jangan lupa

JANGAN LUPA KOMENTAR YA..

Kamis, 09 Juli 2015

First Love



First Love

Author: Kim Daisy
Rate : T
Lenght : oneshot


Senin, aku benci hari itu. Tapi, berubah karena setiap senin aku tahu kamu selalu dibelakangku saat upacara. Selasa adalah hari selalu membuatku senang sekaligus menyebalkan karena kita mengambil kelas yang sama, Olahraga. Aku tidak menyukai olahraga. Tapi, saat aku berada di kelas olah raga aku bisa melihatmu tertawa bersama teman-temanmu. Paling tidak kita berada ditempat yang sama. Yang membuatku kesal adalah disaat aku menjadi salah tingkah saat didepanmu dan lebih menyebalkan lagi saat melihat kau begitu bersinar dengan kebakatmu sedangkan aku hanya gadis biasa yang diam-diam mengaggumi. Hingga hari itu tiba, hari dimana membuatku enggan masuk kelas olahraga karena banyak penggemarmu yang begitu memujamu. Aku kalah telak.
Dengan malas aku masuk kekelas Olahraga, karena aku sakit tapi harus masuk kelas olahraga. Aku tetap berada dilapangan dengan tubuh lemasku. Duduk di pinggir lapangan sambil meminum air mineralku. Kau yang memasukkan bola ke ring tanpa sadar membuatku ikut berteriak menyemangatimu seperti penggemarmu yang lain. Tapi, matamu tiba-tiba menatap mataku. Aku yakin kau menatap mataku. Kau terdiam. Aku terdiam. Kita seakan masuk ke dunia lain dimana hanya ada kita berdua di lapangan basket itu.
Duk!
Sebuah bola basket membentur kepalamu dan membuat kontak mata kita hilang. Kau mengelus kepalamu yang sakit dan aku dengan hati-hati menghilang dan pandanganmu. Setelah kelas olaharaga berakhir kau terlihat mencari seseorang. Apakah kau mencariku? Maaf, aku tidak akan menunjukkan diriku sebelum kau menarikku. Jika aku maju terlebih dulu, aku yakin aku akan mendapat banyak musuh karena penggemarmu terlalu banyak. Bukan salahmu jika kau terlalu bersinar di mata gadis-gadis.


Di tahun kedua, tidak ada lagi kelas olahraga tidak ada lagi kau yang selalu dibelakangku saat upacara. Kelas kita terlalu jauh dan kita tidak mengambil kelas yang sama. Kau seorang bintang tetaplah seorang bintang yang kini memiliki kelas khusus dengan bintang sekolah lainnya dan aku hanya sembunyi di kelas menengah. Kadang aku bersyukur karena tidak perlu salah tingkah saat sekelas denganmu tapi, aku sedih karena aku sangat akan jarang sekali bertemu denganmu.
Rindu? Ya, tentu saja. Diam-diam aku memperhatikanmu yang ceria dan bersahabat tapi, ada yang aneh saat kau berada di tempat yang sama denganku. Kau terkesan kaku dan pendiam. Apakah karena kau saah tingkah jika di dekatku? Apa kau juga menyukaiku?

Tahun pembelajaran baru, baru saja dimulai. Hari itu kau berada dikelasku.  Kau berdiri dengan beberapa orang temanmu. Kau menatapku terus, aku coba berpaling tapi, tatapan matamu tidak bisa aku diamkan begitu saja. Tanpa sadar aku seudah dihadapanmu.
“pinjam buku.”katamu lembut. Berbeda dengan teman-temanmu yang terlihat sangat panik. Aku menunduk karena kau selalu melihatku. Tanpa bicara aku membali ke mejaku dan memberikan bukuku padamu.
“aku pergi.”ucapmu langsung pergi begitu saja. Dan disaat jam berakhir kau mengembalikan bukuku. Tapi, kau tidak menanyakan namaku kau hanya mengatakan terimakasih dan pergi. Apa aku tidak berhak mengenalmu?

Hari kamis, seperti biasa kau hanya menatapku hingga membuatku gerah dan akhirnya memberikan bukuku. Tidak ada yang namanya sapaan, panggilan, saling mengenal apalagi mengobrol untuk basa-basi. Kau terlalu kaku di depanku. Walau begitu kamis adalah hari favaoritku karena hari kamis matamu selalu memperhatikanku.



Hari kamis, pagi itu aku sengaja kelasmu untuk meminjamkan bukuku langsung agar kau tidak ke kelasku. Karena kau belum datang jadi aku mengobrol dengan temanku yang sekelas denganmu.
“ini meja siapa?”tanyaku penasaran. Hanya meyakinkan kalau ini benar mejamu. Karena tertulis banyak ucapan cinta untuk mu di meja ini.
“oh, itu meja Izan.”jawab temanku santai tanpa curiga. Ya, seperti dugaanku ini adalah mejamu dan banyak sekali penggemarmu. Aku hendak bangun tapi, sebuah buku jatuh kelantai. Buku milikmu.
“ini punya siapa?”tanyaku sambil memberikan bukuku pada temanku. Aku tidak percaya itu bukumu karena kau selalu meminjam buku yang sama padaku.
“ini punya Izan, mungkin sengaja di tinggal. Jatuh dari mejanya ya?”
“ia.”kataku dengan pikiran binggung. Jika buku ini miliknya kenapa dia meminjam bukuku ?
“Nia, kalau ada temanmu yang pinjam buku ini bukuku pinjamin saja.”kataku sambil memberikan buku milikku dari tas.
“wah, kebetulan aku ningglin bukuku. Pinjam dulu ya?”kata Nia dengan senyuman cerah mengalahkan matahari dan aku membalas dengan anggukkan.



Siang itu kau datang seperti biasa, meminjam buku tanpa bicara bahkan tidak memanggil namaku. Apa namaku di buku itu tidak jelas?
“buku milikku sudah di pinjam Nia tadi. Kau mau aku pinjamkan buku punya temanku?”tannyaku.
“tidak usah.”jawabmu lalu pergi dengan wajah kecewa. Seharusnya aku yang kecewa, Zan.

Hal itu terjadi hingga tiga minggu kemudian dan kau tidak terlihat lagi di depanku. Dari gossip yang aku dengar bintang sekolah, Bella mengejarmu. Lalu ada Luci anak guru yang terang-terangan menyatakan perasaannya padamu. Aku dengar kau menolak mereka semua. Jangan kaget! Kau bintang sekolah. Banyak orang yang menyukaimu dan menceritakan tentangmu. Setidaknya aku tidak perlu menjadi stalker untuk mendapatkan informasimu, kau sudah seperti  actor terkenal yang berita setiap kegiatanmu selalu update.



Tahun ketiga, namamu ada di 5 besar nilai tertinggi. Gadis-gadis yang mengincarmu berada di peringkat 50 besar dan aku? Bahkan 100 besar pun aku tidak masuk di antara 500 siswa lainnya.

Saat aku pulang, aku sengaja ingin memberikan kado pada temanku yang kelasnya bersebelahan dengan kelasmu. Dari jauh aku bisa melihat gadis itu mengandeng tanganmu dan kau tidak risih atau berusaha melepaskan tangan gadis itu. Sejak itu aku tahu aku tidak punya harapan.



Saat perpisahan kau tiba-tiba di hadapanku megucapkan kalimat manis sebagai perpisahan. Aku terdiam. Apakah kau bicara denganku? Benar padaku? Tapi, kau tidak memangil atau menyebut namaku? Apakah ada gadis lain di belakangku? Saat aku menoleh ke belakang tidak ada orang lain, hanya kita berdua karena yang lain berada di aula. Dan saat itu juga kau menghilang. Mungkin kita hanya sampai di sini? Dan bertemu belasan tahun lagi hingga kita dewasa untuk saling berkenalan dengan cara yang benar.


END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar