Aku keluar dari ruang kemo, kali ini omma memapahku karena
aku benar-benar lemas dan merasa sakit diseluruh tubuhku.
“Jae jin!”kataku saat melihat namja duduk didepan kamarku. Aku memintanya untuk masuk. Dan dia pun mengikutiku. Aku tiduran dikasur sedangan dia duduk dikursi sisi kasurku dan omma di sofa yang jaraknya tidak jauh dari kami.
“ada apa?”tanyaku. Jujur saja dia datang kesini membuatku bingung. Kami tidak pernah sekelas dan kami jarang mengobrol walau hubungan kami cukup baik.
“su jin”katanya. Aku hanya diam menunggu kalimat selanjutnya.
“aku menyukaimu”katanya. Kata-kata yang mempunyai banyak arti ini membuatku semakin binggung.
“aku tidak peduli dengan perasaanmu sekarang. Aku hanya ingin kau tahu aku mencintaimu sebagai seorang yeoja, bukan chinggu. Aku tak ingin menyianyiakan waktuku lagi. Aku akan menghabiskan waktuku denganmu. Aku akan berusaha menjagamu.”jelasnya.
“kau serius?”tanyaku. aku melihat omma, omma diam saja seakan-akan tidak mendengar apa-apa.
“kenapa aku? Padahal kita tidak begitu dekat”tanyaku.
“aku tidak tahu. Yang aku tahu aku benar-benar mencintaimu.”jelasnya.
“aku tidak tahu harus bilang apa kepadamu”
“aku tidak perlu jawabanmu. Aku hanya ingin kau tahu. Aku mencintaimu. Apa besok aku boleh datang kesini lagi?”katanya gugup. Aku hanya mengaguk walau sedikit ragu.
“ajumma, saya pulang dulu.”pamitnya pada omma. Omma tersenyum padanya dan dia keluar dari kamarku.
“aigo.. uri su jin sudah dewasa.”kata omma dengan tersenyum.
“omma, jangan seperti itu. Aku hanya berteman dengannnya.”
“kau tak pernah merasakan dicinta oleh namja. Omma lihat dia namja yang baik dan bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Omma rasa tidak ada salahnya jika kau dekat dengannya”kata omma. Baru kali ini omma berbicara dengan aura keibuan denganku.
“Jae jin!”kataku saat melihat namja duduk didepan kamarku. Aku memintanya untuk masuk. Dan dia pun mengikutiku. Aku tiduran dikasur sedangan dia duduk dikursi sisi kasurku dan omma di sofa yang jaraknya tidak jauh dari kami.
“ada apa?”tanyaku. Jujur saja dia datang kesini membuatku bingung. Kami tidak pernah sekelas dan kami jarang mengobrol walau hubungan kami cukup baik.
“su jin”katanya. Aku hanya diam menunggu kalimat selanjutnya.
“aku menyukaimu”katanya. Kata-kata yang mempunyai banyak arti ini membuatku semakin binggung.
“aku tidak peduli dengan perasaanmu sekarang. Aku hanya ingin kau tahu aku mencintaimu sebagai seorang yeoja, bukan chinggu. Aku tak ingin menyianyiakan waktuku lagi. Aku akan menghabiskan waktuku denganmu. Aku akan berusaha menjagamu.”jelasnya.
“kau serius?”tanyaku. aku melihat omma, omma diam saja seakan-akan tidak mendengar apa-apa.
“kenapa aku? Padahal kita tidak begitu dekat”tanyaku.
“aku tidak tahu. Yang aku tahu aku benar-benar mencintaimu.”jelasnya.
“aku tidak tahu harus bilang apa kepadamu”
“aku tidak perlu jawabanmu. Aku hanya ingin kau tahu. Aku mencintaimu. Apa besok aku boleh datang kesini lagi?”katanya gugup. Aku hanya mengaguk walau sedikit ragu.
“ajumma, saya pulang dulu.”pamitnya pada omma. Omma tersenyum padanya dan dia keluar dari kamarku.
“aigo.. uri su jin sudah dewasa.”kata omma dengan tersenyum.
“omma, jangan seperti itu. Aku hanya berteman dengannnya.”
“kau tak pernah merasakan dicinta oleh namja. Omma lihat dia namja yang baik dan bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Omma rasa tidak ada salahnya jika kau dekat dengannya”kata omma. Baru kali ini omma berbicara dengan aura keibuan denganku.
Author pov
Seperti janjinya, jaejin datang menjenguk su jin. Mereka mengobrol ditaman rumah sakit. Jiyong memilihat dari jendela kamar yang kebetulan dari sana bisa mengawasi adiknya itu.
“siapa dia omma?”tanya jiyong.
“chinggunya su jin”
“oh, kenapa tidak ada yang cerita padaku?”
“adikmu sudah dewasa, jiyong. Ini kesempatan dia. Mana tahu dengan begitu dia jadi semangat untuk hidup.”jelas ommanya.
Seperti janjinya, jaejin datang menjenguk su jin. Mereka mengobrol ditaman rumah sakit. Jiyong memilihat dari jendela kamar yang kebetulan dari sana bisa mengawasi adiknya itu.
“siapa dia omma?”tanya jiyong.
“chinggunya su jin”
“oh, kenapa tidak ada yang cerita padaku?”
“adikmu sudah dewasa, jiyong. Ini kesempatan dia. Mana tahu dengan begitu dia jadi semangat untuk hidup.”jelas ommanya.
Su jin pov
“sudah saatnya kau masuk su jin!”kata jiyong oppa yang berjalan kearah kami dengan tatapan menyelidik. Di belakangnya ada chaerin onnie. Chaerin onnie menyentuh bahu jiyong oppa. Mereka saling menatap. Tatapan mata chaerin onnie terlihat begitu lembut seakan-akan mereka berbicara lewat kontak mata. Jiyong oppa mengaguk dan mengambil nafas.
“chinggu su jin, kita mengobrol sebentar!”kata jiyong oppa.
“ayo, kita masuk!”kata chaerin onnie. Aku hanya menurut, entah sejak kapan aku melemah pada chaerin onnie. Chaerin onnie memegang tanganku dan pinggangku lembut, seakan-akan aku akan pecah jika tersenggol. Sekarang aku berharap oppa akan melarang jae jin di dekatku. Dari tatapan mata jiyong oppa sepertinya oppa tidak suka dengan jae jin.
“sudah saatnya kau masuk su jin!”kata jiyong oppa yang berjalan kearah kami dengan tatapan menyelidik. Di belakangnya ada chaerin onnie. Chaerin onnie menyentuh bahu jiyong oppa. Mereka saling menatap. Tatapan mata chaerin onnie terlihat begitu lembut seakan-akan mereka berbicara lewat kontak mata. Jiyong oppa mengaguk dan mengambil nafas.
“chinggu su jin, kita mengobrol sebentar!”kata jiyong oppa.
“ayo, kita masuk!”kata chaerin onnie. Aku hanya menurut, entah sejak kapan aku melemah pada chaerin onnie. Chaerin onnie memegang tanganku dan pinggangku lembut, seakan-akan aku akan pecah jika tersenggol. Sekarang aku berharap oppa akan melarang jae jin di dekatku. Dari tatapan mata jiyong oppa sepertinya oppa tidak suka dengan jae jin.
Ternyata dugaanku salah. Jiyong oppa menyukai jae jin. Malah
oppa sering mengajak jae jin untuk
jalan-jalan atau datang kerumah sakit dengannya. Setiap aku punya
kesempatan untuk jalan-jalan bersama keluarga, oppa selalu saja mengajak jae
jin. Tidak hanya oppa, uri omma dan appa juga bersikap baik pada jae jin.
Huft... kenapa aku merasa keluargaku membagi kasih sayang untukku pada jae jin?
Rontok. Rontok lagi rambutku. Aku melihat kecermin, rambutku
semakin tipis.
“su jin, kau dimana?”suara omma terdengar khawatir. Aku segera mengunci kamar mandi. Aku menangis. Aku memegang rambutku tapi, rambutku malah berjatuhan di tanganku seakan-akan aku menjambaknya sangat kuat. Apakah ini artinya aku akan segera mati? Aku menangisi nasipku ini.
“kau didalam su jin? Segeralah keluar su jin!”kata omma khawatir sambil mengedor-gedor kamar mandi.
“su jin, kenapa menangis?”tanya omma. Aku dengar tangisan omma dari balik pintu. Tangisku semakin kuat.
beberapa jam kemudian.
“su jin, jae jin menjengukmu. Kau keluarlah!”kata omma.
“aku tidak mau bertemu siapa pun!”teriakku.
“kenapa?”itu suara jae jin.
“aku tidak mau keluar!” teriakku.
“su jin, kau dimana?”suara omma terdengar khawatir. Aku segera mengunci kamar mandi. Aku menangis. Aku memegang rambutku tapi, rambutku malah berjatuhan di tanganku seakan-akan aku menjambaknya sangat kuat. Apakah ini artinya aku akan segera mati? Aku menangisi nasipku ini.
“kau didalam su jin? Segeralah keluar su jin!”kata omma khawatir sambil mengedor-gedor kamar mandi.
“su jin, kenapa menangis?”tanya omma. Aku dengar tangisan omma dari balik pintu. Tangisku semakin kuat.
beberapa jam kemudian.
“su jin, jae jin menjengukmu. Kau keluarlah!”kata omma.
“aku tidak mau bertemu siapa pun!”teriakku.
“kenapa?”itu suara jae jin.
“aku tidak mau keluar!” teriakku.
TBC
Tidak ada komentar:
Posting Komentar