jangan lupa

JANGAN LUPA KOMENTAR YA..

Kamis, 03 Maret 2016

BLUE



BLUE
Author: Kim Daisy
Cast: Chaerin a.k.a CL 2ne1
 Kwon Ji Yong a.k.a GD BIG BANG.
Genre: ???

FF ini berkisah tentang Jiyong yang bingung dengan sikap Chaerin, tunangannya yang tidak pernah menolak dan marah padanya. Jiyong binggung akan sikap Chaerin yang selalu cuek. Jiyong ingin mengetahui sikap Chaerin dan perasaannya dengan caranya sendiri.

-------------------
Tampan, kaya, cerdas dan memiliki kepribadian baik. bukankah aku pria idaman?? Tentu saja. Tapi, percaya diriku bisa turun karena tunanganku, Lee Chaerin.
“kau tidak marah padaku?”tanyaku mencoba memancingnya.
“untuk apa?”Tanya Chaerin datar.
“kau tidak lih..”
“aku lihat pipimu dicium olehnya. Tapi, kenapa aku marah?”tanyanya balik dengan wajah binggung.
“dia..”
“tuan muda Kwon Jiyong.. aku percaya padamu kau tidak mungkin mengkhianatiku karena itu artinya kau mengecewakan orang tuamu. Kau tidak perlu merasa bersalah. Tenanglah. Tamu sudah menunggu dibawah.”kata Chaerin berjalan dengan percaya diri keluar dari kamarku.
Seorang yeoja yang juga rekan kerjaku  tiba-tiba masuk kekamarku dan mencium pipiku. Aku kaget dengan aksi rekan bisnisku itu tapi, aku semakin kaget dengan ekspresi Chaerin yang santai saat dia menangkap basah kami. Ekspersinya seakan itu hal biasa dan sering aku lakukan. Dia bahkan tidak marah. Dia benar-benar menurunkan kepercayaandiriku. Bukan! Aku tidak berselingkuh. Aku juga tidak tahu sehingga aku terkejut.
“ji..”ucap rekan bisnisku, tangannya meyentuh tanganku.
“aku anggap ini tidak pernah terjadi. Kau tahukan dia tunanganku. Kita hanya rekan jadi jangan nodai hubungan kerja kita.”kataku membukakan pintu agar dia keluar dari kamarku. Sepertinya aku harus membuat kode keamanan lebih ketat untuk kamarku di hotel ini. Hotel ini milik orang tua Chaerin dan kamar ini adalah kamar pribadiku bila aku menginap disini.
Aku turun ke tempat pesta yang di selenggarakan.  Baru saja aku masuk Chaerin sudah menggandeng tanganku. Aku rasa dia tidak benar-benar mencintaiku hanya menjalani perannya. Mengingat hal ini membuatku kesal karena aku benar-benar mencintainya.
“kau baik-baik saja?”tanyaku. Lagi-lagi aku mencoba memancing emosinya.
“aku tidak apa-apa. Sungguh. Aku sangat percaya padamu.”jawab Chaerin tersenyum manis. Dia percaya padaku 100% atau dia sangat tidak peduli padaku sebenarnya. Ini menyakiti hatiku dan menurunkan harga diriku.
“hay.. pasangan serasi!”sapa seorang yeoja yang aku rasa adalah teman Chaerin. Chaerin tersenyum padanya dan melambai.
“aku dengar kalian sudah lama tunangan. Kenapa baru di umumkan sekarang pada public?”Tanya yeoja itu sambil mendekat pada kami.
“hanya menunggu waktu yang tepat.”jawab Chaerin tersenyum. Hanya di depan umum aku bisa menikmati senyumnya. Dia selalu datar jika di depanku.
“berapa lama sebenarnya kalian bertunangan?”Tanya yeoja itu lagi.
“2 tahun?!”jawab Chaerin dengan ekspersi binggung. Apakah dia lupa dengan waktu pertunangan kami?
“oh, berarti setelah kau berpisa..”
“oppa tolong ambilkan aku minum.”pinta Chaerin sambil tersenyum padaku.
“em.”kataku sambil membalas senyumanya. Aku mulai berjalan menjauhi Chaerin untuk mengambil minum yang terletak di salah satu meja yang tidak jauh dari tempatku awalnya berdiri. Berpisah? Sebelum kami bertunangan. Apa dia masih mengingat dan mencintai orang itu hingga dia masih bersikap seperti ini padaku?
“hyung..”teriak Seungri, dia adik kelasku dulu tapi kami cukup dekat. Aku membalas sapaannya dengan senyuman .
“dimana calon mempelai yeojanya?”Tanya Seungri dengan senyuman nakalnya.
“dia disana lagi bercerita dengan temannya.”kataku sambil menunjuk Chaerin yang masih mengobrol dengan temannya tadi.
“kau kenapa disini?”
“aku hanya ingin mengambilkan minum untuknya.”
“aah.. hyung kau sungguh perhatian.”kata Seungri sambil memukul bahuku pelan.
“kapan kalian akan menikah?”tanyanya.
“kami belum memutuskannya.”jawabku seadanya.
“kau tidak takut dia direbut orang lain?”
“dia sudah pasti akan jadi milikku.”
“kau percaya diri sekali hyung.”kata Seungri sambil tertawa kecil.

@beberapa hari kemudian
Mantan kekasihku mampir kerumahku karena dia mendapat undangan pernikahan temannya di Korea. Aku mengenalnya karena ada pekerjaan di Jepang, ya mantan kekasihku itu memang berasal dari Negara sakura itu.
“silahkan masuk.”kataku mempersilahkan dia masuk.
“aku hanya berkunjung sebentar karena 3 jam lagi jadwal penerbanganku. Aku menyempatkan datang kesini karena aku sudah lama tidak bertemu denganmu.”katanya sambil berbalik melihatku dan tersenyum.
“terimakasih.”jawbaku seadanya. Entah apa yang menyebabkan aku begitu cuek membalas ucapannya karena seingatku tidak ada perkelahian saat kami berpisah.
“aku dengar beberapa minggu lalu kau bertunangan.”katanya dengan santai duduk di sofaku.
“tidak. Aku dengannya sudah bertunangan dari 2 tahun lalu.”
“oh, jadi saat kita putus itu kau meninggalkanku karena gadis itu!?”tanyanya.
“mungkin, karena jujur saja aku sudah lupa akan hal itu.”jawabku sambil membuka kulkas untuk mengambilkan jus untuknya.
“dulu kau sangat baik denganku. Tidak seperti sekarang. Kau tidak pernah menjawabku dengan kalimat dingin seperti ini.”
“itu hanya masa lalu. Sudahlah. Bukankah kau juga sudah dengan yang lain juga.”kataku mencoba mengingatkan.
“apakah sikapmu ini karena kau masih sayang denganku?”
“jangan bicara yang tidak-tidak. Bahkan aku sudah lupa saat kita bersama.”kataku duduk di sofa memberikan segelas jus yang aku ambilkan tadi.
“pertunangan kalian hanya tuntutankan?”
“selama 2 tahun kami bertunangan tidak mungkin aku tidak mencintainya.”
“benarkah? Jika itu terjadi tidak mungkin kau membiarkan aku masuk di saat pagi-pagi begini.”
“karena aku yakin dia tahu perasaanku dan karena kita memang tidak memiliki hubungan apa-apa. Sebaiknya kau pergi sekarang karena jalan menuju bandara sangat sering macet”jawabku sambil berdiri dengan sopan mengusirnya.
Piip! Klek! Pintu terbuka.
“oh, ada tamu. Apa aku menganggu?”kata Chaerin yang baru saja masuk dengan senyuman seakan dia akrab dengan mantan kekasihku. Tanggannya membawa dua buah plastic belanjaan besar. Aku langsung mengambil plastic yang dipegangnya.
“tidak. Kenapa kau meninggalkanku? Aku terkerjut saat terbangun tidak ada kau.”ucapku pada Chaerin dan mengakat benjaan ke dapur.
“kau bicara apa oppa?”kata Chaerin sambil tertawa pelan. Aku tentu saja berbohong. Kami tidak pernah tinggal bersama bahkan Chaerin tidak pernah menginap di rumahku. Jawaban Chaerin tidak mengatakan aku berbohong dan tidak berbohong untukku. Tapi, jawaban itu terdengar ambigu seakan hal itu benar terjadi dan dia malu akan hal itu.
“aku Chaerin!”kata Chaerin memperkenalkan diri.
“Kiko. Sorry, sepertinya aku harus pergi. Aku disini hanya mampir saja. Aku takut terjebak macet.”kata Kiko yang terburu-buru berdiri.
“maaf, apakah karena aku?”Tanya Chaerin dengan wajah bersalah. Bukan, Chaerin bukan merasa bersalah itu hanya acting saja, aku yakin itu.
“tidak. Sebelum kau datang tadi aku juga akan pergi kok. Senang berjumpa denganmu.”kata Kiko mencoba tersenyum pada Chaerin.
“oh, hati-hati!”kataku dari dapur.
“ya, senang bertemu denganmu.”ucap Chaerin dengan senyuman. Kiko keluar dari rumahku dan secepat itu senyuman Chaerin menghilang.
“maaf, aku mengaggumu. Aku pergi dulu”kata Chaerin dengan wajah dinginnya.
“tunggu! Tidak biasanya kau datang pagi-pagi begini untuk membelanja keperluanku.”kataku berlari kearah Chaerin dan menggemgam pergelangan tangannya. Aku mencoba menahannya agar tetap di dekatku.
“huft! Oppa, aku sungguh mengantuk. Aku ingin tidur sekarang”jawab Chaerin setelah menarik nafas.
“tidurlah di kamarku sebentar. Aku akan membuatkanmu sarapan.”kataku dengan senyuman. Aku mencoba merayunya untuk menahannya tetap disini, tetap disisiku. Chaerin menutup kedua matanya sejenak dan membukanya kembali.
“baiklah.”jawabnya dan berjalan menuju kamarku. Dua hari ini Chaerin tidak mengabariku bahkan dia tidak mengangkat teleponku. Aku menghubungi omonim karena aku tidak bisa menghubunginya ternyata dia sibuk dengan hobbynya mendesain baju hingga larut malam. Aku rasa dia baru saja akan pulang dari studio ke rumahnya dan mampir kerumahku karena permintaan omonim. Baiklah, aku akan masak-masakkan yang enak untukmu, Chaerin.

@satu jam kemudian
Aku sudah menyiapkan makanan untuk aku dan Chaerin dengan rapi di atas meja. Segeraku langkahkan kakiku ke kamarku untuk membangunkan Chaerin. Chaerin tidur dengan anggun dikasurku membuatku tidak ingin membangunkannya dan menatapnya yang sedang tertidur.
“apakah kau mencintaiku?”ucapku pelan sehingga ini terdengar seperti bisikkan saja. Aku ingin melihat Chaerin cemburu pada yeoja yang mendekatiku tapi, hal itu tidak pernah terjadi. Aku ingin Chaerin mencemaskanku saat dia tidak bisa menghubungiku seperti aku yang mencemaskannya. Tapi, apakah dia tidak tahu Kiko adalah mantan kekasihku? Apakah dia tidak curiga ada seorang yeoja datang pagi-pagi kerumah tunangannya? Reaksi Chaerin yang biasa ini membuat aku binggung. Apakah aku tidak menarik untuknya? Apakah aku tidak pantas dipertahankan? Apakah dia tidak mengerti perasaanku?
“oppa, apa kau ingin membunuhku dengan tatapan itu?”kata Chaerin dengan mata yang masih terpejam.
“anni. Aku hanya tidak tega membangunkanmu. Makanan sudah siap, turunlah kataku.”kataku tersenyum.
“sepertinya ada yang ingin kau tanyakan padaku, oppa.”
“Kiko itu mantan kekasihku.”
“hm.. lalu?”
“aku harap kau tidak marah karena kami tidak ada apa-apa.”
“aku tahu oppa. Aku tahu dia mantan kekasihmu. Aku tahu kau mencintainya sebelum bertemu aku. Aku percaya padamu jadi tidak mungkin aku marah padamu.”jawab Chaerin. Aku berjalan mendekati Chaerin yang masih duduk di kasurku.
“tapi, aku harap responmu tidak seperti ini.”kataku jujur. Aku mendekatkan wajahku pada Chaerin. Aku mengecup bibirnya sekilas.
“kajja, kita turun.”ucapku sambil memegang kedua tanganya dan menariknya pelan untuk bangun dan mengikutiku kebawah.
“oppa, aku bahagia denganmu.”ucap Chaerin dengan ekpresi yang lagi-lagi datar, dia begitu tenang.
Chu! Aku menciumnya lagi.
“kalau begitu tetaplah di sisiku.”kataku sambil menatap lekat mata kucingnya itu. Aku sangat senang dengan ucapannya yang simple itu. Walau aku tidak mengetahui apakah dia mencintaiku? Apakah dia punya perasaan yang sama seperti yang aku rasakan?
Dia menerima begitu saja ciumanku tanpa marah ataupun penolakkan lembut itu tidak mengartikan apa-apa karena aku pernah beberapa kali menciumnya dia juga tidak pernah menolak tapi, sikapnya denganku juga tidak berubah.

@beberapa minggu kemudian
Siang ini Chaerin mengajakku untuk menemaninya menonton. Biasanya Chaerin lebih memilih menonton di rumahnya karena dia memiliki “bioskop” sendiri tapi, Chaerin ingin kami nonton bioskop di tempat umum.
“ini akan menarik perhatian.”kataku mencoba mengingatkan.
“aku tahu oppa. Tapi, setidaknya aku ingin mengalaminya denganmu.”jawab Chaerin tersenyum tipis membuat aku terdiam sejenak. Dia menarik tanganku menuju studio dan beberapa orang yang menyadari kehadiran kami menatap kami dengan binggung seakan kami mengunakan kostum sirkus. Resiko sering muncul di televise membuat saat berada ditempat umum jadi tidak nyaman.
“aku ingin nonton itu.”kata Chaerin menunjuk film yang akan di tayangkan.
“OK!”balasku. setelah membeli tiket kami masuk ke ruang studio bioskop.  Menurutku Chaerin sedikit aneh hari ini.

Entah apa film yang sedang di putar aku hanya menatap wajah Chaerin yang sedang serius menonton. Hingga aku tidak menyadari filmnya telah berakhir.
“oppa.”kata Chaerin memengang tanganku tapi, sedikit kuat dari biasanya.
“apakah kau ingin nonton lagi?”tanyaku.
“anni. Kajja kita pulang oppa!”kata Chaerin bangkit dari kursi dan menarik tanganku. Selama dua tahun ini mungkin hari ini lah pertama kali kami menghabiskan waktu bersama dan dia bicara lebih banyak dari pada biasanya.
“kajja!”kataku sambil merangkul bahunya. Membuat tubuhnya menempel padaku.

Kini kami telah sampai di rumah Chaerin. Aku membukakan pintu mobilku untuk Chaerin.
“gomawo oppa.”kata Chaerin dengan ekpresi yang biasanya, datar. Aku mengandeng tangannya saat kami berjalan menuju pintu. Omonim langsung menyambut kami.
“Jiyong, masuk dulu! Omma telah menyiapkan makan malam”tawar omonim.
“ne, omonim”kataku masuk sambil tersenyum.

Seperti yang omonim katakan, omonim telah menyiapkan makan malam juga untukku. Chaerin duduk di sampingku.sedangkan kedua orang tua Chaerin duduk berhadapan dengan kami.
“Chaerin, kau sudah mengatakan rencanamu dengan Jiyong?”kata abonim.
“ajik. Aku masih memikirkannya.”jawab Chaerin santai.
“omma harap kau membatalkannya Chaerin. Dan kau juga harus segara membicarakannya dengan Jiyong karena dia tunanganmu.”kata omonim membuat aku semakin penasaran.
“ada apa?”tanyaku pada Chaerin. Tapi, Chaerin hanya menatapku.
“Chaerin berencana ke Prancis.”kata abonim.
“aku tidak masalah.”kataku tidak berfikir panjang.
“NO! no! no! jangan! Ini bukan berpergian beberapa hari. Tapi, satu tahun Jiyong. Kau jangan memberikannya izin.”kata omonim memperingatiku.
“satu tahun?”tanyaku pada Chaerin.
“ne, aku baru akan memberi tahumu besok. Aku kesana ingin belajar. Apakah boleh?”Tanya Chaerin. Aku berfikir sejenak.
“nanti saja aku fikirkan lagi pula kau juga masih ragukan?”kataku.
“ne. gomawo oppa.”
“itu bukan berarti tunanganmu akan memberikan izin ya?”kata abonim mengingatkan Chaerin.
“walaupun kalian baru bertunangan tapi, bagiku tanggung jawabku pada Chaerin sudah aku berikan padamu Jiyong. Aku yakin kau akan menjaga Chaerin dengan baik.”kata abonim.
“ne, gomawo abonim!”ucapku dengan tersenyum.

Saat aku berada dipabrik textilku, tiba-tiba Chaerin datang dengan membawa kotak nasi di tanggannya.
“oppa. Kajja, kita makan bersama.”ajaknya saat dia baru saja menghampiriku. Aku membawanya keruanganku. Dia sengan sigap menyiapkan kotak makannya yang bertingkat-tingkat itu.
“kau membuatnya sendiri?”tanyaku sambil mengambil sumpit.
“ne! untukmu oppa.”jawab kata Chaerin tapi, wajahnya datar tanpa ekspresi. Apakah dia tulus padaku?
“ini kejadian yang langka. Ada apa?”kataku sambil mengambil nasi mengunakan sumpit.
“oppa, aku akan pergi ke Prancis.”
“kapan?”kataku seakan aku baik-baik saja. Aku terkejut tapi, aku harus menjaga perasaanku.
“4 hari lagi. Apakah boleh? Apakah kau mengizinkan aku pergi oppa?”
“pergilah. Aku tidak masalah kau pergi tapi, ini hanya untuk sementara. Aku tidak mengizinkanmu untuk pergi dariku selamanya. Aku akan menjengukmu sesekali”kataku sambil mengambil potongan ayam dan memasukkan ke mulutku. Aku hanya mencoba untuk bersikap baik. Mungkin ini cara terbaik untuk mengetahui perasaan Chaerin.
“gomawo oppa!”kata Chaerin dan ikut makan bersamaku.

@hari keberangkatan Chaerin.
“oppa, aku pergi.”kata Chaerin padaku. Aku memelukknya. Mendekapnya erat dalam pelukanku. Jika aku mengatakan jangan pergi apakah Chaerin akan tetap disini? Apakah dia akan membenciku?
“oppa. Aku bisa terlambat.”katanya pelan tapi, dia tidak mencoba untuk lepas dari pelukkanku.
“sebentar lagi. Aku mencoba menyimpan dirimu di tubuhku. Agar aku tidak merindukanmu untuk waktu nanti.” Mendengar jawabanku Chaerin hanya diam.
“ehm.. jika seperti ini terus seharusnya kau tidak usah pura-pura memiliki hati yang lebar, Jiyong. Bukankah aku sudah memperingatimu untuk melarangnya?!”kata omonim membuat aku tertawa dan sontak melepaskan Chaerin dalam pelukanku.
“ne, omonim. Sekarang aku menyesal tapi, aku tidak bisa menarik perkatanku.”kataku dengan tertawa. Abonim memukul punggungku pelan.
“perpisahan itu awalnya memang terasa berat. Tapi, ini bukan perpisahan untuk selamanya jadi jangan cemas.”nasehat abonim. Tapi, diwajah Chaerin mengatakan hal ini biasa saja untuknya seakan ini bukanlah masalah.
“ne abonim.”jawabku. Ibuku memeluk Chaerin setelah memberikan beberapa nasehat untuk Chaerin.
“aku pergi. Aku akan mengabari kalian”kata Chaerin dan membalikkan badannya. Dia masuk ke pintu menuju pesawat dan aku melihatnya hingga Chaerin benar-benar tidak terlihat lagi di ruangan itu.

@5 bulan kemudian
Aku turun dari pesawat menatap langit yang tidak jauh berbeda dengan langit di Korea. Ya, aku ke Prancis untuk menemui Chaerin. Sebenarnya ini bukan pertama kali aku ke sini. Sebulan sekali aku pasti menyempatkan ke Prancis untuk melihat Chaerin secara langsung. Tapi, aku hanya melihatnya dari jauh. Aku hanya bisa mengawasinya. Jika aku secara langsung datang ketempatnya dia akan tahu bahwa aku sangat mencintainya, aku tidak ingin dia tahu.
Malam ini aku sengaja ke restoran diseberang tempat Chaerin biasa makan malam. Aku terkadang juga memata-matainya dengan orang bayaran agar aku mengetahui tentang Chaerin saat aku tidak ada di dekatnya. Protektif? Tidak, aku rasa aku lebih ke psycho karena begitu menggilai Chaerin. Ini lebih dari protektif. Tapi, anehnya aku tetap tidak ingin Chaerin tahu besarnya cintaku padanya.
Ah, Chaerin masuk ke restoran itu seperti kata orang yang aku bayar untuk mengikuti Chaerin. Aku bisa melihat Chaerin dari sini tapi, Chaerin tidak akan bisa melihatku yang duduk di sini.
Tunggu! Siapa itu? Dengan siapa Chaerin itu? Kenapa dia duduk dengan namja asing itu? Aku harus mendatanginya!

TBC
aku mulai kehabisan ide untuk judul dan FFnya. Sebenarnya, sudah ada beberapa FF yang sudah dibuat tapi, aku rasa belum maksimal sengga belum aku publis. Thks yang udah sering komentar FFku. Karena tanpa kalian. aku masih menulis walau beberapa kali terbesit untuk berhenti menulis FF.  Aku harapkan komentarnya karena hanya itu yang mempertahanku untuk menulis agar page ini bisa aktif terus. Thks untuk pengertian dan kerja samanya.

BLUE (part 2-2 END)
Author: Kim Daisy
Cast: Chaerin a.k.a CL 2ne1
 Kwon Ji Yong a.k.a GD BIG BANG.
Genre: adult, PG 17

FF ini berkisah tentang Jiyong yang bingung dengan sikap Chaerin, tunangannya yang tidak pernah menolak dan marah padanya. Jiyong binggung akan sikap Chaerin yang selalu cuek. Jiyong ingin mengetahui sikap Chaerin dan perasaannya dengan caranya sendiri.

-------------------

Malam ini aku sengaja ke restoran diseberang tempat Chaerin biasa makan malam. Aku terkadang juga memata-matainya dengan orang bayaran agar aku mengetahui tentang Chaerin saat aku tidak ada di dekatnya. Protektif? Tidak, aku rasa aku lebih ke psycho karena begitu menggilai Chaerin. Ini lebih dari protektif. Tapi, anehnya aku tetap tidak ingin Chaerin tahu besarnya cintaku padanya.
Ah, Chaerin masuk ke restoran itu seperti kata orang yang aku bayar untuk mengikuti Chaerin. Aku bisa melihat Chaerin dari sini tapi, Chaerin tidak akan bisa melihatku yang duduk di sini.
Tunggu! Siapa itu? Dengan siapa Chaerin itu? Kenapa dia duduk dengan namja asing itu? Aku harus mendatanginya.
Dengan hati-hati aku menyebrangi jalan menuju tempat  Chaerin berada. Pelayan yang menjaga pintu masuk menyambutku dengan ramah tapi, aku cuekin begitu saja karena mataku berpusat pada Chaerin yang sedang tersenyum manis dengan lelaki asing itu. Membuat musim dingin disini terasa panas untukku.
“hai, Chaerin. Ternyata kau juga ada disini.”ucapku saat sampai dimejanya. Chaerin melihatku dengan kaget. Tapi, tidak lama dia tersenyum dan tangannya menyambutku.
“kenapa kau disini?”kata Chaerin tersenyum padaku dan itu sedikit berhasil memadamkan api di hatiku.
“a. aku baru saja turun dari pesawat. Berjalan-jalan sebentar untuk menuju ke tempatmu ternyata aku mendapat kejutan disini.”jawabku sambil menyambut tangannya, lalu mengecup keningnya dan duduk di kursi tepat disebelahnya. Dan tentu saja pria asing itu duduk berhadapan dengan Chaerin.
“perkenalkan dia tunanganku yang pernah aku ceritakan. Oppa, dia temanku, Julien Kang .”jelas Chaerin. Kang? Wajahnya tidak terlihat seperti orang Korea.
“anda blasteran?”tanyaku.
“ne. Ayahku yang berasal dari Korea, ibu ayahku orang Perancis.” Jawab Kang ssi tersenyum sambil menatap Chaerin.
“baguslah. Aku tidak perlu repot-repot menggunakan bahasa Inggris untuk berbicara denganmu.”kataku tanpa berfikir.
“ya, bahasa Korea ku cukup baik jadi santai saja saat bicara denganku.”balasnya. Apa dia kira aku gugup bicara dengannya?
Makan malam berakhir. Makanan disini terasa biasa saja bagiku hanya saja yang membat aku sebal adalah pria asing itu suka sekali tersenyum pada Chaerin. Apa dia menyukai Chaerin?
“senang makan denganmu, Chaerin. Lain kali aku akan meneraktir kalian lagi. Oh ya Kwon, Chaerin masih tunanganmu. Jangan melarangnya untuk dekat denganku ya. Aku pergi dulu.”kata Kang_ssi dengan santai dan tersenyum. Apa maksudnya? Apakah dia akan merebut Chaerin dari? Apa ini tanda perang?
“oppa, kau keteraluan.”kata Chaerin dan membuat aku keluar dari rasa kesalku. Dan pria asing itu sudah tidak ada disini.
“wae? Apa salahku?”kataku tidak mengerti dengan sikap Chaerin.
“kau menatapnya dengan tatapan berperang, oppa.”kata Chaerin sambil bangkit dari kursinya.
“aku tidak begitu.”jawabku mengikutinya.
“ini barangmu?”tanyaku saat melihat tas belanja di bawah kursi Chaerin.
“oh, ne.”kata Chaerin dan aku membawakan tas itu untuknya.
“dia berkerja sebagai apa? Apa dia belajar di tempat yang sama denganmu? Bagaimana kalian saling mengenal? Sudah berapa lama kalian kenal?”tanyaku mencoba melihat expresi Chaerin. Apakah dia akan berubah jika aku membicarakan pria asing itu?
“dia seorang model dan aku beberapa bulan ini berkerja sama dengannya. Aku ass. Desainer dan dia modelnya. Ah, dia juga seorang actor.”jawab Chaerin. Dia mengunakan mantelnya.
“kau mengukur badannya?”
“tentu saja, oppa. Bagaimana mungkin aku membuat pakaian tanpa mengukur badan modelku?”
“apa kau…”
“oppa?!”kata Chaerin mencoba menghentikanku.
“wae?”
“kau berlebihan. Ini diluar batasmu. Kita hanya bertunangan.”kata Chaerin dengan tegas dan menatapku dengan tatapan yang membuatku terdiam. Dia memarahiku karena namja asing itu? Chaerin marah padaku?? Ahk! Aku tidak bisa percaya ini.
“jadi maksudmu?”
“jika salah satu antara kita tidak nyaman, jika ada sesuatu bisa saja hubungan ini berakhir. Oppa, kau jangan berlebihan.”kata Chaerin memegang tanganku. Seakan ini adalah peringatan untukku. Dia benar-benar  marah denganku karena pria asing itu?? Aku akan mengawasi mereka lebih ketat. Julien Kang bersiaplah kau.
“kau menyukainya?”
“oppa”kata Chaerin dengan penekanan.
“aku ini tidak pantas untukmu kan?”
“apa oppa rasa seperti itu?”kata Chaerin dan dia menatapku dengan lekat. Dan aku melihat kekecewaan dimatanya.
“...”
“bawalah itu pulang dan cepat kembali ke Korea.”kata Chaerin cepat dan berlari. Lalu dia memberhentikan taxi dan meninggalkanku sendiri. Awas, saja kau pria asing?? Sebelum bertemu denganmu Chaerin tidak pernah seperti ini padaku. Wajah datar tanpa expresinya itu lebih mending dibandingkan dia marah padaku. Ini menyebalkan.

@kamar hotel Jiyong
Sesampai di kamar hotel, aku membuka tas belanja yang aku bawakan untuk Chaerin tadi ternyata berisi kotak kado. Dengan perlahanku buka kotak berwarna silver itu. Sebuah kemeja putih dengan kerah hitam dan dasi berwarna hitam dengan benang emas inisial namaku dibagian bawahnya. Aku lihat mereknya tertulis CL disana. Ya, tidak salah lagi ini kemeja buatan CL saat dia pertama kali memulai kelas desainnya disini karena aku mendapat selembar foto Chaerin sedang membuat baju ini dari orang bayaranku.
Aku langsung mengambil mantelku dan pergi dengan terburu-buru menuju tempat tinggal Chaerin. Walau aku tidak pernah ke tempatnya tapi, aku sudah tau Chaerin tinggal dimana dari orang bayaranku.

-SKIP-
Aku mengetuk pintu dengan keras, berharap Chaerin segera membuka kan pintu untukku. Dan
“wae?”satu kata itu langsung keluar saat aku belum bisa melihat seluruh wajah Chaerin dari balik pintu. Apakah dia masih marah?
“izinkah aku masuk. Disini dingin.”ucapku. Walau biasanya Chaerin juga datar-datar saja tapi, kali ini sedikit berbeda. Dia terlihat sedang marah.
Chaerin membukakan pintu sedikit lebar dan mempersilahkan aku masuk.
“duduklah. Aku akan mempersiapkan kopi untukmu.”kata Chaerin meninggalkanku di ruang tamunya yang kecil. Chaerin hanya tinggal ditempat yang biasa saja karena dia tidak diberikan uang dari orang tuanya untuk tempat tinggal. Itu karena orang tuanya melarang Chaerin untuk pergi. Jadi Chaerin harus hidup mandiri.
“kemeja itu..”kataku gugup ingin mengucapkan apa.
“kemeja itu yang membuat aku masuk ke kelas desain.”
“itu memang untukku?”
“wae? Kau tidak suka oppa?”kata Chaerin sambil mengaduk kopi yang telah dia seduh.
“aku suka. Aku hanya penasaran.”
“ya. Oppa, kau merasa bersalah karena tadi? Jangan dipikirkan! Aku juga tidak yakin hubungan ini akan berhasil.”kata Chaerin dengan tenang tapi, membuat hatiku panas dan sakit. Dia tidak yakin??
“dari awal kau tidak menyukai hubungan ini?”kataku sambil berjalan mendekati dapur Chaerin yang tidak jauh dari tempatku karena ruangan disini kecil.
Sebelum Chaerin menjawab pertanyaanku aku mencium bibir Chaerin. Kali ini aku menciumnya dengan kasar dan sedikit menuntut tidak seperti biasanya tapi, Chaerin juga tidak mencoba menghentikanku atau mendorongku. Dia hanya diam membiarkan apa yang aku lakukan.
“omo! Sorry, seharusnya aku tidak keluar.”aku melepaskan bibirku dari Chaerin dan melihat omonim keluar dari kamar dan memperhatikan kami.
“maafkan aku omonim!”kataku menahan malu. Sungguh  aku malu.
“gwinchana. Itu wajar bagiku. ah, Jiyong ini sudah malam sebaiknya tidurlah disini. Aku masuk dulu.”kata omonim lalu masuk lagi ke kamar dengan sebuah senyuman.
“aku pulang saja.”
“tidak. Tidurlah disini dari pada omma curiga. Habiskan kopimu dan itu kamarmu”kata Chaerin sambil menunjuk sebuah kamar yang bersebelahan dengan kamar yang omonim masuki tadi.
Aku menuruti kata Chaerin dan masuk ke kamar yang Chaerin tunjuk. Kamar ini kamar Chaerin buku-buku dan semua barangnya tersusun rapi.
Klek!
“ada apa?”tanyaku.
“ini sudah malam sudah waktunya untuk tidur.”kata Chaerin.
“ya. Aku akan tidur”kataku sambil naik ke kasur yang ukurannya cukup untuk dua orang walau tidak terlalu luas. Chaerin berjalan mendekati dan duduk di sisi kasur yang berlawanan  arah denganku.
“kenapa?”tanyaku binggung.
“tentu saja aku ingin tidur. Ini sudah malam.”
“tidur disini?”tanyaku semakin binggung.
“tentu saja. Ini kamarku.”
“kalau begitu aku akan minta omonim tidur disini saja.”kataku akan bangkit dari kasur tapi, Chaerin menahanku dengan memegang pergelangan tanganku.
“jangan! Omma sudah mengunci kamarnya.”
“kau yakin kita tidur berdua disini??”
“kenapa? Aku yakin tidak akan terjadi apa-apa.Tidurlah”kata Chaerin santai dan membaringkan tubuhnya di kasur. Kenapa dia bisa setenang itu??
Ini sudah 30 menit tapi, aku tidak bisa tidur. Jantungku berdetak begitu kencang mengalahkan detakan jam.
“kenapa kau belum tidur juga oppa?”kata Chaerin bangun dari tidurnya dan menatapku  binggung.
“mungkin ini karena kopi tadi yang kau berikan. Kau juga belum tidur.”kataku mencari alasan. Tidak mungkin aku mengatakan jantungku berdetak kencang karena tidur disebelahnya, itu memalukan seakan aku adalah anak remaja yang baru mengenal cinta.
“kau terlalu gelisah oppa. Itu membuatku tidak bisa tidur.”
“mian, haruskah aku pindah?”
“tidak perlu. Oppa..”
“ada apa?”
“kau cemburu dengan Julien?”
“bukan. Bukan seperti itu. Hanya saja kau tidak pernah menceritakannya padaku.”kataku berbohong. Aku benar-benar seperti anak remaja yang baru mengenal cinta. Cemburu?? Tentu saja aku cemburu.
“untuk apa aku menceritakannya padamu, oppa?”Tanya Chaerin. Sial, aku harus jawab apa?
“omonim kenapa ada disini?”tanyaku mengalihkan semuanya.
“omma hanya menjengukku. Biasanya seminggu sekali.”
“kapan omma akan pulang?”
“2 hari lagi. Oppa, berapa lama disini?”
“berapa lama kau ingin aku disini menemanimu?”tanyaku sambil menatapnya lekat penuh harap dan Chaerin juga menatapku.
“aku tidak mungkin menahanmu untukku. Kau kan orang penting di perusahaanmu, oppa. Bagaimana dengan pabrik juga kau tidak ada?”jawab Chaerin. Bola matanya tidak melihatku seakan mencari alasan untuk berbohong.
“kau inginku temani?”tanyaku dan Chaerin menatapku lekat. Aku menggeser tubuhku hingga jarakku dan Chaerin semakin dekat. Ku cium bibirnya itu sambil memeluknya erat. Tunggu. Chaerin membalas ciumanku. Bukankah ini tandanya dia juga menginginkanku??
“egh.. izinkan aku bernafas!”katanya saat berhasil mendorongku menjauh. Ya, aku akui aku sedikit mengila karena Chaerin membalas ciumanku. Aku berikan Chaerin sedikit waktu dan Chaerin menatapku kembali. Ini saatnya. Dan aku menciumnya kembali.

SKIP
@2 hari kemudian di bandara Seoul.
Kini aku sudah kembali ke Korea dengan omonim.
“kenapa kau diam saja dari tadi Jiyong? Apakah belum puas bulan madunya?”kata omonim meledekku.
“bulan madu apa omonim?”tanyaku kaget.
“sudahlah aku tahu yang terjadi saat malam pertama kau menginap dan hari-hari selanjutnya. Aku senang hubungan kalian semakin dekat artinya jarak bukanlah hambatan malah membantu kalian semakin dekat dan saling merindukan.”kata omonim sambil tertawa pelan membuatku malu saja.
“omonim, jangan dibahas itu membuatku malu.”jawabku jujur dan itu membuat omonim tertawa lepas dan menggandeng tanganku.
“aku senang kau yang akan menjadi suami Chaerin.”kata omonim.
“omonim, kau jangan menggandengku jika orang melihat orang akan mengira aku selingkuh dan akan membuat Chaerin marah padaku.”gurauku.
“apakah anakku pernah cemburu?”
“sejauh ini tidak.”
“itu karena kau menjaga perasaan Chaerin begitu baik.”
“bukan seperti itu. Hanya saja Chaerin tidak pernah menunjukkan perasaanya padaku. Tapi, aku tahu dia juga menyukaiku.”kataku sambil tersenyum karena mengingat malam “itu”.
“benarkah?”
“hem.. bagaimana jika aku berpura-pura berselingkuh denganmu omonim, mungkin Chaerin akan cemburu?”kataku bercanda dan ommonin tertawa. Kami masuk ke mobilku dan supir yang sebelumnya membawa barang-barang kami memasukkan barangku dan omonim ke mobil yang lain.
“gimana jika kalian menikah saja di Prancis bulan depan?”kata omonim menatapku penuh harap.
“sebaiknya kau saja yang mengatakannya pada Chaerin, omonim. Karena Chaerin menolakku saat aku mengatakannya kemarin. Dia bilang dia ingin fokus dulu.”
“kalau begitu aku yang membujuknya.”kata omonim tersenyum.

Saat aku pulang ke rumah berita itu sudah menyebar ternyata. Berita aku sedang berbulan madu. Sungguh ini memalukan.  Aku berharap berita ini tidak sampai di perusahaan dan dipabrik.
“kau tidak curiga dengan namja asing itu?”Tanya nunaku sambil memakan sandwichnya.
“nuna, jangan khawatir! Chaerin tidak akan mengecewakanku.”kataku sambil mengesap kopiku yang masih panas dengan pelan.
“hanya karena dia memberikan tubuhnya padamu sikap psychomu itu hilang?? Huaa.. fantastik!!”kata nuna dengan sikap hiberbolanya. Aku melihat ke kiri dan kananku memastikan tidak ada yang mendengar pecakapan kami.
“nuna, kau membuatku malu setengah mati. Chaerin percaya padaku, sebaiknya aku juga percaya padanya. Aku akan mencoba bersikap dewasa untuk mempertahankan cinta kami.”
“kau seperti orang lain saja, tuan Kwon Jiyong.”ledek nunaku.
“ya, aku yang sekarang orang yang berbeda. Aku bukan lagi orang yang pesimis dengan cintanya.”kataku sambil tersenyum bahagia.
“dari ceritamu aku sedikit curiga dengan pria asing itu. Tapi, ini mungkin hanya firasatku. Karena aku tahu Chaerin orang yang begitu hati-hati tidak mungkin dia berbuat sesuatu tanpa perhitungan sebelumnya. Hem.. tapi, bisa jadi malam itu dia melakukannya untuk mengelabuimu. Kekeke..”kata nuna dengan tertawa mengejek membuatku kesal saja.
“berhenti menggaguku nuna! Kau menyebalkan.”kataku dan tawa nuna semakin meledak. Sudahku duga dia hanya mengerjaiku saja.

Sial, baru tiga hariku di Korea tapi, karena kata nuna kemarin membuatku menjadi tidak tenang. Dan kini aku sudah di perancis. Akh!! Aku akan gila.
“tuan Kwon, Nona Lee sudah tidak ada di gedung apartemennya.”kata orang bayaranku.
“ya, aku tahu jam segini mungkin dia ada di pelatihan desainnya.”kataku sambil mengeret koperku di lantai bandara.
“dia juga tidak pergi menuju pelatihannya. Lalu dia kemana?”
“dia di Hotel X (nama hotel di sensor karena bukan sponsor #author Stress) sudah lebih dari 30 menit yang lalu.”
“untuk apa?”tanyaku sambil berhenti melangkah dan menatapnya meminta penjelasan yang lebih lengkap. Orang bayaranku terdiam sambil menunduk. Aku berlari menuju mobilku dan meminta sopirku langsung ke Hotel X. Bagaikan orang gila aku selalu berteriak agar mobil berjalan lebih cepat.
“tuan, ini foto dari bawahanku.”kata orang bayaranku sambil menunjukan photo di ponselnya. Sebuah foto Chaerin mengunakan baju pengantin berwarna soft pink dan namja di sampingnya sedang memperbaiki posisi anak rambutnya. Namja itu mengunakan toxedo dan kemeja berwarna senada dengan Chaerin. Dan yang membuatku semakin kesal adalah namja itu Julien Kang. Namja yang katanya hanya teman Chaerin tapi, begini dibelakangku??
“apa yang terjadi??? Lebih cepat!!”teriakku pada sopir.
“namja ini Julien Kang. Mereka dulu pernah menjalankan hubungan saat nona Lee masih sekolah di Prancis kira-kira tiga tahun lalu.”jelas orang bayaranku dan karena emosiku aku tidak dapat mendengarkan penjelasan selanjutnya.

@hotel X
Orang-orang begitu ramai. Bunga-bunga menghiasi setiap ruang,  jelas ini acara pernikahan. Aku berlari bagaikan orang tidak tahu arah mencari keberadaan Chaerin dan orang bayaranku membawaku ke sebuah room.  Saat aku memasuki room aku melihat Chaerin disana berdiri di depan dengan namja bermarga Kang itu. Lampu sorot menerangi mereka agar perhatian semua orang menuju ke mereka. Semua orang bertepuk tangan dan kilatan kamera bertubi-tubi mengarah pada mereka. Tubuhku lemas, kakiku seakan mati rasa sehingga tidak dapat digerakkan. Hanya tiga hari lalu semuanya musnah. Nuna benar. Aku terlalu bodoh hingga lenggah.
“hua.. gaunnya sungguh indah.”gumam orang bayaranku dan reflek aku meninju pipi kanannya dengan tanganku yang awalnya aku rasa tidak bertenaga. Aku membayarnya tapi, bisa-bisanya dia mengatakan kalimat itu disaat dia tahu keadaanya seperti ini.
“tuan, kau kenapa?”tanyanya binggung sambil memegang pipinya. Ada sedikit darah mengalir di sela-sela bibirnya. Aku akan memukulnya sekali lagi, beraninya dia berprilaku sok polos denganku. Tapi, tanganku dan tubuhku benar-benar tidak bisa digerakkan karena beberapa orang sudah menahan tubuhku. Dengan amarahku aku melawan tapi, aku hanya berhasil menendangnya dan akhirnya aku diseret keluar oleh keamanan.
Entah bagaimana aku sudah diluar hotel dengan duduk lemas di tangga pintu masuknya. Pipiku basah, mungkin aku mennagis. Langkah kaki yang anggun berjalan mendekatiku. Aroma tubuh yang sangatku ingat sehingga aku yakin sekali bahwa orang itu Chaerin. Chaerin duduk di sebelahku, tangannya mengelus pipiku.
“oppa, kenapa kau disini?”tanyanya lembut. Kenapa aku tidak bisa marah dengannya walau hati ini seakan meledak?
“aku tidak boleh disini?”kataku dengan nada tinggi. Rasa sedihku hilang dengan emosiku.
“biasanya kau tidak seemosional ini.”
“bagaimana aku tenang jika aku melihat yeoja yang aku cintai menikah didepan mataku.”kataku tapi, aku tidak ingin melihat Chaerin.
“ada yeoja lain? Lalu kenapa kau marah dan menangis disini? Kenapa kau tidak mendatanginya membunuh mempelai prianya dan kabur dengan pengantin wanitanya?”
“kau ingin aku melakukan itu?”
“tidak. Bagaimana mungkin aku bisa rela melepaskanmu untuk yeoja lain?”kata Chaerin tapi, ini membuatku binggung.
“apa maksudmu? Yeoja yang aku maksud itu kau, Lee Chaerin. Kau yang sedang menikah dengan namja asing yang ternyata mantan kekasihmu yang bernama Julien Kang itu. Dan kau bilang kau..”
“siapa yang menikah oppa?”Tanya Chaerin memutuskan perkataanku.
“aku melihatmu dipodium dengan pakaian pengantin dan Kang disampingmu tadi.”kataku menundukkan kepalaku menutupi wajahku dengan tanganku. Berat rasanya dan emosiku mulai naik kembali setelah mendengar tawa Chaerin.
“kau menertawakan perasaanku?”ucapku kesal.
“kau salah paham oppa. Aku tidak menikah, ini acara pertunjukan gaun pengantin. Aku menjadi model kali ini bersama Julien. Bukan acara pernikahanku dengan Julien. Kau lucu sekali, oppa”jelas Chaerin dengan tawa. Tapi, aku masih belum percaya.
“kau berbohong.”
“oppa, ikuti aku.”kata Chaerin menarik tanganku dengan lembut. Dengan malas aku mulai berdiri tegak dan mengikutinya. Keamanan menghadang agar aku tidak masuk tapikarena Chaerin kami akhirnya bisa masuk. Chaerin mengajakku melangkah ke ruangan yang sebelumnya telah ku buat kekacauan kecil sebelumnya.
“lihat.”kata Chaerin sambil menunjuk podium. Banyak pengantin yang bergantian berjalan dipodium.
“oppa, kau masih tidak percaya?”tanya Chaerin.
“tuan, maafkan aku. Tapi, bukankah aku sudah menjelaskan bahwa ini hanya pertunjukan baju pengantin yang diadakan oleh guru kelas desain nona Lee. Apa anda tidak mendengar penjelasanku hingga salah paham?”jelas orang bayaranku yang ternyata mengikutiku dari jauh karena masih takut padaku. Chaerin tersenyum padaku.
“aku akan segera kembali. Jangan pergi dulu! Duduklah disana”kata Chaerin sambil menunjuk sebuah kursi yang kosong. Chaerin langsung menghilang begitu saja dan tidak lama dia muncul di podium dengan seluruh model dan desainernya. Aku tertawa kecil, menertawakan kebodohanku. Sungguh aku dibutakan. Ini memalukan. Aku berharap tidak ada kamera yang menangkap asih gilaku.

@10 menit kemudian.
“aku sudah siap.”kata Chaerin dengan gaun dan mantel angun yang melekat ditubuhnya.
“apakah perkerjaanku sudah selesai?”Tanya orang bayaranku.
“maafkan aku, ini biaya pengobatan dan bayaranmu.”kataku dengan memberikan sebuah amplop pada orang bayaranku dan dia mengambilnya lalu pergi.
“kajja!”kata Chaerin lagi-lagi menarikku.
“kemana?”tanyaku binggung.
“ikuti saja.”kata Chaerin.

Kini kami sudah sampai ditaman. Kami berjalan bersama dengan tangan saling bergandengan. Salju menutupi taman ini tapi, tetap saja indah.
“Julien memang mantan kekasihku tapi, bukan berarti aku masih mencintainya. Aku dan dia hanya ikatan teman dan kerjaan. Tidak ada yang lain. Aku mengatakan ini karena aku ingin kau berhenti membuang uangmu untuk orang yang memata-mataiku.”jelas Chaerin.
“bagaimana denganku?”tanyaku dan aku menghentian langkahku sambil menatap Chaerin lekat.
“apanya?”Tanya Chaerin balik.
“aku mencintaimu. Apakah kau mencintaiku?”
“apakah aku harus menjawabnya?”
“aku mohon, jawablah agar aku berhenti bertingkah seperti orang gila.”kataku sambil mengenggam kedua tangannya lebih erat. Chaerin tersenyum padaku. Berbeda dari biasanya ini senyuman tulus.
“emm.. ya.”kata Chaerin tersenyum. Aku memeluk Chaerin dan mengecup bibrinya.
“aku mohon padamu berhentilah merasahasiakan apapun padaku. Perasaanmu, kesukaanmu, kegiatan dan apapun sekecil apapaun ceritakan padaku. Jangan membuatku menebak-nebak apa yang terjadi padamu.”
“oppa, apakah harus??”
“tentu saja. Jika tidak aku akan benar-benar menjadi orang gila.”ucapku dan Chaerin tertawa.
“kau tidak merasa bersalah??”tanyaku dan Chaerin mengeleng dengan senyumanya.
“kenapa kau seakan tidak tertarik padaku dan bersikap dingin?”tanyaku pada Chaerin.
“kita berawal dari sebuah perjodohan dan kau juga tidak menunjukan bahwa kau mencintaiku,oppa. Kau masih sering terlihat dekat dengan yeoja lain. Jadi, aku berfikir kau hanya tidak ingin mengecewakan orang tuamu hingga kau masih bersamaku, oppa.”
“disini sangat dingin sebaiknya kita ke rumahmu.”kataku sambil menarik Chaerin menuju mobil.
“kau tidak melakukan apapun padaku kan, oppa?”Tanya Chaerin saat kami baru saja masuk di dalam mobil.
“menurutmu?”tanyaku balik.
“kau paling hanya memaksa untuk mempercepat pernikahan. Karena aku tahu kau namja yang benar-benar gentleman. Saat malam kau menginap saja kau hanya menciumku dan tidur disebelahku, kau bahkan tidak menyentuh tubuhku dibagian lain. Sebenarnya aku agak takut kau tidak tertarik padaaku atau kau bukan namja normal, oppa”kata Chaerin sambil tertawa. Dia menertawaiku?? Ya benar! Malam itu tidak ada yang kami lakukan selain berciuman, sungguh tidak lebih dari itu. Kau kira aku akan mau melakukan hal itu dengan yeoja yang tidak mencintaiku?
“ada apa oppa?”
“kemarin aku memang tidak ingin melakukannya. Tapi, mumpung aku disini dan kita telah benar-benar saling mencintai bagaimana kita melakukannya?”
“hahaha.. kau benar benar gila oppa.”kata Chaerin tertawa lalu melihat ke luar jendela mengalihkan wajahnya dariku.
“aku akan menunjukkan padamu bahwa aku namja normal.”kataku sambil mengeser dudukku agar semakin dekat dengan Chaerin.
“oppa, apa yang kau lakukan? Berhentilah!”kata Chaerin mulai panic.
“Chaerin..”kataku tersenyum padanya, mendekatinya dan mengodanya.
“andwee!!”teriak Chaerin menahan tubuhku agar tidak semakin dekat dengannya.
Aku tidak akan melakukannya sekarang aku hanya menggangu Chaerin. Em… Tapi, mungkin aku akan melakukannya setelah sampai di rumah Chaerin.

END

Gila! Gila! Gila! Aku cukup gila menulis FF ini. Sungguh aku mulai binggung harus ngarahin FF ini seperti apa endingnya karena kehabisan ide. Tapi, tetap saja aku butuh respon untuk kegilaanku ini. Gomawo telah komentar di FF sebelumnya!
Oh, ya Julien Kang itu actor dan model yang lahir di Canada keturunan Prancis dan Korea. Aku dapat Info kalau cowok cakep blasteran ini menyukai CL sehingga aku memasukkannya di FF ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar