Aku pergi ke taman sendirian dengan kursi rodaku untuk
menenangkan diri.
“disini sangat dingin, masuklah!”kata jae jin yang kini berjalan kearahku. Dia membuka jaketnya dan menaruhnya pelan di tubuhku.
“ayo, kita masuk!”kata jae jin sambil mendorong kursi rodaku ke rumah sakit.
“jae jin, apa keputusanku sudah tepat?”tanyaku. jae jin berhenti mendorong kursiku.
“gomawo kau sudah mau berkorban untuk kebahagiaan orang lain. Aku menilai keputusanmu sangat tepat. Kau tau aku semakin menyukaimu! Kau seperti super hero dimataku.”katanya dan mulai mendorong kursiku lagi.
“kau kekanak-kanakan”kataku jutek. Tapi, jae jin hanya tertawa.
“disini sangat dingin, masuklah!”kata jae jin yang kini berjalan kearahku. Dia membuka jaketnya dan menaruhnya pelan di tubuhku.
“ayo, kita masuk!”kata jae jin sambil mendorong kursi rodaku ke rumah sakit.
“jae jin, apa keputusanku sudah tepat?”tanyaku. jae jin berhenti mendorong kursiku.
“gomawo kau sudah mau berkorban untuk kebahagiaan orang lain. Aku menilai keputusanmu sangat tepat. Kau tau aku semakin menyukaimu! Kau seperti super hero dimataku.”katanya dan mulai mendorong kursiku lagi.
“kau kekanak-kanakan”kataku jutek. Tapi, jae jin hanya tertawa.
Teman-teman, guru dan keluargaku yang selalu menghiburku
membuat aku semakin tenang. Bahkan aku jadi rajin minum obatku. Walau aku
sering disuntik dan sudah rajin memakan obatku tapi, penyakit sialan ini masih
saja menyakitiku. Tubuhku berkeringat menahan rasa sakit. Tapi, jae jin dengan
sigap dan lembut mengelap keringatku.
“hentikan! Aku bisa sendiri”kataku lemas.
“sudahlah, aku saja. Aku senang melakukannya”katanya sambil tersenyum manis. Lagi-lagi jae jin terlalu baik padaku.
“aku pulang!”kata appa yang baru saja datang. Wajah appa sangat lemas, pasti ada sesuatu yang buruk.
“bagaimana?”kata omma kepada appa. Omma terlihat gelisah. Sebenarnya ada apa.
“mianhae sujin! Appa tidak bisa menemukan satu pun dari keluargamu.”kata appa penuh penyesalan. Ini pasti untuk mencari pendonor tulang sumsum untukku.
“omma bilang orang tua kandungku meninggal karena kecelakaan. Appa, bolehkah aku kepemakaman orang tuaku?”tanyaku.
“ne. Appa akan mencari tahu dulu pemakamannya. Tapi, kita harus dapat persetujuan dari doktermu dulu.”jawab appa. Aku mengaguk lemah.
“jae jin, kau harus ikut ne?”kata jiyong oppa. Jae jin mengaguk.
“jangan lupa untuk tampil baik dan membawa bunga. Bagaimana pun kau harus juga meminta izin pada calon mertuamu!”kata jiyong oppa.
“oppa!”tegurku. mereka tertawa. Aku tahu jiyong oppa sengaja mengatakannya agar suasana tetap nyaman dan aku tak bersedih.
“hentikan! Aku bisa sendiri”kataku lemas.
“sudahlah, aku saja. Aku senang melakukannya”katanya sambil tersenyum manis. Lagi-lagi jae jin terlalu baik padaku.
“aku pulang!”kata appa yang baru saja datang. Wajah appa sangat lemas, pasti ada sesuatu yang buruk.
“bagaimana?”kata omma kepada appa. Omma terlihat gelisah. Sebenarnya ada apa.
“mianhae sujin! Appa tidak bisa menemukan satu pun dari keluargamu.”kata appa penuh penyesalan. Ini pasti untuk mencari pendonor tulang sumsum untukku.
“omma bilang orang tua kandungku meninggal karena kecelakaan. Appa, bolehkah aku kepemakaman orang tuaku?”tanyaku.
“ne. Appa akan mencari tahu dulu pemakamannya. Tapi, kita harus dapat persetujuan dari doktermu dulu.”jawab appa. Aku mengaguk lemah.
“jae jin, kau harus ikut ne?”kata jiyong oppa. Jae jin mengaguk.
“jangan lupa untuk tampil baik dan membawa bunga. Bagaimana pun kau harus juga meminta izin pada calon mertuamu!”kata jiyong oppa.
“oppa!”tegurku. mereka tertawa. Aku tahu jiyong oppa sengaja mengatakannya agar suasana tetap nyaman dan aku tak bersedih.
Ternyata disini tempat orang tuaku, di pemakaman kumuh. Aku
tak menangis bukan karena aku tidak berbakti pada orang tua kandungku. Tapi,
karena perasaan sedih itu tidak ada.
“su jin!”
“ne, omma”
“chaerin sudah melakukan tes dan hasilnya cocok. Bisakah kita melakukan operasi secepatnya?”kata omma perlahan. Mereka merencanakan sesuatu agar aku sembuh tanpa sepengetahuanku. Chaerin tersenyum lembut padaku. Baru kali ini chaerin onnie terlihat sangat cocok dengan jiyong oppa.
“aku menyulitkan onnie”kataku lemah. Onnie mensejajarkan tubuhnya di hadapanku, memegang tanganku lembut.
“aku senang jika dapat menyelamatkanmu”kata chaerin onnie tersenyum tulus. Aku sangat kalah jauh bila dibandingkan dengan chaerin onnie.
“baiklah, aku akan operasi setelah kalian menikah”kataku. Semua terlihat kaget dengan ucapanku. Walau aku yang mengatakannya aku juga sangat kaget.
“bagaimana?”kataku.
“gomawo su jin! Aku akan segera menikah dengan jiyong oppa”kata chaerin onnie sambil memelukku. Pipi kami yang bersentuhan terasa basah. Apakah chaerin onnie menangis?
“ash.. kenapa seakan-akan chaerin yang melamarku?”kata jiyong oppa lagi-lagi mencoba memecahkan suasana haru ini.
“kau ini!”kata appa.
“ayo, kita pulang!”kata omma. Omma dan appa berjalan duluan. Jaejin mendorong kursi rodaku, sedangkan chaerin onnie dan jiyong oppa dibelakang kami.
“su jin, kau harus sehat ne!?”kata jae jin.
“wae?”
“dengan begitu kita akan bisa menyusul jiyong hyung dan chaerin nuna.”kata jae jin tersenyum jail. Aku menatapnya kesal.
“lihatlah, sekarang kau berani menatapku dengan tatapan penuh cinta.”kata jae jin tertawa pelan.
“kau mengerjaiku!”kataku dan lagi-lagi jae jin tertawa.
“su jin!”
“ne, omma”
“chaerin sudah melakukan tes dan hasilnya cocok. Bisakah kita melakukan operasi secepatnya?”kata omma perlahan. Mereka merencanakan sesuatu agar aku sembuh tanpa sepengetahuanku. Chaerin tersenyum lembut padaku. Baru kali ini chaerin onnie terlihat sangat cocok dengan jiyong oppa.
“aku menyulitkan onnie”kataku lemah. Onnie mensejajarkan tubuhnya di hadapanku, memegang tanganku lembut.
“aku senang jika dapat menyelamatkanmu”kata chaerin onnie tersenyum tulus. Aku sangat kalah jauh bila dibandingkan dengan chaerin onnie.
“baiklah, aku akan operasi setelah kalian menikah”kataku. Semua terlihat kaget dengan ucapanku. Walau aku yang mengatakannya aku juga sangat kaget.
“bagaimana?”kataku.
“gomawo su jin! Aku akan segera menikah dengan jiyong oppa”kata chaerin onnie sambil memelukku. Pipi kami yang bersentuhan terasa basah. Apakah chaerin onnie menangis?
“ash.. kenapa seakan-akan chaerin yang melamarku?”kata jiyong oppa lagi-lagi mencoba memecahkan suasana haru ini.
“kau ini!”kata appa.
“ayo, kita pulang!”kata omma. Omma dan appa berjalan duluan. Jaejin mendorong kursi rodaku, sedangkan chaerin onnie dan jiyong oppa dibelakang kami.
“su jin, kau harus sehat ne!?”kata jae jin.
“wae?”
“dengan begitu kita akan bisa menyusul jiyong hyung dan chaerin nuna.”kata jae jin tersenyum jail. Aku menatapnya kesal.
“lihatlah, sekarang kau berani menatapku dengan tatapan penuh cinta.”kata jae jin tertawa pelan.
“kau mengerjaiku!”kataku dan lagi-lagi jae jin tertawa.
@rumah sakit
“apakah tidak sakit?”tanya perawat setelah menyuntikku.
“anni. Ini berbeda dari suntik biasanya?”
“anni. Ini sama saja. Tapi, terlihatnya kau sangat bahagia. Hingga selalu tersenyum dan tertawa kecil.”
“annio, onnie. Entah kenapa semua terlihat lucu.”kataku sambil tersenyum. Omma juga tertawa.
“kau sedang jatuh cinta!”
“annio!”
“pasti dengan namja tampan yang cute itu!”kata perawat lagi.
“kau meledekku!”
“ke...ke.. ke.. melihat anak muda sedang jatuh cinta itu sangat lucu. Malu-malu tapi, tidak bisa berbohong.”
“siapa yang sedang jatuh cinta?”kataku.
“lihatlah pangeranmu sudah menunggumu dari tadi”kata perawat menunjuk jae jin yang mengintip di balik pintu. Jae jin mengembungkan pipinya karena bosan, dia sangat lucu. Setelah mata kami bertemu dia tersenyum manis padaku. Walau dia sebenarnya bosan menunggu aku yang sedang kemoterapi tapi, jae jin selalu memperlihatkan senyumnya untuk menghiburku.
“ah.. masa muda sangat indah! Anak muda, kau sudah boleh masuk!”kata perawat yang keluar dari kamar dan berbicara pada jae jin.
“anni. Ini berbeda dari suntik biasanya?”
“anni. Ini sama saja. Tapi, terlihatnya kau sangat bahagia. Hingga selalu tersenyum dan tertawa kecil.”
“annio, onnie. Entah kenapa semua terlihat lucu.”kataku sambil tersenyum. Omma juga tertawa.
“kau sedang jatuh cinta!”
“annio!”
“pasti dengan namja tampan yang cute itu!”kata perawat lagi.
“kau meledekku!”
“ke...ke.. ke.. melihat anak muda sedang jatuh cinta itu sangat lucu. Malu-malu tapi, tidak bisa berbohong.”
“siapa yang sedang jatuh cinta?”kataku.
“lihatlah pangeranmu sudah menunggumu dari tadi”kata perawat menunjuk jae jin yang mengintip di balik pintu. Jae jin mengembungkan pipinya karena bosan, dia sangat lucu. Setelah mata kami bertemu dia tersenyum manis padaku. Walau dia sebenarnya bosan menunggu aku yang sedang kemoterapi tapi, jae jin selalu memperlihatkan senyumnya untuk menghiburku.
“ah.. masa muda sangat indah! Anak muda, kau sudah boleh masuk!”kata perawat yang keluar dari kamar dan berbicara pada jae jin.
“omma rasa kita tidak perlu terburu-buru. Lagian su jin
sudah membaik. Bahkan dokter mengatakan su jin bisa sembuh tanpa operasi.”kata
omma.
“ne, oppa. Aku akan sembuh tanpa operasi”kataku.
“annio, omma. Aku memang ingin segera menikah dengan chaerin. semakin cepat kami menikah maka aku akan lebih tenang. Aku ingin memperlihatkan pada su jin kalau chaerin yeoja yang sangat tepat untukku.”kata jiyong oppa tersenyum lembut sambil menggegam tangan chaerin onnie.
“ne, oppa. Aku akan sembuh tanpa operasi”kataku.
“annio, omma. Aku memang ingin segera menikah dengan chaerin. semakin cepat kami menikah maka aku akan lebih tenang. Aku ingin memperlihatkan pada su jin kalau chaerin yeoja yang sangat tepat untukku.”kata jiyong oppa tersenyum lembut sambil menggegam tangan chaerin onnie.
Hari ini hari pernikahan jiyong oppa dan chaerin onnie.
Saking senangnya aku jadi deg-degan.
“uri su jin begitu bahagia. Dia terlihat sangat cantik”kata omma.
“ne, bisa-bisa orang mengira su jin pengantin wanitanya”kata chaerin onnie tersenyum.
“apakah aku sudah tampan?”kata jiyong oppa sambil melihat kekaca.
“tentu saja aku sangat tampan”kata jiyong oppa yang mencoba membuang rasa gugupnya. Kami pun tertawa melihat tingkah oppa yang lucu.
“uri su jin begitu bahagia. Dia terlihat sangat cantik”kata omma.
“ne, bisa-bisa orang mengira su jin pengantin wanitanya”kata chaerin onnie tersenyum.
“apakah aku sudah tampan?”kata jiyong oppa sambil melihat kekaca.
“tentu saja aku sangat tampan”kata jiyong oppa yang mencoba membuang rasa gugupnya. Kami pun tertawa melihat tingkah oppa yang lucu.
Sekarang chaerin onnie dan jiyong oppa di altar, begitu
indah. Aku turut bahagia. Jae jin yang duduk disampingku memegang tanganku
lembut.
“kau bahagia?”tanyanya.
“ne! Aku sangat bahagia”jawabku.
“kau bahagia?”tanyanya.
“ne! Aku sangat bahagia”jawabku.
Author pov-
Sekarang chaerin dan jiyong di altar, begitu indah. Jae jin yang duduk disamping su jin memegang tangan su jin lembut.
“kau bahagia?”tanyanya.
“ne! Aku sangat bahagia”jawab su jin. Karena terlalu bahagia rasa sakit yang menjalar diseluruh tubuh ini tidak terasa lagi ditubuh su jin.
gemurh tepuk tangan terdengar saat chaerin dan jiyong saling berciuman.
“kau ingin merebutkan buketnya?”tanya jae jin. Karena tidak mendengar jawaban su jin, jae jin memeriksa kondisi su jin.
“siapapun tolong sujin!”teriak jae jin yang panik. Suasana pernikahan yang bahagia berubah menjadi ketegangan.
Sekarang chaerin dan jiyong di altar, begitu indah. Jae jin yang duduk disamping su jin memegang tangan su jin lembut.
“kau bahagia?”tanyanya.
“ne! Aku sangat bahagia”jawab su jin. Karena terlalu bahagia rasa sakit yang menjalar diseluruh tubuh ini tidak terasa lagi ditubuh su jin.
gemurh tepuk tangan terdengar saat chaerin dan jiyong saling berciuman.
“kau ingin merebutkan buketnya?”tanya jae jin. Karena tidak mendengar jawaban su jin, jae jin memeriksa kondisi su jin.
“siapapun tolong sujin!”teriak jae jin yang panik. Suasana pernikahan yang bahagia berubah menjadi ketegangan.
TBC
Tidak ada komentar:
Posting Komentar