IF YOU [Part 3]
Author: Kim Daisy
Cast: SkyDragon, Geun Young (Li Kwon)
Genre: hurt, Family
“jangan temui ommaku sebelum dia siap!”kata anakku beberapa hari lalu saat kami ketemu dan kalimat itu bagaikan kaset rusak di kepalaku. Jelas-jelas kami saling tersiksa karena perpisaan ini kenapa aku tidak bisa menemuinya? Apa aku tidak perhak mendapat kesempatan kedua? Ini sudah dua hari semenjak aku bertemu dengan anakku. Dan yang ku pikirkan selalu tentangnya dan Chaerin.
Masalah keluargaku aku akan berusaha agar mereka bisa menerima Chaerin dan anakku, mereka tidak berhak mengaturku lagi. Aku akan mendapatkan Chaerin dan Geun kembali. Membangun keluarga yang harmonis seperti keluarga lainnya. Tidak akan ada lagi perpisahan.
“ada undangan untuk anda malam ini, tuan.”kata sekretarisku yang dari tadi memang di ruanganku untuk membantuku.
“hm?”
“dari Choi indutri, perusahaan furniture mereka yang berkerja sama dengan kita untuk mengisi hotel kita. Malam ini mereka merayakan ulang tahun perusahaan mereka.”jelas sekretarisku dan ku jawab dengan anggukan.
“anda pergi..”
“aku akan pergi sendiri.”jawabku cepat. Aku tidak akan membawa siapapun kali ini, aku tidak ingin Chaerin dan anak kami salah paham. Anak kami? Mengucapkannya saja membuatku senang.
@ ballroom KING Hotel
Aku sedang bencengkrama dengan sesama pebisnis lainnya. Biasanya mereka sudah berusia lanjut. Hal yang aku sesali adalah omma di undang karena appa sudah tidak ada jadi, kini omma menjadi pasanganku. Ya, uri appa sudah pergi 5 tahun lalu karena serangan jantung. Mengingat hal itu membuatku berfikir bahwa rasa sakit penyakitnya tidak akan sama dengan rasa sakit aku, Chaerin dan Geun Young rasakan. Dia seharusnya menerima balasan dari rasa sakit ini, setidaknya aku ingin dia melihat aku dan keluargaku kembali. Memikirkan hal itu membuatku tanpa sadar tersenyum.
“wah, presedir membawa siapa itu?”
“aku dengar yeoja yang digandengnya itu pernah menikah sebelumnya.”
“cantik sekali tapi...”
“apakah mereka sudah menikah?”
“memang sudah seharusnya presedir Choi mengantikan mendiang istrinya. Kecelakaan itu sudah lebih dari sepuluh tahun lalu.”
Semua orang berbisik dan fokus ke satu arah. Di arah pintu masuk, presedir Choi industry yang menjadi bahan pembicaraan ini adalah pria yang hanya lebih tua dua tahun dariku. Ku lihat dia mengandeng seorang wanita. Sh*t! Kenapa Chaerin ada bersamanya?
“tidak ada gunanya kau membenci keluargamu. Dia telah menemukan penggantimu.”gumam omma membuatku mengepalkan tanganku. Sial! Kenapa Chaerin mengandeng pria lain di hotelku? Apa dia mengejekku? Apa dia ingin membuatku cemburu? Apapun alasanya, ini membuatku terbakar.
Mereka berada cukup jauh dariku. Aku membelakangi mereka sehinga tidak akan menyadari keberaadaanku.
“kenalkan, ini Chaerin.”kata pria itu dengan suara beratnya.
“kekasihmu? Apakah istrimu?”tanya mereka dan terdengar hanya suara tawa dari pria bersuara berat itu.
“hay, Dad!”sapa seorang remaja.
“hay, boy!”kata Presedir Choi. Aku langsung menoleh pada mereka.
“ini Li Kwon, anakku.”kata presedir Choi. Dadaku sesak, rasanya aku lebih memilih mati sekarang. Istriku, wanita yang satu-satunya aku cintai selain ommaku digandengnya dengan mesra dan dia mengenalkan anakku sebagai anaknya? Aku seharusnya di posisinya. Aku yang seharusnya mengandeng Chaerin. Aku yang seharusnya di panggil ‘Dad’ atau ‘appa’ oleh anakku satu-satunya. Aku seharusnya memperkanalkan keluragaku itu.
“ini semua karena omma. Ini karena keluargaku terlalu ikut campur.”kataku pelan dan menghentakkan tanganku yang di gandeng omma dengan kasar. Aku pergi begitu saja dari acara ini. Aku tidak peduli. Langkah kakiku dengan cepat mencari lift dan menekan tombol 26, lantai dimana terdapat ‘rumah’ku. Dengan cepat aku berada di kamarku yang gelap. Omma berteriak di depan kamar memintaku membukakan pintu.
“AAAAAAKK!”Teriakku. Rasa sakit ini lebih sakit. Aku benar-benar tidak bisa meraih mereka. Apa aku tidak pantas bahagia?
“buka pintunya, Jiyong!”teriak omma.
Dengan emosi yang buncah, aku memukul pintu sekuat yang aku bisa. Menghancurkan barang yang bisaku lempar. Air mataku jatuh. Aku menangis. Menangisi nasip sialku. Menangisi kebodohanku yang tidak tahu apa-apa. Menangisi ketidak berdayaannya aku. Menangisi melihat keluargaku bahagia di tengah dukaku. Menangisi lukaku yang semakin lebar dan dalam. Menangisi bahwa aku hanya seorang LOSER. Pecundang besar. Bahkan tidak mampu mengenggam tangan wanita dan anakku.
Kamarku terlihat berantakan. Ada beberapa pecahan kaca ini menempel di telapak kakiku, tangankku memar dan berdarah. Rasa sakit ini tidak terasa olehku karena rasa sakit hatiku yang mendominan. Kamarku yang gelap mungkin akan jadi tempatku menghabiskan nyawaku disini. Jika keluargaku tidak memikirkan kebahagiaanku, jika keluargaku bahkan meninggalkanku, jika kelurgaku bahkan tidak ingin mengenalku sebagai bagian dari mereka tentu saja tidak ada yang menerimaku di dunia ini. Hahahaha.. aku yang pecundang. Tidak akan ada yang menangisiku jikaku mati nanti. Kematianku mungkin akan membahagiakan Chaerin dan Geun. Mereka akan bebas sepenuhnya dariku. Mereka bisa bahagia dengan presedir Choi Seung Hyun itu, menjadi keluarga bahagia yang selaluku impikan. Dan mereka tidak akan suka jika aku berada di antara kebahagian mereka.
“Jiyong. Jiyong. Jiyong. Kau dengar omma?!”
Author Pov
Sekretaris, omma Jiyong dan beberapa karyawan membuka pintu kamar Jiyong. Ini sudah hari kedua setelah malam itu tapi, Jiyong tidak keluar juga dari kamarnya membuat mereka khawatir.
“Jiyong. Jiyong. Jiyong. Kau dengar omma?!”teriak nyonya Kwon saat melihat anaknya duduk di pojok kamar dengan tatapan kosong. Tidak ada respon dari Kwon Jiyong sedikit pun membuat ommanya menangis pilu.
“kalian keluarlah!”perintah sekretaris Jiyong dan beberapa karyawan pergi dengan tatapan binggung pada boss besar mereka.
“Jiyong!” teriak ommanya sambil menggoyangkan tubuh Jiyong tapi, Jiyong tetap tidak ada respon apapun. Tatapan matanya kosong. Lukanya ada dimana-mana.
“sebaiknya kita membawa tuan kerumah sakit segera nyonya.”saran dari sekeretarisnya dan omma Jiyong mengangguk dengan wajah yang di basahi air mata.
@sebulan kemudian
‘Kwon Jiyong seorang pemilik KING HOTEL, selama beberapa minggu ini menghilang begitu saja. Beberapa orang mengatakan bahwa dia melakukan rehabilitas narkotika, ada orang yang mengatakan bahwa sang King melakukan pernikahan diam-diam diluar negeri dan ada yang bilang Jiyong sang King melakukan pengobatan di luar negeri karena penyakit mematikan.’kata seorang reporter di televisi.
‘tidak. Sama sekali tidak begitu. Adikku sedang melakukan perjalanan bisnis di luar negeri. Dia akan segera kembali. Doakan yang terbaik untuknya.’jelas seorang wanita yang wajahnya mirip dengan Jiyong, Kwon Dami nuna Jiyong pada reporter.
“dia pergi begitu saja. Lagi. Dan aku tetap tidak boleh membencinya?”tanya Geun pada ommanya yang terdiam di depan televisi.
“dia hanya anak kecil manja dan pengecut yang berada di tubuh pria dewasa, tetap bersembunyi di punggung keluargany a tidak akan berubah. Jangan sia-siakan hatimu untuk membenci orang seperti itu.”jawab Chaerin sambil mengoles roti dengan selai.
“omma tidak menerima lamaran dad. Jangan sia-siakan hati omma untuk tetap mencintai orang yang manja dan pengecut seperti itu.”jawab Geun dengan santai tapi, dia menatap ommanya dengan kesal. Dia tidak ingin ommanya terus menderita seperti ini. Menurutnya ommanya pantas bahagia. Chaerin terkekeh mendengar perkataan anaknya. Anaknya yang pendiam, mandiri dan lebih dewasa dari pada remaja lainya itu bisa membalas kata-katanya.
“terimakasih mengkhawatirkan ommamu ini. Kau tahu bahwa hati manusia itu hanya ada satu? Dan hati itu sudah pernah ku gunakan untuk mencintai seseorang sepenuh hatiku dan rasa sakit, rasa kosong di akibatkan olehnya kini telah di tutupi dengan kehadiranmu. Aku tidak akan sanggup menganti dia ataupun dirimu dalam hatiku. Rasa sakit ini, penderitaan ini lenyap begitu saja saat kau ada untuk ommamu, Geun. Jika aku menikah dengan Seung Hyun oppa, aku pun tidak akan bahagia karena hatiku tidak untuknya. Lalu kenapa kau tidak boleh membencinya? Karena kalian wajah kalian begitu mirip, karena darahnya mengalir dalam tubuhmu, karena hubungan kalian tidak bisa di putuskan, karena dia appamu. Karena kalianlah yang palingku cintai.”jawab Chaerin sambil tersenyum lembut. Geun langsung berjalan mendekati ommanya dan memeluk ommanya. Memberikan ke hangatan dan ketenangan pada ommanya.
“kau sudah dewasa, aku tidak perlu pendamping lagi. Aku hanya perlu melihatmu bahagia, Geun.”ucap Chaerin tulus.
@di tempat lain.
“omma.. Jiyong histeris lagi! Aku sudah menayangkan video Li Kwon tapi, dia tidak peduli”teriak Dami, nuna Jiyong panik.
“omma akan menenangkannya. Kau panggilah dokter Kang!”perinntah omma Jiyong dan segera bergegas di kamar anak laki-lakinya.
“Geun! Geun! Geun!”teriakkan Jiyong terdengar dari luar kamarnya membuat ommanya menangis. Semenjak di temukan penuh luka beberapa bulan lalu Jiyong seakan bukan dirinya lagi. Dia sering sekali histeris jika televisinya tidak menampilkan sosok Geun. Tapi, kali ini berbeda. Vidio tentang kegiatan Geun dari dunia maya tetap di tayangkan seperti biasa tapi, Jiyong meraung kesakitan sambil berteriak ‘Geun’ anaknya.
“itu Geun, Jiyong. Kau jangan seperti ini. Anakmu tersenyum. Kau lihatkan, geun yang sudah dewasa kini tersenyum.”kata nyonya Kwon membujuk Jiyong yang meraung. Tapi, tidak berhasil.
“Geun. Anakku sayang. Dia kesakitan. Uri Geun. Anakku!”teriak Jiyong histeris. Kasurnya kini tidak berbentuk dan derdecit karena amukan Jiyong.
“omma, Geun.”kata Dami yang kini ada di samping nyonya Kwon.
“kenapa dengan cucuku?”tanya nyonya Kwon.
“Geun. Geun dibawa kerumah sakit karena kecelakaan di lokasi syuting. Kakinya cedera.”kata Dami sambil menunjukan berita kecelakaan Geun dari ponselnya.
“oh.. Jiyong anakku. Ikatan kalian begitu kuat. Kau bisa merasakan anakmu sakit ya sayang? Anakmu akan baik-baik saja. Dia sudah di tangani dokter.”kata nyonya Kwon menangis sambil memeluk Jiyong yang membrontak menolak pelukan nyonya Kwon. Tapi, nyonya Kwon terus berusaha memeluk Jiyong agar tenang.
Seseorang yeoja berjas putih pun terlihat dari balik pintu segera mendekat pada mereka. Tangannya kini memegang suntikan kini di suntukan ketubuh Jiyong yang di pegang beberapa perawat pria agar Jiyong tidak pergi. Tidak lama pembrontakan Jiyong melemah. Dan kini dia tertidur. Nyonya Kwon menangis sedih sambil mengelus wajah Jiyong yang tertidur yang dibasahi keringat. Dia memisahkan Jiyong dari Chaerin dan anak mereka dan kini dia merasa di menyiksa anaknya sendiri. Rasa bersalahnya kini semakin dalam saat melihat Jiyong yang tidak bisa di lepaskan dari sosok Geun, anak yang dipisahkan dari Jiyong yang tidak tahu apa-apa.
=====
“sembuhlah tuan Kwon Jiyong, baliklah ke dalam kesadaranmu. Bukankah kau tidak ingin Geun terluka? Jika begitu kau harus sembuh untuk melindungi Geun. Menjadi Kwon Jiyong yang dewasa yang bisa di andalkan untuk Geun. Agar Geun bangga padamu.”kata Dokter Kang seakan menasehati Jiyong yang fokus melihat televisi yang menampilkan berita bahwa Geun, Li Kwon sudah pulih.
“Jika aku membawa Jiyong keluar bagaimana?”tanya Seungri yang terlihat cemas melihat Hyungnya seperti ini. Dia mengetahui keadaan Jiyong dari dokter Kang yang kini menjadi istrinya.
“aku belum berani. Walaupun tuan Kwon terlihat tenang, kita tidak tahu apa yang terjadi dilapangan nanti.”jawab Doker Kang sambil melepaskan nafas beratnya.
“jika Geun dan Chaerin di bawa untuk melihatnya apakah itu akan baik untuk hyung?”
“ya tapi, Tuan Kwon sulit di control dan di tebak. Tuan Kwon tidak dalam kondisi baik jadi bisa saja itu akan berakibat buruk untuk Geun ataupun Chaerin bagaimanapun bukankah mereka pemicunya?”jawab Dokter Kang.
“lalu, berapa lama lagi?”
“aku tidak tahu pasti. Kita hanya bisa mendampinginya sekarang, sayang. Tuan Kwon menderita derita sendiri. Dia perlu menceritakan perasaannya. Walau kita bisa merasakan rasa sakit dan penyesalan yang di rasakannya hingga seperti ini.”ucap Dokter Kang pada Seungri.
Di tempat lain Geun, berbaring di kasurnya dan ada Chaerin di sampingnya mengupas apel untuk Geun.
“omma.”ucap Geun pelan.
“ya.”jawab Chaerin.
“semenjak remaja aku tidak pernah melihat omma menangis. Dimataku omma begitu tangguh. Omma menanggung semuanya sendiri. Jika bersama pria itu apakah omma akan berbagai beban omma dengannya?”
“jika yang kau maksud dengan ‘pria itu’ adalah appamu jawabnya adalah mungkin saja.”jawab Chaerin singkat.
“kenapa mungkin?”
“karena mungkin itu akan terjadi jika kami masih bersama karena dialah satu-satunya yang pernah menjadi tempatku bergantung seumur hidupku.”jawab Chaerin tersenyum lembut pada Geun.
“Jika ‘appa’ datang lagi dalam hidupmu bagaimana?”tanya Geun nada aneh saaat mengatakan ‘appa’. Lidahnya masih tidak terbiasa mengatakan 'appa' saat memikirkan Jiyong, ayah kandungnya.
TBC
FF ini sepertinya akan di posting dalam waktu yang berdekatan tapi, lebih pendek sedikit dari pada FF sebelumnya. Untuk kak Shovie Sophie Sofie, kenapa bisa sedikit membaca apa yang aku inginkan? Nanti-nanti sarannya di inbox aja ya kak?? Biarkan menjadi rahasia kita. Hahaha.. thks untuk yang komentar dan mendukung FF ini. XOXO.
Author: Kim Daisy
Cast: SkyDragon, Geun Young (Li Kwon)
Genre: hurt, Family
“jangan temui ommaku sebelum dia siap!”kata anakku beberapa hari lalu saat kami ketemu dan kalimat itu bagaikan kaset rusak di kepalaku. Jelas-jelas kami saling tersiksa karena perpisaan ini kenapa aku tidak bisa menemuinya? Apa aku tidak perhak mendapat kesempatan kedua? Ini sudah dua hari semenjak aku bertemu dengan anakku. Dan yang ku pikirkan selalu tentangnya dan Chaerin.
Masalah keluargaku aku akan berusaha agar mereka bisa menerima Chaerin dan anakku, mereka tidak berhak mengaturku lagi. Aku akan mendapatkan Chaerin dan Geun kembali. Membangun keluarga yang harmonis seperti keluarga lainnya. Tidak akan ada lagi perpisahan.
“ada undangan untuk anda malam ini, tuan.”kata sekretarisku yang dari tadi memang di ruanganku untuk membantuku.
“hm?”
“dari Choi indutri, perusahaan furniture mereka yang berkerja sama dengan kita untuk mengisi hotel kita. Malam ini mereka merayakan ulang tahun perusahaan mereka.”jelas sekretarisku dan ku jawab dengan anggukan.
“anda pergi..”
“aku akan pergi sendiri.”jawabku cepat. Aku tidak akan membawa siapapun kali ini, aku tidak ingin Chaerin dan anak kami salah paham. Anak kami? Mengucapkannya saja membuatku senang.
@ ballroom KING Hotel
Aku sedang bencengkrama dengan sesama pebisnis lainnya. Biasanya mereka sudah berusia lanjut. Hal yang aku sesali adalah omma di undang karena appa sudah tidak ada jadi, kini omma menjadi pasanganku. Ya, uri appa sudah pergi 5 tahun lalu karena serangan jantung. Mengingat hal itu membuatku berfikir bahwa rasa sakit penyakitnya tidak akan sama dengan rasa sakit aku, Chaerin dan Geun Young rasakan. Dia seharusnya menerima balasan dari rasa sakit ini, setidaknya aku ingin dia melihat aku dan keluargaku kembali. Memikirkan hal itu membuatku tanpa sadar tersenyum.
“wah, presedir membawa siapa itu?”
“aku dengar yeoja yang digandengnya itu pernah menikah sebelumnya.”
“cantik sekali tapi...”
“apakah mereka sudah menikah?”
“memang sudah seharusnya presedir Choi mengantikan mendiang istrinya. Kecelakaan itu sudah lebih dari sepuluh tahun lalu.”
Semua orang berbisik dan fokus ke satu arah. Di arah pintu masuk, presedir Choi industry yang menjadi bahan pembicaraan ini adalah pria yang hanya lebih tua dua tahun dariku. Ku lihat dia mengandeng seorang wanita. Sh*t! Kenapa Chaerin ada bersamanya?
“tidak ada gunanya kau membenci keluargamu. Dia telah menemukan penggantimu.”gumam omma membuatku mengepalkan tanganku. Sial! Kenapa Chaerin mengandeng pria lain di hotelku? Apa dia mengejekku? Apa dia ingin membuatku cemburu? Apapun alasanya, ini membuatku terbakar.
Mereka berada cukup jauh dariku. Aku membelakangi mereka sehinga tidak akan menyadari keberaadaanku.
“kenalkan, ini Chaerin.”kata pria itu dengan suara beratnya.
“kekasihmu? Apakah istrimu?”tanya mereka dan terdengar hanya suara tawa dari pria bersuara berat itu.
“hay, Dad!”sapa seorang remaja.
“hay, boy!”kata Presedir Choi. Aku langsung menoleh pada mereka.
“ini Li Kwon, anakku.”kata presedir Choi. Dadaku sesak, rasanya aku lebih memilih mati sekarang. Istriku, wanita yang satu-satunya aku cintai selain ommaku digandengnya dengan mesra dan dia mengenalkan anakku sebagai anaknya? Aku seharusnya di posisinya. Aku yang seharusnya mengandeng Chaerin. Aku yang seharusnya di panggil ‘Dad’ atau ‘appa’ oleh anakku satu-satunya. Aku seharusnya memperkanalkan keluragaku itu.
“ini semua karena omma. Ini karena keluargaku terlalu ikut campur.”kataku pelan dan menghentakkan tanganku yang di gandeng omma dengan kasar. Aku pergi begitu saja dari acara ini. Aku tidak peduli. Langkah kakiku dengan cepat mencari lift dan menekan tombol 26, lantai dimana terdapat ‘rumah’ku. Dengan cepat aku berada di kamarku yang gelap. Omma berteriak di depan kamar memintaku membukakan pintu.
“AAAAAAKK!”Teriakku. Rasa sakit ini lebih sakit. Aku benar-benar tidak bisa meraih mereka. Apa aku tidak pantas bahagia?
“buka pintunya, Jiyong!”teriak omma.
Dengan emosi yang buncah, aku memukul pintu sekuat yang aku bisa. Menghancurkan barang yang bisaku lempar. Air mataku jatuh. Aku menangis. Menangisi nasip sialku. Menangisi kebodohanku yang tidak tahu apa-apa. Menangisi ketidak berdayaannya aku. Menangisi melihat keluargaku bahagia di tengah dukaku. Menangisi lukaku yang semakin lebar dan dalam. Menangisi bahwa aku hanya seorang LOSER. Pecundang besar. Bahkan tidak mampu mengenggam tangan wanita dan anakku.
Kamarku terlihat berantakan. Ada beberapa pecahan kaca ini menempel di telapak kakiku, tangankku memar dan berdarah. Rasa sakit ini tidak terasa olehku karena rasa sakit hatiku yang mendominan. Kamarku yang gelap mungkin akan jadi tempatku menghabiskan nyawaku disini. Jika keluargaku tidak memikirkan kebahagiaanku, jika keluargaku bahkan meninggalkanku, jika kelurgaku bahkan tidak ingin mengenalku sebagai bagian dari mereka tentu saja tidak ada yang menerimaku di dunia ini. Hahahaha.. aku yang pecundang. Tidak akan ada yang menangisiku jikaku mati nanti. Kematianku mungkin akan membahagiakan Chaerin dan Geun. Mereka akan bebas sepenuhnya dariku. Mereka bisa bahagia dengan presedir Choi Seung Hyun itu, menjadi keluarga bahagia yang selaluku impikan. Dan mereka tidak akan suka jika aku berada di antara kebahagian mereka.
“Jiyong. Jiyong. Jiyong. Kau dengar omma?!”
Author Pov
Sekretaris, omma Jiyong dan beberapa karyawan membuka pintu kamar Jiyong. Ini sudah hari kedua setelah malam itu tapi, Jiyong tidak keluar juga dari kamarnya membuat mereka khawatir.
“Jiyong. Jiyong. Jiyong. Kau dengar omma?!”teriak nyonya Kwon saat melihat anaknya duduk di pojok kamar dengan tatapan kosong. Tidak ada respon dari Kwon Jiyong sedikit pun membuat ommanya menangis pilu.
“kalian keluarlah!”perintah sekretaris Jiyong dan beberapa karyawan pergi dengan tatapan binggung pada boss besar mereka.
“Jiyong!” teriak ommanya sambil menggoyangkan tubuh Jiyong tapi, Jiyong tetap tidak ada respon apapun. Tatapan matanya kosong. Lukanya ada dimana-mana.
“sebaiknya kita membawa tuan kerumah sakit segera nyonya.”saran dari sekeretarisnya dan omma Jiyong mengangguk dengan wajah yang di basahi air mata.
@sebulan kemudian
‘Kwon Jiyong seorang pemilik KING HOTEL, selama beberapa minggu ini menghilang begitu saja. Beberapa orang mengatakan bahwa dia melakukan rehabilitas narkotika, ada orang yang mengatakan bahwa sang King melakukan pernikahan diam-diam diluar negeri dan ada yang bilang Jiyong sang King melakukan pengobatan di luar negeri karena penyakit mematikan.’kata seorang reporter di televisi.
‘tidak. Sama sekali tidak begitu. Adikku sedang melakukan perjalanan bisnis di luar negeri. Dia akan segera kembali. Doakan yang terbaik untuknya.’jelas seorang wanita yang wajahnya mirip dengan Jiyong, Kwon Dami nuna Jiyong pada reporter.
“dia pergi begitu saja. Lagi. Dan aku tetap tidak boleh membencinya?”tanya Geun pada ommanya yang terdiam di depan televisi.
“dia hanya anak kecil manja dan pengecut yang berada di tubuh pria dewasa, tetap bersembunyi di punggung keluargany a tidak akan berubah. Jangan sia-siakan hatimu untuk membenci orang seperti itu.”jawab Chaerin sambil mengoles roti dengan selai.
“omma tidak menerima lamaran dad. Jangan sia-siakan hati omma untuk tetap mencintai orang yang manja dan pengecut seperti itu.”jawab Geun dengan santai tapi, dia menatap ommanya dengan kesal. Dia tidak ingin ommanya terus menderita seperti ini. Menurutnya ommanya pantas bahagia. Chaerin terkekeh mendengar perkataan anaknya. Anaknya yang pendiam, mandiri dan lebih dewasa dari pada remaja lainya itu bisa membalas kata-katanya.
“terimakasih mengkhawatirkan ommamu ini. Kau tahu bahwa hati manusia itu hanya ada satu? Dan hati itu sudah pernah ku gunakan untuk mencintai seseorang sepenuh hatiku dan rasa sakit, rasa kosong di akibatkan olehnya kini telah di tutupi dengan kehadiranmu. Aku tidak akan sanggup menganti dia ataupun dirimu dalam hatiku. Rasa sakit ini, penderitaan ini lenyap begitu saja saat kau ada untuk ommamu, Geun. Jika aku menikah dengan Seung Hyun oppa, aku pun tidak akan bahagia karena hatiku tidak untuknya. Lalu kenapa kau tidak boleh membencinya? Karena kalian wajah kalian begitu mirip, karena darahnya mengalir dalam tubuhmu, karena hubungan kalian tidak bisa di putuskan, karena dia appamu. Karena kalianlah yang palingku cintai.”jawab Chaerin sambil tersenyum lembut. Geun langsung berjalan mendekati ommanya dan memeluk ommanya. Memberikan ke hangatan dan ketenangan pada ommanya.
“kau sudah dewasa, aku tidak perlu pendamping lagi. Aku hanya perlu melihatmu bahagia, Geun.”ucap Chaerin tulus.
@di tempat lain.
“omma.. Jiyong histeris lagi! Aku sudah menayangkan video Li Kwon tapi, dia tidak peduli”teriak Dami, nuna Jiyong panik.
“omma akan menenangkannya. Kau panggilah dokter Kang!”perinntah omma Jiyong dan segera bergegas di kamar anak laki-lakinya.
“Geun! Geun! Geun!”teriakkan Jiyong terdengar dari luar kamarnya membuat ommanya menangis. Semenjak di temukan penuh luka beberapa bulan lalu Jiyong seakan bukan dirinya lagi. Dia sering sekali histeris jika televisinya tidak menampilkan sosok Geun. Tapi, kali ini berbeda. Vidio tentang kegiatan Geun dari dunia maya tetap di tayangkan seperti biasa tapi, Jiyong meraung kesakitan sambil berteriak ‘Geun’ anaknya.
“itu Geun, Jiyong. Kau jangan seperti ini. Anakmu tersenyum. Kau lihatkan, geun yang sudah dewasa kini tersenyum.”kata nyonya Kwon membujuk Jiyong yang meraung. Tapi, tidak berhasil.
“Geun. Anakku sayang. Dia kesakitan. Uri Geun. Anakku!”teriak Jiyong histeris. Kasurnya kini tidak berbentuk dan derdecit karena amukan Jiyong.
“omma, Geun.”kata Dami yang kini ada di samping nyonya Kwon.
“kenapa dengan cucuku?”tanya nyonya Kwon.
“Geun. Geun dibawa kerumah sakit karena kecelakaan di lokasi syuting. Kakinya cedera.”kata Dami sambil menunjukan berita kecelakaan Geun dari ponselnya.
“oh.. Jiyong anakku. Ikatan kalian begitu kuat. Kau bisa merasakan anakmu sakit ya sayang? Anakmu akan baik-baik saja. Dia sudah di tangani dokter.”kata nyonya Kwon menangis sambil memeluk Jiyong yang membrontak menolak pelukan nyonya Kwon. Tapi, nyonya Kwon terus berusaha memeluk Jiyong agar tenang.
Seseorang yeoja berjas putih pun terlihat dari balik pintu segera mendekat pada mereka. Tangannya kini memegang suntikan kini di suntukan ketubuh Jiyong yang di pegang beberapa perawat pria agar Jiyong tidak pergi. Tidak lama pembrontakan Jiyong melemah. Dan kini dia tertidur. Nyonya Kwon menangis sedih sambil mengelus wajah Jiyong yang tertidur yang dibasahi keringat. Dia memisahkan Jiyong dari Chaerin dan anak mereka dan kini dia merasa di menyiksa anaknya sendiri. Rasa bersalahnya kini semakin dalam saat melihat Jiyong yang tidak bisa di lepaskan dari sosok Geun, anak yang dipisahkan dari Jiyong yang tidak tahu apa-apa.
=====
“sembuhlah tuan Kwon Jiyong, baliklah ke dalam kesadaranmu. Bukankah kau tidak ingin Geun terluka? Jika begitu kau harus sembuh untuk melindungi Geun. Menjadi Kwon Jiyong yang dewasa yang bisa di andalkan untuk Geun. Agar Geun bangga padamu.”kata Dokter Kang seakan menasehati Jiyong yang fokus melihat televisi yang menampilkan berita bahwa Geun, Li Kwon sudah pulih.
“Jika aku membawa Jiyong keluar bagaimana?”tanya Seungri yang terlihat cemas melihat Hyungnya seperti ini. Dia mengetahui keadaan Jiyong dari dokter Kang yang kini menjadi istrinya.
“aku belum berani. Walaupun tuan Kwon terlihat tenang, kita tidak tahu apa yang terjadi dilapangan nanti.”jawab Doker Kang sambil melepaskan nafas beratnya.
“jika Geun dan Chaerin di bawa untuk melihatnya apakah itu akan baik untuk hyung?”
“ya tapi, Tuan Kwon sulit di control dan di tebak. Tuan Kwon tidak dalam kondisi baik jadi bisa saja itu akan berakibat buruk untuk Geun ataupun Chaerin bagaimanapun bukankah mereka pemicunya?”jawab Dokter Kang.
“lalu, berapa lama lagi?”
“aku tidak tahu pasti. Kita hanya bisa mendampinginya sekarang, sayang. Tuan Kwon menderita derita sendiri. Dia perlu menceritakan perasaannya. Walau kita bisa merasakan rasa sakit dan penyesalan yang di rasakannya hingga seperti ini.”ucap Dokter Kang pada Seungri.
Di tempat lain Geun, berbaring di kasurnya dan ada Chaerin di sampingnya mengupas apel untuk Geun.
“omma.”ucap Geun pelan.
“ya.”jawab Chaerin.
“semenjak remaja aku tidak pernah melihat omma menangis. Dimataku omma begitu tangguh. Omma menanggung semuanya sendiri. Jika bersama pria itu apakah omma akan berbagai beban omma dengannya?”
“jika yang kau maksud dengan ‘pria itu’ adalah appamu jawabnya adalah mungkin saja.”jawab Chaerin singkat.
“kenapa mungkin?”
“karena mungkin itu akan terjadi jika kami masih bersama karena dialah satu-satunya yang pernah menjadi tempatku bergantung seumur hidupku.”jawab Chaerin tersenyum lembut pada Geun.
“Jika ‘appa’ datang lagi dalam hidupmu bagaimana?”tanya Geun nada aneh saaat mengatakan ‘appa’. Lidahnya masih tidak terbiasa mengatakan 'appa' saat memikirkan Jiyong, ayah kandungnya.
TBC
FF ini sepertinya akan di posting dalam waktu yang berdekatan tapi, lebih pendek sedikit dari pada FF sebelumnya. Untuk kak Shovie Sophie Sofie, kenapa bisa sedikit membaca apa yang aku inginkan? Nanti-nanti sarannya di inbox aja ya kak?? Biarkan menjadi rahasia kita. Hahaha.. thks untuk yang komentar dan mendukung FF ini. XOXO.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar