Sorry, i’m loving you [part 5 END]
Author: Kim Daisy
Cast: SkyDragon
Genre: roman
Rate : T
Lenght : Chapther
Kim awalnya ingin ada scane jaman joseon tp, sepertinya tidak
memungkingkan karena akan membuat Infi pada binggung jadi yah Kim ceritakan
secara singkat saja. Maaf karena FF ini jika banya typo bertaburan.
---------------------
Dua tahun telah berlalu setelah Jiyong oppa melamarku saat itu. Tanpa aku
ketahui dia menemui orang tuaku. Appa, aku tidak tahu bahwa Jiyong oppa telah
bertemu dengan appa sebelum aku kembali ke Seoul dan appa mengatakan akan
membantu Jiyong oppa bahkan mereka berdua sering berdiskusi tentang sejarah
untuk memecahkan pertengkaran dua keluarga ini. Hingga teka-teki itu selesai
kami akan tetap berjalan diam-diam. Aku hanya tidak ingin membuat Jiyong oppa
dan keluarganya terluka, sedikit-banyak keluargaku juga sering menyakiti
keluarga mereka walaupun mereka tidak mengetahui akar pertengkaran tersebut.
Anehnya aku mengira omma akan menentang hubungan kami tapi, omma hanya mengajukan
satu syarat yaitu mengembalikan kondisi kerajaan. Aku kira awalnya ini hanya
candaan omma tapi, Jiyong oppa menerima syarat itu. keanehan tidak terletak
disitu saja, omma terlihat sangat menyayangi Jiyong oppa dari pada aku.
“ah... ini untuk anak laki-laki omma!”kata omma pada Jiyong oppa
sambil memberikan ikan tuna panggang. Dan Jiyong oppa tersenyum sambil
mengatakan terimakasih.
“mana untukku? Aku juga suka tuna.”tanyaku dengan sedikit protes
melihat diskriminasi disini.
“Jiyong hanya sesekali bisa makan bersama kita, Chae.”kata omma
tanpa melihatku. see.
Jiyong oppa yang duduk di sampingku dengan perhatian meletakan beberapa potong
tuna panggang untukku. Setidaknya oppa selalu bersamaku.
“pihak pemerintah mendukung keluarga kerajaan kembali aktif karena
itu sebaiknya kalian mempersiapkan diri, terutama untuk memperkenalkan Chaerin
pada keluarga Kwon.”kata appa. Aku segera melirik Jiyong oppa. Selama ini kami
memang tidak membicarakan tentang perkembangan teka-teki ini. Jiyong oppa tidak
ingin membuat hal ini menjadi beban untukku juga.
“ya, kami sudah bisa memecahkan teka-teki ini.”jawab Jiyong oppa
sambil tersenyum.
“kau selalu tidak ingin membuatku cemas tapi, paling tidak kau
menceritakan bahwa masalah ini hampir selesai oppa.”protesku karena kecewa.
“kami baru saja dapat informasi penting tadi malam, sayang. Aku
ingin memberi tahumu karena itu aku sarapan disini.”kata Jiyong oppa tersenyum
lalu mengelus pipiku dengan lembut. Amarahku pun menguap begitu saja. Inilah
cinta. Dan sedikit menyebalkan karena aku mudah luluh bersamanya.
Tiba harinya aku di perkenalkan dengan keluarga Jiyong oppa.
Tatapan sinis mereka arahkan padaku saat aku masuk ke rumah mereka dan Jiyong
oppa tetap mengegam tannganku dan sesekali tersenyum lembut padaku. Tatapan
sinis itu sudah terlalu sering ku terima saat aku menjadi artis.
Keluarganya hanya bersikap dingin saat Jiyong memperkenalkan keluarganya, orang
tuanya yang telah berpisah, imo dan nunanya Jiyong oppa. Keluarganya juga bukan
keluarga besar.
“kau tidak apa-apa?”tanya Jiyong oppa sambil mengelus tanganku
dengan ibu jarinya lembut. Aku bahkan tidak sadar sudah duduk di ruang tamu
mereka yang besar . Mungkin karena aku terlalu cemas jika usaha kami selama ini
gagal.
“kalian pasti mengenalnya. Ya, dia Lee Chaerin. Gadis yang sudah
menjadi kekasihku dua tahun ini. Aku berencana akan menikah dengannya jadi aku
ingin kalian semua mensetujuinya.”kata Jiyong oppa dengan tegas. Di rumah yang
besar ini menjadi hening hingga akhirnya imo Jiyong oppa berbicara.
“aku yakin keluarganya juga tidak menerimamu. Keluarga mereka
sudah sering menghancurkan keluarga kita.”
“tidak. Bahkan selama ini keluarganya yang mendukungku.”jawab Jiyong oppa tegas
tapi, nyaliku menciut. Aku tidak bisa berbicara. Dimana sikap dominanku? Aku
malah semakin erat memegang tangan Jiyong karena takut.
“kedua keluarga ini berkelahi karena leluhur Chaerin melakukan
kudeta pada keluarga kita yang saat itu menjadi raja. Raja saat itu sering
melakukan kekerasan pada sang Ratu dan membuat salah satu pejabat kerajaan
tidak suka dan akhirnya melakukan kudeta agar sang Raja bisa di hukum dan tanpa
sengaja kudeta itu malah membuat Raja mati..”
“pejabat itu menyukai Ratu sehingga melakuan kudeta? Pejabat itu
leluhur dari keluarga Chaerin? keluarga ini juga tahu fakta itu.”kata appa
Jiyong oppa. Tentu saja itu membuat aku dan Jiyong oppa terdiam dan tanpa sadar
genggaman tangan kami semakin menguat. Mungkinkah ketakutanku akan terjadi?
“huft... kau kaget? Kami tidak sesempit itu. kami tahu sejarah itu
sejak lama. Kau juga menyelidikinya? Itu terpecah juga karena kesengajaan kami
tidak ingin menutupi fakta itu.”ucap omma Jiyong oppa dengan nada meremehkan.
“lantas apa yang membuat omma tidak menyukai Chaerin?”dari nada
bicaranya sepertinya Jiyong oppa di kondisi yang tertekan.
“keluarganya. Kami tidak menyukai keluarganya yang bisa mengangkat
dagunya dengan sombong setelah kudeta itu. Bahkan keluarganya lebih sukses dari
kita. Itu sebenarnya milik kita.”kata omma Jiyong oppa dengan emosi yang
meledak.
“1. Kami sudah berencana mengembalikan kerajaan seperti sebelum
kudeta terjadi dan hampir berhasil. Kami sungguh tidak tertarik dengan
kerajaan. Kami bahkan punya istana sendiri tanpa menggunkan uang negara. 2.
Kami sukses karena usaha kami sendiri itu terlepas dari kerajaan. Karena kami
hanya mendapatkan hak istana untuk di tinggali dan pengawalan yang di gaji
Negara. Nothing special. Kami sombong karena kami sudah bisa sukses tanpa perlu
kudeta sebenarnya, kau harus belajar sejarah lagi nyonya Kwon. Ah, sebenarnya
kau sudah tidak jadi nyonya di keluarga ini karena itu dari pada memperkeruh
keadaan lebih baik anda diam saja. Ini hanya pembicaraan orang yang tubuhnya
mengalir darah Lee dan Kwon, keluarga kerajaan. Ah.. anda juga Lee tapi, saya
yakin sekali darah Lee kita jauh berbeda.”kata omma dengan sombong tiba-tiba
berada disani. Sikap dominan yang angkuh berhasil mengendalikan keadaan.
Sedangkan appa yang di belakang omma hanya menatap kagum omma. Jujur saja, omma
terlalu keren di mataku saat ini.
“maaf, Jika saya muncul tiba-tiba. Saya harus menyelamatkan Negara
ini. Saya benar kan tuan Kwon?!”kata omma yang sedikit menyindir omma Jiyong
oppa.
“ah.. ya tidak masalah.”kata appa Jiyong oppa gagap. Sikap omma
penuh charisma dan sikap angkuhnya membuat orang benar-benar merasa kecil.
Suatu bakat yang juga mengalir di darahku walau belum sehebat omma.
Singkat cerita, keluarga omma yang memiliki gelar kerajaan
mengembalikan gelar kerajaan pada keluarga Kwon dan kerajaan kembali aktif.
Sehingga kerajaan tidak hanya menjadi sejarah saja walau Negara ini masing
memiliki presiden. Kerajaan hanya akan mengurusi budaya Negara ini agar semakin
terkenal di mata dunia dan kebiasaan seperti perayaan di kerajaan bisa tetap di
lihat masyarakat. Omma dan appa memberikan 10% dari seluruh asetnya untuk
keluarga Kwon. 10% dari seluruh kekayaan keluarga Lee itu sama saja diberikan 3
buah jet setiap bulannya. Yah, paling tidak itu memang sudah hak mereka. Walau
keluarga Kwon masih belum bisa benar-benar menerimaku.
Burung-burung berkicau indah di atas pohon di halaman istana
Gyeokbokgung karena musim semi telah tiba. Beberapa orang dengan baju seragam
pengawal dan dayang terlihat sibuk. Aku mengenakan noeui dan daesu membuatku
terlihat cantik dan anggun. Aku menutupi kegugupanku dengan tersenyum. Sedangkan
seorang pemuda disampingku terlihat menggunakan daeryebok dan myunrugwan
berdiri dengan tidak kalah gugup disampingku. Hal ini bagaikan Dejavu karena
kami pernah melakukan ritual yang hampir sama seperti ini.
“kita sudah pernah melakukan ini. Tapi, aku sungguh gugup jauh
berbeda dari sebelumnya.”gumamku pelan. Banyak orang yang memperhatikan kami
dan ritual ini sungguh sakral.
“ini jelas berbeda. Ini benar-benar pernikahan kita, Chae. Tanpa
lampu yang bagikan matahari di siang hari, sutradara dan produser. Dan kita
akan menjalani semua ritual panjang tanpa ada yang mengatakan ‘cut’. ”balas
Jiyong oppa pelan dan aku tersenyum dengan diselimuti rasa gugupku. Ini sungguh
pengalaman berbeda.
@beberapa jam kemudian
“aku rela melakukan semua ritual panjang kerajaan. Aku rela menghabiskan
waktuku untuk Negara tapi, bagaimana bisa mereka melarang kita sekamar?”protes
Jiyong oppa saat kami di arak mengunakan kereta kencana untuk keliling kota
dengan pengawalan ketat tentunya.
“tersenyumlah, oppa. Banyak orang melihat kita.”kataku sambil
melambai pada masyarakat yang begitu antusias di pinggir jalan yang sudah di
jaga ketat.
“bukankah itu hanya sementara hingga menurut tetua waktunya tepat,
oppa.”kataku tersenyum berusaha menenangkan keadaan Jiyong oppa karena kini
terlihat tidak bersemangat. Aku pun sebenarnya lelah hanya saja dia sangat
bahagia mendapatkan sambutan meriah seperti ini apalagi ini hari pernikahanku
dengan Jiyong oppa. Hari dimana yang sangat kami nanti selama dua tahun ini.
“mereka menunda lahirnya sang pangeran, Chae. Itu seperti
pemberontakan.”gerutu Jiyong membuatku lepas control dan akhirnya tertawa.
Alasanya tidak masuk akal dan sungguh kekanak-kanakan.
“pemberontakan? Sekarang kau yang terlihat melakukan pembrontakan,
oppa.”kataku sambil tertawa kecil.
“kau setuju dengan mereka? Lalu, apakah kau setuju jika ternyata
ada peraturan bahwa Raja harus memiliki selir seperti raja sebelumnya?”kata
Jiyong menggodaku karena menertawakannya. Kau menang oppa.
“jika itu terjadi, maka surat cerai yang akan kau terima,
oppa.”kataku penuh penekanan. Kuberikan tatapan mata tajam milikku walaupun
bibir ini tersenyum. Aku tidak ingin orang melihat perdebatan konyol kami.
Apalagi ini hari pernikahan kami.
“tidak akan terjadi karena wanita yang di depanku ini telah
menjadi istiku, Ratu Negara ini begitu mencintai suaminya.”kata Jiyong sambil
mengecup keningkudan membuatku kaget dan membuat masyarakat yang menonton
menjerit histeris. Aku menutup wajahku dengan kedua tangan karena malu. Ini
pertama kalinya Jiyong menciumku di depan umum dan tanpa ada sutradara, tanpa
teriakan “cut” disini.
Tidak ada lagi sosok Jiyong yang menatapku tajam dan penuh selidik
tapi, jangan harap Jiyong oppa selalu berkata manis atau bersikap romantic,
kecuali saat dia melamarku. Harus aku akui kerja kerasnya saat melamarku bahkan
hingga saat ini, banyak yang dia perjuangkan untukku. Selama 2 tahun ini dia
lebih suka bersikap nyata dari pada hanya berkata manis dan bersikap romantis
dengan memberikan kejutan atau bunga. Jika pria lainnya mengajak makan untuk
berkencaan, Jiyong oppa lebih suka datang ketempatku lalu menyuruhku
menghabiskan makanan yang dibawanya. Jika pria lain akan sering berkata “i miss
you”, maka Jiyong oppa lebih suka tiba-tiba datang ketempatku dan langsung
memelukku jika aku bilang “i miss you”padanya. Walaupun saat itu dia berada di
luar negeri dia akan datang ke tempatku secepat dia bisa. Jika pria lain akan
merayu dan membujuk jika gadisnya marah, maka Jiyong oppa lebih suka
memerintahku dengan kalimat “pukul aku sepuasmu! Tapi, jangan tinggalkan aku
hingga masalah ini selesai dan akhirnya kita bisa bersama lagi!” . Dia tidak
selalu menyediakan waktunya untukku tapi, dia memberikan 2 hari penuh dalam
seminggu untuk menememaniku. Jiyong oppa milikku dengan semua kekurangan dan
kelebihannya. Kekurangan yang menjadi kelebihannya dan kelebihan yang semakin
membuatku semakin mencintainya.
Jiyong POV
Dua tahun bersama Chaerin, dia menunjukan sisi manisnya hanya di depanku. Dia
memang manja, arogan dan keras kepala. Tapi, dia bisa bersikap dewasa dan tidak
egois di kondisi yang tepat. Terkadang kami memang saling sibuk hingga beberapa
hari tidak saling bertemu. Tiba-tiba sebuah pesan masuk darinya yang mengatakan
dia merindukanku. Dengan cepat aku berusaha ketempatnya. Saat itu dia juga
sedang melakukan syuting dan aku memeluknya. Tapi, yang terjadi Chaerin
menangis dan memelukku erat seperti anak-anak yang akan di tinggal pergi orang
tuanya selama seminggu. Dia melupakan sikap sombongnya saat itu. Chaerin akan
selalu marah jika aku tidak menceritakan kegiatan harianku saat aku tidak
bertemu dengannya, bukan karena dia tidak mempercayaiku tapi sikapnya itu
karena dia mencemaskanku. Dia tidak ingin melewatkan sesuatu yang terjadi
padaku. Dia begitu mengemaskan.
Chaerin adalah gadis yang tidak bisa aku diamkan begitu saja. Aku sengaja
meluangkan dua hariku untuk selalu bersamanya dalam seminggu. Walau terkadang
dalam dua hari itu dia melakukan pemotretan ataupun syuting. Aku tidak hanya
seorang actor. Saat ini aku juga mengendalikan perusahan keluragaku walau tidak
sehebat perusahan milik keluarga Chaerin sehingga aku bisa tetap berkerja
sambil melihat Chaerin syuting. Dia berbeda dengan gadis kebanyakan, Chaerin
sangat jarang memintaku untuk melakukan sesuatu untuknya. Ya, tentu saja dia
berbeda karena itu dulu aku jadi tertarik dengannya dan mencintainya. Mencintai
sikap arogan dan keangkuhannya.
@tiga bulan kemudian
“aku hanya melakukan pemotretan. Aku bosan di rumah saja, oppa.”kata Chaerin
dengan ekpresi yang sangat terlihat dia sedang malas-malasan. Dia hanya duduk
di sofa dengan memeluk bonekanya. Tidak ada Chaerin yang suka tampil mewah dan fashionable.
Di depanku Chaerin lebih suka menggunakan pakaian yang nyaman untuknya.
“tidak masalah. Sudah lama kamu tidak berkerja, sesekali kau
keluar tidak masalah asal jangan terlalu lelah.”kataku sambil duduk di
sebelahnya. Chaerin langsung menyandarkan kepalanya di dadaku.
“tapi, aku malas keluar rumah.”jawabnya polos.
“tidak mungkin foto atau syutingnya di dalam rumah.”kataku sambil
mengelus kepalanya, hal ini sudah menjadi kebiasaan untukku.
“tapi, aku ingiin...”katanya dengan aegyonya. Aku hanya bisa
tersenyum. Ya.. inilah Chaerin di depanku walau terkadang sangat
membinggungkan. Baru saja dia bilang malas tapi, sekarang dia bilang ingin.
“kalau begitu tidak usah ambil pekerjaan. Pangil saja photographer
untuk memfotomu disini.”putusku.
“untuk apa?”tanyanya dengan wajah polosnya.
“untuk koleksi karena akan lama menunggu job yang benar-benar
sesuai denganmu.”jawabku. Dan Chaerin tiba-tiba mengecup bibirku dan tersenyum
manis.
“aku mencintaimu.”katanya dengan senyuman lebarnya seperti anak
kecil yang baru saja biberikan permen favoritnya.
“aku juga.”
“juga apa?”katanya menggodaku.
“aku juga mencintaimu, Lee Chaerin”kataku dan mengecup keningnya.
Chaerin langsung memelukku. Aku tahu hubungan keluargaku tidak terlalu baik
dengan Chaerin ataupun keluarganya tapi, Chaerin bertahan bersamaku. Aku ingin
Chaerin selalu bersamaku dan aku akan selalu melindunginya. Menjadikannya ratu
di hidupku dan ibu untuk anak-anakku kelak, itu salah satu mimpiku.
Hari ini Chaerin melakukan pemotretan di area istana dengan hanbok
tradisional dan hanbok modern koleksinya. Dengan professional Chaerin berpose
indah tanpa perlu arahan sang photographer. Dalam foto-foto tersebut
memancarkan aura seorang bangsawan, Charismanya begitu terpancar.
“aku ingin berfoto denganmu, oppa.”katanya sambil tersenyum manis
dan memelukku. Hanya ada photographer dan assitennya serta beberapa dayang
sehingga Chaerin bersikap seperti ini, Chaerin tidak bisa menunjukan sikap
aslinya pada banyak orang bahkan dia masih bersikap kaku dan formal pada orang tuanya
seakan ada batas-batasan tersendiri. Chaerin bilang tidak ada masalah antara
dia dan kedua orang tuanya dan mengatakan itu adalah kebiasaan setelah dia di
asingkan ke Anmyeondo dan dilatih menjadi sosok putri yang sekarang. Saat dia
menceritakan hal tersebut aku kasihan padanya tapi, di sisi lain aku senang
karena dia di asingkan sehingga sainganku tidak banyak untuk mendapatkannya.
Jika saja dia tidak dia asingkan mungkin saja dia bertemu dengan pria lain dan
membuatku semakin sulit untuk mendekatinya. Ah.. seharusnya aku tidak perlu
memikirkan hal itu karena aku yakin takdir sudah menuliskan kami untuk bersama.
Takdir yang membuat Chaerin mensetujui untuk bermain drama denganku hingga kini
aku bisa bersamanya, bahagia bersamanya.
“maafkan aku raja, kita akan mengambil gambar di tempat
selanjutnya.”kata photographer tersebut. Gelar raja kini sudah melekat padaku
setelah aku menikah dengan Chaerin setelah keluarga kerajaan di aktifkan
kembali tapi, aku tidak nyaman dengan gelar tersebut walau aku tinggal di
pavilion milik kerajaan.
“baiklah.”jawabku dan megandeng Chaerin. tapi, Chaerin tidak
bergeming. Dia hanya diam.
“kenapa?”tanyaku mulai cemas karena kediamannya.
“aku hanya sedikit pusing”jawabnya dengan tersenyum.
“mau istirahat dulu?”tanyaku.
“tidak. Ayo, kita selesaikan. Hanya tinggal satu tempat
lagi.”katanya dengan senyumnya tapi, aku bisa melihat matanya yang terlihat
sayu. Dia kelelahan.
Baru saja beberapa langkah, Chaerin terjatuh lemas. Untung saja
aku menahan pinggang dan tangannya sehingga Chaerin tidak sempat terjatuh di
tanah. Para dayang dan pengawal yang bersiaga di jarak yang cukup jauh langsung
berlari ke arah kami. Chaerin tidak sadarkan diri dan dengan cepat aku
mengendongnya serta memerintahkan orang untuk membawa kami ke rumah sakit
segera.
Chaerin Pov
Aku terbangun di ruangan bernuansa classic di desain dengan warna beige sehigga
terkesan mewah. Kamar kami juga bertema sama hanya saja ini jelas bukan kamar
kami. Kulihat ke kananku, Jiyong oppa tertidur disampingku dengan memelukku posesif.
Ku gerakkan tanganku untuk mengelus wajahnya tapi, ternyata ada infuse yang
melekat.
“kau sudah bangun?”kata Jiyong oppa yang seketika terjaga.
“kita dimana?”tanyaku dengan suara pelan. Kenapa aku selemah ini?
“kita di rumah sakit sekarang. Kau pingsan tadi. Sudah merasa
baikan?”tanyanya.
“ya. Aku sakit apa oppa?”
“Ada sesuatu yang tumbuh di perutmu.”kata Jiyong oppa membuatku
tercekat ketakutan. Apa aku terkena kanker?
“seberapa parah, oppa?”tanyaku takut. Aku takut tidak bisa lama
merasakan kebersamaan ini.
“akan semakin parah untuk bulan depan karena kau akan merasa mual,
muntah-muntah dan itu akan menyakitiku.”jawab Jiyong oppa menatap mataku. Aku
harus kuat.
“umurku tidak panjang lagi..” kataku dengan rasa sakit di dadaku
sambil mengubah posisiku menjadi duduk. Jiyong oppa kini ikut duduk di
sampingku dia menutup matanya lalu, membuka matanya kembali perlahan. Aku tidak
tahan untuk tidak menangis.
“hal ini membuatmu harus tetap bersamaku, tidak boleh lelah dan
banyak pikiran. Perutmu nantinya akan semakin membesar hingga kurang dari
delapan bulan lagi.”jelas Jiyong oppa membuatku akhirnya menangis. Aku belum
siap untuk berpisah denganya. Pernikahan kami baru tiga bulan dan kurang lebih
delapan bulan kami akan berpisah setelah perjuangan kami mati-matian untuk bisa
bersama? Aku tidak ingin itu terjadi. Kenapa harus aku?
“setelah itu, kau harus tetap istirahat dan menjaga anak
kita.”kata Jiyong oppa membuat tangisku berhenti. Aku tidak salah dengar? Anak
kita?
“ya. Ya.. sayang.. kau hamil. Anak kita tumbuh di perutmu hingga
kurang delapan bulan kau akan melahirkannya. Kau akan menjadi ibu dan aku
menjadi ayah.”kata Jiyong oppa tersenyum. Aku terdiam.
“maafkan, aku telah mengganggumu. Kau tidak sakit sayang, kau
hanya menjadi ibu hamil saat ini. Anak kita sudah 6 minggu di perutmu.”kata
Jiyong oppa memelukku.
“benarkah?”
“benar. Ada anak kita di perutmu.”kata Jiyong oppa sambil mengelus
rambutku. Dan tangisku kembali pecah. Aku akan menjadi seorang ibu.
Kebahagiananku akan menjadi sempurna.
“sudah, jangan menangis lagi.”kata Jiyong oppa lembut mencoba
menengangkanku.
“kau mengerjaiku, oppa.”kataku sambil melepaskan pelukannya.
“maafkan aku.”katanya lalu memeluku kembali. Kucubit perutnya
dengan geram.
“akh! Chaerin, jangan main kasar!”protesnya. Tapi, aku tetap
mencubit-cubit perutnya dan Jiyong oppa tetap memelukku.
“aku membencimu. Aku marah padamu.”
“aku juga mencintaimu.”jawaban yang tidak sekali cocok untuk
membalas ucapanku dan membuatku semakin gemas untuk mencubitnya.
“terus saja cubit aku. Jangan pernah berfikir untuk pergi dari
hidupku!”kata Jiyong oppa lembut dan cubitanku pun terlepas dari perutnya.
Jiyong oppa melepasakan pelukannya. Dia kini mensejajarkan wajah kami dan
menatapku lekat.
“karena aku mencintaimu. Maafkan, aku telah mencintaimu hingga
tidak ingin kau pergi dariku. Maafkan, aku mencintaimu hingga ingin menikah
denganmu. Maafkan aku mencintaimu hingga membuat kau mengalami masa-masa sulit.
Maafkan aku ingin selalu hidup bersamamu dan anak-anak kita kelak tanpa ingin
berbagi dengan yang lain hingga tidak ingin ada yang menganggu. Maafkan aku
karena aku tidak akan pernah menyesal mencintaimu, Lee Chaerin.”kata Jiyong
oppa lembut dengan kejujuran. Membuatku menangis terharu.
“maafkan aku mencintaimu hingga kau harus selalu di sisiku. Maafkan
aku mencintaimu hingga selalu ingin kau bertahan untuk tetap di sisiku. Maafkan
aku telah membuatmu jatuh cinta padaku. Maafkan aku yang mencintaimu hingga
tidak ingin kau memiliki wanita lain dan tidak menyukaimu yang sibuk dengan
pekerjaanmu. Maafkan aku yang mencintaimu hingga selalu manja denganmu dan
tidak ingin ada rahasia antara kita. Maafkan aku karena aku tidak menyesal
telah membuatmu mencintaiku karena aku juga mencintaimu.”balasku. Dan bibirnya
kini menempel di bibirku dengan lembut.
Sorry, i’m loving you. Tapi, akau tidak akan menyesal telah mencitaimu dan
ingin selalu hidup bersamamu.
EPILOG
Seorang pangeran bernama Kwon Geun Young, berlari di taman
berkejar-kejaran dengan para dayang. Sedangkan sang Raja dan Ratu yang sedang
duduk di taman tersenyum karena melihat anak mereka yang berumur 5 tahun itu
tumbuh aktif dan semakin cerdas. Jangan berfikir jika Raja dan Ratu mengenakan
Hanbok tradisional di istana karena kerajaan yang sekarang tidak seformal itu.
Mereka akan mengenakan Hanbok sebagai baju kebanggan mereka untuk menghadiri
acara penting. Sang Ratu dan Raja yang dulunya adalah seorang artis kini hanya
fokus pada keluarga mereka dan kerajaan. Jiyong juga mengurus perusahaan
keluarga Kwon dan keluarga Lee yang sekarang di percayaankan untuknya.
“Chae..”
“hm..”
“halaman ini terlihat sangat luas untuk uri Geun Young bermain.
Lebih baik kita menambahkan beberapa pangeran dan putri kecil untuk menemani
Geun Young bermain.”kata Jiyong dengan senyuman nakalnya.
“ide bagus.”jawab Chaerin seakan tidak tertarik.
“aku serius Ratu.”kata Jiyong.
“aku tidak sedang tertawa, Raja”.kata Chaerin dengan penekanan dan
itu membuat Jiyong geram. Tidak biasanya Chaerin menjadi menyebalkan seperti
ini, pikirnya.
“appa...”teriak Geun Young sambil berlari ke arah mereka. Jiyong
dengan sigap merentangkan kedua tangannya hingga menangkap Geun Young di
pelukannya.
“ada apa pangeran?”tanya Jiyong lembut pada putranya.
“kemarin omma sakit, lalu dokter datang. Setelah itu omma jadi
senang karena dokter bilang omma positif. Apa artinya appa? Omma sakit apa?
Omma hanya bilang omma sehat tapi, aku yakin omma sedang sakit appa. Omma bisa
sembuh kan appa?”tanya Geun Young polos. Chaerin langsung memegang kepalanya
karena salah tingkah. Chaerin berniat merahasiakan hal ini hingga dua hari lagi
tepat di hari pernikahan mereka tapi, Geun Young terlanjur membuka kejutannya
pada Jiyong dan kini Jiyong menatapnya tajam menuntut penjelasan.
“Geun Young omma, bisakah kau jelaskan ini semua agar pangeran dan
suamimu ini tidak mencemaskanmu.”kata Jiyong dengan nada datar dan dingin
membuat Chaerin takut. Sudah lama Jiyong tidak berkata dingin pada Chaerin.
“aku ingin ini menjadi kejutan hari di pernikahan kita. Aku sedang
hamil 5 minggu.”kata Chaerin dengan takut.
“sikapmu ini tidak tertolong. Kau membuat suami dan anakmu
mencemaskanmu, Ratu. Kau kan mendapatkan hukuman.”kata Jiyong dengan dingin
membuat Chaerin segera menunduk karena merasa bersalah hingga tidak menyadari
Jiyong dan putra mereka merencanakan sesuatu. Tanpa di sadari Chaerin putranya
dan Jiyong berada di kedua sisinya dan akhirnya memberikan kecupan di kedua
pipinya membuat Chaerin langsung mengangkat ajahnya karena kaget.
“terimakasih telah mengandung anakku lagi, sayang!”kata Jiyong
lembut.
“terimakasih telah memberikanku adik, omma!”kata Geun Young dengan
suaranya yang cute. Lalu, mereka saling berpelukan.
“kau harus banyak istirahat, sayang.”kata Jiyong dengan possesif.
“kapan adikku akan keluar omma? Kenapa adikku ada di perut omma?
”tanya Geun Young sambil mencium pipi Chaerin berulang kali hingga membuat
Chaerin tertawa karena bahagia.
END
ff ini rencananya di posting hari Jum'at tapi, gagal posting
terus. part kali ini gagal posting pkai foto jadi maaf kalau tidak di tag,
belum tahu masalahnya apa sampai gagal terus posting foto. sampai jumpa 3
minggu lagi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar