First Love
Author: Kim Daisy
Rate
: T
Lenght
: oneshot
Senin, aku benci hari itu. Tapi, berubah karena setiap senin
aku tahu kamu selalu dibelakangku saat upacara. Selasa adalah hari selalu
membuatku senang sekaligus menyebalkan karena kita mengambil kelas yang sama,
Olahraga. Aku tidak menyukai olahraga. Tapi, saat aku berada di kelas olah raga
aku bisa melihatmu tertawa bersama teman-temanmu. Paling tidak kita berada
ditempat yang sama. Yang membuatku kesal adalah disaat aku menjadi salah
tingkah saat didepanmu dan lebih menyebalkan lagi saat melihat kau begitu
bersinar dengan kebakatmu sedangkan aku hanya gadis biasa yang diam-diam
mengaggumi. Hingga hari itu tiba, hari dimana membuatku enggan masuk kelas
olahraga karena banyak penggemarmu yang begitu memujamu. Aku kalah telak.
Dengan malas aku masuk kekelas Olahraga, karena aku sakit
tapi harus masuk kelas olahraga. Aku tetap berada dilapangan dengan tubuh
lemasku. Duduk di pinggir lapangan sambil meminum air mineralku. Kau yang
memasukkan bola ke ring tanpa sadar membuatku ikut berteriak menyemangatimu
seperti penggemarmu yang lain. Tapi, matamu tiba-tiba menatap mataku. Aku yakin
kau menatap mataku. Kau terdiam. Aku terdiam. Kita seakan masuk ke dunia lain
dimana hanya ada kita berdua di lapangan basket itu.
Duk!
Sebuah bola basket membentur kepalamu dan membuat kontak
mata kita hilang. Kau mengelus kepalamu yang sakit dan aku dengan hati-hati
menghilang dan pandanganmu. Setelah kelas olaharaga berakhir kau terlihat
mencari seseorang. Apakah kau mencariku? Maaf, aku tidak akan menunjukkan
diriku sebelum kau menarikku. Jika aku maju terlebih dulu, aku yakin aku akan
mendapat banyak musuh karena penggemarmu terlalu banyak. Bukan salahmu jika kau
terlalu bersinar di mata gadis-gadis.
Di tahun kedua, tidak ada lagi kelas olahraga tidak ada lagi
kau yang selalu dibelakangku saat upacara. Kelas kita terlalu jauh dan kita
tidak mengambil kelas yang sama. Kau seorang bintang tetaplah seorang bintang
yang kini memiliki kelas khusus dengan bintang sekolah lainnya dan aku hanya
sembunyi di kelas menengah. Kadang aku bersyukur karena tidak perlu salah
tingkah saat sekelas denganmu tapi, aku sedih karena aku sangat akan jarang
sekali bertemu denganmu.
Rindu? Ya, tentu saja. Diam-diam aku memperhatikanmu yang
ceria dan bersahabat tapi, ada yang aneh saat kau berada di tempat yang sama
denganku. Kau terkesan kaku dan pendiam. Apakah karena kau saah tingkah jika di
dekatku? Apa kau juga menyukaiku?
Tahun pembelajaran baru, baru saja dimulai. Hari itu kau
berada dikelasku. Kau berdiri dengan
beberapa orang temanmu. Kau menatapku terus, aku coba berpaling tapi, tatapan matamu
tidak bisa aku diamkan begitu saja. Tanpa sadar aku seudah dihadapanmu.
“pinjam buku.”katamu lembut. Berbeda dengan teman-temanmu
yang terlihat sangat panik. Aku menunduk karena kau selalu melihatku. Tanpa
bicara aku membali ke mejaku dan memberikan bukuku padamu.
“aku pergi.”ucapmu langsung pergi begitu saja. Dan disaat
jam berakhir kau mengembalikan bukuku. Tapi, kau tidak menanyakan namaku kau
hanya mengatakan terimakasih dan pergi. Apa aku tidak berhak mengenalmu?
Hari kamis, seperti biasa kau hanya menatapku hingga
membuatku gerah dan akhirnya memberikan bukuku. Tidak ada yang namanya sapaan,
panggilan, saling mengenal apalagi mengobrol untuk basa-basi. Kau terlalu kaku
di depanku. Walau begitu kamis adalah hari favaoritku karena hari kamis matamu
selalu memperhatikanku.
Hari kamis, pagi itu aku sengaja kelasmu untuk meminjamkan
bukuku langsung agar kau tidak ke kelasku. Karena kau belum datang jadi aku
mengobrol dengan temanku yang sekelas denganmu.
“ini meja siapa?”tanyaku penasaran. Hanya meyakinkan kalau
ini benar mejamu. Karena tertulis banyak ucapan cinta untuk mu di meja ini.
“oh, itu meja Izan.”jawab temanku santai tanpa curiga. Ya,
seperti dugaanku ini adalah mejamu dan banyak sekali penggemarmu. Aku hendak
bangun tapi, sebuah buku jatuh kelantai. Buku milikmu.
“ini punya siapa?”tanyaku sambil memberikan bukuku pada
temanku. Aku tidak percaya itu bukumu karena kau selalu meminjam buku yang sama
padaku.
“ini punya Izan, mungkin sengaja di tinggal. Jatuh dari
mejanya ya?”
“ia.”kataku dengan pikiran binggung. Jika buku ini miliknya
kenapa dia meminjam bukuku ?
“Nia, kalau ada temanmu yang pinjam buku ini bukuku pinjamin
saja.”kataku sambil memberikan buku milikku dari tas.
“wah, kebetulan aku ningglin bukuku. Pinjam dulu ya?”kata
Nia dengan senyuman cerah mengalahkan matahari dan aku membalas dengan
anggukkan.
Siang itu kau datang seperti biasa, meminjam buku tanpa
bicara bahkan tidak memanggil namaku. Apa namaku di buku itu tidak jelas?
“buku milikku sudah di pinjam Nia tadi. Kau mau aku pinjamkan
buku punya temanku?”tannyaku.
“tidak usah.”jawabmu lalu pergi dengan wajah kecewa.
Seharusnya aku yang kecewa, Zan.
Hal itu terjadi hingga tiga minggu kemudian dan kau tidak
terlihat lagi di depanku. Dari gossip yang aku dengar bintang sekolah, Bella mengejarmu.
Lalu ada Luci anak guru yang terang-terangan menyatakan perasaannya padamu. Aku
dengar kau menolak mereka semua. Jangan kaget! Kau bintang sekolah. Banyak
orang yang menyukaimu dan menceritakan tentangmu. Setidaknya aku tidak perlu
menjadi stalker untuk mendapatkan informasimu, kau sudah seperti actor terkenal yang berita setiap kegiatanmu
selalu update.
Tahun ketiga, namamu ada di 5 besar nilai tertinggi.
Gadis-gadis yang mengincarmu berada di peringkat 50 besar dan aku? Bahkan 100
besar pun aku tidak masuk di antara 500 siswa lainnya.
Saat aku pulang, aku sengaja ingin memberikan kado pada
temanku yang kelasnya bersebelahan dengan kelasmu. Dari jauh aku bisa melihat
gadis itu mengandeng tanganmu dan kau tidak risih atau berusaha melepaskan tangan
gadis itu. Sejak itu aku tahu aku tidak punya harapan.
Saat perpisahan kau tiba-tiba di hadapanku megucapkan
kalimat manis sebagai perpisahan. Aku terdiam. Apakah kau bicara denganku?
Benar padaku? Tapi, kau tidak memangil atau menyebut namaku? Apakah ada gadis
lain di belakangku? Saat aku menoleh ke belakang tidak ada orang lain, hanya
kita berdua karena yang lain berada di aula. Dan saat itu juga kau menghilang.
Mungkin kita hanya sampai di sini? Dan bertemu belasan tahun lagi hingga kita
dewasa untuk saling berkenalan dengan cara yang benar.
END
Tidak ada komentar:
Posting Komentar