jangan lupa

JANGAN LUPA KOMENTAR YA..

Kamis, 03 Maret 2016

Oppa, I missing you



Tittle : Oppa, I missing you
Author : Kim Daisy
Catagory : Family,angst
Cast : Soo Rin, Jiyong, Chaerin and other

Mungkin ini memang bukan FF yang memunculkan romantisnya SKY DRAGON karena FF ini memang aku berikan untuk teman baikku yang udah pergi tepat di tanggal ini dan para INFI tentunya.

~~~~~~~~~
Aku menangis walau awalnya ini hanya acting untuk memanggil oppaku tapi, aku kini benar-benar menangis dalam kesedihanku.
“kau t.tidak apa-apa? Aku akan segera mencari oppamu. Sungguh. Kau jangan menangis lagi”kata pengelola apartmen panik melihatku menangis. Sedangkan aku masih terduduk di sudut apartemen mahal oppaku sambil menangis. Aku merindukannya. Sangat merindukannya dan membutuhkannya.

FLASH BACK
Saat itu aku masih di sekolah dasar tahun terakhir, appa membawaku ke rumah istri barunya sekaligus omma baru untukku.
“ini ommamu dan ini oppamu, dia sangat tampankan?”kata appaku. Saat itu aku mengenakan baju yang banyak renda-renda, sepatu hitam berhak kecil dengan kaos kaki yang berenda dan rambutku di tata rapi dengan jepit bernuansa sama dengan pakaianku serta sebuah boneka gadis kecil yang berpakaian sama sepertiku.
“ne”jawabku setelah mencermati oppaku itu. Dia terlihat tampan walau hanya mengenakan celana jins dan kaos polos.
“kau cute, seperti tokoh anime jepang. Hem.. gadis loly*?”kata “oppa”. (*loly adalah cewe yang suka tampil lebih muda biasanya tampil dengan seragam sekolah atau pakaian berenda alla bangsawan eropa dijaman dulu)
“gomawo, oppa.”kataku sambil tersenyum seadanya. Ini pertama kali aku bertemu dengannya tentu kami belum akrab.
“namaku Jiyong, namamu?”
“soo rin, Mong Soo Rin.”
“Soo Rin, kajja aku akan mengantarmu ke kamar barumu. Omma telah menyiapkan semua untukmu.”jelas Jiyong oppa sambil membawaku naik ke atas, sepertinya kamarku dilantai dua.

Semenjak perkenalan kaku itu aku dan oppa menjadi semakin akrab. Oppa selalu mengantar ku ke sekolah tapi, jika pulang aku harus bersama teman-temanku karena oppa pulang lebih lama dibandingkan aku.
Omma telah siap menghidangkan makan malam untuk kami. Oppa baru saja turun dengan rambut yang basah karena dia baru pulang dari kegiatan sekolahnya.
“kau ini, jangan turun sebelum rambutmu kering! Bagaimana jika terpeleset karena air yang menetes?”kata omma sambil mengambilkan appa nasi ke piringnya.
“mianhae, omma. Aku akan hati-hati.”kata Jiyong oppa dengan senyuman manisnya.
“Soo Rin, tadi pagi apa yang teman-temanmu katakan?”Tanya Jiyong oppa sambil tersenyum, sepertinya dia semangat sekali.
“oppa, aku besok pergi sendiri saja.”jawabku tanpa sadar bibirku sidikit manyun karena kesal.
“wae?”Tanya oppa binggung.
“wae Soo Rin?”Tanya appa cemas.
“uri chinggu. Mereka semua minta di kenalkan dengan oppa besok. Mereka meminta nomor ponselmu. Kau tau mereka menghantuiku. Itu kerena kau oppa.”ceritaku. omma dan appa menjadi tertawa karena ceritaku.
“kau harus bersabar, magne. Oppamu ini memang terlahir tampan makanya kau harus kuat jika berada disisi oppa. Arrasao?”kata oppa percaya diri.
“hmm.. omma.. appa. Besok adalah kelulusanku. Kalian bisa datang kan?”Tanya Jiyong oppa.
“tentu saja.”kata omma.
“hmm… kali ini kau dapat prestasi apa lagi?”Tanya appa. Jiyong oppa memang selalu berprestasi terlihat dari banyak piala dan sertifikat prestasinya yang di pajang di ruang tengah.
“itu rahasiaku.”jawab Jiyong oppa dengan senyuman manisnya.
“Soo Rin, kau juga datang kan?”Tanya oppa.
“sepertinya besok aku harus mencuci rambut Ji Soo agashi ( nama boneka) dan berbelaja bersama dengannya. Tapi, akan aku pikirkan.”jawabku bercanda tapi, itu membuat Jiyong oppa gemas padaku.
“yak, uri yeojadongsaeng begitu genit. Aku harus menjaganya.”kata Jiyong oppa sambil mendekatiku dan memelukku dengan erat. Dia tertawa saat tau aku sesak.
“oppa!”kataku sambil berusaha melepaskan pelukannya yang erat.
“sudah-sudah! Ayo, makan.”kata omma. Appa terlihat tertawa.

@kelulusan Jiyong
“lihat oppamu! Kau harus seperti dia karena dia oppamu.”kata appa sambil menunjuk Jiyong oppa yang berdiri di atas podium karena kelulusannya. Jiyong oppa melihat kearah kami dan dia tersenyum. Aku duduk di antara omma dan appa.
“Soo Rin, oppamu sangat di gilai yeoja. Apakah kau cemburu?”Tanya omma padaku.
“aku? Anni! Oppa selamanya milikku.”jawabku sambil melihat Jiyong oppa yang masih berpidato.
“jika dia memiliki kekasih apa kau marah?”Tanya omma.
“anni! Karena oppa tak akan punya kekasih.”jawabku.
“wae?”Tanya appa yang tiba-tiba mendengarkan aku dan omma bicara.
“karena aku akan mengusir yeoja-yeoja yang mengoda Jiyong oppa.”kataku serius. Omma dan appa tertawa setelah mendengar jawabanku.
“kau ini sangat menyukai oppamu?”Tanya omma yang menahan tawanya.
“ne”jawabku mantap.

Baru saja Jiyong oppa keluar, dia langsung di kelilingi yeoja. Yeoja-yeoja itu tidak hanya teman seangkatanya tapi, juga juniornya.
“oppa, kajja!”kataku sambil menarik tangan Jiyong oppa dan berhasil menyelamatkannya dari kerumunan.
“wae?”tanyanya.
“aku menyelamatkanmu. Kajja, omma appa menunggu kita.”kataku.
“ini.”kata oppa sambil memberikan sesuatu di tangan kananku.
“ini kancing kedua seragamku.”kata Jiyong oppa sambil tersenyum.
“kau tidak memberikan pada yeoja yang kau suka?”
“tidak ada yeoja yang aku suka.”jawab Jiyong oppa enteng.
“kau normal kan, oppa?”tanyaku cemas. Jiyong oppa malah tertawa.

@Tiga tahun kemudian
Aku mengenakan baju yang terkesan manis dan berdandan tipis, hanya bedak dan lipsgloss saja.
“OK!”kataku saat melihat bayanganku di Cermin. Aku segera turun dari tangga.
“kau mau kemana?”Tanya appa yang di duduk di sofa sambil menonton TV.
“kata oppa kencan.”jawabku.
“kau perlu uang?”Tanya omma yang di dapur sepertinya omma sedang menyiapkan makanan.
“anni. Tapi, jika omma ingin memberikanya omma bisa mentrasferkan ke rekeningku.”jawabku tersenyum. Terdengar tawa omma di dapur.
“kau ini. Sana, pergi. Jika kau terlambat kencanmu bisa gagal.”kata appa.
“omma. Appa aku pergi.”kataku sambil keluar dari rumah.
Sebuah mobil putih sudah menunggu di depan rumah dan aku segera membuka pintunya.

@ruang bioskop
“oppa, kau sebenarnya pemilih atau tak laku?”tanyaku sambil mengambil popcorn di tangannya.
“nonton saja, jangan cerewet!”kata oppa.
“oppa, aku ini adikmu. Bukan yeojachinggumu kenapa kau selalu mengajakku kencan?”tanyaku.
“apakah aku tidak boleh mengajak adikku berkencan?”katanya. Dia mengerakkan matanya dan menunjukkan ekpresi sebal kerena aku selalu bicara.
“Jiyong..”kata seorang yeoja cantik yang mendekati kursi kami, dia bersama sekelompok orang. Film belum dimulai jadi lampu belum dimatikan.
“kau dengan siapa?”Tanya yang lain. Jiyong oppa hanya tersenyum dan menatapku, ahhh.. dia memanfaatkanku. Seseorang mengulurkan tangannya padaku.
“kami teman-temannya Jiyong. Namaku So Hee.”kata yeoja cantik itu.
“Soo Rin.”kataku sambil membalas jabatan tangannya.
“kau kuliah?”tanyanya padaku.
“tidak dia masih sekolah.”kata Jiyong oppa.
“oh, kau suka yang jauh lebih muda. Sepertinya kami harus ketempat duduk kami dulu, film akan dimulai.”kata yeoja itu. Mereka pun ketempat duduknya.
“oppa, kau mengajakku untuk menghindari jika kejadian seperti tadi kan?”tanyaku sambil berbisik pada oppa.
“uri Soo Rin memang cerdas.”kata Jiyong oppa tersenyum lebar dan mengelus lembut kepalaku.
“kau tak mengatakan aku ini adikkmu jadi pasti kau memanfaatkanku , lagi.”
“aah.. filmnya kan di mulai.”kata Jiyong oppa sambil menyuapi aku dengan popcorn.
“jika namja tidak ada yang mendekat padaku karena takut kau oppa, kau harus bertanggung jawab.”kataku sambil mengunyah. Oppa paling benci didekatin dengan yeoja agresif dan jika dia pergi sendiri yeoja-yeoja seperti itu selalu mendekatinya tapi, jika dia membawa dengan teman namjanya mereka akan kesal karena oppa yang menyedot perhatian yeoja. Walau pun temannya juga tampan tapi, oppa jauh lebih tampan dan kharismatik.

Saat aku baru saja pulang sekolah, di dalam bus tubuhku menjadi lepas. Aku merasa perutku sangat sakit bahkan karena menahan sekit perut ini tubuhku keluar keringat dingin.
“hakseng, gwinchana?”Tanya onnie yang duduk di sampingku.
“apakah kau punya obat magh onnie?”kataku lemah. Dia dengan panik membuka tasnya.
“ini. Minum ini.”katanya sambil memberikan obat magh dan air mineral. Selang beberapa saat aku merasa baikan.
“sudah baikan?”tanyanya.
“ne, gomawo onnie.”kataku sambil tersenyum.
“aku turun dulu. Hati-hati ya hakseng.”katanya sambil tersenyum. Onnie itu sangat cantik, dia seniorku saat aku sekolah dasar dulu. Walau aku tak akrab dengannya dan hanya mengetahui namanya saja aku mengidolakannya. Entah apa yang membuat aku tertarik dengan Chaerin onnie hingga seperti ini. Dan fakta yang mengejutkan lagi, Chaerin onnie diam-diam mengidolakan oppaku, Jiyong oppa. Bagaimana aku tahu? Anggap saja aku mata-mata.
“onnie, ini berharga untukku. Ini untukmu.”kataku sebelum dia berdiri.
“gomawo.”kata onnie itu saat dia melihat benda yang baru saja aku berikan untuknya.

@tiga tahun kemudian
“mereka kecelakaan dijalan karena tabrakan masal”jelas polisi. Piagam kelulusanku langsung terhempas begitu saja. Dadaku terasa sesak. Air mataku mengalir begitu saja. Aku tak bisa bicara karena rasa panas dan sesak di dadaku.
“bagaimana keadaan mereka?”Tanya Jiyong oppa.
“mereka sedang dibersihkan di rumah sakit S. maaf, kami tidak dapat menyelamatkan kedua orang tua kalian karena mereka meninggal di tempat.”jelas polisi. Aku sudah mengira bakal seperti ini. Air mataku semakin tak tertahankan. Tubuhku melemas aku hanya mampu menangis saat ini. Jiyong oppa juga terlihat terpukul tapi, sepertinya dia lebih kuat dari pada aku.

@keesokan harinya
Dengan pakaian serba hitam aku duduk di depan foto omma appa, aku berusaha tegar. Ini acara pemakaman mereka hanya saja aku sendirian disini menemani para tamu karena oppa sedang berkelahi dengan pengacara. Sepertinya hal buruk menimpa kami, lagi.
Saat kami tiba di rumah, alat elektronik dan perabotan sudah banyak yang di bawa. Hanya pakaian kami dan rumah yang tersisa. Appa bangkrut karena salah memilih rekan bisnis. Apa yang harusku perbuat?
“oppa, kapan kita harus meninggalkan rumah?”tanyaku lemas. Air mataku kembali mengalir tanpa dipinta.
“sudahlah. Jangan menangis lagi! Kau pasti lelah. Jangan fikirkan itu, oppa tak akan menggalkanmu begitu saja.”jawab Jiyong oppa sambil memelukku dari belakang. Tapi, kenapa tangisku semakin keras.

@seminggu kemudian
“ini Taeyang, dia sahabat oppa. Kau tinggal disini untuk sementara. Anggap dia oppamu. Ok?”Tanya Jiyong oppa padaku.
“kau?”tanyaku singkat.
“aku di terima disebuah kerjaan yang sudah ada tempat tinggalnya. Sesekali aku akan kesini. Aku pergi kerja dulu.”kata Jiyong oppa sambil mengelus rambutku dengan lembut.
“oppa, kau kerja dimana?”
“aku baik-baik saja. Kau jangan khawatir denganku. Aku kerja dulu”kata Jiyong oppa sambil mencium pipiku. Dan Jiyong oppa pergi meninggalkanku.
“dia sangat menyanyangimu. Ayo, masuk! Aku tunjukan kamarmu.”kata Taeyang oppa sambil mengakat koperku.
“maaf, aku tidak hadir dipemakaman karena aku sedang dinas diluar kota saat itu.”jelas Taeyang oppa. Apartemnnya terlihat mahal. Sangat luas jika di tempati sendiri.
“kau kerja dimana, oppa?”
“aku hanya menjalankan perusahaan ayahku.”
“kau tidak bisa menerima oppaku menjadi karyawanmu?”
“sayangnya tidak ada perkerjaan yang pantas di kantorku untuk dia.”
“kau tinggal sendiri?”
“ne, walau aku sibuk aku akan menemanimu jika kau mau. Karena sendirian itu menyebalkan. Bagaimana?”tawarnya dengan senyuman tak kalah manis dengan senyuman Jiyong oppa.
“ne..”

Taeyang oppa menyiapkan makan untukku.
“kau yang memasaknya, oppa?”tanyaku.
“ne, kata Jiyong kau tak suka makan makanan yang dijual terlalu sering.”katanya sambil menatapku.
“ne, gomawo.”kataku sambil tersenyum tipis.
“maaf, jika rasanya sedikit aneh dan tidak enak.”
“gwincana oppa, aku tak memilih masakan rumah.”ucapku sambil tersenyum.
“akan bagus jika kau tersenyum terus.”
“itu akan bahaya karena orang bisa mengiraku depresi karena ditinggalkan keluarga.”
“kekeke.. benar kata Jiyong kau tipe gadis yang ceria. Aku senang melihatmu seperti ini, Soo Rin.”kata Taeyang oppa tersenyum.

Hari ini Taeyang oppa mengajakku jalan-jalan. Dari ketaman bermain hingga menemaniku makan malam. Ya, kami menghabiskan waktu seharian bersama. Sangat menyenangkan tapi, aku kepikiran dengan Jiyong oppa.
“apakah ini ide Jiyong oppa?”tanyaku saat aku dan Taeyang oppa berjalan menuju apartemnnya.
“tidak. Kenapa?”Tanya Taeyang binggung.
“Jiyong oppa selalu mengajakku jalan-jalan jika aku sedih.”
“jadi, apakah kau sekarang sedang sedih?”
“anni, tidak lagi! Aku senang, gomawo oppa”kataku dengan tulus sambil tersenyum dan Taeyang oppa pun membalas senyumanku.
“apakah kau sudah mengurus kuliahmu?”
“sudah, oppa. Maaf , jika aku membuatmu repot beberapa minggu ini.”
“tidak. Kau bukan seorang bayi tidak mungkin membuatku repot.”kata Taeyang oppa tersenyum.
“gomawo oppa.”
“kajja, hari dingin.”katanya sambil mengengam tanganku untuk berjalan lebih cepat.

Aku memilih tinggal di sebuah toko roti, yah aku sudah pindah dari rumah Taeyang oppa. Tidak enak jika kami tinggal berdua saja dan aku selalu merepotkannya apalagi kami tidak ada hubungan darah dengannya. Jiyong oppa tak pernah menghubungiku dan teleponnya selalu sibuk. Jadi Taeyang oppa mengizinkanku.
“selamat pa..”kataku terputus saat melihat siapa yang masuk.
“Jiyong oppa.”kataku kaget. Aku sadar yeojadeul di Café roti ini pada melihat Jiyong oppa dengan kagum. Jiyong oppa memang selalu tampil chic dan swag.
“dimana bosmu?”kata Jiyong oppa menatapku tajam. Dia marah.
“dia tidak ada disini.”jawabku kaku.
“ada perlu apa? Aku yang bertanggung jawab”Tanya ketua Tim ku.
“dia ini adikku. Dia kabur dari rumah, bisakah aku membawa dia dulu untuk bicara?”Tanya Jiyong oppa.
“ne, silahkan. Saya berikan waktu 60 menit.”kata ketua Tim sambil mendorongku keluar untuk mendekatiku pada Jiyong oppa. Jiyong oppa langsung menarikku keluar dari Café.
“oppa!!!”protesku.
“kau tinggal di toko itu, kerja di sana seharian dan kuliah dimalam hari tanpa bilang padaku. Kau kira aku siapa?”kata Jiyong oppa meledak saat kami berada di taman dekat Café.
“handphonemu selalu tak bisa aku hubungi. Kau tak pernah mengunjungiku saat di rumah Taeyang oppa. Kau bahkan tak pernah menghubungiku atau menanyakan kabarku. Jadi bagaimana aku mengatakannya padamu oppa?”jelasku.
“aku akan membiayai kuliahmu. Jadi kau tak perlu kerja lagi.”
“kau akan tetap membuangku?”kataku sambil menangis. Jiyong oppa memelukku.
“oppa, janji gak meninggalkanmu lagi.”kata Jiyong oppa menenagkanku rapi, air mataku masih mengalir.

@supermarket.
“siapa tadi? Benar oppamu?”Tanya ketua Tim sambil membuka mie ramen instannya.
“ne, wae? Kau terpesona?”godaku.
“hey, aku yeoja normal. Wajar aku terpesona dengan namja setampan itu. Awal aku melihatmu aku merasa kau adalah manusia idola tapi, setelah aku melihat oppamu ternyata dia lebih tinggi darimu.”
“maksudnya?”
“ada 4 tipe manusia. Paling bawah ada manusia bayangan, manusia biasa, manusia idola sepertimu dan manusia khayangan seperti oppamu.”
“kau masuk dimana?”tanyaku binggung.
“kau pikir aku dengan badan dan wajah seperti ini masuk golongan apa?”
“manusia biasa.”
“manusia bayangan. Manusia biasa aja malas bicara denganku.”
“kekeke.. kau terlalu merendah onnie. Jika kau lebih sering merawat diri kau pasti lebih cantik dan harus berhenti mengemil yang manis-manis.”kataku mengingatkan.
“aku mencintai “mereka” dibandingkan adikku.”
“kau punya adik onnie?”
“adikku pemilik Café ini. Dia sibuk dengan usahanya yang lain.”
“dia tinggal dimana?”
“lain kali aku akan mangajakmu dan mengenalkannya padamu.”
“OK!”kataku semangat.
“Soo Rin.. oppamu”kata ketua tim sambil menunjuk di depan jendela. Jiyong oppa sudah menungguku di depanku yang terhalang dengan kaca. Jiyong oppa menatapku tanpa expresi, sepertinya aku bakal kena marah lagi.

@beberapa menit kemudian.
Jiyong dan Chaerin berjalan beriringan di malam yang dingin. Sejak keluar dari market tadi Jiyong sudah marah-marah pada Soo Rin.
“sudahku ingatkan beberapa kali “jangan makan makanan instan! Jangan minum Teh dan kopi atau pun soda!” Apa kau tak mengerti?”omel Jiyong oppa.
‘hanya sesekali, oppa. Kau jangan cemas.”kataku sambil memasukkan tanganku ke saku jaketku.
“kita akan mengeceknya di dokter.”
“kau berlebihan oppa”kataku santai.
“kau mau kemana?”kata Jiyong oppa sambil mengerakkan kepalanya ke kanan.
“kau tak salah oppa? Ini apartemen mahal.”tanyaku binggung sambil menatap sebuah apartemen mahal di depanku.
“oppa, kau serius?”tanyaku lagi mencoba meyakinkan. Jiyong oppa menarikku masuk. Jiyong oppa mengajakku masuk di lift dan berhenti di lantai 2, dan masuk di kamar 21. Saat aku masuk apartemen mewah ini terlihat lumayan lengkap perabotannya.
“kau tidur disini, aku akan tidur di sana.”Jelas Jiyong oppa menunjukkan kamarnya.
“aku pakai kamarmu?”tanyaku.
“tentu, aku akan gunakan kamar satu lagi. Tidak masalah karena aku jarang pulang.”kata Jiyong oppa tersenyum.
“oppa, bagaimana kau mendapatkan ini semua dalam waktu singkat?”
“oh, ini apartemen temanku, aku hanya meminjamnya karena dia tinggal di luar negeri.”
“apa bayarannya?”
“tentu saja bayarannya adalah menjaga dan merawat rumah ini.”
“kau kira itu sebanding, oppa? Temanmu yang mana oppa? Aku mengenal semua temanmu”
“temanku saat sekolah dasar, kau tak mungkin mengenalnya karena aku hanya kontak lewat chatting.”
“kenapa ini seperti sebuah dongeng sebelum tidur*?! (*bohong)”celotehku sambil masuk kamar.

Saat pagi aku bangun aku melihat Jiyong oppa menggandeng yeoja keluar dari gedung apartemennya di jendela, sepertinya mereka berangkat bersama. Apakah yeoja itu kekasihnya? Oppa tidak menyukai yeoja yang “liar” tidak menyukai yeoja yang terlalu polos tapi, kenapa yeoja itu oppa terlihat begitu dekat? Padahal yeoja itu terlihat bukan yeoja baik-baik karena mengenakan baju malam yang glamor padahal matahari baru saja berdiri tegak.
Aku keluar dari apartemen mahal oppa untuk membuang sampah.
“kau siapa namja tampan itu?”kata ahjuma, aku rasa dia bibi di apartemen sebelah.
“aku adiknya.”jawabku.
“benar-benar adiknya?”
“ne, wae ahjuma?”
“pantas saja biasanya yeoja yang kesini langsung pulang jika matahari sudah terik begini. Kau tahu kekasih oppamu yang mana?”
“tidak. Maksudku, yeoja yang dibawanya memang cantik-cantik tapi, aku hanya memastikan. Oh, ya. Apa kerjaan oppamu kenapa dia jarang pulang dan sering pulang dipagi hari?”Tanya ahjuma itu. Cantik-cantik? Berarti banyak yeoja yang pernah kesini.
“ahjuma, kau terlalu ikut campur.”kataku dan kembali masuk ke dalam. Apa kerjaan oppa? Oppa tak mungkin melakukan kerjaan kotorkan? Tapi, wajar saja jika aku khawatir dan curiga kerena banyak sekali yang membuat aku mengarah ke sana.

Aku menuangkan susuku ke mangkuk, aku membuat sereal untuk sarapanku. Oppa tidak pulang tadi malam.
Piip. Pintu terbuka. Oppa keluar dari balik pintu.
“oppa, kau kerja apa?”tanyaku sambil menuangkan serealku.
“kau jangan cemas! Aku tak kerja aneh-aneh.”jawab Jiyong oppa dengan suara berat. Matanya terlihat lelah.
“oppa kau kerja di club malamkan?”
“aku tak ingin berbohong denganmu. Ya, aku kerja sebagai DJ”
“lalu, kenapa kau membawa yeoja-yeoja kesini.”
“mereka mabuk dan aku terpaksa membawa mereka disini karena kami minum bersama, hanya itu kau jangan khawatir. Aku bukan bajingan.”kata Jiyong oppa masuk ke kamar dan menutup pintu.
“jika kau hanya DJ kau tak punya tugas membawa yeoja-yeoja liar itu kesini kau bisa meninggalkan mereka di club, oppa. Kau bukan superhero! Dan aku bukan anak kecil yang bisa kau tipu dengan dongeng rendahan itu.”teriakku agar dia mendengarkannya. Aku habiskan serealku dan ku bawa barang-barangku.
Aku tak bisa melihat oppa seperti ini mending aku tak melihatnya.

@Jiyong Pov
Aku baru bangun dari tidurku. Sekarang pukul lima sore dan aku segera mandi. Sebelum aku pergi aku mencari Soo Rin tapi, dia tak ada di kamarnya. Dia tak ada shift malam di Café tempat kerjanya.
Saat aku pulang kerja aku juga tak melihat Soo Rin bahkan aku tak melihat perubahan rumah ini sedikit pun sejak aku tinggalkan. Apa Soo Rin jogging?

@Club malam
“kau kenapa oppa?”Tanya yeoja yang beberapa akhir ini aku sadari ada di hatiku.
“adikku sepertinya kabur dari rumah. Dia tak pulang beberapa hari ini.”jawabku sambil meneguk minuman berakohol di tanganku.
“kau sudah mencari di tempat kerjanya. Untuk saat ini aku belum sempat. Kau tahukan kerjaanku.”
“ne, oppa. Mungkin dia tak suka kau pulang dengan yeoja atau dia melihatku saat aku menjemputmu?”
“Lady, ada tamu yang ingin menemuimu.”kata seorang pelayan namja berbadan besar sedikit berteriak agar kedengaran.
“aku akan kesana. Oppa, kau istirahatlah malam ini. Besok kau bisa mencari adikmu.”kata yeoja itu lembut berbisik di telingaku karena club ini sangat ramai. Aku menarik tangan gadisku dan mengecup tangannya sekejab. Dia tersenyum padaku. Bagaimana mungkin yeoja selembut itu bisa memiliki club malam seperti ini? Dia bukan yeoja liar. Hanya saja ini bisnis baginya. Bisnis inilah yang menguntungkan hingga dia bisa membuat took-toko “bersih” di bidang makanan.
“Chaerin, jangan lama-lama! Aku ingin kau temani.”kataku. Aku yakin dia mendengarku karena kini dia tersenyum dan pergi.
Aku bertemu dengan Chaerin karena dikenalkan oleh temanku. Temanku mengatakan Chaerin fansku sejak dia berumur 14 tahun. Tapi, setelah bertemu dengannya malah aku yang mengaguminya. Aku meminta kerjaan ini dengannya. Dia menyarankanku kerja di restorannya atau toko kuenya tapi, gajinya tak mencukupi untuk kuliah Soo Rin dan hidup kami makanya aku kerja di sini sebagai DJ walau terkadang aku harus menemani tamu yeoja minum untuk menambah penghasilanku. Masalah apartemen yang aku tinggali Chaerin yang membelikannya untukku walau aku rasa itu sangat berlebihan. Hubungan kami memang lebih dari teman dan bos-karyawan.

Hari ini aku meminta izin kepada atasan Soo Rin untuk libur hari ini. Lagi-lagi aku menariknya di taman dekat café untuk bicara berdua.
“kenapa kau kabur lagi?”kataku kesal.
“karena pekerja kotormu, oppa!”teriak Soo Rin.
“kau benci pada kerjaanku?”
“ne!”
“jika aku hanya pelayan biasa apa kau kembali?”
“ne, jika tidak pelayan di club malam”kata Soo Rin tegas tapi, ada getaran di suaranya. Dia berubah jadi dewasa sekarang.
“aku akan meninggalkan kerjaanku untukmu. Aku akan menjemputmu kembali.”
“aku tunggu!”kata Soo Rin sambil berpaling dan pergi. Sudah seminggu aku tak melihatnya dan dia terlihat lebih kurus dari terakhir kali aku melihatnya. Apakah dia makan dengan baik?

@Author Pov
Karena masalahnya dengan oppanya Soo Rin makan tidak beraturan bahkan dia makan sekali sehari dan makan makanan instan, melupakan penyakitnya.
“seminggu ini kau makan-makanan instan. Kau sudah minum obatmu?”kata ketua Tim tempat Soo Rin berkerja.
“aku tak sakit kenapa minum obat?”
“Kau terlihat flu, Soo Rin.”
“kenapa kau kesini ketua?”Tanya Soo Rin yang terduduk di lantai lokernya.
“aku ingin mengajakmu menginap di rumah adikku. Kau pasti bosan di Café saja.”kata ketua dengan senyuman.
“aku tak apa-apa.”
“tapi, kau ingin melihat adikku.”

@rumah adik ketua tim
“onnie!”kata yeoja di dalam rumah saat ketua tim masuk.
“Chaerin, onnie.”gumam Soo Rin. Chaerin melihat Soo Rin binggung.
“kau mengenalku?”Tanya Chaerin onnie.
“kau senior yang aku idolakan sejak sekolah dasar karena lukisanmu dan puisimu. Ini memalukan.”kata Soo Rin dengan polos.
“kau berkerja di café juga?”Tanya Chaerin sambil tersenyum
“ne, onnie. Aku juga pernah memberikan kancing oppaku padamu karena aku memberikanku obat magh di bis”kata Soo Rin sedikit gugup.
“kau sepertinya sangat mengidolakan adikku ini. Padahal tidak ada bagusnya dari dia.”kata ketua Tim.
“onnie!”protes Chaerin.

“Soo Rin, kau minum vitamin C?”kata ketua tim saat melihat Soo Rin menelan obatnya.
“ne, aku merasa kurang sehat akhir-akhir ini.”jawab Soo Rin sambil mengelap hidungnya.
“kau punya penyakit magh. Jangan minum terlalu sering apalagi makanmu tak teratur.”nasehat ketua tim.
“ne, onnie!”
“Soo Rin, ada yang mencarimu.”kata rekan kerja Soo Rin menghampiri Soo Rin yang baru saja istirahat.
“ne.”
“dia menunggu di lantai dua.”
“apakah oppaku?”
“anni. Seorang yeoja.”
Soo Rin segera menemui tamunya. Yeoja yang bergaya glamor duduk di meja. Hanya yeoja ini jadi tak mungkn salah.
“apa kau..?”
“ne”
“duduklah.”
“aku ingin kau berhenti menggangu Jiyong. Pergilah dari hidupnya. Kau menghancurkan Jiyong! DJ sudah menjadi hobinya tapi, kau melarangnya kau tak pantas disisinya. Aku akan membayarmu agar kau berhenti berhubungan dengan Jiyong. Ambillah dan minta lagi jika kurang. Di dalam ada kartu namaku.”kata yeoja itu begitu saja saat Soo Rin baru saja duduk dan dia menyodorkannya amplop luamayan tebal, Soo Rin rasa ini berisi cek.
“aku tak punya banyak waktu aku pergi.”
“kau berkata seperti ini. Kau tahu siapa aku?”
“ne, kau hanya anak kecil yang di rawat Jiyong kerena kasihan dan kau yeoja kecil yang tidak pantas di samping Jiyong.”kata yeoja itu dengan anggunnya dan melangkah pergi. Soo Rin membuka isi amplopnya.
“Seo hyun. Yeoja itu sangat-sangat tidak pantas untuk oppaku. Tapi, uangnya lumayan.”gumamnya dan memasukan amplop itu ke sakunya dia berniat mentrasfer uang itu ke Jiyong.

@beberapa minggu kemudian
Soo Rin mendapat tugas mengantar cake pesanan bersama ketua tim ke apartemen yang sama dengan Jiyong tinggal. Saat menunggu pemesan di lobby Soo Rin secara tak sengaja melihat Seo Hyun, yeoja yang meminta Soo Rin pergi dari hidup Jiyong dengan memberikan cek.
“onnie. Yeoja rubah! Aku harus mengecek oppaku. Jam segini biasanya dia tidur, aku tak ingin oppaku di nodai olehnya.”kata Soo Rin menggebu-gebu.
“bukankah kau masih bertengkar dengan oppamu.”
“bagaimana pun kami bersaudara, onnie.”kata Soo Rin melangkah dengan cepat menuju lift.
“aku ikut! Liftnya sedang rusak.”kata ketua Tim mengejar Soo Rin.
“cakenya?”
“sudah aku titipkan di lobby.”kata ketua tim dan menarik Soo Rin ke tangga darurat. Kami pun berlari dengan cepat agar tidak terdahulu oleh Seo hyun. Aku sungguh tak rela oppa dekat dengannya.
“dimana kamarnya?”Tanya ketua.
“disana!”kata Soo Rin sambil menunjukkan kamar 21. Soo Rin berhenti melangkah saat melihat kamar oppanya terbuka.
“kita terlambat. Yeoja itu baru saja…”
“tidak mungkin. Liftnya rusak kata resepsionis.”kata ketua tim sambil menarik Soo Rin. Kamar Jiyong terbuka dan seorang namja berdiri di depan pintunya. Tapi, namja itu bukan Jiyong. Dan Soo Rin kaget saat melihat ruangan itu kosong.
“dimana pemiliknya?”Tanya ketua Tim. Karena Soo Rin terlalu lemas untuk bicara.
“dia telah menjualnya. Baru saja keluar tadi malam.”kata namja itu.
“atas nama siapa?”kali ini Soo Rin bicara.
“kwon Jiyong. Kau siapa? Yeojanya juga?”kata namja itu melihat Soo Rin dengan remeh. Image Jiyong sepertinya sangat buruk di apartemen ini.
“dia adiknya”kata ketua tim mewakili Soo Rin. Soo Rin berjalan kesudut ruang dan duduk sambil bersender. Dia menangis.
“oppa meninggalkanku? Oppa membuangku?”katanya sambil menangis.
“kau tahu dimana dia pindah?”kata ketua tim pada namja penjaga apartemen.
“aku tak percaya kau adiknya. Kau yeojanya juga kan? Kau mencintai Jiyong tapi, dia meninggalkanmu karena tak menyukaimu.”
“jika aku boleh mencintai seharusnya pria itu Taeyang oppa! Aku benci Jiyong oppa!”kata Soo Rin terisak. Beberapa kali Soo Rin menangis sambil seakan-akan dia muntah.
“kau t.tidak apa-apa? Aku akan segera mencari oppamu. Sungguh. Kau jangan menangis lagi”kata pengelola apartmen panik melihat Soo Rin menangis.
“Aku merindukannya. Sangat merindukannya dan membutuhkannya. Huaks..”kata Soo Rin menangis dan kini dia telah muntak benaran.
“SOO RIN!! Kau tak papa? Kau minum soda lagi? Kau! TOLONG PANGGIL AMBULANCE!!”teriak ketua tim histeris sedangkan Soo Rin terus muntah-muntah. Dia tak bisa menahan rasa mual di perutnya karena maghnya kambuh tapi, ini sangat parah karena sudah lebih dari seminggu Soo Rin makan tak bertauran bahkan dia minum vitamin C dan soda yang tak baik untuk lambungnya yang sudah bolong.
“SOO RIN SADARLAH! AKU SUDAH BILANG KAU HARUS MAKAN!”
“ada apa! Karpet mahalnya!”teriak pengelola apaertemn saat melihat muntah Soo Rin di karpet.
“diam kau! Ambilakan air putih dan cepat panggil ambulance!”perintah ketua Tim.
Soo Rin yang lemah kini di bawa oleh ambulance menuju rumah sakit.
“Soo Rin, kau harus kuat. Kau belum ketemu oppamu. Kau harus bangun dan mencegah rubah itu mendekati oppamu! Soo Rin kau jangan membuatku takut”kata ketua tim sambil menangis mengegam tangan Soo Rin yang lemah.
“oppa, aku sangat sangat ingin bertemu denganmu. Aku menyayangimu oppa. Kau keluargaku walau kita tak ada hubungan darah tapi, tetap saja kau adalah oppaku. Aku ingin kau tulus mencintai seorang yeoja. Aku sungguh tak bermaksud untuk menjodohkanmu tapi, aku ingin sekali kau mengenal Chaerin onnie dan mencintai yeoja seperti dia. Dia sangat mengagumimu, oppa. Seperti aku mengaguminya. Oppa. Kehidupan selanjutnya aku ingin menjadi adikmu lagi tapi, saat itu tiba aku ingin melihat istrimu dan pastinya aku ingin menghadiri pernikahanmu.”kata Soo Rin dalam hati sambil memejamkan matanya.
“gawat! Detak jantungnya melemah.”kata perawat sambil mencoba memompa detak jantung Soo Rin dan memberikan Soo Rin oksigen.
Tiiiit…..
“SOO RIN!! AKU MOHON KAU BANGUN!! MATIMU TAK MASUK AKAL. AKU TAK PERCAYA KAU SEMUDAH ITU PERGI!”kata ketua tim histeris sambil menangis.

@di tempat lain
Jiyong dan Chaerin sedang berbenah di apartemen baru Jiyong, mereka berniat tinggal bersama jadi butuh yang lebih besar lagi dari sebelumnya.
“kau punya adik?” Chaerin. Jiyong langsung memberikan foto berukuran besar yang dibingkai. Dia adikku dan sekarang keluargaku satu-satunya.
“dia tahu kita saling mengenal?”
“sepertinya tidak. Kenapa?”
“awal aku bicara denganya dia memberikanku sebuah benda berharga miliknya.”
“apa itu?”
“sebuah kancing seragam sekolah. Aku rasa milik kekasihnya.”
“dia tak pernah memberitahukanku tentang namja yang dia sukai.”kata Jiyong. Chaerin mengambil benda di dompetnya.
“ini. Katany ini jimat keberuntunganya.”kata Chaerin sambil memberikan kancing pada Jiyong. Jiyong meletakkan kardus barangnya ke lantai dan mengambil kancing itu.
“ini kancing miliku. Kenapa dia memberikan padamu?”
“aku menolongnya saat aku naik bis dan dia duduk di sebelahku. Penyakit maghnya kumat. Saat itu aku high school.”
“dia selalu mengusir yeoja yang di dekatku karena dia tidak menyukai yeoja-yeoja itu. Dia memberikan ini padamu artinya dia menyukaimu.”kata Jiyong tersenyum.
“kau percaya diri sekali. Mungkin saja ini milik kekasihnya.”
“aku sangat mengenalnya. Dia memilih berkencan denganku dari pada dengan namja yang mendekatinya. dia menyimpan fotoku ketimbang idolanya.”
“apakah kalian brother complex?”
“kekeke.. mungkin saja. Tapi, dia mengidolakanku.”
“lalu kau?”
“aku menyayanginya seperti keluargaku sendiri. Tapi, aku tipe yang sangat protektif pada adikku.”kata Jiyong tertawa pelan.
“jika dia tahu hubungan kita bagaimana?”
“aku rasa dia tak akan marah karena sepertinya dia lebihmu sekarang dari pada aku.”
“kenapa begitu?”
“dia pernah cerita bahwa dia menyukai seniornya yang bernah Chaerin dan itu kau.”
“kalian sangat akrab sekali. Lalu apa kau tahu dia kerja di café milikku?”kata Chaerin tersenyum.
“benarkah? Rasanya memang aku di jodohkan padamu dari surga”kata Jiyong tersenyum langsung mengecup bibir Chaerin.
“OPPA!”kata Chaerin kaget.
“wae?”
“aku tak menyangka dia adikmu. Kau sudah mengatakan bahwa kau pindah?”
“belum aku akan memberikanya kejutan”
“aku akan mengajaknya kesini setelah dia pulang kerja. Bagaimana?”
“ide bagus! Karena aku sebenarnya juga tak sabar ingin memberitahukan tentang rencana pernikahan kita.”kata Jiyong tersenyum.

END

Agak gila memang. Percaya atau gak aku dapat ide ini karena FF ini ada di mimpiku. Jadi mimppiku itu aku seperti nonton film yang isinya FF ini dan rangkai semua kejadiannya hingga jadi FF ini. Mimpi yang aneh atau aku yang aneh?? Tapi, aku lebih suka di bilang unik, sih (nawar). Saat bangun aku kepikiran tentang teman baikku itu tapi, saat aku tulis ini menjadi FF sedikit berat karena mengingatku tentang dia. Sungguh aku rindu dengannya. smile emotikon
silahkan komentarnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar