"hey, pergi kau bayi!"kata seorang pria yang mengenakan seragam sekolah.
"aku bukan bayi!"kata anak kecil didepannya.
"ada apa?"tanyaku dengan mendekati mereka.
"tidak, kak!"kata anak laki-laki berseragam itu.
"kalau begitu pergilah!"pintaku anak-anak SMA itu pun berlari pergi meninggalkan anak sekolahan dengan tubuh lebih kecil.
"kau tak apa-apa?"tanyaku.
"ia"jawabnya takut. Aku memegang tangannya.
"tenanglah! namaku Jita. siapa namamu, dek?"tanyaku ramah dengan tersenyum. Dan dia diam saja.
"kenapa anak SMP disini, inikan SMA? apakah kau mencari kakakmu?"tanyaku. Anak kecil itu hanya diam sambil menatapku.
"kau bisa pulang sendiriankan? kakak ada urusan, aku pergi dulu. Bye!"kataku berjalan pergi tanpa mau menunggu dia menjawab. Aku kembali melangkah menuju sebuah cafe tempat aku dan kekasihku akan berkencan. Aku melihatnya, kekasihku dan aku segera duduk disampingnya.
"kita putus saja!"kata pria itu tiba-tiba, padahal aku baru saja duduk.
"kenapa? apa salahku?"tanyaku yang mulai menangis, tapi aku tahan walau efeknya seperti tidak ada.
"sadarlah, Jita! kau tidak cantik. Aku begitu populer dan tampan. Aku bisa mendapatkan gadis cantik dari pada kau."kata pria itu begitu saja dan pergi dengan tenang seakan tanpa beban. Aku menangis tanpa peduli dengan kepergian pria itu.
7 tahun kemudian.
"pagi, nona Jita!!"sapa karyawan yang dilewatinya. Aku tersenyum mengeluarkan pesonaku.
"ah, kau begitu cantik mbak!"kata salah satu karyawan pria padaku. Lagi-lagi aku hanya tersenyum.
"kau baru menikah 2 minggu lalu apa kau lupa?"kata Tasya pada pria itu.
"Jita, lihatlah! kau berbeda dari Jita yang ku kenal masa kuliah. Sekarang kau begitu mempesona. Membuat pria takhluk padamu."kata Tasya. Aku hanya diam dan menaiki lift.
-Ruangan Jita
"tolonglah aku, bu! Aku butuh uang itu. Pinjamkan aku uang"pinta karyawan pria.
"anda tau prosedurnya kan? jadi, saya tak bisa melakukannya."kataku sambil membaca dokumen diatas mejaku.
"aku membutuhkan uang itu untuk pernikahanku bulan depan."
"saya bukan orang baik pak. jadi,berhentilah memohon."kataku sambil membuka lembaran dokumenku.
"kau tak punya hati, Jita. umurmu jauh lebih muda 5 tahun dariku tapi, tak ada rasa menghormatiku."kata pria itu marah.
"aku tau aku tak punya hati. Tadikan sudahku bilang aku bukanlah orang baik."kataku santai. Pria itu memutuskan untuk keluar dengan penuh amarah, aku yakin itu.
Aku masuk kerumah dengan rasa lelah. Aku masuk kerumahku dengan setumpuk rasa lelah dipundakku. Seperti biasa keluargaku sudah berkumpul di meja makan.
"bagaimana persiapan pernikahanmu?"tanyaku pada Tita adikku. Dia sedikit takut untuk menjawabku.
"Sudahku bilang kalian menikah saja!Aku menerimanya dengan senang kok. tapi,bila kamu masih keras kepala kayanya aku membutuhkan apartemen mewah".kataku sambil mengambil makanan.
"bodoh! umurmu sudah 28 tahun. Kenapa kau masih bercanda juga!"kata ayah marah.
"aku tak bercanda"kataku serius.
"akh,aku tak tahan lagi! besok kau harus datang kekantorku!"kata ayah.
"ayah, aku sudah berkerja ditempat lain kenapa aku harus ke kantor ayah?"tanyaku. Ibu juga terlihat marah.
"aku akan mengenalkanmu pada karyawanku. Kalau perlu aku akan menempelkan fotomu disetiap sudut tembok"jelas ayah.
"ayah, aku tak sejelek itu sampai perlu melakukan hal itu."balasku.
"lalu, kenapa kau masih belum punya pacar?!"bentak ayah.
"sabar ayah! aku bukan tak laku tapi, aku tak punya hati."jelasku sambil mencium pipi ayah seakan yang aku ucapkan hanya sebuah lolucon.
"bukan tak punya hati. Tapi, kau yang tak mau menerima mereka."kata ibu mulai angkat bicara.
"baik. Jika itu mau kalian. Kalian saja yang pilihkan."kataku sambil mengunyah makananku.
"ok! kau tak boleh menolak"kata ayah.
"ok! Aku janji aku tak akan lari. Tapi,aku tak akan janji 2 minggu setelah menikah kami berpisah"kataku santai.
"anak macam apa kau!"teriak ayah sambil memegang belakang lehernya.
"kakak!"bentak Tita karena sikapku keteraluan, aku tahu itu tapi sulit bagiku menerima bagitu saja tentang hal ini.
"karena kau, ibu malu. Karena kau, adekmu menunda pernikahannya. Sekarang kau ingin ayahmu masuk rumah sakit?"kata ibu. Aku terdiam, kalimat ibu menusukku.
"ok. Aku akan berusaha. Kalian yang atur setelah itu bilang saja padaku"kataku menyerah.
"gadis macam apa kau?"kata ayah. Aku hanya diam.
Aku masuk kesebuah resto yang di jadwalkan untuk pertemuan perjodohanku. Hanya ada satu pria yang ada disini. Tapi,pria ini terlihat lebih muda dariku, jauh lebih muda.
"Zemi??"tanyaku. Dia tersenyum manis. Bodoh sekali pria ini mau dijodohkan denganku.
"silahkan duduk"katanya mempersilahkanku duduk di depannya. Aku memilih duduk disampingnya. Dia sedikit kaget dengan sikapku yang memilih duduk disampingnya.
"berapa umurmu?"tanyaku.
"22 tahun ini"jawabnya.
"astaga, aku kira aku akan dijodohkan dengan pria lebih tua dariku. Apakah ayah stress? Tapi, tidak apa-apa kau pasti tidak suka dengan perjodohan ini. Jadi, pasti akan cepat berakhir."kataku.
"tidak. Itu tidak akan terjadi karena aku yang meminta perjodohan ini."jelasnya membuatku terkejut tapi berhasil ku tutupi.
"umurmu baru 22 tahun. Bagaimana kau bisa menghidupiku?"
"15 tahun aku sudah masuk universitas. 17 Tahun aku sudah berkerja. Sudah 2 tahun aku memimpin perusahaan ayahku"jelasnya santai tanpa terkesan angkuh. Dikasih makan apa ini anak sampai sehebat itu?
"jadi kau setuju?"tanyanya.
"aku setuju"
"baik, pernikahan kita 3 minggu lagi. Bagaimana?"
"bukankah kita di beri waktu 2 bulan? pernikahan bukan seperti tanda tangan kontrak."
"tenang, semua akanku urus. Aku ingin mengenalmu setelah menikah saja"katanya.
"terserahmu saja"kataku malas, aku tidak peduli.
"aku lebih tua darimu kenapa tidak memanggilku.."
"kenapa harus memanggilmu kakak kalau sebentar lagi aku akan memangilmu honey, sayang atau mama."godanya dengan tersenyum.
"dasar anak-anak"celetukku.
"aku bukan anak-anak, aku calon suamimu."kata Zemi dengan wajah serius dan itu membuat dia terlihat dewasa.
Aku dan Tasya menonton tv dirumahku menghabiskan liburan bersama. Tapi, seseorang memencet bel mengganggu ketenangan kami.
"Sya,tolong bukain! Aku pakai celana pendek."kataku tanpa mau mengalihkan wajahku dari TV.
"ok,bos"jawabnya dan pergi ke ruang tamu untuk membuka pintu.
"cari Tita ya? Tita baru saja pergi."kata Tasya terdengar olehku karena rumah yang sepi. Aku berlari menuju pintu karena penasaran. Setahuku teman Tita jarang main di rumah atau menjemput Tita karena pacar Tita yang selalu siaga.
"kenapa kau disini?"tanyaku kaget melihat tamu di depan pintu.
"kau sibuk?"tanya pria itu.
"tidak"jawabku.
"baguslah"jawabnya penuh senyum.
"siapa dia?"tanya tasya bingung.
"aku Zemi, calon suami Jita"kata Zemi memperkenalkan dirinya sendiri. Tasya menatapku bingung aku mengaguk pelan.
"Ada apa?"tanyaku pada Zemi.
"kita pergi beli cincin dan pilih bajunya."ajaknya.
"ia deh. Aku siap-siap dulu. Kamu masuk saja." kataku sambil membuka pintu ruang tamu lebih lebar. Tasya mengikutiku kekamar.
"jadi dia?"tanya Tasya.
"ia"
"aku kira dia temen Tita. kau tak bercandakan?"
"tentu saja tidak."
"kau yakin menerima dia jadi suamimu??"
"aku tak punya pilihan. kau kan tau itu. telepon saja rico, suamimu untuk menjemputmu karena kami akan lama. "kataku sambil mengenakan bajuku.
"Ia...."
"aku pergi dulu"kataku sambil keluar dari kamarku.
Saat sampai Zemi mengandeng tanganku. Jujur saja ini pertama kalinya aku bergandengan sama pria.
"aku bergandengan denganmu terlihat aku jalan dengan adikku"kataku.
"Kau khawatir? tenanglah, penampilanmu tak seperti umurmu"katanya.
"aku harap begitu."jawabku malas. Zemi menarikku kesebuah toko jewwels, kami memilih cincin yang simple. Lalu kami memilih gaun. Setelah kami mengenakan baju, kami berfoto bersama.
"wah,kalian sangat serasi! Kalian sudah lama pacaran ya?"tanya pramuniaga.
"kenapa?"tanya Zemi.
"tidak.hanya saja kalian menikah begitu muda."jawab pramuniaga. Zemi tersenyum.
"kau bayar berapa dia?"tanyaku pada Zemi. Zemi tertawa dan pramuniaga bingung.
Hari semakin dekat dan undangan telah selesai di cetak, aku pun memberikan undanganku pada Tasya.
"asik, malam pertama tinggal 1 minggu lagi."goda Tasya sambil membaca undanganku.
"eh, melakukan "itu" tidak wajibkan?"
"tentu saja wajib"
"jadi, bagaimana kau melakuknnya?"
"hahaha..kenapa? kau gugup? biarkan suamimu yang berkerja, kau menerima saja."jawab Tasya dengan tersenyum yang tidakku mengerti.
"aku tak perlu menonton film "itu" kan?"
"bodoh. Tahun berapa kau lahir? kenapa begitu kolot?"
"kau yang bodoh, kau kan tau aku memang tak mengerti."aku tidak terima.
"tenang saja. walau dia masih muda tapi,dia tetaplah sorang pria."jawab Tasya tersenyum yang membuatku semakin kesal.
"aku sudah dewasa tapi, rumit bagiku rumit mengerti dengan kelakuan yang dewasa. Akh!"keluhku.
Hari pernikahanku, rasa seperti aku sedang memainkan adegan pernikahan. Semua begitu cepat, santai, dan BOOM acara siap 100% tanpa campur tanganku.
"tersenyumlah!"pinta ibu.
"kau begitu cantik kak"kata tita.
"kalau kau tak tersenyum, orang akan mengira tita yang akan memikah karena tita terlihat cantik dari pada kamu"komentar ibu.
"bukankah memang tita cantik dari pada aku"sanggahku. Ibu memukulku pelan.
tersenyumlah Jita, anggap kau bahagia seperti saat kau datang kepernikahan Tasya. Banyak yang datang, banyak yang memberikanku selamat.
Dan akhirnya selesai juga. Kami masuk kerumah Zemi. Ini tidak pertama kalinya aku kesini. Jadi aku langsung kamar dan mandi. Aku keluar dari kamar mandi dengan piama. Zemi duduk dipingir kasur dengan menatapku.
"kau tak bahagia?"tanyanya.
"aku senang"
"bahagia berbeda dengan senang."katanya masih menunduk.
"aku harus bagaimana?"tanyanya. Tiba-tiba dia didepanku, mengecup bibirku. Dia menyentuh pergelangan tangan kananku.
"ini ciuman pertamamu tapi, hatimu bahkan masih beraksi wajar."katanya sedikit frustasi karena aku tidak deg-degan atau pun merubah expresiku. Aku tahu dia selalu berusaha membuatku menyukainya.
"sudah, kita tidur saja dulu! bukankah kau sudah lelah mempersiapkan semuanya"kataku sambil tiduran dikasur.
"aku takut aku tidak bisa membahagiakanmu"katanya sambil merebahkan tubuhnya disampingku.
"jangan menyalahkan dirimu! Aku yang salah karena tak punya hati"kataku. Dia menghadap kearahku.
"tapi, kau berusaha mencintaiku? Aku janji aku tak akan mengkhianatimu"katanya
"kau fikir aku bodoh? Umur kita begitu jauh, tak lama lagi kau bosan dan mencari gadis lain"kataku dengan jujur.
"kau sungguh tak percaya padaku?"
"kita lihat saja nanti siapa yang benar"kataku.
"kau kira kau dipermainkan olehku? kau yang mempermainkanku, Jita."katanya lembut.
"sudahlah, aku sudah lelah. Kalau tidak mandi mendingan tidur saja.lagian ini malam pertama, kau malah marah begini."kataku menutup mataku.
"jadi apa yang harus kita lakukan pada malam pertama? Apakah kau tau?"godanya. Sial aku salah bicara jadi aku pura-pura tak mendengarkannya. Tapi, kecupan lembut yang aku terima darinya. Kali ini tidak hanya kecupan, ini adalah kiss.
"malam ini tidak hanya ciuman pertamamu yang hilang tapi, juga ciuman pertamaku"katanya,wajahnya masih dihadapanku.
"aku bosan melihat wajah datarmu, tersenyumlah!aku tak akan marah lagi."katanya. Aku tersenyum sebisaku, bibirku terasa kaku karena sulit bagiku untuk tersenyum.
"tak apa, asalkan kau berusaha."katanya sambil kembali ketempatnya.
"Jita.."
"hem.."
"aku boleh memelukmu?"
"kenapa tanya? Kau menciumku saja tidak minta izin kepadaku."kataku. Dia terkekeh dan mendekatakn tubuhnya padaku,dia memelukku. Wajahku tepat didada bidangnya sangat terdengar detak jatungnya yang kuat. Dia benar-benar menyukaiku.
Aku terbagun, Aku masih dipelukannya. perlahan-lahan aku bangun, dia menggegam tanganku secara tiba-tiba.
"Mau kemana?"tanyanya.
"tidurlah lagi, kau masih lelah. Setelah masak, aku akan membangunkanmu"kataku sambil melepaskan tanganya. Aku pergi ke dapur.
Aku meletakan minuman diatas meja makan. Tangan kokoh Zemi telah melingkar dipinggangku dari belakang, kepalanya disandarkannya dibahuku.
"Kenapa begitu pagi? Aku masih ingin memelukmu"kata Zemi.
"jangan bicara dileherku!!geli"kataku.
"aku tak memilikimu tadi malam"
"bukankah semua orang juga tau aku milikmu, kita sudah menikah"kataku.
"tapi, kita tidak berolahraga tadi malam"katanya sambil melepaskan pelukan dan duduk dikursinya. Aku mengambil makananya.
"umurmu berapa? Apakah kau tak tau semakin cepat punya anak, semakin hebat pasangan suami itu"jelas Zemi.
"aku baru tau"kataku sambil ikut makan.
"kenapa kau mau menikah denganku?"tanyaku.
"tentu saja karena aku mencintaimu. kalau hanya bermain-main dengan wanita seusiamu aku tak perlu menikah. Jika pernikahan ini untuk bisnis tidak mungkin karena aku sudah memegang perusahaan besar dan lebih besar dari pada perusahaan ayahmu."jelasnya sambil makan.
"kau jauh muda dari pada aku, kenapa jalan pikiranmu bisa sepanjang itu?"
"sayang, apa kau lupa aku ini anak cerdas. Kau penasaran dengan anak cerdas sepertiku?"tanyanya. Aku menganguk pelan, dia mengegam tanganku.
"kita buat yuk?"godanya.
"Habiskan makananmu!"kataku. Dia tertawa.
Aku menonton TV, dia tiduran dipangguanku.
"Kau manja sekali, seperti anak kecil"kataku. dia bangun dan menciumku. Singkat tapi dilakukannya berulang kali. Aku rasa aku mulai terbuai olehnya.
"apakah ini sudah tidak seperti anak-anak?"tanyanya. Tatapan matanya tak selembut tadi.
"tidak. Ini kelakuan orang dewasa."kataku. Dia segera menciumku lagi dan lagi.
Sudah hampir 2 bulan menikah. Sudah 2 minggu aku merasakan dicuekin Zemi. Handphoneku bergetar segeraku baca pesan yang baru masuk.
from: Tasya.
cepat berikan padanya.Dari pada dia minta pada gadis lain.
Tasya menakut-nakutiku. Apa benar semua cowok akan begitu?
pip! Pip! Pip! Pip! Pip! druk..(pintu terbuka) aku berlari kecil kearah Zemi yang baru pulang, melepaskan jas dan dasinya. Aku mengambil tasnya.
"aku lelah"keluhnya.
"kau mau mandi?"tanyaku.
"tidak, aku tidur saja."katanya. Tidak ada peluk, tak ada kecupan, dia juga tidak manja padaku lagi. Katanya dia mau membuatku jatuh cinta padanya tapi, apa ini??
Zemi pulang, seperti biasa dia pulang dengan wajah lelah. Tapi, kali ini wajahnya lebih pucat. Aku memapahnya ke kamar melepaskan sepatu dan kemejanya karena bisa oleh keringat. Tubuhnya demam.
Aku terbangun menganti pendingin panasnya. Dia belum juga sadar tapi, dia perlu minum obat karena panasnya belum turun. Kukunyah beberapa biji obat, ku masukan air kemulutku dan kumasukan obat-obat itu kemulutnya. Walaupun tidak semuanya setidaknya dia sudah minum obat. Aku tertidur lagi.
Saat aku terbangun langit sudah cerah. Aku cek suhu tubuhnya, demamnya sudah turun. Aku mengambil HPku, menelpon papa.
"maaf pa, Zemi sakit. Dia demam jadi tidak bisa masuk kantor hari ini"
"..."
"tenang pa, aku akan merawatnya. demanya belum turun. Tapi,dia belum bangun. Jika siang masih begini. Jita akan bawa kerumah sakit"
"..."
"ia pa"kataku dan menutup telepon.
"aku ke kantor ya?"kata Zemi tiba-tiba.
"Jangan kau masih perlu istirahat"kataku.
"kau khawatir padaku?"
"aku akan buatkan bubur untukmu"kataku pergi.
"aku kira hanya vitamin dan obat magh saja yang manis. Ternyata obat tadi malam yang kau berikan juga manis"katanya. Detak jantungku menjadi tak normal mendengarnya.
Aku menyuapinya makan bubur karena tubuhnya masih melemah.
"makan saja disupi gimana mau kerja?"ledekku.
"kerjaanku banyak bila tidakku kerjakan segera. Itu akan membuat liburan kita tertunda"
"jadi dua minggu ini?"
"tentu saja aku berkerja biar aku bisa berdua saja denganmu"
"kenapa harus berlibur. Kalau kau tidak lembur kita kan jadi punya waktu berdua. Sekarang makan obatmu"kataku sambil meletakan obat ditangannya.
"tidak! Aku mau seperti tadi malam"
"tadi malam darurat"kataku.
"sekarang juga darurat"
"bagaimana kalauku pangil dokter?"kataku.
"tidak perlu!"katanya dan langsung meminum obatnya.
"tidurlah, istirahat yang cukup!"kataku. Dia mengubah posisi tidurnya lalu memejamkan matanya sambil menggegam tanganku.
ting.tong(bel berbunyi) aku segera membuka pintu mempersilahkan ibu masuk.
"jadi kalian belum melakukannya?"tanya ibu sambil duduk disofa.
"Tenang,bu! nanti dia terbangun. ibukan tau dia lagi sakit"
"kau pasti menolaknya kan?"
"tidak, bu"
"benarkah? Bagus karena aku tak sabar lagi"kata zemi yang tiba-tiba duduk disampingku dan menggengam tanganku.
"ibu sudah dari tadi?"tanya zemi.
"ia.kau sudah baikkan?"tanya ibu.
"tentu saja.aku punya dokter disini"jawab zemi. aku mengecek panas dikeningnya.
"kau masi demam"kataku.
"tapi, aku sudah baikkan"katanya sambil mencium pipiku.
"begini dia bu,manja sekali"aduku.
"hahaha..ibu pulang dulu ya?"kata ibu berdiri dari duduknya.
"ibu,lama-lama saja disini! mana tau karena ibu disini ibu malah punya cucu"kata zemi. ibu tertawa lagi.
"bicara apa sih?"kataku kesal.
"kalian tidur 1 kasurkan?"tanya ibu.
"Ia,bu"jawabku.
"tentu saja bu. ibu tenang saja"kata zemi.
"baguslah, ibu percaya zemi"
"ibu, anakmu itu aku"protesku.
"zemi juga anakku sekarang!"
"terimakasih ibu! Aku menyayangimu!"kata zemi sambil memuluk ibu.
"sudah,ibu pulang dulu"kata ibu.
"bye ibu!"kataku.
"kau benar mau melakukannya?"tanya zemi, tangannya melingkar dipinggangku.
"apa aku pernah menolak?"kataku. dia tersenyum nakal.
"nanti ya sayang. aku masih demam"
"kenapa kesannya aku yang meminta?"kataku. Dia tertawa.
"tidurlah. kau lelah"kataku. Dia melepaskan pelukan kami dan berjalan ke kamar.
"aku tak mau tidur! Ini masih jam 3 siang.lagian aku sudah lelah tidur. apalagi yang harusku lakukan"teriaknya dari kamar.
"kita nonton saja"saranku.
"nonton apa? aku suka nonton wajahmu!"
"sepertinya demam membuat pikiranmu rusak."kataku dan dia tertawa.
seperti biasa dia pulang, kali ini senyuman yang diberikan padaku.
"ada apa? kenapa senang sekali?"tanyaku.
"aku tau kamu yang mengatakan pada papa aku berkerja terlalu keras. Kamu khawatirkan aku?"
"kau sakit,gimana aku tak khawatir"kataku. Dilemparnya tas kesofa, dia menciumku.
"kalau sekarang tak apa-apakan?"tanyanya disela-sela ciuman.
"terserah kamu saja"jawabku. dibukanya kemejanya dan mengendongku kekamar.
-skip-
aku bangun dari pelukanya.
"sekarang hari sabtu"katanya.
"aku harus masak dan membuat makanan"kataku. aku mencium bibirnya.
"Aku tak mau sarapan"
"tadi malam kamu juga tak makan,Nanti kamu sakit"kataku beranjak pergi.
zemi menghampiriku didapur.
"kenapa tidak pakai bajumu?"tanyaku.
"tentu saja aku ingin mengoda istriku. Istriku suka ABSku"
"istrimu yang bilang?"
"tidak karena tanpa sadar istriku mengelus-elus perutku"
"hahaha genit"
"tidak, istriku tidak genit. tidak sia-sia aku membuat otot-otat diperutku"katanya sambil duduk dikursi makan.
"kenapa selalu duduk disampingku?Aku ingin makan sambil menatapmu"katanya sambil mengunyah makannya. aku tak tau harus apa.
"apa ada sesuatu?ceritakan padaku?"tanyanya.
"aku tak nyaman coz im ugly."kataku. Dia berhenti makan,pindah dihadapanku,tangannya mengegam tanganku.
"aku kenal dengan gadis, dia cinta pertamaku. aku sering mengikutinya sampai akhirnya dia menolongku dan kami berkenalan. Aku kaget saat itu juga dia putus dengan kekasihnya"
"kenapa kaget? seharusnya kau senang karena bisa mendapatkannya"kataku.
"karena setelah itu dia troma"
"troma apa? apakah karena itu kamu suka orang yang punya troma?"
"bodoh! dia troma duduk ditempat yang berhadap-hadapan. dia tidak mau membuka hatinya,bahkan untuk keluargannya."
"aku? maksudmu gadis itu aku?"
"ia sayang. kau cinta pertamaku,cinta terakhirku"
"ah,kau bohong. kita belum pernah bertemu!"
"coba ingat-ingat lagi."
"kau anak yang diganggu anak SMA itu?"tanyaku tidak percaya. Dia mengaguk pelan mengecup keningku. Akhirnya aku tau alasan kenapa aku punya naluri ingin membuka hatiku untuknya.
flashback-
aku berjalan pergi meninggalkan anak kecil yang baruku tolong.
"akh, jika aku tak menahan diri. Aku pasti sudah membungkus adik itu dan membawanya pulang. Dia tampan"kataku pelan dan tersenyum genit.
END
"Sudahku bilang kalian menikah saja!Aku menerimanya dengan senang kok. tapi,bila kamu masih keras kepala kayanya aku membutuhkan apartemen mewah".kataku sambil mengambil makanan.
"bodoh! umurmu sudah 28 tahun. Kenapa kau masih bercanda juga!"kata ayah marah.
"aku tak bercanda"kataku serius.
"akh,aku tak tahan lagi! besok kau harus datang kekantorku!"kata ayah.
"ayah, aku sudah berkerja ditempat lain kenapa aku harus ke kantor ayah?"tanyaku. Ibu juga terlihat marah.
"aku akan mengenalkanmu pada karyawanku. Kalau perlu aku akan menempelkan fotomu disetiap sudut tembok"jelas ayah.
"ayah, aku tak sejelek itu sampai perlu melakukan hal itu."balasku.
"lalu, kenapa kau masih belum punya pacar?!"bentak ayah.
"sabar ayah! aku bukan tak laku tapi, aku tak punya hati."jelasku sambil mencium pipi ayah seakan yang aku ucapkan hanya sebuah lolucon.
"bukan tak punya hati. Tapi, kau yang tak mau menerima mereka."kata ibu mulai angkat bicara.
"baik. Jika itu mau kalian. Kalian saja yang pilihkan."kataku sambil mengunyah makananku.
"ok! kau tak boleh menolak"kata ayah.
"ok! Aku janji aku tak akan lari. Tapi,aku tak akan janji 2 minggu setelah menikah kami berpisah"kataku santai.
"anak macam apa kau!"teriak ayah sambil memegang belakang lehernya.
"kakak!"bentak Tita karena sikapku keteraluan, aku tahu itu tapi sulit bagiku menerima bagitu saja tentang hal ini.
"karena kau, ibu malu. Karena kau, adekmu menunda pernikahannya. Sekarang kau ingin ayahmu masuk rumah sakit?"kata ibu. Aku terdiam, kalimat ibu menusukku.
"ok. Aku akan berusaha. Kalian yang atur setelah itu bilang saja padaku"kataku menyerah.
"gadis macam apa kau?"kata ayah. Aku hanya diam.
Aku masuk kesebuah resto yang di jadwalkan untuk pertemuan perjodohanku. Hanya ada satu pria yang ada disini. Tapi,pria ini terlihat lebih muda dariku, jauh lebih muda.
"Zemi??"tanyaku. Dia tersenyum manis. Bodoh sekali pria ini mau dijodohkan denganku.
"silahkan duduk"katanya mempersilahkanku duduk di depannya. Aku memilih duduk disampingnya. Dia sedikit kaget dengan sikapku yang memilih duduk disampingnya.
"berapa umurmu?"tanyaku.
"22 tahun ini"jawabnya.
"astaga, aku kira aku akan dijodohkan dengan pria lebih tua dariku. Apakah ayah stress? Tapi, tidak apa-apa kau pasti tidak suka dengan perjodohan ini. Jadi, pasti akan cepat berakhir."kataku.
"tidak. Itu tidak akan terjadi karena aku yang meminta perjodohan ini."jelasnya membuatku terkejut tapi berhasil ku tutupi.
"umurmu baru 22 tahun. Bagaimana kau bisa menghidupiku?"
"15 tahun aku sudah masuk universitas. 17 Tahun aku sudah berkerja. Sudah 2 tahun aku memimpin perusahaan ayahku"jelasnya santai tanpa terkesan angkuh. Dikasih makan apa ini anak sampai sehebat itu?
"jadi kau setuju?"tanyanya.
"aku setuju"
"baik, pernikahan kita 3 minggu lagi. Bagaimana?"
"bukankah kita di beri waktu 2 bulan? pernikahan bukan seperti tanda tangan kontrak."
"tenang, semua akanku urus. Aku ingin mengenalmu setelah menikah saja"katanya.
"terserahmu saja"kataku malas, aku tidak peduli.
"aku lebih tua darimu kenapa tidak memanggilku.."
"kenapa harus memanggilmu kakak kalau sebentar lagi aku akan memangilmu honey, sayang atau mama."godanya dengan tersenyum.
"dasar anak-anak"celetukku.
"aku bukan anak-anak, aku calon suamimu."kata Zemi dengan wajah serius dan itu membuat dia terlihat dewasa.
Aku dan Tasya menonton tv dirumahku menghabiskan liburan bersama. Tapi, seseorang memencet bel mengganggu ketenangan kami.
"Sya,tolong bukain! Aku pakai celana pendek."kataku tanpa mau mengalihkan wajahku dari TV.
"ok,bos"jawabnya dan pergi ke ruang tamu untuk membuka pintu.
"cari Tita ya? Tita baru saja pergi."kata Tasya terdengar olehku karena rumah yang sepi. Aku berlari menuju pintu karena penasaran. Setahuku teman Tita jarang main di rumah atau menjemput Tita karena pacar Tita yang selalu siaga.
"kenapa kau disini?"tanyaku kaget melihat tamu di depan pintu.
"kau sibuk?"tanya pria itu.
"tidak"jawabku.
"baguslah"jawabnya penuh senyum.
"siapa dia?"tanya tasya bingung.
"aku Zemi, calon suami Jita"kata Zemi memperkenalkan dirinya sendiri. Tasya menatapku bingung aku mengaguk pelan.
"Ada apa?"tanyaku pada Zemi.
"kita pergi beli cincin dan pilih bajunya."ajaknya.
"ia deh. Aku siap-siap dulu. Kamu masuk saja." kataku sambil membuka pintu ruang tamu lebih lebar. Tasya mengikutiku kekamar.
"jadi dia?"tanya Tasya.
"ia"
"aku kira dia temen Tita. kau tak bercandakan?"
"tentu saja tidak."
"kau yakin menerima dia jadi suamimu??"
"aku tak punya pilihan. kau kan tau itu. telepon saja rico, suamimu untuk menjemputmu karena kami akan lama. "kataku sambil mengenakan bajuku.
"Ia...."
"aku pergi dulu"kataku sambil keluar dari kamarku.
Saat sampai Zemi mengandeng tanganku. Jujur saja ini pertama kalinya aku bergandengan sama pria.
"aku bergandengan denganmu terlihat aku jalan dengan adikku"kataku.
"Kau khawatir? tenanglah, penampilanmu tak seperti umurmu"katanya.
"aku harap begitu."jawabku malas. Zemi menarikku kesebuah toko jewwels, kami memilih cincin yang simple. Lalu kami memilih gaun. Setelah kami mengenakan baju, kami berfoto bersama.
"wah,kalian sangat serasi! Kalian sudah lama pacaran ya?"tanya pramuniaga.
"kenapa?"tanya Zemi.
"tidak.hanya saja kalian menikah begitu muda."jawab pramuniaga. Zemi tersenyum.
"kau bayar berapa dia?"tanyaku pada Zemi. Zemi tertawa dan pramuniaga bingung.
Hari semakin dekat dan undangan telah selesai di cetak, aku pun memberikan undanganku pada Tasya.
"asik, malam pertama tinggal 1 minggu lagi."goda Tasya sambil membaca undanganku.
"eh, melakukan "itu" tidak wajibkan?"
"tentu saja wajib"
"jadi, bagaimana kau melakuknnya?"
"hahaha..kenapa? kau gugup? biarkan suamimu yang berkerja, kau menerima saja."jawab Tasya dengan tersenyum yang tidakku mengerti.
"aku tak perlu menonton film "itu" kan?"
"bodoh. Tahun berapa kau lahir? kenapa begitu kolot?"
"kau yang bodoh, kau kan tau aku memang tak mengerti."aku tidak terima.
"tenang saja. walau dia masih muda tapi,dia tetaplah sorang pria."jawab Tasya tersenyum yang membuatku semakin kesal.
"aku sudah dewasa tapi, rumit bagiku rumit mengerti dengan kelakuan yang dewasa. Akh!"keluhku.
Hari pernikahanku, rasa seperti aku sedang memainkan adegan pernikahan. Semua begitu cepat, santai, dan BOOM acara siap 100% tanpa campur tanganku.
"tersenyumlah!"pinta ibu.
"kau begitu cantik kak"kata tita.
"kalau kau tak tersenyum, orang akan mengira tita yang akan memikah karena tita terlihat cantik dari pada kamu"komentar ibu.
"bukankah memang tita cantik dari pada aku"sanggahku. Ibu memukulku pelan.
tersenyumlah Jita, anggap kau bahagia seperti saat kau datang kepernikahan Tasya. Banyak yang datang, banyak yang memberikanku selamat.
Dan akhirnya selesai juga. Kami masuk kerumah Zemi. Ini tidak pertama kalinya aku kesini. Jadi aku langsung kamar dan mandi. Aku keluar dari kamar mandi dengan piama. Zemi duduk dipingir kasur dengan menatapku.
"kau tak bahagia?"tanyanya.
"aku senang"
"bahagia berbeda dengan senang."katanya masih menunduk.
"aku harus bagaimana?"tanyanya. Tiba-tiba dia didepanku, mengecup bibirku. Dia menyentuh pergelangan tangan kananku.
"ini ciuman pertamamu tapi, hatimu bahkan masih beraksi wajar."katanya sedikit frustasi karena aku tidak deg-degan atau pun merubah expresiku. Aku tahu dia selalu berusaha membuatku menyukainya.
"sudah, kita tidur saja dulu! bukankah kau sudah lelah mempersiapkan semuanya"kataku sambil tiduran dikasur.
"aku takut aku tidak bisa membahagiakanmu"katanya sambil merebahkan tubuhnya disampingku.
"jangan menyalahkan dirimu! Aku yang salah karena tak punya hati"kataku. Dia menghadap kearahku.
"tapi, kau berusaha mencintaiku? Aku janji aku tak akan mengkhianatimu"katanya
"kau fikir aku bodoh? Umur kita begitu jauh, tak lama lagi kau bosan dan mencari gadis lain"kataku dengan jujur.
"kau sungguh tak percaya padaku?"
"kita lihat saja nanti siapa yang benar"kataku.
"kau kira kau dipermainkan olehku? kau yang mempermainkanku, Jita."katanya lembut.
"sudahlah, aku sudah lelah. Kalau tidak mandi mendingan tidur saja.lagian ini malam pertama, kau malah marah begini."kataku menutup mataku.
"jadi apa yang harus kita lakukan pada malam pertama? Apakah kau tau?"godanya. Sial aku salah bicara jadi aku pura-pura tak mendengarkannya. Tapi, kecupan lembut yang aku terima darinya. Kali ini tidak hanya kecupan, ini adalah kiss.
"malam ini tidak hanya ciuman pertamamu yang hilang tapi, juga ciuman pertamaku"katanya,wajahnya masih dihadapanku.
"aku bosan melihat wajah datarmu, tersenyumlah!aku tak akan marah lagi."katanya. Aku tersenyum sebisaku, bibirku terasa kaku karena sulit bagiku untuk tersenyum.
"tak apa, asalkan kau berusaha."katanya sambil kembali ketempatnya.
"Jita.."
"hem.."
"aku boleh memelukmu?"
"kenapa tanya? Kau menciumku saja tidak minta izin kepadaku."kataku. Dia terkekeh dan mendekatakn tubuhnya padaku,dia memelukku. Wajahku tepat didada bidangnya sangat terdengar detak jatungnya yang kuat. Dia benar-benar menyukaiku.
Aku terbagun, Aku masih dipelukannya. perlahan-lahan aku bangun, dia menggegam tanganku secara tiba-tiba.
"Mau kemana?"tanyanya.
"tidurlah lagi, kau masih lelah. Setelah masak, aku akan membangunkanmu"kataku sambil melepaskan tanganya. Aku pergi ke dapur.
Aku meletakan minuman diatas meja makan. Tangan kokoh Zemi telah melingkar dipinggangku dari belakang, kepalanya disandarkannya dibahuku.
"Kenapa begitu pagi? Aku masih ingin memelukmu"kata Zemi.
"jangan bicara dileherku!!geli"kataku.
"aku tak memilikimu tadi malam"
"bukankah semua orang juga tau aku milikmu, kita sudah menikah"kataku.
"tapi, kita tidak berolahraga tadi malam"katanya sambil melepaskan pelukan dan duduk dikursinya. Aku mengambil makananya.
"umurmu berapa? Apakah kau tak tau semakin cepat punya anak, semakin hebat pasangan suami itu"jelas Zemi.
"aku baru tau"kataku sambil ikut makan.
"kenapa kau mau menikah denganku?"tanyaku.
"tentu saja karena aku mencintaimu. kalau hanya bermain-main dengan wanita seusiamu aku tak perlu menikah. Jika pernikahan ini untuk bisnis tidak mungkin karena aku sudah memegang perusahaan besar dan lebih besar dari pada perusahaan ayahmu."jelasnya sambil makan.
"kau jauh muda dari pada aku, kenapa jalan pikiranmu bisa sepanjang itu?"
"sayang, apa kau lupa aku ini anak cerdas. Kau penasaran dengan anak cerdas sepertiku?"tanyanya. Aku menganguk pelan, dia mengegam tanganku.
"kita buat yuk?"godanya.
"Habiskan makananmu!"kataku. Dia tertawa.
Aku menonton TV, dia tiduran dipangguanku.
"Kau manja sekali, seperti anak kecil"kataku. dia bangun dan menciumku. Singkat tapi dilakukannya berulang kali. Aku rasa aku mulai terbuai olehnya.
"apakah ini sudah tidak seperti anak-anak?"tanyanya. Tatapan matanya tak selembut tadi.
"tidak. Ini kelakuan orang dewasa."kataku. Dia segera menciumku lagi dan lagi.
Sudah hampir 2 bulan menikah. Sudah 2 minggu aku merasakan dicuekin Zemi. Handphoneku bergetar segeraku baca pesan yang baru masuk.
from: Tasya.
cepat berikan padanya.Dari pada dia minta pada gadis lain.
Tasya menakut-nakutiku. Apa benar semua cowok akan begitu?
pip! Pip! Pip! Pip! Pip! druk..(pintu terbuka) aku berlari kecil kearah Zemi yang baru pulang, melepaskan jas dan dasinya. Aku mengambil tasnya.
"aku lelah"keluhnya.
"kau mau mandi?"tanyaku.
"tidak, aku tidur saja."katanya. Tidak ada peluk, tak ada kecupan, dia juga tidak manja padaku lagi. Katanya dia mau membuatku jatuh cinta padanya tapi, apa ini??
Zemi pulang, seperti biasa dia pulang dengan wajah lelah. Tapi, kali ini wajahnya lebih pucat. Aku memapahnya ke kamar melepaskan sepatu dan kemejanya karena bisa oleh keringat. Tubuhnya demam.
Aku terbangun menganti pendingin panasnya. Dia belum juga sadar tapi, dia perlu minum obat karena panasnya belum turun. Kukunyah beberapa biji obat, ku masukan air kemulutku dan kumasukan obat-obat itu kemulutnya. Walaupun tidak semuanya setidaknya dia sudah minum obat. Aku tertidur lagi.
Saat aku terbangun langit sudah cerah. Aku cek suhu tubuhnya, demamnya sudah turun. Aku mengambil HPku, menelpon papa.
"maaf pa, Zemi sakit. Dia demam jadi tidak bisa masuk kantor hari ini"
"..."
"tenang pa, aku akan merawatnya. demanya belum turun. Tapi,dia belum bangun. Jika siang masih begini. Jita akan bawa kerumah sakit"
"..."
"ia pa"kataku dan menutup telepon.
"aku ke kantor ya?"kata Zemi tiba-tiba.
"Jangan kau masih perlu istirahat"kataku.
"kau khawatir padaku?"
"aku akan buatkan bubur untukmu"kataku pergi.
"aku kira hanya vitamin dan obat magh saja yang manis. Ternyata obat tadi malam yang kau berikan juga manis"katanya. Detak jantungku menjadi tak normal mendengarnya.
Aku menyuapinya makan bubur karena tubuhnya masih melemah.
"makan saja disupi gimana mau kerja?"ledekku.
"kerjaanku banyak bila tidakku kerjakan segera. Itu akan membuat liburan kita tertunda"
"jadi dua minggu ini?"
"tentu saja aku berkerja biar aku bisa berdua saja denganmu"
"kenapa harus berlibur. Kalau kau tidak lembur kita kan jadi punya waktu berdua. Sekarang makan obatmu"kataku sambil meletakan obat ditangannya.
"tidak! Aku mau seperti tadi malam"
"tadi malam darurat"kataku.
"sekarang juga darurat"
"bagaimana kalauku pangil dokter?"kataku.
"tidak perlu!"katanya dan langsung meminum obatnya.
"tidurlah, istirahat yang cukup!"kataku. Dia mengubah posisi tidurnya lalu memejamkan matanya sambil menggegam tanganku.
ting.tong(bel berbunyi) aku segera membuka pintu mempersilahkan ibu masuk.
"jadi kalian belum melakukannya?"tanya ibu sambil duduk disofa.
"Tenang,bu! nanti dia terbangun. ibukan tau dia lagi sakit"
"kau pasti menolaknya kan?"
"tidak, bu"
"benarkah? Bagus karena aku tak sabar lagi"kata zemi yang tiba-tiba duduk disampingku dan menggengam tanganku.
"ibu sudah dari tadi?"tanya zemi.
"ia.kau sudah baikkan?"tanya ibu.
"tentu saja.aku punya dokter disini"jawab zemi. aku mengecek panas dikeningnya.
"kau masi demam"kataku.
"tapi, aku sudah baikkan"katanya sambil mencium pipiku.
"begini dia bu,manja sekali"aduku.
"hahaha..ibu pulang dulu ya?"kata ibu berdiri dari duduknya.
"ibu,lama-lama saja disini! mana tau karena ibu disini ibu malah punya cucu"kata zemi. ibu tertawa lagi.
"bicara apa sih?"kataku kesal.
"kalian tidur 1 kasurkan?"tanya ibu.
"Ia,bu"jawabku.
"tentu saja bu. ibu tenang saja"kata zemi.
"baguslah, ibu percaya zemi"
"ibu, anakmu itu aku"protesku.
"zemi juga anakku sekarang!"
"terimakasih ibu! Aku menyayangimu!"kata zemi sambil memuluk ibu.
"sudah,ibu pulang dulu"kata ibu.
"bye ibu!"kataku.
"kau benar mau melakukannya?"tanya zemi, tangannya melingkar dipinggangku.
"apa aku pernah menolak?"kataku. dia tersenyum nakal.
"nanti ya sayang. aku masih demam"
"kenapa kesannya aku yang meminta?"kataku. Dia tertawa.
"tidurlah. kau lelah"kataku. Dia melepaskan pelukan kami dan berjalan ke kamar.
"aku tak mau tidur! Ini masih jam 3 siang.lagian aku sudah lelah tidur. apalagi yang harusku lakukan"teriaknya dari kamar.
"kita nonton saja"saranku.
"nonton apa? aku suka nonton wajahmu!"
"sepertinya demam membuat pikiranmu rusak."kataku dan dia tertawa.
seperti biasa dia pulang, kali ini senyuman yang diberikan padaku.
"ada apa? kenapa senang sekali?"tanyaku.
"aku tau kamu yang mengatakan pada papa aku berkerja terlalu keras. Kamu khawatirkan aku?"
"kau sakit,gimana aku tak khawatir"kataku. Dilemparnya tas kesofa, dia menciumku.
"kalau sekarang tak apa-apakan?"tanyanya disela-sela ciuman.
"terserah kamu saja"jawabku. dibukanya kemejanya dan mengendongku kekamar.
-skip-
aku bangun dari pelukanya.
"sekarang hari sabtu"katanya.
"aku harus masak dan membuat makanan"kataku. aku mencium bibirnya.
"Aku tak mau sarapan"
"tadi malam kamu juga tak makan,Nanti kamu sakit"kataku beranjak pergi.
zemi menghampiriku didapur.
"kenapa tidak pakai bajumu?"tanyaku.
"tentu saja aku ingin mengoda istriku. Istriku suka ABSku"
"istrimu yang bilang?"
"tidak karena tanpa sadar istriku mengelus-elus perutku"
"hahaha genit"
"tidak, istriku tidak genit. tidak sia-sia aku membuat otot-otat diperutku"katanya sambil duduk dikursi makan.
"kenapa selalu duduk disampingku?Aku ingin makan sambil menatapmu"katanya sambil mengunyah makannya. aku tak tau harus apa.
"apa ada sesuatu?ceritakan padaku?"tanyanya.
"aku tak nyaman coz im ugly."kataku. Dia berhenti makan,pindah dihadapanku,tangannya mengegam tanganku.
"aku kenal dengan gadis, dia cinta pertamaku. aku sering mengikutinya sampai akhirnya dia menolongku dan kami berkenalan. Aku kaget saat itu juga dia putus dengan kekasihnya"
"kenapa kaget? seharusnya kau senang karena bisa mendapatkannya"kataku.
"karena setelah itu dia troma"
"troma apa? apakah karena itu kamu suka orang yang punya troma?"
"bodoh! dia troma duduk ditempat yang berhadap-hadapan. dia tidak mau membuka hatinya,bahkan untuk keluargannya."
"aku? maksudmu gadis itu aku?"
"ia sayang. kau cinta pertamaku,cinta terakhirku"
"ah,kau bohong. kita belum pernah bertemu!"
"coba ingat-ingat lagi."
"kau anak yang diganggu anak SMA itu?"tanyaku tidak percaya. Dia mengaguk pelan mengecup keningku. Akhirnya aku tau alasan kenapa aku punya naluri ingin membuka hatiku untuknya.
flashback-
aku berjalan pergi meninggalkan anak kecil yang baruku tolong.
"akh, jika aku tak menahan diri. Aku pasti sudah membungkus adik itu dan membawanya pulang. Dia tampan"kataku pelan dan tersenyum genit.
END
seru kak :D
BalasHapuspost lagi ya cerpen2mu yang lain kak :D
thks sudah mau baca dan komentarnya! :)
Hapusbagus sekali (menurutku) aku terenyak mbaca ceritamu . . .
BalasHapuskisah manis dari pasangan yg lakiknya lbh muda dari perempuannya . . .
wah, terimakasih sudah membaca dan memberi komentar. :
Hapusbaca juga cerpenku yang lain ya!! :)
Cerpen nya bagus sekali
BalasHapusTapi kalau yang korea agak sulit dimengerti
Saya sangat suka cerpen yang spt ini
Endingnya bagus bgt����
cerpenya keren suka aku...
BalasHapusKerenn, aku sukaa..
BalasHapusCeritanya keren, bagus. Cuma gaya bahasa yang dipakai terlalu kaku dan kasar. Sehingga ada beberapa percakapan yg terkesan kurang sopan.
BalasHapusTapi overall bagus
Ini keren banget...
BalasHapusAku suka..
Ceritanya manis banget...
Bagus sekali imaginasi dan fantasi karya kamu . Saya jadi ngulangi membacanya . Tahniah buat kamu
BalasHapusSudah bca brkli2, tp ttp suka..
BalasHapusAku udah berkali kali baca ini dan ga bosan bosan
BalasHapusBaca lagi.. Baca lagi... Aku suka. Aku suuukaaaaa
BalasHapus