jangan lupa

JANGAN LUPA KOMENTAR YA..

Sabtu, 27 Februari 2016

FLY ME TO THE MOON (1-3)



FLY ME TO THE MOON (1)
Author: Kim Daisy
Cast: Chaerin a.k.a CL 2ne1 dan Kwon Ji Yong a.k.a GD BIG BANG.
Genre: Angst


Pernahkah kau memiliki kekasih yang berada di 5 besar orang kaya di negaramu? Sedangkan kau hanya rakyat jelata biasa. Buruknya lagi kau tanpa ayah dan hanya tinggal di rumah biasa dengan ibu tiri serta dua sodara tiri perempuan. Ini bukan kisah Cinderella yang menjadi premasuri seorang pangeran tampan. Tapi, ini kisah gadis biasa yang terpuruk karena cinta.
~~~~~~~~~~~~~cerita sebelumnya di NOT ME!!~~~~~~~~~

Pagi yang menyebalkan. Sebentar lagi hari natal. Hari dimana pasangan kekasih bersama menghabiskan waktu mereka. Tapi, aku hanya dikamar sambil menatap leptopku yang mati karena sejak tadi malam aku gunakan untuk menulis. Aku memang penulis naskah film atau pun drama. Beberapa naskah yang aku buat telah difilmkan. Tapi, sayangnya naskah cerita yang manis dan romantis belum pernah aku rasakan, lagi.
Malam ini aku kembali bermimpi indah, aku bermimpi kau mengikat rambuku seperti biasa. Aah.. aku lupa itu sudah lama berlalu.
“onnieee!!!”teriak adikku dari kamarnya. Segera aku berlari ke kamarnya yang bersebelahan dengan kamarku.
“wae??”tanyaku saat aku memasuki kamarnya.
“onnie, apakah kau punya pembalut?”tanyanya yang sedang membungkus tubuhnya dengan selimut.
“aku kira ada apa, tertanya hanya itu.”
“apakah kau punya?”
“tidak.” Jawabku.
“unnie, tolong belikan aku. Tak mungkin aku keluar jika begini.”pinta adikku. Aku segera menutup pintu kamarnya.
“unnie, jangan meminta asistenmu! Aku harus menunggu setahun agar dia datang kesini.”
“cerewet!”teriakku. Aku ambil jaket tebalku berwarna pink di gantungan baju. Kugunakan sepatu bulu berwarna orange yang cocok untuk melindungi kakiku saat musim dingin ini.

@market.
“bayarnya pisah?”kata kasir setelah menghitung belajaanku. Aku langsung melihat ke sampingku.
“ya!”kata namja di sampingku. Dia mengenakan jaket yang sama persis denganku, hanya saja dia mengenakan jaket yang berwarna coklat. Aku menatapnya dan dia juga menatapku. Ini sudah lima tahun lalu sejak saat itu. Mungkin dia telah melupakan aku, bahkan wajahku. Jaket itu, mungkin dia bahkan tidak tahu makna jaket itu.
“bayar tunai atau mengunakan kartu?”ucap kasir menggangu lamunanku.
“tunai!”kataku sambil mengambil dompetku di saku jaketku.
“ini!”ucapku sambil memberikan sejumlah uangku kepada kasir dan kasir itu memberikan belajaanku. Aku segera keluar dari market dan menuju mobilku. Aku harus cepat, jika tidak adikku bisa mengamuk.


------------ Flashback --------------------
“oppa, aku tak pernah haus dengan harta. Aku sungguh mencintaimu dengan tulus. Percayalah!”ucapku sambil menangis. Aku mengemis cinta, aku sendiri tak percaya tapi aku melakukannya karena aku sungguh mencintainya.
“maafkan, aku. Tapi, aku harus menjauh darimu.”ucap Jiyong oppa sambil melepaskan tanganku. Dia masuk kemobilnya dan pergi meninggalkanku yang masih terduduk lemas sambil menangis.
“kau kenapa, Chae?”suara unnieku terdengar dari belakangku. Aku tak mampu menatapnya dengan wajah yang penuh dengan air mata.
“kau menangis? Bangunlah, masuklah terlebih dahulu. Tidak enak jika dilihat orang.”ucap unnieku sambil memapahku untuk berdiri.
“kau tahu? Kau ini pintar tapi kenapa seperti ini? Seharusnya kau tahu, cinta itu adalah ilusi. Ilusi yang tercampur dengan mimpi indah yang mengubah pandangan kita pada dunia. Hanya saja sialnya ilusimu itu lebih cepat hilangnya. Kau tak perlu sedih kerena semua orang pasti dapat merasakannya.” Nasehat eonnieku saat membawaku masuk kembali kerumah. Tapi, tangisku semakin menjadi. Remas perutku, terasa sakit diseluruh tubuhku.
------------------- Flashback end--------------------------


Ini malam natal. Malam natal terburuk karena adikku saja tidak bisa menemaniku. Dia memilih untuk menemani kekasihnya. Kuambil snack di dalam kulkas yang beberapa hari lalu ku beli di market. Ku ambil remot televisi lalu aku duduk di sofa depan televisi. Kubuka bungkusan snack dan kumasukan cemilan rasa coklat itu kemulutku. Baru saja aku mengunyah snack ponselku sudah berdering.
“wae?”tanyaku malas.
“onnie, ganti bajumu cepat!”ucap adikku diseberang sana.
“wae? Kau ingin mengajakku?”
“gunakan baju yang beberapa hari lalu kau beli bersamaku. Dandanlah yang cantik dan segera tunggu aku diluar. Aku akan sampai sebentar lagi.”ucap adikku terburu-buru. Aku segera meninggalkan snack kesukaanku di sofa dan mematikan televisi. Aku segera berdandan cantik dan menganti pakaianku seperti yang adikku bilang. Setelah aku rasa semua siap, aku keluar dari rumahku.
Lima menit kemudian adikku juga belum datang, sepuluh menit, lima belas menit, tiga puluh menit dia juga belum datang. Padahal aku menunggunya sambil kedinginan seperti ini. Apakah dia ingin membunuhku? Aku ambil ponselku di tas kecil. Kupencet nomor adikku.
“kau dimana?”kataku kesal tapi, aku mengucapkannya dengan terbata karena aku sangat menggigil.
“pergilah sendiri. Carilah kesenanganmu, mana tahu kau bisa ketemu jodohmu. Jika kau dirumah saja, kapan kau akan menikah?”ucap adikku dengan cepat dan mematikan teleponnya. Sial!! Dia mengerjaiku. Kenapa dia yang marah? Menikah??
Kubalikkan tubuhku. Kucoba menekan tombol pengaman rumahku tapi, salah. Kucoba lagi, lagi, lagi dan lagi.
“penyihir!! Beraninya kau mengurungku begini!! Aku akan memotong uang jajanmu jika kau tak mengangkat teleponmu.”celotekku.
Aku coba menghubungi adikku tapi, dia mematikan ponselnya. Aku tak bisa menghubunginya. Memperbaiki kode keamanan? Tidak akan mungkin. Mana ada juru kunci yang buka saat malam natal. Jadiku putuskan untuk berjalan kaki sedikit dan menuju hotel terdekat.

@10 menit kemudian.
Aku tiba di lobby hotel.
“pesan kamar Penthouse Room untuk satu malam.”ucapku berbarengan dengan suara namja. Aku segera menatapnya dan ternyata dia juga begitu.
“maaf, hanya tersisa satu kamar.”kata resepsionis.
“apakah ada kamar lainnya?”Tanya namja itu.
“maaf, tuan. Tidak ada.”
“aku akan mengalah. Apakah disekitar sini ada hotel?” tanya namja itu.
“saya akan menghubungi hotel sekitar sini apakah ada kamar kosong atau tidak karena ini malam natal tuan. Mohon tunggu sebentar.” Ucap resepsionis. Aku segera mengalihkan pandanganku dari wajahnya saat resepsionis memberikanku kunci kamar.
@15 menit kemudian
Aku telah selesai mandi, siap untuk tidur. Baru saja aku naik ke atas kasurku. Bel kamarku berbunyi. Segera ku keluar dari kamarku dan turun untuk membukakan pintu.
“tidak ada kamar lagi. Apakah kau tinggal sendiri? Jika ia bolehkah aku menginap disalah satu kamarmu?”kata namja didepan pintu.
“maafkan, kami! Tapi, kasihan tuan ini. Dia berjanji akan membayar biaya kamar.”kata MG hotel ini.
“ya, sudah. Lagian aku sudah terbiasa.”ucapku dan langsung masuk ke kamarku meninggalkan namja itu. Aku berusaha setenang mungkin seakan aku tak peduli kehadirannya.

@pagi hari.
Aku keluar dari kamarku. Bersiap untuk sarapan tapi, namja itu membuat aku menghentikan langkahku.
“namaku Kwon Jiyong! Apakah kita sudah kenal sebelumnya?”ucapnya.


TBC

maaf, karena belakangan ini page sepi. Harap maklum karena kami juga punya kesibukan sendiri.
kemarin ada yang komentar FFku yang ini mirip sama Film. jawabanku Jika belum dibaca dari mana bisa mirip? FF ini baru ku posting disini dan gak ada kaitannya dengan film itu karena aku belum nonton itu film atau baca novelnya dan ide ceritanya sudah ada sebelum Not Me di posting (sebelum itu film beredar dibioskop). Kalau sama mungkin kebetulan karena samapai sekarang aku belum nonton itu film.








FLY ME TO THE MOON (2-?)
Author: Kim Daisy
Cast: Chaerin a.k.a CL 2ne1 dan Kwon Ji Yong a.k.a GD BIG BANG.
Genre: Angst

@pagi hari.
Aku keluar dari kamarku. Bersiap untuk sarapan tapi, namja itu membuat aku menghentikan langkahku.
“namaku Kwon Jiyong! Apakah kita sudah kenal sebelumnya?”ucapnya.
“tidak”balasku singkat.
“wajahmu tak asing bagiku.”katanya sedikit menyelidik.
“ah, beberapa hari lalu kita bertemu di market.”ucapku dan keluar meninggalkanya begitu saja.

Saat aku makan Jiyong oppa satu meja denganku. Dia makan dengan tenang sambil menatapku. Sedangkan aku makan dengan gelisah karena dia tak berhenti menatapku.
“apakah kalian sepasang kekasih? Kami punya kupon-kupon menarik untuk kekasih yang menginap disini.”ucap salah satu karyawan hotel kepada kami.
“tidak!”ucapku cuek sambil memasukkan sandwich kemulutku.
“ya. Kami bukan kekasih. Kami sedang berbulan madu sebenarnya.”ucap Jiyong begitu saja sambil tersenyum seperti tersipu hingga membuatku sulit menelan sandwichku.
“wah, kalian memang terlihat seperti itu. Ini kuponnya dan semoga segera mendapatkan penerus.”ucap karyawan itu begitu saja dengan senyuman manis lalu pergi meninggalkan kami.
“kau gila?”ucapku setelah minum air putih di dekatku.
“hey, kau lihat ini! Ini ada tiket ke nam tower, opera, dan makan malam ini lumayan.”ucap Jiyong sambil tersenyum. Senyuman yang sudah lama tak aku lihat.
“kita akan pergi setelah makan siang untuk menonton opera, bagaimana?”ucap Jiyong padaku.
“denganku?”
“tentu saja!”

@siang
Jiyong mengajakku makan disebuah café coffie yang sederhana hanya bergaya eropa. Masih seperti tadi dia menatapku terus saat aku makan.
“apakah aneh jika aku makan?”tanyaku datar.
“bukan begitu. Hanya saja menurutku kau menarik.”ucapnya sambil tersenyum lalu menundukkan kepalanya. Senyuman itu senyuman jika dia malu. Agh.. aku tak ingin terlalu percaya diri. Dia masa laluku!

Setelah makan kami nonton opera seperti yang dia jadwalkan. Operanya mengisahkan tentang sepasang kekasih yang mempertahankan cintanya. Memang terkesan classic hanya saja opera ini mampu membuat ceritanya menjadi menarik.
“ini pertama kalinya aku menonton opera.”ucapnya setelah keluar dari ruangan. Dia terlihat gembira, aku rasa itu karena cerita operanya saja.
“ini terlalu tercepat untuk ke nam tower, bagaimana kalau kita ke aquarium raksasa?”saran Jiyong oppa.
“kau lupa umurmu? Kau kira kita sedang darmawisata?”tanyaku sambil menatapnya tak percaya.
“aah.. ayolah! Aku tak bisa melepaskanmu begitu saja.”ucapnya sambil menarik tangganku. Wajahku terasa panas, apakah aku demam? Semoga saja ini karena demam bukan karena ucapannya.

Di aquarium kami hanya melihat ikan-ikan. Menurutku tak ada yang menarik hanya saja wajah Jiyong oppa lagi-lagi terlihat polos seakan dia sangat takjup dan baru pertama kali kesini. 6 tahun lalu dia pernah mengajakku keliling kesini. Berenang di aquarum raksasa bersama para ikan untuk mengucapkan selamat karena ulang tahunku. Itu hanya masa lalu, karena dulu dia juga pernah melepasku seakan aku hanyalah sampah.
“Lihat ikan ini lucu!”ucapnya saat menunjuk salah satu jenis ikan hias. Aku hanya sedikit menoleh padanya lalu kembali melangkahkan kakiku dan berjalan menjauh dari Jiyong.


Makan malam pun tiba. Kami duduk di meja makan yang telah disiapkan untuk kami. Tamu VIP kenapa mendapatkan layanan yang banyak bonusnya? Sayang sekali dulu aku tak pernah berminat jadi anggota VIP di hotel itu.
“kau kenapa? Apakah kau tak nyaman disampingku?”Tanya Jiyong. Wajahnya terlihat khawatir.
“tidak. Hanya saja aku kelelahan.”ucapku.
“kalau begitu segeralah makan.”ucapnya sambil tersenyum sambil menunjuk makanan yang telah terhidang di meja kami.
Makanan penutup pun telah habis kami makan tapi, dia tetap menatapku dengan lekat.
“kenapa?”tanyaku.
“aku merasa kau tidak asing bagiku. Aku harap kau percaya padaku.”
“…”aku hanya diam, malas untuk membalas ucapannya.
“aku rasa aku mencintaimu, Lee Chaerin.”ucapnya sambil menatapku penuh dengan kejujuran.
Kali ini aku juga hanya diam. Tatapan matanya tulus, hatiku berdetak tak terkendali.
“Chaerin, maukah kau menjadi kekasihku?”tanyanya sambil mengegam tanganku yang sebelumnya tergeletak di atas meja.
“aku menyukaimu.”jawabku. Ini bukan yang pertama tapi, aku hanya bisa menjawab seadanya. Aku tak mampu memikirkan kalimat apa yang bagus untuk aku ucpakan.

Pramuniaga menyarankan kami untuk berdiri di teras mereka. Langit malam yang indah dengan salju-salju yang turun dari langit dan cahaya lampu gedung-gedung menjadi backgroundnya.
“disini dingin.”ucapku sambil berpegangan pada ganggang besi yang menjadi batas.
“itulah perlunya aku disini.”ucap Jiyong sambil memelukku dari belakang.
“maaf tapi, jika kau orang lain aku tak mampu untuk melakukan ini. Aku merasa kau benar-benar akrab denganku.”jelas Jiyong sedikit berbisik.
“aku mencintaimu”ucapnya sambil menciumku. Aku tak berani mengatakan “aku juga mencintaimu”. Aku takut masa lalu kita terulang kembali. Tidak! Sepertinya itu hanya akan menjadi kenangan untukku. Aku senang karena dia kembali mencintaiku tapi, aku sedih karena takut dia meninggalkanku lagi. Tapi, aku juga sadar satu hal. Lima tahun ini pun aku tak bisa tidak mencintainya.
DUaar!! Duar!!! Kembang api terlihat indah dari atas sini.
“kenapa ada kembang api?”gumamku.
“mungkin kembang api sisa kemarin. Anggap saja mereka bahagia untuk kita!”ucap Jiyong tersenyum masih memelukku. Lima tahun lalu kau bahkan meninggalkanku sehari sebelum natal.


@seminggu.
Tepat seminggu Jiyong oppa mulai tak menghubungiku lagi. Apakah karena aku sudah bersamanya dia tak tertarik lagi padaku? Dia tak mencintaiku lagi? Tidak! Dia bukan orang seperti itu.
“dia lupa ingatan. Lalu menurutmu dia tak merubah sikapnya. Lupakan dia onnie! Kau melukai dirimu sendiri.”ucap adikku di depan pintu dengan memegang ubi rebus yang masih panas.
“aku yakin hatinya masih sama. Dia lupa ingatan bukan jadi orang baru.”belaku.
“dia baru saja mengemis cinta dengan mantan kekasihnya. Kau masih berharap padanya?”ucap adikku dengan nada mengejek sambil melemparkan ponselnya padaku.
“lihat?! Dia berani menahan malunya di depan umum untuk meminta kekasihya kembali padanya tapi, di tolak dan dipersulit oleh gadis itu. Lalu kau yang dilupakannya, dia hanya mengatakan suka padamu dengan mudahnya dan kau menerimanya begitu saja?! Kau bahkan tidak tahu bahwa dia masih mengejar mantannya walau kau sudah berpacaran denganya. Kalau tidak bodoh, apalagi namanya?”ucap adikku kesal. Aku kesal saat adikku mengatai Jiyong tapi, dia adikku wajar jika dia marah melihatku diperlakukan seperti ini. Apalagi ini sudah kedua kalianya.
“jangan tutup mata dan telingamu! Berita ini dari tiga hari lalu.”ucap adikku sambil mengambil ponsel genggamnya dari tanganku.
“STOP! Jangan menangis! Namja seperti itu jangan kau tangisi! Kau bilang tahun ini kau akan mengularkan bukumu lagi, dari pada menghabiskan waktu untuk namja itu mending kau kembali berpacaran dengan laptopmu itu.”omel adikku.
“mau memrintahku?? Kau kira karena siapa aku bertemu lagi dengan namja itu hah?”kataku sedikit keras.
“epss.. jangan salahkan aku! Itu bukan rencanaku. Lagian aku yakin, kali ini kau pasti tak sejatuh seperti dulu. Acha-acha!!”kata adikku mencoba memberiku semangat.

TBC










FLY ME TO THE MOON (3-?)
Author: Kim Daisy
Cast: Chaerin a.k.a CL 2ne1 dan Kwon Ji Yong a.k.a GD BIG BANG.
Genre: Angst

@Jiyong Pov
Rasa jenuh pada kehidupanku membuatku sedikit uring-uringan hari ini dan sakit pada kepalaku sering terjadi.
“kau harus membuat Ranee setuju oleh pertunangan ini. Lakukan yang terbaik, umurmu sudah tak muda lagi.”ceramah nenekku duduk di sofa dengan megang tongkatnya.
“nek, aku sudah melakukannya tapi, dia menolakku.”belaku.
“itu karena dia tahu kau tidak tulus.”
“aku merasakan salah, nek. Seakan aku mencintai seseorang dan menghianatinya.”
“siapa dia?”
“aku tak tahu, nek”
“itu hanya imajinasimu saja. Aku yakin Raneelah cinta sejatimu, yeoja yang di utus tuhan untukmu.”
“nek, walau aku menikah nanti untuk uang aku berharap tetap akan menemukan cinta yang sebenarnya bukan karena materi dan paksaan seperti ini.”kataku beranjak dari sofa dan pergi meninggalkan nenek. Kepalaku semakin sakit karena ini.
“Jiyong, aku belum selesai bicara denganmu!”teriak nenek lemah.
“tuan muda, nenek anda..”
“sudahlah pengurus Kim, kepalaku sakit. Aku merasakan ada sebuah pazzel yang harus aku susun di kepalaku tapi, ada beberapa bagian yang hilang sehingga aku tak tahu gambar pazzel itu.”celotehku begitu saja.
“aku tak mengerti apa maksud anda.”balas pengerus Kim kebingungan karena perkataanku.
“aku akan pergi sebentar, siapkan mobilku.”perintahku.
“baik, tuan.”kata pengurus Kim. Aku mengambil ponselku di kantung celana yang aku kenakan dan memencet beberapa tombol untuk menghubungi seseorang. seseorang yang aku harap bisa menghilangkan rasa jenuhku, sudah lama aku tak menghubunginya karena perkerjaan.
“Chaerin, aku rindu padamu. Kau dimana?”tanyaku langsung saat dia belum utuh mengatakan “HALLO”.
“bolehkah aku ke sana?”ucapku setelah mendengar balasannya.
“OK! Aku minta alamatmu dan aku akan datang dengan segera.”kataku dengan semangat.
“Bye! Tunggu aku.”kataku sambil tersenyum. Ini aneh, dia bersikap sedikit dingin padaku tapi, aku sungguh candu untuk selalu didekatnya, melihatnya atau pun memikirkannya. Pertemuanku dengannya sungguh tak disengaja, pertemuan biasa saja hanya saja dia memiliki kesan sendiri di diriku sehingga aku segera memintanya jadi kekasihku. Sebenarnya aku tak mengenalnya dengan baik tapi, saat kami pertama bertemu aku merasa dia tidak asing bagiku. Setelah aku mencari tahu tentangnya ternyata dia adalah seorang penulis fiksi yang sekarang lagi hits karena banyak bukunya yang menjadi best seller di beberapa Negara di seluruh dunia. Bahkan dia kini berada di peringkat 5 besar orang terkaya karena bukunya. Aah.. mungkin karena aku adalah pembaca bukunya dan menyukai tulisannya sehingga aku merasa dia tidaklah asing bagiku, ya mungkin begitu.

@rumah Chaerin.
Aku keluar dari mobilku sambil mengambil buket bunga untuk Chaerin. Aku berjalan ke pintu pagarnya yang tertutup dan memencet sebuah tombol di dekat pintu.
“ah, kau. Sebentar.”kata seseorang yang terdengar dari speker di alat itu. “ah, kau” katanya? Akukan kekasihnya. Seharusnya dia mengunakan kata yang lebih manis untuk menyambutku karena kami telah lama tidak saling berkomunikasi.

Suara gesekan besi terdengar karena pintu pagar kini telah terbuka. Chaerin terlihat sangat biasa saja dengan baju olahraganya dan jaket tebal berwarna orange yang pernah dia kenakan saat kami bertemu pertama kali. Chaerin juga mengikat rambutnya sedikit berantakan dan mengenakan kacamata. Jauh berbeda dengan penampilanya saat kami bertemu dia di market apalagi saat di hotel saat itu. Menurutku penampilannya kali ini kacau apalagi wajahnya terlihat kelelahan dengan kantung mata yang menghitam. Tapi, kenapa ini tidak membuatku mundur untuk mendekatinya?
“ini untukmu!”kataku sambil memberikan bunga yang aku siapkan untuknya. Dia menerimanya dan mencium bunga dariku.
“ini bunga segar, di cuaca dingin seperti ini harga bunga segar pasti sangat mahal. Kau memberikanku bunga ini agar aku menerimamu walaupun aku tahu kau sedang mengemis cinta dengan yeoja lain.”katanya datar. Aku merasa bersalah tapi, dia terlihat tanpa amarah. Aku tak menyangka dia membaca artikel itu.
“huft.. bukan itu maksudku. Maaf, dia orang dijodohkan oleh nenekku dan aku harus menurutinya.”kataku sedikit takut, takut melukainya.
“berapa umurmu? Kenapa masih harus diarahkan nenekmu?”kata Chaerin tenang dengan wajah datarnya seakan kata-kata sederhana itu tak melukai hatiku. Ya, aku merasakan sakit hati saat dia mengucapkanya dengan mudah tapi, aku memang seperti itu.
“omma…”teriak yeoja kecil di belakangku sambil berlari dan Chaerin langsung mengendongnya.
“kau sudah pulang? Harimu menyenangkan?”kata Chaerin lembut dengan senyuman jauh berbeda saat berbicara denganku.
“ne, appa membelikanku boneka baru.”cerita yeoja kecil itu gembira.
“kenapa dia disini?”kata seorang namja bersuara berat sambil menatapku tajam.
“dia hanya berkunjung oppa.”jawab Chaerin.
“kita akan membahas ini nanti. Jangan izinkan dia masuk! Aku akan kembali ke kantor dulu.”kata namja itu tegas dan menatapku seakan siap untuk membunuhku.
“appa, kiss me!”kata yeoja kecil itu pada namja di sebelahku dan namja itu mencium bibir mungil gadis kecil yang di gendong Chaerin. Pemandangan ini, aku mengerti kondisi ini. Chaerin ibu dari yeoja kecil ini dan namja bersuara berat dengan tatapan mata tajam ini adalah suami Chaerin. Pantas Chaerin bertanya dengan tenang seakan dia tak terluka ternyata dia sudah berkeluarga. Lalu kenapa dia menerimaku?
Namja itu melangkah pergi meninggalkan kami.
“apakah dia anakmu?”tanyaku takut-takut.
“tentu saja. Bukankah kami sangat mirip.”kata Chaerin dengan tenang dan menempelkan wajahnya pada yeoja kecil itu. Bagaikan tersambar petir aku mematung di sini. Wajah mereka benar-benar mirip.
“omma, siapa ahjusi itu? Appa terlihat marah padanya?”kata yeoja kecil itu.
“aku harus pulang sekarang.”kataku lemas langsung pergi menuju mobilku. Ini benar-benar kejutan tak terkira.

Aku dengan berjalan lemah ke ruangan kerjaku. Dimejaku sudah tertumpuk beberapa dokumen yang harusku baca.
“hidup menjadi orang kaya tidak menyenangkan. Hidup yang aku inginkan tak bisa aku rasakan. Huff..”kataku sambil menghela panjang sambil duduk di kursiku.

@suasana rapat
Fikiranku tak fokus seakan kosong. Ahh, Lee Chaerin berhasil mengpora-porandakan pikiranku. Punya anak? Sudah berkeluarga? Lalu bagaiman mungkin dia merayakan natal seorang diri di hotel? Aah, aku tak habis pikir.

“baiklah, rapat kita tutup dan dilanjutkan besok pada jam yang sama.”kata salah satu karyawanku. Dengan lemas aku bangkit dari kursi berjalan menuju pintu untuk keluar dari ruang rapat.
Bruk! Seseorang menyenggol bahuku dengan cukup keras.

TBC

kenapa aku postingnya dikit? pelit ya? hahahaha.. biar pembacanya pada aktif aja. ayo.. komentar yang banyak dong...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar