BUT LOVE #1
AUTHOR: MAHARDIKA PUTRI
CAST: CHERIN (CL 2NE1), JIYONG (GD BIG BANG) dan Jo Jung Suk
Aku meneteskan air mataku saat melihat tayangan di TV tenang GD meresmikan hubungannya dengan kiko, model dan artis dari Jepang. Jujur saja aku tak rela. Tapi, dengan keadaanku yang sekarang aku juga tidak bisa bertindak karena secara tidak langsung aku yang membuang jiyong oppa.
"mian, aku mengganggumu. Tapi, sekarang aku harus memeriksamu"kata dokter yang baru saja masuk kekamarku.
Tanpa sadar aku sudah duduk dibangku taman rumah sakit. Udara yang sejuk tiba-tiba membuatku mengingat kejadian tadi malam saat bertemu dengan jiyong oppa. Tebakkanku benar, jiyong mengira bayi itu bayiku. Kenapa aku malah menjadi senang saat dia salah paham? Aku ingat jiyong oppa terlihat marah saat itu. Itu artinya dia belum melupakanku. Hehe.. Apa yangku pikirkan? Chaerin sadarlah!
____
Malam kamis, hari favoritku karena dokter Jo selalu menemaniku. Malam ini kami menonton bioskop. Kami menonton film animasi yang menurutku lumayan seru.
"dokter Jo, kenapa wajahmu begitu menakutkan?"tanyaku iseng saat setelah keluar dari bioskop karena terang jadi aku bisa melihat wajah malas dokter Jo.
-author-
"hasil pemeriksaannya jantung buatannya masih baik artinya kita berhasil mengembangkannya. Tapi, karena nona chaerin masih koma kita tidak dapat mengetahui apakah ini akan berakhir sampai disini saja atau akan ada cerita baru."jelas dokter Jo kepada dokter-dokter spesialis jantung lainnya.
-Jiyong pov-
disela-sela kegiatan panggungku yang padat tiba-tiba aku di telepon dari Rumah sakit dan diminta ke sana segera. Sekarang aku berbicara dengan seorang dokter di ruangannya.
"apa maksudmu?"tanyaku. Sedangkan namja didepanku ini hanya diam saja.
-Chaerin Pov-
Tidak cinta katanya?? hah, yang benar saja. Wanita cantik seperti kiko tidak di cintainya?? Itu tidak mungkin.
"kenapa kamu sendirian di rooftop? jiyong mencarimu dari tadi?"kata dokter Jo tiba- tiba yang ada dibelakangku.
AUTHOR: MAHARDIKA PUTRI
CAST: CHERIN (CL 2NE1), JIYONG (GD BIG BANG) dan Jo Jung Suk
Aku meneteskan air mataku saat melihat tayangan di TV tenang GD meresmikan hubungannya dengan kiko, model dan artis dari Jepang. Jujur saja aku tak rela. Tapi, dengan keadaanku yang sekarang aku juga tidak bisa bertindak karena secara tidak langsung aku yang membuang jiyong oppa.
"mian, aku mengganggumu. Tapi, sekarang aku harus memeriksamu"kata dokter yang baru saja masuk kekamarku.
"anni, kau
tidak mengangguku."kataku sambil mengelap mataku. Dokter memeriksa mataku,
menarik kelopak mataku pelan dan memintaku menjulurkan lidah.
"dokter Jo
Jung Suk, kau mengerjaiku!"tegurku kesal.
"wah,
bagaimana kau tau?"katanya dengan expresi wajah pura-pura terkejut.
"aku bukan
anak kecil, dokter Jo"
"tapi, aku
berhasil membuatmu berhenti menangis"katanya sambil memasukkan kedua
tangannya disaku jas putihnya sambil tersenyum manis.
"Gomawo,
dokter"kataku sambil berusaha tersenyum.
"pabo,
kalau tak sanggup kenapa kau melepaskannya?"kata dokter Jo Jung Suk pelan
dan berlalu pergi. Ne, aku memang pabo yeoja. Tak mampu menghadapi namja yangku
cintai. Menyesal? Tidak juga. Karena bila jiyong oppa tau kondisiku sekarang
itu akan semakin memburuk, antara menangis untukku atau akan membuangku. Aku
rela bila jiyong oppa berfikir aku "bad women" karena memang aku
bukan yeoja baik untuk jiyong oppa.
Aku duduk ditaman rumah sakit.disini banyak pasien yang berkumpul dengan keluarga atau dengan kekasihnya. Aku ingin juga punya keluarga.
-jiyong pov-
BRUuk..
"appo!"teriakku kesakitan saat sebuah tas kecil mendarat dikepalaku. Aku tidak tau apa isinya tapi, Tasnya cukup berat hingga membuatku sakit.
Aku duduk ditaman rumah sakit.disini banyak pasien yang berkumpul dengan keluarga atau dengan kekasihnya. Aku ingin juga punya keluarga.
-jiyong pov-
BRUuk..
"appo!"teriakku kesakitan saat sebuah tas kecil mendarat dikepalaku. Aku tidak tau apa isinya tapi, Tasnya cukup berat hingga membuatku sakit.
"kenapa
kau melamun?"tanya namja bersuara berat itu.
"hyung,
lagu ini. Lagu favoritnya."jelasku lirih.
"kenapa
kau masih memikirkan nappuen yeoja itu?mungkin dia sudah bersenang-senang
dengan namja lain dan membangun keluarga"celoteh TOP hyung.
"tidak
mungkin!!"
"apa yang
tidak mungkin? sudah 4 tahun kalian berpisah. Kau saja yang sangat setia saja
bisa punya yeoja chinggu sekarang"jelasnya. Memang ada benarnya kata TOP
hyung tapi, Chaerin tidak mungkin seperti itu.
"hey
T.O.P, apa yg kau lakukan pada hyungku! kenapa kau memarahinya?"kata namja
yang berteriak didepan pintu.
"panda, aku
ini hyungmu!"protes T.O.P hyung.
"haha..aku
lupa karena sikapmu tidak seperti itu, hyung"kata seungri sambil tersenyum
tanpa rasa bersalah. T.O.P hyung hanya tertawa melihat prilaku seungri.
Tampaknya kedua namja unik ini berusaha membuatku tersenyum kembali.
-Chaerin Pov-
Hari ini memang hari "bebas" tapi, aku yang tak ada keluarga tidak perlu pulang karena tidak ada yang menunggu kepulanganku. Kuputuskan keliling rumah sakit, melihat anak-anak disini. Seorang suster mengizinkanku mengendong bayi, asal aku tidak keluar dari ruangan. Disini membuatku tersadar karena ada anak yang lebih kecil dariku hidup sebatang kara. Bahkan dia belum dapat memijakkan kaki ditanah. Bayi namja yangku gendong ini belum ada namanya,walau umurnya 1 bulan tapi, tubuhnya sangat kecil. Dia ditinggal orang tuanya. Karena dia terlalu kecil jadi rumah sakit akan merawatnya, setelah itu baru mencari orang tua barunya. Aku melihat ke kaca tembus pandang. Seorang namja melihatku dengan tatapan tak kalah kaget sepertiku.
"apa kabarmu?"tanyanya namja itu setelah aku keluar dari ruang bayi.
Hari ini memang hari "bebas" tapi, aku yang tak ada keluarga tidak perlu pulang karena tidak ada yang menunggu kepulanganku. Kuputuskan keliling rumah sakit, melihat anak-anak disini. Seorang suster mengizinkanku mengendong bayi, asal aku tidak keluar dari ruangan. Disini membuatku tersadar karena ada anak yang lebih kecil dariku hidup sebatang kara. Bahkan dia belum dapat memijakkan kaki ditanah. Bayi namja yangku gendong ini belum ada namanya,walau umurnya 1 bulan tapi, tubuhnya sangat kecil. Dia ditinggal orang tuanya. Karena dia terlalu kecil jadi rumah sakit akan merawatnya, setelah itu baru mencari orang tua barunya. Aku melihat ke kaca tembus pandang. Seorang namja melihatku dengan tatapan tak kalah kaget sepertiku.
"apa kabarmu?"tanyanya namja itu setelah aku keluar dari ruang bayi.
"seperti
yang kau lihat,oppa"jawabku.
"kau
bahagia?"tanyanya tersenyum.
"kau bisa
melihatnya sendiri oppa."jawabku.
"aku ikut
bahagia, dengan kebahagiaanmu"katanya sambil tersenyum. Senyumannya
terlihat sedih, apakah itu hanya perasaanku saja aku juga tidak tahu. Aku ingin
tak menatap matanya tapi, bila aku tak menatap matanya itu akan membuatnya
curiga.
"jiyong!"teriak
seorang yeoja yang tak ku kenal membuat jiyong oppa menoleh pada yeoja itu. Aku
langsung memanfaatkan saat ini untuk menghilang dari hadapanya. Aku tak sanggup
didekatnya. Jiyong oppa pasti mengira bayi yangku gendong adalah bayiku,
biarkan dia berfikir seperti itu.
"kenapa
mengajakku kesini?"tanyaku saat tiba disebuah cafe yang sedang
menyelenggarakan festival musik.
"aku
memang tidak tau musik tapi,aku tau kau menyukainya"jelas dokter Jo
tersenyum.
Waktu sudah cukup malam kami keluar dari cafe. Karena begitu gelap dan sempit aku menarik pelan kemeja dokter Jo agar aku tidak kehilangan.
Waktu sudah cukup malam kami keluar dari cafe. Karena begitu gelap dan sempit aku menarik pelan kemeja dokter Jo agar aku tidak kehilangan.
"kau
disini juga?"tanya sebuah suara yang sangatku kenali. Tapi, karena remang
aku tidak melihat dengan jelas. Dokter jo menarikku kedekatnya, aku jadi
melihat wajah Jiyong oppa dengan jelas.
"ne,aku
yang mengajaknya. dr.Jo Jung Suk"kata dokter jo sambil berjabat tangan
dengan Jiyong dan Taeyang oppa. Disebelah Jiyong oppa ada Taeyang oppa yang
tersenyum padaku.
"mianhe,
kami tidak bisa lama-lama. Kami permisi dulu"pamit dokter Jo.
"ne,
lagian tidak mungkin bayi kalian ditinggal hingga malam begini"kata jiyong
oppa.
"anak?"tanya
dokter jo pelan sambil menarikku membelakangi Jiyong oppa dan pergi darinya.
"dia salah
paham saat melihatku menggendong bayi di ruang bayi rumah sakit"jelasku.
Jantungku terasa sedikit memacu.
"oh
ternyata begitu. Kenapa kau tidak menjelasnya?"tanya dokter Jo sambil
membukakan pintu mobil untukku.
"aku rasa
ditidak ada yang perlu kujelaskan lagi"kataku.
"Kau
yakin?"tanya dokter Jo kepadaku.
"ne"jawabku
mantap.
@ruang dokter
"penyakitmu ini tidak bisa diduga kapan akan baik dan kapan akan kumat. Apa lagi akhir-akhir ini kau sering merasa sakitkan? waktumu mungkin tidak banyak, kenapa tidak pergi saja ketempat yang menyenangkan atau bersenang-senang sendiri dalam waktu yang lama?"
"penyakitmu ini tidak bisa diduga kapan akan baik dan kapan akan kumat. Apa lagi akhir-akhir ini kau sering merasa sakitkan? waktumu mungkin tidak banyak, kenapa tidak pergi saja ketempat yang menyenangkan atau bersenang-senang sendiri dalam waktu yang lama?"
"karena aku
memang tidak ingin pergi, dokter Jo"kataku sambil berdiri dari kursi dan
keluar dari ruangannya.
"aish.. Yeoja
ini!"keluh dokter Jo masih bisaku dengar. Aku atau dokter Jo
mengkhawatirkanku. Tapi, ini sudah lebih dari cukup bagiku.
Tanpa sadar aku sudah duduk dibangku taman rumah sakit. Udara yang sejuk tiba-tiba membuatku mengingat kejadian tadi malam saat bertemu dengan jiyong oppa. Tebakkanku benar, jiyong mengira bayi itu bayiku. Kenapa aku malah menjadi senang saat dia salah paham? Aku ingat jiyong oppa terlihat marah saat itu. Itu artinya dia belum melupakanku. Hehe.. Apa yangku pikirkan? Chaerin sadarlah!
____
Malam kamis, hari favoritku karena dokter Jo selalu menemaniku. Malam ini kami menonton bioskop. Kami menonton film animasi yang menurutku lumayan seru.
"dokter Jo, kenapa wajahmu begitu menakutkan?"tanyaku iseng saat setelah keluar dari bioskop karena terang jadi aku bisa melihat wajah malas dokter Jo.
"Wajahku
begini karena filmnya membosankan"jawabnya.
"oh, mianhe
kau tak menikmati filmnya. Padahal kau yang meneraktirku."kataku pura-pura
merasa bersalah.
"hey, jangan
begitu! Aku tidak suka lihat wajah sedihmu. Gimana kalau kita makan es
cream?"rayunya.
"ne!"jawabku
gembira.
kami tiba ditoko es
cream, duduk di sebuah meja yang kosong. Tempat ini begitu ramai jadi kami
tidak dapat memilih tempat yang nyaman menurutku.
"wah,GD mengatakan ingin segera menikah?"kata yeoja yang duduk dimeja sebelah kami.
"wah,GD mengatakan ingin segera menikah?"kata yeoja yang duduk dimeja sebelah kami.
"ne,aku juga
sudah mendengarkan beritanya. Apa GD oppa akan menikah dengan kiko?"kata
yeoja dihadapannya.
"molla.Tapi,sepertinya
begitu. Kan kiko adalah kekasihnya..."
jantungku terasa sesak, aku tidak bisa mendengarkan celoteh dua orang yeoja itu lagi.
jantungku terasa sesak, aku tidak bisa mendengarkan celoteh dua orang yeoja itu lagi.
"kau
kenapa?"kira-kira itu yang dikatakan dokter jo karena aku tidak bisa
mendengar dengan jelas.Yangku dengar hanya detak jantungku yang memacu dan
nafas beratku.
-author-
"hasil pemeriksaannya jantung buatannya masih baik artinya kita berhasil mengembangkannya. Tapi, karena nona chaerin masih koma kita tidak dapat mengetahui apakah ini akan berakhir sampai disini saja atau akan ada cerita baru."jelas dokter Jo kepada dokter-dokter spesialis jantung lainnya.
"sudah berapa
hari koma?"tanya kepala rumah sakit.
"besok hari ke
lima"jawab dokter Jo.
"jika jantung
buatannya normal kenapa bisa koma?"
"apakah karena
jantungnya sudah harus diganti?"saut dokter lain.
"jantungnya
baik-baik saja. Aku rasa itu karena dia tidak mau menerima keadaan di dunia
nyata. Saya dengar nona Chaerin tidak punya keluarga dan sering bermain dengan
anak-anak yang dirawat disini saat seharusnya dia pulang kerumah. Mungkin dia
sudah menyerah untuk hidup"kata dokter lainnya.
"dia tidak
mungkin seperti itu."kata dokter Jo.
"walau dia
tidak punya keluarga tapi, dia pasti punya orang yang pernah dicintai atau
orang yang disayanginya. Bagaimana kalau kita menggunakan orang yang
disayanginya untuk membangunkannya? Saya tidak ingin penelitian berakhir disini
saja."saran dokter Lee.
"tapi, kita
tidak tau siapa orang itu"kata dokter Choi.
"kita memang
tidak tau tapi, nona chaerin itu adalah pasien dokter Jo selama lima tahun ini.
Jadi tidak mungkin dokter Jo tidak tau. Saya benarkan dokter Jo?"jelas
dokter Lee.
"ne. Tapi,
Chaerin memutuskan melupakan masa lalunya"jelas dokter Jo sedikit kesal
karena kehidupan pribadi Chaerin ke depan umum.
"anda
dokternya, dokter Jo! Tugasmu menyelamatkan hidupnya. Jika pasien memutuskan
tidak makan obat, apa kau juga akan diam saja? kehidupan nona chaerin juga
sangat menguntungkan kita"kata dokter Lee. Dokter Lee adalah dokter muda,
yeoja yang cerdas dan keras.
"aku setuju
dengan pendapat dokter Lee"kata kepala rumah sakit.
"mianhe,
Chaerin aku tidak bisa berbuat banyak tapi, aku berjanji akan berbuat yang
terbaik"kata dokter jo jung suk dalam hati.
Dokter Jo duduk
disamping tempat tidur Chaerin,sedangkan chaerin terbaring lemas dikasurnya.
"ini hari kelima chaerin.jebal, sadarlah! Jebal!"kata dokter Jo lirih.
"ini hari kelima chaerin.jebal, sadarlah! Jebal!"kata dokter Jo lirih.
"kami
memutuskan kau harus bertemu dengan kekasihmu, dulu. Aku tau kau pasti
menolaknya. Tapi kau tau, sekarang dia ingin menikah dan aku juga ingin kau
sadar kembali. Malam ini kami akan rapat kembali bagaimana cara agar kau
bangun. Aku terpaksa mengatakan semuanya tentang masa lalumu dan pastinya kami
akan memaksa jiyongMU ITU bekerja sama dengan kami. Kalau kau tidak setuju,
sadarlah sore ini. Jebal, Chaerin~ah!"kata dokter Jo sambil menggenggam
tangan chaerin.
-Jiyong pov-
disela-sela kegiatan panggungku yang padat tiba-tiba aku di telepon dari Rumah sakit dan diminta ke sana segera. Sekarang aku berbicara dengan seorang dokter di ruangannya.
"apa maksudmu?"tanyaku. Sedangkan namja didepanku ini hanya diam saja.
"kau pasti
bercanda! aku sangat sibuk, tidak ada waktu untuk bercanda"kataku yang
masih tak percaya dengan penjelasan seseorang dokter yang mengunakan jas
putihnya.
"tenanglah!
Ikuti aku!"kata namja itu sambil berjalan pergi dan aku mengikuinya.kami
masuk kesebuah ruangan. Ada seseorang yang tertidur dikasur dengan tenang. Saat
aku semakin dekat, wajah yeoja yang terbaring semakin jelas terlihat dan
membuat tubuhku kaku membatu. Air mataku menetes, kakiku melemas hingga aku
terduduk dilantai.
"seperti yang
sudahku bilang tadi, dia, Chaerin koma. Ini sudah hari ke tujuh. Kami tidak tau
penyebab dia koma. Sementara ini penyebabnya karena jiwanya terganggu karena
bertemu denganmu lagi. Atau dia sudah mendengar berita pernikahanmu, kami tidak
tahu pasti. Makanya kami meminta kamu membantu kami"jelas dokter Jo.
"sejak kapan
dia terkena penyakit ini? Jebal, jelaskan padaku kenapa Chaerin jadi seperti
ini?"tanyaku sambil menangis terisak-isak sedih.
"Lima tahun
lalu chaerin dibawa kerumah sakit karena dia terserang jantung dijalan raya,
seorang warga yang menolongnya dan membawanya ke rumah sakit. Saat itu
jantungnya sudah memburuk, dia mengatakan dia masih ingin melihatmu tersenyum
dan ingin melihat kesuksesanmu. Karena dia tidak punya biaya yang cukup,
pengobatan terpaksa dihentikan"
"sekitar
enam bulan kemudian dia datang kembali. Jantungnya semakin melemah dia minta
disembuhkan tapi, dia tidak punya cukup biaya. Pada saat itu aku dan dokter Lee
memang sedang mengembangkan jantung buatan. Karena dia tahu tentang penelitian
ini, dia pun ingin hidup dan setuju mencoba jantung buatan ini."
"kenapa
diizinkan? dia bahkan tidak punya wali! Bagaimana bila terjadi apa-apa
dengannya?"kataku penuh amarah.
"walau
saat itu kau masih kekasihnya. Kau bukan walinya. Bila terjadi sesuatu
dengannya itu sudah takdirnya karena tidak ada keluarga tapi, kalau ada pasti
kami memberikan sejumlah uang. Aku pergi dulu, ada kerjaan. Oh ya kami memang
akrab tapi, Tidak memiliku hubungan seperti yang kamu kira dihari yang lalu dan
bayi itu bukan anaknya atau anakku. Ingat kau berikan keputusannya besok, akan
membantu atau tidak. Bukankah kau masih mencintainya?"kata dokter Jo
sambil berlalu pergi.
"kau tau,
Aku mencarimu selama ini. Tapi, aku tidak menemukan jejakmu"kataku sambil
menggengam tangan Chaerin. ku kecup kening dan bibirnya lembut.
"bangunlah
Chaerin, sesungguhnya aku masih milikmu"kataku pelan.
Keesokkan
harinya aku segera kerumah sakit dan ke ruangan dokter Jo.
"aku akan menolong Chaerin. Apa yang harusku lakukan?"kataku mantap kepada dokter Jo. dokter Jo tersenyum dan menelpon seseorang. Tak lama masuk seorang dokter yeoja.
"aku akan menolong Chaerin. Apa yang harusku lakukan?"kataku mantap kepada dokter Jo. dokter Jo tersenyum dan menelpon seseorang. Tak lama masuk seorang dokter yeoja.
"dia
dokter Lee, dia akan membimbingmu"kata dokter Jo memperkenalkan dokter yeoja
itu padaku.
"ne, pegang tangannya. Bisikkan sesuatu seperti membangunkan yeojamu"perintah dokter Lee yang duduk santai di sofa.
"ne, pegang tangannya. Bisikkan sesuatu seperti membangunkan yeojamu"perintah dokter Lee yang duduk santai di sofa.
"sepertinya
ini tidak berhasil karena kita sudah 3 jam melakukannya berulang
kali"kataku.
"ne,istirahatlah.
Eh, Bukankah seharusnya kau harus pergi karena ada.."
"gwinchana.
Aku mau melihatnya sebentar lagi"kataku sambil menatap Chaerin yang tidur
dengan lemas.
"OK. Hari ini coba kau menceritakan pengalaman tak terlupakan atau sangat berarti. Jangan lupa untuk memegang tangannya!"jelas dokter Lee.
"OK. Hari ini coba kau menceritakan pengalaman tak terlupakan atau sangat berarti. Jangan lupa untuk memegang tangannya!"jelas dokter Lee.
"Hunchae,
aku kangen memanggilmu seperti itu. Kau ingat kau selalu memangilku Jingyo oppa
tapi, aku tak marah padamu. Saat aku masih menjadi training tidak ada satu pun
yang percaya aku akan sukses tapi, kau selalu tersenyum dan menyemangatiku.
Hunchae, kau ingat saat kita merayakan ultahmu ke 18? saat itu kau marah padaku
karena lupa ulang tahunmu. Tapi, kau tetap bersikap wajar karena mengerti
kesibukanku menjadi training. Akhirnya aku mengambil lilin, membuat sandwich
sebagai pengganti kue tart dan datang sebelum jam 12 malam karena setelah jam
12 bukan ultahmu lagi. Aku pengucap ultahmu yang paling terakhir"
"dulu,
saat aku dapat libur apa kah kau ingat? aku sudah membeli tiket nonton, ketaman
bermain dan membooking meja di restoran yang romantis. tapi, akhirnya aku hanya
menontonmu yang tidur selama 20 jam. Aku sangat kesal tapi, karena kau begitu
lucu saat tidur jadi aku pikir tidak ada salahnya bila kegiatanku adalah
menontonmu saat tertidur"kataku sambil tersenyum malu sendiri entah karena
kejadian di masa lalu atau kata-kataku yang berantakan. Menulis lagu lebih
mudah di bandingkan merangakai kaliamat seperti ini.
"saat tak
sengaja aku melihatmu bersama mantan kekasihmu mengobrol membuatku kesal. Aku
tulis perasaan kesalku menjadi lagu. Saat kau mendengarkan lagu itu kau
menangis,memelukku dan mengatakan "oppa mianhe, aku belum bisa mengobati
lukamu karena kekasihmu dulu".saat itu aku berfikir kau sangat
cute.."kataku berhenti setelah merasakan tangan Chaerin bergerak.
"tangannya
bergerak"kataku.
"tenang,
itu hanya reflek. Lanjutkan ceritanya saja!" kata dokter Lee santai.
Dokter ini sangat menyebalkan.
-keesokan
harinya
Hari ini seharian aku hanya bernyanyi untukmu, Chaerin. Aku harap nyanyian yang tulus dariku dapat membangunkanmu.
Hari ini seharian aku hanya bernyanyi untukmu, Chaerin. Aku harap nyanyian yang tulus dariku dapat membangunkanmu.
"Chaerin
tidak bisakah kau bangun? sudah 3 minggu kamu tertidur disini. bukan aku tak
mau menjaga dan merawatmu. tapi ini karena aku masih ingin melihat senyumanmu.
aku tidak pernah bosan melihatmu tertidur cahrein. tidak pernah walau pun aku
harus melihat kau tertidur lebih 20 jam sekalipun. 4 tahun, ya 4tahun kita
berpisah. tapi, hatiku masih untukmu.jantungku berdetak untukmu chaerin~ah.
jebal, bangunlah chaerin!!" kataku memelas air mataku sudah tak dapatku
bendung lagi. untung saja dokter Lee dan Jo sedang tidak disini. kalau ada
mungkin aku tidak seterbuka ini. aku menundukkan tubuhku dikasurnya.
"apa kau
tak mau melihat wajahku lagi??"
"apa kau
membenciku karena aku ingin menikah? ne, aku memang ingin menikah. aku juga
saram yang ingin memiliki keluarga. tapi, aku dan kiko tidak sebahagia itu.
sungguh aku tak mencintainya. aku hanya berharap bila bersamanya aku akan dapat
melupakanmu. tapi, aku tak berhasil. karena aku terlalu
menginginkanmu."kataku.
"aku bukan
barang yang bisa kamu miliki" kata seorang yeoja. tapi, itu suara chaerin.
apakah ini hanya khayalanku. aku mengakat kepalaku, melihat chaerin masih
menutup matanya. benar ternyata hanya khayalanku.
"aku
lelah. aku sudah bangun. panggilkan dokter jo"kata chaerin. aku melihat
mulutnya bergerak dan matanya juga terbuka.
"chaerin,
ini khayalanku saja!"kataku ragu.
"dokter
Jo!"kata chaerin. aku melihat kebelakang, dokter jo berdiri kaku.
"ini
nyata?"tanyaku.
"ia"kata
dokter jo yang tersadar dan berlari ke tempat kami. aku segera memeluk chaerin
berharap dia tidak akan pergi lagi.
"keluarkan
dia!"kata chaerin.
"hey, jika
kau seperti itu dia akan koma lagi"kata dokter jo.
"mwo??
koma?? na??"tanya chaerin kaget."
"ne. sudah
jangan bertanya. Aku akan memeriksamu."kata dokter jo. Aku melepaskan
pelukkanku agar Chaerin bisa segera
sedang diperiksa.
-Chaerin Pov-
Tidak cinta katanya?? hah, yang benar saja. Wanita cantik seperti kiko tidak di cintainya?? Itu tidak mungkin.
"kenapa kamu sendirian di rooftop? jiyong mencarimu dari tadi?"kata dokter Jo tiba- tiba yang ada dibelakangku.
"kenapa
kau memanggil dia, dokter?"tanyaku.
"karena
menurut dokter Lee, dia bisa membangunkanmu."
"dokter
tahu aku sangat tidak mau bertemu dengannya."kataku mulai marah.
"aku tidak
bisa berbuat banyak. tapi, karena dia kamu bisa bangun."
" itu
hanya kebetulan"
"bukan.
itu yang sebenarnya terjadi. seriap hari dia menemanimu. mengelap tangan, kaki,
dan wajahmu. menceritakan kejadian dimasa lalu, benyanyi untukmu. kalian masih
saling terikat..."
"itu tidak
benar!!!"potongku sambil menutup telingaku. bila aku terus mendengarkanya
mungkin aky tak akan sanggup lepas dari jiyong oppa. tubuh namja memelukku
kuat. aroma tubuhnya sangat ku rindukan, jiyong oppa. aku berusaha melepaskan
pelukanya, tapi, aku tidak bisa karena masih terlalu lemas.
"kita
saling terikat chaerin. sekarang kau harus menerima kenyataan itu" kata
jiyong oppa lembut. aku menangis dipelukanya. aku sangat merindukanya tapi, aku
marah kaarena aku takut akan membuat dia semakin terluka.
Sudah tujuh
hari setelah aku bangun dari koma. Tapi, jiyong oppa masih sabar merawatku.
Mengajakku berjalan-jalan mengunakan kursi roda, membawakan sandwich untukku,
atau mengelap sikut dan lututku setiap pagi. Disaat dia senggang pasti akan
menelponku, walau aku sangat sering tidak mengangkat teleponnya. Komaku akibat
jiyong oppa?? Anni, aku koma karena jantungku yang tidak mau menerima kenyataan
jiyong oppa akan menikah. Benar, aku begitu membutuhkan jiyong oppa, aku
terikat padanya tapi, bukankah bila aku selalu bersamanya itu akan
menyakitinya. Hidupku tak akan lama lagi.
kini aku sudah kuat untuk berjalan, perlahan tapi pasti aku pergi ke ruang bayi. Mencari anak namja yang biasanyaku gendong, sudah lebih 1 bulan aku tak bertemu dengannya.
“dimana bayi gagah itu?”tanyaku pada perawat.
kini aku sudah kuat untuk berjalan, perlahan tapi pasti aku pergi ke ruang bayi. Mencari anak namja yang biasanyaku gendong, sudah lebih 1 bulan aku tak bertemu dengannya.
“dimana bayi gagah itu?”tanyaku pada perawat.
“hem..maksud
nona? Bayi yang sering nona gendong?”jawab perawat itu.
“ne! Bayi
tampan itu, dimana sekarang? Kenapa boxnya diisi bayi lain? Apakah dia sudah
diadopsi?”tanyaku panik.
“ne. Baru 5
menit yang lalu administrasinya selesai dan sudah dibawa orang tua
angkatnya”jawab perawat itu.
“sepertinya aku
harus bermain dengan anak lain”kataku beranjak pergi perlahan. Kalau aku pasti
bisa hidup aku ingin merawat bayi itu. Tapi, keadaanku yang seperti ini tidak
mungkin untuk mengadopsinya. Apalagi bila dia terlanjur mengenal dan
menyayangiku, lalu aku mati karena penyakitku itu akan sangat buruk untuknya.
Dia dirawat dengan orang lain, bukankah itu sangat baik? Chaerin tersenyumlah!
aku berjalan menuju kekamarku perlahan.
aku berjalan menuju kekamarku perlahan.
“oh, chaerin
benarkah ini kau?”kata namja itu sambil menghadangku untuk masuk kekamar.
“aigoo, siapa
yang mengajakmu kesini. Pulanglah! Aku malas bertemu denganmu”kataku.
“kau tidak
kangen denganku?? Aku kangen sekali, dengan masakanmu!”kata namja itu.
“hey, panda!
Aku sedang sakit, aku ingin masuk ke kamarku untuk istirahat”kataku sambil
membuka ganggang pintu kamarku. Ada box bayi disamping kasurku.
“bayi siapa
ini?”tanyaku.
“bayiku!”jawab
seungri. Bayinya sedang tertidur dibox dengan lucunya. Entah hanya perasaanku
saja karena wajahnya seperti bayi yang biasaku gendong.
“namanya baby
G”kata seungri. Aku menatapnya kesal.
“panda, kau
minta di sarden?”kataku. seungri tertawa.
“bila jiyong
hyung appanya, tentu saja aku adalah ommanya!”kata seungri.
“itu tidak akan
mungkin!”kata Jiyong oppa sambil memukul kepala seungri.
“appo,
hyung!”protes seungri. Tapi, jiyong tak peduli dia tetap berjalan kearahku
sambil tersenyum manis.
“dia bayi yang
selalu menemanimu. Aku tahu kau ingin sebuah keluarga. Hem.. aku baru saja
mengadopsinya. Maukah kau menjadi omma untuknya?”kata jiyong oppa tersenyum
manis sambil menggegam tanganku. Apakah aku bermimpi? Apakah ini khayalanku?
Apakah aku masih koma??
“dia pasti mau.
Karena sebelum kau mengadopsinya, Chaerin sudah menjadi ibu asuhnya.”kata
dokter jo yang masuk begitu saja sambil membaca lembaran kertas ditangannya.
Aku yang kaget dengan perkataan dokter jo, semakin kaget dengan kecupan Jiyong
oppa di keningku.
“gomawo,
hunchae!!”kata Jiyong oppa tersenyum manis.
“jangan
seenaknya saja mengambil keputusan!!”kataku.
“dokter,
bukankah bisanya kau dipihakku kenapa sekarang jadi begini??”kataku kesal.
“begini Chaerin,
aku dipihakmu karena kau selalu menjaga anak-anak dirumah sakit dan mebuat
perkerjaanku lebih mudah karena anak-anak menurut padamu. Tapi hanya sekedar
lewat saja jiyong dapat membuat semua usia menjadi mudah di atur oleh para
dokter, sehingga kerjaku jauh lebih mudah. Jadi aku berpihak pada jiyong”kata
dokter jo.
“aku akan
mengadu pada dokter lee!”kataku.
“percuma,
karena ini juga termasuk rencana dokter lee”jelas dokter jo.
“mwo?? Jadi
oppa, mengadopsinya hanya karena perintah?”kataku kesal pada jiyong oppa.
“anni chagi,
karena kau menyayanginya aku jadi menyanyanginya juga”kata jiyong oppa tersenyum
manis membuat jantungku berdetak keras.
“chaerin,
kenapa kau tidak mati saja?? Aku selalu dilupakan hyung bila ada kau
disini”kata seungri dengan wajah aegyo.
“aish.. kenapa
kau begitu? Kau tak tahu, disini banyak wanita cantik. Mau aku kenalkan pada
mereka?”tawar dokter jo.
“ghojimal!!
Bila ada wanita cantik kenapa kau masih single?!”kata seungri.
“itu karena...”
“karena dokter
jo mengincar dokter lee”jawabku tersenyum.
“chaerin, makan
obatmu!”kata dokter jo yang langsung keluar dari kamarku.
“sepertinya
dimalu”kataku terkekeh. Jiyong oppa menatapku lekat.
“aegy ada, appa
ada, omma ada. Ah, sebaiknya aku keluar sebelum jadi pengganggu.”kata seungri
yang keluar dari kamarku.
“sebaiknya aku
tidur dulu”kataku sambil naik kekasurku menutupi tubuhku dengan selimut dengan
gugup.
“tidurlah”kata
jiyong oppa lembut.
"tapi,
ingat jangan terlalu lama tidurnya! karena bayi kita juga sudah lama tidak
bertemu ibunya"kata jiyong oppa.
"mwo? uri
bayi??? kalau tidak ingin dilempar botol oksigen sebaiknya oppa jangan bicara
yang aneh!"kataku sambil menunjuk botol oksigen. disisi kananku.
"lihat
baby, ommamu begitu manis"kata jiyong oppa tersenyum manis. sambil melirik
si baby. seakan-akan sedang berkomunikasi dengan baby itu. aku melemparkan
sebuah guling dan berhasil mengenai ketubuhnya. jiyong oppa hanya tertawa. aku
pun berusaha tidur kembali.
TBC
Tidak ada komentar:
Posting Komentar