Judul : love?? #1
Author: Kim Daisy
Genre: romance
Rating: T
Cast: Lee Chaerin (CL 2NE1)
Kwon Jiyong (G-Dragon BIG BANG)
````````````
Chaerin terlihat sangat kesal karena dia hanya dapat peringkat kedua di sekolahnya dan namja yang berdiri dipodium menerima hadiah itu menerima juara pertama.
-SKIP-
Dengan semangat Chaerin berjalan gerbang sekolahnya. Hari ini dia resmi menjadi siswa di YG Junior High School bukan sebagai murid sekolah dasar lagi (*jangan protes! author Kim udh buntu mikirin nama sekolahnya).
“hay, peringkat ke dua! Lee Chaerin! kau sekolah disini juga?”kata seorang anak namja. Chaerin menoleh kebelakang untuk melihat orang yang menyebut namanya. Kwon Jiyong namja yang selalu meraih peringkat pertama saat sekolah dasarnya berdiri di belakang Chaerin dan menatap Chaerin dengan tatapan mengejek.
“kau.. kau kenapa sekolah disini?”tanya Chaerin kaget dan kesal.
“wae? Apa orang segenius aku tidak boleh bersekolah disini?”kata Jiyong sambil melangkah melewati Chaerin yang masih terpaku.
-beberapa tahun kemudian-
Kini Chaerin berdiri di depan gedung falkutasnya. Chaerin memang melanjutkan sekolahnya di universitas yang ada di Jepang. Dia sangat senang bisa disini. Dulu sejak di sekolah dasar hingga senior high school Jiyong selalu menggangunya dengan menyebutnya “si peringkat dua” karena nilai Chaerin pasti di bawah Jiyong walau hanya berbeda sangat tipis. Chaerin selalu berjuang mengalahkan Jiyong tapi, Jiyong selalu sempurna di bidang apapun.
“peringkat dua!”kata seorang namja.
“aku terlalu dihantui sosoknya. Tidak mungkin dia ada disini karena dia mendapatkan beasiswa di Paris. Jadi sangat tidak mungkin dia berada di sini. Ayolah, Chaerin itu hanya khayalanmu” pikir Chaerin berusaha menenangkan dirinya. Tapi, suara itu terus datang mendekat membuat Chaerin memilih masuk ke gedung.
“Lee Chaerin si peringkat dua!”teriak namja itu. Akhirnya Chaerin menoleh ke belakangnya karena di sekitanya juga melihat kebelakangnya hingga dia sadar itu bukan halusinasinya saja. Jiyong berjalan mendekati Chaerin yang masih tidak percaya apa yang dilihatnya.
“hai. Kenapa melamun? Apa kau terpesona dengan wajahku? Apa aku semakin tampan dan mempesona?”tanya namja itu dengan senyuman khasnya.
“Jiyongssi, kenapa kau berada disini?”tanya Chaerin pelan-pelan karena tak percaya apa yang dia lihat sekarang.
“kau sangat senang aku disini, uh?”tanya Jiyong, membuat Chaerin membesarkan bola matanya.
“kau kira kau siapa?”tanya Chaerin dengan nada tinggi.
“jangan seperti itu! Aku datang kesini tentu saja untuk kuliah.”kata Jiyong tersenyum.
“bukankah kau mendapatkan beasiswa ke Paris lalu kenapa kau ada disini?”tanya Chaerin.
“uri omma tidak mau aku pergi terlalu jauh hinga aku melilih sekolah di jepang saja.”kata Jiyong dengan wajah imutnya.
“alasan apa itu?”kata Chaerin kesal dan berjalan meninggalkan Jiyong.
CHAERIN POV
@7 tahun kemudian, kantor Chaerin
Aku masih asik dan fokus dengan perkerjaannya di depan leptop. Aku mengecek data yang telah dibuatnya lalu sesekali mengetik. “bukankah hari ini kau ingin bertemu dengan namja yang sudah di jodohkan dengan ommamu?”kata Jenny onnie mengingatkanku.
“ah, ne. Gomawo sudah megingatkanku! Aku pergi dulu”kataku langsung mengambil tasku dan pergi. Yah, diumurku yang harus menikah ini tapi, tetap tak menikah juga membuat uri omma khawatir dan memilih perjodohan untukku dibandingkan aku memilih sendiri jodohku. Aku tahu alasannya kenapa dia begitu. Yah, aku ini workholic. Aku selalu lupa waktu, lupa segalanya jika sedang berkerja. Diumurku sebanyak ini bahkan aku belum pernah pacaran.
@cafe
aku sangat kesal dengan namja di depanku. kenapa dia harus dia?
“silahkan!”kata pelayan restoran setelah menghidangkan makanan pesananku.
“apa perkerjaanmu sekarang?”tanya namja itu tersenyum manis, masih seperti dulu.
“kau bisa melihatnya dibiodata di agensi perjodohan ini kan?”jawabku dingin dan mulai memakan makanan pesannya.
“kau berbeda dari yang dulu.”kata namja itu dan menatapku dalam.
“hanya orang bodoh yang jalan di tempat.”jawabku singkat. Entah kenapa bila di dekat namja ini selalu membuat moodku buruk.
“kenapa kau belum menikah juga?”tanya Jiyong. Aku hanya diam sambil makan makanan pesanannya seakan-akan aku tidak mendengar apa-apa.
“kemana saja kau selama ini, Chaerin?”tanya Jiyong. Aku masih diam dan mengunyah makanannya.
“apa kau senang dengan perkerjaanmu sekarang?”
“....”
“apa kau begini karena tidak bisa melupakanku?”tanya Jiyong dan pertanyaan itu berhasil membuat aku tak bisa menelan makanannya. Aku segera mengambil tissu diatas meja, mengeluarkan makanan di mulutku dan membuangnya di tissu.
“kau kira kau sesempurna apa?”kataku dengan kesal dan keluar begitu saja dari restoran.
“ya, setidaknya selama ini kau masih saja terlihat sempurna di mataku dan semua orang.”batinku. Tak bisa di pungkiri aku masih terlalu kesal dan membenci Jiyong, rival terberatnya tapi, bagaimana pun aku harus jujur.
Aku baru keluar dari kantorku aku melihat Jiyong menungguku di lantai dasar kantorku. Aku berusaha sekuat mungkin untuk tidak berjalan ke arahnya dan marah padanya tapi, dia mengejarku dan segera menahanku dengan memegang tanganku. Aku menepisnya tapi, dia terlalu kuat untukku atau aku yang tak mau lepas darinya.
“mau bicara apa lagi? Aku tak mau berbicara denganmu! Kau teman ngobrol yang buruk”kataku.
“aku tahu kau kesal padaku tapi, bicaralah denganku. Aku akan meneraktirmu makan malam.”kata Jiyong.
“sungguh? Gratis?”tanyaku. Aku tinggal seorang diri tanpa kekasih wajar saja aku begitu tertarik saat di traktir makan oleh namja. Bukan karena namjanya adalah dia tapi, karena ini gratis. Jadi aku bisa mengunakan uang makanku untuk membeli yang lainkan. Uangku saat berarti untuk event diskon yang akan di selengarakan 4 hari lagi di outlite langgananku.
“kenapa kau mengandengku?”teriakku kaget saat sadar Jiyong telang mengandengku. Jiyong yang kaget membuat aku mudah untuk melepaskan tangganya dariku.
“sst.. semua teman kantormu memperhatikan kita. Ingat kita masih di kantormu. Marahnya nanti saja.”katanya sambil mengandeng tangganku lagi. Aku melihat sekelilingku, ya benar teman kantorku terdiam melihat kami ini karena dia. Dia memang selalu menjadi sumber masalah untuk hidupku. (aduh kakak ipar* .. nolak2 tapi, saat di gandeng lagi malah diem aja. Gak sadar lagi ya? -__-. Ps: *dibaca CL)
RCL
mian,ada typo.
Judul
: love?? #2
Author:
Kim Daisy
Genre:
romance
Rating:
T
Cast:
Lee Chaerin (CL 2NE1)
Kwon
Jiyong (G-Dragon BIG BANG)
````````````
@restoran
“makanannya enak?”tanya Jiyong sambil memotong daging yang akan dimakannya.
“rasanya biasa saja tapi, suasananya bagus.”kataku sambil mengunyah sedikit daging dimulutku. Dia tertawa pelan, menutup mulutnya dengan tanggannya yang memegang pisau untuk memotong daging.
“kenapa? Kau mengajaku makan hanya untuk mengiburmu?”kataku kesal. Selera makanku jadi berkurang.
“bukan. Bukan itu maksudku. Aku tak bermaksud seperti itu.”jawab Jiyong sambil tersenyum menahan tawa.
“lain kali aku tak mau makan bersama denganmu. Bicara denganmu membuat selera makanku hilang.”kataku kesal sambil melepaskan pisau dari tangganku.
“ayolah, Chaerin~ah... jangan seperti ini! Lanjutkan makanmu,hm.”kata Jiyong mencoba merayuku.
“jangan panggil aku seperti itu Jiyongssi! Kau membuatku geli disekujur tubuhku.”kataku sambil mengelus kedua bahuku yang merinding. Jiyong lagi-lagi terkekeh pelan.
“jika kau tak mau aku memanggilmu begitu maka makanlah kembali makananmu.”kata Jiyong dengan nada mengancam.
@restoran
“makanannya enak?”tanya Jiyong sambil memotong daging yang akan dimakannya.
“rasanya biasa saja tapi, suasananya bagus.”kataku sambil mengunyah sedikit daging dimulutku. Dia tertawa pelan, menutup mulutnya dengan tanggannya yang memegang pisau untuk memotong daging.
“kenapa? Kau mengajaku makan hanya untuk mengiburmu?”kataku kesal. Selera makanku jadi berkurang.
“bukan. Bukan itu maksudku. Aku tak bermaksud seperti itu.”jawab Jiyong sambil tersenyum menahan tawa.
“lain kali aku tak mau makan bersama denganmu. Bicara denganmu membuat selera makanku hilang.”kataku kesal sambil melepaskan pisau dari tangganku.
“ayolah, Chaerin~ah... jangan seperti ini! Lanjutkan makanmu,hm.”kata Jiyong mencoba merayuku.
“jangan panggil aku seperti itu Jiyongssi! Kau membuatku geli disekujur tubuhku.”kataku sambil mengelus kedua bahuku yang merinding. Jiyong lagi-lagi terkekeh pelan.
“jika kau tak mau aku memanggilmu begitu maka makanlah kembali makananmu.”kata Jiyong dengan nada mengancam.
@rumah
“kenapa kita kesini Jiyongssi? Ini rumah siapa?”tanyaku saat mobil jiyong berhenti di sebuah rumah mewah. Jiyong membuka pintu dan keluar dari mobilnya.
“ini bukan rumahku Jiyong ssi.”kataku mengingatkan saat Jiyong saat dia membukakan pintu untukku. Jiyong memegang tanganku sedikit menarik tanganku untuk mengikutinya.
“ini bukan rumahku Jiyong ssi. Kenapa kita kesini? Apakah ini rumahmu? Akh! Kenapa kau menarikku dengan kasar?”tanyaku bertubi-tubi karena firasatku tidak enak. Aku sangat merasa ganjil dengan sikapnya. Seorang pelayan membukakan pintu untuk kami. Dalam rumah ini bernuansa classic modern walau bertolak belakang tapi, mereka memadukan interior yang berbeda jenis itu menjadi paduan yang indah.
“omma, aku membawa apa yang kau inginkan!”kata Jiyong saat kami berdiri di tengah ruangan. Aku reflek tidak bergerak, aku merasa hal buruk akan menimpaku lagi. Jiyong adalah 50% sumber masalah yang menimpa hidupku. Kenapa aku bisa lupa hal itu hingga aku terkena masalah lagi karena dirinya.
“kau sudah pulang? Waw, Chaerin. Aku sangat merindukanmu! Aku mencarimu kemana-mana akhirnya aku menemukanmu”kata seoanga yeoja yang aku kira adalah ommanya Jiyong. Wanita itu sedikit berlari ke arah kami dan memelukku kuat.
“omma, hentikan! Kau membuatnya takut.”kata Jiyong mengingatkan ommanya.
“aku tidak pernah membuat seorang ketakutan Jiyong.”kata omma Jiyong melepaskan pelukannya.
“oh, ne. Aku ommanya Jiyong. Kau pasti kaget sekali. Maafkan, Jiyong telah membuatmu ketakutan seperti ini. Wajahmu terlihat pucat Chaerin. Apakah Jiyong berlaku kasar padamu?”kata omma Jiyong sambil mengelus pipiku lembut.
“kalian sudah bertemukan. Aku akan mengantar Chaerin pulang sekarang.”kata Jiyong menarikku kuat karena aku masih mematung. Sebenarnya apa ini? Apakah aku sedang berada di acara televisi? Kenapa Jiyong menatap ommanya seakan-akan bertengkar merebutkan sesuatu?
“kenapa kita kesini Jiyongssi? Ini rumah siapa?”tanyaku saat mobil jiyong berhenti di sebuah rumah mewah. Jiyong membuka pintu dan keluar dari mobilnya.
“ini bukan rumahku Jiyong ssi.”kataku mengingatkan saat Jiyong saat dia membukakan pintu untukku. Jiyong memegang tanganku sedikit menarik tanganku untuk mengikutinya.
“ini bukan rumahku Jiyong ssi. Kenapa kita kesini? Apakah ini rumahmu? Akh! Kenapa kau menarikku dengan kasar?”tanyaku bertubi-tubi karena firasatku tidak enak. Aku sangat merasa ganjil dengan sikapnya. Seorang pelayan membukakan pintu untuk kami. Dalam rumah ini bernuansa classic modern walau bertolak belakang tapi, mereka memadukan interior yang berbeda jenis itu menjadi paduan yang indah.
“omma, aku membawa apa yang kau inginkan!”kata Jiyong saat kami berdiri di tengah ruangan. Aku reflek tidak bergerak, aku merasa hal buruk akan menimpaku lagi. Jiyong adalah 50% sumber masalah yang menimpa hidupku. Kenapa aku bisa lupa hal itu hingga aku terkena masalah lagi karena dirinya.
“kau sudah pulang? Waw, Chaerin. Aku sangat merindukanmu! Aku mencarimu kemana-mana akhirnya aku menemukanmu”kata seoanga yeoja yang aku kira adalah ommanya Jiyong. Wanita itu sedikit berlari ke arah kami dan memelukku kuat.
“omma, hentikan! Kau membuatnya takut.”kata Jiyong mengingatkan ommanya.
“aku tidak pernah membuat seorang ketakutan Jiyong.”kata omma Jiyong melepaskan pelukannya.
“oh, ne. Aku ommanya Jiyong. Kau pasti kaget sekali. Maafkan, Jiyong telah membuatmu ketakutan seperti ini. Wajahmu terlihat pucat Chaerin. Apakah Jiyong berlaku kasar padamu?”kata omma Jiyong sambil mengelus pipiku lembut.
“kalian sudah bertemukan. Aku akan mengantar Chaerin pulang sekarang.”kata Jiyong menarikku kuat karena aku masih mematung. Sebenarnya apa ini? Apakah aku sedang berada di acara televisi? Kenapa Jiyong menatap ommanya seakan-akan bertengkar merebutkan sesuatu?
@rumah
Chaerin
“kita sudah sampai.”kata Jiyong membangunkanku dari lamunanku. Jujur saja kejadian dirumah Jiyong tadi sangat membinggungkan. Dan jantungku jadi tidak tenang.
“kau mau tidur di mobilku? Kenapa otakmu berjalan lemah begini, Peringkat dua?”kata Jiyong membuatku merinding. Kalimat “peringkat dua” itu seperti makian sudah lama tidakku dengar dan selalu berhasil membuatku merinding dan kesal.
“kenapa memanggilku peringkat dua? Kau kira kita masih berada dimasa sekolah?”protesku kesal. Jiyong memutar bola matanya seakan-akan dia berkata “i don’t care”. Dia memang selalu menyebalkan.
“Chaerin, telepon aku.”kata Jiyong tersenyum.
“kenapa? Kau ingin tahu nomor teleponku?”tanyaku dengan wajah kesal.
“bukan. Sepertinya aku meninggalkan ponselku di restoran”
“kau serius?”tanyaku menyelidik.
“ne”katanya memelas. Aku mengambil ponselku didalam tas.
“berapa nomormu?”tanyaku.
“*****### *(nomor abang Kim di sensor)”
Auu.... (ring tone ponsel Jiyong)
Jiyong meraba tubuhnya sendiri untuk menemukan ponselnya.
“ini dia!”kata Jiyong gembira.
“kau menipuku. Ponsel sebesar dan tebal begitu kau tidak mengetahui bahwa ponselmu itu ada di saku jasmu. Ternyata benar kata psikolog, ‘kebanyakan orang genius punya kepribadian aneh.’ Aku senang kita bertemu hari ini tapi, aku berbohong. Itu hanya formalitas. Jangan temui aku lagi!”kataku sambil membuka pintu mobilnya dan keluar dari mobil. Aku segera masuk ke rumahku. Hari yang aneh. Selalu saja timbul masalah jika aku berada didekatnya. Hari ini menyebalkan.
“kita sudah sampai.”kata Jiyong membangunkanku dari lamunanku. Jujur saja kejadian dirumah Jiyong tadi sangat membinggungkan. Dan jantungku jadi tidak tenang.
“kau mau tidur di mobilku? Kenapa otakmu berjalan lemah begini, Peringkat dua?”kata Jiyong membuatku merinding. Kalimat “peringkat dua” itu seperti makian sudah lama tidakku dengar dan selalu berhasil membuatku merinding dan kesal.
“kenapa memanggilku peringkat dua? Kau kira kita masih berada dimasa sekolah?”protesku kesal. Jiyong memutar bola matanya seakan-akan dia berkata “i don’t care”. Dia memang selalu menyebalkan.
“Chaerin, telepon aku.”kata Jiyong tersenyum.
“kenapa? Kau ingin tahu nomor teleponku?”tanyaku dengan wajah kesal.
“bukan. Sepertinya aku meninggalkan ponselku di restoran”
“kau serius?”tanyaku menyelidik.
“ne”katanya memelas. Aku mengambil ponselku didalam tas.
“berapa nomormu?”tanyaku.
“*****### *(nomor abang Kim di sensor)”
Auu.... (ring tone ponsel Jiyong)
Jiyong meraba tubuhnya sendiri untuk menemukan ponselnya.
“ini dia!”kata Jiyong gembira.
“kau menipuku. Ponsel sebesar dan tebal begitu kau tidak mengetahui bahwa ponselmu itu ada di saku jasmu. Ternyata benar kata psikolog, ‘kebanyakan orang genius punya kepribadian aneh.’ Aku senang kita bertemu hari ini tapi, aku berbohong. Itu hanya formalitas. Jangan temui aku lagi!”kataku sambil membuka pintu mobilnya dan keluar dari mobil. Aku segera masuk ke rumahku. Hari yang aneh. Selalu saja timbul masalah jika aku berada didekatnya. Hari ini menyebalkan.
Pagi
yang indah. Aku berolah raga ringan untuk meregangkan tubuhku yang kaku akibat
tidurku.
“Chaerin sebentar lagi pasti akan turun”kata omma dari bawah. Omma bicara dengan siapa? Apakah ada yang mencariku? Perlahan aku keluar dari kamarku dan turun ke bawah menuju ommaku.
“ahjumma!”kataku kaget saat melihat ommaku dan omma Jiyong duduk berdua.
“Chaerin.. kenapa kau tak pernah cerita tenang Jiyong pada kami padahal kalian sudah lama berhubungan.”kata omma.
“mungkin dia belum yakin dengan uri Jiyong. Tidak masalah” Kata omma Jiyong.
“apalagi yang membuat Chaerin tidak yakin? Buktinya mereka berhubungan sangat lama sekali”kata ommaku.
“apa yang kalian omongkan? Kalian salah paham”kataku berusaha menjelaskan.
“tidak ada yang salah paham. Apakah besok kita bisa mengadakan pertunangan mereka?”kata omma Jiyong.
“kenapa mendadak?”kata ommaku.
“tidak ada yang mendadak. Kami sudah merencanakan dan menyiapkannya sejak lama.”
“ah, aku tidak enak.”
“kenapa begitu? Bukankah sebentar lagi kita akan jadi keluarga?”
“sebenarnya apa yang kalian bicarakan?”kataku berusaha mengumpulkan kesadaranku setelah bangun tidur. Bangun tidur ternyata membuat mencerna kata-kata menjadi melambat.
“besok kau ada waktu? Kami akan mengadakan pertunangan”kata omma Jiyong bertanya denganku dengan senyuman.
“besok aku libur..”
“bagus kalau gitu. Aku pergi dulu. Banyak yang harus aku persiapkan untuk pernikah mereka sebulan lagi. Aku permisi dulu besan. Chaerin, selamat ya?!”kata omma Jiyong memutus perkataanku, memeluk omma dan berjalan pergi. Aku terjatuh kelantai. Apa-apaan ini? Kenapa semua berjalan dengan cepat. Ku bahkan belum mengatakan kalimatku hingga tuntas.
“kau senang sekali ya, hingga jatuh begitu?”kata omma sambil tertawa meledekku.
“omma, apakah wajahku ini terlihat seperti orang bahagia?”tanyaku sambil mengangkat wajahku agar omma bisa melihatku.
“anni. Apakah kau sedang bertengar dengan Jiyong? Pertengkaran itu biasa. Kau jangan membesar-besarkan masalah. Omma kira tidak ada namja yang bakal mencintaimu. Omma juga takut kalau kau tidak tertarik pada namja. Omma tak menyangka ternyata kau sudah menemukan pangeranmu.”kata omma gembira sambil berjalan kedapur. Tubuhku merinding mendengar perkataan omma. Pangeran? Yang benar saja!
Aku segara naik ke kamar dan mencoba menghubungi Jiyong.
“wae? Apakah kau rindu padaku?”wajab Jiyong sebelum aku berkata satu huruf pun.
“ommamu datang ke rumahku!”kataku sesal.
“lalu?”tanya Jiyong seakan-akan tidak khawatir.
“apakah kau tidak merasa kesal?”tanyaku yang sudah sangat kesal.
“untuk apa?”
“akh! Kenapa kalian menggagu hariku? Jiyongssi, kenapa kau selalu membuat masalah untukku? Aku mohon. Biarkan aku hidup tenang!”kataku frustasi mengelilingi kamarnya menahan emosinya.
“aku tak melakukan apa-apa Chaerin~ah. Sungguh!”jawab Jiyong membuatku semakin kesal. Langsung saja aku mematikan ponselku.
“Chaerin sebentar lagi pasti akan turun”kata omma dari bawah. Omma bicara dengan siapa? Apakah ada yang mencariku? Perlahan aku keluar dari kamarku dan turun ke bawah menuju ommaku.
“ahjumma!”kataku kaget saat melihat ommaku dan omma Jiyong duduk berdua.
“Chaerin.. kenapa kau tak pernah cerita tenang Jiyong pada kami padahal kalian sudah lama berhubungan.”kata omma.
“mungkin dia belum yakin dengan uri Jiyong. Tidak masalah” Kata omma Jiyong.
“apalagi yang membuat Chaerin tidak yakin? Buktinya mereka berhubungan sangat lama sekali”kata ommaku.
“apa yang kalian omongkan? Kalian salah paham”kataku berusaha menjelaskan.
“tidak ada yang salah paham. Apakah besok kita bisa mengadakan pertunangan mereka?”kata omma Jiyong.
“kenapa mendadak?”kata ommaku.
“tidak ada yang mendadak. Kami sudah merencanakan dan menyiapkannya sejak lama.”
“ah, aku tidak enak.”
“kenapa begitu? Bukankah sebentar lagi kita akan jadi keluarga?”
“sebenarnya apa yang kalian bicarakan?”kataku berusaha mengumpulkan kesadaranku setelah bangun tidur. Bangun tidur ternyata membuat mencerna kata-kata menjadi melambat.
“besok kau ada waktu? Kami akan mengadakan pertunangan”kata omma Jiyong bertanya denganku dengan senyuman.
“besok aku libur..”
“bagus kalau gitu. Aku pergi dulu. Banyak yang harus aku persiapkan untuk pernikah mereka sebulan lagi. Aku permisi dulu besan. Chaerin, selamat ya?!”kata omma Jiyong memutus perkataanku, memeluk omma dan berjalan pergi. Aku terjatuh kelantai. Apa-apaan ini? Kenapa semua berjalan dengan cepat. Ku bahkan belum mengatakan kalimatku hingga tuntas.
“kau senang sekali ya, hingga jatuh begitu?”kata omma sambil tertawa meledekku.
“omma, apakah wajahku ini terlihat seperti orang bahagia?”tanyaku sambil mengangkat wajahku agar omma bisa melihatku.
“anni. Apakah kau sedang bertengar dengan Jiyong? Pertengkaran itu biasa. Kau jangan membesar-besarkan masalah. Omma kira tidak ada namja yang bakal mencintaimu. Omma juga takut kalau kau tidak tertarik pada namja. Omma tak menyangka ternyata kau sudah menemukan pangeranmu.”kata omma gembira sambil berjalan kedapur. Tubuhku merinding mendengar perkataan omma. Pangeran? Yang benar saja!
Aku segara naik ke kamar dan mencoba menghubungi Jiyong.
“wae? Apakah kau rindu padaku?”wajab Jiyong sebelum aku berkata satu huruf pun.
“ommamu datang ke rumahku!”kataku sesal.
“lalu?”tanya Jiyong seakan-akan tidak khawatir.
“apakah kau tidak merasa kesal?”tanyaku yang sudah sangat kesal.
“untuk apa?”
“akh! Kenapa kalian menggagu hariku? Jiyongssi, kenapa kau selalu membuat masalah untukku? Aku mohon. Biarkan aku hidup tenang!”kataku frustasi mengelilingi kamarnya menahan emosinya.
“aku tak melakukan apa-apa Chaerin~ah. Sungguh!”jawab Jiyong membuatku semakin kesal. Langsung saja aku mematikan ponselku.
TBC
Author: Kim Daisy
Genre: romance
Rating: T
Cast: Lee Chaerin (CL 2NE1)
Kwon Jiyong (G-Dragon BIG BANG)
Saat aku sibuk mendengarkan penjelasan dari atasanku di ruang rapat, aku merasakan ponselku selalu bergetar. Aku berusaha tidak mempedulikan ponselku itu dan kembali fokus pada rapat.
“Chaerin, silahkan menjawab teleponmu di luar. Aku tak ingin melihatmu tidak fokus berkerja.”kata atasanku. Aku mengagukkan kepalaku dan segera keluar ruangan.
“omma, kenapa?”tanyaku.
“segera ke rumah sakit!”kata omma panik.
“wae Omma?”tanyaku tak kalah panik.
Skip
Baru saja aku masuk ke mobilku aku sudah sangat kaget melihat omma berada di dalam mobil.
“ommo! Bagaimana omma di sini?”kataku saat membuka pintu. Omma mengenakan baju rapi dan duduk ditempat mengemudi.
“cepat duduk!”perintah omma sambil mengerakkan kepalanya, isyarat agar aku duduk dikursi penumpang. Dengan sedikit ragu dan binggung aku menuruti saja perintah omma. Dengan sekejap mobil pun berjalan pergi meninggakkan gedung kantorku.
Rok, blezzer dan kemeja yang aku kenakan untuk ke kantor kini berubah menjadi gaun putih panjang yang berenda indah. Bedak dan lipstick tipis yang aku mengiasi wajahku kini telah hilang menjadi make up yang menurutku lumayan tebal. Semua berjalan dengan sekejap mata. Ini bukanlah sulap. Tapi, dalam hitungan menit..
“kalian sedah resmi menjadi pasangan suami istri. Silahkan mempelai pria mencium mempelai wanita”kata pendeta. Namja di depanku tersenyum manis dan mencium pipi kananku di depan puluhan pasang mata. Aku berada di salah satu gedung hotel walau sederhana tapi, acara ini seperti telah terkonsep jauh hari. Bagaimana mungkin dalam hitungan jam bisa mengumpulkan orang sebanyak ini?
Ya, tepat! Kini aku sudah resmi menjadi istri dari namja yang selama ini menjadi 50% pembuat masalah yang ada di hidupku. Bisa-bisanya omma mengancamku untuk bunuh diri mengunakkan mobilku agar aku menikah dengannya, dengan namja yang sudah sangat lamaku ketahui tapi, masih sangat asing bagiku bernama Kwon Jiyong. Setahuku beberapa hari lalu mereka merencanakan hari ini adalah acara pertunangan dan tanpa aku ketahui tiba-tiba saja sudah menjadi pernikahan.
“tersenyumlah, Chaerin~ah”katanya tersenyum manis dan kini dia malah memelukku.
“jangan memanggilku dengan nama itu lagi!”kataku dingin sambil berusaha melepaskan diri dari pelukannya.
“kau tidak boleh segalak itu sama suamimu.”kata Jiyong tertawa pelan, dia mengerjaiku lagi.
“Chaerin.. aku ingin bicara denganmu!”kata ommanya Jiyong tersenyum lebar.
“oh, ne!”kataku kaget.
Omma Jiyong mengajakku ke salah satu kamar hotel. Sangat besar dan indah. Terdapat dua lantai dalam satu kamar hotel ini, seperti rumah di dalam kamar hotel. Omma Jiyong yang awalnya di depanku kini berbalik dan berhadapan denganku.
“maafkan aku! Aku tahu ini sangat mendadak bagimu. Aku mohon jangan benci Jiyong.”kata omma Jiyong lembut sambil menggegam ke dua tangganku.
“ahjumma sebenarnya hubungan kami tidak seperti yang kalian kira!”kataku berusaha menjelaskan kebenaran.
“ne, arraseo! Tapi, aku terlalu menginginkanmu Chaerin.”kata omma Jiyong tersenyum.
“maksudnya?”tanyaku kaget.
“aku yang memaksa agar uri Jiyong selalu bersekolah yang sama denganmu bahkan aku sengaja mengatur agar kalian selalu sekelas. Huft.. Sayangnya kuliah kalian mengambil jurusan yang berbeda.”kata ommanya Jiyong. Aku semakin takut. Sudahku bilang, Jiyong adalah 50% faktor kesialan dan masalah dalam hidupku. Kini dia memasukkanku ke keluarga anehnya. Aku rasa ommanya punya gangguan jiwa. Aku segera melangkah pergi tapi, omma Jiyong menahanku.
“jauh sebelum Jiyong membawamu ke rumah kami, aku sudah yakin bahwa kaulah yang pantas berada di sisi uri Jiyong. Aku tahu ini keteraluan memaksakan perasaanmu untuk berada di keluarga kami. Tapi, aku sangat ingin kau menjadi keluarga kami, Chaerin.”kata ommanya Jiyong tersenyum lembut. Tidak salah lagi, ommanya gila.
“aku mohon padamu Chaerin, belajarlah mencintai uri Jiyong. Jangan membencinya!”
“kenapa aku harus mau? Aku terpaksa melakukan pernikahan mendadak ini karena ommaku mengancam bunuh diri.”kataku.
“arraseo! Anggap saja ini adalah perjodohan yang harus kamu lakukan, bagaimana?”
“tidak semudah itu ahjumma..”kataku mulai binggung harus bilang apa.
“jika kau menjadi istri uri Jiyong, kau akan membuat ommamu sangat bahagia. Kau lihatkan senyuman bahagianya tadi?”kata omma Jiyong tersenyum. Ternyata ahjumma ini benar-benar gila, tidak salah lagi.
@setelah pesta, kamar hotel.
Aku kembali lagi ke kamar mewah ini lagi. Omma dan omma Jiyong lagi mengobrol heboh dihadapanku seperti teman dekat yang sudah lama tidak bertemu. Sedangkan Jiyong berada di dapur, entah apa yang dia lakukan di sana karena sudah lima belas menit dia disana.
Langkah kaki terdengar mendekati tempat kami. Aku melihat ke sumber suara, Jiyong datang dengan gelas dikedua tangannya. Gelas yang menurutku berisi soft drink dingin.
“ini!”kata Jiyong sambil memberikanku gelas dari tangannya.
“omma saja dulu.”kataku malas. Dia pun segera memberikanya pada ommaku dan ommanya.
“gomawo, Jiyong! Kau benar-benar menantu idaman”kata omma. Ayolah omma, jangan berlebihan!
“gomawo, ommonim!”kata Jiyong tersenyum malu. Aku tidak tahu bahwa dia masih bisa malu setelah memaksaku untuk menikah denganya. Dunia memang sedang bermasalah sekarang.
Jiyong kembali masuk ke dapur dan kembali dengan gelas soft drink untukku.
“kau tidak?”tanyaku.
“aku lagi tidak ingin.”katanya tersenyum dan duduk di sebelahku. Aroma tubuhnya bisa aku rasakan dari tempat dudukku yang cukup jauh darinya.
“baiklah, kalian pasti lelah! Kami akan pulang dulu”kata ommaku.
“ne, ommonim. Hati-hati ne!”kata Jiyong.
“ayo, besan kita harus segara pergi!”kata omma Jiyong menarik ommaku agar berdiri dari sofa. Ommaku tersenyum dan mereka pun pergi meninggalkan kami berdua. Omma Jiyong benar. Ommaku terlihat sangat bahagia dengan pernikahan aneh yang dilakukan anak gadisnya. Kenapa bisa dia sebahagia itu di saat anak gadisnya di dalam masalah besar seperti ini.
“tidurlah! Ini sudah sangat larut, besok kau bukankah akan ke kantor.”kata Jiyong.
“ne!”kataku ketus. Aku belum bisa menerimanya sebagai suamiku. Bagaimana pun juga aku rasa pernikahan ini tidak normal, ada yang aneh.
“kau marah denganku Chaerin~ah?”tanya Jiyong dengan nada manja.
“akh, panggilan itu lagi. Aku benci dengan panggilan itu!”kataku.
“jadi, karena itu kau marah? Aku janji tidak akan memanggilmu dengan nama itu lagi”katanya dengan wajah polos alla bayi dan jarinya memberi isyarat damai.
“salah satunya karena itu tapi, faktor utamanya adalah kenapa harus aku yang menjadi istrimu?”kataku kesal.
“karena tidak mungkin kau yang menjadi suamiku Chaerin~ah”katanya sambil tersenyum santai. Benar-benar sia-sia saja berbicara dengannya. Sepertinya aku harus mengatur jadwalku agar aku bisa ke psikolog, aku tidak ingin gila di saat umurku belum mencapai 30 tahun. Aku masih terlalu muda untuk menjadi gila.
“kau bisa gunakan kamar di atas sebelah kiri, itu kamar utama.”kata Jiyong. Aku pun segera melangkahkan kakiku ke tangga. Menaiki anak tangga satu persatu dengan gaun pengantin yang masih aku kenakan.
“aku tahu ini berat bagimu. Tapi, aku tidak punya pilihan karena aku memang mencintaimu!”kata Jiyong dan langkah kakiku berhenti memijakkan satu anak tangga diatas. Aku salah dengar pasti. Ini pasti karena aku terlalu lelah. Aku pun mengeleng-gelengkan kepalaku dan memukul pelan kepalaku dengan tangan kiriku.
“kau tidak salah dengar Chaerin. Aku memang mencintaimu, sejak dulu.”kata Jiyong. Aku membalikkan tubuhku agar bisa melihatnya yang masih berada di bawah. Jiyong menatapku dalam. Bola matanya menatapku teduh yang awalnya aku merasa kacau kini membuat aku nyaman.
“bersiap-siaplah untuk mencintaiku juga, Chaerin!”kata Jiyong tersenyum nakal padaku dan mengedipkan matanya sebelah. Aku yang tersadar kembali membalikan tubuhku dan menaiki anak tangga lagi. Aku bisa gila jika begini terus.
Aku memasuki kamar yang Jiyong katakan tadi. Kamar ini sangat luas. Lebih luas dari kamar rumah yang aku beli. Ku jatuhkan tubuhku ke kasur. Ini mimpi? Ini pasri mimpi.
“seseorang tolong bangunkan aku agar aku tidak lama-lama berada di mimpi buruk ini!”teriakku. Aku tak peduli jika Jiyong mendengarnya. Sepertinya aku benar-benar akan gila. Aku harus mengambil cuti beberapa hari. Bukan untuk berbulan madu tapi, untuk memperbaiki syaraf-syarafku yang rusak karena hari ini. Semoga besok menjadi lebih baik.
@keesokan harinya.
“ommo! Aku kesiangan!”teriakku dan langsung bangun dari kasur. Jalanku menjadi lambat karena aku masih mengenakan gaun pengantinku. Saat aku masuk ke kamar mandi mataku langsung menuju ke kaca.
“sepertinya kemarin aku langsung tertidur. Kenapa make upnya sudah tidak ada?”kataku sambil meraba wajahku yang tanpa make up. Bahkan maskara yang menurutku 10 kilo itu sudah tidak ada di bulu mataku.
Aku sudah berpakaian rapi untuk ke kantor dan aku menuruni tangga menuju dapur berharap menemukan sesuatu yang enak dan bisa dimakan.
‘sarapanmu di meja makan. Aku juga sudah menyediakan sandwich untuk makan di jalan jika kau benar-benar tidak sempat sarapan. Aku sudah ke kantor. Jangan membereskan barang-barangmu karena kita masih bisa enam hari lagi menginap disini. oh ya, jangan kaget! tadi malam aku membersihkan make up di wajahmu. Tenang! Aku juga membilas wajahmu dengan air hangat dan dingin.
Dari suamimu ♥’
Itu pesan singkat tertulis di kertas kecil yang tertempel dikulkas. Kwon Jiyong ternyata kau perhatian tapi, kau juga kekanak-kanakan. Apa-apaan ini? Kenapa ada gambar hatinya? Menggelikan.
TBC
Author: Kim Daisy
Genre: romance
Rating: T
Cast: Lee Chaerin (CL 2NE1)
Kwon Jiyong (G-Dragon BIG BANG)
Author
@kantor
Chaerin sedang asik membuat laporan yang harus dia serahkan beberapa hari lagi. Tapi, Dara melewati meja Chaerin dan berhenti sejenak.
“Chae, kau sudah punya kekasih? Dia tampan sekali.”kata Dara sambil memegang ponsel Chaerin dari meja. Chaerin langsung merebut ponselnya dari Dara. Ternyata wallpaper ponselku sudah berubah menjadi foto pernikahan kami.
“tapi, kenapa kalian mengenakan baju pengantin?”tanya Dara.
“oh, itu hanya mencoba baju pengantin kok. Aku ada rencana menikah dengannya.”kata Chaerin berbohong dan tersenyum terpaksa.
“wau, cepat sekali! Bagaimana kalian bertemu?”tanya Dara antusias.
“kami kanal sejak kecil dan bertemu kembali tidak sengaja karena aku ikut agensi perjodohan.”jelas Chaerin.
“oh, yang hari lalu ya.. selamat ya.. aku tak menyangka hubungan kalian bakal secepat itu.”kata Dara sambil memeluk Chaerin erat.
“ne, gomawo!”kata Chaerin tersenyum getir. Dara pun melepaskan pelukannya dengan wajah yang masih gembira.
“aku akan kembali berkerja dulu.”kata Dara tersenyum.
“ne. Tapi, kau tahu cara menganti foto ini?”tanya Chaerin.
“oh, tentu saja!”kata Dara dan kembali merebut ponsel dari Chaerin.
“mau mengunakan yang mana?”tanya Dara.
“ini saja! Ne! Gomawo!”kata Chaerin setelah memilih foto yang telah di sediakan di ponselnya. Dara mengaguk dan kembali kemejanya. Ternyata Jiyong tidak hanya membersihkan make up Chaerin saja. Jiyong juga mengunakan kesempatan itu untuk menganti wallpaper dan panggilan darurat di ponsel Chaerin. Awalnya nama dikontaknya adalah ‘Mr. Troublemaker’ tapi, kini menjadi ‘suamiku tercinta’. Sadar hal itu Chaerin pun segera mengubahnya.
“Mengelikan. Suamiku tercinta?? Yang benar saja! Kenapa nama itu sangat menggelikan?”gerutu Chaerin sambil tertawa pelan.
“Chaerin, kau terlihat senang sekali. Apakah kau sudah memiliki kekasih?”ledek Seungri. Seungri memang teman kerja Chaerin dan suka usil.
“ne, wae? Kau cemburu?!”kata Chaerin menantangnya.
“ommo... kasihan sekali namja itu.”katanya dengan wajah mengiba.
“maksudmu apa?”kata Chaerin kesal.
“kau galak sekali, uh. Manager Bom mengundang kita makan malam karena suaminya naik jabatan.”jelas Seungri.
“kenapa dia menaktir kita juga? Kan suaminya yang naik jabatan?”tanya Chaerin binggung.
“sudahlah. Yang pentingkan diteraktir”balas Dara.
“kau ikutkan?”tanya Seungri.
“tidak. Ommaku pulang, aku tidak suka meninggalkannya sendirian.”alasan Chaerin. ommanya memang di rumah tapi, kini kan mereka berbeda tempat tinggal.
“sudahlah ikut saja. Lagian ommamu kan tidak mungkin di culik orang.”kata Seungri dan Chaerin langsung menatapnya tajam.
“aku mohon! Jarang-jarangkan kita bersama.”kata Dara memelas. Dengan berat Chaerin pun mengaguk pelan.
@Hotel
Hari sudah cukup larut tapi, Chaerin masih belum pulang. Jiyong yang khawatir sudah menelpon kantor dan ommanya tapi, mereka mengatakan Chaerin tidak ada disana.
“apa Chaerin tidak mau pulang?”pikir Jiyong.
Krek.. pintu pun terbuka. Chaerin keluar dari balik pintu dengan wajah merah karena minum alkohol. Jalan Chaerin gonyah kesana-kemari, tidak lurus.
“Kau minum?”tanya Jiyong khawatir dan langsung mendekat pada Chaerin agar Chaerin tidak terjatuh.
“tidak! Aku tidak minum. Kau yang minum, breks***.”kata Chaerin dengan mengeleng-gelengkan kepalanya dan tersenyum polos. Jiyong tertegun. Dia mengira Chaerin mabuk karena pernikahan mereka, karena dia yang terlalu memaksa sehingga Chaerin mabuk.
Cup!
“selamat malam suamiku!”kata Chaerin tersenyum manis setelah mencium bibir Jiyong. Jiyong malah semakin kaget menjadi tidak berkutik.
“suami? Hahahaha.. yang benar saja. Bagaimana mungkin sumber masalahku malah menjadi suamiku. Bisa-bisa aku mati muda.”kata Chaerin tertawa dan mulai menaiki tangga menuju kamarnya. Chaerin yang mabuk tidak bisa berjalan lurus sehingga dia tergelincir. Untung saja Jiyong cepat dan berhasil menangkap Chaerin hingga tidak terjatuh.
“apa yang kau pegang, Kwon Jiyong??!”tanya Chaerin dengan mata tajamnya. Jiyong melihat dimana tangganya berada. Jiyong kaget karena tangan kanannya kini tepat memegang dada Chaerin dan tangan kirinya memeluk perut Chaerin. Jiyong memutar matanya karena binggung harus bagaimana dan Chaerin pun berhasil berdiri kembali. Akhirnya Jiyong memutuskan untuk memapah Chaerin ke kamar.
Jiyong menidurkan Chaerin ke kasurnya, membuka sepatu yang masih digunakan Chaerin. Jiyong juga mulai membersihkan make up tipis yang di gunakan Chaerin karena berkerja. Chaerin mendorong Jiyong pelan agar memberinya jarak.
“Panas!!”teriak Chaerin sambil membuka kancing kemejanya. Tanpa sengaja Jiyong melihat tubuh Chaerin yang sudah seberhasil membuka tiga kancingnya. Jiyong segera menutup Chaerin dengan selimut dan mengikatnya dengan ikat pinggangnya dengan cepat sebelum Chaerin membuka semua kancing kemejanya.
“panas! Panas! Panas!”teriak Chaerin. Tapi, kini Jiyong jadi lebih mudah membersihkan make up pada wajah Chaerin. Jiyong mengompres Chaerin karena mengetahui Chaerin tidak hanya mabuk tapi, juga demam.
“hutf! Jiyong, aku mohon. Lepaskan aku!”kata Chaerin memohon. Wajahnya sudah penuh dengan keringat sekarang. Dengan sedikt ragu Jiyong membukakan ikatan selimut dari tubuh Chaerin karena kasihan dan Jiyong langsung membalikkan tubuhnya agar tidak melihat Chaerin.
Bruk! Kini kemeja yang Chaerin gunakan sudah tersangkut dikepala Jiyong.
“ahuft! Gadis ini.”kata Jiyong sambil menjatuhkan kemeja Chaerin ke lantai dan segera pergi dari kamar tanpa melihat ke Chaerin.
Chaerin Pov
Aku membuka mataku yang sangat berat. Ingin rasanya aku tidur lagi. Tapi, setelah aku melihat jam ternyata aku sudah sangat terlambat aku segera membuka selimutku.
“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAKKKKKK....”teriakku kaget.
“wae?”tanya Jiyong yang keluar dari balik pintu.
“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAKKKKKKKKKKKKKKKK...”Teriakku makin keras dan melepar Jiyong dengan bantal agar dia tidak melihatku yang sudah tidak menggunakan baju lagi. Jiyong segera keluar dan menutup pintu kamarku.
“Apakah dia melihatnya?”pikirku. kulirik ke bawah. Sebuah kemeja berada dibawah lantai. Aku menarik nafas lega karena aku tidak membuka bajuku saat aku masuk ke kamar hotel.
Setelah aku mandi dan sudah siap pergi aku pun menuruni anak tangga. Aku melihat Jiyong sudah berpakaian rapi juga.
“kau belum pergi?”tanyaku.
“belum. Makanlah! Tadi aku sudah minta izin ke kantor karena aku mengurus istriku yang sedang demam.”kata Jiyong sambil mengambil makanan dan meletaknya di atas piring.
“istrimu yang mana?”tanyaku.
“menurutmu yang mana?”tanyanya balik sambil menatapku. Ommo, aku lupa beberapa hari yang lalu kami menikah. Tapi, aku kan tidak demam.
“aku kan tidak demam!”kataku sambil berjalan ke arahnya.
“tentu saja kau sudah menularnya tadi malam kepadaku, kau yang menggodaku. Tadi malam kau sangat cantik.”katanya tersenyum mesum. Firasatku menjadi tidak enak.
“apa. Maksudmu?”tanyaku takut.
“kau jangan pura-pura tidak ingat. Kita melakukannya tadi malam. Apa kau belum puas?”katanya tersenyum. Senyuman apa itu? Kenapa aku jadi taku begini?
“aku sudah menelpon kantormu mengatakan kau akan datang terlambat karena mabuk tadi malam jadi kau bisa menikmati sarapanmu. Aku pergi dulu istriku.”kata Jiyong tersenyum dan seketika mencium keningku. Dia pergi meninggalkanku yang membeku kaku. Apa yang sebenarnya tadi malam kami lakukan? Apakah aku sudah melakukan sesuatu yang seharusnya tidak ku lakukan? Menularkan demamku kepadanya? Aku mengodanya? Ommo. Kepalaku sakit!
@kantor Chaerin.
“Chaerin, kau sehat? Kau terlihat pucat.”tegur Bom manager.
“mianhae, aku baik-baik saja.”kataku.
“baiklah, kalau begitu tolong perhatikan sebentar.”kata managerku lembut. Semua ini karena Kwon Jiyong. Sarapan yang dia buatkan pun menjadi terasa sangat sulit di telan. Sebenarnya apa yang kami lakukan tadi malam? Tidak! Ini kantor. Aku harus fokus berkerja.
TBC
Tidak ada komentar:
Posting Komentar