jangan lupa
SKY HIGH #1
SKY HIGH#1
Author: Mahardika Putri (Dika)
Judul: SKY HIGH!!
Cast: Kwon Su Jin , Kwon Jiyong, Dan Lee Chaerin.
Genre: Sad
ini FF permintaan siti. semoga siti dan chinggudeul suka. :)
~~~~~~~~~~~~~
“jadi, berapa lama aku bisa bertahan hidup?”tanyaku pada dokter. Omma dan appa terlihat sedih dengan vonis dokter kepadaku.
Skip-
aku bersenda-gurau dengan teman-temanku seperti biasa. Tertawa dan bercanda.
“akhir-akhir ini kau terlihat pucat. Apa kau sakit?”tanya seorang temanku.
“benarkah?”kataku sambil tersenyum.
“ne!”jawab chinggudeul yang sedari tadi mengobrol denganku.
“aku sengaja biar uri oppa semakin peduli padaku”jawabku.
“serius?? ah, kau hanya berbohong”
“good bye! Uri oppa sudah menjemputku?”kataku setelah melihat mobil silver terparkir di depan sekolah.
“ne”jawab chinggudeul dan aku melangkah pergi meninggalkan chinggudeul.
Tidak mungkin juga aku mengatakan penyakitku, itu terlalu menyakitkan
untukku.
“bagaimana dengan sekolahmu hari ini? Bersenang-senanglah
bersama temanmu. Buat memori bahagia.”kata oppaku saat aku masuk
kemobil. Dia tersenyum seperti biasa.
“ne, arra oppa”kataku. Kenapa
dia tidak bertanya kondisiku dan khawatir padaku? Pasti karena baginya
aku tidak penting. Ini semua gara-gara yeoja itu.
“aku pulang!”kataku saat masuk rumah.
“masuk omma sudah masak makanan kesukaanmu”kata omma. Aku suka omma
perhatian dan keluargaku mengumpul semua. Tapi, sekarang ini seperti
hanya dalam film, palsu.
“omma, kenapa tidak ke kantor?”tanyaku.
“omma, sudah berhenti sayang.”kata omma sambil mengambil tasku yang awalnya masih tersandang di bahuku.
“karena aku?”tanyaku langsung. Omma terlihat gugup.
“kita semua mengkhawatirkanmu. Kau tidak boleh berkata seperti itu”kata jiyong oppa.
“baiklah”kataku dengan malas menuju dapur.
“appa pulang!”kata appa dari balik pintu. Omma langsung menyambut appa.
Biasanya aku dirumah dengan oppa. Omma dan appa adalah workholic.
Benar-benar melupakanku. Oppaku seorang Mr. Perfect. Dia ahli dalam
segala hal. Bakat, tampan, cerdas, serba bisa, mapan dan paling penting
dia benar-benar bisa memperlakukan yeoja dengan baik. Karena kami sering
berdua tentu saja aku dekat denganya. Tapi, kini dia sudah memiliki
yeojachingu. Dan setelah aku tahu itu, aku cemburu, aku sering
bertengkar dengannya. Mungkinkah aku mencintai uri oppa?? itu tidak
mungkin. bukankah aku adiknya?
Makan malam begitu sunyi walau kami berempat sedang berkumpul.
“omma, tidak adakah caraku untuk hidup?”tanyaku.
“aku dengar kemungkinan aku sembuh itu tipis”kataku lagi. Omma dan appa
kaget sedangkan jiyong oppa masih santai saja mendengarkan perkataanku.
“kami sudah menanyakan dengan dokter . asalkan kau mau terapi dan makan
obat secara teratur kau bisa sembuh.”jelas appa pelan. Omma menangis
kembali.
“aku dengar kemo terapi itu menyakitkan. Aku tidak ingin
terapi. Biarkan saja aku mati toh, dari awal kalian tidak peduli
padaku.”kataku cuek sambil mengunyah makananku.
Byuurr.. jiyong oppa melemparkan air putih ke mukaku. Appa dan omma terlihat kaget.
“buka matamu! Lihatlah perjuangan orang tuamu ini! Kau tahukan
sulitnya mereka bisa bersama begini. Siapa kau sebenarnya? Aku tidak
punya adik sepertimu. Adikku itu yeoja yang ceria dan kuat.”kata jiyong
oppa dan pergi dari meja makan.
“anni, bukan seperti itu Su Jin. Kami sangat peduli padamu” kata appa.
“kemarin aku di vonis bakal mati muda oleh dokter. Lalu tiba-tiba
kalian melihatkan keluarga harmonis kepadaku padahal dulu aku selalu
kesepian. Kalian kira aku bisa menerima semuanya? Kalian kira aku bisa
baik-baik saja saat kalian melihatkan keluarga bahagia itu? Omma, kenapa
kau menangis saja? Aku hanya sedang bermimpikan? Aku tidak terkena
penyakit sialan itu kan? Karena aku tidak terkena penyakit itu aku tidak
akan matikan?”kataku tanpa mengelap mukaku yang basah. lagi-lagi omma
menangis. Bahkan appa terlihat begitu sedih.
“mianhae, Su Jin. Kami
melupakanmu karena perkerjaan. Tapi, kami berfikir kami berkerja juga
untuk membiayaimu agar hidup berkecukupan.”kata appa. Aku menangis. Anak
lain pasti akan memluk orang tuanya saat seperti ini tapi, aku tidak
bisa melakukannya karena aku tidak akrab dengan orang tuaku. Jadi aku
hanya berdiri di tempatku.
“kamu akan sembuh Su Jin. Omma janji
karena sekarang perkerjaan omma adalah mengurusmu”kata omma berjalan
mendekatiku dan mengelus kepalaku. Terasa nyaman walau aku tidak bisa
membalas pelukan omma.
Jam olahraga, aku dan teman-temanku
bermain voli. Mungkin ini terakhir kali aku bermain voli dengan mereka.
Jadi aku memanfaatkan kesempatan ini. Saat jam olahraga berakhir aku dan
teman-temanku pun berganti seragam kembali. Tapi, saat aku belum
berganti pakaian kakiku terasa lemas. Benar-benar terasa kakiku ini
meleleh.
Bruuk...
“kau kenapa Su jin?”tanya temanku yang panik dan berlari kearahku. Hanya itu yang terakhir sebelum aku tidak sadarkan diri.
@rumah sakit
“omma!”kataku lemah setelah aku membukakan mataku.
“kau masih lelah?”tanya omma lembut. Omma terlihat begitu khawatir walau dia mengatakannya seperti biasa.
“ne, omma.”kataku.
“kau sakit atau sengaja menakut-nakuti temanmu, oh?”tanya Jiyong oppa. Kenapa disaat begini dia mengajakku bertengkar?
“adikmu masih lemah kenapa kau menggangunya?”kata omma sambil memukul bokong oppa pelan.
“Su Jin, kau sudah sadar? Appa membeli makanan kesukaanmu jadi cepatlah sembuh.”kata appa yang baru datang.
“ne!”kata oppa.
“aku tidak membelikannya untukmu, Jiyong!”kata appa. Terlihat wajah
kecewa oppa yang begitu lucu. Sudah lama aku tidak melihatnya.
Aku bersiap-siap untuk sekolah.
“omma, aku pergi dulu.”kataku pamitan dengan omma yang sedang memasak.
“sarapan dulu. Nanti kalau kenapa-kenapa bagaimana?”kata omma.
“hari ini jam pertama adalah mata pelajaran favoritku”kataku sambil keluar dari rumah.
“anak ini!”teriak ibu yang terdengar dari luar rumah.
@sekolah, di kelas saat belajar.
tok.. tok.. tok.. seseorang mengetuk pintu kelasku. Guru segera keluar,
teman-temanku terlihat terkejut, mata mereka membesar sambil menutup
mulutnya seperti terpesona akan sesuatu.
“Su Jin, kemari!”kata
guruku. Aku pun keluar. Ternyata Jiyong oppa yang datang sambil
membawakan makanan padaku. Pantas saja teman-temanku terlihat terpesona.
“aku mohon sam, izinkan uri dongsaeng makan saat di jam pelajaran”kata oppa.
“oh, ne”kata guruku mengaguk.
“uri omma sudah membuatkan makanan untukmu jadi makanlah”katanya sambil mengelus kepalaku lembut.
“saya permisih dulu sam”kata oppa. Aku pun masuk kembali kekelas.
“segera makan, sarapanmu. Pelan-pelan saja makannya”kata guruku.
“ne”jawabku.
“kau begitu beruntung punya oppa tampan yang perhatian denganmu”kata temanku.
“oppamu, kuliah dimana?”
“sekarang dia semester apa?”
“dia ambil jurusan apa?”
“kalian bisa tenang tidak? Oppaku sudah punya kekasih!”kataku kesal tapi, masih pelan.
“apa kekasihnya cantik?”tanya temanku penasaran. Aku menatapnya dengan tatapan tajam.
“sangat cantik!”jawabku dengan berat hati. Kekasih oppa memang cantik
tapi, oppaku yang cute ini mempunyai kekasih yang terkesan garang itu
aku tidak suka. Bahkan tatapan matanya seakan mengatakan “oppamu akanku
tahlukkan”, begitu mengerikan.
“cepat makan makananmu”tergur sam.
“ne..”jawabku sambil membuka kotak makanku.
@rumah sakit.
aku baru selesai kemo. Awalnya tidak sakit tapi, setelah terapi selesai terasa sakit di seluruh tubuhku.
“minum dulu”kata omma sambil memberikanku sebotol air minum dan aku segera meminumnya.
“kami datang!”kata oppa yang masuk kekamarku. Di belakangnya terlihat
chaerin onnie, kekasih oppaku. Dia terlihat cantik seperti biasanya.
Senyumnya juga indah tapi, masih kalah dengan keindahan senyuman uri
oppa.
“mianhae, aku baru bisa datang sekarang.”kata chaerin onnie sambil membukuk memberi salam.
“tidak datang juga tidak apa-apa!”kataku. omma hampir saja mencubit tanganku.
“jaga ucapanmu Su Jin!”tegur oppa. Aku hanya mendengus kesal.
Author pov
Su Jin terlihat semakin lemas saat belajar. Chinggudeulnya khawatir
padanya tapi, dia selalu mengatakan dia baik-baik saja. Saat akan
berjalan menuju mobil jiyong yang telah menjeputnya lagi-lagi Su Jin
pingsan.
“keadaannya semakin parah kita perlu pendonor segera untuk
berjaga-jaga”itu yang dikatakan dokter kepada keluarga Kwon setelah
memeriksa keadaan Su Jin. Omma Su Jin menangis di bahu appa Su jin.
Mereka sedih dan binggung harus berbuat apa agar Su jin dapat selamat.
Su Jin pov
aku membuka mataku perlahan. Terasa sakit di seluruh tubuhku. Aku lupa
aku pingsan lagi. Aku lihat sekelilingku. Tidak ada omma, tidak ada appa
dan tidak ada oppa. Hanya seorang yeoja yang tertidur disisi kasurku
dan aku yakin yeoja ini adalah chaerin onnie. Kenapa dia tidur disini?
Apa hanya cari muka dengan orang tuaku? Tidak mungkin dia menjagaku
tanpa alasan.
“kau sudah bangun?”katanya sambil mengangkat kepalanya.
“ne. Mana uri omma?”tanyaku ketus.
“omma dan appamu sedang keluar kota, ada yang harus di urus. Oppamu ku
suruh istirahat agar siang ini bisa menghadiri rapat penting.”jelas
chaerin onnie. Wajahnya terlihat sangat lelah.
“cih, anaknya sakit malah keluar kota. Kenapa aku tidak segera saja mati”kataku.
“jangan berbicara seperti itu! Hidup itu anugrah. Kau tahu? Banyak anak
kecil yang menangis ingin sembuh dari penyakitnya dan dia berjuang
mati-matian.”kata chaerin onnie. Aku memalingkan mukaku pura-pura tidak
mendengarkannya.
“annyeonghaseo! Apakah su jinssi sudah bangun?”kata perawat yang baru saja datang.
“ini sarapannya ne”kata perawat itu pergi. Aku segera makan sarapanku
tanpa menawarin chaerin onnie. Lagian tidak mungkinku tawari makanan
tanpa rasa ini.
“makan obatnya dulu”kata chaerin onnie setelah aku selesai makan.
“anni!”kataku. chaerin onnie menyodorkan obat itu kedepanku. Dan aku menepis tangannya dan obatnya hampir terjatuh.
“sudah aku bilang AKU TAK INGIN MEMAKANNYA!”teriakku.
“WAE?”katanya tak kalah keras.
“untuk apa aku sembuh kalau keluargaku saja tidak ada yang peduli padaku. Mending aku mati saja”kataku.
“babo! Oppamu sangat khawatir padamu. Dia sengaja pura-pura tidak
khawatir dan tegar agar kau menjalani hari-harimu seperti biasa dengan
ceria. Dia ingin kau tetap semangat seperti biasa. Seakan-akan kau tidak
menderita penyakit ini. Tidakkah kau tahu oppamu begitu
menyangimu?”jelas chaerin onnie.
“bahkan dia ingin tulang sum-sumnya
untukmu. Agar kau tetap bisa bertahan hidup. Tapi, kata dokter itu
tidak perlu dilakukan karena dokter yakin kau bisa sembuh tanpa operasi
itu. Semua keluargamu begitu menyayangimu.”kata chaerin onnie.
“tidakkah kau ingat, saat umurmu 10 tahun terjadi kecelakaan mobil.
Appamu melindungi kepalamu hingga tanggan kirinya tergores aspal dan
lukanya sangat parah. Perlu waktu 3 bulan agar lukanya benar-benar
kering. ommamu pernah jebur ke laut karena kau berenang terlalu jauh
dari bibir pantai. Padahal ommamu tidak pandai berenang. Dan akhirnya
orang-orang bukan mengolongmu melainkan menolong ommamu yang hampir mati
tenggelam. Oppamu itu terkenal jenius tapi, dia begitu bodoh saat
kalian bersama. Dia sering memelukmu dari belakang seperti anak yang
tidak ingin di tinggalkan ommanya.”jelas chaerin onnie emosi tapi, tetap
dengan nada yang tenang. Aku mengingat kejadian itu dan menangis.
Chaerin onnie benar dan kata-katanya menusuk hatiku. Ucapanya benar
hanya aku tak mau mengakunya.
“sekarang makan obatmu! Aku dengar kau
rajin kemo dan suka membuang obatmu. Tapi, kalau tidak makan obatmu
teratur kau tidak akan sembuh.”kata chaerin onnie sambil memberikanku
obat tadi. Tapi, aku diam saja pura-pura tak melihat apa-apa.
“kau
sangat sayang oppamu tapi, tidak suka dengan hubungan kami . kalau
begitu kau mati saja cepat! Dengan begitu aku dan jiyong oppa bisa
menjalani hubungan ini dengan tenang dan menikah secapatnya.”katanya.
“selama aku hidup. Tak akan aku biarkan itu terjadi”kataku kesal sambil
mengambil obat ditangannya dan memakan obat itu segera. Tapi, chaerin
terseyum senang.
“aku bilang ‘aku tak akan setuju hubungan kalian’. kenapa kau senang?”kataku.
“kau menuruti kataku. Tentu aku senang. Dan tak lama lagi kau pasti
akan setujui hubungan kami, su jin”kata chaerin onnie dan memberikan
penekanan di namaku.
“mimpi!”kataku tapi, chaerin onnie tetap tersenyum senang.
TBC
Tidak ada komentar:
Posting Komentar