NO MORE CHOISE (one
shoot)
AUTHOR: MaharDIKA Putri
CAST: SKY DRAGON
GENRE: ROMANTIS
RATING: NC (buat bawah umur tutup matanya ya!!)
cuap-cuap author: judul asli itu "tidak ada pilihan" dan castnya OC, lebih dari 4 bulan menjadi ff favorit no 1 di blog Dika dengan rata2 50 pembaca tiap minggu.
sekarang Dika buat versi SKY DRAGON karena inspiransinya juga karena SKY DRAGON. *shipper.
memang tidak banyak perubahan dari versi awal tapi, dika harapkan chiggudeul tidak bosan bacanya. semoga suka. smile emotikon
-CHAERIN POV
Dengan semangatku langkahkan kakiku.
"hey, pergi kau bayi!"kata seorang namja yang mengenakan seragam sekolah.
"aku bukan bayi!"kata anak kecil didepannya.
"ada apa?"tanyaku.
"tidak, nuna!"kata namja berseragam itu.
"kalau begitu pergilah!"pintaku pada anak-anak berseragam SMP itu pun berlari pergi.
"gwinchanna?"tanyaku.
"ne"jawabnya takut. aku memegang tangannya dan membantunya berdiri.
"tenanglah! Aku Chaerin. siapa namamu, saeng?"tanyaku ramah. Dia diam saja.
"kenapa anak SMP disini, inikan SMA? apakah kau mencari kakakmu?"tanyaku. Anak kecil itu hanya diam.
"kau bisa pulang sendiriankan? Nuna ada urusan, aku pergi dulu. Bye!"kataku berjalan pergi menuju sebuah cafe tempat aku dan kekasihku akan berkencan. Aku melihatnya dan aku duduk disampingnya.
"kita putus saja!"kata namja itu tiba-tiba, padahal aku baru saja duduk.
"wae? apa salahku?"tanyaku tak percaya.
"sadarlah, chaerin! kau tidak cantik. Aku begitu populer dan tampan. Aku bisa mendapatkan yeoja cantik dari pada kau."kata namja itu begitu saja dan pergi. Aku menangis tanpa peduli dengan kepergian namja itu. Aku tak akan mencoba untuk mengejarnya.
@7 tahun kemudian.
"annyeonghaseo, Chaerin agassi!!"sapa karyawan yang dilewatinya. Aku tersenyum mengeluarkan pesonaku.
"ah, kau begitu cantik agassi!"kata salah satu karyawan namja padaku. Lagi-lagi aku hanya tersenyum.
"kau baru menikah dua minggu lalu apa kau lupa?"kata Dara pada namja itu.
"Chaerin, lihatlah! kau berbeda dari Chaerin yangku kenal masa kuliah. Sekarang kau begitu mempesona. Membuat namja takhluk padamu."kata Dara. Aku hanya diam dan menaiki lift.
-Ruangan Chaerin
"tolonglah aku, direktur! Aku butuh uang itu. Pinjamkan aku uang"pinta karyawan namja.
"anda tau prosedurnya kan? jadi, saya tak bisa melakukannya."kataku sambil membaca dokumen diatas mejaku.
"aku membutuhkan uang itu untuk pernikahanku bulan depan."
"saya bukan orang baik. jadi,berhentilah memohon padaku."kataku sambil membuka lembaran dokumenku.
"kau tak punya hati, Chaerin. umurmu jauh lebih muda 5 tahun dariku tapi, tak ada rasa menghormatiku."kata namja itu marah.
"aku tau aku tak punya hati. tadikan sudahku bilang aku bukanlah orang baik."kataku santai. Namja itu keluar dengan penuh amarah.
Aku masuk kerumahku dengan setumpuk rasa lelah dipundakku. Seperti biasa keluargaku sudah berkumpul di meja makan.
"bagaimana persiapan pernikahanmu?"tanyaku pada Min Rin, adikku. Dia sedikit takut.
"Sudahku bilang kalian menikah saja! Aku menerimanya dengan senang kok. tapi, bila kamu masih keras kepala kayanya aku membutuhkan apartemen mewah".kataku sambil mengambil makanan.
"bodoh! umurmu sudah 28 tahun. Kenapa kau masih bercanda juga!"kata aboji marah.
"aku tak bercanda"kataku serius.
"akh, aku tak tahan lagi! Besok kau harus datang kekantorku!"kata aboji.
"aboji, aku sudah berkerja ditempat lain kenapa aku harus ke kantor aboji?"tanyaku. omma juga sudah terlihat marah.
"aku akan mengenalkanmu pada karyawanku. kalau perlu aku akan menempelkan fotomu disetiap sudut tembok"jelas aboji.
"aboji, aku tak sejelek itu sampai perlu melakukan hal itu."kataku.
"lalu, kenapa kau masih belum punya kekasih?"bentak aboji.
"sabar aboji! aku bukan tak laku tapi, aku tak punya hati."jelasku sambil mencium pipi aboji agar dia sedikit tenang.
"bukan tak punya hati. tapi,kau yang tak mau menerima mereka."kata omma mulai angkat bicara. Aku duduk di kursiku.
"baik. jika itu mau kalian. Kalian saja yang pilihkan."kataku sambil mengunyah makananku.
"ok! kau tak boleh menolak"kata aboji.
"ok! Aku janji aku tak akan lari. tapi,aku tak akan janji dua minggu setelah menikah kami berpisah"kataku santai.
"anak macam apa kau!"teriak aboji sambil memegang leher bagian belakangnya hipertensinya sepertinya kambuh.
"unnie!"bentak Min Rin karena sikapku keteraluan.
"karena kau, omma malu. Karena kau, Min Rin menunda pernikahannya. Sekarang kau ingin abojimu masuk rumah sakit?"kata omma.
"ok. Aku akan berusaha. Kalian yang atur setelah itu bilang saja padaku"kataku.
"yeoja macam apa kau?"kata aboji. Aku hanya diam dan menikmati makan malamku.
Aku masuk kesebuah resto karena aku akan bertemu dengan namja yang dijodohkan denagnku. Hanya ada satu namja yang ada disini. Tapi, namja ini terlihat lebih muda dariku, jauh lebih muda.
"Jiyong??"tanyaku. Dia tersenyum manis. Bodoh sekali namja ini mau dijodohkan denganku.
"silahkan duduk"katanya. Aku duduk disampingnya. Dia sedikit kaget dengan sikapku yang memilih duduk disampingnya.
"berapa umurmu?"tanyaku langsung.
"22 tahun ini"jawabnya.
"astaga, aku kira aku akan dijodohkan dengan namja lebih tua dariku. apakah aboji stress? Tapi, tidak apa-apa kau pasti tidak suka dengan perjodohan ini. Jadi, pasti akan cepat berakhir."kataku.
"tidak. Itu tidak akan terjadi karena aku yang meminta perjodohan ini."jelasnya.
"umurmu baru 22 tahun. Bagaimana kau bisa menghidupiku?"
"15 tahun aku sudah masuk universitas. 17 Tahun aku sudah berkerja. Sudah 2 tahun aku memimpin perusahaan uri appa"jelasnya. Dikasih makan apa ini anak sampai sehebat itu?
"jadi kau setuju?"tanyanya.
"aku setuju"
"baik, pernikahan kita tiga minggu lagi. Bagaimana?"
"bukankah kita di beri waktu dua bulan? Kenapa secepat ini? Pernikahan bukan seperti tanda tangan kontrak."
"tenang, semua akanku urus. Aku ingin mengenalmu setelah menikah saja"katanya tersenyum.
"terserahmu saja"kataku malas.
"aku lebih tua darimu kenapa tidak memanggilku.."
"kenapa harus memanggilmu nuna kalau sebentar lagi aku akan memangilmu honey atau yeobo."godanya.
"dasar anak-anak"
"aku bukan anak-anak, aku calon suamimu."kata Jiyong.
Aku dan Dara menonton tv dirumahku. Hari ini kami libur karena dia bosan maka dia kerumahku. Seseorang memencet bel.
"Dara, tolong bukain! Aku pakai celana pendek."kataku.
"ok, bos!"jawabnya dan berjalan untuk membuka pintu.
"cari Min Rin ya? Min Rin baru saja pergi."kata Dara. Karena merasa aneh aku pun berlari menuju pintu depan.
"kenapa kau disini?"tanyaku kaget.
"kau sibuk?"tanya namja itu.
"anni"jawabku.
"baguslah"jawabnya penuh senyum.
"nuguseo?"tanya Dara bingung.
"aku Jiyong, calon suami Chaerin"kata Jiyong. Dara menatapku bingung aku mengaguk pelan.
"Ada apa?"tanyaku.
"kajja, kita pergi beli cincin dan pilih bajunya."ajaknya.
"ne. Tapi, aku siap-siap dulu. Kamu masuk saja, Jiyong." kataku sambil membuka pintu lebih lebar dan Dara mengikutiku kekamar.
"jadi dia?"tanya Dara tak percaya.
"ne"
"aku kira dia temen Min Rin. kau tak bercandakan menikah dengan namja yang jauh lebih muda darimu?"
"tentu saja tidak."
"kau yakin menerima dia jadi suamimu??"
"aku tak punya pilihan. kau kan tau itu. telepon saja Taeyang, suamimu untuk menjemputmu. karena kami akan lama. "kataku sambil mengenakan bajuku.
"ne!"
“atau kau ingin kami antar sekalian?”
“tak perlu. Karena sekarang jam makan siang Taeyang jadi, dia bisa menjemputku sebentar dan kembali ke kantor.”
"baiklah. Aku pergi dulu"kataku.
Saat sampai Jiyong mengandeng tanganku. jujur saja ini pertama kalinya aku bergandengan dengan namja.
"aku bergandengan denganmu terlihat aku jalan dengan dongsaengku"kataku.
"Kau khawatir? tenanglah, penampilanmu tak seperti umurmu"katanya.
"aku harap begitu."jawabku malas. Jiyong menarikku kesebuah toko perhiasan, kami memilih cincin yang simple. Lalu, kami memilih gaun. Setelah kami mengenakan baju pengantin, kami berfoto bersama.
"wah, kalian sangat serasi! Kalian sudah lama pacaran ya?"tanya pramuniaga.
"wae?"tanya Jiyong.
"annio. Hanya saja kalian menikah begitu muda."jawab pramuniaga. Jiyong tersenyum.
“kau tidak terlihat tua seperti orang yang seumuran denganmu.”kata Jiyong berbisik padaku.
"kau bayar berapa dia?"tanyaku pada Jiyong. Jiyong tertawa dan pramuniaga bingung.
Aku memberikan undanganku pada Dara.
"asik, malam pertama tinggal satu minggu lagi."goda Dara.
"ehm, melakukan "itu" tidak wajibkan?"
"tentu saja wajib"
"jadi, bagaimana kau melakukannya?"
"hahaha..kenapa? kau gugup? biarkan suamimu yang berkerja, kau menerima saja."
"aku tak perlu menonton film "itu" kan?"
"pabo! Tahun berapa kau lahir? kenapa begitu kolot?"
"kau yang bodoh, kau kan tau aku memang tak mengerti."
"tenang saja. walau dia masih muda tapi, dia tetaplah sorang namja."
"aku sudah dewasa tapi, rumit bagiku rumit mengerti dengan kelakuan yang dewasa. akh!"keluhku.
Hari pernikahanku, rasa seperti aku sedang memainkan adegan pernikahan.
"tersenyumlah!"pinta omma.
"kau begitu cantik unnie"kata Min Rin.
"kalau kau tak tersenyum, orang akan mengira Min Rin yang akan memikah karena Min Rin terlihat cantik daripada kamu"komentar omma.
"bukankah memang Min Rin cantik dari pada aku"sanggahku. Omma memukulku pelan.
Tersenyumlah Chaerin, anggap kau bahagia seperti saat kau datang kepernikahan Dara. Banyak yang datang, banyak yang memberikanku selamat. Tapi, itu tidak membuatku gugup sekali pun.
Dan akhirnya selesai juga. Kami masuk kerumah Jiyong. Ini tidak pertama kalinya aku kesini. Jadi, aku langsung kamar dan mandi. Aku keluar dari kamar mandi dengan piama. Jiyong duduk dipingir kasur.
"kau tak bahagia?"tanyanya. Matanya menatapku lekat.
"aku senang"jawabku.
"bahagia berbeda dengan senang."katanya lalu menundukkan kepalanya.
"aku harus bagaimana?"tanyanya. Tiba-tiba dia didepanku, mengecup bibirku. Dia menyentuh pergelangan tangan kananku.
"ini ciuman pertamamu tapi, hatimu bahkan masih beraksi wajar."katanya sedikit frustasi karena aku tidak deg-degan atau pun merubah expresiku. Aku tahu dia selalu berusaha membuatku menyukainya.
"sudah, kita tidur saja dulu! bukankah kau sudah lelah mempersiapkan semuanya"kataku sambil tiduran dikasur.
"aku takut aku tidak bisa membahagiakanmu"katanya sambil merebahkan tubuhnya disampingku.
"jangan menyalahkan dirimu! Aku yang salah karena tak punya hati"kataku. Dia menghadap kearahku.
"tapi, kau berusaha mencintaiku? Aku janji aku tak akan mengkhianatimu"katanya menatapku lekat.
"kau fikir aku bodoh? Umur kita begitu jauh, tak lama lagi kau bosan dan mencari yeoja lain"kataku.
"kau sungguh tak percaya padaku?"
"kita lihat saja nanti siapa yang benar"kataku.
"kau kira kau dipermainkan olehku? kau yang mempermainkanku, Chaerin."katanya lembut.
"sudahlah, aku sudah lelah. Kalau tidak mandi mendingan tidur saja. Lagian ini malam pertama, kau malah marah begini."kataku menutup mataku.
"jadi apa yang harus kita lakukan pada malam pertama? Apakah kau tau?"godanya. Sial, aku salah bicara jadi aku pura-pura tak mendengarkannya. Tapi, kecupan lembut yang aku terima darinya. Kali ini tidak hanya kecupan, ini adalah kiss. Aku hanya diam dan tidak berani membuka mataku.
"malam ini tidak hanya ciuman pertamamu yang hilang tapi, juga ciuman pertamaku"katanya, dan aku rasa wajahnya masih dihadapanku karena nafasnya berhembus di wajahku.
"aku bosan melihat wajah datarmu, tersenyumlah! Aku tak akan marah lagi."katanya. Aku tersenyum sebisaku, bibirku terasa kaku karena sulit bagiku untuk tersenyum saat ini.
"tak apa, asalkan kau berusaha."katanya sambil kembali ketempatnya.
"Chaerin.."
"hem.."
"aku boleh memelukmu?"
"kenapa tanya? Kau menciumku saja tidak minta izin kepadaku."kataku. Dia terkekeh dan mendekatakn tubuhnya padaku, dia memelukku. Tubuhnya yang kurus membuatku tak menyangka ternyata dia punya tangan yang kekar. Wajahku tepat didada bidangnya sangat terdengar detak jatungnya yang kuat. Dia benar menyukaiku?
Aku terbagun, aku masih dipelukannya. Perlahan-lahan aku bangun melepaskan darinya, dia menggegam tanganku.
"Mau kemana?"tanyanya dengan mata masih terpejam.
"tidurlah lagi, kau masih lelah. Setelah masak, aku akan membangunkanmu"kataku sambil melepaskan tanganya dan aku pergi ke dapur.
Aku meletakkan minuman diatas meja makan. Tangan kokoh Jiyong telah melingkar dipinggangku dari belakang, kepalanya disandarkannya dibahuku.
"Kenapa begitu pagi? Aku masih ingin memelukmu"kata Jiyong manja.
"jangan bicara dileherku!!geli"kataku.
"aku tak memilikimu tadi malam"
"bukankah semua orang juga tau aku milikmu sejak kemarin, kita sudah menikah"kataku.
"tapi, kita tidak ‘berolahraga’ tadi malam"katanya sambil melepaskan pelukan dan duduk dikursinya. Aku mengambil makananya.
"umurmu berapa? Apakah kau tak tau semakin cepat punya anak, semakin hebat pasangan suami-istri itu"jelas Jiyong.
"aku baru tau itu"kataku sambil ikut makan di sampingnya.
"kenapa kau mau menikah denganku?"tanyaku.
"tentu saja karena aku mencintaimu. kalau hanya bermain-main dengan yeoja seusiamu aku tak perlu menikah. Jika pernikahan ini untuk bisnis tidak mungkin karena aku sudah memegang perusahaan besar dan lebih besar dari pada perusahaan abojimu."jelasnya sambil makan.
"kau jauh muda dari pada aku, kenapa jalan pikiranmu bisa sepanjang itu?"
"yeobo, apa kau lupa aku ini anak cerdas. Kau penasaran dengan anak cerdas sepertiku?"tanyanya. Aku menganguk pelan, dia mengegam tanganku.
"kita buat yuk?"godanya.
"Habiskan makananmu!"kataku. Dia tertawa lepas.
Aku menonton TV, dia tiduran dipangguanku.
"Kau manja sekali, seperti anak kecil"kataku. Dia bangun mengangkat bubuhnya dan menciumku. Singkat tapi dilakukannya berulang kali. Aku rasa aku mulai terbuai olehnya.
"apakah ini sudah tidak seperti anak-anak?"tanyanya. Tatapan matanya tak selembut tadi.
"tidak. Ini kelakuan orang dewasa."kataku. Dia segera menciumku lagi dan lagi.
Sudah hampir dua bulan menikah. Sudah dua minggu aku merasakan dicuekin Jiyong. Handphoneku bergetar segeraku baca pesan yang baru masuk.
from: Dara.
cepat berikan padanya. Dari pada dia minta pada gadis lain.
Dara menakut-nakutiku. Apa benar semua namja akan begitu?
pip! Pip! Pip! Pip! Pip! druk..(pintu terbuka) aku berlari kecil kearah Jiyong yang baru pulang, melepaskan jas dan dasinya. Mengambil tasnya.
"aku lelah"keluhnya.
"kau mau mandi?"tanyaku.
"tidak, aku tidur saja."katanya. Tidak ada pelukan, tak ada kecupan, dia juga tidak manja padaku lagi. Katanya dia mau membuatku jatuh cinta padanya tapi, apa ini??
Jiyong pulang, seperti biasa dia pulang dengan wajah lelah. Tapi, kali ini wajahnya lebih pucat. Aku memapahnya ke kamar melepaskan sepatu dan kemejanya karena bisah oleh keringat. Tubuhnya demam.
Aku terbangun menganti pendingin panas tubuhnya. Dia belum juga sadar tapi, dia perlu minum obat karena panasnya belum turun. Kukunyah beberapa biji obat, ku masukan air kemulutku dan kumasukan obat-obat itu kemulutnya. Walaupun tidak semuanya setidaknya dia sudah minum obat. Aku tertidur lagi.
Saat aku terbangun langit sudah cerah. Aku cek suhu tubuhnya, demamnya sudah turun. Aku mengambil HPku, menelpon assisten Jiyong.
"maaf tuan Park, Jiyong sakit. Dia demam jadi tidak bisa masuk kantor hari ini"
"..."
“demamnya belum turun. Tapi,dia belum bangun. Jika siang masih begini. aku akan bawa kerumah sakit"
"..."
"ne"kataku dan menutup telepon.
"aku ke kantor ya?"kata Jiyong tiba-tiba.
"Jangan kau masih perlu istirahat!"kataku.
"kau khawatir padaku?"
"aku akan buatkan bubur untukmu"kataku pergi.
"aku kira hanya vitamin dan obat magh saja yang manis. Ternyata obat tadi malam yang kau berikan juga manis"katanya. Detak jantungku menjadi tak normal mendengarnya. Aku pura-pura tak mendengarnya dan pergi ke dapur.
Aku menyuapinya makan bubur.
"makan saja disupi gimana mau kerja?"ledekku.
"kerjaanku banyak bila tidakku kerjakan segera. Itu akan membuat liburan kita tertunda"
"jadi dua minggu ini?"
"tentu saja aku berkerja biar aku bisa berdua saja denganmu"
"kenapa harus berlibur. Kalau kau tidak lembur kita kan jadi punya waktu berdua. Lagian aku juga akan berkerja. Hari ini aku terpaksa cuti untuk menjagamu. Sekarang makan obatmu!"kataku sambil meletakan obat ditangannya.
"tidak! Aku mau seperti tadi malam"
"tadi malam darurat"kataku.
"sekarang juga darurat"
"bagaimana kalauku pangil dokter saja?"kataku.
"tidak perlu!"katanya dan langsung meminum obatnya. Seperti anak kecil saja takut dengan dokter.
"tidurlah, istirahat yang cukup!"kataku. Dia mengubah posisi tidurnya lalu memejamkan matanya sambil menggegam tanganku.
ting.tong (bel berbunyi) aku segera membuka pintu mempersilahkan omma masuk.
"jadi kalian belum melakukannya?"tanya omma sambil duduk disofa.
"Tenang,omma! nanti dia terbangun. ommakan tau dia lagi sakit"
"kau pasti menolaknyakan?"
"annio, omma"
"benarkah? Bagus karena aku tak sabar lagi"kata Jiyong yang tiba-tiba duduk disampingku dan menggengam tanganku.
"omonim sudah dari tadi?"tanya jiyong ramah pada omma. Dia selalu bisa meraih hati kedua orang tuaku.
"ia. Kau sudah baikkan?"tanya omma.
"tentu saja. Aku punya dokter disini"jawab Jiyong. Aku mengecek panas dikeningnya.
"kau masih demam"kataku.
"tapi, aku sudah baikkan"katanya sambil mencium pipiku.
"begini dia omma,manja sekali"aduku.
"hohoho.. omma pulang dulu ya?"kata omma berdiri dari duduknya.
"omonim, lama-lama saja disini! mana tau karena omonim disini omonim malah punya cucu"kata Jiyong. omma tertawa lagi saat aku mencubit tangan Jiyong.
"bicara apa sih?"kataku kesal.
"kalian tidur satu kasurkan?"tanya omma.
"ne, omma"jawabku.
"tentu saja omonim. omonim tenang saja"kata Jiyong tersenyum.
"baguslah, omma percaya jiyong"
"omma, anakmu itu aku"protesku.
"Jiyong juga anakku sekarang!"
"terimakasih omonim! Aku menyayangimu!"kata Jiyong sambil memuluk omma. Bukankah dia juga punya omma? Kenapa dia manja sekali dengan ommaku?
"sudah, aku pulang dulu"kata omma. Aku dan Jiyong mengantar omma hingga pintu.
"bye omma!"kataku dan menutup pintu.
"kau benar mau melakukannya?"tanya Jiyong, tangannya melingkar dipinggangku.
"apa aku pernah menolak?"kataku. Dia tersenyum nakal.
"nanti ya yeono. aku masih demam"
"kenapa kesannya aku yang meminta?"kataku. Dia hanya tertawa.
"tidurlah. kau lelah"kataku. Dia melepaskan pelukan kami dan berjalan ke kamar.
"aku tak mau tidur! Ini masih jam 3 siang. Lagian aku sudah lelah tidur. Apalagi yang harusku lakukan?"teriaknya dari kamar.
"kita nonton saja"saranku.
"nonton apa? Aku suka nonton wajahmu!"katanya sambil menatapku dan tersenyum manja.
"sepertinya demam membuat pikiranmu rusak."kataku dan dia tertawa.
Seperti biasa dia pulang, kali ini senyuman yang diberikan padaku.
"ada apa? kenapa senang sekali?"tanyaku.
"aku tau kau yang mengatakan pada appa aku berkerja terlalu keras. Kau khawatirkan aku?"
"kau sakit, gimana aku tak khawatir"kataku. Dilemparnya tas kesofa, dia menciumku.
"kalau sekarang tak apa-apakan?"tanyanya disela-sela ciuman.
"terserah kau saja"jawabku. dibukanya kemejanya dan mengendongku kekamar.
-skip-
Aku bangun dari pelukanya.
"sekarang hari sabtu"katanya.
"aku harus masak dan membuat makanan"kataku. Aku mencium bibirnya.
"Aku tak mau sarapan"
"tadi malam kau juga tak makan, Nanti kau sakit"kataku beranjak pergi.
Jiyong menghampiriku didapur hanya mengunakan celana olahraga tanpa baju untuk menutupi tubuhnya.
"kenapa tidak pakai bajumu?"tanyaku.
"tentu saja aku ingin mengoda istriku. Istriku suka ABSku"
"istrimu yang bilang?"candaku.
"tidak karena tanpa sadar istriku mengelus-elus perutku"
"kekeke.. istrimu genit?"
"anni, istriku tidak genit. tidak sia-sia aku membuat otot-otat diperutku"katanya sambil duduk dikursi makan dan aku duduk disebelahnya.
"kenapa selalu duduk disampingku? Aku ingin makan sambil menatapmu"katanya sambil mengunyah makannya. Aku tak tau harus apa.
"apa ada sesuatu? Ceritakan padaku?"tanyanya.
"aku tak nyaman because i’m ugly."kataku. Dia berhenti makan, pindah dihadapanku, tangannya mengegam tanganku erat.
"aku kenal dengan seorang yeoja, dia cinta pertamaku. aku sering mengikutinya sampai akhirnya dia menolongku dan kami berkenalan. Aku kaget saat itu juga dia putus dengan kekasihnya"
"kenapa kaget? Seharusnya kau senang karena bisa mendapatkannya"kataku.
"karena setelah itu dia menjadi troma"
"troma apa? apakah karena itu kamu suka orang yang punya troma?"tanyaku.
"pabo! dia troma duduk ditempat yang berhadap-hadapan. dia tidak mau membuka hatinya, bahkan untuk keluargannya."
"na? maksudmu yeoja itu aku?"
"ne yeobo. kau cinta pertamaku, cinta terakhirku"
"ah,kau bohong. Kita belum pernah bertemu!"
"coba ingat-ingat lagi."katanya sambil mengelus kepalaku lembut.
"kau anak yang diganggu anak SMA itu?"tanyaku. Dia mengaguk pelan mengecup keningku. Akhirnya aku tau alasan kenapa aku punya naluri ingin membuka hatiku untuknya.
-flashback-
Aku berjalan pergi meninggalkan anak kecil yang baruku tolong.
"akh, jika aku tak menahan diri. Aku pasti sudah membungkus adik itu dan membawanya pulang. Dia tampan sekali!"kataku pelan dan tersenyum genit.
END
AUTHOR: MaharDIKA Putri
CAST: SKY DRAGON
GENRE: ROMANTIS
RATING: NC (buat bawah umur tutup matanya ya!!)
cuap-cuap author: judul asli itu "tidak ada pilihan" dan castnya OC, lebih dari 4 bulan menjadi ff favorit no 1 di blog Dika dengan rata2 50 pembaca tiap minggu.
sekarang Dika buat versi SKY DRAGON karena inspiransinya juga karena SKY DRAGON. *shipper.
memang tidak banyak perubahan dari versi awal tapi, dika harapkan chiggudeul tidak bosan bacanya. semoga suka. smile emotikon
-CHAERIN POV
Dengan semangatku langkahkan kakiku.
"hey, pergi kau bayi!"kata seorang namja yang mengenakan seragam sekolah.
"aku bukan bayi!"kata anak kecil didepannya.
"ada apa?"tanyaku.
"tidak, nuna!"kata namja berseragam itu.
"kalau begitu pergilah!"pintaku pada anak-anak berseragam SMP itu pun berlari pergi.
"gwinchanna?"tanyaku.
"ne"jawabnya takut. aku memegang tangannya dan membantunya berdiri.
"tenanglah! Aku Chaerin. siapa namamu, saeng?"tanyaku ramah. Dia diam saja.
"kenapa anak SMP disini, inikan SMA? apakah kau mencari kakakmu?"tanyaku. Anak kecil itu hanya diam.
"kau bisa pulang sendiriankan? Nuna ada urusan, aku pergi dulu. Bye!"kataku berjalan pergi menuju sebuah cafe tempat aku dan kekasihku akan berkencan. Aku melihatnya dan aku duduk disampingnya.
"kita putus saja!"kata namja itu tiba-tiba, padahal aku baru saja duduk.
"wae? apa salahku?"tanyaku tak percaya.
"sadarlah, chaerin! kau tidak cantik. Aku begitu populer dan tampan. Aku bisa mendapatkan yeoja cantik dari pada kau."kata namja itu begitu saja dan pergi. Aku menangis tanpa peduli dengan kepergian namja itu. Aku tak akan mencoba untuk mengejarnya.
@7 tahun kemudian.
"annyeonghaseo, Chaerin agassi!!"sapa karyawan yang dilewatinya. Aku tersenyum mengeluarkan pesonaku.
"ah, kau begitu cantik agassi!"kata salah satu karyawan namja padaku. Lagi-lagi aku hanya tersenyum.
"kau baru menikah dua minggu lalu apa kau lupa?"kata Dara pada namja itu.
"Chaerin, lihatlah! kau berbeda dari Chaerin yangku kenal masa kuliah. Sekarang kau begitu mempesona. Membuat namja takhluk padamu."kata Dara. Aku hanya diam dan menaiki lift.
-Ruangan Chaerin
"tolonglah aku, direktur! Aku butuh uang itu. Pinjamkan aku uang"pinta karyawan namja.
"anda tau prosedurnya kan? jadi, saya tak bisa melakukannya."kataku sambil membaca dokumen diatas mejaku.
"aku membutuhkan uang itu untuk pernikahanku bulan depan."
"saya bukan orang baik. jadi,berhentilah memohon padaku."kataku sambil membuka lembaran dokumenku.
"kau tak punya hati, Chaerin. umurmu jauh lebih muda 5 tahun dariku tapi, tak ada rasa menghormatiku."kata namja itu marah.
"aku tau aku tak punya hati. tadikan sudahku bilang aku bukanlah orang baik."kataku santai. Namja itu keluar dengan penuh amarah.
Aku masuk kerumahku dengan setumpuk rasa lelah dipundakku. Seperti biasa keluargaku sudah berkumpul di meja makan.
"bagaimana persiapan pernikahanmu?"tanyaku pada Min Rin, adikku. Dia sedikit takut.
"Sudahku bilang kalian menikah saja! Aku menerimanya dengan senang kok. tapi, bila kamu masih keras kepala kayanya aku membutuhkan apartemen mewah".kataku sambil mengambil makanan.
"bodoh! umurmu sudah 28 tahun. Kenapa kau masih bercanda juga!"kata aboji marah.
"aku tak bercanda"kataku serius.
"akh, aku tak tahan lagi! Besok kau harus datang kekantorku!"kata aboji.
"aboji, aku sudah berkerja ditempat lain kenapa aku harus ke kantor aboji?"tanyaku. omma juga sudah terlihat marah.
"aku akan mengenalkanmu pada karyawanku. kalau perlu aku akan menempelkan fotomu disetiap sudut tembok"jelas aboji.
"aboji, aku tak sejelek itu sampai perlu melakukan hal itu."kataku.
"lalu, kenapa kau masih belum punya kekasih?"bentak aboji.
"sabar aboji! aku bukan tak laku tapi, aku tak punya hati."jelasku sambil mencium pipi aboji agar dia sedikit tenang.
"bukan tak punya hati. tapi,kau yang tak mau menerima mereka."kata omma mulai angkat bicara. Aku duduk di kursiku.
"baik. jika itu mau kalian. Kalian saja yang pilihkan."kataku sambil mengunyah makananku.
"ok! kau tak boleh menolak"kata aboji.
"ok! Aku janji aku tak akan lari. tapi,aku tak akan janji dua minggu setelah menikah kami berpisah"kataku santai.
"anak macam apa kau!"teriak aboji sambil memegang leher bagian belakangnya hipertensinya sepertinya kambuh.
"unnie!"bentak Min Rin karena sikapku keteraluan.
"karena kau, omma malu. Karena kau, Min Rin menunda pernikahannya. Sekarang kau ingin abojimu masuk rumah sakit?"kata omma.
"ok. Aku akan berusaha. Kalian yang atur setelah itu bilang saja padaku"kataku.
"yeoja macam apa kau?"kata aboji. Aku hanya diam dan menikmati makan malamku.
Aku masuk kesebuah resto karena aku akan bertemu dengan namja yang dijodohkan denagnku. Hanya ada satu namja yang ada disini. Tapi, namja ini terlihat lebih muda dariku, jauh lebih muda.
"Jiyong??"tanyaku. Dia tersenyum manis. Bodoh sekali namja ini mau dijodohkan denganku.
"silahkan duduk"katanya. Aku duduk disampingnya. Dia sedikit kaget dengan sikapku yang memilih duduk disampingnya.
"berapa umurmu?"tanyaku langsung.
"22 tahun ini"jawabnya.
"astaga, aku kira aku akan dijodohkan dengan namja lebih tua dariku. apakah aboji stress? Tapi, tidak apa-apa kau pasti tidak suka dengan perjodohan ini. Jadi, pasti akan cepat berakhir."kataku.
"tidak. Itu tidak akan terjadi karena aku yang meminta perjodohan ini."jelasnya.
"umurmu baru 22 tahun. Bagaimana kau bisa menghidupiku?"
"15 tahun aku sudah masuk universitas. 17 Tahun aku sudah berkerja. Sudah 2 tahun aku memimpin perusahaan uri appa"jelasnya. Dikasih makan apa ini anak sampai sehebat itu?
"jadi kau setuju?"tanyanya.
"aku setuju"
"baik, pernikahan kita tiga minggu lagi. Bagaimana?"
"bukankah kita di beri waktu dua bulan? Kenapa secepat ini? Pernikahan bukan seperti tanda tangan kontrak."
"tenang, semua akanku urus. Aku ingin mengenalmu setelah menikah saja"katanya tersenyum.
"terserahmu saja"kataku malas.
"aku lebih tua darimu kenapa tidak memanggilku.."
"kenapa harus memanggilmu nuna kalau sebentar lagi aku akan memangilmu honey atau yeobo."godanya.
"dasar anak-anak"
"aku bukan anak-anak, aku calon suamimu."kata Jiyong.
Aku dan Dara menonton tv dirumahku. Hari ini kami libur karena dia bosan maka dia kerumahku. Seseorang memencet bel.
"Dara, tolong bukain! Aku pakai celana pendek."kataku.
"ok, bos!"jawabnya dan berjalan untuk membuka pintu.
"cari Min Rin ya? Min Rin baru saja pergi."kata Dara. Karena merasa aneh aku pun berlari menuju pintu depan.
"kenapa kau disini?"tanyaku kaget.
"kau sibuk?"tanya namja itu.
"anni"jawabku.
"baguslah"jawabnya penuh senyum.
"nuguseo?"tanya Dara bingung.
"aku Jiyong, calon suami Chaerin"kata Jiyong. Dara menatapku bingung aku mengaguk pelan.
"Ada apa?"tanyaku.
"kajja, kita pergi beli cincin dan pilih bajunya."ajaknya.
"ne. Tapi, aku siap-siap dulu. Kamu masuk saja, Jiyong." kataku sambil membuka pintu lebih lebar dan Dara mengikutiku kekamar.
"jadi dia?"tanya Dara tak percaya.
"ne"
"aku kira dia temen Min Rin. kau tak bercandakan menikah dengan namja yang jauh lebih muda darimu?"
"tentu saja tidak."
"kau yakin menerima dia jadi suamimu??"
"aku tak punya pilihan. kau kan tau itu. telepon saja Taeyang, suamimu untuk menjemputmu. karena kami akan lama. "kataku sambil mengenakan bajuku.
"ne!"
“atau kau ingin kami antar sekalian?”
“tak perlu. Karena sekarang jam makan siang Taeyang jadi, dia bisa menjemputku sebentar dan kembali ke kantor.”
"baiklah. Aku pergi dulu"kataku.
Saat sampai Jiyong mengandeng tanganku. jujur saja ini pertama kalinya aku bergandengan dengan namja.
"aku bergandengan denganmu terlihat aku jalan dengan dongsaengku"kataku.
"Kau khawatir? tenanglah, penampilanmu tak seperti umurmu"katanya.
"aku harap begitu."jawabku malas. Jiyong menarikku kesebuah toko perhiasan, kami memilih cincin yang simple. Lalu, kami memilih gaun. Setelah kami mengenakan baju pengantin, kami berfoto bersama.
"wah, kalian sangat serasi! Kalian sudah lama pacaran ya?"tanya pramuniaga.
"wae?"tanya Jiyong.
"annio. Hanya saja kalian menikah begitu muda."jawab pramuniaga. Jiyong tersenyum.
“kau tidak terlihat tua seperti orang yang seumuran denganmu.”kata Jiyong berbisik padaku.
"kau bayar berapa dia?"tanyaku pada Jiyong. Jiyong tertawa dan pramuniaga bingung.
Aku memberikan undanganku pada Dara.
"asik, malam pertama tinggal satu minggu lagi."goda Dara.
"ehm, melakukan "itu" tidak wajibkan?"
"tentu saja wajib"
"jadi, bagaimana kau melakukannya?"
"hahaha..kenapa? kau gugup? biarkan suamimu yang berkerja, kau menerima saja."
"aku tak perlu menonton film "itu" kan?"
"pabo! Tahun berapa kau lahir? kenapa begitu kolot?"
"kau yang bodoh, kau kan tau aku memang tak mengerti."
"tenang saja. walau dia masih muda tapi, dia tetaplah sorang namja."
"aku sudah dewasa tapi, rumit bagiku rumit mengerti dengan kelakuan yang dewasa. akh!"keluhku.
Hari pernikahanku, rasa seperti aku sedang memainkan adegan pernikahan.
"tersenyumlah!"pinta omma.
"kau begitu cantik unnie"kata Min Rin.
"kalau kau tak tersenyum, orang akan mengira Min Rin yang akan memikah karena Min Rin terlihat cantik daripada kamu"komentar omma.
"bukankah memang Min Rin cantik dari pada aku"sanggahku. Omma memukulku pelan.
Tersenyumlah Chaerin, anggap kau bahagia seperti saat kau datang kepernikahan Dara. Banyak yang datang, banyak yang memberikanku selamat. Tapi, itu tidak membuatku gugup sekali pun.
Dan akhirnya selesai juga. Kami masuk kerumah Jiyong. Ini tidak pertama kalinya aku kesini. Jadi, aku langsung kamar dan mandi. Aku keluar dari kamar mandi dengan piama. Jiyong duduk dipingir kasur.
"kau tak bahagia?"tanyanya. Matanya menatapku lekat.
"aku senang"jawabku.
"bahagia berbeda dengan senang."katanya lalu menundukkan kepalanya.
"aku harus bagaimana?"tanyanya. Tiba-tiba dia didepanku, mengecup bibirku. Dia menyentuh pergelangan tangan kananku.
"ini ciuman pertamamu tapi, hatimu bahkan masih beraksi wajar."katanya sedikit frustasi karena aku tidak deg-degan atau pun merubah expresiku. Aku tahu dia selalu berusaha membuatku menyukainya.
"sudah, kita tidur saja dulu! bukankah kau sudah lelah mempersiapkan semuanya"kataku sambil tiduran dikasur.
"aku takut aku tidak bisa membahagiakanmu"katanya sambil merebahkan tubuhnya disampingku.
"jangan menyalahkan dirimu! Aku yang salah karena tak punya hati"kataku. Dia menghadap kearahku.
"tapi, kau berusaha mencintaiku? Aku janji aku tak akan mengkhianatimu"katanya menatapku lekat.
"kau fikir aku bodoh? Umur kita begitu jauh, tak lama lagi kau bosan dan mencari yeoja lain"kataku.
"kau sungguh tak percaya padaku?"
"kita lihat saja nanti siapa yang benar"kataku.
"kau kira kau dipermainkan olehku? kau yang mempermainkanku, Chaerin."katanya lembut.
"sudahlah, aku sudah lelah. Kalau tidak mandi mendingan tidur saja. Lagian ini malam pertama, kau malah marah begini."kataku menutup mataku.
"jadi apa yang harus kita lakukan pada malam pertama? Apakah kau tau?"godanya. Sial, aku salah bicara jadi aku pura-pura tak mendengarkannya. Tapi, kecupan lembut yang aku terima darinya. Kali ini tidak hanya kecupan, ini adalah kiss. Aku hanya diam dan tidak berani membuka mataku.
"malam ini tidak hanya ciuman pertamamu yang hilang tapi, juga ciuman pertamaku"katanya, dan aku rasa wajahnya masih dihadapanku karena nafasnya berhembus di wajahku.
"aku bosan melihat wajah datarmu, tersenyumlah! Aku tak akan marah lagi."katanya. Aku tersenyum sebisaku, bibirku terasa kaku karena sulit bagiku untuk tersenyum saat ini.
"tak apa, asalkan kau berusaha."katanya sambil kembali ketempatnya.
"Chaerin.."
"hem.."
"aku boleh memelukmu?"
"kenapa tanya? Kau menciumku saja tidak minta izin kepadaku."kataku. Dia terkekeh dan mendekatakn tubuhnya padaku, dia memelukku. Tubuhnya yang kurus membuatku tak menyangka ternyata dia punya tangan yang kekar. Wajahku tepat didada bidangnya sangat terdengar detak jatungnya yang kuat. Dia benar menyukaiku?
Aku terbagun, aku masih dipelukannya. Perlahan-lahan aku bangun melepaskan darinya, dia menggegam tanganku.
"Mau kemana?"tanyanya dengan mata masih terpejam.
"tidurlah lagi, kau masih lelah. Setelah masak, aku akan membangunkanmu"kataku sambil melepaskan tanganya dan aku pergi ke dapur.
Aku meletakkan minuman diatas meja makan. Tangan kokoh Jiyong telah melingkar dipinggangku dari belakang, kepalanya disandarkannya dibahuku.
"Kenapa begitu pagi? Aku masih ingin memelukmu"kata Jiyong manja.
"jangan bicara dileherku!!geli"kataku.
"aku tak memilikimu tadi malam"
"bukankah semua orang juga tau aku milikmu sejak kemarin, kita sudah menikah"kataku.
"tapi, kita tidak ‘berolahraga’ tadi malam"katanya sambil melepaskan pelukan dan duduk dikursinya. Aku mengambil makananya.
"umurmu berapa? Apakah kau tak tau semakin cepat punya anak, semakin hebat pasangan suami-istri itu"jelas Jiyong.
"aku baru tau itu"kataku sambil ikut makan di sampingnya.
"kenapa kau mau menikah denganku?"tanyaku.
"tentu saja karena aku mencintaimu. kalau hanya bermain-main dengan yeoja seusiamu aku tak perlu menikah. Jika pernikahan ini untuk bisnis tidak mungkin karena aku sudah memegang perusahaan besar dan lebih besar dari pada perusahaan abojimu."jelasnya sambil makan.
"kau jauh muda dari pada aku, kenapa jalan pikiranmu bisa sepanjang itu?"
"yeobo, apa kau lupa aku ini anak cerdas. Kau penasaran dengan anak cerdas sepertiku?"tanyanya. Aku menganguk pelan, dia mengegam tanganku.
"kita buat yuk?"godanya.
"Habiskan makananmu!"kataku. Dia tertawa lepas.
Aku menonton TV, dia tiduran dipangguanku.
"Kau manja sekali, seperti anak kecil"kataku. Dia bangun mengangkat bubuhnya dan menciumku. Singkat tapi dilakukannya berulang kali. Aku rasa aku mulai terbuai olehnya.
"apakah ini sudah tidak seperti anak-anak?"tanyanya. Tatapan matanya tak selembut tadi.
"tidak. Ini kelakuan orang dewasa."kataku. Dia segera menciumku lagi dan lagi.
Sudah hampir dua bulan menikah. Sudah dua minggu aku merasakan dicuekin Jiyong. Handphoneku bergetar segeraku baca pesan yang baru masuk.
from: Dara.
cepat berikan padanya. Dari pada dia minta pada gadis lain.
Dara menakut-nakutiku. Apa benar semua namja akan begitu?
pip! Pip! Pip! Pip! Pip! druk..(pintu terbuka) aku berlari kecil kearah Jiyong yang baru pulang, melepaskan jas dan dasinya. Mengambil tasnya.
"aku lelah"keluhnya.
"kau mau mandi?"tanyaku.
"tidak, aku tidur saja."katanya. Tidak ada pelukan, tak ada kecupan, dia juga tidak manja padaku lagi. Katanya dia mau membuatku jatuh cinta padanya tapi, apa ini??
Jiyong pulang, seperti biasa dia pulang dengan wajah lelah. Tapi, kali ini wajahnya lebih pucat. Aku memapahnya ke kamar melepaskan sepatu dan kemejanya karena bisah oleh keringat. Tubuhnya demam.
Aku terbangun menganti pendingin panas tubuhnya. Dia belum juga sadar tapi, dia perlu minum obat karena panasnya belum turun. Kukunyah beberapa biji obat, ku masukan air kemulutku dan kumasukan obat-obat itu kemulutnya. Walaupun tidak semuanya setidaknya dia sudah minum obat. Aku tertidur lagi.
Saat aku terbangun langit sudah cerah. Aku cek suhu tubuhnya, demamnya sudah turun. Aku mengambil HPku, menelpon assisten Jiyong.
"maaf tuan Park, Jiyong sakit. Dia demam jadi tidak bisa masuk kantor hari ini"
"..."
“demamnya belum turun. Tapi,dia belum bangun. Jika siang masih begini. aku akan bawa kerumah sakit"
"..."
"ne"kataku dan menutup telepon.
"aku ke kantor ya?"kata Jiyong tiba-tiba.
"Jangan kau masih perlu istirahat!"kataku.
"kau khawatir padaku?"
"aku akan buatkan bubur untukmu"kataku pergi.
"aku kira hanya vitamin dan obat magh saja yang manis. Ternyata obat tadi malam yang kau berikan juga manis"katanya. Detak jantungku menjadi tak normal mendengarnya. Aku pura-pura tak mendengarnya dan pergi ke dapur.
Aku menyuapinya makan bubur.
"makan saja disupi gimana mau kerja?"ledekku.
"kerjaanku banyak bila tidakku kerjakan segera. Itu akan membuat liburan kita tertunda"
"jadi dua minggu ini?"
"tentu saja aku berkerja biar aku bisa berdua saja denganmu"
"kenapa harus berlibur. Kalau kau tidak lembur kita kan jadi punya waktu berdua. Lagian aku juga akan berkerja. Hari ini aku terpaksa cuti untuk menjagamu. Sekarang makan obatmu!"kataku sambil meletakan obat ditangannya.
"tidak! Aku mau seperti tadi malam"
"tadi malam darurat"kataku.
"sekarang juga darurat"
"bagaimana kalauku pangil dokter saja?"kataku.
"tidak perlu!"katanya dan langsung meminum obatnya. Seperti anak kecil saja takut dengan dokter.
"tidurlah, istirahat yang cukup!"kataku. Dia mengubah posisi tidurnya lalu memejamkan matanya sambil menggegam tanganku.
ting.tong (bel berbunyi) aku segera membuka pintu mempersilahkan omma masuk.
"jadi kalian belum melakukannya?"tanya omma sambil duduk disofa.
"Tenang,omma! nanti dia terbangun. ommakan tau dia lagi sakit"
"kau pasti menolaknyakan?"
"annio, omma"
"benarkah? Bagus karena aku tak sabar lagi"kata Jiyong yang tiba-tiba duduk disampingku dan menggengam tanganku.
"omonim sudah dari tadi?"tanya jiyong ramah pada omma. Dia selalu bisa meraih hati kedua orang tuaku.
"ia. Kau sudah baikkan?"tanya omma.
"tentu saja. Aku punya dokter disini"jawab Jiyong. Aku mengecek panas dikeningnya.
"kau masih demam"kataku.
"tapi, aku sudah baikkan"katanya sambil mencium pipiku.
"begini dia omma,manja sekali"aduku.
"hohoho.. omma pulang dulu ya?"kata omma berdiri dari duduknya.
"omonim, lama-lama saja disini! mana tau karena omonim disini omonim malah punya cucu"kata Jiyong. omma tertawa lagi saat aku mencubit tangan Jiyong.
"bicara apa sih?"kataku kesal.
"kalian tidur satu kasurkan?"tanya omma.
"ne, omma"jawabku.
"tentu saja omonim. omonim tenang saja"kata Jiyong tersenyum.
"baguslah, omma percaya jiyong"
"omma, anakmu itu aku"protesku.
"Jiyong juga anakku sekarang!"
"terimakasih omonim! Aku menyayangimu!"kata Jiyong sambil memuluk omma. Bukankah dia juga punya omma? Kenapa dia manja sekali dengan ommaku?
"sudah, aku pulang dulu"kata omma. Aku dan Jiyong mengantar omma hingga pintu.
"bye omma!"kataku dan menutup pintu.
"kau benar mau melakukannya?"tanya Jiyong, tangannya melingkar dipinggangku.
"apa aku pernah menolak?"kataku. Dia tersenyum nakal.
"nanti ya yeono. aku masih demam"
"kenapa kesannya aku yang meminta?"kataku. Dia hanya tertawa.
"tidurlah. kau lelah"kataku. Dia melepaskan pelukan kami dan berjalan ke kamar.
"aku tak mau tidur! Ini masih jam 3 siang. Lagian aku sudah lelah tidur. Apalagi yang harusku lakukan?"teriaknya dari kamar.
"kita nonton saja"saranku.
"nonton apa? Aku suka nonton wajahmu!"katanya sambil menatapku dan tersenyum manja.
"sepertinya demam membuat pikiranmu rusak."kataku dan dia tertawa.
Seperti biasa dia pulang, kali ini senyuman yang diberikan padaku.
"ada apa? kenapa senang sekali?"tanyaku.
"aku tau kau yang mengatakan pada appa aku berkerja terlalu keras. Kau khawatirkan aku?"
"kau sakit, gimana aku tak khawatir"kataku. Dilemparnya tas kesofa, dia menciumku.
"kalau sekarang tak apa-apakan?"tanyanya disela-sela ciuman.
"terserah kau saja"jawabku. dibukanya kemejanya dan mengendongku kekamar.
-skip-
Aku bangun dari pelukanya.
"sekarang hari sabtu"katanya.
"aku harus masak dan membuat makanan"kataku. Aku mencium bibirnya.
"Aku tak mau sarapan"
"tadi malam kau juga tak makan, Nanti kau sakit"kataku beranjak pergi.
Jiyong menghampiriku didapur hanya mengunakan celana olahraga tanpa baju untuk menutupi tubuhnya.
"kenapa tidak pakai bajumu?"tanyaku.
"tentu saja aku ingin mengoda istriku. Istriku suka ABSku"
"istrimu yang bilang?"candaku.
"tidak karena tanpa sadar istriku mengelus-elus perutku"
"kekeke.. istrimu genit?"
"anni, istriku tidak genit. tidak sia-sia aku membuat otot-otat diperutku"katanya sambil duduk dikursi makan dan aku duduk disebelahnya.
"kenapa selalu duduk disampingku? Aku ingin makan sambil menatapmu"katanya sambil mengunyah makannya. Aku tak tau harus apa.
"apa ada sesuatu? Ceritakan padaku?"tanyanya.
"aku tak nyaman because i’m ugly."kataku. Dia berhenti makan, pindah dihadapanku, tangannya mengegam tanganku erat.
"aku kenal dengan seorang yeoja, dia cinta pertamaku. aku sering mengikutinya sampai akhirnya dia menolongku dan kami berkenalan. Aku kaget saat itu juga dia putus dengan kekasihnya"
"kenapa kaget? Seharusnya kau senang karena bisa mendapatkannya"kataku.
"karena setelah itu dia menjadi troma"
"troma apa? apakah karena itu kamu suka orang yang punya troma?"tanyaku.
"pabo! dia troma duduk ditempat yang berhadap-hadapan. dia tidak mau membuka hatinya, bahkan untuk keluargannya."
"na? maksudmu yeoja itu aku?"
"ne yeobo. kau cinta pertamaku, cinta terakhirku"
"ah,kau bohong. Kita belum pernah bertemu!"
"coba ingat-ingat lagi."katanya sambil mengelus kepalaku lembut.
"kau anak yang diganggu anak SMA itu?"tanyaku. Dia mengaguk pelan mengecup keningku. Akhirnya aku tau alasan kenapa aku punya naluri ingin membuka hatiku untuknya.
-flashback-
Aku berjalan pergi meninggalkan anak kecil yang baruku tolong.
"akh, jika aku tak menahan diri. Aku pasti sudah membungkus adik itu dan membawanya pulang. Dia tampan sekali!"kataku pelan dan tersenyum genit.
END
Tidak ada komentar:
Posting Komentar