jangan lupa

JANGAN LUPA KOMENTAR YA..

Rabu, 24 Februari 2016

Get a Ready [part 1]



Get a Ready [part 1]

Author: Kim Daisy
Cast: SkyDragon, dkk
Genre: roman, hurt
Rate : Adult
Lenght : MultyChapter
WARNING!! FF ini perlu pemahaman lebih complex. Maaf, kalau terlalu banyak tokoh OC dan OOC disini karena yah.. saya suka. *plak!
Ok, ini ff sangat panjang jadi sabar ya...
warning: typo!

Ludic Love. Apa kalian pernah mendengar Ludic Love? Ludic Love adalah jenis cinta Si playboy yang tidak pernah serius dalam soal cinta. Mereka gampang sekali bosan. Tidak ada komitmen dan kecemburuan dalam urusan cinta. Tanpa adanya komitmen dan kecemburuan itu mereka menyebutnya sebagai cinta yang sesungguhnya. Positifnya, mereka penuh percaya diri. Untuk melakukan permainan cinta memang diperlukan kepribadian yang kuat. Jenis cinta ini bersifat dangkal dan mudah beralih kepada orang lain.

Itu pengertian Ludic Love dari kelas komunikasi yang pernah aku masuki. Dan aku sadar, aku penganut Ludic Love. Tidak, aku tidak seburuk itu. Aku hanya akan jalan dengan pria tanpa ikatan hubungan. Tidak sedikit pria yang menangis karena aku menolak mereka padahal sudah berbulan-bulan mendekatiku. Aku menyukai mereka hanya saja untuk kesenangan tapi, jika hubungan sudah ada ikatan maka itu akan membosankan. Sehingga aku selalu menolak pernyataan cinta pria-pria yang aku suka. Cinta jadi tidak menarik karena ada rasa cemburu, rindu, tersakiti dan luka.

Jangan kira aku wanita yang cantik dan feminism seperti Barbie. Aku hanya wanita biasa, biasa terlihat simple, kadang anggun, dan bisa tampil imut. Jujur saja, aku suka cosplay dan kepribadianku memang bisa berubah dengan natural tanpa terlihat dibuat-buat.

Tidak ada rumor negative tentangku karena aku memang terlihat wanita baik-baik yang jarang terlihat bermesraan dengan pria. Pria memang jarang bergosip seperti wanita hanya saja aku memang jarang berhubungan dengan pria yang dari lingkunganku.

Tapi, ada satu hal yang lucu. Keluargaku menganggapku lesbian. Asal tau saja, aku sangat menghindari wanita. Mereka menakutkan. Mereka bisa mengatakan tidak apa-apa tetapi, sebenarnya ada rahasia. Mereka terlalu lemah sehingga hanya bisa mengikuti perintah hatinya tanpa berfikir terlebih dulu. Mereka juga bisa membunuh dengan sebuah gossip murahan tanpa senjata tajam atau senjata api. Sungguh menakutkan.
Mungkin aku memang punya hati yang kuat dan pikiran yang baik sehingga aku bisa berfikir seimbang antara otak dan hatiku. Tapi, aku sangat sulit untuk mengingat. Aku bisa dengan cepat melupakan hal-hal yang menurutku tidak terlalu penting. Aku bahkan tidak mengingat pria-pria yang pernah ‘bermain cinta’ denganku.
“kau tahu? Aku sudah melarangnya, dia minta maaf tapi, dia mengulangi kesalahannya yang sama. Aku kesal sekali dengannya. Dia seperti kedelai.”cerita sahabatku Jiyon.
“lalu, apa yang di katakan Jeong Hoon?”kataku penasaran.
“Hoon yon. Dia minta maaf lagi dan berjanji tidak mengulanginya lagi.”
“Pada dasarnya pria itu sulit dikendalikan. Dia akan benar-benar berubah jika berhadapan dengan wanita yang benar-benar dicintainya. Jika dia tidak melakukan itu maka akhiri saja. Joong Hoon, Jae Hyun,Yon Hoon, Dong Hyun, Seung Hoon, Soo Hyun, See Hoon, Seuk Hoon siapa pun itu tidak benar-benar mencintaimu. Jadi, menyerah saja! Jangan buang-buang waktumu! Kau wanita cantik, kau bisa mendapatkan yang lebih baik darinya.”saranku.
“namanya Hoon Yon, Chae.”kata Jiyon mengingatkan.
“pada dasarnya semua pria itu sama. Mereka adalah sesuatu yang menuruti ego dan harga diri mereka.”
“memang ada benarnya. Tapi, apakah hanya karena itu kau tidak ingin menjalin hubungan dengan pria?”Tanya Jiyon menyelidik.
“tentu saja tidak.”
“lalu apa alasanmu?”
“Dokter Lee, ada paket untuk anda.”kata salah satu perawat.
“oh. Ne.”jawabku.
“aku harus pergi.”kataku pada Jiyon.
Ya, aku adalah seorang dokter. Tidak! Bukan! Aku bukan dokter bedah atau dokter kecantikan. Aku hanya dokter gigi. Aku bisa saja ambil spesialis lain, hanya saja aku benci melakukan banyak kerjaan tapi, kelelahan. Aku berjalan dengan santai menuju resepsionis untuk mengambil paketku.
“mana paket untukku?”tanyaku saat aku menemukan perawat yang berjaga.
“ini dokter.”kata perawat itu sambil menunjukkan sebuah bingkisan besar diangkatnya dari kursi. Tidak berat sepertinya hanya saja ukurannya seperti anak usia 10-12 tahun dengan berat badan 25-32kg. Hanya saja ini sama sekali tidak berat.
“apakah itu boneka?”tanyaku.
“sepertinya begitu, dok.”kata perawat itu sambil menyerahkan kepadaku. Aku membawanya dengan mudah sambil berjalan ke ruanganku. Ini pasti dari orang yang sangat mengenalku. Walau aku banyak dekat dengan pria tapi, mereka tidak tahu di mana pastinya aku berkerja.
“dia tampan sekali bukan? Aku dengar penjualan albumnya sangat laris di pasar Eropa dan Amerika makanya dia kembali lagi ke sini.”
“bukan. Dia telah menyelesaikan kuliahnya di Eropa makanya dia akan kembali.”
“saat dia kuliah saja dia memiliki album baru. Jadi, pasti di Korea dia juga membuat album baru.”kata perawat-perawat itu bergosip sambil melihat TV LED yang tergantung di dinding. Aku tidak peduli. Gosip atau informasi tentang artis bukanlah urusanku.
“aku kembali bukan untuk album baruku. Tapi, untuk menemui kekasihku. Dia pasti sedang sibuk sekarang begitu juga denganku sehingga beberapa tahun ini dia sulit dihubungi. Aku merindukannya.”suara dari layar TV itu berhasil menghentikan langkahku.
DEG.
“Anak itu sudah dewasa sekarang. Kekasih? Syukurlah.”gumamku begitu saja saat melihat pria di layar TV itu. Seperti kata perawat tadi, pria itu adalah musisi muda. Hubungan pria itu denganku adalah dia anak teman ayahku dan aku sempat jadi guru privatnya. Dia pernah menyatakan cintanya padaku saat dia di bangku SMP sebelum aku berangkat ke Prancis melanjutkan studyku untuk menjadi dokter. Itu pengalaman lucu. Anak itu pasti sudah melupakan hal itu dan akan malu jika bertemu denganku. Hehehe..

Ku buka bingkisan besar ini secara perlahan. Mungkin saja ini dari Seung Hyun oppa. Ternyata kadonya adalah sebuah boneka beruang berukuran sangat besar berwarna coklat tua dan terdapat kartu ucapan di kalungnya. Aku sangat yakin ini bukan hari ulang tahun, ulang tahunku masih ada 3 bulan lagi. Orang gila mana yang mengirimkannya untukku?
Saatku buka kartunya ternyata hanya berisi “peluk aku”. Dengan penasaran aku memeluk boneka tersebut lalu.

‘Oh, my first love, my first love
Without you, I just can’t ease this pain
What to do? What can I do?
I’m going crazy over you.
I miss you.’

Nyanyian dari boneka itu. Sial, ini suara dia ini pasti dari anak kecil itu. Dia masih mengingatku? Hebat! Ini sudah, sudah hampir 10 tahun dan dia mengirimkan ini untukku? Bukankah dia bilang sudah punya kekasih? Apa jangan-jangan?! Tidak. Tidak mungkin.
“hai.. Baby! Sedang memikirkanku?”kata seseorang dari pintuku yang baru saja terbuka. Sang pelaku sekarang ada disini. Para perawat dan pasien menontonnya di belakang, atau kami? Aku segera menatap menariknya ke ruanganku, menutup jendela dan pintu. Jika dulu tembok bisa mendengar, jaman sekarang tembok bisa berbicara, kau mengertikan kecemasanku?
“aku tidak menyangka setelah tidak bertemu hampir 10 tahun kau jadi agresif, Chagia.”katanya dengan senyuman manis pemikatnya. Ah, aku selalu gagal marah jika dia sudah tersenyum. Dulu saat aku berumur 10 tahun, aku diminta menjaganya. Karena giginya mau tumbuh dia suka sekali menggigit apapun. Ketika itu dia menggigit jariku dengan kuat saat aku lengah. Aku berteriak dan memencet hidungnya agar dia membuka mulutnya. Setelah jariku berhasil terlepas dia tersenyum seperti ini sehingga aku tidak bisa marah denganya, seperti sekarang.
“nuna!”koreksiku.
“untuk apa kau kesini? Bagaimana kau tahu aku disini? Apa maksud boneka itu? Kau bisa membuat gossip dan kekasihmu itu pergi karena salah mengartikan hubungan kita. 10 tahun kita tidak bertemu, bertingkahlah normal sedikit.”ceramahku. Aku ingin marah dengannya tapi, aku selalu kalah jika dia sudah tersenyum.
“aku bukan seorang teroris, Dear. Berhenti mengintrogasiku seperti itu. Lagian kenapa aku cemas? Aku sangat rindu dengannya makanya kini aku berada di depan kekasihku.”jawabnya dengan tersenyum.
“oh, gila! Aku bukan kekasihmu!”keriakku frustasi.
“oh, kau sudah datang Jiyong? Aku tidak menyangka kau datang secepat ini. Kau ingin makan siang bersama?”kata appa yang tiba-tiba masuk ke ruanganku dan memeluk Jiyong dengan hangat. Dia menyambutnya.
“aku ingin. Kita akan makan dimana aboji?”kata Jiyong senang, keluarga kami memang sudah akrab sejak dulu. Bahkan Jiyong sering dititipkan padaku juga ommanya ada keperluan.
“terserah padamu. Aku rasa Chaerin juga tidak akan sulit mengikuti seleramu.”jawab appa.
“maaf, aku tidak bisa. Aku ada oprasi pengakatan kangker mulut 30 menit lagi.”kataku menghindari mereka. Aku memang akan ada operasi tapi, tidak dalam tiga puluh menit ini.
“oh, benarkah?”Tanya appa ragu.
“aboji, aku kesini ingin bertemu dengan Chaerin.”kata Jiyong manja didepan appaku. Tadi dia bilang dia kekasihku? Pria yang manja dengan appaku? Bunuh saja aku!
“kau menginaplah di rumah kami.”kata Jiyong semangat dan appa mengagguk.
“aku harus pergi”kataku sambil membawa peralatanku. Aku segera keluar dari ruanganku. Aku akan gila jika berlama-lama seperti ini. Dan betapa kagetnya melihat semua orang mencuri dengar di depan ruanganku.
“hey, di ruanganku tidak ada pertunjukan sirkus, kenapa kalian semua disini?”tergurku. Membuat perawat berlari ketakutan dan pasien pergi dengan perlahan. Appaku, pria paruh baya yang sedang memanjakan Jiyong itu ketua rumah sakit ini, makanya mereka ketakutan denganku. Sepertinya aku akan gila dengan kondisi ini semua.

Aku masuk ke dalam rumah. Biasanya aku akan tidur di rumah yang aku sewa di dekat rumah sakit. Aku di paksa omma untuk pulang karena anak kecil itu datang. Lucu sekali. Seharusnya dia disambut keluarganya, kenapa kelurgaku yang menyambut kedatangannya?
“aku pulang.”kataku saat aku memasuki rumah. Rumahku telah ramai dengan keluargaku. Adikku lagi bercanda dengan Jiyong mereka hampir seumuran wajar mereka akrab. Sedangkan omma dan appa sibuk memnyiapkan makanan.
“ah, pas sekali. Ayo segera kita makan malam!”kata appa. Aku segera ambil posisiku di sebelah appa dan Jiyong tiba-tiba duduk di sampingku.
“kenapa suasana ini aneh sekali.”kataku begitu saja.
“kami baru saja membicarakan pernikahan Jiyong dan kau.”jawab omma sambil meletakan sepiring nasi di depanku.
“Harin?”tanyaku.
“tidak, sayang. Tapi, kau Lee Chaerin.”jawab omma dengan melihatku penuh keyakinan.
“appa, omma bercandakan?”tanyaku sambil menatap kedua mata appa.
“itu benar.”jawab appa sambil mengaggukan kepalanya.
“aku dan anak manja ini? Oh, aku mengerti kalian menyukainya tapi, ayolah.. Jiyong jauh lebih muda dariku. Harin lebih sesuai dengannya.”protesku sambil mengambil beberapa potong daging dan meletakan di piring nasiku.
“yang Jiyong cintai dari dulu itu kau...”
“dia masih kecil. Dia tidak tahu apa itu cinta, aku yakin dia hanya mengidolakanku sebagai kakak.”potongku.
“dengarkan, kau lupa bahwa adikkmu sudah memiliki pacar? Mereka bahkan sudah hampir 3 tahun berpacaran. Kau lupa berapa umurmu? Kau bahkan tidak pernah sekalipun berpacaran. Lagian, Jiyong juga menolak di jodohkan denganmu. Kau jangan besar kepala dulu dan emosi. Dengan kepribadianmu itu bahkan aku malu mengenalkanmu pada anak-anak kenalanku. Makan makan malammu. “kata appa dengan nada tegas. Lalu appa mengunyah suapan pertamanya. Aku pun memakan makan malamku.
“aku menolak bukan karena menyerah. Tapi, aku yakin tanpa perjodohan. Kau akan mencintaiku, Chagia.”bisik Jiyong di telingaku. Aku menatapnya. Dan lagi-lagi dia memberikan senyuman itu.
“cintai? Di umur segini saja aku belum mengenal cinta. Mencintai dia? Itu tidak mungkin.”pikirku sambil melanjutkan makan malamku.

Aku masuk ke kamarku. Baru aku sadari ponselku dari tadi ku biarkan mati. Saat aku hidupkan pesanku datang secara bombardier. Dari orang yang sama, yang ku kenal sebagai Mr. Y. Aku segera menghubunginya tapi, mematikan lagi saat dia mengangkatnya.
“hai..”kataku saat aku mengangkat teleponnya.
“hai.. aku rindu padamu.”kata Mr. Y dengan lembut.
“ya. Aku tahu. Maaf, aku baru saja membaca pesanmu. Aku terlalu sibuk hari ini.”jawabku sambil bersadar di dinding dekat balkon kamarku.
“ya. Aku mengerti. Aku ingin bertemu denganmu.”
“kau mengerti kondisi kita. Tidak ada yang boleh tahu identitas kita sebenarnya satu sama lain. Kau Mr. Y dan aku Ms. R.”jawabku tenang tanpa ada penekanan di ucapanku.
“tapi, kini aku mencintaimu.”katanya dengan nada lembut, aku bisa tahu ada keseriusan di nada ucapannya.
“kenapa kau mencintaiku? Bagaimana jika aku jelek? Wajahku hancur? Tubuhku sebesar kulkas 2 pintu?”jawabku.
“aku yakin kau tidak seperti itu.”katanya sambil terkekeh pelan.
“kau akan menyesal. Aku bukan wanita yang pantas kau cintai. Lupakan aku. Itu untuk kebaikanmu.”nasehatku untuknya.
“aku tidak bisa. Aku terlalu mencintaimu. Banyak kenangan indah saat kita bersama.”
“kalau begitu aku akan mematikan nomor ini untuk selamanya agar kau bisa melupakanku.”kataku datar.
“aku mohon. Jangan! Aku mencintaimu.”
“karena kau mencintaiku maka ini harus di akhiri. Kau ingat perjanjian kitakan? Tanpa identitas, tanpa hubungan.”kataku mengingatkannya.
“aku akan melacak nomor ponselmu.”
“kau yakin? Silahkan. Tapi, kau tidak akan menemukanku. Good bye, Love.”ucapku santai. Aku membuka ponselku, mengambil kartu sim dan mematahkannya.
“kau. Kau selamani seperti ini?”kata Jiyong yang ternyata juga ada di balkon seberang, tepat disebelah kamarku.
“ya.”jawabku santai. Aku mendekatkan diriku ke balkon sebelah. Tapi, Jiyong tidak berkutik. Dia terlihat kaget, terlihat takut dan seakan baru saja melihat hantu. Aku jadi ingin tertawa.
“kenapa kau melakukannya? Pria itu memohon padamu.”kata Jiyong dengan nada bicara yang sama, jauh berbeda saat dia menemuiku di rumah sakit dan saat makan malam tadi.
“saat kau dewasa nanti kau akan mengerti, Boy.”jawabku sambil tersenyum lembut padanya. Tapi, dia juga masih terlihat tidak tenang.
“sudah berapa lama kau seperti ini?”kata Jiyong seakan menyelidikiku tapi, nada bicaranya terdengar bergetar.
“itu bukan urusanmu, boy! Tidurlah. Tidak baik sang idol memiliki kantung mata. Aku akan masuk, nunamu ini juga ingin istirahat.”kataku sambil berbalik dan masuk ke kamarku. Aku bisa mendengar Jiyong mengerang kesal. Ini bagus. Setidaknya dia tidak akan mengerjarku lagi. Ngomong-ngomong aku harus harus cari pengganti Mr. Y?

Siang yang menyenangkan. Aku duduk santai di sebuah cafe bersama Jiyon, sahabatku yang seorang dokter kandungan.
“minumlah.”kata Soo Rin yang menghampiri kami dengan seragam Lolita maidnya, seragam yang jauh berbeda dari pelayan lainnya. Soo Rin adalah sahabatku sekaligus pemilik cafeini, dia juga aktris Teater, pemusik, pelukis, penulis buku, desainer baju, dan banyak lagi pekerjaan yang di tekuninya. Dia terlalu banyak bakat. Dia juga bisa memasak tapi, dia sendiri lulusan Kesehatan. Soo Rin duduk berhadapan denganku dengan Jiyon yang sebelumnya sudah duduk disebelahnya.
“ceritakan padaku! Jadi pangeran kecil itu yang mengirimimu paket kemarin?”Tanya Jiyon.
“ya.”jawabku malas.
“dia masih menyukaimu dan menyatakan cinta padamu?”Tanya Soo Rin dengan nada datar seakan dia tidak penasaran.
“ya. Tapi, itu adalah keisengannya. Dia anak-anak. Aku tidak pernah menanggapinya dengan serius jadi, kalian juga harus seperti itu.”kataku mewanti-wanti.
“aku setuju! Kau jangan terlalu serius dengan Jiyong! Dia terlalu muda. Dia pasti memiliki jodohnya di luar sana.”kata Soo Rin serius. Wajahnya yang babyface sangat lucu jika serius begini.
“Ok, boss!”jawabku sambil bercanda.
“good girl!”balas Soo Rin tersenyum.
“lalu bagaimana dengan Mr. Y?”
“kami sudah berpisah. Seperti biasa karena menyatakan cinta padaku.”jawabku.
“oh.. selalu. Kenapa kau tidak serius saja dengannya? Kau juga tahu betapa mempesonnya Yong Bae.”kata jiyon. Ya.. aku memang mengetahui Mr. Y adalah Yong Bae seniorku dulu saat sekolah. Pria baik-baik yang mempesona. Tapi, dia tidak mengetahui identitasku yang sebagai Ms. R. Perkenalan kami hanya lewat dunia maya yang tidak di sengaja.
“ya. Tapi, aku tidak mencintainya.”jawabku lalu meminum minuan pesananku.
“jika kau menjalin hubungan dengannya cinta itu akan tumbuh sendirinya.”kata Jiyon menasehati.
“tidak, Yon ah! Kau tidak akan mengerti.”kata Soo Rin santai dan aku mengagguk pelan.
“yang satu tidak ingin belajar mencintai dan satu lagi membenci pria. Kalian sebenarnya kenapa? Pria itu tidak seburuk itu!”kata Jiyon yang terdengar tidak masuk akal.
“1. Pria itu tidak bisa di katagorikan manusia, mereka spesies kucing yang suka bermanja lalu setelah puas dia mencari betina lain. 2. Pria yang cerdas itu hanya memikirkan uang dan kesenangannya, mereka egois. 3. Pria yang romantic dan baik hati adalah seorang playboy. 4. Kebanyakan pria brengsek. 5. Banyak pria homo yang mengaku pria sejati. Dunia benar-benar hancur.”
“jika kau mengatakan Pria itu spesies kucing bagaimana dengan ayahmu? Kau bilang mereka playboy? Bukankah kalian juga playgirl? Pria brengsek dan homo? Bukankah karena wanita-wanita seperti kalian yang membuat pria- pria itu homo?”kata Jiyon menahan emosinya. Aku dan Soo Rin tersenyum tipis.
“kau lupa, Ayahku itu berselingkuh dengan bibiku setelah memukuliku dan ibuku? Playgirl? Aku bukan playgirl? Aku tidak memberikan harapan dengan mereka. Oh ya.. jangan lupa! Aku tidak pernah berhubungan dengan mantanmu yang homo itu jadi jangan kaitkan aku penyebab pria homo.”kata Soo Rin santai sambil tersenyum. Aku mengacungkan jempolku padanya. Soo Rin cocok jadi pengacara karena Jiyon benar-benar terdiam dengan wajah merahnya.
“Ok. Lalu kenapa kau memilih jalan yang sesat seperti Soo Rin, Chae?”Tanya Jiyon.
“aku tidak sesat, Yon ah.”celah Soo Rin.
“aku? Itu bukan karena Soo Rin. Ini pilihan hidup karena pengalaman.”jawabku sambil mengaduk-aduk minumku.
“karena apa?”tannya Jiyon penasaran. Di antara kami memang hanya Jiyon yang memiliki pemikiran wanita yang suka mau tahu, penasaran yang mendalam, dan terlalu berperasaan.
“Soo Rin..”kataku sambil menatap Soo Rin. Soo Rin menatapku lekat sambil tersenyu manis.
“jangan bilang kalian lesbi! Ini menjijikkan!”kata Jiyon histeris lalu menutup wajahnya dengan tasnya. Membuatku dan Soo Rin tertawa terpingkal-pingkal.
“kami masih normal Yon ah. Kau jangan khawatir! Chaerin hanya tidak bisa.”jawab Soo Rin membantuku.
“tidak bisa mencintai pria?”katanya polos. Membuatku dan Soo Rin tertawa lagi.
“tidak, Yon ah. Chaerin hanya tidak ingin memberikan masa depan yang semu.”kata Soo rin mencoba tersenyum padaku.
“kalian merahasiakannya padaku? Sampai kapan?”kata Jiyon.
“kau tidak ingin menceritakannya padaku?”Tanya Jiyon padaku. Aku menggeleng pelan.
“kau tidak mengagapku sahabatmu?”Tanya Jiyon.
“aku hanya tidak bisa menceritakannya. Kau akan tahu alasannya jika membaca buku buatan Soo Rin yang ke dua.”jawabku.
“oh, jadi yang katanya sahabatku ini belum baca buku-bukuku?”kata Soo Jin mengintrogasi. Jiyon hanya tersenyum lebar.
“aku benci membaca.”jawabnya.
“dokter macam apa kau?”kata Soo Rin mengeleng-geleng pelan.
“baik. Aku aka membacanya. Tapi, pinjamkan aku bukunya.”kata Jiyon.
“kau ini! Belilah di toko buku.”
“bukumu tidak laku ya makanya memintaku membelinya?”
“kau tidak rela mengeluarkan sedikit uangmu untuk karyaku. Kau pelit sekali.”
“ah.. baikah. Aku beli tapi, ceritakan aku nanti selengkapnya.”
“jika kau membaca bukuku sampai tamat.”
“kau cerewat Soo Rin.”
Mereka kenapa hobby sekali bertengkar?

TBC

Tidak ada komentar:

Posting Komentar