jangan lupa

JANGAN LUPA KOMENTAR YA..

Jumat, 29 Maret 2013

BUT LOVE (FF SKYDRAGON) 2 END


BUT LOVE #5

AUTHOR: MAHARDIKA PUTRI
CAST: CHAERIN (CL 2NE1), JIYONG (GD BIG BANG) dan Jo Jung Suk


saat terbangun jiyong oppa ada disisi kasurku sedang mengendong bayi dan melihat ke arahku.
“wah, ommamu sudah bangun. Saatnya kita pulang, baby!”kata jiyong oppa.

“wae dia pulang juga? Bukankah aku ommanya?”protesku.

“ini rumah sakit, sumber penyakit untuk bayi. Kau fokus saja pada pengobatanmu”kata dokter lee.

“ne, dokter. Aku ingin mengendongnya terlebih dahulu,sini!”kataku. jiyong oppa memberikan bayi itu perlahan kepadaku.
CLEKKK!!

“lihat, lihat, benar-benar seperti keluarga!”kata seungri sambil memamerkan hasil photonya, aku tidak tahu dia datang dari mana.

“kau belum pulang?”kataku kaget.

“kau mengusirku?ckckck... kau sungguh kejam”kata seungri tak peduli.

“hasilnya bagus”kata jiyong oppa.

“chaerin kau mau melihatnya?”tawar jiyong oppa.

“anni”jawabku.

“gojimal!”kata jiyong oppa sambil memperlihatkan foto kami bertiga. Ne, disini kami seperti keluarga. Bayi yang tenang di gendongan, aku yang tersenyum lembut mengendong bayi dan oppa yang tersenyum melihat kami. Seperti inikah rasanya punya keluarga??

“bagaimana? Bagus bukan. Ngomong ngomong kalian belum memberikanya nama. Nama apa yang mau kalian berikan padanya?”kata seungri tanpa peduli dengan jawabanku yang sebelumnya.

“ne, sebaiknya namanya siapa?”tanya jiyong oppa kepadaku.

“bagaimana kalau baby panda? Dia bertubuh gemuk dan lucu sepertiku. Dan pasti dia akan tampan sepertiku”kata seungri oppa tanpa rasa bersalah.

“andwe.. karena aku takut bayi ini akan yadong sepertimu”kataku sambil menatapnya tajam.

“aish.. kau begitu menakutkan chaerin. Bagaimana mungkin hyungku bisa menyukaimu?”katanya. jiyong oppa hanya terkekeh sambil meraih bayi digendonganku dengan lembut.


“kami pulang dulu, omma! Cepat sembuh!”kata jiyong oppa.

“hem,.. bayinya!”protesku.

“kalau kau mau bertemu dengannya. Kamis hingga minggu bukankah kau boleh berobat jalan bila sehat? Kau bisa melihatnya di apartemenku. Kalau begitu cepatlah sehat.”kata jiyong oppa melangkah pergi dan seungri mengejekku dengan menjulurkan lidahnya.

“dokter.. bayinya..”kataku deengan tatapan lirih ke dokter lee.

“kau sudah tahu aku tak akan tertipu dengan tatapanmu itu! Kau harus sehat, bila ingin bertemu denganya!”kata dokter lee.

“tapi, itu bayiku!!”

“mwo?? Bayimu? Kau yang melahirkanya? Jiyong yang mengadopsinya jadi, dia appanya. Kalau kau ingin bayinya maka segeralah menikah dengan appanya”kata dokter lee pergi begitu saja sambil tertawa. Wajahku terasa panas. Bukan marah tapi, ini karena rasa malu.



-Jiyong pov-
“semenjak dia koma. Jantungnya berdetak tidak normal. Bukan berdetak cepat malah melambat. Seakan-akan jantungnya lelah berkerja. Mungkin karena koma terlalu lama dan chaerin tidak berolah raga jantungnya menjadi malas berkerja.”kata dokter jo.

“itu berbahaya dok?”tanyaku.

“tentu saja. Tapi, asalkan kau tetap disisinya mungkin akan berbeda”

“maksudnya?”

“kau orang yang dicintai chaerin, satu-satunya orang yang membuat dia berdebar.”kata doketer jo. Aku tersenyum malu.

“dokter mengerjaiku?”kataku. dokter pun tersenyum.

“tunjukkan tulus dan kasih sayangmu padanya. Agar dia tidak menyerah untuk hidup. Jantungnya mulai melemah setelah koma. Bila di oprasi juga tidak akan menjamin chaerin bisa hidup. Karena sebelumnya dia sudah dioprasi. Agar sehat dia harus oprasi dengan jantung manusia. Tapi, itu tidak akan mudah.”kata dokter jo.

“kenapa tidak mudah? Aku akan membeli jantung itu atau aku akan mendonorkan jantungku”kataku.

“ini jantung, berbeda dengan ginjal. Semua orang membutuhkan jantung. aku juga sudah membicarakanya dengan chaerin sbelumnya dan chaerin tidak ingin mengunakan jantung orang lain.” Jelas dokter jo.

“kenapa chaerin harus menderita begini?”kataku sambil menjambak rambutku sendiri. Rasa kesal dan marah menyelimuti diriku. Kenapa aku tidak bisa melakukan apa-apa untuk orang yang ku cintai??




----- chaerin pov-------
Hari kamis, aku boleh pulang. Rasanya senang dan canggung. Sebelumnya aku tidak pernah pulang, menghabisakan setiap hari dirumah sakit dan terkarang jalan-jalan dengan dokter Jo. Bukan karena penyakitku juga tapi, memang tidak ada tempatku untuk pulang.
“heh, yeoja seperti apa kau ini?? tak ada barang yang kau bawa.”ledek dokter lee.

“memang apa yang harusku bawa?”tanyaku polos.

“bukankah kau akan menginap disana?”kata dokter lee.

“ne”jawabku.

“kenapa kau hanya membawa baju pasien?”

“karena hanya ini yangku punya”kataku.

“oh, ne. Aku lupa. Setiap malam kamis kau kan meminjam bajuku.”kata dokter lee mengaguk-angguk mengerti.

“jadi, siapa yang mengantarku?”tanyaku kepada dua dokter dihadapanku.

“tentu saja appamu. Ommamu ini akan menjaga rumah.”kata dokter lee sambil mendorong2 dokter jo.

“appa?? omma katamu?? aish.. aku malas meladenimu. kajja, chaerin! Sebelum aku ada panggilan untuk memeriksa pasien” Kata dokter jo.


kami masuk kesebuah rumah, ruah yang besar. Ada kandang anjing disisi kanan.
“gaho”kataku, anjing itu pun mendekatiku. Aku mencubit pipinya yang penuh dengan kulit itu dan dibelakangnya aku melihat seekor anjing yang mirip dengan gaho.

“apakah dia kekasihmu?”tanyaku.

“ne, dia jolie kekasih gaho.masuklah!”kata jiyong oppa yang menghampiri kami dengan senyuman. Dengan sedikit takut aku mengikutinya.

“wae? Kau takut? Atau kau sedang memikirkan yang tidak-tidak? ”kata dokter jo yangtak jauh dariku.

“anni!”kataku berbohong.

“lihat sendiri”kata dokter jo sembil menunjuk alat penghitung detak jantung berbentuk gelang ditanganku. Terdengar suara mobil berhenti dari arah pagar.

“untung aku tidak tertinggal momen penting”kata dokter lee yang muncul tiba-tiba dengan 2 kantong plastik besar di kedua tangannya.

“apa itu?”kata dokter jo sambil menunjuk plastik di tangan dokter lee.

“baju untuk uri chaerin”kata dokter lee tersenyum. Dokter satu ini kalau tidak sedang berkerja memang sedikit aneh dan menyebalkan.
kami masuk kedalam rumah.

“dimana bayinya?”tanyaku langsung.

“dikamar, sedang tidur”kata jiyong dan kami melihat bayi itu kekamarnya.

“so cute”kataku.

“hm.. dari pada kami menggangu, kami pergi dulu”kata dokter lee sambil menarik dokter jo.

“shireo!! Aku tidak mau pergi denganmu”protes dokter jo.

“wae? Kau hanya jadi penggangu dikeluarga bahagia ini. Bukankah kita sebagai ajuma dan ajussinya juga punya urusan lain”kata dokter lee.

“siapa ajussi yang kau maksud? Ajuma itu jelas kau karena sudah tua. Ckckck...perawan tua”kata dokter jo.

“kalau begitu cepat nikahin aku”kata dokter lee.

“kalian bisa diam tidak? Nanti bayi ini terbagun”kataku tak tahan. Lalu, segera terdengar suara tangisan bayi. Dokter jo dan dokter lee reflek keluar dari kamar bayi. Aku menggendong bayi agar tak menagis lagi.

“mianhe omma, chagi!”kataku sambil mengecup pipinya.

“kalau oppa berkerja siapa yang menjaganya?”tanyaku pada oppa.

“hehehe.. terkarang aku menitipkanya pada bom atau dara nuna. Tapi, bila mereka tidak bisa maka ada pengasuh yang menjaganya.”jelas jiyong oppa.

“mereka tidak terganggu?”tanyaku.

“anni. Tenanglah, mereka juga menyayanginya.”kata jiyong oppa



@tempat lain

“kau harus merelakan gadis itu!”

“aku sudah merelakannya untuk namja yang dia cintai. Aku juga senang dia bahagia. Tapi, hati ini terasa sakit.”

“itu tandanya mereka harus mengantikanya dengan yeoja lain, seperti aku.”

“hey dokter lee, dimana akal sehatmu? Tidak mungkin namja swag dan tampan sepertiku menyukai yeoja sepertimu.”

“kau... hay jo jung suk! Lihat saja nanti kau akan menyesal”teriak dokter lee. Dokter jo hanya cuek saja sambil masuk kemobilnnya.


-02.48 Malam
Aku terbangun karena suara tangisan bayi, aku berlari menuju kamarnya tapi, bayi itu sudah diam. Saat aku melihat kekamarnya jiyong oppa sudah disana sambil mengendong bayi dagan dot ditangannya.
“kau sudah pulang?”tanyaku.

“ne, baru saja. Karena biasanya jam segini dia akan menangis ingin susu.”kata jiyong oppa tersenyum manis.

Aku terbangun, tubuhku terasa sakit. Aku tertidur dengan posisi duduk dan menyandarkan kepalaku di box bayi. Tanganku menyentuh perut bayi sedangkan diatas tanganku ada tangan jiyong oppa dengan posisi tidur yang sama denganku. Hatiku terasa sakit, aku ingin terus seperti ini. Apa aku termasuk tidak bersyukur? Aku hanya ingin bahagia.

“Chaerin, apakah kau melihat jam tanganku di ruang TV?”tanya jiyong oppa.

“ne, oppa”kataku sambil mengambil jam tangannya yang tidak jauh dariku dan memberikanya pada jiyong oppa yang sedang kesulitan mengenakan dasi. Ini aneh karena jiyong oppa tidak akan meletakkan barangnya sembarangan dan biasanya bisa mengenakan dasi.

“chagi, tolong aku mengenakan dasi!”katanya.

“ah, ne!”kataku dengan cepat memegang dasinya.

“biasanya kau bisa mengenakannya sendiri”kataku sambil memasangkannya dasi. Dia tersenyum manis.

“chamkkam!! Mwo?? CHAGI???”kataku kesal dan kaget setelah sadar dengan perkataannya sambil melepaskan dasinya dari tenganku.

“jangan marah!”katanya sambil memelukku dari belakang. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Namja ini berhasil membuatku tak berkutik.

“kau mau kemana mengunakan baju rapi?”tanyaku.

“hem.. nanti aku menghadiri acara penerimaan penghargaan. Aku tidak akan pulang larut malam. Karena ada keluargaku yang menunggu dirumah.”katanya sambil melepaskan pelukannya dan mengecup keningku.

“selama aku pergi, kau harus memikirkanku dan memikirkan nama anak kita”katanya sambil berlalu pergi. Memikirkanmu membuat aku tak ingin pergi darimu oppa. Aku takut setelah aku terbiasa bersamamu aku akan pergi selamanya darimu.



--author pov--
jiyong menarik pelan chaerin kemobil
“wae? Kita mau kemana?”tanya chaerin yang mengendong bayi ditanganya.

“liburan keluarga”jawaban singkat darinya sambil tersenyum manis.



@sebuah Cafe
“wae aku disini?”tanya namja bersuara berat.

“kan tadi kau yang ingin ikut denganku hyung”jawab seungri yang didepannya.

“ne. Tapi, aku tak mengira aku akan menjadi tumbal agar mereka tidak ada yang memperhatikanya!”kata T.O.P.

“sudahlah hyung.. bukankah disini banyak yeoja cantik.”

“eish.. aku tak tahan lagi! Aku akan pergi”kata TOP. Seungri mengangkat teleponnya.

“mwo?? Changkamman hyung. Jiyong hyung akan membelikanmu figure yang kau idamkan saat di toko mainan jepang kemarin. Apakah kau tetap ingin menemaniku disini hyung?”kata seungri penuh senyuman.

“jinja??”tanyanya. seungri mengaguk pelan.

“sepertinya aku akan tetap disini untuk sementara”kata TOP sambil kembali duduk.

Jiyong mendorong kereta bayi, sedangkan chaerin menggandengnya.
“kenapa jalan begitu sepi tidak seperti biasanya?”tanya chaerin.

“aku tidak tahu”kata jiyong berbohong. Suaranya sedikit tidak jelas karena ditutupi masker.

“oppa, kenapa dicafe itu sangat rame?”

“mungkin karena yang tersedia disana sangat enak.”jawab jiyong.

“boleh kita mencobanya?”

“lain kali saja. Kasihan baby G”

“oh, ne oppa”kata chaerin menurut. Chaerin dan jiyong mengobrol dengan asik, chaerin lupa dengan keinginannya yang ingin berpisah dari jiyong.
mereka duduk disebuah bangku taman. Jiyong mengendong bayi sambil mencium bayinya sesekali.

“ommo, apakah kalian pengantin baru?”tanya seorang ajumma. Jiyong dan chaerin sudah panik, takut identitas jiyong ketawan.

“bayi kalian begitu lucu. Bila ada yang flu jangan sampai dekat dengan bayinya.”nasehat ajumma itu sambil melihat ke jiyong yang mengenakan masker.

“oh, ne!”jawab chaerin tersenyum.

“aish.. kalian bagitu ceroboh. Bayi kalian bagitu tampan. Kalian begitu serasi. Lain kali hati-hati”kata ajumma itu.

“oh, ne.. gomawo”jawab chaerin dan jiyong bersamaan. Jiyong dan chaerin saling melihat dan tertawa bersamaan.





@tempat lain.
“lain kali jiyong harus merasakan hal yang sama”kata TOP yang dikerubungi yeoja.

“sudahlah hyung nikmati saja!”kata seungri tersenyum yang membiarkan yeoja-yeoja itu memfotonya.

“aish.. aku tak tahan lagi. Kalian bisa tenang tidak?berikan kami ruang.”kata TOP pelan dan cepat seperti mengerapp. Dalam seketika yeoja-yeoja itu menjaga jarak, memfoto mereka dengan jarak jauh dan menjadi lebih tenang.

“kadang aku bingung dengan para VIP”kata TOP sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Jiyong sudah menyiapkan makan malam.
“whua.. sepertinya enak”kata chaerin.

“ayo makan!”tawar jiyong.

Saat chaerin memakan suapan sendok terakhir. Jiyung memegang gelas berisi air dan tissu.
“minumlah!”kata jiyong sambil memberika gelas dan tissunya. Chaerin menerima dengan malu.
Jiyong mengantar chaerin kembali kerumah sakit.

“oppa, kau selalu menjaga dan merawatku. Kau tidak memikirkan perasaan kiko?”tanya chaerin.

“aku sudah berpisah darinya setelah aku melihatmu dengan dokter jo di saat festival musik itu”jawab jiyong.

“kau tak menyesal?”

“tidak akan ada yang perlu kusesalkan asal bersamamu. Ayo turun, dokter jo telah menunggu”kata jiyong dengan senyuman tulus.



--chaerin pov—
“apa yang kau pikirkan chaerin?”tanya dokter jo kepadaku yang sedang termenung memikirkan sesuatu.

“kau dokter! Seharusnya kau mengatakan kondisi kesahatanku sebenarnya dokter.”kata tenang.

“kau sudah punya wali sekarang. Aku tidak perlu mengatakan kondisimu langsung kepadamu”

“dokter, apakah sebentar lagi aku akan mati?”tanyaku langsung.

“kau jangan menyerah, kau ingin hidup? Kau bisa mencari pedonor jantung.”

“setiap orang memerlukan jantung. Aku takut saat aku hidup dengan jantung orang lain, jantungku tidak lagi berdetak untuk jiyong. Aku takut aku tidak b isa mencintainya lagi. Kita sudah membahasnya kan dok?!”kataku tersenyum.

“bukankah tidak masalah untuk dicoba?”

“aku sudah menganalisanya dokter dan menanyakanya pada orang yang menerima donor jantung. Malah ada yang menerima donor jantung malah mencintai kekasih si pendonor. Jangan memberi tahu kondisiku kepada jiyong semuanya dok! Kau yang membuatku menempuh jalan ini, jadi biarkan aku dan jiyong oppa menjalani cinta ini tanpa rasa takut. Saat aku sangat bahagia rasa takut selalu datang, takut bila kebahagian ini diganti dengan tangisan”kataku. Dokter jo hanya menarik napas dalam dan menghembuskannya.

“jiyong, aku, dokter lee dan bayi kalian ingin kau tetap hidup. Aku mohon, jangan menyerah untuk hidup”kata dokter jo.

“hay nona chaerin, kekasihmu yang tampan itu belum menjangukmu?”kata perawat yang baru saja masuk dengan troli makanan.

“mungkin nanti.”jawabku dengan tersenyum. Aku merindukanmu jiyong oppa.




--jiyong pov--
Aku berlari menuju kamar chaerin. Infus dan selang-selang sialan itu kembali berada di tangannya. Bahkan wajahnya yang pucat itu bernafas dengan oksigen. Rasanya aku ingin menangis melihatnya. Tapi,dia melihatku dengan senyuman. Dokter jo yang didekatnya melangkah pergi meninggalkan kami berdua.
“kenapa kondisimu tiba-tiba memburuk?”tanyaku lembut sambil tersenyum. Aku mengelus-ngelus kepalanya lembut.

“tadi aku menonton di TV ada vidio clipmu, aku sangat cemburu.”katanya lemah. Aku tahu dia berbohong. Dia bukanlah orang yang akan cemburu melihat MV ku yang bersentuhan di TV.

“itu hanya acting. kau tahu aku sangat cemburu kedekatanmu dengan dokter jo”

“wae? Aku tidak cantik tidak mungkin oppa cemburu. Wajar saja aku cemburu, karena semua yeoja menginginkamu”katanya lemah. Rasa sakit dihatiku karena melihat dia begitu menahan rasa sakitnya disaat dia berbicara.

“pabo!! Walau orang mengatakan kau biasa saja tapi, itu tak berlaku denganku. Melihat kau dengan namja lain membuatku sakit. Melihatmu sedih hatiku terasa sakit. Melihat kau sakit begini aku hatiku terasa sangat sakit. Istirahatlah agar cepat sembuh. Tenanglah, aku ada disini. Seharian aku akan menjagamu”kataku berusaha tersenyum. Dia memejamkan matanya. Ada tetesan air mata yang keluar dari matanya tapi, aku pura-pura tak melihatnya. Dia menyembunyakan rasa sakitnya dariku.
Hari kamis, seperti biasa dokter jo dan dokter lee mengantarkanya kerumahku. Wajahnya terlihat sangat pucat. Tapi, aku pura-pura tak menyadarinya dan tersenyum untuknya seperti biasa. Chaerin aku tak ingin melihatmu begini.



---chaerin pov---
kugendong bayi yang awalnya dengat tenang tidur dibox bayinya. Umurnya sudah 8 bulan sekarang, tubuhnya menjadi gemuk. Jiyong oppa bukan ayah kandungnya tapi, kenapa wajahnya mirip dengan jiyong oppa. Bahkan tidak aku saja yang mengatakannya.
“bukankah kau sebaiknya beristirahat?”kata jiyong oppa yang tiba-tiba datang dan memelukku dari belakang. Nafasnya terasa dileherku.
“ayolah oppa! Ini masih siang. Tidak enak bila aku hanya tidur saja seharian.”kataku. lalu dia tertawa dan melepaskan pelukanya.

“wae oppa?”tanyaku bingung.

“aku, kau dan Baby G sangat suka tidur. Bukankah kita seperti keluarga beruang? Swag!”katanya berlalu masih sambil tertawa pelan. Ne, oppa benar. Kita seperti keluarga beruang.

“ngomong-ngomong kenapa kau masih dipanggil Baby G, chagi?? Namamukan yongchi, lee yongchi”kataku pelan sambil mencium pipi yongchi.




Dokter Jo tiba-tiba membawaku ke aula rumah sakit.
“untuk apa kita disini, dokter Jo?”tanyaku saat berada didepan pintu aula. Pintu terbuka. Artis YG family, keluarga jiyong oppa dan beberapa kenalanku ada disini dengan pakaiyan pasien. Jiyong oppa berdiri dengan pakaian pasien juga. Apa ini? kenapa ada musik penikahan?

“siapa yang menikah dokter?”tanyaku. aku dan dokter jo berjalan perlahan dikarpet merah.

“tentu saja kau!”kata dokter jo simple. Seorang anak kecil berbaju pasien memberikanku bunga dari pipa infus, walau sederhana sangat cantik. Aku melihat Yongchi digendong dengan bom onni dan tangannya melambai-lambai digerakan dengan dara onni.

“kalian bercanda?”tanyaku tak percaya. Dokter jo tidak menjawabku.

“ok, untuk mempersingkat waktuku yang sangat berharga ini. Aku akan bertanya padamu Kwon jiyong dan jawablah dengan cepat dan tepat karena waktuku sangat berharga. Ingat aku tak akan mengulanginya. Kwon jiyong apakah kau bersedia menikah dengan lee chaerin menemaninya saat senang, duka, sakit, dan hingga ajal memisahkan kalian?”kata TOP oppa dengan cara ngerapp. TOP oppa memakai kostum dokter dan berdiri dipodium.

“aku bersedia!”kata jiyong oppa. Jantungku berdetak kencang ini karena aku sangat senang.

“lee chaerin, apakah kau mau menemani namja yang bernama kwon jiyong ini seumur hidupmu?”tanya TOP oppa.

“aku bersedia”jawabku dan jantungku tetap tak normal. Penghitung detak jantung dipergelang tanganku berbunyi-bunyi petanda jantungku tidak normal dan itu tidak baik.

“kalian resmi menjadi suami-istri.tugasku selesai. Kwon jiyong silahkan mencium istrimu!”kata TOP oppa yang turun dari podium. Jiyong oppa yang sadar dengan cepatnya detak jantungku segera memelukku.

“tenanglah, aku disini. Aku selalu bersamamu aku tak ingin kehilangan kamu lagi. Tarik nafas dalam-dalam dan buang perlahan”kata jiyong oppa. Dipelukannnya jantungku menjadi lebih tenang.



---- 1 tahun kemudian---
Sekarang hanya 1minggu dalam sebulan aku bisa di rumah. Yongchi tetap tidak bisa menemuiku bila aku dirawat dirumah sakit walau sekarang dia sudah bisa jalan. Ne, umur yongchi sudah 1,8 bulan.
“bolehkah aku pulang besok dokter?”tanyaku pada dokter jo.

“tidak!”

“ayolah dokter .. yongchi sudah lama tidak bertemu dengan ibunya.”rayuku.

“ok, tapi. Hanya 4 hari. 3hari lagi di akhir bulan ini. Aku akan mengabari jiyong agar nanti malam kau dijemputnya. Jangan lupa untuk menjaga kesehatanmu”kata dokter jo.

“ne..”jawabku semangat.

---jiyong pov---
yonchi berlari dari mobil kearah chaerin sambil memeluknya.
“omma!!” teriak yongchi.

“my boy!!”kata chaerin dengan senyuman.

“kau merindukan omma?”tanya chaerin sambil mengendong yongchi berjalan ke mobil.

“ne!”jawab yongchi menangis.

“maafkan omma, uh?”kata chaerin sambil masuk kemobil dengan hati-hati karena yongchi di gendongannya. Seperti biasanya sepanjang perjalanan chaerin bernyanyi denga yongchi walau yongchi tidak mengucapkan dengan benar. Aku tersenyum melihat mereka. Mereka begitu mirip.



seharian kami gunakan untuk pinik, menonton film bersama dan berusaha membuat kenangan indah sebanyak mungkin. Saat malam hari yongchi masuk kekamar kami dengan bantal ditangannya, di belakangnya ada chaerin yang tertawa melihat yongchi berjalan dengan lucu.
“kenapa yongchi tidur disini?”kataku polos.

“aku ingin tidur dengan my boy”kata chaerin sambil tersenyum. Yongchi naik kekasur dengan sulit. Aku segera mengangkatnya ke kasur.

“yongchi sejak kapan kau jadi musuh appamu?”kataku bercanda. Yongchi hanya tertawa karena aku tak menurunkanya ke kasur.

Pagi-pagi chaerin sudah memandikan yongchi. Anni, lebih tepatnya bermain air sambil bercanda.
“yongchi, apa kau sayang omma?”tanya chaerin. Yongchi mengaguk.

“cium omma!”kata chaerin sambil jongkok agar yongchi dapat menciumnya. Yongchi mencium bibir chaerin.

“aku juga mencintaimu, omma”kataku pada chaerin ikut jongkok agar aku dapat menciumnya.

“mwo? Apa yang kau bilang oppa? Sebaiknya kau mandi dulu, menyikat gigimu”kata chaerin tertawa. Aku memanyunkan bibirku, berexpresi kesal.

“kau sayang appamu ini, peluk appa”kata chaerin. Yongchi keluar dari bathup, tubuh kecilnya basah masih penuh dengan busa memelukku.

“ak.. appa jadi basa!”kataku. chaerin memelukku sambil tertawa. Keluargaku yang begitu bahagia.

“mwo?? Tidur disini lagi?”tanyaku pada chaerin.

“ne.”kata chaerin mengaguk mantap.

“chagi, kau di tengah ne?”kataku.

“andwe.. nanti yongchi bisa jatuh.”kata chaerin.

“ne..”kataku mengalah. Dan aku bercanda dengan yongchi sebelum tidur. Mendengar ketawanya begitu menyenangkan, pasti chaerin jiga merasakannya.

“chaerin ini sudah pagi”kataku membagunkanya. Tapi, chaerin tidak bangun juga. Aku segera memandikan yongchi.

“omma! Omma!”kata yongchi setelah mengenakan pakaiyannya berusaha membagunkan chaerin tapi, chaerin juga tak bangun.

“chaerin, kenapa kau belum bangun hem? Aku akan pergi dengan yongchi membeli sarapan dulu.”kataku pamit dengan chaerin yang tidur.
saat kami pulang chaerin masih tidur dikasurnya. Aku mendengar seseorang memencet bel, aku pun segera membukakan pintu.
“dokter jo! Silahkan masuk”kataku sambil tersenyum.

“mana chaerin?”tanyanya panik.

“sedang tertidur”jawabku.

“dimana? Kenapa jam segini masih tidur”kata dokter jo panik sekali.

“tenang, dari dulu chaerin memang tidur selalu lama. Dia hanya kecapekan bermain dengan yongchi”kataku

“dia dimana?”kata dokter jo dengan nada tinggi.

“dikamar”kataku bingung. Dokter jo langsung menuju kamar dan aku mengikutinya. Dokter Jo menyentuh leher chaerin mengecek detak jantungnya. Lalu menekan dada chaerin dengan kedua tanganya.

“kenapa begitu? Chaerin bisa kesakitan”kataku. Aku merasa ada sesuatu yang buruk. Aku sudah tahu, atau aku yang pura-pura tidak tahu.

“aku terlambat. Chaerin sudah pergi”kata dokter jo.

“kau bercanda. Chaerin tidak kemana-mana, dia sedang tertidur disini. Lihat, dia masih disini”kataku tak terima. Dokter jo memegang kedua bahuku.

“dengar dan lihat aku! Dia menipu kita dengan merusak alat menecek detak jantungnya, termasuk alat yang dikamarnya. Aku baru tahu tadi setelah dokter lee curiga dengan alatnya yang selalu normal. Sekarang chaerin sudah mati, Pergi meninggalkan kita.”jelas dokter jo. Aku menangis sedih. Aku tidak mau percaya ini semua. Chaerin, kumohon segeralah bangun.



---5 tahun kemudian—author pov--
“tumben anak tampan itu belum dijemput”

“ne, biasanya orang tuanya selalu cepat menjempuntnya. Apakah kalian pernah bertemu dengan orang tuanya?”

“anni. Orang tuanya tidak pernah keluar dari mobil. Bahkan tidak hadir dipertemuan orang tua dan mendatangkan seseorang untuk menjadi perwakilanya.”

“lihat! Lihat itu mobil orang tuanya.”kata ajumma yang lain.

“ne itu mobilnya”

“dia membuka pintuny!”

“ommo.. ommo..”kata ke 4 ajuma itu berbarengan.

“ommo! Bukankah itu G-Dragon??”histeris salah satu ajuma yang spontan. Jiyong berjalan ke arah yongchi, yongchi yang sadar karena histeris para ajuma berhenti bermain dan melihat appanya.

“chagi, ayo pulang! Omma sudah menunggu”kata jiyong tersenyum yongchi pun berlari pelan kearahnya.

“appa kenapa turun dari mobil?”kata anak namja itu penuh amarah.

“mwo?? Appa?”kata ajuma itu lagi.

“kau asik bermain. Kita sudah membuat omma menunggu jadi appa segera menghampirimu”jawab jiyong dengan penuh senyuman dan berbicara dengan jongkok agar dapat berhadapan dengan anaknya.

“appa, kau turun dari mobil artinya melanggar janjimu. Lihat ajuma-ajuma genit itu tidak berkedip. Mereka memujamu appa”protes anak namja itu sambil menujuk sekelompok ajuma yang masih terpesona denga jiyong.

“kau jangan seperti itu! Itu tidak baik!”kata jiyung menasehati anaknya.

“appaku begitu mencintai ommaku! Ingat itu ajuma genit”teriak yongchi.

“mianhe atas perkataan anakku”kata jiyong.

“anakmu?”tanya salah satu dari mereka yang sudah sadar dari gelombang kharisma jiyong.

“ne”jawab jiyong tersenyum ramah lalu menggandeng anaknya pergi kemobil.

“anaknya?? Tidak mungkin. Menikah saja sebulum”kata ajumma itu. Lalu dia melihat ke teman-temanya yang masih belum sadar, masih terpesona dengan jiyong.



@pemakaman
“omma, appa dapat penghargaan lagi! Aku sekarang belajar musik dengan appa, taeyang ajussi, dan daesung ajussi. Saat appa berkerja aku tak akan menggangunya karena TOP ajussi selalu meminjamkan mainannya untukku dan terkadang juga bermain denganku. Omma, kau ingat panda ajussi? Seungri ajussi selalu memangilku rillakuma. Padahal aku tak seperti beruang. Tapi, panda ajussi mengajariku dance dengan menyenangkan. Oh ne, anak dokter jo dan dokter lee sudah lahir 2 hari lalu. Seorang yeoja sangat cantik. Omma, aku kangen denganmu”kata jongchi dengan senyuman.

“chaerin, kau lihat anak ini sudah semakin besar. Dia sangat menjagaku. Dia selalu marah bila ada yeoja mendekatiku. Beberapa hari lalu ada pertemuan orang tua tapi dia melarangku untuk datang dan aku tidak datang. Karena aku ingin tahu apa yang dipikirkanya hingga melarangku datang aku meminta seseorang menggantikanku. Ternyata dia tidak mau orang tua siswa lain mendekatiku. Sepertinya kau memintanya agar aku tak menggantikanmu.”kata jiyong tersenyum. Jiyong memegang lembut kedua pipi anaknya dan menatap matanya lekat.

“uri omma, chaerin,menjadi nomor satu dan hanya satu-satunya untuk kwon jiyong. Selamanya, karena lee chaerin adalah duniaku.”kata jiyong meyakinkan anaknya.

END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar