke lukisan lainnya, agar orang tidak melihatnya binggung karena tawa Soo Rin yang bisa membuat nenek-nenek jantungan. Sebuah lukisan yang menggambarkan sebuah rumah kayu yang sederhana, berlatarkan langit cerah dengan bulan purnama yang besar tetapi, disebuah hutan terdapat bayangan yang membuat Chaerin binggung bayangan itu adalah bayangan anjing atau serigala. Lukisan itu berjudul ‘dog or wolf’ karya K.e, jelas ini bukan buatan Soo Rin karena Soo Rin tidak menggunakan nickname di semua karyanya.
“lukisan ini menarik. Kau tau maksud dari lukisan ini?”kata Chaerin menatap lekat ke lukisan itu.
“kau tertarik juga dengan lukisan ini? Lukisan sederhana ini memiliki arti yang dalam.”jelas Soo Rin dan Chaerin menggangukan kepalanya sebagai tanda setuju.
“seekor anjing itu begitu setia bahkan dibilang sahabat manusia. Tapi, anjing itu juga bisa menyeramkan seperti serigala. Kau tidak akan tahu sebelum kau mengalaminya sendiri. Bisa dibilang ‘kau bisa mengetahui dan belajar dari suatu pengalaman tapi, sebuah pengalaman tidak bisa disekedar kau pelajari.’ ”jelas Soo Rin entah kenapa seakan setiap penjelasan Soo Rin yang ambigu tentang lukisan-lukisan ini seakan menyindir Chaerin. Chaerin berfikir bahwa Soo Rin memaksa arti dari lukisan itu dan menggambungkan dengan situasi yang dijalani Chaerin sehingga penjelasannya menjadi semakin rumit dan ambigu. Dan perkiraan Chaerin memang benar bahwa Soo Rin sengaja mengkaitkan semua arti lukisan tersebut dengan pengalaman Chaerin.
“ah, kau tahu Kang Daesung itu sudah punya keluarga? Kau memintaku menjadi istri simpanannya? Kau kejam sekali.”celoteh Soo Rin mencoba mengusir kediaman Chaerin.
“bukan begitu. Kau sudah bertemu dengan anaknya? Tapi, kau sungguh salah paham.”jelas Chaerin.
“dia menunggu anaknya di Cafeku. Dia ternyata tidak tertarik denganku karena dia sudah mempunyai keluarga. Dia di Cafeku hanya karena menunggu anaknya. Aku salah paham tentang hal itu.”
“tidak begitu, aku yakin dia tertarik dengamu.”jawab Chaerin tenang.
“maksudmu kau ingin aku memiliki hubungan dengan suami orang?”
“tenang, dan dengarkan dulu!”perintah Chaerin dan Soo Rin mengangguk cepat tidak sabar dengan penjelasan dari Chaerin.
“tapi, tidak enak bicara disini”kata Chaerin lagi yang memiliki maksud tertentu.
“kalau begitu kita bicara di ruanganku.”tarik Soo Rin ke ruangannya.
“sediakan aku cemilan.”
“itu pasti.”
Chaerin sudah duduk di sofa empuk di ruangan milik Soo Rin. Soo Rin menatap Chaerin dengan tatapan menuntut penjelasan Chaerin dengan tidak sabar.
“jadi.”katanya menagih penjelasan.
“istri Daesung telah mati saat melahirkan anaknya. Dia hanya fokus pada anaknya dan pekerjaannya.”cerita Chaerin.
“...”
“...”
“hanya itu??”Tanya Soo Rin tidak percaya.
“ya.”
“kau yakin?”
“tentu saja.”jawab Chaerin yakin sambil menganggukan kepalanya dan meminum sedikit air mineral yang sebelumnya dia minta pada karyawan Soo Rin. Tapi, hal itu membuat Soo Rin kecewa dan kesal.
“yak! Aku kira kau akan menceritakan sesuatu yang lebih hebat.”protes Soo Rin dengan kesal.
“kau benar-benar mengharapkan Daesung?”
“Entahlah. Lagian aku salah paham selama ini.”kata Soo Rin lemas.
“Rin- ah,”kata Chaerin dengan aegyo.
“hm..”balas Soo Rin sambil membesaran kedua matanya dan mengedipkan matanya beberapa kali. Mereka akan menunnjukan aegyonya jika ingin berbicara serius tapi, takut-takut seperti saat ini.
“aku ingin lepas dari ini semua.”kata Chaerin akhirnya yang membuat seakan batu di pikirannya terlepas.
“maksudmu?”Tanya Soo Rin binggung dengan menormalkan aksi manja-manja alla anak kecil yang biasa mereka perankan jika berdua.
“aku akan mencoba mencintai.”
Jiyong bertemu dengan Chaerin di halte dan mengajaknya pulang bersama. Tanpa menawarkan kedua kali Cherin setuju. Jiyong menjalankan mobil ini dengan pelan dan menggunakan jalan memutar. Jiyong berharap Chaerin tidak sadar.
“kau hanya mendengar lagumu?”kata Chaerin saat mendengarkan lagu Jiyong yang dari tadi diputar.
“hem. Kau mengetahui ini laguku?”Tanya Jiyong ragu Chaerin mendengarkan musiknya.
“ya, walau aku tidak mencarinya, lagu-lagumu sangat terkenal dan di putar dimana-mana. Jadi, tentu saja aku tahu.”jawab Chaerin.
“lalu, apa kau ingin menggantinya?”tawar Jiyong yang takut Chaerin tidak menyukai musiknya karena lagu yang sedang di putar adalah lagu bertema cinta.
“ya,”
“silahkan. Tapi, tidak masalahkan kalau aku ikut ternyanyi?”
“tentu saja.!”
“kalau begitu hidupkan saja radionya.”tawar Jiyong dan Chaerin langsung memutarkan radio.
Sebuah lagu pun terputar dari siaran radio, dari musiknya Jiyong merasa lagu ini tidak asing baginya. Salah satu lagu yang sering Jiyong nyanyikan jika mengingat Chaerin di tengah kesendirianya karena bertahun-tahun tidak bisa bertemu dengan Chaerin.
‘ noona’s perfume is very very sweet
no one around me has that scent on their body
noona’s make up is very very pretty
even if you can’t believe it, this pretty noona is mine.
If You Really Like Me-Me
Don’t Say Anything, Just
Do As I Say, And Do It Right
Don’t Use Perfume.
Noona’s Body,
Is Very-Very Sexy
Everyone Says You’re
A 10 Points Out Of 10’
Jiyong ikut bernyanyi mengikuti nada dengan baik. Tiba-tiba Chaerin mematikan radionya.
“kenapa?” Tanya Jiyong binggung.
“kita ini sudah sama-sama dewasa. Aku sadar pemikiranku untuk hidup tanpa cinta itu terlalu egois. Aku memutuskan untuk membuka diriku, membiarkan hidup dengan cinta. Karena aku sudah tahu perasaanmu, aku ingin semua berjalan pelan-pelan. Aku ingin belajar apa itu cinta karena selama ini aku hanya tahu cinta menyebabkan luka. Jadi, aku harap kita jalani ini seperti biasa,”jelas Chaerin membuat Jiyong menghentikan mobilnya mendadak setelah berhasil membuat mobilnya ke pinggir sehingga tidak menggangu pengguna jalan yang lain.
“kau serius? Aku tidak salah dengar?”Tanya Jiyong mencari kepastian dari Chaerin.
“ya.”jawab Chaerin sambil menganggukan kepalanya tapi, hanya dengan begitu Jiyong mengerti bahwa itu keputusan berat untuk Chaerin ambil.
“apakah kita sudah menjadi kekasih?”
“tidak! Tidak. Aku ingin semua berjalan perlahan-lahan bukan berarti aku menerimamu menjadi kekasihku. Aku hanya. Hanya tidak melarangmu mencintaiku seperti sebelumnya tapi, mungkin pria lain yang akan menarik hatiku. Aku tidak tahu. Aku tidak ingin mengambil keputusan terlalu cepat karena aku baru memulainya. Apa kau mengerti maksudku?”kata Chaerin dengan sulit. Chaerin tidak menatap mata Jiyong. Matanya hanya fokus pada langit walau Jiyong tahu di langit tidak ada yang menarik dan itu membuat Jiyong binggung.
“ya, walau begitu aku tetap senang. Terimakasih kau mau mencobanya, Chaerin. Tapi, apakah kau mengizinkanku untuk lebih dekat denganmu?”
“ya. Ya. Tidak masalah asal itu tidak menggangguku.”Jawab Chaerin gugup.
“Terimakasih.”kata Jiyong sambil tersenyum manis pada Chaerin tapi, Chaerin belum mau melihat Jiyong. Tapi, Jiyong bisa mengerti hal itu.
“apa ini karena lagu yang baru sajaku nyanyikan? Jika tahu seperti itu seharusnya aku menyetelkannya padamu sejak dulu.”canda Jiyong karena tidak suka suasana kaku seperti ini.
“tidak.. ini karena pertanyaanmu”
“pertanyakanku?”
“ya, kau bertanya apakah jika aku hidup seperti ini aku tidak merasakan luka. Itu membuatku berfikir beberapa hari ini.”
“o, begitu. Aku senang mendengarnya. Kau ingin makan malam denganku? Aku akan masak makan malam untukmu sebagai perayaan ini.”
“hal ini tidak perlu dirayakan.”jawab Chaerin malu hingga mengalihkan wajahnya ke kanan arah jendela agar Jiyong tidak bisa melihatnya.
“kalau begitu makan malam biasa, kau mau?”
“dimana?”
“di apartemenku karena kau belum pernah ke apartemenku.”
“baiklah. Kebetulan bubur instanku hari ini sudah habis.”jawabnya polos membuat Jiyong tertawa kecil.
Tapi, sebuah panggilan dari rumah sakit membuat Jiyong harus menggagalkan rencananya makan malam bersama dengan Chaerin.
“dari rumah sakit?”Tanya Chaerin saat Jiyong baru saja menutup telepon.
“ya.”
“ada apa? kau harus kembali?”tebaknya
“salah satu pasienku masuk rumah sakit kembali jadi aku harus kembali.”jawab Jiyong tidak enak karena dia membatalkan janji pada Chaerin.
“pergilah. Aku mengerti, walau aku tidak akan dapat panggilan darurat untuk kembali ke rumah sakit karena aku dokter mulut dan gigi. Well, kita bisa makan bersama lain kali.”kata Chaerin sambil tersenyum lembut. Tapi, sebenarnya Chaerin tidak menyukai suasana ini. Mengatakan keputusannya ini dan langsung disambut hangat dengan Jiyong membuat dia lega tapi, takut bahwa ini akan menjadi awal sebuah kesalahan.
“baiklah. Maafkan aku!”
“tidak perlu minta maaf”
“aku tetap akan mengantarmu terlebih dahulu.”kata Jiyong dan langsung menjalankan mobilnya ke apartemen. Setelah sampai di apartemen, tidak lupa Jiyong memesankan makanan untuk Chaerin sebelum kembali ke Rumah sakit tapi, tanpa memberi tau pada Chaerin terlebih dahulu. Untung saja jarak rumah sakit dari sini tidak terlalu jauh jadi, Jiyong hanya menjalankan mobilnya dengan kecepatan normal.
Sesampai di apartemen Chaerin langsung tertidur lemas di kasurnya.
“aku sudah melakukannya. Ah... syukurlah.”ucap Chaerin.
“aku kira Jiyong akan bertindak berlebihan seperti memelukku atau.. ah..aku harus tidur untuk menormalkan perasaanku dan pikiranku. Satu masalah selesai.”kata Chaerin.
Tidak lama seseorang memencet bel apartemen Chaerin dan Chaerin langsung keluar. Ternyata yang datang adalah pengantar makanan yang dipesan Jiyong dan membuat Chaerin tersenyum saat menerimanya karena sudah mengira bahwa ini kiriman dari Jiyong.
Sejak saat itu komunikasi Chaerin dan Jiyong berjalan baik. Jiyong masih mengejar Chaerin dengan perlahan-lahan, Jiyong tidak ingin Chaerin tidak nyaman berada disampingnya. Walaupun Jiyong tidak memiliki banyak waktu untuk bertemu dengan Chaerin tapi, Jiyong selalu menyempatkan diri untuk menemani Chaerin makan malam bersama. Memang tidak ada sesuatu special yang terjadi. Tidak ada panggilan mesra seperti dulu saat Jiyong yang memanggil Chaerin dengan ‘Chaerinku’, tidak ada pelukkan ataupun genggaman tangan tapi, tanpa sadar cinta itu kini mulai tumbuh dengan perlahan.
“kau mendapat undangan juga dari Soo Rin nuna?”Tanya Jiyong saat Chaerin menyiapkan piring untuk mereka berdua di atas meja makan. Kali ini mereka makan di apartemen Chaerin dan Chaerin yang memasak sendiri karena Jiyong terlalu sibuk bahkan tidak bisa melihat Chaerin memasak.
“tentu saja.”jawab Chaerin yang kini sudah duduk berhadapan dengan Jiyong.
“acara apa itu sebenarnya? Kenapa ada acara dansanya?”Tanya Jiyong sambil membolak-balikkan selembar undangan berwarna kuning keemasan.
“dia ulang tahun.”Jawab Chaerin sambil mengambil nasi untuknya sendiri.
“kenapa tidak di tulis saja ini pesta ulang tahun?”Tanya Jiyong penasaran.
“wanita itu tidak ingin orang mengetahui jika umurnya semakin bertambah, kau harus mengerti hal itu.” Chaerin menjelaskan.
“ya, wanita juga tidak ingin berat badannya ketahuan orang lain. Aku juga mengerti hal itu.”balas Jiyong tanpa sadar membuat Chaerin kesal.
“maksudmu aku menyembunyikan berat badanku? Kau mengatakan aku gemuk? Itu maksudmukan?”kata Chaerin kesal tapi, tidak dengan nada yang tinggi.
“a. Bukan itu maksudku. Kau memang terlihat berisi tapi, tidak gemuk. Aku yakin kau akan tampil cantik saat ke acara Soo Jin nuna nanti. Sungguh aku tidak ada niat menyinggungmu, Chae.”kata Jiyong takut membuat Chaerin marah padanya.
“kau tidak boleh ambil dagingnya lebih banyak. Segitu sudah cukup.”ucap Chaerin saat melihat Jiyong mau mengambil kembali daging yang dimasak Chaerin. Dengan berat Jiyong mengembalikan daging ke tempat semula.
“Oh.. baikah tapi, jangan marah denganku! Aku minta maaf.”kata Jiyong tulus.
“...”tidak ada respon dari Chaerin, sepertinya dia begitu merasa tersinggung karena memang akhir-akhir ini dia lebih banyak makan dan pakaiannya mulai sempit. Padahal masa pertumbuhannya sudah lama berakhir.
“kau ingin pergi bersamaku di ulang tahun Soo Rin nuna?”Tanya Jiyong hati-hati.
“ya. Karena aku tidak bisa pergi dengan Jiyon.”jawab Chaerin dengan dingin.
“Jiyon?”
“dia dokter kandungan di rumah sakitmu, salah satu teman baikku.”jawab Chaerin mulai kembali normal.
"wanita?"
"tentu saja."jawab Chaerin tersenyum.
“oh, baiklah. Kita akan pergi bersama tapi, kau jangan dandan terlalu berlebihan Chaerin!”kata Jiyong penuh semangat.
“kenapa? Apa aku dandan terlalu norak?”kata Chaerin kembali kesal.
“tidak. Karena kau tidak perlu dandan berlebihan untuk tampil cantik. Aku akan semakin sulit mendapatkanmu jika kau semakin cantik dan banyak yang menyukaimu.”kata Jiyong jujur walau itu terdengar hanya sebuah gombalan. Tapi, Chaerin tahu bahwa Jiyong jujur karena mata mereka saling menatap lekat dalam beberapa lama.
“hm.. itu masalahmu.”jawab Chaerin dingin tapi, dia menyembunyikan senyuman bahagianya.
Hari terus bergati hingga akhirnya acara ulang tahun Soo Jin pun tiba. Tidak ada yang special yang dikenakan dengan Jiyong, dia hanya mengenakan pakaian formal pada umumnya. Hanya saja Jiyong yang selalu mengenakan jas dokternya yang berwarna putih kini mengenakan jas hitam bergaris-garis putih dengan kemeja putih polos. Dia sudah siap menjemput Chaerin dan kini telah berdiri di depan pintu apartemen Chaerin.
“aku siap.”kata Chaerin saat membuka pintu sambil menggunakan sepatunya. Chaerin terlihat cantik dengan gaun panjangnya berwarna baby blue. Rambut Chaerin ditata keatas sehingga memperlihatkan lehernya yang menggoda Jiyong.
“aku kira kau akan menggunakan pakaian sedikit terbuka untuk menarik pria.”kata Jiyong untuk menghilangkan pikiran nakalnya dengan mengajak Chaerin berdebat.
“inginnya seperti itu. Tapi, aku rasa tanpa tampil menggoda aku tetap saja akan menjadi magnet yang menarik pria.”jawab Chaerin tertawa.
“kau benar-benar mengetahui kelebihan yang ada didirimu, Chae.”pikir Jiyong masih dengan menatap Chaerin lekat membuat Chaerin gugup.
“ayo!”kata Chaerin setelah memegang siku tangan Jiyong. Jiyong sedikit kaget dengan aksi kecil Chaerin itu tapi, sudah berhasil membuat Jiyong senang.
“ayo, Chaerinku!”kata Jiyong dan membuat Chaerin ketawa lepas. Dulu dia sangat kasal saat Jiyong mengatakan ‘Chaerinku’. Tapi, Chaerin juga tidak mengerti kenapa saat ini ketika Jiyong memanggilnya ‘Chaerinku’ membuatnya tertawa geli.
Setelah sampai di gedung seni opera dan teater milik Soo Rin, para tamu sudah memenuhi gedung ini walau tidak ada pertunjukan pada hari ini ataupun besok karena selama 3 hari gedung ini digunakan untuk mempersiapkan ulang tahun Soo Rin. Hingga Chaerin menggira ini akan mengalahkan pernikahan artis-artis besar Korea.
Dari jauh Chaerin melihat Jiyon bersama kekasihnya yang berbicara dengan Soo Rin.
“mereka disana.”kata Chaerin sambil menunjuk ke arah teman-temannya pada Jiyong.
“baiklah tapi, kita diminta berfoto dulu.”kata Jiyong sambil menunjuk seorang membawa kamera yang merupakan salah satu panitia acara Soo Rin. Jiyong dan Chaerin pun berfoto bersama yang ternyata sebagai bukti kehadiran mereka di acara ini.
Seperti perkiraan Chaerin bahwa tidak ada orang yang membawa kado dan acara ini bertemakan Eropa pada tahun 60-80an yang dipadukan dengan pesta dansa. Setelah mereka berhasil mendekat pada Soo Rin, Chaerin kaget dengan kostum yang dikenakan Soo Rin. Sebuah gaun alla bangsawan Eropa yang berwarna soft pink. Chaerin tahu Soo Rin menyukai kostum hanya saja penampilan Soo Rin benar-benar mencolok walau warna gaunnya sangat soft. Tentu saja mencolok karena para tamu berpenampilan modern sedangkan Soo Rin seakan muncul dari mesin waktu yang datang dari masa lalu.
“ah.. nuna ini acara ulang tahunmu kan? Aku kira ini ulang tahun anakmu.”kata Jiyong sambil memeluk Soo Rin.
“ck. Anak nakal! Kau tidak hanya melukai aku dan Jiyon tapi, juga melukai perasaan Chaerinmu itu”balas Soo Rin membuat Jiyong kewalahan. Jiyong sadar dia salah bicara.
“oh, benarkah? Setahuku Dokter Kim lebih muda darimu dan Chaerinku itu terlihat jauh lebih muda darimu, kau harus mengakui hal itu nuna.”kata Jiyong dan Jiyong mendapat cubitan dari Soo Rin. Dan Chaerin tertawa mendengarnya.
“matamu rusak karena cinta.”kata Soo Rin geram dan Chaerin pun jadi terdiam.
“kalian datang berdua?”Tanya Jiyon yang dari tadi memperhatikan cara menyapa yang unik mereka.
“ya.”jawab Chaerin sekedarnya. Dia masih belum bisa terang-terangan mengatakan bahwa dia sedang mencoba untuk tidak menghindar dari cinta. Tapi, jawaban Chaerin itu membuat Jiyong tersenyum puas dan Soo Rin menyikut Jiyong pelan dan menggoda Jiyong.
“kau berhasil.”bisik Soo Rin pada Jiyong.
“belum. Tapi, aku yakin aku akan berhasil.”jawab Jiyong mantap.
“aku tunggu berita bahagianya.”kata Soo Rin dan Jiyong membalas dengan senyuman bahagianya.
“apakah kau mengundang Daesung?”Tanya Chaerin pada Soo Rin.
“ah.. tidak. Karena kami sudah memiliki acara rahasia untuk kami berdua.”jawab Soo Rin sombong dan tentu saja itu membuat mereka samua kaget.
“secepat itu?”. “benarkah?”Tanya Chaerin dan Jiyon tidak percaya.
“Daesung siapa?”Tanya Jiyong yang binggung dengan nuna yang dikenalnya tidak ingin mengenal pria malah mengatakan memiliki acara rahasia yang hanya mereka berdua yang tahu. Sedangkan kekasih Jiyon yang sejak dulu tidak pernah diingat namanya oleh Chaerin sudah terbiasa dengan sikap teman kekasihnya yang unik hanya diam saja.
“aku tidak ingin menceritakannya disini. Maafkan aku banyak tamu yang harusku sapa. Kalian nikmati saja pestanya.”kata Soo Rin yang pergi begitu saja dengan senyuman kemenangan tapi, itu tampak menyebalkan bagi Chaerin dan Jiyon yang sangat penasaran dengan perkembangan hubungan Soo Rin dan Daesung yang begitu cepat. Sedangkan Jiyong menggelengkan kepalanya pelan.
“apa dia hanya berbohong?”Tanya Jiyong pada Chaerin.
“tidak. Soo Rin yangku kenal selama ini lebih suka jujur. Bahkan dia jujur mengatakan dia tidak pernah pacaran saat wawancara di sebuah televisi.”jawab Chaerin yang masih menatap kepergian Soo Rin yang menyebalkan.
“dia begitu menyebalkan.”kata Jiyon geram dan Chaerin pun langsung larut pada obrolannya dengan Jiyon yang membuatnya melupakan Jiyong.
“aku pergi sebentar.”kata Jiyong pelan pada Chaerin berharap Chaerin melihatnya.
“baiklah.”kata Chaerin tanpa melihatnya.
“dia benar-benar mengaggapku sebagai supirnya?”gumam Jiyong pelan. Saat Jiyong semakin menjauh dari Chaerin, Jiyong bertemu dengan sekelompok gadis yang tiba-tiba menahannya.
“ah, aku G-Dragon bukan? Why so serius?”kata seorang gadis itu sambil mengatakan salah satu judul Jiyong. Dan Jiyong hanya tersenyum manis dan membuat para gadis itu histeris. Dari jauh Chaerin memperhatikan Jiyong yang tidak nyaman sedang berfoto bareng dengan para gadis-gadis. Tidak sengaja mata Jiyong dan Chaerin pun bertemu dan saat itu juga Chaerin berpaling. Disisi lain Jiyong semakin tidak nyaman dan kesal dengan gadis yang mengelayut manja padanya dan kerap kali bersender di dadanya membuat Jiyong semakin risih.
“kau malah bersenang-senang disini? Kau bilang ingin mengambilkan minum untuk kita.”kata Chaerin yang tiba-tiba muncul dibelakang Jiyong. Jiyong langsung berbalik dan melepaskan tangan gadis itu.
“maafkan aku, sayang. Mereka ingin berfoto bersama denganku. Kau tidak keberatankan?”kata Jiyong memanfaatkan situasi untuk lepas dari para gadis. Dan Chaerin menyadari hal itu.
“ya. Tapi, lain kali jangan buat aku menunggu terlalu lama.”jawab Chaerin memerankan perannya. Dia hanya berniat menolong Jiyong dengan kemampuan acting pas-pasannya. Tiba-tiba Jiyong memeluk Chaerin dan mengelus rambutnya lembut. Membuat Chaerin kaku dan merasa waktu berhenti. Para gadis itu pun meninggalkan mereka dengan kesal.
Soo Rin yang kini berdiri di meja DJ dari atas dapat melihat kejadian langka itu dan mengubah acara dansanya menjadi lebih cepat dari yang seharusnya. Dan Soo Rin tidak ingin melewatkan momen ini dengan meminta karyawannya fokus memoto pasangan Jiyong-Chaerin sebagai kenang-kenangan atau lain kali foto ini bisa dia gunakan untuk melawan Jiyong yang suka berkelahi dengannya atau membuat Chaerin malu, setidaknya Soo Rin sadar bahwa foto ini bisa menjadi kelemahan pasangan itu dan menjadi momen indah sahabatnya itu.
“kau sudah mengusir gadis-gadis itu sedangkan musik dansa sudah dimulai. Karena kau sudah ada didekatku, ayo kita berdansa!”ajak Jiyong tapi, Chaerin tetap diam. Chaerin masih terkurung didalam pikirannya sendiri.
“jangan bilang kau tidak bisa berdansa?”kata Jiyong membuat Chaerin tersadar.
“tidak. Aku bisa.”Jawab Chaerin. Tangan Jiyong kini mengegam tangan kecil Chaerin dan menariknya hingga berada di lantai dansa yang sudah dipenuhi banyak pasangan. Jiyong dan Chaerin pun memulai dansanya. Tidak jauh dari mereka Jiyon dan kekasihnya juga sudah turun ke lantai dansa. Jiyong menatap mata Chaerin yang didepannya dengan lekat. Entah kenapa Chaerin pun menjadi gugup tapi, mereka masih berdansa dengan baik. Chaerin mengalihkan wajahnya dari Jiyong hingga membuat wajah Chaerin menempel pada dada bidang Jiyong. Walau suara musik begitu kencang, entah peri mana yang membuat musik menjadi tidak terdengar oleh Chaerin hingga Chaerin hanya mendengar detak jantung Jiyong yang cepat tapi, begitu membuat Chaerin tenang dan nyaman.
“Tutup matamu. Kau tidak perlu berfikir. Tapi, rasakanlah.”ucap Jiyong sambil menarik dagu Chaerin dengan lembut agar menatapnya. Chaerin pun menutup matanya menurut dengan perkataan lembut Jiyong. Jiyong langsung mengecup bibir Chaerin yang lembut membuat Chaerin dengan perlahan menggemam baju Jiyong dengan erat dan kuat.
“appa harus tau hal ini. Aku tidak percaya!”kata Harin yang baru saja memasuki pesta dan telah disambut dengan pemandangan yang tidak biasa. Harin pun langsung memoto Chaerin dan Jiyong yang masih tidak sadar bahwa sudah banyak yang sedang memotret mereka.
“oh... my.. aku akan gila. Ini hebat! Haruskah aku mengadakan pesta seperti ini setiap minggunya?”ucap Soo Rin histeris di balik meja Dj miliknya.
TBC
Aku sudah mengusahakan memposting ff ini untuk kedua kalinya dalam minggu ini. Aku berusaha membuat INFI puas jadi aku harap aku juga mendapatkan respon memuaskan juga. Sampai jumpa minggu depan jika Hpku sudah baik-baik saja mungkin akan ku posting. Maafkan jika banyak TYPO bertaburan. Bye.. Bye...
Author: Kim Daisy
Cast: SkyDragon, dkk
Genre: roman, hurt
Rate : Adult
Lenght : MultyChapter
Rate Adult karena FF ini perlu pemahaman lebih complex. Maaf, kalau terlalu banyak tokoh OC dan OOC disini karena yah.. saya suka. *plak!
Ok, ini ff sangat panjang jadi sabar ya...
----------------------------------
‘Cinta itu apakah sebuah virus? Jika bukan, kenapa aku bisa tiba-tiba mencintainya dan semakin mencintainya setiap harinya?’
------------
“aku saja ingin menikah, padahal aku benar-benar mengalami pengalaman buruk tapi, kau malah tidak ingin menikah karena tidak ingin terluka. Kau benar-benar menyebalkan. Pikirkanlah kebahagian orang tuamu juga. Apa kau yakin jika kau tinggal sendiri tanpa menikah kau akan bahagia tanpa terluka? Kau pasti juga ingin merasakan pelukan seorang pria, menyadarkan diri di bahu pria yang kau cinta saat kau lelah, dimanjakan olehnya dan ...”
“kau tidak ingin rasa sakit tapi, jika begini kau juga terluka kan? Kau akan sakit juga, sakit fisik dan psikismu. Kau akan melanjutkan ini semua?”
“jika begitu kau juga seharusnya mencoba membuka hatimu, bukankah begini pun kau tetap terluka dan merasakan sakit?”
Kalimat-kalimat Soo Jin dan Jiyong kini berterbangan dipikiran Chaerin. Chaerin pun sadar bahwa, dia sendiri pun dia merasakan sakit. Seperti sekarang, dia sakit karena di tuntut untuk mengakhiri masa singlenya.
“Aku juga terluka tapi, mencintai bukankah lebih menyakitkan dari pada ini? Tapi.. apa cinta bisa membuatku lebih bahagia dari pada ini?”pikirnya.
“cinta itu bisa membuatmu bahagia lebih dari yang kamu tahu. Seperti yang didalam lukisan ini. Kau mungkin akan berfikir ‘bodoh karena rela mati demi wanita itu’. Tapi, kau harus tahu bahwa sangat bahagia jika melihat orang yang kita cintai bahagia.”kata Soo Rin yang kini sudah berdiri di samping Chaerin. Chaerin sengaja datang ke gallery lukisan Soo Rin yang Chaerin tahu tidak begitu ramai karena tidak banyak pecinta seni lukis, berbeda dengan gedung miliknya yang digunakan sebagai tempat opera dan teater milik Soo Rin. Karena banyak Idol yang berkerja sama dengannya untuk bermain peran dalam teater.
Chaerin fokus mengamati sebuah lukisan yang menggambarkan seorang pria yang menggapai tangan wanita diatasnya. Hanya saja latar pria adalah negeri tandus yang kering sedangkan sang wanita berada di negeri yang bagaikan surga, begitu indah.
“jadi, kau ingin membeli lukisan ini?”kata Soo Rin lagi-lagi mengganggu konsentrasi Chaerin.
“aku tidak suka menggumpulkan lukisan. Lagian lukisan karyaku dirumah juga banyak.”balas Chaerin dengan jujur. Soo Rin temannya yang sangat dekat dan sudah teman sangat lama jadi hubungan mereka tidak ada lagi yang harus malu-malu dan di tutupi.
“lukisanku sangat berbeda dengan lukisanmu. Ngomong-ngomong, kenapa kamu kesini?” Tanya Soo Rin penasaran. Soo Rin mengerti Chaerin pasti mencari ketenangan hanya saja dia tidak mengerti hal apa yang membuat Chaerin bimbang.
“karyawanmu bilang lukisanku yang minggu laluku titipkan telah terjual.”jawab Chaerin tanpa perlu berbohong karena memang dia mendapatkan telepon itu setelah dia sakit. Berbeda dengan Soo Rin yang menyukai segala jenis seni dan menjadikan semua hobbynya itu sebagai pekerjaan, Chaerin hanya melukis di saat waktu luang dan mendapatkan ‘sesuatu’ yang menjadi ide dalam melukis.
“wah, itu luar biasa. Jangan-jangan yang membelinya kau sendiri”kata Soo Rin sambil menyipitkan matanya seakan dia mencurigai Chaerin.
“aku tidak picik.”balas Chaerin dan itu membuat Soo Rin tertawa dengan keras. Soo Rin memang bisa menggila dimana saja. Kaki Chaerin melangkah ke lukisan lainnya, agar orang tidak melihatnya binggung karena tawa Soo Rin yang bisa membuat nenek-nenek jantungan. Sebuah lukisan yang menggambarkan sebuah rumah kayu yang sederhana, berlatarkan langit cerah dengan bulan purnama yang besar tetapi, disebuah hutan terdapat bayangan yang membuat Chaerin binggung bayangan itu adalah bayangan anjing atau serigala. Lukisan itu berjudul ‘dog or wolf’ karya K.e, jelas ini bukan buatan Soo Rin karena Soo Rin tidak menggunakan nickname di semua karyanya.
“lukisan ini menarik. Kau tau maksud dari lukisan ini?”kata Chaerin menatap lekat ke lukisan itu.
“kau tertarik juga dengan lukisan ini? Lukisan sederhana ini memiliki arti yang dalam.”jelas Soo Rin dan Chaerin menggangukan kepalanya sebagai tanda setuju.
“seekor anjing itu begitu setia bahkan dibilang sahabat manusia. Tapi, anjing itu juga bisa menyeramkan seperti serigala. Kau tidak akan tahu sebelum kau mengalaminya sendiri. Bisa dibilang ‘kau bisa mengetahui dan belajar dari suatu pengalaman tapi, sebuah pengalaman tidak bisa disekedar kau pelajari.’ ”jelas Soo Rin entah kenapa seakan setiap penjelasan Soo Rin yang ambigu tentang lukisan-lukisan ini seakan menyindir Chaerin. Chaerin berfikir bahwa Soo Rin memaksa arti dari lukisan itu dan menggambungkan dengan situasi yang dijalani Chaerin sehingga penjelasannya menjadi semakin rumit dan ambigu. Dan perkiraan Chaerin memang benar bahwa Soo Rin sengaja mengkaitkan semua arti lukisan tersebut dengan pengalaman Chaerin.
“ah, kau tahu Kang Daesung itu sudah punya keluarga? Kau memintaku menjadi istri simpanannya? Kau kejam sekali.”celoteh Soo Rin mencoba mengusir kediaman Chaerin.
“bukan begitu. Kau sudah bertemu dengan anaknya? Tapi, kau sungguh salah paham.”jelas Chaerin.
“dia menunggu anaknya di Cafeku. Dia ternyata tidak tertarik denganku karena dia sudah mempunyai keluarga. Dia di Cafeku hanya karena menunggu anaknya. Aku salah paham tentang hal itu.”
“tidak begitu, aku yakin dia tertarik dengamu.”jawab Chaerin tenang.
“maksudmu kau ingin aku memiliki hubungan dengan suami orang?”
“tenang, dan dengarkan dulu!”perintah Chaerin dan Soo Rin mengangguk cepat tidak sabar dengan penjelasan dari Chaerin.
“tapi, tidak enak bicara disini”kata Chaerin lagi yang memiliki maksud tertentu.
“kalau begitu kita bicara di ruanganku.”tarik Soo Rin ke ruangannya.
“sediakan aku cemilan.”
“itu pasti.”
Chaerin sudah duduk di sofa empuk di ruangan milik Soo Rin. Soo Rin menatap Chaerin dengan tatapan menuntut penjelasan Chaerin dengan tidak sabar.
“jadi.”katanya menagih penjelasan.
“istri Daesung telah mati saat melahirkan anaknya. Dia hanya fokus pada anaknya dan pekerjaannya.”cerita Chaerin.
“...”
“...”
“hanya itu??”Tanya Soo Rin tidak percaya.
“ya.”
“kau yakin?”
“tentu saja.”jawab Chaerin yakin sambil menganggukan kepalanya dan meminum sedikit air mineral yang sebelumnya dia minta pada karyawan Soo Rin. Tapi, hal itu membuat Soo Rin kecewa dan kesal.
“yak! Aku kira kau akan menceritakan sesuatu yang lebih hebat.”protes Soo Rin dengan kesal.
“kau benar-benar mengharapkan Daesung?”
“Entahlah. Lagian aku salah paham selama ini.”kata Soo Rin lemas.
“Rin- ah,”kata Chaerin dengan aegyo.
“hm..”balas Soo Rin sambil membesaran kedua matanya dan mengedipkan matanya beberapa kali. Mereka akan menunnjukan aegyonya jika ingin berbicara serius tapi, takut-takut seperti saat ini.
“aku ingin lepas dari ini semua.”kata Chaerin akhirnya yang membuat seakan batu di pikirannya terlepas.
“maksudmu?”Tanya Soo Rin binggung dengan menormalkan aksi manja-manja alla anak kecil yang biasa mereka perankan jika berdua.
“aku akan mencoba mencintai.”
Jiyong bertemu dengan Chaerin di halte dan mengajaknya pulang bersama. Tanpa menawarkan kedua kali Cherin setuju. Jiyong menjalankan mobil ini dengan pelan dan menggunakan jalan memutar. Jiyong berharap Chaerin tidak sadar.
“kau hanya mendengar lagumu?”kata Chaerin saat mendengarkan lagu Jiyong yang dari tadi diputar.
“hem. Kau mengetahui ini laguku?”Tanya Jiyong ragu Chaerin mendengarkan musiknya.
“ya, walau aku tidak mencarinya, lagu-lagumu sangat terkenal dan di putar dimana-mana. Jadi, tentu saja aku tahu.”jawab Chaerin.
“lalu, apa kau ingin menggantinya?”tawar Jiyong yang takut Chaerin tidak menyukai musiknya karena lagu yang sedang di putar adalah lagu bertema cinta.
“ya,”
“silahkan. Tapi, tidak masalahkan kalau aku ikut ternyanyi?”
“tentu saja.!”
“kalau begitu hidupkan saja radionya.”tawar Jiyong dan Chaerin langsung memutarkan radio.
Sebuah lagu pun terputar dari siaran radio, dari musiknya Jiyong merasa lagu ini tidak asing baginya. Salah satu lagu yang sering Jiyong nyanyikan jika mengingat Chaerin di tengah kesendirianya karena bertahun-tahun tidak bisa bertemu dengan Chaerin.
‘ noona’s perfume is very very sweet
no one around me has that scent on their body
noona’s make up is very very pretty
even if you can’t believe it, this pretty noona is mine.
If You Really Like Me-Me
Don’t Say Anything, Just
Do As I Say, And Do It Right
Don’t Use Perfume.
Noona’s Body,
Is Very-Very Sexy
Everyone Says You’re
A 10 Points Out Of 10’
Jiyong ikut bernyanyi mengikuti nada dengan baik. Tiba-tiba Chaerin mematikan radionya.
“kenapa?” Tanya Jiyong binggung.
“kita ini sudah sama-sama dewasa. Aku sadar pemikiranku untuk hidup tanpa cinta itu terlalu egois. Aku memutuskan untuk membuka diriku, membiarkan hidup dengan cinta. Karena aku sudah tahu perasaanmu, aku ingin semua berjalan pelan-pelan. Aku ingin belajar apa itu cinta karena selama ini aku hanya tahu cinta menyebabkan luka. Jadi, aku harap kita jalani ini seperti biasa,”jelas Chaerin membuat Jiyong menghentikan mobilnya mendadak setelah berhasil membuat mobilnya ke pinggir sehingga tidak menggangu pengguna jalan yang lain.
“kau serius? Aku tidak salah dengar?”Tanya Jiyong mencari kepastian dari Chaerin.
“ya.”jawab Chaerin sambil menganggukan kepalanya tapi, hanya dengan begitu Jiyong mengerti bahwa itu keputusan berat untuk Chaerin ambil.
“apakah kita sudah menjadi kekasih?”
“tidak! Tidak. Aku ingin semua berjalan perlahan-lahan bukan berarti aku menerimamu menjadi kekasihku. Aku hanya. Hanya tidak melarangmu mencintaiku seperti sebelumnya tapi, mungkin pria lain yang akan menarik hatiku. Aku tidak tahu. Aku tidak ingin mengambil keputusan terlalu cepat karena aku baru memulainya. Apa kau mengerti maksudku?”kata Chaerin dengan sulit. Chaerin tidak menatap mata Jiyong. Matanya hanya fokus pada langit walau Jiyong tahu di langit tidak ada yang menarik dan itu membuat Jiyong binggung.
“ya, walau begitu aku tetap senang. Terimakasih kau mau mencobanya, Chaerin. Tapi, apakah kau mengizinkanku untuk lebih dekat denganmu?”
“ya. Ya. Tidak masalah asal itu tidak menggangguku.”Jawab Chaerin gugup.
“Terimakasih.”kata Jiyong sambil tersenyum manis pada Chaerin tapi, Chaerin belum mau melihat Jiyong. Tapi, Jiyong bisa mengerti hal itu.
“apa ini karena lagu yang baru sajaku nyanyikan? Jika tahu seperti itu seharusnya aku menyetelkannya padamu sejak dulu.”canda Jiyong karena tidak suka suasana kaku seperti ini.
“tidak.. ini karena pertanyaanmu”
“pertanyakanku?”
“ya, kau bertanya apakah jika aku hidup seperti ini aku tidak merasakan luka. Itu membuatku berfikir beberapa hari ini.”
“o, begitu. Aku senang mendengarnya. Kau ingin makan malam denganku? Aku akan masak makan malam untukmu sebagai perayaan ini.”
“hal ini tidak perlu dirayakan.”jawab Chaerin malu hingga mengalihkan wajahnya ke kanan arah jendela agar Jiyong tidak bisa melihatnya.
“kalau begitu makan malam biasa, kau mau?”
“dimana?”
“di apartemenku karena kau belum pernah ke apartemenku.”
“baiklah. Kebetulan bubur instanku hari ini sudah habis.”jawabnya polos membuat Jiyong tertawa kecil.
Tapi, sebuah panggilan dari rumah sakit membuat Jiyong harus menggagalkan rencananya makan malam bersama dengan Chaerin.
“dari rumah sakit?”Tanya Chaerin saat Jiyong baru saja menutup telepon.
“ya.”
“ada apa? kau harus kembali?”tebaknya
“salah satu pasienku masuk rumah sakit kembali jadi aku harus kembali.”jawab Jiyong tidak enak karena dia membatalkan janji pada Chaerin.
“pergilah. Aku mengerti, walau aku tidak akan dapat panggilan darurat untuk kembali ke rumah sakit karena aku dokter mulut dan gigi. Well, kita bisa makan bersama lain kali.”kata Chaerin sambil tersenyum lembut. Tapi, sebenarnya Chaerin tidak menyukai suasana ini. Mengatakan keputusannya ini dan langsung disambut hangat dengan Jiyong membuat dia lega tapi, takut bahwa ini akan menjadi awal sebuah kesalahan.
“baiklah. Maafkan aku!”
“tidak perlu minta maaf”
“aku tetap akan mengantarmu terlebih dahulu.”kata Jiyong dan langsung menjalankan mobilnya ke apartemen. Setelah sampai di apartemen, tidak lupa Jiyong memesankan makanan untuk Chaerin sebelum kembali ke Rumah sakit tapi, tanpa memberi tau pada Chaerin terlebih dahulu. Untung saja jarak rumah sakit dari sini tidak terlalu jauh jadi, Jiyong hanya menjalankan mobilnya dengan kecepatan normal.
Sesampai di apartemen Chaerin langsung tertidur lemas di kasurnya.
“aku sudah melakukannya. Ah... syukurlah.”ucap Chaerin.
“aku kira Jiyong akan bertindak berlebihan seperti memelukku atau.. ah..aku harus tidur untuk menormalkan perasaanku dan pikiranku. Satu masalah selesai.”kata Chaerin.
Tidak lama seseorang memencet bel apartemen Chaerin dan Chaerin langsung keluar. Ternyata yang datang adalah pengantar makanan yang dipesan Jiyong dan membuat Chaerin tersenyum saat menerimanya karena sudah mengira bahwa ini kiriman dari Jiyong.
Sejak saat itu komunikasi Chaerin dan Jiyong berjalan baik. Jiyong masih mengejar Chaerin dengan perlahan-lahan, Jiyong tidak ingin Chaerin tidak nyaman berada disampingnya. Walaupun Jiyong tidak memiliki banyak waktu untuk bertemu dengan Chaerin tapi, Jiyong selalu menyempatkan diri untuk menemani Chaerin makan malam bersama. Memang tidak ada sesuatu special yang terjadi. Tidak ada panggilan mesra seperti dulu saat Jiyong yang memanggil Chaerin dengan ‘Chaerinku’, tidak ada pelukkan ataupun genggaman tangan tapi, tanpa sadar cinta itu kini mulai tumbuh dengan perlahan.
“kau mendapat undangan juga dari Soo Rin nuna?”Tanya Jiyong saat Chaerin menyiapkan piring untuk mereka berdua di atas meja makan. Kali ini mereka makan di apartemen Chaerin dan Chaerin yang memasak sendiri karena Jiyong terlalu sibuk bahkan tidak bisa melihat Chaerin memasak.
“tentu saja.”jawab Chaerin yang kini sudah duduk berhadapan dengan Jiyong.
“acara apa itu sebenarnya? Kenapa ada acara dansanya?”Tanya Jiyong sambil membolak-balikkan selembar undangan berwarna kuning keemasan.
“dia ulang tahun.”Jawab Chaerin sambil mengambil nasi untuknya sendiri.
“kenapa tidak di tulis saja ini pesta ulang tahun?”Tanya Jiyong penasaran.
“wanita itu tidak ingin orang mengetahui jika umurnya semakin bertambah, kau harus mengerti hal itu.” Chaerin menjelaskan.
“ya, wanita juga tidak ingin berat badannya ketahuan orang lain. Aku juga mengerti hal itu.”balas Jiyong tanpa sadar membuat Chaerin kesal.
“maksudmu aku menyembunyikan berat badanku? Kau mengatakan aku gemuk? Itu maksudmukan?”kata Chaerin kesal tapi, tidak dengan nada yang tinggi.
“a. Bukan itu maksudku. Kau memang terlihat berisi tapi, tidak gemuk. Aku yakin kau akan tampil cantik saat ke acara Soo Jin nuna nanti. Sungguh aku tidak ada niat menyinggungmu, Chae.”kata Jiyong takut membuat Chaerin marah padanya.
“kau tidak boleh ambil dagingnya lebih banyak. Segitu sudah cukup.”ucap Chaerin saat melihat Jiyong mau mengambil kembali daging yang dimasak Chaerin. Dengan berat Jiyong mengembalikan daging ke tempat semula.
“Oh.. baikah tapi, jangan marah denganku! Aku minta maaf.”kata Jiyong tulus.
“...”tidak ada respon dari Chaerin, sepertinya dia begitu merasa tersinggung karena memang akhir-akhir ini dia lebih banyak makan dan pakaiannya mulai sempit. Padahal masa pertumbuhannya sudah lama berakhir.
“kau ingin pergi bersamaku di ulang tahun Soo Rin nuna?”Tanya Jiyong hati-hati.
“ya. Karena aku tidak bisa pergi dengan Jiyon.”jawab Chaerin dengan dingin.
“Jiyon?”
“dia dokter kandungan di rumah sakitmu, salah satu teman baikku.”jawab Chaerin mulai kembali normal.
"wanita?"
"tentu saja."jawab Chaerin tersenyum.
“oh, baiklah. Kita akan pergi bersama tapi, kau jangan dandan terlalu berlebihan Chaerin!”kata Jiyong penuh semangat.
“kenapa? Apa aku dandan terlalu norak?”kata Chaerin kembali kesal.
“tidak. Karena kau tidak perlu dandan berlebihan untuk tampil cantik. Aku akan semakin sulit mendapatkanmu jika kau semakin cantik dan banyak yang menyukaimu.”kata Jiyong jujur walau itu terdengar hanya sebuah gombalan. Tapi, Chaerin tahu bahwa Jiyong jujur karena mata mereka saling menatap lekat dalam beberapa lama.
“hm.. itu masalahmu.”jawab Chaerin dingin tapi, dia menyembunyikan senyuman bahagianya.
Hari terus bergati hingga akhirnya acara ulang tahun Soo Jin pun tiba. Tidak ada yang special yang dikenakan dengan Jiyong, dia hanya mengenakan pakaian formal pada umumnya. Hanya saja Jiyong yang selalu mengenakan jas dokternya yang berwarna putih kini mengenakan jas hitam bergaris-garis putih dengan kemeja putih polos. Dia sudah siap menjemput Chaerin dan kini telah berdiri di depan pintu apartemen Chaerin.
“aku siap.”kata Chaerin saat membuka pintu sambil menggunakan sepatunya. Chaerin terlihat cantik dengan gaun panjangnya berwarna baby blue. Rambut Chaerin ditata keatas sehingga memperlihatkan lehernya yang menggoda Jiyong.
“aku kira kau akan menggunakan pakaian sedikit terbuka untuk menarik pria.”kata Jiyong untuk menghilangkan pikiran nakalnya dengan mengajak Chaerin berdebat.
“inginnya seperti itu. Tapi, aku rasa tanpa tampil menggoda aku tetap saja akan menjadi magnet yang menarik pria.”jawab Chaerin tertawa.
“kau benar-benar mengetahui kelebihan yang ada didirimu, Chae.”pikir Jiyong masih dengan menatap Chaerin lekat membuat Chaerin gugup.
“ayo!”kata Chaerin setelah memegang siku tangan Jiyong. Jiyong sedikit kaget dengan aksi kecil Chaerin itu tapi, sudah berhasil membuat Jiyong senang.
“ayo, Chaerinku!”kata Jiyong dan membuat Chaerin ketawa lepas. Dulu dia sangat kasal saat Jiyong mengatakan ‘Chaerinku’. Tapi, Chaerin juga tidak mengerti kenapa saat ini ketika Jiyong memanggilnya ‘Chaerinku’ membuatnya tertawa geli.
Setelah sampai di gedung seni opera dan teater milik Soo Rin, para tamu sudah memenuhi gedung ini walau tidak ada pertunjukan pada hari ini ataupun besok karena selama 3 hari gedung ini digunakan untuk mempersiapkan ulang tahun Soo Rin. Hingga Chaerin menggira ini akan mengalahkan pernikahan artis-artis besar Korea.
Dari jauh Chaerin melihat Jiyon bersama kekasihnya yang berbicara dengan Soo Rin.
“mereka disana.”kata Chaerin sambil menunjuk ke arah teman-temannya pada Jiyong.
“baiklah tapi, kita diminta berfoto dulu.”kata Jiyong sambil menunjuk seorang membawa kamera yang merupakan salah satu panitia acara Soo Rin. Jiyong dan Chaerin pun berfoto bersama yang ternyata sebagai bukti kehadiran mereka di acara ini.
Seperti perkiraan Chaerin bahwa tidak ada orang yang membawa kado dan acara ini bertemakan Eropa pada tahun 60-80an yang dipadukan dengan pesta dansa. Setelah mereka berhasil mendekat pada Soo Rin, Chaerin kaget dengan kostum yang dikenakan Soo Rin. Sebuah gaun alla bangsawan Eropa yang berwarna soft pink. Chaerin tahu Soo Rin menyukai kostum hanya saja penampilan Soo Rin benar-benar mencolok walau warna gaunnya sangat soft. Tentu saja mencolok karena para tamu berpenampilan modern sedangkan Soo Rin seakan muncul dari mesin waktu yang datang dari masa lalu.
“ah.. nuna ini acara ulang tahunmu kan? Aku kira ini ulang tahun anakmu.”kata Jiyong sambil memeluk Soo Rin.
“ck. Anak nakal! Kau tidak hanya melukai aku dan Jiyon tapi, juga melukai perasaan Chaerinmu itu”balas Soo Rin membuat Jiyong kewalahan. Jiyong sadar dia salah bicara.
“oh, benarkah? Setahuku Dokter Kim lebih muda darimu dan Chaerinku itu terlihat jauh lebih muda darimu, kau harus mengakui hal itu nuna.”kata Jiyong dan Jiyong mendapat cubitan dari Soo Rin. Dan Chaerin tertawa mendengarnya.
“matamu rusak karena cinta.”kata Soo Rin geram dan Chaerin pun jadi terdiam.
“kalian datang berdua?”Tanya Jiyon yang dari tadi memperhatikan cara menyapa yang unik mereka.
“ya.”jawab Chaerin sekedarnya. Dia masih belum bisa terang-terangan mengatakan bahwa dia sedang mencoba untuk tidak menghindar dari cinta. Tapi, jawaban Chaerin itu membuat Jiyong tersenyum puas dan Soo Rin menyikut Jiyong pelan dan menggoda Jiyong.
“kau berhasil.”bisik Soo Rin pada Jiyong.
“belum. Tapi, aku yakin aku akan berhasil.”jawab Jiyong mantap.
“aku tunggu berita bahagianya.”kata Soo Rin dan Jiyong membalas dengan senyuman bahagianya.
“apakah kau mengundang Daesung?”Tanya Chaerin pada Soo Rin.
“ah.. tidak. Karena kami sudah memiliki acara rahasia untuk kami berdua.”jawab Soo Rin sombong dan tentu saja itu membuat mereka samua kaget.
“secepat itu?”. “benarkah?”Tanya Chaerin dan Jiyon tidak percaya.
“Daesung siapa?”Tanya Jiyong yang binggung dengan nuna yang dikenalnya tidak ingin mengenal pria malah mengatakan memiliki acara rahasia yang hanya mereka berdua yang tahu. Sedangkan kekasih Jiyon yang sejak dulu tidak pernah diingat namanya oleh Chaerin sudah terbiasa dengan sikap teman kekasihnya yang unik hanya diam saja.
“aku tidak ingin menceritakannya disini. Maafkan aku banyak tamu yang harusku sapa. Kalian nikmati saja pestanya.”kata Soo Rin yang pergi begitu saja dengan senyuman kemenangan tapi, itu tampak menyebalkan bagi Chaerin dan Jiyon yang sangat penasaran dengan perkembangan hubungan Soo Rin dan Daesung yang begitu cepat. Sedangkan Jiyong menggelengkan kepalanya pelan.
“apa dia hanya berbohong?”Tanya Jiyong pada Chaerin.
“tidak. Soo Rin yangku kenal selama ini lebih suka jujur. Bahkan dia jujur mengatakan dia tidak pernah pacaran saat wawancara di sebuah televisi.”jawab Chaerin yang masih menatap kepergian Soo Rin yang menyebalkan.
“dia begitu menyebalkan.”kata Jiyon geram dan Chaerin pun langsung larut pada obrolannya dengan Jiyon yang membuatnya melupakan Jiyong.
“aku pergi sebentar.”kata Jiyong pelan pada Chaerin berharap Chaerin melihatnya.
“baiklah.”kata Chaerin tanpa melihatnya.
“dia benar-benar mengaggapku sebagai supirnya?”gumam Jiyong pelan. Saat Jiyong semakin menjauh dari Chaerin, Jiyong bertemu dengan sekelompok gadis yang tiba-tiba menahannya.
“ah, aku G-Dragon bukan? Why so serius?”kata seorang gadis itu sambil mengatakan salah satu judul Jiyong. Dan Jiyong hanya tersenyum manis dan membuat para gadis itu histeris. Dari jauh Chaerin memperhatikan Jiyong yang tidak nyaman sedang berfoto bareng dengan para gadis-gadis. Tidak sengaja mata Jiyong dan Chaerin pun bertemu dan saat itu juga Chaerin berpaling. Disisi lain Jiyong semakin tidak nyaman dan kesal dengan gadis yang mengelayut manja padanya dan kerap kali bersender di dadanya membuat Jiyong semakin risih.
“kau malah bersenang-senang disini? Kau bilang ingin mengambilkan minum untuk kita.”kata Chaerin yang tiba-tiba muncul dibelakang Jiyong. Jiyong langsung berbalik dan melepaskan tangan gadis itu.
“maafkan aku, sayang. Mereka ingin berfoto bersama denganku. Kau tidak keberatankan?”kata Jiyong memanfaatkan situasi untuk lepas dari para gadis. Dan Chaerin menyadari hal itu.
“ya. Tapi, lain kali jangan buat aku menunggu terlalu lama.”jawab Chaerin memerankan perannya. Dia hanya berniat menolong Jiyong dengan kemampuan acting pas-pasannya. Tiba-tiba Jiyong memeluk Chaerin dan mengelus rambutnya lembut. Membuat Chaerin kaku dan merasa waktu berhenti. Para gadis itu pun meninggalkan mereka dengan kesal.
Soo Rin yang kini berdiri di meja DJ dari atas dapat melihat kejadian langka itu dan mengubah acara dansanya menjadi lebih cepat dari yang seharusnya. Dan Soo Rin tidak ingin melewatkan momen ini dengan meminta karyawannya fokus memoto pasangan Jiyong-Chaerin sebagai kenang-kenangan atau lain kali foto ini bisa dia gunakan untuk melawan Jiyong yang suka berkelahi dengannya atau membuat Chaerin malu, setidaknya Soo Rin sadar bahwa foto ini bisa menjadi kelemahan pasangan itu dan menjadi momen indah sahabatnya itu.
“kau sudah mengusir gadis-gadis itu sedangkan musik dansa sudah dimulai. Karena kau sudah ada didekatku, ayo kita berdansa!”ajak Jiyong tapi, Chaerin tetap diam. Chaerin masih terkurung didalam pikirannya sendiri.
“jangan bilang kau tidak bisa berdansa?”kata Jiyong membuat Chaerin tersadar.
“tidak. Aku bisa.”Jawab Chaerin. Tangan Jiyong kini mengegam tangan kecil Chaerin dan menariknya hingga berada di lantai dansa yang sudah dipenuhi banyak pasangan. Jiyong dan Chaerin pun memulai dansanya. Tidak jauh dari mereka Jiyon dan kekasihnya juga sudah turun ke lantai dansa. Jiyong menatap mata Chaerin yang didepannya dengan lekat. Entah kenapa Chaerin pun menjadi gugup tapi, mereka masih berdansa dengan baik. Chaerin mengalihkan wajahnya dari Jiyong hingga membuat wajah Chaerin menempel pada dada bidang Jiyong. Walau suara musik begitu kencang, entah peri mana yang membuat musik menjadi tidak terdengar oleh Chaerin hingga Chaerin hanya mendengar detak jantung Jiyong yang cepat tapi, begitu membuat Chaerin tenang dan nyaman.
“Tutup matamu. Kau tidak perlu berfikir. Tapi, rasakanlah.”ucap Jiyong sambil menarik dagu Chaerin dengan lembut agar menatapnya. Chaerin pun menutup matanya menurut dengan perkataan lembut Jiyong. Jiyong langsung mengecup bibir Chaerin yang lembut membuat Chaerin dengan perlahan menggemam baju Jiyong dengan erat dan kuat.
“appa harus tau hal ini. Aku tidak percaya!”kata Harin yang baru saja memasuki pesta dan telah disambut dengan pemandangan yang tidak biasa. Harin pun langsung memoto Chaerin dan Jiyong yang masih tidak sadar bahwa sudah banyak yang sedang memotret mereka.
“oh... my.. aku akan gila. Ini hebat! Haruskah aku mengadakan pesta seperti ini setiap minggunya?”ucap Soo Rin histeris di balik meja Dj miliknya.
TBC
Aku sudah mengusahakan memposting ff ini untuk kedua kalinya dalam minggu ini. Aku berusaha membuat INFI puas jadi aku harap aku juga mendapatkan respon memuaskan juga. Sampai jumpa minggu depan jika Hpku sudah baik-baik saja mungkin akan ku posting. Maafkan jika banyak TYPO bertaburan. Bye.. Bye...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar