Cast : - Miru (fiktif)
- Lee Jae jin (FT ISLAND)
- Ren (Nu'est)
- Neil (TEEN TOP)
Miru Pov
“selalu begini. Pindah! Pindah! Pindah! Kalau tidak pindah negara pasti pindah rumah. Aku betah di france, kenapa kembali ke seoul? Kita baru 2 tahun disini. Appa tau korut mau menghancurkan korsel? Mending kita disini saja, aman” tawarku.
“tidak bisa! Kau tahu kan cita-cita appa untuk membagun perusahaan sendiri dan appa bisa melakukannya hanya diseoul.”jelas appa.
“kenapa hanya diseoul tapi, tidak bisa disini?”tanyaku.
“bisnis beda dengan pindah rumah, miru”kata appa.
“aku tetap disini saja. 2 tahun lagi aku lulus.”kataku keras.
“tidak bisa, kalau kau sakit bagaimaana?”kata appa.
“kok tanya? Kan bisanya aku merawat diriku sendiri juga dan kalau parah seperti biasa aku pergi kerumah sakit sendiri”kataku cuek.
“paling tidak kalau kami tidak ada tidak akan ada yang membiayai pengobatan untukmu. 6 bulan lagi kita pergi jadi bersiap-siaplah”kata omma tersenyum licik. Ne, orang tuaku terlalu sibuk berkerja jadi aku dan onniedeulku terbiasa mandiri. Walau kami bertemu setiap hari tapi, kami jarang mengobrol. Bahkan kami diberikan uang perbulan agar tidak perlu meminta-minta uang lagi.
- Lee Jae jin (FT ISLAND)
- Ren (Nu'est)
- Neil (TEEN TOP)
Miru Pov
“selalu begini. Pindah! Pindah! Pindah! Kalau tidak pindah negara pasti pindah rumah. Aku betah di france, kenapa kembali ke seoul? Kita baru 2 tahun disini. Appa tau korut mau menghancurkan korsel? Mending kita disini saja, aman” tawarku.
“tidak bisa! Kau tahu kan cita-cita appa untuk membagun perusahaan sendiri dan appa bisa melakukannya hanya diseoul.”jelas appa.
“kenapa hanya diseoul tapi, tidak bisa disini?”tanyaku.
“bisnis beda dengan pindah rumah, miru”kata appa.
“aku tetap disini saja. 2 tahun lagi aku lulus.”kataku keras.
“tidak bisa, kalau kau sakit bagaimaana?”kata appa.
“kok tanya? Kan bisanya aku merawat diriku sendiri juga dan kalau parah seperti biasa aku pergi kerumah sakit sendiri”kataku cuek.
“paling tidak kalau kami tidak ada tidak akan ada yang membiayai pengobatan untukmu. 6 bulan lagi kita pergi jadi bersiap-siaplah”kata omma tersenyum licik. Ne, orang tuaku terlalu sibuk berkerja jadi aku dan onniedeulku terbiasa mandiri. Walau kami bertemu setiap hari tapi, kami jarang mengobrol. Bahkan kami diberikan uang perbulan agar tidak perlu meminta-minta uang lagi.
Aku berjalan keluar bandara sambil membawa boneka
tengkorakku berukuran balita 5 tahun. onnie terlihat santai dengan mendengarkan
musik. Aku sebenarnya deg-degkan karena
aku sungguh tak mau kembali kesini.
“hey, pabo! Cepat kemari!”kata appa sambil menaikkan koper-koper ke bagasi taxi.
“kenapa appa marah denganku? Lihat onnie disana sedang mengantri membeli minum bahkan tanpa menawariku. Kenapa aku yang dimarahi lebih dulu?”protesku.
“dia terlalu jauh. Kamu naik taxi pertama saja dengan ommamu.”jelas appa. Setelah barang masuk semua ke dua taxi onnie baru datang dengan santainya tanpa ikut membantu menaiki barang. Tidak lebih tepatnya kami menunggunya beberapa menit. Tidak ada rasa bersalah di wajahnya, dia benar-benar santai. Padahal jika kami terpisah-pisah hanya dia yang tidak tidak tahu jalan pulang, bahkan cara pulang.
“hey, pabo! Cepat kemari!”kata appa sambil menaikkan koper-koper ke bagasi taxi.
“kenapa appa marah denganku? Lihat onnie disana sedang mengantri membeli minum bahkan tanpa menawariku. Kenapa aku yang dimarahi lebih dulu?”protesku.
“dia terlalu jauh. Kamu naik taxi pertama saja dengan ommamu.”jelas appa. Setelah barang masuk semua ke dua taxi onnie baru datang dengan santainya tanpa ikut membantu menaiki barang. Tidak lebih tepatnya kami menunggunya beberapa menit. Tidak ada rasa bersalah di wajahnya, dia benar-benar santai. Padahal jika kami terpisah-pisah hanya dia yang tidak tidak tahu jalan pulang, bahkan cara pulang.
Taxi berhenti disebuah rumah 3 kali lebih besar dari rumah
kami di France.
“ini rumah kita?”tanyaku tak percaya sambil turun dari taxi.
“ne, indah bukan?”kata omma bangga.
“ne tapi, kita akan menyewa pembantukan. Aku tidak akan menyelesaikan perkejaan rumah lagi seperti di France kan?”kataku.
“ani. Kau akan tetap melakukannya. Sekarang bereskan semua barang-barangmu!”perintah omma. Lihatlah! Keluargaku begitu tidak peduli.
aku masuk kekamarku, masih polos. Aku memutar otakku.
“ini rumah kita?”tanyaku tak percaya sambil turun dari taxi.
“ne, indah bukan?”kata omma bangga.
“ne tapi, kita akan menyewa pembantukan. Aku tidak akan menyelesaikan perkejaan rumah lagi seperti di France kan?”kataku.
“ani. Kau akan tetap melakukannya. Sekarang bereskan semua barang-barangmu!”perintah omma. Lihatlah! Keluargaku begitu tidak peduli.
aku masuk kekamarku, masih polos. Aku memutar otakku.
-1 minggu kemudian-
“bagaimana onnie?”tanyaku.
“bagus”kata onnie setelah melihat kamarku sekilas.
“kupastikan omma akan marah dan tidak akan kemarmu sebelum kau ganti semua”kata onnie lagi.
“mau kemana kau?”tanya onnie karena melihatku berjalan meninggalkannya.
“melihat kamarmu”kataku. Aku kaget dengan yangku lihat kamarnya tidak ada perubahan dengan hari pertama kami datang. Bahkan lebih parah. Koper dan kertas usang hasil desainnya berserakkan di lantai.
“aku juga punya cara sendiri agar omma tidak kekamarku”kata onnie penuh senyuman kemenangan. Kami seperti ini karena omma selalu meminta kami membersihkan rumah. Padahal omma bisa saja memanggil pembantu atau mengerjakan sendiri. Omma itu uri omma kandung tapi, begitu menyeramkan. kalau orang lain melihatnya oarang pasti mengatakan di ibu tiriku. Aku merebahkan tubuhku dikasur baruku yang empuk. Aku hanya mengunakan lampu remang untuk kamarku yang luas, kecuali untuk kamar mandinya. Koleksi boneka tengkorak beraneka bentuk menghiasi kamarku. Wallpaper berwarna dasar hitam bermotif mahkota berwarna merah membuat kamarku bernuansa gothic. Di France kamarku juga seperti ni. Tapi, karena berbagi kamar dengan onnie jadi tidak sekeren ini. Onnie benci redup.
“miru!!! Jangan dikamar terus! Sekarang waktunya makan malam”kata omma yang berteriak dari bawah.
“aku tak makan”kataku.
“benarkah?? Misa habiskan bebeknya!”kata omma.
“ne” jawab misa onnie. Aku berlari turun kebawah.
“bebeknya?”tanyaku.
“tinggal ini”kata onnie menunjukkan sepotong paha bebek dan dia asik menggrogoti paha bebek yang lain.
“appa beli 2 ekor. Tapi, omma dan onniemu menghabiskannya”kata appa.
“misa! Annio omma!”bela omma.
“omma banyak yang menghabiskan”kata onnie.
“kan kau yang menghabiskan jatah miru”sagah omma
“bukankah omma yang menyuruhku?”kata Misa onnie. Lihatlah! Dikeluargaku normal dan adil itu sangat langka.
Aku menarik nafasku perlahan.
“aku pasti bisa”kataku sambil berdiri dari bangku bis. Ini hari pertamaku sekolah tapi, tidak ada yang mau mengantarku. Bahkan aku memasak sarapanku seperti biasa. Aku berjalan santai, berusaha tersenyum menuju sekolah tapi, sesampai di gerbang HP ku berdering.
“hem?”jawabku karena tahu Misa onnie yang meneleponku.
“KENAPA KAU TIDAK MEMASAKKAN SARAPAN UNTUKKU? Kau ingin aku mati? Pagi ini aku ada kuliah dan aku harus kuliah tanpa sarapan. Itu semua karena kau!”kata onnie. Lihatlah, siapa onnie yang sebenarnya? Tanpa sadar aku memasang wajah “monster” saat masuk gerbang. Dan saat sadar orang-orang menatapku dengan tatapan aneh. Sebenarnya aku merasa gugup tapi, aku juga berusaha sesantai mungkin.
“aku pasti bisa”kataku sambil berdiri dari bangku bis. Ini hari pertamaku sekolah tapi, tidak ada yang mau mengantarku. Bahkan aku memasak sarapanku seperti biasa. Aku berjalan santai, berusaha tersenyum menuju sekolah tapi, sesampai di gerbang HP ku berdering.
“hem?”jawabku karena tahu Misa onnie yang meneleponku.
“KENAPA KAU TIDAK MEMASAKKAN SARAPAN UNTUKKU? Kau ingin aku mati? Pagi ini aku ada kuliah dan aku harus kuliah tanpa sarapan. Itu semua karena kau!”kata onnie. Lihatlah, siapa onnie yang sebenarnya? Tanpa sadar aku memasang wajah “monster” saat masuk gerbang. Dan saat sadar orang-orang menatapku dengan tatapan aneh. Sebenarnya aku merasa gugup tapi, aku juga berusaha sesantai mungkin.
BUUKkkk... bola basket mengenai kepalaku. Sebenarnya aku
ingin saja pura-pura kesakitan tapi, emosiku gak terkendali karena masih marah
dengan onnie.
“ini koridor bukan lapangan. Kenapa masih ada yang bermain bola disini? Bukankah ini High school atau ini adalah sekolah dasar?”kataku kesal sambil mengambil bola basket. Bukan untukku mainkan karena aku tidak bisa bermain bola. Tapi, aku mau tau siapa pelemparnya dan apa dia minta maaf padaku.
kelasku beraura aneh. Cewek dan cowok duduk terpisah. Jujur saja aku teroma berteman dengan yeoja karena masa laluku. Tidak ada yang meminta aku mengenalkan diriku atau memintaku berkenalan. Lagian aku juga tidak suka memperkenalkan diriku.
moveing kelas, membuat aku terpaksa membawa bola ini kemana-mana yangku masukkan ditasku, memang terasa lebih berat. Tiba-tiba seperti ada yang menyentuh pinggangku. Kuputar tubuhku, kaki kananku dengan cepat memukul tangan jahil itu.
“hey, manusia boleh berwajah jelek. Tapi, hati dan pikiran tidak boleh jelek.”kataku dan berlalu meninggalkannya. Sempat terlihat dia meringis kesakitan.
TBC.
komentarnya tolong... ni FF pertama Dika yang tidak mengunakan cast BIG BANG atau 2NE1. jadi, bingung juga cari castnya, apalagi temanya sekolahan. :)
“ini koridor bukan lapangan. Kenapa masih ada yang bermain bola disini? Bukankah ini High school atau ini adalah sekolah dasar?”kataku kesal sambil mengambil bola basket. Bukan untukku mainkan karena aku tidak bisa bermain bola. Tapi, aku mau tau siapa pelemparnya dan apa dia minta maaf padaku.
kelasku beraura aneh. Cewek dan cowok duduk terpisah. Jujur saja aku teroma berteman dengan yeoja karena masa laluku. Tidak ada yang meminta aku mengenalkan diriku atau memintaku berkenalan. Lagian aku juga tidak suka memperkenalkan diriku.
moveing kelas, membuat aku terpaksa membawa bola ini kemana-mana yangku masukkan ditasku, memang terasa lebih berat. Tiba-tiba seperti ada yang menyentuh pinggangku. Kuputar tubuhku, kaki kananku dengan cepat memukul tangan jahil itu.
“hey, manusia boleh berwajah jelek. Tapi, hati dan pikiran tidak boleh jelek.”kataku dan berlalu meninggalkannya. Sempat terlihat dia meringis kesakitan.
TBC.
komentarnya tolong... ni FF pertama Dika yang tidak mengunakan cast BIG BANG atau 2NE1. jadi, bingung juga cari castnya, apalagi temanya sekolahan. :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar