BLUE
Author: Kim Daisy
Cast: Chaerin a.k.a CL 2ne1
Kwon Ji
Yong a.k.a GD BIG BANG.
Genre: ???
FF ini berkisah tentang Jiyong yang bingung
dengan sikap Chaerin, tunangannya yang tidak pernah menolak dan marah padanya.
Jiyong binggung akan sikap Chaerin yang selalu cuek. Jiyong ingin mengetahui
sikap Chaerin dan perasaannya dengan caranya sendiri.
-------------------
Tampan, kaya, cerdas dan memiliki kepribadian
baik. bukankah aku pria idaman?? Tentu saja. Tapi, percaya diriku bisa turun
karena tunanganku, Lee Chaerin.
“kau tidak marah padaku?”tanyaku mencoba
memancingnya.
“untuk apa?”Tanya Chaerin datar.
“kau tidak lih..”
“aku lihat pipimu dicium olehnya. Tapi, kenapa
aku marah?”tanyanya balik dengan wajah binggung.
“dia..”
“tuan muda Kwon Jiyong.. aku percaya padamu
kau tidak mungkin mengkhianatiku karena itu artinya kau mengecewakan orang
tuamu. Kau tidak perlu merasa bersalah. Tenanglah. Tamu sudah menunggu
dibawah.”kata Chaerin berjalan dengan percaya diri keluar dari kamarku.
Seorang yeoja yang juga rekan kerjaku tiba-tiba masuk kekamarku dan mencium pipiku.
Aku kaget dengan aksi rekan bisnisku itu tapi, aku semakin kaget dengan
ekspresi Chaerin yang santai saat dia menangkap basah kami. Ekspersinya seakan
itu hal biasa dan sering aku lakukan. Dia bahkan tidak marah. Dia benar-benar
menurunkan kepercayaandiriku. Bukan! Aku tidak berselingkuh. Aku juga tidak
tahu sehingga aku terkejut.
“ji..”ucap rekan bisnisku, tangannya meyentuh
tanganku.
“aku anggap ini tidak pernah terjadi. Kau
tahukan dia tunanganku. Kita hanya rekan jadi jangan nodai hubungan kerja
kita.”kataku membukakan pintu agar dia keluar dari kamarku. Sepertinya aku
harus membuat kode keamanan lebih ketat untuk kamarku di hotel ini. Hotel ini
milik orang tua Chaerin dan kamar ini adalah kamar pribadiku bila aku menginap
disini.
Aku turun ke tempat pesta yang di
selenggarakan. Baru saja aku masuk
Chaerin sudah menggandeng tanganku. Aku rasa dia tidak benar-benar mencintaiku
hanya menjalani perannya. Mengingat hal ini membuatku kesal karena aku
benar-benar mencintainya.
“kau baik-baik saja?”tanyaku. Lagi-lagi aku
mencoba memancing emosinya.
“aku tidak apa-apa. Sungguh. Aku sangat
percaya padamu.”jawab Chaerin tersenyum manis. Dia percaya padaku 100% atau dia
sangat tidak peduli padaku sebenarnya. Ini menyakiti hatiku dan menurunkan
harga diriku.
“hay.. pasangan serasi!”sapa seorang yeoja
yang aku rasa adalah teman Chaerin. Chaerin tersenyum padanya dan melambai.
“aku dengar kalian sudah lama tunangan. Kenapa
baru di umumkan sekarang pada public?”Tanya yeoja itu sambil mendekat pada
kami.
“hanya menunggu waktu yang tepat.”jawab
Chaerin tersenyum. Hanya di depan umum aku bisa menikmati senyumnya. Dia selalu
datar jika di depanku.
“berapa lama sebenarnya kalian
bertunangan?”Tanya yeoja itu lagi.
“2 tahun?!”jawab Chaerin dengan ekspersi
binggung. Apakah dia lupa dengan waktu pertunangan kami?
“oh, berarti setelah kau berpisa..”
“oppa tolong ambilkan aku minum.”pinta Chaerin
sambil tersenyum padaku.
“em.”kataku sambil membalas senyumanya. Aku
mulai berjalan menjauhi Chaerin untuk mengambil minum yang terletak di salah
satu meja yang tidak jauh dari tempatku awalnya berdiri. Berpisah? Sebelum kami
bertunangan. Apa dia masih mengingat dan mencintai orang itu hingga dia masih
bersikap seperti ini padaku?
“hyung..”teriak Seungri, dia adik kelasku dulu
tapi kami cukup dekat. Aku membalas sapaannya dengan senyuman .
“dimana calon mempelai yeojanya?”Tanya Seungri
dengan senyuman nakalnya.
“dia disana lagi bercerita dengan
temannya.”kataku sambil menunjuk Chaerin yang masih mengobrol dengan temannya
tadi.
“kau kenapa disini?”
“aku hanya ingin mengambilkan minum untuknya.”
“aah.. hyung kau sungguh perhatian.”kata
Seungri sambil memukul bahuku pelan.
“kapan kalian akan menikah?”tanyanya.
“kami belum memutuskannya.”jawabku seadanya.
“kau tidak takut dia direbut orang lain?”
“dia sudah pasti akan jadi milikku.”
“kau percaya diri sekali hyung.”kata Seungri
sambil tertawa kecil.
@beberapa hari kemudian
Mantan kekasihku mampir kerumahku karena dia
mendapat undangan pernikahan temannya di Korea. Aku mengenalnya karena ada
pekerjaan di Jepang, ya mantan kekasihku itu memang berasal dari Negara sakura
itu.
“silahkan masuk.”kataku mempersilahkan dia
masuk.
“aku hanya berkunjung sebentar karena 3 jam
lagi jadwal penerbanganku. Aku menyempatkan datang kesini karena aku sudah lama
tidak bertemu denganmu.”katanya sambil berbalik melihatku dan tersenyum.
“terimakasih.”jawbaku seadanya. Entah apa yang
menyebabkan aku begitu cuek membalas ucapannya karena seingatku tidak ada perkelahian
saat kami berpisah.
“aku dengar beberapa minggu lalu kau
bertunangan.”katanya dengan santai duduk di sofaku.
“tidak. Aku dengannya sudah bertunangan dari 2
tahun lalu.”
“oh, jadi saat kita putus itu kau
meninggalkanku karena gadis itu!?”tanyanya.
“mungkin, karena jujur saja aku sudah lupa
akan hal itu.”jawabku sambil membuka kulkas untuk mengambilkan jus untuknya.
“dulu kau sangat baik denganku. Tidak seperti
sekarang. Kau tidak pernah menjawabku dengan kalimat dingin seperti ini.”
“itu hanya masa lalu. Sudahlah. Bukankah kau
juga sudah dengan yang lain juga.”kataku mencoba mengingatkan.
“apakah sikapmu ini karena kau masih sayang
denganku?”
“jangan bicara yang tidak-tidak. Bahkan aku
sudah lupa saat kita bersama.”kataku duduk di sofa memberikan segelas jus yang
aku ambilkan tadi.
“pertunangan kalian hanya tuntutankan?”
“selama 2 tahun kami bertunangan tidak mungkin
aku tidak mencintainya.”
“benarkah? Jika itu terjadi tidak mungkin kau
membiarkan aku masuk di saat pagi-pagi begini.”
“karena aku yakin dia tahu perasaanku dan
karena kita memang tidak memiliki hubungan apa-apa. Sebaiknya kau pergi
sekarang karena jalan menuju bandara sangat sering macet”jawabku sambil berdiri
dengan sopan mengusirnya.
Piip! Klek! Pintu terbuka.
“oh, ada tamu. Apa aku menganggu?”kata Chaerin
yang baru saja masuk dengan senyuman seakan dia akrab dengan mantan kekasihku.
Tanggannya membawa dua buah plastic belanjaan besar. Aku langsung mengambil
plastic yang dipegangnya.
“tidak. Kenapa kau meninggalkanku? Aku
terkerjut saat terbangun tidak ada kau.”ucapku pada Chaerin dan mengakat
benjaan ke dapur.
“kau bicara apa oppa?”kata Chaerin sambil
tertawa pelan. Aku tentu saja berbohong. Kami tidak pernah tinggal bersama
bahkan Chaerin tidak pernah menginap di rumahku. Jawaban Chaerin tidak
mengatakan aku berbohong dan tidak berbohong untukku. Tapi, jawaban itu
terdengar ambigu seakan hal itu benar terjadi dan dia malu akan hal itu.
“aku Chaerin!”kata Chaerin memperkenalkan
diri.
“Kiko. Sorry, sepertinya aku harus pergi. Aku
disini hanya mampir saja. Aku takut terjebak macet.”kata Kiko yang terburu-buru
berdiri.
“maaf, apakah karena aku?”Tanya Chaerin dengan
wajah bersalah. Bukan, Chaerin bukan merasa bersalah itu hanya acting saja, aku
yakin itu.
“tidak. Sebelum kau datang tadi aku juga akan
pergi kok. Senang berjumpa denganmu.”kata Kiko mencoba tersenyum pada Chaerin.
“oh, hati-hati!”kataku dari dapur.
“ya, senang bertemu denganmu.”ucap Chaerin
dengan senyuman. Kiko keluar dari rumahku dan secepat itu senyuman Chaerin
menghilang.
“maaf, aku mengaggumu. Aku pergi dulu”kata
Chaerin dengan wajah dinginnya.
“tunggu! Tidak biasanya kau datang pagi-pagi
begini untuk membelanja keperluanku.”kataku berlari kearah Chaerin dan
menggemgam pergelangan tangannya. Aku mencoba menahannya agar tetap di dekatku.
“huft! Oppa, aku sungguh mengantuk. Aku ingin
tidur sekarang”jawab Chaerin setelah menarik nafas.
“tidurlah di kamarku sebentar. Aku akan
membuatkanmu sarapan.”kataku dengan senyuman. Aku mencoba merayunya untuk
menahannya tetap disini, tetap disisiku. Chaerin menutup kedua matanya sejenak
dan membukanya kembali.
“baiklah.”jawabnya dan berjalan menuju
kamarku. Dua hari ini Chaerin tidak mengabariku bahkan dia tidak mengangkat
teleponku. Aku menghubungi omonim karena aku tidak bisa menghubunginya ternyata
dia sibuk dengan hobbynya mendesain baju hingga larut malam. Aku rasa dia baru
saja akan pulang dari studio ke rumahnya dan mampir kerumahku karena permintaan
omonim. Baiklah, aku akan masak-masakkan yang enak untukmu, Chaerin.
@satu jam kemudian
Aku sudah menyiapkan makanan untuk aku dan
Chaerin dengan rapi di atas meja. Segeraku langkahkan kakiku ke kamarku untuk
membangunkan Chaerin. Chaerin tidur dengan anggun dikasurku membuatku tidak
ingin membangunkannya dan menatapnya yang sedang tertidur.
“apakah kau mencintaiku?”ucapku pelan sehingga
ini terdengar seperti bisikkan saja. Aku ingin melihat Chaerin cemburu pada
yeoja yang mendekatiku tapi, hal itu tidak pernah terjadi. Aku ingin Chaerin
mencemaskanku saat dia tidak bisa menghubungiku seperti aku yang
mencemaskannya. Tapi, apakah dia tidak tahu Kiko adalah mantan kekasihku?
Apakah dia tidak curiga ada seorang yeoja datang pagi-pagi kerumah tunangannya?
Reaksi Chaerin yang biasa ini membuat aku binggung. Apakah aku tidak menarik
untuknya? Apakah aku tidak pantas dipertahankan? Apakah dia tidak mengerti
perasaanku?
“oppa, apa kau ingin membunuhku dengan tatapan
itu?”kata Chaerin dengan mata yang masih terpejam.
“anni. Aku hanya tidak tega membangunkanmu.
Makanan sudah siap, turunlah kataku.”kataku tersenyum.
“sepertinya ada yang ingin kau tanyakan
padaku, oppa.”
“Kiko itu mantan kekasihku.”
“hm.. lalu?”
“aku harap kau tidak marah karena kami tidak
ada apa-apa.”
“aku tahu oppa. Aku tahu dia mantan kekasihmu.
Aku tahu kau mencintainya sebelum bertemu aku. Aku percaya padamu jadi tidak
mungkin aku marah padamu.”jawab Chaerin. Aku berjalan mendekati Chaerin yang
masih duduk di kasurku.
“tapi, aku harap responmu tidak seperti
ini.”kataku jujur. Aku mendekatkan wajahku pada Chaerin. Aku mengecup bibirnya
sekilas.
“kajja, kita turun.”ucapku sambil memegang
kedua tanganya dan menariknya pelan untuk bangun dan mengikutiku kebawah.
“oppa, aku bahagia denganmu.”ucap Chaerin
dengan ekpresi yang lagi-lagi datar, dia begitu tenang.
Chu! Aku menciumnya lagi.
“kalau begitu tetaplah di sisiku.”kataku
sambil menatap lekat mata kucingnya itu. Aku sangat senang dengan ucapannya
yang simple itu. Walau aku tidak mengetahui apakah dia mencintaiku? Apakah dia
punya perasaan yang sama seperti yang aku rasakan?
Dia menerima begitu saja ciumanku tanpa marah
ataupun penolakkan lembut itu tidak mengartikan apa-apa karena aku pernah
beberapa kali menciumnya dia juga tidak pernah menolak tapi, sikapnya denganku
juga tidak berubah.
@beberapa minggu kemudian
Siang ini Chaerin mengajakku untuk menemaninya
menonton. Biasanya Chaerin lebih memilih menonton di rumahnya karena dia
memiliki “bioskop” sendiri tapi, Chaerin ingin kami nonton bioskop di tempat
umum.
“ini akan menarik perhatian.”kataku mencoba
mengingatkan.
“aku tahu oppa. Tapi, setidaknya aku ingin
mengalaminya denganmu.”jawab Chaerin tersenyum tipis membuat aku terdiam
sejenak. Dia menarik tanganku menuju studio dan beberapa orang yang menyadari
kehadiran kami menatap kami dengan binggung seakan kami mengunakan kostum sirkus.
Resiko sering muncul di televise membuat saat berada ditempat umum jadi tidak
nyaman.
“aku ingin nonton itu.”kata Chaerin menunjuk
film yang akan di tayangkan.
“OK!”balasku. setelah membeli tiket kami masuk
ke ruang studio bioskop. Menurutku
Chaerin sedikit aneh hari ini.
Entah apa film yang sedang di putar aku hanya
menatap wajah Chaerin yang sedang serius menonton. Hingga aku tidak menyadari
filmnya telah berakhir.
“oppa.”kata Chaerin memengang tanganku tapi,
sedikit kuat dari biasanya.
“apakah kau ingin nonton lagi?”tanyaku.
“anni. Kajja kita pulang oppa!”kata Chaerin
bangkit dari kursi dan menarik tanganku. Selama dua tahun ini mungkin hari ini
lah pertama kali kami menghabiskan waktu bersama dan dia bicara lebih banyak
dari pada biasanya.
“kajja!”kataku sambil merangkul bahunya.
Membuat tubuhnya menempel padaku.
Kini kami telah sampai di rumah Chaerin. Aku
membukakan pintu mobilku untuk Chaerin.
“gomawo oppa.”kata Chaerin dengan ekpresi yang
biasanya, datar. Aku mengandeng tangannya saat kami berjalan menuju pintu.
Omonim langsung menyambut kami.
“Jiyong, masuk dulu! Omma telah menyiapkan
makan malam”tawar omonim.
“ne, omonim”kataku masuk sambil tersenyum.
Seperti yang omonim katakan, omonim telah
menyiapkan makan malam juga untukku. Chaerin duduk di sampingku.sedangkan kedua
orang tua Chaerin duduk berhadapan dengan kami.
“Chaerin, kau sudah mengatakan rencanamu
dengan Jiyong?”kata abonim.
“ajik. Aku masih memikirkannya.”jawab Chaerin
santai.
“omma harap kau membatalkannya Chaerin. Dan
kau juga harus segara membicarakannya dengan Jiyong karena dia tunanganmu.”kata
omonim membuat aku semakin penasaran.
“ada apa?”tanyaku pada Chaerin. Tapi, Chaerin
hanya menatapku.
“Chaerin berencana ke Prancis.”kata abonim.
“aku tidak masalah.”kataku tidak berfikir
panjang.
“NO! no! no! jangan! Ini bukan berpergian
beberapa hari. Tapi, satu tahun Jiyong. Kau jangan memberikannya izin.”kata
omonim memperingatiku.
“satu tahun?”tanyaku pada Chaerin.
“ne, aku baru akan memberi tahumu besok. Aku
kesana ingin belajar. Apakah boleh?”Tanya Chaerin. Aku berfikir sejenak.
“nanti saja aku fikirkan lagi pula kau juga
masih ragukan?”kataku.
“ne. gomawo oppa.”
“itu bukan berarti tunanganmu akan memberikan
izin ya?”kata abonim mengingatkan Chaerin.
“walaupun kalian baru bertunangan tapi, bagiku
tanggung jawabku pada Chaerin sudah aku berikan padamu Jiyong. Aku yakin kau
akan menjaga Chaerin dengan baik.”kata abonim.
“ne, gomawo abonim!”ucapku dengan tersenyum.
Saat aku berada dipabrik textilku, tiba-tiba
Chaerin datang dengan membawa kotak nasi di tanggannya.
“oppa. Kajja, kita makan bersama.”ajaknya saat
dia baru saja menghampiriku. Aku membawanya keruanganku. Dia sengan sigap
menyiapkan kotak makannya yang bertingkat-tingkat itu.
“kau membuatnya sendiri?”tanyaku sambil
mengambil sumpit.
“ne! untukmu oppa.”jawab kata Chaerin tapi,
wajahnya datar tanpa ekspresi. Apakah dia tulus padaku?
“ini kejadian yang langka. Ada apa?”kataku
sambil mengambil nasi mengunakan sumpit.
“oppa, aku akan pergi ke Prancis.”
“kapan?”kataku seakan aku baik-baik saja. Aku
terkejut tapi, aku harus menjaga perasaanku.
“4 hari lagi. Apakah boleh? Apakah kau
mengizinkan aku pergi oppa?”
“pergilah. Aku tidak masalah kau pergi tapi,
ini hanya untuk sementara. Aku tidak mengizinkanmu untuk pergi dariku selamanya.
Aku akan menjengukmu sesekali”kataku sambil mengambil potongan ayam dan
memasukkan ke mulutku. Aku hanya mencoba untuk bersikap baik. Mungkin ini cara
terbaik untuk mengetahui perasaan Chaerin.
“gomawo oppa!”kata Chaerin dan ikut makan
bersamaku.
@hari keberangkatan Chaerin.
“oppa, aku pergi.”kata Chaerin padaku. Aku
memelukknya. Mendekapnya erat dalam pelukanku. Jika aku mengatakan jangan pergi
apakah Chaerin akan tetap disini? Apakah dia akan membenciku?
“oppa. Aku bisa terlambat.”katanya pelan tapi,
dia tidak mencoba untuk lepas dari pelukkanku.
“sebentar lagi. Aku mencoba menyimpan dirimu
di tubuhku. Agar aku tidak merindukanmu untuk waktu nanti.” Mendengar jawabanku
Chaerin hanya diam.
“ehm.. jika seperti ini terus seharusnya kau
tidak usah pura-pura memiliki hati yang lebar, Jiyong. Bukankah aku sudah
memperingatimu untuk melarangnya?!”kata omonim membuat aku tertawa dan sontak
melepaskan Chaerin dalam pelukanku.
“ne, omonim. Sekarang aku menyesal tapi, aku
tidak bisa menarik perkatanku.”kataku dengan tertawa. Abonim memukul punggungku
pelan.
“perpisahan itu awalnya memang terasa berat.
Tapi, ini bukan perpisahan untuk selamanya jadi jangan cemas.”nasehat abonim.
Tapi, diwajah Chaerin mengatakan hal ini biasa saja untuknya seakan ini
bukanlah masalah.
“ne abonim.”jawabku. Ibuku memeluk Chaerin
setelah memberikan beberapa nasehat untuk Chaerin.
“aku pergi. Aku akan mengabari kalian”kata
Chaerin dan membalikkan badannya. Dia masuk ke pintu menuju pesawat dan aku
melihatnya hingga Chaerin benar-benar tidak terlihat lagi di ruangan itu.
@5 bulan kemudian
Aku turun dari pesawat menatap langit yang
tidak jauh berbeda dengan langit di Korea. Ya, aku ke Prancis untuk menemui
Chaerin. Sebenarnya ini bukan pertama kali aku ke sini. Sebulan sekali aku
pasti menyempatkan ke Prancis untuk melihat Chaerin secara langsung. Tapi, aku
hanya melihatnya dari jauh. Aku hanya bisa mengawasinya. Jika aku secara
langsung datang ketempatnya dia akan tahu bahwa aku sangat mencintainya, aku
tidak ingin dia tahu.
Malam ini aku sengaja ke restoran diseberang
tempat Chaerin biasa makan malam. Aku terkadang juga memata-matainya dengan
orang bayaran agar aku mengetahui tentang Chaerin saat aku tidak ada di
dekatnya. Protektif? Tidak, aku rasa aku lebih ke psycho karena begitu menggilai
Chaerin. Ini lebih dari protektif. Tapi, anehnya aku tetap tidak ingin Chaerin
tahu besarnya cintaku padanya.
Ah, Chaerin masuk ke restoran itu seperti kata
orang yang aku bayar untuk mengikuti Chaerin. Aku bisa melihat Chaerin dari
sini tapi, Chaerin tidak akan bisa melihatku yang duduk di sini.
Tunggu! Siapa itu? Dengan siapa Chaerin itu?
Kenapa dia duduk dengan namja asing itu? Aku harus mendatanginya!
TBC
aku mulai kehabisan ide untuk judul dan FFnya.
Sebenarnya, sudah ada beberapa FF yang sudah dibuat tapi, aku rasa belum
maksimal sengga belum aku publis. Thks yang udah sering komentar FFku. Karena
tanpa kalian. aku masih menulis walau beberapa kali terbesit untuk berhenti
menulis FF. Aku harapkan komentarnya
karena hanya itu yang mempertahanku untuk menulis agar page ini bisa aktif
terus. Thks untuk pengertian dan kerja samanya.
BLUE (part 2-2 END)
Author: Kim Daisy
Cast: Chaerin a.k.a CL
2ne1
Kwon Ji Yong a.k.a GD BIG BANG.
Genre: adult, PG 17
FF ini berkisah
tentang Jiyong yang bingung dengan sikap Chaerin, tunangannya yang tidak pernah
menolak dan marah padanya. Jiyong binggung akan sikap Chaerin yang selalu cuek.
Jiyong ingin mengetahui sikap Chaerin dan perasaannya dengan caranya sendiri.
-------------------
Malam ini aku sengaja
ke restoran diseberang tempat Chaerin biasa makan malam. Aku terkadang juga
memata-matainya dengan orang bayaran agar aku mengetahui tentang Chaerin saat
aku tidak ada di dekatnya. Protektif? Tidak, aku rasa aku lebih ke psycho
karena begitu menggilai Chaerin. Ini lebih dari protektif. Tapi, anehnya aku
tetap tidak ingin Chaerin tahu besarnya cintaku padanya.
Ah, Chaerin masuk ke
restoran itu seperti kata orang yang aku bayar untuk mengikuti Chaerin. Aku
bisa melihat Chaerin dari sini tapi, Chaerin tidak akan bisa melihatku yang
duduk di sini.
Tunggu! Siapa itu?
Dengan siapa Chaerin itu? Kenapa dia duduk dengan namja asing itu? Aku harus
mendatanginya.
Dengan hati-hati aku
menyebrangi jalan menuju tempat Chaerin
berada. Pelayan yang menjaga pintu masuk menyambutku dengan ramah tapi, aku
cuekin begitu saja karena mataku berpusat pada Chaerin yang sedang tersenyum
manis dengan lelaki asing itu. Membuat musim dingin disini terasa panas
untukku.
“hai, Chaerin.
Ternyata kau juga ada disini.”ucapku saat sampai dimejanya. Chaerin melihatku
dengan kaget. Tapi, tidak lama dia tersenyum dan tangannya menyambutku.
“kenapa kau
disini?”kata Chaerin tersenyum padaku dan itu sedikit berhasil memadamkan api
di hatiku.
“a. aku baru saja
turun dari pesawat. Berjalan-jalan sebentar untuk menuju ke tempatmu ternyata
aku mendapat kejutan disini.”jawabku sambil menyambut tangannya, lalu mengecup
keningnya dan duduk di kursi tepat disebelahnya. Dan tentu saja pria asing itu
duduk berhadapan dengan Chaerin.
“perkenalkan dia
tunanganku yang pernah aku ceritakan. Oppa, dia temanku, Julien Kang .”jelas
Chaerin. Kang? Wajahnya tidak terlihat seperti orang Korea.
“anda
blasteran?”tanyaku.
“ne. Ayahku yang
berasal dari Korea, ibu ayahku orang Perancis.” Jawab Kang ssi tersenyum sambil
menatap Chaerin.
“baguslah. Aku tidak
perlu repot-repot menggunakan bahasa Inggris untuk berbicara denganmu.”kataku
tanpa berfikir.
“ya, bahasa Korea ku
cukup baik jadi santai saja saat bicara denganku.”balasnya. Apa dia kira aku
gugup bicara dengannya?
Makan malam berakhir.
Makanan disini terasa biasa saja bagiku hanya saja yang membat aku sebal adalah
pria asing itu suka sekali tersenyum pada Chaerin. Apa dia menyukai Chaerin?
“senang makan
denganmu, Chaerin. Lain kali aku akan meneraktir kalian lagi. Oh ya Kwon, Chaerin
masih tunanganmu. Jangan melarangnya untuk dekat denganku ya. Aku pergi
dulu.”kata Kang_ssi dengan santai dan tersenyum. Apa maksudnya? Apakah dia akan
merebut Chaerin dari? Apa ini tanda perang?
“oppa, kau
keteraluan.”kata Chaerin dan membuat aku keluar dari rasa kesalku. Dan pria
asing itu sudah tidak ada disini.
“wae? Apa
salahku?”kataku tidak mengerti dengan sikap Chaerin.
“kau menatapnya dengan
tatapan berperang, oppa.”kata Chaerin sambil bangkit dari kursinya.
“aku tidak
begitu.”jawabku mengikutinya.
“ini barangmu?”tanyaku
saat melihat tas belanja di bawah kursi Chaerin.
“oh, ne.”kata Chaerin
dan aku membawakan tas itu untuknya.
“dia berkerja sebagai
apa? Apa dia belajar di tempat yang sama denganmu? Bagaimana kalian saling
mengenal? Sudah berapa lama kalian kenal?”tanyaku mencoba melihat expresi
Chaerin. Apakah dia akan berubah jika aku membicarakan pria asing itu?
“dia seorang model dan
aku beberapa bulan ini berkerja sama dengannya. Aku ass. Desainer dan dia
modelnya. Ah, dia juga seorang actor.”jawab Chaerin. Dia mengunakan mantelnya.
“kau mengukur
badannya?”
“tentu saja, oppa.
Bagaimana mungkin aku membuat pakaian tanpa mengukur badan modelku?”
“apa kau…”
“oppa?!”kata Chaerin
mencoba menghentikanku.
“wae?”
“kau berlebihan. Ini
diluar batasmu. Kita hanya bertunangan.”kata Chaerin dengan tegas dan menatapku
dengan tatapan yang membuatku terdiam. Dia memarahiku karena namja asing itu?
Chaerin marah padaku?? Ahk! Aku tidak bisa percaya ini.
“jadi maksudmu?”
“jika salah satu
antara kita tidak nyaman, jika ada sesuatu bisa saja hubungan ini berakhir.
Oppa, kau jangan berlebihan.”kata Chaerin memegang tanganku. Seakan ini adalah
peringatan untukku. Dia benar-benar
marah denganku karena pria asing itu?? Aku akan mengawasi mereka lebih
ketat. Julien Kang bersiaplah kau.
“kau menyukainya?”
“oppa”kata Chaerin
dengan penekanan.
“aku ini tidak pantas
untukmu kan?”
“apa oppa rasa seperti
itu?”kata Chaerin dan dia menatapku dengan lekat. Dan aku melihat kekecewaan
dimatanya.
“...”
“bawalah itu pulang
dan cepat kembali ke Korea.”kata Chaerin cepat dan berlari. Lalu dia
memberhentikan taxi dan meninggalkanku sendiri. Awas, saja kau pria asing??
Sebelum bertemu denganmu Chaerin tidak pernah seperti ini padaku. Wajah datar
tanpa expresinya itu lebih mending dibandingkan dia marah padaku. Ini
menyebalkan.
@kamar hotel Jiyong
Sesampai di kamar
hotel, aku membuka tas belanja yang aku bawakan untuk Chaerin tadi ternyata
berisi kotak kado. Dengan perlahanku buka kotak berwarna silver itu. Sebuah
kemeja putih dengan kerah hitam dan dasi berwarna hitam dengan benang emas
inisial namaku dibagian bawahnya. Aku lihat mereknya tertulis CL disana. Ya,
tidak salah lagi ini kemeja buatan CL saat dia pertama kali memulai kelas
desainnya disini karena aku mendapat selembar foto Chaerin sedang membuat baju
ini dari orang bayaranku.
Aku langsung mengambil
mantelku dan pergi dengan terburu-buru menuju tempat tinggal Chaerin. Walau aku
tidak pernah ke tempatnya tapi, aku sudah tau Chaerin tinggal dimana dari orang
bayaranku.
-SKIP-
Aku mengetuk pintu
dengan keras, berharap Chaerin segera membuka kan pintu untukku. Dan
“wae?”satu kata itu
langsung keluar saat aku belum bisa melihat seluruh wajah Chaerin dari balik
pintu. Apakah dia masih marah?
“izinkah aku masuk.
Disini dingin.”ucapku. Walau biasanya Chaerin juga datar-datar saja tapi, kali
ini sedikit berbeda. Dia terlihat sedang marah.
Chaerin membukakan
pintu sedikit lebar dan mempersilahkan aku masuk.
“duduklah. Aku akan
mempersiapkan kopi untukmu.”kata Chaerin meninggalkanku di ruang tamunya yang
kecil. Chaerin hanya tinggal ditempat yang biasa saja karena dia tidak
diberikan uang dari orang tuanya untuk tempat tinggal. Itu karena orang tuanya
melarang Chaerin untuk pergi. Jadi Chaerin harus hidup mandiri.
“kemeja itu..”kataku
gugup ingin mengucapkan apa.
“kemeja itu yang
membuat aku masuk ke kelas desain.”
“itu memang untukku?”
“wae? Kau tidak suka
oppa?”kata Chaerin sambil mengaduk kopi yang telah dia seduh.
“aku suka. Aku hanya
penasaran.”
“ya. Oppa, kau merasa
bersalah karena tadi? Jangan dipikirkan! Aku juga tidak yakin hubungan ini akan
berhasil.”kata Chaerin dengan tenang tapi, membuat hatiku panas dan sakit. Dia
tidak yakin??
“dari awal kau tidak
menyukai hubungan ini?”kataku sambil berjalan mendekati dapur Chaerin yang
tidak jauh dari tempatku karena ruangan disini kecil.
Sebelum Chaerin
menjawab pertanyaanku aku mencium bibir Chaerin. Kali ini aku menciumnya dengan
kasar dan sedikit menuntut tidak seperti biasanya tapi, Chaerin juga tidak
mencoba menghentikanku atau mendorongku. Dia hanya diam membiarkan apa yang aku
lakukan.
“omo! Sorry,
seharusnya aku tidak keluar.”aku melepaskan bibirku dari Chaerin dan melihat
omonim keluar dari kamar dan memperhatikan kami.
“maafkan aku
omonim!”kataku menahan malu. Sungguh aku
malu.
“gwinchana. Itu wajar
bagiku. ah, Jiyong ini sudah malam sebaiknya tidurlah disini. Aku masuk
dulu.”kata omonim lalu masuk lagi ke kamar dengan sebuah senyuman.
“aku pulang saja.”
“tidak. Tidurlah
disini dari pada omma curiga. Habiskan kopimu dan itu kamarmu”kata Chaerin
sambil menunjuk sebuah kamar yang bersebelahan dengan kamar yang omonim masuki
tadi.
Aku menuruti kata
Chaerin dan masuk ke kamar yang Chaerin tunjuk. Kamar ini kamar Chaerin
buku-buku dan semua barangnya tersusun rapi.
Klek!
“ada apa?”tanyaku.
“ini sudah malam sudah
waktunya untuk tidur.”kata Chaerin.
“ya. Aku akan
tidur”kataku sambil naik ke kasur yang ukurannya cukup untuk dua orang walau
tidak terlalu luas. Chaerin berjalan mendekati dan duduk di sisi kasur yang
berlawanan arah denganku.
“kenapa?”tanyaku
binggung.
“tentu saja aku ingin
tidur. Ini sudah malam.”
“tidur disini?”tanyaku
semakin binggung.
“tentu saja. Ini
kamarku.”
“kalau begitu aku akan
minta omonim tidur disini saja.”kataku akan bangkit dari kasur tapi, Chaerin
menahanku dengan memegang pergelangan tanganku.
“jangan! Omma sudah
mengunci kamarnya.”
“kau yakin kita tidur
berdua disini??”
“kenapa? Aku yakin
tidak akan terjadi apa-apa.Tidurlah”kata Chaerin santai dan membaringkan
tubuhnya di kasur. Kenapa dia bisa setenang itu??
Ini sudah 30 menit
tapi, aku tidak bisa tidur. Jantungku berdetak begitu kencang mengalahkan
detakan jam.
“kenapa kau belum
tidur juga oppa?”kata Chaerin bangun dari tidurnya dan menatapku binggung.
“mungkin ini karena
kopi tadi yang kau berikan. Kau juga belum tidur.”kataku mencari alasan. Tidak
mungkin aku mengatakan jantungku berdetak kencang karena tidur disebelahnya,
itu memalukan seakan aku adalah anak remaja yang baru mengenal cinta.
“kau terlalu gelisah
oppa. Itu membuatku tidak bisa tidur.”
“mian, haruskah aku
pindah?”
“tidak perlu. Oppa..”
“ada apa?”
“kau cemburu dengan
Julien?”
“bukan. Bukan seperti
itu. Hanya saja kau tidak pernah menceritakannya padaku.”kataku berbohong. Aku
benar-benar seperti anak remaja yang baru mengenal cinta. Cemburu?? Tentu saja
aku cemburu.
“untuk apa aku
menceritakannya padamu, oppa?”Tanya Chaerin. Sial, aku harus jawab apa?
“omonim kenapa ada
disini?”tanyaku mengalihkan semuanya.
“omma hanya
menjengukku. Biasanya seminggu sekali.”
“kapan omma akan
pulang?”
“2 hari lagi. Oppa,
berapa lama disini?”
“berapa lama kau ingin
aku disini menemanimu?”tanyaku sambil menatapnya lekat penuh harap dan Chaerin
juga menatapku.
“aku tidak mungkin
menahanmu untukku. Kau kan orang penting di perusahaanmu, oppa. Bagaimana
dengan pabrik juga kau tidak ada?”jawab Chaerin. Bola matanya tidak melihatku
seakan mencari alasan untuk berbohong.
“kau inginku
temani?”tanyaku dan Chaerin menatapku lekat. Aku menggeser tubuhku hingga
jarakku dan Chaerin semakin dekat. Ku cium bibirnya itu sambil memeluknya erat.
Tunggu. Chaerin membalas ciumanku. Bukankah ini tandanya dia juga
menginginkanku??
“egh.. izinkan aku
bernafas!”katanya saat berhasil mendorongku menjauh. Ya, aku akui aku sedikit
mengila karena Chaerin membalas ciumanku. Aku berikan Chaerin sedikit waktu dan
Chaerin menatapku kembali. Ini saatnya. Dan aku menciumnya kembali.
SKIP
@2 hari kemudian di
bandara Seoul.
Kini aku sudah kembali
ke Korea dengan omonim.
“kenapa kau diam saja
dari tadi Jiyong? Apakah belum puas bulan madunya?”kata omonim meledekku.
“bulan madu apa
omonim?”tanyaku kaget.
“sudahlah aku tahu
yang terjadi saat malam pertama kau menginap dan hari-hari selanjutnya. Aku
senang hubungan kalian semakin dekat artinya jarak bukanlah hambatan malah
membantu kalian semakin dekat dan saling merindukan.”kata omonim sambil tertawa
pelan membuatku malu saja.
“omonim, jangan
dibahas itu membuatku malu.”jawabku jujur dan itu membuat omonim tertawa lepas
dan menggandeng tanganku.
“aku senang kau yang
akan menjadi suami Chaerin.”kata omonim.
“omonim, kau jangan
menggandengku jika orang melihat orang akan mengira aku selingkuh dan akan
membuat Chaerin marah padaku.”gurauku.
“apakah anakku pernah
cemburu?”
“sejauh ini tidak.”
“itu karena kau
menjaga perasaan Chaerin begitu baik.”
“bukan seperti itu.
Hanya saja Chaerin tidak pernah menunjukkan perasaanya padaku. Tapi, aku tahu
dia juga menyukaiku.”kataku sambil tersenyum karena mengingat malam “itu”.
“benarkah?”
“hem.. bagaimana jika
aku berpura-pura berselingkuh denganmu omonim, mungkin Chaerin akan cemburu?”kataku
bercanda dan ommonin tertawa. Kami masuk ke mobilku dan supir yang sebelumnya
membawa barang-barang kami memasukkan barangku dan omonim ke mobil yang lain.
“gimana jika kalian
menikah saja di Prancis bulan depan?”kata omonim menatapku penuh harap.
“sebaiknya kau saja
yang mengatakannya pada Chaerin, omonim. Karena Chaerin menolakku saat aku
mengatakannya kemarin. Dia bilang dia ingin fokus dulu.”
“kalau begitu aku yang
membujuknya.”kata omonim tersenyum.
Saat aku pulang ke
rumah berita itu sudah menyebar ternyata. Berita aku sedang berbulan madu.
Sungguh ini memalukan. Aku berharap
berita ini tidak sampai di perusahaan dan dipabrik.
“kau tidak curiga
dengan namja asing itu?”Tanya nunaku sambil memakan sandwichnya.
“nuna, jangan
khawatir! Chaerin tidak akan mengecewakanku.”kataku sambil mengesap kopiku yang
masih panas dengan pelan.
“hanya karena dia
memberikan tubuhnya padamu sikap psychomu itu hilang?? Huaa.. fantastik!!”kata
nuna dengan sikap hiberbolanya. Aku melihat ke kiri dan kananku memastikan
tidak ada yang mendengar pecakapan kami.
“nuna, kau membuatku
malu setengah mati. Chaerin percaya padaku, sebaiknya aku juga percaya padanya.
Aku akan mencoba bersikap dewasa untuk mempertahankan cinta kami.”
“kau seperti orang
lain saja, tuan Kwon Jiyong.”ledek nunaku.
“ya, aku yang sekarang
orang yang berbeda. Aku bukan lagi orang yang pesimis dengan cintanya.”kataku
sambil tersenyum bahagia.
“dari ceritamu aku
sedikit curiga dengan pria asing itu. Tapi, ini mungkin hanya firasatku. Karena
aku tahu Chaerin orang yang begitu hati-hati tidak mungkin dia berbuat sesuatu
tanpa perhitungan sebelumnya. Hem.. tapi, bisa jadi malam itu dia melakukannya
untuk mengelabuimu. Kekeke..”kata nuna dengan tertawa mengejek membuatku kesal
saja.
“berhenti menggaguku
nuna! Kau menyebalkan.”kataku dan tawa nuna semakin meledak. Sudahku duga dia
hanya mengerjaiku saja.
Sial, baru tiga hariku
di Korea tapi, karena kata nuna kemarin membuatku menjadi tidak tenang. Dan
kini aku sudah di perancis. Akh!! Aku akan gila.
“tuan Kwon, Nona Lee
sudah tidak ada di gedung apartemennya.”kata orang bayaranku.
“ya, aku tahu jam
segini mungkin dia ada di pelatihan desainnya.”kataku sambil mengeret koperku
di lantai bandara.
“dia juga tidak pergi
menuju pelatihannya. Lalu dia kemana?”
“dia di Hotel X (nama
hotel di sensor karena bukan sponsor #author Stress) sudah lebih dari 30 menit
yang lalu.”
“untuk apa?”tanyaku
sambil berhenti melangkah dan menatapnya meminta penjelasan yang lebih lengkap.
Orang bayaranku terdiam sambil menunduk. Aku berlari menuju mobilku dan meminta
sopirku langsung ke Hotel X. Bagaikan orang gila aku selalu berteriak agar
mobil berjalan lebih cepat.
“tuan, ini foto dari
bawahanku.”kata orang bayaranku sambil menunjukan photo di ponselnya. Sebuah
foto Chaerin mengunakan baju pengantin berwarna soft pink dan namja di
sampingnya sedang memperbaiki posisi anak rambutnya. Namja itu mengunakan
toxedo dan kemeja berwarna senada dengan Chaerin. Dan yang membuatku semakin
kesal adalah namja itu Julien Kang. Namja yang katanya hanya teman Chaerin
tapi, begini dibelakangku??
“apa yang terjadi???
Lebih cepat!!”teriakku pada sopir.
“namja ini Julien
Kang. Mereka dulu pernah menjalankan hubungan saat nona Lee masih sekolah di
Prancis kira-kira tiga tahun lalu.”jelas orang bayaranku dan karena emosiku aku
tidak dapat mendengarkan penjelasan selanjutnya.
@hotel X
Orang-orang begitu
ramai. Bunga-bunga menghiasi setiap ruang,
jelas ini acara pernikahan. Aku berlari bagaikan orang tidak tahu arah
mencari keberadaan Chaerin dan orang bayaranku membawaku ke sebuah room. Saat aku memasuki room aku melihat Chaerin
disana berdiri di depan dengan namja bermarga Kang itu. Lampu sorot menerangi
mereka agar perhatian semua orang menuju ke mereka. Semua orang bertepuk tangan
dan kilatan kamera bertubi-tubi mengarah pada mereka. Tubuhku lemas, kakiku
seakan mati rasa sehingga tidak dapat digerakkan. Hanya tiga hari lalu semuanya
musnah. Nuna benar. Aku terlalu bodoh hingga lenggah.
“hua.. gaunnya sungguh
indah.”gumam orang bayaranku dan reflek aku meninju pipi kanannya dengan
tanganku yang awalnya aku rasa tidak bertenaga. Aku membayarnya tapi,
bisa-bisanya dia mengatakan kalimat itu disaat dia tahu keadaanya seperti ini.
“tuan, kau
kenapa?”tanyanya binggung sambil memegang pipinya. Ada sedikit darah mengalir
di sela-sela bibirnya. Aku akan memukulnya sekali lagi, beraninya dia
berprilaku sok polos denganku. Tapi, tanganku dan tubuhku benar-benar tidak
bisa digerakkan karena beberapa orang sudah menahan tubuhku. Dengan amarahku
aku melawan tapi, aku hanya berhasil menendangnya dan akhirnya aku diseret
keluar oleh keamanan.
Entah bagaimana aku
sudah diluar hotel dengan duduk lemas di tangga pintu masuknya. Pipiku basah,
mungkin aku mennagis. Langkah kaki yang anggun berjalan mendekatiku. Aroma tubuh
yang sangatku ingat sehingga aku yakin sekali bahwa orang itu Chaerin. Chaerin
duduk di sebelahku, tangannya mengelus pipiku.
“oppa, kenapa kau
disini?”tanyanya lembut. Kenapa aku tidak bisa marah dengannya walau hati ini
seakan meledak?
“aku tidak boleh
disini?”kataku dengan nada tinggi. Rasa sedihku hilang dengan emosiku.
“biasanya kau tidak
seemosional ini.”
“bagaimana aku tenang
jika aku melihat yeoja yang aku cintai menikah didepan mataku.”kataku tapi, aku
tidak ingin melihat Chaerin.
“ada yeoja lain? Lalu
kenapa kau marah dan menangis disini? Kenapa kau tidak mendatanginya membunuh
mempelai prianya dan kabur dengan pengantin wanitanya?”
“kau ingin aku
melakukan itu?”
“tidak. Bagaimana
mungkin aku bisa rela melepaskanmu untuk yeoja lain?”kata Chaerin tapi, ini
membuatku binggung.
“apa maksudmu? Yeoja
yang aku maksud itu kau, Lee Chaerin. Kau yang sedang menikah dengan namja
asing yang ternyata mantan kekasihmu yang bernama Julien Kang itu. Dan kau
bilang kau..”
“siapa yang menikah
oppa?”Tanya Chaerin memutuskan perkataanku.
“aku melihatmu
dipodium dengan pakaian pengantin dan Kang disampingmu tadi.”kataku menundukkan
kepalaku menutupi wajahku dengan tanganku. Berat rasanya dan emosiku mulai naik
kembali setelah mendengar tawa Chaerin.
“kau menertawakan perasaanku?”ucapku
kesal.
“kau salah paham oppa.
Aku tidak menikah, ini acara pertunjukan gaun pengantin. Aku menjadi model kali
ini bersama Julien. Bukan acara pernikahanku dengan Julien. Kau lucu sekali,
oppa”jelas Chaerin dengan tawa. Tapi, aku masih belum percaya.
“kau berbohong.”
“oppa, ikuti aku.”kata
Chaerin menarik tanganku dengan lembut. Dengan malas aku mulai berdiri tegak
dan mengikutinya. Keamanan menghadang agar aku tidak masuk tapikarena Chaerin
kami akhirnya bisa masuk. Chaerin mengajakku melangkah ke ruangan yang
sebelumnya telah ku buat kekacauan kecil sebelumnya.
“lihat.”kata Chaerin
sambil menunjuk podium. Banyak pengantin yang bergantian berjalan dipodium.
“oppa, kau masih tidak
percaya?”tanya Chaerin.
“tuan, maafkan aku.
Tapi, bukankah aku sudah menjelaskan bahwa ini hanya pertunjukan baju pengantin
yang diadakan oleh guru kelas desain nona Lee. Apa anda tidak mendengar
penjelasanku hingga salah paham?”jelas orang bayaranku yang ternyata
mengikutiku dari jauh karena masih takut padaku. Chaerin tersenyum padaku.
“aku akan segera
kembali. Jangan pergi dulu! Duduklah disana”kata Chaerin sambil menunjuk sebuah
kursi yang kosong. Chaerin langsung menghilang begitu saja dan tidak lama dia
muncul di podium dengan seluruh model dan desainernya. Aku tertawa kecil,
menertawakan kebodohanku. Sungguh aku dibutakan. Ini memalukan. Aku berharap
tidak ada kamera yang menangkap asih gilaku.
@10 menit kemudian.
“aku sudah siap.”kata
Chaerin dengan gaun dan mantel angun yang melekat ditubuhnya.
“apakah perkerjaanku
sudah selesai?”Tanya orang bayaranku.
“maafkan aku, ini
biaya pengobatan dan bayaranmu.”kataku dengan memberikan sebuah amplop pada
orang bayaranku dan dia mengambilnya lalu pergi.
“kajja!”kata Chaerin
lagi-lagi menarikku.
“kemana?”tanyaku
binggung.
“ikuti saja.”kata
Chaerin.
Kini kami sudah sampai
ditaman. Kami berjalan bersama dengan tangan saling bergandengan. Salju
menutupi taman ini tapi, tetap saja indah.
“Julien memang mantan
kekasihku tapi, bukan berarti aku masih mencintainya. Aku dan dia hanya ikatan
teman dan kerjaan. Tidak ada yang lain. Aku mengatakan ini karena aku ingin kau
berhenti membuang uangmu untuk orang yang memata-mataiku.”jelas Chaerin.
“bagaimana
denganku?”tanyaku dan aku menghentian langkahku sambil menatap Chaerin lekat.
“apanya?”Tanya Chaerin
balik.
“aku mencintaimu.
Apakah kau mencintaiku?”
“apakah aku harus
menjawabnya?”
“aku mohon, jawablah
agar aku berhenti bertingkah seperti orang gila.”kataku sambil mengenggam kedua
tangannya lebih erat. Chaerin tersenyum padaku. Berbeda dari biasanya ini
senyuman tulus.
“emm.. ya.”kata
Chaerin tersenyum. Aku memeluk Chaerin dan mengecup bibrinya.
“aku mohon padamu
berhentilah merasahasiakan apapun padaku. Perasaanmu, kesukaanmu, kegiatan dan
apapun sekecil apapaun ceritakan padaku. Jangan membuatku menebak-nebak apa
yang terjadi padamu.”
“oppa, apakah harus??”
“tentu saja. Jika
tidak aku akan benar-benar menjadi orang gila.”ucapku dan Chaerin tertawa.
“kau tidak merasa
bersalah??”tanyaku dan Chaerin mengeleng dengan senyumanya.
“kenapa kau seakan
tidak tertarik padaku dan bersikap dingin?”tanyaku pada Chaerin.
“kita berawal dari
sebuah perjodohan dan kau juga tidak menunjukan bahwa kau mencintaiku,oppa. Kau
masih sering terlihat dekat dengan yeoja lain. Jadi, aku berfikir kau hanya tidak
ingin mengecewakan orang tuamu hingga kau masih bersamaku, oppa.”
“disini sangat dingin
sebaiknya kita ke rumahmu.”kataku sambil menarik Chaerin menuju mobil.
“kau tidak melakukan
apapun padaku kan, oppa?”Tanya Chaerin saat kami baru saja masuk di dalam
mobil.
“menurutmu?”tanyaku
balik.
“kau paling hanya
memaksa untuk mempercepat pernikahan. Karena aku tahu kau namja yang
benar-benar gentleman. Saat malam kau menginap saja kau hanya menciumku dan
tidur disebelahku, kau bahkan tidak menyentuh tubuhku dibagian lain. Sebenarnya
aku agak takut kau tidak tertarik padaaku atau kau bukan namja normal,
oppa”kata Chaerin sambil tertawa. Dia menertawaiku?? Ya benar! Malam itu tidak
ada yang kami lakukan selain berciuman, sungguh tidak lebih dari itu. Kau kira
aku akan mau melakukan hal itu dengan yeoja yang tidak mencintaiku?
“ada apa oppa?”
“kemarin aku memang
tidak ingin melakukannya. Tapi, mumpung aku disini dan kita telah benar-benar
saling mencintai bagaimana kita melakukannya?”
“hahaha.. kau benar
benar gila oppa.”kata Chaerin tertawa lalu melihat ke luar jendela mengalihkan
wajahnya dariku.
“aku akan menunjukkan
padamu bahwa aku namja normal.”kataku sambil mengeser dudukku agar semakin
dekat dengan Chaerin.
“oppa, apa yang kau
lakukan? Berhentilah!”kata Chaerin mulai panic.
“Chaerin..”kataku
tersenyum padanya, mendekatinya dan mengodanya.
“andwee!!”teriak
Chaerin menahan tubuhku agar tidak semakin dekat dengannya.
Aku tidak akan
melakukannya sekarang aku hanya menggangu Chaerin. Em… Tapi, mungkin aku akan
melakukannya setelah sampai di rumah Chaerin.
END
Gila! Gila! Gila! Aku
cukup gila menulis FF ini. Sungguh aku mulai binggung harus ngarahin FF ini
seperti apa endingnya karena kehabisan ide. Tapi, tetap saja aku butuh respon
untuk kegilaanku ini. Gomawo telah komentar di FF sebelumnya!
Oh, ya Julien Kang itu
actor dan model yang lahir di Canada keturunan Prancis dan Korea. Aku dapat
Info kalau cowok cakep blasteran ini menyukai CL sehingga aku memasukkannya di
FF ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar