Judul: OPPA!!
Cast: SKY DRAGON
Author: Kim dan Dika
Genre: family, romance
pernah diposting di: grup FFm3
Chaerin POV
Aku masuk kedalam rumah mewah ini dengan sedikit takut.
"Chaerin, ini adalah ommamu dan ini oppamu, Jiyong"kata ajussi itu tersenyum. Aku membungkuk 90 derajat untuk memberi salam. Istri ajussi itu terlihat tidak suka denganku dan anak tunggalnya malah mengangapku tidak ada. Anaknya yang bernama Jiyong itu hanya sibuk bermain dengan anjing peliharaannya.
"Kau sudah lelahkan? Ikuti aku, ayo kita kekamarmu!"kata ajussi ramah berjalan menaiki tangga dan aku mengikutinya dari belakang.
"chagi,kamu kan ingin anak yeoja"kata ajussi.
"tapi,kenapa dia? Apa karena kamu punya hubungan dengan ibunya?"teriak ajuma.
"kamu jangan seperti itu!"
"lalu bagaimana dengan orang sekaliling kita? Mereka akan mengira dia adalah anak haram."
"lambat laun orang pun tidak akan berfikir begitu. Dia anak yang baik, Dia bisa menjadi anakmu. Selama ini dia tidak merasakan kasih sayang ayah. Ibunya pun selalu sibuk berkerja. Tapi, apa kamu tidak kasihan melihat gadis sekecil itu tahu ibunya tertembak mati. Aku mohon, tolong rawatlah dia seperti anakmu sendiri"kata ajussi.
"aku kasihan dengan jiyong, aku seorang ibu yang menyayangi anakku"
"kalau begitu kamu anggap chaerin sebagai anakmu"
"tidak bisa!"
"apa yang tidak bisa?"
mereka bertengkar hebat dikamar mereka hingga terdengar dikamarku. Tapi, aku mencoba menutup mataku, berusaha tidak menangis. Gomawo ahjussi telah mengizinkanmu menjadi anakmu.
Ajuma mengatakan aku adalah sepupu jiyong oppa, bukan saudara kepada setiap orang yang bertanya tetang statusku.
Ajussi memasukkanku ke sekolah dasar yang sama dengan jiyong oppa. Aku juga tau jiyong oppa sering dibully. Kadang oppa dilempar bola pada jam olahraga, kepalanya dipukul atau uangnya diambil saat baru saja oppa memasuki gerbang sekolah.
Hari ini uang jiyong oppa dirampas teman-temannya lagi. Tanpa uang itu oppa harus berjalan cukup jauh untuk pulang kerumah. Jadi, saat pulang aku akan mengikutinya.
"kenapa kau mengikutiku?"tanya oppa marah. Ini pertama kalinya dia berbicara padaku.
"aku takut pulang sendirian"kataku berbohong.
"tetap ikuti aku. Tapi, jangan berjalan disebelahku"perintahnya.
"ne"jawabku menurut.
Keesokan harinya saat diruang makan karena jam makan siang aku sengaja duduk di dekat meja oppa.
Bruukk..
Seseorang berbadan besar menjatuhkan makan siang oppa. Namja yang menjatuhkan makanan oppa hanya tertawa. Aku berlari dan langsung memungut bekal oppa dari tanah.
"pabo! makanannya dipungut lagi"katanya tertawa dan semua ikut tertawa. Aku langsung melemparkan makanan yang telah aku pungut itu kemukanya.
"kau!"kata namja itu marah.
"selain berani dengan yang lemah kau juga berani dengan yeoja?"kataku. Aku didorongnya kebelakang hingga terjatuh ketanah.
"dasar gajah!"teriakku. Aku memukul pipinya dan mencakarnya.
@rumah, ruang keluarga.
"kamu ini anak yeoja. Tidak boleh berkelahi"tegur ajussi.
"tapi,ajussi.."
"aku ini appamu"kata ajussi sambil memukul kakiku dengan ikat pinggangnya. Aku menangis.
"appa,appo"erangku kesakitan tapi, aku tidak menangis. Aku tidak menagis bukan karena tidak sakit tapi, karena ini bukan salahku jadi aku tidak ingin menangis. Darah mulai keluar dari kakiku dan terasa sangat perih. Ajuma terlihat tidak tega. Tapi, ajussi tetap memukul kakiku.
"kamu mengatai anak itu gajah? Lalu kau apa? Kucing karena mencakar-cakarny ?"kata ajussi.
"appa, Chaerin menolongku. Dia berantem dengan chinggu yang sengaja membuang bekalku"kata Jiyong oppa menangis. Ajussi berhenti memukulku. Kenapa Jiyong oppa menagis?
"kalian ini bersaudara. Bila satu terluka satu lagi harus mengobatinya"nasehat ajussi. Ajuma memelukku erat dan mengobati luka-lukaku.
Omma kandungku mendidiku menjadi yeoja yang berani dan kuat kini apa aku harus menjadi yeoja yang lemah?? ajuma memasukkanku ke kelas musik classic dan bahasa Prancis. Sedangkan Jiyong oppa difokuskan belajar formal dan beladiri. Tapi, karena appa memasang WIFI aku sering menyempatkan diri untuk latihan Taewondoo lewat vidio.
"kenapa kamu selalu melatih beladirimu?"tanya Jiyong oppa tiba-tiba masuk kekamarku.
"karena aku tidak ingin menyia-nyiakan waktu"jawabku.
"akukan menjagamu jadi tak perlu menyiksa tubuhmu. Appa memintaku melindungimu kalau kau bisa melindungi dirimu sendiri lalu aku bagaimana?"tanyanya.
"izinkan aku belajar oppa. Aku tidak akan mengeluarkan beladiriku."pintaku.
"ok! tapi, ajarkan aku bermain piano"tawarnya. Kami saling tersenyum.
-14 tahun kemudian-
Aku pulang malam karena les pianoku. Jiyong oppa menungguku dipintu seperti biasa.
"oppa!"kataku sambil berlari kecil kearahnya. Dia tersenyum padaku.
"sudahku bilang jangan menjemputku!"omelku.
"wae?"
"setiap oppa menjemputku, oppa membuat tempat les heboh"
"aku hanya ingin menjemput yeojaku"katanya sambil menarik tanganku pelan.
"jangan menghentikanku karena aku sudah mencoba berhenti tapi, tidak bisa"jelasnya.
"oppa, kita ini bersaudara"
"lalu? Wae? Kita bukan saudara kandung, bukan sepupu, kita tidak ada ikatan darah. Apa kau memang menyukaiku?"kata Jiyong oppa.
"tentu saja oppa. Tapi.."
"kita jalani saja dulu. Walau kita harus diam -diam."katanya sambil menggandeng tanganku erat. Semua sudah tau kami bersaudara, menjadi satu keluarga. Tidak jarang yeoja memintaku mengenalkannya pada oppa. begitu juga chinggu jiyong oppa malah ada yang terang-terangan mendekatiku.
"kenapa tidak terima ajakan Taeyang? Apa karena aku?"kata Jiyong oppa saat aku menghidupkan TV.
"anni, karena aku tidak mau mempermainkannya"jawabku. Jiyong oppa mengusap kepalaku sekilas. Aku nonton TV duduk dikarpet dan bersandar diSofa.
"tidak les hari ini?"
"anni, aku sudah berhenti. Aku mau fokus kepekerjaanku"jawabku. Jiyong oppa tiduran disofa sambil memainkan rambutku.
"omma mana?"tanyanya.
"omma pergi ke rumah tetangga,masak bersama"
"wae tidak bilang dari tadi?"
"tentu saja untuk melindungi diriku"jawabku tertawa.
"apa aku seliar itu?"tanyanya, aku tertawa.
"jangan mengganguku ini film favoritku"kataku kembali fokus pada layar televisi. Jiyong oppa memainkan rambutku dan sesekali menciumnya.
Saat makan malam Halmeoni datang kerumah dan kami makan malam bersama.
"Jiyong, kau belum punya kekasih? Kalau sudah segera putuskan yeoja itu?"kata Halmeoni tiba-tiba.
"halmeoni wae?"tanya oppa.
"aku akan mengenalkanmu dengan yeoja lemah lembut yang cantik"jawab halmeoni serius.
"seperti uri Chaerin?"tanya omma senang.
"anni,tentu saja tidak. Yeoja ini begitu sempurna"
"omma tau? Chaerin begitu populer bahkan ada anak temanku datang kerumah untuk meminta restu kami. Bila Jiyong tidak ada mungkin makin banyak pemuda yang mengincar Chaerin sampai rumah. Bahkan banyak.."kata-kata omma terputus karena halmeoni bergumam dan omma jadi salah tingkah.
"kau harus dengan yeoja itu"kata halmeoni.
"tapi, perasaan tidak bisa dipaksa"kata Jiyong oppa.
"aku tidak suka melihat kau terlalu dekat dengan dia"kata halmeoni sambil menatapku.
"tapi, omma mereka itu bersaudara"aboji angkat bicara.
"buka mata kalian bagaimanapun Chaerin bukan cucuku"kata halmeoni keras.
"omma!"kata uri bumonim.
"Tidak apa-apa,omma"kataku mendekati omma yang mulai emosi.
"omma,ini sudah keteraluan! Jiyong bawa adikmu pergi dulu"kata appa dengan nada tinggi. Jiyong oppa memberikanku isyarat untuk pergi mengikutinya.
"wae? dia juga tau kenyataannya"kata halmeoni.
"tapi, biarkan dia melupakan masa lalunya"kata appa.
"seharusnya kau marah saat anakku membawa anak orang lain untuk kamu asuh"kata halmeoni.
"bila Chaerin,tidak apa-apa"jawab omma. Kami segera keluar dan tidak mendengarkan pertengkaran mereka. Jiyong mengenggam tanganku, menarikku pergi dari rumah.
"kamu tidak apa-apa?"tanyanya cemas.
"gwaechana, karena itu memang kenyataannya"jawabku seadanya
"mianhe tapi, apa kamu sudah melupakan masa lalu?"tanya oppa ragu.
"tentu saja tidak karena itu selalu menjadi mimpi burukku"
"apa sebaiknya aku mengatakan hubungan kita pada bumonim? Asalkan mereka mengatakan "gwaechana" maka halmeoni tidak bisa apa-apa dan kamu akan benar-benar menjadi cucunya"kata Jiyong oppa.
"masalahnya pasti tidak semudah itu"kataku khawatir.
"apa kamu mencintaiku? Kau tak pernah mengatakan perasaanmu"
"aku suka oppa"jawabku.
"choa? Sarang berbeda dengan choa"katanya sambil melepaskan genggaman tangannya.
"tidak bisa karena hari demi hari semakin aku mencintaimu"kata Jiyong oppa. Aku hanya diam. Oppa menahan tubuhku dan mendekatkan wajahnya kearahku.
"oppa,apa yang kau lakukan? Oppa tau ini tidak baik, tidak baik untuk semuanya.”
Oppa berhenti dan melahkah pergi.
"apa kita harus menjadi saudara?"tanya oppa sambil berhenti melangkah.
"mungkin"
"apa hanya aku yang punya perasaan ini?"
"mungkin"
"Apa hanya aku yang berharap lebih?"
"mungkin?"
"wae kau begitu dingin?"
"aku juga ingin menjadi matahari untukmu oppa. Mianhe, bumonim terlalu baik padaku.”
Saat kami kembali ternyata omma menunggu kami didepan pagar.
"cepat masuk! Cuaca begitu dingin. Kalian pasti lelah. Cepat masuk dan tidur"kata omma khawatir.
"ne omma.."Kataku sambil berlari kecil dan tersenyum pada omma.
Kami berkumpul karena menonton TV bersama.
"oppa, tadi Dara onni kirim salam"kataku.
"oppamu ini idol?"tanya omma.
"tentu saja omma"
"tapi, dia sengaja menempel padaku agar yeoja-yeoja itu mengindar"jelasku. Uri bumonim tertawa.
"lalu bagaimana denganmu?"tanya oppa.
"appa, oppa menempel padaku tentu saja yang lain takut didekatku"
"benarkah?"tanya appa.
"ne,appa"jawabku.
"Jiyong, biarkan Chaerin mengenal namja"kata appa tertawa.
"annio appa. Aku ingin Chaerin hanya mengenalku"kata Jiyong oppa tersenyum. Uri bumonim pasti menyangka oppa hanya bercanda.
“Chaerin bukan anak kecil lagi, Jiyong.”kata appa mengingatkan.
"omma tadi telepon katanya dia minggu lagi dia ingin kita liburan bersama."kata omma.
"kau saja yang pergi dengan Jiyong. Aku dan Chaerin akan liburan bersama"kata appa.
"appa, bukankah lebih baik bersama-sama?"kataku.
"tapi, appa tidak suka perlakuan halmeonimu"jawab appa.
"tapi, aku tak ingin appa melewatkan kenangan dengan halmeoni lagian kita juga butuhkan liburan bersama"kataku.
"ne.Tapi,kamu harus mengajak temanmu"kata appa.
"appa ini kumpul keluarga"jawabku.
"ne, aku setuju dengan appa"kata Jiyong oppa.
"sudah Chaerin. Gweuchana"kata omma.
-liburan keluarga
Aku mengajak Minzy dan Jenny onni untuk liburan. Mereka adalah rekan kerjaku dikantor.
"oppamu kamarnya dimana?"tanya Jenny onni.
"didepan"jawabku.
"benarkah?"tanya Jenny onni.
"jangan seperti itu! Hati Jiyong oppa hanya untuk Chaerin onni"kata Minzy sambil mendorong pelan jidat Jenny onni dengan telunjuknya.
"aku hanya ingin menikmati indahnya ciptaan tuhan."kata Jenny onni dengan aego.
"disini saja. Sebentar lagi oppa akan kesini"kataku dan bel pun berbunyi. Aku membuka pintu.
"wae?"tanyaku.
"aku ingin bersamamu"katanya sambil meraih tanganku dan masuk kekamar.
"hallo Jiyong!"sapa Jenny onni dan mereka saling memberi salam. Kami duduk disofa karena oppa mengandeng tangganku jadi kami duduk sebelahan.
"kalian juga seperti ini dirumah?"tanya Jenny onni.
"terkadang"jawab Jiyong oppa.
"didepan..?"
"ne. Aku juga pernah memeluk Chaerin didepan appa."kata Jiyong oppa santai karena mereka berdualah yang tahu hubungna rumit kami.
"lalu apa kata ajussi?"tanya Minzy penasaran.
"tidak ada"jawab oppa.
"kalian begitu serasi"kata Jenny onni
"tapi, Chaerin sudah menolakku berkali-kali"kata Jiyong oppa dengan wajah memelas.
"sudahlah! Ayo, kita makan siang.semua sudah menunggu dibawah"ajakku agar mengalihkan pembicaraan.
Kami turun kebawah appa, omma, dan halmeoni sudah dimeja makan. Aku memisahkan diri dari Jenny onni dan Minzy. Makan kali ini tidak seperti biasanya yang rame seperti dirumah, suasana saat ini begitu hening.
"suasananya tidak enak karena ada orang asing"kata halmeoni.
"omma dimeja ini tidak ada orang asing"tegur aboji.
"apa kalian pura-pura buta?"kata halmeoni.
"nyonya kim?!"kata seorang ajuma dengan namja yang aku kenal mengikutinya berjalan kearah meja kami.
"Chaerin"sapa namja itu malu-malu dan aku hanya tersenyum.
"Chaerin? Apa gadis ini yang bernama Chaerin?"tanya ajuma itu kaget.
"omma, ini Chaerin"kata namja itu sambil berjalan kearahku. Omma dan appa terlihat binggung. Sedangkan jiyong oppa duduk dengan tenang sambil menyuapkan makanan kemulutnya. Dengan ragu aku berdiri memperkenalkan diri.
"Chaerin imnida"kataku sambil membungkuk dan duduk kembali.
"dia cantik pantas saja kau menolak yeoja-yeoja itu"kata ajuma dan Taeyang tertawa malu. Jiyong oppa masih terlihat santai seakan-akan tidak terjadi apa-apa.
"ada apa?"tanya halmeoni bingung.
"apakah nyonya liburan disini juga?"tanya ajuma itu.
"ne"
"Chaerin itu cucumu?"tanya ajuma itu.
"ne,dia putriku"jawab appa cepat.
"benarkan? uri Taeyang ini sangat mengidolakan Chaerin"jelas ajuma itu.
"omma.."kata Taeyang oppa berusaha memberhentikan ommanya.
"tapi, Chaerin.."kata halmeoni.
"ne.Taeyang menyukainya semejak SMA."kata ajuma itu tersenyum dan langsung memutuskan kata-kata halmeoni seolah-olah tau apa yang akan halmeoni katakan.
"omma"tegur Taeyang oppa lagi.
"Chaerin, uri Taeyang bingung menghubungimu lewat apa. Lewat email, handphone atau apa saja, bisakah kamu berikan?"tanya ajuma itu.
"Taeyang oppa sudah tau cara menghubungiku"kataku.
"oh,baiklah. Mianhe kami telah menggangu makan kalian. Kami permisi dulu"kata ajuma itu berlalu pergi dengan Taeyang oppa.
"siapa mereka,Chaerin?"tanya omma.
"chinggu Jiyong oppa"kataku.
"kenapa seperti tidak mengenal Jiyong dan malah menyapamu lebih dulu?"tanya appa.
"molla"jawabku. Sedangkan Jiyong oppa terlihat sangat tidak peduli.
"kalian akrab?"tanya omma.
"anio,sungguh!"kataku saat appa terlihat ragu.
"omma kenal dengan ibunya?"tanyanya.
"ne,dia pemilik perusahaan telepon genggam."jawab halmeoni kesal.
@R.SPA
"jadi apa tanggapan Jiyong?"tanya Jenny onni.
"oppa diam saja, seperti tidak peduli"jawabku.
"tapi,Taeyang itu temannya SMA. Kenapa dia tidak tau hubungan kalian yang rumit?"
"mereka tidak terlalu akrab"jawabku.
"bagaimana perasaanmu pada dua namja itu?"tanya lagi.
"molla"
"apa kau rela jika Jiyong bertunangan dengan yeoja lain?"tanya onni.
"tidak mungkin aku rela tapi, aku juga tidak bisa apa-apa karena halmeoni sudah mengatakannya."kataku.
"halmeonimu begitu menakutkan"kata Jenny onni.
"tidak bisakah kalian diam dan hanya menikmati pijitan-pijatan onnideul ini?"tegur Minzy. Aku dan Jenny onni terkekeh karena sikap Minzy yang begitu serius menikmati pijitan SPA.
@makan malam.
Kami tidak makan berlima lagi. Kini Taeyang dan ajuma juga duduk di meja makan kami, firasatku tidak enak.
"aku berniat menjodohkan Taeyang dengan Chaerin.bagaimana menurut kalian?"tanya halmeoni. Jantungku terasa berhenti seketika.
"pendapatku? Aku tergantung anaknya saja"kata appa sambil makan. Walau santai terlihat appa mulai emosi.
"tapi,Chaerin masih terlalu muda"kata omma khawatir.
"hanya pertunangan bukan pernikahan"jawab halmeoni.
"tapi.."kata Jiyong oppa terputus karena halmeoni.
"kau jangan bicara! Yang dijodohkan Chaerin, bukan kau Jiyong!"tegur halmeoni. Aku menatap Jiyong oppa yang tampak marah disampingku. Aku memegang tangannya dibawah meja agar tenang. Sedangkan Taeyang oppa terlihat gugup.
Aku dan Jiyong oppa duduk dibangku taman berdua. Kami menikmati malam di taman yang menjadi fasilitas hotel.
"oppa,bagaimana ini?”
“ andwe. aku tidak mau”
“tapi, kata-kata halmeoni sulit ditolak"keluhku.
"aku juga gak mau. Tapi, kau harus menghindari namja itu hingga kita dapat jalan keluarnya"kata oppa sambil menatapku lekat dan membuatku yakin oppa pasti bisa menolongku.
Sudah lebih satu minggu Taeyang oppa menjemputku. Tapi, kali ini dia begitu memaksa hingga aku tidak dapat menolak.
"kita kemana?"tanyaku panik setelah sadar kalau ini bukan jalan menuju rumahku.
"kita makan dulu ne?"tawar oppa sambil tersenyum. Kami sampai direstoran outdoor untuk makan perlu mendaftar lalu diberikan sebuah peta. Untuk apa? Untuk menuju kemeja makan.meja makan ada didalam labirin. Konsep unik belum lagi langit yang indah ini dihiasi bintang menjadi nilai plus resto ini.
"wae? Kau baru pertama kali kesini?"
"ne"jawabku masi mengagumi pemandangan. Taeyang oppa berdiri memberikan blezernya dibahuku. Aku tersentak kaget.
"oppa hanya mengunakan baju tanpa lengan"ingatku. Dia tersenyum manis kepadaku.
"aku akan sakit bila tau kamu sakit"jawabnya sambil duduk dikursinya. aku tau enam tahun ini Taeyang oppa mengejarku tapi, aku tidak tau dia seserius ini padaku.
Aku naik tangga menuju ke kamarku. Jiyong oppa berdiri didepan pintu kamarku.
"kau terlihat senang"kata oppa dengan aura hitam disekitarnya dan sambil tersenyum manis tapi,tetap terlihat menyeramkan.
"oppa,bagaimana pun bila diajak makan aku akan senang. Mianhe oppa,aku lelah"kataku menerobos tubuhnya oppa masuk kekamarku. Bukan aku gak mau bicara dengannya tapi,bila dia sudah marah karena cemburu maka aku hanya bisa berbicara saat dia tenang. Aku tidak mau bertengkar dengan oppa.
Aku membuka pintu kamarku,oppa sudah didepan kamarku. Jiyong oppa menyandar didinding dengan tenang.
"oppa, antarkan aku kekantor"kataku dengan aegyo. Jiyong oppa tersenyum manis. Baru saja kami keluar dari rumah ternyata Taeyang berdiri didepan mobilnya sambil tersenyum.
"sepertinya aku akan pergi sendiri saja"kata Jiyong oppa yang berjalan pergi.
"tapi,berhati-hatilah oppa! Aku akan datang saat jam makan siang"kataku. Jiyong hanya berdehem. Aku berjalan menghapiri Taeyang oppa.
@kantor
"Oppa, kau marah?"tanyaku.
"wae? aku tidak boleh marah?"jawab Jiyong oppa.
"yang paling mengerti aku adalah oppa. Aku tidak akan berbuat aneh. Lalu, apa yang oppa khawatirkan?"
"aku khawatir kau akan menyukainya"
"oppa tidak suka?"
"tentu saja aku tidak suka!"katanya dengan nada tinggi.
"kalau begitu, oppa harus membuatku tidak berpindah ke Taeyang oppa. Aku tidak bisa menyakiti uri appa-omma. Kita berdua sudah sama-sama dijodohkan. Lalu kita tidak akan bisa seperti ini. Apakah ini endingnya? Berpisah dari oppa itu seperti hukuman mati bagiku"kataku tersenyum dan meninggalkan kantor oppa. Bukannya aku mau membuat oppa cemburu atau kesal. Hanya saja aku juga tidak bisa menolak Taeyang oppa, dia terlalu baik. Tapi, aku juga tidak ingin melepas dari Jiyong oppa.
Saat aku pulang dari jalan-jalan bersama Taeyang oppa, Jiyong oppa seperti biasa menunggu didepan pintu kamarku.
"Chaerin kau benar, kita bersaudara. Kita berpisah saja"kata oppa yang langsung masuk kekamarnya.
"wae oppa? Andwee! Aku tidak mau seperti ini"kataku pelan. Aku menangis dikamarku.
-lima bulan kemudian.
Taeyang oppa mengajak kami ke resto labirin lagi untuk dinner tapi, ini bersama keluarga. Musik classic mengalun merdu. Taeyang oppa menghapiriku dengan membawa buket bunga. Andwe!! Aku tidak mau berakhir seperti ini. Andwe! Andwe!"Chearin jebal,Aterimalah bunga ini"kata Taeyang oppa. Dengan terpaksa aku menerima bunganya.
"gomawo"
"maukah kau menikah denganku?"
Aku melihat omma dan appa yang tersenyum. Jiyong oppa terlihat santai, tak peduli. Ya,kami memang pernah membahas ini sebelumnya. Aku harus menerima Taeyang oppa agar Jiyong oppa tidak perlu dijodohkan. Lagian Jiyong oppa juga sudah menyerah terhadapku.
"ne,oppa!"jawabku. Taeyang oppa memelukku.
AUTHOR POV
Chaerin menerima lamaran Taeyang. Taeyang sangat gembira dan memeluk yeoja yang sudah enam tahun ini dicintainya.
DORr..DORr..(suara ledakan kembang api)
"andwe! Andwe! Omma! Jangan mati,omma! tolong aku! tolong!"teriak Chaerin ketakutan sambil memukul-mukul Taeyang agar Taeyang melepaskan tubuhnya. Taeyang menjadi shock. Chaerin terduduk lemas ditanah. Jiyong segera memeluk Chaerin ketakutan, dikecupnya kepala Chaerin lembut.
"tenang, oppa disini"kata Jiyong khawatir karena Chaerin mengigil ketakutan sambil menangis.
"lepaskan aku! lepaskan aku, pembunuh"kata Chaerin berusaha melepaskan diri tapi, pelukan Jiyong terlalu kuat.
"ada apa ini?"tanya Taeyang kaget.
"cepat panggil ambulance!"teriak Jiyong. Ommanya pun mengelus-elus lembut Chaerin yang mengamuk.
Tak lama ambulance datang. Chaerin yang sudah tertidur lemas segera dibawa.
"aku ikut"kata Taeyang.
"tidak perlu! Kau bilang enam tahun kau mengejar Chaerin tapi,kau tidak tau apa-apa tentangnya. Kau malah membunuhnya. Biarkan aku yang menjaganya karena hanya aku yang bisa"kata Jiyong yang masuk keambulance sambil memegang tangan Chaerin. Pintu mobil ambulance pun segera ditutup dan berjalan pergi.
AUTHOR POV
Saat kecil Chaerin terbiasa tinggal dirumahnya sendirin. Abojinya sudah lama mati sehingga ommanya bekerja untuk membiayai hidup. Siang ommanya karyawan restoran dan malam kasir swalayan 24jam. Ommanya membanting tulang agar suatu saat bila ommanya mati Chaerin tidak akan terlantar karena tidak ada uang. Walau ommanya jarang dirumah, ommanya perhatian dengan Chaerin. Ommanya mengajarkan Chaerin menjadi yeoja yang kuat sehingga memasukan Chaerin kekelas taekwondoo sejak Chaerin masih sangat kecil.
Suatu malam Chaerin melihat jaket ommanya dikasur. Jaket itu biasanya dipakai ommanya berkerja. Chaerin langsung mengambil jaket ommanya dan pergi ketempat ommanya berkerja.
Saat tiba didepan swalayan Chaerin melihat swalayan ommanya dirampok.Chaerin tidak berani masuk dan hanya melihat dari luar lewat kaca. Dia ingin menolong ommanya.Tapi, Chaerin tidak berani. Bahkan kaki dan mulutnya tidak dapat bergerak. Sang perampok menodong Chaerin omma dengan pistol agar ommanya membuka mesin kasir. Tapi ommanya menolak dan
DORR!! Darah keluar dari kepala ommanya Chaerin. Chaerin yang melihatnya menangis dan pingsan.
CHAERIN POV
Aku membuka mataku perlahan. Melihat Jiyong oppa tertidur disampingku. Aku juga melihat omma tiduran disofa panjang didekatku langsung terbagun.
"kau baik-baik saja? Bagaimana perasaanmu?"tanya omma khawatir.
"gwinchana, omma. Kenapa aku disini. Apa yang terjadi?"tanyaku lemah.
"kau hanya kelelahan"kata omma menangis. Omma pasti berbohong. Tapi, aku juga tidak ingat kenapa aku disini. Aku melihat Jiyong oppa, Dia terlihat begitu lelah.
"sudah dua hari ini dia selalu menjagamu"jelas omma.
"dua hari?"tanyaku kaget
"ne.Kau tidak koma. Hanya tertidur"
"penyakitku parah omma?"
"tidak sayang,troma itu bisa hilang"
"omma perlu berapa lama lagi aku akan menyakiti kalian? Membuat kalian khawatir. Kenapa aku tidak mati saja saat itu"kataku histeris karena ingat kembali pada mimpi buruk itu. Oppa yang terbangun mendekapku.
"jangan berfikir begitu! Kami begitu mencintaimu. Kau berfikir mati dan merasakan kesakitanmu sendirian malah membuat kami terluka. Kalau sakit, katakan sakit. Jangan menyembunyikannya!"kata jiyong oppa. Entah sejak kapan appa juga disini, memeluk omma yang menangis.
"mianhe,omma yang tidak tau penderitaanmu.kenapa kau tidak pernah bilang pada kami? Kami keluargamu, aku ommamu Chaerin"kata omma menangis.
"mianhe omma!"
"jika terlalu berat menceritakannya. Izinkan Jiyong yang bercerita, kenapa kau tidak mengizinkannya bercerita."kata appa.
"aku tidak mau kalian mengkhawatirkanku. Mianhe appa.sungguh"kataku menangis karena merasa bersalah.
Dokter mengatakan aku terkena troma yang membuat setiap malem memimpikan mimpi yang sama. Suara letupan besar membuatku pingsan atau berhalusinasi. Kemunkinan besar akan tertidur bahkan koma. Ternyata inilah yang membuat omma takut dan menangis.
"kenapa pasien duduk ditaman dingin seperti ini sendirian?"kata Jiyong oppa sambil menutupi tubuhku dengan jaketnya.
"apa yang menjadi pikiranmu? Sepertinya ada masalah serius"kata Jiyong oppa.
"anio oppa.Oppa,bagaimana dengan Taeyang oppa?"
"malam itu dia terkejut. Mianhe,aku mengusirnya"
"pantas saja Taeyang oppa tidak menjengukku"
"wae? kau kecewa?"
"anio oppa. Aku hanya bingung"
"semua orang juga sudah tau hubungan kita dan aku juga sudah menjelaskannnya"
"Oppa!!"protesku.
"memang untuk saat ini, belum dapat izin tapi, aku yakin kita akan mendapat izin mereka"kata oppa tersenyum.
@Rumah
"appa,omma aku akan terapi di Jepang"kataku.
"kenapa tidak disini saja?"tanya omma.
"appa, omma pasti tau karena Jiyong oppa sudah menceritakannya. Tapi,aku ingin mengatakan langsung. Mianhe appa omma! Jebbal mianhe, aku telah mencintai Jiyong oppa sebagai namja. Aku tidak bisa menerima oppa dengan yeoja lain. Walau begitu yang terpenting adalah keluarga ini. Aku akan kejepang, 2tahun untuk terapi dan membiasakan diri jauh dari oppa. Aku akan pergi karena lebih baik aku melihat Jiyong oppa dengan yeoja lain dari pada melihat keluarga ini terpisah karena aku"jelasku menangis merasa bersalah.
"kau serius Chaerin?"tanya omma tidak percaya.
"ne,omma"
"kapan akan pergi?"tanya appa
"dua minggu lagi appa. Tapi, aku mohon. Jebal! jangan memberi tahu Jiyong oppa"
"wae?"tanya omma.
"karena bila oppa melarangku aku tidak akan sanggup pergi. Appa.. Omma.. Aku tetap akan menjadi keluarga ini?"kataku perlahan karena hatiku terasa sakit.
"tentu saja!mianhe,karena kalian harus berpisah"kata omma sambil memelukku dan menangis.
@rumah halmeoni.
"untuk apa kau kesini?"tanya halmeoni.
"mianhe helmeoni! Jebal mianhe! Halmeoni pasti membenciku. Halmeoni,aku akan pergi ke jepang delapan hari lagi untuk menyembuhkan tromaku, selama duathn"jelasku.
"Lalu wae?"kata halmeoni marah.
"selama duatahun itu akan berpisah dari oppa, aku tidak akan menghubungi oppa"jelasku.
"aku sudah lama tau hubungan kalian itu. Makanya aku akan menjodohkan dengan yang lain..."
@bandara.
"Kau sungguh tidak mau mengatakannya pada Jiyong?"tanya omma.
"ne omma"jawabku sambil berusaha tersenyum.
"bye omma!appa"
"bye Chaerin~ah!jaga dirimu"kata omma menangis.
"kau harus kembali dan sembuh"kata appa. Aku menganguk dan berjalan semakin menjauh dari appa dan omma.
Author Pov
melihat orang tuanya sudah pulang Jiyong pun langsung menyakan yang menjadi pikirannya.
"omma, dua hari ini aku tidak melihat Chaerin. Apa dia menginap dirumah Minzy?"tanyanya.
"anni"jawab ommanya singkat.
"oh, jadi ke rumah Jenny nuna?"
"anni. Chaerin ke Jepang. Kami baru saja mengantarnya"
Jiyong yang keget langsung berlari ke ommanya.
"Charin ke jepang tidak lamakan omma?"tanya Jiyong memaksa.
"anni. Dua tahun, mungkin lebih"jawab ommanya berusaha tidak mengeluarkan air mata. Jiyong yang sempat mematung segera keluar dari rumahnya dan menghidupkan mesin mobilnya. Dia memacu kecepatan mobilnya berharap dapat mengejar chaerin dibandara. Walau ditikungan mobil jiyong tetap berjalan cepat. Sebuah mobil berpapasan dengannya. Kecepatan mobilnya yang tinggi membuat jiyong sulit mengontrol kendaraannya.
@rumah sakit.
Jiyong terbaring lemas dikasur. Tangan jiyong disuntik infus dan darah mengalir dari selang kecil menuju tangannya. Kepalanya diperban karena benturan saat kecelakaan. Untung saja Jiyong bisa selamat dan hanya luka-luka ringan.
flashback
Chaerin yang saat itu masih sekolah dasar duduk sambil menangis dikantor polisi. Air matanya sudah tidak keluar lagi. Seseorang ajussi berlari masuk ke kantor polisi.
"saya wali Lee Chaerin! Kasus perampokan diswalayan"kata ajussi itu gugup pada polisi karena merasa namanya disebut gadis kecil bernama Chaerin itu pun menoleh. Ajussi itu berjalan dan memeluk Chaerin lembut.
"aku kwon. Aku sering mampir kerumahmu dan terakhir tiga hari lalu,apa kau ingat?"
"ne,ajussi chinggu uri omma ne?"tanya gadis bernama Chaerin itu.
"ne,sayang. Kau akan tinggal bersama ajussi. Kau akan menjadi anakku"kata ajussi itu.
Chaerin masuk ke rumah ajussi yang besar. Keluarga ajussi hanya ada istri dan anak yang lebih tua dari Chaerin. Chaerin berfikir bahwa dia akan seperti putri salju karena ajumma terlihat tidak suka padanya dan menuduh ajussi kwon berselingkuh dengan ommanya. Ajuma bahkan tidak pernah menyebut nama Chaerin dan anaknya yang bernama Jiyong itu tidak pernah berbicara dengan Chaerin.
Hari ini Chaerin berkelahi dengan namja karena membela Jiyong.
Ajussi kwon memukul kakinya lalu ajuma mengobati luka Chaerin. Lalu, Jiyong mulai baik pada Chaerin begitu juga ajuma.
Setelah remaja Chaerin mulai menyukai Jiyong, oppanya sendiri. Chaerin menatap langit malam seorang diri ditaman.
"apakah mencintai itu dosa? Kalau mencintai adalah dosa, berarti itu adalah dosa termanis bagiku"gumam Chaerin sambil tersenyum sedih.
End flashback
~~~~~~~~
Jiyong pov
Hari ini,hari yang aku tunggu. Aku sangat menunggu hari ini sampai rasanya mau mati. Aku turun tangga dengan semangat.
"hari ini kan Jiyong?"tanya omma.
"ne,omma. Doakan aku!"kataku sambil mencium pipi omma.
"ingat,kalau kau tidak dapat kontrak itu maka aku tidak akan mengizinkan anak gadisku didekatmu!"kata appa sambil membaca koran. Aku hanya tersenyum.
AUTHOR POV
Taeyang melihat foto yang dikeluarkan dari jas bagian kiri atas(wah,dari hati dong).
"hari ini kan? Wah,sudah dua tahun. Mianhe, aku tidak mau kalah darimu Jiyong"kata Taeyang masih melihat foto Chaerin.
Chaerin berjalan kaki dengan membawa koper besarnya.
"sepertinya berat. Biarkan kami membantumu membawakannya!"kata namja yang mendekati Chaerin dengan seorang temannya. Namja lainnya berusaha menyentuh pipi chaerin.
"tidak perlu,aku bisa sendiri"jawab Chaerin ketus.
"kau dari mana chagi?"kata namja itu masih mengejar chaerin yang jalannya semakin cepat. Dua namja itu tertawa saat tau chaerin berjalan kejalan buntu.
"menurutlah!"kata namja itu.
-4menit kemudian
"mian,kalian salah target. Aku tidak mau bermain tapi, kalian memaksa"kata Chaerin sambil menendang kepala namja yang sudah babak belur. Namja itu terjatuh dan satu lagi pergi melewati Chaerin. Chaerin merasa tangan namja berada dibahunya, Chaerin sudah bersiap-siap untuk "bermain" lagi. Chaerin berbalik kaget dengan yang dilihatnya.
"OPPA!"katanya kaget.
"jangan seperti ini! appa memintaku menjagamu, bila kau bisa menjaga dirimu seperti ini lalu apa yangku lakukan?"canda Jiyong. Chaerin meneteskan airmatanya dan memeluk namja dihadapannya.
@ditempat lain.
"aku melepaskan Chaerin, aku kalah untuk mendapatkan Chaerin. Tapi, merelakan orang yang dicintai untuk kebahagiannya artinya aku mencintai Chaerin lebih hebat darimu Jiyong"kata namja itu tersenyum manis.
"sekretaris Kim, cancel janjiku duahari lagi. Aku ada kencan dengan cinta pertamaku dan kirimkan buket bunga untuknya"kata Taeyang.
"mianhe presdir,atas nama siapa?"
"Dara, sandara"kata Taeyang tersenyum manis.
~~END~~~
FLASH BACK (8hari sebelum keberangkatan Chaerin)@rumah halmeoni.
"aku sudah lama tau hubungan kalian yang aneh.makanya aku menjodohkan kalian dengan yang lain. Bukan untuk memisahkan kalian hanya untuk memastikan cinta kalian serius atau hanya cinta saudara karena bersama. Semoga kau sehat! Ingat aku tidak pernah mengangapmu sebagai anak dari anakku karena kau adalah istri dari cucu kesayanganku. Maka cepatlah sembuh. Jangan biarkan cucuku memenunggu terlalu lama"kata helmeoni.
"gomawo halmeoni"kataku. Haleoni mengerakkan tangannya seolah-olah ingin memelukku. Aku mendekati halmeoni dan memeluknya juga.
~~~THE END~~~
Cast: SKY DRAGON
Author: Kim dan Dika
Genre: family, romance
pernah diposting di: grup FFm3
Chaerin POV
Aku masuk kedalam rumah mewah ini dengan sedikit takut.
"Chaerin, ini adalah ommamu dan ini oppamu, Jiyong"kata ajussi itu tersenyum. Aku membungkuk 90 derajat untuk memberi salam. Istri ajussi itu terlihat tidak suka denganku dan anak tunggalnya malah mengangapku tidak ada. Anaknya yang bernama Jiyong itu hanya sibuk bermain dengan anjing peliharaannya.
"Kau sudah lelahkan? Ikuti aku, ayo kita kekamarmu!"kata ajussi ramah berjalan menaiki tangga dan aku mengikutinya dari belakang.
"chagi,kamu kan ingin anak yeoja"kata ajussi.
"tapi,kenapa dia? Apa karena kamu punya hubungan dengan ibunya?"teriak ajuma.
"kamu jangan seperti itu!"
"lalu bagaimana dengan orang sekaliling kita? Mereka akan mengira dia adalah anak haram."
"lambat laun orang pun tidak akan berfikir begitu. Dia anak yang baik, Dia bisa menjadi anakmu. Selama ini dia tidak merasakan kasih sayang ayah. Ibunya pun selalu sibuk berkerja. Tapi, apa kamu tidak kasihan melihat gadis sekecil itu tahu ibunya tertembak mati. Aku mohon, tolong rawatlah dia seperti anakmu sendiri"kata ajussi.
"aku kasihan dengan jiyong, aku seorang ibu yang menyayangi anakku"
"kalau begitu kamu anggap chaerin sebagai anakmu"
"tidak bisa!"
"apa yang tidak bisa?"
mereka bertengkar hebat dikamar mereka hingga terdengar dikamarku. Tapi, aku mencoba menutup mataku, berusaha tidak menangis. Gomawo ahjussi telah mengizinkanmu menjadi anakmu.
Ajuma mengatakan aku adalah sepupu jiyong oppa, bukan saudara kepada setiap orang yang bertanya tetang statusku.
Ajussi memasukkanku ke sekolah dasar yang sama dengan jiyong oppa. Aku juga tau jiyong oppa sering dibully. Kadang oppa dilempar bola pada jam olahraga, kepalanya dipukul atau uangnya diambil saat baru saja oppa memasuki gerbang sekolah.
Hari ini uang jiyong oppa dirampas teman-temannya lagi. Tanpa uang itu oppa harus berjalan cukup jauh untuk pulang kerumah. Jadi, saat pulang aku akan mengikutinya.
"kenapa kau mengikutiku?"tanya oppa marah. Ini pertama kalinya dia berbicara padaku.
"aku takut pulang sendirian"kataku berbohong.
"tetap ikuti aku. Tapi, jangan berjalan disebelahku"perintahnya.
"ne"jawabku menurut.
Keesokan harinya saat diruang makan karena jam makan siang aku sengaja duduk di dekat meja oppa.
Bruukk..
Seseorang berbadan besar menjatuhkan makan siang oppa. Namja yang menjatuhkan makanan oppa hanya tertawa. Aku berlari dan langsung memungut bekal oppa dari tanah.
"pabo! makanannya dipungut lagi"katanya tertawa dan semua ikut tertawa. Aku langsung melemparkan makanan yang telah aku pungut itu kemukanya.
"kau!"kata namja itu marah.
"selain berani dengan yang lemah kau juga berani dengan yeoja?"kataku. Aku didorongnya kebelakang hingga terjatuh ketanah.
"dasar gajah!"teriakku. Aku memukul pipinya dan mencakarnya.
@rumah, ruang keluarga.
"kamu ini anak yeoja. Tidak boleh berkelahi"tegur ajussi.
"tapi,ajussi.."
"aku ini appamu"kata ajussi sambil memukul kakiku dengan ikat pinggangnya. Aku menangis.
"appa,appo"erangku kesakitan tapi, aku tidak menangis. Aku tidak menagis bukan karena tidak sakit tapi, karena ini bukan salahku jadi aku tidak ingin menangis. Darah mulai keluar dari kakiku dan terasa sangat perih. Ajuma terlihat tidak tega. Tapi, ajussi tetap memukul kakiku.
"kamu mengatai anak itu gajah? Lalu kau apa? Kucing karena mencakar-cakarny ?"kata ajussi.
"appa, Chaerin menolongku. Dia berantem dengan chinggu yang sengaja membuang bekalku"kata Jiyong oppa menangis. Ajussi berhenti memukulku. Kenapa Jiyong oppa menagis?
"kalian ini bersaudara. Bila satu terluka satu lagi harus mengobatinya"nasehat ajussi. Ajuma memelukku erat dan mengobati luka-lukaku.
Omma kandungku mendidiku menjadi yeoja yang berani dan kuat kini apa aku harus menjadi yeoja yang lemah?? ajuma memasukkanku ke kelas musik classic dan bahasa Prancis. Sedangkan Jiyong oppa difokuskan belajar formal dan beladiri. Tapi, karena appa memasang WIFI aku sering menyempatkan diri untuk latihan Taewondoo lewat vidio.
"kenapa kamu selalu melatih beladirimu?"tanya Jiyong oppa tiba-tiba masuk kekamarku.
"karena aku tidak ingin menyia-nyiakan waktu"jawabku.
"akukan menjagamu jadi tak perlu menyiksa tubuhmu. Appa memintaku melindungimu kalau kau bisa melindungi dirimu sendiri lalu aku bagaimana?"tanyanya.
"izinkan aku belajar oppa. Aku tidak akan mengeluarkan beladiriku."pintaku.
"ok! tapi, ajarkan aku bermain piano"tawarnya. Kami saling tersenyum.
-14 tahun kemudian-
Aku pulang malam karena les pianoku. Jiyong oppa menungguku dipintu seperti biasa.
"oppa!"kataku sambil berlari kecil kearahnya. Dia tersenyum padaku.
"sudahku bilang jangan menjemputku!"omelku.
"wae?"
"setiap oppa menjemputku, oppa membuat tempat les heboh"
"aku hanya ingin menjemput yeojaku"katanya sambil menarik tanganku pelan.
"jangan menghentikanku karena aku sudah mencoba berhenti tapi, tidak bisa"jelasnya.
"oppa, kita ini bersaudara"
"lalu? Wae? Kita bukan saudara kandung, bukan sepupu, kita tidak ada ikatan darah. Apa kau memang menyukaiku?"kata Jiyong oppa.
"tentu saja oppa. Tapi.."
"kita jalani saja dulu. Walau kita harus diam -diam."katanya sambil menggandeng tanganku erat. Semua sudah tau kami bersaudara, menjadi satu keluarga. Tidak jarang yeoja memintaku mengenalkannya pada oppa. begitu juga chinggu jiyong oppa malah ada yang terang-terangan mendekatiku.
"kenapa tidak terima ajakan Taeyang? Apa karena aku?"kata Jiyong oppa saat aku menghidupkan TV.
"anni, karena aku tidak mau mempermainkannya"jawabku. Jiyong oppa mengusap kepalaku sekilas. Aku nonton TV duduk dikarpet dan bersandar diSofa.
"tidak les hari ini?"
"anni, aku sudah berhenti. Aku mau fokus kepekerjaanku"jawabku. Jiyong oppa tiduran disofa sambil memainkan rambutku.
"omma mana?"tanyanya.
"omma pergi ke rumah tetangga,masak bersama"
"wae tidak bilang dari tadi?"
"tentu saja untuk melindungi diriku"jawabku tertawa.
"apa aku seliar itu?"tanyanya, aku tertawa.
"jangan mengganguku ini film favoritku"kataku kembali fokus pada layar televisi. Jiyong oppa memainkan rambutku dan sesekali menciumnya.
Saat makan malam Halmeoni datang kerumah dan kami makan malam bersama.
"Jiyong, kau belum punya kekasih? Kalau sudah segera putuskan yeoja itu?"kata Halmeoni tiba-tiba.
"halmeoni wae?"tanya oppa.
"aku akan mengenalkanmu dengan yeoja lemah lembut yang cantik"jawab halmeoni serius.
"seperti uri Chaerin?"tanya omma senang.
"anni,tentu saja tidak. Yeoja ini begitu sempurna"
"omma tau? Chaerin begitu populer bahkan ada anak temanku datang kerumah untuk meminta restu kami. Bila Jiyong tidak ada mungkin makin banyak pemuda yang mengincar Chaerin sampai rumah. Bahkan banyak.."kata-kata omma terputus karena halmeoni bergumam dan omma jadi salah tingkah.
"kau harus dengan yeoja itu"kata halmeoni.
"tapi, perasaan tidak bisa dipaksa"kata Jiyong oppa.
"aku tidak suka melihat kau terlalu dekat dengan dia"kata halmeoni sambil menatapku.
"tapi, omma mereka itu bersaudara"aboji angkat bicara.
"buka mata kalian bagaimanapun Chaerin bukan cucuku"kata halmeoni keras.
"omma!"kata uri bumonim.
"Tidak apa-apa,omma"kataku mendekati omma yang mulai emosi.
"omma,ini sudah keteraluan! Jiyong bawa adikmu pergi dulu"kata appa dengan nada tinggi. Jiyong oppa memberikanku isyarat untuk pergi mengikutinya.
"wae? dia juga tau kenyataannya"kata halmeoni.
"tapi, biarkan dia melupakan masa lalunya"kata appa.
"seharusnya kau marah saat anakku membawa anak orang lain untuk kamu asuh"kata halmeoni.
"bila Chaerin,tidak apa-apa"jawab omma. Kami segera keluar dan tidak mendengarkan pertengkaran mereka. Jiyong mengenggam tanganku, menarikku pergi dari rumah.
"kamu tidak apa-apa?"tanyanya cemas.
"gwaechana, karena itu memang kenyataannya"jawabku seadanya
"mianhe tapi, apa kamu sudah melupakan masa lalu?"tanya oppa ragu.
"tentu saja tidak karena itu selalu menjadi mimpi burukku"
"apa sebaiknya aku mengatakan hubungan kita pada bumonim? Asalkan mereka mengatakan "gwaechana" maka halmeoni tidak bisa apa-apa dan kamu akan benar-benar menjadi cucunya"kata Jiyong oppa.
"masalahnya pasti tidak semudah itu"kataku khawatir.
"apa kamu mencintaiku? Kau tak pernah mengatakan perasaanmu"
"aku suka oppa"jawabku.
"choa? Sarang berbeda dengan choa"katanya sambil melepaskan genggaman tangannya.
"tidak bisa karena hari demi hari semakin aku mencintaimu"kata Jiyong oppa. Aku hanya diam. Oppa menahan tubuhku dan mendekatkan wajahnya kearahku.
"oppa,apa yang kau lakukan? Oppa tau ini tidak baik, tidak baik untuk semuanya.”
Oppa berhenti dan melahkah pergi.
"apa kita harus menjadi saudara?"tanya oppa sambil berhenti melangkah.
"mungkin"
"apa hanya aku yang punya perasaan ini?"
"mungkin"
"Apa hanya aku yang berharap lebih?"
"mungkin?"
"wae kau begitu dingin?"
"aku juga ingin menjadi matahari untukmu oppa. Mianhe, bumonim terlalu baik padaku.”
Saat kami kembali ternyata omma menunggu kami didepan pagar.
"cepat masuk! Cuaca begitu dingin. Kalian pasti lelah. Cepat masuk dan tidur"kata omma khawatir.
"ne omma.."Kataku sambil berlari kecil dan tersenyum pada omma.
Kami berkumpul karena menonton TV bersama.
"oppa, tadi Dara onni kirim salam"kataku.
"oppamu ini idol?"tanya omma.
"tentu saja omma"
"tapi, dia sengaja menempel padaku agar yeoja-yeoja itu mengindar"jelasku. Uri bumonim tertawa.
"lalu bagaimana denganmu?"tanya oppa.
"appa, oppa menempel padaku tentu saja yang lain takut didekatku"
"benarkah?"tanya appa.
"ne,appa"jawabku.
"Jiyong, biarkan Chaerin mengenal namja"kata appa tertawa.
"annio appa. Aku ingin Chaerin hanya mengenalku"kata Jiyong oppa tersenyum. Uri bumonim pasti menyangka oppa hanya bercanda.
“Chaerin bukan anak kecil lagi, Jiyong.”kata appa mengingatkan.
"omma tadi telepon katanya dia minggu lagi dia ingin kita liburan bersama."kata omma.
"kau saja yang pergi dengan Jiyong. Aku dan Chaerin akan liburan bersama"kata appa.
"appa, bukankah lebih baik bersama-sama?"kataku.
"tapi, appa tidak suka perlakuan halmeonimu"jawab appa.
"tapi, aku tak ingin appa melewatkan kenangan dengan halmeoni lagian kita juga butuhkan liburan bersama"kataku.
"ne.Tapi,kamu harus mengajak temanmu"kata appa.
"appa ini kumpul keluarga"jawabku.
"ne, aku setuju dengan appa"kata Jiyong oppa.
"sudah Chaerin. Gweuchana"kata omma.
-liburan keluarga
Aku mengajak Minzy dan Jenny onni untuk liburan. Mereka adalah rekan kerjaku dikantor.
"oppamu kamarnya dimana?"tanya Jenny onni.
"didepan"jawabku.
"benarkah?"tanya Jenny onni.
"jangan seperti itu! Hati Jiyong oppa hanya untuk Chaerin onni"kata Minzy sambil mendorong pelan jidat Jenny onni dengan telunjuknya.
"aku hanya ingin menikmati indahnya ciptaan tuhan."kata Jenny onni dengan aego.
"disini saja. Sebentar lagi oppa akan kesini"kataku dan bel pun berbunyi. Aku membuka pintu.
"wae?"tanyaku.
"aku ingin bersamamu"katanya sambil meraih tanganku dan masuk kekamar.
"hallo Jiyong!"sapa Jenny onni dan mereka saling memberi salam. Kami duduk disofa karena oppa mengandeng tangganku jadi kami duduk sebelahan.
"kalian juga seperti ini dirumah?"tanya Jenny onni.
"terkadang"jawab Jiyong oppa.
"didepan..?"
"ne. Aku juga pernah memeluk Chaerin didepan appa."kata Jiyong oppa santai karena mereka berdualah yang tahu hubungna rumit kami.
"lalu apa kata ajussi?"tanya Minzy penasaran.
"tidak ada"jawab oppa.
"kalian begitu serasi"kata Jenny onni
"tapi, Chaerin sudah menolakku berkali-kali"kata Jiyong oppa dengan wajah memelas.
"sudahlah! Ayo, kita makan siang.semua sudah menunggu dibawah"ajakku agar mengalihkan pembicaraan.
Kami turun kebawah appa, omma, dan halmeoni sudah dimeja makan. Aku memisahkan diri dari Jenny onni dan Minzy. Makan kali ini tidak seperti biasanya yang rame seperti dirumah, suasana saat ini begitu hening.
"suasananya tidak enak karena ada orang asing"kata halmeoni.
"omma dimeja ini tidak ada orang asing"tegur aboji.
"apa kalian pura-pura buta?"kata halmeoni.
"nyonya kim?!"kata seorang ajuma dengan namja yang aku kenal mengikutinya berjalan kearah meja kami.
"Chaerin"sapa namja itu malu-malu dan aku hanya tersenyum.
"Chaerin? Apa gadis ini yang bernama Chaerin?"tanya ajuma itu kaget.
"omma, ini Chaerin"kata namja itu sambil berjalan kearahku. Omma dan appa terlihat binggung. Sedangkan jiyong oppa duduk dengan tenang sambil menyuapkan makanan kemulutnya. Dengan ragu aku berdiri memperkenalkan diri.
"Chaerin imnida"kataku sambil membungkuk dan duduk kembali.
"dia cantik pantas saja kau menolak yeoja-yeoja itu"kata ajuma dan Taeyang tertawa malu. Jiyong oppa masih terlihat santai seakan-akan tidak terjadi apa-apa.
"ada apa?"tanya halmeoni bingung.
"apakah nyonya liburan disini juga?"tanya ajuma itu.
"ne"
"Chaerin itu cucumu?"tanya ajuma itu.
"ne,dia putriku"jawab appa cepat.
"benarkan? uri Taeyang ini sangat mengidolakan Chaerin"jelas ajuma itu.
"omma.."kata Taeyang oppa berusaha memberhentikan ommanya.
"tapi, Chaerin.."kata halmeoni.
"ne.Taeyang menyukainya semejak SMA."kata ajuma itu tersenyum dan langsung memutuskan kata-kata halmeoni seolah-olah tau apa yang akan halmeoni katakan.
"omma"tegur Taeyang oppa lagi.
"Chaerin, uri Taeyang bingung menghubungimu lewat apa. Lewat email, handphone atau apa saja, bisakah kamu berikan?"tanya ajuma itu.
"Taeyang oppa sudah tau cara menghubungiku"kataku.
"oh,baiklah. Mianhe kami telah menggangu makan kalian. Kami permisi dulu"kata ajuma itu berlalu pergi dengan Taeyang oppa.
"siapa mereka,Chaerin?"tanya omma.
"chinggu Jiyong oppa"kataku.
"kenapa seperti tidak mengenal Jiyong dan malah menyapamu lebih dulu?"tanya appa.
"molla"jawabku. Sedangkan Jiyong oppa terlihat sangat tidak peduli.
"kalian akrab?"tanya omma.
"anio,sungguh!"kataku saat appa terlihat ragu.
"omma kenal dengan ibunya?"tanyanya.
"ne,dia pemilik perusahaan telepon genggam."jawab halmeoni kesal.
@R.SPA
"jadi apa tanggapan Jiyong?"tanya Jenny onni.
"oppa diam saja, seperti tidak peduli"jawabku.
"tapi,Taeyang itu temannya SMA. Kenapa dia tidak tau hubungan kalian yang rumit?"
"mereka tidak terlalu akrab"jawabku.
"bagaimana perasaanmu pada dua namja itu?"tanya lagi.
"molla"
"apa kau rela jika Jiyong bertunangan dengan yeoja lain?"tanya onni.
"tidak mungkin aku rela tapi, aku juga tidak bisa apa-apa karena halmeoni sudah mengatakannya."kataku.
"halmeonimu begitu menakutkan"kata Jenny onni.
"tidak bisakah kalian diam dan hanya menikmati pijitan-pijatan onnideul ini?"tegur Minzy. Aku dan Jenny onni terkekeh karena sikap Minzy yang begitu serius menikmati pijitan SPA.
@makan malam.
Kami tidak makan berlima lagi. Kini Taeyang dan ajuma juga duduk di meja makan kami, firasatku tidak enak.
"aku berniat menjodohkan Taeyang dengan Chaerin.bagaimana menurut kalian?"tanya halmeoni. Jantungku terasa berhenti seketika.
"pendapatku? Aku tergantung anaknya saja"kata appa sambil makan. Walau santai terlihat appa mulai emosi.
"tapi,Chaerin masih terlalu muda"kata omma khawatir.
"hanya pertunangan bukan pernikahan"jawab halmeoni.
"tapi.."kata Jiyong oppa terputus karena halmeoni.
"kau jangan bicara! Yang dijodohkan Chaerin, bukan kau Jiyong!"tegur halmeoni. Aku menatap Jiyong oppa yang tampak marah disampingku. Aku memegang tangannya dibawah meja agar tenang. Sedangkan Taeyang oppa terlihat gugup.
Aku dan Jiyong oppa duduk dibangku taman berdua. Kami menikmati malam di taman yang menjadi fasilitas hotel.
"oppa,bagaimana ini?”
“ andwe. aku tidak mau”
“tapi, kata-kata halmeoni sulit ditolak"keluhku.
"aku juga gak mau. Tapi, kau harus menghindari namja itu hingga kita dapat jalan keluarnya"kata oppa sambil menatapku lekat dan membuatku yakin oppa pasti bisa menolongku.
Sudah lebih satu minggu Taeyang oppa menjemputku. Tapi, kali ini dia begitu memaksa hingga aku tidak dapat menolak.
"kita kemana?"tanyaku panik setelah sadar kalau ini bukan jalan menuju rumahku.
"kita makan dulu ne?"tawar oppa sambil tersenyum. Kami sampai direstoran outdoor untuk makan perlu mendaftar lalu diberikan sebuah peta. Untuk apa? Untuk menuju kemeja makan.meja makan ada didalam labirin. Konsep unik belum lagi langit yang indah ini dihiasi bintang menjadi nilai plus resto ini.
"wae? Kau baru pertama kali kesini?"
"ne"jawabku masi mengagumi pemandangan. Taeyang oppa berdiri memberikan blezernya dibahuku. Aku tersentak kaget.
"oppa hanya mengunakan baju tanpa lengan"ingatku. Dia tersenyum manis kepadaku.
"aku akan sakit bila tau kamu sakit"jawabnya sambil duduk dikursinya. aku tau enam tahun ini Taeyang oppa mengejarku tapi, aku tidak tau dia seserius ini padaku.
Aku naik tangga menuju ke kamarku. Jiyong oppa berdiri didepan pintu kamarku.
"kau terlihat senang"kata oppa dengan aura hitam disekitarnya dan sambil tersenyum manis tapi,tetap terlihat menyeramkan.
"oppa,bagaimana pun bila diajak makan aku akan senang. Mianhe oppa,aku lelah"kataku menerobos tubuhnya oppa masuk kekamarku. Bukan aku gak mau bicara dengannya tapi,bila dia sudah marah karena cemburu maka aku hanya bisa berbicara saat dia tenang. Aku tidak mau bertengkar dengan oppa.
Aku membuka pintu kamarku,oppa sudah didepan kamarku. Jiyong oppa menyandar didinding dengan tenang.
"oppa, antarkan aku kekantor"kataku dengan aegyo. Jiyong oppa tersenyum manis. Baru saja kami keluar dari rumah ternyata Taeyang berdiri didepan mobilnya sambil tersenyum.
"sepertinya aku akan pergi sendiri saja"kata Jiyong oppa yang berjalan pergi.
"tapi,berhati-hatilah oppa! Aku akan datang saat jam makan siang"kataku. Jiyong hanya berdehem. Aku berjalan menghapiri Taeyang oppa.
@kantor
"Oppa, kau marah?"tanyaku.
"wae? aku tidak boleh marah?"jawab Jiyong oppa.
"yang paling mengerti aku adalah oppa. Aku tidak akan berbuat aneh. Lalu, apa yang oppa khawatirkan?"
"aku khawatir kau akan menyukainya"
"oppa tidak suka?"
"tentu saja aku tidak suka!"katanya dengan nada tinggi.
"kalau begitu, oppa harus membuatku tidak berpindah ke Taeyang oppa. Aku tidak bisa menyakiti uri appa-omma. Kita berdua sudah sama-sama dijodohkan. Lalu kita tidak akan bisa seperti ini. Apakah ini endingnya? Berpisah dari oppa itu seperti hukuman mati bagiku"kataku tersenyum dan meninggalkan kantor oppa. Bukannya aku mau membuat oppa cemburu atau kesal. Hanya saja aku juga tidak bisa menolak Taeyang oppa, dia terlalu baik. Tapi, aku juga tidak ingin melepas dari Jiyong oppa.
Saat aku pulang dari jalan-jalan bersama Taeyang oppa, Jiyong oppa seperti biasa menunggu didepan pintu kamarku.
"Chaerin kau benar, kita bersaudara. Kita berpisah saja"kata oppa yang langsung masuk kekamarnya.
"wae oppa? Andwee! Aku tidak mau seperti ini"kataku pelan. Aku menangis dikamarku.
-lima bulan kemudian.
Taeyang oppa mengajak kami ke resto labirin lagi untuk dinner tapi, ini bersama keluarga. Musik classic mengalun merdu. Taeyang oppa menghapiriku dengan membawa buket bunga. Andwe!! Aku tidak mau berakhir seperti ini. Andwe! Andwe!"Chearin jebal,Aterimalah bunga ini"kata Taeyang oppa. Dengan terpaksa aku menerima bunganya.
"gomawo"
"maukah kau menikah denganku?"
Aku melihat omma dan appa yang tersenyum. Jiyong oppa terlihat santai, tak peduli. Ya,kami memang pernah membahas ini sebelumnya. Aku harus menerima Taeyang oppa agar Jiyong oppa tidak perlu dijodohkan. Lagian Jiyong oppa juga sudah menyerah terhadapku.
"ne,oppa!"jawabku. Taeyang oppa memelukku.
AUTHOR POV
Chaerin menerima lamaran Taeyang. Taeyang sangat gembira dan memeluk yeoja yang sudah enam tahun ini dicintainya.
DORr..DORr..(suara ledakan kembang api)
"andwe! Andwe! Omma! Jangan mati,omma! tolong aku! tolong!"teriak Chaerin ketakutan sambil memukul-mukul Taeyang agar Taeyang melepaskan tubuhnya. Taeyang menjadi shock. Chaerin terduduk lemas ditanah. Jiyong segera memeluk Chaerin ketakutan, dikecupnya kepala Chaerin lembut.
"tenang, oppa disini"kata Jiyong khawatir karena Chaerin mengigil ketakutan sambil menangis.
"lepaskan aku! lepaskan aku, pembunuh"kata Chaerin berusaha melepaskan diri tapi, pelukan Jiyong terlalu kuat.
"ada apa ini?"tanya Taeyang kaget.
"cepat panggil ambulance!"teriak Jiyong. Ommanya pun mengelus-elus lembut Chaerin yang mengamuk.
Tak lama ambulance datang. Chaerin yang sudah tertidur lemas segera dibawa.
"aku ikut"kata Taeyang.
"tidak perlu! Kau bilang enam tahun kau mengejar Chaerin tapi,kau tidak tau apa-apa tentangnya. Kau malah membunuhnya. Biarkan aku yang menjaganya karena hanya aku yang bisa"kata Jiyong yang masuk keambulance sambil memegang tangan Chaerin. Pintu mobil ambulance pun segera ditutup dan berjalan pergi.
AUTHOR POV
Saat kecil Chaerin terbiasa tinggal dirumahnya sendirin. Abojinya sudah lama mati sehingga ommanya bekerja untuk membiayai hidup. Siang ommanya karyawan restoran dan malam kasir swalayan 24jam. Ommanya membanting tulang agar suatu saat bila ommanya mati Chaerin tidak akan terlantar karena tidak ada uang. Walau ommanya jarang dirumah, ommanya perhatian dengan Chaerin. Ommanya mengajarkan Chaerin menjadi yeoja yang kuat sehingga memasukan Chaerin kekelas taekwondoo sejak Chaerin masih sangat kecil.
Suatu malam Chaerin melihat jaket ommanya dikasur. Jaket itu biasanya dipakai ommanya berkerja. Chaerin langsung mengambil jaket ommanya dan pergi ketempat ommanya berkerja.
Saat tiba didepan swalayan Chaerin melihat swalayan ommanya dirampok.Chaerin tidak berani masuk dan hanya melihat dari luar lewat kaca. Dia ingin menolong ommanya.Tapi, Chaerin tidak berani. Bahkan kaki dan mulutnya tidak dapat bergerak. Sang perampok menodong Chaerin omma dengan pistol agar ommanya membuka mesin kasir. Tapi ommanya menolak dan
DORR!! Darah keluar dari kepala ommanya Chaerin. Chaerin yang melihatnya menangis dan pingsan.
CHAERIN POV
Aku membuka mataku perlahan. Melihat Jiyong oppa tertidur disampingku. Aku juga melihat omma tiduran disofa panjang didekatku langsung terbagun.
"kau baik-baik saja? Bagaimana perasaanmu?"tanya omma khawatir.
"gwinchana, omma. Kenapa aku disini. Apa yang terjadi?"tanyaku lemah.
"kau hanya kelelahan"kata omma menangis. Omma pasti berbohong. Tapi, aku juga tidak ingat kenapa aku disini. Aku melihat Jiyong oppa, Dia terlihat begitu lelah.
"sudah dua hari ini dia selalu menjagamu"jelas omma.
"dua hari?"tanyaku kaget
"ne.Kau tidak koma. Hanya tertidur"
"penyakitku parah omma?"
"tidak sayang,troma itu bisa hilang"
"omma perlu berapa lama lagi aku akan menyakiti kalian? Membuat kalian khawatir. Kenapa aku tidak mati saja saat itu"kataku histeris karena ingat kembali pada mimpi buruk itu. Oppa yang terbangun mendekapku.
"jangan berfikir begitu! Kami begitu mencintaimu. Kau berfikir mati dan merasakan kesakitanmu sendirian malah membuat kami terluka. Kalau sakit, katakan sakit. Jangan menyembunyikannya!"kata jiyong oppa. Entah sejak kapan appa juga disini, memeluk omma yang menangis.
"mianhe,omma yang tidak tau penderitaanmu.kenapa kau tidak pernah bilang pada kami? Kami keluargamu, aku ommamu Chaerin"kata omma menangis.
"mianhe omma!"
"jika terlalu berat menceritakannya. Izinkan Jiyong yang bercerita, kenapa kau tidak mengizinkannya bercerita."kata appa.
"aku tidak mau kalian mengkhawatirkanku. Mianhe appa.sungguh"kataku menangis karena merasa bersalah.
Dokter mengatakan aku terkena troma yang membuat setiap malem memimpikan mimpi yang sama. Suara letupan besar membuatku pingsan atau berhalusinasi. Kemunkinan besar akan tertidur bahkan koma. Ternyata inilah yang membuat omma takut dan menangis.
"kenapa pasien duduk ditaman dingin seperti ini sendirian?"kata Jiyong oppa sambil menutupi tubuhku dengan jaketnya.
"apa yang menjadi pikiranmu? Sepertinya ada masalah serius"kata Jiyong oppa.
"anio oppa.Oppa,bagaimana dengan Taeyang oppa?"
"malam itu dia terkejut. Mianhe,aku mengusirnya"
"pantas saja Taeyang oppa tidak menjengukku"
"wae? kau kecewa?"
"anio oppa. Aku hanya bingung"
"semua orang juga sudah tau hubungan kita dan aku juga sudah menjelaskannnya"
"Oppa!!"protesku.
"memang untuk saat ini, belum dapat izin tapi, aku yakin kita akan mendapat izin mereka"kata oppa tersenyum.
@Rumah
"appa,omma aku akan terapi di Jepang"kataku.
"kenapa tidak disini saja?"tanya omma.
"appa, omma pasti tau karena Jiyong oppa sudah menceritakannya. Tapi,aku ingin mengatakan langsung. Mianhe appa omma! Jebbal mianhe, aku telah mencintai Jiyong oppa sebagai namja. Aku tidak bisa menerima oppa dengan yeoja lain. Walau begitu yang terpenting adalah keluarga ini. Aku akan kejepang, 2tahun untuk terapi dan membiasakan diri jauh dari oppa. Aku akan pergi karena lebih baik aku melihat Jiyong oppa dengan yeoja lain dari pada melihat keluarga ini terpisah karena aku"jelasku menangis merasa bersalah.
"kau serius Chaerin?"tanya omma tidak percaya.
"ne,omma"
"kapan akan pergi?"tanya appa
"dua minggu lagi appa. Tapi, aku mohon. Jebal! jangan memberi tahu Jiyong oppa"
"wae?"tanya omma.
"karena bila oppa melarangku aku tidak akan sanggup pergi. Appa.. Omma.. Aku tetap akan menjadi keluarga ini?"kataku perlahan karena hatiku terasa sakit.
"tentu saja!mianhe,karena kalian harus berpisah"kata omma sambil memelukku dan menangis.
@rumah halmeoni.
"untuk apa kau kesini?"tanya halmeoni.
"mianhe helmeoni! Jebal mianhe! Halmeoni pasti membenciku. Halmeoni,aku akan pergi ke jepang delapan hari lagi untuk menyembuhkan tromaku, selama duathn"jelasku.
"Lalu wae?"kata halmeoni marah.
"selama duatahun itu akan berpisah dari oppa, aku tidak akan menghubungi oppa"jelasku.
"aku sudah lama tau hubungan kalian itu. Makanya aku akan menjodohkan dengan yang lain..."
@bandara.
"Kau sungguh tidak mau mengatakannya pada Jiyong?"tanya omma.
"ne omma"jawabku sambil berusaha tersenyum.
"bye omma!appa"
"bye Chaerin~ah!jaga dirimu"kata omma menangis.
"kau harus kembali dan sembuh"kata appa. Aku menganguk dan berjalan semakin menjauh dari appa dan omma.
Author Pov
melihat orang tuanya sudah pulang Jiyong pun langsung menyakan yang menjadi pikirannya.
"omma, dua hari ini aku tidak melihat Chaerin. Apa dia menginap dirumah Minzy?"tanyanya.
"anni"jawab ommanya singkat.
"oh, jadi ke rumah Jenny nuna?"
"anni. Chaerin ke Jepang. Kami baru saja mengantarnya"
Jiyong yang keget langsung berlari ke ommanya.
"Charin ke jepang tidak lamakan omma?"tanya Jiyong memaksa.
"anni. Dua tahun, mungkin lebih"jawab ommanya berusaha tidak mengeluarkan air mata. Jiyong yang sempat mematung segera keluar dari rumahnya dan menghidupkan mesin mobilnya. Dia memacu kecepatan mobilnya berharap dapat mengejar chaerin dibandara. Walau ditikungan mobil jiyong tetap berjalan cepat. Sebuah mobil berpapasan dengannya. Kecepatan mobilnya yang tinggi membuat jiyong sulit mengontrol kendaraannya.
@rumah sakit.
Jiyong terbaring lemas dikasur. Tangan jiyong disuntik infus dan darah mengalir dari selang kecil menuju tangannya. Kepalanya diperban karena benturan saat kecelakaan. Untung saja Jiyong bisa selamat dan hanya luka-luka ringan.
flashback
Chaerin yang saat itu masih sekolah dasar duduk sambil menangis dikantor polisi. Air matanya sudah tidak keluar lagi. Seseorang ajussi berlari masuk ke kantor polisi.
"saya wali Lee Chaerin! Kasus perampokan diswalayan"kata ajussi itu gugup pada polisi karena merasa namanya disebut gadis kecil bernama Chaerin itu pun menoleh. Ajussi itu berjalan dan memeluk Chaerin lembut.
"aku kwon. Aku sering mampir kerumahmu dan terakhir tiga hari lalu,apa kau ingat?"
"ne,ajussi chinggu uri omma ne?"tanya gadis bernama Chaerin itu.
"ne,sayang. Kau akan tinggal bersama ajussi. Kau akan menjadi anakku"kata ajussi itu.
Chaerin masuk ke rumah ajussi yang besar. Keluarga ajussi hanya ada istri dan anak yang lebih tua dari Chaerin. Chaerin berfikir bahwa dia akan seperti putri salju karena ajumma terlihat tidak suka padanya dan menuduh ajussi kwon berselingkuh dengan ommanya. Ajuma bahkan tidak pernah menyebut nama Chaerin dan anaknya yang bernama Jiyong itu tidak pernah berbicara dengan Chaerin.
Hari ini Chaerin berkelahi dengan namja karena membela Jiyong.
Ajussi kwon memukul kakinya lalu ajuma mengobati luka Chaerin. Lalu, Jiyong mulai baik pada Chaerin begitu juga ajuma.
Setelah remaja Chaerin mulai menyukai Jiyong, oppanya sendiri. Chaerin menatap langit malam seorang diri ditaman.
"apakah mencintai itu dosa? Kalau mencintai adalah dosa, berarti itu adalah dosa termanis bagiku"gumam Chaerin sambil tersenyum sedih.
End flashback
~~~~~~~~
Jiyong pov
Hari ini,hari yang aku tunggu. Aku sangat menunggu hari ini sampai rasanya mau mati. Aku turun tangga dengan semangat.
"hari ini kan Jiyong?"tanya omma.
"ne,omma. Doakan aku!"kataku sambil mencium pipi omma.
"ingat,kalau kau tidak dapat kontrak itu maka aku tidak akan mengizinkan anak gadisku didekatmu!"kata appa sambil membaca koran. Aku hanya tersenyum.
AUTHOR POV
Taeyang melihat foto yang dikeluarkan dari jas bagian kiri atas(wah,dari hati dong).
"hari ini kan? Wah,sudah dua tahun. Mianhe, aku tidak mau kalah darimu Jiyong"kata Taeyang masih melihat foto Chaerin.
Chaerin berjalan kaki dengan membawa koper besarnya.
"sepertinya berat. Biarkan kami membantumu membawakannya!"kata namja yang mendekati Chaerin dengan seorang temannya. Namja lainnya berusaha menyentuh pipi chaerin.
"tidak perlu,aku bisa sendiri"jawab Chaerin ketus.
"kau dari mana chagi?"kata namja itu masih mengejar chaerin yang jalannya semakin cepat. Dua namja itu tertawa saat tau chaerin berjalan kejalan buntu.
"menurutlah!"kata namja itu.
-4menit kemudian
"mian,kalian salah target. Aku tidak mau bermain tapi, kalian memaksa"kata Chaerin sambil menendang kepala namja yang sudah babak belur. Namja itu terjatuh dan satu lagi pergi melewati Chaerin. Chaerin merasa tangan namja berada dibahunya, Chaerin sudah bersiap-siap untuk "bermain" lagi. Chaerin berbalik kaget dengan yang dilihatnya.
"OPPA!"katanya kaget.
"jangan seperti ini! appa memintaku menjagamu, bila kau bisa menjaga dirimu seperti ini lalu apa yangku lakukan?"canda Jiyong. Chaerin meneteskan airmatanya dan memeluk namja dihadapannya.
@ditempat lain.
"aku melepaskan Chaerin, aku kalah untuk mendapatkan Chaerin. Tapi, merelakan orang yang dicintai untuk kebahagiannya artinya aku mencintai Chaerin lebih hebat darimu Jiyong"kata namja itu tersenyum manis.
"sekretaris Kim, cancel janjiku duahari lagi. Aku ada kencan dengan cinta pertamaku dan kirimkan buket bunga untuknya"kata Taeyang.
"mianhe presdir,atas nama siapa?"
"Dara, sandara"kata Taeyang tersenyum manis.
~~END~~~
FLASH BACK (8hari sebelum keberangkatan Chaerin)@rumah halmeoni.
"aku sudah lama tau hubungan kalian yang aneh.makanya aku menjodohkan kalian dengan yang lain. Bukan untuk memisahkan kalian hanya untuk memastikan cinta kalian serius atau hanya cinta saudara karena bersama. Semoga kau sehat! Ingat aku tidak pernah mengangapmu sebagai anak dari anakku karena kau adalah istri dari cucu kesayanganku. Maka cepatlah sembuh. Jangan biarkan cucuku memenunggu terlalu lama"kata helmeoni.
"gomawo halmeoni"kataku. Haleoni mengerakkan tangannya seolah-olah ingin memelukku. Aku mendekati halmeoni dan memeluknya juga.
~~~THE END~~~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar