jangan lupa

JANGAN LUPA KOMENTAR YA..

Jumat, 26 April 2013

SKY HIGH #5


Author pov-
Sekarang Chaerin dan Jiyong di altar, begitu indah. Jae Jin yang duduk disamping Su Jin memegang tangan Su Jin lembut.
“kau bahagia?”tanyanya.
“ne! Aku sangat bahagia”jawab Su Jin. Karena terlalu bahagia rasa sakit yang menjalar diseluruh tubuh ini tidak terasa lagi ditubuh Su Jin.
gemuruh tepuk tangan terdengar saat Chaerin dan Jiyong saling berciuman.
“kau ingin merebutkan buketnya?”tanya Jae Jin. Karena tidak mendengar jawaban su jin, jae jin memeriksa kondisi Su Jin.
“siapapun tolong Su Jin!”teriak Jae Jin yang panik. Suasana pernikahan yang bahagia berubah menjadi ketegangan.

Walau dokter sedang memeriksa kondisi Su Jin tapi keluarga kecil itu masih khawatir dan rasa cemas menyelimuti mereka. Bahkan pasangan pengantin yang baru saja menikah ini masih mengenakan baju pengantinya. Tak lama dokter keluar setelah memeriksa sujin.
“bagaimana keadaannya?”tanya omma Su Jin.
“belum sadarkan diri. Su Jin masih lemah”jelas dokter.
“apakah kita bisa melakukan operasi sekarang?”tanya Chaerin segera.
“Su Jin masih sangat lemah. Bila kita melakukan operasi sekarang, itu akan buruk untuknya. Jadi, kita harus menunggu Su Jin sadar dulu.”kata dokter. Tangisan omma Su Jin lagi-lagi pecah dan Chaerin terduduk lemas. Walaupun Su Jin kasar kepadanya, Chaerin benar-benar sangat menyayangi Su Jin. Chaerin ingin memeluk Jiyong yang juga terpukul tapi, dia sendiri saja tidak mampu menerima kenyataan ini.

Hari ini Su Jin sudah membuka matanya. Dia terlihat lebih pucat dari sebelumnya. Memar-memar pun ada dihampir setiap tubuhnya karena kangker darah yang dideritanya membuat  tubuhnya kekurangan trombosit  hingga darahnya menjadi membeku. Ommanya berusaha tegar tapi, kesedihannya tidak bisa dibendung hingga air matanya mengalir melihat putrinya. Sesekali Su Jin meringis menahan sakit di tubuhnya. Jae Jin yang juga ada disana hanya diam tanpa suara. Wajah yang biasanya tersenyum tidak terlihat expresi sedih. Tapi, kesedihannya terlihat dari air matanya yang menetes.
“omma, kau menangis?”tanya Su Jin lembut.
“anni, Su Jin. Angin bertiup terlalu kencang hingga air mata omma keluar.”kata ommanya sambil menyeka air mata.
“omma bisakah ambil kertas di tasku?”
“ne!”jawab ommanya. Su Jin segera menerima kertas dari ommanya.
“Onnie, mana ada pengatin yang maskaranya luntur! Nanti tamunya pada ketakutan.”kata Su Jin. Chaerin tetap tersenyum walau lagi-lagi air matanya terjatuh.
“terimakasih sudah menjagaku, merawatku dan menemaniku. Walau sebenarnya aku bukan siapa-siapa dikeluarga ini. Aku tahu Jiyong oppa sering berbohong padaku.”
“mengatakan membelikanku baju. Tapi, semua baju-baju yang jiyong oppa berikan itu adalah buatan Chaerin onnie untukku. Chaerin onnie, mianhae aku selalu kasar padamu. Gomawo telah menyadarkanku kalau keluargaku ini begitu menyayangiku.”kata Su Jin.
“kau bicara apa su jin? Kau pasti akan sehat Su Jin.”kata Chaerin berusaha tersenyum karena air matanya tetap mengalir walau dia tidak menginginkannya.
“oppa, mianhae. Jebal mianhae telah merepotkanmu! Omma, appa gomawo atas segalanya! Mianhae, atas semua prilakuku..”
“hentikan Su Jin! Seakan-akan kau akan pergi jauh. Aku ini oppamu, wajar saja bila aku menjagamu dan kau merepotkanku.”kata Jiyong oppa.
“Jae Jin ini surat cinta untukmu”kata Su Jin sambil memberikan kertas tanpa amplop yang diambilkan omma Su Jin tadi.
“terimalah! Aku takut, aku lupa memberikannya padamu.”kata Su Jin sambil tersenyum lemah dan Jae Jin pun menerimanya.
“omma, aku boleh tidur? Aku lelah”kata Su Jin.
“ne, chagi! Tidurlah”kata ommanya sambil mengelus lembut kepala Su Jin yang tertutup topi. Su Jin menutup matanya. Tangisan omma Su Jin dan Chaerin pecah setelah mengetahui datak jantung Su Jin tidak ada lagi. Jae jin segera keluar dari ruangan. Duduk ditaman rumah dakit dan segera membuka surat yang diberika Su Jin kepadanya.

Kau tak perlu menjengukku lagi. Itu bukan karena aku tidak suka didekatmu. Aku juga mencintaimu, jae jin. Tapi, aku sadar umurku tak akan lama. Lebih baik kau berhenti mencintaiku. Carilah yeoja baik yang bisa menemani hidupmu. Aku akan membencimu jika kau terus mencintaiku. Aku mohon padamu, pergilah, tinggalkan semua kenangan kita dan lupakan aku! Aku ingin kau hidup dengan bahagia, tolong kabulkan keinginanku ini.
Jae jin menangis kembali. Dia belum bisa menerima kepergian Su Jin, jeoja yang dicintainya.
“tuhan, kembalikan dia untukku. Aku tak akan sanggup melupakanya. Kenapa surga begitu cepat memanggilnya? Aku masih ingin bersamanya. Aku begitu sakit berpisah dengannya. Tuhan, apa arti cintaku jika aku tak dapat bersamanya?”kata Jae Jin lirih.

@BEBERAPA TAHUN KEMUDIAN
“sudah sangat lama kita tak bertemu. tak kusangka kita bisa bertemu di yayasan kangker ini. Apa pekerjaanmu? Apakah dokter?”kata Jiyong.
“Aku tak berhasil menjadi dokter, hyung. Aku menjalankan perusahaan appa.”jawab Jae Jin.
“apakah yayasan ini milikmu?”
“anio, hyung. Aku hanya donatur dana.”
“kau hebat. Kau datang sendiri? Tidak bersama yeojachinggumu?”tanya Jiyong penasaran.
“kau masih memikirkan Su Jin?”tanya jiyong lagi karena pertanyanya tak di jawab Jae Jin.
“aku mohon hiduplah dengan bahagia. Lupakan saja adikku! Bukan aku membencimu ini karena aku sudah mengagapmu sebagai adikku juga. Kau juga berhak untuk bahagia, jae jin.”nasehat Jiyong. Tapi, Jae Jin hanya diam tak merespon. Hatinya memang masih belum bisa melupakan Su Jin.
“bagaimanapun keluarga kami begitu menyukaimu. Datanglah kerumah uri omma pasti sangat senang karena dia merindukanmu.”kata Jiyong sambil memukul bahu Jae Jin pelan dan pergi meninggalkan Jae Jin sendirian.

Epilog
Awalnya aku memang ingin mengakhiri hidupku di dunia yang  “dingin” ini. Aku sadar masih banyak yang belum aku lakukandan masih banyak yang belumku ketahui. Aku tak akan menyalahkan takdir. Aku tak akan membenci tuhan yang telah memberikan penyakit ini. Aku rasa penyakit ini adalah hadiah dari tuhan untukku. Karena penyakt ini keluargaku bersatu dan bahagia dan karena penyakit ini aku jadi tahu banyak orang yang benar-benar menyanyangiku.  Jika aku punya umur panjang, aku kurubah tangisan, keringat dan amarah mereka menjadi tawa kebahagiaan. Tidak menerima kenyataan tidak akan membuat kebahagiaan dan malah membuat semakin terluka. Tidak ada yang perlu disesali karena menyesal tidak akan merubah apapun. Yang bisa dilakukan adalah berusaha agar kedepan tidak ada penyesalan. Dibalik dunia yang “dingin” ini sebenarnya masih ada sedikit sinar matahari yang cukup untuk menghangatkanmu.
- Kwon Su Jin.

END

FF ini sudah pernah diposting di sini.
mohon komentarnya! jangan hanya jadi pembaca tanpa memberi masukan. gomawo sudah membaca!
postingan terakhir: ffm3

Tidak ada komentar:

Posting Komentar