jangan lupa

JANGAN LUPA KOMENTAR YA..

Kamis, 10 Maret 2016

Pain is Love, Love is Pain



Pain is Love, Love is Pain

Author: Kim Daisy
Cast: Jiyong (GD) dan Chaerin (CL)
Genre: Angst
Cuap-Cuap author: ini Stand Love dari mini series TELL ME tapi, dari sudut pandang Jiyong. Kim ragu untuk posting karena Kim rasa TELL ME lebih keren.:)

TELL ME: https://www.facebook.com/media/set/?set=a.163058360543077.1073741828.163049320543981&type=3

---HAPPY READING----

Namaku Kwon Jiyong. Aku sudah di terima menjadi desainer disebuah perusahaan pakaian terkemuka di ibu kota. Aku suka dengan pekerjaanku tapi, aku lebih menyukai yeoja yang selama bertahun-tahun menjadi wallpaper diponselku. Foto itu hasil curian saat dia bersama adikku.
"ada apa pak Seung Hyun?" tanya yeoja yang duduk dimeja kerjanya.
"aku sudah bilang padamu untuk tidak memanggilku pak. ini karyawan baru. aku mengharapkan kalian bisa jadi rekan kerja yang baik."kata Seung Hyun.
"kenalin ini Chaerin, Chaerin ini Jiyong. Jiyong kamu duduk disini." lanjut Seung Hyun dan langsung meninggalkan kami. Aku menatapnya tak percaya. Aku mengenal yeoja ini, yeoja ini lah yang menghiasi ponselku dengan foto-fotonya. Aku sangat tak menyangka bisa bertemu denganya. Dia tersenyum senang.
"kenapa tersenyum seperti itu? apakah kamu jatuh cinta pada pandangan pertama padaku?" tanyaku.
"mwo? maaf, aku bukan orang yang mudah jatuh cinta"jawabnya sambil memulai kembali kerjaannya. Dia benar-benar melupakanku atau dia tak mengenaliku?


Aku penasaran apa dia sengaja pura-pura tak mengenalku atau memang tak mengingatku.
"huft, kenapa kamu mengikutiku? jangan-jangan kamu yang jatuh cinta pada pandangan pertama denganku?"tanyanya sedikit emosi.
"ini jam makan siang. tapi, aku tidak tahu kantinnya dimana."jawabku. aku mengikutinya dan  aku duduk berhadapan denganya saat makan siang.
"kenapa duduk didapanku?" tanyanya.
"karena aku hanya kenal denganmu saat ini."kataku sambil tersenyum manis. Dia terlihat kesal, dia benar-benar tak mengingatku.

4 hari ini aku selalu mengikutinya bahkan aku mengikutinya menaiki bis. Sepertinya dia merasa risih tapi, ya sudah biarkan saja.
"kamu kurang kerjaan ya?"tanyanya kepadaku yang duduk disampingnya.
"lah, bukankah bis itu kendaraan umum."jawabku.
"Jiyong.."katanya yang terputus karena aku langsung memotong.
"Jingyo.."kataku.
"Jingyo. ok, kamu bisa duduk ditempat lain? kenapa harus disampingku?"
"aku juga bayar kok."kataku sambil memasang earphoneku.
Seperti biasa aku ingin mengajak Chaerin pulang denganku dan aku menunggu Chaerin di halte, setelah berdebat dia pun mau aku antar jemput. Hari ini Chaerin terlihat sakit jadi dia mengizinkanku untuk mengantarnya sampai rumah. Rumahnya terjaga ketat sepertinya dia bukan anak dari kalangan biasa.
Tidak lama dokter datang sambil memeriksa perutnya dan memberikannya suntikan vitamin.
“makan obatnya dulu setelah itu baru makan. Saya permisi dulu”kata dokter pamit pergi.
“terimaksih dokter!” kataku.
“dokter pribadi ya? Tapi, tidak dihubungi bisa langsung datang gitu?”tanyaku.
“ ya..”jawabnya lemah.
“istiratlah aku akan menemanimu hingga keluargamu datang.”kataku.
“kamu pulang saja. Kerena keluargaku tidak akan datang sampe tahun depan. Memang kamu mau disini sampai tahun depan?”katanya.
“kalau diizinkan”jawabku santai.
“kamu pulang saja. Temanku nanti akan datang menemaniku”katanya.
“baiklah.”kataku dan berjalan pergi.


Sepertinya dia berbohong, aku menunggu hingga pagi di depan gerbang rumahnya tapi, tidak ada yang melewati gerbang ini. Dia sendirian dirumah. Ya, aku menunggu semalaman di gerbangnya yang sangat jauh dari rumahnya. Aku mengirimkannya pesan agar dia istirahat karena aku sudah menghubungi pihak kantor. Tapi, dia tetap ingin berkerja.

Aku masih menunggunya di dekat gerbang rumahnya. Dia berjalan kaki keluar dari gerbang. Ingin rasanya aku mengajaknya untuk pergi ke kantor denganku tapi, aku bahkan tidak menganti bajuku karena semalaman aku berada di dekat gerbang rumahnya. Jadi aku hanya melihatnya dari jauh menuju ke halte.
“bandel!”kata ku yang tiba-tiba muncul dibelakang Chaerin.
“kamu seperti hantu tiba-tiba muncul!”protesnya.
“kenapa tidak istirahat dirumah?”tanyaku, aku mengkhawatirkanya.
“sejak kapan kamu berhak mengaturku?”tanyanya dingin.
“kamu ngajak berantem ya?? Aku mengkhawatirkanmu”kataku.
“kamu sudah sehat?”tanya Seung Hyun yang tiba-tiba datang, dia atasan kami.
“ne.”jawabnya malu jauh berbeda saat dia berbicara denganku.
“bagus kalau begitu”jawabnya dengan senyuman  dan berjalan pergi meninggalkan kami. Chaerin menatap Seung Hyun hyung, aku sadar Chaerin menyukainya.
“Chaerin, kembalilah ke bumi!”kataku sengaja menggangu khayalanya yang sedang melayang-layang. Tidak bisakah kau melihatku Chaerin? hanya melihatku.
“menggangu saja!”katanya sambil memukulku pelan.
“mana ada seorang yeoja sedang malu bisa memukul sekuat itu?”godaku. pukulannya tidak terasa sakit sama sekali tapi, saat aku melihatnya menatap namja lagi begitu hatiku terasa sakit.
“aku ragu untuk bisa memaafkanmu, Jingyo. Baju merek apa ini??? CR? Hahaha.. bukankah ini merek yang memproduksi untuk yeoja. ”katanya meledekku. Aku hanya tertawa pergi begitu saja karena dia tidak tahu bahwa ada huruf “AE” dengan tulisan sangat kecil setelah C dan “IN” setelah R.


Aku sadar Chaerin semakin dekat dengan atasan kami. Dia juga sudah jarang pulang atau pergi ke kantaor bersamaku karena dia pergi dengan atasan kami.

Hari ini aku berniat pergi ke rumah temanku tapi, di jalan tak sengaja aku melihat Chaerin turun dari bis dengan anggunnya. Dia terlihat sangat cantik dari biasanya. Ah, ne. Dia mengatakan kalau hari ini dia kencan dengan Seung Hyun hyung. Chaerin menyeberang jalan dengan senyuman senang di pipinya. Tapi, sebuah mobil melaju ke arah Chaerin. Aku segera melanggar lalu lintas. Aku sengaja menabrak mobil yang akan menabrak Chaerin. Agar dia tak terluka.
Cittt.. suara ngerem dari motorku terdengar begitu nyaring. Motorku menjadi oleng dan terjatuh hingga terseret jauh. Untung Chaerin dapat menyeberang dengan selamat.

Luka-luka saat kecelakaan itu tidak begitu parah hingga aku seperti biasa menjemput Chaerin untuk ke kantor bersama. Baru saja menaiki motorku dia menceritakan kejadian 4 hari lalu. Dugaanku benar mereka telah berkencan
“kamu yakin?”tanyaku.
“tentu saja.”jawabnya mantap dengan mata berbinar. Kebahagian terlihat jelas di matanya.
“bagaimana kalau dia bukan orang baik.”tanyaku. Bukan aku iri atau cemburu tapi, setahuku dia memang bukan namja yang baik.
“dia orang baik.”jawabnya mantap.
“pegangan yang kuat!”kataku berteriak dan menambah kecepatan motorku ingin rasanya aku menabrakkan motorku hingga terjadi lagi kecelakaan karena sungguh, aku ingin dia tak menjadi milik orang lain selain aku. Tapi Chaerin, kau tega sekali padaku. Apa kau tak melihat luka pada kaki dan tanganku serta motorku yang rusak? Kau tak menanyakan kenapa ke adaanku bisa begini. Kau malah menceritakan kisah cintamu yang membuat aku merasakan sakit teramat sakit di bandingkan luka di fisikku sekarang.

Aku melihat Seung Hyun hyung bercumbu dengan yeoja lain di jalanan. Aku sengaja mefotonya. Aku tak ingin Chaerin terluka.

“aku yakin itu Seung Hyung hyung”kataku pada Chaerin yang menyusun desain bajunya.
“kau pasti salah orang karena kemarin Seung Hyun oppa masih di Jepang. Kau ini kenapa sih? Kau tidak senang dengan hubungan kami?”kata Chaerin ketus.
“ya, aku tak suka hubungan kalian. Sangat tidak suka! Kau tahu dia menipumu! Aku yakin selain karena harta, akulah namja yang pantas di sisimu”ingin rasanya aku mengatakan itu semua pada Chaerin. Tapi, aku tidak sanggup karena Chaerin terlalu buta dengan cintanya. Ada apa denganmu, Chaerin? Aku kira cinta bikin buta tapi sepertinya kamu juga tidak dapat mendengar. Kamu tidak tahu aku yang kecelakaan saat kamu berada si sampingmu. Kamu tidak dapat melihat aku yang peduli denganmu, dan kamu tidak dapat mendengar dia yang suka ganti-ganti pacar bahkan berselingkuh.

Hari ini aku jalan bersama adikku, Minzy ke sebuah pusat perbelanjaan. Baru saja aku masuk, aku langsung bertemu dengan Seung Hyun hyung yang bergandengan mesra dengan yeoja. Aku sangat tahu pasti dia tak memiliki seorang adik.
“kau tunggu disini. Aku ada urusan.”kataku sambil berjalan meninggalkan Minzy dan berjalan ke tempat Seung Hyun hyung.
Buk! Aku memukul pipi kirinya. Dia terlihat kaget dan yeoja itu sedikit ketakutan.
“yang tadi itu untuk ini”kataku sambil menunjukkan fotonya yang sedang berciuman beberapa hari lalu.
“jika kau seperti ini lagi. Aku siap, di penjara karena membunuhmu.”kataku santai dan meninggalkan hyung yang masih kebingungan. Amarahku sangat memuncak sekarang.


Aku meminta Chaerin menungguku di parkiran saja karena aku ada perlu dengan hyung kerena kejadian di pusat perbelanjaan yang lalu, jadi aku segera ketempatnya. Aku tak ingin Chaerin menungguku lama.
“ah, apa yang dilihatnya pada Chaerin? Dia tidak cantik dan tidak sexy. Jauh berbeda dari pacar-pacarnya yang lain.”kata yeoja. Langkahku berhenti saat melihat yeoja berbaju putih itu mematung. Mereka tak menyadari Chaerin berada di sana dan bisa mendengar percakapan mereka.
“hey, Seung Hyun tidak sebodoh itu. Dia pasti memanfaatkan Chaerin. Kalau dia memang suka tidak mungkin baru sekarang mereka berpacaran, mereka sudah 1 kantor selama 2 tahun.”timpal temannya.
“bagimana kalau Chaerin tahu di kantor saja yeoja yang dipuja Seung Hyun tidak dia saja.”kata yeoja itu lagi. Mereka pun tertawa. Aku segera berjalan menuju Chaerin yang mematung.
“dengarkan dan ingat kata-kata mereka. Kamu jangan menutup telingamu. Kamu harus mencari kebenarannya dan tetap berhati-hati.”kataku, Chaerin terlihat sangat kaget dengan ke hadiranku.
“kamu sudah datang? Aku menunggumu lama.”katanya pura-pura tidak tersakiti.
“kamu benar-benar buta.”kataku dan langsung menghidupkan motorku. Jika aku di posisinya sekarang aku pasti segera menghubungi hyung.

Beberapa akhir-akhir ini aku sering muntah. Tubuhku terasa sangat lemah. Minzy yang khawatir keadaanku memaksaku untuk ke rumah sakit bersamanya. Betapa terkejutnya aku setelah dokter mendianoksaku penderita gagar otak yang di karenakan benturan pada kepala saat kecelakaan yang lalu. Ternyata darah yang di kepalaku terjadi pembekuan. Aku tidak sedih atau menuntut tuhan memperpanjang umurku. Karena aku sudah bersyukur penyakit ini tidak menimpamu, Lee Chaerin.

@kantor
“Chearin lihat!!!”teriak Dara nuna heboh.
“kenapa onnie?”Tanya Chaerin binnggung.
“cepat lihat dijendela!”pintanya. semuanya termasuk aku melihat ke sebuah jendela yang dikatakan Dara nuna. Ada sebuah balon udara yang sangat besar bertuliskan “CHAERIN, will merry me??”. Chaerin terlihat terkejut tapi, dia juga terlihat bahagia. Haruskah aku menyerah sekarang?
“Chaerin sayang… ini aku. Aku yang selalu ada dihatimu. Aku mohon kepadamu, izinkan aku menikahimu.”kata Seung Hyun hyung dari mickropon. Seung Hyun hyung berjalan dengan sepasang orang tua yang tak ku kenal, aku rasa itu orang tua Chaerin. Seung Hyun berjalan mendekati Chaerin dan menggegam tangannya. Seharusnya aku yang disana, seharusnya aku yang berada di posisi hyung.
“aku butuh jawabamu.”kata Seung Hyun hyung.
“aku mau.”kata Chaerin gembira. Seung Hyung memasangkan cincin di jari manis Chaerin dan tepuk tangan dan ucapan selamat menghujaninya. Dan tentu saja itu tidak aku lakukan..
“kenapa kamu melihat oppa seperti itu.”kata Chaerin kepadaku yang  berdiri didepan mereka.
“kamu tidak tahu, Chaerin? Sebenarnya aku selingkuhanya.”kataku dengan senyuman dan Chaerin mencubitnya pelan.
“hay, ketua! Jaga dia baik-baik karena aku hampir saja menculiknya.”kataku yang segera pergi. Aku perlu membena hati dan pikiranku. Bukannya aku cengeng tapi, ayolah! Namja juga seorang manusia. Bertahun-tahun aku mencintainya dan akhirnya aku dapat bertemu dengannya. dan kini aku harus merelakannya menikah dengan namja yang sudahku pastikan tak pantas untuknya.


Aku dan Chaerin berjanji bertemu di Cafe Es krim.
“aku ada rencana mau keluar negeri.”kataku membuka topik pembicaan.
“kenapa?”tanyanya sambil memasukan sesendok es krim ke mulutnya.
“uangku sudah banyak jadi aku mau memberikan sedikit uangku kebeberapa negara tapi, namanya VISA.”kataku sambil tersenyum. Aku tak bisa jujur padanya tentang penyakitku.
“serius!!!”pintaku.
“aku hanya ingin jalan-jalan saja kebeberapa negara. Mungkin butuh waktu 4-6 bulan.”kataku. ya, aku memang ingin menghabiskan umurku dengan mengunjungi negara yang inginku kunjungi.
“kapan akan pergi?”tanyanya. Tiba-tiba aku merasa mual lagi. Aku meutup mulutku dan permisi pergi. Setelah aku muntah aku pun segera kembali.
“kamu tidak apa-apa?”tanyanya khawatir. Aku senang kau khawatir padaku.
“kamu tidak perlu khawatir. Kan biasanya kamu juga tidak bisa merasakan perasaanku.”kataku. Entah kenapa kalimat itu meluncur saja dari mulutku.
“kamu sakit?”tanyanya.
“hey, es krimnya keburu mencair.”kataku sambil memakan es crieamku mengalihkan pembicaraan.
“kamu kenapa?”tanyanya sedikit memaksa.
“sudahlah, aku hanya kecapekan dan lagi tidak enak badan saja.”kataku sambil berusaha tersenyum.

Seung Hyun akan berulang tahun jadi aku diminta Chaerin untuk menemaninya memilih kado. Aku senang karena setidaknya aku bisa bersama dengan Chaerin walau sebentar.
“bisa tidak berhenti meminta pertolongan kepadaku?”kataku.
“anggap saja ini jalan-jalan sebelum kamu pergi. Kapan kamu mau pergi?”tanyanya.
“ehm.. 2 minggu lagi.”jawabku.
“jadi, saat kita membicarakanya pertama kali ternyata sisa waktu kita bermain bersama hanya 1 bulan?”katanya kesal atau perasaanku saja.
“ia. Karena itu aku tidak ingin mensia-siakan waktuku.”kataku.
“jadi kita mau kemana?”tanyanya.
“kita makan es cream saja.”jawabku.
“bosan..”protesnya.
“kalau gitu DONAT!!!”kataku penuh bersemangat karena ini mungkin terakhir aku bersamanya.
“selalu es cream, donat, apel.”katanya sambil mengikuti langkahnya.
“tenang, kamu diurutan pertama.”kataku. Chaerin hanya diam. Apa dia tak mendegarkan apa yang aku katakan?
Aku pergi dan keluar dari perkerjaan tanpa bilang pada Chaerin. Tak lama dari pertunanganya Chaerin keluar dari kantor.


Aku sudah berada di Paris. Seperti yang pernah kau bilang Chaerin, Paris begitu indah. Aku tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku meminta seseorang pribumi memotoku seorang diri dan pemandangan paris yang indah menjadi latarnya, seperti biasa aku sengaja mengosongkan tempat di sampingku, untukmu Chaerin. Aku ingin kita pergi bersama.


4 bulan berlalu, aku sudah pulang dari tour ku. Aku kangen sekali dengan suara Chaerin jadiku putuskan untuk menghubunginya karena sejak aku pergi aku selalu tidak mengaktifkan nomorku. 
“ halo?”katanya setelah telepon tersambung.
“moshi2”jawabku.
“Jingyo!!!! lagi di jepang ya??”katanya heboh
“tidak aku sudah kembali kok. Tapi nomornya aku suka, makanya aku pakai.”jawabku.
“jalan kemana saja?”
“hahaha.. aku sudah lupa. Banyak Negara yang aku kunjungi.”
“aku juga ingin…”katanya terpotong setelah terdengar ketukkan pintu dan dia terdengar berlari.
“Jingyo mianhae, lain kali akan aku hubungi lagi. Seung Hyun sekarang datang kerumahku.”katanya,
“baiklah.”kataku dan dia segera memutuskan teleponnya. Bahkan kau tak merindukanku. Aku tidak masalah kamu mementingkan dia, Chaerin. Tapi, aku harap kamu sadar aku disini menunggumu. Paling tidak kamu mau bertemu denganku.

Setelah beberapa hari berlalu aku mencoba menghubungi Chaerin kembali. Keadaanku semakin parah, aku ingin melihatnya setidaknya aku bisa mendengarkan suaranya.
“hay, katamu kamu akan menghubungiku lagi”protesku.
“maaf, aku lupa. Aku sibuk dengan bisnisku sendiri.”jawabnya.
“kamu membuat perusahaan sendiri?”tanyaku kaget.
“ia tapi masih kecil. Belum bertingkat, tidak ada lift seperti kantor kita dulu.”jelansya.
“tapi, itu pasti bagus.”
“yah lumayan.”
“kamu bisa ketempatku? malam ini? Besok? Atau lusa?”kataku, aku benar-benar ingin bertemu denganya.
“kenapa? Kamu kangen sekali padaku?”katany mengodaku.
“bisa dibilang begitu”kataku sambil tertawa pelan.
“mianhae, aku sudah punya janji dengan Seung Hyun.”katanya. rasanya jantungku berhenti seketika.
“jadi, kalian sudah baikan?”tanyaku terpukul.
“ya tentu saja.”jawabnya bersemangat. Kau benar-benar tidak sadar dengan perasaanku, Chaerin? aku kembali menghubungimu karena kesehatanku semakin menurun tapi, kamu tetap tidak bisa menemuiku.

Minzy masuk ke kamarku dengan mata yang sembab. Sepertinya umurku tak panjang lagi hingga dokter membuat Minzy menangis seperti ini.

‘Awalnya aku merasa contoh cinta buta itu adalah kisah cintamu yang menyedihkan tertipu dengan rayuan namja itu. Ternyata cinta buta itu aku alami sendiri. Hingga akhir nafasku aku tetap mengatakan “AKU CINTA PADAMU, LEE CHAERIN”. yah, aku benar-benar telah dibuat buta oleh cintaku padamu Chaerin. Bagaimana pun kau memperlakukanku aku tetap mencintaimu, Chaerin.’
END





Tidak ada komentar:

Posting Komentar