Dia sudah menungguku di salah satu meja Cafe.
Wajahnya terlihat kesal dan dingin kepadaku.
“kenapa?”tanyaku.
“sudahlah jangan mengikutiku! Jangan didekatku lagi atau kau akan mati!”jawabnya kasar sambil berdiri dari kursinya. Segeraku raih tanganya menahannya pergi. Akhirnya aku melepaskan tanganya karena dia terlihat sangat membenciku. Mataku tak sanggup lagi, aku ingin sekali menangis. Aku segera mengambil kaca mata hitamku sebelum air mataku menetes. Aku mencoba keluar dari Cafe tapi, baru saja aku berdiri aku menabrak seseorang wanita. Pikiranku kacau, sangat kacau hingga beberapa kali tertabarak untuk keluar dari Cafe.
“kenapa kau masih mengejarnya? Biasanya pria yang akan mengikutimu.”tegur Minzy saat aku duduk di kursi mobilnya.
“sekarang dia murahan tapi, itu terlihat bukan dia.”kataku dengan tatapan kosong. Hatiku terasa sakit hingga. Air mataku terus jatuh tanpa isakan tangis. Karena aku belum bisa merelakannya pisah dariku. Aku menyalakan mesin mobilku, menjalankan mobil tanpa tujuan yang pasti. Aku menjatuhkan cincin yang penah dia berikan padaku di jalan. Hujan pun turun, aku mencoba menutup atap mobil dengan tombol. Tapi, tombolnya tidak berfungsi. Aku memberhentikan mobil untuk membuka atap mobil dengan manual. Tapi, memang atap mobilku yang tidak mau bergerak, sepertinya memang macet bukan tombolnya yang tidak berfungsi. Aku meloncat untuk melampiaskan kekesalanku. Kesialan apa lagi yang harus aku hadapi? Sedangkan Minzy mencoba menenangkanku dan memayungiku karena hujan semakin lebat.
“kenapa?”tanyaku.
“sudahlah jangan mengikutiku! Jangan didekatku lagi atau kau akan mati!”jawabnya kasar sambil berdiri dari kursinya. Segeraku raih tanganya menahannya pergi. Akhirnya aku melepaskan tanganya karena dia terlihat sangat membenciku. Mataku tak sanggup lagi, aku ingin sekali menangis. Aku segera mengambil kaca mata hitamku sebelum air mataku menetes. Aku mencoba keluar dari Cafe tapi, baru saja aku berdiri aku menabrak seseorang wanita. Pikiranku kacau, sangat kacau hingga beberapa kali tertabarak untuk keluar dari Cafe.
“kenapa kau masih mengejarnya? Biasanya pria yang akan mengikutimu.”tegur Minzy saat aku duduk di kursi mobilnya.
“sekarang dia murahan tapi, itu terlihat bukan dia.”kataku dengan tatapan kosong. Hatiku terasa sakit hingga. Air mataku terus jatuh tanpa isakan tangis. Karena aku belum bisa merelakannya pisah dariku. Aku menyalakan mesin mobilku, menjalankan mobil tanpa tujuan yang pasti. Aku menjatuhkan cincin yang penah dia berikan padaku di jalan. Hujan pun turun, aku mencoba menutup atap mobil dengan tombol. Tapi, tombolnya tidak berfungsi. Aku memberhentikan mobil untuk membuka atap mobil dengan manual. Tapi, memang atap mobilku yang tidak mau bergerak, sepertinya memang macet bukan tombolnya yang tidak berfungsi. Aku meloncat untuk melampiaskan kekesalanku. Kesialan apa lagi yang harus aku hadapi? Sedangkan Minzy mencoba menenangkanku dan memayungiku karena hujan semakin lebat.
Aku membuka lokerku berkaca dan mengatakan ‘aku
baik-baik saja’ pada diriku sendiri. Saat aku rasa aku sudah selesai berjalan
menuju arena balab mobil lengkap dengan baju pelindung berwarna hitam dan putih,
aku melihat dia dan gadis yang sepertinya pacar barunya. Gadis itu berjalan
mendekatiku.
“kau tak akan menang melawanku atau melawannya. Menyerah saja! Aku akan menduduki posisimu dengan baik.”kata gadis itu sedikit mengancam. Lalu gadis itu memperkenalkan dirinya dan ingin menyalamiku. Aku hanya diam berlagak santai memakai helmku dan memasuki mobilku tapi, sebenarnya hatiku sakit melihat mereka.
“kau tak akan menang melawanku atau melawannya. Menyerah saja! Aku akan menduduki posisimu dengan baik.”kata gadis itu sedikit mengancam. Lalu gadis itu memperkenalkan dirinya dan ingin menyalamiku. Aku hanya diam berlagak santai memakai helmku dan memasuki mobilku tapi, sebenarnya hatiku sakit melihat mereka.
Mobilku mulai memacunya tapi, kata-kata gadis itu
menggangu pikiranku hingga. Aku dan dia sama-sama saling memacu untuk menjadi
pemenang. Pikiranku yang semakin kacau ini membuat aku hampir menabrak. Dia
menang dan aku kalah. Aku menendang mobilku untuk meluapkan kekesalanku pada
diriku sendiri yang terlalu lemah. Aku melihat dia dan kekasih barunya bahagia
atas kemenangan mengalahkanku di arena balab.
Malam ini Dara mengajakku minum untuk melupakannya,
ya maksudku namja pabo itu. Minzy menunggu kami di luar dengan sebuah payung
ditangannya karena hari hujan. Dia tidak ingin masuk karena masih dibawah umur.
Aku mencoba menenangkan pikiranku dengan bermain
musik dengan teman-teman bandku, 2ne1. Tapi, itu tak cukup untuk melupakannya,
si namja pabo yang telah melukai hatiku. Aku kembali minum, membiarkan aku
mabuk untuk melupakannya. Saat, aku tersadar aku sudah berdiri di rumahnya dan
mengetuk pintunya. Dia membuka pintunya. Aku segera sembunyi di balik pintu.
Dia akan menutup pintu tapi, aku menahan pintu dan berdiri didepannya. Seorang
gadis pun muncul di belakangnya. Kami saling melihat tapi, tidak satu kata pun
yang terlontar dari mulut kami. Lalu dia mencoba tidak mempedulikanku dan
menutup pintu. Aku menendang pintunya karena rasa kesalku. Dia langsung membuka
pintu dan menarikku kebelakang rumah. Aku sudah mencoba berteriak tapi, dia
tetap menyeretku dengan kasar. Dia langsung memukul di wajahku dan mendorongku
hingga terjatuh di tanah. Wajahnya yang penuh emosi dan terlihat kesal. Yang
seharunya kesal itu aku! Yang seharusnya marah itu aku! Dia membuka jaket putih
yang ia kenakan dan melemparkan ke arahku tapi, jaket itu jatuh ketanah. Dan
dia pegi begitu saja meninggalkanku lagi yang terluka. Sakit diwajahku tidak
begitu terasa dibandingkan luka di hatiku. Sudah, aku sudah muak! Pergi saja
kau! Saat suara pintu terdengar tertutup tiga orang temanku datang membantuku
perdiri kembali dan membersihkan bajuku.
Aku
kembali ke arena balab dengan luka lebab di wajahku. Aku tak peduli! Rasa sakit
hatiku lebih mendominasi dibandingkan lebab di wajahku. Aku memasuki mobil
hitamku. Balab pun dimulai. Segera aku memacu dan menyengol mobil dia, mantan
pacarku si namja brengsek. Dan kami saling menabrak satu sama lain. Mobil hitam
yang aku naikki terbang ke udara dan menabrak mobil namja pabo itu lagi.
BOom!!
Mobilku meledak dan api pun berkobar dengan ganasnya.
Mobilku meledak dan api pun berkobar dengan ganasnya.
Aku
telah mati, aku wanita lemah karena di tinggalkan kekasihku telah mati terbakar
dengan mobil balab hitam kesukaanku. Kini aku menjadi gadis baru, gadis yang kuat dan
bisa mengatakan ‘GO AWAY’ pada mantan kekasihnya. Jangan khawatir! Aku akan
pergi tanpa syarat. Aku akan bertemu dengan pria yang jauh lebih baik. Aku akan
membuat kau menyesal. Kesedihanku telah berakhir, Boy.
END
Mungkin sedikit bingung dengan penokohanya. "nya" dan "dia" yang dimaksud adalah si mantan pacar. ini aku adaptasi dari MV GO AWAY - 2NE1 tanpa tambahan adegan, menurut pemikiranku isi MV nya begini. CL mati dan menjadi CL yang baru.:)
ini lagu favoritku dan berhasil membuatku bangkit kembali. *curcol
please komentarnya!! :)
ini lagu favoritku dan berhasil membuatku bangkit kembali. *curcol
please komentarnya!! :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar